The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

TIK
Desain Grafis Menggunakan Aplikasi Photshop dan CorelDraw

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by uutzd_demitch, 2021-05-07 06:58:06

Ebook Kelompok 4

TIK
Desain Grafis Menggunakan Aplikasi Photshop dan CorelDraw

Keywords: photoshop,coreldraw

Universitas Sriwijaya

model ini yaitu analisis kebutuhan, desain, serta pengembangan dan implementasi
(Hannafin & Peck, 1988: 60).

 Fase pertama dari model Hannafin dan Peck adalah analisis kebutuhan.
Tujuan dari analisis kebutuhan adalah menjelaskan spesifikasi produk.
Selama fase ini, perancang menganalisis karakteristik peserta didik, untuk
siapa program ini dikembangkan, di lingkungan seperti apa program akan
digunakan, kendala program akan dikembangkan, tujuan dan sasaran
program, dan instrumen yang akan digunakan untuk menentukan sejauh
mana tujuan telah tercapai.

 Fase kedua dari model Hannafin dan Peck adalah fase desain. Setelah
analisis kebutuhan, perancang memahami masalah secara lebih lengkap.
Tujuan tahap desain ini adalah untuk mengidentifikasi dan
mendokumentasikan cara terbaik untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Langkah pertama adalah menentukan tujuan yang akan dicapai. Pada tahap
ini perancang membuat diagram alur (flowchart) dan membuat storyboard.

 Fase ketiga dari model Hannafin dan Peck adalah fase pengembangan dan
implementasi. Aktivitas yang dilakukan pada fase ini ialah menghasilkan
diagram alur dan pengujian. Kegiatan selama tahap ini yaitu penulisan dan
/atau pemrograman, pengujian, dokumentasi prosedur pembelajaran,
evaluasi formatif, evaluasi sumatif, dan revisi. Evaluasi formatif mengacu
pada evaluasi yang terjadi ketika program sedang dikembangkan.
Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan pada proses akhir. Pada tahap ini
dilakukan evaluasi dan revisi.

2.3 Penelitian Relevan
Berdasarkan kajian penulis, ditemukan penelitian yang relevan dengan penelitian
penulis, yaitu :

1. Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika dengan judul
“Rancangan Website Pembelajaran Terintegrasi dengan Modul Digital
Fisika Menggunakan 3D PageFlip Professional” Modul digital fisika

12

Universitas Sriwijaya

yang digunakan merupakan modul digital hasil penelitian pengembangan
berbasis 3D PageFlip Professional. Website pembelajaran yang dirancang
memerlukan instalasi Adobe Flash pada browsernya agar dapat diakses
pengguna, website pembelajaran telah dapat menampilkan video, animasi,
instrument tes yang terintegrasi di dalam modul berbasis 3D PageFlip
Professional, setelah dilakukan modifikasi beberapa bagian modul, semua
komponen modul fisika berbasis 3D PageFlip Professional dapat
berfungsi dengan baik setelah ditampilkan berbasis website pembelajaran
2. Jurnal Dinamika Vokasional Teknik Mesin dengan judul “Pengembangan
Modul Elektronik Berbasis 3D PageFlip Professional Mata Kuliah
Gambar Teknik Di Program Studi Pendidikan Teknik Mesin”. Kualitas
produk modul elektronik berbasis 3D PageFlip Professional pada mata
kuliah Gambar Teknik ini sangat baik. Hal ini terlihat dari hasil penilaian
ahli media dan ahli materi tentang kelayakan modul elektronik ini,
ditinjau dari aspek tampilan sebesar 85 rata-rata 4,3 dengan kriteria sangat
baik, aspek pembelajaran sebesar 51 rata-rata 3,91 dengan kriteria baik,
dan aspek materi sebesar 54 rata-rata 3..86 dengan kriteria baik.
Sedangkan hasil penilaian peserta didik uji lapangan pada aspek tampilan
sebesar 956 rata-rata 4,36 kriteria “sangat baik”, pada aspek pembelajaran
sebesar 684 rata-rata 4,28 dengan kriteria “sangat baik”, dan pada aspek
isi sebesar 847 rata-rata 4,23 kriteria “sangat baik”.
3. Jurnal wahana pendidikan fisika dengan judul “Pengembangan Modul
Digital Fisika Berbasis Discovery Learning Pada Pokok Bahasan
Kinematika Gerak Lurus l” pada penelitian terkait tampilan modul
menggunakan software 3D PageFlip Professional 1.7.6 dan kontennya
dibantu dengan beberapa software, seperti AVS Video Editor, Modul
digital divalidasi oleh 4 dosen ahli materi dan 3 dosen ahli media, serta
diuji coba oleh 4 pendidik dan 82 peserta didik. Hasil validasi dan uji coba
menunjukkan persentase capaian sebesar 92,94% dari ahli materi, 84,73%
dari ahli media, 90,75% dari pendidik fisika SMA, dan 84,87% dari

13

Universitas Sriwijaya

peserta didik SMA. Dari segi karakteristik modul didapatkan hasil
penilaian dari para ahli untuk self instructional 90,26%, self contained
91,82%, stand alone 91,15%, adaptif 92,71%, dan user friendly 91,67%
dengan rata-rata seluruh karakteristik modul sebesar 91,52%. Adapun
hasil evaluasi peserta didik setelah menggunakan modul digital adalah
89,10% pada ranah kognitif C3 (memakai/menerapkan).
Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu
penelitian ini akan dilakukan pada mata pelajaran sejarah materi masuknya Asal-
usul nenek moyang bangsa Indonesia. Aplikasi 3D PageFlip Professional yang
dikembangkan menggunakan aplikasi 3D PageFlip Professional yang akan
dikombinasikan dengan Adobe Flash, dan Microsoft Office. penambahan video,
audio, gambar, peta interaktif, serta tampilan akan dibuat semenarik mungkin dan
berbeda dengan 3D PageFlip Professional yang telah ada. Pengembangan media
3D PageFlip Professional diharapkan akan menjadikan proses pembelajaran
sejarah menjadi lebih menarik, mudah, dan efektif untuk meningkatkan hasil
belajar peserta didik.

2.4 Kerangka Berpikir
Pada suatu penelitian maka perlu adanya kerangka pemikiran agar

pemahaman peneliti terarah dengan baik dan memberikan pemahaman akan alur
penelitian pada pembaca.Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang
bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi
sebagai hal yang penting Karakter mata pelajaran sejarah salah satunya yaitu tidak
semua materi dapat dihadirkan di ruang kelas. Penggunaan multimedia dengan
aplikasi 3D PageFlip Professional sebagai media pembelajaran diharapkan dapat
membantu peserta didik untuk memahami materi sejarah serta dapat
meningkatkan hasil belajar. Berikut ini merupakan kerangka berpikir dalam
penelitian ini :

14

Universitas Sriwijaya

Pembelajaran sejarah Gaya belajar peserta didik Peserta didik kurang
monoton, Nilai KKM belum audio visual, sarana dan memahami materi asal-usul
tuntas, media pembelajaran
prasarana sekolah nenek moyang bangsa
terbatas memadai Indonesia

Pengembangan media pembelajaran sejarah dengan aplikasi
3D PageFlip Professional berdasarkan analisis kebutuhan

Menghasilkan media pembelajaran sejarah yang valid, praktis, dan efektif

Peserta didik tertarik untuk belajar dengan materi asal-usul
nenek moyang bangsa Indonesia

Peserta didik memahami materi asal-usul nenek moyang
bangsa Indonesia

Hasil belajar peserta didik meningkat
Gambar 01. Kerangka Berpikir

15

Universitas Sriwijaya

DAFTAR RUJUKAN

Dhea, Eryani, Nur Laili.(2018).Desain Modul Interaktif dengan Menggunakan 3D
di SMKN 1 kediri”. artikel ilmiah, UNESA.

Fauzi Bakri, Betty Zelda Siahaan, A. Handjko Permana. (2016). “Rancangan
Website Pembelajaran Terintegrasi dengan Modul Digital Fisika
menggunakan 3D Page Flip Profesional”. Jurnal Penelitian &
Pengembangan Pendidikan Fisika, Vol.2 No. 2.

Hannafin, Michael J. & Kyle L. Peck. (1988). The Design, Development, and
Evaluation of Instructional Software. London: Collier

Irwanto,Dedi. Alian Sair. (2014). Metodologi dan Historiografi Sejarah.
Yogyakarta:Eja_Publisher. Jurnal Candrasangkala, 15.

Khairani, M. d. (2016). Pengembangan Media Pembelajaran Dalam Bentuk
Macromedia Flash Materi Tabung Untuk SMP Kelas IX. Jurnal Ipteks
Terapan , 10 (2), 95-102.

Kiar Vansa Febriant,Fauzi Bakri, Hady Nasbey. (2017). “Pengembangan Modul
Digital Fisika Berbasis Discovery Learning Pada Pokok Bahasan
Kinematika Gerak Lurus”. Jurnal Wahana Pendidikan Fisika, Vol.2 No. 2.

Maimunah. (2016). Metode Penggunaan Media Pembelajaran. Jurnal Al-Afkar , 2.
menggunakan 3D Page Flip Profesional”. Jurnal Penelitian &
Pengembangan Pendidikan Fisika, Vol.2 No. 2.

Miarso, Y. (2015). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia
Group.

Nopriyanti. (2018). “Pengembangan Modul Elektronik Berbasis 3d Pageflip
Professional Mata Kuliah Gambar Teknik Di Program Studi Pendidikan
Teknik Mesin”. Jurnal Dinamika Vokasional Teknik Mesin, Vol.3 No. 1.

Pribadi, Benny.(2017). Media dan Teknologi dalam Pembelajaran.
Jakarta:Prenadamedia

Rozi, Adam Fatchur. (2018). “Pengembangan Media Pembelajaran Elektronika
berbasis 3D Pageflip pada mata pelajaran penerapan rangkaian elektronika
di SMKN 1 kediri”. artikel ilmiah, UNESA.

Siagian, B.M., (2014). Pengembangan Multimedia Pembelajaran 3D Pageflip
Profesional Pada Materi Larutan Elektrrolit dan Non Elektrolit Kelas X
IPA SMA Islam Al-Falah Kota Jambi. Skripsi, Universitas Jambi, Jambi.

