The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by E_BOOK SMK BATIK 1 SURAKARTA, 2023-01-27 00:45:14

PELAYANAN KEFARMASIAN JILID 1

Program Keahlian Farmasi
Jilid 1

Keywords: Farmasi

38 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN RANGKUMAN Suspensi adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang tidak larut dan terdispersi dalam fase cair. Bahan obat atau zat yang terkandung di dalam sediaan suspensi harus terdispersi halus dan merata dalam cairan pembawanya, tidak mudah mengendap dan apabila dikocok maka endapan dapat mudah terdispersi kembali. Suspensi yang beredar berdasarkan cara pemakaiannya dapat digolongkan menjadi Suspensi Oral, Suspensi Topikal, Suspensi Tetes Telinga, Suspensi Tetes Mata (ophthalmic suspension), dan Suspensi untuk Injeksi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas suspensi adalah : 1. Ukuran partikel 2. Kekentalan (viskositas) 3. Jumlah partikel (kosentrasi) 4. Sifat atau muatan partikel Bahan pensuspensi atau suspending agent merupakan bahan yang dapat meningkatkan stabilitas suspensi. Bahan pensuspensi ada yang berasal dari alam dan ada yang sintesis (buatan). Suspensi secara umum dapat dibuat dengan 2 metode, yaitu metode dispersi dan metode presipitasi. Suspensi dapat diperoleh dalam 2 sistem, yaitu sistem flokulasi dan sistem deflokulasi. Stabilitas suspensi dapat dinilai dengan beberapa metode, yaitu : 1. Volume sedimentasi 2. Derajat flokulasi 3. Metode reologi 4. Perubahan ukuran TUGAS MANDIRI Tugas para siswa adalah menentukan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi viskositas suatu sediaan. Langkah yang dilakukan adalah sediakan 4 botol ukuran 100ml. Pada masing-masing botol tersebut diisi dengan campuran 50ml air dan 15gram gom arab diaduk hingga homogen. Lakukan perlakuan yang berbeda pada tiap botolnya, yaitu : 1. Botol I ditambahkan larutan asam asetat 15ml 2. Botol II ditambahkan larutan NaOH 0,05N 15ml 3. Botol III dipanaskan dengan suhu 80oC selama 15 menit 4. Botol IV sebagai kontrol (tidak diberi perlakuan) Simpanlah keempat botol tersebut ditempat sejuk dan terlindung cahaya selama 2 hari. Amatilah viskositas/kekentalan larutan pada masing-masing botol. Catat pada tabel yang telah disediakan. Botol Viskositas Botol I Botol II Botol III Botol IV


39 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS Pada kolom viskositas harap diisi ukuran viskositas sediaan : +++++ sangat kental ++++ kental +++ agak kental ++ encer + sangat encer TUGAS MANDIRI PENILAIAN AKHIR BAB Kerjakan soal dibawah ini dengan baik dan benar ! 1. Suspensi adalah sediaan yang mengandung .... 2. Suspensi yang pemakaiannya melalui saluran cerna disebut juga .... 3. Salah satu contoh bahan pensuspensi dari alam adalah .... 4. Bahan pensuspensi  dari alam yang berasal dari eksudat  astragalus gummifera yaitu .... 5. Contoh bahan pensuspensi yang memiliki sifat tiksotrofi adalah .... 6. Serbuk bahan obat dimasukkan ke dalam mucilago yang telah terbentuk, kemudian diencerkan hingga terbentuk Corpus merupakan cara pembuatan suspensi dengan metode .... 7. Sistem pembentukan suspensi yang akan menyebabkan cake pada sedimen akhir adalah .... 8. Bahan pensuspensi yang digunakan untuk menjaga agar partikel terdeflokulasi dalam suspensi disebut .... 9. Menurut hukum stokes, viskositas cairan berbanding terbalik dengan .... 10. Perbandingan volume sedimen akhir suspensi flokulasi terhadap volume sedimen akhir suspensi terdeflokulasi disebut ....


40 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN REFLEKSI Setelah mempelajari bab kedua ini, Anda tentu menjadi paham tentang konsep dasar tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk suspensi. Dari semua materi yang sudah dijelaskan pada bab kedua ini, mana yang menurut Anda paling sulit dipahami? Coba Anda diskusikan dengan teman dan guru Anda, karena konsep dasar ini akan menjadi pondasi dari materi-materi yang akan dibahas pada babbab selanjutnya.


41 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS Setelah mempelajari tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk emulsi, peserta didik diharapkan mampu (1) mendeskripsikan pengertian dan contoh sediaan emulsi; (2) menjelaskan komponen emulsi; (3) menjelaskan tipe emulsi; (4) menjelaskan teori pembentukan emulsi; (5) menjelaskan bahan emulgator; (6) menjelaskan cara pembuatan sediaan emulsi obat dengan benar; (7) menjelaskan cara membedakan tipe emulsi; dan (8) menjelaskan kestabilan emulsi. TUJUAN PEMBELAJARAN BAB III PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK EMULSI PETA KONSEP BAB III PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK EMULSI Definisi Komponen Emulsi Teori Pembentukan Emulsi Emulgator Komponen Dasar Komponen Tambahan Metode Gom Kering Metode Gom Basah Metode Botol Pembuatan Sediaan Emulsi Prosedur Pembuatan Emulsi Membedakan Tipe Emulsi Stabilitas Emulsi


42 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN Emulgator, fase dispers, fase kontinue, Creaming, Cracking, Inversi KATA KUNCI PENDAHULUAN Pada bab sebelumnya kita sudah mempelajari tentang larutan dan suspensi. Larutan merupakan cairan homogen, jernih tanpa endapan. Suspensi adalah cairan yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi merata. Pada bab ini, kita akan mengenal satu jenis sediaan lagi yang mengandung 2 fase cairan tidak saling campur, tetapi tetap homogen. Cairan ini yang akan kita pelajari pada bab tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk emulsi. Emulsi berasal dari bahasa latin yaitu emulgeo yang berarti menyerupai susu karena warna emulsi adalah putih. Gambar 3.1 Emulsi Sumber : https://www.eonchemicals.com/id/products/eontrim-e709-2/ Gambar 3.2 Scotts Emulsion Sumber : https://gudangilmu.farmasetika.com/hal-penting-yang-harus-diperhatikan-untuk-obat-berbentuk-emulsi/


43 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN A. Definisi Emulsi menurut Farmakope Indonesia edisi IV merupakan sediaan dengan sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi memiliki dua fase yang tidak saling campur, dengan penambahan emulgator maka dua fase tersebut dapat terdispersi merata berupa tetesan atau butiran kecil dan bersifat stabil. Konsistensi atau bentuk dari emulsi dapat berupa cairan, ataupun sediaan setengah padat seperti krim. Berdasarkan asalnya, emulsi dibagi menjadi 2 jenis yaitu : 1. Emulsi alam atau emulsi vera, merupakan emulsi yang berasal dari alam, terbuat dari biji-bijian. Mengandung banyak lemak, protein, dan air. Emulsi ini tidak perlu ditambahkan emulgator dari luar untuk menambah stabilitasnya dan menyatukan fase yang terpisah, hal ini disebabkan karena emulsi ini mengandung senyawa protein yang dapat berfungsi sebagai emulgator. 2. Emulsi buatan atau emulsi spuria, merupakan emulsi yang dibuat dengan mencampurkan minyak lemak dan air. Jenis emulsi ini memerlukan emulgator dari luar untuk menyatukan dua fase yang terpisah. Emulsi dibuat dengan tujuan untuk memperoleh sediaan cair homogen yang tidak saling campur, bersifat stabil dan merata. Sediaan emulsi ini dapat digunakan untuk tujuan oral maupun untuk pemakaian topikal pada kulit. B. Komponen Emulsi Emulsi seperti yang telah kita ketahui bersama merupakan sistem 2 fase yang tidak saling campur, tetapi terdispersi merata berupa tetesan kecil. Dalam hal ini kita akan membahas tentang emulsi buatan. Secara umum, emulsi terdiri dari 2 komponen penting, yaitu : 1. Komponen dasar Komponen ini merupakan pembentuk emulsi yang utama, terdiri dari : a. Fase dispers Fase ini merupakan zat cair yang umumnya berjumlah lebih sedikit dan tersebar merata menjadi butiran atau tetesan kecil di dalam suatu emulsi. Fase ini juga dikenal dengan istilah fase internal atau fase dalam. b. Fase kontinue Fase ini merupakan zat cair yang umumnya berjumlah lebih banyak dan menjadi bahan dasar atau medium dispers dari suatu emulsi. Fase ini juga dikenal dengan istilah fase eksternal atau fase luar. 2. Komponen tambahan Komponen ini merupakan bahan tambahan yang digunakan untuk mendukung kualitas dari sediaan emulsi. Komponen ini antara lain : a. Corrigen atau zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki zat utama. Corrigen saporis (perasa) misalnya sirup, corrigen odoris (pewangi) misanya minyak atsiri, corrigen coloris (pewrana), dan lain-lain. b. Bahan pengawet atau preservative merupakan bahan yang ditambahkan untuk mencegah pertumbuhan mikroba atau perubahan kimiawi pada emulsi. Contoh bahan yang dapat digunakan seperti metil paraben, propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, benzalkonium klorida, dan lain-lain.


