The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisi tentang antologi cerpen siswa kelas 9 SMP Negeri 5 Kediri tahun pelajaran 2020/ 2021

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ratnaflamboyan01, 2021-04-29 08:19:05

PERSAHABATAN

Buku ini berisi tentang antologi cerpen siswa kelas 9 SMP Negeri 5 Kediri tahun pelajaran 2020/ 2021

DIGULIS APKS-SLCC
PGRI KOTA KEDIRI
DIKLAT GURU MENULIS

Antologi Cerpen

Kontribusi Siswa SMP N 5 Kediri

Persahabatan
ANTOLOGI CERPEN

Putra Wijaya

Persahabatan bukan tentang harta dan kekuasaan, tetapi
persahabatan adalah tentang kebersamaan,kesetiaan, percaya diri

dan memotivasi



Persahabatan

Penulis
Copyright © 2021 by Putra Wijaya

Diterbitkan oleh:
Presiden Jaya Offset

Kediri
Penyunting 1:Sri Wijayanti, S.Pd.
Penyunting 2: Dewi Muarifah, M.Pd
Tata letak: Dra. Putri Handayani
Desain Cover:Ratna Mardiningtyas, S.Pd.

Terbit: bulan April tahun 2021
ISBN:
Cetakan pertama

Hak Cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
dengan bentuk dan cara apa pun tanpa izin tertulis dari
penerbit.

i|Persahabatan

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kepada Allah SWT, karena atas rahmat.
Nikmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan antologi cerpen ini dengan baik. Shalawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan
kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan
sahabatnya hingga akhir zaman, dengan diiringi upaya
meneladani akhlaknya yang mulia.
Antologi cerpen ini merupakan kumpulan dari tugas
siswa kelas 9 SMP Negeri 5 Kediri. Antologi cerpen ini bisa
tercipta karena kerja sama para penulis, dukungan, dan
bantuan dari pihak penerbit yang telah menerbitkan
antologi cerpen ini. Sebagai penulis pemula kami
menyadari kemampuan kami masih terbatas, sehingga
antologi cerpen ini masih membutuhkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca sekalian untuk perbaikan
di masa yang akan datang. Besar harapan kami, antologi
cerpen ini bisa diterima dan disukai para pembaca
sekalian.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Kediri, 22 Maret 2021
Penulis

ii | P e r s a h a b a t a n

Sambutan Kepala Sekolah

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmat dan hidayahNya sehingga Antologi cerpen
karya siswa yang dibuat oleh guru-guru SMPN 5 Kediri
berhasil terselesaikan .Buku Antologi cerpen karya siswa ini
dikumpulkan dalam rangka mengikuti DIGULIS (Diklat
Guru Menulis) yang diadakan oleh APKS di Kediri.

Selaku Kepala Sekolah selalu memberi dorongan dan
motivasi kepada guru-guru untuk menggali potensi dan
mengembangkan sesuai dengan profesinya sebagai guru.
Memberi tugas-tugas yang mampu mengekspresikan
potensinya agar terus berkembang mengikuti tuntutan
zaman.

Dengan mengikuti kegiatan DIGULIS diharapkan
sekolah milik kita tercinta ini mampu melahirkan guru-guru
yang mahir dalam menulis.

Dengan dimilikinya guru-guru yang berpotensi
dibidang menulis,maka siswa yang menjadi peserta
didiknya secara otomatis akan terimbas.Mereka mampu
berkreasi bahkan bisa melebihi gurunya.Dengan demikian
akan terlahir siswa-siswa yang penuh potensi yang patut
dibanggakan di negeri ini.

iii | P e r s a h a b a t a n

Terima kasih kepada guru-guru yang sudah berkarya
untuk membanggakan sekolah kita.Membanggakan korps
guru di negeri tercinta.

Kediri, Maret 2021
Kepala Sekolah,
Susiatiningsih, S.Pd,MM.
NIP. 19620726 198301 2 001

iv | P e r s a h a b a t a n

Daftar Isi

Persahabatan......................................................i
Kata Pengantar .................................................. ii
Sahabatku ........................................................ 1
Teman Baru ...................................................... 5
Sahabat Setia .................................................... 8
Sahabat Sejati ..................................................12
Sahabat Selamanya.............................................16
Dalang Sebuah Impian .........................................20
Mulianya Hati Sahabat .........................................31
Putus Aku Tak Percaya.........................................37
Kisah Dua Sahabat Sejati ......................................45
Kejutan dari Sahabat dan Keluarga ..........................50
Tentang Penulis.................................................54

v|Persahabatan



Sahabatku

Aku Devita , aku beruntung mempunyai

sahabat yang selalu ada untukku, kami melewati

suka duka bersama. Suatu ketika aku dan

sahabatku bertengkar karena masalah yang

kuanggap sepele, semua itu baru kusadari bahwa

sahabatku sangat penting bagiku.Suatu hari aku

pergi ke Mall bersama sahabatku, aku

menyuruhnya membawa belanjaanku, dan

ternyata belanjaanku yang dibawanya

tertinggal. Saat itu juga aku memarahi dia

dengan perkataan yang kasar karena

keegoisanku.

“Mira, tolong pegang

belajaan ku ini ya, soalnya berat

banget” Kataku.

“Iya sini aku bantu bawa

belanjaannya, takut kamu keberatan” Katanya.

“Siap, kamu memang sahabatku yang

paling pengertian” Jawabku.

1|Persahabatan

“Haha… iyalah, sesama sahabat memang
seharusnya saling membantu” Jawabnya sambil
tersenyum. Sembari berpelukan.

“Kamu lapar nggak?” Tanyanya
“Lapar sih, mulai keruyukan nih perut”
Jawabku.
“Makan yuk! sekarang aku yang traktir,
aku juga lapar” Sambil menatapku dengan
lemas.
“Hmm ya sudah ayoo” Jawabku.
Lalu sampailah kami di warung seberang
Mall.
“Kamu mau pesan apa Dev?” Tanyanya.
“Aku ngikut kamu deh” Jawabku.
“Hmm oke deh” Jawabnya.
Beberapa menit kemudian kami selesai
makan dan mulai berkendara untuk pulang.
“Eh…. kayaknya ada yang ketinggalan deh,
tapi apa ya?” Tanyanya dengan muka yang
heran.
“Hmm apa ya?” Aku membantu berpikir.

2|Persahabatan

“Oh iya belanjaanku mana? Celetukku.