Yaumi, Muhammad. (2017). Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran Disesuaikan
dengan Kurikulum 2013. Jakarta: Kencana

16

*

LEMBAR VALIDASI AHLI MEDIA

Judul Program : Pengembangan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis 3D Pageflip
Professional Materi Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia
Materi Pelajaran Untuk Sekolah Menengah Atas
Materi Pokok
Sasaran Program : Sejarah Indonesia
Validator : Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia
Hari/tanggal : SMA Kelas X
: Bayu Suhendry
: Jumat, 16/04/2021

Petunjuk Pengisian:

1. Berilah penilaian terhadap media pembelajaran sejarah menggunakan aplikasi 3D
PageFlip Profesional pada materi asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia dengan
memberikan tanda (√) pada kolom skala nilai dengan keterangan sangat baik (skor 5),
baik (skor 4), cukup (skor 3), kurang baik (skor 2), sangat tidak baik (skor 1).

2. Berikan kritik dan saran untuk menyempurnakan multimedia pembelajaran sejarah
menggunakan aplikasi 3D PageFlip Profesional pada materi asal-usul nenek moyang
bangsa Indonesia

No Aspek Indikator Deskriptor Skala Penilaian
Penilaian 54321
1. Kesesuaian gambar dengan tujuan
1. Kegrafisan Kualitas Gambar pembelajaran √
2. Kesesuaian gambar sebagai
ilustrasi √
3. Keakuratan gambar

Ketepatan teks 4. Keterbacaan teks √
5. Ketepatan penggunaan teks

2. Pewarnaan 6. Proporsi teks pada halaman √
Kesesuaian warna 1. Keserasian warna √

2. Ketepatan warna dalam √
memperjelas materi

3. Keinteraktifan Ketepatan aplikasi 1. Ketepatan 3D PageFlip Profesional

3D PageFlip dengan tujuan pembelajaran

Profesional 2. Ketertatikan aplikasi 3D PageFlip

Profesional

*

3. Ketepatan aplikasi 3D PageFlip √

Profesional dengan materi pelajaran √
4. Kejelasan aplikasi 3D PageFlip

Profesional

Keefektifan 5. Kejelasan perintah √

perintah (navigasi) 6. Konsistensi penempatan simbol √

7. Ketepatan link (tautan video) √

8. Ketepatan penggunaan navigasi

4. Suara Kesesuaian suara 1. Kejelasan suara

2. Ketepatan suara

Kritik:
• Perhatikan pada penulisan teks, masih belum rapi.
• Icon beranda dll kurang tepat di letakkan di sebelah kiri.
• Beberapa slide masih penuh oleh teks.
• Logo sejarah di sudut atas slide kurang tepat.

Saran :
• Lebih di rapikan lagi pada bagian teks
• Saran saya agar icon beranda dll itu di letakkan di bagian atas, jadi tampilannya seolah
menyerupai web.
• Cari format teks yang lebih rapi dan enak di padang. Buat lebih sejajar.
• Ganti saja background dedaunan pada media tersebut, sesuaikan dengan tema
pembahasan.

Komentar secara umum:
• Buat lebih kreatif lagi sehingga dari media ini dapat mengatasi problem dalam
pembelajaran sejarah.

*

Kesimpulan
Media pembelajaran ini dinyatakan :

1. Layak diujicobakan di lapangan tanpa ada revisi
2. Layak diujicobakan di lapangan dengan revisi
3. Tidak layak diujicobakan di lapangan

: Lingkari salah satu

Palembang, April 2021
Validator

Bayu Suhendry
06032682024003

LEMBAR VALIDASI AHLI MATERI


Judul : Pengembangan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis 3d Pageflip

Profesional Materi Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia
Untuk Sekolah Menengah Atas


Materi Pelajaran : Sejarah Indonesia


Materi Pokok : Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia


Sasaran Program : SMA Kelas X


Petunjuk :


1. Berilah penilaian materi pada multimedia pembelajaran sejarah menggunakan aplikasi
Powerpoint pada materi asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia dengan
memberikan tanda (√) pada kolom skala nilai dengan keterangan sangat baik (skor 5),
baik (skor 4), cukup (3), kurang baik (skor 2), sangat tidak baik (skor 1).


2. Berikan kritik dan saran untuk menyempurnakan materi pada multimedia
pembelajaran sejarah menggunakan aplikasi Powerpoint pada materi asal-usul nenek

moyang bangsa Indonesia.


No. Aspek Indikator Deskriptor Skala Penilaian
Penilaian 54321

1. Kelayakan Isi K e s e s u a i a n 1. Kelengkapan materi √

materi dengan 2. Keluasan materi √
kompetensi √

d a s a r d a n 3. Kedalaman materi

tujuan

pembelajaran


Keakuratan 4. Keakuratan konsep dan √
materi definisi

5. Keakuratan fakta dan √ √
data √

Pendukung 6. Penalaran
materi
pembelajaran 7. Keterkaitan

8. Komunikasi (write and
talk)

9. Penerapan

10. Kemenarikan materi √

11. Mendorong untuk √

mencari informasi lebih

lanjut

Kemutakhiran 12. Kesesuaian materi √

materi dengan perkembangan

ilmu

13. Gambar dan ilustrasi √
aktual

Pendukung 1. Soal latihan pada setiap √
penyajian akhir kegiatan belajar

2. Kunci jawaban soal √
latihan

3. Umpan balik soal √
latihan

Penyajian 4. Keterlibatan peserta √

pembelajaran didik

Kelengkapan 5. Bagian pendahuluan √

penyajian 6. Bagian isi

3. Penilaian Lugas 1. Ketepatan struktur √
bahasa kalimat

2. Keefektifan kalimat √

3. Kebakuan istilah √

Komunikatif 4. Keterbacaan pesan √

5. Ketepatan penggunaan √
kaidah bahasa

Dialogis dan 6. Kemampuan √
interaktif mendorong berpikir
kritis

Kesesuaian 7. Kesesuaian √

dengan perkembangan

tingkat intelektual peserta didik

perkembangan 8. Kesesuaian dengan
peserta didik tingkat perkembangan

emosional peserta didik

Keruntutan 9. Keruntutan dan √
dan keterpaduan antar √
keterpaduan kegiatan belajar
alur pikir
10. Konsistensi penggunaan
istilah

Kritik dan Saran
1. Lengkapi materi dengan pembahasan bangsa Melanesoid agar sesuai dengan
kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi
2. Pada kegiatan pembelajaran bagian pendahuluan tambahkan motivasi misanya,
sikap tolerasi antar rasa tau suku yang memiliki perbedaan secara fisik.
3. Sertakan kunci jawaban dari tes uraian yang dibuat

Kesimpulan
Kualitas materi pada multimedia pembelajaran sejarah materi asal-usul nenek moyang bangsa
Indonesia ini dinyatakan :

a. Layak diuji coba tanpa revisi
b. Layak diuji coba dengan revisi
c. Belum/tidak layak untuk digunakan

Palembang, 16 April 2021
Validator

Siti Swasti Eka D
NIM. 06032682024012

Universitas Sriwijaya
PENGEMBANGAN E-LKPD BERBASIS HIGHER ORDER THINKING SKILL
(HOTS) PADA MATERI TEMA 3 SUBTEMA 1 KELAS V SEKOLAH DASAR

PROPOSAL TESIS

Disusun Oleh:
Luluk Hanun Indarti

06032682024004

MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN 2021

1

Universitas Sriwijaya

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembelajaran pada era digital saat ini sangat mendukung dalam proses belajar
mengajar di jenjang manapun. Melihat dari keadaan saat ini dimana hampir seluruh Negara
menutup aktivitas diluar rumah untuk selalu dirumah saja disebabkan oleh tersebarnya Virus
Corona (covid-19). Virus Corona atau Covid-19 adalah sebuah penyakit berbahaya yang
menular dan mematikan penderitanya yang terpapar, penyakit ini tergolong penyakit yang
baru viral di tahun 2020. Penyakit corona ini disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory
Syndrome Coronavirus (SARS-COVID-19). Covid-19 dapat menyebabkan gangguan pada
sistem pernapasan yang dimulai dari gejala ringan seperti flu, hingga infeksi pada paru-paru
dan menyebabkan kematian (Nugroho, 2020). Melihat angka pasien positif Covid-19 di
Indonesia yang terus bertambah akhirnya dihari yang sama Presiden Joko Widodo
mengumumkan himbauan kepada masyarakat Indonesia untuk mulai beraktivitas di rumah
saja seperti, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah demi mengurangi
penyebaran virus khususnya pada usia lanjut yang rentan akan hal ini.
Pada bidang Pendidikan, melalui Plt Dirjen Dikti, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud), menghimbau bahwa aktivitas belajar mengajar (sekolah) baik
pada jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi untuk melaksanakan belajar dari rumah
saja dengan berbantuan teknologi, walaupun peran seorang guru tidak dapat tergantikan oleh
teknologi tetapi demi tetap berjalannya proses belajar mengajar dalam kondisi pandemi tetap
dilakukan secara virtual. Berkaca dari kejadian ini teknologi sangat berkembang pesat dan
pembelajaran menggunakan media-media dengan berbantukan alat-alat elektronik. Teknologi
merupakan upaya atau alternatif yang sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan
pembelajaran dalam kondisi pandemi ini walaupun dalam kondisi jarak yang jauh tetapi tidak
mengurangi dalam memperoleh ilmu belajar.
Seorang pendidik (guru) harus mampu beradaptasi dengan kondisi pandemi saat ini
dimana guru harus bisa mengoperasikan alat-alat elektronik baik itu gadget (smartphone)
ataupun laptop sebagai alat bantu yang digunakan untuk membuat dan menjadi media dalam
menyampaikan pembelajaran kepada peserta didik. Namun seiring berjalannya waktu seorang
guru kebanyakan hanya menguasai pengetahuan akan materi (content) dan pengetahuan
pedagogisnya saja, padahal berdasarkan penerapan kurikulum 2013 (K13) hal yang
diharapkan kepada seorang guru itu juga harus menguasai, memanfaatkan serta menerapkan
media-media yang berbasis teknologi maka secara tidak langsung guru harus dituntut dapat

2

Universitas Sriwijaya

mengoperasikan komputer/laptop demi kelancaran dalam penyampaian pesan kepada peserta
didik.

Berdasarkan Kurikulum 2013 (k13) memiliki arti pada dasarnya kurikulum ini telah
dirancang oleh pemerintah untuk memudahkan dalam melakukan proses pembelajaran
dimana peserta didik tidak perlu membawa banyak buku modul sebagai bahan ajar (materi
pembelajaran) ke sekolah dalam hal ini disebabkan karena setiap mata pelajaran yang biasa
dipelajari telah tersusun dalam satu buat buku modul yang dinamakan buku tematik
(Rohmatulloh, dkk 2019: 106). Sejalan dengan buku tematik pembelajaran untuk kelas tinggi
dan kelas rendah memiliki sedikit perbedaan pada mata pelajarannya, diantaranya: jika pada
kelas tinggi mata pelajaran Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS), Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), Seni Budaya dan Prakarya
(SBDP), Muatan Lokal (Mulok) tergabung dalam satu tema sedangkan mata pelajaran
Matematika, Pendidikan Agama dan Pendidikan Kesehatan Jasmani telah berdiri sendiri
sebagai mata pelajaran. Sedangkan pada kelas rendah semua pembelajaran tergabung ke
dalam satu tema kecuali mata pelajaran IPA dan IPS tidak ada.

