Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 0
DDAAFFTATRAIRSI ISI
MAKALAH 1
PENGANTAR FIQH LUGHAH.................................................................................................4
MAKALAH 2
METODE PENELITIAN BAHASA, KARANGAN TENTANG FIQH LUGHAH, TEORI
KEMUNCULAN BAHASA MANUSIA ....................................................................................10
MAKALAH 3
DIALEKTIKA ARAB................................................................................................................18
MAKALAH 4
MU‟ARRAB (ARABISASI) .......................................................................................................32
MAKALAH 5
AL MUSYTARAK (HOMONIM) ..............................................................................................38
MAKALAH 6
AL-MUTADHOOD (ANTONIM).............................................................................................43
MAKALAH 7
MUTARADIF (SINONIM )......................................................................................................50
MAKALAH 8
ISYTIQAQ (DERIVASI) ...........................................................................................................56
MAKALAH 9
AL-IBDAL AL-LUGHAWY ......................................................................................................60
MAKALAH 10
AL-QALB WAL MUSYAJJAR ..................................................................................................70
MAKALAH 11
AL-ITBA‟ WAN-NAHT.............................................................................................................76
MAKALAH 12
AL HAKIKAH WAL MAJAZ ....................................................................................................81
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 1
MAKALAH 13
AL-MAA'JIM AL-ARABIYAH ..................................................................................................89
MAKALAH 14
AL- I‟RAB ................................................................................................................................99
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 2
Puji Syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena aatas berkat dan rahmat-Nya,
Buku Kumpulan Makalah Fiqh Lughah ini dapat terselesaikan. Buku ini berisikan kumpulan
beberapa makalah yang telah dibuat oleh masing-masing kelompok pada Mata Kuliah Fiqh
Lughah yang diampu oleh Ustadz. Muchlisin Nawawi, L.c., M.Pd.I . Makalah tersebut
disusun oleh mahasiswa program studi Pendidikan bahasa Arab Angkatan 2019, Universitas
Negeri Semarang. Makalah-makalah yang ada dalam buku ini membahas mulai dari
pengertian ilmu fiqh lughah, objek kajiannya, tujuan sampai pada pembahasan yang lebih
mendalam seperti lahjat arabiyyah, mutaradhif, al-mutadhad, al-muarrabb, al-isytiqoq dan
lain sebagainya. Dan harapanya, melalui sebuah karya yang kecil dan sederhana ini dapat
memberikan manfaat dan keberkahan yang besar khusus bagi kami dan umumnya bagi para
pembaca yang budiman. Disamping itu, mudah-mudahan karya ini dapat memberikan
sumbangsih pengetahuan dan pemahaman dalam pembelajaran Fiqh Lughah Arab dan
menjadi sarana untuk mempermudah memahaminya. Penyusunan buku ini tentunya masih
jauh dari sempurna, baik secara konteks maupun konten, untuk itu kami membuka diri untuk
saran dan kritik demi perbaikan ke depan.
Terimakasih,
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 3
MAKALAH 1
PENGANTAR FIQH LUGHAH
Titi Nur Hasanah, Naufatul Wafiqoh , & Siti Mutia Mumtazah
2.1. Pengertian Fiqh Lughah
Istilah Fiqh Lughah (ٗ )اٌٍغخ فمterdiri dari dua suku kata, yaitu Fiqh ( )فمخdan Lughah
()اٌٍغخ. Secara etimologi, Fiqh ( )فمخberarti memahami (ُٙ )فatau mengetahui sesuatu (Ibnu
Manzhur, Jilid 13:115).
Menurut Ibnu Jinny (tth, Jilid I:33) kata Lughah ( )اٌٍغخdidefinisikan sebagai : ادٛأف
َُٙ ػٓ أغشامٛب وً لٙؼجش ث٠
(Bunyi yang digunakan oleh suatu kaum (kelompok masyarakat) untuk mengungkapkan
maksud mereka).
Menurut Mahmud Fahmi Hijazy (tth:9), definisi bahasa dari Ibnu Jinny ini merupakan
definisi yang representatif yang menghimpun semua aspek yang menjadi karakteristik
bahasa. Pertama, Ibnu Jinny menegaskan bahwa hakikat bahasa adalah bunyi (ashwat).
Kedua, ia menegaskan bahwa fungsi bahasa secara sosial adalah untuk "mengekspresikan"
(yu'abbiru) pemikiran. Ketiga, ia menegaskan bahwa pemakai bahasa adalah semua
masyarakat (kullu qaum).
Menurut Abduh Rajihy (tth:60) berpandangan bahwa definisi Ibnu Jinny di atas
meliputi empat unsur, yaitu bahasa adalah bunyi (ashwat), bahasa adalah ekspresi (ta'bir),
bahasa adalah ekspresi tiap kelompok (qaum), dan bahasa adalah ekspresi tujuan-tujuan
(aghradh).
Ulama bahasa modern mendefinisikan Lughah sebagai sistem lambang bunyi atau
sekumpulan bentuk-bentuk ucapan yang tersimpan pada bentuk anggota komunitas bahasa
yang berfungsi untuk berkomunikasi antar pemakainya dalam satu masyarakat tertentu. (Al-
Hamd, 2005:19)
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 4
Muhammad al-Khuly (1982:15) mendefinisikan bahasa adalah sistem lambang bunyi
yang arbitrer, yang digunakan untuk bertukar pikiran dan perasaan antarsesama anggota
komunitas suatu bahasa.
Anis Farihah (1981:114) mendefinisikan bahasa merupakan fenomena psikologis,
sosial, budaya, yang didapat lewat proses pemerolehan. Ia bukanlah fenomena biologis yang
melekat pada diri seorang individu. Bahasa tersusun dari sekumpulan simbol bunyi yang
diperoleh pengujian/penyaringan makna di dalam pikiran.
Dengan demikian, Fiqh Lughah secara etimologis adalah memahami bahasa serta
hakikatnya. Sementara secara terminologis, Ibrahim al-Hamd (2005:19) mendefinisikan Fiqh
Lughah sebagai ilmu yang mengkaji problematika bahasa, dari aspek bunyi kosakata,
struktur, karakteristik fonologis, morfologis, sintaksis dan semantik. Ilmu ini juga mengkaji
tentang dialek serta problem-problem yang muncul sekitar bahasa.
2.3. Objek dan Ruang Lingkup Fiqh Lughah
Menurut sarjana bahasa Arab klasik, seperti Ibnu Faris dan al-Tsa‟labiy, objek kajian
fiqh lughah adalah mengetahui kosakata bahasa Arab, termasuk makna (dilalah) bahasa,
klasifikasi dalam tema-tema bahasa, serta hal-hal yang terkait dengan bahasa. (Hijaziy, th:
66). Menurut Fahmi Hijaziy, tema yang dibahas dalam Fiqh Lughah seperti masalah asal-usul
bahasa, apakah bahasa itu terbentuk secara sosial (isthilahiy), atau diberikan langsung oleh
Allah SWT sebagaimana wahyu (tauqifiy).
Adapun menurut sarjana bahasa modern, seperti Ramdhan Abduttawwab (1999: 9),
objek Fiqh Lughah adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan bahasa, yaitu
perkembangan bahasa manusia, gesekan antara satu bahasa dengan bahasa lainnya,
perkembangan bahasa fusha (standar), serta dialek-dialeknya (lahjat), kajian bunyi bahasa,
struktur serta semantiknya (dilalah), baik secara historis komparatif, maupun deskriptif.
secara historis yaitu mengkaji bhs mulai dari kemunculannya, perkembangannya dari masa ke
masa, komparatif yaitu kajian yg mengkomparasikan/,membandingkan atara bhs satu dengan
bhs lain. misalnya bhs Arab dengan Indonesia, bhs jawa dengan bhs sunda, dll. sedangkan
kajian diskriptif adalah kajian yang mendeskripsikan suatu bahasa, misalnya mendeskripsikan
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 5
sinonim yg ada dlm bhs itu, dllJuga mengkaji sintaksis (nahwu), serta stilistika (uslub), baik
prosa (natsar) maupun puisi (syair).
Sama hal nya dengan Ramdhan Abduttawwab, Ibrahim al-Hamd (2005: 23) juga
mengatakan bahwa objek Fiqih lughah adalah bahasa Arab dengan semua aspek dan
problematikanya. Kemudian secara terperinci ia menguraikannya sebagai berikut:
1. Asal-usul bahasa
2. Karakteristik bahasa
3. Tradisi masyarakat arab dalam berbahasa
4. Bunyi bahasa
5. Dialek Arab : Alasan terjadinya perubahan dialek pada bahasa arab salah satunya
adalah adanya perubahan sosial kebudayaan.Perubahan sosial kebudayaan yang
terjadi di wilayah tertentu akan mempengaruhi karakteristik bahasa yang digunakan.
Bahasa merupakan bagian dari budaya, maka dalam pendekatan sosiolinguistik,
perubahan budaya ini secara langsung akan mempengaruhi penggunaan bahasa, dan
di sisi lain perubahan yang terjadi pada bahasa merupakan respon bagi perubahan
sosial budaya itu
6. Morfologi Arab (sharaf)
7. Sintaksis Arab (tarkib/nahwu)
8. Semantik Arab (dilalah arabiyyah). Semantik merupakan salah satu bagian dari tiga
tataran bahasa yang meliputi fonologi , tata bahasa ( morfologi -sintaksis), dan
semantik. Semantik diartikan sebagai ilmu bahasa yang mempelajari dalam tataran
makna. Dalam bahasa arab kata semantik diterjemahkan dengan ilm al-dilalah . Salah
satu contoh kata semantik adalah kata َ الإعلاyang memiliki makna selamat yang
berasal dari kata ٍُع.
