MAKALAH 7
MUTARADIF (SINONIM )
Annisa Gitari Iviana & Luluk Putri Febrianti
A. Pengertian Al –Mutaradif )Sinonim ) اٌرشاد ف
Al Mutaradif merupakan sesuatu yang mempunyai arti yang sama dan memiliki nama
yang banyak, contoh ( الأعذsinga) dengan ( اٌؼجبطmuka masam) karena sering menunjukkan
taringnya. Begitu juga ف١( اٌغpedang) dengan ً( اٌفقpemisah) karena memisahkan bagian-
bagian tubuh. Al-Jurjani mengatakan alasan dinamakan al Mutaradif adalah karena memiliki
arti yang sama namun memiliki nama yang banyak.. Taraduf ialah Suatu ungkapan yang
memiliki satu pemahaman. Kemudian menurut Imam Fakhruddin, taraduf ialah lafaz yang
tunggal yang memiliki satu pengertian. Pendapat lain mengatakan bahwa taraduf ialah satu
makna dan berbeda lafaznya. Menurut al-Jurjani, sebabnya dinamakan taraduf karena taraduf
memiki satu makna dan namanya banyak, taraduf lawannya musytarak.
Sedangkan dalam bahasa arab istilah sinonim dikenal dengan at-taroduf, اٌرشادف, yang
pengertianya adalah:
اؽذحٚ ب دلاٌخٌٙ ٓ فبوضش١د وٍّزٛعٚ ٓ ػجبسح ػٛ٘ : اٌزشادف
Sinonim (Al-Taraduf) adalah dua kata atau lebih yang maknanya kurang lebih sama.
Dikatakan “kurang lebih” karena memang, tidak akan ada dua kata berlainan yang
maknanya persis sama.
Contohnya dalam bahasa arab لؼذdengan عٍظ, اٌؾ ّتdengan ّدٌٛ ا, ً١ عجdengan فشاه.
Relasi sinonim ini bersifat dua arah . maksudnya, kalau satu lafadz A bersinonim dengan
satu lafadz B, maka satuan lafadz B itu bersinonim dengan satuan lafadz A. Secara konkret
kalau kata عٍظbersinonim dengan kata لؼذ, maka kata لؼذitupun bersinonim dengan
kata عٍظ.
B. Manfaat Penggunaan Al Mutaradif
1. Untuk memperbanyak sarana atau ungkapan dalam menceritakan apa yang ada dalam
fikiran. Hal ini untuk mempermudah jika seseorang lupa akan apa yang ingin dia
katakan, jadi memungkinkan menggunakan sinonim dari kata yang akan dia ucapkan
2. Memperluas kefasihan dan retrorika dalam system dan prosa.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 50
3. Memperluas dan memperbanyak gaya bahasa. Hal ini dikarenakan menyebut kata
yang sama berulang kali akan membosankan.
Sekelompok ulama menulis dalam sinonim, termasuk ulama Majd Al-Din Al-Fayrouz Abadi,
penulis kamus, di mana ia menulis sebuah buku berjudul (Al-Rawd Al-Masloof, yang
memiliki dua nama hingga seribu). Sekelompok imam memilih buku-buku tentang hal-hal
tertentu; Ibn Khalawiya menulis sebuah buku tentang nama-nama singa, dan sebuah buku
tentang nama-nama Surga. Adapun kitab-kitab yang berbicara tentang sinonim dengan
implikasinya banyak, termasuk al-Muzhar oleh al-Suyuti, di mana jenis dua puluh tujuh
dikhususkan untuk pengetahuan tentang sinonim.
C. Sebab – Sebab Adanya Tarad’uf
Asal mula diketahui adanya taraduf adalah ketika ditemukanya perbedaan penyebutan
pada satu benda yang sebenarnya sama oleh dua atau lebih kabilah yang berbeda. Dan karena
perbedaan itu menyebabkan komunikasi antar kabilah yang tidak berjalan dengan baik. Dan
hal seperti ini terjadi disetiap bahasa apa saja.
Sedangkan, taraduf yang ada dalam bahasa arab, menurut pendapat para ulama‟
bahasa memiliki beberapa sebab tertentu, diantaranya:
1. Banyaknya perpindahan lafazh Taraduf dari lahjah arab ke lahjah Quraisy karena lamanya
proses percampuran antara keduanya. Dari mufrodat-mufrodat ini banyak mufrodat yang
tidak dibutuhkan oleh bangsa Quraisy karena ada bandingannya, dan kondisi seperti ini
mengarah pada perkembangan Taraduf dalam nama, sifat atau bentuk.
2. Penulis mu‟jam mengambil mufrodat dari lahjat yang bermacam-macam, sehingga mu‟jam
tersebut mencakup mufrodat-mufrodat yang tidak digunakan dalam bahasa Quraisy.
3. Para penulis Mu‟jam tidak membedakan antara makna hakiki dan makna majazi, sehingga
banyak mufrodat yang semestinya makna hakiki tetapi digunakan untuk makna yang mazaji.
4. Banyaknya perpindahan dari sifat-sifat satu nama pada makna nama yang disifatinya.
5. Kebanyakan dari lafazh taraduf hakikatnya bukanlah taraduf, tetapi lafazh itu lebih
menunjukan kepada keadaan khusus. Contoh lafazh : ،سِك
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 51
سٔب،ٓ ؽف، ؽذط،ٌؾعlafazh – lafazh ini menunjukan makna melihat tetapi melihat dengan cara
yang berbeda-beda. سِكmenunjukan makna melihat dengan semua mata (Melotot)
, ٌؾعmenunjukan makna melirik, ؽذطmenunjukan makna menoleh, ٓ سفmenunjukan makna
menatap dengan tatapan yang lama.
6. Banyaknya perpindahan dari lafazh-lafazh samiyah dan muwalladah, juga lafazh yang
diragukan kearabanya ke dalam Bahasa Arab.
7. Banyaknya Tashif (Kekeliruan penulisan) dalam buku-buku Bahasa Arab terdahulu,
khususnya ketika tulisan arab luput dari syakal, titik dan harakat.
D. Faktor–Faktor Taraduf Dalam Bahasa Arab
Taraduf dalam bahasa arab, terjadi karena beberapa faktor, Wafi menyimpulkan
sebagai berikut :
1. Karena bahasa arab sangat terbuka dengan respon terhadap beberapa dialek-dialek bahasa
Arab disekitarnya. Dengan demikian, bahasa Arab banyak menyerap kosa-kata dialek lain
yang maknanya juga sama.
2. Karena beberapa penyusun kamus bahasa arab tidak melakukan seleksi yang ketat dalam
menulis kosa kata bahasa Arab. Oleh karena itu, banyak kosa kata bahasa lain, khususnya
bahasa-bahasa rumpun semit masuk kedalam bahasa Arab yang artinya sama.
3. Pada hakekatnya beberapa kata yang dianggap bersinonim itu memiliki arti khusus. Namun
karena ditemukan adanya kesamaan maka disebut bersinonim. Seperti
kata خٍظdan لؼذ, keduanya berarti „duduk‟. Tapi pada hakikatnya kata خٍظberarti „duduk
dari berdiri‟. Sementara لؼذberarti „duduk dari berbaring‟.
Menurut Abdul Chaer dalam buku linguistik, dua buah ujaran yang bersinonim
maknanya tidak akan persis sama. Ketidak samaan itu terjadi karena berbagai faktor, antara
lain :
1. Pertama, faktor waktu. Umpamanya kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan.
Namun, kata hulubalang memiliki pengertian klasik sedangkan kata komandan tidak
memiliki pengertian klasik. Dengan kata lain, kata hulubalang hanya cocok digunakan pada
konteks yang bersifat klasik, sedangkan kata komandan tidak cocok untuk konteks klasik itu.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 52
2. Kedua, factor tempat atau wilayah. Misalnya, kata saya dan beta adalah dua buah kata
yang bersinonim. Namun, kata saya dapat digunakan dimana saja, sedangkan kata beta hanya
cocok
untuk wilayah Indonesia bagian timur, atau dalam konteks masyarakat yang berasal dari
Indonesia bagian timur.
