The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by E_BOOK SMK BATIK 1 SURAKARTA, 2023-01-27 00:45:14

PELAYANAN KEFARMASIAN JILID 1

Program Keahlian Farmasi
Jilid 1

Keywords: Farmasi

88 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN G. Prosedur Pembuatan Suppositoria Sediaan suppositoria secara umum dapat dibuat dengan 3 metode yaitu menggunakan cetakan, menggunakan kompresi, dan menggulung serta membentuk dengan tangan. 1. Dengan cetakan Metode ini menggunakan alat cetakan suppositoria yang terbuat dari besi dan dilapisi nikel atau dari bahan logam lainnya. Alat cetakan suppositoria mula-mula dibasahi terlebih dahulu dengan parafin cair bila memakai bahan dasar gelatin gliserin, akan tetapi jika suppositoria yang akan dibuat menggunakan bahan dasar oleum cacao atau PEG tidak perlu dibasahi terlebih dahulu, karena dapat menyebabkan suppositoria menjadi mengerut pada saat pendinginan dan terlepas dari cetakan. 2. Dengan kompresi Metode ini menggunakan alat dengan sistem tekanan. Pada metode ini, proses penuangan massa suppositoria, pendinginan dan pelepasan suppositoria dilakukan dengan mesin secara otomatis. Kapasitas mesin dapat menghasilkan suppositoria sebanyak 3500-6000 tiap jam. 3. Dengan tangan Metode ini digunakan pada pembuatan suppositoria dengan bahan dasar oleum cacao dan untuk skala kecil, serta untuk bahan obat yang tidak tahan panas. Metode ini tidak cocok dilakukan pada wilayah dengan iklim panas. Oleh karena sudah adanya cetakan dalam pembuatan suppositoria dengan bermacam-macam ukuran dan bentuk, maka pembuatan suppositoria dengan tangan oleh ahli farmasi sekarang rasanya sudah hampir tidak pernah dilakukan, akan tetapi metode melinting dan membentuk suppositoria dengan tangan merupakan bagian dari sejarah seni para ahli farmasi. Metode yang sering dan lazim digunakan baik dalam skala kecil maupun industri adalah metode pencetakan. Pembuatan suppositoria dengan metode ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Memilih bahan dasar yang cocok untuk tujuan pemberian suppositoria, baik yang dapat meleleh pada suhu tubuh maupun yang dapat larut dalam cairan yang ada di dalam rektum 2. Bahan obat dilarutkan denga basis suppositoria, bila perlu dengan pemanasan 3. Apabila bahan obat sukar larut dalam basis suppositoria, maka bahan obat tersebut dibuat serbuk halus terlebih dahulu 4. Massa campuran bahan obat dan basis suppositoria dicampurkan hingga homogen dalam bentuk cairan, dituang ke dalam cetakan suppositoria kemudian didinginkan 5. Cetakan suppositoria terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau dari logam lain yang cocok, tetapi ada juga yang menggunakan campuran plastik. Cetakan sebaiknya mudah dibuka secara longitudinal atau memanjang untuk dapat mengeluarkan suppositoria dengan mudah 6. Cetakan untuk bacilla dapat menggunakan tube kaca atau gulungan kertas dengan ukuran tertentu


89 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN 7. Formula suppositoria yang akan dibuat sebaiknya dilebihkan sebanyak 10% untuk mengatasi massa suppositoria yang hilang akibat melekat pada alat cetakan. 8. Parafin cair dapat digunakan untuk melapisi cetakan suppositoria dengan basis gelatin gliserin, atau dapat pula digunakan spiritus saponatus (soft soap liniment) sebagai pelapis cetakan, kecuali untuk suppositoria yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabun dan sebagai gantinya dapat digunakan oleum ricini (minyak jarak) dalam etanol. 9. Suppositoria dengan basis oleum cacao dan PEG tidak perlu diberi pelicin pada cetakannya karena pada proses pendinginan bahan dasar tersebut dapat mengerut, sehingga suppositoria akan mudah lepas dari cetakannya. Gambar 5.9 Alat Cetak Suppositoria Sumber : https://id.quora.com/Bagaimana-penggunaan-supositoria-dalam-dunia-medis-Indonesia/ H. Pengemasan Suppositoria Suppositoria dengan basis gelatin gliserin disimpan dalam wadah gelas yang tertutup rapat agar dapat mencegah terjadinya kelembaban pada suppositoria. Sedangkan untuk suppositoria dengan basis oleum cacao dibungkus terpisahpisah atau dipisahkan satu sama lain untuk mencegah terjadinya hubungan antar suppositoria menjadi melekat atau menempel. Suppositoria yang mengandung bahan obat pekat biasanya juga dikemas terpisah satu persatu dengan bahan tidak tembus cahaya seperti alumunium foil. Secara umum, suppositoria bersifat tidak tahan panas, maka dalam penyimpanan juga harus diperhatikan suhunya agar tidak merusak bahan obat maupun basis. Suppositoria harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat yang sejuk.


90 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN I. Pemeriksaan Mutu Suppositoria Setelah suppositoria dicetak, untuk memastikan mutu yang dihasilkan berkualitas baik dan dapat layak untuk digunakan, maka dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : 1. Melakukan uji penetapan kadar zat aktif yang disesuaikan dengan yang tertera pada etiketnya 2. Melakukan uji titik lebur, terutama untuk suppositoria dengan basis oleum cacao 3. Melakukan uji kerapuhan, untuk mencegah suppositoria rusak atau rapuh pada saat proses distribusi 4. Melakukan uji waktu hancur, syarat waktu hancur suppositoria dengan basis oleum cacao adalah 3 menit, sedangkan basis PEG adalah 15 menit 5. Melakukan uji homogenitas


91 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS LEMBAR PRAKTIKUM dr. Heri Mangkubumi SIP.: No.169/DS-06/10.V/2012 Rumah : Praktik : Jl. Pemuda No. 23 Magelang RS. Harapan Telp. Jl. Panembahan Senopati, Magelang R/ Ketoprofen 0,05 Ol. cacao qs mf supp dtd no. V S2 dd supp I Pro : zafran (14th) 1. Kelengkapan Resep ............................................................................................................................. ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ................... 2. Obat Tidak Tercampur ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............... 3. Dosis Maksimum ............................................................................................................................. ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ...................


92 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN LEMBAR PRAKTIKUM 4. Penimbangan Bahan Nama Bahan Jumlah ED 5. Cara Kerja .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. ............................. 6. Etiket dan Label Etiket Putih KOP APOTEK LABEL No. Tanggal Nama Pasien Signa


93 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS CONTOH SOAL R/ Ibuprofen 0,2 Oleum Cacao 1,8 Mf supp dtd no III S3 dd supp I Pro : Syifa Hitunglah jumlah bahan yang dibutuhkan serta bagaimana cara pembuatan suppositoria dalam resep tersebut ? Jawab : Seluruh bahan dilebihkan 10% untuk mencegah kehilangan obat akibat proses pembuatan dan pencetakan Nama Bahan Jumlah ED Ibuprofen 0,2 + 10% = 0,22 gram Oleum Cacao 1,8 + 10% = 1,98 gram Cera flava 4% x 1,98 = 0,079 gram Cara Kerja : 1. Ambil dan timbang bahan-bahan yang diperlukan 2. Masukkan 2/3 oleum cacao ke dalam cawan dan panaskan hingga meleleh di atas penangas air 3. Gerus ibuprofen hingga halus pada mortir 4. Tambahkan sisa oleum cacao dan cera flava ke dalam cawan segera dan diaduk 5. Tambahkan ibuprofen ke dalam capuran basis di atas penangas dan segera diaduk homogen 6. Angkat cawan dari penangas air, diamkan sekitar 5 detik dan masukkan massa ke dalam cetakan suppositoria 7. Diamkan terlebih dahulu pada suhu kamar sekitar 1 menit dan masukkan alat cetakan tersebut ke dalam kulkas 8. Tunggu selama 2-3 jam hingga suppositoria padat di dalam kulkas. 9. Keluarkan suppositoria dari cetakan dan timbang berat suppositoria tersebut 10. Potong suppositoria sedikit hingga beratnya mencapai 2 gram 11. Masukkan ke dalam wadah alumunium foil