9. Derivasi (isytiqaq)
10. Polisemi (musytarak) Polisemi adalah sebuah kata atau satuah ujaran yang
mempunyai makna lebih dari satu. Polisemi atau dalam bahasa arab diartikan dengan
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 6
Al Musytarok Lafdzi merupakan beberapa kata yang sama, baik pelafalan dan
penulisannya tetapi mempunyai makna yang berlainan. contohnya sprti " Ainun" bisa
diartikan mata, koin, mata1, mata air, dll. Kemudian, sinonim (mutaradif), antonym
(mutadhad), dan coinage (naht)
11. I‟rab
12. Leksikologi Arab (ma‟ajim „arabiyyah)
13. Problematika bahasa Arab (istilah-istilah modern Arab, ajakan ke bahasa Arab
„amiyyah, meninggalkan I‟rab, memperbaiki tulisan Arab). Perbedaan antara bahasa
Fusha dan Amiyah yaitu terdapat pada kaidah-kaidah tata bahasa (nahwu) dan
pembentukan kata (sharf). Bahasa Arab Fusha sangat memperhatikan kaidah-kaidah
nahwu dan sharf, sedangkan bahasa Arab Amiyah tidak memperhatikan hal tersebut.
Oleh karena itu penggunaan bahasa Arab Fusha dan Amiyah digunakan dalam forum
yang berbeda pula. Bahasa Arab Fusha digunakan dalam forum-forum dan media-
media yang bersifat formal. Sebaliknya, bahasa Arab Amiyah sering digunakan dalam
aktivitas dan komunikasi sehari-hari yang bersifat nonformal maupun informal.
Bahasa Fushah adalah bahasa resmi yg digunakan oleh orang Arab atau non Arab,
juga bhs yg ada dalam Al-qur'an, hadits, juga kitab-kitab berbahasa Arab yang bahasa
ini mengikuti aturan baku dalam bahasa Arab (Nahwu, Sorof). sedangkan amiyah
adalah bhs yg digunakan oleh org Arab utk bercakap-cakap sehari-hari yg kdng tdk
sesua dengan kaedah bhs Arab. contohnya bhs fushah kata "naam" artinya ya. klo
dalam bhs amiyah "aiwa'
14. Hasil kajian dan keputusan lembaga-lembaga bahasa.
2.3. Tujuan Fiqh Lughah
Tujuan mempelajari fiqih lughah :
1. Fiqih lughah merupakan bab besar pengetahuan yang sangat menyenangkan untuk
dipelajari, walaupun tidak sampai masuk kedalamnya.
2. Menunjukkan suatu ciptaan Tuhan yang luar biasa. Mempelajari bunyi bahasa
misalnya menunjukkan kepada kita tentang alat vokal, yang merupakan salah satu
tanda ciptaan ilahi.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 7
3. Mampu melafalkan dengan benar: Mengetahui keluarnya bunyi, kualitasnya, dan
pembahasan penting yang dihasilkan dari aspek itu semua membantu dalam
pengucapan bahasa yang benar.
4. Kebanggaan dalam bahasa Arab: Mempelajari bahasa adalah studi ilmiah yang
membuat kita menyadari fitur-fiturnya, dan memungkinkan kita mengetahui
rahasianya. Ini menyerukan kebanggaan dalam bahasa Arab, berdasarkan realitas
yang dipelajari dengan baik.
5. Menghadapi apa yang diplot untuk melawan bahasa Arab: menuduhnya kesulitan,
stagnasi, dan menyerukan untuk meninggalkan sintaksis, pergi ke bahasa daerah,
menulis surat dengan huruf baru, dan tuntutan hukum lainnya yang dijalin
terhadap bahasa Arab, yang dimaksudkan untuk menghancurkan agama,
mempertanyakannya, atau melemahkan dampaknya di hati rakyatnya. Tidak
diragukan lagi bahwa menghadapi tuntutan-tuntutan semacam itu dan sejenisnya
adalah sejenis jihad yang membuat pemiliknya bersyukur dan menambah cahaya
amalnya.
6. Menghormati Leluhur yang shalih (salafus salihin): berpegang teguh apa yang
telah diwariskan mereka/menjaga bahasa al Quran
7. Memenuhi kebutuhan dan mengikuti perkembangan: Mengetahui bahasa, dan
berdiri di atas signifikansinya memenuhi kebutuhan besar, baik dalam Arabisasi
kata-kata, atau membuang istilah asing, atau dalam mengklarifikasi apa yang
dimaksudkan untuk bangsa kita dalam hal kata-kata, moral, atau istilah, seperti
istilah sekularisme atau istilah terorisme atau lainnya; Jika kita menyebarkannya
seperti yang dikenal di Barat, itu akan menimbulkan kebingungan. Jika diberikan
arti khusus yang benar, membebaskan kita dari banyak penderitaan.
8. Layanan ilmu-ilmu lain: Fiqih lughoh memiliki keterkaitan dengan banyak ilmu.
jadi mempelajari ilmu tersebut dan mengetahuinya berarti melayani banyak
kekhususan ilmu lainnya.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 8
DAFTAR PUSTAKA
Abduttawab, Ramdhan Abd. 1999. Fushul fi Fiqh al-Lughah. Kairo: Maktabah al-Khanjiy.
Al-Hamd, Muhammad bin Ibrahim. 2005. Fiqh al-Lughah Mafhumuhu –Madhu‟atuhu –
Qadhayahu. Riyadh: Dar Ibnu Khuzaimah.
Al-Khuly, Muhammad Ali. 1982. Asalib Tadris al-Lughah al-Arabiyyah. Libanon: Maktabah
Lubnan.
Al-Rajihiy, Abduh. tth. Fiqh al-Lughah fi al-Kutub al-„Arabiyyah. Beirut: Dar al-Nahdhah al-
„Arabiyyah.
Farihah, Anis. tth. Nazhariyah fial-Lughah. Beirut: Dar al-Kuttab al-Lubnany.
Hijaziy, Mahmud Fahmi. tth. Ilmu al-Lughah al-„Arabiyyah: Madkhal Tarikhiy Muqaran fi
Dhauinal-Turats wa al-Lughat al-Samiyah. Kuwait: Wakalah al-Mathbu‟ah.
Ibnu Manzhur, al-Imam al-„Allamah.2003. Lisan al-„Arab. Kairo: Dal-el-Hadith.
Ibnu Jinny, Abu al-Fath Utsman. tth. Al-Khashaish. Juz I. Mesir: Al-Maktabah al-Ilmiyah.
Wafiy, Ali Abdul Wahid. 2004. Fiqh al-Lughah. Mesir: Nahdhah Misra.
Wildan Taufiq, 2015, Fiqh Lughah (Pengantar Linguistik Arab). Bandung: Nuansa Aulia.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 9
MAKALAH 2
METODE PENELITIAN BAHASA, KARANGAN TENTANG FIQH LUGHAH,
TEORI KEMUNCULAN BAHASA MANUSIA
Pricillia Rizqa Intan Purnama, Septia Uswatun Chasanah & Vina Hidayah
2.1 Metode Penelitian Bahasa
Penelitian bahasa pada dasarnya adalah meneliti fenomena-fenomena
kebahasaan yang ada dalam masyarakat pengguna bahasa tersebut. Fenomena-
fenomena ini inilah yang dikumpulkan oleh peneliti bahasa untuk diberi makna,
sehingga ditemukan kaidah-kaidah kebahasaan yang bersifat spesifik dan universal.
Karakteristik Penelitian Bahasa
1. Manusia Sebagai Alat
Penelitian bahasa, alat pengumpil data utama adalah manusia, yaitu
peneliti sendiri dan / dibantu oleh orang lain, yang disebut dengan informan
atau pembahan. Manusia sebagai alat dapat berhubungan dengan informan dan
memahami kenyataan-kenyataan yang terjadi di lapangan dan terkait dengan
data yang dicari. Karena peneliti berfungsi sebagai pengumpul data di
lapangan, maka peneliti harus memahami hal-hal yang dapat mengganggu
penelitiannya.
2. Latar Alamiah
Penelitian bahasa dilakukan pada latar alamiah, yaitu tempat di mana
bahasa itu digunakan oleh penuturnya. Peneliti harus tahu betul situasi di mana
bahasa itu dituturkan dalam komunikasi sehari-hari. Ontologi alamiah
menghendaki adanya kenyataan-kenyataan sebagai keutuhan yang tidak bisa
dipahami jika dipisahkan dari konteksnya (Guba, 1985)
3. Metode Kualitatif
Metode kualitatif digunakan dalam penelitian bahasa karena metode ini
lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman
pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi (Moleong,
2000). Metode ini menyajikan secara langsung data kebahasaan yang didapat
di lapangan sesuai dengan penggunaannya. Oleh karena itu peneliti kualitatif
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 10
merasa perlu menangkap perspektif-perspektif subjek penelitiannya secara
akurat, serta memperhatikan dengan cermat apa saja informasi yang diberikan
oleh informan mereka. Dengan demikian, para peneliti dapat memberikan
“makna” yang benar terhadap segala fenomena yang ditemuinya.