3. Ketiga, factor keformalan. Misalnya, kata uang dan duit adalah dua buah kata yang
bersinonim. Namun kata uang dapat digunakan dalam ragam formal, sedangkan kata duit
hanya cocok untuk ragam tak formal.
4. Keempat, factor sosial. Umpamanya, saya dan aku adalah dua buah kata yang bersinonim,
tetapi saya dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, sedangkan kata aku hanya
dapat digunakan terhadap orang yang sebaya, yang dianggap akrab, atau kapada yang lebih
muda atau lebih rendah kedudukan sosialnya.
5. Kelima, bidang kegiatan. Umpamanya kata matahari dan surya adalah dua buah kata yang
bersinonim. Namun, kata matahari bisa digunakan dalam kegiatan apa saja, atau dapat
digunakan secara umum, sedangkan kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus.
Terutama ragam sastra.
6. Keenam, factor nuansa makna. Umpamanya kata-kata melihat, melirik, menonton,meninjau,
mengitip adalah sejumlah kata yang bersinonim. Namun antara yang satu dengan yang
lainnya tidak selalu dapat dipetukarkan, karena masing-masing memiliki nuansa makna yang
tidak sama. Kata melihat memiliki makna umum, kata melirik memiliki makna melihat
dengan sudut mata, kata menonton memiliki makna melihat untuk kesenangan, kata meninjau
memiliki makna melihat dari tempat jauh, dan kata mengintip memiliki makna melihat dari
atau melalui celah sempit. Dan dengan demikian, jelas kata menonton tidak dapat diganti
dengan kata melirik karena memiliki nuansa makna yang berbeda, meskipun kadua kata itu
dianggap bersinonim.
Dari keenam factor yang dibicarakan diatas, bisa disimpulkan, bahwa dua buah kata
yang bersinonim tidak akan selalu dapat dipertukarkan atau disubstitusikan.
E. Contoh – contoh Al mutaradif
1. ً ( اٌؼغbermakna madu ) Dia memiliki delapan puluh nama yang disebutkan oleh pemilik
kamus dalam bukunya, yang dia sebut (The Thiq of Lambs for the Strapping of Honey). Di
antara nama-nama itu adalah: ،ذٙاٌ َّؾٚ ،ٞاٌّبرٚ ،اٌ َغ ٍْظٚ ،ةَّٚاٌزٚ ،ذٙاٌ ُّؾٚ ،دّٛاٌزؾٚ ،ت٠اٌ َّنشٚ ،ًاٌؼغ
ش٘ب١غٚ ،ك١اٌشؽٚ ،ًٌؼبة إٌؾٚ ،سطٌٛاٚ ،ذ١ّاٌؾٚ ،ةٛاٌ َّؾٚ ،اٌ َّن َشثخٚ ،اٌ َّنشةٚ.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 53
2. ف١ ( اٌغbemakna pedang ) Di antara namanya dari apa yang disebutkan oleh Ibn
Khalawayh dalam penjelasannya tentang Al-Daridiyah: Al-Sarm, Al-Faqir, Al-Rida', Al-
Khalil, Al-Qudib, Al-Safiha, Al-Mashrafi, Al-Muhannad, Al -Adb, Al-Samsamah, Al-
Mazkir, Al-Kham, Al-Husam, Al-Saqil, Al-Abyad, dan lain-lain.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 54
DAFTAR PUSTAKA
https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/tiftk/article/view/3420
https://www.academia.edu/32997872/At_Taraaduf_Sinonim_dan_Al_Tadhaad_Antonim
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 55
MAKALAH 8
ISYTIQAQ (DERIVASI)
Algi Fajar Prasetiyo & Shafira Tasha Camelia
A. Pengertian Isytiqaq (Derivasi)
Secara etimologi, lafaz اؽزمبقadalah shighat mashdar dari lafaz ؾزك٠- اؽزكyang berarti
mengambil dan memecah dan membelah. Ini dicontoh-kan pada serangkaian kata اؽزكyakni
mengambil artinya اٌىٍّخ ِٓ اٌىٍّخ اؽزكsuatu kata dari yang lainnnya. (Ma‟luf,1992: 396)
Amil Badi‟ Ya‟qub juga mendefinisikan ااٌؾزمبقٟ اٌٍغخ فٛ٘ ء ؽك أخزٟ اٌؾartinya mengambil
pecahan sesuatu (Ya‟qub: Tp.Th: 186). Sedangkan secara terminologi, berbagai definisi yang
disampaikan oleh para para pakar Bahasa Arab antara lain:
1. Dr.Amil Badi’Ya’qub
ِٓ وٍّخ أخزٞ أخشٞش١ف اٌزٕبؽت ِغ ِب ثزغ٠ ٓ١اٍِؼ
“ Mengambil suatu kata dari lainnya dengan cara merubah namun tetap mempunyai
hubungan makna. (Ya‟qub, Tp.Th.187).
2. Dr.Subhi Shaleh.
“ Membentuk satu kata dari kata lainnya dan mengembalikan kepada aslinya yang sesuai
dengan materinya dengan memmberikan makna yang baru. (Shaleh,Tp.Th: 187). Dari kedua
definisi di atas, dapat dipahami bahwa isytiqaq adalah salah satu cara atau proses
pembentukan suatu kata menjadi kata lain sehingga terjadi perubahan bentuk dan memberi
makna baru.
Isytiqaq disebut juga derivasi kata atau penurunan kata yaitu mengambil satu kata atau
sebagiannya dari kata dasarnya. Penurunan kata berlaku pada bentuk kata benda yang biasa
disebut dengan mashdar. Ini disebabkan karena aktifitas atau peristiwa yang berkaitan dengan
pembentukan dari suatu keadaan sesuai dengan perbedaan sifat, waktu atau tempat terjadi.
Seperti al-kitabah, merupakan mashdar yang menunjukkan suatu peristiwa. Jika dari kata itu
diambil kata yaktubu maka kata itu menunjukkan pekerjaan yang dilakukan pada masa yang
akan datang dan masa sekarang. Jika dibentuk dengan kata kataba, maka pekerjaan itu
menunjukkan pada masa yang lewat.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 56
B. Macam macam Isytiqaq
Isytiqaq Shaghir / Isytiqaq ‘Am
بٙج١رشرٚ يٛاأٌؾشف اأٌقٚ ٓ١ف اٍِؼ٠ ّبٙ ٔضع ٌفع ِٓ آخش افً ِٕٗ ثؾشه اؽشربوٛ٘ ٞااٌؾزمبق اٌقغش
Isytiqaq Shaghir artinya membentuk beberapa kata dari sebuah kata dasar dengan tetap
melihat kesamaan urutan morfemnya seperti pada kata dasarnya.
Isytiqaq Shagir terjadi pada tashrif lughawi dan tashrif ishthilahiy pada fiil madhi, fiil
mudhari‟, fiil amar, mashdar dan seterusnya. Sebagian Ulama Kuffah meng-gunakan istilah
Isytiqaq, sebagai ganti dari sharaf. Begitu pula Ibn Jinniy, menurutnya antara kedua istilah
Isytiqaq dan tashrif mempunyai kaitan yang sangat erat. Istilah Tashrif berarti mendatangkan
satu kata lalu merubahnya ke bentuk yang lain, sama halnya dengan istilah Isytiqaq.
Isytiqaq Kabir
ت اؽٍشف١ْ رشرٚٓ د١اٍِؼٚ ف اٌٍفع٠ رٕبعتٟٕ وٍّزْٟٕ ثٛى٠ ْ أٛ٘ ٞااٌؾزمبق اٌىجش
Isytiqaq kabir adalah dua kata yang mempunyai persamaan lafaz dan makna tetapi susunan
hurufnya tidak sama. Atau dengan kata lain adalah dua kata yang mempunyai persamaan
lafaz dan makna namun berbeda dalam urutan huruf. Isytiqaq kabir (derivasi besar) adalah
keterkaitan sebagian kata (dari tiga huruf) dengan suatu makna secara umum yang tidak
berubah karena perubahan susunan hurufnya atau dibolak-balik.
