The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dr. H. Muamar Al Qadri, M.Pd, 2024-04-16 22:37:41

Pendidikan Akhlak

Pendidikan Akhlak

PendidikanAkhlak |i


Pendidikan Akhlak Penulis: Muamar Al Qadri ISBN 978-623-217-864-9 Editor: Nurani Ike Budiatmawati Penata Letak: @timsenyum Desain Sampul: @kholidsenyum Copyright © Pustaka Media Guru, 2019 vi, 140 hlm, 14,8 x 21 cm Cetakan Pertama, Juli 2019 Diterbitkan oleh CV. Pustaka Media Guru Anggota IKAPI Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya Website: www.mediaguru.id Dicetak dan Didistribusikan oleh Pustaka Media Guru Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72


PendidikanAkhlak | v Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji syukur bagi Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat taufik dan hidayah, serta meningkatkan pemantapan keimanan dan taqwa. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah menuju kebaikan di dunia dan akhirat. Pokok pikiran yang mendasari penerbitan buku Pendidikan Akhlak adalah salah satu upaya dalam bentuk ikhtiar untuk mewujudkan cita‐cita pengembangan kemampuan dalam membentuk watak pribadi muslim menuju peradaban yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Buku pendidikan akhlak merupakan salah satu di antara kendaraan yang ikut menentukan keberhasilan misi pendidikan, yang intinya banyak berurusan dengan masa depan anak bangsa sebagai upaya membentuk karakter bangsa yang unggul. Ucapan terima kasih berikut penghargaan paling khusus penulis sampaikan kepada kedua orang tua yaitu ayahanda (H.Muhammad Ridwan, S.Pd.) dan Ibunda (Hj. Fatimah Syam) yang telah menanamkan pemahaman ajaran agama Islam sejak kecil, serta memberikan motivasi masa depan serta penuh Prakata “Ada empat sifat yang jika ada pada dirimu, maka engkau tidak akan menyesali hal-hal duniawi yang tidak kamu peroleh. Keempat sifat tersebut adalah: jujur, menjaga amanah, budi pekerti yang baik, dan tidak rakus. (HR Imam Ahmad)”


vi|MuamarAlQadri kesabaraan dan ketabahan dalam memberikan semangat yang tulus dari hati yang mengharapkan anaknya senantiasa berprestasi untuk meraih impiannya. Selanjutnya bersama istri dan anak tercinta. Penulis menyadari dengan kerendahan hati menyatakan bahwa buku Pendidikan Akhlak ini tidak luput dari kelemahan. Saran dan kritik konstruktif dari semua pihaklah yang akan menjadi bahan penyempurnaannya kelak pada buku ini. Besar harapan bagi penulis semoga buku ini dapat memberikan manfaat besar bagi pengembangan dan kekayaan khazanah ilmu pengetahunan pendidikan Islam, terkhusus ilmu sebagai bekal bagi para mahasiswa/i terutama untuk bahan belajar mahasiswa. Nasrum minallahi wafathun qariib, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah‐Nya, serta buku ini bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. Tanjung Pura, 26 Ramadhan 1440 H 31 Mei 2019 Penulis, H. MUAMAR AL QADRI, M.Pd.


PendidikanAkhlak | vii Daftar Isi Prakata............................................................................................iii DaftarIsi...........................................................................................v BAB I Konsep Dasar Pendidikan Akhlak .............................. 1 A. Definisi Pendidikan Akhlak ................................................... 1 B. Tujuan Pendidikan Akhlak ....................................................9 C. MetodePendidikanAkhlak...............................................12 D. KonsepPendidikanAkhlak..............................................18 E. Faktor‐Faktor Pembentukan Akhlak ................................... 21 F. AkhlakKepada Allah,Rasul,dan Manusia ..................... 27 G. Akhlak Terhadap Alam Semesta ........................................33 BAB II Akhlak Terhadap Diri dengan Membiasakan Pola Makan Sehat....................................................................................35 A. PengertianPolaMakan................................................... 35 B. TataCaraPolaMakanSehat ...........................................36 C. ManfaatMengikutiPolaMakan Rasulullah......................42 BABIIIAkhlakTerhadapProfesiGuruPAI ...................................... 47 A. KepribadianGuru ...........................................................47 B. Pandangan Islam tentangKompetensi Guru ......................54 C. KompetensiKepribadianGuruPAI................................. 58 BABIV EtikaPendidikdanPesertaDidik.........................................65 A. Etika Pendidik ............................................................... 65 B. EtikaPesertaDidik ......................................................... 76 BABVKonsepAkhlakTasawuf .....................................................89 A. PengertianTasawuf....................................................... 89 B. TujuanTasawuf ............................................................. 94


viii|MuamarAlQadri C. Sumber‐Sumber Ajaran Tasawuf ...................................... 99 D. Sekilas Sejarah Perkembangan Tasawuf dan Karakteristikn 104 E. Nilai‐Nilai Ajaran Tasawuf ................................................116 F. Tuhan, Manusia dan Alam dalam Tasawuf .......................133 Daftar Pustaka ....................................................................141 ProfilPenulis................................................................................142


PendidikanAkhlak |1 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 263), pendidikan adalah suatu proses untuk mengubah sikap dan tingkah laku seseorang maupun sekelompok orang dengan tujuan untuk mendewasakan seseorang melalui usaha pengajaran danpelatihan. Terdapat beberapa istilah dalam bahasa Arab yang dipergunakan untuk pengertian pendidikan, seperti terdapat dalam Surat al‐Baqarah ayat 31. Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama‐nama (benda‐benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada‐Ku nama benda‐benda itu jika kamu memang benar orang‐orang yang benar!" (QS. Surat al‐Baqarah : 31). BAB I Konsep Dasar Pendidikan Akhlak A. DefinisiPendidikanAkhlak 1. DefinisiPendidikan


2 | MuamarAlQadri Kata ‘allama tanpa kata al‐‘Ilma mempunyai arti mengajarkan. Sama halnya dengan kutipan ayat di atas, ‘allama berarti bahwa Allah telah mengajarkan sesuatu kepada Nabi Adam untuk mengetahui nama‐nama benda. Maka, yang pada awalnya Nabi Adam tidak tahu apa‐apa setelah Allah mengajarinya, akhirnya nabi Adam dapat menjadi tahu. Artinya: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Surat al‐Isra‟ : 24) Kata rabbayani berarti mengasuh/mendidik, pada dasarnya artinya adalah mengasuh dengan memberikan pendidikan, sehingga pada ayat yang kedua bisa dipahami bahwa orang tua mendidik anak‐anaknya dimulai dari sejak ia mengandung. Hal serupa dikemukakan oleh Ibnu Qoyyim (Hasan bi Ali al Hijazi, 1988: 156), beliau mengatakan bahwa pendidikan secara bahasa diambil dari kata tarbiyah yang memiliki arti merawat, menumbuhkan, mendidik, memimpin, memiliki, memperbaiki, dan menguatkan. Kemudian dari kata ar rabb yang bermakna memiliki, majikan, guru, pendidik, yang menegakkan, yang memberi nikmat, yang mengurus dan yang memperbaiki.