4. Analisis data secara induktif
Penelitian bahasa menggunakan analisis data induktif. Data yang
diperoleh di lapangan dianalisis dan kemudian digeneralisasikan untuk
mendapatkan temuan penelitian. Data induktif pada penelitian bahasa
merupakan gejala bahasa yang betul-betul digunakan oleh masyarakat
penuturnya, bukan gejala bahasa yang ada dalam pikiran peneliti atau gejala
bahasa yang seharusnya ada menurut pemikiran peneliti. Berbeda dengan
penelitian kuantitatif yang bersifat deduktif, di mana abstraksi-abstraksi
dibangun dari teori-teori dan data-data yang secara meyakinkan ditemui.
Penelitian kualitatif yang bersifat induktif peneliti mngkonstruksi konsep
secara lebih jelas waktu melaksanakan penelitian setelah mengumpulkan
beberapa fenomena dan memahaminya.
Metode Penelitian Filologi
Materi penelitian bidang fonologi dapat berupa penelitian fonetik, dan
fonemik serta lingkungan fonem keselarasan fonem. Materi fonetik tidak
hanya terbatas pada bunyi bahasa saja akan tetapi dapat pula mencakup
bagaimana bunyi itu diterima, sehingga mencakup fonetik artikulatoris dan
fonetik auditoris.
Unsur-unsur yang dapat diteliti di bidang fonologi, selain yang telah disebutkan di
atas, antara lain:
9. Proses terjadinya bunyi
Proses terjadinya bunyi bahasa mencakup kajian unsur organ bicara
yang terlibat dalam menghasilkan bunyi– bunyi bahasa. Setiap bahasa
mempunyai ciri khas pengucapan bunyi bahasa tertentu. Kajian ini termasuk
kajian fonetik.
10. Fonem vokal dan fonem konsonan
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 11
Vokal dan konsonan merupakan dua fonem segmental yang harus
diidentifikasi untuk mengetahui sistem fonologi bahasa. Setiap bahasa
mempunyai khasanah fonem vokal dan konsonan yang berbeda.
11. Fonem klaster dan diftong
Fonem klaster dan diftong merupakan dua atau lebih bunyi bahasa yang
diucapkan dalam satu rangkaian bunyi bahasa. Kemunculan fonem klaster
dan diftong sangat beragam pada berbagai bahasa. Oleh karena itu kajian
tentang dua hal ini akan memperkaya kajian kebahasaan yang muncul dalam
komunikasi.
12. Perubahan varian fonem
Fonem akan bervariasi pengucapannya karena dipengaruhi oleh
lingkungan fonem yang terletak sebelum dan sesudahnya.
13. Asimilasi dan disimilasi fonem
Asimilasi adalah proses penyamaan bunyi sesuai dengan
lingkungannya, misalnya al salam menjadi assalam sementara disimilasi
proses pembedaan bunyi dengan lingkungannya.
2.2. Karangan Tentang Fiqh Lughah
Fiqih lughah ()خغٌٌا ٗمف: secara terminologis ( )بؽلاهفاadalah ilmu yang mengkaji
problematika bahasa, dari aspek bunyi, kosa kata, struktur, karakteristik fonologis,
morfologis, sintaksis dan semantik. Dalam ilmu fiqh lughah ini, tentu ada sebuah
karya berupa karangan. Ilmu fiqh lughah ini, memiliki literasi karangan berupa buku
Arab Klasik dan Modern.
Fiqh al-Lughah dalam Buku-buku Arab Klasik
Barangkali studi tertua yang membahas fiqh al-lughah adalah penelitian yang
dilakukan oleh Abdul Malik bin Quraib al-Ashma‟i tentang isytiqaq, yaitu derivasi
kata dalam bahasa Arab, yang istilahnya disebut dengan fiqh al-lughah. Penelitian
Asma‟i ini tidak lebih dari ulasan-ulasan umum yang kemudian semakin diperluas
dan dikembangkan sehingga memunculkan bagian-bagian penting dari ilmu ini.
1. Ash-Shahibi: fi Fiqh al-Lughah wa Sunan al-Arab fi Kalamiha
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 12
Ahmad bin Faris meluncurkan penelitiannya tentang munculnya bahasa
Arab dengan judul “Ash-Shahibi: fi Fiqh al-Lughah wa Sunan al-Arab fi
Kalamiha”. Ibnu Faris menjelaskan bahwa penamaan “Ash-Shahibi” diambil
dari nama temannya, Shahab Isma‟il bin „Ubbad. Selama menulis buku ini,
Ibnu Faris menyimpan naskahnya dalam perbendaharaan Shahab Isma‟il bin
„Ubbad. Ibnu Faris berkata: “Aku memberi judul dengan nama ini karena aku
menulis dan menyimpannya dalam perbendaharaan seorang teman yang
terhormat. Ia adalah seorang hamba Allah, penjaga ilmu, kebaikan, dan
keadilan seumur hidupnya.”
Buku Ash-Shahibi karya Ibnu Faris ini adalah buku pertama yang
menggunakan istilah fiqh al-lughah pada judulnya. Buku ini mengkaji tentang
asal-usul, perkembangan, dan pembagian bahasa Arab ke dalam beberapa
dialek. Ibnu Faris juga menjelaskan tentang studi-studi dalam tataran bahasa,
seperti fonologi (ashwat), morfologi (sharaf), sintaksis (nahwu) dan semantik
(dalalah). Ibnu Faris mengaitkan studi fiqh al-lughah dengan pemahaman al-
Qur‟an secara baik, seolah-olah menunjukkan bahwa tujuan dari studi ini
adalah untuk memahamim teks al-Qur‟an.
2. Fiqh al-Lughah wa Sirr al-‘Arabiyah
Buku kedua yang merupakan sumber literatur kedua mengenai fiqh al-
lughah adalah buku karangan Imam ats-Tsa‟labi yang berjudul “Fiqh al-
Lughah wa Sirr al-„Arabiyah” (Fiqh Lughah dan Rahasia Bahasa Arab). Buku
ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian fiqh al-lughah dan bagian sirr al-
„Arabiyah. Bagian pertama berisi semacam ensiklopedia atau kamus Arab
yang materinya tersusun secara maknawi. Adapun bagian keduanya, bagian
inilah yang lebih banyak membahas mengenai fiqh al-lughah. Meski begitu,
buku karangan Tsa‟labi ini adalah buku yang tema-temanya tidak terbatas.
3. Al-Khasha’ish
Buku ketiga datang dari Abul Fatah Utsman Ibnu Jinni dengan
karangannya yang berjudul “Al-Khasha‟ish” (Karakteristik). Ibnu Jinni adalah
seorang ahli bahasa yang terkenal dan besar, yang presisi penelitiannya tidak
dipertanyakan lagi. Ibnu Jinni menyempurnakan materi atau subjek,
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 13
mendalamkan pandangan, memperbanyak hasil, menyambungkan pengaruh
dalam perbedaan ahli bahasa klasik dan modern.
Ibnu Jinni tidak menggunakan istilah fiqh al-lughah pada judul buku al-
Khasha’ish.
Tidak seperti Ibnu Faris dan Tsa‟labi, Ibnu Jinni tidak menggunakan
istilah fiqh al-lughah untuk judul bukunya ini. Ia menamai bukunya al-
Khasha‟ish. Hal ini menunjukkan bahwa istilah fiqh al-lughah belum menjadi
istilah yang mapan di antara ilmuwan bahasa. Istilah al-khashaish sebenarnya
dimaksudkan tentang materi studi dari ungkapan fiqh al-lughah itu sendiri,
hanya namanya saja yang tidak secara gamblang menggunakan istilah “fiqh al-
lughah”. Buku ini berisi tentang dasar-dasar umum terkait studi bagian-bagian
bahasa secara terperinci, seperti membahas tentang
perbedaan kalam dan qaul, isytiqaq kabir, tashaqub al fadz litashaqub al
ma‟ani, dalalah, arbitrer sebagai pemilihan huruf dan penyusun kata, qiyas,
dan lain-lain.
4. Al-Mazhar fi ‘Ulum al-Lughah wa ‘Anwa’uha
Kemudian, Jalaluddin Suyuthi (w. 911) muncul dengan bukunya yang
berjudul “al-Mazhar fi „Ulum al-Lughah wa Anwa‟uha”. Ia mengumpulkan
sumber-sumber literasi mengenai fiqh al-lughah dari para ilmuwan abad
kesembilan hijriyah. Ia mengutip dari buku-buku itu dan menambahkan
sebagian pembahasan baru. Buku ini menceritakan tentang asal-usul bahasa,
hubungan dan kesesuaiannya, bahasa fusha dan bahasa „amiyah, bahasa
gharib, mu‟rab, isytiqaq dan isytarak, sinonim dan antonim, dan lain-lain.
Fiqh al-Lughah dalam Literasi Modern
Buku “Fiqh al-Lughah” karangan Dr. Ali Abdul Wahid Wafi dianggap sebagai
buku akademis pertama mengenai fiqh al-lughah yang terbit di masa modern, yaitu
pada tahun 1979. Buku lainnya datang dari Ustadz Muhammad al-Mubarrak yang
mengeluarkan buku berjudul “Fiqh al-Lughah wa Khasha‟ish al-„Arabiyah”.
