“Biar kutebak. Anak-anak bermulut usil itu? ”
katanya emosi. “Baik. Biar aku jelaskan pada mereka.
Mereka memang tidak bisa berhenti beraksi. ”
Fabian bersedia membantuku. Esoknya, aku
memaksa Fabian ke hadapan anak-anak itu. Beberapa
ada yang mencibir, mengejek, menghina, dan ucapan-
ucapan yang menyakitkan semacamnya. Aku tidak
begitu menghiraukan. Nggak ada gunanya juga.
Jadi begini, Fabian menjelaskannya dengan gugup.
“Kami ini sama sekali tidak ada apa-apa. Ingat festival
pekan seni budaya yang akan diadakan minggu depan?
Kami berdua diperintahkan oleh kepala sekolah untuk
membuat acara-acara di dalamnya menjadi lebih hidup,
dan membaca jalannya festival. Kami juga bertanggung
jawab atas dekorasi, tiket dan letak-letak stand. Jadi
sejauh ini, kami hanya mitra sementara yang disewa
oleh sekolah untuk kelangsungan hidup pekan seni
budaya. Mengerti? ”
“Jadi, kalian sebenarnya tidak ada apa-apa?” Rasti
membuka mulutnya.
“Tidak,” Fabian menjawab. “Semua ini adalah tugas
dari sekolah. Ingin lebih akurat? Mau kupanggil kepala
sekolah untuk menjelaskannya sekarang? ”
42 | P e r s a h a b a t a n
“Eh, tidak perlu repot-repot,” Karina mengelak.
“Kami percaya kok.”
Lalu gerombolan sial itu pergi ke luar, atau lebih
tepatnya kabur. Aku dan Rasti sama-sama tersenyum,
lalu kami berpelukan. Ia meminta maaf karena sempat
tak percaya padaku. Tentu, aku memaafkannya.
Persahabatan kami terjalin kembali. Lalu, kami berdua
menatap ke arah Fabian ,yang keheranan dengan sikap
kami berdua.
“Sebenarnya ini ada apa sih? Kok jadi drama gini? ”
tanyanya bingung.
Aku tersenyum. Biar saja waktu mengungkap
rahasia ini pada saatnya.
Seminggu kemudian,
Diva sudah mengerti jika kami hanya bertemu
untuk membahas pelajaran saja dan tidak ada yang
lainnya.
“Soryy,aku minta maaf,karena aku nggak mau
dengerin omongan kalian maaf ya”sesalnya.
“Gak masalah aku tauu kamu juga lagi banyak
masalah,jadi kita balik lagi kan kayak semula?”tanyaku
dengan senyum.
43 | P e r s a h a b a t a n
“Iya duong,hehehe”,setelah itu kita tertawa
bersama.happy lagiiiiii.
Pesanku seberapa besar
cobaan itu pasti ada jalan
keluarnya,meski dengan cara
apapun pasti ada jalan keluar dan
solusi.
Karunisya Fatmawati Putri (9G)
44 | P e r s a h a b a t a n
Kisah Dua Sahabat Sejati
Len.....Helen,”
Helen tersentak. Semua hal
yang ada di pikirannya mendadak
lenyap saat sebuah suara
memasuki indera pendengarannya. Marsha menoleh
ke belakang, mendapati sahabatnya di sana sambil
tersenyum, memberikan sekaleng minuman pada
Marsha, Eri bertanya, “Helen, kamu kenapa? Kok dari
tadi aku perhatiin ngelamun terus, sih?” Helen meraih
minuman yang diberikan Eri, bergumam pelan
wajahnya nampak ada beban.
“Enggak, hanya bingung aja. Tugas di sekolah
gak selesai-selesai,” ucapnya
Eri mengerti. Ia kemudian berkata lagi, “Oh…
Selesain aja satu-satu,. Pasti gak akan susah,”
niatnya Eri sih menghibur, tapi tanpa diduga Helen
45 | P e r s a h a b a t a n
malah nangis sesegukan sambil menutup wajahnya
dengan tangan.
Eri panik seketika, “Helen, kamu kenapa?” Helen
masih sesegukan. Ia menjawab Eri pelan.