PendidikanAkhlak |3 Kemudian diambil dari kata ar rabbany yaitu ‘alim yang mengajar, yang memberi pengetahuan dan ilmu yang besar manfaatnya. Selain itu banyak juga para tokoh yang mendefinisikan tentangpendidikan,diantaranyaadalahsebagaiberikut: Hasan Langgulung (2003: 1) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah suatu proses yang biasanya bertujuan untuk menciptakan pola tingkah laku tertentu pada anak‐anak atau orang yang sedang dididik. John Dewey berpendapat sebagaimana dikutip oleh M. Arifin (1991: 1), bahwa pendidikan adalah suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional) menuju ke arah tabiat manusia biasa. Al‐Musthofa Al‐Ghulyani (1913: 32) mengemukakan bahwa pendidikan adalah menanamkan akhlak mulia terhadap anak‐ anak dengan berbagai petunjuk dan nasihat, sehingga tertanamlah watak yang baik. Adapun Sahal Mahfudz dalam buku Pendidikan Islam Kontemporer karya Dr. H. Bashori Muchsin (2009: 4), mengatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang membentuk watak dan perilaku secara sistematis, terencana, dan terarah. Sedangkan Abuddin Nata (2012: 19) berpendapat pendidikan adalah suatu usaha yang didalamnya ada proses belajar untuk menumbuhkan atau menggali segenap potensi fisik, psikis, bakat, minat dan sebagainya, yang dimiliki oleh para


4 | MuamarAlQadri manusia. Karena di dalamnya ada suatu proses, hasilnya akan berubah dari awal sebelum seseorang itu mendapatkan pendidikansampaiiaselesaimendapatkandidikan. 2. Definisi Akhlak Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistik (kebahasaan), dan pendekatan terminologik (keistilahaan). Dari segi kebahasaan menurut Al‐Musthofa Al‐Ghulyani (1913: 451) akhlak berasal dari bahasa arab yaitu kholaqa yang asal katanya khuluq yang berarti budi pekerti, tabiat. Dalam kitab Al‐Mu’jam Al‐falsafi, Shaliba (1978: 539) mengatakan bahwa akhlak berasal dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan yang menggunakan wazan tsulasi mazid af’ala, yuf’ilu, if’alan yang berarti al‐sajiah (perangai), at‐Thabi’ah (kelakuan, tabiat, watak, dasar), al‐‘Adat (kebiasaan), al‐Muru’ah (peradaban yang baik), dan ad‐Din (agama). Akhlak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 20) mempunyai arti budi pekerti, kelakuan. Artinya, akhlak adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang, entah baikatauburuk. Untuk memperoleh pengertian akhlak dari segi istilah secara utuh dan menyeluruh, maka perlu merujuk berbagai pendapatparapakardalambidangakhlak,diantaranya: a. Menurut Al‐Hafidz Hasan al‐Mas’udi (w. 345 H) yang dikutip oleh Fadlil Sa’id An‐Madwi (1418 H: 2) Akhlak adalah sebuah ibarat atau dasar untuk mengetahui baiknya hati


PendidikanAkhlak |5 dan panca indra, dan akhlak termasuk sebagi hiasan diri kita dan bertujuan untuk menjauhkan dari perkara yang jelek. Buah dari akhlak adalah bersih hatidan panca indranya didunialebih‐ lebih beruntung di akhirat kelak nanti. b. Menurut Ibn Maskawaih (1329H: 25) Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong seseorang melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. c. Menurut Al‐Faidh al‐Kasyani (1386H: 15), akhlak adalah ungkapan untuk menunjukan kondisi yang mandiri dalam jiwa yang darinya muncul perbuatan‐perbuatan dengan mudah tanpa didahului perenungan dan pemikiran. d. Menurut Muhyiddin Ibn Arabi (1165‐1240 M), yang dikutip oleh Rosihin Anwar (2010: 14), akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu. Keadaan tersebut pada seseorang boleh jadi merupakan tabiat atau bawaan dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan danperjuangan. e. Menurut Ibrahim Anis (1972: 202) akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam‐macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkanpemikirandanpertimbangan. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai akhlak dan hal‐hal yang berkaitan dan senada dengan akhlak, maka di sini perlu dijelasakan tentang etika, moral, susila dan hubungan etika,


6 | MuamarAlQadri moral, susila dengan akhlak. a. Etika Zainuddi Ali dalam bukunya Pendidikan Agama Islam (2012: 29) menjelaskan kata etika berasal dari bahasa Yunani yang berarti adat kebiasaan. Hal ini berarti sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem nilai dalam masyarakat tertentu. Etika lebih banyak berkaitan dengan ilmu atau filsafat. Oleh karena itu, standar baik dan buruk adalah akal manusia. Sedangkan menurut Imam Khanafie Al‐Jauharie dalam buku Filsafat Islam pendekatan tematik (2010: 94), etika adalah cabang filsafat yang mencari hakikat nilai‐ nilai baik dan jahat yang berkaitan dengan perbuatan dan tindakan seseorang yang dilakukan dengan penuh kesadaran berdasarkan pertimbangan pemikirannya. b. Moral Kata moral berasal dari bahasa latin, yaitu mos. Kata mos adalah bentuk kata tunggal dan jamaknya adalah mores. Hal ini adalah kebiasaan, susila. Adat kebiasaan adalah tindakan manusia yang sesuai dengan ide‐ide umum tentang yang baik dan yang buruk yang diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, moral adalah perilaku yang sesuai dengan ukuran‐ukuran tindakan sosial atau lingkungan tertentu yang diterima oleh masyarakat (Zainuddi, 2912: 29). Pengertian lain menurut Nur Hidayat (2013: 14) moral adalah suatu aturan yang yang digunakan untuk menentukan batas‐batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat,


PendidikanAkhlak |7 atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar atau salah, baik atau buruk. c. Susila Selanjutnya susila dapat berarti sopan, beradab, baik budi bahasanya. Kesusilaan sama halnya dengan kesopanan. Dengan begitu kesusilaan lebih mengarah kepada upaya membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan dan memasyarakatkan hidup yang sesuai dengan nilai‐nilai yang berlaku di dialam masyarakat (Abudin Nata, 2012: 96). Hubungan antara etika, moral, susila, dan akhlak dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa etika, moral, susila, dan akhlak adalah sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari perbuatan yang dilakukan manusia untuk ditentukan baik dan buruknya. Perbedaanya terletak pada patokan atau sumber yang dijadikan ukuran baik dan buruk. Di dalam etika penilaian berdasarkan pendapat akal pikiran, pada moral, dan susila berdasarkan kebiasaan yang berlaku umum dalam bermasyarakat, sedangkan dalam akhlak ukuran yang digunakan sebagai standar baik dan buruk itu adalah Alquran dan As‐Sunnah. Namun demikian, etika, moral, susila, dan akhlak tetap saling berhubungan dan membutuhkan. Uraian tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa etika, moral, dan susila berasal dari produk rasio dan budaya masyarakat yang secara selektif diakui sebagai yang bermanfaat dan baik bagi kelangsungan hidup manusia. Sementara akhlak berasal dari


8 | MuamarAlQadri wahyu, yakni ketentuan berdasarkan petunjuk Alquran dan hadist. Dengan kata lain jika etika, moral dan susila berasal dari manusia, sedangkan akhlak berasal dari Tuhan. Apabila kata akhlak ini dikaitkan dengan pendidikan, ini mempunyai pengertian bahwa pendidikan akhlak adalah penanaman, pengembangan, dan pembentukan akhlak yang mulia di dalam diri peserta didik. Pendidikan akhlak tidak harus merupakan suatu program pendidikan atau pelajaran khusus, tetapi lebih merupakan satu dimensi dari seluruh usaha pendidikan. Dengan demikian dapat disimpulkan dari definisi pendidikan dan akhlak bahwa pendidikan akhlak adalah usaha sadar dalam proses transiteralisasi pengetahuan akhlak dan nilai Islam kepada peserta didik melalaui pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensi, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dunia dan akhirat. B. Tujuan PendidikanAkhlak Tujuan merupakan hal terpenting yang dibutuhkan dalam melakukan sesuatu supaya apa yang dilakukan itu terarah. Demikian juga dengan pendidikan. Pendidikan juga mempunyai tujuan. Sebagaimana ungkapan para tokoh tentang tujuan pendidikan akhlak berikut ini: 1. Menurut Ibnu Qayyim (2006: 145), kebahagiaan akan bisa diraih dengan terhiasinya diri dengan akhlak mulia dan