2.3. Teori Kemunculan Bahasa
Sebenarnya tidak ada yang tahu pasti tentang kemunculan bahasa dan bagaimana
bahasa dapat terbentuk di dunia ini. tak hanya pada manusia, pada hewan pun mereka
memiliki bahasa tersendiri untuk berkomunikasi, tentunya dengan cara yang hanya
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 14
mereka sendiri yang mengetahui. Namun beberapa teori muncul dikarenakan
beberapa alasan yang terjadi pada masa lalu.
sebuah artikel menjelaskan beberapa teori mengenai kemunculan bahasa, yakni :
A. Teori tekanan sosial
Seorang Filsuf yang berasal dari Skotlandia bernama Adam Smith
berpendapat bahwa bahasa muncul karena adanya kebutuhan berkomunikasi
antara orang primitif di zaman pra sejarah terdahulu, mereka akan
mengeluarkan suara-suara tertentu untuk menyampaikan suatu hal. Teori ini
menganggap,
bahasa timbul karena tekanan sosial yang memaksa manusia menciptakan
bunyi untuk objek yang ditemuinya atau sesuatu yang mereka lakukan.
B. Teori Ekoik
Teori ekoik atau biasa disebut dengan teori onomatopetik merupakan
spekulasi asal usul bahasa menurut J.G. Herder. yang menyatakan bahwa
sebuah objek diberi nama sesuai dengan bunyi yang mereka keluarkan
contohnya adalah hewan tokek, ia diberi nama demikian berdasarkan bunyi
yang dikeluarkan dari hewan tersebut.
C. Teori Interjeksi
Teori ini diungkapkan oleh ettiene bonnet Condillac. bahwa bahasa
diciptakan dari ungkapan-ungkapan melalui insting manusia karena adanya
banyak tekanan. Sebagai contoh ketika kita menemukan hal yang terasa
menjijikan atau kotor, maka dengan spontan kita mengatakan “ ihh “, melalui
hal ini ettiene menyimpulkan bahwa bahasa lahuir dari tekanan secara
lahiriyah, batin dan perasaan. Teori inilah menjadi cikal-bakal munculnya
kata-kata yang digolongkan sebagai tanda seru atau interjeksi.
D. Teori Nativistik
Teori ini diungkapkan oleh Max Muller, dia berasumsi dari sebuah
hukum yang mengatakan bahwa setiap barang akan mengeluarkan bunyi atau
suara apabila ia dipikul. tentulah setiap barang memiliki bunyi yang
dikeluarkan sehingga manusia memberi respon atas suara tersebut.
Respon itulah yang merupakan insting dan melahirkan sebuah bahasa.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 15
E. Teori YO-HE-HO
Teori ini menyimpulkan bahwa bahasa tercipta dari suatu kegiatan
sosial dimana orang primitif terdahulu melakukan segala hal secara bersama-
sama, gotong-royong dalam melakukan segala sesuatu sehingga muncullah
keinginan memberi semangat muncullah suara-suara khas yang mereka
keluarkan.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 16
DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.com/amp/s/ahjeongdaily.wordpress.com/2020/11/30/fiqh-al-lughah-
dalam-catatan-literasi/amp/
https://www.academia.edu/31511634/FIQH_AL_LUGHAH_FI_AL_DIRASAT_AL_LUGHA
WIYAH_INDAL_ARAB_1
I Esti - 2016 - repository.unwidha.ac.id
https://www.ayo-berbahasa.id/2019/03/teori-kemunculan-bahasa.html -
:~:text=Teori%20kemunculan%20bahasa%20yang%20dibuat%20oleh%20Max%20Muller,k
has%20sehingga%20manusia%20memberikan%20respon%20atas%20suara%20tersebut
S Purnama - LITERASI (Jurnal Ilmu Pendidikan), 2016 - ejournal.almaata.ac.id
M Zaim - 2014 - repository.unp.ac.id
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 17
MAKALAH 3
DIALEKTIKA ARAB
Ernasetia & Qurrota „Aini
A. Pengertian Dialek/Lahjah
Dialek berasal dari bahasa Yunani διάλεκτος , dialektos, yang berarti varian-varian
sebuah bahasa yang sama. Varian-varian ini memiliki perbedaan satu sama lain, tetapi
masih banyak menunjukkan kemiripan di antara mereka, sehingga belum pantas
disebut bahasa-bahasa yang berbeda. Biasanya pemerian dialek didasarkan pada letak
geografi, di samping adanya faktor-faktor lain seperti faktor sosial. Perbedaan dialek
dapat diklasifikasikan berdasarkan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan (fonologi,
termasuk prosodi).
Muhammad Ali Al-Kulli menyebutkan dialek sebagai metode atau cara yang
digunakan oleh manusia untuk mengungkapkan bahasanya dan cara berbahasa yang
lebih menunjukkan pada letak geografis, golongan ataupun kebudayaan penuturnya.
Setiap dialek memiliki ciri khas yang membedakannya dengan dialek yang lainnya
baik dari segi fonologi, kosa kata, morfologi, dan sintaksisnya. Dialek akan
mengalami perubahan berdasarkan letak geografis, keadaan politik, dan juga
perkembangan kebudayaan sehingga menyebabkan munculnya bahasa yang berdiri
sendiri. Disebutkan bahwa dialek merupakan gaya bahasa, cara pengucapan, dan
artinya sedikit agak berbeda dengan yang lainnya. Sedangkan ragam dialek yaitu
sekelompok penutur yang jumlah relatif, yang berbeda pada suatu tempat, wilayah
maupun area tertentu, baik secara regional maupun secara geografis. Selanjutnya
Kridalaksana menyebutkan definisi dialek yang lebih luas, yaitu suatu bentuk varian
bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai, varian bahasa yang dipakai oleh
kelompok bahasawan di tempat tertentu (regional dialect/geographical dialect) dan
digunakan oleh golongan tertentu dari suatu kelompok bahasawan (social dialect)
yang hidup dalam waktu tertentu (temporal dialect/state of language).
Dialek (غبدٌٍٙ ) اmenurut para ahli bahasa Arab adalah bahasa dan huruf yang
digunakan oleh sekelompok orang dalam rumpun tertentu yang menyebabkan adanya
perbedaan ucapan bahkan bacaan antara satu dengan yang lainnya. Di kota Mekah
karena menjadi tempat transit para pedagang. Di samping itu juga menjadi tujuan para
peziarah Ka'bah untuk memuja kepada patung-patung dewa yang berderet di sekitar
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 18
Ka'bah. Sehingga terjadi dinamika yang kurang sehat bagi perkembangan bahasa
Arab. Para pengunjung yang berasal dari berbagai penjuru kawasan Arab ini
mempunyai dialek yang berbeda. Di depan Ka'bah sering diadakan pentas apresiasi
sastra (sya'ir), Setiap kabilah mengirimkan penyair terbaiknya. Ketika satu persatu
penyair membacakan syairnya, muncul ragam dialek yang menjadi identitas suku
tertentu.
B. Asal-Usul dan Perkembangan Lahjah
Semenjak Adam AS dan bahasa-bahasa yang digunakan oleh keturunannya terbagi
menjadi berbagai macam lahjah, dan setelah terpencar-pencarnya anak Nabi Nuh as di
bumi setelah kejadian banjir besar, maka terbagilah kumpulan bahasa anak manusia
menjadi tiga majmu'at Sam, Ham, dan Yafist. Masing-masing memiliki cabang
cabang klasik maupun modern.
Sam adalah nenek moyang ras Semit. Semit merupakan gabungan dari bahasa²
berdekatan yang di nisbahkan kepada Sam bin Nuh (Sam adalah salah sagu dari anak²
Nuh). Adapun cabang-cabang bahasa Semit dan bangsanya tergambar dalam
“Syajarah Al- Lughaatus Saamiyah” yaitu bagian utara adalah Kan‟aniyah (Ajritiyah,
Kan‟an Kuno, Muabiyah, Finiqiyah, dan Ibriyah) dan Aramiyah. Sedangkan bagian
selatan terbagi kepada Arab Selatan (Ma‟iniyah, Sabaiyah, Hadramiyah, Quthbaniyah,
Habsyiah) dan Arab Utara yang terbagi kepada Arab Baidah (Tsamudiyah,
Shafawiyah, Lihyaniyah) dan Arab Baqiyyah (Hijaziyah dan Tamim) Bahasa yang
tertua dari keluarga bahasa Semit adalah Bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah
bahasa Semit yang terdekat dengan bahasa Semit lama. Penutur bahasa-bahasa itu
berasal dari keturunan Sam anak Nuh a.s. Negeri asal bangsa Semit adalah Arab
Di zaman Jahiliyah, orang Arab mempunyai beberapa bahasa (dialek) yang
berbeda terutama dalam pengucapannya. Akan tetapi, mereka tetap mengutamakan
bahasa Quraisy yang dengan bahasa itu Allah menurunkan Kitab Suci-Nya. Bahasa
Quraisy mengatasi semua dialek yang hidup di jazirah Arabia yang jumlahnya sampai
puluhan.
Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983). pertumbuhan dan
perkembangan Lahjat (dialek) sangat ditentukan oleh faktor intralinguistik dan faktor
ekstralinguistik. Faktor intralingusitik. yaitu faktor bahasa itu sendiri, faktor
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 19
ekstralinguistik, seperti faktor geografis, budaya, aktivitas ekonomi, politik, kelas
sosial dan sebagainya.
Menurut Guiraud (1970: 26) terjadinya ragam Lahjat (dialek) itu disebabkan oleh
adanya hubungan dan keunggulan bahasa yang terbawa ketika terjadi perpindahan
penduduk. penyerbuan atau penjajahan. Hal yang tidak boleh dilupakan ialah peranan
dialek atau bahasa yang bertetangga di dalam proses terjadinya suatu dialek itu. Dari
dialek dan bahasa yang bertetangga itu, masuklah anasir kosakata, struktur, dan cara
pengucapan atau lafal. Setelah itu kemudian ada di antara dialek tersebut yang
diangkat menjadi bahasa baku, maka peranan bahasa baku itu pun tidak boleh
dilupakan. Sementara pada gilirannya, bahasa baku tetap terkena pengaruhnya baik
dari dialeknya maupun dari bahasa tetangganya.