“Ri, aku bingung. Aku kayak bintang, Ri. Saking
kecilnya sampai-sampai gak ada orang yang merhatiin
aku. Gak kayak matahari, tata surya yang membuat
orang selalu mencari cahaya dari benda yang satu
itu…”Eri menepuk punggung Helen.
Helen mengembungkan pipinya, oke itu
menggemaskan. Helen menatap Eri kesal, “Aku
serius, tahu!” Eri tersenyum, tangannya terangkat
untuk mengusap air mata Helen. “Helen, kamu belajar
IPA, kan? Bintang itu bercahaya sendiri, tanpa
bantuan yang lain. Sementara bulan memerlukan
bantuan cahaya matahari untuk bersinar, meskipun ia
lebih besar dari bintang. Meskipun bintang kecil, dia
bisa ada dengan baik, menghiasi langit saat matahari
pergi ke barat. Helen, semua tata surya ada
manfaatnya dan kegunaannya. Karena aku yakin, kok,
bahwa Tuhan gak mungkin kan ciptain sesuatu tanpa
rencana? Bintang memang gak seterang matahari.
Tapi bintang jauh lebih cantik dari matahari. Kalau tata
46 | P e r s a h a b a t a n
surya terkecil seperti bintang saja ada gunanya, mana
mungkin manusia enggak, Len?” panjang, lebar, dan
jelas. Sikap inilah yang disukai Helen.
Eri selalu berkepala dingin dan menyelesaikan
segala sesuatunya dengan baik. Walaupun Helen
sudah puas dengan jawaban itu, tetap saja, perasaan
rendah hati ada di hatinya. Eri mencubit pipi Helen
pelan, “Nah, ayo pulang, udah jam lima sore nih.
Kamu gak berencana nginep di kampus, kan?”
Guraunya ringan. Helen mengangguk, “Ayo,”
Hari ini berakhir lagi, dengan hal yang sama.
Tidak ada yang berubah. Helen memang tidak
menarik. Ia pendiam, walaupun nilainya di sekolah
menjadi yang tertinggi dan di antara semua orang
yang tidak menggubrisnya. Mereka seperti alam
semesta, dengan Eri sebagai angkasanya dan Helen
sebagai bintangnya. Saling melengkapi satu sama
lain. Karena langit tanpa bintang tidak akan lengkap,
dan bintang tidak akan ada tanpa langit. Bagai bintang
kecil yang akan selalu bersinar di angkasa. Sekalipun
seluruh dunia tidak memperhatikannya, angkasa akan
selalu menjadi latar sang bintang. Tidak akan berubah
sampai kapanpun juga.
47 | P e r s a h a b a t a n
Besoknya, Helen terperangah di depan mading
sekolahnya bersama puluhan siswa/i lainnya yang
berdesak-desakkan. Helen membaca pengmuman itu.
‘Helen Aura Cinta juara 1 dalam lomba melukis
bertema Alam sekabupaten’. Ya –begitulah
isinya.Sekarang orang yang menjadi pusat keramaian
itu malah cuman bengong di depan mading,
memastikan matanya tidak membohonginya. Tapi
tidak, sekalipun Helen mengucek matanya berkali-kali,
penglihatannya tidak menipunya. Ia juara 1, dalam
lomba melukis, bertema ‘Alam’, sekabupaten.
“…Helen, kamu berhasil,” nada bicara Eri
terkesan datar, tapi di dalam hatinya ada rasa teramat
bahagia dan bangga terhadap sahabatnya ini. Helen
mengambil napas panjang, lalu membuangnya
perlahan. Ia melihat ke arah Eri, “Ri… Aku berhasil,
nih. Aku berhasil,” Setelah seluruh kesadaran Eri
kembali, ia tertawa pelan.
“Iya, berhasil. Gak usah diulang-ulang, ah!” Eri
tersenyum senang, dengan segera, ia memeluk
sahabatnya itu.
“Aku menang, Ri…” Suaranya sengau seperti
ingin menangis. Ah… Gimana gak menangis, ini cita-
48 | P e r s a h a b a t a n
cita Helen dari dulu kan! Eri tersenyum, “Ya…
Selamat, ya!" Persabatan mereka hingga
dewasa,mereka sudah saling mengerti cara
membantu sahabatnya ketika sedang mengalami
masalah.Beruntungnya mereka mempunyai sahabat
yang sejati.