94 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN CAKRAWALA Tips Cara Penggunaan Suppositoria Berikut akan dijelaskan langkah atau cara menggunakan suppositoria rektal yang benar agar dapat menghasilkan efek terapi yang maksimal. 1. Cucilah tangan terlebih dahulu 2. Pastikan suppositoria yang akan digunakan memiliki konsistensi yang padat sebelum digunakan. Jika konsistensinya agak lunak, maka masukkanlah ke dalam lemari es terlebih dahulu 3. Buka bungkus atau kemasan alumunium suppositoria 4. Gunakan dosis sesuai anjuran oleh dokter atau apoteker 5. Lebih baik gunakan sarung tangan 6. Lumasi ujung suppositoria dan dubur dengan air hangat 7. Posisikan badan miring dengan kaki bagian bawah lurus sedangkan kaki bagian atas ditekuk ke arah depan perut 8. Masukkan suppositoria ke dalam dubur ½ hingga 1 inchi. Jika kurang dalam, maka suppositoria akan keluar kembali 9. Tahan hingga beberapa detik menggunakan jari sebelum dilepaskan 10. Tetaplah berbaring hingga 5 menit agar suppositoria tidak keluar kembali 11. Setelah selesai menggunakan suppositoria, dianjurkan mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih. Sumber : Sumber : http://www.safemedication.com/safemed/ MedicationTipsTools/HowtoAdminister/HowtoUseRectalSuppositoriesProperly


95 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS JELAJAH INTERNET Untuk menambah wawasan lebih jauh mengenai pembuatan sediaan obat dalam bentuk suppositoria, teman-teman dapat mempelajari secara mandiri dengan membuka internet. Di internet kalian dapat memperoleh materi tentang konsepkonsep tersebut. Salah satu website yang dapat kalian kunjungi untuk menambah wawasan dan pemahaman kalian tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk suppositoria adalah sebagai berikut: https://www.slideshare.net/ yosephinep/suppositoriadocx atau dengan menggunakan QR code berikut : RANGKUMAN Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk yang diberikan melalui rektal, vagina, atau uretra. Sediaan ini dapat meleleh, melunak, atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria dapat digunakan untuk melindungi jaringan setempat, atau sebagai media pembawa zat terapeutik yang bersifat lokal maupun sistemik. Berdasarkan tempat penggunaannya, suppositoria ada 3 jenis yaitu suppositoria rektal, suppositoria vaginal, suppositoria vaginal. Suppositoria dapat digunakan untuk pengobatan lokal maupun sistemik. Sediaan ini merupakan salah satu alternatif jika penggunaan obat secara oral tidak dapat diberikan. Sediaan suppositoria memiliki beberapa keuntungan yaitu dapat menghindari terjadinya iritasi lambung pada pemakaian obat, menghindari rusaknya obat akibat enzim pencernaan, efek obat lebih cepat dibandingkan dengan peroral, serta dapat digunakan untuk pasien yang sukar menelan obat secara oral. Bahan dasar suppositoria yang lazim digunakan adalah oleum cacao, PEG, gelatin gliserin, dan bahan lainnya yang mengandung emulgator. Pembuatan suppositoria secara umum dapat menggunakan 3 metode, yaitu metode tangan, metode kompresi, dan metode cetakan. Suppositoria dikemas terpisah menggunakan alumunium foil satu demi satu agar tidak mudah hancur dan meleleh, serta disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk. Setelah suppositoria dicetak, untuk menjamin mutu suppositoria agar dapat digunakan dalam terapi, maka dilakukan beberapa uji sebagai berikut : 1. Penetapan kadar 2. Uji titik lebur 3. Uji kerapuhan 4. Uji waktu hancur 5. Uji homogenitas


96 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENILAIAN AKHIR BAB REFLEKSI Kerjakan soal dibawah ini dengan baik dan benar ! 1. Jelaskan Pengertian suppositoria ! 2. Suppositoria yang digunakan secara vaginal disebut .... 3. Panjang untuk suppositoria bacilla adalah .... 4. Contoh bahan dasar suppositoria berlemak adalah .... 5. Contoh bahan dasar suppositoria larut dalam air adalah .... 6. Oleum cacao dapat menunjukkan sifat polimorfisme. Jelaskan tentang bentuk-bentuk kristal oleum cacao tersebut ! 7. Mengapa penggunaan air dihindari sebagai pelarut obat yang akan dibuat suppo dengan basis oleum cacao ? 8. Sebutkan pemeriksaan mutu apa saja yang dilakukan untuk sediaan suppositoria ! 9. Waktu hancur yang dipersyaratkan untuk suppositoria dengan basis PEG 1000 adalah .... 10. Untuk mengatasi masalah hilangnya massa suppositoria saat proses pembuatan dan pencetakan, maka yang dilakukan adalah .... Setelah mempelajari bab kelima tentang sediaan suppositoria, Anda tentu menjadi paham mengenai konsep dasar tentang pembuatan sediaan obat dalam bentuk suppositoria, serta penggunaannya dalam terapi pengobatan. Dari semua materi yang sudah dijelaskan pada bab kelima ini, mana yang menurut Anda paling sulit dipahami? Coba Anda diskusikan dengan teman maupun guru Anda TUGAS MANDIRI Tugas para siswa adalah menemukan 5 contoh obat suppositoria yang tersedia di apotek. Tuliskan masing-masing nama suppositoria tersebut dan dikelompokkan berdasarkan basis yang digunakan, selanjutnya sebutkan indikasi dari masing-masing suppositoria tersebut. No Nama suppositoria Basis yang Digunakan Indikasi 1 2 3 4 5


97 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI Setelah mempelajari materi tentang pelayanan kefarmasian, peserta didik diharapkan mampu (1) menjelaskan definisi pelayanan kefarmasian; (2) mengidentikasi bentuk pelayanan kefarmasian; (3) menjelaskan jenisjenis pelayanan kefarmasian di rumah sakit, apotek dan puskesmas; dan (4) menerapkan pelayanan kefarmasian. pharmaceutical care, medication error, apoteker, tenaga teknis kefarmasian BAB VI PELAYANAN KEFARMASIAN Definisi Pelayanan Kefarmasian PETA KONSEP Regulasi Perundang-undangan Konsep Pelayanan Kefarmasian 1. Rumah sakit 2. Apotek 3. Puskesmas BAB VI PELAYANAN KEFARMASIAN


98 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENDAHULUAN Obat merupakan obyek dalam mendukung terapi pengobatan pasien untuk meningkatkan derajat kesehatan. Disamping obat dalam hal terapi tersebut, diperlukan suatu bentuk pelayanan yang berperan untuk mengantarkan pasien agar dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Pelayanan ini mencakup proses yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah,serta menyelesaikan permasalahan obat dan permasalahan kesehatan. Bentuk pelayanan disebut juga dengan pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian merupakan salah satu kegiatan di seluruh tempat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, apotek, klinik, dan puskesmas yang dapat menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelayanan kefarmasian telah bergeser orientasinya dari yang semula fokus pada kualitas obat, saat ini beralih menjadi fokus kepada pasien yang berazaskan kepada asuhan kefarmasian (Pharmaceutical Care). Seiring dengan terjadinya perubahan paradigma atau konsep pelayanan kefarmasian tersebut dan dalam rangka peningkatkan mutu serta efisiensi pelayanan kefarmasian, maka konsep ini perlu diketahui oleh masing-masing tenaga kefarmasian. Gambar 6.1 Pelayanan Farmasi Kepada Pasien Sumber : https://today.mims.com/konseling-apoteker--cara-untuk-meningkatkan-pelayanan-kefarmasian


99 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN A. Definisi Pelayanan Kefarmasian merupakan suatu bentuk pelayanan langsung dan bersifat bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi agar dapat meningkatkan mutu dan derajat kesehatan pasien. Sediaan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka ditetapkan suatu standar dalam melakukan pelayanan kefarmasian. Standar pelayanan kefarmasian ini digunakan sebagai tolak ukur dan pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian. Tenaga kefarmasian yang dimaksud adalah apoteker, dan tenaga teknis kefarmasian. Dalam pelayanan kefarmasian juga perlu dilakukan evaluasi untuk menilai kinerja pelayanan farmasi pada suatu sarana pelayanan kesehatan, evaluasi tersebut meliputi penilaian terhadap sumber daya manusia (SDM), tata kelola perbekalan farmasi, sistem pelayanan kefarmasian kepada pasien (klinis). Perbekalan farmasi yang dimaksud adalah sediaan farmasi yang terdiri dari obat, bahan obat, alat kesehatan, reagensia, radio farmasi dan gas medis. B. Regulasi Perundang-undangan Pelayanan kefarmasian diatur dalam sistem regulasi perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Peraturan Pemerintah nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian menerangkan bahwa pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang erkaitan debgan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pelayanan kefarmasian diterapkan pada setiap sarana pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, apotek dan puskesmas oleh tenaga kefarmasian. Tenaga kefarmasian yang dimaksud adalah apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Tenaga teknis kefarmasian menurut Peraturan Pemerintah nomor 51 tahun 2009 adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker. Pelayanan kefarmasian di rumah sakit diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit. Pelayanan kefarmasian di Apotek diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek. Pelayanan kefarmasian di Puskesmas diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas. C. Konsep Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian dilakukan oleh apoteker dan tenaga teknis kefarmasian di rumah sakit, apotek, dan puskesmas. 1. Pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Upaya kesehatan merupakan kegiatan untuk memelihara dan