44 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN c. Antioksidan merupakan bahan yang digunakan untuk mencegah atau memperlambat terjadinya oksidasi. Conntohnya adalah asam sitrat, asam galat, asam askorbat, propil galat, dan lain-lain. C. Tipe Emulsi Emulsi dapat digolongkan berdasarkan jenis zat cair yang berfungsi sebagai fase internal dan fase eksternalnya, yaitu : 1. Emulsi tipe o/w (oil in water) atau m/a (minyak dalam air), merupakan tipe emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar merata dalam air. Butiran minyak dalam tipe emulsi ini adalah berperan sebagai fase internal, sedangkan air sebagai fase eksternal, sehingga jumlah air dalam tipe emulsi ini lebih banyak daripada jumlah minyak. 2. Emulsi tipe w/o (water in oil) atau a/m (air dalam minyak), merupakan tipe emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar merata dalam cairan minyak. Butiran air dalam tipe emulsi ini berperan sebagai fase internal, sedangkan minyak sebagai fase eksternal, sehingga jumlah minyak dalam tipe emulsi ini lebih dominan daripada jumlah air. D. Teori Pembentukan Emulsi Terbentuknya suatu sediaan emulsi dapat terjadi melalui 4 macam teori yang berbeda, antara lain : 1. Teori tegangan permukaan Suatu molekul memiliki dua sifat tarik menarik yaitu adhesi dan kohesi. Apabila tarik menarik itu antar molekul yang sejenis disebut dengan daya kohesi, sedangkan tarik menarik antar molekul yang tidak sejenis disebut adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama sehingga pada permukaan suatu cairan akan terjadi perbedaan tegangan yang disebabkan karena terjadi ketidakseimbangan daya kohesi. Tegangan yang terbentuk dari peristiwa tersebut dikenal dengan istilah tegangan permukaan (surface tension). Terjadinya perbedaan tegangan bidang batas (interfacial tension) antara dua cairan yang tidak saling campur (immicible liquid) dapat dijelaskan dengan cara yang sama. Prinsipnya adalah semakin tinggi perbedaan tegangan yang terbentuk pada bidang batas antar cairan, makan dua zat cair tersebut akan semakin sulit untuk bercampur. Tegangan permukaan pada air akan meningkat dengan penambahan elektrolit atau garam anorganik, tetapi akan berkuran dengan penambahan senyawa organik tertentu superti sabun sebagai emulgator. Dapat diambil kesimpulan bahwa dengan menurunkan tegangan permukaan suatu cairan, maka dua zat cair tersebut dapat saling bercampur, salah satu metode yang dilakukan untuk menurunkan tegangan permukaan tersebut adalah dengan menambahkan emulgator. 2. Teori orientasi bentuk baji (oriented wedge) Dalam hal ini, pembentukan emulsi didasarkan pada kelarutan selektif dari molekul emulgator. Berdasarkan kelarutan tersebut, molekul emulgator dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu :


45 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN a. Kelompok hidrofilik, merupakan bagian dari emulgator yang suka atau dapat bercampur dengan air b. Kelompok lipofilik, merupakan bagian dari emulgator yang suka atau dapat bercampur dengan minyak. Kelompok-kelompok tersebut dapat mencari, mendekat dan bergabung dengan zat cair yang disukainya. Kelompok hidrofilik akan membentuk ikatan dengan molekul air, sedangkan kelompok lipofilik akan berikatan dengan molekul minyak. Emulgator akan menjadi penghubung antara fase minyak dan fase air, sehingga akan menghasilkan suatu sediaan emulsi yang seimbang dan merata antara fase air dan fase minyak. Emulgator memiliki nilai keseimbangan antara kelompok hidrofil dan lipofil yang berbeda-beda. Nilai keseimbangan ini disebut juga dengan istilah HLB (Hydrophyl Lipophyl Balance) yang menyatakan perbandingan antara kelompok hidrofil dan kelompok lipofil yang terkandung di dalam suatu zat. Bila nilai HLB tinggi, maka semakin banyak kelompok hidrofil yang terkandung di dalamnya dan emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air. Sebaliknya, jika nilai HLB rendah, maka semakin banyak kelompok lipofil yang terkandung di dalam emulgator tersebut. Tabel 3.1 Nilai HLB dan kegunaannya Sumber : Moh. Anief, 2000 (Gadjah Mada University Press) 3. Teori lapisan antarmuka Teori ini disebut juga dengan interfacial film, yaitu pembentukan film karena emulgator yang diserap pada batas antara fase air dan fase minyak. Lapisan film tersebut akan membungkus atau melapisi partikel terdispersi, sehingga menghalangi usaha antar partikel yang sejenis untuk dapat bergabung dan menyebabkan fase dispers akan lebih stabil. Beberapa syarat yang harus dimiliki emulgator agar menghasilkan emulsi yang stabil adalah sebagai berikut : a. Jumlah emulgator harus cukup untuk menutupi seluruh permukaan fase dispers b. Emulgator harus segera membentuk lapuisan film dengan cepat c. Lapisan film yang terbentuk harus bersifat kuat tetapi lunak 4. Teori electrik double layer Pada emulsi tipe o/w, minyak akan terdispersi ke dalam air, lapisan air yang bersentuhan dengan permukaan minyak akan memiliki muatan yang Harga HLB Kegunaan 1-3 Anti foaming agent 3-6 Emulgator tipe w/o 7-9 Bahan pembasah (wetting agent) 8-18 Emulgator tipe o/w 13-15 Detergent 15-20 Peningkat kelarutan (solubilizing agent)


46 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN sejenis, sedangkan lapisan yang berikutnya akan memiliki muatan yang berlawanan jenis dengan lapisan di depannya. Oleh karena itu, setiap partikel minyak seakan-akan dilindungi oleh dua benteng lapisan dengan muatan listrik yang berbeda dan saling berlawanan. Benteng itu akan menolak gaya dari partikel minyak yang akan bergabung dengan partikel minyak lainnya dalam membentuk suatu molekul yang besar. Sehingga akan terjadi peristiwa saling tolak menolak antar sesama partikel dan stabilitas emulsi akan meningkat. E. Emulgator Emulgator merupakan zat untuk meningkatkan stabilitas emulsi karena membantu terdispersinya suatu zat pada fase tertentu. Dalam pembuatan sediaan emulsi terdapat beberapa golongan emulgator yang dapat digunakan, antara lain : 1. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan Golongan ini merupakan emulgator yang peka terhadap elektrolit, alkohol kadar tinggi, dan dapat dirusak oleh bakteri. Emulgator pada golongan ini biasanya adalah emulgator jenis karbohidrat dengan tipe o/w. Pada pembuatan sediaan emulsi, emulgator ini membutuhkan penambahan zat pengawet. Emulgator yang termasuk golongan ini contohnya adalah : a. Pulvis gummi arabicum (gom arab) Merupakan emulgator yang sangat baik untuk tipe emulsi o/w dan untuk obat minum. Dapat membentuk emulsi yang sangat stabil dan kekentalannya tidak terlalu tinggi. Ada 2 metode yang mendasari gom arab dapat menjaga stabilitas emulsi, antara lain : 1) Gom arab bekerja membentuk koloid pelindung (teori interfacial film) 2) Gom arab membentuk cairan yang kental sehingga laju pengendapan menjadi berkurang, tetapi masa tetap mudah dituang (tiksotropi). Secara umum, emulsi dengan gom arab membutuhkan sejumlah ½ dari jumlah minyaknya. Untuk menghasilkan corpus emulsi yang baik, dibutuhkan air sebanyak 1,5x berat gom arab, diaduk dengan cepat hingga putih , lalu diencerkan dengan sisa air yang tersedia. Untuk membuat emulsi lemak padat, dibutuhkan gom arab sama banyak dengan jumlah lemak padat tersebut. Cara pembuatannya adalah dengan melebur lemak padat tersebut lalu ditambahkan gom. Kemudian tambahkan air panas sebanyak 1,5x berat gom. Langkah terakhir adalah mendinginkan dan mengencerkan emulsi dengan sisa air. Untuk minyak atsiri dan balsam-balsam, menggunakan PGA dengan jumlah sama banyak. Minyak lemak membutuhkan PGA ½ kali berat minyak, kecuali oleum ricini karena memiliki gugus OH yang hidrofil, maka membutuhkan PGA yang lebih sedikit untuk membuat emulsi yaitu sebanyak 1/3 nya saja. Jika pada formula emulsi terdapat bahan obat cair dengan berat jenis yang tinggi seperti chloroform, bromoform, maka terlebih dahulu minyak lemak ditambahkan 10x beratnya sehingga BJ campuran dapat mendekati


47 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN angka satu. Kemudian ditambahkan PGA sebanyak ¾ kali bahan obat cair tersebut.Khusus untuk minyak ikan atau oleum iecoris aseli menggunakan PGA sebanyak 30% dari berat minyak untuk membuat emulsi. b. Tragacanth Zat ini dapat berubah menjadi cairan yang lebih kental daripada gom apabila dilarutkan dalam air, sehingga hanya membutuhkan 1/10 kali gom arab untuk membuat suatu emulsi dengan viskositas yang baik. Tragakan bekerja optimal pada pH 4,5-6. Dalam pembuatan corpus emulsi, jumlah air yang dibutuhkan lebih banyak karena viskositas cairan yang dihasilkan ksangat kental, yaitu sebanyak 20x berat tragakan. Berdasarkan sifatnya, tragakan sebagai emulgator hanya berperan sebagai pengental, tidak dapat menjadi koloid pelindung. c. Agar-agar Emulgator ini juga berperan sebagai pengental, sehingga masih dapat ditambahkan emulgator lain seperti PGA untuk mendapatkan efek sebagai koloid pelindung. Untuk mengaktifkan sebagai emulgator, terlebih dahulu agar-agar dilarutkan dengan air mendidih, kemudian secara perlahan diturunkan suhunya menjadi 45oC, suhu tersebut sebaiknya dijaga, karena apabila suhu terlalu rendah maka konsistensi agar-agar dapat berubah menjadi gel. Agar-agar dapat digunakan sebagai emulgator dengan kadar 1-2%. d. Chondrus Secara umum cara mempersiapkan zat ini sebagai emulgator adalah sama seperti agar-agar. Kelebihan emulgator ini adalah dapat menutupi rasa dari minyak ikan, sehingga lebih nyaman dikonsumsi. e. Emulgator lain Emulgator lain yang dapat digunakan untuk membuat emulsi adalah seperti pektin, metil selulosa, karboksimetil selulosa (CMC). Emulgator ini cenderung lebih sedikit penggunaannya, yaitu sebesar 0,5-2% saja. 2. Emulgator alam dari hewan Pada umumnya emulgator ini mengandung protein dan kolesterol. Bahan yang termasuk emulgator ini adalah : a. Vitellum ovi atau kuning telur Kuning telur mengandung kolesterol dan lesitin yang dapat berfungsi sebagai emulgator. Lesitin merupakan golongan protein/asam amino yang dapat berperan sebagai emulgator tipe o/w. Kuning telur dapat digunakan untuk emulsi minyak lemak 4x beratnya dan untuk minyak menguap sebanyak 2x beratnya.