Menurut para linguis arab klasik mereka berpendapat bahwa istyqaq kabir itu intinya adalah
"semua turunan dari huruf tsulasi" yang memiliki kaitan makna antara satu turunan dengan
turunan lainnya meskipun berbeda susunan.
Contohnya pada kata ؽّذ/hamida bisa dibentuk menjadi ِذػ/madaha yaitu menukar posisi
fonem َ
/mim dari tengah ke depan. Kata ؽّذhamida berarti “memuji, berterima kasih”, sedangkan
kata ِذػ/madaha juga berarti “memuji”. Contoh lain seperti : kata ( ط ر ةmemikat/menarik)
dan ( ط رةmenarik/memikat).
Contoh Istyqaq Kabir :
)اٌخفخٚ (الإعشاع:ٕٝب ِؼٍٙذ و١رفٚ _ قٌٛ ،ٛ ٌم، ٌَ َكَٚ ،ً َلَٚ ،ٍٛ ل:بٙجبر١ٍرمٚ :)يٛ(ل
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 57
Lafadz "Qawala" ketika dibolak-balik hurufnya memiliki satu keterkaitan makna yaitu makna
"Isra'" dan "khiffah" yaitu makna "cepat dan ringan"
Isytiqaq Akbar
Turunan terbesar yaitu persesuaian antara dua kata dalam arti, dua kata itu sebagian besar
sama dan lainnya berbeda tetapi dari satu makhraj atau dari makhraj yang berdekatan.
Isytiqaq Kubbar
Isytiqaq Kubbar atau al-Naht adalah membentuk satu kata dari dua kata atau lebih dengan
maksud untuk menyingkat dan memudahkan ucapan. Isytiqaq kubbar disebutkan oleh Raji
Asmar sebagai an nahtu yang diartikan sebagai formulasi dua kata atau lebih atau satu
kalimat menjadi satu ungkapan baru yang menunjukkan rangkaian makna aslinya. Isytiqaq al-
Kubbar/al-Nahat dalam aplikasinya terhadap Linguistik Moderen adalah singkatan yang
dikenal dengan nama Akronim artinya mempersingkat atau memendekkan suatu kata dengan
cara yang berbeda-beda; ada singkatan pada kata awal, di tengah dan pada kata akhrirnya.
C. Contoh contoh Isytiqaq
Isytiqaq Saghir :
.ًاخٚ "اٌفؼً "ذضاسبٚ "بٛي "ِىرٛاعُ اٍِفؼٚ "اعُ اٌماػً "واذة
Isytiqaq kabir :
ِحذ-ِذذ, خزب- خثز
Isytiqaq Akbar :
Menukar huruf ٚاٚmenjadi , أٌفpada lafaz َٛفmenjadi َفب
Menukar huruf هmenjadi دpada lafadz اٌقشاهmenjadi اٌغشاهyang berarti “jalan”.
Isytiqaq Kubbar :
ًّثغberasal dari ثغُ الّل
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 58
DAFTAR PUSTAKA
https://core.ac.uk/download/pdf/236391154.pdf Diakses pada 25 Oktober 2021
https://www.academia.edu/8344734/Isytiqaq_dalam_bahasa_arab Diakses pada 25 Oktober
2021
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 59
MAKALAH 9
AL-IBDAL AL-LUGHAWY
Muhammad Huda Alfiyan & Bahrul fikri
A. Pengertian Al-Ibdal
Bentuk ketiga ini menurut Ibnu Jinni> belum ada pada masanya, kalau pun
ada namun belum populer. Karena bentuk isytiqa>q yang ada pada masa itu hanya ada
dua yaitu; alisytiqa>q al-s}agi>r atau al-as}gar atau disebut juga al-isytiqa>q al-
s}arfi> dan al- isytiqa>q alkabi>r (al-qalb). Secara etimologi الإتذايberasal dari kata
اٌثذيyang berarti ( كٛاٌؼٚ اٌخٍفpeng- gantian)7. Adapun menurut istilah ilmu bahasa
adalah menempatkan suatu huruf di tempat huruf yang lain dalam satu kata, atau
adanya keterkaitan secara umum beberapa kelompok bunyi bahasa dengan beberapa
makna yang tidak terikat dengan bunyi itu sendiri, melainkan dengan urutan aslinya
serta jenis yang berada di bawahnya.
Ketika salah satu dari kelompok bunyi bahasa itu ada dengan urutannya yang
asli, maka penghubung maknawi yang dimiliki secara bersama seharusnya berfungsi,
sama adanya ia tetap mempertahankan bunyinya sendiri, atau mengganti keseluruhan
bunyinya atau sebagiannya, dengan huruf-huruf lain yang memiliki kedekatan
makhraj, atau yang خضيdan كٙٔ , َخضdan ْ د, ٔؼكdan ٓطmemiliki kesamaan dari
berbagai segi. Misalnya; kata :serta adanya huruf dal mengganti huruf ta‟-ifti‟al,
seperti pada lafal , اٌقشاطdan ( )لظ ع, اٌغشاط8ٝ(اد ْخ ػ.yang aslinya adalah( ٝادػ
Pengertian lain dari al-ibda>l yaitu suatu kata yang mempunyai kesesuaian dari
:وؾظsegi makna serta huruf-hurufnya, kecuali satu huruf, baik dari awalnya seperti
kata :َ ٘ذي اٌحّاatau di akhir kata, seperti , ٓ ٘ط:٘طً اٌّطشatau pertengahannya, seperti
kata ,لؾظ
B. Macam-Macam Al-Ibdal
a) Al-Ibda>l al-S{arfi>
Yang dimaksud dengan al-ibda>l al-s}arfi> yaitu menempatkan beberapa
huruf tertentu di tempat huruf yang lain, dengan tujuan untuk memudahkan
atau meringankan penyebutan suatu lafal, atau untuk membuat suatu kata
sampai pada bentuk yang umum ,) ( َ ٚ ؿaslinya adalah , (َ )فبdigunakan.
Seperti mengganti huruf waw dengan alif pada kata atau mengganti huruf ta‟
dengan t}a‟ pada kata ( ,)افطٕغaslinya adalah ( )افزٕغPara ahli sharaf
memberi perhatian besar terhadap ibda>l jenis ini, dan mereka berbeda
pendapat mengenai jumlah hurufnya; ada yang mengatakan jumlahnya
sembilan huruf yang terhimpun dalam kalimat “ ,”ب١ ِهِٛ ٘ذأ دsedangkan
menurut Sibawaihi 11 huru>f10, yang lainnya mengatakan 12 huruf yang
terhimpun dalam kalimat “ ,”َٗ أٔغذرٛ٠ هبيada juga mengatakan 14 huruf, dan
ada juga yang mengatakan jumlahnya sebanyak 22 huruf.11
b) Al-Ibda>l al-Lughawi>
Bentuk ini memiliki cakupan lebih luas dibanding al-ibda>l al-s}arfi>, yaitu
mencakup huruf-huruf yang tidak dicakup oleh al-ibda>l al-s}arfi>. Para ahli
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 60
bahasa berbeda pendapat mengenai konotasi ibda>l jenis ini, sebagian di
antara mereka memperluas ruang lingkupnya dengan mengatakan bahwa,
ibda>l jenis ini mencakup seluruh huruf hijaiyah, dan sebagian yang lain
memper-sempitnya denganmemberi syarat, yaitu adanya huruf-huruf yang
berurutan itu berdekatan makhraj-nya, dan adanya salah satu dari dua lafal
merupakan asal (pokok kata) dari lafal yang lainnya. Untuk era sekarang ini
sangat sulit untuk bisa menentukan yang mana kata asal : ٓاٌؾبصة – اٌؾبعت ;ه
كٙٔ – – دْ ;ط ْلش – ؿ ْلش ;ٔؼكdan yang mana kata cabang, seperti pada kata
meskipun ada kaedah-kaedah yang telah ditetapkan oleh para , اٌغضَ – اٌغضي
)بثظ١ٌ(الأفً( ;)اahli bahasa untuk dapat membedakan hal tersebut. Akan tetapi
Fu‟ad Turziy berpendapat bahwa ibda>l haqi>qi> harus memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut
a. Adanya kedekatan makhraj bagi huruf-huruf yang letaknya berurutan.
b. Bersinonim atau menyerupai.
c. Adanya kedua lafal yang saling mengganti tersebut digunakan oleh
suatu kabilah yang sama.