“Ya ampun…. oh iya aku lupa, ketinggalan

di warung tempat kita makan tadi” Jawabnya

dengan rasa bersalah

“Apa? Ketinggalan? Yang bener aja, kita

kan udah jauh dari warung tempat kita makan

tadi” Jawabku dengan kesal.

“Duh, maaf banget ya Dev, aku benar-benar

lupa” Jawabnya dengan berkeringat.

“Apa? minta maaf? kamu pikir dengan

minta maaf bisa membuat barangku kembali

dan masalah selesai? Enggak kan? Seenaknya aja

kamu minta maaf” Jawabku dengan kesal, lalu

tanpa basa basi aku pergi meninggalkannya.

Keesokan hari, dia datang membawa

belanjaanku dan meminta maaf karena kejadian

kemarin, tetapi aku tetap tidak

menghiraukannya. Maka setelah beberapa lama

, aku sadar bahwa hal yang aku lakukan adalah

sebuah kesalahan, aku tersadar betapa egoisnya

3|Persahabatan

diriku. Akupun meminta maaf, kemudian kami
berpelukan.

Devitasari (9I)

4|Persahabatan

Teman Baru

Namaku Indah aku duduk di kelas 1 SD Harapan 3.Pada
malam hari itu,suasana waktu itu terasa sangat sunyi dan
tenang.Di meja makan kami bertiga aku,ibu,dan ayahku sedang
menikmati makan malam.Tetapi aku mendengar pernyataan
yang sungguh tidak bisa ku percaya.

Ayahku berkata “Indah,besok kita mau pindah rumah ke
daerah tepi pedesaan karena Ayah
dipindahkan untuk bekerja di salah satu
kantor daerah sana.” Terkejutnya aku
dengan apa yang dikatakan oleh
Ayahku. “Tapi ayah,aku baru saja
mendapatkan teman disekolah. Aku gak mau berpisah dengan
Bunga dan Sasha.” Bergegas aku menuju kamarku tanpa
menghabiskan makananku.

Selang beberapa waktu, Ibuku datang dengan
mengetuk pintu pelan pelan. Segera kubukakan pintu dengan
raut murung diwajahku. “Sayang,kenapa kau menangis?”
tanya Ibuku. “Aku gak mau bu pisah dengan temanku.”
Jawabku. “Kita pindah nanti juga kamu bakal dapat teman kok
,tenang aja.” Ujar Ibuku. Sambil menjelaskan dengan pelan-
pelan, aku pun setuju dengan pindahnya rumah kita.

5|Persahabatan

Tapi sebelum kita berangkat esok harinya, aku meminta
kepada Ayahku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada
Bunga dan Sasha. Di Taman tempat kita selalu bermain aku
mengucapkan selamat tinggal kepada mereka untuk terakhir
kalinya,kita bertiga berpelukan dengan harapan aka nada amsa
kita Bersama lagi.

Setelah berucap selamat tinggal,aku langsung
menuju mobil dan pergi dari tempat yang kutinggali dari
aku lahir tersebut. Dengan lamanya perjalanan akhirnya
kita sampai. “Wah akhirnya kita sudah sampai.” Kata
ayahku . Kita bertiga pun menata barang-barang yang
dibawa.

Karena aku lelah, aku ingin mengelilingi halaman
depan rumah. Di saat itu juga ada tiga anak-anak yang
sedang bermain petak umpet.Mereka pun mendekatiku.

“Hai,kamu baru pindah dari kota ya?” tanya salah
satu dari mereka

“Iya” jawabku dengan singkat
“Namaku Nadia, ini Putri,dan ini Nisa.” Mereka
memperkenalkan diri mereka tanpa aku tanya sekalipun.
“Oh..Kalau aku Indah.”
Mereka dengan cepat menyuruhku ikut bermain.
Aku pun melupakan kepenatanku dan iku bermain

6|Persahabatan

dengan mereka. Hari telah malam kita pun pulang
kerumah masing-masing.

Aku pun sesampai di rumah bercerita kepada ayah
dan ibukku tentang mereka bertiga sambal menyantap
makan malamku. Pada hari itu pun kita putuskan untuk
berteman dan menjadi sahabat.

Aktivitasku pada Pagi hari yaitu, pergi kesekolah
bersama Nadia, Putri dan Nisa. Pada siang harinya kita
mengerjakkan tugas sekolah kami bersama,sorenya kita
pergi mengaji bersama.Dan pada hari minggu kita
puaskan untuk pergi bermain.

Sekarang aku sudah kelas 6 SD dan masih tetap
bersama dengan tiga sahabatku yang sangat baik padaku
dari pertama kita bertemu sampai sekarang. Aku pun
beruntung mempunyai teman seperti mereka.

Galuh Kusuma Wardhani (9h)

7|Persahabatan

Sahabat Setia

Suasana pagi ini begitu cerah, membuat pagiku
begitu bersemangat untuk
menjalankan segala aktivitas.
Hari ini hari Senin, hari dimana
semua siswa- siswi melaksanakan

kegiatan rutin upacara bendera. Kumulai aktivitasku
dengan penuh semangat. Nama ku Nana. Di sini, di
sekolah ini aku menuntut ilmu bersama teman-
temanku. Teman pun banyak ku miliki di sekolah ini.
Namun ada satu teman yang begitu dekat denganku.
Kami sudah berteman sejak kecil. Dia bernama Sinta
yang ku sebut sahabat karibku. Dia gadis yang manis,
ceria, berambut ikal dan berkulit kuning langsat.

Aku memiliki banyak teman di sekolah ini. Tapi
tak kulupakan sahabat sejak kecilku. Sinta, masih setia
menjadi sahabat terbaik ku, semakin hari kami semakin
dekat. Mulai dari mengerjakan PR bersama, jalan-jalan
bersama, dan main bersama.

8|Persahabatan

Saat ini kami baru kelas VII SMP, persahabatan
kami semakin erat. Saling mengerti, memberi perhatian
di waktu salah satu sakit, memberi kejutan di waktu
ulang tahun, sering sholat bersama, saling
mengingatkan dikala salah satu berbuat salah dan
mengingatkan di waktu lalai mengerjakan sholat.
Banyak hal yang sudah kita lalui.

Libur semester genap sudah di depan mata, aku
sudah berniat sejak lama untuk pergi berlibur ke rumah
pamanku. Rumahku di Cendana sedangkan rumah
nenek di Padang Ratu, sehingga kami jarang bertemu.
Setiap liburan aku selalu pergi berlibur ke rumah
paman. Di sana juga aku mempunyai teman bernama
Lita. Rumah Lita tepat disamping kiri rumah pamanku.
Waktu liburan di rumah paman aku bermain bersama
Lita, selain itu kami juga saling bercerita pengalaman
kami masing-masing. Beberapa hari kemudian aku dan
Lita bertemu kembali, kami duduk di taman desa lalu
berbincang bersama, di saat itu Lita bercerita bahwa
ayahnya telah membeli sebuah rumah di daerah
Cendana dan tidak lama lagi mereka sekeluarga akan

9|Persahabatan

pindah dari Padang Ratu dan akan menempati rumah
barunya di Cendana.