Dalam proses belajar hal yang menjadi tujuan yang akan dicapai dapat diukur salah
satunya melalui hasil belajar dari peserta didik itu sendiri maka sangat dibutuhkannya strategi
belajar yang tepat untuk meningkatkan hasil belajarnya di kelas, disamping itu juga dalam
proses pembelajaran dibutuhkannya berpikir kritis menghadapi masalah-masalah dalam
pembelajaran. Berpikir merupakan kegiatan yang dilakukan oleh setiap individu yang
kerjanya melibatkan otak. Menurut (Santrock, 2011: 359), berpikir kritis adalah sebuah
bentuk pemikiran yang dilakukan secara aktif dan terus-menerus serta akibat dari berpikir
akan menghasilkan atau melibatkan bukti-bukti yang diwujudkan. Sedangkan menurut
(Jensen, 2011: 195), berpendapat bahwa berpikir kritis itu merupakan proses sikap yang
dilakukan oleh setiap orang untuk menghasilkan sebuah pengetahuan ataupun ide yang benar.

Tingkat berpikir kritis tergolong dalam keterampilan yang bisa dibangun oleh setiap
individu, kemampuan berpikir ini bisa disebut dengan Higher Order Thinking Skill (HOTS).
Untuk meningkatkan berpikir tingkat tinggi pada peserta didik perlu dilakukannya
penerapan-penerapan seperti strategi pembelajaran yang sesuai, bahan ajar yang memadai
dan perangkat pembelajaran yang dapat membantu proses penyampaian materi kepada
peserta didik secara efektif salah satunya yaitu Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), sebab
melalui LKPD peran dan aktivitas peserta didik akan muncul serta peserta didik dapat
berinteraksi dengan materi yang telah disediakan (Wulandari & Suparman, 2019: 163).

3

Universitas Sriwijaya

Berkaca dalam kondisi pandemi saat ini dimana pembelajaran dilakukan dengan jarak
jauh atau secara virtual untuk menjaga jarak maka dilakukannya sebuah inovasi perangkat
pembelajaran untuk membantu meningkatkan berpikir kritis peserta didik dalam belajar dan
jalan satu-satunya pendidik harus memanfaatkan bantuan teknologi yaitu dengan
mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik Elektronik (E-LKPD). E-LKPD dibuat dengan
berisikan materi (content), penjelasan yang memuat video, audio dan penjabaran penjelasan
materi sehingga peserta didik lebih tertarik belajar dan lebih percaya diri saat menjawab soal
menggunakan media elektronik. Pembuatan E-LKPD ini didukung dengan menggunakan
Framework Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dimana dalam sebuah
lembar kerja yang akan dikerjakan oleh peserta didik sudah berbasis teknologi dan
didalamnya telah memuat materi yang menjadi sebuah pengetahuan untuk peserta didik itu
sendiri maka demikian, dalam pengerjaan soal-soalnya itu telah didesain menggunakan soal
HOTS untuk merangsang tingkat berpikir peserta didik dan supaya terbiasa berhadapan
dengan soal-soal yang berbasis HOTS.

Dalam penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi, seorang guru harus
menguasai pengetahuan, materi pembelajaran, pedagogi dan teknologi hal ini sangat
berkaitan untuk mensukseskan proses pembelajaran sehingga membentuk suatu kerangka
kerja yang digunakan dalam menyusun perangkat pembelajaran dalam bentuk Technological
Pedagogical Content Knowledge (TPACK). TPACK dicetuskan pertama kali oleh Shuluman
(1987) tentang PCK yang menjelaskan mengenai pemahaman guru tentang teknologi
pendidikan dan interaksi PCK satu dengan yang lain untuk menciptakan pembelajaran yang
bermanfaat bagi peserta didik. PCK merupakan perpaduan Pedagogical Content Knowledge
yang disusun oleh Content Knowledge and Pedagogical Knowledge (Ambaryati, 2018: 2).

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan pada tanggal 11 Januari sampai 3
Februari 2021 melalui wawancara face to face bersama guru kelas V di SDN 19 Rambang
Niru ditemukan pertama; dalam membuat perangkat pembelajaran guru belum membuat
perangkat pembelajaran berbasis teknologi dimana LKPD yang dibuat masih dalam bentuk
lembaran kertas saja; kedua kurangnya pengalaman guru dalam membuat lembar kerja
peserta didik (LKPD) berbasis teknologi; ketiga: soal yang diberikan kepada peserta didik
belum berbasis HOTS. Hal ini disebabkan guru masih menggunakan media klasikal dalam
proses pembelajaran virtual (Via WhatsApp) sehingga content (materi) yang disampaikan
oleh guru kepada peserta didik kurang menarik minat peserta didik dan kondisi tersebut
membuat rendahnya minat belajar peserta didik sehingga menjadi kesulitan tersendiri bagi
peserta didik untuk memahami content (materi) yang disampaikan oleh guru. maka

4

Universitas Sriwijaya

ditemukannya salah satu solusi yang dapat digunakan oleh pendidik dalam mengatasi
permasalahan diatas dengan cara menggunakan lembar kerja peserta didik yang berbasis
elektronik sehingga telah dikemas dalam bentuk yang menarik dan juga dapat disesuaikan
dengan kondisi pandemi seperti ini.

Berdasarkan uraian diatas maka diperlukan Pengembangan E-LKPD Berbasis
Higher Order Thinking Skill (HOTS) pada Materi Tema 3 Subtema 1 Kelas V Sekolah
Dasar dengan harapan dengan adanya pengembangan perangkat pembelajaran ini guru dapat
menggunakan media berbasis teknologi dan menjadi pengetahuan mengenai soal HOTS yang
dapat digunakan dalam menyampaikan pembelajaran agar informasi dan tujuan pembelajaran
tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, berikut adalah rumusan masalah yang akan dibahas:

1.2.1 Bagaimana mengembangkan E-LKPD berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS)
pada Tema 3 Subtema 1 Kelas V Sekolah Dasar?

1.2.2 Bagaimana mengembangkan E-LKPD berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS)
yang valid?

1.2.3 Bagaimana mengembangkan E-LKPD berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS)
yang praktis?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang akan dibahas, maka berikut adalah tujuan dari

penelitian untuk:
1.3.1 Mengembangkan E-LKPD berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS) pada Tema 3

Subtema 1 Kelas V SD.
1.3.2 Mengetahui E-LKPD berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS) yang valid

digunakan untuk belajar.
1.3.3 Mengetahui E-LKPD berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS) yang praktis

digunakan untuk belajar.

1.4 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah yang dibuat oleh penulis dalam penelitian ini, sebagai

berikut:

5

Universitas Sriwijaya

1.4.1 Penerapan E-LKPD berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS) di jenjang Sekolah
Dasar Kelas 5.

1.4.2 Perangkat pembelajaran LKPD pada tema 3 subtema 1 kelas 5 Sekolah Dasar.
1.5 Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1.5.1 Peserta Didik

- Membantu dan mempermudah bagi peserta didik memahami konsep materi setiap
pembelajaran pada tema 3 subtema 1 menggunakan E-LKPD berbasis Higher Order
Thinking Skill (HOTS)

- Meningkatkan peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi dalam belajar.

1.5.2 Guru
- Memberikan pengetahuan kepada guru dalam penggunaan perangkat pembelajaran
berbasis teknologi (E-LKPD)
- Mempermudah bagi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta
didik dengan menggunakan lembar kerja peserta didik elektronik (E-LKPD) berbasis
Higher Order Thinking Skill (HOTS)

1.5.3 Sekolah
Tersedianya E-LKPD di Sekolah dapat membantu dalam memecahkan masalah

belajar di kelas.

1.5.4 Peneliti
Menambah pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan E-LKPD berbasis

Higher Order Thinking Skill (HOTS) untuk merangsang peserta didik dalam berpikir
tingkat tinggi.

6

Universitas Sriwijaya

II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
2.1.1 Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Belajar dan pembelajaran merupakan dua kata yang memiliki arti yang berbeda tetapi
keduanya memiliki hubungan yang erat satu sama lain dalam dunia pendidikan. Belajar
merupakan hal penting bagi setiap orang dimana melalui belajar maka siapapun akan
mendapatkan ilmu yang baru untuk diaplikasikan pada kehidupannya. Sedangkan
pembelajaran merupakan proses yang dilakukan saat belajar, pembelajaran biasanya terjadi
karena ada seorang instruktur/ guru/ tutor yang mengajarkan suatu ilmu pengetahuan kepada
peserta didiknya.

Sejalan dengan penjabaran diatas, istilah belajar menurut (Akhiruddin, dkk 2019: 2)
merupakan sebuah proses perubahan perilaku dari setiap individu atau pelaku belajar yang
dilakukan secara sadar bertujuan untuk menemukan perubahan yang relatif permanen sebagai
hasil dari sebuah pengalaman yang melibatkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Kata
Belajar sendiri menurut (Hamalik, 2017: 36) merupakan sebuah perubahan yang akan
memperteguh sebuah tindakan melalui pengalaman dan proses belajar bukan suatu hasil
ataupun tujuan dimana belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi belajar dapat diartikan
secara luas yaitu sebuah pengalaman yang dialami oleh setiap individu.

Dilanjutkan dengan pembelajaran menurut (Hamalik, 2017: 57) menyatakan bahwa
pembelajaran merupakan suatu bentuk gabungan yang tersusun atas unsur manusiawi,
material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling melengkapi satu sama lain untuk
membantu mencapai sebuah tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Sedangkan itu
adapun Istilah “pembelajaran” sama dengan “instruction atau “pengajaran”. Pengajaran
mempunyai arti cara mengajar atau mengajarkan (Purwadinata, 1967: 22 dalam Akhiruddin,
dkk 2019). Dengan demikian pembelajaran merupakan proses yang dilakukan oleh seorang

7

Universitas Sriwijaya

guru (pengajar) dan peserta didik (pembelajar) sebagai bentuk dari kegiatan belajar untuk
mendapatkan sebuah ilmu pengetahuan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar itu memiliki proses yang
harus dilakukan yang disebut dengan pembelajaran yang bisa didapat secara luas melalui
sebuah pengalaman dan pembelajaran juga adalah proses yang membutuhkan sebuah
komunikasi/ interaksi antara pengajar (guru) dan pembelajar (peserta didik) agar tujuan dari
belajar dapat tercapai sesuai dengan harapan yang telah ditentukan dengan didukung
aspek-aspek yang saling berkontribusi satu sama lain.