Mohammad Jonavan Hardianto Putra (9G)
49 | P e r s a h a b a t a n
Kejutan dari Sahabat dan Keluarga
“Yuk ke kantin. Katanya lapar” Hanna menggandeng tanganku.
“Sebentar. Aku mau beresin bukunya dulu” Aku menutup bukuku dan
kumasukkan ke loker. “Hai,Anya. Udah sembuh?” Jennar menyapaku.
Memang, aku sudah tiga hari tidak masuk sekolah karena demam. Baru hari
ini badanku mulai terasa sehat dan akhirnya masuk sekolah. “Udah
kok.Makasih ya madunya yang kemarin,” Ucapku ringan. Jennar tersenyum
lalu mengangguk. Hanna beli bakso sedangkan aku beli batagor. Hanna juga
beli es teh, kalo aku bawa minum sendiri. Jennar gak ke kantin karena bawa
bekal. Aku menghabiskan batagor sambil sesekali mengobrol dengan Hanna.
Hanna memang temanku dari SMP. Sampai sekarang awet persahabatan
kita. Hanna anaknya asyik sekali buat diajak mengobrol. “Ayo dihabiskan.
Keburu bel masuk nih” Hanna cepat-cepat meminum sisa es tehnya. Lalu
berjalan ke penjual tadi untuk membayar. Aku bangkit dan berjalan
menyusul Hanna yang berlari kecil menuju kelas.
Bel masuk berbunyi. Aku mengeluarkan buku Bahasa Indonesia.
guru kelasku datang dan mulai mengajar. mataku melirik ke arah Hanna
yang letak bangkunya tak jauh dariku. Bisa kulihat wajahnya yang bosan.
Sesekali dia menguap. Jennar yang duduk sebangku dengan Hanna cuma
bisa geleng-geleng kepala. Hanna mengambil ikat rambutnya. “Anya Firanza!
Kerjakan soal nomor tiga” Perintah guru di depan kelas. Aku tersenyum
50 | P e r s a h a b a t a n
kecut. Hanna terkekeh kecil melihat raut wajahku. Selesai mengerjakan, aku
kembali duduk. Bel pulang sekolah berbunyi. “Baik anak-anak, saya akhiri
kelas hari ini. Jangan lupa kerjakan soal yang saya berikan tadi. Selamat
siang.” Guruku berdiri dan meninggalkan kelas. Aku memasukkan bukuku
satu persatu. “Kamu dijemput siapa?” Tanya Jennar kepadaku. “Biasanya
sama Pak Andi. Tapi hari ini Pak Andi gak masuk. Mungkin nanti dijemput
Mama atau Kak Vano” Jelasku. Jennar hanya menganggukkan kepalanya.
“Aku pulang dulu yaa” Hanna mengambil kunci motornya dari saku. “Iya,
hati-hati,” ucapku dan Jennar bersamaan. Hanna mengacungkan jempolnya
dan menghilang di ramainya kerumunan siswa-siswi. “Yuk ke taman depan
sambil nunggu dijemput,” ajak Jennar.
Sampai di taman, kami mencari bangku buat duduk. Jennar asyik
main ponselnya. Aku mendengarkan musik lewat earphone. Jennar terlihat
sedang senyum-senyum sendiri. “Kenapa sih? Kok senyum-senyum sendiri?”.
Jennar malah menghindar sambil tertawa-tawa. “Pasti lagi chat-an sama Kak
Jevanyaa,” godaku. Jennar menggeleng cepat. “Enggak kok. mana ada,” ucap
Jennar buru-buru. Aku hanya memanyunkan bibirku. Sampai sebuah mobil
berhenti di depan warung jajanan. “Dijemput Kak Vano ternyata. Aku pulang
dulu ya Jen. Kalo kamu udah pulang kabarinyaa,” pesanku. “Oke. kamu hati-
hati,” pesan Jennar balik. Aku mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan
Jennar dan masuk mobil.
