LK 05 PPL PPG
FORMAT PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
KEGIATAN PPL PPG PRAJABATAN
Nama : NOVITA WULANDARI, S.Pd.
NIM : 2001680286
Kelas : A
LPTK : Universitas Muhammadiyah Purwokerto
JUDUL
(Nama dan Bidang Studi)
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori*
B. Penelitian terdahulu yang relevan
C. Kerangka piker penelitian
*) A. sesuaikan dengan variable dalam judul
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain PTK
B. Subjek Penelitian
C. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
D. Prosedur Penelitian
E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
F. Pengolahan dan Analisis Data
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
A. RPP
B. Instrumen Pengumpul Data
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS IV SD NEGERI 1 ONJE PADA MUATAN IPA
MELALUI MODEL QUANTUM TEACHING
Oleh
Novita Wulandari, S.Pd
NIM. 2001680286
PENDIDIKAN PROFESI GURU
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
TAHUN 2021
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
BAB I
PENDAHULUAN
Pendahuluan merupakan kajian pertama dalam penelitian. Pendahuluan memuat
tentang latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian dan manfaat penelitian. Penjelasan mengenai bab pendahuluan yaitu sebagai
berikut.
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada saat ini dipersiapkan untuk membentuk peserta didik yang mampu
menghadapi perkembangan zaman. Pendidikan dilakukan untuk membangun kehidupan masa
kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu melalui berbagai kemampuan intelektual,
kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian dan berpartisipasi untuk membangun
kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (Rusman, 2015:96). Pendidikan
merupakan usaha sadar dan sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi
tanggung jawab untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik supaya sesuai
dengan cita-cita pendidikan (Munib dkk. 2012:31). Pengertian tersebut sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1
Ayat (1), yang menyatakan:
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan memberikan peserta didik untuk memperoleh, kesempatan, harapan, dan
pengetahuan supaya dapat hidup secara lebih baik. Besarnya kesempatan dan harapan
bergantung pada kualitas pendidikan yang ditempuh. Pendidikan juga menjadi kekuatan
untuk melalukan perubahan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Pendidikan yang
berkualitas melibatkan peserta didik untuk aktif belajar dan mengarahkan terbentuknya nilai-
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
nilai yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam menjalani kehidupannya. Peserta didik harus
dibekali dengan kemampuan untuk belajar sepanjang hayat, belajar dari berbagai sumber,
bekerja sama, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah.
Sebagai bangsa dan negara Indonesia kita harus bangga terhadap para pendahulu kita
yang telah mewariskan fondasi yang kuat dan mulia tentang arah dan tujuan kita berbangsa
dan bernegara. Kita harus berkontribusi sesuai dengan peran kita untuk mewujudkan cita-cita
bangsa Indonesia. Salah satu cara dan strategi untuk mempercepat terwujudnya cita-cita
negara adalah dengan mempersiapkan generasi masa depan yang tangguh, cerdas, mandiri
dan berpegang pada nilai-nilai spiritual. Mereka harus dipersiapkan sedemikian rupa dalam
suatu lingkungan yang kondusif. Salah satu lingkungan yang sangat ideal adalah pendidikan.
Pembentukan karakter peserta didik melalui pendidikan di negara maju dilakukan dengan
menerapkan kurikulum yang sesuai. Pendidikan mampu membentuk kompetensi peserta
didik baik dalam pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan perilaku. Upaya memperbaiki
hasil belajar peserta didik yang mencakup pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan
perilaku dilaksanakan melalui Kurikulum 2013. Kunandar (2015:15) menjelaskan bahwa
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki
kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, dan
inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
bernegara, dan peradaban dunia.
Kurikulum 2013 menetapkan kriteria kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Acuan dan prinsip penyusunan Kurikulum 2013 mengacu
pada pasal 36 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, yang menyatakan bahwa dalam
penyusunan kurikulum harus memperhatikan peningkatan iman dan taqwa, peningkatan
akhlak mulia, peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik, keragaman potensi
daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja,
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, agama, dinamika perkembangan
global, dan persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Tujuan pembelajaran disesuaikan
dengan tujuan pendidikan nasional yang dinyatakan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003, yaitu: “Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Pada Kurikulum 2013 ada perubahan dalam struktur kurikulum, salah satu elemen
perubahannya yaitu pembelajaran dilaksanakan secara holistic dan integrative berfokus pada
alam, sosial, dan budaya. Selain itu, pembelajarannya dilaksanakan dengan pendekatan
saintifik. Gestalt dalam Rusman (2015: 115) menyimpulkan bahwa “Keseluruhan lebih
bermakna daripada bagian-bagian bagi anak usia sekolah dasar.” Oleh karena itu, kurikulum
dan pembelajaran terpadu cocok diterapkan di sekolah dasar, karena pola pikir anak masih
bersifat keseluruhan. Pembelajaran akan mudah dipahami bila diajarkan melalui tema-tema
dibandingkan dengan mata pelajaran yang terpisah-pisah. Materi yang diajarkan bersifat
tematik terpadu, dimana muatan-muatan mata pelajaran dikemas dalam bentuk tema-tema
yang berdekatan dengan diri dan lingkungan peserta didik, sehingga pembelajaran lebih
mudah dipahami dan bermakna.
Kurikulum terpadu bercirikan hilangnya mata pelajaran, tetapi yang ada yaitu
muatan-muatan mata pelajaran yang dipadukan dalam bentuk tema-tema. Seperti tema
Daerah Tempat Tinggalku, dapat dijelaskan dari berbagai muatan mata pelajaran seperti
muatan mata pelajaran IPA, IPS, PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, PJOK, dan SBdP.
Salah satu muatan mata pelajaran yang ada di dalam Kurikulum 2013 yaitu Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA).
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia berupa
pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
dari pengalaman melalui rangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan
pengujian gagasan-gagasan. (Garnida dan Budiman, 2002 : 253). Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA
bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan proses penemuan.
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan cara memberikan pengalaman langsung
kepada peserta didik untuk mengembangkan kompetensi, meneliti dan memahami alam
sekitar, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Melalui pembelajaran IPA,
peserta didik diharapkan dapat lebih mengenal diri sendiri dan lingkungan sekitar tempat
tinggal secara ilmiah dan dapat menerapkan pengalaman belajarnya dalam kehidupan sehari-
hari.
Berdasarkan pengamatan awal terhadap hasil pembelajaran IPA di kelas IV SD
Negeri 1 Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga diperoleh data bahwa dari 22
peserta didik kelas IV hanya 9 peserta didik atau 40,9 % peserta didik saja yang memeroleh
hasil belajar yang memenuhi standar KKM yaitu 70. Faktor yang menyebabkan rendahnya
hasil belajar IPA adalah pembelajaran masih berpusat kepada guru, belum menggunakan
model serta media pembelajaran yang bervariasi, penyampaian tugas dan materi
pembelajaran masih menggunakan satu sumber yaitu buku pelajaran, sehingga pembelajaran
belum bisa mencapai tujuan dengan maksimal. Oleh karena itu, diperlukan model
pembelajaran yang dapat mengaktifkan, menarik serta menyenangkan bagi peserta didik
supaya pembelajaran yang dilakukan lebih bermakna dan dapat mencapai tujuan
pembelajaran yang diharapkan.
Upaya untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA kelas IV SD Negeri 1
Onje Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga adalah dengan menerapkan model Quantum
Teaching. Quantum Teaching adalah interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya, yang
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
mencakup beberapa hal seperti pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam
dan sekitar proses belajar, menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses belajar
melalui perpaduan unsur-unsur seni dan pencapaian-pencapaian terarah, serta fokus pada
hubungan yang dinamis di dalam kelas (Hamid, 2013: 98). Model Quantum Teaching
mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang
kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses pembelajaran. Pembelajaran IPA
dengan menggunakan Model Quantum Teaching dapat meningkatkan keaktifan dan hasil
belajar peserta didik untuk menemukan suatu konsep dengan bimbingan guru. Peserta didik
menjadi lebih aktif dan mempunyai motivasi dan minat untuk mempelajari IPA.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukaan upaya
perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) di tempat peneliti
bertugas dengan judul “Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD
Negeri 1 Onje Pada Muatan IPA Melalui Model Quantum Teaching”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, identifikasi masalah dalam
penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1. Hasil belajar muatan mata pelajaran IPA masih di bawah KKM (belum tuntas).
2. Guru dalam kegiatan pembelajaran masih mendominasi (teacher centered)
3. Keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran kurang aktif.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, peneliti memberikan
pembatasan masalah yaitu pada hasil belajar peserta didik masih rendah karena kurang tepat
dalam memilih model pembelajaran yang membantu dalam penyampaian materi muatan mata
pelajaran IPA. Dari hal tersebut peneliti memperbaikinya dengan meningkatkan keaktifan
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
dan hasil belajar muatan mata pelajaran IPA melalui penerapan Model Quantum Teaching
pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Onje Kabupaten Purbalingga.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, dapat dirumusan masalah secara umum yaitu:
1. Apakah penggunaan model Quantum Teaching dapat meningkatkan keaktifan belajar
siswa pada muatan IPA kelas IV SD Negeri 1 Onje?