48 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN Gambar 3.3 Kuning telur Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Emulsifier b. Adeps lanae Adeps lanae atau lemak bulu domba adalah salah satu zat yang dapat digunakan sebagai emulgator. Adeps lanae mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Adeps lanae digunakan sebagai emulgator untuk emulsi tipe w/o dan biasanya digunakan untuk pemakaian luar badan. Emulgator ini dapat meningkatkan kemampuan minyak dalam menyerap sejumlah air. Adeps lanae dalam kondisi kering dapat menyerap air sebanyak 2x dari beratnya. Gambar 3.4 Adeps Lanae Sumber : https://www.freethepowder.com/pages/lanolin-in-leather-treatments


49 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN 3. Emulgator alam dari tanah mineral Golongan ini merupakan emulgator yang berasal dari senyawa anorganik dan biasanya digunakan untuk pemakaian luar. Beberapa senyawa yang termasuk golongan emulgator ini adalah : a. Magnesiun Alumunium silikat Emulgator ini banyak dikenal dengan nama veegum. Merupakan emulgator yang umumnya digunakan dalam pembuatan emulsi tipe o/w dan digunakan untuk pemakaian luar badan. Penggunaan emulgator ini adalah sebanyak 1%. b. Bentonit Emulgator ini termasuk tanah liat yang mengandung senyawa alumunium silikat. Senyawa ini dapat menyerap air dalam jumlah banyak dan membentuk gel. Penggunaan emulgator ini adalah sebanyak 5% untuk membentuk emulsi tipe w/o. 4. Emulgator buatan atau sintesis Golongan ini merupakan emulgator yang dibuat secara kimia, contoh emulgator ini antara lain : a. Sabun Emulgator ini biasanya digunakan untuk emulsi pemakaian luar dan sifatnya sangat sensitif terhadap penambahan elektrolit. Emulsi yang dihasilkan adalah tipe o/w dan w/o tergantung dari valensinya. Untuk sabun yang mengandung kalium, bervalensi 1 dan merupakan emulgator tipe o/w, sedangkan sabun yang mengandung kalsium, bervalensi 2 dan merupakan emulgator tipe w/o. b. Tween Dalam pembuatan emulsi, tween yang digunakan adalah tween 20, 40, 60, dan 80. c. Span Dalam pembuatan emulsi, span yang digunakan adalah span 20, 60, dan 80. Golongan emulgator sintesis ini secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan kategori muatannya menjadi : a. Anionik, contohnya sabun alkali, sodium lauril sulfat b. Kationik, contohnya ammonium kuartener, benzalkonium klorida c. Non ionik, contohnya tween, span d. Amfoter, contohnya protein, lesitin. F. Prosedur Pembuatan Emulsi Dalam skala kecil, emulsi dapat dibuat dengan cara sederhana sesuai dengan sifat komponen dan alat yang digunakan. Ada 3 metode yang dapat digunakan dalam pembuatan emulsi, antara lain : 1. Metode gom kering (metode kontinental) Pada metode ini emulgator (PGA) ditambahkan pada minyak terlebih dahulu, kemudian ditambah air untuk membentuk corpus emulsi, dan yang terakhir diencerkan dengan sisa air yang tersedia.


50 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN 2. Metode gom basah (metode inggris) Pada metode ini emulgator dicampurkan dengan air yang cukup terlebih dahulu untuk membentuk mucilago, kemudian ditambahkan minyak sedikit demi sedikit hingga terbentuk emulsi yang baik, dan yang terakhir diencerkan dengan sisa air yang tersedia. 3. Metode botol (metode forbes) Metode ini khusus digunakan untuk membeuat emulsi dari minyak menguap dan mempunyai viskositas yang rendah (kurang kental). Mula-mula gom dimasukkan ke dalam botol kering dan ditambahkan dua bagian air, botol tersebut ditutup dan dikocok dengan kuat hingga tercampur sempurna. Kemudian ditambahakan dengan sisa air yang tersedia sedikit demi sedikit sambil dikocok kuat. G. Membedakan Tipe Emulsi Ada beberapa metode atau cara yang dapat dilakukan untuk membedakan tipe emulsi tersebut, antara lain : 1. Metode pengenceran fase Metode ini merupakan cara yang paling sederhana, prinsipnya yaitu mengencerkan emulsi dengan fase eksternalnya. Emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air, sedangkan tipe emulsi w/o dapat diencerkan dengan minyak. Pengamatan dilakukan menggunakan miroskop, jika pada suatu sediaan emulsi yang ditetesi dengan air dapat terencerkan, maka emulsi tersebut tipenya adalah o/w. Sebaliknya apabila tidak terencerkan, maka emulsi tersebut tipenya adalah w/o. 2. Metode pengecatan warna Cara ini dilakukan dengan penambahan reagen warna pada sediaan emulsi. Metode ini juga dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop, apabila suatu sediaan diteteskan larutan Sudan III dan terjadi perubahan warna merah, maka emulsi tersebut tipenya adalah w/o karena larutan Sudan III larut dalam minyak. Apabila suatu sediaan diteteskan larutan metilen blue dan terjadi perubahan warna biru, maka emulsi tersebut tipenya adalah o/w karena larutan metilen blue larut dalam air 3. Metode konduktivitas listrik Metode ini dilakukan menggunakan alat seperti percobaan larutan elektrolit, yaitu berupa kawat, stop kontak, dan lampu neon ¼ watt yang dihubungkan secara seri. Lampu neon akan menyala jika dicelupkan pada cairan emulsi tipe o/w karena fase eksternalnya adalah air yang dapat menghantarkan arus listrik. Sebaliknya lampu tersebut tidak akan menyala jika dicelupkan pada emulsi tipe w/o karena fase eksternalnya adalah minyak yang tidak dapat menghantarkan arus listrik. 4. Menggunakan kertas saring Kertas saring yang ditetesi larutan emulsi tipe o/w akan menyebabkan kertas saring tersebut menjadi basah, sedangkan kertas saring yang ditetesi


51 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN larutan emulsi tipe w/o akan menyebabkan timbulnya bercak noda minyak pada kertas saring tersebut. H. Stabilitas Emulsi Emulsi yang baik dan dapat dikatakan stabil apabila dua fase yang terkandung di dalamnya tetap terdispersi merata dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi dapat dikatakan tidak stabil apabila mengalami hal-hal berikut : 1. Creaming Creaming merupakan peristiwa emulsi yang terpisah menjadi dua lapisan, yaitu fase dispers yang lebih banyak daripada lapisan yang lain. Peristiwa ini bersifat reversible, yaitu hanya bersifat sementara, jika larutan ini dikocok maka emulsi akan kembali terdispersi atau homogen. 2. Koalesen dan cracking (breaking) Peristiwa ini merupakan suatu keadaan emulsi yang pecah karena lapisan film yang melapisi partikel sudah rusak dan tetesan-tetesan minyak mengalami koalesensi / menyatu. Keadaan ini bersifat irreversible, yaitu tidak dapat kembali seperti semula. Peristiwa ini dapat terjadi disebabkan oleh : a. Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, elektrolit, perubahan pH, penambahan CaO atau CaCl2 eksikatus b. Peristiwa fisika, seperti perubahan suhu yang drastis (pemanasan atau pendinginan), penyaringan, pengadukan yang terlalu kuat, dan lain-lain. 3. Inversi Inversi merupakan peristiwa perubahan tipe emulsi yang terjadi secara tiba-tiba, tipe emulsi w/o berubah menjadi tipe emulsi o/w dan juga sebaliknya. Keadaan ini bersifat irreversible, yaitu tidak dapat kembali seperti semula walaupun dilakukan pengocokan yang kuat.


52 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN LEMBAR PRAKTIKUM 1. Kelengkapan Resep .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... ........................................................................................................................... 2. Obat Tidak Tercampur .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... ........................................................................................................................... 3. Dosis Maksimum .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... ........................................................................................................................... 4. Penimbangan Bahan dr. Heri Mangkubumi SIP.: No.169/DS-06/10.V/2012 Rumah : Praktik : Jl. Pemuda No. 23 Magelang RS. Harapan Telp. Jl. Panembahan Senopati, Magelang R/ Ol. Cocos 10 Paracetamol 4 Luminal 0,75 Syr. Simplex 10 Aqua dest ad 100 mf emulsi S3 dd cth I Pro : Rayna (3th) Nama Bahan Jumlah ED


53 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS LEMBAR PRAKTIKUM 5. Cara Kerja .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... ............................................................................................................... 6. Etiket dan Label Etiket Putih KOP APOTEK LABEL No. Tanggal Nama Pasien Signa CONTOH SOAL R/ Oleum iecoris aseli 10 PGA qs Aquades ad 100 mf emulsi S3 dd Cth I Pro : Aska (4th) Hitunglah jumlah bahan yang dibutuhkan serta bagaimana cara pembuatan larutan dalam resep tersebut ? Jawab : Dalam pembuatan emulsi untuk oleum iecoris aseli (minyak ikan) membutuhkan PGA sebanyak 30% dari berat minyak.


54 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN Mentega dan Margarin Mentega dan margarin apakah merupakan zat yang sama? yang biasanya Anda makan sebagai bahan pelengkap roti apakah Mentega atau margarin? apakah keduanya sama? Atau justru sangat berbeda? Mari kita lihat penjelasan singkat berikut ini. Mentega, disebut juga dengan butter dalam bahasa Inggris, merupakan produk hewani yaitu olahan dari susu. Bagian susu yang diambil untuk membuat mentega adalah krim (lemak dari susu). Krim akan diproses dengan teknik pengadukan terus-menerus hingga fase padatan terpisah dari fase cair dan terkumpul. Mentega adalah salah satu produk emulsi tipe water in oil (fase air dalam fase minyak), kebalikan dari bahan asalnya yaitu krim susu yang merupakan emulsi oil in water (fase minyak dalam fase air). Sedangkan margarin berasal dari bahasa Inggris margarine, merupakan produk turunan dari minyak nabati yang telah ter-hidrogenasi. Penambahan gugus hidrogen pada ikatan kimia asam lemak menyebabkan bentuk minyak menjadi lebih padat. Di Indonesia, biasanya margarin dibuat dari turunan minyak kelapa sawit, khususnya fraksi stearin yang berbentuk padatan jika berada dalam suhu ruang (25oC). Cara Kerja : 1. Botol disetarakan 2. Ambil dan timbang bahan-bahan yang dibutuhkan 3. Masukkan oleum iecoris aseli ke dalam mortir, kemudian ditambahakan PGA serta air 4,5 gram. 4. Aduk campuran hingga terbentuk korpus emulsi yang baik 5. Masukkan emulsi ke dalam botol dan bilas mortir dengan air hingga tidak ada emulsi yang tersisa 6. Tambahkan air sedikit demi sedikit ke dalam botol hingga bobot larutan 100 gram 7. Botol ditutup, kemudian diberi etiket dan label CONTOH SOAL Nama Bahan Jumlah ED Oleum iecoris aseli 10 gram PGA 30/100 x 10 gram = 3 gram Air untuk PGA 1,5 x 3 gram = 4,5 gram Aquades 100 – (10 + 3 + 4,5) = 82,5 gram CAKRAWALA


55 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS Untuk menambah wawasan lebih jauh mengenai pembuatan sediaan obat dalam bentuk emulsi, teman-teman dapat mempelajari secara mandiri dengan membuka internet. Di internet kalian dapat memperoleh materi tentang konsepkonsep tersebut. Salah satu website yang dapat kalian kunjungi untuk menambah wawasan dan pemahaman kalian tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk emulsi adalah sebagai berikut: https://farmasetika.com/2019/07/13/emulsidan-tipe-tipe-emulsi-dalam-sediaan-farmasi/ atau dengan menggunakan QR code berikut : Sumber informasi lain tentang emulsi yang dapat diakses adalah https:// gudangilmu.farmasetika.com/hal-penting-yang-harus-diperhatikan-untuk-obatberbentuk-emulsi/ Dengan QR Code : Karena dibuat dari bahan nabati, margarin tidak memiliki kandungan kolesterol. Margarin merupakan produk emulsi tipe water in oil (fase air dalam fase minyak). Karena mentega dan margarin merupakan produk emulsi, dalam pembuatannya di industri biasanya ditambahkan bahan pengemulsi (emulsifier) contohnya lesitin yang berasal dari telur. Sumber : https://bakrie.ac.id/berita-itp/artikel-pangan/922-mentega-danmargarin-kenali-keduanya CAKRAWALA JELAJAH INTERNET