100 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN meningkatkan kesehatan, tujuannya adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Upaya kesehatan meliputi pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilakukan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Konsep kesatuan upaya kesehatan ini menjadi pedoman dan pegangan bagi semua tempat pelayanan kesehatan di Indonesia termasuk rumah sakit. Rumah sakit adalah salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi pasien. Pelayanan farmasi rumah sakit adalah salah satu kegiatan yang dilaksanakan di rumah sakit dan bertujuan untuk menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang fokus terhadap pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua kalangan masyarakat. Tujuan dilakukan pelayanan farmasi di rumah sakit adalah : a. Melaksanakan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan umum maupun dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan kondisi pasien maupun fasilitas yang tersedia di rumah sakit tersebut. b. Melaksanakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi. c. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) tentang penggunaan obat. d. Melakukan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku. e. Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan. f. Mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan. g. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatan metoda. Pelayanan kefarmasian di Rumah sakit meliputi 2 kegiatan, yaitu pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai, serta kegiatan pelayanan farmasi klinik. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di rumah sakit meliputi: a. Pemilihan Kegiatan ini dilakukan untuk menentukan jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan kebutuhan rumah sakit. b. Perencanaan kebutuhan Kegiatan ini dilakukan untuk menentukan jumlah dan periode pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan dalam rangka menjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien. Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan Obat menggunakan metode konsumsi, epidemiologi, kombinasi metode


101 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN konsumsi dan epidemiologi dan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. c. Pengadaan Kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang efektif harus menjamin ketersediaan, jumlah, dan waktu yang tepat dengan harga yang terjangkau serta memenuhi standar mutu. Pengadaan merupakan kegiatan yang bersifat berkelanjutan mulai dari pemilihan, penentuan jumlah yang dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan dan biaya yang tersedia, pemilihan metode pengadaan, pemilihan pemasok, penentuan spesifikasi kontrak, pemantauan proses pengadaan, dan pembayaran. d. Penerimaan Kegiatan dilakukan untuk menjamin jenis, spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam surat pesanan sesuai dengan kondisi fisik yang diterima. Semua dokumen terkait penerimaan barang harus tersimpan (diarsip) dengan baik. e. Penyimpanan Penyimpanan dilakukan setelah penerimaan dan sebelum dilakukan pendistribusian. Penyimpanan harus dapat menjamin kualitas dan keamanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan persyaratan kefarmasian. Persyaratan kefarmasian tersebut antara lain stabilitas dan keamanan, sanitasi, cahaya, kelembaban, ventilasi, dan penggolongan jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai. f. Pendistribusian Kegiatan ini dilakukan untuk menyalurkan/menyerahkan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketepatan waktu. Setiap Rumah Sakit sebaiknya menentukan sistem distribusi yang cocok sehingga dapat menjamin terlaksananya pengawasan dan pengendalian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di unit pelayanan. g. Pemusnahan dan penarikan Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar/ketentuan peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall) dengan memberikan laporan kepada Kepala BPOM. Penarikan Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh Menteri. Pemusnahan tersebut dilakukan apabila suatu produk: 1) Tidak memenuhi persyaratan mutu 2) Telah kadaluwarsa;


102 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN 3) Tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan atau kepentingan ilmu pengetahuan 4) Dicabut izin edarnya. Proses pemusnahan tersebut dilakukan dengan cara: 1) Membuat daftar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang akan dimusnahkan 2) Menyiapkan Berita Acara Pemusnahan 3) Mengoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak terkait 4) Menyiapkan tempat pemusnahan 5) Melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan serta peraturan yang berlaku. h. Pengendalian Kegiatan ini dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai. Pengendalian penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan oleh Instalasi Farmasi bersama dengan Komite/Tim Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit. Tujuan pengendalian persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan agar: 1) Penggunaan Obat sesuai dengan Formularium Rumah Sakit; 2) Penggunaan Obat sesuai dengan diagnosis dan terapi; dan 3) Memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, dan kehilangan serta pengembalian pesanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai. Metode pengendalian persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai antara lain: 1) Melakukan evaluasi persediaan yang jarang digunakan (slow moving); 2) Melakukan evaluasi persediaan yang tidak digunakan dalam waktu tiga bulan berturut-turut (death stock); 3) Stok opname yang dilakukan secara periodik dan berkala. i. Administrasi Pencatatan dan pelaporan terhadap kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, pendistribusian, pengendalian persediaan, pengembalian, pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai. Pelaporan dibuat secara periodik yang dilakukan Instalasi Farmasi dalam periode waktu tertentu (bulanan, triwulanan, semester atau pertahun). Pelayanan farmasi klinik di rumah sakit meliputi: a. Pengkajian dan pelayanan Resep Kegiatan ini dilakukan untuk menganalisa adanya masalah terkait Obat, bila ditemukan masalah terkait Obat harus dikonsultasikan kepada dokter penulis Resep. Apoteker melakukan pengkajian Resep sesuai persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis baik untuk


103 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN pasien rawat inap maupun rawat jalan. b. Penelusuran riwayat penggunaan Obat Kegiatan ini merupakan proses untuk mendapatkan informasi tentang Obat atau Sediaan Farmasi lain yang pernah dan sedang digunakan oleh pasien, riwayat pengobatan pasien yang diperoleh dari wawancara atau data rekam medis serta pencatatan penggunaan Obat pasien. c. Rekonsiliasi Obat Kegiatan ini dilakukan dengan membandingkan instruksi pengobatan dengan Obat yang telah diperoleh pasien. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan Obat (medication error), misalnya Obat tidak diberikan, duplikasi, kesalahan dosis atau interaksi Obat. Kesalahan Obat (medication error) rentan terjadi pada pemindahan pasien dari satu Rumah Sakit ke Rumah Sakit lain, antar ruang perawatan, serta pada pasien yang keluar dari Rumah Sakit ke layanan kesehatan primer dan sebaliknya. d. Pelayanan Informasi Obat (PIO) Kegiatan ini meliputi penyediaan dan pemberian informasi, rekomendasi Obat yang independen, akurat, tidak bias, terkini dan komprehensif yang dilakukan oleh Apoteker kepada dokter, Apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien dan pihak lain di luar Rumah Sakit. e. Konseling Kegiatan ini meliputi pemberian saran tentang terapi Obat dari Apoteker kepada pasien atau keluarganya. Konseling untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap di semua fasilitas kesehatan dapat dilakukan atas inisitatif Apoteker, rujukan dokter, keinginan pasien atau keluarganya. Pemberian konseling yang efektif memerlukan kepercayaan pasien dan keluarga terhadap Apoteker. Gambar 6.2 Kegiatan Konseling Sumber : https://farmasetika.com/2018/11/13/konseling-obat-pelayanan-dari-apoteker-untuk-masyarakat/ f. Visite Kegiatan ini meliputi kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan Apoteker secara mandiri atau bersama tenaga kesehatan lain untuk mengamati kondisi klinis pasien secara langsung, mengkaji masalah terkait Obat, memantau terapi obat dan reaksi obat yang tidak diinginkan,


104 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN meningkatkan terapi Obat yang rasional, dan menyajikan informasi Obat kepada dokter, pasien serta tenaga kesehatan lainnya. Gambar 6.3 Visite Terhadap Pasien Rawat Inap Sumber : https://rsud-tangerangkab.id/department/farmasi/ g. Pemantauan Terapi Obat (PTO) Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan terapi Obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien. h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) Kegiatan ini dilakukan dengan memperhatikan setiap efek Obat yang tidak dikehendaki, yang terjadi pada dosis lazim yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosa dan terapi. Efek Samping Obat adalah reaksi Obat yang tidak dikehendaki yang terkait dengan kerja farmakologi. i. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) Merupakan kegiatan mengevaluasi penggunaan Obat yang terstruktur dan berkesinambungan secara kualitatif dan kuantitatif. j. Dispensing sediaan steril Kegiatan ini dilakukan di Instalasi Farmasi dengan menggunakan teknik aseptik untuk menjamin sterilitas dan stabilitas produk serta melindungi petugas kefarmasian dari paparan zat berbahaya, selain itu juga dapat menghindari terjadinya kesalahan pemberian Obat. k. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD). Merupakan hasil pemeriksaan kadar Obat tertentu atas permintaan dokter yang merawat pasien karena indeks terapi obat yang sempit atau atas usulan dari Apoteker kepada dokter. 2. Pelayanan kefarmasian di Apotek Apotek merupakan suatu tempat untuk melakukan pekerjaan kefarmasian, penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Fungsi apotek adalah sebagai salah satu tempat pengabdian seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatannya, dan sebagai sarana farmasi untuk melakukan peracikan, pengubahan bentuk sediaan, pencampuran dan penyerahan obat dan perbekalan farmasi yang diperlukan oleh masyarakat.