Lahjat (dialek) berkembang menuju dua arah, yaitu perkembangan membaik dan
perkembangan memburuk. Sebagai contoh perkembangan dialek yang memburuk
terdapat pada kampung Legok Indramayu, pada lima tahun yang lalu penduduk
kampung tersebut masih berbicara Bahasa Sunda tetapi sekarang penduduk kampung
disana justru hanya dapat mempergunakan Bahasa Jawa- Cirebon. Dengan kata lain,
bahasa Sunda di kampung Legok Indramayu sekarang telah lenyap, dan kelenyapan
itu merupakan keadaan yang paling buruk dari perkembangan memburuk suatu
bahasa atau dialek. Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1983),
Bahasa Sunda di kota Bandung dijadikan dasar bahasa sekolah yang kemudian
dianggap sebagai bahasa Sunda baku. Hal tersebut didasarkan kepada faktor obyektif
dan subyektif. Secara obyektif memang harus diakui bahwa Bahasa Sunda kota.
Bandung memberikan kemungkinan lebih besar untuk dijadikan bahasa sekolah dan
kemudian sebagai bahasa Sunda Baku. Hal ini dialek bahasa Sunda mengalami
perkembangan membaik.
C. Dominasi Lahjat Quraisy.
Seperti yang telah diketahui Lahjah sama artinya dengan dialek, atau dialect
dalam bahasa inggris yang mengacu pada variasi bahasa yang merupakan karakteristik
dari suatu kelompok penutur bahasa tertentu. Lahjah adalah bahasa kolektif yang
digunakan orang Arab pada zaman dahulu untuk merangkai pidato yang menggugah
dan menguntai syair-syair yang indah, mereka meng-istilahkan bahasa yang dipakai
bersama tersebut dengan istilah lahjah fushah.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 20
Sesekali lahjah ini juga disebut dengan lahjah Quraisy, kepada seorang nabi akhir
zaman yang berasal dari suku quraisy pula diturunkannya Al-qur‟an yang menjadi
petunjuk bagi seluruh manusia. Bahkan sebagian peneliti menamakan lahjah ini
dengan istilah Qurasyiyyah. Bahkan lahjah fushah ini sudah tertanam dalam jiwa para
salaf sebagai lahjah Quraisy, karena sefasih-fasih penutur bahasa Arab adalah orang
Quraisy.
Faktor-faktor Dominasi Lahjah Quraisy di Negara-Negara Arab
Ada banyak sekali faktor pendukung yang menjadikan suku Quraisy mendominasi
Arab dalam aspek kepemimpinan, peradaban, dan bahasa sebelum Islam.
Diantara faktor-faktor tersebut antara lain:
● Posisi kota diduduki suku Quraisy, orang Quraisy mendiami Makkah Al-
Mukarramah dan seluruh bangsa Arab melaksanakan haji di kota tersebut sehingga
bisa diakui bahwa suku Quraisy punya otoritas keagamaan atas jazirah Arab.
● Faktor ekonomi, pasar-pasar yang terdapat di Makkah membuat kota tersebut
populer dari segi ekonomi pula, posisinya yang berada di antara Syam dan Yaman
menjadikan suku Quraisy memiliki posisi yang strategis daripada suku-suku yang
lain.
● Faktor kebudayaan, para saudagar, pedagang, penyair dan pembicara mereka
bolak-balik ke pasar-pasar di Makkah sehingga menjadikan tempat itu sebagai forum
kebudayaan dan sastra.
● Faktor politik dan geografi, kota Makkah terletak sangat jauh diantara Persia,
Romawi, dan Habsyah sehingga aman dari konflik yang terjadi antar negara-negara
tersebut. Sementara orang Arab di Syam, Irak, Yaman, dan pinggiran jazirah Arab
selalu terkena bahaya dari musuh-musuh mereka, sehingga bahasa Arab mereka
banyak bercampur dengan bahasa Asing. Sedang Orang suku Quraisy hidup dalam
kemerdekaan dan kebebasan.
● Ayyamul ‘arab, adalah peperangan antara suku-suku dan pinggiran jazirah Arab
karena sebab-sebab tertentu.Bahasa Quraisy yang luas dan berlimpah, bahasa Arab
suku Quraisy sangat terhormat, dan kaya akan materinya, dan terhindar dari aib-aib.
● Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang notabene sebagai
Quraisy dan berbahasa Arab.
Faktor-faktor inilah yang menyebabkan suku Quraisy mendominasi dan menjadi
pelopor bahasa Arab di negara-negara Arab
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 21
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perbedaan Lahjah
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan. Faktor-faktor
tersebut diantaranya:
1. Perbedaan lingkungan geografis.
Keadaan geografis suatu daerah atau lingkungan akan berpengaruh kepada
penduduknya secara jasmani, perilaku dan psikologi. Hal ini pun berpengaruh
kepada indera pengucapan dan cara berbicara.
2. Keberagaman kondisi sosial.
Setiap kelompok masyarakat mempunyai hukum, undang-undang, adat, dan etika
tersendiri. Hal ini berpengaruh terhadap cara mereka dalam membina komunikasi
antar anggota kelompok atau antar anggota masyarakat tersebut. Kemudian dalam
suatu kelompok masyarakat akan ditemui tingkatan masyarakat mulai dari
aristokrat dan pejabat, pekerja pabrik, pertanian, dan perdagangan yang
menyebabkan perbedaan dalam penggunaan bahasa dan melahirkan lahjah-lahjah
tertentu.
3. Insting komunikasi manusia.
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan pertolongan orang lain, maka
mereka saling bertukar manfaat dan saling membutuhkan satu sama lainnya.
Untuk mencapai hal tersebut mereka membutuhkan gaya tersendiri dalam
menyampaikan maksud mereka. Sehingga bagi para pendatang mereka dituntut
untuk menguasai bahasa dan dialek bahasa penduduk asli untuk saling
berkomunikasi.
4. Faktor budaya.
Budaya suatu bangsa atau masyarakat akan sangat mempengaruhi dialek yang
dimiliki oleh masyarakat tersebut.
5. Sejarah.
Faktor sejarah yang melatarbelakangi kehidupan suatu masyarakat akan ikut
mempengaruhi penggunaan dialek yang mereka miliki. Hal ini karena sejarah
dalam perjalanannya secara kurun waktu tertentu telah membentuk kebiasaan
suatu masyarakat termasuk dalam hal lahjat.
6. Politik, ekonomi, dan kekuasaan.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 22
Hal ini berarti kaum manapun yang saat itu berkuasa maka lahjah merekalah yang
akan dijadikan patokan.
7. Faktor derajat resmi
faktor derajat resmi yang berbeda atau sering disebut dialek sosial. Karena seiring
dengan kebiasaan tempat belajar siswa tersebut maka secara tidak sengaja akan
terbiasa dengan dialek tempat yang siswa tersebut singgahi,, misalnya ada
mahasiswa asal indonesia yang belajar di luar negri misal Mesir, maka secara
tidak sengaja lama kelamaan akan terbiasa dengan dialek Disana
E. Macam-Macam Lahjah
Perbedaan antara dialek-dialek ini terdapat dalam berbagai macam aspek yaitu suara,
makna, kata, dan kaidah (morfologis dan sintaksis). Dari segi suara, yaitu bentuk
pengujaran kata. Dari aspek ini terlihat adanya perbedaan-perbedaan dialek di mana
satu dialek mengujarkan sebuah kata berbeda dengan dialek lainnya. Sebagai contoh
adalah fenomena bacaan imālah, yaitu mencondongkan bacaan harakat fathah ke
kasrah seperti bacaan ( دػـــا, ٝ لٍـــ, ٝ عـــد, ٝ اٌـــضح,( walaupun ada dialek lain yang
membacanya dengan tidak di-imālah-kan. Perbedaan-perbedaan dialek ini tampak juga
pada aspek makna seperti yang terlihat dalam kata-kata sinonim atau antonim.
Sebagai contoh, perbedaan dialek dari segi makna ini terlihat dalam sebuah
riwayat yang menunjukkan bahwa Abu Hurairah tidak memahami kata ٓ١ اٌـغىyang
diucapkan oleh Rasulullah, padahal maknanya sama dengan kata ـح٠ اٌّذ.Kata ini
berasal dari suku Daus. Dari segi perbedaan kata, hal ini bisa dilihat dari kata-kata
yang tidak berubah dan maknanya pun masih seperti makna dialeknya yang dulu. Hal
ini bisa dijumpai pada sebagian suku. Seperti kata ـح٠ اٌّذpada suku Daus yang
bermakna ٓ١ اٌـغى. Kata طاٌغثـ٠ yang bermakna kendaraan atau tumpangan bagi
perempuan dalam dialek Thai. Adapun fenomena perbedaan dialek dari aspek kaidah,
yaitu dari segi pembentukan kata dan wazan-wazan-nya.