56 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN TUGAS MANDIRI RANGKUMAN Emulsi merupakan sediaan dengan sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. Berdasarkan sumber bahan dasarnya emulsi dapat dibagi menjadi emulsi alam dan emulsi buatan. Emulsi yang terbentuk dapat berupa o/w (oil in water) yaitu emulsi minyak dalam air, maupun w/o (water in oil) yaitu emulsi air di dalam minyak. Proses terbentuknya suatu emulsi dapat dijelaskan dalam 4 teori, yaitu : 1. Teori tegangan permukaan (surface tension) 2. Teori orientasi bentuk baji (oriented wedge) 3. Teori lapisan antarmuka (interfacial film) 4. Teori lapisan listrik ganda (double layer) Bahan pengemulsi atau emulgator yang dapat digunakan untuk membuat emulsi dan meningkatkan stabilitas emulsi dapat berasal dari alam tumbuh-tumbuhan, hewan, tanah mineral, maupun sintetis atau buatan. Dalam pembuatan emulsi terdapat 3 metode dasar yang dapat digunakan, antara lain : 1. Metode gom kering atau metode kontinental 2. Metode gom basah atau metode inggris 3. Metode botol atau forbes Tipe emulsi o/w ataupun w/o dapat dibedakan dengan 4 metode, yaitu : 1. Metode pengenceran fase 2. Metode pengecatan warna 3. Metode konduktivitas listrik 4. Metode kertas saring Emulsi yang baik dan stabil apabila dua fase yang terkandung di dalamnya tetap terdispersi merata dalam bentuk tetesan kecil. Emulsi yang tidak stabil apabila mengalami creaming, koalesen dan cracking, inversi Tugas para siswa adalah menemukan 5 contoh jenis sediaan obat emulsi yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tuliskan masing-masing nama obat tersebut dan dikelompokkan berdasarkan penggunaannya (emulsi oral atau topikal), selanjutnya sebutkan tipe emulsinya (o/w atau w/o). No Nama obat Emulsi Oral / Topikal Tipe Emulsi 1 2 3 4 5


57 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS Setelah mempelajari bab ketiga tentang emulsi ini, Anda tentu menjadi paham tentang konsep dasar tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk emulsi. Dari semua materi yang sudah dijelaskan pada bab ketiga ini, mana yang menurut Anda paling sulit dipahami? Coba Anda diskusikan dengan teman maupun guru Anda. Diskusikan pula apakah perbedaan mendasar antara larutan, suspensi, dan emulsi. Kerjakan soal dibawah ini dengan baik dan benar ! 1. Emulsi yang digunakan melalui kulit disebut juga dengan ... 2. Emulsi adalah suatu sediaan yang terdiri dari 2 fase yang saling terdispersi, fase tersebut adalah .... 3. Dalam komponen tambahan pada sediaan emulsi terdapat bahan yang fungsinya adalah sebagai corigen saporis, artinya adalah bahan yang ditambahkan dengan tujuan .... 4. Pembuatan emulsi dengan menambahkan air pada emulgator untuk membentuk mucilago terlebih dahulu sebelum dicampurkan dengan minyak adalah metode .... 5. Salah satu teori pembentukan emulsi yang menjelaskan tentang konsep adhesi dan kohesi adalah .... 6. Teori pembentukan emulsi yang memperhitungkan keseimbangan jumlah air dalam formula serta jumlah emulgator yang dibutuhkan adalah .... 7. Cara membedakan tipe emulsi dengan menambahkan suatu larutan reagen tertentu seperti sudan III atau metilen biru disebut ... 8. Penambahan elektrolit, pemanasan, perubahan pH dapat mengakibatkan emulsi menjadi tidak stabil. Kerusakan emulsi yang terjadi adalah ... 9. Peristiwa berubahnya tipe emulsi dari o/w menjadi w/o atau sebaliknya disebut .... 10. Asam askorbat, asam sitrat, asam gallat dalam pembuatan emulsi dapat berfungsi sebagai .... PENILAIAN AKHIR BAB REFLEKSI


58 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL A. Pilihan Ganda Bacalah soal dengan seksama dan berilah tanda silang (x) pada jawaban yang dianggap paling tepat ! 1. Berikut merupakan contoh larutan oral .... a. Potio b. Collyrium c. Litus oris d. Lotio e. Gargle 2. Di dalam larutan elixir, dapat digunakan pelarut selain air, yaitu kecuali .... a. Etanol b. Gliserol c. Menthol d. sorbitol e. Gliserin 3. Pada pembuatan syrup simplex dibutuhkan gula sebanyak .... a. 50% b. 55% c. 65% d. 75% e. 85% 4. Larutan obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas disebut .... a. Netralisasi b. Saturatio c. Potio Effervecent d. Elixir e. Mixtura 5. Gas yang terbentuk pada saat mereaksikan larutan asam dengan basa adalah .... a. NO2 b. H2 c. O2 d. CO e. CO2 PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL


59 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 6. Pada pengobatan, gas yang terbentuk pada saturatio ataupun potio effervescent berguna untuk .... a. Menjaga stabilitas obat b. Menyegarkan rasa minuman c. Menambah volume sediaan d. Membantu pernafasan e. Mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur 7. Pada sediaan elixir, etanol sebagai pelarut dapat digunakan untuk .... a. Menaikkan suhu larutan obat b. Meningkatkan kelarutan obat c. Menambah volume obat d. Memberikan kesan rasa manis e. Memberikan efek sedativa (penenang) 8. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut juga .... a. Potio b. Lotio c. Guttae d. Enema e. Cream 9. Y-Rins adalah salah satu sediaan yang termasuk .... a. Collyrium b. Inhalation c. Enema d. Epithema e. Suppositoria 10. Berikut merupakan syarat tetes mata, kecuali .... a. Bebas partikel b. Steril c. Isotonis d. Tidak berbau e. Isohidris 11. Fungsi larutan dapar pada sediaan tetes mata adalah .... a. Meningkatkan kekentalan b. Menyaring partikel asing c. Menstabilkan pH d. Mencegah pertumbuhan bakteri e. Menjernihkan larutan


60 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 12. Nilai tonisitas yang ideal untuk tetes mata adalah sama dengan .... a. NaCl 9% b. NaCl 0,9% c. NaOH 9% d. NaOH 0,9% e. NaOH 1% 13. Litus oris merupakan salah satu larutan topikal, yaitu .... a. Oles wajah b. Oles bibir c. Tetes hidung d. Tetes telinga e. Tetes mata 14. Cairan yang pemakaiannya per rectum/ colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi sistemik disebut juga .... a. Gargle b. Epithema c. Douche d. Lotio e. Enema 15. Adanya zat terlarut tertentu yang jika ditambahkan dapat menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar atau meningkat disebut juga .... a. Cosolvensi b. kompleksasi c. Salting In d. Salting Out e. Solubility 16. Senyawa luminal tidak larut dalam air, tetapi larut dalam solutio petit merupakan contoh peristiwa yang disebut .... a. Cosolvensi b. kompleksasi c. Salting In d. Salting Out e. Solubility 17. Gargarisma tidak boleh diberikan dalam bentuk .... a. larutan dalam air b. larutan encer c. larutan minyak d. larutan pekat e. suspensi


61 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 18. Betadine yang digunakan untuk membersihkan atau membilas vagina merupakan contoh sediaan .... a. Epithema b. Saturasi c. Enema d. Ophtalmic e. Douche 19. Dibawah ini yang tidak boleh digunakan sebagai pelarut dalam sediaan tetes telinga adalah .... a. Larutan NaCl b. Propilen glicol c. Gliserin d. Phenol gliserol e. Minyak lemak 20. Contoh zat pengawet pada sediaan tetes mata adalah .... a. Benzalkonium klorida b. Etanol c. Larutan NaCl d. Aqua destilata e. Asam sitrat 21. Suatu sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dan terdispersi merata dalam fase cair disebut .... a. Potio b. Solutio c. Suspensi d. Emulsi e. Gargle 22. Suspensi optalmik adalah jenis sediaan yang digunakan pada .... a. Telinga b. Mata c. Pundak d. Lutut e. Kaki 23. Berikut merupakan contoh bahan pensuspensi sintetis, yaitu .... a. Karbomer b. Tragakan c. Gom Arab d. Algin e. Chondrus


62 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 24. Hubungan antara kekentalan suspensi dengan kecepatan aliran dapat dijelaskan lebih rinci melalui .... a. Hukum Flokulasi b. Hukum Stokes c. Hukum Reologi d. Hukum Sedimentasi e. Hukum Pidana 25. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut juga .... a. Potio b. Lotio c. Guttae d. Enema e. Cream 26. Suspending agent yang digunakan dalam sediaan tetes telinga adalah .... a. CMC b. Sorbitol c. Gelatin d. Parafin cair e. Gliserin 27. Suspensi untuk lotion harus memenuhi syarat berikut, kecuali .... a. Digunakan pada luka berair b. Mudah menyebar pada daerah pemakaian c. Tidak mudah mengalir pada daerah pemakaian d. Cepat kering membentuk lapisan pelindung e. Suspensi tidak boleh terlalu kental agar mudah dituang 28. Bahan pensuspensi yang mempunyai sifat tiksotrofi adalah ... a. Algin b. Condrus c. Bentonit d. Tragacant e. Gom arab 29. Dibawah ini yang bukan merupakan bahan pensuspensi dari alam adalah ... a. CMC b. Gom arab c. Natrium alginat d. Bentonit a. Hectorite 30. Menurut hukum stokes, kecepatan aliran berbanding terbalik dengan ... a. Viskositas cairan Gravitasi b. Diameter partikel