Setelah Lita pindah ke Cendana ternyata
rumahnya itu tidak jauh dengan rumah ku. Lita pun
bersekolah di sekolah yang sama dengan ku. Sejak saat
itu aku jadi jarang bermain bersama Sinta sahabat
karibku. Sempat Sinta mengeluhkan hal itu karena
sejak berteman dengan Lita aku jadi jarang bersamanya
lagi. Meskipun Sinta sering menanyakan aku pada
ibuku, .kenapa aku berubah, tapi aku mengaggapnya
biasa saja seperti tidak ada yang berubah. Tanpa
kusadari ternyata Sinta merasa sangat sedih, sampai
pada akhirnya aku dan teman baruku Lita bertengkar
hebat. Pertengkaran itu terjadi disaat Lita kehilangan
uang dan Lita menuduh aku mengambilnya padahal
aku sama sekali tidak mengambilnya. Aku tidak
menyangka Lita akan setega itu menuduhku tanpa
bukti, dan sejak pertengkaran itu aku tidak pernah lagi
main bersama Lita.

Di waktu seperti inilah aku merasa seperti tidak
punya teman. Setiap hari kesedihan menghampiriku.

10 | P e r s a h a b a t a n

Sampai akhirnya aku mulai mencari sahabat karibku
Sinta. Aku pergi menemui Sinta, ketika bertemu dia
pun langsung bertanya padaku.

“Sinta kenapa kamu datang dengan wajah sedih.
Apakah kamu sedang ada masalah?” tanya Sinta.

Akupun menjawab “Lita …Sin. Dia menuduhku
mencuri uangnya, padahal aku tidak pernah
mengambilnya, aku tak ingin berteman dengannya
lagi”.

Sedihku akan semakin dalam jika aku
kehilangan sahabat karibku yang sejak kecil selalu
menemaniku. Aku menyesal dan berusaha datang ke
rumah Sinta untuk meminta maaf kepada Sinta,
karena selama bersama Lita hubungan persahabat kita
menjadi renggang. Sinta pun dengan hati yang lapang
langsung memberiku maaf. Akhirnya aku dan Sinta
kembali bersama, kita berjanji akan tetap menjadi
sahabat yang selalu setia, saling menemani dan
mengingatkan dikala salah satu berbuat salah.

Maiya Hussrifa (9i)

11 | P e r s a h a b a t a n

Sahabat Sejati

Hari ini adalah hari kelulusanku dan ke dua

sahabatku Rara dan Siska. Aku dan sahabatku ingin sekali

kuliah di Perguruan muslim, dan Alhamdulillah bisa masuk

di sana. Senang rasanya bisa bersama-sama menggapai

cita-cita bersama. Aku dan sahabatku masuk ke Asrama

yang sama yaitu asrama Khotijah, aku kira di sana sangat

membosankan ternyata sangatlah menyenangkan, jauh

dari bayanganku selama ini.

Sekarang aku dan sahabatku sedang

membersihkan kamar asrama yang kotor. "Sis, bantu aku

bersihin ini dong!" perintah Rara, Siska pun membantu

Rara. Padahal aku sendiri tidak membantu mereka "Eh guys

aku tidak bantu kalian maaf tadi

main HP mulu" sesalku. "Gak

papa kok, kamu kelihatan

capek tuh" kata Siska. Rara pun

pergi entah kemana, aku dan Siska pun bingung

ada apa dengan Rara. Tiba-tiba Rara datang dengan

membawa teh hangat di tangan nya, " Ayok Mila minum

12 | P e r s a h a b a t a n

ini biar tidak lemas lagi!" kata Rara, ternyata Rara membeli
teh hangat untukku, memang dia baik banget. Siska pun
membantuku untuk duduk dan meminumkan teh itu.

Setelah minum teh hangat badanku agak baikan,
kemudian kamipun beristirahat karena besok harus
mempersiapkan diri untuk memulai pembelajaran dan
lingkungan baru. Tahun-tahun berlalu, tak terasa aku dan
sahabatku sudah 4 tahun berkuliah di sini. Hari ini adalah
pengumuman lomba-lomba dan praktek untuk menambah
nilai dan untuk mencari lulusan siswi yang terbaik di tahun
ini. Aku mengikuti lomba menulis cerita Islami, Rara
mengikuti lomba debat Islam, Siska mengikuti lomba
panahan.

Kita pun mempersiapkan semua dengan baik, kita
bersungguh-sungguh dan ingin mendapatkan kelulusan
terbaik di tahun ini walaupun banyak saingan yang sangat
pandai menurut kita tapi, kita tetap berusaha dengan giat
sambil berdoa kepada Allah untuk memperlancarkan
lomba yang kita ikuti. "Mila, Siska semangat ya kalian pasti
bisa!!" Kata Rara yang tiba-tiba meloncat. Aku dan Siska
pun terkejut dengan tingkah Rara "Aduh Ra, iya…iya kamu
juga semangat ya!" jawabku. Kita pun berpelukan bersama

13 | P e r s a h a b a t a n

dan saling menguatkan. Inilah persahabatan kita saling
mendukung susah sedih bersama misi kita pun juga sama
yaitu, menggapai cita dan cinta dalam Islam. Kita bersama
menguatkan dan bertekad bersahabat dunia dan akhirat.

Hari ini adalah pengumpulan cerita Islam. Aku pun
mengumpulkan ceritaku, ceritaku bercerita tentang
bagaiman perjuangan Nabi Muhammad Saw menyebarkan
agama Islam di bumi. Lomba ini akan diumumkan
pemenangnya di sore hari hatiku gundah apakah aku bisa
memenangkan lomba ini? tapi, rasanya itu mustahil.
Sahabatku menguatkanku agar aku percaya bahasa aku
bisa memenangkan lomba ini. Sore pun tiba, semua
mahasiswi dikumpulkan di gedung Aula dan inilah penentu
siapakah pemenangnya. "pemenangnya adalah........Mila
dari tim Khotijah!!". Tak menyangka bahwa aku bisa
memenangkan ini, aku pun maju ke depan dan
memberikan pidato singkat. Aku pun turun dan menuju
sahabatku dan memeluk mereka." Selamat ya Mill!!" Kata
Rara dan Siska bersamaan "Makasih, kalian juga yah
selamat bisa memenangkan lombanya".