2.1.2 Pembelajaran Jarak Jauh
Pembelajaran adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mendapatkan sebuah

informasi dan ilmu pengetahuan yang positif. Proses mendapatkan ilmu pengetahuan bisa
kapan saja dan dimana saja baik dalam sekolah maupun dilingkungan sekitar. Virus Covid-19
adalah sebuah virus mematikan dan berbahaya bagi manusia, sehingga beralaskan hal ini
dunia pendidikan mengalihkan pembelajaran dari tatap muka menjadi tatap maya (online)
yang biasa disebut dengan pembelajaran jarak jauh untuk mengurangi resiko terpaparnya
virus tersebut (Graham, dkk 2020: 29). Berdasarkan kondisi pandemi yang menimpa seluruh
Negara yang membuat pengaruh pada perubahan dunia pendidikan dimana proses
pembelajaran dilakukan secara online atau virtual (Pembelajaran Jarak Jauh). Menurut
(Ajmal, dkk 2019: 141) pembelajaran online merupakan suatu proses pembelajaran yang
memisahkan antara guru dan peserta didik secara fisik dimana pembelajaran dilakukan
dengan bantuan telekomunikasi.

Disamping itu juga (Kachalov, dkk 2020: 3) menyatakan bahwa pembelajaran jarak
jauh itu merupakan sebuah alternatif dalam sebuah pembelajaran yang bisa dilakukan saat
kondisi pandemi, artinya dalam pembelajaran ini adalah alternatif itu terbilang nyata tidak
mengurangi proses pembelajaran dan dapat dilakukan dengan waktu yang fleksibel, efektif
dan ringan biaya. Kemudian menurut (Cheng, 2020: 502 dalam Belay, 2020: 2) menyatakan
bahwa kondisi sekarang bisa disebut dengan “School’s Out, But Class Is On” artinya
meskipun belajar dari rumah dalam kondisi pandemi saat ini dengan melakukan belajar
secara virtual tidak akan mengurangi rasanya sekolah untuk menerima pelajaran seperti biasa
dan tidak juga memberhentikan proses belajar mengajar. Berdasarkan uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa untuk menghadapi kondisi pandemi yang disebabkan oleh virus Covid-19

8

Universitas Sriwijaya

dalam proses pembelajaran agar tetap berlangsung maka dapat menggunakan alternatif yaitu
dengan melakukan pembelajaran jarak jauh yang lebih efektif, efisien dan fleksibel.

2.2 Lembar Kerja Peserta Didik Elektronik (E-LKPD)
2.2.1 Pengertian Lembar Kerja Peserta Didik

Lembar kerja peserta didik (LKPD) merupakan sebagai sarana yang digunakan oleh
peserta didik dalam belajar yang membentuk sebuah interaksi antara peserta didik dan
pendidik dalam pembelajaran, LKPD juga berperan sebagai pembangun aktivitas belajar
peserta didik. Menurut (Prastowo, 2012; Wijayanti, 2015) lembar kerja peserta didik
merupakan suatu bahan ajar cetak yang berupa lembar-lembaran kertas yang berisikan suatu
materi, ringkasan, serta petunjuk-petunjuk pengerjaan suatu tugas pembelajaran yang harus
diselesaikan oleh peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Sedangkan menurut (Kaymakci, 2012: 57) bentuk bahan ajar dapat berupa media visual,
audio, audio visual dan media interaktif lainnya. Salah satu bahan ajar bentuk visual yang
memiliki peran penting dalam kegiatan pembelajaran adalah lembar kerja peserta didik. Maka
menurut (Abdurrahman, dkk 2020: 446) menyatakan bahwa pengembangan LKPD dalam
pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis bagi peserta didik.

Berkaitan dengan pendapat diatas, sebuah lembar kerja peserta didik memiliki fungsi
yang tidak kalah pentingnya dengan pembelajaran menggunakan alat peraga (Untayana &
Harta, 2016 dalam Sagita, dkk 2018: 250). Dalam hal ini juga disampaikan oleh Winder

Lembar kerja tidak kalah pentingnya dengan rencana pembelajaran dalam alat peraga. Kemudian adapun
pendapat lain mengenai alat peraga Bahwa ”...your plan for a topic should include:... details of relevant
resources, such as textbooks, worksheet, ICT resources web-based material, etc.” (Welder, Sue, & Pim,
2011).

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, menyatakan bahwa lembar kerja peserta didik
itu berupa lembar-lembar kertas yang berisikan materi melalui buku ataupun web internet,
serta petunjuk-petunjuk pengerjaan tugas atas materi tersebut, disamping itu juga LKPD
digunakan untuk mempermudah bagi guru menyampaikan materi dan mempermudah bagi
peserta didik menerima materi sebab dalam LKPD juga berisikan ringkasan-ringkasan atas
materi yang akan diajarkan. Sesuai dengan perkembangan zaman yang telah berkembang
abad 21 dan merujuk pada kurikulum pembelajaran yaitu kurikulum 2013 serta kondisi
pandemi ini dimana hampir semua pembelajaran telah menggunakan teknologi. Untuk
menyeimbangkan dan memanfaatkan teknologi sebagaimana mestinya maka perlu adanya
perubahan dalam segi penggunaan perangkat pembelajaran berupa lembar kerja peserta didik
dari bentuk lembar-lembaran kertas (Hard File) menjadi bentuk elektronik (Online) dengan

9

Universitas Sriwijaya
cara mengembangkan cara baru untuk membuat Lembar kerja peserta didik elektronik
(E-LKPD) menggunakan Software Live Worksheet yang tidak mengubah fungsi dari LKPD
sendiri melainkan mengembangkan dengan memperbarui dalam segi bentuknya agar lebih
menarik, praktis dan efisien untuk digunakan dalam pembelajaran.
2.2.2 Hubungan LKPD dan Framework TPACK

Perkembangan Abad digital saat ini dan mengacu pada kurikulum 2013 dimana
seorang pendidik dituntut untuk mengajar menggunakan bantuan teknologi, artinya setiap
pendidik harus bisa dan mampu mengoperasikan media-media yang telah berbasis elektronik.
Sering ditemukan bahwasannya seorang guru saat mengajar hanya menguasai materi dan
pedagoginya saja dengan mengandalkan buku modul sebagai sumber belajar. Sejalan dengan
hal tersebut seorang pendidik dapat menggunakan suatu framework pembelajaran yang
sejalan dengan kurikulum 2013 yaitu Technological Pedagogical Content Knowledge
(TPACK) dimana melalui pendekatan ini bukan hanya aspek content dan pedagogi saja yang
terlibat tetapi aspek memanfaatkan teknologi melalui media pembelajaran yang akan
meningkatkan pengetahuan dari peserta didik tersebut. Menurut (Mishra and Koehler 2006;
Brueck and Lenhart, 2015: 372) menyatakan bahwa sebuah kerangka kerja yang semakin
banyak digunakan untuk mendeskripsikan sebuah dasar pengetahuan untuk mengetahui
dengan siapa pendidik itu mengajar secara efektif dengan menggunakan teknologi. Berikut
adalah kerangka TPACK yang dituliskan oleh Mishra and Koehler:

Gambar 1. Kerangka TPACK From Mishra, P., & Koehler, M.J. (2006)

10

Universitas Sriwijaya

Dalam proses penyampaian pembelajaran, seorang guru harus memadukan konten,
pedagogis, dan teknologi pengetahuan serta interaksi dari setiap pengetahuan yang akan
diberikan kepada peserta didik. Oleh karena itu guru sangat membutuhkan sebuah pendekatan
pembelajaran Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) yang telah didesain
sebagai pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi. Menurut (Thompson &
Mishra, 2007, dalam Dias & Ertmer, 2013: 104 ) menguraikan tujuh jenis pengetahuan yang
dibutuhkan agar integrasi dari pengetahuan dan teknologi itu terlaksana, antara lain;
pengetahuan konten (CK); pengetahuan pedagogis (PK); pengetahuan teknologi (TK);
pengetahuan konten pedagogi (PCK); pengetahuan konten teknologi (TCK); pengetahuan
pedagogi teknologi (TPK); dan teknologi pedagogi konten pengetahuan (TPACK).

TPACK merupakan sebuah pendekatan yang tersusun dengan kerangka kerja dalam
mendesain model pembelajaran baru dengan menggabungkan tiga aspek yaitu teknologi,
pedagogi dan konten (materi). Penggunaan dan pemanfaatan teknologi sebagai media dalam
penyampaian materi kepada peserta didik dengan menggunakan kerangka TPACK seorang
pendidik perlu memperhatikan aspek pedagogisnya. Aspek pedagogi merupakan aspek yang
sangat penting yang perlu diperhatikan dalam sebuah kegiatan pembelajaran, aspek ini bukan
hanya keahlian dalam mengajar ataupun kelengkapan dalam desain dan instrumen-instrumen
penilaian dalam pembelajaran namun pendidik juga perlu memahami kondisi peserta didik
secara psikologis dan biologis serta lingkungannya (Purnawati, dkk 2020: 127). Berdasarkan
hal tersebut sering menimbulkan banyak isu yang mengatakan bahwa peserta didik berhasil
dikarenakan gurunya berhasil dalam memberikan pendidikan saat melakukan pembelajaran.

Framework TPACK ini dapat digunakan untuk membantu guru dalam menyampaikan
materi pembelajaran dengan memanfaatkan bantuan teknologi sebagai media yang digunakan
yang berisikan pedagogi dan konten di dalamnya (Thalib, Yassin, Nasir, & Bunyamin, 2016
dalam Abu Bakar, dkk 2020). Oleh karena itu, pendekatan TPACK ini merupakan sebuah
pendekatan yang memandu guru untuk mengintegrasikan teknologi dengan pedagogi dan
pengetahuan konten pembelajaran yang bisa digunakan dalam pengembangan E-LKPD yang
akan digunakan untuk proses pembelajaran kepada peserta didik sehingga dapat memicu
motivasi dan merangsang untuk berpikir tingkat tinggi dalam mengikuti pembelajaran sampai
finish, dengan kata lain tujuan pembelajaran akan tercapai dan akan berdampak dengan
meningkatnya hasil belajar peserta didik tersebut.