1. Ibdal Sharfi
Yaitu mengganti fonem dengan fonem lain karena faktor artikulasi
(pengucapan). Dengan tujuan untuk mempermudah ucapan atau
menyesuaikan bentuk yang popular. Contoh :
– مشة – امزشة
– امطشة ففب
ٝ – افطفٝافزف
2. Ibdal Lughawi
Yaitu mengganti fonem dengan fonem lain bukan karena faktor kesulitan
pengucapan. Contoh :
ٌَضب
ٚ
ٌفب
َ
ِأس
ٚد
أس
ثذ
3. Ibdal Lughawi Qiyasi
Yaitu apabila ada huruf ع/ ؽ/ ؿ/ ق/ هbertemu dengan huruf ط, maka
boleh diganti dengan huruf ؿ. Contoh :
اٌمؼب ؿ- اٌمؼبط
C. Contoh-contoh Al-Ibdal
„Ibdal , Pengertian
Menurut Al Ghulayaini الإثذايadalah
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 61
َُٗٔ َم َغ آ َخش َِ َىبَٚ َٚ ,ال ِإثذَا ُي ِا َصاٌَخُ َؽش ٍف.
„Ibdal adalah menghilangkan satu huruf dan meletakkan huruf lain di tempatnya.
Menurut Fuad Nikmah الإثذايadalah
َو ٍِ َّ ٍخَٟ ِؾ ًَّ َؽش ُف َِ َؾ ًَّ َؽش ٍف آخش ِف٠ ًْ أٛ٘ الإثذاي
„Ibdal adalah suatu huruf yang menduduki tempat huruf lain dalam kata.
Perbedaan „ibdal dan „i‟lal
„Ibdal adalah perubahan huruf selain huruf „illah dalam suatu kata.
„I‟lal adalah perubahan huruf diantara huruf-huruf „illah dalam suatu kata.
Bentuk-bentuk „ibdal
Mengganti huruf waw dan ya‟ dengan huruf hamzah, terdapat dalam keadaan berikut :
Jika kedua huruf tersebut terletak di ujung kata dan setelah alif zaidah.
Contoh : دُ َػبءdan َث َٕبء
ٚدُ َػب-ٛذ ُػ٠َ -دَ َػب
ٞثَ َٕب-ِٟٕ َج٠-ََٕٝث
Apabila ditambahkan ha‟ ta‟nits untuk membedakan perempuan dan laik-laki, maka harus
tetap diganti hamzah.
Contoh :
َِ َّؾب َءحٚ َث َّٕب َءح
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 62
dengan penambahan tasydid dikarenakan mengikuti wazn shighah mubalaghah.
Contoh lainnya adalah
َؽّ َشاءaslinya ٜ ( َعى َشٜ) َؽّ َش
Dengan menambahkan alif zaidah sebelum akhir, seperti penambahan pada ِوزَبةdan َ ُغ َلا,
kemudian mengganti ٜ menjadi hamzah, untuk memudahkan pengucapan dikarenakan
bertemunya dua sukun.
Ada beberapa pengecualian dalam hal ini :
Jika ketika waw atau ya‟ terletak setelah alif yang bukan zaidah, maka tidak diganti.
Contoh : ّخ٠َ ِٚ َساَٚ َخ٠آ
Apabila tidak berat dalam pengucapan
Contoh : َْ َٚ رَ َؼبdan َٓ ٠َ رَجَب
2) Jika huruf waw dan ya‟ terletak di „ain ism fa‟il dan keduanya dii‟lalkan ketika fi‟l
Contoh : ًِ َلبئdan َثبئِغ
ثَب ِئغ-غ٠ِ َغ) – َثب١َ ثَب َع ( َث ًِ لَبئ-يِٚ َي) – َلبَٛ َلَب َي (ل
Kecuali
ketika huruf waw dan ya‟ tidak dii‟lalkan ketika di fi‟l.
Contoh : َسِٛ َػdan َٓ ِ١َػ
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 63
3) Huruf mad zaidah diganti hamzah apabila terletak pada posisi ketiga dalam waznً َِ َفب ِػdi
dalam ism shohih akhir.
Contoh : ِل َلادَح – لَ َلا ِئذ
َفخ – َف َؾبئِف١َف ِؾ
ص – َػ َغبئِضَٛػ ُغ
Kecuali
yaitu jika waw/ya‟ bukanlah huruf tambahan, maka tidak diganti hamzah
Contoh : سِٚ َسح – لَ َغبَٛ لَغ
ص( َفب َصِٚ ) َِفَب َصح – َِفَب
Kecuali jika memang sudah menjadi hal yang sering didengar maupun dihafal, seperti /ََِٕب ِئش
ةِٚ َِ َقب/س َِ َقب ِئتِٚ َِ َٕب
Apabila di‟i‟ilalkan lam fi‟lnya pada bentuk ini, maka jamaknya dibentuk berdasarkan wazn
ٌٝ( فُؼبmenurut pendapat ahli nahwu kufi)
Contoh :
َب٠َّخ – َل َنب١لَ ِن
َٜٚ حُ – ِ٘ َشاَٚ ِ٘ َشا
Dan wazn ً فَؼَب ِئatas pendapat ahli nahwu Bahsra
Contoh :
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 64
ب٠َ ِئ – َخ َطب٠ئَخ – َخ َطب١َخ ِط
4) Apabila huruf alif terdapat di tengah dua waw/ya‟ yang berada dalam wazn ً َِفَب ِػdan
terdapat pada ism shohih akhir. Maka huruf waw/ya‟ yang kedua diganti dengan
Contoh : ًِائَٚ َ أasalnya adalah يِٚ اَٚ َأ
بئِذ١َ َعasalnya adalah دِٚ ب١َ َع
Kecuali
Jika wazn ً١ َِ َفب ِئ, maka huruf waw/ya‟ tidak boleh diganti hamzah Contoh : ظ٠ِٚ اَٛ ط – َهُٚٚ َهب
Apabila lam fi‟lnya dii‟lalkan, maka jamaknya atas wazn
Contoh : ب٠َ اَٚ خ – َس٠َّ ِٚ َس ب٠َ اَٚ َّخ – َص٠ِٚ َصا
Asli dari kata َب٠اَٚ َصdan semisalnya adalah ِٟ٠اَٚ َصatas wazn ًا ِػَٛ َف. Dengan ya‟ pertama
berharakat kasrah. Kemudian harakat kasrahnya diganti menjadi fathah, dan ya‟ yang kedua
diganti alif karena huruf sebelumnya berharakat fathah.
5) Jika huruf waw berharokat dhammah terletak setelah huruf yang berharakat sukun atau
dhammah, maka boleh di ganti dengan hamzah dan boleh tetap.
Contoh : أَد ُإسasalnya سُٚ أَد
يٚ ُؽ ُئasalnya يُٚٛ ُؽ
Keduanya boleh digunakan, tetapi yang pertama adalah yang paling afsah.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 65
6) Apabila dalam sebuah kata diawali dengan dua huruf waw(ٚاٚ), maka ٚاٚ yang pertama
diganti dengan hamzah, selama ٚاٚ yang kedua bukan pengganti dari َاٌف اٌ َّفَب َػ ٍَخ.
Contoh : ًا ِفَٚ ُ أaslinya يَٚ ُٚ ًا ِفَٚ ُٚ aslinya يَٚ ُأ
ِؼذ٠َٚ ُ أaslinya ِؼذ٠َٚ ُٚ
Apabila yang ٚاٚ kedua adalah pengganti dari َاٌف اٌ َّفَب َػ ٍَخ. Maka tidak wajib diganti hamzah,
tapi diperbolehkan.