Mereka juga memenangkan lomba yang mereka
ikuti dan kita menjadi 3 siswi lulusan terbaik di tahun ini.

14 | P e r s a h a b a t a n

Kita sangat senang karena kita bisa bersama ketika susah
dan senang, sakit dan sehat bersama. Mereka adalah
sahabat yang dikirimkan Allah untuk menemaniku untuk
mencapai cita dan cintaku. Terimakasih sahabat ku kalian
adalah sahabat sejatiku.

Citralefi Naya Sadila (9G)

15 | P e r s a h a b a t a n

Sahabat Selamanya

Sejak awal Sekolah Dasar, Luna dan Arin
sudah sangat akrab. Mereka adalah teman sebangku yang
tak pernah bertengkar dan selalu bahagia. Kemana-mana
mereka selalu bersama, semuanya benar-benar saling
menyayangi. Pekerjaan ayah Luna
adalah pengusaha yang sering
sekali mondar-mandir ke luar kota,
bahkan di usianya yang sekecil itu,
Luna sudah menjelajahi 3 kota.

Sedangkan Arin adalah seorang anak tunggal dan
orang tuanya sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Hal
tersebut membuat Luna sering menginap di rumah Arin.
Keluarga Arin juga sudah menganggap Luna bagian dari
keluarga mereka.

Suatu waktu, pada saat pelajaran Matematika,
tiba-tiba Luna memberitahukan bahwa jika mereka
sepertinya akan berpisah. Arin pun kaget, apa maksud Luna
berkata begitu.

“Rin, ayahku bilang kita mau pindah ke luar negeri,”
ujar Luna dengan mata berkaca-kaca.

16 | P e r s a h a b a t a n

“Apa? Kenapa harus luar negeri? Kapan kalian
berangkat.

“Dalam waktu dekat, ” kata Luna.
Setelah beberapa hari berlalu, mereka melewatinya
dengan selalu tersenyum, meskipun sebenarnya mereka
tidak benar-benar tersenyum. Hingga tiba di mana mereka
harus berpisah.
Namun, yang membuat Arin kecewa, Luna tidak
mengucapkan kata apapun tentang kepergiannya. Arin
sangat sedih, dia bahkan terus menangis sendirian.
Setelah beberapa tahun berlalu, kini Arin sudah
sedikit lupa pada Luna. Mereka sudah tidak pernah berkirim
kabar semenjak kepergian Luna yang tanpa pamit. Setelah
lulus SMA, Arin diterima di salah satu kampus di Jepang,
dan lusa akan berangkat.
“Bu, kenapa jantungku berdegup kencang? Aku tidak
yakin bisa bertahan hidup di sana. Semalam tiba-tiba aku
memimpikan Luna. Kami berdua tertawa bersama-sama. ”
“Mungkin itu pertanda kalian akan dipertemukan
kembali,” ujar ibu dengan lembut.“Ah sudahlah, Bu. Aku
tidak ingin mengingat Luna lagi, ”kata Arin dengan sorot
mata yang sendu.

17 | P e r s a h a b a t a n

Setelah semuanya siap, Arin diantar oleh
ibu dan juga teman-teman sampai bandara. Terlihat suasana
yang mengharukan karena mereka semua tidak ingin
berpisah dengan Arin. Tapi, mereka semua tahu jika kuliah
di Jepang adalah mimpi Arin sejak kecil. Sesampainya di
sana, Arin langsung mengunjungi kampus untuk menuju
asramanya. Di kampus, Arin bertemu banyak orang dari
berbagai belahan dunia, bahkan banyak yang datang dari
Indonesia.

Setelah mengambil segala perlengkapan
yang diberikan oleh kampus termasuk kunci kamar,
akhirnya ia mulai mencari di mana letak kamarnya. Tak
butuh waktu yang lama, ia sudah menemukan kamar
tersebut. Ruangan tersebut memiliki 4 kamar yang kosong.
Sudah ada dua yang terisi, ia dan mahasiswa dari Malaysia.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk, dan
seseorang pun masuk.

"Hallo teman-teman. Saya Luna, pelajar dari Korea
Selatan. Senang bertemu kalian. ”

Arin merasa tidak asing dengan suara itu.
“Luna? Apakah kamu Luna sahabatku? ”
“Arin? Kamu juga kuliah di sini? Bagaimana
kabarmu? Maafkan aku yang dulu tidak sempat pamit

18 | P e r s a h a b a t a n

padamu. Aku hanya tidak sanggup melihat dirimu, ”ujar
Luna sambil mengamati Arin erat-erat.

“Iya, aku memaafkanmu Luna. Yang terpenting
sekarang kita bersama lagi. Aku sangat bahagia bisa
bertemu kamu lagi dan bisa kuliah bersama-sama ” kata
Arin.

Kemudian Arin dan Luna saling berpelukan, rasanya
ingin selalu bersama dan tak ingin berpisah lagi..

Ainul Hidayah (9G)

19 | P e r s a h a b a t a n

Dalang Sebuah Impian

Malam ini terasa sangat istimewa,malam ini tidak
seperti biasa malam ini a malam yang indah, bintang-
bintang di langit bersinar bagai berlian bercahaya. Di
bawah bulan yang bersinar terang tepatnya di lapangan
balai desa warga berkumpul untuk menyaksikan
pertunjukan wayang kulit.

Penonton merasa senang dan
terhibur, tetapi tidak untuk anak
yang sedang duduk di pinggir jalan
sebelah lapangan. Anak itu
menunduk, butiran air mata mulai
menetes membasahi pipi kanan dan
kirinya yang kini terlihat merah menyala.
Nampaknya anak itu terlihat sedih karena dua hari yang
lalu dia telah kehilangan sesosok ayah yang sangat dia
cintai. Panggil saja anak itu Udin. Dia lahir dari keluarga
yang sangat sederhana. Udin mempunyai dua adik yang
bernana Nani dan Rima. Nani saat ini baru menginjak
kelas tiga SD dan Rima baru memasuki TK. Saat itu Udin
bingung, bagaimana cara dia untuk menyelesaikan
masalah ini, tetapi Udin masih tetap kuat dan
bersemangat.

20 | P e r s a h a b a t a n

Udin memang anak yang sabar, di saat Udin akan
berdiri untuk menyaksikan Wayang, Udin dipanggil oleh
seseorang.Ternyata itu adalah Pak Joko, dia terlihat
sangat tergesa-gesa.