2. Apakah penggunaan model Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa
pada muatan IPA kelas IV SD Negeri 1 Onje?
E. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Meningkatkan ketrampilan guru pada muatan pembelajaran IPA melalui model Quantum
Teaching pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Onje.
2. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan keaktifan belajar IPA melalui model Quantum Teaching pada siswa
kelas IV SD Negeri 1 Onje.
b. Meningkatkan hasil belajar pada muatan pembelajaran IPA melalui model Quantum
Teaching pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Onje.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian dapat memberikan konstribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dalam penelitian ini meliputi manfaat bagi guru, peserta didik, dan
sekolah.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
a. Bagi Guru
1) Hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai inovasi serta penyempurnaan
proses pembelajaran.
2) Memberikan gambaran untuk meningkatkan hasil belajar IPA.
3) Memberikan motivasi kepada guru untuk terus melakukan variasi pembelajaran
yang membantu memperlancar tugas profesinya.
4) Meningkatkan kemampuan guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang
menyenangkan.
b. Bagi Peserta didik
1) Mendorong peserta didik untuk dapat meningkatkan hubungan interpersonal
dalam pembelajaran.
2) Memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir.
3) Membuat peserta didik tidak merasa jenuh, bosan, lebih aktif, kreatif dan lebih
kreatif.
4) Membantu peserta didik dalam meningkatkan hasil belajarnya melalui proses
belajar dan model pembelajaran yang bervariasi.
c. Bagi Sekolah
1) Bahan kajian untuk mengembangkan proses pembelajaran di sekolah.
2) Meningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pada bagian ini dijelaskan tentang kajian teori, kerangka berpikir, penelitian yang
relevan, dan hipotesis penelitian. Uraian mengenai kajian pustaka sebagai berikut.
A. Kajian Teori
1. Hakikat Belajar
Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di
sekitar individu. Belajar dipandang sebagai proses berbuat melalui berbagai pengalaman.
Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu (Sudjana,
1989: 28).
Gage dan Berlinger (1983) dalam Rifai dan Anni (2012: 66) berpendapat belajar
sebagai suatu proses dimana manusia mengubah perilakunya sebagai akibat dari
pengalaman. Perubahan perilaku dapat dilihat dengan membandingkan perilaku sebelum
dan sesudah seseorang mengalami kegiatan belajar. Perubahan perilaku akibat proses
belajar relatif permanen karena merupakan hasil dari praktik atau pengalaman.
Slameto (2010: 2) mengemukakan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Seseorang
dikatakan telah melalui proses belajar apablia sudah terjadi perubahan perilaku dalam
dirinya. Perubahan perilaku ini muncul sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan
tempat tinggalnya serta dari pengalaman yang dialaminya sendiri.
Berdasarkan pendapat ahli tentang pengertian belajar, dapat disimpulkan bahwa
belajar merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang dengan sengaja untuk memperoleh
pengetahuan baru yang diperoleh dari hasil pengalamannya sendiri atau hasil pengamatan
lingkungan sekitar sehingga memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Slameto (2010: 54-72) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor
intern dan ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang
sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.
a. Faktor Intern
Dalam faktor intern dapat dibagi menjadi tiga faktor yaitu faktor jasmani,
psikologis dan kelelahan.
1) Faktor Jasmani
Faktor jasmani adalah faktor yang berkaitan dengan kondisi fisik yang
meliputi kesehatan dan cacat tubuh. Sehat berarti dalam keadaan baik dan
bebas dari penyakit. Orang yang kesehatannya kurang dalam proses belajarnya
akan terganggu, cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mudah
ngantuk. Agar dapat belajar dengan baik kesehatan seseorang perlu dijaga
dengan pola hidup yang sehat.
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau
kurang sempurnanya tubuh. Keadaan cacat tubuh mempengaruhi belajar.
Siswa yang fisiknya kurang sempurna belajarnya akan terganggu. Seseorang
dengan kebutuhan khusus hendaknya belajar pada lembaga pendidikan
khusus.
2) Faktor Psikologis
Faktor psikologis merupakan faktor yang berkaitan dengan kejiwaan.
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong dalam faktor psikologis
yang mempengaruhi belajar, diantaranya adalah intelegensi, perhatian, minat,
bakat, motif, kematangan dan kelelahan.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
3) Faktor Kelelahan
Faktor kelelahan merupakan faktor yang berkaitan dengan ketahanan
tubuh. Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan
jasmani dan rohani (psikis). Kelelahan jasmani ditunjukan dengan lemahnya
tubuh dan timbul kecenderungan membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan
rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat
dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.
b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapat dikelompokan
menjadi tiga faktor yaitu, faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga
merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan berpengaruh terhadap proses
belajar siswa. Faktor keluarga yang mempengaruhi belajar siswa diantaranya
adalah cara orang tua mendidik, relasi antaranggota keluarga, suasana rumah
tangga, dan keadaan ekonomi keluarga.
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup model mengajar,
kurikulum, relasi guru dan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah,
standar pelajaran, keadaan gedung, model belajar, dan tugas rumah. Faktor
selanjutnya yang memperngaruhi belajar adalaha masyarakat. Pengaruh itu terjadi
karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Faktor tersebut diantaranya kegiatan
siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan kehidupan mssyarakat.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang
memengaruhi belajar yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern meliputi
faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan. Faktor ekstern yang
terdiri dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
kerjasama antara orang tua, sekolah, dan masyarakat agar anak dapat memperoleh
hasil belajarnya secara optimal.
3. Prinsip-prinsip Belajar
Menurut Bruce Weil dalam Rusman (2015: 30), terdapat tiga prinsip penting
dalam proses pembelajaran. Pertama, proses pembelajaran merupakan bentuk kreasi
lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah kognitif peserta didik. Kedua,
kegiatan pembelajaran berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan, seperti
pengetahuan fisis, sosial dan logika. Ketiga, dalam kegiatan pembelajaran melibatkan
peran lingkungan sosial. Prinsip-prinsip belajar relatif berlaku umum berkaitan
dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman,
pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.
Salah satu prinsip belajar yaitu keaktifan. Belajar akan lebih bermakna apabila
peserta didik mengalaminya sendiri. Belajar tidak dapat dipaksakan ataupun
diwakilkan oleh orang lain. John Dewey dalam Rusman (2015: 32) mengemukakan
bahwa belajar adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh diri peserta didik sendiri,
untuk dirinya sendiri, sehingga diperlukan inisiatif yang muncul dari dalam diri. Guru
bertindak sebagai pembimbing dan pengarah dalam kegiatan pembelajaran. Menurut
teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, mengolah
informasi, dan tidak sekedar menyimpannya tanpa mengadakan transformasi.
Menurut Rusman (2015: 32) dalam proses belajar mengajar peserta didik mampu
mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta,
menganalisis, manafsirkan, dan menarik kesimpulan.
Dalam setiap proses belajar, peserta didik selalu menampakkan keaktifan.
Keaktifan dapat berupa kegiatan fisik dan kegiatan psikis. Kegiatan fisik berupa
membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan dan sebagainya.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Sedangkan kegiatan psikis misalnya kegiatan khasanah pengetahuan yang dimiliki
dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan beberapa konsep, serta
menyimpulkan hasil percobaan dan kegiatan psikis yang lain.
Sebagai subjek dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik harus selalu aktif
memproses serta mengolah ilmu yang diterima dalam kegiatan belajarnya. Peserta
didik harus aktif secara fisik, intelektual dan emosional untuk memproses serta
mengolah informasi dan ilmu yang diperoleh secara efektif. Rusman (2015:36)
menjelaskan implikasi prinsip keaktifan dapat dilihat dari perilaku peserta didik
seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis, hasil percobaan,
ingin tahu dari reaksi kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan lain-lain.
Keaktifan belajar peserta didik dapat dilakukan oleh guru dengan cara
melibatkan peserta didik untuk selalu aktif mencari, memperoleh dan mengolah
perolehan belajarnya. Rusman (2015:38) menyebutkan untuk meningkatkan keaktifan
belajar peserta didik, guru dapat melaksanakan perilaku-perilaku berikut:
a. Menggunakan multimetode dan multimedia.
b. Memberikan tugas secara individual dan kelompok.
c. Memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok
kecil (beranggota tidak lebih dari 3 orang).
d. Memberikan tugas untuk membaca bahan belajar, mencatat hal-hal yang kurang
jelas.
e. Mengadakan tanya jawab dan diskusi.
4. Hakikat Pembelajaran
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara guru dengan
siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap mukamaupun secara tidak
langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Pembelajaran
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling
berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi: tujuan, materi,
metode dan evaluasi. Keempat komponen pembelajaran tersebut harus diperhatikan
oleh guru dalam memilih dan menentukan media, metode, strategi dan pendekatan
apa yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Warsita (2008:85) dalam Rusman (2015:21) menyatakan bahwa
pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat peserta didik belajar atau suatu
kegiatan untuk membelajarkan peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran
merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Pembelajaran itu
menunjukkan pada usaha peserta didik mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat
perlakuan guru. Kemudian menurut Sudjana (2004:28) dalam Rusman (2015:22)
mengemukakan bahwa pengertian pembelajaran merupakan upaya yang sistematikdan
sengaja untuk menciptakan agar terjadi kegiatan interaksi edukatif antara dua pihak,
yaitu peserta didik (warga belajar) dan pendidik (sumber belajar) yang melakukan
kegiatan membelajarkan.