51 | P e r s a h a b a t a n
“Anya! Ayo makan malam” Mama berseru dari bawah. Kuikat
rambutku jadi satu baru turun ke bawah. “Kak Vano mana, Ma? ” tanyaku.
“Katanya ada kerja kelompok di rumah temannya.” jelas Mama. Aku
mengangguk kecil. Sekarang di rumah cuma ada aku, Mama, sama Bi Sani.
Selesai makan, aku duduk di ruang keluarga. Nonton televisi sama Mama.
Jam menunjukkan pukul 8 malam. “Papa pulang !” Pintu ruang tamu
terbuka. Papa masuk kedalam sambil membawa tas plastik besar. “Wahh...
Papa bawa apa nih?” Aku berdiri menghampiri papa yang meletakkan tas
plastik tadi di meja makan. “Ada semangka, apel, pisang, jeruk.” Aku melihat
banyak buah yang dibeli papa. Papa hanya tersenyum melihat aku yang
antusias sekali. Diam-diam, papa membawa masuk ke kamar satu tas plastik
berukuran sedikit besar. “Aku masuk ke kamar ya, Mama.” Aku bangkit
sambil membawa satu buah pisang.
Mama mengangguk, lalu berkata, “Tugas sekolahnya dikerjakan,
jangan sampai lupa”. “Oke Ma,” jawabku. sampai di kamar, aku memakan
pisangnya sembari memainkan ponsel sebentar. Selesai makan pisangnya,
aku lanjut ngerjakan tugas sekolah. pukul 22.00, mataku mulai berat.
“Ngantuk banget,” ucapku. Aku memberesakam buku-buku lalu naik ke
kasur dan tidur.
“Pukul berapa ini?” Aku menatap layar ponsel. Hampir pukul 24.00
. Tiba-tiba ada chat masuk. “Mama suruh aku keluar? Ada apa?” Aku
bingung. kumatikan ponselku dan minum sebentar. Kubuka pintu kamar
52 | P e r s a h a b a t a n
pelan-pelan dan berjalan ke bawah. Sepi, tidak ada siapa-siapa. “Masa aku
dibohongin?” Aku cemberut. Mana gelap lagi. Hampir banget mau balik ke
atas, lampu tiba-tiba menyala. Mataku langsung menyipit. Aku makin
terkejut melihat ada papa, mama, Kak Vano, Hanna, sama Jennar di ruang
keluarga. “Surprise!!”. Aku cuma bisa mengukir senyum karena senang
sekali. Hanna sama Jennar memelukku bersamaan. “Tambah tua nihh,” goda
Hanna. “Kalian kok bisa di sini?” tanyaku. “Tenang aja. kita udah izin kok,”
ucap Jennar. “Iya, Anya. Mama kaget tiba-tiba Hanna chat Mama mau kasih
kejutan buat kamu. Bilang makasih dong,” ucap Mama. “Makasih yaa. Kalian
memang teman terbaikku,” ucapku sambil tersenyum lebar. “Sama-sama,
Anya,” jawab Hanna dan Jennar. Aku cepat-cepat meniup lilin. “Kuenya
dimakan besok aja. Sekarang kalian tidur. Besok Papa mau bawa kalian
jalan-jalan,” ucapan papa membuat aku gembira. “Okee, siap!!”
Mereka sangat antusias mempersiapkan liburan mereka.Rencana
ini sama sekali tidak diduga,mama pun
tidak mengerti kejutan dari papa.Siapa
sih yang tidaksuka liburan,apalagi
dengan teman terbaik.Meskipun tidak
menginap dan perjalanan mereka cukup melelahkan,tetapi hati mereka
sangat bahagia.
Alysha Antya Leoma (9I)
53 | P e r s a h a b a t a n
Tentang Penulis
Dra.Putri Handayani,guru Bahasa Indonesia di SMPN
5 Kota Kediri.Menjadi guru sudah 33
tahun.Tertarik untuk membuat
antalogi cerpen karya siswa kelas IX
yang menjadi peserta didiknya.Ini
dilakukan untuk memotivasi siswa untuk lebih banyak
berkarya dimasa pandemi covid 19.Persahabatan adalah
tema yang lebih cocok untuk kalangan remaja sehingga
lebih memudahkan siswa untuk berkarya.Ada beberapa
yang perlu diadakan pengeditan dari hasil karya siswa
mengingat siswa yang masih belajar dalam membuat
cerpen.