“Pak ada apa?” tanya Udin.
“Itu, ibu kamu!” jawab Pak Joko gugup.
“Kenapa , ibu saya kenapa?” tanya Udin lagi.
“Ibu kamu pingsan, Udin!” kata Pak Joko lagi.
“Ibu saya pingsan pak?”
“Iya, ayo cepat pulang!”
Lalu Udin berlari menuju rumahnya. Udin sangat
kaget dengan perkataan Pak Joko tadi, dia takut jika
terjadi sesuatu dengan ibunya, di sepanjang jalan Udin
hanya memikirkan ibunya. Setelah berjalan cukup jauh
Udin sampai di rumahnya dan disusul oleh Pak Joko.
“Reva, Rima, ibu kenapa?” tanya Udin
“Tadi ibu pingsan, Mas!” jawab Reva
Udin bergegas pergi ke kamar ibunya untuk
melihat keadaan ibunya. Udin membelai rambut ibunya.
Di kamar ibu ternyata telah ada Bu Tuti. Sambil melihat
keadaan ibunya tak terasa air mata tak dapat
dibendung lagi .
“Sudah Udin, jangan menangis lagi!” hibur Bu Tuti.

21 | P e r s a h a b a t a n

“Iya, Udin, jangan menangis, ibu sudah sembuh!”
kata ibu Udin.

“Iya Bu, Udin tidak akan menangis lagi !”
“Ya sudah, lebih baik kamu istirahat dulu !”suruh
ibu.
“Baiklah, Bu!”
Udin bergegas ke kamar, lalu dia merebahkan
tubuhnya di ranjang kusam miliknya. Di saat dia akan
memejamkan matanya dia teringat pada ibunya lagi.
Udin terbangun, lalu duduk di pinggir tempat tidurnya.
Udin sangat ingin memeriksakan keadaan ibunya
ke dokter tapi bagaimana caranya? Saat Udin melihat
jam ternyata waktu telah menunjukkan pukul 22.00.
Udin bergegas tidur mengistirahatkan lelah.
Tak terasa hari telah pagi dan waktu telah
menunjukkan pukul 05.00. Udin bergegas mandi lalu
segera berangkat ke sekolah. Tetapi sebelum berangkat,
Udin berpamitan kepada ibunya. “Bu, Udin berangkat ke
sekolah dulu!” kata Udin sambil menyodorkan secangkir
teh hangat untuk ibunya
“Iya, kamu hati hati di jalan ya!” balas ibu.
“Baik bu!”
Udin bergegas berangkat ke sekolah bersama
kedua sahabatnya Edi dan Dede. Mereka berangkat

22 | P e r s a h a b a t a n

selayaknya sahabat yang tak akan pernah terpisahkan.
Setelah mereka sampai di sekolah, mereka masuk ke
kelas masing masing. Mereka menyelesaikan pelajaran
pada hari ini. Pada akhirnya bel pulang sekolah berbunyi
dan para siswa pulang menuju rumah masing masing
begitu juga dengan Udin, Edi, dan Dedi.

Saat mereka sampai di tengah perjalanan, Pak
Joko, tetangga Udin menghampiri mereka bertiga .

“Udin, Dede, Edi!” teriak Pak Joko
“Iya, ada apa Pak ”
“Ayo sini, kalian duduk sebentar saja saya traktir
minum es cendol ini,” kata Pak Joko memesankan es
cendol untuk mereka.
“Begini. bapak mau mengajari kalian belajar jadi
dalang. Biar budaya wayang ini tidak punah. Kalian tahu
kan, kalau kalian menjadi sangat piawai, bahkan
beberapa dalang bisa keliling dunia dan makmur
hidupnya. Bagaimana? Kalian bertiga kan anak cerdas
dan sering membanggakan, jadi kalau kalian bersedia,
anak-anak lain juga akan tertarik untuk ikut belajar?”
Dede menunjukkan binar matanya. “Wah,
senengnya bisa ikut mendalang, pakai blankon dan baju
jawa dan menceritakan berbagai kisah pewayangan

23 | P e r s a h a b a t a n

dengan nama-nama unik dan kisah-kisah menarik!” Ia
berdiri dan kedua tangannya menepuk satu sama lain.

“Oh, kau tertarik untuk belajar Dede? Bagaimana
dengan yang lain?”

“Mau..mau!” Udin meyakinkan.
“Kalau begitu. kita mulai Sabtu siang bagaimana?
Di rumah bapak!”
“Iya, Pak! Baik Pak Joko!” Edi kali ini menyahut.
Sehabis mereka meminum es cendol traktiran Pak
Joko, mereka berpamitan untuk pulang dengan perasaan
yang sangat senang. Mereka tak sabar Sabtu depan
belajar menjadi dalang. Mereka boleh menyentuh
seperangkat wayang milik Pak Joko dan juga mungkin
memainkan beberapa alat musik Jawa di rumah joglo
besar tersebut.
Pak Joko selalu baik sama siapa saja, tetapi
rasanya menyentuh semua benda benda di rumah joglo
Pak Joko merupakan kesempatan emas. Tak sembarang
orang diperbolehkan melakukannya.
Pada saat kebahagiaan melanda dua temannya,
terlihat Udin masih menyimpan kemurungan.
“Kamu kenapa Udin, kamu masih sedih ?” tanya
Pak Joko
“Saya memikirkan keadaan ibu saya!” jawab Udin

24 | P e r s a h a b a t a n

“Udin, kamu harus sabar!”
“Iya Pak, saya akan berusaha!”
Setelah sampai di rumah, Udin demikian tak sabar
untuk ketemu ibunya.“Bu, maaf Udin pulang terlambat!”
“Iya. ayo masuk. Segeralah makan. Tapi maaf, ibu
hanya memasak apa adanya!”
“Iya, Bu!”
Setelah makan, Udin membantu adiknya
menyapu halaman. Udin melakukan tugasnya itu
dengan senang hati, dan tetap bersabar, lalu Udin
meminta untuk adiknya agar istirahat saja, karena Udin
tidak mau adiknya kecapekan. Tetapi adik Udin
menolaknya.
Sore itu, saat Udin tengah asyik menyapu, Udin tak
menyangka akan kedatangan Dede. “Ada apa Dede?
Tumben sore sore begini kamu ke rumahku?”
“Begini, tadi saat aku sampai di rumah Joglo, Pak
Joko memberi kabar bahwa akan diadakannya lomba
menjadi Dalang!“
“Wah, itu kesempatan yang bagus. Kapan
dilaksanakannya?”
“Lima bulan lagi!”
“Oh, jadi begitu? Terus, berarti kita akan latihan
lebih sering?”