1. Macam-macam Lahjah dilihat dari bentuknya
a. Dialek Regional
Dialek Regional yaitu dialek yang ciri-cirinya dibatasi oleh tempat atau
letak geografis. Sering juga disebut Dialek Area. Misalnya, lingua franca
bangsa Indonesia adalah bahasa Indonesia, tetapi setiap daerah yang ada di
Negara Indonesia memiliki dialek (Lahjah) masing-masing karena disebabkan
oleh letak geografis dan kebudayaan yang berbeda-beda, ketika mereka
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 23
2. Kata (لايٌٙ )اdapat bermakna bulan sabit yang dilangit ()٘لاي اٌغّبء, sisa air yang di
baskom/air yang sedikit (ً١ٍ اٌّبء اٌم/ كٛ اٌؾٟ اٌّبء فٟ) ثبل, kulit selongsong ular (عٍؼ
)خ١ّ اٌؾ, unta yang kurus (صٚضٌّٙ)اٌغّب ا,dll
3. Kata (ٓ١ )اٌؼmemiliki banyak makna diantaranya: mata ()اٌجقش, mata air (ٓ اٌّبء١)ػ,
sumber air (ٓ١)اٌّؼ, mata-mata (طٛ)اٌغبع, mata uang emas atau perak ( إٌمذ ِٓ اٌز٘ت
اٌفنخٚ) , mata uang dirham dan dinar (ش١ٔاٌذٔبٚ ُ٘)إٌمذ ِٓ اٌذسا, mata matahari ( ٓ١ػ
)اٌؾّظ, „ain penyakit yang menyerang manusia, dll
- Contoh Al-Musytarak pada kata lain :
1. Kata ( )غشةdapat bermakna arah barat (خٙ )اٌغdan juga bermakna timba (ٌٛ)اٌذ
2. Kata ( )اٌغذmemiliki 3 (tiga) makna, yaitu : bapak dari ayah/ibu ( الأةٛ أث/ َ الأٛ)أث,
nasib baik ( اٌجؾذ, )اٌؾعdan tepi sungai (شٌٕٙ)ؽبهئ ا
3. Kata (ً )اٌغبئdapat bermakna orang yang meminta dan bermakna sesuatu yang
mengalir (ً١غ٠ ٞ)اٌز
Contoh Al- Musytarak dalam Syair
Ada bait-bait syair yang memuat kata-kata umum yang dilantunkan Salama Al-
Anbari dalam menjelaskan Maqamat:
.ذ َع ٍْغب٠د ِٓ ثطٓ لذٛم٠ ... بً َع ٍْغب٠ذ ٘زس٠ٌمذ سأ
. َع ٍْغبٚ ًٗ ٌجٕب١ؾشة ف٠ ... ِٓ ثؼذ ران َع ٍْغبٝصُ سل
..ُ َع ٍْغبٌٙ ِْٛئ٠ لاٚ ... ْ َع ٍْغبٛؾشث٠ ِغ سفم ٍخ لا
Kata ( ) َع ٍْغبyang pertama bermakna laki-laki jangkung (ً٠ٛ)سعً ه. Yang kedua
bermakna gunung yang tinggi ()عجً ػبي. Yang ketiga bermakna gunung (ً)عج. Yang
keempat bermakna madu (ً)ػغ. Yang kelima bermakna khamr ( )خّش. dan yang
keenam bermakna ()ٔغذ
Contoh Al- Musytarak dalam Al-Qur‟an
َْ ْٛ ُ ْئ َف ُى٠ اْٛ ُٔ َش َعب َػ ٍخ ۗ َو ٰز ٌِ َه َوب١ْ ا َغْٛ ُ َْ ۙە َِب ٌَجِضْٛ ُِ ُ ْم ِغ ُُ ا ٌْ ُّ ْغ ِش٠ ُ َُ اٌ َّغب َػخْٛ ُ ََ رَمْٛ ٠َ َٚ
Dan pada hari (ketika) terjadinya Kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah,
bahwa mereka berdiam (dalam kubur) hanya sesaat (saja). Begitulah dahulu mereka
dipalingkan (dari kebenaran).
Pada ayat diatas, terdapat lafal yang sama dalam pengucapannya, yaitu lafal As-
Sa‟ah yang disebut sebanyak dua kali. Dari segi makna, keduanya memiliki arti yang
berbeda. Pertama, bermakna hari kiamat
Sedangkan yang kedua, bermakna waktu sesaat saja. (Mubarokah, 2016)
Contoh yang lain terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 228 berbunyi :
ٍءْْٚۤ َّٓ صٍَٰضَخَ لُ ُشِٙ َزَ َش َّث ْق َٓ ِثبَ ْٔفُ ِغ٠ ا ٌْ ُّ َط ٍَّ ٰم ُذَٚ
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 39
- Al-Jannah - Surga, Lafadz musytaraknya ( )سؽّخRahmah: kasih sayang, seperti
dalam ayat:
ْ سؽّخ اللهٛشع٠ ٌئهٚ( أAl-Baqarah: 218)
- (حٛ )إٌجAn-Nubuwwah - Kenabian, seperti dalam ayat:
ؾبء٠ ِٓ ٗخزـ ثشؽّز٠ اللهٚ (Al-Baqarah: 105)
- (ْ )اٌمشآAl-Qur‟an – Al-Qur‟an, seperti dalam ayat:
اٛفشؽ١ٍثشؽّزٗ فجزٌه فٚ ( لً ثفنً اللهYunus: 58)
- ( )اٌّطشAl-Mathar – Hujan, seperti dalam ayat:
ٗ سؽّزٞذ٠ ٓ١بػ ثؾشا ث٠شعً اٌش٠ ٞ اٌزٛ٘ٚ (Al-A‟raf: 57)
- (اٌشصقٚ )إٌؼّخAn-Ni‟mah wa Ar-Rizqiy – Nikmat dan rezeki, seperti dalam ayat:
ثشؽّخٟٔ أسادٚ( أAz-Zumar: 38)
C. Sebab-sebab terjadinya Al-Musytarak
Mustafa Muhammad mengemukakan bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi lahirnya Al-
Musytarak (Homonimi) ,yaitu :
1. Perbedaan dialek (غبدٌٍٙ)اخزلافبد ا. Contoh kata (ّذ١ )اٌغyang secara umum berarti ()اٌزٔت
serigala namun dalam kabilah hudzail berarti ( )الأعذsinga
2. Penggunaan majaz (ٜعزؼّبي اٌّغبص٢)ا. Contoh kata ( )اٌّ ّظyang makna aslinya ( ء ثبِٟ ّظ اٌؾ
ذ١ٌ )اmenyentuh dengan tangan dan dalam makna majaz (ْٕٛ )اٌغgila.
3. Kaidah shorof (خ١اػذ اٌقشفٛ )لcontoh kata (عذٚ) dapat bermakna (ءٟعذ اٌؾٚ) mendapatkan
sesuatu , (داٛعٚ) wujud/keberadaan
4. Bercampurnya Bahasa lain (ٜ )الإلزشاك ِٓ اٌٍغبد الأخش.contoh kata (خ١ٍّ )وawalnya berarti
kegiatan belajar mengajar di kampus. Tetapi terpengaruh dalam bahasa inggris dimana
makna kata ( )عضء ِٓ اٌغبِؼخberarti (خ١ٍّ )وsehingga kata (خ١ٍّ )وberarti fakultas (college)
5. Perkembangan bahasa (س اٌٍغخٛ)اٌزط. Contoh kata ( )اٌفشلخasal katanya (سحٛ )اٌضdan hasilnya
mempunyai dua arti yakni ( )عٍذ اٌشأطkulit kepala dan (ٕٝ )اٌغkaya.
Sebab terjadinya homonim atau musytarak itu terjadi karena perkembangan bahasa.
Terkadang dua kalimat asalnya berbeda dalam penggambarannya dan maknanya
kemudian berkembang sebagian suara-suara salah satu keduanya. Kemudian menjadi
bentuk lain disebabkan perkembangan tersebut dalam suaranya. Sebagaimana lafadz yang
aslinya tunggal makna menjadi makna yang berbeda. Maksudnya menjadi lafadz
musytarak dintara dua makna atau lebih. Misalnya kalimat farwah untuk makna kulit
kepala dan orang kaya. Kemudian menjadi tarwah ta‟ diganti dengan fa‟ menurut orang
arab.
D. Cara mengetahui makna Al- Musytarak
Kita bisa mengetahui makna Al- Musytarak dengan menyesuaikan konteks kalimatnya. akan
tetapi kita tidak dapat memhami konteks kalimatnya ketika kita tidak mengetahui makna apa
saja yg dimilki oleh lafadh itu. jadi kita harus membuka kamus. karena di kamus itu biasanya
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 40
tidak hanya menyebutkan satu arti saja dalam satu lafadh. Juga dibutuhkan keahlian,
ketelitian, dan ke akuratan untuk menyimpulkan makna dari al-musytarak ini agar tidak
terjadi miss dalam penerjemahan
E. Perbedaan Al- Musytarak dan Jinas
Keduanya beda kajian Al-musytarak merupakan kajian dalam ilmu semantik ,
sedangkan jinas adalah kajian dalam ilmu balaghoh, tapi semuanya termasuk obyek kajian
fiqh lughah. Keduanya juga berbeda dari definisinya: Musytarak adalah lafadz satu memiliki
arti yg lebih dari satu. spt lafadz "ain" itu artinya banyak. ada yg artinya mata (indera
penglihatan), mata air, mata uang, mata2, dll. Sedangkan jinas adalah 2 lafadh yg hampir
mirip, sama pengucapannya dan memiliki arti yg berbeda spt lafd "dain (hutang)" dan "din
(agama)". jadi musytarak itu 1 lafadh, sedangkan jinas 2 lafadh.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 41
DAFTAR PUSTAKA
D.Mubarokah. (2016). PENAFSIRAN KATA HOMONIM DALAM AYAT AHKAM DAN
IMPLIKASINYA BAGI PEMBENTUKAN KELUARGA SAKINAH (KAJIAN QS. AL-BAQARAH
AYAT 228 DALAM KITAB TAFSIR AHKAM AL-QUR‟AN KARYA AL-KIYA AL-HARASI.