105 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN Pelayanan kefarmasian yang dilaksanakan di apotek secara umum meliputi 5 kegiatan, antara lain : a. Pelayanan Resep Kegiatan ini merupakan pelayanan terhadap permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat kepada pasien sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelayanan resep ini meliputi skrining resep, penyiapan resep, penyiapan obat, penyerahan obat bersama KIE (komunikasi, Informasi dan Edukasi). Gambar 6.4 Contoh Resep Sumber : https://zetizen.jawapos.com/show/11371/ternyata-ini-rahasia-di-balik-tulisan-dokter-yang-berantakan-dan-sulit-dibaca b. Pelayanan Informasi Obat (PIO) Kegiatan ini merupakan sebuah pelayanan yang dilakukan oleh apoteker untuk memberikan informasi dan konsultasi secara akurat, tidak bias, faktual, terkini, mudah dimengerti, etis dan bijaksana tentang penggunaan obat. Informasi obat yang disampaikan kepada pasien yaitu cara penggunaan obat, cara menyimpan obat, indikasi obat, jangka waktu pengobatan, efek samping yang mungkin terjadi, jenis kegiatan serta makanan minuman yang sebaiknya dihindari ataupun yang dianjurkan selama masa pengobatan.


106 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN c. Promosi dan Edukasi Promosi kesehatan adalah suatu kegiatan dengan memberikan informasi dan inspirasi kepada masyarakat sehingga dapat termotivasi untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara mandiri. Edukasi kesehatan adalah suatu kegiatan dengan memberikan pengetahuan tentang obat dan pengobatan serta mengambil keputusan bersama pasien setelah mendapatkan informasi, untuk tercapainya hasil pengobatan yang optimal. Apoteker juga dapat memberikan informasi melalui penyebaran leaflet, poster dan media lainnya serta memberikan penyuluhan langsung kepada masyarakat. d. Konseling Konseling merupakan suatu kegiatan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah pasien yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan penggunaan obat. Apoteker harus dapat memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya agar dapat memperbaiki kualitas hidup pasien. Konseling ini juga dapat menghindari dari bahaya penyalahgunaan maupun penggunaan obat yang salah atau tidak tepat. Gambar 6.5 Konseling Kepada Pasien Sumber : https://biofar.id/peran-dan-tugas-seorang-apoteker/ e. Pelayanan Residensial (Home Care) Pelayanan residensial adalah bentuk pelayanan kefarmasian yang diberikan kepada pasien dan dilakukan di rumah, khususnya untuk kelompok lanjut usia dan pasien dengan penyakit kronis serta pasien dengan pengobatan paliatif (stadium akhir) Tujuan home care ini adalah agar pasien yang tidak memungkinkan datang ke apotek tetap mendapatkan pelayanan kefarmasian secara optimal dan komprehensif, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan pasien tersebut.


107 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN 3. Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas merupakan salah satu pelaksanaan upaya kesehatan yang berperan penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas harus mendukung tiga fungsi pokok Puskesmas, yaitu sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan Kefarmasian adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah Obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Dalam hal peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan adanya perubahan dari paradigma lama yang berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi kepada pasien (patient oriented) dengan menerapkan asuhan kefarmasian (pharmaceutical care). Pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi 2 kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai serta kegiatan pelayanan farmasi klinik. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di puskesmas meliputi: a. Perencanaan Perencanaan merupakan kegiatan untuk menentukan jenis dan jumlah Sediaan Farmasi dalam rangka pemenuhan kebutuhan Puskesmas. Proses perencanaan ini dilakukan dengan memperhatikan pola penyakit, pola konsumsi Sediaan Farmasi periode sebelumnya, data mutasi Sediaan Farmasi, dan rencana pengembangan. Proses seleksi Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai juga harus mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan Formularium Nasional. Gambar 6.6 Kegiatan Home Care Sumber : http://medikastar.com/hari-farmasi-sedunia-ini-yangdilakukan-hisfarma-dpd-iai-ntt/


108 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN b. Permintaan Tujuan kegiatan ini adalah memenuhi kebutuhan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas, sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah dibuat. Permintaan diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat. c. Penerimaan Merupakan kegiatan dalam menerima Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai dari Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota atau hasil pengadaan Puskesmas secara mandiri sesuai dengan permintaan yang telah diajukan. Tujuannya adalah agar Sediaan Farmasi yang diterima sesuai dengan kebutuhan berdasarkan permintaan yang diajukan oleh Puskesmas, dan memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu. d. Penyimpanan Merupakan suatu kegiatan yang mengatur Sediaan Farmasi yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Tujuannya adalah agar mutu Sediaan Farmasi yang tersedia di puskesmas dapat dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. e. Pendistribusian Merupakan kegiatan pengeluaran dan penyerahan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan untuk sub unit/satelit farmasi Puskesmas dan jaringannya. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan Sediaan Farmasi sub unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas dengan jenis, mutu, jumlah dan waktu yang tepat. f. Pemusnahan dan Penarikan Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara yang sesuai dan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar/ketentuan peraturan perundangundangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall) dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala BPOM. g. Pengendalian kegiatan ini dilakukan untuk memastikan tercapainya tujuan atau sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan program yang telah ditetapkan, serta agar tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan Obat di unit pelayanan kesehatan dasar. h. Administrasi Administrasi meliputi pencatatan dan pelaporan seluruh rangkaian kegiatan dalam pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai. Kegiatan ini dilakukan sejak sediaan diterima, disimpan, didistribusikan, hingga digunakan di Puskesmas atau unit pelayanan lainnya.


109 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN i. Pemantauan dan Evaluasi Pemantauan dan evaluasi pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan secara periodik dan berkesinambungan dengan tujuan sebagai berikut : 1) mengendalikan dan menghindari kesalahan dalam pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai sehingga kualitas dan pemerataan pelayanan dapat terjaga 2) Mengevaluasi secara periodik pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai 3) memberikan penilaian terhadap pencapaian kinerja pengelolaan yang telah dilakukan. Pelayanan farmasi klinik merupakan bagian dari Pelayanan Kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pelayanan farmasi klinik di puskesmas meliputi : a. Pelayanan Resep Secara umum pelayanan resep di puskesmas sama dengan pelayanan resep yang dilakukan di rumah sakit maupun apotek. meliputi skrining resep, penyiapan resep, penyiapan obat, penyerahan obat bersama KIE (komunikasi, Informasi dan Edukasi). b. Pelayanan Informasi Obat (PIO) Merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, jelas dan terkini kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien. c. Konseling Konseling disini juga dilakukan oleh tenaga kefarmasian di puskesmas, sama halnya dengan rumah sakit maupun apotek. Merupakan suatu proses untuk mengidentifikasi dan penyelesaian masalah pasien yang berkaitan dengan penggunaan Obat pasien rawat jalan dan rawat inap, serta keluarga pasien. Tujuan dilakukannya konseling adalah memberikan pemahaman yang benar mengenai Obat kepada pasien/keluarga pasien antara lain tujuan pengobatan, jadwal pengobatan, cara dan lama penggunaan Obat, efek samping, tanda-tanda toksisitas, cara penyimpanan dan penggunaan Obat. d. Ronde/Visite Pasien Kegiatan ini dilakukan dengan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan secara mandiri atau bersama tenaga kesehatan lainnya yang terdiri dari dokter, perawat, ahli gizi, dan lain-lain. e. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) Kegiatan ini dilakukan dengan memantau setiap respon pasien terhadap efek samping Obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang mungkin terjadi pada dosis normal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau memodifikasi fungsi fisiologis.