63 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL c. Berat jenis cairan d. Polaritas cairan\ e. Gravitasi 31. Sediaan suspensi yang biasanya harus dilakukan rekonstitusi terlebih dahulu adalah obat golongan ... a. Analgetika b. Antidotum c. Antasida d. Antiinflamasi e. Antibiotika 32. Dibawah ini yang bukan merupakan tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi adalah .... a. Memperkecil ukuran partikel b. Memperkecil perbedaan berat jenis partikel dan pembawa c. Menambah viskositas cairan d. Menambah luas penampang partikel e. Menambah jumlah suspending agent 33. Penilaian stabilitas suspensi yang dilakukan dengan cara membandingkan volume pada sedimen akhir suspensi flokulasi terhadap volume sedimen akhir suspensi deflokulasi adalah cara penilaian .... a. Derajat flokulasi b. Rasio ukuran partikel c. Metode reologi d. Volume sedimentasi rata-rata e. Sifat alir 34. Sifat dari partikel deflokulasi adalah .... a. Sedimentasi terbentuk cepat b. Sedimentasi tidak membentuk cake c. Wujud suspensi kurang menyenangkan d. Partikel merupakan agregat bebas e. Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain 35. Sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil disebut .... a. Potio b. Solutio c. Suspensi d. Emulsi e. Gargle


64 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 36. Berikut yang bukan merupakan pembentuk emulsi adalah .... a. Fase Sedimentasi b. Fase eksternal c. Fase Dispers d. Emulgator e. Fase Kontinue 37. Berikut yang bukan merupakan teori pembentukan emulsi adalah .... a. Surface Tension b. Interfasial Film c. Frezze Cycling d. Electric Double Layer e. Oriented Wedge 38. Metode pembuatan emulsi dengan cara menambahkan zat pengemulsi dengan air agar membentuk mucilago, lalu minyaknya ditambahkan perlahan-lahan adalah .... a. Metode gom kering b. Metode forbes c. Metode gom basah d. Metode kontinental e. Metode botol 39. Bahan berikut digunakan sebagai pengawet dalam pembuatan emulsi adalah .... a. Asam gallat b. Asam askorbat c. Asam salisilat d. Asam sitrat e. Asam benzoat 40. Kerusakan emulsi karena berubahnya tipe emulsi w/o menjadi o/w secara tiba-tiba dan sifatnya irreversibel disebut .... a. Crumbling b. Caking c. Creaming d. Inversi e. Cracking 41. Emulsi dapat pecah karena faktor dibawah ini, kecuali .... a. Perubahan pH b. Perubahan viskositas c. Perubahan suhu yang terlalu besar d. Penambahan garam yang terlalu besar e. Penyaringan


65 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 42. Label “kocok dahulu” tidak boleh digunakan pada..... a. Emulsi b. Sirup c. Suspensi d. Drop e. Potio saturasi 43. Collynarium artinya ..... a. Obat cuci mata b. Obat cuci Telinga c. Obat cuci hidung d. Obat cuci mulut e. Obat cuci luka 44. Pembuatan emulsui dengan cara membuat mucilago terlebih dahulu kemudian dicampurkan minyak sedikit demi sedikit adalah metode ... a. Gom kering . b. Metode forbes c. Gom basah d. Metode kontinental e. Metode botol 45. Kerusakan emulsi yang bersifat ireversibel akibat penambahan alkohol disebut .... a. Creaming b. Caking c. Cracking d. Inversi e. Crumbling 46. Kerusakan emulsi yang terpisah menjadi 2 lapisan disebut .... a. Creaming b. Caking c. Cracking d. Inversi e. Crumbling 47. Emulgator akan diserap diantara batas air dan minyak sehingga terbentuk lapisan tipis film yang membungkus partikel fase dispers adalah teori pembentukan emulsi .... a. Surface tension b. Electric double layer c. Oriented wedge d. Interfacial film e. Hidrophyl lipophyl balance


66 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 48. Asam sitrat dalam emulsi dapat berfungsi sebagai .... a. Corigen odoris b. Corigen odoris c. Preservative d. Emulgator e. Anti oksidan 49. Ketidak stabilan emulsi yang masih dapat diperbaiki adalah .... a. Creaming b. Breaking c. Cracking d. Koalesen e. Inversi 50. Jika emulsi memiliki tipe a/m maka .... a. Melarutkan zat warna metilen blue b. Memiliki hambatan listrik yang besar c. Dapat diencerkan dengan air d. Tidak memberikan warna merah pada larutan sudan III e. Tidak meninggalkan noda minyak pada kertas saring B. Soal Uraian/Essay Jawablah soal dibawah ini dengan benar ! 1. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan kelarutan ! 2. Sebutkan persamaan dan perbedaan potio netralisasi, saturatio, dan effervescent ! 3. Jelaskan perbedaan antara suspensi dan emulsi ! 4. Apa yang dimaksud dengan creaming dan cracking ? 5. Apakah sediaan tetes mata boleh dalam bentuk suspensi atau emulsi ? Jelaskan alasannya !


67 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI Setelah mempelajari tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk pil, peserta didik diharapkan mampu (1) memahami definisi dan komponen pil; (2) menjelaskan cara pembuatan pil; (3) menentukan persyaratan pil; dan (4) menganalisis macam-macam sediaan pil. Pil, boli, granul BAB PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK PIL IV Definisi Pembuatan Sediaan Pil PETA KONSEP Komponen Pil Persyaratan Pil Prosedur Pembuatan Pil 1. Zat Utama 2. Bahan Tambahan 1. Pembuatan secara Umum 2. Pembuatan secara Khusus BAB IV PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK PIL


68 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENDAHULUAN Sediaan padat berbentuk bulat atau bundar berukuran kecil saat ini sudah agak jarang ditemukan dipasaran. Akan tetapi masih ada sediaan pil yang masih beredar, meskipun masyarakatnya masih salah menyebutnya dengan tablet. Contoh pil yang masih beredar di Indonesia adalah pil KB Marvelon, Microgynon, dan lain-lain. Gambar 4.1 Contoh Sediaan Pil Sumber : https://www.slideshare.net/karLafraNsiska/ilmu-resep Gambar 4.2 Pil KB Sumber : https://doktersehat.com/cara-minum-pil-kb


69 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN A. Definisi Pil adalah sediaan yang berupa massa bulat atau bundar seperti bola dan mengandung satu atau lebih bahan obat. Bobot pil berkisar antara 20mg hingga 500mg. Pil berasal dari kata pila yang merupakan bahasa latin, artinya adalah bola. Menurut anief (2004), jenis-jenis pil adalah sebagai berikut : 1. Boli, merupakan pil yang berukuran besar dan memiliki bobot lebih dari 500mg. Secara umum cara pembuatannya sama dengan pil lainnya. Karena ukurannya yang besar, maka pil ini biasanya tidak dikonsumsi oleh manusia, tetapi untuk pengobatan hewan seperti sapi, kuda, dan hewan ternak lainnya. 2. Pil, merupakan jenis sediaan yang lazim digunakan dan beredar di masyarakat. Bobot pil ini adalah antara 100mg hingga 500mg. 3. Granul, merupakan pil yang berukuran kecil dan memiliki bobot dibawah 100mg. Jika tidak dinyatakan lain, granul mengandung zat berkhasiat utama sebesar 1mg. Gambar 4.3 Bentuk Pil Sumber : https://www.maksindo.com/product/mesin-pembuat-pill-bulat-herbal-fms/99 B. Komponen Pil Secara umum kandungan atau komponen pil adalah sebagai berikut : 1. Zat utama / berkhasiat Zat utama merupakan bahan obat berkhasiat yang berasal dari alam ataupun sintesis bahan kimia. Contoh bahan obat yang dapat dibuat sediaan pil adalah ichtyol, ekstrak belladone, digitalis, argenti nitras, dan lain-lain. 2. Zat pengisi Zat pengisi merupakan bahan yang dapat ditambahkan untuk menambah volume pil agar dapat mempermudah dalam proses pembuatannya. Contoh bahan pengisi yang biasa digunakan adalah bolus alba. 3. Zat pengikat Zat pengikat merupakan bahan yang dapat ditambahkan agar massa saling melekat. Contoh bahan pengikat yang dapat digunakan adalah gom arab, tragakan, akar manis, dan lain-lain. 4. Zat penabur Zat penabur merupakan bahan yang dapat ditambahkan agar massa pil yang


70 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN sudah terbentuk tidak dapat saling melekat satu sama lain. Contoh bahan penabur yang dapat digunakan adalah talk, lycopodium, dan lain-lain. 5. Zat penyalut Zat penyalut merupakan bahan yang dapat diberikan setelah sediaan pil sudah terbentuk. Fungsi dari bahan ini adalah untuk menutup rasa, bau, warna yang kurang sesuai. Bahan penyalut juga dapat melindungi pil dari pengaruh oksidasi dari udara luar, atau dapat juga sebagai pengatur tempatnya hancur pil di dalam lambung-usus (enteric coated). Contoh bahan penyalut yang dapat digunakan adalah perak, balsam tolu, keratin, kolodium, gelatin, gula, dan lain-lain. 6. Zat pembasah Zat pembasah merupakan bahan yang berfungsi untuk membasahi massa pil agar mudah dibentuk. Contoh zat pembasah adalah air, gliserol, madu, campuran air dan gliserin sama banyak (aqua gliserinata), dan lain-lain. C. Prosedur Pembuatan Sediaan Pil 1. Pembuatan pil secara umum Pada umumnya pembuatan pil dilakukan dengan cara mencampurkan bahanbahan obat padat hingga homogen, lalu ditambah zat tambahan lain seperti zat pembasah hingga diperoleh massa pil yang baik, kemudian ditambah zat pelicin agar massa pil tidak melekat pada alat pembuat pil. Langkah selanjutnya adalah massa pil tersebut dibuat bentuk batang dan dipotong menggunakan alat pemotong pil sesuai jumlah yang diminta, kemudian massa pil dibuat bentuk seperti bola (membulat) menggunakan alat pembuat pil. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan pil adalah : a. Bobot pil untuk dikonsumsi adalah antara 100mg – 150mg, rata-rata 120mg b. Zat pengisi yang lazim digunakan adalah radix liquiritiae. Jika bahan berkhasiat berupa okdidator atau dapat bereaksi dengan radix liq, maka sebagai bahan pengisi dapat digunakan bolus alba. Jumlah zat pengisi yang digunakan adalah sebesar dua kali jumlah zat pengikatnya. Dikenal juga istilah PPP (Pulvis Pro Pilulae), merupakan campuran succus liquiritiae dan radix liquiritiae sama banyak. c. Zat pengikat yang digunakan adalah succus liquiritiae sebanyak 2 gram untuk membuat 60 pil. Jika bahan berkhasiat berupa oksidator atau dapat bereaksi dengan succus liq, maka sebagai zat pengisi dapat digunakan adeps lanae atau vaselin album sebanyak 1/6 kali berat pil. d. Pada saat pembuatan massa pil, harus ditambahkan zat pembasah kedalam campuran obat, radix liq dan succus liq agar pada saat pengepalan diperoleh massa homogen yang cukup baik. Zat pembasah yang lazim digunakan adalah aqua gliserinata, caitu campuran air dan gliserin sama banyak. Pemberian aqua gliserinata dapat mencegah agar konsistensi pil tidak terlalu keras pada penyimpanan, namun pemberian zat pembasah juga tidak boleh terlalu banyak karena dapat menyebabkan pil yang terbentuk menjadi lembek. e. Agar massa pil tidak melekat pada alat pembuat pil, dapat ditaburkan talk atau lycopodium secara merata. 2. Pembuatan pil dengan bahan khusus Beberapa senyawa dapat bereaksi dengan bahan tambahan dalam proses