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang
melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik
dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian
kompetensi dasar (BNSP,2006:16).
Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan
suatu proses interaksi komunikasi antara sumber belajar, guru dan peserta didik.
Interaksi tersebut dilakukan baik secara langsung dalam kegiatan tatap muka maupun
secara tidak langsung dengan menggunakan media, di mana sebelumnya telah
menentukan model pembelajaran yang akan diterapkan. Hakikat pembelajaran
tersebut harus ada di setiap komponen pembelajaran termasuk pembelajaran berbasis
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
TIK. Peserta didik jangan selalu dianggap sebagai objek belajar yang tidak tahu apa-
apa. Peran guru tidak hanya sebatas pengajar (transfer of knowledge), tetapi juga
sebagai pembimbing, pelatih, pengembang dan pengelola kegiatan pembelajaran yang
dapat memfasilitasi kegiatan belajar peserta didik dalam mencapai tujuan yang telah
ditentukan.
5. Komponen Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan hasil integrasi dari beberapa komponen
yang memiliki fungsi tersendiri dengan maksud agar ketercapaian tujuan
pembelajaran dapat terpenuhi. Ciri utama dari kegiatan pembelajaran adalah adanya
interaksi. Interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan lingkungan belajrnya,
baik itu dengan guru, teman-temannya, alat, media pembelajaran atau sumber-sumber
belajar yang lain. Sedangkan ciri-ciri lainnya dari pembelajaran ini berkaitan dengan
komponen-komponen pembelajaran itu sendiri. Komponen pembelajaran adalah
penentu dari keberhasilan proses pembelajaran. Komponen-komponen tersebut
memiliki fungsi masing-masing dalam proses pembelajaran. Komponen-komponen
pembelajaran menurut Rusman (2015:26) yaitu sebagai berikut:
a. Tujuan, tujuan pendidikan itu sendiri adalah untuk meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan
mengikuti pendidikan lebih lanjut.
b. Sumber Belajar, diartikan segala bentuk sesuatu yang ada d luar diri seseorang yang
bisa digunakan untuk membuat atau memudahkan terjadinya proses belajar pada diri
sendiri atau peserta didi, apa pun bentukny, apa pun bendanya, asal bisa digunakan
untuk memudahkan proses belajar, maka benda itu bisa dikatakan sebagai sumber
belajar.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
c. Strategi Pembelajaran, adalah tipe pendekatan yang spesifik untuk menyampaikan
informasi dan kegiatan yang mendukung penyelesaian tujuan khusus. Strategi
pembelajaran pada hakikatnya merupakan penerapan prinsip-prinsip psikologi dan
prinsip-prinsip pendidikan bagi perkembangan peserta didik.
d. Media Pembelajaran, merupakan salah satu alat untuk mempertinggi proses interaksi
guru dengan peserta didik dan interaksi peserta didik dengan lingkungan dan sebagai
alat bantu mengajar dapat menunjang penggunaan metode mengajar yang digunakan
oleh guru dalam proses belajar.
e. Evaluasi Pembelajaran, metupakan alat indikator untuk menilai pencapaian tujuan-
tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara
keseluruhan. Evaluasi bukan hanya sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan
incidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terancana,
sistematik dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas.
6. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) serta perannya dalam pendidikan di SD
Menurut Nash (1963) dalam Hendro Darmojo dan Jenny R.E. Kaligis (1993:3)
menyatakan bahwa IPA itu suatu cara atau metode untuk mengamati alam.
Selanjutnya, Nash juga menjelaskan bahwa cara IPA mengamati dunia itu bersifat
analitis, lengkap cermat, serta menghubungkan antara satu fenomena dengan
fenomena yang lain sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru
tentang objek yang diamati. IPA adalah kumpulan teori yang telah diuji
kebenarannya, yang menjelaskan tentang pola-pola keteraturan dari gejala alam yang
diamati secara seksama (Harre dalam Hendro Darmojo dan Jenny R.E. Kaligis
1993:4). Jadi, secara singkat IPA adalah pengetahuan tentang alam semesta dengan
segala isinya yang nyata dan dapat terima akal sehat manusia melalui pancaindera.
Secara umum Sekolah Dasar diselenggarakan dengan tujuan untuk
mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta
mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan menengah. Untuk mencapai
tujuan tersebut diperlukan pendidikan dan pengajaran dari berbagai disiplin ilmu,
agama, kesenian dan keterampilan. Salah satu disiplin ilmu itu adalah IPA. Ilmu
Pengetahuan Alam diperlukan oleh peserta didik Sekolah Dasar karena dapat
memberikan iuran tercapainya sebagian dari tujuan pendidikan. Hendro Darmojo dan
Jenny R.E. Kaligis (1993:6) menyebutkan bahwa dengan pengajaran IPA diharapkan
peserta didik akan dapat (1) memahami alam sekitarnya, meliputi benda-benda alam
dan buatan manusia serta konsep-konsep IPA yang terkandung di dalamnya; (2)
memiliki keterampilan untuk mendapatkan ilmu, khususnya IPA berupa keterampilan
proses atau metode ilmiah yang sederhana; (3) memiliki sikap ilmiah di dalam
mengenal alam sekitarnya dan memecahkan masalah yang dihadapinya, serta
menyadari kebesaran penciptanya; (4) memiliki bekal pengetahuan dasar untuk
melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Ilmu Pengetahuan Alam didapat melalui metode ilmiah, tetapi untuk tingkat
Sekolah Dasar metode ilmiah dikembangkan secara bertahap dan berkesinambungan,
dengan harapan bahwa akhirnya akan terbentuk suatu paduan yang lebih utuh
sehingga peserta didik dapat melakukan penelitian sederhana. Hendro Darmojo dan
Jenny R.E. Kaligis (1993:11) menjelaskan pentahapan pengembangan IPA
disesuaikan dengan tahapan dari suatu proses penelitian eksperimen yang meliputi:
(1) observasi; (2) klasifikasi; (3) interpretasi; (4) predikasi; (5) hipotesis; (6)
mengendalikan variabel; (7) merencanakan dan melaksanakan penelitian; (8)
inferensi; (9) aplikasi; dan (10) komunikasi. Pada hakikatnya dalam proses
mendapatkan ilmu pengetahuan alam diperlukan sepuluh keterampilan dasar tersebut.
Suatu pembelajaran IPA akan berhasil apabila terjadi proses mengajar dan proses
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
belajar yang baik. Menurut John S. Richardson (1957) dalam Hendro Darmojo dan
Jenny R.E. Kaligis (1993:12) menyarankan digunakannya tujuh prinsip dalam proses
belajar mengajar agar suatu pengajaran IPA dapat berhasil. Pertama, prinsip
keterlibatan peserta didik secara aktif. Dalam pembelajaran IPA sering dilupakan
bahwa keterlibatan peserta didik secara aktif merupakan bagian yang penting dari
suatu proses belaja mengajar. Menurut Richardson, keterlibatan peserta didik secara
aktif adalah “learning by doing”. Peserta didik ikut berbuat sesuatu untuk
memperoleh ilmu yang mereka cari. Kedua, prinsip belajar berkesinambungan. Yang
dimaksud dengan prinsip belajar berkesinambungan adalah proses belajar yang selalu
dimulai dari apa-apa yang telah dimiliki oleh peserta didik. Daalam hal ini
pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik seolah-olah merupakan jembatan
yang sangat penting bagi peserta didik untuk dapat meraih pengetahuannya yang baru.
Ketiga, prinsip motivasi. Motivasi dapat diartikan sebagai suatu dorongan yang
menyebabkan orang mau berbuat sesuatu. Dalam proses belajar IPA tentunya
motivasi dimaksudkan sebagai dorongan untuk mau belajar IPA. Dorongan itu dapat
bersumber dari kebutuhan yang hakiki dari manusia yang disebut sebagai motivasi
intrinsik. Keempat, prinsip multi saluran, adalah suatu kenyataan bahwa daya
penerimaan masing-masing peserta didik tidak sama. Maksudnya, ada peserta didik
yang mudah belajar melalui membaca, ada yang mengerti apabila diberi ceramah oleh
guru, ada pula yang baru mengerti apabila ikut aktif melakukan percobaan. Oleh
karena itu penggunaan multi saluran dalam proses belajar IPA sangat diperlukan agar
semua peserta didik dengan berbagai kemampuan daya tangkap dapat menerima
pelajaran dengan baik.