110 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN MATERI PEMBELAJARAN f. Pemantauan Terapi Obat (PTO) Merupakan proses untuk memastikan pasien mendapatkan terapi Obat yang efektif, terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping. g. Evaluasi Penggunaan Obat Kegiatan ini dilakukan dengan mengevaluasi penggunaan Obat secara terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin Obat yang digunakan oleh pasien sudah rasional, yaitu sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau. CAKRAWALA Sejarah Farmasi Farmasi berasal dari bahasa yunani pharmacon, yang berarti: obat, merupakan salah satu bidang profesional kesehatan dan merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien (patient care) di antaranya layanan klinik, evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat. Kata farmasi berasal dari kata farma (pharma). Farma merupakan istilah yang dipakai pada tahun 1400 - 1600an. Institusi farmasi Eropa pertama kali berdiri di Trier, Jerman, pada tahun 1241 dan tetap eksis sampai dengan sekarang. Farmasis (apoteker) merupakan gelar profesional dengan keahlian di bidang farmasi. Farmasis biasa bertugas di institusi-institusi baik pemerintahan maupun swasta seperti badan pengawas obat/makanan, rumah sakit, industri farmasi, industri obat tradisional, apotek, dan di berbagai sarana kesehatan.


111 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS Untuk menambah wawasan lebih jauh mengenai pelayanan kefarmasian, teman-teman dapat mempelajari secara mandiri dengan membuka internet. Di internet kalian dapat memperoleh materi tentang konsep-konsep tersebut. Salah satu website yang dapat kalian kunjungi untuk menambah wawasan dan pemahaman kalian tentang pelayanan kefarmasian adalah sebagai berikut: http://yankes.depkes.go.id/read-pelayanan-farmasi-yangideal-bagian-1-4984.html atau dengan menggunakan QR code berikut : JELAJAH INTERNET RANGKUMAN Pelayanan Kefarmasian merupakan suatu bentuk pelayanan langsung dan bersifat bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi agar dapat meningkatkan mutu dan derajat kesehatan pasien. Sediaan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. Pelayanan kefarmasian telah bergeser orientasinya dari yang semula fokus pada kualitas obat, saat ini beralih menjadi fokus kepada pasien yang berazaskan kepada asuhan kefarmasian (Pharmaceutical Care). Pelayanan kefarmasian dilakukan oleh apoteker dan tenaga teknis kefarmasian di rumah sakit, apotek, dan puskesmas. 1.Pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Pelayanan kefarmasian di Rumah sakit meliputi 2 kegiatan, yaitu pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai, serta kegiatan pelayanan farmasi klinik. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di rumah sakit meliputi: a. Pemilihan b. Perencanaan kebutuhan c. Pengadaan d. Penerimaan e. Penyimpanan f. Pendistribusian g. Pemusnahan dan penarikan h. Pengendalian i. Administrasi Pelayanan farmasi klinik di rumah sakit meliputi: a. Pengkajian dan pelayanan Resep b. Penelusuran riwayat penggunaan Obat c. Rekonsiliasi Obat


112 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN d. Pelayanan Informasi Obat (PIO) e. Konseling f. Visite g. Pemantauan Terapi Obat (PTO) h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) i. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) j. Dispensing sediaan steril k. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD). 2. Pelayanan kefarmasian di Apotek Pelayanan kefarmasian yang dilakukan di apotek secara umum meliputi 5 kegiatan, antara lain : a. Pelayanan Resep b. Pelayanan Informasi Obat (PIO) c. Promosi dan Edukasi d. Konseling e. Pelayanan Residensial (Home Care) 3. Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi 2 kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai serta kegiatan pelayanan farmasi klinik. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di puskesmas meliputi: a. Perencanaan b. Permintaan c. Penerimaan d. Penyimpanan e. Pendistribusian f. Pemusnahan dan Penarikan g. Pengendalian h. Administrasi i. Pemantauan dan Evaluasi Pelayanan farmasi klinik di puskesmas meliputi : a. Pelayanan Resep b. Pelayanan Informasi Obat (PIO) c. Konseling d. Ronde/Visite Pasien e. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) f. Pemantauan Terapi Obat (PTO) g. Evaluasi Penggunaan Obat RANGKUMAN


113 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS TUGAS MANDIRI Salah satu bentuk pelayanan kefarmasian di suatu sarana kesehatan adalah pelayanan informasi obat (PIO), tugas para siswa adalah memilih salah satu sarana pelayanan farmasi (rumah sakit, apotek, atau puskesmas). sebutkan dan jelaskan informasi apa saja yang diberikan pada saat seorang apoteker atau tenaga teknis kefarmasian memberikan obat. Serta jelaskan fungsi kegiatan PIO ini di sarana pelayanan farmasi tersebut. PENILAIAN AKHIR BAB Kerjakan soal dibawah ini dengan baik dan benar ! 1. Apa yang dimaksud dengan pelayanan kefarmasian ? 2. Apa yang dimaksud dengan perbekalan farmasi ? 3. Profesi yang termasuk dalam tenaga kefarmasian sesuai PP 51 tahun 2009 adalah .... 4. Upaya kesehatan yang menjadi pedoman dan pegangan bagi semua tempat pelayanan kesehatan di Indonesia adalah meliputi .... 5. Apakah yang dimaksud dengan rekonsiliasi obat ? 6. Apakah yang dimaksud dengan pelayanan residensial ? 7. Pelayanan resep yang harus dilakukan di rumah sakit, apotek, maupun puskesmas meliputi .... 8. Tujuan konseling pada pelayanan kefarmasian adalah .... 9. Apa yang dimaksud dengan apotek .... 10. Sebutkan apa saja kegiatan pelayanan kefarmasian di apotek !


114 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN REFLEKSI Setelah mempelajari bab keenam tentang pelayanan kefarmasian, Anda tentu menjadi paham mengenai konsep dasar tentang pelayanan kefarmasian kepada masyarakat, serta penerapannya dalam dunia kerja. Dari semua materi yang sudah dijelaskan pada bab keenam ini, mana yang menurut Anda paling sulit dipahami? Coba Anda diskusikan dengan teman maupun guru Anda.


115 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP A. Pilihan Ganda Bacalah soal dengan seksama dan berilah tanda silang (x) pada jawaban yang dianggap paling tepat ! 1. Sediaan berupa massa bulat yang mengandung satu atau lebih bahan obat disebut.... a. Tablet c. Pil e. Pulveres b. Suppositoria d. Kapsul 2. Sediaan pil besar yang beratnya lebih dari 500 mg dan biasanya digunakan untuk pengobatan hewan disebut juga dengan .... a. Boli c. Granula e. Slug b. Tablet d. Kapsul 3. Bahan tambahan yang harus ada dalam pembuatan pil, kecuali .... a. Bahan pengisi c. Bahan pengikat e. Bahan penabur b. Bahan penyalut d. Bahan pelicin 4. Zat tambahan dalam pembuatan pil yang dapat digunakan sebagai bahan pengisi dan bahan pengikat adalah .... a. Akar manis c. Bolus alba e. Gom arab b. Tragakan d. PGS 5. Zat tambahan yang digunakan untuk menutupi rasa dan bau yang kurang menyenangkan pada pil adalah .... a. Bahan pengisi c. Bahan pengikat e. Bahan penabur b. Bahan penyalut d. Bahan pelicin 6. Pada pemeriksaan mutu sediaan pil, syarat waktu hancur untuk pil yang bersalut adalah selama .... a. 5 menit c. 15 menit e. 60 menit b. 10 menit d. 30 menit PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP


116 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP 7. Campuran antara succus liquiritiae dan radix liquiritiae dengan jumlah sama banyak disebut .... a. Pulvis Pro Pilulae c. Aqua gliserinata e. Pil boli b. Pil hitam (Black pil) d. Pil oksidator 8. Untuk membuat 60 pil dibutuhkan succus liquiritiae sebagai zat pengikat sebanyak .... a. 1 gram c. 3 gram e. 5 gram b. 2 gram d. 4 gram 9. Pemberian aqua gliserinata dalam pembuatan pil bertujuan untuk .... a. Menambah massa pil b. Mencegah pil agar tidak terlalu keras c. Agar pil mudah digulung dan dipotong d. Mencegah pil bereaksi dengan zat oksidator e. Mencegah melekatnya pil pada alat cetakan 10. Untuk pil dengan senyawa oksidator, sebagai bahan pengisi digunakan .... a. succus liquiritiae c. aqua gliserinata e. Likopodium b. radix liquiritiae d. Bolus alba 11. Talk atau likopodium dalam pembuatan pil dapat berfungsi sebagai .... a. Menambah massa pil b. Mencegah pil agar tidak terlalu keras c. Agar pil mudah digulung dan dipotong d. Mencegah pil bereaksi dengan zat oksidator e. Mencegah melekatnya pil pada alat cetakan 12. Untuk menetralkan sifat asam yang mungkin terjadi pada pembuatan pil dengan ekstrak gentian dan ferrum reductum adalah dengan menambahkan senyawa .... a. NaCl c. MgO e. AgNO3 b. KMNO4 d. NaOH