STAIN KUDUS.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2008. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya.
Zukhaira.2019.Bahan Ajar Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab.Semarang : UNNES PRESS
Muslich, Masnur. 2010. Garis-garis Besar Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia.Bandung: Refika
Aditama.
Taufik, Wildan. 2015. Fiqh Lughah (Pengantar Linguistik Arab). Bandung :Nuansa Aulia.
Fitria siti falihatul. (2020). Al-Musytarak Al-Lafẓī Dalam Al-Qur‟an Menurut
Kitab Tafsir Jāmi‟ Al-Bayān (Kajian. 116.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 42
MAKALAH 6
AL-MUTADHOOD (ANTONIM)
Alannisa Nur Khasanah & Frisca Nur Kamalia
A. Pengertian Antonim ) اٌرضادٚ الأضذاد أٚ(اٌّرضاد أ
Kata antonim berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu onoma berarti nama dan anti
bermakna melawan. Secara harfiah berarti kata yang mengandung makna yang
berlawanan atau berkebalikan dengan kata yang lain (Guntur Tarigan, 1995:25).
Kridalaksana mendefinisikan antonim sebagai oposisi makna dalam pasangan
leksikal yang dapat dijenjangkan yaitu beberapa pasangan kata yang mempunyai arti
yang berlawanan. Dalam bahasa Indonesia kita kenal kata-kata besar-kecil, tinggi-
rendah, jauh-dekat, rajin-malas, takut-berani, gembira-sedih, sakit-senang, panas-dingin,
dan lain-lain. Sedangkan dalam bahasa arab tadhad (antonim) berasal dari kata ضذ٠ ضذ
ضذyang berarti menolak, berlawanan, atau kontradiksi.
Seacara istilah, tadhad (antonim) adalah sebuah lafadz yang mempunyai dua makna
yang berlawanan dan dikatakan oleh Wâfi bahwa yang dimaksud dengan اٌزنبدadalah:
ٖضذٚ ٕٝ اٌّؼٍٝطٍك اٌٍفع ػ٠ ْ أٛ٘ اٌرضاد
Antonim merupakan satu kata mengandung dua makna yang kontradiktif. Seperti
kata ْٛ اٌدberarti putih dan berarti hitam.
B. Cara Memahami Arti Kata Jika Bertentangan
Pahami melalui konteks
Misalnya, kata: جللyang menunjukkan hal yang kecil dan tidak penting (hina) dan
menunjukkan hal yang besar (agung atau terhormat).
1. Makna pertama dari perkataan Labid bin Rabi'ah- radhiyallahu 'anhu
“ والفتى يسعى ويلهيه الأمل... ”كل شيء ما خلا الله جلل
Melalui konteks dalam kalimat tersebut lafadz ًٍ عadalah sesuatu yang sedikit,tak berarti
dan hina. Karena seseorang tidak bangga dengan pengampunannya untuk dosa sederhana
dan sebagainya.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 43
2. Makna kedua dari syair
فإذا رميت يصيبني سهمي... قومي ُه ُم قتلوا أمي َم أخي
ولئن سطوت لأهنن عظمي... فلئن عفوت لأعفون جللا
Orang-orangku, mereka membunuh ibu saudara laki-lakiku... dan jika aku menembak,
panahku akan mengenaiku.
Jadi jika aku memaafkan, aku akan memaafkan dalam kemuliaan ... dan jika saya
menyerang, aku akan melemahkan tulangku.
Melalui konteks dalam dua bait terakhir, kita mengetahui bahwa yang dimaksud
dengan جلل اadalah hal yang agung/mulia/terhormat; karena seseorang tidak sombong
dengan memaafkannya untuk kesalahan kecil/hina.
Dan untuk bisa mengetahui itu kita harus mengetahui makna kita harus melihat
konteks kalimatnya. Untuk tahu makna setiap mufrodat yang ada dalam kalimat yaitu
dengan banyak membuka kamus dan banyak membaca naskah Arab sehingga bisa
terasah dzauq ( Cita rasa) Arabnya. Jika sudah demikian kita bisa memahmi teks Arab
tersebut dengan benar
C. Tokoh-tokoh dalam ( الأضذادAntonim)
Sebagian ulama berpendapat bahwa At-Tadhad itu ada, mereka pun memberikan
contoh-contoh yang banyak. Sebagaimana disebutkan oleh As-Suyuti – mereka adalah
Qutrub, At-Tauzi, Abu Al-Barakat Birkaat bin Ambar, Ibnu Dahan, dan As-Saghani, Al-
Khalil, Sibawaih, Abu Ubaidah, Abu Zaid al-Anshori, Ibnu Faris, Ibnu Sidah, as-Tsa‟labi,
Al- Mubarrad, dan Suyuthi. Yang menjadi pijakan argumentasi kelompok ulama yang
berpendapat bahwa tadhad itu ada salah satunya adalah yang dikemukakan oleh Ibnu
Anbari. Menurutnya, kata dalam bahasa Arab saling menguatkan antara satu dengan yang
lainnya, dan terkadang ada makna baru yang muncul pada satu kata. Dengan demikian
sangatlah wajar jika dalam satu kata terdapat dua makna yang saling berlawanan. Para
ulama ini pun memberikan contoh-contoh yang banyak yg diambil dari al qur'an, hadits,
syair
Selain itu untuk bab-bab yang disebutkan dalam buku Al-Jamharah oleh Ibnu Duraid
antara lain; Al-Gharib Al-Musannaf oleh Abu Ubayd, Al-Sahbi oleh Ibn Faris,
dikhususkan untuk Ibn Sidah, Fiqh Lughoh oleh At-Thaalibi, Diwan Al-Adab Al-Farabi,
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 44
dan Al-Muzhar oleh Al-Suyuti. Akan tetapi yang paling tebal dari kitab-kitab ini adalah
yang paling luas (pembahasan) kata-katanya, yang paling lengkap penjelasannya, dan dan
paling mencakup seluruh alasan-alasannya adalah kitab Abu Bakar Muhammad ibn al-
Qasim al-Anbari, yang dikenal sebagai Ibnu al-Anbari, 327 H. Bahkan dikatakan: Kitab
Abu Bakar ibn al-Anbari, sebab begitu populernya kitab tersebut, bahwa tidak akan ada
seorang pun yang mampu membuat kitab yang membahas “”الأمذاد. Buku ini berisi 357
lafadz Al-Tadhad. Dia menemukan semua yang tertulis di hadapannya, membesarkannya.
Kitab tersebut mampu mendapatkan sanjungan-sanjungan orang Arab dengan sangat
menakjubkan, menjadi penjelasan dari kitab suci Al-Qur‟an, Alhadits, dan Syair bagi
kebanyakan pujangga. Selain itu, kitab ini juga menjadi bahan pembicaraan/ “kembang
bibir yang manis” bagi kebanyakan orang, dan juga mampu mewujudkan terciptanya
kejelasan suatu ungkapan dan isyarat tertentu, serta mampu mewujudkan teraturnya
pengaturan/ penggunaan tata bahasa.
D. Contoh At-Tadhod dan Penjelasannya
Contoh At-Tadhod dalam Al- Qur‟an di antaranya:
ُِ ْؤ ِِ َّٓ ِتاَّ َّلل٠ َّٓ َّٓ إِ ْْ ُوِٙ ِِ أَ ْس َحاِٟ ْىرُ ّْ َٓ َِا َخ ٍَ َك َّل َّلاُ ف٠َ ْْ َ َّٓ أُٙ ٌَ ًُّ ِح٠َ ََلَٚ ٍءٚ َّٓ ثَََلثَحَ لُ ُشِٙ رَ َش َّت ْق َٓ ِتأَ ْٔفُ ِغ٠َ ا ٌْ ُّ َط ٍَّ َما ُخَٚ
ٌٍِ ِّش َخا ِيَٚ ِفٚ َّٓ ِتا ٌْ َّ ْؼ ُشِٙ ١ْ ٍَ َػٞ َّٓ ِِثْ ًُ اٌَّ ِزُٙ ٌَ َٚ ا ِإ ْفََل ًحاٚ رَ ٌِ َه إِ ْْ أَ َسا ُدِٟ َّٓ أَ َح ُّك ِت َش ِّد ِ٘ َّٓ فُٙ ُ ٌَرُٛتُؼَٚ ِخ ِش٢ْ َِ اْٛ َ١ٌْ اَٚ
﴾ ُ١ض َح ِى٠َّل َّلاُ َػ ِضَٚ َّٓ َد َس َخحِٙ ١ْ ٍَ َػ.
- Lafadz " ٍءٚ " لُ ُشdi atas adalah contoh 'at Tadhad dlm Alqur'an. karena memiliki 2 ati yg
berlawanan yaitu haidh dan suci.