Kelima, prinsip penemuan. Prinsip penemuan disini adalah untuk memahami
suatu konsep atau simbol-simbol, peserta didik tidak diberitahu oleh guru, tetapi guru
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
memberi peluang supaya peserta didik dapat memperoleh sendiri pengertian-
pengertian itu melalui pengalamannya. Keenam, prinsip totalitas. Prinsip totalitas
bertolak dari suatu paham bahwa peserta didik belajar dengan segenap kemampuan
yang dimiliki sebagai makhluk hidup, yaitu pancainderanya, perasaan serta
pikirannya. Dalam proses belajar, peserta didik tidak hanya memperhatikan materi
pelajaran saja tetapi meliputi bagaimana guru mengajar, situasi kelas, lingkungan
kelas, perabotan sekolah, pencahayaan kelas, lingkungan sekitar, teman-temannya dan
semua yang mempengaruhi jiwa raganya. Oleh karena itu, guru yang baik adalah guru
yang dapat memberikan kondisi belajar yang menunjuang tercapainya tujuan belajar,
yaitu dengan melibatkan peserta didik secara total yang meliputi segenap pancaindera,
emosi, fisik maupun pikirannya. Untuk itu diperlukan juga kegiatan peserta didik
yang bervariasi. Ketujuh, Prinsip perbedaan individu. Prinsip ini tidak dimaksudkan
untuk membeda-bedakan peserta didik, tetapi bertolak pada suatu kenyataan bahwa
setiap peserta didik mempunyai perbedaan. Perbedaan individu ini terutama
ditunjukkan kepada adanya perbedaan kemampuan (termasuk kecerdasan dan
kecepatan belajar), dan perbedaan minat termasuk motivasi belajar. Prinsip perbedaan
individu dimaksudkan agar peserta didik mendapatkan kesempatan belajar sesuai
dengan kapasitas dan minatnya.
7. Model Pembelajaran Quantum Teaching
a. Pengertian Model Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran khususnya dalam muatan mata pelajaran IPA
diperlukan model yang sesuai dengan perkembangan karakter siswa dengan demikian
pemilihan variasi model yang tepat dan efektif sangat diperlukan. Sejumlah strategi
instruksional untuk mencapai tujuan pengajaran yang berbeda-beda sudah dikembangkan
oleh para pakar yang berbeda pula. Joyce dan Weill dalam Miftahul Huda (2013:73)
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
mendeskripsikan model pengajaran sebagai rencana atau pola yang dapat digunakan
untuk membentuk kurikulum, mendesain materi-materi instruksional, dan memandu
proses pengajaran di ruang kelas atau di setting yang berbeda. Menurut Sumantri dan
Permana (2001: 7) model merupakan suatu kerangka acuan, suatu filosofis atau juga
pendekatan mengenai bagaimana berinteraksi dan bekerja bersama anak (peserta didik).
Sedangkan Suharso dan Retnoningsih (2009: 246) mengemukakan bahwa model adalah
suatu upaya penyederhanaan masalah sampai batas-batas tertentu sehingga masih dapat
ditoleransi untuk memudahkan penyelesaiannya. Menurut Winataputra (2001: 1) model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis
dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tertentu, dan berfungsi
sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan
dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah
suatu rencana yang disusun secara sistematis serta berisi urutan kegiatan pembelajaran,
pola interaksi pembelajaran dan dapat memudahkan penyampaian tujuan pembelajaran.
b. Pengertian Model Quantum Teaching
Model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli dalam usaha
mengoptimalkan prestasi belajar peserta didik dalam pembelajaran dengan untuk
meningkatkan mutu pendidikan, model-model diterapkan antara lain model pembelajaran
tematik, model PAKEM, model CTL, model kooperatif dan Quantum Teaching. Salah
satu model yang dapat memudahkan peserta didik dalam bekerja adalah model Quantum
Teaching. Menurut Lozanov yang dalam Bobbi De Porter (1999: 3) Quantum Teaching
yaitu orkestrasi bermacam – macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar situasi
belajar. Interaksi mencakup unsur – unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi
kesuksesan peserta didik, mengubah kemampuan dan bakat alamiahnya menjadi bakat
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
yang akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Quantum Teaching dimulai dari
SuperCamp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan Learning
Forum, yaitu sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan
perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi (DePorter, 1999: 4).
Hasil dari SuperCamp mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi,
dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri, meningkatkan motivasi mereka
sendiri.
Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodelogi yang
digunakan dalam rancangan, penyajian, dan fasilitasi SuperCamp. Diciptakan
berdasarkan teori-teori pendidikan seperti AcceleratedLearning (Lazanov), Mutiple
Intelligences (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Grinder dan Bandler),
Experiential Learning (Huhn), Socratic Inquiri, cooperative Learning (Johnson-
Johnson), dan Elements of Effective Intruction (Hunter), Quantum Teaching
merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket multisensorik,
multikecerdasan, dan kompatibel dengan otak kemudian yang pada akhirnya akan
melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi
( DePorter, 1999: 4).
Adapun asas dari Quantum Teaching “Bawalah Dunia Mereka ke DuniaKita, dan
Antarkan Dunia Mereka” inilah yang menjadi asas utama Qauntum Teaching (Bobbi,
DePorter 1999: 6). Asas ini mengingatkan kita untuk pentingnya memasuki dunia peserta
didik sebagai langkah pertamanya. Asas ini terletak pada kemampuan guru untuk
menjembatani antara dunia guru dengan peserta didik. Artinya, bahwa tidak ada sekat-
sekat yang membatasi guru dan peserta didik sehingga keduanya dapat berinteraksi
dengan baik. Seorang guru juga diharapkan mampu memahami karakter, minat, bakat,
dan fikiran setiap peserta didik, dengan demikian guru dapat memasuki dunia mereka.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Hal yang pertama dilakukan oleh seorang guru untuk mendapatkan hak untuk
mengajar, pertama-tama guru harus membangun jembatan autentik memasuki kehidupan
peserta didik. Mengajar adalah hak yang harus diraih, dan diberikan oleh peserta didik.
Dengan kata lain, mengajar melibatkan semua aspek kehidupan yang meliputi pikiran,
bahasa dan bahasa tubuh, disamping bahasa sikap dan keyakinan sebelumnya serta
persepsi mendatang. Dengan demikian, karena mengajar berurusan dengan keseluruhan,
hak untuk memudahkan belajar tersebut harus diberikan oleh peserta didik dan diraih oleh
guru. Dalam proses pembelajaran berlangsung adanya interaksi dua arah yang harmonis
antara guru dan peserta didik, hal ini disebabkan oleh guru yang memaknai pembelajaran
dengan menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Jadi guru
berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana.
c. Prinsip Model Quantum Teaching
Selain ada asas utama Quantum Teaching juga memiliki prinsip. Menurut Bobbi
DePorter (1999: 7) prinsip Quantum Teaching antara lain sebagai berikut. Pertama,
prinsip segala berbicara. Maksudnya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru,
dari kertas yang guru bagaikan hingga rancangan pelajaran guru, keseluruhannya
mengirim pesan tentang belajar. Kedua, prinsip memiliki tujuan. Semua yang terjadi
karena guru mempunyai tujuan seperti seorang guru yang harus secara hati-hati
menyusun pelajaran. Ketiga, pengalaman sebelum pemberian nama. Otak kita
berkembang pesat dengan adanya rangsangan komplek, yang akan menggerakkan rasa
ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika peserta didik
mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
Pembelajaran berjalan sukses ketika peserta didik mengalami informasi pada awal
pembelajaran. Keempat, prinsip mengakui setiap usaha. Dalam belajar mengandung
resiko dan keluar dari rasa nyaman. Pada langkah ini, murid berhak atas pengakuan dari
kecakapan dan rasa percaya diri mereka. Peserta didik mengambil resiko dan membangun
kompetensi dan kepercayaan diri mereka. Kelima, prinsip layak dipelajari maka layak
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
dirayakan (diberi reward/ pujian). Perayaan atau memberikan sesuatu sebagai reward
adalah suatu umpan balik mengenai kemajuan peserta didik dan meningkatkan asosiasi
emosi positif dengan belajar.
Model Quantum Teaching hampir sama dengan sebuah simfoni, dalam simfoni
terdapat banyak unsur. “Quantum Teaching show teacher how to orchestrate their
students” success by talking into account everything in the classromm along with the
environment, the design of the curriculum, and how it’s present’s. The result: a high-
effective way to teach anything to anybody (Bobbi DePorter, 1999:14). Model ini hampir
sama dengan sebuah simfoni. Jika kita menonton sebuah simfoni, ada banyak unsur yang
menjadi faktor pengalaman musik kita. Unsur tersebut terbagi menjadi dua kategori
(1999: 13) yaitu konteks dan isi. Kontek yaitu latar belakang pengalaman guru. Jika
dalam sebuah orchestra musik, konteks merupakan keakraban ruang orkhestra
(lingkungan), semangat konduktor dan para pemain musiknya (suasana), keseimbangan
instrument dan musisi dalam bekerja sama (landasan), dan interprestasi dari maestro
terhadap lembaran musik (rancangan). Unsur-unsur ini berpadu dan menciptakan
pengalaman bermusik secara menyeluruh. Unsur isi merupakan salah satu unsur isi
adalah bagaimana tiap frase musik dimainkan (penyajian). Isi juga meliputi fasilitasi ahli
sang maestro terhadap orkhestra, memanfaatkan bakat setiap pemain musik dan potensi
setiap instrument.
d. Langkah-langkah Model Quantum Teaching
Jika dikaitkan dengan situasi belajar mengajar sekolah, unsur-unsur yang sama
tersusun dengan baik yaitu suasana, lingkungan, landasan, rancangan, penyajian, dan
fasilitas. Menurut Bobbi De Porter (1999:10) dalam pelaksanaan Quantum Teaching ada
enam langkah untuk penyajian pengajaran di kenal dengan istilah TANDUR yaitu:
1) Tumbuhkan minat dengan memuaskan, yakni apakah manfaat pelajaran tersebut bagi
guru dan peserta didik.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
2) Alami, yakni ciptakan dan datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti
semua pelajar.