25 | P e r s a h a b a t a n

“Iya, betul. Dua kali seminggu. Nanti malam ini kita
latihan juga!”

“Baiklah, aku siap.”
Udin bisa merasakan semangat Dede demikian
besar dari gerak tubuhnya saat ia meninggalkan kebun
rumahnya. Penglihatannya mengikuti kepergiannya di
atas sadel sepeda.
Demikian pula di relung hatinya, ia berharap dan
berandai- andai, mungkin ini adalah jalan Udin
mencapai cita-citanya menjadi seorang dalang yang
trampil dan dibutuhkan banyak orang untuk pentas.
Setelah Udin selesai menyapu karena hari juga
sudah petang Udin memutuskan untuk masuk ke dalam
rumah untuk segera mandi .Ia menjelaskan pada ibu dan
kedua adiknya mengenai lomba mendalang dan
kebaikan hati Pak Joko yag akan melatih mereka dua
kali seminggunya. Dengan sangat sabar Udin
menjelaskan semua kepada adiknya mengenai
kemungkinan jalan prestasi untuknya.
Untung saja adik Udin juga adik yang bisa
menerima impiannya mendalami seni budaya tradisional
yang sudah kian ditinggalkan orang- orang muda
belakangan ini. Tapi dari penjelasan Pak Joko yang kini
ditirukannya dalam penjelasannya pada kedua adiknya,

26 | P e r s a h a b a t a n

keduanya ikut menaruh harapan atas impian Udin.
Bahkan juga dalam diri ibunya.

Di saat Udin akan menuju kamarnya Udin melihat
ibunya yang sedang duduk di ruang tengah. Ibu Udin
terlihat sangat sedih. Udin menghampiri ibunya. Ibunya
memulai berbicara.“Kau boleh memiliki cita-cita yang
bagaimana pun tingginya, tapi sungguh ibu minta maaf
tidak bisa memberi dukungan sebaik- baiknya.”

“Ibu tidak usah berpikir begitu. Pak Joko tidak
meminta jasa apa pun dari kami. Beliau orang kaya
yang baik hati. Apalagi beliau hanya memiliki harapan
mengenai lestarinya dunia pewayangan saja. Nah, jika
salah satu dari kami menang, itu sudah membahagiakan
beliau. Saya akan berusaha, Bu.” Ibunya mengusap-usap
pundak Udin memberi semangat.

Pagi itu, persis pada hari Sumpah Pemuda, Sang
Fajar telah bersinar menampakkan kecerahannya.
Seperti biasa, keluarga Udin bergegas beraktivitas seperti
biasa.Adik-adiknya berangkat sekolah. Tetapi ada yang
beda bahwa hari ini ibunya mengantarkannya mengikuti
lomba mendalang di Balai Desa.

“Udin, jangan lupa, nanti sebelum kamu main,
kamu baca basmalah dahulu!”

“Baik, Bu!”

27 | P e r s a h a b a t a n

Mereka berangkat,wajah ibu masih terlihat pucat.
Meski begitu ia berusaha memberikan kekuatan
semangat untuk anak mbarepnya yang selalu
berperangai menyenangkan.

Hampir tengah hari, nomor undian Udin
membawanya melangkahkan kaki menuju panggung
tempatnya berpentas. Edi dan Dede sudah melewati
gilirannya agak awal.“Bu, Edi hebat sekali ya!” celetuk
Udin usai temannya itu pentas tadi.

“Iya, jika kamu mau berusaha pasti kamu akan
lebih baik darinya!”

“Iya, Bu, Udin pasti akan berusaha membanggakan
ibu!”

Sekarang saatnya Udin membuktikan
kemampuannya. Ia mencoba memainkan sebuah bagian
perang Baratayudha antara Pandhawa dan Kurawa. Di
hitungan sepertiga pentas Udin memainkan pertunjukan,
ibu Udin pingsan.

Bergegas Udin meninggalkan pertunjukan itu. Ia
tak lagi peduli dengan sebuah iming-iming kemenangan.
Beberapa orang mengantarkan keduanya ke rumah
sakit dengan mobil panitia.

Untunglah, hasil pemeriksaan dokter menyebutkan
bahwa Ibu Udin boleh rawat jalan sembari menunggu

28 | P e r s a h a b a t a n

rujukan yang dapat digunakannya ke rumah sakit di
kota. Bahkan ibunya membujuknya untuk kembali ke
tempat lomba tersebut demi mengetahui dan
menyemangati teman-temannya.

Tiba di sana, sudah sangat sore. Udin demikian
perhatian terhadap suara dewan juri yang
mengumumkan peraih juaranya. “Yang menjadi juara
pertama adalah …!”

Seperti biasa, Sang Juri memberi jeda untuk
memberikan efek rasa penasaran dan kejutan.“Ia
bernama Edi Pujiono!” Seketika Edi melonjak dan Udin
memeluknya erat dari belakang hingga keduanya
hampir jatuh bersamaan.“Edi, selamat ya!”

“Iya, Udin aku berhasil! Ini semua berkat Pak Joko.”
“Kau memang layak mendapatkannya, Edi!” Dede
menepuk nepuk pipi Edi.
“Kemenangan ini aku persembahkan buat pak Joko
dan buat kalian!” muka Edi bersemu merah, hendak
menangis karena kebahagiaan itu.
Entah dari mana, Pak Joko tiba-tiba sudah berada
dekat dengan ketiganya. Roman muka Pak Joko
demikian bahagia. Ketulusan dari kerja kerasnya
menghasilkan buah kemenangan.

29 | P e r s a h a b a t a n

“Pak Joko, uang itu nanti saya akan berikan
separuh buat ibu Udin untuk membeli beras,” Edi
langsung saja menyatakan keinginannya.

Memang di antara ketiga sahabat tersebut, Udin
lah yang hidupnya sering berkekurangan.“Kamu
memang berhati mulia, Edi. Kalian semua memang
anak-anak yang bersedia untuk belajar. Bapak
membanggakan kalian.“

Udin terkejut mendengar perkataan Edi.“Terima
kasih Edi!” Sekali lagi ia memberi pelukan pada
temannya tersebut.“Iya, sama sama!” Pada ajang
perlombaan itu, ternyata bukan saja kemenangan yang
berarti, tetapi sebuah nilai persahabatan dan kepedulian
sesama teman.