2.3 Higher Order Thinking Skill (HOTS)
2.3.1 Pengertian HOTS

11

Universitas Sriwijaya

Keterampilan berpikir merupakan suatu bentuk kegiatan yang dasar dan sering
dilakukan oleh setiap individu dimana didalamnya menggabungkan sikap-sikap,
pengetahuan, dan keterampilan-keterampilan yang memungkinkan individu tersebut
membentuk lingkungannya menjadi efektif. Menurut (Sucipto, 2017: 64) menyatakan bahwa
berpikir merupakan serangkaian dari sebuah aktivitas mental yang terjadi apabila individu
tersebut sedang menghadapi masalah atau situasi yang urgen untuk diselesaikan. Kegiatan
berpikir dapat dibagi menjadi dua yaitu: berpikir tingkat rendah (lower order thinking),
berpikir tingkat menengah (middle order thinking) dan berpikir tingkat tinggi (higher order
thinking).

Higher Order Thinking Skill (HOTS) dapat digunakan dalam proses pembelajaran
dimana dapat berbentuk asesmen yang harus diselesaikan oleh peserta didik. penggunaan soal
berbentuk HOTS dapat merangsang keterampilan berpikir yang dimiliki peserta didik serta
melalui HOTS juga dapat mengajarkan kepada peserta didik untuk memecahkan sebuah
masalah demi mencapai tujuan yang diharapkan. Menurut (Woolfolk, 2008 dalam Sucipto
2017), menyatakan bahwa peserta didik yang memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi
maka peserta didik itu mampu membedakan antara keadaan yang nyata dan khayalan,
mengidentifikasi informasi yang relevan, mampu memecahkan sebuah masalah yang ditemui,
dan mampu menyimpulkan informasi yang telah dianalisisnya.

Berdasarkan uraian diatas, maka HOTS merupakan sebuah karakteristik kemampuan
tingkat tinggi dengan melibatkan kognitif yang mencakup berpikir kritis dan berpikir kreatif.
Berpikir kritis dan kreatif merupakan dua kemampuan yang dimiliki setiap individu yang
sangat dasar untuk menghadapi masalah secara kritis dan kreatif.

2.3.2 Taksonomi Bloom
Taksonomi adalah sebuah kerangka pikir yang khusus dalam dunia pendidikan yang

berisikan satu kata kerja atau satu kata benda untuk mencapai sebuah tujuan pembelajaran
(Anderson & Krathwohl, 2015: 6). Menurut Taksonomi Bloom yang telah direvisi dalam
(Anderson & Krathwohl, 2010: 40) pada aspek kognitif meliputi: mengingat (C1), memahami
(C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6).

Berdasarkan pendapat Bloom, HOTS dimulai pada tahap menganalisis (C4) dan untuk
tingkat Sekolah Dasar (SD) untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah masih
tergolong sederhana belum terlalu kompleks (Ichsan, dkk 2019: 936). Kemudian Menurut
(Anderson & Krathwohl, 2010: 400 dalam Darmawan & Sujoko, 2013: 37) menyatakan
bahwa taksonomi sangat bermanfaat untuk membantu para pendidik dalam tiga cara.

12

Universitas Sriwijaya

Pertama, taksonom dapat membantu para guru untuk mencapai tujuan dalam melakukan
pembelajaran. Kedua, taksonomi dapat digunakan untuk menjawab
permasalahan-permasalahan pembelajaran perihal dengan tujuan yang akan dicapai. Ketiga,
taksonomi dapat membantu para pendidik untuk menentukan kesesuaian antara tujuan,
pembelajaran yang dilakukan dan penilaian kepada peserta didik.

Kesimpulannya adalah kata kerja atau kata benda yang dicetuskan oleh Benyamin S.
Bloom yang disebut dengan Taksonomi Bloom memiliki peran dan manfaat yang sangat
penting khususnya bagi para pendidik sebab, melalui taksonomi Bloom dapat membantu
pendidik untuk menyusun kesesuaian tujuan pembelajaran dengan pembelajaran serta
penilaian yang akan dilakukan kepada peserta didik sehingga dapat mempermudah juga
untuk mengukur ketercapaian hasil peserta didik setelah mengikuti pembelajaran.

2.4 Tema 3 (Makanan Sehat ) Subtema 1(Bagaimana Tubuh Mengolah Makanan?)
Perubahan dan transformasi dunia menjadi abad 21 berpengaruh pula pada dunia

pendidikan salah satunya yaitu perubahan pada kurikulum. Kurikulum yang diterapkan pada
pendidikan sekarang ialah kurikulum 2013 dimana setiap mata pelajaran telah tergabung
menjadi sebuah tema (TEMATIK) yang saling keterkaitan satu sama lain. Setiap materi mata
pelajaran telah disusun berdasarkan kompetensi inti (KI), kompetensi dasar (KD) dan
indikator pembelajaran.

Pembelajaran di kelas V Sekolah Dasar sebanyak 9 tema diantaranya, tema 1 sampai
tema 5 dipelajari pada semester ganjil dan tema 6 sampai tema 9 dipelajari pada semester
genap. Tema 3 (Makanan Sehat ) Subtema 1(Bagaimana Tubuh Mengolah Makanan?)
mempelajari mengenai sistem pencernaan pada hewan ruminansia dan sistem pencernaan
pada manusia. Berikut adalah kompetensi dasar yang terdapat pada setiap mata pelajaran di
tema 3 subtema 1:

Tabel. 1 Kompetensi Inti

No Kompetensi Inti

1 Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.

2 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, santun, percaya diri, peduli, dan bertanggung
jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangga, dan negara.

3 Memahami pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada
tingkat dasar dengan cara mengamati, menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin
tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda
yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain.

13

Universitas Sriwijaya

4 Menunjukkan keterampilan berfikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri,
kolaboratif, dan komunikatif. Dalam bahasa yang jelas, sistematis, logis dan kritis,
dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan
tindakan yang mencerminkan perilaku anak sesuai dengan tahap perkembangannya.

Tabel 2. Kompetensi Dasar setiap Mata Pelajaran

No Pembelajaran Pkn Bahasa IPS SBDp IPA
1 Pembelajaran 1 Indonesia

3.4 3.3. Menjelaskan
Menganalisis organ
informasi yang pencernaan dan
disampaikan fungsinya pada
paparan iklan hewan dan
dari media cetak manusia serta
atau elektronik cara memelihara
4.4 kesehatan organ
Memeragakan pencernaan
kembali manusia 4.3.
informasi yang Menyajikan
disampaikan karya tentang
paparan iklan konsep organ
dari media cetak dan fungsi
atau elektronik pencernaan pada
dengan bantuan hewan atau
lisan, tulis, dan manusia
visual

2 Pembelajaran 2 3.4 3.2 Memahami 3.3. Menjelaskan
Menganalisis tangga nada. organ
informasi yang 4.2 pencernaan dan
disampaikan Menyanyikan fungsinya pada
paparan iklan lagu-lagu hewan dan
dari media cetak dalam berbagai manusia serta
atau elektronik tangga nada cara memelihara
4.4 dengan iringan kesehatan organ
Memeragakan musik pencernaan
kembali manusia 4.3.
informasi yang Menyajikan
disampaikan karya tentang
paparan iklan konsep organ
dari media cetak dan fungsi
atau elektronik pencernaan pada
dengan bantuan hewan atau
lisan, tulis, dan manusia
visual

3. Pembelajaran 3 1.3 3.4 3.2

14

Universitas Sriwijaya

Mensyukuri Menganalisis Menganalisis
keragaman informasi yang bentuk-bentuk
sosial disampaikan interaksi
masyarakat paparan iklan manusia
sebagai dari media cetak dengan
anugerah atau elektronik lingkungan dan
Tuhan Yang 4.4 pengaruhnya
Maha Esa Memeragakan terhadap
dalam konteks kembali pembangunan
Bhineka informasi yang sosial, budaya,
Tunggal Ika disampaikan dan ekonomi
2.3 Bersikap paparan iklan masyarakat
toleran dalam dari media cetak Indonesia 4.2
keragaman atau elektronik Menyajikan
sosial budaya dengan bantuan hasil analisis
masyarakat lisan, tulis, dan tentang
dalam konteks visual interaksi
Bhineka manusia
Tunggal Ika dengan
3.3 Menelaah lingkungan dan
keragaman pengaruhnya
sosial budaya terhadap
masyarakat 4.3 pembangunan
Menyelenggar sosial, budaya
akan kegiatan dan ekonomi
yang masyarakat
mendukung Indonesia
keragaman
sosial budaya
masyarakat

4 Pembelajaran 4 1.3 3.4 3.2

Mensyukuri Menganalisis Menganalisis

keragaman informasi yang bentuk-bentuk

sosial disampaikan interaksi

masyarakat paparan iklan manusia

sebagai dari media cetak dengan

anugerah atau elektronik lingkungan dan

Tuhan Yang 4.4 pengaruhnya

Maha Esa Memeragakan terhadap

dalam konteks kembali pembangunan

Bhineka informasi yang sosial, budaya,

Tunggal Ika disampaikan dan ekonomi

2.3 Bersikap paparan iklan masyarakat

toleran dalam dari media cetak Indonesia 4.2

keragaman atau elektronik Menyajikan

sosial budaya dengan bantuan hasil analisis

masyarakat lisan, tulis, dan tentang

dalam konteks visual interaksi

15

Universitas Sriwijaya

Bhineka manusia
Tunggal Ika dengan
3.3 Menelaah lingkungan dan
keragaman pengaruhnya
sosial budaya terhadap
masyarakat 4.3 pembangunan
Menyelenggar sosial, budaya
akan kegiatan dan ekonomi
yang masyarakat
mendukung Indonesia
keragaman
sosial budaya
masyarakat

5 Pembelajaran 5 3.4 3.2 Memahami 3.3. Menjelaskan
Menganalisis tangga nada. organ
informasi yang 4.2 pencernaan dan
disampaikan Menyanyikan fungsinya pada
paparan iklan lagu-lagu hewan dan
dari media cetak dalam berbagai manusia serta
atau elektronik tangga nada cara memelihara
4.4 dengan iringan kesehatan organ
Memeragakan musik pencernaan
kembali manusia 4.3.
informasi yang Menyajikan
disampaikan karya tentang
paparan iklan konsep organ
dari media cetak dan fungsi
atau elektronik pencernaan pada
dengan bantuan hewan atau
lisan, tulis, dan manusia
visual

6 Pembelajaran 6 1.3 3.4 3.2 Memahami
tangga nada.
Mensyukuri Menganalisis 4.2
Menyanyikan
keragaman informasi yang lagu-lagu
dalam berbagai
sosial disampaikan tangga nada
dengan iringan
masyarakat paparan iklan musik

sebagai dari media cetak

anugerah atau elektronik

Tuhan Yang 4.4

Maha Esa Memeragakan

dalam konteks kembali

Bhineka informasi yang

Tunggal Ika disampaikan

2.3 Bersikap paparan iklan

toleran dalam dari media cetak

keragaman atau elektronik

sosial budaya dengan bantuan

masyarakat lisan, tulis, dan

16

Universitas Sriwijaya

dalam konteks visual
Bhineka
Tunggal Ika
3.3 Menelaah
keragaman
sosial budaya
masyarakat 4.3
Menyelenggar
akan kegiatan
yang
mendukung
keragaman
sosial budaya
masyarakat