3) Namai, untuk ini harus disediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, yang
kemudian menjadi sebuah masukan bagi si anak.
4) Demonstrasikan, yakni sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa
mereka tahu.
5) Ulangi, yakni tunjukan kepada para pelajar tentang cara-cara mengulang materi dan
menegaskan “Aku tahu bahwa aku memang tahu ini”.
6) Rayakan, yakni pengakuan untuk menyelesaikan, partisipasi, dan perolehan
keterampilan dan ilmu pengetahuan.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, langkah TANDUR dijadikan langkah dalam
pelaksanaan pembelajaran menggunakan model quantum teaching dalam penelitian ini.
Langkah TANDUR meliputi langkah: T (tumbuhkan) yaitu menumbuhkan minat dan
motivasi dengan memberikan pengetahuan tentang manfaat yang akan diperoleh dari
pelajaran tersebut, A (alami) yaitu pengalaman diciptakan dan didatangkan dengan
kegiatan-kegiatan yang mengeksplor pengetahuan siswa, N (namai) yaitu siswa dapat
memberikan nama pada lembar kerja siswa sesuai dengan pengalaman belajar yang
diperolehnya, D (demonstrasikan) yaitu setelah siswa mendapatkan pengalaman belajar,
siswa diberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan pengalaman belajar yang
diperolehnya, U (ulangi) yaitu mengulas kembali materi yang dapat membuat siswa lebih
paham dengan materi tersebut, R (rayakan) yaitu perayaan yang dapat dilakukan dengan
siswa dapat berupa tepuk tangan, acungan jempol, pujian, bernyanyi bersama, dan lain-
lain.
e. Keunggulan Model Quantum Teaching
Hamid (2013:103-104) menjalaskan selain prinsip, quantum teaching juga mempunyai
keunggulan untuk mendapatkan keselarasandan kerja sama bagi terciptanya lingkungan
pembelajaran yang menyenangkan, diantaranya:
1) Integritas, yaitu bersikap jujur dan tulus, serta berperilaku baik.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
2) Kegagalan merupakan awal kesuksesan. Pahamilah bahwa kegagalan hanyalah
memberikan informasi yang dibutuhkan.
3) Bicaralah dengan niat baik, yakni berbicara dengan pengertian positif dan
bertanggung jawab agar dapat berkomunikasi secara jujur dan lurus.
4) Memusatkan perhatian pada saat sekarang dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-
baiknya.
5) Memiliki komitmen, yakni dengan melakukan apa saja yang diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaan.
6) Bertanggung jawab atas segala tindakan yang telah dilakukan.
7) Bersikap luwes/fleksibel, yakni berusaha untuk bersikap terbuka terhadap
perubahan/pendekatan baru yang bisa membantu memperoleh hasil yang diinginkan.
8) Keseimbangan, yaitu dengan berusaha menjaga keselarasan antara pikiran, tubuh dan
jiwa.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Model Quantum Teaching
merupakan sebuah usaha memadukanunsur lingkungan, suasana, landasan, rancangan,
penyajian, dan fasilitas dalam mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan. Guru
harus menjadikan lingkungan kelas sebagai lingkungan yang penuh keakraban dengan
peserta didik.
B. Kerangka Berpikir
Setiap peserta didik memiliki karakteristik dan potensi yang dapat dikembangkan. Di
dalam diri peserta didik terdapat keinginan untuk berbuat dan bekerja sendiri. Dalam kegiatan
pembelajaran peserta didik perlu diarahkan agar berperilaku menuju tingkat perkembangan
yang diharapkan. Proses pembelajaran yang dilakukan di kelas merupakan aktivitas
mentransformasikan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pembelajaran yang dilakukan
lebih berpusat pada peserta didik, sehingga peserta didik dapat berpartisipasi penuh dalam
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
proses pembelajaran dan dapat mengembangkan cara-cara belajar mandiri. Selama ini
terdapat kecenderungan kegiatan pembelajaran peserta didik yang pasif. Proses pembelajaran
ini tidak banyak melibatkan peserta didik karena waktu tersita dengan penyajian materi yang
serius, tidak menggunakan media pembelajaran sehingga peserta didik tidak termotivasi dan
tidak terdapat suatu interaksi dalam pembelajaran. Pembelajaran di kelas seharusnya
mengacu pada peningkatan aktivitas dan partisipasi belajar peserta didik. Guru tidak hanya
melakukan kegiatan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap akan tetapi guru
harus mampu membawa peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan berbagai
bentuk belajar. Dengan begitu, guru mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang
dimiliki peserta didik secara penuh.
Peningkatan hasil belajar peserta didik dapat ditumbuhkan dengan penerapan model
pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran Quantum Teaching merupakan salah satu
model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dalam model
pembelajaran Quantum Teaching peserta didik mempelajari materi, melengkapi sumber
kerja, saling bertanya, membahas masalah serta mengerjakan latihan. Model pembelajaran ini
dapat melatih peserta didik bekerjasama dalam kelompok sehingga dapat membuat peserta
didik aktif bekerjasama dalam tim.
Model ini merupakan salah satu model pembelajaran Quantum Teaching yang
sederhana dan apabila diterapkan secara efektif dalam kegiatan pembelajaran dapat
meningkatkan hasil belajar IPA peserta didik secara optimal. Penelitian ini penting untuk
dilakukan mengingat dalam pembelajaran IPA, khususnya pada siswa kelas IV di SD Negeri
1 Onje Kabupaten Purbalingga hasil belajar peserta didik masih rendah. Hal ini dikarenakan
suasana pembelajaran IPA cenderung monoton dan kurang menarik bagi peserta didik.
Peserta didik kurang bersemangat dalam mempelajari materi pelajaran IPA yang bersifat
pemecahan masalah. Selain itu, guru belum menggunakan media dan model pembelajaran
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
yang menarik. Oleh karena itu, diperlukan suatu model pembelajaran untuk meningkatkan
hasil belajar IPA, dalam hal ini model pembelajaran yang tepat digunakan untuk mencapai
tujuan tersebut adalah model pembelajaran Quantum Teaching.
Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan di atas, penelitian
menggambarkan kerangka berfikir dalam skema berikut:
Kondisi Guru belum Peserta didik : hasil belajar
Awal menggunakan Quantum IPA masih perlu
Teaching dalam muatan ditingkatkan.
pembelajaran IPA
Tindakan Menerapkan model Siklus 1 : menerapkan
Quantum Teaching pembelajaran dengan
dalam muatan menggunakan model
pembelajaran IPA Quantum Teaching.
Siklus 2 : menerapkan
pembelajaran dengan
Qauntum Teaching.
Kondisi Siklus 3 : menerapkan
Akhir pembelajaran dengan
Qauntum Teaching.
Diduga: melalui model
QuantumTeaching dalam muatan
pembelajaran IPA, dapat
meningkatkan keaktifan dan hasil
belajar siswa kelas IV SD Negeri 1
Onje Kabupaten Purbalingga
Gambar skema Kerangka Berpikir
Skema kerangka berfikir di atas dapat di deskripsikan sebagai berikut:
1. Kondisi Awal: guru belum menggunakan model dalam pembelajaran IPA materi
siklus hidup hewan dan upaya pelestariannya.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
2. Supaya hasil belajar peserta didik meningkat, maka peneliti melakukan sebuah
tindakan. yaitu dengan melakukan menggunakan model Quantum Teaching dalam
proses pembelajaran IPA materi siklus hidup hewan dan upaya pelestariannya.
3. Dari Siklus I – III: melalui model Quantum Teaching, diharapkan hasil belajar peserta
didik dapat meningkat khususnya dalam muatan pembelajaran IPA tema cita-citaku
materi siklus hidup hewan dan upaya pelestariannya.
4. Kondisi Akhir: diduga melalui model Quantum Teaching dalam muatan pembelajaran
IPA tema cita-citaku materi siklus hidup hewan dan upaya pelestariannya dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas IV SD Negeri 1 Onje Kabupaten
Purbalingga.