Contoh : bentuk majhul dari ٜا َسَٚ , boleh dibaca َٞ ِسُٚ
Dan boleh dibaca َٞ ِسٚأ
Apabila fa‟ fi‟l dalam wazn ًَ اِفزَ َؼadalah waw/ya‟ maka keduanya diganti dengan ta‟. Begitu
juga dalam wazn اِفزِ َؼبي
Contoh : ًَ اِرَّ َقaslinya ًَ رَ َقِٚا
اِرَّ َغ َشaslinya زَ َغ َش٠ِا
Dengan syarat bahwa waw/ya‟ disini bukanlah pengganti dari hamzah.
Contoh : زَ َّ َش٠ ِاaslinya ِائزَ َّ َش
Sebagian Ahli Nahwu (yang beraliran Baghdad) membolehkan pergantiannya menjadi
hamzah. Contoh:
ًَ ِارَّ َى ًَ – اِئزَ َى ًَ – أَ َو
زَ َض َس – ِا َصا َس٠اِرَّ َض َس – ِا
Apabila fa‟ fi‟l dalam wazn ًَ َ ِافزَؼadalah
= سmaka ta‟ dalam wazn ًَ َ ِافزَؼdiganti menjadi س, yang kemudian keduanya diidgham
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 66
Contoh : ِاصَّؤَ َس – اِصزَؤَ َس
ر,د, dan = صmaka ta‟ dalam wazn ًَ ِافزَ َؼdiganti menjadi د.
Contoh : دَ َػب – َٝ – اِدرَؼٝاِدَّ َػ
ِاردَ َو َش – ِاررَ َى َش – رَ َو َش
َُ َ٘ َُ – َصَٙ َاِصدَ َ٘ َُ – اِصر
ظ, ه, ك, = ؿmaka ta‟ dalam wazn ًَ ِافزَ َؼdiganti menjadi ه.
Contoh : اِفزَ َؾ َت – َف ِؾ َت – اِف َط َؾ َت
ِام َط َش َة – ِامزَ َش َة – َم َش َة
ِا َّهٍَ َغ – اِهزٍََ َغ – َه ٍَ َغ
َُ ٍَاظ َطٍَ َُ – اِظزٍََ َُ – َظ
Diperbolehkan setelah pergantian دdan هdiidghamkan menjadi huruf yang sejenis seperti
huruf sebelumnya.
Contoh : ِارَّ َو َش
َُ ٍَاِ َّظ
4. Apabila dalam wazn ًَ َّ رَفَؼ,ًَ رَفَب َػ, dan ًَ ٍَ رَ َفؼfa‟ fi‟lnya adalah ظ, ه, ك, ؿ, ص, د, ر,س, maka ta‟
dalam wazn ًَ رَفَ َّؼ,ًَ رَفَب َػ, dan ًَ ٍَ رَ َفؼboleh diganti menjadi huruf yang sejenis dengan huruf
setelahnya.
Contoh :
ًَ اصَّبلَ ًَ – رَضَب َل
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 67
ارَّ َو َش – رَزَ َّو َش
ادَّصَّ َش – رَذَصَّ َش
َٓ ٠َّ َٓ – رَ َض٠َّ ا َّص
ا َّفجَّ َش – رَ َق َجّ َش
ا َّم َّش َع – رَ َن َّش َع
ا َّه َّش َة – رَ َط َّش َة
َُ ٍَّا َّظ ٍَّ ُّ – رَ َظ
Note: Hal ini dapat terjadi pada huruf selain huruf-huruf diatas.
Contoh :
ا َّع َّ َغ – رَ َغ َّّ َغ
اٛا – رَ َغب َث َمُٛا َّعبثَم
Apabila terdapat ta‟ yang berharakat sukun yang terletak sebelum dal ()د, maka harus diganti
dengan dal()د.
Contoh : دُٛ ) ِػذَّا ِْ (عّغ َػزaslinya adalah ِْ ِػزذَا
Apabila terdapat nun sukun yang terletak setelah huruf ba‟ atau mim, maka diganti menjadi
mim.
Contoh : ٝ ِا َِّ َؾaslinya ِٝأ َّ َؾ
ًُ ُعّجaslinya ًُُعٕج
Huruf mim (َ) pada kalimat َُ فmerupakan pengganti dari huruf waw(ٚ), karena kata aslinya
adalah ُٖٛ ف, jamak dari ٖاَٛ أَفyang kemudian huruf ٖ nya dibuang, dan huruf waw diganti
dengan huruf mim. Apabila diidhafahkan maka kembali ke bentuk aslinya.
Contoh: َنَُٛ٘زَا ف
Note: Boleh juga diidhafahkan dengan bentuk setelah diibdal. Contoh: َ٘زَا فَ ُّّ َه
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 68
DAFTAR PUSTAKA
https://e-journal.my.id/onoma/article/download/1405/1142
http://lalaalbahrudien9.blogspot.com/2015/09/fiqh-al-lughah.html?m=1
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 69
MAKALAH 10
AL-QALB WAL MUSYAJJAR
Haris Khoironi & Abdulloh Umar Alfaruqi
A. Al-Qolbu
1. Pengertian Al-Qalb
Al-Qalb yaitu istilah untuk suatu kata/lafadz yang hurufnya dipindahkan dari akhir ke
awal atau sebaliknya.
Para Ulama berbeda pendapat terkait haqiqat Al-Qalb. Sebagian berpendapat bahwa
Al-Qalb terjadi pada dua kata yang urutan hurufnya berbeda dan masih satu makna,
meskipun keduanya memiliki mashdar. Seperti َ ْغ ِجزُ – َع ْجزًا٠ – ََ ْغ ِز ُة – َعزْ ًثب َع َجز٠ – َعزَ َةKedua kata
di atas berbeda susunan huruf namun masih memiliki arti yang sama yaitu menarik,
menghela atau memikat. Sementara menurut pendapat lain :” Al-Qalb tidak terjadi kecuali
pada dua kata berbeda yang sebenarnya masih dari kata yang sama. Namun apabila keduanya
memiliki mashdar seperti kata َعزَ َةdan ,َ َع َجزtidak dianggap dengan qalb makani. Dan
penomena perpindahan huruf seperti ini pada umumnya terjadi pada lafadz yang mu‟tal dan
mahmuz. Seperti َسا َءdari ,ٜ َسأlalu َفبلِؼَخdari ( َفب ِػ َمخKaum Hijaj). al qalb itu artiya
membolak-balikkan huruf dalam satu kata sehingga menjadi dua bentuk yg berbeda dan tidak
merubah makna.
Menurut Ya‟kub, Isytiqaq Kabir yang disebut juga dengan al-qalbu allughowi, yakni
dua kata yang memiliki hubungan makna dan huruf tanpa memperhatikan urutan kata. Jenis
ini berbeda dengan jenis yang diatas, bentuk yang kedua ini dapat dikatakan bahwa pola
urutan huruf dapat dibolak balik sehingga dapat membentuk makna baru pula. Misalnya:
kata ؽّذyang semula memiliki urutan ػberada di depan, َberada pada urutan kedua, dan د
berada pada urutan ketiga. Urutan tersebut memiliki arti “ memuji”.
Kemudian dapat dibalik menjadi ِذػdimana huruf َberada di urutan depan, دberada
pada urutan kedua, dan ػterletak pada akhir. Kata ini juga memiliki arti “ memuji”.
Begitu juga dengan kata عجشyang dapat dibentuk dengan tiga pola, diantaranya: عجش
terdiri dari huruf طberada di depan, kemudian ةmenempati posisi kedua, dan سberada di
akhir, dan memiliki arti “menampal, membatulkan, memperbaiki”.
2. Macam-Macam Al-Qalb
Tidak ada ketentuannya. kita mempelajari dan menghafal apa yang sudah dituliskan oleh para
pakar bhs Arab (majma' lughah arabiyah) kata yg bisa dibuat al-Qalbu. jadi sifatnya adalah
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 70
sima' i. mendengar dan menggunakan apa yg sdh mereka tulis dan buat. bukan "qiyasi" yg
kita bisa membuatnya sendiri dengan menganalogikannya
a). Mendahulukan lam kalimat dari „ain kalimat, Seperti َسا َءdari .ٜ َسأPosisi hamzah dipindah
ke alif dan sebaliknya.