PendidikanAkhlak |9 terjauhkannya dari akhlak buruk. Dengan kata lain, tujuan pendidikan akhlak menurut Ibnu Qoyyim adalah untuk mencapai kebahagiaan. 2. Barmawy Umarie (1995: 3) menyatakan bahwa puncak berakhlak adalah guna memperoleh atau bertujuan: a. Irsyad yaitu dapat membedakan antara amal yang baik dan yang buruk. b. Taufiq yaitu perbuatan kita sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. c. Hidayah yaitu gemar melakukan yang baik dan terpuji serta menghindari yang buruk atau tercela. Apabila dicermati pendapat Barmawy Umarie, tujuan pendidikan akhlak itu merupakan tujuan yang prosesif, tetapi sebenarnya yang dikehendaki adalah figur setelah terperolehnya tiga tujuan tersebut (Irsyad, Taufiq, dan Hidayah) yaitu insan yang diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan orang yang diridhoi adalah manusia yang kamil(sempurna). 3. Mahmud Yunus (1978: 22), tujuan pendidikan akhlak adalah membentuk putra‐putri yang berakhlak mulia berbudi luhur, bercita‐cita tinggi, berkemauan keras, beradab sopan, baik tingkah lakunya, tutur bahasanya, jujur dalam segala perbuatan suci murni hatinya. 4. Menurut Moh. Jamil (2010: 38), tujuan pendidikan akhlak (etika) bukan hanya mengetahui pandangan atau teori, bahkan setengah dari tujuan itu adalah mempengaruhi dan mendorong kehendak kita supaya membentuk hidup suci dan


10 | Muamar AlQadri menghasilkan kebaikan dan kesempurnaan dan memberi faedah kepada sesama manusia. Dengan demikian, etika itu adalah mendorongkehendakagarberbuatbaik,akantetapi ia tidak selalu berhasil kalau tidak ditaati oleh kesucian manusia. 5. Menurut Oemar M. At‐taumy Asy‐Syaibani (1992: 346), tujuan pendidikan akhlak adalah menciptakan kebahagiaan dunia dan akhirat, kesempurnaan jiwa bagi individu dan menciptakan kebahagiaan, kemajuaan, kekuatan, dan keteguhan bagi masyarakat. 6. Menurut Athiyah Al‐Abrasyi (1984: 104), tujuan pendidikan akhlak adalah untuk menjadikan orang‐ orang menjadi baik akhlaknya, keras kemaunnya, sopan dalam berbicara dan berbuat, mulia dalam tingkah laku dan perangai, bersikap bijaksana, sempurna, sopan dan beradab,ikhlasdansuci. Tujuan‐tujuan di atas selaras dengan tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang‐undang Sistem Pendidikan Nasional (2003: 7) No. 20/Th. 2003, bab II, Pasal 3 dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan


PendidikanAkhlak |11 menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Undang‐undang No. 20 Tahun 2003 tersebut mengisyaratkan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan adalah sebagai usaha mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu pendidikan dan martabat manusia baik secara jasmaniah maupun rohaniah. Dari sekian banyak pemaparan tujuan pendidikan akhlak di atas bisa disimpulkan bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah agar manusia berada dalam kebenaran, mempunyai akhlak yang mulia, dan senantiasa berada di jalan yang lurus, jalan yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala yang akan mengantarkan manusia kepada kebahagian di dunia dan di akhirat. C. Metode PendidikanAkhlak Dalam ajaran Islam, akhlak mempunyai peranan yang sangat penting, menjadi sebuah esensi yang menghidupkan nilai‐nilai Islam, memberikan kepada manusia kebebasan untuk memperoleh kebahagian dunia dan akhirat, tanpa harus mengorbankan kepentingan jasmani dan rohani mereka. Pentingnya pendidikan akhlak tidak terbatas pada perseorangan saja, tetapi penting untuk masyarakat umat dan kemanusian seluruhnya, dengan kata lain, akhlak itu penting bagi perseorangan dan masyarakat sekaligus. Sebagaimana perseorangan tidak sempurna kemanusiannya tanpa akhlak,


12 | Muamar AlQadri begitu juga untuk masyarakat dalam segala tahapnya tidak baik keadaannya, tidak lurus keadaannya tanpa akhlak, dan hidup tidak akan sempurna tanpa akhlak yang mulia (Oemar, 1979: 318). Perbuatan akhlak akhlaki mempunyai tujuan langsung yang dekat, yaitu harga diri, dan tujuan adalah rida Allah melalui amal saleh dan jaminan kebahagiaan dunia dan akhirat. Firman Allah dalam surah An‐Nahl ayat 30: Artinya: Dan dikatakan kepada orang‐orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". orang‐orang yang berbuat baik di dunia Ini mendapat (pembalasan) yang baik, dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik‐baik tempat bagi orang yang bertakwa. (QS. an‐Nahl ayat 30). Akhlak yang diajarkan di dalam Alquran bertumpu kepada aspek fitrah yang terdapat di dalam diri manusia dan aspek wahyu (Agama), kemudian kemauan dan tekad manusiawi. Dengan demikian, pendidikan akhlak perlu dilakukan dengan cara: 1. Menumbuh kembangkan dorongan dari dalam, yang bersumber pada iman dan takwa. Untuk itu perlu


PendidikanAkhlak |13 pendidikan agama. 2. Meningkatkan pengetahuan tentang akhlak Alquran lewat ilmu pengetahuan, pengamalan, dan latihan agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Ibnu Miskawaih menyebutkan beberapa hal yang perlu dipelajari, diajarkan, atau dipraktikkan. Sesuai dengan konsepnya tentang manusia, secara umum Ibnu Miskawaih menghendaki agar semua sisi kemanusiaan mendapatkan materi didikan yang memberi jalan bagi tercapainya tujuan pendidikan. Materi‐materi dimaksud oleh Ibnu Miskawaih diabadikan pula sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Sejalan dengan uraian tersebut, Ibnu Miskawaih menyebutkan ada tiga hal penting yang dapat dipahami sebagai materi pendidikan akhlaknya. Tiga hal pokok tersebut adalah: 1. Hal‐hal yang wajib bagi kebutuhan manusia. 2. Hal‐hal yang wajib bagi jiwa. 3. Hal‐hal yang wajib bagi hubungannya dengan sesama manusia. Pendidikan akhlak dalam Islam juga berkisar pada beberapa konsep kunci berikut ini yang seharusnya menjadi fondasi bagi strategi pendidikan akhlak Islam: 1. Islam memandang bahwa manusia lahir dalam kesucian dan membawa kecendrungan terhadap kebaikan. Dengan


14 | Muamar AlQadri kata lain, pada awal kehidupannya anak manusia adalah lurus secara akhlak. Akan tetapi potensi ini mesti mendapatkan pememliharaan dan pengembangan yang saksama agar tidak tercemari oleh pengaruh eskternal negatifyangmenghancurkanakhlak. 2. Ajaran Islam mengakui besarnya pengaruh lingkungan terhadap individu dan karenanya memandang penyediaan lingkungan yang baik sebagi salah satu modus pendidikan akhlak. 3. Akhlak yang baik sangat efektif ditanamkan melalui pemberian teladan yang konsisten dan keterlanjutan. Dalam Alquran Nabi Muhammad SAW disebut sebagai teladan yang baik (Uswatun hasanah). 4. Islam mengenal dua tipe ajakan: dengan ucapan dan dengan perbuatan. Yang kedua sama dengan uswah, dan selalu dianggap lebih efektif daripada ajakan dengan kata‐kata semata (lisan al‐hal afshahu min lisan al‐maqal). Islam menganjurkan kegiatan megajak kepada kebaikan. 5. Nashihah (nasihat). Nasihat adalah kegiatan yang lebih mengambil posisi netral, berbanding ajakan. Nasihat mengutamakan pemberian wawasan dan pilihan‐pilihan bebas dan kemudian memberi keputusan akhir kepada pihakyangdiberinasihat. 6. Syariah (hukuman). Hukum, yang mencakup penataan dan sanksi terhadap pelanggaraan, seringkali diperlukan dalam upaya penegakan pendidikan akhlak. Pada level ini, nilai‐nilai akhlak dirmuskan secara lebih terukur ke


PendidikanAkhlak |15 dalam perintah‐perintah dan larangan‐larangan. Hukum dan aturan‐aturan bisa menjadi alat yang baik dalam proses pendidikan akhlak. 7. Azab (siksa tuhan). Meskipun berada di luar lingkup ikhtiar manusia, tetapi dalam perspektif agama Islam. Azab adalah salah satu dari resiko yang harus diantisipasi jika kemerosotan akhlak sudah sedemikian rupa, sehingga dakwah dan hukum sudah tidak mungkin berhasil lagi (AlRasyidin,2007:85). Selain dari pemaparan di atas Al‐Rasyidin juga memiliki pandangan dalam langkah pokok dalam pendidikan akhlak: 1. Menggali dan merumuskan kembali secara eksplisit prinsip‐prinsip dan ajaran Islam tentang akhlak al‐ karimah yang bersumber pada kandungan pokok Alquran dan Sunnah. Dalam kerangka ini, kita semua harus kembali pada misi asasi Islam sebagai penyempurna akhlak manusia sesuai dengan misi kerasulan Muhammad SAW, di mana beliau tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. 2. Kita perlu mengubah kebiasaan mendidik yang terlalu menekankan aspek ingatan dan hafalan. Ini menyangkut persolan klasik yang terus menerus dikritik berbagai kalangan, tetapi tetap resisten terhadap perubahan. Karena itu, kita membutuhkan komitmen dan kemauan yang kuat untuk mengubah peran guru yang selama ini didominasi oleh aktivitas mengajar ke arah aktivitas yang memberikan


16 | Muamar AlQadri tekanan kepada mendidik, membimbing, dan memberikan teladan kebaikan. Dalam konteksnya dengan membina kepribadian generasi muda muslim, kita tidak boleh lagi hanya berkutat pada konsep‐konsep how to teach, tetapi sudah harus sampai pada implementasi konsep how to educate dan why to educate. Untuk itu, interaksi edukasi yang berpegang pada prinsip‐prinsip ilmiah ilmu pendidikan, persahabatan, kemitraan, dialog kreatif, dan keteladanan, tidak boleh tidak harus dibangun dan harus dikembangkan. Mengubah kesan dan pandangan sebagai Pendidik yang beranggapan bahwa tugas dan tanggung jawab kependidikannya hanyalah terbatas pada ruang kelas dan madrasah atau sekolah belaka. Semua pendidik muslim perlu meyadari bahwa tugas dan tanggung jawab kependidikannya adalah seluas institusi pendidikan yang meliputi keluarga, madrasah, dan institusi‐institusi lain di luar‐luar madrasah. Karena itu, setiap pendidik muslim harus mampu menampilkan diri sebagai pendidik di mana saja, kapansaja,dandalamkondisiyangbagimanapun. 3. Membangun dan mengembangkan relasi yang konkrit antara kehidupan di dalam madrasah dan perguruan tinggi dengan kenyataan‐kenyataan empirik di masyarakat (Al Rasyidin, 2009: 102). D. Konsep PendidikanAkhlak Baik buruknya tingkah laku manusia disebut sebagai


PendidikanAkhlak |17 akhlak dengan istilah kesusilaan yang berarti prinsip peraturan hidup atau norma‐norma. Konsep kesusilaan ini tidak hanya dapat dipelajari dalam teori, tetapi untuk mendorong manusia melakukan kehendak supaya membentuk suatu kehidupan yang suci dan menghasilkan kebaikan yang sempurna (Yatim, 2007: 187). Akhlak baik selalu tidak berhasil kalau tidak ditaati oleh kesucian hati manusia. Fitrah manusia yang diciptakan tuhan selalu cenderung berbuat baik. Dalam firman Allah surah Ar‐Rum ayat 30 yang berbunyi: Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S Ar‐Rum: 30) Fitrah manusia merupakan hidayah yang diberikan Allah kepada manusia sejak kejadian asalnya, sehingga fitrah tersebut dapat tertanam dalam hati nurani manusia. Setiap pribadi manusia mempunyai potensi untuk benar dan baik. Segi‐segi nilai fitrah ini merupakan kenyataan asasi manusia, yaitu berkenaan dengan watak dan nalurinya yang asli dan alami


18 | Muamar AlQadri untukmengenalikebajikandankeburukannya. Nilai‐nilai luhur yang tercakup dalam konsep akhlakul karimah sebagai sifat terpuji adalah sebagai berikut: berlaku jujur, berbuat baik kepada orang tua, memelihara kesucian diri, kasih sayang, berlaku hemat, menerima apa adanya dan sederhana, perlakuan baik kepada sesama, melakukan kebenaran yang hakiki, pemaaf terhadap orang yang pernah berbuat salah kepadanya, adil dalam tindakan dan perbuatan, malu melakukan kesalahan, melanggar larangan Allah, dan melakukan perbuatan dosa, sabar dalam menghadapi segala musibah, syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada sesama manusia, sopan santun terhadap sesama manusia karena merasa sepenanggungan. Penilaian baik dan buruk dalam ajaran Islam tidak hanya ditentukan oleh kenyataan lahiriah suatu perbuatan, Islam mengemukakan adanya syarat‐syarat untuk mendapatkan suatu perbuatan yang disebut baik, syarat‐syaratnya tersebut adalah pelaku, penderita, tujuan, dan hal‐hal yang harus dipenuhi atau dikerjakan. Dalam proses pendidikan akhlak tidaklah terfokus pada satu bidang studi khusus yang diterapkan dalam lembaga pendidikan formal saja, sehingga upaya pendidikan akhlak hanya tergantung kepada sosok guru yang mengajarkan bidang studi pendidikan akhlak tersebut, tetapi pendidikan akhlak merupakan kebersamaan bahkan keseragaman ucapan dan contoh teladan dari seluruh pelaku pendidikan baik di sekolah maupun di luar sekolah terutama dalam


PendidikanAkhlak |19 lingkungan keluarga (Yatimin, 192). Menurut penulis setiap lembaga pendidikan Islam haruslah mendidikkan nilai‐nilai pendidikan akhlak, baik dalam rangka berhubungan dengan akhlak, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, maupun dengan lingkungan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatanberdasarkannilai‐nilaiagama. E. Faktor‐Faktor PembentukanAkhlak Menurut Ahmad Amin (1995: 64) ada beberapa hal yang dapat menguatkan dan menumbuhkan akhlak pada diri seseorang, yaitu: 1. Meluaskan lingkungan pikiran. Luas pikiran seseorang akan dapat meninggikan akhlak. Sebaliknya, pikiran yang sempit itu sumber beberapa keburukan dan akal yang kacau balau tidak dapat membuahkan akhlak yang tinggi. Jika lingkungan pikiran itu sempit, menimbulkan akhlak yang rendah seperti apa yang kita lihat pada orang yang bersifat kesaya‐sayaan, pandangannya akan merusak akal, dan menutupnya dari kebenaran, mereka tidak suka kebaikan kecuali untuk dirinya dan tidak melihat di dunia ini orang yang pantas mendapat kebaikankecuali dia. 2. Berkawan dengan orang yang terpilih. Maksudnya adalah mencari teman yang baik dan berakhlak, sebab manusia itu suka meniru, itu adalah tabiat, seperti mencontoh berpakaian orang di sekelilingnya, juga mencontoh dalam perbuatan mereka, dan berperangai dengan akhlak


20 | Muamar AlQadri mereka. 3. Membaca dan menyelidiki perjalanan para pahlawan atau para syuhada dan orang‐orang saleh. Karena dengan mengetahui dan memahami bagaimana perjalanan hidup mereka, kita akan dapat menjadi teladan untuk berbuat dalamsetiapkeadaan. 4. Memotivasi setiap orang untuk selalu cerderung berpikiran positif dan senantiasa melakukan perbuatan baik. 5. Membiasakan jiwa agar taat dan selalu memelihara kekuatan penolak (dalam diri), sehingga ajakan berbuat baik dapat diterima dan tertolak ajakan buruk. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa setiap poin sebetulnya memiliki makna yang sangat penting, secara akal dapat diterima bagaimana bentuk atau faktor, baik yang sifatnya internal atau eksternal yang dituliskan olehnya, yang jelas Amin ingin berusaha untuk menunjukkan bagaimana agar sikap dan kelakuan manusia betul‐betul bisa diinternalisasikan dengan akhlak al‐karimah, sehingga hal itu akan menampilkan cahaya kebaikan dan memiliki kepribadian muslim. Pembentukan kepribadian muslim ini pada dasarnya merupakan upaya untuk mengubah sikap ke arah kecenderungan kepada nilai‐nilai keislaman. Perubahan sikap, tentunya tidak terjadi secara spontan. Semuanya berjalan dalam suatu proses yang panjang dan berkesinambungan. Di


PendidikanAkhlak |21 antara proses tersebut digambarkan oleh adanya hubungan dengan obyek, wawasan, peristiwa, ide, dan perubahan sikap harus dipelajari. Jika penerapan dasar‐dasar itu mapan dan berhasil diinternalisasikan kepada para peserta didik, atau dapat secara konsekuen dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari‐hari seperti yang dipedomankan Alquran (Islam), ini akan terlihat ciri‐cirinya. Seperti dikemukakan oleh Ashqar dalam Jalaluddin (2003: 201) ciri‐ciri yang dimaksud ialah: 1. Selalumenempuhjalanhidupyangdidasarkandidikan ketuhanan dengan melaksanakan ibadah dalam arti luas. 2. Senantiasa perbedoman kepada petunjuk Allah untuk memperoleh bashirah (pemahaman batin) dan furqan (kemampuanmembedakanyangbaikdanburuk). 3. Memperoleh kekuatan untuk menyerukan dan berbuat benar, dan selalu menyampaikan kebenaran kepada orang lain. 4. Memiliki keteguhan hati untuk berpegang kepada agamanya. 5. Memiliki kemampuan yang kuat dan tegas dalam menghadapi kebatilan. 6. Tetaptabahdalamkebenarandalamsegalakondisi. 7. Memiliki kelapangan dan ketenteraman hati serta kepuasan batin,hinggasabarmenerimacobaan. 8. Mengetahui tujuan hidup dan menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir yang lebih baik. 9. Kembali kepada kebenaran dengan melakukan taubat dari


22 | Muamar AlQadri segalakesalahan yangpernahdibuat sebelumnya. Di Indonesia persoalan tentang akhlak sudah lama menjadi bahan‐bahan diskusi, baik di kalangan para orang terdidik maupun masyarakat awam. Secara historis penerapan akhlak ini juga sudah menjadi keharusan yang dilakukan oleh orang‐orang terdahulu di tanah air. Sebelum masuknya mata pelajaran wajib di sekolah, pendidikan karakter dilakukan melalui “pendidikan budi pekerti” yang bersumber dari nilai‐nilai tradisional, khususnya yang terdapat dalam dunia wayang dan tradisi‐tradisi daerah lainnya (Hafid, 2013: 110). Sementara ketika Islam berkembang di tanah air, sepanjang sejarahnya di kawasan ini, masyarakat muslim dalam skala yang tetap besar bukan hanya berperan serta, tetapi mengambil posisi terdepan dalam pendirian, pengembangan, dan pemberdayaan pendidikan keagamaan (Azyumardi, 2012: 182). Ini artinya Islam memang semenjak lahirnya sampai hari ini betul‐betul memprioritaskan supaya para alumninya berakhlak. Masyarakat memiliki akhlak al‐ karimah. Hanya saja dalam diskursus dewasa ini, pendidikan di tanah air mengalami kemerosotan moral yang cukup menegangkan. Azra menyebutkan sebagaimana dalam (Hafid, 2013: 111), kegagalan pendidikan untuk menciptakan output yang memiliki moral atau akhlak sebagai akibat dari masalah pokok sebagai berikut: 1. Arah pendidikan telah kehilangan objektivitasnya. Sekolah dan lingkungannya tidak lagi merupakan tempat peserta


PendidikanAkhlak |23 didik melatih diri untuk berbuat sesuatu berdasarkan nilai‐nilai moral dan akhlak, tempat mereka mendapat koreksi atas tindakan‐ tindakannya, salah atau benar, baik atau buruk. Terdapat keengganan para guru untuk menegur peserta didik yang melakukan tindakan yang tidak semestinya. 2. Proses pendewasaan diri tidak berlangsung secara baik di sekolah. Lembaga pendidikan kita umumnya cenderung lupa pada fungsinya sebagai tempat sosialisasi dan pembudayaan (enkulturasi) seperta didik. 3. Proses pendidikan di sekolah sangat membelenggu peserta didik dan bahkan para guru karena formalisme sekolah dan beratnya kurikulum. Akibatnya, murid maupun guru tidak cukup ruang untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas baik koginisi, afeksi, maupun psikomotoriknya. Lebih parah lagi, integrasi sekolah telah hampir kehilangan human and personal‐touch‐nya. 4. Beban kurikulum yang berat tersebut hampir sepenuhnya diorientasikan pada ranah kognitif. Pengembangan ranah afeksi dan psikomotorik amat ketinggalan. Padahal melalui kedua ranah ini pembentukanakhlak, moral, budi pekerti atau karakter bisadikembangkan. 5. Materi pendidikan agama yang seharusnya menumbuhkan afeksi sering terjebak pada verbalisme, sehingga cenderung sekadar diketahui, kurang diinternalisasikan, sehingga betul‐betul menjadi bagian


24 | Muamar AlQadri yang tidak terpisahkan dari diri peserta didik. 6. Pada saat yang sama peserta didik sering dihadapkan pada nilai‐nilai yang sering bertentangan (contradictory set of value). Pada satu pihak, mereka diajarkan untuk bertingkah laku yang baik, jujur, rajin, hemat, dan disiplin, tetapi pada saat yang sama banyak orang di lingkungan sekolah justru melakukan tindakanberlawanandenganhal‐haltersebut. 7. Peserta didik mengalami kesulitan dalam mencari contoh teladanyangbaikdilingkungannya. Oleh karena itu, ternyata banyak sekali hal yang perlu untuk diperbaiki dalam membina dan membentuk akhlak para peserta didik. Terlebih lagi, pembentukan akhlak ternyata memiliki proses yang sangat panjang dalam artian tidak sekali jadi. Selain dilakukan upaya melalui aktivitas pendidikan secara formal, juga perlu dilakukan upaya‐upaya di luar itu. Salah satu di antaranya adalah melalui proses pendidikan diri sendiri yang dibebankan kepada setiap pribadi muslim termasuk pendidikan yang terdapat di lingkungan sekolah. Nilai‐nilai akhlakul karimah yang dapat ditanamkan pada siswa menurut Yatimi (2007: 40) di antaranya seperti: membiasakan anak untuk melaksanakan shalat berjamaah, membiasakan anak menegakkan sikap disiplin, membiasakan anak memelihara kebersihan, membiasakan anak menjaga ketertiban, membiasakan anak memelihara kejujuran, membiasakan anak memiliki sikap saling tolong menolong.


PendidikanAkhlak |25 F. Akhlak Kepada Allah, Rasul,dan Manusia Akhlak kepada Allah adalah selalu merasa kehadiran Allah dalam kehidupan manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al‐Baqarah ayat 186: Artinya: Dan apabila hamba‐hamba‐Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada‐Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah‐Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada‐Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Selanjutnya Haidar dalam bukunya Islam dalam Persfektif Filsafat (2014:136) menjelaskan, “Apabila telah terjalin hablumminallah yang baik, maka sikap tersebut membawa implikasi kepada kehidupan manusia. Muncul perasaan malu dan takut untuk berbuat sesuatu yang dilarang Allah. Inilah inti dan hakikat dari akhlak kepada Allah”. Oleh karena itu, sikap manusia terhadap Allah meliputi beribadah pada‐Nya, mentauhidkan‐Nya, berdoa, berzikir, dan bersyukur serta tunduk dan taat hanya kepada Allah SWT sebagaimana


26 | Muamar AlQadri firmannyadalam surahAdzDzariyatayat56: Artinya: “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaku”. Berdasarkan ayat di atas dapat dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepadanya dan menjauhi larangannya Menurut Yatimi (2007: 150) akhlak terhadap Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai Khalik. Adapun akhlak yang berhubungan dengan AllahmenurutAhmadi(1991:207)antaralain: 1. Mentauhidkan Allah 2. Mencintai Allah melebihi cinta kepada siapapun, kemudian menjadikan firman‐Nya (Alquran) sebagai pedoman hidup dan kehidupan. 3. Melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan‐ Nya. 4. Mengharapkan dan berusaha memperoleh keridaan Allah. 5. Mensyukuri nikmat dan karunia Allah. 6. Menerima dengan ikhlas semua Qadha dan Qadar setelah berikhtiarmaksimal. 7. Tawakkal (berserah diri) kepada Allah. Akhlak yang berhubungan dengan rasul menurut Ahmadi (1991: 207) antara lain:


PendidikanAkhlak |27 1. Mencintai Rasulullah secara tulus dengan mengikuti semuasunnahnya. 2. Menjadikan Rasulullah sebagai idola, suri teladan dalam hidup dan kehidupan. 3. Menjalankan apa yang disuruhnya dan menjauhi apa yang menjadilarangannya. Menghidupkan sunnah pahalanya sama dengan 100 orang mati syahid, Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpegang teguh kepada sunnahku di kala ummatku sudah rusak (akhlak, bid’ah, dan munkarat), maka baginya pahala 100 orang mati syahid”. (HR. Al‐ Baihaqi). Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman orang yang berpegang teguh pada agamanya , seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi). Di antara sunnah Rasulullah SAW di antaranya: 1. Janggut pelihara dan dirapikan. Rasulullah SAW bersabda: “Potonglah kumis kalian dan panjangkanlah (peliharalah) janggut kalian.” (HR. Muslim). Rasulullah SAW bersabda, “Berbedalah dengan orang‐orang musyrik, biarkan janggut tumbuh lebat, dan potonglah kumis.” (HR. BukharidanMuslim) 2. Gosok gigi dengan siwak. Rasulullah SAW bersabda: “Siwak dapat membersihkan mulut dan sarana untuk mendapatkan ridha Allah SWT” (HR. Ahmad dan An‐ Nasa’i) Rasulullah SAW bersabda: “Andaikan aku tidak


28 | Muamar AlQadri memberatkan ummatku niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap akan melaksanakan shalat”. ( HR. Muttafaqun ‘alaih ) 3. Celana isbal (dipotong dan bukan digulung). Rasulullah SAW bersabda: “kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka” ( HR. Bukhari no.5758) 4. Nabi dan rasul memakai baju gamis. Dari Ummu Salamah ra. Rasulullah SAW bersabda: “Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah SAW yaitu gamis”. (HR. Tirmidzi) 5. Malaikat,nabi,danrasulmemakaisorbandikepala Rasulullah SAW bersabda: “Pakailah sorban, karena itu adalah tanda dari malaikat. Juga biarkan ujung sorban bergantung di pundak” (HR. Baihaqi) 6. Parfum (mewangian) nonalkohol. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang diberi harum‐haruman hendaknya jangan menolak, karena sesungguhnya ia adalah ringan bebannya, dan harum baunya” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Rasulullah SAW bersabda: “Hendaknya setiap muslim mandi pada hari Jumat kemudian memakai pakaian terbaik, dan jika ia mempunyai wangi‐wangian, maka hendaklah ia memakainya”. (HR.Ahmad) 7. Celak untuk mata. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang menggunakan celak, hendaknya menggunakannya dengan hitungan ganjil” (HR. Abu Daud). Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah SAW bila bercelak, menorehkan celaknya tiga kali di bagian kanan matanya. Dimulai dari kanan dan di akhiri di bagian kanan, sementara


PendidikanAkhlak |29 di bagian kiri hanya dua kali” (HR. Tirmidzi) Akhlak yang berhubungan dengan orang tua menurut Yani (2006: 358) antara lain: mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lain, merendahkan diri kepada mereka diiringi dengan kasih sayang, mendoakan keselamatan kepada mereka berdua, baik ketika hidup maupun setelah meninggal. Sedangkan akhlak terhadap masyarakat menurut Ahmadi (1991: 214) terdiri dari: menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menghargai sesama, ukhuwah atau persaudaraan, ta’awun atau tolong menolong, adil, pemurah, penyantun, pemaaf, menepati janji, musyawarah, wasiat di dalam kebenaran. Dalam kehidupan manusia, susah senang, sehat sakit, suka duka silih datang berganti bagaikan silih bergantinya siang dan malam. Namun, harus ingat bahwa semua itu datang dariAllah SWT untuk menguji dan mengukur tingkat keimanan seorang hamba. Apakah seorang hamba itu tabah dan sabar menghadapai semua ujian itu atau tidak, itu semua bergantung kepada akhlak hamba tersebut (Rosihon Anwar, 2008: 222). Islam sebagai agama paripurna mengajarkan nilai‐nilai akhlak yang telah mencapai kesempurnaan. Nilai‐nilai akhlak terebut membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat bagi yang mau mengamalkannya. Yunahar Ilyas menejelaskan bahwa sumber nilai‐nilai akhlak Islam itu terdiri dari berbagai sumber pokok yaitu Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW (Yunahar Ilyas,


30 | Muamar AlQadri 1991: 4). Urgensi akhlak bukan hanya dirasakan oleh manusia secara perorangan, melainkan juga dapat dirasakan oleh kehidupan berkeluarga, bermasyarakat bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, akhlak memiliki fungsi dan peran dalam kehidupan seorang muslim, baik bagidirisendiri,oranglainmaupunmasyarakatluas. G. Akhlak Terhadap Alam Semesta Akhlak terhadap alam diartikan sebagai sikap dan perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia terhadap alam. Yang dimaksud dengan alam di sini adalah segala sesuatu yang di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh‐ tumbuhan maupun benda‐benda tak bernyawa. Pada dasarnya akhlak yang diajarkan alquran terhadap alam bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan menusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti penganyoman, pemeliharaan, serta bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Adapun akhlak kepada alam menurut Yani (2006: 359) adalah sebagai berikut: 1. Sadardanmemeliharakelestarianlingkunganhidup. 2. Menjaga dan memanfatkan alam terutama hewani dan nabati. 3. Sayang kepada sesama makhluk. Allah SWT berfirman :


PendidikanAkhlak |31 Artinya: “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar‐ Rum Ayat41) Berdasarkan ayat di atas dapat di jelaskan bahwa setiap kerusakan atau musibah yang ada di muka bumi di akibatkan oleh perbuatan manusia, maka Allah SWT berikan balasan agar manusia sadar dan bertaubat.


32 | Muamar AlQadri A. Pengertian PolaMakan Pola Makan jika kita mau definisikan, kalimat tersebut mempunyai dua kata; pola dan makan. Pola adalah membentuk atau model (atau, lebih abstrak, suatu peraturan) yang bisa di pakai untuk membuat atau untuk menghasilkan sesuatu atau bagian dari sesuatu, khususnya jika sesuatu yang ditimbulkan cukup mempunyai suatu yang sejenis untuk pola dasar yang dapat ditunjukkan atau terlihat, yang mana suatu itu dikatakan memamerkan pola. Sedangkan makan adalah memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyahdanmenelannya. Jadi, pola makan adalah bentuk atau model dalam cara memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya, atau cara makan. Bicara makan dan minum merupakan hal yang biasa dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari‐hari. Sebab, apabila manusia tidak memenuhi asupan makanan dalam beberapa hari, tubuhnya akan lemah. BAB II Akhlak Terhadap Diri dengan MembiasakanPola Makan Sehat


PendidikanAkhlak |33 Namun, tubuh akan kembali kuat manakala ia telah di beri asupan makanan. Berbicara mengenai makanan menjadi topik yang sering diperdebatkan kapan saja dan di mana saja. Namun, yang perlu kita ketahui bersama adalah bahwa Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan pola makan yang baik yang seharusnyadi contohdan dipraktikkan olehumatIslam. Pola makan sehat yang banyak diterapkan oleh umumnya manusia sekarang, khususnya muslim, masih relatif jauh dari gambaran petunjuk yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW baik dalam kebiasaan sebelum makan, pada saat makan, maupunsetelahmakan(MidaLathifah,2010:57). B. Tata Cara Pola Makan Sehat Islam adalah agama yang sempurna, yang artinya di dalam Islam diatur segala tentang kehidupan tidak terkecuali dari pola makanan. Hal yang menjadi rujukan umat Islam adalah Alquran dan Sunnah Rasulallah SAW, sebab perilaku Rasulallah SAW adalah bagian dari mubayyan (penafsir) dari Alquran. Oleh karenanya, dituntut bagi umat Islam untuk mengikuti kehidupan Rasulullah SAW karena Nabi adalah himpunan darigambaranadabdanakhlakyangmulia. Allah berfirman dalam surah al‐ Ahzab ayat 21:


34 | Muamar AlQadri Artinya: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulallah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. Dalam ayat di atas Muhammad Quraish Shihab (2004: 242) menjelaskan bahwa orang‐orang yang beriman harus meneladani Nabi Muhammad SAW. Bisa juga ayat ini kecaman kepada orang‐orang munafik yang mengaku memeluk Islam, tetapi tidak mencerminkan ajaran Islam. Kecaman ini dikesankan oleh kata laqad. Seakan‐akan ayat itu menyatakan: "Kamu telah melakukan aneka kedurhakaan, padahal sesungguhnya di tengah kamu semua ada Nabi Muhammad yang mestinya kamu teladani". Hamka dalam tafsirnya al‐Ażhar (1988: 227) menjelaskan bahwa dalam akhir ayat di atas menyebutkan barang siapa yang mudah mengatakan mengikut teladan Rasulullah SAW dan barang siapa yang mudah mengatakan beriman, tetapi memerlukanlatihanbatinuntukdapatmenjalankannya. Dari penjelasan di atas, maka nabi menjadi sekolah bagi manusia yang ingin belajar tata krama yang lurus dan manhaj kehidupan dalam setiap gerak yang beliau lakukan dan setiap kalimat yang beliau ucapkan. Lantas, bagaimana ahlak Rasulullah terhadap makanan? Adab beliau saat makan? Dari pertanyaan‐pertanyaan di atas akan disimpulkan akhlak dan adab makan menurut yang diajarkan RasulullahSAW.


PendidikanAkhlak |35 1. Tidak Berlebih‐lebihan Ada tiga tingkatan mengonsumsi makanan menurut Ibnu Qawwim al‐Jauziyah (2013: 42). Pertama, sekadar memenuhi kebutuhan. Kedua, sekadar mencukupi (memadai), atau ketiga, berlebihan. Anjuran Rasulullah SAW yaitu tidak berlebih‐lebihan. Jika mengonsumsi melebihi batas, kita harus menyiapkan sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga lagi untuk darah. Ini adalah cara makan terbaik, baik untuk tubuh atau pun hati. Jika perut penuh makanan, tidakadaruangcukupuntukminuman.Jikaorang mengonsumsi minuman sampai memenuhi perutnya, pernapasannya menjadi sulit hingga menimbulkan kemalasan dan keletihan. Ia akan merasa berat seakan‐akan membawa beban pada perutnya. Akibatnya, hati akan menjadi malas dan tubuh cenderung akan mencari kepuasan lain di luar makan dan minum. Masalah pola makan janganlah sampai diabaikan, apalagi dilupakan begitu saja. Terlalu besar risiko yang harus ditanggung jika masalah makanan dan minuman tidak diperhatikan dan menjadi prioritas bagi permeliharaan gaya hidup secara sehat. Masalah pola makan, misalnya apa yang akan dikomsusi harus mencerminkan syarat‐syarat kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan gizi. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al‐A'raf ayat 31.


36 | Muamar AlQadri Artinya: "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih‐lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang‐orang yangberlebih‐lebihan". Hal senada juga ada dalam surah al‐Baqarah ayat 168. Artinya: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah‐langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. Ayat di atas secara jelas memberikan peringatan kepada umat manusia agar tidak berlebihan dalam makan dan minum. Sikap berlebihan dan makan dan minum bisa menjadi awal munculnya penyakit dalam tubuh. 2. Cuci Tangan Sebelum dan Sesudah Makan Anjuran Rasulullah cuci tangan sebelum dan sesudah makan ternyata sejalan dengan ilmu medis karena kebersihan tangan adalah prasyarat untuk memperoleh nikmatnya kesehatan. Jika kebersihan tangan tidak terjaga atau sembarangan memegang sesuatu yang kotor, dampaknya


PendidikanAkhlak |37 sangat besar bagi ketahanan tubuh ketika terserang penyakit. Mengapa kebersihan tangan hendak dijaga sebab tangan adalah bagian terluar dari kulit dan merupakan tabir pembatas antara lingkungan sekitar. Jika tangan tidak dicuci terlebih dahulu sebelum makan, berbagai kuman dan racun akan mudah hinggap. Apa lagi telapak tangan manusia merupakan bagian organ tubuh yang paling fleksibel karena banyak berinteraksi dengan dunia luar, semisal bersalaman, menggenggam atau menyentuh sesuatu. Dalam dunia medis, lebih 70% penyakit infeksi seperti influenza lebih banyak disebabkan oleh kontaminasilewattelapaktangan. 3. Tenang dan Tidak Terburu‐buru Etika makan yang sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap umat berdasarkan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW adalah makan dengan tenang dan tidak terburu‐buru. Etika makan yang diajarkan Rasulullah SAW haruslah diikuti oleh umatnya agar semuanya memperoleh keberkahan dan keselamatan. Jika makan dalam keadaan terburu‐buru, itu tidak mencerminkan etika yang baik karena mencerminkan sikap rakus atau tamak. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya makan secara pelan‐pelan karena sangat berpengaruh pada aspek psikologis, yakni bisa menciptakan suasana rileks atau santai, sehingga perdampak positif bagi kelancaran saluran pencernaan. Suasana rileks ketika makan akan semakin memberikan kelezatan yang sangat luar biasa. Untuk


38 | Muamar AlQadri menjaga lajur makanan yang masuk ke mulut, usahakan sendok jangan terisi secara penuh dalam rangka memberikan kesempatan kepada mulut untuk mengunyah makanan terlebih dahulu secara halus (Muhammad Takdir Ilahi, 2015: 291). Nabi mengajarkan agar mengunyah makanan hingga halus merata. Hal ini sebagai salah satu upaya agar kerongkongan dapat menelannya tanpa kesulitan dan lambung tidak kesulitan dalam mencerna makanan (Mida Lathifah, 2010:98). 4. Duduk Lurus atau Tegak Ketika Makan Rasulullah SAW melarang seseorang makan sambil bersandar karena membahayakan kesehatan dan mengganggu pencernaan lambung. Adapun posisi tegak lurus yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah menduduki kaki kiri sembari lutut yang kanan ditegakkan, sehingga posisi lambung tidak tertekan dan kita bisa makan dengan nikmat. Dengan punggung tegak saat makan, energi akan lancar mengalir. Hal ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW sebagai berikut, “Abu Nu'aim menceritakan kepada kami Mi'ar menceritakan kepada kami dari Ali bin Aqmar, ‘aku mendengar Abu Juhaifah berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda ‘Saya tidak suka makan dengan bersandar”. ( H. R. Bukhori). C. Manfaat MengikutiPola Makan Rasulullah Sudah menjadi kodratnya apabila semua makhluk hidup memerlukan makan. Sebagai makhluk yang paling sempurna,


PendidikanAkhlak |39 manusia tentunya membutuhkan makanan untuk mendapatkan sumber tenaga, mempertahankan ketahanan tubuh dalam menghadapi serangan penyakit, dan untuk kebutuhan tumbuhkembangnya. Makanan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap tubuh sebab tubuh terdiri dari beberapa jaringan, dan setiap jaringan terdiri dari sekian juta atau bahkan miliyaran sel. Agar setiap sel ini bisa menjalankan tugas dan fungsinya masing‐masing, maka kita harus memenuhinya dengan cara mengonsumsibeberapaunsurmakanan. Memberi asupan makan kepada tubuh merupakan kewajiban setiap hamba. Oleh sebab itu, ketika tubuh merasa lapar, wajib untuk diberi makan. Tentu saja, untuk bisa mengoptimalkan fungsi makanan tersebut dengan baik, tidak bisa sembarang makanan dapat dimakan. Apalagi, di zaman sekarang ini, banyak penyakit diakibatkan oleh pola makan yang salah. Karena itu, penting pula bagi kita untuk mengetahui bagaimana pola makan yang baik, yang dapat mewujudkan tubuh yang sehat. Semua itu dapat kita lakukan jika kita mau belajar pada pola makan yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda : (Ahmad ‐ 16556) : Telah menceritakan kepada kami Abu al Mughirah berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman al Kinani berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Jabir Ath‐Tha'i berkata; saya telah mendengar al Miqdam bin Ma'di Karib al kindi berkata; saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah anak adam


40 | Muamar AlQadri mengisi tempat yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam mengisi tempat yang dapat menegakkan tulang rusuknya. Jika hal itu tidak mungkin maka spertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya untuk bernapas." Cukup bagi anak manusia beberapa suapan kecil yang bisa menegakkan punggungnya. Jika memang tidak bisa melakukannya, jadikanlah usus terbagi menjadi beberapa bagian: sepertiga yang dijadikannya untuk makanannya, sepertiga lagi dibuat untuk minumannya, dan sepertiga lagi disediakan untuk napasnya. Ini adalah di antara hal yang paling bermanfaat untuk limpa dan hati. Karena perut pada saat dipenuhi dengan makanan, akan sempit untuk minuman. Jika minumannya sudah masuk, perut itu akan terasa sesak pada saat untuk bernapas. Setelah itu, yang terasa adalah kelelahan dan keletihan seperti orang yang memikul beban berat. Menurut Hisham (2009: 1008) ada enam bahaya kenyang yangmengakibatkan ketidakstabilanpadatubuhyaitu: 1. Badan yang berat, karena kenyang akan melemahkan kekuatan dan tubuh. Hal yang bisa menguatkan tubuh adalah penyesuaian porsi konsumsi makanan dan bukan banyaknyamakananyangdikonsumsinya. 2. Keras hati, ada riwayat dari Hudzaifah tentang Nabi SAW yang pernah bersabda, "Orang yang sedikit makanannya, makaperutnyasakitdanhatinyakeras." 3. Hilangnya kecerdasan, rusaknnya kemampuan menalar, dan lemahnya daya hafal. Ini seperti yang


PendidikanAkhlak |41 dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib, "Kekenyangan akan menghilangkan kecerdasan." 4. Melemahkan tubuh dalam melakukan ibadah dan mencari ilmu. Poin ini seperti yang dikatakan oleh Luqman pada anaknnya, "Pada saat lambung sudah terisi penuh, maka pikiran akan tidur hingga tidak berfungsi, hikmah akan membisu, anggota tubuh juga duduk tidak dapat melakukanibadah." 5. Menyebabkan mengantuk. Ini seperti yang dikatakan oleh sabagian orang bijak, "Orang yang banyak makannya, maka akan banyak minumnya. Orang yang banyak minumnnya, maka ia akan banyak tidurnya. Orang yang banyak tidurnya, maka akan banyak dagingnya. Orang yang banyak dagingnya, maka akan keras hatinya. Orang yang keras hatinya, maka akan tenggelam dalam lumpur dosa." 6. Memperkuat dorongan syahwat dan membantu bala tentara setan. Ini seperti yang dikatakan oleh al‐ Ghazali. Diriwayatkan dari Nabi SAW yang pernah bersabda,“Banyakmakanadalahracun.” Tidak dimungkiri bahwa sesuatu yang paling penting bagi manusia adalah kesehatan. Hal ini seperti dikatakan oleh sebagian ahli hikmah bahwa kesehatan adalah mahkota di kepala orang yang masih sehat dan itu hanya diketahui oleh orang‐orang yang sedang sakit. Kesehatan tidak akan didapatinya kecuali jika ia menggunakan etika agama yang


42 | Muamar AlQadri utama, mengikuti perintahnya, serta menjauhi laranganya. Kesehatan seorang sangat ditentukan bagaimana pola makan yang bersangkutan. Karenanya, Allah SWT memerintahkan untuk menjaga pola makan. Oleh karena itulah, hati menjadi terhalang dari memperoleh cahaya‐ cahaya suci di samping dapat pula melemahkan pikiran dari berpikir dengan baik. Padahal, pikiran adalah hal utama yang dimiliki oleh seorang manusia. Ini dikarenakan pikiran telah menjadi pintu yang mengantarkan seseorang untuk dapat mengetahui rahasia ibadah serta dapat memahami hikmah ketuhananyangtelahdititipkanolehAllahSWTdialamini.


Click to View FlipBook Version