- Kata اعش.Dalam al-Qur‟an kata ini memiliki dua makna yang bertentangan, yaitu makna
“menampakan”بسٙ ا اٌظdan“menyembunyikan” ااٌخفبء.dapat dilihat dalam surat as-Saba: 33
- Kata ّ , ٓ ظkata ini juga memiliki arti yang berlawanan yaitu“yakin” (ٓ١م٠ (dan “kira-kira:
atau “ragu” ( ؽه.(Pengertian yang pertama dapat dilihat dalam surat al-Baqarah: 45-46 dan al
Haaqah: 20)
- Kata ااٌؾزشاء.Kata ini memiliki dua arti yang bertentangan yaitu arti yang pertama adalah
“membeli”. Pengertian inidapat dilihat dalam surat at-Taubah: 111
- Kata اعشpada Surat as-Saba: 33
ا ا ٌْؼَزَا َةُٚ َا إٌَّذَا َِخَ ٌَ َّّب َسأٚأَ َع ُّشَٚ Arti : Kedua belah pihak “menyatakan” penyesalan tatkala mereka
melihat azab. Kemudian pada kata اعشdalam Surat Thaahaa ayat 62
ٰٜ َٛ ا اٌ َّٕ ْغٚأَ َع ُّشَٚ ُْ ُٙ َٕ١ْ َا أَ ِْ َش ُ٘ ُْ ثٛ َفزَ َٕب َص ُػArti : Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka
di antara mereka dan mereka "merahasiakan" percakapan (mereka). Kata أعشpada kedua ayat
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 45
memiliki dua makna yang bertentangan, yaitu makna بسٙ“ الإظmenampakan/menyatakn” dan
“ الإخفبءmenyembunyikan/merahasiakan”.
Kemudian Contoh-contoh antonim ini dipilih secara singkat tanpa penjabaran dari
kitab Al-adhoodad oleh Ibn al-Anbari.
1. القرء: dikatakan: القرءberarti suci, yaitu ajaran orang-orang Hijaz, dan القرءuntuk haid, yaitu
ajaran orang-orang Irak.
2. عسعس: Dikatakan: malam itu larut ketika telah berubah (lewat malam), dan عسعسapabila
menjelang malam.
3. ٌٌّٝٛ ا: hamba sahaya, dan ٌٌّٝٛ ا: tuan.
4. ً ثغ: untuk halal, dan untuk haram.
5. ذ٠ اؽزش: dalam arti membeli, dan dalam arti menjual.
6. ثؼذ: menurut arti yang diketahui orang, dan saya menjual barang itu jika saya menjualnya,
yaitu saya membelinya.
7. اٌغبسة: tersembunyi dan tampak.
8. حٕٛ َػ: jika sesuatu diambil dengan paksa dan kuat, dan disebut jika dia mengambilnya
dengan cinta dan persetujuan.
9. الصريخ والصارخ: untuk penolong, dan untuk orang yang mencari bantuan/ yang ditolong.
10. الدائم: Dikatakan bahwa penghuninya tetap, dan yang pindah.
11. الصريم: Lafadz ini mempunyai arti kata putus. Dikatakan untuk malam, untuk siang hari.
Penggunaan makna tersebut karena melihat kenyataan bahwa apabila siang datang malam
pun menghilang, dan begitu pun sebaliknya.
12. طرب: senang dan sedih.
13. السليم: Dikatakan: Salim untuk orang yang selamat, dan untuk orang yang disengat.
14. ال ُّس ْدفة: Bani Tamim percaya bahwa itu adalah kegelapan, dan Qais menganggap bahwa
itu adalah cahaya.
15. الناهل: untuk yang haus, untuk kenyang (minum).
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 46
16. أَمم: memerintah bangsa-bangsa besar, dan bangsa-bangsa kecil.
17. خائف: Dikatakan: Seorang yang takut (penakut) jika dia takut pada orang lain, dan jalan
yang ditakuti jika dia yang ditakuti.
18. الحميم: untuk air panas dan air dingin.
19. عَّزرت: Dikatakan: Saya akan menghormati seorang seseorang jika Anda
menghormatinya, dan arti lainnya menyalahkan dan melecehkannya.
20. قَل َص: Dikatakan: قَل َصyaitu tambahkan sesuatu jika pendek dan kurangi air jika
berlebihan.
E. Sebab-Sebab Adanya Lafadz Al-Tadhad
Diantara yang menjadi sebab munculnya lafadz Al-Tadhad adalah sebagai
berikut:
1) Makna asal suatu lafadz digunakan pada makna umum yang berlawanan,
sebagian orang lupa pada penggunaan makna tersebut sehingga menduga bahwa
itu bagian dari lafadz yang mempunyai dua makna yang berlawanan. Contoh
seperti lafadz (ُ٠ )اٌقشdigunakan dalam ungkapan (ُ٠ً فش١ٌ ) dan (ُ٠بس فشٙ)ٔـ
padahal makna asal dari (ُ٠ )فشadalah ( اٌمطغputus), penggunaan makna tersebut
karena melihat kenyataan bahwa apabila siang datang malam pun menghilang,
tidak ada dan begitu pun sebaliknya apabila malam dating siang tidak ada. Begitu
juga lafadz ( )اٌغذفخberarti gelap dan terang padahal makna ( ) اٌغذفخaasalnya
adalah( اٌغزشtertutup).
2) Perubahan makna suatu lafadz dari makna asli kepada makna majazi karena
alasan tafa‟ul (berharap kebaikan), taful sendiri muncul karena adanya faktor-
faktor sosial yang terdapat pada bangsa arab. salah satu faktor tersebut adalah
tafaul sendiri yang mengungkapkan suatu kata untuk mengharapkan datangnya
suatu kebaikan seperti contoh lafadz (ش١ )اٌجقsebutan bagi orang buta dan lafadz
(ُ١ٍ )اٌغbagi orang yang digigit ular, dan karena alasan ُىٙ(رـmengejek), seperti
lafadz (نبء١ اٌجٛ )أثsebutan bagi orang yang berkulit hitam, atau perubahan makna
tersebut karena tujuan menjauhi pengungkapan yang kurang disukai, seperti
penyebutan (ذ١ )اٌغdan ( )ػجذbagi (ٌٌّٝٛ)ا
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 47
3) Kesesuaian antara dua lafadz dalam satu shighat sharfiyah (bentuk perubahan
kata), seperti lafadz ( )ِغزشbisa berarti (ئ١غزش اٌؾ٠ ٞ)اٌزdan berarti pula (غزش٠ ٞ)اٌز,
adapun isim fa‟il dari lafadz ( )اعزشadalah ( )ِغزضشdan isim maf‟ulnya adalah
( )ِغزشlalu berkembang kesesuaian antara dua lafadz baik isim fa‟il dan isim
maf‟ul karena alasan idgham. Contoh lain seperti lafadz ( )اٌّخزبسyang berarti ( ٞاٌز
خزبس٠) dan (خزبس٠ ٞ )اٌزdan lafadz ( )اٌّجزبعyang berarti ( )اٌجبئغdan (غ١)اٌّج
4) Perbedaan kabilah-kabilah arab dalam menggunakan suatu lafadz, Hal ini
disebabkan Karena perubahan sosial kebudayaan yang terjadi di wilayah tertentu
akan mempengaruhi karakteristik bahasa yang digunakan. Bahasa merupakan
bagian dari budaya, maka dalam pendekatan sosiolinguistik, perubahan budaya
ini secara langsung akan mempengaruhi penggunaan bahasa, dan di sisi lain
perubahan yang terjadi pada bahasa merupakan respon bagi perubahan sosial
budaya itu. Seperti lafadz (صتٚ) yang digunakan oleh kabilah Himyar dengan arti
( )لؼذdan kabilah Mudlar dengan arti ( )هفشlafadz ( )اٌغذفخdigunakan oleh kabilah
Tamim dengan arti ( )اٌظٍّخdan menurut kabilah Qais berarti (ءٛ)اٌن, dan lafadz
( )عغذberarti ()أزقت, menurut kabilah Thai dan berarti (ٝ )أؾmenurut kabilah-
kabilah lain.
5) Perkembangan bahasa. Hal ini berhubungan dengan sifat bahasa yang dinamis.
Perkembangannya mengakibatkan bertemunya dua makna yang berlawanan
dalam satu kata. Contoh kasus seperti ini adalah kata ٌّكpada Bani „Aqil
memiliki makna “menulis”, sedangkan pada Kabilah Qais berarti “menghapus”.
Disini terdapat tadhad pada fi‟il ٌّك. Dalam bahasa Arab diketahui bahwa ada
kata kerja lain yang berarti menulis, salah satunya adalah . ّٔكSetelah dirunut
sejarahnya, ternyata Bani „Aqil mengalami perkembangan pengucapan kata ّٔك
tersebut. Proses perkembangan tersebut membuat huruf “nun” pada kata ّٔك
berganti menjadi huruf “lam”, sehingga menjadi ٌّك. Kata ٌّكtersebut telah
digunakan oleh kabilah Qais, dan bermakna “menghapus”. Dengan adanya
fenomena tersebut, maka terciptalah tadhad.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 48
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Warson Munawir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (Edisi
Kedua), Surabaya: Pustaka Progresif, 1997, halaman 814
Apriwanto. Tadhad: Fenomena Sosio-Kultural dalam Bahasa Arab. Diwan : Jurnal
Bahasa dan Sastra Arab 11.1 (2019).
Emil Badi‟ Yacub, Fiqh Al-Lughah Al-Arabiyah Wa Khashaishuha, Beirut: Dar Ats-
Tsaqafah Al-Islamiyah, halaman 183
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik, Edisi Keempat, Jakarta: Gramedia.
Taufiqurrochman, 2008. Leksikologi Bahasa Arab, UIN-Malang.
Wâfi, Âli Abd. al-Wâhid, 1962. Fiqhu al-Lugah, Kairo: (Lajnah al-Bayân Al „Arabiyah)
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 49