ٟٔ سآِٞ أٟٔ َسا َء.ً لبئِٛٙ فٟٔ ًٍ َسا َء١ٍ ُو ًُّ خٚ # َغ ِذٚ َِ أٛ١ٌِِٓ أ ْع ٍِ َه ٘زا َ٘بَِخُ ا
Atau seperti َٜ َعؤdari َعب َء َ٘بٞ َعآ َ٘ب أ.
َظخَ َِب َعآ َ٘ب٠ْ ُذ لُ َش١ِ ًُ ٌمذ ٌَم١ٌَ َؽ ًَّ ثذاسُ٘ رُي رٚ :َعب َء لبي وؼت ثٓ ِبٌه
b). Mendahulukan „ain kalimat dari fa‟ kalima, Seperti kata ًَؤْ َع٠dari . ْغؤي٠َ Posisi hamzah
dipindah ke sin dan sebaliknya.
ٌَْٛ ْغؤ٠ ْٞ أُٛ ٍَؤْ َع٠ .ُُٙ َى١ٍِ َِ ُْٛ ٍؤْ َع٠َ َْ َٛ أٔب عبئٍُِ ْٗ ارا لب ََ لٞ َػطب ًء فذّ٘ب ُء اٌز.:لبي اٌؾبػش
Atau seperti ِ َظ٠َأdari ,ئِ َظ٠َ lalu ك١ْ َِ ِؼdari ك١ْ ِّ َػ
c). Mengakhirkan fa kalimat dari lam kalima, Seperti kata ٞاٌ َؾب ِدdari .اؽذٌٛاPosisi huruf waw
dipindah setelah dal, lalu waw dirubah menjadi iya.
d). Mendahulukan lam kalimat dari fa kalimat,Seperti بء١َ أَ ْؽdari ئَب ُء١ْ َؽ
Terdapat beberapa pendapat mengenai ,بء١اؽdiantaranya :
• Ulama Bashrah: Kata بء١َ أَ ْؽberwazan ٌَ ْفؼَبءyaitu perubahan bentuk jamak taksir dari
ءْٟ َؽyang pada awalnya berasal dari ئَب ُء١ْ َؽberwazan . َف ْؼلاَ ُءSebab adanya dua hamzah yang sulit
diucapkan, maka hamzah yang merupakan lam kalimat dipindah ke posisi fa kalimat. Artinya
telah terjadi transposisi.
• Pendapat Abu Hasan Al-Akhfays: Kata بء١َ أَ ْؽberwazan أَف َؼبءyaitu bentuk jamak taksir
dari ءْٟ َؽyang asalnya ,ئبء١َ أَ ْؽdimana lam kalimat (hamzah) pada َبء١أَ ْؽtelah dibuang agar
ringan dibaca sehingga menjadi berwazan أَفؼَبءPendapat ini lemah dengan alasan sebagai
berikut: Wazan ًفَ ْؼyaitu ءْٟ َؽtidak dijamak ke wazan أَ ْف ِؼلاَءyaitu ,ئبء١َ أَ ْؽnamun ke wazan يٛفُؼ
atau أَ ْف َؼبيMembuang lam kalimat, dalam hal ini yaitu hamzah dengan tanpa sebab dianggap
syad
• Pendapat Al-Fira: Kata َبء١أَ ْؽberwazan أَ ْف ِؼلاَءyaitu perubahan bentuk jamak taksir dari
ِءّٟ َؽyang asalnya بء١َ ١ِ أَ ْؽdimana huruf iya dibuang agar ringan sehingga menjadi َبء١أَ ْؽ
berwazan أفؼبء
• Pendapat Al-Kisa‟i : Kata َبء١أَ ْؽberwzan أفؼبيyaitu perubahan bentuk jamak taksir dari
ءْٟ ؽsebagaimana pada umumnya, mu‟tal „ain dijamak ke wazan أفؼبيatau يٛفؼseperti ذ١ْ َث
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 71
menjadi َبد١أَ ْثatau .دٛ١ثJadi dalam hal ini tidak terjadi transposisi huruf. Adapun terkait
bahwa kata َبء١أَ ْؽtermasuk isim ghair munsharif, sebagian mereka beralasan bahwa َبء١أَ ْؽ
menyerupai kata berakhiran alif ta‟nits. Artinya, kata بء١َ أَ ْؽmasuk kategori ghair munsharif
sebab samar/serupa ( .)ُّ٘ ٛرPendapat lain beralasan sebab بء١أؽhasil transposisi dari ئَبء١ْ َؽ
dimana ئَب ُء١ْ َؽtermasuk ghair munshari, maka بء١أؽtermasuk ghair munsharif. Artinya, kata
بء١َ أَ ْؽmasuk kategori ghair munsharif sebab mengikuti bentuk asalnya sebelum terjadi
transposisi.
3. Contoh Al-Qalb Dalam Bahasa Arab
ًَّ » ِا ِْ َن َؾ- ًَّ ِا ْم َّ َؾ
» ُِ ْى َش ِ٘ف- شِٙ َُِ ْىف
» َعزَ َة- ََع َجز
َؽب ُةْٚ َ» الأ- َثب ُػْٚ َالأ
ٞ» ٌَؼَ ّْ ِش- ٍِٟ ّْ َس َػ
اطَٚ » َص- اصَٛ َع
ٍَُٗ» أَ ْث- ًُ أَ ْ٘ َج
َٜٛ َ – ا ٌْزَٜٛ ٍَ ْار
» َِ ْغ َشػ- َِ ْش َعؼ
ُذ١ْ ِِ اَٛ » َػ- ُذ٠ْ ِٚ َػ َّب
ًُ ١ْ ِ» َص ْٔ َغج- ًُ ١ْ َِع ْٕ َضث
» َفب ِػمَخ- َفب ِلؼخ
» رَ َٕبثَ ُض- رٕب َص ُة
ْغؤَي٠َ »- ًؤُ َع٠َ
» أَ َسا ِٔ ُت- أَ َٔب ِس ُة
B. AL-MUSYAJJAR
1. Pengertian Al-Musyajjar
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 72
• Secara Bahasa Almusyajar adalah isim maful dari fi‟il ًشا١ْ رَ ْؾ ِغ-ُ َؾ ِّغ ُش٠ - َؽ َّغ َشyang artinya
penanaman hutan,menghutankan,menumbuhkan kayu,menghijaukan.
Ibnu faris سؽّٗ اللهberkata “pada kata ( )ؽغشterdiri dari beberapa unsur(huruf) yaitu
syin,jiim,dan ra‟ ; yang merupakan kata dasar yang saling berkaitan atau saling
berhubungan. Yang mana sebagian dari keduanya memiliki makna yang berdekatan
dengan sebagian yang lain. Dan keduanya memiliki banyak makna
• Secara istilah Almusyajar adalah kata yang memiliki banyak makna pada satu akar -
seperti contoh pada kata "ٓ١ – "اٌؼPengertian al musyajjar berdasarkan istilah yakni
mendatangkan suatu kata yang memiliki banyak makna. Sebagai contoh air, yang bisa
diartikan mata air dan sebagainya. Yang kemudian dari makna tersebut dispesifikan
menjadi beberapa cabang. Dan pada masing-masing cabang diberikan penjabaran dengan
cara yang beragam pula. Sehingga syajarah ini mampu menghasilkan 100 makna atau
bahkan lebih. Akan tetapi seluruh perakaran kata tersebut tetap memiliki asal yang sama.
Konsep musyajjar itu berawal dari isytirak lafdhi (kata yg memilki banyak makna)
dari makna2 yg banyak itu kemudian dinterpretasikan menjadi banyak lafadz dan makna
yang tidak terbatas. Misalnya lafad "Ain" itu ada yg artinya mata uang, penglihatan,
mata-mata, mata kaki. lalu dari masing makna ini kemudian dikembangkan lagi. misalnya
"ain" yg artinya "bashar" (penglihatan) dikembangkan lagi maknanya selain penglihatan,
dst sehingga menjadi banyak lafadz dan makna. Dan kita tidak bisa asal membut kata
"musyajjar" kita hanya bisa mempelajari dan menghafal apa yang sudah dituliskan oleh
para pakar Bahasa Arab.
