ANGGARAN RUMAH TANGGA
GEREJA BAPTIS INDONESIA
GOLDEN BOULEVARD
Peyusun:
Pdt. Johni Mardisantosa
Louis E. F. Mandagie
Djaja Putra
Ganang
Nanang P. Harijono
Kalep Budianto
Jl. Pahlawan Seribu,
Kompleks Ruko Golden Boulevard Blok B.8-9, BSD City,
Tangerang Selatan, Banten
1
BAB I
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT KEDUDUKAN
PASAL 1
1. N A M A
Gereja Baptis Indonesia Golden Boulevard yang disingkat GBI GB
(Persekutuan orang-orang percaya ditempat ini untuk selanjutnya
dalam Anggaran Rumah Tangga ini disebut Gereja)
2. W A K T U
Gereja diorganisasikan pada tanggal 24 Agustus 2013 untuk jangka
waktu yang tidak terbatas sesuai dengan kehendak Allah.
3. TEMPAT KEDUDUKAN
Gereja berkedudukan di BSD City, dengan alamat di Jalan
Pahlawan Seribu, Kompleks Ruko Golden Boulevard Blok B. No. 8-
9, BSD City, Tangerang Selatan, Banten.
BAB II
DASAR, ASAS BERMASYARAKAT dan KEYAKINAN IMAN
PASAL 2
DASAR
1. Alkitab :
2
Alkitab adalah Firman Allah, yaitu yang terdiri dari 39 Kitab
Perjanjian Lama dan 27 Kitab Perjanjian Baru. Dan
berotoritas atas kehidupan seluruh warga Gereja. Setiap
warga Gereja berhak membaca, menyelidiki dan
menafsirkan Alkitab bagi dirinya sendiri menurut pimpinan
Roh Kudus.
2. Asas Kepercayaan Baptis:
Pernyataan Asas-Asas Kepercayaan Gereja
2.1. Alkitab
Alkitab adalah firman Allah tanpa salah, diilhamkan Allah dan
ditulis oleh orang-orang yang dipilih Allah dan merupakan
otoritas tertinggi untuk iman dan kehidupan manusia.
(Keluaran 24:3-4; Yesaya 55:10-11; Yeremia 30:2; Matius 4:4,7;
5:17-19; 2 Timotius 3:16-17; 2 Petrus 1:19-21; Ibrani 1:1-4).
2.2.Allah
Allah itu Esa; dalam keesaan-Nya terdapat tiga pribadi yaitu
Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang sehakikat, sederajat, kekal,
dan memiliki sifat-sifat yang khas. (Kejadian 1:1-3; Ulangan 6:4-;
32:4; Imamat 19:2; Mazmur 7:9-12; 25:8; 139:2-4; 119; 137;
Yesaya 44:24; 7:15; Yohanes 14:11; Roma 2:4,6; 4:17; 5:8; 8:32
1 Timotius 2:5; Titus 3:4-8; Ibrani 4:13; 1 Yohanes 4:7-10;
Wahyu 4:8-11)
2.3.Yesus Kristus
Yesus Kristus adalah penyataan diri Allah Anak dalam bentuk
manusia, dikandung oleh kuasa Roh Kudus dan dilahirkan oleh
perawan Maria. Ia adalah Allah sejati dan manusia sejati, mati
disalib bagi manusia berdosa, bangkit dari kematian, naik ke
3
surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan akan datang
kembali ke dunia untuk menghakimi orang yang hidup dan yang
mati. Yesus adalah Tuhan, Juruselamat, Nabi, Imam Besar, dan
Raja. (Matius 28:17; Yohanes 1:3; 2 Korintus 5:21; Galatia 4:4;
Filipi 2:6-11; Kolose 1:16-20; 2:9; Ibrani 1:6; 4:15; 1 Petrus 2:21-
23).