71 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN pembuatan pil. Oleh karena itu, agar pil yang diperoleh dapat bermutu baik harus memperhatikan hal berikut, antara lain : a. Pil yang mengandung senyawa oksidator seperti KMnO4, KNO3, FeCl3, AgNO3, garam timbal (Pb), sebagai zat pengisi digunakan bolus alba. Zat pengikat dan zat pembasah yang digunakan adalah adeps lanae dan vaselin album. Proses pencetakan pil menggunakan alat khusus, yaitu pillen plank ebonit, yaitu alat papan pemanjang dan pemotong pil berbahan ebonit. b. Pil yang mengandung ekstrak gentian (bereaksi asam) apabila bertemu dengan ferrum reductum, ferrum pulveratum, natrium karbonat, natrium bikarbonat akan melepaskan gas H2. Gas ini dapat menyebabkan pil menggelembung dan pecah. Hal ini dapat diatasi dengan dengan penambahan MgO untuk menetralkan sifat asamnya sebanyak 100mg tiap 3 gram ekstrak gentian. c. Pil yang mengandung garam ferro harus dilapisi dengan balsem tolu untuk mencegah oksidasi oleh udara. d. Pil dengan liquor fowleri tidak boleh diganti dengan As2O3 yang telah diperhitungkan. e. Pil yang mengandung sari-sari cair dalam jumlah kecil dapat digunakan PPP sebagai bahan pengisi dan pengikatnya. Sari cair dapat menggantikan fungsi aqua gliserinata sebagai zat pembasah. Dalam jumlah besar, sari cair diuapkan dan ditambah radix liq secukupnya atau diganti dengan sisa keringnya. Gambar 4.4 Alat Untuk Membuat Pil Sumber : https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Pillenplank.jpg D. Persyaratan Pil Persyaratan sediaan pil yang tercantum pada Farmakope Indonesia edisi III adalah sebagai berikut : 1. Waktu hancur Sediaan pil juga harus memenuhi syarat waktu hancur seperti sediaan tablet. Uji ini dilakukan dengan bantuan alat disintegration tester. Pil bersalut enterik yang akan diuji waktu hancurnya direndam terlebih dahulu dalam larutan HCl 0,06 N selama 3 jam, lalu dipindahkan dalam larutan dapar pH 6,8 dengan suhu 36-38o C. Syarat untuk pil tidak bersalut harus dapat hancur dalam waktu 15 menit, sedangkan untuk pil bersalut dalam waktu 60 menit.


72 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN 2. Keseragaman bobot Uji ini dilakukan dengan cara menimbang satu persatu sebanyak 20 pil dan menghitung rata-ratanya. Kemudian menganalisis penyimpangan terhadap bobot rata-rata tersebut. Penyimpangan terbesar yang diperbolehkan adalah sebagai berikut : Tabel 4.1 Syarat bobot rata-rata pil Sumber : Moh. Anief, 2000 (Gadjah Mada University Press) Bobot rata-rata Pennyimpangan terbesar terhadap bobot rata-rata yang diperbolehkan (%) 18 pil 2 pil 100 mg – 250 mg 10 % 20 % 251 mg – 500 mg 7,5 % 15 % 3. Kondisi penyimpanan Bentuk pil harus tetap sama dan stabil pada penyimpanan, tidak boleh hancur ataupun semakin keras. Cara penyimpanan pil sama seperti cara penyimpanan tablet, yaitu di dalam wadah yang kering, tertutup rapat dan terlindung dari cahaya matahari langsung. LEMBAR PRAKTIKUM dr. Heri Mangkubumi SIP.: No.169/DS-06/10.V/2012 Rumah : Praktik : Jl. Pemuda No. 23 Magelang RS. Harapan Telp. Jl. Panembahan Senopati, Magelang R/ Argenti nitras 0,05 SL qs mf pil dtd no. XX S3 dd pil I Pro : Tika (29th) 1. Kelengkapan Resep 2. Obat Tidak Tercampur 3. Dosis Maksimum 4. Penimbangan Bahan


73 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS JELAJAH INTERNET Nama Bahan Jumlah ED 5. Cara Kerja Etiket dan Label Etiket Putih KOP APOTEK LABEL No. Tanggal Nama Pasien Signa CONTOH SOAL R/ KI 1,5 Luminal 1 Mf pil no XL S2 dd pil I Pro : Linda Hitunglah jumlah bahan yang dibutuhkan serta bagaimana cara pembuatan pil dalam resep tersebut ? Jawab : Pil yang mengandung KI (Kalium Iodida) dibuat dengan ketentuan 10 gram KI membutuhkan 3 gram PPP (pulvis pro pilulae). Jika digunakan 1,5 gram KI, maka dibutuhkan PPP sebanyak Jumlah 450 mg PPP terdiri atas radix liquiritiae 225 mg dan succus liquiritiae 225 mg. Cara pembuatannya adalah KI digerus dan ditambahkan radix liquiritiae sebagian, luminal, dan sisa radix liquiritiae aduk hingga homogen. Kemudian ditambahkan


74 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN CONTOH SOAL succus liquiritiae aduk hingga homogen. Tambahkan aqua gliserinata perlahanlahan, aduk hingga terbentuk massa pil yang baik. Cetak menjadi 40 pil dengan likopodium sebagai bahan penabur. CAKRAWALA Food and Drug Administration (FDA) amerika pada tahun 2017 telah menyetujui izin produksi pil digital pertama di dunia. Disebut pil digital karena pil ini berisi sensor pelacak yang berfungsi untuk memastikan pasien telah meminum obat tersebut. Pil tersebut diberi nama Abilify MyCite, pil yang dilengkapi dengan sensor yang dapat terkoneksi dengan plester khusus yang ditempelkan pada kulit pasien. Plester tersebut akan mengirimkan sinyal dan pesan data obat ke dalam aplikasi smartphone secara langsung untuk dokter atau keluarga yang ingin memantau penggunaan obat oleh pasien. Pil ini memiliki sensor dengan ukuran kecil seperti pasir yang terbuat dari silikon, tembaga, dan magnesium. Sinyal akan aktif saat sensor terkena asam lambung dan melewati usus. Plester yang ditempel di bagian tulang rusuk sebelah kiri akan menerima sinyal tersebut dan mengirimkan data ke aplikasi khusus yang telah diinstal di smartphone. Data yang diterima pada smartphone dokter atau keluarga dapat berupa kapan waktu pil dikonsumsi, dosis yang diperlukan, dan lain-lain. Plester harus diganti satu kali seminggu agar tidak menyebabkan iritasi pada kulit. Meski pil digital ini diklaim dapat menjadi salah satu solusi untuk memantau kepatuhan pasien dalam minum obat dengan benar, akan tetapi beberapa pihak menilai penggunaan pil ini dapat mengganggu privasi pasien, karena pasien akan merasa “terhukum” bila tidak teratur saat minum obat. Gambar 4.5 Pil Digital Sumber: https://www.medgadget.com/2012/07/proteusingestible-sensor-for-tracking-medication-intake-receives-fdaclearance.html


75 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS JELAJAH INTERNET Untuk menambah wawasan lebih jauh mengenai pembuatan sediaan obat dalam bentuk pil, teman-teman dapat mempelajari secara mandiri dengan membuka internet. Di internet kalian dapat memperoleh materi tentang konsepkonsep tersebut. Salah satu website yang dapat kalian kunjungi untuk menambah wawasan dan pemahaman kalian tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk pil adalah sebagai berikut: https://www.slideshare.net/AbnerDSboyz/ pill-15276688 atau dengan menggunakan QR code berikut : RANGKUMAN Pil adalah sediaan yang berupa massa bulat atau bundar seperti bola dan mengandung satu atau lebih bahan obat. Bobot pil berkisar antara 20mg hingga 500mg. Secara umum, komposisi pil terdiri dari : 1. Zat utama / berkhasiat 2. Zat pengisi yang berfungsi menambah volume massa pil 3. Zat pengikat yang berfungsi membuat massa saling melekat 4. Zat penabur agar massa pil tidak melekat pada alat pencetak 5. Zat penyalut untuk menutup rasa atau bau yang kurang menyenangkan 6. Zat pembasah yang berfungsi untuk membasahi massa sebelum dibentuk Pil yang berkualitas harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1. Memiliki waktu hancur selama 15 menit untuk pil tidak bersalut dan 60 menit untuk pil bersalut 2. Memenuhi keseragaman bobot 3. Bentuk dan konsistensi pil harus tetap dan stabil dalam penyimpanan Pada umumnya pembuatan pil dilakukan dengan cara mencampurkan bahanbahan obat padat hingga homogen, lalu ditambah zat tambahan lain seperti zat pembasah hingga diperoleh massa pil yang baik, kemudian ditambah zat pelicin agar massa pil tidak menempel pada alat pembuat pil. Langkah selanjutnya adalah massa pil tersebut dibuat bentuk batang dan dipotong menggunakan alat pemotong pil sesuai jumlah yang diminta, kemudian massa pil dibuat bentuk seperti bola (membulat) menggunakan alat pembuat pil.


76 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN TUGAS MANDIRI Tugas para siswa adalah menemukan 5 contoh jenis sediaan obat pil yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tuliskan masing-masing nama obat tersebut dan dikelompokkan berdasarkan jenisnya (pil, boli, atau granul), selanjutnya sebutkan khasiatnya. No Nama obat Jenis Pil Khasiat 1 2 3 4 5 PENILAIAN AKHIR BAB Kerjakan soal dibawah ini dengan baik dan benar ! 1. Jelaskan pengertian sediaan pil ! 2. Jelaskan komponen apa saja yang terdapat dalam sediaan pil ! 3. Jelaskan prinsip pembuatan sediaan pil secara umum ! 4. Sebutkan apa saja persyaratan pil ! 5. Jelaskan bagaimana pembuatan pil dengan kandungan garam ferro ! 6. Gom akasia dapat digunakan sebagai zat tambahan pada proses pembuatan pil yang berfungsi sebagai .... 7. Radix liquiritiae merupakan zat tambahan pada proses pembuatan pil yang berfungsi sebagai .... 8. Waktu hancur yang dipersyaratkan untuk pil bersalut adalah selama .... 9. Jumlah penyimpangan terbesar yang diperbolehkan terhadap bobot ratarata dalam keseragaman bobot pil 300 mg adalah sebesar .... 10. Pil dengan bobot lebih dari 500 mg disebut .... REFLEKSI Setelah mempelajari bab keempat tentang sediaan pil, Anda tentu menjadi paham mengenai konsep dasar tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk pil. Dari semua materi yang sudah dijelaskan pada bab keempat ini, mana yang menurut Anda paling sulit dipahami? Coba Anda diskusikan dengan teman maupun guru Anda.