2.5 Model dalam Penelitian Pengembangan
Penelitian pengembangan merupakan sebuah langkah yang biasa digunakan bagi para

peneliti untuk mengembangkan sesuatu. Disamping itu juga penelitian pengembangan
memiliki beberapa model yang dapat dijadikan suatu langkah-langkah dalam
mengembangkan suatu produk. Berikut merupakan beberapa model dari penelitian
pengembangan:

2.5.1 Model ADDIE
Model ADDIE merupakan sebuah kerangka kerja yang terdiri dari 5 langkah-langkah.

Menurut (Shelton, dkk 2008: 41) menyatakan bahwa model ADDIE merupakan suatu model
perancangan dalam pembelajaran yang menyediakan proses terorganisasi dalam
pembangunan bahan-bahan pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran tatap
muka maupun tatap maya. Sedangkan menurut (Peterson, 2003: 240) menyatakan bahwa
model ADDIE adalah sebuah framework yang terbilang sederhana yang berguna untuk
merancang sebuah pembelajaran dimana setiap prosesnya dapat diterapkan dalam berbagai
setting disebabkan karena struktur dalam model ini yang terbilang umum. Dalam Model
ADDIE memiliki lima langkah antara lain: 1) Analisis; 2) Desain; 3) Pengembangan; 4)
Implementasi dan; 5) Evaluasi.

2.5.2 Model Pengembangan Borg and Gall
Model pengembangan Borg and Gall (2001) merupakan suatu model pengembangan

yang menggunakan alur seperti air terjun atau biasa disebut dengan waterfall di setiap tahap
pengembangannya. Tahap pengembangannya mulai dari analisis kebutuhan hingga pada

17

Universitas Sriwijaya

tahap penyebarannya yang disusun secara terperinci sehingga memudahkan dalam
pengembangan. Revisi pada model Borg and Gall dilakukan setelah uji coba one to one, uji
coba kelompok kecil dan uji coba lapangan.

2.5.3 Thiagarajan
Thiagarajan menyatakan langkah-langkah penelitian dan pengembangan dengan

desain model 4D, yang merupakan kepanjangan dari Define, design, development,
dissemination (Sugiyono, 2016: 38).

Berdasarkan ketiga model pengembangan yang telah dituliskan oleh penulis, maka
penulis akan menggunakan model pengembangan ADDIE pada penelitian Development and
Research dikarenakan penulis akan mengembangan Lembar Kerja Peserta Didik berbasis
elektronik yang berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS) dengan menggunakan empat
tahapan yaitu: 1) Analisis; 2) Desain; 3) Pengembangan; 4) Implementasi dan; 5) Evaluasi.

2.6 Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah:

1. Penelitian pengembangan yang dilakukan oleh Joko Suyamto dengan judul
“Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis TPACK (Technological,
Pedagogical, Content, Knowledge) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa Kelas XI pada Materi Sistem Peredaran Darah”. Penelitian ini menghasilkan
bahwa pengembangan perangkat pembelajaran biologi berbasis TPACK sangat layak
digunakan dan mampu meningkatkan berpikir kritis siswa saat belajar. Penelitian
terdahulu memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis
yang terletak pada pengembangan perangkat pembelajaran dengan menggunakan
framework TPACK.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Chintia Tri Noprinda dan Sofyan M. Soleh dengan
judul “Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Higher Order
Thinking Skill (HOTS). Dalam penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan
dengan rencana penelitian yang dilakukan oleh penulis hal ini menunjukkan
persamaannya yaitu sama dalam mengembangkan LKPD berbasis HOTS namun
perbedaannya penelitian terdahulu masih mengembangkan LKPD offline sedangkan
rencana penulis akan mengembangkan LKPD online (E-LKPD).

2.7 Kerangka Berpikir

18

Universitas Sriwijaya

Kehidupan pada abad 21 telah berkembangnya kemajuan teknologi dan hampir semua
kegiatan bisa terbentuk oleh adanya teknologi. Dalam dunia pendidikan telah diterapkannya
kurikulum 2013 (K13) maka guru dituntut harus mampu mengoperasikan media-media
pembelajaran dengan menggunakan teknologi. Berdasarkan kurikulum 2013 maka terdapat 3
ranah penilaian yang harus dinilai oleh seorang guru kepada peserta didiknya, antara lain:
ranah afektif, ranah kognitif dan ranah psikomotorik. Maka dari hal tersebut untuk memacu
peserta didik memiliki keterampilan dalam berpikir tingkat tinggi akan berpengaruh pada
aspek penilaian ranah kognitif.

Di Sekolah Dasar kelas tinggi untuk membuat soal-soal, seorang guru perlu
memperhatikan Taksonomi Bloom dan menyesuaikannya dengan jenjang tingkat kelas. Pada
kelas V SD sudah mulai pada tahap menganalisis (C4) dimana untuk kelas tinggi bisa
diterapkannya soal-soal berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS). Berkaca pada kondisi
pandemi saat ini, dimana setiap Negara menerapkan kebijakan untuk tidak membuka sekolah
dan melakukan aktivitas dirumah saja maka cocok sekali dengan konsep kurikulum 2013
untuk lebih mengenal lebih jauh dan memanfaatkan mengenai media-media pembelajaran
berbasis teknologi.

Hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti di SD Negeri 19
Rambang Niru bahwa perangkat pembelajaran belum adanya inovasi baru, dimana
pembelajaran daring ini guru hanya memberikan pembelajaran melalui grup WhatsApp saja,
disamping itu juga guru-guru belum memiliki pengalaman untuk membuat media
pembelajaran berbasis teknologi serta soal-soal yang diberikan kepada peserta didik kelas
tinggi masih belum berbasis HOTS. Maka berdasarkan hal tersebut akan disusun skema
penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebagai berikut:

19

Universitas Sriwijaya
Gambar 1. Kerangka Berpikir

20

Universitas Sriwijaya

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Romli, S., Distrik, I. W., Herlina, K., Umam, R., Ramadhani, R., &
Sumarni, S. 2020. Development and validation of open ended based on
worksheet for growing higher level thinking skills of students. European
Journal of Educational Research, 9(2), 445-455.
https://doi.org/10.12973/eu-jer.9.2.445

Abu Bakar, Nurul Shahhida, Siti Mistima Maat, Roslinda Rosli.2020. Efisiensi
Teknologi Guru Matematika Integrasi dan Konten Pedagogis Teknologi
Pengetahuan.Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia. Journal on
Mathematics Education, Volume 11, No. 2, May 2020, pp. 259-276

Akhiruddin, dkk. 2019. Belajar dan Pembelajaran. CV Cahaya Bintang Cemerlang.
Anderson, Lorin W. & Krathwohl, David R. 2010. Kerangka Landasan Untuk

Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Belay, D. G. (2020). COVID-19, Distance Learning and Educational Inequality in

Rural Ethiopia. Pedagogical Research, 5(4), em0082.
https://doi.org/10.29333/pr/9133
Cheng, X. (2020). Challenges of “School’s Out, But Class’s On” to School
Education: Practical Exploration of Chinese Schools during the COVID-19
Pandemic. Sci Insight Edu Front, 5(2), 501-516.
https://doi.org/10.15354/sief.20.ar043
Darmawan, I. P., & Sujoko, E. (2013). REVISI TAKSONOMI PEMBELAJARAN
BENYAMIN S. BLOOM. Satya Widya, 29(1), 30-39.
https://doi.org/10.24246/j.sw.2013.v29.i1.p30-39
Dias, Laurie Brantley & Peggy A. Ertmer. 2014. Goldilocks and TPACK. Article in
Journal of Research on Technology in Education · February 2014.
https://www.researchgate.net/publication/261331689

27

Universitas Sriwijaya

G. Muruganantham. 2015. Developing an E-content package by using the ADDIE
model. scholar in the Department of Education, Annamalai University, India.
www.allresearchjournal.com

Hamalik, Oemar. (2017). Kurikulum dan Pembelajaran. --Ed. 1, Cet. 16--. Jakarta:
Bumi Aksara.

Hesti Wulandari, Suparman. 2019. Analisis Kebutuhan E-LKPD Untuk
Menstimulasi Kemampuan Berpikir Kritis. Volume 1, Number 1, 2019, pp.
162-167. ISBN: 978-602-0737-35-5. Universitas Ahmad Dahlan,
Yogyakarta-Indonesia, December 30, 2019

https://fatkhan.web.id/macam-macam-dan-jenis-penelitian-pengembangan/

Ichsan, I. Z, Sigit, D. V., Miarsyah, M., Ali, A., Arif, W. P., & Prayitno, T. A. 2019.
HOTS-AEP: Higher order thinking skills from elementary to master students
in environmental learning. European Journal of Educational Research, 8 (4),
935-942. https://doi.org/10.12973/eu-jer.8.4.935

Jensen, Eric. 2011. Pembelajaran Berbasis Otak: Paradigma Pengajaran Baru.
Jakarta: Indeks.

Jeremy S. Brueck, Lisa A. Lenhart.2015. E-Buku dan TPACK Apa yang dibutuhkan
Guru. Guru Membaca Vol. 68 Edisi 5 hlm. 371–374 DOI: 10.1002 / trtr.1323
© 2014 International Reading Association

Kachalov, D. V., Ivanova, O. N., Gubanova, N. V., Belotserkovskaya, N. V., &
Kuznetsov, S. V. (2020). Implementation of a Differentiated Approach to the
Organization of Distance Learning. Propósitos y Representaciones,
Universidad San Ignacio de Loyola, Vicerrectorado de Investigación. 8(3),
e584. doi: http://dx.doi.org/10.20511/pyr2020.v8n2.584

Laela Sagita, Rudha Widagsa, Nendra Mursetya Somasih Dwipa. 2018.
mengembangkan Lembar Kerja Ilmia Bilingual Untuk Integral Tak Tepat.
Jurnal Pendidikan Matematika. Universitas PGRI Yogyakarta. Volume 9, No.
2, Juli 2018, Hlm 249-258

Michael Shelton, Jeff Metz, Jun Liu, Richard L. Carpenedo, Simon-Pierre Demers,
William L. Stanford, and Ilona S. Skerjanc. 2014. Derivation and Expansion
of PAX7-Positive Muscle Progenitors from Human and Mouse Embryonic
Stem Cells. Stem Cell Reports Vol. 3. 516–529. September 9, 2014

Mishra, P., & Koehler, MJ. 2006. Teknologi Pengetahuan konten pedagogis:
Kerangka Kerja untuk Pengetahuan Guru. Catatan Guru Perguruan Tinggi,
108 (6), 1017–1054.