Rizky Adianto Pratama (9H)

30 | P e r s a h a b a t a n

Mulianya Hati Sahabat

Betapa menyenangkannya menjadi orang kaya.
Hidup serba berkecukupan. Apapun yang diinginkan
akan terpenuhi karena semua sudah tersedia.
Seperti halnya Tiyas.
Seorang anak orang kaya
yang menjadi banyak
sorotan, Berangkat dan
pulang selalu diantar oleh supir pribadi dan mobil
mewahnya.Meskipun bergelimang harta Tiyas
tidaklah menyombongkan diri. Tidak kalah dengan
Tiyas, orang tua Tiyas juga merupakan orang yang
baik dan ramah, tidak berpatokan pada harta dalam
bergaul dan tidak membeda-bedakan orang di
sekelilingnya. Kawan-kawan Tiyas sangat suka dan
betah berlama-lama di rumah Tiyas karena mereka
selalu disambut ramah dan diperlakukan seperti
keluarga sendiri oleh keluarga Tiyas.

31 | P e r s a h a b a t a n

Tiyas memiliki seorang sahabat yang sangat
setia menemaninya dalam menghadapi liku- liku
kehidupan. Tidak jauh dari rumahnya Dwi sahabat
Tiyas tinggal di kampung dekat rumah Tiyas, hanya
saja dipisahkan oleh RT saja. Namun sudah hampir
dua minggu Dwi tidak mengunjungi Tiyas di
rumahnya. “Hmmm Dwi kemana ya Mah, biasanya
hampir setiap hari Dwi main ke sini. Tapi ini sudah
hampir lewat dua minggu Dwi tidak datang lagi.”
Ujar Tiyas. “Mungkin Dwi sedang sakit!” jawab
Mama Tiyas. “Ih, iya juga ya Mah, siapa tahu
memang Dwi lagi sakit. Kalo begitu nanti sore Tiyas
mau menengoknya” katanya dengan penuh
semangat.Sudah lima sekali Tiyas mengetuk pintu
rumah Dwi. Karena menunggu lama tidak kunjung
dibuka akhirnya Tiyas memberanikan diri untuk
bertanya kepada tetangga tentang menghilangnya
Dwi. Benar saja, ternyata sudah dua minggu Dwi ikut
orang tuanya pulang ke desa. Sebab ayahnya habis

32 | P e r s a h a b a t a n

kena PHK. Akhirnya keluarga Dwi memutuskan untuk
kembali ke desa dan memilih menjadi petani.

“Oh, kasihan sekali Dwi,” ujarnya didalam hati,
Di rumahnya, Tyas tampak melamun sambil
memikirkan nasib sahabat setianya itu.
“Ada apa Yas? Kok kamu nggak seperti
biasanya, malah tampak lesu dan kurang semangat.”
Papa bertanya sambil menegur.
“Dwi, Pa.” Jawab Tiyas
“Memangnya ada apa dengan Dwi sehingga
membuatmu muram, Apa dia sedang sakit?” Tyas
menggeleng kepada ayah.
“Lantas kenapa?” Papa menjadi penasaran.
“Sekarang Dwi sudah pindah rumah. Kata
tetangga sebelah rumahnya Dwi ikut orang tuanya
pulang ke desa. Kabarnya bapaknya habis di PHK dan
memilih untuk menjadi petani”.Sambil menatap Tiyas
papa termenung memikirkan ucapan Tiyas dengan
rasa setengah tidak percaya.

33 | P e r s a h a b a t a n

“Kalau Papa tidak langsung percaya, Coba tanya
deh, sama Pak RT atau ke tetangga lain” ujarnya.

“Lalu apa rencana kamu?”
“Aku harap Papa bisa menolong Dwi!”
“Maksudmu?”
“Aku pengen Dwi bisa di sini lagi” Tyas
memohon dengan agak mendesak.
“Baik kalau itu bisa bikin kamu seneng. Tapi,
kamu harus bisa mencari alamat rumah Dwi yang di
desa” kata Papa.
Berkat bantuan pemilik kontrakan bekas rumah
Dwi akhirnya tiga hari kemudian Tiyas berhasil
memperoleh alamat rumah Dwi yang berada di desa.
Ia merasa sangat senang. Kemudian Papa bersama
dengan Tiyas datang ke rumah Dwi di sebuah desa
terpencil dan lokasi rumahnya masih masuk ke dalam
lagi. Bisa ditempuh dengan jalan kaki dua kilometer.
Kedatangan kami disambut orang tua Dwi dan Dwi
sendiri. Betapa gembira hati Dwi ketika bertemu

34 | P e r s a h a b a t a n

dengan Tiyas. Mereka berpelukan cukup lama untuk
melepas rasa rindu. Pada awalnya Dwi sangat kaget
dengan kedatangan Tiyas secara tiba-tiba.

“Maaf ya Yas. Aku tak sempat memberi kabar
ke kamu kalo aku mau pindah”

“Ah, tidak apa-apa. Yang penting aku sudah
ketemu kamu dan merasa senang.”Setelah
berbincang cukup lama, Papa menjelaskan tujuan
kedatangan mereka kepada orang tua Dwi. Ternyata
orang tua Dwi tidak keberatan, mereka
menyerahkan segala keputusan kepada Dwi sendiri.

“Begini, Wik, kedatangan kami kemari, ingin
mengajak kamu untuk ikut kami ke Surabaya. Kami
menganggap kamu itu sudah seperti keluarga kami
sendiri. Gimana Wi, apakah kamu bersedia ikut?”
Tanya Papa.

“Soal sekolahmu,” lanjut Papa, “kamu nggak
usah khawatir. Seluruh biaya pendidikanmu biar
papa yang menanggung.”

35 | P e r s a h a b a t a n

“Baiklah kalau memang Bapak dan Tiyas
menghendaki saya ikut, saya mau Pak. Saya juga
mengucapkan banyak terima kasih.’’

“Atas kebaikan Bapak yang mau membantu saya
dan keluarga saya,saya mengucapkan
terimakasih.Kemudian Tiyas bangkit dari tempat
duduk lalu mendekat memeluk Dwi. Tampak mata
Tyas berkaca-kaca tidak kuat menahan kebahagiaan.
Kini Dwi tinggal di rumah Tiyas. Sementara orang
tuanya tetap tinggal di desa. Selain untuk
mengerjakan sawah, mereka juga merawat nenek
Dwi yang sudah semakin tua.Andai di dunia sekitar
kita banyak orang kaya seperti papanya Dwi, maka
banyak anak putus sekolah yang tertolong.