77 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI BAB V PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK SUPPOSITORIA PETA KONSEP BAB V PEMBUATAN SEDIAAN OBAT DALAM BENTUK SUPPOSITORIA Setelah mempelajari tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk suppositoria, peserta didik diharapkan mampu (1) memahami definisi dan macam-macam suppositoria; (2) menjelaskan keuntungan sediaan suppositoria; (3) menjelaskan tujuan penggunaan suppositoria; (4) menjelaskan bahan dasar suppositoria; (5) menjelaskan metode pembuatan suppositoria; dan (6) menjelaskan pemeriksaan mutu sediaan suppositoria. PEMBUATAN SEDIAAN SUPPOSITORIA Definisi Suppositoria, ovula, bacilla, bougies, rektal , oleum cacao Macam-macam Suppositoria Keuntungan Suppositoria Rektal Suppositoria Vaginal Suppositoria Urethral Suppositoria Menggunakan tangan Menggunakan Cetakan Menggunakan Kompresi Tujuan Penggunaan Suppositoria Bahan Dasar Suppositoria Prosedur Pembuatan Suppositoria Pengemasan Suppositoria Pemeriksaan Mutu


78 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari-hari, obat umumnya digunakan dengan cara diminum dan dioleskan pada kulit. Pada bab ini kita akan mengenal suatu sediaan yang digunakan pada jalur selain saluran pencernaan dan kulit. Suppositoria adalah salah satu sediaan obat yang beredar di pasaran dengan bentuk seperti peluru dan digunakan pada rektal, vaginal, maupun urethtra. Gambar 5.1 Sediaan Suppositoria Sumber : https://www.medkes.com/201410/pengertian-suppositoria-dan-cara-menggunakannya.html


79 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN A. Definisi Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk yang diberikan melalui rektal, vagina, atau uretra. Sediaan ini umumnya meleleh, melunak, atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria dapat digunakan untuk melindungi jaringan setempat, atau sebagai media pembawa zat terapeutik yang bersifat lokal maupun sistemik. Bentuk suppositoria dibuat sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dengan nyaman, mudah dimasukkan ke dalam tempat yang diinginkan, dan dapat mengeluarkan zat berkhasiat yang dibawa masuk ke dalam tubuh. Pada saat dimasukkan ke dalam tempat yang diinginkan, suppositoria akan meleleh, melunak, atau melarut menyebarkan zat berkhasiat yang dibawa ke dalam jaringan. Obat ini akan ditahan dalam tempat tersebut untuk efek kerja lokal, atau dapat pula diabsorbsi untuk mendapatkan efek sistemik. B. Macam-macam Suppositoria Berdasarkan bentuk dan tempat penggunaannya, suppositoria dikelompokkan menjadi : 1. Rektal suppositoria Secara umum sering disebut suppositoria saja. Suppositoria ini berbentuk seperti peluru atau torpedo dan penggunaannya adalah dimasukkan ke dalam anus atau dubur. Bobot suppositoria ini kurang lebih 2 gram. Kelebihan suppositoria berbentuk torpedo ini adalah apabila bagian ujung yang besar masuk ke dalam dubur atau anus, maka suppositoria akan masuk secara cepat dan mudah dengan sendirinya. Gambar 5.2 Rektal Suppositoria Sumber : http://klikfarmasi.com/artikel-ilmiah/mengenal-sediaan-supositoria-dan-cara-pembuatannya/ 2. Vaginal Suppositoria Suppositoria ini memiliki nama lain ovula. Suppositoria ini umumnya berbentuk bola lonjong menyerupai telur, lebih pendek, mudah melunak dan meleleh pada suhu tubuh, dapat melarut dan digunakan pada vagina. Bobot ovula adalah kurang lebih 5 gram. Suppositoria kempa atau suppositoria sisipan adalah ovula yang berupa massa serbuk dan dibuat dengan cara dikempa, atau dengan cara dimasukkan


80 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN ke dalam kapsul gelatin lunak sesuai bentuk yang diinginkan. Vaginal suppositoria atau ovula ini memiliki bahan dasar yang dapat larut atau bercampur dengan air seperti PEG, gelatin tergliserinasi (70 bagian gliserin, 20 bagian gelatin, dan 10 bagian air), dan lain-lain. Ovula harus disimpan dalam wadah tertutup rapat dengan suhu dibawah 35oC. Gambar 5.3 Ovula Sumber : https://www.farmasi.asia/sudahkah-anda-mengenal-ovula/ 3. Urethral Suppositoria Suppositoria ini dikenal juga dengan istilah bacilla, bougies. Penggunaan suppositoria ini adalam melalui uretra atau saluran urin pria/wanita. Suppositoria ini umumnya berbentuk panjang seperti pensil yang berukuran 7-14 cm. Suppositoria untuk saluran urin pria berdiameter 3-6 mm dengan panjang 140 mm dan beratnya adalahh 4 gram. Sedangkan suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan beratnya setengah dari ukuran suppositoria pria, yaitu panjan 70 mm dan beratnya 2 gram. Gambar 5.4 Urethra Suppositoria Sumber : Nuryanti dkk, 2016


81 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN C. Keuntungan Suppositoria Dibandingkan dengan sediaan obat lainnya terutama peroral, suppositoria memiliki beberapa kentungan, antara lain : 1. Mencegah terjadinya iritasi lambung pada pemakaian obat 2. Mencegah rusaknya obat akibat kontak dengan asam lambung atau enzym pada saluran pencernaan 3. Efek obat relatif lebih cepat dibandingkan dengan sediaan peroral karena langsung masuk ke dalam saluran darah 4. Cocok digunakan untuk pasien yang tidak bisa mengkonsumsi obat peroral akibat mual muntah atau tidak sadar D. Tujuan Penggunaan Suppositoria Sediaan obat dalam bentuk suppositoria digunakan untuk tujuan berikut : 1. Suppositoria dapat digunakan untuk tujuan pengobatan lokal, seperti anti hemoroid, atau penyakit-penyakit infeksi pada area rektal, vaginal, dan urethra 2. Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan pengobatan sistemik. Dalam hal ini yang sering digunakan adalah sediaan pada rektal, karena area tersebut memiliki membran mukosa yang dapat mengabsorbsi obat ke dalam saluran darah 3. Suppositoria dapat digunakan sebagai alternatif pemakaian obat pada pasien yang sukar menelan obat, seperti pasien tidak sadar, pasien mual muntah 4. Untuk mendapatkan aksi obat yang lebih cepat, karena obat dapat langsung diabsorbsi melalui membran mukosa pada rektal 5. Suppositoria digunakan untuk menghindari kerusakan obat oleh asam lambung dan enzim pencernaan, serta perubahan metabolisme obat secara biokimia di dalam hati E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Absorbsi Obat Per Rektal Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi absorbsi obat dalam bentuk suppositoria yang digunakan melalui rektal, antara lain : 1. Faktor fisiologis Rektum manusia panjangnya sekitar 15-20 cm. Pada saat kolon dalam keadaan kosong, rektum hanya mengandung 2-3 ml cairan mukosa yang inert. Cairan tersebut memiliki pH kurang lebih 7,2 dan kapasitas daparnya rendah. Struktur epitel pada rektum cenderung berlemak, sehingga lebih permeabel pada obat-obat yang tidak terionisasi atau obat yang mudah larut dalam lemak. 2. Faktor fisika dan kimia Faktor fisika kimia dari obat atau zat aktif seperti kelarutan relatif obat dalam lemak dan air serta ukuran partikel dari obat yang akan diabsorbsi. Sedangkan faktor fisika kimia dari basis suppositoria meliputi kemampuannya melebur, melunak, mencair, atau melarut di dalam tubuh, kemampuannya dalam melepaskan bahan obat dan sifat hidrofilik dan hidrofobiknya.


82 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN a. Kelarutan obat Obat yang larut dalam lemak akan lebih cepat diabsorbsi pada rektal daripada obat yang larut dalam air b. Kadar obat dalam basis Semakin tinggi kadar obat, maka absorbsinya juga akan semakin cepat c. Ukuran partikel Semakin kecil ukuran partikel, maka semakin mudah partikel tersebut diabsorbsi pada rektal. d. Basis suppositoria Bahan dasar suppositoria harus dapat segera mencair, melunak atau melarut agar dapat melepaskan zat aktif atau obat yang terkandung di dalamnya dan segera diabsorbsi. Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak akan segera dilepaskan ke dalam cairan rektal apabila basis tersebut cepat melebur setelah masuk ke dalam rektum. Obat akan segera diabsorbsi dan aksi kerja awal obat akan segera dihasilkan. Sedangkan pada obat yang larut dalam air dan berada pada basis larut air pula, maka aksi kerja awal obat baru akan dimulai jika basis sudah melunak atau melarut dalam air dan obat dapat berpindah ke cairan rektal. F. Bahan Dasar Suppositoria Bahan dasar atau basis suppositoria memiliki peran yang sangat penting dalam hal mendukung pelepasan obat yang dikandungnya. Oleh karena itu, sedapat mungkin basis suppositoria harus berbentuk padat pada suhu ruangan tetapi segera melunak, melebur, atau larut dengan mudah di dalam rektal/ suhu tubuh sehingga obat yang terkandung di dalam suppositoria dapat segera dilepaskan dan diabsorbsi oleh rektum. Basis suppositoria yang baik harus memiliki sifat berikut : 1. Berupa massa padat pada suhu kamar sehingga mudah dibentuk dan digunakan, tetapi dapat melunak atau mencair pada suhu rektal dan dapat bercampur dengan cairan tubuh 2. Bersifat inert, tidak berkhasiat, tidak beracun, dan tidak menyebabkan iritasi 3. Dapat bercampur dengan obat/zat berkhasiat 4. Pada penyimpanan bersifat stabil, tidak terjadi perubahan bentuk, konsistensi, warna, bau, dan pemisahan obat 5. Memiliki kadar air yang cukup 6. Untuk basis berlemak, bilangan asam, bilangan iodium, dan bilangan penyabunan harus jelas. Bahan dasar suppositoria dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan sifat fisiknya, yaitu : 1. Basis bersifat minyak atau berlemak Bahan dasar ini contohnya adalah oleum cacao atau lemak coklat. Basis ini paling banyak dipakai karena sifatnya yang mudah mencair pada suhu tubuh. Lemak coklat merupakan lemak yang diperoleh dari biji Theobroma cacao yang telah dipanggang. Warna oleum cacao pada suhu kamar adalah putih kekuningan, sedikit redup, memiliki aroma seperti coklat. Struktur