2. Karya-Karya Kitab dan penulisnya pada pembahasan Al-Musyajjar
o Ulama yang pertama kali menyusun kitab tentang Almusyajar adalah Abu Umar
Almuthorraz yang wafat pada tahun 345 hijriyah, dan beliau menamai kitabnya dengan
( اٌٍغخٟ)اٌّذاخً ف.
o Dan pada masanya abu Thoyyib Al-lughowi beliau menyusun kitab yang bernama
()ؽغش اٌذاس. Yang mana beliau wafat pada tahun 351 hijriyah.
o Kemudian muncul seorang ulama setelah masanya abu Thoyyib Al-lughowi yaitu
Abu Thohir muhammad bin yusuf bin abdulloh at-tamimi yang mana beliau juga
menyusun kitab yang bernama (ً)اٌّغٍغ. Dan beliau wafat pada tahun 538 hijriyah
3. Asal Usul Penamaannya
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 73
Dinamakan Almusyajjar karena seperti apa yang telah dikatakam oleh abu thoyib
al-lughowi bahwasannya ada kata yang mana mempunyai kelebihan untuk menumbuhkan
;atau menghasilkan (makna) dari sebagian suatu kata ke sebagian yang lainnya
maksudnya yaitu kata yang saling berhubungan, maka saetiap kata yang saling
menghubungkan sebagian dengan sebagian yang lainnya maka dinamakan dengan
“Almusyajar”.
4. Contoh Almusyajjar
الأٌُ :ٝالأٚيٚ ،أٚي َٛ٠ :الأؽذٚ ،الأؽذ اٌٛاؽذٚ ،اٌٛاؽذ :اٌفشدٚ :اٌفشد :اٌضٛسٚ ،اٌضٛس :اٌظٛٙسٚ ،اٌظٛٙس:
اٌغٍجخٚ ،اٌغٍجخ :عّغ غبٌتٚ ،غبٌت :أثٌ ٛئٌٚ ،ٞئ :ٞرقغ١ش لأٚ ،ٞاٌلأ :ٞاٌضٛسٚ ،اٌضٛس:فؾً اٌجمشٚ ،اٌجمش:
اٌفشقٚ ،اٌفشق :رجبػذ ِب ث ٓ١اٌضٕب٠بٚ ،اٌضٕب٠ب :اٌؼمبةٚ ،اٌؼمبة :اٌّٛالاحٚ ،اٌّٛالاح :اٌّظب٘شحٚ ،اٌّظب٘شحٌ :جظ
اٌضٛة ػٍ ٝصٛةٚ ،اٌضٛة :اٌشعٛعٚ ،اٌشعٛع :اٌى ُّشٚ ،اٌىش :ؽجً إٌخًٚ ،إٌخ :ً١اٌخ١بسٚ ،اٌخ١بس :اٌؾىُ،
ٚاٌؾىُ :اٌؾىّخٚ ،اٌؾىّخ :اٌؼٍُ ٚاٌؼذيٚ ،اٌؼذي :اٌمّ١خٚ ،اٌمّ١خ :اٌضّٓٚ ،اٌضّٓ :اٌؼٛكٚ ،اٌؼٛك :اٌجذي،
ٚاٌجذي :اٌخٍفٚ ،اٌخٍف :اٌغجشٚ ،اٌغجش :افلاػ اٌىغشٚ ،اٌىغش :وغش عبٔت اٌج١ذٚ ،اٌج١ذ :اٌضٚطٚ ،اٌضٚط:
إٌّوٚ ،إٌّو ِٓ إٌبط :اٌنشةٚ ،اٌنشة ِٓ اٌشعبي :اٌّّؾٛق اٌمَذّٚ ،اٌمذ :لطغ اٌغ١شٚ ،اٌغ١ش :عشػخ
اٌّؾٚ ،ٟاٌّؾ :ٟعؼ ٟاٌٛاؽٚ ،ٟاٌٛاؽ :ٟاٌ ُّؾ ِّغٓٚ :اٌّؾ ِّغٓ :اعُ أغبْٚ ،الإٔغبْ :فج ٟاٌؼٚ ،ٓ١اٌؼ:ٓ١
خبفخ اٌٍّهٚ ،اٌٍّه :اٌ َّق١ذْٚ ،اٌق١ذْ :اٌضؼٍتٚ ،اٌضؼٍتِ :ب ٠ذخً اٌغٕبْ ف ٟاٌمٕبحٚ ،اٌمٕبح :اٌمبِخٚ ،اٌمبِخ:
عّغ لبئُٚ ،اٌمبئُِ :مجل اٌغ١فٚ ،اٌغ١ف :اٌنشة ثٗٚ ،اٌنشة :اٌز٘بة ف ٟالأسكٚ ،الأسك :اٌ ِّشػذح،
ٚاٌ ِّشػذح :اٌ َّشػؼٚ ،اٌشػؼ :عشػخ اٌظٍٚ ،ُ١اٌظٍ :ُ١اٌٍجٓ لجً اٌ َّشٚةٚ ،اٌشٚة :خضبسح إٌفظ ِٓ وضشح إٌ،َٛ
ٚإٌ :َٛاٌىشاٚ ،اٌىشا :هبئشٚ ،اٌطبئش :ػًّ اٌؼبًِٚ ،اٌؼبًِ ِٓ اٌشِؼ :اٌقذسٚ ،اٌقذس :الأٚي
اٌؼ• kata ٓ١
اٌؼٓ١ الجمل :دابة البحر :الماء
من دواب ال ِم ْلح ْْ
البحر
ػٓ١ ال َو ْهم: الملح :ال ُحرمة حي:ضده
اٌؾّظ الجمل الكبير الموت
اٌؾّظ :ؽّاط الخيل :الوهم الحرمة :ما كان حرام:
اٌخً١ للإنسان حراماً حي من
العرب
على غيره
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 74
Daftar Pustaka
Al-Wafi, Ali Abdul Wahid. 1962. Fiqh allughah. al-Qahiroh: lajnah bayan Arabi
Ya‟kub, Badi‟ Emil. 1982. Fiqhu al-Lughah wa Khasaaisuha. Beirut: jami huquq
almahfudhah
Handout elena Fiqih lughoh Al-qolbu wal Musyajjar
https://almerja.net/reading.php?idm=53717
https://bahasa-arab.com/pengertian-al-qalb-al-makani-ilmu-sharf/
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 75
MAKALAH 11
AL-ITBA’ WAN-NAHT
Faris Abdul Aziz & Mahda Anggita Zukni Fahma
A. Al-itba’ Wan-Naht
Istilah Al-Naht dari segi bahasa berasal dari akar kata yang mengandung makna
memahat, menata dan mematung. Lisan Arab menulis Al-Naht adalah ( إٌؾشmenggergaji),
ٞ( اٌجشmeraut) dan ( اٌمطغmemotong). Keseluruhan makna di atas terhimpun dalam arti
memahat yang merupakan makna hakikat Al-Naht, sebagaimana empat kali disebutkan dalam
al-Quran. Hal ini dapat dipahami karena secara umum pekerjaan menggergaji, menata,
mematung, menggergaji, meraut dan memotong adalah pekerjaan yang saling berhubungan
bagi pemahat atau seni ukir. Dalam Al-Qur‟an, kata an-naht dalam bentuk kata kerja
disebutkan empat kali, yaitu di dalam surat al-A‟raf: 74, asy- Syuara‟: 149, ash-Shaffat: 95
dan al-Hijr: 82.
Sedangkan menurut istilah diartikan sebagai formulasi dua kata atau lebih menjadi
satu ungkapan baru yang menunjukkan makna aslinya. kata yang digabung tersebut dapat
terdiri dari kata benda seperti basmalah, kata kerja seperti hamdalah atau huruf
seperti innama berasal dari inna dan ma, dengan tetap mengikuti kaedah kebahasaan dan
bentuk-bentuk tashrif bahasa. Hubungan makna leksikal dengan makna istilah ialah
karena Al-Naht kegiatan manata ulang kata-kata atau kalimat. Hal ini mirip dengan kegiatan
memahat atau mematung yang bekerja memotong-motong dan membuang sebagian unsur
suatu kata kemudian membuat formulasi yang berbeda dengan forma awal.