**Mencobalah terus berkarya untuk lebih
mengetahui bakat dan minatmu.Jika kau tidak pernah
berkarya siapa yang tahu potensimu,maka tak satu pun
orang membanggakan dirimu.**
54 | P e r s a h a b a t a n
Sri Wijayanti, S.Pd., guru Bahasa Indonesia di SMP
Negeri 5 Kota Kediri. Menjadi guru sudah
26 tahun. Mengapa saya tertarik untuk
membuat antalogi cerpen karya siswa
kelas IX. Saya rasa penting untuk
mengasah bakat, minat, kreatifitas dan keahlian menulis
anak didik serta sebagai sumbangsih terhadap almamater.
Harapan saya sebagai pendidik, dengan hasil karya ini
akan memotivasi siswa untuk selalu berkarya dan
berinovasi mengharumkan nama almaternya.
Antologi kali ini bertemakan persahabatan,
karena persahabatan adalah menggambarkan suatu
hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan,
dan perasaan. Sahabat akan menyambut kehadiran
sesamanya, menunjukkan kesetiaan, kepercayaan dan
saling menolong. Dari hasil karya cerpen siswa ini, perlu
diadakan pengeditan mengingat siswa masih dalam taraf
belajar menulis cerpen.
**Sahabat sejati adalah mereka yang berbagi
suka, duka, dan mau berjuang bersama-sama. Jadilah
dirimu sendiri. Sahabat sejati pasti akan menerima kamu
apa adanya**
55 | P e r s a h a b a t a n
Ratna Mardiningtyas, S.Pd., guru Bahasa Inggris di
SMP Negeri 5 sejak tahu 2005.
Menyukai Bahasa Inggris sejak SMP
kelas 1. Mempunyai kegemaran
mendengarkan musik, melihat film
action dan film animasi bertemakan persahabatan. Tema
persahabatan menjadi daya tarik tersendiri buat saya
untuk ikut terlibat dalam terciptanya sebuah karya berupa
antologi cerpen karya siswa SMP Negeri 5 Kediri. Seorang
teman yang baik belum tentu seorang sahabat. Pepatah
Bahasa Inggris mengatakan “A friend in need is a friend
indeed”. Seorang sahabat sejati adalah dia yang selalu
hadir disaat kita sedang membutuhkan.
**
Dewi Muarifah, M.Pd , mengajar Ilmu
Pengetahuan Alam IPA di SMPN 5 Kota
Kediri. Menjadi guru sudah 10 tahun.
Tertarik untuk bergabung membuat
antalogi cerpen karya siswa kelas IX . Ini
dilakukan untuk memotivasi diri sendiri dan siswa untuk
lebih banyak berkarya dimasa pandemi covid- 19, menulis
membuat kita menjadi berani menuangkan ide yang ada
dipikiran kita. Tema Persahabatan dipilih karena dianggap
tema yang lebih cocok untuk kalangan remaja sehingga
lebih memudahkan siswa untuk berkarya. Ada beberapa
56 | P e r s a h a b a t a n
yang perlu diadakan pengeditan dari hasil karya siswa
mengingat siswa yang masih belajar dalam membuat
cerpen.
**Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama
ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan
dari sejarah.**
Putra Wijaya
Putri Handayani
Ratna Mardiningtyas
Dewi Muarifah
Sri Wijayanti
57 | P e r s a h a b a t a n
Antologi cerpen yang bertema
"Persahabatan" ini berisi 10 cerpen
terpilih karya siswa kelas 9 SMP
Negeri 5 Kediri yang telah melalui
proses editing. Harapan kami antologi
cerpen ini bisa digunakan sebagai
literasi dan motivasi siswa untuk
berkarya lagi. Persahabatan mampu
membentuk karakter siswa yaitu
menghargai sesama, setia, saling cinta,
saling menolong, serta karakter mulia
lainnya.
"Persahabatan bagai kepompong
mengubah ulat menjadi kupu-kupu yang
cantik"