2.4.Roh Kudus
Roh Kudus adalah Allah yang meyakinkan manusia akan dosa,
kebenaran, dan penghakiman. Roh Kudus memimpin orang
berdosa kepada keselamatan dalam Yesus Kristus dan
membaptiskannya ke dalam tubuh Kristus. Roh Kudus
mendiami, memeteraikan, memenuhi dan memberi berbagai
karunia rohani kepada orang percaya. (Yohanes 16:8-11; Titus
3:4-5; Kisah Para Rasul 1:8; 19:2-5; Roma 8:14,16; 12:6-8; 1
Korintus 12:4-13; Galatia 5:25; Efesus 1:13; 4:30; 5:18)
2.5. Malaikat
Malaikat adalah makhluk rohani yang diciptakan oleh Allah,
yang diberi tugas untuk melayani dan melaksanakan kehendak
Allah, melayani dan melindungi orang-orang percaya, dan
menyampaikan pesan khusus Allah. (Mazmur 34:7-8; Yesaya
6:2-7; Daniel 9:21-23; Ibrani 1:13-14; Wahyu 5:11)
2.6. Manusia
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang termulia di bumi,
diciptakan segambar dengan Allah, suci, berkepribadian dan
berkehendak bebas untuk memuliakan Allah; manusia telah
memilih untuk melanggar kehendak Allah, sehingga menjadi
berdosa serta kehilangan kemuliaan Allah. (Kejadian 1:26-30;
2:7, 21-22; 3:1-19; 5:1-2; Mazmur 8:1-10; Ibrani 2:5-8; Yakobus
3:9)
4
2.7. Dosa
Dosa adalah tindakan dan keadaan yang bertentangan dengan
kekudusan Allah dan pelanggaran terhadap kehendak Allah
sehingga memisahkan manusia dari Allah, mendatangkan murka
Allah dan maut. (Roma 1:18-32; 3:9,12,23; 6:23; Efesus 2:1-2;
Kolose 3:5-6; Yakobus 4:17; 1 Yohanes 3:4)
2.8. Keselamatan
Keselamatan adalah pengalaman kelepasan dari dosa dan
kematian kekal yang terjadi oleh anugerah Allah melalui
pertobatan dari dosa dan iman kepada Tuhan Yesus Kristus, dan
bersifat kekal. Pengalaman ini meliputi pengampunan dosa,
kelahiran baru, pendamaian, pembenaran, pengudusan,
penerimaan hidup kekal, pengangkatan sebagai anak, dan
pemuliaan. Orang yang menerima keselamatan akan mengalami
pertumbuhan dalam kehidupan rohaniannya seperti setia
kepada Yesus Kristus, pelayanan, menghasilkan buah Roh dalam
hidupnya. (Matius 5:16; Markus 16:15-16; Yohanes 1:12, 40-42;
3:-7,16; 10:28; Kisah Para Rasul 2:21; Roma 5:1,6-9; 8:30; 10:10;
1 Korintus 4:2; Galatia 5:22-25; Efesus 2:8-10)
2.9. Gereja
Gereja adalah lembaga ilahi yang didirikan oleh dan atas dasar
Yesus Kristus. Gereja universal terdiri atas semua orang yang
telah bertobat serta mengakui dan menerima Yesus sebagai
Tuhan dan Juruselamatnya. Gereja lokal merupakan
persekutuan orang-orang percaya yang sudah dibaptiskan,
untuk bersekutu, berbakti, bersaksi, mendidik, melayani dan
melaksanakan upacara agung gereja, yaitu baptisan dan
perjamuan Tuhan. Gereja Baptis Indonesia bersifat Otonom,
bertata pemerintahan kongregasional, berasaskan keluarga
besar; dan berkedudukan terpisah dari Negara. (Matius 16:18;
5
18:15-20; 22:21; Lukas 20:25; Kisah Para Rasul 11:19-30; 14:23;
15:1-34; Roma 5:1-5; 6:1-4; 12:4-5; 1 Korintus 3:11; 2 Korintus 8-
9; Efesus 1:22-23; 4:11-16; Kolose 1:18; 2:12; 1 Timotius 2:5;
Ibrani 4:14-16; 1 Petrus 2:9)
2.10. Perkara-Perkara Akhir
Perkara-perkara akhir adalah peristiwa-peristiwa yang akan
terjadi pada akhir zaman yang meliputi kedatangan Yesus
kembali, kebangkitan, pengangkatan, penghakiman, serta
tentang sorga dan neraka. (Yesaya 2:4; 11:9; Matius 16:27; 18:8-
9; 19:28; 24:27,30,36,44; 25:31-46; 26:64; Markus 8:38; 9:43-48;
Lukas 12:40,48; 16:19-26; 17:22-37; 21:27-28; Yohaes 6:40;
11:25; 14:1-3; Kisah Para Rasul 1:11; 17:31; Roma 14:10; 1
Korintus 4:5; 15:24-28,35-58; 2 Korintus 5:10; Filipi 3:20-21;
Kolose 1:5; 3:4; 1 Tesalonika 4:14-18; 5:1; 2 Tesalonika 1:7; 2:1-
12; 1 Timotius 6:14; 2 Timotius 4:18; Titus 2:13; Ibrani 9:27-28;
Yakobus 5:8; 2 Petrus 3:7; 1 Yohanes 2:28; 3:2; Yudas 14,15;
Wahyu 1:18; 3:11; 20:1-22:13)
3. Perjanjian Gereja Baptis
Setiap anggota Gereja wajib memenuhi perjanjian Gereja sebagai
berikut:
3.1. Kami yakin dan percaya, bahwa setelah kami beroleh pimpinan
Roh Kudus serta menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat,
dan dibaptiskan dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah
Roh Kudus.