28

Universitas Sriwijaya

Muhammad Ajmal, Mahek Arshad, & Javaria Hussain. 2019. Instructional Design in
Open Distance Learning: Present Scenario in Pakistan. Pakistan Journal of
Distance & Online Learning Volume: V, Issue II, 2019, 139-156

Nugroho, R. S. (2020, Maret 12). Apa Itu Pandemi Global seperti yang Dinyatakan
WHO pada Covid-19? Retrieved from KOMPAS.com:
www.google.co.id/amp/s/amp.kompas.com/tren/read/2020/03/12/060100465/
apa-itu-pandemi-global-seperti-yang-dinyatakan-who-pada-covid-19

Prastowo, A., 2011, Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif, Yogyakarta,
DIVA press

Purwadinata. 1967. Psikologi Pendidikan dengan Pendidikan Baru. Bandung:
Remaja Rosdakarya

Rohmatullah, Ana. Zuhdan Kun Prasetyo, & Haryo Aji Pambudi. 2019.
Implementation of the 2013 Curriculum for Science Learning. Graduate
School, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, & Universitas Sanata
Dharma, Indonesia. Mimbar Sekolah Dasar, Vol. 6(1) 2019, 105-115.
http://ejournal.upi.edu/index.php/mimbar

Santrock, John W. 2011. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.

Savannah R, Graham. Alex Tolar, & Hayat Hokayem. 2020. Teaching Preservice
Teachers about COVID-19 through Distance Learning. Electronic Journal for
Research in Science & Mathematics Education. Vol. 24, No. 3, 29-37.
International Consortium for Research in Science & Mathematics Education
(ICRSME)

Selahattin Kaymakcı.2012. A Review of Studies on Worksheets in Turkey.
Karadeniz Technical University, Trabzon, Turkey. US-China Education
Review A 1 (2012) 57-64. Earlier title: US-China Education Review, ISSN
1548-6613

Sucipto. 2017. Pengembangan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dengan
Menggunakan Strategi Metakognitif Model Pembelajaran Problem Based
Learning. Jurnal Pendidikan Volume 2 Nomor 1 Tahun 2017 Halaman: 63-71
e-ISSN: 2527-6891

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta

…………. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta

Talib, N., Yassin, SFM, Nasir, MKM, & Bunyamin, MAH (2016). Mengintegrasikan
teknologi pengetahuan pedagogis dan konten dalam kursus pemrograman

29

Universitas Sriwijaya
komputer: Masalah dan tantangan. Jurnal Desain Penelitian Lanjutan , 27
(1), 1-15.
Thompson, A. D., & Mishra, P. 2007. Breaking news: TPCK becomes TPACK!
Journal of Computing in Teacher Education, 24, 38, 64.
Untayana, J. R., & Harta, I. 2016. Pengembangan Perangkat pembelajaran Limit
Berbasis Pendekatan Saintifik Berorientasi Prestasi Belajar dan Kemampuan
Komunikasi Matematika. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3(1), 45-54.
Welder, J., Sue, L., & Pim, D. 2011. Learning to Teach Mathematics in the
Secondary School: A companion to school experience (3th Edition).
Routledge: Learning to Teach Subjects in the Secondary School
Wijayanti, D., 2015, Pengembangan Media Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis
Hierarki Konsep Untuk Pembelajaran Kimia Kelas X Pokok Bahasan
Pereaksi Pembatas, Universitas Sebelas Maret.
Wilda Purnawati, Maison Maison, dan Haryanto Haryanto. 2020. Berbasis E-LKPD
Pengetahuan Konten Pedagogis Teknologi (TPACK): Sebuah Pengembangan
Sumber Belajar Pembelajaran Fisika.Universitas Jambi. Tarbawi: Jurnal Ilmu
Pendidikan. Vol. 16, No.2, Desember 2020, 126 - 133
Woolfolk, A. 2008. Educational Psychology Active Learning Edition 10th ed.
Pearson Education, Inc

30

Universitas Sriwijaya

LEMBAR VALIDASI PARA AHLI
AHLI MEDIA DAN AHLI MATERI

31

Universitas Sriwijaya

Lembar Validasi Media E-LKPD

Judul: Pengembangan E-Lkpd Berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS) Pada Materi Tema 3
Subtema 1 Kelas V Sekolah Dasar

PEMBUATAN E-LKPD MENGGUNAKAN CANVA DAN SOFTWARE LIVE WORKSHEETS

IDENTITAS AHLI

NAMA : Novi Lestari

NIM : 06032682024002

Petunjuk Pengisian:
1. Berilah tanda cek (√) pada kolom yang paling sesuai dengan penilaian anda.
Keterangan:
● Skor 4 = Sangat Baik
● Skor 3 = Baik
● Skor 2 = Cukup
● Skor 1 = Kurang
2. Jika menurut anda masih ada hal-hal atau komponen yang perlu diperbaiki, mohon tuliskan
pada tempat yang telah disediakan.
3. Komentar/ saran mohon tulis di kolom yang telah disediakan.
4. Pengisian lembar validasi ini bertujuan untuk mengukur kevalidan produk yang dihasilkan.
Kecermatan dalam penilaian sangat diharapkan.

32

Universitas Sriwijaya

Berilah tanda centang (√) pada alternatif jawaban yang dianggap paling sesuai.

Aspek Kriteria Nilai Komentar Saran
1234
Visual Gambar yang disajikan mewakili
(gambar) topik yang dibahas, sederhana, √
dan menarik.

√ Desain kurang eye Disarankan untuk

Desain E-LKPD menarik catching memilih desain

Ketepatan pemilihan background yang lebih
Tampilannya konsisten di semua
halaman menarik

Kualitas tampilan gambar √ Warna abu-abu Disarankan

Interaktivitas animasi sedikit agak buram menggunakan

Kejelasan petunjuk dalam warna cerah
mengerjakan soal-soal pada
E-LKPD √
Grafis konsisten, cocok dan
didesain untuk meningkatkan √ Sedikit blur Disarankan
pembelajaran
Komposisi warna gambar dengan memilih kualitas
background sesuai
HD untuk setiap
Penggunaan variasi pada huruf
sesuai gambar atau
Semua tombol mudah
dioperasikan diagram yang

dipilih

√ Sudah cukup Pemilihan ani,asi

interaktif namun yang tepat untuk

masih perlu setiap sub judul

ditingkatkan disarankan agar

lebih interaktif

√ Terdapat animasi Disesuaikan

yang menutup dalam

sebagian tulisan pada penempatan

petunjuk animasi dan

tulisan petunjuk



√ Warna kontras sedikit Memilih kontras

kurang tepat warna sesuai

gradasi yang

tepat

√ Pemakaian font dan Disarankan

capslock yang sedikit menggunakan

tidak menarik font yang lebih

menarik



33

Universitas Sriwijaya

Kemudahan dalam √
menggunakan E-LKPD
√ Sudah cukup sesuai, Disarankan untuk
Pemilihan jenis huruf sesuai
namun penggunaan mengurangi

caps lock pada penggunaan

petunjuk sedikit tidak capslock

menarik.

Pemilihan ukuran huruf sesuai √ Ada yang belum tepat Ukuran lebih
Teks dapat terbaca dengan baik
Grafis guna seperti judul disesuaikan agar
(tulisan/hur
dan sub judul terlihat menarik
uf)
√ Ada tulisan yang Disarankan untuk

tertutup animasi memperhatikan

posisi tulisan agar

terbaca

Komposisi warna tulisan (kontras √
atau tidak)
√ judul agak panjang Judul dibuat lebih
Efisiensi teks singkat dan jelas

Komentar dan saran :

“Keseluruhan isi sudah cukup baik, hanya beberapa hal yang perlu disempurnakan. Perbaikan
menuju kesempurnaan, sesuai dengan saran yang telah dibubuhkan di setiap kolom item.”

Kesimpulan:
□ Layak untuk diuji coba lapangan tanpa revisi
√ Layak untuk diuji coba lapangan dengan revisi sesuai saran
□ Tidak cocok untuk uji coba lapangan

Validator

Novi Lestari
34

Universitas Sriwijaya
NIM: (06032682024002)

Resume

Berdasarkan tabel uji validitas yang telah dilakukan oleh ahli media, dapat
disimpulkan bahwa dari 17 point kriteria 11 kriteria mendapatkan nilai 3 (bisa
dikatakan baik) dan 6 kriteria menduduki posisi nilai 4 (sangat baik). Sehingga media
E-LKPD bisa di gunakan untuk uji lapangan namun dengan tahap revisi, dimana
background, tulisan, font serta gambar masih harus diperbaiki

35

Universitas Sriwijaya

Lembar Validasi Materi

Judul: Pengembangan E-Lkpd Berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS) Pada Materi Tema 3
Subtema 1 Kelas V Sekolah Dasar

PEMBUATAN E-LKPD MENGGUNAKAN CANVA DAN SOFTWARE LIVE WORKSHEETS

IDENTITAS AHLI

NAMA : Mia Handayani
NIM : 06032682024005

Petunjuk Pengisian:
1. Berilah tanda cek (√) pada kolom yang paling sesuai dengan penilaian anda.
Keterangan:
● Skor 4 = Sangat Baik
● Skor 3 = Baik
● Skor 2 = Cukup
● Skor 1 = Kurang
2. Jika menurut anda masih ada hal-hal atau komponen yang perlu diperbaiki, mohon
tuliskan pada tempat yang telah disediakan.
3. Komentar/ saran mohon tulis di kolom yang telah disediakan.
4. Pengisian lembar validasi ini bertujuan untuk mengukur kevalidan produk yang
dihasilkan. Kecermatan dalam penilaian sangat diharapkan.

36

Universitas Sriwijaya

Berilah tanda centang (√) pada alternatif jawaban yang dianggap paling sesuai.