C. Penelitian yang Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Upik Fitri Andini yang berjudul “PENERAPAN
MODEL QUANTUM TEACHING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
IPA SISWA KELAS IV SD NEGERI TUKANGAN YOGYAKARTA”. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa model quantum teaching dapat meningkatkan hasil
belajar IPA siswa kelas IVA SD Negeri Tukangan Yogyakarta dengan cara langkah
TANDUR divariasi; langkah tumbuhkan dengan pemberian lagu, langkah alami
dengan memberikan pengalaman langsung, langkah namai dengan pemberian tugas,
langkah demonstrasi dengan mempresentasikan, langkah ulangi dengan tanya jawab,
dan langkah rayakan dengan pemberian pujian. Peningkatan tersebut ditunjukkan
melalui hasil tes pada siklus I yaitu 15 siswa yang mendapatkan nilai ≥75 meningkat
menjadi 25 atau seluruh siswa mendapatkan nilai ≥75 di siklus II. Kata kunci: hasil
belajar, IPA, quantum teaching.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Hilda Arifianti yang berjudul “MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR IPA MELALUI PENERAPAN MODEL QUANTUM
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
TEACHING DI KELAS V SD NEGERI BHAKTI KARYA DEPOK”. Hasil
penelitian pratindakan menunjukkan bahwa hasil belajar IPA siswa rendah. Nilai rata-
rata kelas baru mencapai 63,87 dan persentase ketuntasannya adalah 40%. Setelah
dilakukan tindakan dengan menggunakan model Quantum Teaching yang
memvariasikan berbagai metode pembelajaran pada siklus I, nilai rata-rata kelas
meningkat menjadi 69,9 dan persentase ketuntasan meningkat menjadi 70%.
Demikian pula setelah dilakukan perbaikan pembelajaran Quantum Teaching yang
disertai pemberian dorongan untuk aktif bertanya, umpan balik, penguatan, dan
pembagian kelompok yang heterogen pada tindakan siklus II, semakin meningkatkan
hasil belajar IPA siswa. Nilai rata-rata kelasnya meningkat menjadi 75 dan persentase
ketuntasan meningkat menjadi 93,33%. Kata kunci: hasil belajar IPA, model
Quantum Teaching
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka pikir, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan yaitu, “Model
Quantum Teaching yang proses pembelajarannya menggunakan rancangan TANDUR
(Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, Rayakan) dapat meningkatkan hasil
belajar muatan pembelajaran IPA tema cita-citaku pada materi siklus hidup hewan dan upaya
pelestariannya baik proses maupun kognitif pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Onje
Kabupaten Purbalingga”.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
BAB II
METODE PENELITIAN
A. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas IVB SD Negeri 1 Onje Kabupaten
Purbalingga berjumlah 22 peserta didik yang terdiri dari 10 peserta didik laki-laki dan 12
peserta didik perempuan. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Onje Kabupaten
Purbalingga.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di kelas IVB SD Negeri 1 Onje Kabupaten Purbalingga
berjumlah 22 peserta didik yang terdiri dari 10 peserta didik laki-laki dan 12 peserta didik
perempuan. Waktu penelitian dilaksanakan pada semester genap yang dimulai pada bulan
Januari 2021.
Tahun 2021
No Uraian Januari Februari Maret
I II III IV I II III IV I II III IV
1 Penyusunan
Proposal
2 Ijin Penelitian
3 Perencanaan
Tindakan
4 Implementasi
Tindakan Siklus I,
II, dan III
5 Penyusunan Laporan
Penelitian
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
C. Jenis Penelitian
Penelitian tindakan Kelas (PTK) adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar
berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi didalam kelas secara bersama
(Suharsimi, dkk, 2009: 3). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan
oleh guru dikelasnya sendiri dengan tahapan-tahapan seperti merencanakan, melaksanakan
dan merefleksi tindakan secara kolaboratif dan partisipatif untuk memperbaiki kinerjanya
sebagai guru serta meningkatkan hasil belajar siswa (Wijaya dan Dedi, 2012:9).
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tipe kolaboratif
karena dalam hal ini peneliti bekerja sama dengan teman sejawat SD Negeri 1 Onje
Kabupaten Purbalingga dalam melakukan tindakan didalam kelas untuk meningkatkan hasil
belajar IPA kelas IVB menggunakan model quantum teaching. Hal ini sesuai dengan apa
yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2013: 138) bahwa penelitian tindakan yang
ideal yakni penelitian yang dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan
tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan. Suharsimi Arikunto juga
mengatakan bahwa penelitian tindakan yang baik adalah penelitian yang dilakukan secara
kolaboratif yaitu guru yang melakukan tindakan sedangkan teman sejawat yang melakukan
pengamatan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas
IV Sekolah Dasar Negeri 1 Onje Kabupaten Purbalingga. Jenis penelitian yang digunakan
adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan bentuk penelitian tindakan kelas kolaboratif, yakni penelitian yang melibatkan
guru kelas dan teman sejawat .Dalam hal ini guru bertindak sebagai pengajar dan teman
sejawat bertindak sebagai pengamat (observer) jalannya proses pembelajaran yang
menggunakan model quantum teaching.
D. Desain Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian
yang yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri untuk
memperbaiki kinerja sebagai guru sehingga hasil belajar siswa meningkat. Menurut Arikunto,
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
dkk (2008:16) untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdapat empat tahapan
yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Keempat tahap dalam
penelitian tindakan tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran
kegiatan beruntun, yang kembali ke arah semula.
Berikut ini skema tahap-tahap penelitian tindakan kelas menurut Arikunto, dkk (2008:16) :
E.
F.
G.
H.
I.
Gambar Alur Kegiatan Pemecahan Masalah (Arikunto, dkk; 2008:16)
Suharsimi Arikunto (2002: 84) menyatakan bahwa Kemmis dan Mc Taggart
memandang komponen sebagai langkah dalam siklus, sehingga ia menyatukan komponen
tindakan (acting) dan pengamatan (observing) sebagai satu kesatuan. Hasil dari pengamatan
kemudian dijadikan dasar sebagai langkah berikutnya, yaitu refleksi. Pelaksanaan penelitian
ini dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dengan pihak-pihak lain sebagai upaya
bersama untuk mewujudkan perbaikanyang diinginkan. Adapun 4 tahapan tersebut yaitu:
1. Perencanaan
Perencanaan merupakan langkah pertama setiap kegiatan yang menjadi acuan untuk
melaksanakan tindakan. Tahap perencanaan ini menjelaskan tentang apa, mengapa,
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Kegiatan yang
dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut.
a. Menyusun jadwal untuk melakukan penelitian.
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Melaksanakan pembelajaran
dengan menggunakan model quantum teaching dengan langkah TANDUR sebagai
berikut.
1) Guru menumbuhkan minat siswa dengan menyampaikan apersepsi dengan
bercerita atau bernyanyi.
2) Peserta didik mengalami pembelajaran secara langsung atau menggunakan media.
3) Peserta didik menamai atau mengerjakan soal yang diberikan oleh guru secara
berkelompok.
4) Perwakilan peserta didik mendemonstrasikan atau mempresentasikan hasil diskusi
mereka di depan kelas.
5) Peserta didik dari kelompok lain diberikan kesempatan menanggapi hasil
presentasi.
6) Peserta didik mengulangi materi yang diajarkan pada saat itu dengan diberikan
tanya jawab oleh guru
7) Peserta didik dan guru merayakan pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan
bertepuk tangan, bernyanyi bersama, memberikan pujian, dll
c. Menyusun soal untuk pre-test, LKS, dan post-test.
d. Membuat media pembelajaran berupa video, bola dunia, dan gambar.
e. Mendiskusikan dengan teman sejawat mengenai pembelajaran yang akan dilakukan
menggunakan Model Quantum Teaching.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu melaksanakan
tindakan sesuai apa yang sudah direncanakan. Meskipun pelaksanaan harus sesuai dengan
apa yang sudah direncanakan, akan tetapi diperbolehkan untuk memodifikasi, asalkan
masih sesuai dengan prinsip yang sudah dirancang (Suharsimi, 2013: 139). Selama
kegiatan pembelajaran guru menerapkan langkah-langkah pembelajaran yang mengacu
pada skenario pembelajaran yang telah dibuat.
3. Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan upaya mengamati pelaksanaan tindakan
yaitu dalam pembelajaran. Observasi terhadap proses tindakan yang sedang dilaksanakan
untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan yang dilaksanakan berorientasi ke masa
yang akan datang dan memberikan dasar bagi kegiatan refleksi yang lebih kritis. Proses
tindakan, pengaruh tindakan yang disengaja dan tidak disengaja, situasi tempat tindakan
dilakukan, dan kendala tindakan semuanya dicatat dalam kegiatan observasi yang
terencana secara fleksibel dan terbuka. Pada tahap ini, dilakukan pengamatan terhadap
kegiatan pembelajaran dengan menggunakan yang berlangsung dengan menggunakan
format pengamatan, membuat catatan hasil pengamatan terhadap kegiatan dan hasil
pembelajaran, mendokumentasikan hasil-hasil latihan dan penugasan peserta didik.
4. Refleksi
Hasil pengamatan yang telah dilakukan, guru mengadakan refleksi terhadap proses
dan hasil pembelajaran yang dicapai pada tindakan ini. Refleksi tersebut dapat dilakukan
dengan:
a. Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi hasil
belajar, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
b. Membahas hasil evaluasi, Lembar Kerja Peserta Didik, dan lain-lain.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
c. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada
siklus berikutnya.