117 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP 13. Sediaan padat yang dapat meleleh, melunak, atau melarut dalam suhu tubuh dan diberikan dengan cara dimasukkan melalui rektal, vaginal atau uretra disebut .... a. Tablet c. Pil e. Pulveres b. Suppositoria d. Kapsul 14. Suppositoria yang diberikan melaui vaginal disebut juga dengan .... a. Ovula c. Bacilla e. Bougies b. Liniment d. Saponatus 15. Bobot suppositoria yang lazim digunakan adalah .... a. 1 gram c. 5 gram e. 7 gram b. 2 gram d. 6 gram 16. Dibawah ini yang bukan merupakan keuntungan pemakaian suppositoria adalah .... a. Dapat digunakan untuk pasien yang sedang mengendarai kendaraan b. Dapat menghindari terjadinya iritasi lambung c. Dapat menghindari kerusakan obat akibat enzim pencernaan dan asam lambung d. Dapat menunjukkan efek yang lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan obat oral e. Dapat diberikan kepada pasien yang muntah dan hilang kesadaran 17. Rektum memiliki cairan dalam jumlah sedikit dengan pH sebesar .... a. 4,2 c. 6,2 e. 8,2 b. 5,2 d. 7,2 18. Suppositoria dapat memberikan efek lokal pada pemakaiannya, yaitu ditujukan untuk penyakit .... a. Hipertensi c. Hemoroid e. Dispepsia b. Asma d. TBC


118 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP 19. Suppositoria dapat memberikan efek yang lebih cepat daripada penggunaan obat secara peroral karena zat berkhasiatnya dapat langsung diserap dan masuk ke dalam .... a. Lambung c. Hati e. Jiwa b. Pembuluh darah d. Usus besar 20. Berikut merupakan factor-faktor yang dapat mempengaruhi penyerapan obat dalam rektal, kecuali .... a. Kelarutan obat c. Kadar obat dalam basis e. Ukuran partikel b. Jenis basis suppositoriad. Bentuk suppositoria 21. Pengaruh kadar obat dalam basis terhadap absorbsi obat adalah .... a. Semakin tinggi kadar obat, absorbsi obat semakin lambat b. Semakin tinggi kadar obat, absorbsi obat semakin cepat c. Semakin kecil kadar obat, absorbsi obat semakin cepat d. Kadar obat dan absorbsi berbanding terbalik e. Kadar obat yang tinggi dapat menurunkan absorbsi di dalam rektal 22. Bahan dasar suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat berikut, kecuali .... a. Mudah dibentuk pada suhu kamar b. Dapat bercampur dengan bahan obat c. Stabil dalam penyimpanan d. Memiliki kadar air yang tinggi e. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi 23. Bahan dasar suppositoria yang merupakan trigliserida dari asam oleat, asam stearat, dan asam palmitat adalah .... a. Lemak coklat c. PEG e. Gliserin b. Gelatin d. Tween 24. Bentuk yang terjadi pada lelehan oleum cacao yang memiliki titik lebur 28-31oC adalah ... a. Bentuk alfa c. Bentuk beta e. Bentuk gamma b. Bentuk beta stabil d. Bentuk beta labil


119 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP 25. Zat yang dapat ditambahkan untuk meningkatkan titik lebur dari oleum cacao adalah .... a. Gelatin c. Gliserin e. Cetyl alkohol b. Cera flava d. Asam oleat dan asam stearat 26. Zat yang dapat digunakan sebagai pengganti oleum cacao dalam pembuatan suppositoria adalah .... a. Coa buta c. Cera flava e. Kloral hidrat b. Oleum sesami d. Carbophol 27. Berikut yang merupakan sifat dari PEG adalah .... a. Mencair atau melunak pada suhu tubuh b. Larut dalam cairan sekresi tubuh c. Mudah tengik d. Memiliki sifat polimorfisme e. Berwaarna putih kekuningan 28. Kekurangan PEG sebagai basis suppositoria adalah .... a. Meleleh pada udara panas b. Titik leburnya dapat turun atau naik dengan penambahan bahan tertentu c. Adanya sifat polimorfisme d. Dapat menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan e. Sering bocor atau keluar dari rektum karena mencair 29. Kemasan yang lazim digunakan untuk suppositoria adalah .... a. Alumunium foil c. Tupperware e. Plastik putih b. Besi atau tembaga d. Kuningan 30. Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan, maka formula suppositoria sebaiknya .... a. Dimasukkan ke dalam lemari es selama 3 jam b. Dilebihkan sebanyak 10% c. Dibasahi dengan oleum amygdalarum d. Dibasahi dengan air secukupnya e. Diubah bentuknya


120 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP 31. Pada pemeriksaan mutu suppositoria, waktu hancur untuk suppositoria dengan basis PEG adalah selama .... a. 15 menit c. 45 menit e. 2 jam b. 30 menit d. 60 menit 32. Dibawah ini yang bukan merupakan pemeriksaan mutu suppositoria adalah .... a. Uji titik lebur c. Uji waktu hancur e.Uji kekerasan b. Uji kerapuhan d. Uji homogenitas 33. Pelayanan kefarmasian dapat dilakukan pada sarana berikut, kecuali .... a. Apotek c. Rumah sakit e. Klinik b. Pedagang besar farmasi d. Puskesmas 34. Berikut yang bukan merupakan perbekalan farmasi adalah .... a. Bahan obat c. Kosmetika e. Alat kesehatan b. Makanan dan minuman d. Radio farmasi 35. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 72 tahun 2016 adalah mengatur tentang standar pelayanan kefarmasian di sarana .... a. Apotek c. Rumah sakit e. Klinik b. Pedagang besar farmasi d. Puskesmas 36. Kegiatan yang dilakukan dengan membandingkan instruksi pengobatan dengan obat yang telah diperoleh pasien disebut .... a. Monitoring obat c. Medical record e. Konsultasi obat b. Rekonsiliasi obat d. Visite 37. Kegiatan mengunjungi pasien rawat inap yang dilakukan Apoteker secara mandiri atau bersama tenaga kesehatan lain untuk mengamati kondisi klinis pasien secara langsung adalah .... a. Monitoring obat c. Medical record e. Konsultasi obat b. Rekonsiliasi obat d. Visite


121 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP 38. Tujuan dilakukannya kegiatan Home care dalam rangka pelayanan kefarmasian adalah .... a. mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah pasien yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan penggunaan obat b. memberikan informasi dan konsultasi secara akurat, tidak bias, faktual, terkini, mudah dimengerti, etis dan bijaksana tentang penggunaan obat c. agar pasien yang tidak memungkinkan datang ke apotek tetap mendapatkan pelayanan kefarmasian secara optimal dan komprehensif, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan pasien tersebut d. mengevaluasi penggunaan Obat yang terstruktur dan berkesinambungan secara kualitatif dan kuantitatif e. memastikan terapi Obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien 39. Profesi yang termasuk dalam tenaga kefarmasian sesuai PP 51 tahun 2009 adalah .... a. Apoteker c. Dokter e. Perawat b. Bidan d. Mantri 40. Dibawah ini merupakan kegiatan pelayanan kefarmasian yang dapat dilakukan di apotek, kecuali .... a. Pelayanan resep c. PIO e. Konseling b. Home care d. visite


122 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP B. Soal Uraian/Essay Jawablah soal dibawah ini dengan benar ! 1. Jelaskan komponen-komponen dalam pembuatan pil dan sebutkan contohnya masing-masing ! 2. Jelaskan persyaratan waktu hancur pil bersalut dan pil tidak bersalut ! 3. Apa yang dimaksud dengan polimorfisme kristal pada oleum cacao ? dan jelaskan bentuk-bentuk kristal tersebut ! 4. Apakah yang dimaksud dengan rekonsiliasi obat ? 5. Sebutkan dan jelaskan 5 jenis pelayanan kefarmasian di apotek !