No Aspek Deskriptor Skor Komentar Saran

Penilaian 1234

1 Relevansi Materi relevan √ Sangat baik -
dengan kompetensi

yang harus

dikuasai peserta

didik

Kelengkapan √ Sangat baik -

materi sesuai

dengan tingkat

kepercayaan diri

peserta didik untuk

menyelesaikan soal

Ilustrasi media √ Sudah baik Lebih
dengan fungsional √ Sangat baik ditambahkan
yang cukup dengan
banyak
2. Keakuratan Materi yang inovasi lagi
disajikan sesuai -

dengan kebenaran

keilmuan

Materi yang √ Sangat baik -
disajikan bisa

dikatakan sesuai

37

dengan kehidupan Universitas Sriwijaya

sehari-hari √ Sangat baik -
√ Sangat baik -
Pengemasan materi

sesuai dengan

tingkat jenjang

anak kelas 5

3 Kelengkapan Di Dalam E-LKP

Sajian menyajikan

kompetensi dasar

dan tujuan yang

akan dicapai oleh

peserta didik

4 Kesesuaian sajian Mendorong peserta √ Sudah baik Bila

materi dengan didik untuk ditambahkan
audio lebih
tuntutan membangun banyak akan
lebih baik
pembelajaran pengetahuannya

peserta didik sendiri

Mendorong √ Sudah baik Melibatkan
√ Sangat baik peserta
terjadinya interaksi didik dalam
proses yang
peserta didik terjadi
-
Sajian materi telah
berbasis teknologi

Komentar dan saran :
E-lkpd ini sudah sangat baik dan mampu untuk di uji coba dalam proses
pembelajaran. Dengan e-lkpd setiap guru mampu memberikan inovasi yang
relevan terhadap keberhasilan dari pembelajaran

Kesimpulan:

38

Universitas Sriwijaya

□ Layak untuk diuji coba lapangan dengan revisi sesuai saran

Validator
Mia Handayani
NIM: 06032682024005

Resume

berdasarkan tabel validasi dapat disimpulkan bahwa untuk 10 kriteria yang disajikan,
3 kriteria mendapatkan penilaian 3 (Baik) dan 7 kriteria mendapatkan penilaian poin 4
(sangat baik). Materi yang disajikan bisa dikatakan sesuai dengan media yang
digunakan tetapi dalam hal ini masih harus perbaikan dengan menambahkan
animasi-animasi agar menjadi menarik.

39

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM
BASED LEARNING (PBL) MUATAN MATHEMATICS
BERBASIS STEM DI SEKOLAH DASAR.

(Studi Pada Muatan Mathematics di Sekolah Dasar Negeri Balin kecamatan
keluang Kabupaten Musi Banyuasin)

MIA HANDAYANI
NIM 06032682024005

Program studi pascasarjana (S2)
Teknologi Pendidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2020

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan bagian dari kerangka dalam mempersiapkan
Sumber Daya Manusia yang berkualitas hingga maju. Diantaranya yaitu adanya
kualitas sistem dalam proses pengembangan sistem yang ingin dicapai secara
bersama serta serentak. Mutu dalam pendidikan ditinjau dengan menggunakan
skema yang dibuat oleh pemerintah dengan menyesuaikan kemampuan manusia
yang ada. Adapun kerangka yang dibuat oleh pemerintah memiliki struktur seperti
pembuatan kurikulum, modul, silabus serta perangkat pembelajaran. Namun
semua skema tersebut masih kurang efisien bila tidak melibatkan model serta
pendekatan dalam pembelajaran.

Tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik apabila adanya komponen
yang berpengaruh dalam pembelajaran yang saling mendukung satu sama lain.
Komponen-komponen yang dimaksud adalah peranan aktif antara seorang guru
serta peserta didik dalam sistem pembelajaran. Guru sebagai seorang tenaga
pendidik harus memberikan kemudahan dalam memberikan pembelajaran di
sekolah, yang dapat menimbulkan kreativitas peserta didik, dengan menggunakan
media, metode dan siasat tertentu agar peserta didik mudah memahami
pembelajaran.

Salah satu alternatif yang bisa dikembangkan oleh seorang tenaga
pendidik adalah dengan rangka meningkatkan mutu pembelajaran menggunakan
pendekatan Sains Technology Engineering Mathematic (STEM) dan Model
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Pendekatan berbasis Sains
Technology Engineering Mathematic (STEM) merupakan pendekatan belajar
yang paling efisien di Sekolah Dasar (SD). Hal ini dikarenakan adanya pengaruh
tingkat keberhasilan pendekatan Sains Technology Engineering
Mathematic (STEM) pada kondisi pandemi seperti sekarang. Dimana teknologi

berperan penting sebagai penghantar komunikasi antara peserta didik dan guru.
Adapun pendekatan Sains Technology Engineering Mathematic (STEM) ini
biasanya dilibatkan dengan sistem Model Pembelajaran Problem Based Learning
(PBL).

Bila di sekolah dasar tidak mungkin tidak adanya muatan pembelajaran
matematika. muatan pembelajaran matematika menjadikan anak lebih bisa atau
mampu untuk menguasai sistem pembelajaran dasar dari konsep berhitung dan
juga mengetahui hal-hal yang jauh lebih baik lagi. Matematika bukan hanya
berhitung, sebagai ilmu struktur, namun mempelajari urutan serta hubungan antar
dasar-dasar penghitungan, pengukuran, dan penggambaran sebuah objek.
Karenanya, ia melibatkan logika dan perhitungan yang bersifat kuantitatif.
Matematika dianggap sulit dan menyeramkan karena rumit dan abstrak yang
menjadikan anak takut dengan pelajaran matematika, hal ini disebabkan guru
tidak menggunakan alat peraga dalam menjelaskan materi pelajaran (Muhsetyo,
2007).

Kemandirian dan keaktifan peserta didik menjadi peranan penting dalam
menerapkan sistem pembelajaran yang ada di sekolah dasar. Siswa berperan
sebagai student center dan berprogres sebagai pemeran yang aktif. Adapun sistem
pembelajaran ini berfokus pada muatan matematika yang ada di sekolah dasar.

Setelah melakukan survei serta wawancara terhadap 3 sekolah dasar,
peneliti memiliki tujuan yaitu pada satu Sekolah Dasar yang menarik minat
peneliti. Peneliti mencoba memberikan angket kepada kepala Sekolah
Dasar Negeri balin. Dalam wawancara yang dilakukan oleh peneliti dan kepala
sekolah Sekolah Dasar maka peneliti menemukan fakta bahwa SD Negeri Balin
merupakan Sekolah Dasar yang sangat maju, dimana fasilitas teknologi
berkembang sangat pesat diantara sekolah lainnya. Hal ini dapat dibuktikan 80%
guru sudah memiliki fasilitas handphone android dan memiliki laptop. Sekolah
tersebut juga menyedikan 5 proyektor beserta WIFI dalam belajar. Untuk
memperkuat bukti tersebut maka peneliti memiliki ketertarikan untuk mewawan

cari salah satu guru kelas 1 di sekolah dasar negeri balin mengenai tingkat
keberhasilan belajar peserta didik. hal ini dibuktikan adanya keberhasilan 60%
terhadap peserta didik, dimana 12 peserta didik berhasil dalam mendapatkan nilai
diatas kkm dan 8 orang hanya mendapatkan nilai di ambang batas.

Namun tingkat keberhasilan tidak mutlak hanya menyalahkan peserta
didik saja namun kelengkapan perangkat dari seorang guru pun perlu ditanyakan. .
Hal ini bisa kita temukan yaitu kelengkapan dari perangkat pembelajaran yang
masih sangat jauh. Seperti modul, rpp, silabus,prota, prosem dan kaldik. Maka
peneliti masih terus ingin mencari tahu apa saja kekurangan dari sekolah dasar
Balin yaitu ketika pembelajaran berlangsung. adapun ketika melihat secara
langsung guru masih belum efisien dalam menerapkan model pembelajaran dan
sistem pendekatan masih sebatas pendekatan saintifik. Serta belum mampu
mengembangkan perangkat pembelajaran dan teknologi yang ada.

Tingkat keberhasilan yang relevan serta hasil sumber daya manusia yang
cerdas dihasilkan dari kualitas dan sistem yang diberikan secara maksimal. Bila
sarana dan prasarana yang digunakan masih tidak efisien, maka tidak akan
menghasilkan generasi yang terbaik.

Berdasarkan penelitian terdahulu dari Basri Effendi mengenai penggunaan
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) maka ketuntasan nilai yaitu mencapai 65%.

Maka untuk itu peneliti mencoba mengkaji ulang apa yang akan
dikembangkan di sekolah dasar balin. Peneliti mencoba memberikan penjelasan
terhadap guru-guru Sekolah Dasar Balin, yaitu mengenai cara membuat perangkat
pembelajaran yang benar serta pentingnya meningkatkan mutu pendidikan dengan
melakukan Pengembangan Model Pembelajaran Problem Based Learning (Pbl)
Muatan Mathematics Berbasis Stem Di Sekolah Dasar

B. Identifikasi masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka
permasalahan yang dapat diidentifikasi antara lain:

1. Proses pembelajaran masih belum diterapkan dengan menggunakan
cara yang benar.

2. Peserta didik masih belum memahami model pembelajaran yang
diterapkan

3. Kegiatan belajar mengajar matematika yang dijabarkan tidak
melibatkan model dan pendekatan yang efisien.

4. Pemanfaatan teknologi terkendala karena gagalnya teknologi antara
pendidik dan peserta didik.

5. Perangkat pembelajaran yang tidak memenuhi sistem dari proses
pembelajaran. Karena pendidik tidak begitu memahami cara membuat
perangkat pembelajaran yang sesuai dengan peraturan pemerintah.

6. Pola pengajaran muatan matematik menjadikan peserta didik sulit
untuk memahami sistem pembelajaran.

C. Pembatasan Masalah

1. Penerapan Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
berbasis Sains Technology Engineering Mathematic (STEM) di
Sekolah Dasar (SD).

2. Penerapan dilihat untuk melihat kemandirian belajar dari peserta didik.

3. Penelitian dilakukan di kelas 1 Sekolah Dasar (SD)

D. Rumusan Masalah

1. Bagaimana implementasi peranan Model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) di Sekolah Dasar (SD) dapat meningkatkan kreatifitas
muatan matematik peserta didik di sd negeri balin?

2. Bagaimana implementasi pendekatan Sains Technology Engineering
Mathematic (STEM) di sekolah Dasar (SD) pada muatan matematika
?

3. Apakah implementasi sudah efektif dalam meningkatkan muatan
matematik dengan bantuan teknologi ?

4. Apakah pengembangan model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) di Sekolah Dasar (SD) mampu menghasilkan
product Electronic RPP?

E. Tujuan Penelitian.

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini memiliki
tujuan, yaitu untuk mendeskripsikan:

1. Implementasi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di
Sekolah Dasar (SD) dapat meningkatkan kreatifitas muatan matematik
peserta didik di sd negeri balin

2. implementasi pendekatan Sains Technology Engineering
Mathematic (STEM) di sekolah Dasar (SD) pada muatan matematika

3. implementasi sudah efektif dalam meningkatkan muatan matematik
dengan bantuan teknologi.

4. peneliti mampu membuat produk ke ranah pembuatan E-RPP


Click to View FlipBook Version