Berdasarkan refleksi yang telah dilakukan, guru dapat menentukan hal-hal yang
akan dilakukan pada siklus berikutnya. Hal ini dilakukan demi tercapainya hasil
pembelajaran yang diinginkan dan meningkatkan dan tersebut. Keputusan untuk
menghentikan atau melanjutkan siklus disesuaikan dengan hasil pembelajaran yang
diperoleh.
E. Deskripsi Per Siklus
Dengan mengacu pada hasil pengamatan awal, maka prosedur penelitian dilakukan
melalui siklus, yang setiap siklusnya terdiri atas empat (4) langkah yakni 1) perencanaan, 2)
tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi.
1. Siklus I
Siklus I terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan
refleksi.
a. Perencanaan:
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
2) Menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan.
3) Membuat LKPD yang dibutuhkan.
4) Menyiapkan soal evaluasi dan lembar penilaian.
5) Membuat lembar observasi untuk peserta didik dan guru.
b. Tindakan;
Pada tahap ini guru menerapkan Model Quantum Teaching dalam
pembelajaran sesuai teori yang ditemukan dalam tinjauan pustaka.
c. Tahap observasi;
1) Mengamati ketrampilan guru dalam pembelajaran.
2) Mengamati aktivitas peserta didik dalam pembelajaran.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
3) Mencatat hal-hal yang diperlukan dalam catatan lapangan.
d. Tahap refleksi:
Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam tahap refleksi meliputi :
1) Mengkaji pelaksanaan tindakan dan hasil observasi siklus I.
2) Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran siklus I.
3) Membuat daftar permasalahan yang ditemukan pada siklus I.
4) Menyusun perencanaan tindak lanjut siklus II.
2. Siklus II
Siklus II terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan
refleksi.
a. Perencanaan
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
2) Menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan.
3) Membuat LKPD yang dibutuhkan.
4) Menyiapkan soal evaluasi dan lembar penilaian.
5) Membuat lembar observasi untuk peserta didik dan guru.
b. Tindakan;
Pada tahap ini guru menerapkan Model Quantum Teaching dalam
pembelajaran sesuai teori yang ditemukan dalam tinjauan pustaka.
c. Tahap observasi;
1) Mengamati ketrampilan guru dalam pembelajaran.
2) Mengamati aktivitas peserta didik dalam pembelajaran.
3) Mencatat hal-hal yang diperlukan dalam catatan lapangan.
d. Tahap refleksi:
Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam tahap refleksi meliputi :
1) Mengkaji pelaksanaan tindakan dan hasil observasi siklus II.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
2) Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran siklus II.
3) Membuat daftar permasalahan yang ditemukan pada siklus II.
4) Menyusun perencanaan tindak lanjut siklus III.
3. Siklus III
Siklus III terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan
refleksi.
a. Perencanaan
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
2) Menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan.
3) Membuat LKPD yang dibutuhkan.
4) Menyiapkan soal evaluasi dan lembar penilaian.
5) Membuat lembar observasi untuk peserta didik dan guru.
b. Tindakan;
Pada tahap ini guru menerapkan Model Quantum Teaching dalam
pembelajaran sesuai teori yang ditemukan dalam tinjauan pustaka.
c. Tahap observasi;
1) Mengamati ketrampilan guru dalam pembelajaran.
4) Mengamati aktivitas peserta didik dalam pembelajaran.
5) Mencatat hal-hal yang diperlukan dalam catatan lapangan.
d. Tahap refleksi:
Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam tahap refleksi meliputi :
1) Mengkaji pelaksanaan tindakan dan hasil observasi siklus III.
2) Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran siklus III.
3) Membuat daftar permasalahan yang ditemukan pada siklus III.
4) Menyusun tindak lanjut dari pelaksanaan siklus III.
5) Melakukan perbaikan pada pembelajaran berikutnya melalui
pengembangan model dan media pembelajaran yang tepat.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Siklus dihentikan jika pembelajaran yang dilakukan sudah sesuai dengan rencana
dan telah mampu meningkatkan yaitu hasil belajar yang diperoleh 70% siswa sudah
memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal yaitu 70. Siklus akan dilanjutkan jika 75% siswa
belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal yaitu 70.
J. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian,
karena tujuan utama dari penelitian ini adalah memperoleh data (Sugiyono, 2009: 308).
Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan observasi, tes,
dan dokumentasi. Berikut akan dijelaskan mengenai ketiga teknik pengumpulan data
tersebut.
1. Observasi
Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan
pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang ada
pada objek penelitian. Observasi yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi
sistematis yang dilakukan pengamat pada saat pembelajaran berlangsung dengan
menggunakan pedoman lembar observasi sebagai instrumen pengamatan. Format berisi
item-item yang berisi tingkah laku atau kejadian yang digambarkan akan terjadi. Dalam
melakukan observasi, tidak hanya mencatat tetapi juga mengadakan pertimbangan
kemudian memberikan penilaian secara ke dalam suatu skala bertingkat. Teknik
pengumpulan data melalui observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengisi
lembar observasi yang telah dibuat dan membuat catatan untuk hal-hal yang tidak
tercantum dalam lembar observasi yang telah dibuat sebelumnya. Data yang diperoleh
melalui observasi berisi tentang pengamatan terhadap guru dan peserta didik ketika
melaksanakan pembelajaran menggunakan model quantum teaching.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
2. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lainnya yang digunakan
untuk mengukur kemampuan siswa dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik yang
dimiliki oleh siswa (Suharsimi, 2013: 193). Tes dilakukan sebagai evaluasi hasil belajar
siswa dan dilaksanakan di akhir pembelajaran. Tes hasil belajar menggunakan soal-soal
dengan tingkatan kognitif C1-C4 yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, dan
menganalisis.
3. Dokumentasi
Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 206) metode dokumentasi dilakukan dengan
cara mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku,
surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, hasil tes dan sebagainya. Studi
dokumen dilakukan dengan cara pengambilan foto pada proses pembelajaran berlangsung
dan mengumpulkan hasil tes yang telah diberikan.
K. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan
data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik (Suharsimi Arikunto, 2002: 136).
Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Instrumen Tes
Instrumen tes berupa soal tes digunakan untuk mengukur peningkatan hasil
belajar IPA peserta didik kelas IV SD Negeri 1 Onje Kabupaten Purbalingga setelah
melakukan pembelajaran menggunakan model Quantum Teaching. Test diberikan pada
akhir tindakan yang dilakukan untuk menunjukkan hasil belajar yang dicapai pada setiap
tindakan. Penelitian ini menggunakan tes tertulis berupa pilihan ganda yang dibuat
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
berdasarkan kisi-kisi instrumen tes. Soal tes disusun berdasarkan luasnya materi dari
setiap indikator pembelajaran.
2. Instrumen Non Tes
Instrumen non tes dalam penelitian ini menggunakan lembar obervasi dalam
bentuk rating scale. Instrumen ini digunakan untuk mengamati guru dan peserta didik
selama pembelajaran menggunakan model quantum teaching. Rating scale berisi
pernyataan yang akan diukur dan petunjuk penilaian tentang pernyataan tersebut (Eko
Putro, 2014: 110). Observasi sangat penting dilakukan dan dilaksanakan dengan tujuan
data yang diperoleh merupakan data yang benar-benar terjadi dan akurat. Observasi ini
untuk mengamati aktifitas siswa dalam penerapan model Quantum Teaching.
Kisi-kisi observasi keaktifan peserta didik dalam pembelajaran
Aspek Keaktifan Indikator Sumber
Visual Mencatat materi Peserta didik
Lisan Mengajukan pertanyaan Peserta didik
Menjawab pertanyaan
Mendengarkan Mendengarkan penjelasan Peserta didik
Emosional Tegas dalam menyampaikan ide Peserta didik
Mental Mengikuti kegiatan diskusi Peserta didik
Kisi-kisi observasi pengamatan pembelajaran Quantum Teaching
No Aspek Indikator Banyak
Pengamatan item
1 Keterampilan 1. Melakukan apersepsi dalam membuka pelajaran 2
guru dalam untuk menumbuhkan minat, tujuan dan manfaat
proses pembelajaran untuk siswa. (Tumbuhkan)
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
pembelajaran 2. Menyajikan pengalaman umum yang dapat 3
dimengerti siswa dalam menyampaikan materi
pelajaran. (Alami) 3
3
3. Membimbing siswa untuk memberikan identitas
sesuatu hal yang belum diketahui. (Namai) 2
2
4. Keterampilan penggunaan alat peraga dalam 3
menyampaikan materi dan melakukan
demonstrasi dan percobaan. (Demonstrasi) 3
2
5. Melakukan pengulangan materi untuk 3
memperdalam pemahaman siswa. (Ulangi) 2
2
6. Melakukan perayaan keberhasilan dalam
pembelajaran. (Rayakan)
2 Keterampilan a. Antusisas siswa dalam pemebelajaran sehingga
peserta didik menumbuhkan minat dan motivasi belajar
dalam kegiatan siswa. (Tumbuhkan)
pembelajaran b. Respon siswa terhadap pengalaman belajar yang
diberikan guru dalam pembelajaran. (Alami)
c. Siswa menamai sesuatu hal yang baru diketahui.
(Namai)
d. Ikut serta dalam melakukan demonstrasikan.