83 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN kimianya merupakan trigliserida (campuran gliserin dan asam lemak yang berbeda). Oleum cacao meleleh pada suhu antara 34-36oC. Pada suhu dibawah 30oC merupakan massa padat. oleh karena salah satu sifat oleum cacao yang mudah tengik maka suppositoria ini harus disimpan dalam wadah yang kering, sejuk, dan terlindung dari cahaya. Gambar 5.5 Oleum Cacao Sumber : https://hellosehat.com/hidup-sehat/kecantikan/manfaat-cocoa-butter/ Kandungan trigliserida yang terdapat pada oleum cacao jika terpapar suhu yang terlalu tinggi diatas titik leburnya dapat menunjukkan sifat polimorfisme, yaitu dapat terbentuk dalam berbagai bentuk kristal. Diatas titik leburnya, oleum cacao dapat meleleh seluruhnya menjadi minyak, hal ini menyebabkan oleum cacao kehilangan inti kristalnya dan membentuk kristal metastabil, yaitu bentuk kristal yang memiliki titik lebur dibawah titik lebur asalnya. Titik lebur ini mungkin terlalu rendah sehingga oleum cacao tidak dapat menjadi padat kembali pada suhu ruangan. Bentukbentuk kristal tersebut adalah : a. Bentuk kristal α (alfa), merupakan kristal yang terjadi karena lelehan oleum cacao didinginkan dengan segera pada suhu 0oC sehingga titik leburnya berubah menjadi 22-24oC b. Bentuk kristal β (beta), merupakan kristal yang terjadi karena lelehan oleum cacao diaduk-aduk pada suhu 18-23oC sehingga titik leburnya berubah menjadi 28-31oC c. Bentuk kristal β stabil (beta stabil), merupakan kristal yang terjadi dari perubahan perlahan-lahan bentuk dan kontraksi volume sehingga titik leburnya berubah menjadi 34-35oC d. Bentuk kristal γ (gamma), merupakan kristal yang terjadi karena pendinginan lelehan oleum cacao yang sudah terlanjur dingin (20oC) sehingga titik leburnya berubah menjadi 18oC


84 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN Untuk menghindari bentuk-bentuk kristal yang tidak stabil tersebut, dapat dilakukan beberapa cara yaitu : a. Dalam pembuatan suppositoria, oleum cacao tidak dilelehkan seluruhnya, tetapi hanya 2/3 saja yang dilelehkan dan sisanya tetap dalam keadaan padat b. Menambahkan sedikit bentuk kristal stabil ke dalam lelehan oleum cacao untuk mempercepat perubahan bentuk tidak staabil menjadi bentuk stabil c. Lelehan oleum cacao dibekukan selama beberapa jam atau hari d. Pemanasan oleum cacao sebaiknya dilakukan hingga cukup meleleh saja dan mudah dituang, sehingga tetap mengandung inti kristal dari bentuk stabil Untuk menaikkan titik lebur oleum cacao dapat dilakukan dengan penambahan cera atau cetaceum (spermaseti). Cera flava yang ditambahkan tidak boleh lebih dari 6% karena akan menghasilkan campuran yang memiliki titik lebur 37oC, dan tidak boleh kurang dari 4% karena akan menghasilkan campuran dengan titik lebur dibawah 33oC. Jika bahan obat yang akan dibuat suppositoria merupakan larutan dalam air, perlu diingat bahwa oleum cacao hanya dapat menyerap sedikit air, penambahan cera flava juga dapat meningkatkan daya serap oleum cacao terhadap air. Untuk menurunkan titik lebur oleum cacao yang terlalu tinggi dapat menggunakan kloralhidrat, fenol, atau minyak atsiri dalam jumlah kecil. Oleum cacao dapat meleleh pada suhu tubuh dan tidak dapat bercampur dengan cairan tibuh, sehingga dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati. Oleum cacao jarang digunakan untuk sediaan ovula pada vagina karena dapat meninggalkan sisa atau residu yang tidak dapat diserap. Suppositoria dengan basis oleum cacao dapat dibuat dengan cara mencampurkan bahan obat yang telah dihaluskan ke dalam minyak lemak padat pada suhu kamar kemudian dicetak, atau dibuat dengan cara melebur oleum cacao bersama bahan obat kemudian dibiarkan hingga dingin di dalam cetakan. Suppositoria yang dihasilkan harus disimpan dalam wadah tertutup baik pada suhu dibawah 30oC. Dalam pembuatan suppositoria dengan bahan dasar oleum cacao sebaiknya dihindari pemakaian air sebagai pelarut bahan obat, hal ini dikarenakan beberapa sebab yaitu : a. Menimbulakn reaksi antara beberapa bahan obat yang terkandung di dalam suppositoria b. Menyebabkan oleum cacao cepat berbau tengik c. Jika airnya menguap, maka bahan obat tersebut akan mengkristal dan memisah pada suppositoria Terdapat beberapa kekurangan oleum cacao sebagai basis suppositoria antara lain : a. Dapat meleleh pada udara panas, maka harus berhati-hati terutama pada saat distribusi b. Pada penyimpanan yang lama dapat berubah menjadi tengik, terutama bila suhu atau kondisi penyimpanan tidak sesuai


85 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN c. Memiliki sifat polimorfisme d. Titik lebur oleum cacao dapat turun atau naik dengan penambahan zat tertentu e. Pada saat pemakaian membutuhkan posisi yang tepat, karena dapat keluar dari rektum akibat langsung mencair pada suhu tubuh f. Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi Oleh karena terdapat beberapa kekurangan oleum cacao diatas, maka beberapa industri farmasi mencari alternatif pengganti oleum cacao sebagai basis suppositoria, antara lain : a. Campuran asam oleat dengan asam stearat dengan perbandingan tertentu b. Campuran cetil alkohol dengan oleum amygdalarum dengan perbandingan 17:83 c. Sediaan oleum cacao sintesis, seperti Coa buta, supositol 2. Basis yang larut dalam air atau dapat bercampur dengan air Bahan dasar ini contohnya PEG, campuran gelatin-gliserin. Basis ini memiliki titik lebur 35-63oC. Basis ini tidak meleleh pada suhu tubuh, tetapi dapat larut dalam cairan sekresi tubuh. Oleh karena itu formulasi suppositoria dengan basis ini tidak membutuhkan kondisi khusus terkait suhu pencampuran maupun suhu penyimpanan. Gambar 5.6 Poli Etilen Glikol Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Polyethylene_glycol Polietilen glikol (PEG) adalah polimer dari etilen oksida dan air, dibuat menjadi bermacam-macam panjang rantainya. Senyawa ini tersedia dalam beberapa berat molekul yang berbeda, yang paling banyak dijumpai atau tersedia adalah PEG 200. 400, 600, 1000, 1500, 3350, 4000, dan 6000. Pemberian nomor menunjukkan berat molekul rata-rata dari masing-masing polimernya. PEG yang memiliki berat molekul 200, 400, 600 merupakan cairan bening tidak berwarna, sedangkan yang memiliki berat molekul diatas 1000 berupa lilin putih, padat lunak, kepadatannya bertambah dengan bertambahnya berat molekul. Beberapa jenis PEG lebih dari satu berat molekul dapat digabung dengan cara melebur untuk memperoleh basis suppositoria yang diinginkan.


86 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN Formula yang sering dipakai adalah campuran PEG 4000 dan PEG 1000 dengan perbandingan 25:75 (bahan dasar tidak berair), campuran PEG 1540, PEG 6000, dan larutan obat dengan perbandingan 30:50:20 (bahan dasar berair). PEG sangat cocok untuk obat antiseptik lokal. Bila diharapkan bekerja secara sistemik, maka lebih baik menggunakan bentuk ionik daripada non ionik agar memperoleh bioavaibilitas (ketersediaan hayati) yang optimal. Meskipun bentuk non ionik dapat dilepaskan dari basis yang dapat bercampur dengan air seperti gelatin tergliserinasi atau PEG, tetapi relatif sangat lambat larut sehingga dapat menghambat pelepasan obat. Terdapat beberapa keuntungan suppositoria dengan basis PEG adalah sebagai berikut : a. Tidak ada aturan mengenai titik leburnya, karena sifatnya yang dipakai adalah dapat larut dalam cairan sekresi b. Tidang mengiritasi atau merangsang rektum c. Dapat dismpan diluar lemari es d. Dapat tetap kontak dengan lapisan mukosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh e. Tidak mudah bocor atau meleleh keluar dari rektum seperti oleum cacao Apabila suppositoria dengan PEG tidak mengandung 20% air untuk mencegah rangsangan membran mukosa, maka suppositoria tersebut harus dicelupkan ke dalam air terlebih dahulu sebelum digunakan untuk mencegah ditariknya cairan dari jaringan tubuh saat dipakai dan terjadi rasa menyengat. Pada etiket suppositoria basis ini harus tertulis ” Basahi dengan air sebelum digunakan”. Suppositoria dengan bahan dasar gelatin-gliserin sangat cocok digunakan dalam pembuatan suppositoria vagina karena memang diharapkan efek yang panjang pada tempat aksi obat. Basis gelatin gliserin lebih lambat melunak dan bercampur dengan cairan tubuh daripada oleum cacao, oleh karena itu waktu pelepasan bahan obat relatif lama. Gelatin gliserin bersifat higroskopis, yaitu menyerap uap air yang ada di sekitarnya, oleh karena itu basis ini harus dilindungi dari udara lembab agar terjaga bentuk dan konsistensi suppositorianya. Suppositoria dengan basis ini juga perlu dibasahi dengan air sebelum pemakaiannya untuk menghindari ditariknya cairan dari jaringan tubuh saat dipakai, sama halnya dengan basis PEG. Suppositoria dengan basis gelatin-gliserin sebaiknya ditambahkan bahan pengawet seperti nipagin karena bahan dasar ini merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Suppositoria saluran urin (urethra) juga dibuat dengan basis gelatin gliserin dengan formula gelatin, gliserin, dan larutan obat (obat dan air) dengan perbandingan 60:20:20. Suppositoria saluran urin dengan basis ini lebih mudah dimasukkan daripada basis oleum cacao, karena kerapuhan oleum cacao dan cepatnya melunak pada suhu tubuh.


87 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN 3. Basis dasar lain Bahan dasar ini merupakan kombinasi dari bahan emulgator atau hidrofiliklipofilik. Contohnya adalah campuran tween 61 dan gliserin laurat dengan perbandingan 85:15. Bahan dasar ini merupakan pembentuk emulsi w/o. Bahan dasar ini dapat menahan air atau larutan berair. Berat suppositoria dengan bahan dasar ini 2,5 gram. Gambar 5.7 Gliserin gel Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Glycerol Gambar 5.8 Suppositoria Gliserin Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Glycerol


Click to View FlipBook Version