123 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS DAFTAR PUSTAKA Agustina Saptaning R, S.Si., Apt, dkk. 2013. Ilmu Resep untuk SMK Farmasi. Volume 2. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran. Adrieza, Rania. 2018. Konseling Obat : Pelayanan Dari Apoteker Untuk Masyarakat. https://farmasetika.com/2018/11/13/konseling-obat-pelayanan-dariapoteker-untuk-masyarakat/. (diakses tanggal 6 Desember 2019 Pukul 11.00 WIB) Ahyari, Jimmy. 2017. Sudahkah Anda Mengenal Ovula?. https://www.farmasi.asia/ sudahkah-anda-mengenal-ovula/. (diakses tanggal 5 Desember 2019 Pukul 17.00 WIB) Amoci, Lala. 2013. Ilmu Resep. https://www.slideshare.net/karLafraNsiska/ilmuresep. (diakses tanggal 4 Desember 2019 Pukul 16.00 WIB) Anief. 2004. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Anonim. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Departemen Kesehatan RI. Jakarta Anonim. 2014. Farmakope Indonesia. Edisi V. Departemen Kesehatan RI. Jakarta Ansel, H.C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (terjemahan). UI Press. Jakarta Asfihan, Akbar. 2019. Suspensi Adalah. https://adalah.co.id/suspensi/#contoh_ Suspensi. (diakses tanggal 20 November 2019 Pukul 17.00 WIB) Bakrie, Universitas. 2013. Mentega dan Margarin : Kenali Keduanya. https://bakrie. ac.id/berita-itp/artikel-pangan/922-mentega-dan-margarin-kenalikeduanya. (diakses tanggal 2 Desember 2019 Pukul 17.00 WIB) Benedicto Ieuan Noya, Allert. 2019. Obat Kumur Tidak hanya Untuk Bau Mulut. https:// www.alodokter.com/obat-kumur-tidak-hanya-untuk-bau-mulut. (diakses tanggal 29 November 2019 Pukul 15.00 WIB) Biofar. 2019. Peran dan Tugas Seorang Apoteker di Apotek, Rumah Sakit, Klinik Kecantikan, & Bidang Lainnya. https://biofar.id/peran-dan-tugas-seorangapoteker/. (diakses tanggal 6 Desember 2019 Pukul 11.00 WIB) Chyntia Devi, Olivia. 2017. Konseling Apoteker: Cara Untuk Meningkatkan Pelayanan Kefarmasian. https://today.mims.com/konseling-apoteker--cara-untukmeningkatkan-pelayanan-kefarmasian. (diakses tanggal 7 Desember 2019 Pukul 16.00 WIB) Departemen Kesehatan RI. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 72 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta Departemen Kesehatan RI. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 73 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta Departemen Kesehatan RI. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 74 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta Diane Titiesari, Yovita. 2017. Cara Tepat Memberikan Sirup Antibiotik. Pada Anak. https://www.guesehat.com/cara-tepat-memberikan-sirup-antibiotikpada-anak. (diakses tanggal 25 November 2019 Pukul 16.00 WIB)


124 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN Firdaus, Yusra. 2019. Panduan Tepat Cara Menggunakan Obat Tetes Telinga. https:// hellosehat.com/hidup-sehat/perawatan-diri/cara-menggunakan-obattetes-telinga. (diakses tanggal 29 November 2019 Pukul 16.00 WIB) Firdaus, Yusra. 2019. Jangan Sampai Salah, Begini Cara Menggunakan Obat Tetes Hidung Yang Benar. https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/caramenggunakan-obat-tetes-hidung. (diakses tanggal 29 November 2019 Pukul 14.00 WIB) Firdaus, Yusra. 2017. 6 Manfaat Hebat Cocoa Butter Untuk Kulit dan Bibir Anda. https:// hellosehat.com/hidup-sehat/kecantikan/manfaat-cocoa-butter/. (diakses tanggal 5 Desember 2019 Pukul 17.00 WIB) Foraldy, Thendy. 2019. Panduan Menggunakan Obat Tetes Mata Dengan Benar. https:// hellosehat.com/pusat-kesehatan/gangguan-mata-dan-penglihatan/carapakai-obat-tetes-mata. (diakses tanggal 29 November 2019 Pukul 15.00 WIB) Health Benefit Times. 2019. Tragacanth. https://www.healthbenefitstimes.com/ tragacanth/. (diakses tanggal 21 November 2019 Pukul 18.00 WIB) Isni Rahayu, Mutia. 2019. Cara Minum Pil KB yang Benar agar Efektif dan Aman. https:// doktersehat.com/cara-minum-pil-kb. (diakses tanggal 4 Desember 2019 Pukul 16.00 WIB) I.R, Jeko. 2017. Pertama Di Dunia, Ini Pil Digital yang Dilengkapi Sensor Pelacak. https://www.liputan6.com/tekno/read/3165280/pertama-di-dunia-inipil-digital-yang-dilengkapi-sensor-pelacak. (diakses tanggal 5 Desember 2019 Pukul 19.00 WIB) Kamelia. 2018. Mengenal Sediaan Suppositoria dan Cara Pembuatannya. http:// klikfarmasi.com/artikel-ilmiah/mengenal-sediaan-supositoria-dan-carapembuatannya/. (diakses tanggal 5 Desember 2019 Pukul 17.00 WIB) Kurniawati, Laily. 2017. Ternyata, Ini Rahasia Dibalik Tulisan Dokter Yang Berantakan dan Sulit Dibaca. https://zetizen.jawapos.com/show/11371/ternyataini-rahasia-di-balik-tulisan-dokter-yang-berantakan-dan-sulit-dibaca. (diakses tanggal 6 Desember 2019 Pukul 11.00 WIB) Mahdi, Faishal. 2019. Bagaimana Penggunaan Suppositoria Dalam Dunia Medis Indonesia. https://id.quora.com/Bagaimana-penggunaan-supositoriadalam-dunia-medis-Indonesia. (diakses tanggal 6 Desember 2019 Pukul 13.00 WIB) Marianti. 2019. Obat Bibir Kering Alami yang Perlu Anda Coba. https://www.alodokter. com/obat-bibir-kering-yang-perlu-anda-coba. (diakses tanggal 29 November 2019 Pukul 14.00 WIB) Medikastar. 2018. Hari Farmasi Sedunia, Ini Yang Dilakukan Hisfarma DPD IAI NTT. http://medikastar.com/hari-farmasi-sedunia-ini-yang-dilakukan-hisfarmadpd-iai-ntt/. (diakses tanggal 6 Desember 2019 Pukul 11.00 WIB) Nero D, Abner. 2012. Pil. https://www.slideshare.net/AbnerDSboyz/pill-15276688. (diakses tanggal 5 Desember 2019 Pukul 17.00 WIB) DAFTAR PUSTAKA


125 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS Nuryanti, dkk. 2016. Formulasi dan Evaluasi Suppositoria Ekstrak Terpurifikasi Daun Lidah Buaya (Aloe vera). Acta Pharmaciae Indonesia Vol. 1, Hal 10. Perawatan Kesehatan. 2019. Y-rins Larutan Pembersih Mata. https:// perawatankesehatan.com/y-rins-larutan-pembersih-mata. (diakses tanggal 29 November 2019 Pukul 15.00 WIB) Pharmacist. 2013. Suppositoria. https://www.slideshare.net/yosephinep/ suppositoriadocx. (diakses tanggal 6 Desember 2019 Pukul 11.00 WIB) Ratnasari, Lina. 2019. Emulsi dan Tipe-Tipe Emulsi Dalam Sediaan Farmasi. https:// farmasetika.com/2019/07/13/emulsi-dan-tipe-tipe-emulsi-dalamsediaan-farmasi/. (diakses tanggal 2 Desember 2019 Pukul 17.00 WIB) RSUD Kab Tangerang. 2019. Farmasi. https://rsud-tangerangkab.id/department/ farmasi/. (diakses tanggal 6 Desember 2019 Pukul 11.00 WIB) Safe Medication. 2019. How to Use Rectal Suppositories Properly. http://www. safemedication.com/safemed/MedicationTipsTools/HowtoAdminister/ HowtoUseRectalSuppositoriesProperly. (diakses tanggal 28 November 2019 Pukul 21.00 WIB) SMK, Laboratorium. 2017. Pengertian Larutan, Suspensi, Dan Koloid. http://www. labsmk.com/2017/05/pengertian-larutansuspensidan-koloid.html. (diakses tanggal 25 November 2019 Pukul 16.00 WIB) Trisna, Aulia. 2015. Dampak Cairan Pembersih Bagi Ibu Hamil. https://www. motherandbaby.co.id/article/2015/10/5/4974/Dampak-CairanPembersih-Bagi-Ibu-Hamil. (diakses tanggal 28 November 2019 Pukul 21.00 WIB) Upahita, Damar. 2019. Sering Minum Obat Pereda Batuk? Waspadai, Efek Samping Berikut Ini. https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/batuk-dan-pilek/efeksamping-obat-batuk-berdahak. (diakses tanggal 28 November 2019 Pukul 21.00 WIB) Van duin, C.F, Dr. 1954. Buku Penuntun Ilmu Resep dalam Praktek dan Teori. Jakarta: UI Press. Wathoni, Nasrul. 2018. Hal Penting Yang Harus Diperhatikan Untuk Obat Berbentuk Emulsi. https://gudangilmu.farmasetika.com/hal-penting-yang-harusdiperhatikan-untuk-obat-berbentuk-emulsi/. (diakses tanggal 2 Desember 2019 Pukul 17.00 WIB) Wibowo, Farida. 2019. Sediaan Larutan Teknologi Sediaan Liquid & Semisolid. https:// slideplayer.info/slide/15931637/. (diakses tanggal 25 November 2019 Pukul 16.00 WIB) Wikimedia. 2019. Pillenplank. https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Pillenplank. jpg. Diunduh tanggal 4 Desember 2019 Pukul 16.00 WIB. Wikipedia. 2019. Glycerol. https://en.wikipedia.org/wiki/Glycerol. (diakses tanggal 6 Desember 2019 Pukul 11.00 WIB) Wikipedia. 2019. Polyethylene Glycol. https://en.wikipedia.org/wiki/Polyethylene_ glycol. (diakses tanggal 5 Desember 2019 Pukul 17.00 WIB) DAFTAR PUSTAKA


126 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN Wikipedia. 2019. Gom Arab. https://id.wikipedia.org/wiki/Gom_arab. (diakses tanggal 21 November 2019 Pukul 18.00 WIB) Wikipedia. 2019. Emulsifier. https://id.wikipedia.org/wiki/Emulsifier. (diakses tanggal 2 Desember 2019 Pukul 17.00 WIB) Wikipedia. 2019. Farmasi. https://id.wikipedia.org/wiki/Farmasi. (diakses tanggal 4 Desember 2019 Pukul 17.00 WIB) Wikipedia. 2019. Larutan. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Larutan. (diakses tanggal 28 November 2019 Pukul 21.00 WIB) WVC. 2017. Zycortal. https://soundcloud.com/wvc-vetce/zycortal-r-suspensionhidden. (diakses tanggal 21 November 2019 Pukul 18.00 WIB) DAFTAR PUSTAKA


127 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS GLOSARIUM Apoteker : Suatu profesi yang bertanggungjawab terhadap obat baik sintetik maupun herbal dengan tujuan peningkatan derajat kesehatan manusia Bacilla atau Bougies : Suppositoria yang penggunaannya melalui uretra atau saluran urin pria/wanita Bakterisida : Bahan yang digunakan untuk membunuh bakteri Bolus : Sediaan pil dengan ukuran besar yang biasanya digunakan untuk pengobatan hewan Cosolvensi : teknik modifikasi pelarut atau kombinasi pelarut yang dapat menaikkan kelarutan suatu zat terlarut Cracking : Suatu keadaan emulsi yang pecah karena lapisan film yang meliputi partikel sudah rusak dan butir-butir minyak menyatu Creaming : Peristiwa emulsi yang terpisah menjadi dua lapisan Daya adhesi : Daya tarik menarik antar molekul yang berlainan jenis Daya kohesi : Daya tarik menarik antar molekul yang sejenis Deflokulasi : Suatu keadaan partikel yang memiliki ikatan kuat satu sama lain, lambat mengendap, tetapi jika sudah mengendap akan keras dan sukar untuk bercampur kembali Dispersi : Suatu keadaan zat yang tersebar merata dalam suatu campuran Emulgator : Zat yang ditambahkan untuk meningkatkan stabilitas emulsi karena membantu terdispersinya suatu zat pada fase tertentu Fase dispers : Suatu bagian zat cair yang berjumlah lebih sedikit dan tersebar merata menjadi butiran atau tetesan kecil di dalam suatu emulsi Fase kontinue : Suatu bagian zat cair yang berjumlah lebih banyak dan menjadi bahan dasar dari suatu emulsi Flokulasi : Suatu keadaan partikel yang terikat lemah satu sama lain, cepat mengendap pada penyimpanan, tetapi dapat mudah bercampur kembali dengan pengocokan ringan Granul : Pil yang berukuran kecil dan memiliki bobot dibawah 100mg Hidrofil : Senyawa yang dapat larut atau bercampur dengan air Inversi : Peristiwa perubahan tipe emulsi yang terjadi secara tiba-tiba Koalesensi : Peristiwa tetesan kecil yang menyatu menjadi besar dan akhirnya menjadi satu fase tunggal yang terpisah dari fase lain Lipofil : Senyawa yang dapat larut atau bercampur dengan minyak Medication error : Kesalahan penggunaan obat yang tidak tepat Oleum cacao : Lemak coklat Ovula : Suppositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam vagina


128 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS PELAYANAN KEFARMASIAN GLOSARIUM Pharmaceutical care : Peran dan tanggung jawab langsung apoteker pada pengobatan dan pelayanan pasien dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien Polimorfisme : Suatu sifat senyawa yang memiliki lebih dari satu bentuk kristal dengan perbedaan kisi internal Rektal : Pemberian obat melalui rektum Rektum : Saluran dari ujung usus besar hingga anus Solutio : Larutan Solute : Zat terlarut Solvent : Pelarut Salting in : Peristiwa meningkatnya kelarutan suatu zat utama di dalam solvent yang disebabkan oleh penambahan zat lain yang memiliki derajat kelarutan lebih besar Salting out : Peristiwa kelarutan suatu zat utama menjadi turun di dalam solvent yang disebabkan oleh penambahan zat lain yang memiliki derajat kelarutan lebih besar Suppositoria : Sediaan yang dapat meleleh, melunak, atau melarut pada suhu tubuh dan digunakan sebagai pengobatan dengan cara dimasukkan ke dalam rektum, vagina atau saluran urin. Suspensi rekonstitusi : Suspensi yang dibuat dengan cara melarutkan atau menambahkan pelarut pada serbuk suspensi. Suspending agent : Bahan yang ditambahkan pada formulasi suatu suspensi agar lebih stabil Tenaga teknis kefarmasian : Suatu profesi yang membantu apoteker dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian.


129 PELAYANAN KEFARMASIAN FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS BIODATA PENULIS BIO DATA PENULIS 1 : Nama Lengkap : Taufik Widiyanto, S.Farm., Apt. Telepon /HP/WA : 081804312104 Email : [email protected] Akun Facebook : Alamat Kantor : SMK Muhammadiyah Bandongan Jl. Kyai A’rof, Bandongan, Kab Magelang Kompetensi Keahlian : Farmasi Riwayat Pekerjaan/Profesi (10 Tahun Terakhir) 1. Apoteker Pengelola Apotek Viva Generik Blabak (Tahun 2012 s.d 2014) 2. Apoteker Pengelola Apotek Viva Generik Salaman (Tahun 2014 s.d 2016) 3. Apoteker Pengelola Apotek K24 Muntilan (Tahun 2016 s.d sekarang) 4. Guru Produktif Farmasi SMK Muh Bandongan (Tahun 2015 s.d sekarang) Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar 1. S1 Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (Lulus Tahun 2010) 2. Profesi Apoteker Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (Lulus Tahun 2012) Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir) - Informasi Lain dari Penulis Tinggal di Perum Puri Azallona RT 4 RW 7 Kelurahan Danurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Lahir di Pekanbaru, 11 September 1988. Sekolah Dasar di lalui di SD Bhayangkari Pekanbaru, SMP Negeri 5 Pekanbaru, SMF Ikasari di Pekanbaru. Tahun 2006 kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, lulus tahun 2010, dan melanjutkan Program Profesi Apoteker lulus tahun 2012. Menjadi guru di Smk Muhammadiyah Bandongan Kabupaten Magelang dari tahun 2015 – sekarang.


Click to View FlipBook Version