Definisi di atas memberikan pengetian bahwa Al-Naht merupakan langkah kreatif
meringkas dan mempermudah pengucapan serangkaian kata. Bentuk Al-Naht secara sepintas
mempunyai kemiripan penyingkatan dalam bahasa Indonesia. Letak persamaannya terletak
pada upaya penyederhanaan dan meringkas kata untuk mempermudah pengucapannya.
Sedangkan perbedaannya terletak pada corak dan semangat setiap bahasa.
Melalui telaah karya-karya linguist ditemukan bahwa pembahasan tentang Al-
Naht hampir tidak mendapatkan perhatian serius kalangan linguist. Kalaupun ada upaya ke
arah penelitian dan penemuan teori-teori Al-Naht, upaya-upaya tersebut tidak mendapat
sambutan baik dari kelompok linguist tradisional. Bahkan mendapat sorotan tajam yang
menganggap Al-Naht terlalu mengada-ada. Sikap seperti itu pada hakikatnya didasari oleh
tekad untuk menjaga kemurnian bahasa Arab, terutama karena bahasa al-Quran. Meskipun
harus dipahami pula, Al-Naht telah menjadi kebutuhan zaman yang kadang-kadang dalam
memberikan informasi lisan atau tulisan membutuhkan ungkapan ringkas. Pertemuan di
antara dua pendapat berlawanan ini, yakni kelompok yang menganggap Al-Naht hanya
perbuatan mengada-ada dan kelompok yang menganggap harus ada dan perlu dikembangkan,
haruslah dipelihara sehingga senantiasa membutuhkan hadirnya kreatifitas di satu sisi sedang
di sisi lain kemurnian juga tetap terjaga.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 76
Dalam al-Quran kata Al-Naht dalam bentuk kata kerja disebutkan 4 kali, yaitu di dalam
surat Al-A‟raf: 74, Asy-Syu‟ara‟: 149, Ash-Shafat: 95 dan Al-Hijr: 82. Penelusuran
penggunaan kata ini dalam al-Quran seluruhnya bermakna memahat gunung untuk tempat
tinggal atau membuat membuat patung sebagai seni dan kebanggaan kaum Tsamud atau
menjadi sembahan kaum Nabi Ibrahim as. Para ahli mengambil istilah Al-Naht yang asal
pengertiannya memahat, mematung dan menata benda bersifat material tersebut menjadi
nama bagi penggabungan dua kata atau lebih menjadi satu ungkapan. Dalam Bahasa
Indonesia, istilah ini dikenal dengan istilah akronim, atau singkatan yang menjadi pola
meringkas atau menyingkat dua kata atau lebih menjadi satu ungkapan. Sebagaimana sering
terdengar ungkapan sinetron yang berasal dari gabungan kata sinema dan elektronik
B.Macam macam Al-Itba’Wan-Naht
Imil Badi‟ Ya‟qub setelah mengemukakan pandangan ulama bahasa tentang pola dan
cara pembentukan An-Naht, hendak merangkum, dan membagi Al-Naht ke dalam empat
kelompok. Sedangn Ali Abdu al-Wahid Wafi, misalnya hanya membagi An-Naht ini ke
dalam tiga kelompok yaitu An-Naht Al-Jumlah, An-Naht Murakkab Idhafi dan An-
Naht dari dua kata yang berdiri sendiri atau dari beberapa kata yang berdiri sendiri
kemudian disingkat (manhut) untuk menunjukan makna murakkab. Dalam makalah ini
dikemukakan empat jenis An-Naht, agar menjadi perbandingan. Keempat klasifikasi itu
adalah :
1. An-Naht an-Nisbi
Menisbatkan sesuatu atau seseorang atau fi‟il (kata kerja) ke dalam dua isim
Bentuk An-Naht An-Nisbiy Bentuk Asli
ّٝػجؾ ػجذ اٌؾّظ
ٞػجذس ػجذ اٌذاس
ِٝشلغ ظ١اِشاال
ٍِٝ ُ الله١ر
ثٍؾبسس اٌؾبسسٕٝث
ثٍؼٕجش اٌؼٕجشٕٝث
ُ١غٍٙٙث ُ١غٌٙثٕغ ا
ٜرشخض
َاسصٛخٚ ْهجشعزب
2. An-Naht al-Fi’liy
Hasil singkatan dari suatu kalimat sebagai tanda pelafalannya atau menunjukkan maknanya
Bentuk An-Naht Al-Fi‟liy Bentuk Asli
ًّثغ ثغُ لله
ؽّذي اٌؾّذ لله
ٌكٛؽ
ح الا ثبللهٛلا لٚ يٛلا ؽ
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 77
ًؽغجب الله ؽغج
ًىُ عّؼ١ٍاٌغلاَ ػ
ًؼ١ اٌفلاػ ؽٍٝ ػٝ اٌقلاح ؽٍٝ ػٟؽى
أداَ الله ػضن دِؼض
ًٍ١٘ اٌٗ الا الله٢
اهبي الله ثمبءن هٍجك
عؼٍذ فذاءن عؼفذ
3. An-Naht al-Ismi Bentuk Asli
ػٍخٚ ٟػمج
Mengambil singkatan dari dua bentuk isim لشٚ ٚ ؽت
عّذٚ عٍذ
Bentuk An-Naht Al-Ismiy
ً١ػمجبث
ؽجمش
دٍّٛع
4. An-Naht al-Wahfi
menyingkat dua kata menjadi satu ungkapan yang menunjukan makna kata yang
disingkat atau mempunyai makna lebih tegas dari kata yang disingkat, seperti
ungkapan (مطجشorang yang kuat) adalah gabungan dari kata مجشٚ مجو. Contoh
lain dari jenis an-naht al washfiy salah satunya adalah قٍكٙ فdari gabungan kata
ًٙ فٚ فٍكlalu ada ثؾزشgabungan dari ثزشٚ ؽزش
C. Contoh contoh Al-Itba’Wan-Naht
Di antara contoh an-naht adalah ًَ َّ ثَ ْغyang artinya ia mengucapkan
“bismillahirrahmanirrahim”, َؽ ّْذَ َيyang artinya “ia mengucapkan alhamdulillah”, ًَ َلْٛ َؽyang artinya
“ia mengucapkan la haula wala quwwata illa billah”, ًَ َ َؽ ْغجyang artinya “ia
mengucapkan hasbiyallah”, ًَ َع ْج َؾyang artinya “ia mengucapkan subhanallah”, ًَ َ َع ّْؼyang artinya “ia
mengucapkan assalamu‟alaikum”, َه ٍْ َج َكyang artinya “ia mengucapkan athalallah baqa‟ak”,
dan ًَ َؼ١ْ َؽyang artinya “ia mengucapkan hayya „ala ash-shalah dan hayya „ala al-falah”.
Bentuk ism (noun/kata benda) dari contoh-contoh di atas adalah sesuai
konjugasi mashdar-nya, yaitu basmalah, hamdalah, hauqalah, hasbalah,
sabhalah, sam‟alah, thalbaqah dan hay‟alah. Adapun ًَ ٍَ ١ْ َ٘ yang bermakna “ia banyak
membaca la ilaha illallah” adalah mulhaq (disamakan) dengan ruba‟i majjarad dalam hal
konjugasi (tashrif).
Termasuk ke dalam an-naht adalah setiap derivasi (isytiqaq) suatu verba (fi‟l) dari kata benda
(ism), seperti:
اٌ َّط َؼب ََ َف ٍْ َف ٍْ ُذyang berarti “ًَ ُ ِٗ اٌفُ ٍْف١ َم ْؼ ُذ ِفَٚ /saya membubuhi lada ke dalam makanan”.
Kumpulan Makalah Fiqh Lughoh | 78