(Demonstrasikan)
e. Siswa memiliki kesempatan untuk mengulang
materi yang telah dipelajari. (Ulangi)
f. Siswa merayakan keberhasilan dalam
pembelajaran. (Rayakan)
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
L. Teknik Analisa Data
Analisis data dalam penelitian tindakan kelas (PTK) diarahkan untuk mencari dan
menemukan upaya yang dilakukan guru dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar
peserta didik. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif.
Analisis deskriptif kualitatif digunakan menggambarkan keadaan yang terjadi selama
pembelajaran menggunakan model quantum teaching, sedangkan analisis kuantitatif
digunakan untuk menentukan peningkatan hasil belajar IPA peserta didik setelah
melaksanakan pembelajaran menggunakan model quantum teaching dengan melihat data
yang berupa angka.
Untuk mencari perhitungan rerata secara klasikal dari sekumpulan nilai yang telah
diperoleh siswa tersebut, dapat menggunakan rumus mean (Suharsimi Arikunto, 2007: 284-
285), yaitu sebagai berikut:
= 1+ 2+⋯
Keterangan:
̅ = rata-rata kelas (mean)
X1,X2….= jumlah nilai siswa
N = banyaknya siswa
Sedangkan rumus untuk menghitung persentase keberhasilan pembelajaran adalah sebagai
berikut:
P = X 100
Keterangan:
P : Angka presentase
F : Jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ KKM
N : Banyaknya siswa
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Data observasi yang telah diperoleh kemudian dipresentasikan. Dengan demikian,
peneliti dapat mengetahui seberapa besar persentase peningkatan keaktifatan peserta didik
berdasarkan aspek-aspek yang diamati. Analisis data yang diperoleh dari hasil observasi
dapat dilakukan dengan menghitung jumlah skor yang terkumpul dalam lembar observasi
bentuk rating scale. Jumlah skor tersebut menunjukkan kategori dari aspek yang dinilai.
Data kuantitatif yang berwujud angka-angka hasil pengukuran diproses dengan
dijumlahkan kemudian dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan diperoleh
persentase:
Persentase (P) = ∑ ∑ x 100%
M. Indikator Keberhasilan
1. Keaktifan belajar peserta didik
Penelitian ini dapat dikatakan berhasil apabila KKM keaktifan siswa dalam
kategori tinggi (≥75%). Indikator terlaksananya model pembelajaran dan keaktifan
siswa adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Indikator model pembelajaran
Persentase Kategori
>76% Tinggi
56 % - 75 % Cukup
40 % - 55 % Kurang
˂ 39 % Kurang sekali
(Suharsimi Arikunto (1997: 246
2. Hasil Belajar Peserta Didik
Penelitian dinyatakan berhasil apabila peserta didik mencapai Kriteria
Ketuntasan Minimum (KKM) berupa nilai individu minimum 70 dan persentase
banyaknya peserta didik tuntas minimum 75% dari jumlah peserta didik di kelas.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Majid. (2014). Penilaian Autentik: Proses dan Hasil Belajar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Andini, Upik Fitri. (2016). Penerapan Model Quantum Teaching Dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Ipa Siswa Kelas IV SD Negeri Tukangan Yogyakarta. Skripsi. Tersedia di
https://core.ac.uk/download/pdf/78033245.pdf
Arifianti, Hilda. (2013). Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Melalui Penerapan Model
Quantum Teaching Di Kelas V SD Negeri Bhakti Karya Depok. Skripsi. Tersedia di
https://eprints.uny.ac.id/14749/1/Skripsi_Hilda%20Arifianti_1010827010.pdf
Darmodjo, Hendro dkk. (1993). Pendidikan IPA 2. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi.
DePorter, Bobbi. (1999). Quantum Teaching: Mempraktikan Quantum Learning di Kelas.
Bandung: Kaifa.
Hamid, Moh. Soleh. (2013). Metode Edutainment. Jogjakarta: DIVA Press.
Rusman. (2015). Pembelajaran Tematik Terpadu Teori, Praktik dan Penelitian. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada
Sani, Ridwan Abdullah. (2014). Pembelajaran Saintifik. Jakarta: Bumi Aksara
Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:
Bumi Aksara.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
LAMPIRAN
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan : SD Negeri 1 Onje
Kelas / Semester : 4 /2
Tema : 6. Cita-citaku
Sub Tema : 1. Aku dan Cita-citaku
Muatan Terpadu : Bahasa Indonesia, IPA
Pembelajaran ke :1
Alokasi waktu : 1 hari (6x35 menit)
A. KOMPETENSI INTI
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya
diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangga.
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat,
membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan
Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam
karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam
tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
B. KOMPETENSI DASAR
Muatan : Bahasa Indonesia
No Kompetensi Dasar
3.6 Menggali isi dan amanat puisi yang disajikan secara lisan dan tulis dengan
tujuan untuk kesenangan.
4.6 Melisankan puisi hasil karya pribadi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi
yang tepat sebagai bentuk ungkapan diri.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Muatan : IPA
No Kompetensi Dasar
3.2 Membandingkan siklus hidup beberapa jenis makhluk hidup serta
mengaitkan dengan upaya pelestariannya.
4.2 Membuat skema siklus hidup beberapa jenis makhluk hidup yang ada di
lingkungan sekitarnya, dan slogan upaya pelestariannya.
C. TUJUAN
1. Melalui kegiatan mengamati dan berdiskusi, siswa mampu mengidentifikasikan ciri-
ciri puisi dengan benar.
2. Melalui kegiatan membuat kesimpulan, siswa dapat menyajikan hasil pengamatan
tentang ciri-ciri puisi secara terperinci.
3. Melalui kegiatan melakukan pengamatan, siswa mampu mengidentifikasi siklus
makhluk hidup yang ada di sekitarnya dengan baik.
4. Melalui kegiatan menyusun gambar tahapan pertumbuhan hewan dan tumbuhan,
siswa mampu membuat skema siklus makhluk hidup yang ada di sekitarnya dengan
benar.
D. MATERI
1. Ciri-ciri puisi
2. Siklus makhluk hidup
E. PENDEKATAN & METODE
Pendekatan : Scientific
Metode : Penugasan, pengamatan, Tanya Jawab, Diskusi dan Ceramah
Model : Quantum Teaching
Karakter siswa yang diharapkan : religius, nasionalis, mandiri, teliti, percaya diri,
tanggung jawab, disiplin
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
F. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Kegiatan Deskripsi Kegiatan Alokasi
Waktu
1. Guru membuka kegiatan dengan salam.
2. Kelas dilanjutkan dengan do’a dipimpin oleh
salah seorang siswa. Siswa yang diminta
membaca do’a adalah siswa siswa yang hari ini
datang paling awal. (Menghargai kedisiplikan
siswa/PPK).
3. Siswa diingatkan untuk selalu mengutamakan
sikap disiplin setiap saat dan menfaatnya bagi
tercapainya sita-cita.
4. Menyanyikan lagu Garuda Pancasila atau
lagu nasional lainnya. Guru memberikan
penguatan tentang pentingnya menanamkan
semangat Nasionalisme.
5. Pembiasaan membaca 15 menit dimulai dengan
Pendahuluan guru menceritakan tentang kisah masa kecil 10 menit
salah satu tokoh dunia, kesehatan, kebersihan,
makanan/minuman sehat , cerita inspirasi dan
motivasi . Sebelum membacakan buku guru
menjelaskan tujuan kegiatan literasi dan
mengajak siswa mendiskusikan pertanyaan-
pertanyaan berikut:
Apa yang tergambar pada sampul buku?
Apa judul buku?
Kira-kira ini menceritakan tentang apa?
Pernahkan kamu membaca judul buku
seperti ini?
6. Guru melakukan kegiatan presensi.
7. Guru menyiapkan fisik dan psikhis anak dalam
mengawali kegiatan pembelajaran serta
menyapa anak.
Apersepsi 8. Guru mengajak siswa mengamati gambar yang
terdapat pada halaman 1 tentang seorang anak
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto
yang sedang membayangkan cita-citanya.
9. Guru bersama siswa membahas tentang
berbagai pekerjaan yang menjadi cita-cita
antara lain menjadi seorang guru, arsitek, dokter
hewan, penyanyi, dan pilot.
10. Guru mengaitkan kegiatan ini dengan judul
tema Cita-Citaku dan judul Subtema Aku dan
Cita-Citaku. Guru memberikan pertanyaan
pemantik sebagai berikut:
Apakah yang dimaksud dengan cita-cita?
Apakah kamu memiliki cita-cita?
Apakah cita-citamu?
11. Siswa secara aktif menjawab
pertanyaanpertanyaan dari guru.
12. Guru bersama siswa mendiskusikan
jawabannya.
13. Guru memberikan informasi bahwa selama
seminggu ini mereka akan belajar tentang cita-
Motivasi cita. (Communication)
14. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
15. Guru melakukan kegiatan ice breaking (tepuk
semangat/ senam penguin).
Kegiatan Inti 16. Guru menumbuhkan minat belajar siswa 150
menit
Sintak 1: dengan menanyangkan video tentang cita-cita
Tumbuhkan pada slide power point.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto