The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dr. H. Muamar Al Qadri, M.Pd, 2024-04-16 22:37:41

Pendidikan Akhlak

Pendidikan Akhlak

PendidikanAkhlak |43 BAB III Akhlak Terhadap Profesi Guru PAI A. Kepribadian Guru Kompetensi kepribadian adalah kemampuan pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didiknya dan berakhlak mulia (Mulyasa, 2006: 6). Kepribadian adalah sifat‐sifat (traits) atau ciri‐ciri khas (characteristric) yang dimiliki seseorang dan ditampilkan secara konsisten dalam perilaku kehidupan kesehariannya. Berdasarkan pengertian ini, terdapat dua komponen utama kepribadian, yaitu: (1) sifat‐sifat; dan (2) ciri‐ciri khas yang ada pada diri individu. Sifat dan ciri khas tersebut ditampilkan secara konsisten dalam interaksinya dengan orang lain atau masyarakat, sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku konsisten yang ditampilkan adalah wujud nyata dari kepribadian seseorang (Al‐Rasyidin, 2008: 81). Menurut Jalaluddin (2007: 190) Kepribadian dapat dilihat dari empat aspek utamanya, yaitu: 1. Aspek personalia, yaitu aspek kepribadian dilihat dari pola tingkahlakulahirbatinyangdimilikiseseorang.


44 | Muamar AlQadri 2. Aspek individualitas, yaitu karakteristik atau sifat‐sifat khas yang dimiliki seseorang, sehingga dengan adanya sifat‐sifat ini setiap individu berbeda dengan individu lainnya. 3. Aspek mentalitas, yaitu perbedaan yang berkaitan dengan cara berpikir karena mentalitas sebagai gambaran pola pikir seseorang. 4. Aspek identitas, yaitu kecenderungan seseorang untuk mempertahankan sikap dirinya dari pengaruh luar karena identitas merupakan karakteristik yang menggambarkan jati diri seseorang. Al Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin, melukiskan betapa penting kepribadian bagi seorang pendidik. Seorang guru mengamalkan ilmunya, lalu perkataannya jangan membohongi perbuatannya karena sesungguhnya ilmu itu dapat dilihat dengan mata hati, sedangkan perbuatan dapat dilihat dengan mata kepala. Padahal yang mempunyai mata kepala lebih banyak. Pernyataan Al Ghazali tersebut dapat disimak bahwa amal perbuatan, perilaku akhlak, dan kepribadian seorang pendidik adalah lebih penting dari pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya karena kepribadian seorang pendidik akan diteladani dan ditiru baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi Al Ghazali sangat menganjurkan agar seorang pendidik mampu menjalankan tindakan, perbuatan, dan kepribadiannya sesuai dengan ajaran dan pengetahuan yang diberikan pada anak didiknya. Antara seorang pendidik dan anak didiknya. Al Ghazali mengibaratkan bagai


PendidikanAkhlak |45 tongkat dengan bayang‐bayangnya. Kompetensi yang pertama bagi pendidik adalah menyangkut kepribadian agamais, artinya pada dirinya melekat nilai‐nilai lebih yang hendak ditransinternalisasikan kepada peserta didiknya. Misalnya nilai kejujuran, amanah, keadilan, kecerdasan, tanggung jawab, musyawarah, kebersihan, keindahan, dan sebagainya. Nilai tersebut perlu dimiliki pendidik, sehingga akan terjadi transinternalisasi (pemindahan penghayatan nilai‐nilai) antara pendidik dan peserta didik, baik langsung maupun tidaklangsung (Mujib, 2010: 96). Wujud konkrit seorang pendidik dapat dilihat dari sifat dan kepribadian Rasulullah SAW. Beliau merupakan seorang pendidik yang benar, baik dalam perkataan, perbuatan, ibadah, dan beliau sendiri hidup dengan kebenaran itu. Ia juga dapat dipercaya, teguh pendirian, lurus perkataan, serta perbuatan nyata yang ditampilkannya. Ia seorang yang cerdas, sehingga dengan kecerdasannya ia mengkonstruk ilmu pengetahuan dan mendesain serta mengembangkan strategi terbaik untuk memberhasilkan tugas kependidikannya (Saiful Akhyar, 2006: 18). Dalam Undang‐undang Republik Indonesia Nomor 14 tentang Guru dan Dosen, kompetensi kepribadian sebagaimana yang dimaksud pada ayat 2, sekurang‐ kurangnya mencakup kepribadian seperti, beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, sportif, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, secara objektif


46 | Muamar AlQadri mengevaluasi kinerja sendiri, dan mengembangkan diri secara mandiri danberkelanjutan. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, dijelaskan bahwa kompetensi kepribadian seorang pendidik meliputi: 1. Menghargai peserta didik tanpa membedakan keyakinan uang dianut, suku, adat istiadat, daerah asal dan gender, 2. Bersikap sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan sosial yang berlaku dalam masyarakat dan kebudayaan nasionalIndonesiayangberagam, 3. Berperilaku jujur, tegas, dan manusiawi, 4. Berperilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia, 5. Berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat di sekitarnya, 6. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan stabil, 7. Menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa, 8. Menunjukkan etos kerja dan tanggung jawab yang tinggi, 9. Banggamenjadi guru danpercayapadadiri sendiri, 10. Bekerja mandiri secara profesional, 11. Memahami kode etik profesi guru, 12. Menerapkan kode etik profesi guru, 13. Berperilaku sesuai dengan kode etik profesiguru.


PendidikanAkhlak |47 Dari uraian di atas, terdapat sedikit perbedaan untuk guru atau pendidik Pendidikan Agama Islam (PAI), Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam menetapkan kompetensi kepribadiangurupendidikanagamaIslamsebagaiberikut: 1. Memahami cara penggunaan alat bantuteknologi, 2. Menanamkan agar siswa memberi penghargaan yang tinggi terhadap ilmu dan belajartermasuk pelajaran agama, 3. Membiasakan perilaku dan sikap yang baik kepada orang lain, 4. Menumbuhkan sikap positif seperti tekun, menghargai dan menerima diri, tegar terhadap kenyataan yang dialamisertaberpikirpositif, 5. Membiasakan anak didik menjaga kebersihan dan merawat kepentinganumum, 6. Mengembangkan perilaku tepat waktu dan memenuhi janji, 7. Menunjukkan sikap mudah dihubungi, tidak kaku, dan bertanggungjawab, 8. Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan, 9. Mengikuti peraturan dan prosedur yang berlaku dalam sekolah, 10. Menerima tanggungjawab yang diberikan, 11. Menjamin bahwa setiap siswa mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelajaran agama, 12. Jangan pernah mengorbankan siswa dalam


48 | Muamar AlQadri menggambarkan suatu kebijakan. Sosok seorang guru haruslah memiliki kekuatan kepribadian yang positif yang dapat dijadikan sumber inspirasi bagi peserta didiknya. Dikemukakan pula oleh Ki Hajar Dewantara dalam sistem pendidikan yang dinginkannya yaitu guru harus ”Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Artinya bahwa guru harus menjadi contoh dan teladan yang baik, membangkitkan motivasi belajar siswa, serta mendorong/memberikan dukungan dari belakang. Seorang pendidik tentunya harus memperhatikan sikap‐ sikap moral yang berkaitan dengan tugasnya dan secara konsisten menepati asas‐asas moral keilmuannya yang akan dapat menjadikan pembelajaran berbagai disiplin ilmu itu sebagai salah satu wahana pembinaan akhlak. Asas‐asas moral menurut Syafaruddin (2009: 11) sekurang‐ kurangnya dapatdisederhanakan dalam 3 sikap, yaitu: 1. Memilikitanggungjawab sebagai seorangpendidik. 2. Cinta terhadap upaya pembelajaran, cinta profesi sebagai guru,cintapesertadidik,cintailmu. 3. Teladan keutamaan. Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia. Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap peserta didiknya


PendidikanAkhlak |49 maupun masyarakat, sehingga guru tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasihat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (dicontoh sikap dan perilakunya). Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi kepribadian adalah kemampuan seorang guru atau pendidik untuk menampilkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, dan menjadi teladan bagi peserta didiknya. Dalam hal ini, seorang guru atau pendidik haruslah memiliki pribadi dan pembawaan yang dapat dijadikan sebagai contoh dan panutan bukan hanya bagi peserta didiknya, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya. B. Pandangan Islamtentang KompetensiGuru Islam menempatkan pendidikan pada kedudukan yang penting dan tinggi dalam doktrin Islam. Oleh karena itu, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik (generasi penerus) dengan kemampuan dan keahlian yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untukterjun ketengahmasyarakatataulingkungan. Benar‐benar bisa dilaksanakan pada masa‐masa kejayaan Islam. Pendidikan mampu membentuk peradaban, sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan, sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang jazirah Arab, Asia Barat hinggaEropaTimur(AbdulKodir, 2015: 59). Pendidikan dalam arti luas berarti suatu proses untuk mengembangkan semua aspek kepribadian manusia yang mencakup pengetahuan, nilai, dan sikap serta keterampilan.


50 | Muamar AlQadri Pendidikan bertujuan untuk mencapai kepribadian individu yang lebih baik. Nilai‐nilai yang akan ditransformasikan tersebut mencakup nilai‐nilai religi, nilai‐nilai kebudayaan, nilai‐nilai sains dan teknologi, nilai‐nilai seni dan nilai keterampilan (Uyoh, 2008: 57). Islam mengenal kata mu’allim, murabbi, muaddib, mudarris mursyid, syaikh, dan ustadz dalam menyebutkan pendidik. Menurut pandangan falsafah pendidikan Islam, pendidik adalah orang yang bertugas untuk mengingatkan dan meneguhkan kembali syahadah primordial atau perjanjian suci yang pernah diikrarkan manusia di hadapan Tuhannya. Untuk melakukan tugas itu, maka pendidik haruslah seorang yang memiliki al‐‘Ilm wa al‐adab, yang dengan itu ia mampu mengantarkan dirinya pada syahadah terhadap Tuhan, sehingga ia layak menempati posisi dan meneguhkan kembali perjanjiansucinyaterhadapTuhannya(AlRasidin, 2015:133). Islam memandang bahwa mendidik adalah suatu tugas yang sangat mulia. Karenanya, Islam menempatkan orang‐ orang yang beriman dan berilmu pengetahuan lebih tinggi derajatnya bila dibandingkan dengan manusia lainnya. Menurut ahli‐ahli pendidikan Islam, secara umum tugas guru atau pendidik adalah mendidik. Aktivitas mendidik itu sebagian dilakukan dalam bentuk mengajar, melatih, membimbing, mengarahkan, memberi dorongan, memuji, memberi contoh atau teladan, membiasakan, bukan memberi hadiah atau hukuman. Tugas pendidik bukan hanya sekadar mengajar,


PendidikanAkhlak |51 melainkan juga memotivasi, menggerakkan, memberi penguatan, mengklarifikasi, dan memfasilitasi proses pembelajaran, yaitu proses di mana peserta didik dibina agar dapat merealisasikan seluruh potensi yang dimilikinya secara maksimal. Pendidik dituntut mempunyai komitmen dan memiliki kualifikasi profesionalisme dalam mengemban tugas‐tugas kependidikannya. Seseorang dikatakan profesional manakala pada dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continuous improvement, yakni selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model‐model atau cara kerjanya sesuai tuntutan zamannya yang dilandasi oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada zamannya di masa depan. Sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia, yaitu sebagai khalifah di bumi yang diserahi amanah sebagai pemimpin dan pemakmur kehidupan di bumi. Dalam konteks ini harus dipahami bahwa kemampuan melaksanakan tugas‐ tugas kekhalifahan merupakan wujud nyata atau pembuktian syahadah primordial yaitu pengakuan akan keesaan Allah SWT. Dengan demikian, seorang pendidik muslim harus bertugas mengajarkan ilmu, mendidik, melatihkan berbagai keterampilan, atau kecakapan yang dibutuhkan peserta didik untuk mampu melaksanakan seluruh tugasnya sebagai khalifah di alam semesta ini.


52 | Muamar AlQadri Selanjutnya dalam tataran praktikal, seorang pendidik Muslim menurut Al Rasidin (2015: 146) haruslah sosok yang memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Mempunyai watak dan sifat Rabbaniyah yang terwujud dalam tujuan, tingkah laku, dan pola pikirnya. Jika pendidik telah memiliki sifat Rabbani, dalam semua aktivitas edukasinya, ia akan berupaya menjadikan peserta didiknya menjadi insan Rabbani pula. 2. Bersifat ikhlas. Dengan profesi sebagai guru atau pendidik dan dengan keluasan ilmunya, ia bertugas hanya untuk mencari keridaan Allah SWT dan menegakkan kebenaran. 3. Bersifat sabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada peserta didik. Sebab, mendidik itu memerlukan pelatihan dan pengulangan, variasi metode, dan melatih jiwa peserta didik dalam memikul beban. 4. Jujurdalammenyampaikanapayangdiketahuinya. 5. Senantiasa membekali diri dengan ilmu dan kesediaan diri untuk terus mengkajinya. 6. Mampu menggunakan metode mengajar bervariasi yang sesuai dengan prinsip‐prinsip penentuan metode mengajar yang selaras dengan materi pengajaran dan situasi pembelajaran. 7. Mengetahui kehidupan psikis para peserta didik sesuai dengan masa perkembangannya. 8. Tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi jiwa, keyakinan dan pola


PendidikanAkhlak |53 berpikirpesertadidik. C. Kompetensi Kepribadian GuruPAI Kepribadian merupakan pengaturan yang dinamis dari sifat dan pola karakteristik perilaku yang unik pada setiap individu. Sifat merupakan sesuatu yang lebih umum daripada kebiasaan, bersifat dinamis serta menentukan perilaku, dapat dilihat baik dari unsur yang membentuknya maupun distribusinya pada populasi, serta tidak dapat dibuktikan ketiadaannya oleh fakta perilaku yang tidak konsisten. Jadi, kepribadian menunjukkan dua komponen penting yaitu sesuatu yang bersifat tetap dan sesuatu yang bisa berubah, sifat menunjukkan sesuatu yang tetap, sedangkan karakteristik cenderung bisa berubah. Setiap orang mempunyai kepribadiaannya sendiri‐sendiri yang akan mempengaruhi pola perilaku terhadap orang lain serta cara meresponnya. Oleh karena itu, bagaimana seseorang memperlakukan diri sendiri menjadi amat penting dalam konteks hidup dan kehidupan. Kepribadian menunjukkan seluruh aspek pribadi yang mempengaruhi cara berpikir, merasa, dan berperilaku. Dengan kepribadian itulah setiap orang menjalankan tugasdan perannya dalam hidup dan kehidupan. Dengan demikian, tampak jelas bahwa kepribadian guru terkait dengan seluruh aspek dari pribadi guru yang akan mempengaruhi bagaimana guru menjalankan peran dan tugasnya dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kepribadian guru merupakan variabel yang signifikan dalam proses pendidikan dan


54 | Muamar AlQadri pembelajaran. Kepribadian guru merupakan dasar guru dalam berperilaku dalam berbagai bentuk seperti interaksinya dengan siswa, pemilihan metode serta pengalaman belajar yang dipilih. Dengan demikian, kepribadian guru dapat diartikan sebagai seluruh aspek‐aspek pribadi guru yang melekat dan dinamis yang menjadi dasar dan mempengaruhi cara berpikir, merasa, dan berperilaku dalam menjalankan peran dan tugasnya sebagai pendidik, baik dalam interaksinya dengan siswa, dengan rekan guru lain, dengan pegawai, dengan pimpinan sertadalamorganisasipendidikan. Kepribadian guru dalam konteks implementasi proses pendidikan dan pembelajaran sangat penting untuk dicermati, baik dari segi manajemen maupun dari individu guru itu sendiri. Artinya, guru harus mencermati kepribadian sendiri, memperlakukannya dengan cermat, serta menerapkannya secara efektif dalam proses pendidikan dan pembelajaran dengan mengacu kepada norma‐norma dan nilai‐nilai ideal yang harus tercermin dalam pendidikan, sehingga dapat menjadi karakter guru dan termanifestasikan ke dalam guru berkarakter. Pemanfaatan secara efektif kepribadian guru dalam melaksanakan pendidikan dan pembelajaran merupakan hal yang sangat esensial. Kepribadian membantu pengajaran, serta komunikasi antara guru dengan siswa bahkan tanpa menggunakan ucapan. Dalam konteks pembelajaran dinyatakan bahwa sikap siswa terhadap guru akan berdampak pada sikap siswa tersebut terhadap materi yang


PendidikanAkhlak |55 diajarkan. Dengan demikian, tampak betapa pentingnya kepribadian guru, sampai‐sampai dapat mempengaruhi secara signifikan pada proses pembelajaran dan hal ini juga berarti kegagalan dalam mengembangkan prestasi siswa tentu salah satunya bisa diakibatkan oleh kepribadian guru. Oleh karena itu, perlakukan diri sendiri dengan baik dan mewujudkannya dalam suatu interaksi edukatif secara efektif (Uhar, 2013:36). Sifat‐sifat mendasar yang harus dimiliki pendidik, sehingga mampu meninggalkan bekas yang dalam pada diri peserta didik dan mendapatkan tanggapan positif dari peserta didik adalah ikhlas, sabar, takwa, ilmu, dan rasa tanggung jawab. 1. Ikhlas, pendidik hendaknya mencanangkan niatnya semata‐mata untuk Allah dalam seluruh pekerjaan edukatifnya, baik berupa perintah, larangan, nasihat, pengawasan, atau hukuman. Ikhlas akan mendapatkan pahala dan keridaan Allah sebagai buah yang dihasilkannya. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan merupakan pondasi iman dan keharusan dalam Islam, dengan demikian hendaknya pendidik memurnikan niat dan bermaksud mendapatkan keridaan Allah dalam setiap amal perbuatan yang dikerjakan agar diterima oleh Allah dan dicintai peserta didik sehingga apa yang dinasihatkan bisa membekas pada diri peserta didik (Abdullah, 2007: 337). 2. Sabar, keberhasilan pendidik dalam tugas pendidikan dan tanggung jawab pembentukan dan perbaikan dapat ditolong


56 | Muamar AlQadri dengan sikap sabar yang dengan sikap itu peserta didik akan tertarik kepada pendidik. Dengan kesabaran pendidik, peserta didik akan berhias dengan akhlak yang tepuji dan terjauh dari perangai tercela. Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada sikap sabar, khususnya pendidik dan juru dakwah karena kesabaran merupakan keutamaan spiritual dan moral yang paling besar dan mengantarkan manusia ke puncak keluhuran akhlak. Pendidik hendaknya menghiasi dirinya dengan kesabaran, kelemahlembutan, dan ketabahan. Jika dalam upaya mendidik menginginkan perbaikan dan kebaikan. Ini semua tidak berarti bahwa pendidik selamanya harus berlemah lembut dan sabar dalam mendidik, tetapi dimaksudkan agar pendidik menahan dirinya ketika hendak makan, tidak emosi ketika meluruskan kesalahan peserta didik dan memperbaiki akhlaknya. Jika memang ia melihat kemaslahatan dalam memberikan hukuman kepada peserta didik dengan kecaman atau pukulan misalnya, hendaknya ia jangan ragu mengeluarkan hukuman itu, sehingga peserta didik menjadi baik kembali dan menjadi lurus akhlaknya (Abdullah.2007:346). 3. Takwa, sifat terpenting lainnya yang harus dimiliki pendidik adalah takwa yaitu menjaga diri dari azab Allah dengan senantiasa merasa berada di bawah pengawasannya dan berusaha semaksimal mungkin untuk menekuni yang halal dan menjauhi yang haram. Para pendidik termasuk orang‐orang yang paling pertama dan


PendidikanAkhlak |57 merupakan panutan yang akan senantiasa ditiru dan ia juga penanggung jawab pertama dalam pendidikan berdasarkan iman dan ajaran Islam. jika pendidik tidak menghiasi dirinya dengan takwa, perilaku dan pergaulan yang berjalan di atas metode Islam, maka peserta didik akan tumbuh menyimpang, terombang‐ambing dalam kerusakan, kesesatan dan kebodohan. Oleh karena itu, hendaknya pendidik memahami realitas ini.Pendidikan dengan memberikan teladan yang baik (Abdullah, 2007: 339). 4. Ilmu, Pendidik harus mempunyai pengetahuan tentang konsep‐konsep dasar pendidikan yang dibawa oleh syariat Islam, menguasai hukum‐hukum halal dan haram, mengetahui prinsip‐prinsip etika Islam, memahami secara global peraturan‐peraturan Islam dan kaidah‐kaidah syariat Islam. Hal tersebut dianggap perlu karena dengan mengetahui semua itu pendidik akan menjadi seorang alim yang bijak, meletakkan segala sesuatu pada tempat yang sebenarnya, mendidik peserta didik pada pokok‐pokok dan persyaratannya, mendidik dan memperbaiki dengan berpanduan kepada dasar‐dasar kokoh dari ajaran‐ ajaran Alquran, petunjuk Nabi Muhammad,teladan yang baik dari para pemimpin pertama, para sahabat Rasulullah dan orang‐orang yang mengikutinya secara baik. Apabila pendidik tidak mengetahui semua itu, terutama tentang konsep‐konsep dasar pendidikan anak, anak akan menghadapi masalah spiritual, moral, dan sosial.


58 | Muamar AlQadri Anak akan menjadi manusia yang tidak berharga dan dipertimbangkan eksistensinya dalam semua aspek kehidupan. Para pendidik hendaknya membekali dirinya dengan segala ilmu pengetahuan yang bermanfaat dengan metode‐metode pendidikan yang sesuai untuk mendidik generasi Islam dan dengan kesungguhan serta keteguhan tekadnya akan merealisasikan kemuliaan Islam, sehingga Islam dapat berdiri kokoh (Abdullah, 2007: 343). 5. Tanggung jawab, rasa tanggung jawab yang besar dalam pendidikan anak baik aspek keimanan maupun tingkah laku kesehariannya dalam mempersiapkan anak secara mental maupun sosial. Rasa tanggung jawab ini akan senantiasa mendorong upaya menyeluruh dalam mengawasi anak dan memperhatikannya, mengarahkan dan mengikutinya, membiasakan dan melatihnya. Pendidik hendaklah berkeyakinan bahwa jika sewaktu‐waktu melalaikan atau mengabaikan tugas pengawasannya, secara bertahap anak akan terjerumus ke dalam kerusakan dan jika kelalaian itu berlangsung secara terus menerus maka anak akan tergolong kepada kelompok yang berakhlak buruk dan pendidik akan sangat sulit memperbaikinya (Abdullah, 2007:350).


PendidikanAkhlak |59 BAB IV Etika Pendidik dan PesertaDidik A. Etika Pendidik Pembahasan mengenai etika bukanlah hal yang jarang didengar dalam kehidupan manusia khususnya pendidikan. Ketika seseorang melanggar sebuah aturan, ia disebut orang yang tidak punya etika. Dalam pendidikan sendiri sekolah‐ sekolah tertentu memberi peraturan bagi pendidik yang ada di sekolah tersebut. oleh itu, berbicara mengenai etika sudah sangat dimengertikhususnyadalamlembagaakademis. Dalam kitab al‐Jāmi’ li Akhlāk al‐Rāwī wa Ādāb al‐Sāmi’ Al‐ Bagdādī (1996: 191) mejelaskan adab/etika yang harus dipenuhi pendidik sehingga mereka mencukupi syarat sebagai pendidik antara lain : 1. Etika yang Berkaitan dengan PersonalPendidik a. Dalam kehidupan manusia tidak bisa dimungkiri adanya kebutuhan fisik dan psikis. Untuk memenuhi kebutuhan fisik ini manusia berupaya dengan segala cara agar dapat memenuhinya. Sebagai pendidik tentunya juga sebagai manusia dalam hal ini al‐ Khaṭīb al‐Bagdādī menganjurkan seyogyanya mencukupkan belanja dari yang


60 | Muamar AlQadri halal. Begitu juga untuk menafkahi keluarganya seyogyanya dari yang halal. b. Setiap pekerjaan sangat dipengaruhi oleh niat untuk melaksanakannya begitu juga dalam belajar. Al‐ Khaṭīb al‐Bagdādī menjelaskan bahwa seyogyanya bagi orang yang berkeinginan untuk menjadi pendidik mengutamakan niat untuk belajar adalah jalan mencari keridaan Allah SWT dan menghilangkan niat selainnya dalam belajar. Beliau juga mengatakan makruh menuntut jabatan sebelum waktunya dan celakalah kepada orang yang tetap berhasrat mencari jabatan padahal dia tidak berhak. Hendaknya ketika belajar menghindarkan diri untuk berniat mencari jabatan. c. Al‐Khaṭīb al‐Bagdādī juga menjelaskan seyogyanya pendidik itu membaguskan akhlaknya karena akhlak guru sangat mempengaruhi peserta didik. Hal ini disebabkan pendidik adalah orang yang menjadi contoh dan teladan bagi peserta didik khususnya di sekolah dan kehidupan pendidiknya. d. Penampilan seorang guru juga sangat penting karena pendidik menjadi pusat perhatian anak didiknya khususnya penampilan ketika mengajar. Al‐Khaṭīb al‐ Bagdādī mengatakan seyogyanya guru itu memperbaiki penampilannya dan mengambil seni keindahan dalam mendidik antara lain memotong kukunya jika panjang, memotong kumisnya, menyisir rambut kusut yang di kepalanya. e. Apabila pakaiannya kotor dicuci. Apabila memakan makanan yang berlemak maka membersihkan tangannya, menjauhkan makanan yang tidak sedap baunya,


PendidikanAkhlak |61 merubah uban dengan pencelup dan membedakannya dengan para ahli kitab. Sebagai pendidik tentunya kebersihan fisik juga sangat urgen mengingat bahwa peserta didik juga bisa menilai dari penampilan dan tempat tinggal pendidik. f. Makruh mencat uban dengan warna hitam. g. Dianjurkan memakai pakaian yang putih, makruh memakai pakaian yang lapuk atau rusak jika pendidik mampu membeli yang baru, makruh juga memakai pakaian yang tinggi (terlalu mahal dan berlebihan) karena dikhawatirkan pendidik tersebut ada niat untuk terkenal dan selalu menjadi pandangan setiap orang. Al‐Khaṭīb al‐ Bagdādī menegaskan jangan memakai pakain yang sudah tidak layak pakai. Beliau juga melarang untuk berlebihan dalam hal memakai. h. Demikian juga pendidik dianjurkan untuk menyingsingkan kemejanya. Memakai peci dan serban, serban biasanya paling atas dan melapaskan salah satu tepi serbannya. Memakai jubah, memakai cincin di tangan kanan. Memakai dua sandal dan mendahulukan memakai sandal yang kanan itu sunat. Apabila satu di antara dua sandalnya putus dan pendidik tersebut sedang berjalan, hendaknya ia duduk dan memperbaikinya dan jangan berjalan dengan hanya memakai satu sendal, sederhana, dan tenang dalam berjalan. i. Dalam hal kebersihan diri al‐Khaṭīb al‐Bagdādī juga menganjurkan pendidik untuk menyisir jenggotnya, membersihkan bau mulutnya dengan baik, dan bercukur sebelum shalat Jumat.


62 | Muamar AlQadri j. Dalam Islam dianjurkan mengucap salam jika bertemu dengan muslim lainnya. Al‐Khaṭīb al‐Bagdādī juga menganjurkan pendidik agar mengucap salam terlebih dahulu jika bertemu orang Islam, akan tetapi tidak boleh mengucap salam bagi zimmi (selain muslim) dan jika non muslim mengucap salam terlebih dahulu maka ia membalasnya. k. Dalam kehidupan sehari‐hari di manapun dan kapanpun kita dianjurkan untuk selalu berbuat ‘adil. Begitu juga halnya dalam mendidik. al‐ Khaṭīb al‐ Bagdādī menganjurkan Pendidik agar berbuat adil terhadap peserta didiknya. Namun al‐Khaṭīb al‐Bagdādī juga memperbolehkan guru untuk mengutamakan siswa yang banyak menghafal, pengetahuan dan pemahamannya lebih mendalam, meskipun begitu guru hendaknya tetap berbuat adil terhadap mereka. Mengutamakan siswa yang dimaksudkan hanya sebagai motivasi bagi peserta didik untuk lebih giat dalam belajar. 2. Etika Dalam Menyampaikan Pembelajaran a. Dalam proses pembelajaran, pendidik dianjurkan untuk mengulang‐ulang pelajaran kepada peserta didik supaya mudah dihafal. Hal ini mengingat bahwa tidak semua inteligensi peserta didik itu sama dan tidak jarang ditemui dalam satu kelas adanya peserta didik yang lamban dalam menghafal dan memahami pelajaran. Oleh itu, al‐Khaṭīb al‐Bagdādī memberi anjuran tidak mengapa mengulang pelajaran agar peserta didik mudah menghafal dan


PendidikanAkhlak |63 memahami. b. Dalam hal membaca kitab, apabila pendidik yang langsung membacakan kitab tersebut akan lebih bagus, tetapi jika pendidik sedang lemah, boleh menyuruh yang hadir untuk membacakannya, karena orang yang membacakan itu menempati tempatnya (dalam konteks membaca). Seyogyanya pendidik memilih yang lebih fasih lidahnya, jelas bacaannya, dan bagus dalam menjelaskan. Seyogyanya yang membaca itu adalah orang yang gemar dengan pelajaran tersebut dan yang menyibukkan dirinya untuk mempelajari materi tersebut sekali pun tidak semua bidangditekuninya. c. Apabila berbeda‐beda keinginan siswa, sebagian ingin membaca dan yang lainnya tidak, pendidik harus mengutamakan peserta didik yang lebih dahulu hadir ke majlis. Hal ini menekankan perlunya kedisiplinan diterapkan dalam pembelajaran agar peserta didik termotivasi untuk bersegera ke majlis. d. Umur yang dianggap bagus untuk menyampaikan ilmu ada yang berpendapat 33 tahun dan ada juga yang berpendapat 40 tahun, jika memang seseorang dibutuhkan untuk mengajarkan ilmu sebelum sampai usia matang, hal tersebut tidak dilarang untuk menyampaikannya karena mengembangkan ilmu‐ilmu yang dibutuhkan itu wajib dan orang yang enggan melakukannyadisebutmaksiatdanberdosa. e. Al‐Khaṭīb al‐Bagdādī menyatakan makruh menceritakan hadis/ilmu bagi yang tidak mencari dan


64 | Muamar AlQadri menginginkannya. karena pekerjaan ini akan sia‐sia. Demikian juga halnya makruh menceritakan ilmu bagi yang malas dan lemah, makruh juga menceritakannya kepada ahli bid’ah, juga kepada pendusta, orang yang mempunyai niat yang tidak bagus. Hal ini dimaksudkan sebagai penjagaanterhadapilmu. f. Di sisi lain al‐Khaṭīb al‐Bagdādī juga menekankan bahwa makruh menahan diri untukmenyampaikan ilmu bagi orang yang menginginkannya. Penjelasan ini agaknya memberi pemahaman tidak boleh pelit untuk mengajarkan ilmu yang memang diinginkan atau dibutuhkan seseorang. g. Mulai mengajar dengan siwak. h. Apabila sudah masuk majlis, jangan mengucap salam sampai duduk di tempat. i. Dianjurkan duduk bersila dan khusyu penjelasan ini agaknya relevan dengan pembelajaran yang berbentuk halakah. j. Al‐Khaṭīb al‐Bagdādī menyatakan makruh membuat tanganke belakang dan menyandarkannya karena hal ini bisa membuat peserta didik berasumsi bahwa pendidiknya tidak bersemangat untuk menyampaikan pelajaran dan kurang mempunyai adab dalam menyampaikan ilmu. k. Memakai kata‐kata atau ungkapan‐ungkapan yang lemah lembut, dan menjaga ucapan, wajib lemah lembut di majlis, karena lemah lembut akan menghilangkan kemarahan dan mengurangi ketakutan murid, menjauhkan diri dari bercanda bersama peserta didik,


PendidikanAkhlak |65 karena hal ini akan menghilangkan rasa malu dan mengurangi kewibawaan. Boleh marah dengan lembut, bukan dengan kasar dan membingungkan, sifat lemah lembut juga mencerminkan pendidik ikhlas dalam menyampaikan materi pembelajaran. l. Makruh menyampaikan ilmu sedang berjalan dan berdiri, sehingga pendidik dan peserta didik duduk bersama, dalam hal ini, belajar sambil berjalan agaknya tidak etis dan bisa jadi akan menghilangkan kefokusan antara berjalanataumengajar. m. Makruh menyampaikan ilmu dalam ketiadaan suci dan jika hendak menyampaikan hadis/pembelajaran, tayammumlah penjelasan ini memberi pemahaman akan urgensi menyucikan diri sebelum memulai kegiatan menuntut ilmudanmenyampaikanilmu. n. Dianjurkan menurunkan suaranya, jika yang hadir di majlis orang yang lemah pendengarannya, guru wajib mengangkat suaranya, sehingga murid tersebut bisa mendengar. Demikian juga halnya jika banyak peserta didik yang hadir suara perawi tidak kuat dan mereka tidak terlihat, guru dianjurkan untuk duduk di atas mimbar, sehingga jamaah bisa melihatwajah dan mendengarsuaranya, o. Makruh cepat‐cepat membacakan/menjelaskan hadis/ilmu dan disunnahkan perlahan membacanya. Jika pendidik membaca dengan cepat, akan dikhawatirkan peserta didik terlewatkan dan salah dengar dalam penyampaian pendidik. p. Guru harus memperhatikan yang ia ucapkan dengan yang


66 | Muamar AlQadri sebenarnya, hal ini mengisyaratkan pentingnya selalu waspada dan hati‐hati dalam menyampaikan materi, sehingga terhindar dari kesalahan dalam berbicara. q. Seyogyanya pendidik membaca dari kitab asli karena hal ini akan menjauhkan dari kesalahan dan lebih dekat dengan yang benar. Boleh menyampaikan ilmu dari hafalan, mengenai pendapat yang dimaksud adalah makna dari hadis, tidak boleh menyampaikan lafaznya kalau ada keragu‐raguan. r. Jika guru menyampaikan ilmu dan ia ingin murid mengetahui tentang hal tersebut, guru harus menekankan kepada peserta didik untuk mencatatnya, dalam hal ini, pendidik juga dianjurkan untuk memberi perhatian kepada siswa mengenai catatan. s. Al‐Khaṭīb al‐Bagdādī menyatakan seyogyanya pendidik menghadap kiblat. Hal ini dimaksudkan sebagai penta’zim‐an terhadapilmu. 3. Etika Pendidik dalam Kegiatan Ilmiahnya a. Pendidik seyogyanya memuliakan pendidik lain dan ahli ilmu dalam hubungan internal. Pendidik harusnya tercipta keharmonisan karena hal ini akan mempengaruhi kepada kegiatan pendidik dalam menyampaikan materinya. Selain kepada sesama pendidik seorang pendidik juga harus memuliakan keturunan rasul. b. Pendidik juga harus memuliakan orang yang menjadi pemimpin dalam golongan mereka dan senior dalam mazhab. Dalam Alquran juga disebutkan bahwa orang


PendidikanAkhlak |67 yang beriman harus taat dan hormat kepada pemimpinnya. “Hai orang‐orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar‐ benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. c. Pendidik juga harus memuliakan orang asing yang menuntut ilmu jauh dan mendekati mereka, menyambut mereka dengan ucapan selamat datang juga merendahkan diri bagi mereka, serta lemah lembut terhadap mereka terutama yang tabiatnya kasar di antara mereka. d. Pendidik harus menjaga diri dari mengambil jasa dari mengajar dan membersihkan diri dari harta penguasa. Seyogyanya pendidik menjauhi hal ini karena hal ini akan membuat pendidik akan buruk akhlaknya dalam pandangan Allah SWT juga dalam pandangan manusia tersendiri khususnyapenguasa. e. Pendidik harus mempelajari ilmu alat yaitu nahu dan bahasa Arab agar penyampaian ilmu benar. Karena kitab yang dipakai berdasarkan Islam dan memakai referensi asli adalah dari kitab karya ulama terdahulu, ilmu alat ini sangat dibutuhkan layaknya membutuhkan pisau ketika hendak memotong sesuatu. f. Pendidik tidak boleh menafsirkan ilmu semau‐maunya kecuali sudah tahu maknanya. Jika tidak tahu, sebaiknya diam saja. Jika ada peserta didik yang


68 | Muamar AlQadri bertanya tentang suatu penafsiran baik Alquran maupun hadis dan guru tidak atau pun belum sempat membahasnya, seyogyanya guru tersebut menjelaskan kepada muridnya untuk menjawabnya di lain hari atau guru itu bisa mengatakan kita cari sama‐ sama dan lebih baik diam daripada menjelaskan penafsiranyangragu‐ragubahkansalah. g. Untuk mengetahui perkembangan pengetahuan dan pemahaman peserta didik maka pendidik perlu memprogramkan majlisnya. Hal ini akan membantu pendidik untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah direncanakan. h. Pendidik perlu seseorang yang akan digunakan dalam menyampaikan apa yang telah dibacakannya (asisten) supaya orang yang jauh memahaminya. Hemat penulis, hal ini dianggap perlu karena peserta didik bisa menanyakan kepada asisten pendidik jika pendidik tersebut tidak hadir atau sedang fokus dengan aktivitastertentu. i. Pendidik harus memperluas halakah. j. Wajib saling, sebagai manusia biasa pastinya tidak luput dari kekhilafan dan kesalahan oleh itu setiap manusia dianjurkan untuk saling menasihati dalam kesabaran dan kebenaran agar senantiasa terhindar dari kerugian sebagaimana tercantum dalam ayat berikut: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar‐benar dalam kerugian, kecuali orang‐orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati


PendidikanAkhlak |69 supayamenetapikesabaran”. B. Etika PesertaDidik Peserta didik merupakan satu di antara unsur pendidikan yang tanpa adanya maka proses pendidikan tidak akan berlangsung. Peserta didik juga bisa dikategorikan sebagai alat pengukur kesuksesan pendidik dalam memberikan pemahaman tentang suatu ilmu kepada peserta didiknya. Oleh karena itu tidak berlebihan jika dikatakan kesuksesan peserta didik,sangatdipengaruhiolehpendidiknya. Di sisi lain, selain pendidik ada hal yang sangat urgen diperhatikan oleh peserta didik, bagaimana peserta didik tersebut menjalani proses belajarnya terkait dengan etikanya sebagai pendidik menurut al‐Khaṭīb al‐Bagdādī (1996: 21) dalam kitabnya al‐Jāmi’ li Akhlāk al‐Rāwī wa Ādāb al‐Sāmi’ ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi dan dijalankan oleh peserta didik antara lain: 1. Etika yang Berkaitan denganPersonalPeserta Didik a. Peserta didik diwajibkan untuk mencukupkan belanja yang halal. Jika peserta didik itu sederhana dan merasa cukup, ia tidak akan berusaha selain dengan jalan halal. Dengan demikian, peserta didik seyogyanya menetapi sifat qana’ah dalam kehidupannyakecualidalamhalmencariilmu. b. Peserta didik harus mengutamakan ilmu daripada kawin (‘azūbah), dianjurkan bagi peserta didik agar ‘azūbah selama proses belajar sebisa mungkin, supaya perhatiannya dalam menunaikan hak istri/suami tidak


70 | Muamar AlQadri menyita perhatiannya selama menuntut ilmu. Jika peserta didik sudah menikah, tanggung jawab dan hak setiap pasangan wajib dipenuhi dan ini akan menyita perhatian dan konsentrasi peserta didik dalam belajar. c. Wajib bagi siswa untuk melepas sandal kiri duluan baru kanan namun dalam memakai dianjurkan untuk memakaisandalsebelahkananterlebihdahulu. d. Siswa tidak boleh memaksakan mempelajari sesuatu yang tidak ia sanggupi, ia harus mencukupkan yang bisa ia hafal dan tekuni. Jika peserta didik tersebut tidak mampu, seyogyanya ia menanyakan kepada yang lebih tahu dan belajar darinya dan jangan memaksakan kemampuannya untuk mempelajari yang tidak sanggupdipahami. e. Meminta izin kepada ibu bapak kalau hendak rihlah wajib taat kepada dua ibu bapak. Jika keduanya tidak mengizinkan untuk rihlah, seyogyanya peserta didik meninggalkan rihlahtersebut. f. Wajib bagi seorang murid mengahadapkan wajahnya kepada pendidik, jika peserta didik tersebut memalingkan pandangannya dikhawatirkan akan memikirkan sesuatu selain pelajarannya dan kesannya tidak menghormatipendidik. g. Pentingnya berlomba‐lomba dalam menuntut ilmu harusditanamkandalamhatipesertadidik. 2. Etika Berinteraksi dengan Pendidik a. Adab meminta izin kepada guru. Jika siswa memperdapati guru sedang tidur, tidak seharusnnya ia


PendidikanAkhlak |71 minta izin, akan tetapi seyogyanya ia duduk, atau berpaling atau meninggalkan gurunya tersebut jika ia mau. Dikhawatirkan jika peserta didik meminta izin, pendidik akan terbangun dan akan mengganggu istirahat pendidik. b. Cara berdiri meminta izin di hadapan rumah guru. Apabila rumah guru terbuka, seharusnya siswa berdiri menghadap kiri atau kanan dekat dengan pintu dan jangan langsung menghadap ke dalam rumah dan meminta izin. Namun, apabila rumah guru tertutup, boleh bagi peserta didik langsung menghadap ke pintu danbolehmengetukpinturumahguru. c. Apabila siswa meminta izin, lalu guru bertanya “siapa” kemudian siswa menjawab “saya” hal ini dimakruhkan. Menurut al‐Khaṭīb al‐Bagdādī seyogyanya peserta didik tersebut menyebutkan namanya. d. Adab mengucap salam dan batasan mengangkat suara. Rasul mengucap salam tidak membangunkan orang yang tidur, sehingga yang terjaga saja yang dapat mendengar salam dari beliau. Siswa juga dianjurkan berlaku demikian, misalnya ketika mau memasuki rumah guru hendaknya siswa merendahkan suaranya karena dikhawatirkan guru sedang istirahat dan akanmengganggunya. e. Apabila siswa meminta izin dan pendidik menyuruh untuk menunggu, ia harus duduk dekat dengan pintu lalu keluar. Hal ini dianjurkan untuk menjaga kondusifnya pembelajaran dan tidak mengganggu teman yang


72 | Muamar AlQadri sedang belajar. f. Meminta izin hanya boleh sampai 3 kali. Jika tidak diberi izin, berpalinglah dari meminta izin. Batasan boleh meminta izin adalah 3 kali. Seandainya pendidik tidak memberi izin dan mengatakan tidak boleh, peserta didik tidak boleh meminta izin lagi apalagi melanggaraturanyangdiberikanolehpendidik. g. Adab masuk kerumah guru. Tidak boleh masuk ke rumah guru tanpa meminta izin. Siapa yang datang dan tidak minta izin, maka hendaknya disuruh keluar dan mengulangi minta izin lalu masuk dalam majlis, seyogyanya setiap hendak masuk majlis mengucapkan salam. h. Apabila segolongan penuntut ilmu telah hadir di depan rumah guru, dan guru mengizinkan untuk masuk, seyogyanya mendahulukan yang lebih tua dan membuatnya di hadapan dan hal ini disunnahkan mendahulukan mereka yang lebih tua juga merupakan bentuk ta’zim. Namun, apabila orang yang lebih tua mendahulukan kita masuk, sedang ia lebih berilmu, hal ini boleh dan lebih bagus, maksudnya jangan tergesa‐ gesa dalam masuk majlis apalagi jika melihat yang lebih tua di sampingnya. i. Apabila siswa hendak masuk rumah guru (majlis) lalu ia memperdapati jamaah, ia wajib mengumumkan salamnya (tidak boleh salam khusus untuk satu orang). Tidak boleh mengucap salam khusus, contohnya “Assalāmu’alaikum yā Aḥmad” karena hal ini akan menyakiti saudara yang lain dan termasuk orang


PendidikanAkhlak |73 yangpelitdalam mendoakansaudaranya. j. Dianjurkan bagi siswa untuk berjalan merangkak tanpa alas kaki (sandal) di atas tikar guru karena itu membuat tidak nyaman karena memungkinkan adanya kotoran di sandalnya. k. Di antara bentuk ta’zim kepada guru adalah memanggilnya dengan sebutan “yā ayyuhal ‘ālim”. al‐ Khaṭīb al‐Bagdādī menjelaskan boleh berdiri untuk memuliakan guru, boleh memegang tunggangan guru, boleh mencium tangan guru, juga boleh mengakui keilmuan. l. Sekiranya suara guru tidak terdengar oleh murid, maka murid tersebut boleh meminta kepada guru untuk mengangkat suaranya dengan permintaan yang lemah lembut. m. Tidak boleh menceritakan berbedanya penyampaian dengan apa yang disampaikan guru karena hal ini akan menyakiti perasaanpendidik. n. Adab bertanya kepada guru. Hendaklah seorang murid menghindarkan diri dari mengulang‐ulang pertanyaan setelah paham karena ini akan menyebabkan guru jenuh. Jika seseorang berbuat demikian, guru boleh mengingatkan. Al‐Khaṭīb al‐ Bagdādī menyebutkan makruh membuat guru bosan karena kebosanan akan merubah pemahaman, menghancurkanakhlak,danmerubahtabiat. o. Seyogyanya murid menanyakan sesuatu yang telah pasti memahami pertanyaannya dan sudah jelas mendengarnya dan bisa mengkongkritkan pertanyaannya. Sekiranya siswa bukan orang yang


74 | Muamar AlQadri banyak mengetahui tentang suatu ilmu yang hendak ia tanyakan, maka ia boleh meminta orang lain yang lebih mengetahui untuk menanyakannya kepada guru. Hal ini akan memudahkan pendidik untuk memahami pertanyaan pesertadidiknya. p. Jika seorang peserta didik tidak hadir ke majlis, seyogyanya terlebih dahulu memberi kabar tentang ketidakhadirannya kepada teman lainnya sebelum mereka masuk ke dalam majlis karena jika temannya sudah masuk majlis dikhawatirkan akan mengganggu proses dan konsentrasi belajarnya. q. Tipe guru itu berbeda. Apabila seorang guru enggan untuk menceritakan ilmu dan sulit untuk menyampaikannya, seharusnya penuntut ilmu meminta kepadanya dengan lemah lembut dan senantiasa mendoakan kebaikan untuk guru tersebut karena hal ini merupakan solusi baginya. r. Apabila seorang guru lagi mengajar dan di sela‐sela penjelasan ada yang ingin ditanyakan, hendaknya menunggu sampai guru tersebut selesai menyampaikan pelajaran dan bersabar atasnya. Makruh seorang murid bertanya kepada guru yang sedang sibuk atau fokus terhadap suatu pekerjaan. Al‐Khaṭīb al‐Bagdādī mengatakan wajib bagi murid untukmenyebutkanaspekyanginginiatanyakan. s. Dianjurkan bagi peserta didik untuk menyetor hafalannya kepada pendidik. Menyetor hafalan bisa menambah kedekatan antar pendidik dan peserta didik, juga bisa menambah semangat peserta didik


PendidikanAkhlak |75 karena pendidik langsung mendengar hafalan dan bisa memperbaiki jika terdapat kesalahan dalam hafalan dan pemahamannya. t. Dianjurkan bagi peserta didik mendengar apa yang dibacakan guru dan hendaknya mempunyai naskah. Jika hanya mendengar, dikhawatirkan peserta didik tersebut salah mendengar. Namun, jika peserta didik mempunyai buku, bisa langsung memeriksa buku dan bisa menghafal langsung dari kitabnya. u. Siswa dilarang membaca sebelum ada izin dari guru. Apabila guru sudah mengizinkannya untuk membaca, hendaknya peserta didik menentukan kalimat yang akan dibacakannya kepada guru dan seyogyanya tidak melampauidari ketentuan guru dan meminta tambahan untukmembaca. v. Hendaknya menghindarkan diri dari membantah/protes terhadap hadis rasul ketika mendengar hadis dari muhaddis dan mengemukakan pendapatnya karena itu haram bagi peserta didik. Apabila seorang muhaddis meriwayatkan satu berita, sedang si murid lebih dahulu mengetahuinya, sudah seyogyanya baginya untuk tidak mencampur‐ campurkan riwayat dengan yang diketahuinya dengan maksud supaya guru tersebut mengetahui bahwa murid ini mengetahuinya, maka orang seperti ini digolongkankepadamuridyangrendahadabnya. 3. Etika MemilihGuru Dalam menuntut ilmu seyogyanya peserta didik mendahulukan belajar kepada guru yang berada di kotanya dan


76 | Muamar AlQadri berpegang pada guru yang di kota tersebut dan kepada siapa yang paling lama ia mendengar ilmu dikalangan mereka, sehingga dengan begitu murid bisa berkali‐kali datang menemui guru tersebut dan menetapi majlisnya. Alasan mendahulukan belajar kepada guru yang ada di kota peserta didik hemat penulis adalah bisa lebih dekat dan sering menjumpai pendidik kapanpun. 4. Etika Peserta Didik Terhadap Ilmu a. Penuntut ilmu wajib mempunyai niat yang ikhlas dalam belajar dan hendaknya mencari ilmu karena Allah SWT. Niat bisa memperbaiki hasil dari menuntut ilmu sesuai dengan hadis yang di riwayatkan Bukhari, Telah menceritakan kepada kami Al Ḥumaidi ‘Abdullāh bin Al‐Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yaḥya bin Sa'īd Al‐Anṣari berkata, telahmengabarkan kepada kami Muḥammad bin Ibrāhīm Al‐Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqaṣ Al‐Laitsi berkata; saya pernah mendengar ‘Umar bin Al‐Khaṭṭāb di atas mimbar berkata; saya mendengar Rasūlullāh shallallāhu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap‐tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan" b. Penuntut ilmu seyogyanya memelihara diri dari menjadikan niat mencari ilmu untuk mencapai dunia, atau


PendidikanAkhlak |77 sebagai jalan untuk mendapatkan dunia karena ada ancaman bagi orang yang menuntut ilmu karena demikian. Hendaknya seorang penuntut ilmu berhati‐ hati dari menjadikan tujuannya menuntut ilmu itu untuk memperoleh dan mengambil kemegahan dunia karena ada ancaman bagi orang yang menjadikan ilmu untuk tujuankeduniaan. c. Memelihara diri dari kemegahan dan selalu mengingatnya. Adapun yang menuntut ilmu karena ingin jabatan tertentu dan ingin menjadi pemimpin dalam sidang/rapat, maka sesungguhnya orang yang berilmu tersebut akan hancur disebabkan niatnya. Hendaknya penuntut ilmu menjauhkan dirinya dari bermegah‐megah dan berbangga hati dengan ilmunya dan tidak pula menjadikan tujuan belajar itu karena ingin memperoleh jabatan dan mencari pengikut mendirikan majlis karena sesungguhnya bencana yang banyak menimpaparaulamadariaspekini. d. Hal pertama yang lazim bagi peserta didik pertama adalah diam. Kedua, serius mendengarkan pelajaran. Ketiga, mengamalkan. Keempat menyebarluaskan dan mengajarkannya. e. Seyogyanya murid membuat catatan penting meskipun ada para ulama yang memakruhkan untuk menulis pada lembaran‐lembaran dan memerintahkan untuk menghafal. Al‐Khaṭīb al‐Bagdādī mengatakan “hanya saja ulama‐ulama terdahulu menulisnya di batu tulis kemudian mereka menghafal tulisan tersebut. Siapa yang ingin menulis yang ia dengar untuk


78 | Muamar AlQadri mengekalkannya lalu menulisnya supaya kekal, maka hendaknya ditulis dalam bentuk suhuf dan lebih utama memuatnya dalam buku tulis lebih terpelihara. Boleh juga jika sebagian siswa menulis, sebagiannya menyebutkansehinggamerekahafalsemua. 5. Etika Peserta Didik di Majlis a. Makruh duduk di pertengahan halakah dan paling terkemuka. Orang yang dekat dengan guru adalah orang yang tinggi ilmunya. Makruh duduk di antara dua orang tanpa seizin keduanya. Manakala kedua orang tersebut memberi tempat duduk baginya maka tidak mengapa ia duduk karena merupakan penghormatan kepada mereka, sehingga tidak layak untuk menolaknya. Makruh duduk di tempat orang yang berdiri padahal ia masih bermaksud untuk duduk kembali ke tempat duduknya. b. Dianjurkan bagi siswa untuk mengucap salam bagi ahli majlisjikaiahendakpulangsebelummereka. c. Menghormati majlis menuntut ilmu. d. Tidak boleh menceritakan rahasia di majlis. 6. Etika Berinteraksi dxengan Teman a. Makruh untuk melangkahi pundak orang lain ketika hendak lewat maka peserta didik dianjurkan untuk meminta izin sebelum melewati atau lebih baik duduk di belakang jika dikhawatirkan akan melangkahi pundak sesama peserta didik. b. Makruh bagi siswa menyuruh orang lain berdiri dalam satu


PendidikanAkhlak |79 majlis lalu ia duduk di tempat tersebut, sifat ini sangat dilarang karena akan menyakiti perasaan sesama pesertadidik. c. Jika ada sebagian siswa yang lambat menghafal, hendaklah ia mendahulukan temannya yang cepat dan baik hafalannya, sehingga mereka betul‐betul benar menghafal darinya. d. Dianjurkan untuk meminjamkan buku yang didengar dan dipelajari dan celaan terhadap yang pelit dan enggan meminjamkannya. Makruh menahan buku yang dipinjam dari teman dan seharusnya dikembalikan dengan cepat kepada yang meminjamkannya. Seyogyanya berterimakasih kepada yang meminjamkan kitab. e. Jika ada hajat yang tergesa‐gesa dikhawatirkan akan luput jika mengakhirkannya, maka boleh meminta kepada orang yang lebih dahulu untuk memberikannya giliran untuk membaca sebelum dirinya. Dianjurkan mendahulukan orang asing supaya menjaga kehormatannya dan wajibnya menjaga tanggungannya. f. Wajib menyamakan kawan dan dilarang mengutamakan sebagian atas yang lain. Memuliakan sesama penuntut ilmu hadis, santun dan berbuat baik kepada sesama teman. Perlu saling nasihat menasihati sesama peserta didik, saling mengingatkan antar kawanakanmenghindarkandarikesalahan. Berdasarkan kutipan di atas bagi pendidik dan peserta didik khususnya pendidikan Islam. Agar mengaplikasikan etika


80 | Muamar AlQadri tersebut dalam proses pembelajaran untuk mencapai kesuksesan dalam belajar dan mengajar, secara fisik imam al‐Khaṭīb al‐Bagdādī memang banyak mengemukakan untuk memperbaiki kualitas sebagai pendidik baik dari penampilan, pengetahuan, cara bersosialisasi dalam mengajar dan belajar. Namun untuk pembersihan batin penulis melihat pemaparan al‐Khaṭīb al‐Bagdādī dalam kitab ini belum banyak memaparkan bagaimana membersihkan bathin agar dapat mencapai kesuksesan.


PendidikanAkhlak |81 BAB V Konsep AkhlakTasawuf A. Pengertian Tasawuf Para ulama menghubungkan kata Tasawuf ke berbagai kata dan istilah, sehingga terdapat perbedaan mengenai asal usul kata Tasawuf dan artinya.Sebagian mengatakan Tasawuf berasal dari kata shafa’ yang artinya suci bersih, ibarat kilat kaca.Ada pula yang mengatakan Tasawuf berasal dari kata ‘shuf’ yang artinya bulu binatang.Selanjutnya, ada juga yang mengatakan Tasawuf berasal dari kata shuffah, yaitu segolongan sahabat Nabi yang menyisihkan diri di suatu tempat terpencil didekat masjid. Pendapat lain mengatakan Tasawuf berasal dari kata shufanah, yaitu sejenis kayu yang tumbuh di padang pasir tanah Arab. Dari sekian istilah tersebut semuanya merupakan asal kata yang diambil dari bahasa Arab, sedangkan pendapat yang berbeda mengatakan bahwa Tasawuf berasal dari bahasa Yunani lama yang telah diarabkan.Tasawuf berasal dari kata theosofie, artinya ilmu keTuhanan, kemudian diarabkan sehingga berubah menjadi Tasawuf(Hamka, 1987:12). Harun Nasution yang dikutip oleh Abuddin Nata (2014: 154), memberikan paling tidak ada lima istilah yang berkenaan dengan kata Tasawuf, yaitu al‐suffah (ahl al‐ suffah) orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Makkah ke Madinah, saf (barisan), sufi (suci), sophos (bahasa Yunani: hikmat), dan


82 | Muamar AlQadri suf (kain wol). Abuddin Nata mengatakan keseluruhan istilah yang diberikan Harun Nasution sangat mungkin untuk dihubungkan dengan kata Tasawuf.Seperti kata ahl al‐suffah menggambarkan keadaan orang yang rela mengorbankan segala yang dimiliki hanya untuk Allah. Mereka rela berhijrah dengan Nabi dan meninggalakan apa yang mereka miliki. Selanjutnya kata saf, yang menggambarkan orang yang selalu menempati posisi terdepan dalam hal ibadah kepada Allah dan beramal kebajikan. Juga dengan kata sufiyang berarti orang yang senantiasa menjaga kesuciannya, dan kata suf, adalah kain wol sebagai simbol kesederhanaan yang tidak mementingkan dunia. Terakhir adalah kata sophos yang menggambarkan jiwa yang senantiasa cenderung kepada kebenaran. Pemikiran dari beberapa ulama di atas mengenai teori asal usul kata Tasawuf yang paling disetujui adalah shuf yang artinya kain wol kasar (Samsul Munir Amin, 2014: 4). Ulama yang cenderung terhadap kesimpulan ini di antaranya adalah Al‐Kalabadzi, Asy‐ Sukhrawardi, Al‐Qusyairi, meskipun pada realitanya tidak semua para kaum sufi mengenakan pakaian berkain wol (M. Solihin dan Rosihon, 2014: 13). Shuf merupakan simbol kesederhanaan, simbol keberpindahan. Rivay Siregar (2002: 31) mengutip R.A Nicholson, bahwa menghubungkan Tasawuf dengan shuf atau wol kasar tampaknya cukup beralasan, hal tersebut karena antara keduanya terdapat korelasi, yakni antara jenis pakaian yang sederhana dengan kebersahajaan hidup para sufi, dan mengenakan kain wol merupakan karakteristik kehidupan orang‐orang soleh sebelum datangnya Islam. Selanjutnya,


PendidikanAkhlak |83 berhubungan dengan hal ini Barmawie Umarie yang dikutip oleh Samsul Munir (2014: 5) menegaskan bahwa Tasawuf berkonotasi dengan tashawwafa ar‐rajûlu, yang artinya laki‐ laki yang telah pindah dari kehidupan biasa menuju kehidupan Tasawuf. Disadari bahwa, pencarian akar kata atau asal usul kata Tasawuf bukan hal yang mudah sehingga wajar saja jika terdapat banyak perbedaan di antara kalangan para ulama dan para ahli (Kamran, 2011:12‐17). Selanjutnya para ahli dan ulama beragam dalam memberikan definisi tentang Tasawuf, hal tersebut dikarenakan para pegiat Tasawuf merupakan ahli dzauq dan perasaan sehingga definisi Tasawuf muncul sesuai dengan kecenderungan perilaku dan status spiritual dalam diri mereka, seperti tawakkal, cinta kasih dan unsur‐unsur spiritual lainnya yang menjadi jembatan untuk sampai kepada Allah SWT (Kamran, 2011: 1). Hal tersebut juga ditegaskan oleh Rivay Siregar (2002:32), bahwa kesulitan menarik satu kesimpulan definisi Tasawuf berpangkal pada esensi Tasawuf itu sendiri sebagai pengalaman rohaniah yang hampir mustahil untuk dijelaskan secara tepat melalui bahasa lisan. Beberapa pendapat ahli dan ulama Tasawuf mengenai definisi Tasawuf dikategorisasikan oleh Fauqi Hajjaj menjadi lima kategori (Muhammad Fauqi Hajjaj, 2011 :7‐12), yaitu; pertama definisi yang menjelaskan aspek penting dalam Tasawuf yang cukup beragam. Kedua definisi yang menekankan aspek moral, dan ketigadefinisiyang Pandangan para sejarawan Tasawuf bahkan mengalami perdebatan mengenai asal usul kata Tasawuf, hal tersebut


84 | Muamar AlQadri sesuai dengan cara pandang dan pendekatan yang digunakan oleh masing‐masing. Muhammad Fauqi Hajjaj, ThaSAWwuf Al‐ Islami wa Al‐Akhlaq, terjemah. menekankan pada aspek yang diistilahkan oleh kaum sufi sebagai maqamat yang merupakan usaha‐usaha seorang hamba, seperti zuhud dan sabar. Keempat, definisi yang menekankan aspek yang diistilahkan kaum sufi sebagai ahwal, seperti kedekatan (al‐qurb), keintiman (al‐uns), kerinduan (asy‐syauq), dan musyahadah. Kelima, definisi yang menekankan hal tertentu yang disebut oleh kalangan sufi sebagai fana’. Selanjutnya, dalam mendefinisikan Tasawuf Ibrahim Basuni yang dikutip oleh Rivay (2002:34‐35) mengkategorikan menjadi tiga kategori, yaitu; pertama al‐ bidayat yang bermakna bahwa prinsip awal tumbuhnya Tasawuf adalah sebagai manifestasi dari kesadaran spiritual manusia tentang dirinya sebagai makhluk Tuhan.Hal ini kemudian mendorong manusia untuk beribadah kepada Khaliqnya dengan kehidupan asketisme sebagai pembinaan moral.Kedua, kategori al‐ mijahadat, yaitu usaha sungguh‐sungguh dengan tujuan dekat kepada Allah.Usaha ini diwujudkan dalam seperangkat amaliah dan latihan keras untuk mendapatkan hubungan langsung dengan Allah.Ketiga, al‐mudzaqot yakni perasaan yang dialami seorang hamba dihadirat Allah SWT., dan merasa bersatu dengan Allah dalam hatinya. Dengan demikian pemaknaan dalam hal ini ada pada taraf al‐ ma’rifatul haqq, yaitu ilmu tentang hakikat realitas intuitif bagi seorangsufi. Selain kategorisasi pendefinisian Tasawuf di atas, Abdurrahman Al‐Badawi yang dikutip oleh Samsul Munir


PendidikanAkhlak |85 (2014: 9‐10) mengatakan bahwa, pada hakikatnya Tasawuf didasarkan kepada dua hal; pertama, pengalaman batin hubungan antara hamba dan Tuhan, hal ini sering diiringi gejala psikologis tertentu karena baginya terasa suatu kekuatan gaib yang menguasainya. Kedua, kemungkinan kesatuan antara Tuhan dan hamba merupakan suatu hal yang tidak asing, karena jika tidak maka Tasawuf hanya sekadar moralitas keagamaan. Dalam proses penyatuan terdapat tangga‐tangga pendakian transendental yang berakhir pada Dzat YangTransenden. Dari berbagai kategorisasi definisi Tasawuf di atas, seperti yang dikatakan Muhammad Fauqi Hajjaj, dapat disimpulkan bahwa Tasawuf Islam adalah ikatan spiritual yang mempertautkan seorang sufi dengan Maula Junjungannya dan menariknya kepada‐Nya, sehingga dengannya seorang hamba termotivasi untuk melakukan lebih banyak amal soleh, dan mengaktualkan dalam kehidupan. Lebih jelas lagi Samsul Munir menyimpulkan, Tasawuf adalah melatih jiwa dengan kesungguhan yang dapat membebaskan manusia dari pengaruh kehidupan duniawi untuk bertaqarrub kepada Allah, sehingga jiwa menjadi lebih bersih, mencerminkan akhlak mulia dalam kehidupan, serta menemukan kebahagiaan spiritual. Samsul Munir melanjutkan, bahwa ada satu asas dari berbagai definisi para ahli mengenai Tasawuf, yaitu Tasawuf merupakan moralitas yang berasaskan Islam.Hal tersebut bermakna Tasawuf memiliki semangat Islam dan moralitas, dan seluruh ajaran Islam dari berbagai aspek merupakan prinsip moral.


86 | Muamar AlQadri B. Tujuan Tasawuf Secara umum A. Siregar (2002:57) mengatakan, tujuan Tasawuf adalah untuk berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Namun demikian, A. Siregar melanjutkan apabila diperhatikan karakteristik Tasawuf secara umum terlihat adanya tiga sasaran “antara” dari Tasawuf. Karakteristik tersebut adalah; pertama, Tasawuf sebagai pembinaan moral. Hal ini meliputi; mewujudkan kestabilan jiwa yang berkesinambungan, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu sehingga manusia konsisten dan komitmen hanya pada keluhuran moral. Tujuan Tasawuf pada tataranmoralitasini cenderung bersifatpraktis. Kedua, Tasawuf yang bertujuan untuk ma’rifatullahyang melalui penyingkapan langsung atau metode al‐kasyf al‐ hijab.Tasawuf ini sudah bersifat teoritis dengan ketentuan‐ ketentuan khusus yang sistematis.Ketiga, Tasawuf yang bertujuan untuk membahas bagaimana sistem pengenalan dan pendekatan diri kepada Allah secara mistis filosofis, pengkajian garis hubungan antara Tuhan dengan makhluk. Dalam hal dekat dengan Tuhan terdapat tiga simbolisme; dekat dalam arti melihat dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hati, dekat dalam arti berjumpa dengan Tuhan sehingga terjadi dialog, dan dekat dalam arti penyatuan manusia dengan Tuhan sehingga terjadi monolog antara Tuhan dan manusiayangmenyatudalamiradahTuhan. Seperti yang dikatakan oleh Harun Nasution (1973: 62) untuk berada dekat dengan Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan panjang yang berisi stasion‐stasion, dalam istilah Arab disebut maqamat atau dalam bahasa Inggris


PendidikanAkhlak |87 disebut stages dan stations. Menurut Abu Nashr as‐Sarraj untuk mencapai tingkat maqamat maka beberapa tahap harus dilalui adalah sebagai berikut: 1. Al‐Taubah (tingkatantaubat) 2. Al‐Wara’ (memelihara diri dari prbuatan haram, makruh dansyubhat) 3. Al‐Zuhd (meninggalkan kesenangan dunia) 4. Al‐Faqru (memfakirkandiri) 5. Al‐Sabru (tingkatansabar) 6. Al‐Tawakkul (tingkattawakal) 7. Al‐Ridho (tingkatkerelaan) Di samping maqamat terdapat istilah hal yang berarti suatu keadaan mental. Harun Nasution menjelaskan, bahwa jalan yang ditempuh para sufi dari maqam satu ke maqam yang lain bukanlah hal yang mudah. Jalan itu sulit dan menghendaki usaha yang berat dan waktu yang tidak singkat. Relevan dengan ketiga sasaran yang menjadi tujuan Tasawuf yang diuraikan di atas, maka dapat pula dipahami bahwa tujuan Tasawuf pada prinsipnya adalah untuk membentuk sosok insan kamil. Menurut Muhyiddin Ibnu ‘ArabiInsankamiladalahmanusiayang sempurnabaikdari segi wujud maupun pengetahuannya (insan berarti manusia dan kamil berarti sempurna). Adanya kesempurnaan segi wujudnya ialah karena dia merupakan manifestasi sempurna dari citra Tuhan, yang pada dirinya tercermin nama‐nama dan sifat Tuhan secara utuh.Adapun kesempurnaan dari segi pengetahuannya ialah karena dia telah mencapai tingkat kesadaran tertinggi, yaitu menyadari kesatuan esensinya dengan Tuhan, yang disebut ma’rifat.


88 | Muamar AlQadri Selanjutnya, Al‐Jili merumuskan bahwa insan kamil merujuk pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad yang demikian tidak semata‐mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan saja, tetapi juga sebagai nur (cahaya/ruh) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini. Kesempurnaan insan kamil merupakan bentuk tajalli Tuhan secara sempurna melalui hakikat Muhammad (al‐haqỉqah al‐Muhammadiyah). Hakikat Muhammad merupakan wadah tajalli Tuhan yang sempurna. Mengenai insan kamil, Allah SWT berfirman: Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebutAllah.”(Q.SAl‐Ahzab:21). Ayat di atas menjelaskan sosok Rasulullah, Nabi Muhammad SAW sebagai sosok panutan, contoh bagi umat manusia.Keteladanan yang diajarkan Rasulullah mencerminkan kesempurnaan akhlak yang dapat merahmati seluruh alam.Dengan demikian maka insan kamil sebagai mana dicontohkan Allah pada ciptaan‐Nya, Muhammad memberikan pengetahuan kepada manusia tentang khalῐfah dibumi yang sesungguhnya.Yaitu Khalῐfah yang


PendidikanAkhlak |89 mencerminkan sifat‐ sifat Ilahiyyah dalam kehidupan sehari‐ hari. Selanjutnya, A. Siregar (2002: 58) mengatakan bahwa tujuan akhir Tasawuf adalah etika murni atau psikologi murni, dan atau keduanya secara bersamaan, yakni; pertama, penyerahan diri sepenuhnya terhadap kehendak mutlak Allah, karena Dialah penggerak semua kejadian di alam semesta ini. Kedua, melepaskan keinginan pribadi secara total, dan juga melepas sifat‐sifat jelek yang berkenaan dengan duniawi, disebut dengan istilah fana’ al‐ma’asi dan baqa al‐ta’ah.Ketiga, peniadaan kesadaran terhadap diri sendiri serta pemusatan diri pada perenungan terhadap Tuhan semata, tiada yang dicari kecuali Allah. Menurut Mustafa Zahri yang dikutip oleh Samsul Munir (2014: 58), bahwa tujuan Tasawuf adalah fana untuk menggapai ma’rifah. Secara filosofis fana diartikan meniadakan diri supaya menjadi ada, sementara itu secara Tasawuf fana adalah leburnya pribadi pada kebaqaanAllah, dalam masa ini keinsyafan lenyap diliputi rasa keTuhanan dalam keadaan mana, semua rahasia yang menutup diri dengan Al‐haqqu tersingkap secara kasyaf. Ketika itu antara hamba dan Allah menjadi satu dalam baqa‐Nya tanpa hulul/berpadu dan tanpa ittihad/bersatu abid dan ma’bud dalam pengertian seolah‐olah manusia dan Tuhan sama. Hal senada juga dikatakan oleh K. Permadi (2004: 89), bahwasannya fana adalah keadaan di mana seluruh makhluk hati, dunia dan diri sendiri hilang sama sekali dari ingatan hati, karena tenggelam dalam kesedapan dan kelezatan zdikrullậh. Harun Nasution juga menjelaskan bahwa tujuan sebenarnya


90 | Muamar AlQadri dari sufi adalah berada sedekat‐dekatnya dengan Tuhan, sehingga tercapaipersatuan. Para pecinta jalan Tasawuf menempuh jalannya demi suatu kebahagiaan hakiki, dan kebahagiaan hakiki tersebut meliputi kebahagiaan dunia dan akhirat. Menurut Syaikh Abdush Shamad al‐Falimbani dalam bukunya As‐Syair As‐ Salikin ila Rabb Alamiin menyatakan bahwa, puncak kedua kebahagiaan tersebut hanya bisa dicapai ketika sufi telah menemui dan melihat Tuhan (K. Parmadi,2004:60). Tasawuf juga dimaknai sebagai kesucian (shafa).Kesucian pada diri sufi diyakini dapat mengantarkannya bertemu Tuhan. Dengan keyakinan inilah Mulyadhi Kartanegara (2006: 4) mengatakan muncullah cara hidup spiritual yang pada prinsipnya bertujuan pada pendekatan diri kepada “sumber” dan “tujuan” hidupnya, yang dimaksud sumber dan tujuan adalah Tuhan. Dengan demikian dapat ditegaskan kembali bahwa tujuan Tasawuf adalah Tuhan. Alwi Shihab (2009: xv) dalam kata pengantar bukunya mengatakan, bahwa secara praktis sesungguhnya pengalaman spiritual para sufi merupakan penerapan perilaku Islam yang sesungguhnya, yaitu Islam dalammakna penyerahan diri secara total kepada Tuhan semesta alam. Alwi melanjutkan, bahwa Tasawuf menempati posisi sentral di antara tiga aspek dasar Islam, yaitu tauhid, syariat dan akhlak.Jika secara hakikat misi Islam adalah penyempurnaan akhlak, sebagaimana Rasulullah SAW sabdakan, maka pelestarian Tasawuf baik praktis maupun teoritismerupakan pelestarian nilai‐nilai Islam itu sendiri.


PendidikanAkhlak |91 C. Sumber‐Sumber AjaranTasawuf Dasar‐dasar Tasawuf telah ada sejak Islam muncul. Hal tersebut seperti yang dikatakan A. Rivay Siregar (2002:15), dapat dilihat dari sejarah kehidupan Rasulullah SAW., dari cara hidup beliau yang menunjukkan nilai‐nilai kesufian. Keteladanan tersebut kemudian dilanjutkan oleh para sahabat. Amalan serta ucapan para sahabat yang mewarisi keteladanan Rasulullah pasti tidak keluar dari ruang lingkup Al‐qur’an dan Sunnah.Hal tersebut sangat bersesuaian dengan Tasawuf yang mengajarkan akhlak, sedangkan akhlak dan moralitas banyak diatur di dalam Al‐Qur’an dan Sunnah. Hal ini diperkuat oleh Abu Nasr As‐Siraj Ath‐Thusi yang dikutip oleh Samsul Munir (2014: 16), bahwa para sufi pertama‐tama mendasarkan pendapat mereka tentang moral dan tingkah laku, merindukan dam kecintaan pada Ilahi, ma’rifah, suluk, dan juga latihan ruhani demi tercapainya tujuan kehidupan mistis. Dan Menurut Ath‐Thusi semua itu dapat dijajaki di dalam kitabAllah,yaituAl‐qur’an. Mengenai al‐Qur’an merupakan dasar daripada Tasawuf, Nasr yang dikutip oleh Maimun (2015: 87) menegaskan bahwa tidak ada spiritualitas yang mungkin dilakukan tanpa searah dengan tujuan al‐Qur’an.Sebab kitab suci itulah yang mengajarkan kepada manusia tentang hal‐hal yang bisa diketahui dan menjadi pembimbing menuju tujuan penciptaannya.Maka demikian Nasr menyimpulkan, bahwa tidak ada Tasawuf yang tidak berdasarkan al‐Qur’an atau lepas dari Islam.Hal ini sebagaimana ketidakmungkinan spiritualitas tanpa agama, Karen hal yang demikian bagaikan menanam pohon di udara.


92 | Muamar AlQadri 1. Sumber Al‐Qur’an Al‐Qur’an merupakan pedoman dan petunjuk hidup manusia, di dalamnya terkandung ajaran‐ajaran Islam, mulai dari aqidah, syari’ah sampai mu’amalah. Mengenai Tasawuf, di dalam Al‐Qur’an Allah SWT, telah banyak menyampaikan. Mengutip A. Rivay Siregar (2002:15) tentang kesadaran spiritual Rasulullah pada periode Makkiyah adalah berdasarkan pengalaman mistik yang jelas dan pasti. Mengenai hal tersebut telah dilukiskan dalam Al‐ Qur’an sebagaiberikut: Artinya:“Hatinya tidak mendustakan apa yang Telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang Telah dilihatnya? Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanyayang asli)padawaktuyanglain.”(Q.Sal‐Najm ayat11‐ 13) Artinya:“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusiadanmengetahuiapayangdibisikkanolehhatinya,dan


Click to View FlipBook Version