Amelia Sabrina Al Fareza (9I)

36 | P e r s a h a b a t a n

Putus...Aku Tak Percaya

Pagi itu benar-benar tidak pernah aku
bayangkan.Serasa petir di siang bolong.Aku masih
menatapnya tidak percaya saat ia berbicara dengan
jelas, di depan wajahku, dia memutuskan tali
persahabatan yang telah terjalin sejak kita masih kecil.
Aku menggeleng-geleng, menatapnya nanar.
Persahabatan yang telah susah payah dibangun dengan
rasa sabar, hancur untuk alasan yang tidak kuketahui?
Hoh, memalukan. Apa persahabatan ini serapuh ini.

“Kamu kenapa? Aneh. Jangan bercanda di saat-saat
seperti ini, deh. Kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini,
sambil berteriak kencang seolah-olah aku orang tuli,
'persahabatan kita putus!' apa itu cara yang baik untuk
mengerjaiku ?! ” suaraku meninggi. Biar ini hanya
bercanda, ini sungguh menyebalkan. Otakku masih
berputar-putar, masih mencari-cari alasan ia
mengatakan hal itu. Sudah jelas, ia tak mungkin
membahasakannya untuk bercanda. Ia pasti punya
alasan mengapa ia mengutarakan hal itu di depan
wajahku tanpa komentar apa yang dikatakannya.

37 | P e r s a h a b a t a n

“AKU KECEWA,KECEWA SAMA KAMU” teriaknya.
Kata-kata itu cukup mampu menusuk jantungku.

Kami berargumen sangat lama, dengan cukup alot,
hingga akhirnya aku kesal dan pergi. Ngapain masih di
situ, memperjuangkan persahabatan yang memang
sudah jatuh ke jurang? Aku juga masih punya harga diri
untuk mengusiknya lagi. Biar saja dia bersama dengan
teman-teman barunya, kita lihat siapa yang terbaik!

Sebentar lagi, ketika mereka sudah tidak
membutuhkan kamu lagi, kamu pasti kembali padaku!
Kamu pasti malu!

Dia mengatakan, aku telah merebut orang yang
disukainya. Pasti anak-anak penyebar gosip itu lagi.
Kenapa sih mulut mereka itu tidak bisa direm?
Seharusnya mulut-mulut mereka itu ikut dioperasi agar
tidak bisa lagi,menyebarkan hal yang nggak jelas
kebenarannya.Esoknya,

berangkat sekolah dengan wajah menyeramkan.
Semalam aku tidak tidur, hanya tertawa dendam dan
kesal-kesal sendiri. Aku rasa aku sudah gila. Pada saat
acara sarapan pagi. Aku memelototi seluruh anggota
keluargaku yang ada di meja makan. Ayah, ibu, kakak.
Mereka semua telah melihat mataku yang mematikan

38 | P e r s a h a b a t a n

ini. Mereka salah tingkah. Kakakku mengejekku lagi,
'dasar perempuan mengerikan!' sahutnya dari kejauhan.

“Kalau kau bicara lagi, aku akan marah kepadamu
baju yang kupinjam akan kupakai terus,” ancamku
sambil tersenyum licik.

Di sekolah, aku langsung menuju kelasku, dan
pengawasanku tak sedikit pun kebangku belakang
itu.Aku mengizinkan bangku di sebelahku kosong.
Daripada tasku harus tertindih, lebih baik ia
mendapatkan kursi kosong itu sebagai tempat yang
layak. Aku menggambar-gambar anime dan berusaha
tidak menoleh.

Salah satu dari mereka, mulai menunjukkan
kekesalannya padaku.

Braakkkk...
Karina menggebrak mejaku dengan kerasnya. Aku
sama sekali tidak terkejut ataupun kesal karena
dibandingkan ini, penganiayaan kakakku di rumah jauh
lebih kejam, hehe.
“Sudah ditinggal sahabat begitu masih sombong.
Pura-pura kuat. Memangnya kamu tidak punya rasa
malu sampai-sampai-sampai koneksi orang ?! ”
bentaknya khas.

39 | P e r s a h a b a t a n

Aku berdiri. Semua kata-kata yang akan
kukeluarkan adalah kata-kata yang sudah kurancang
selama semalaman penuh.

Brakkkkk....
Aku ikut menggebrak meja
“Hei, berisik. Seharusnya aku yang tanya pada
kalian, apa kalian tidak malu menyebarkan berita
bohong seperti itu dan menghancurkan persahabatan
orang ?! ” bentakku. “Kalau nggak tahu apa-apa, lebih
baik diam dan jaga mulut lentur kalian itu. Dan, jangan
campuri urusan orang. Apa kalian senang jika melihat
orang menderita, hah ?! ”
“Kau....” Karina hendak mengangkat
tangannya,yang sepertinya akan menamparku.
“Tampar saja kalau berani. Setelah kamu
menamparku, guru BK akan menyidangmu. Mau? ”
Akhirnya dia menarik untuk kembali, lalu duduk di
bangkunya sambil mengumpat padaku.
Kantin
“Sebenarnya kamu kenapa sih?” Aku masih tidak
mengerti. “Tiba-tiba percaya dengan pembicaraan
mereka, padahal kita sama-sama tahu kalau sifat mereka
seperti itu!”

40 | P e r s a h a b a t a n

“Aku nggak bisa percaya sama kamu lagi,” isaknya.
"Kamu jahat. Kamu 'kan tahu aku suka sama Fabian.
Kenapa kamu malah deket-deket dia? ”

“Rasti,aku tidak deket-deket, tapi memang ada
pekerjaan yang harus kita selesaikan, itu alasannya…”

“Aku nggak percaya…” Dia tambah terisak. "Diva
jahat!"

Dia lalu berlari tanpa mendengarku. Aduh, gimana
nih? Mungkin lebih baik aku bicara pada Fabian agar
semua masalah selesai. Tapi, buat apa aku ngomong
sama dia? Alasan apa yang harus aku bicarakan,
'jelaskan kalau kita bukan apa-apa.' Lalu dia akan
bertanya, 'memangnya kenapa?' lalu aku jawab, 'Rasti
marah sama aku karena dia mengira kita pacaran.' Lalu,
berarti perasaan Rasti pada Fabian akan terbongkar.
Sama saja aku menyiram bensin di atas api. Oh, oh, itu
nanti saja. Yang penting, Fabian harus kupaksa untuk
bicara semuanya. Yeay!

“Fabian,teman-teman mengira kita sedang dalam
hubungan yang lebih dari teman, mereka salah
paham,bisa bantu aku menjelaskannya? ” akhirnya aku
menemukan alasan yang tepat.

41 | P e r s a h a b a t a n


Click to View FlipBook Version