Maka di hadirat Allah dan Jemaat ini, dengan khidmat dan penuh
sukacita, kami masuk ke dalam persekutuan sebagai satu tubuh
di dalam Kristus.
6
3.2. Sebab itu kami berjanji, dengan pertolongan Roh Kudus akan
berdoa, berbakti dan belajar Alkitab bersama-sama di dalam
kasih Kristus, berdaya upaya untuk kemajuan Gereja ini dalam
pengetahuan, kesucian, dan penghiburan.
3.3. Mempertinggi kerohanian, memelihara kebaktian dan upacara-
upacara, tata tertib dan asas-asasnya.
3.4. Dengan ikhlas dan tetap memberikan perpuluhan dan
persembahan guna penyelenggaraan dan biaya gereja, bagi
orang-orang yang berkekurangan, dan untuk pemberitaan Injil
Keselamatan kepada seluruh umat manusia di dunia.
3.5. Kami berjanji untuk memelihara rasa kasih di dalam keluarga,
mendidik anak-anak di dalam kerohanian, memimpin sanak
saudara dan sahabat kenalan kepada jalan keselamatan.
3.6. Adil dan jujur dalam segala perbuatan, menepati janji, setia
dalam persekutuan, menjadi teladan yang baik dalam bertingkah
laku.
3.7. Menghindari celaan-celaan yang tidak patut, menjauhkan diri
dari minuman keras, penyalahgunaan obat bius, dan perjudian,
dengan semangat, berdaya upaya untuk kepentingan dan
kemajuan Kerajaan Juru Selamat.
3.8. Kami berjanji bahwa dalam perkawinan, kami dengan sadar akan
menurut dan patuh kepada ajaran-ajaran dan nasehat-nasehat
Alkitab mengenai pernikahan.
3.9. Kami berjanji pula bahwa di dalam persekutuan Kristus itu kami
akan membuang adat-istiadat kebiasaan kepercayaan agama
yang lama dan penyembahan berhala atau jimat-jimat, hal-hal
yang tidak diperkenankan Tuhan.
7
3.10. Selanjutnya kami berjanji akan saling memperhatikan dengan
kasih persaudaraan, saling mengingat di dalam doa, saling
membantu di dalam keadaan sakit dan duka, sopan santun dan
ramah dalam pergaulan.
3.11.Tidak mudah tersinggung, siap sedia untuk berdamai, senantiasa
ingat akan ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan yang sudah
ditetapkan oleh Juru Selamat kami.
3.12. Tambahan pula kami berjanji, bahwa bilamana kami pindah
dari tempat ini, dengan secepat mungkin kami akan
menggabungkan diri pada Jemaat Gereja Baptis setempat atau
Jemaat lain, supaya kami dapat memelihara dan mewujudkan
perjanjian ini serta asas-asas Firman Allah.
PASAL 3
ASAS BERMASYARAKAT, BERBANGSA, DAN BERNEGARA
Sebagai Badan Keagamaan yang berada di tengah-tengah Masyarakat,
Bangsa dan Negara Republik Indonesia, Gereja mengakui Pancasila
sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
BAB III
BENTUK, SIFAT, TUJUAN, KEGIATAN/USAHA
PASAL 4
BENTUK dan SIFAT
8
4.1. Gereja berbentuk persekutuan yang bersifat rohani, sosial, dan
non-politik.
4.2. Gereja dan Negara, kedua-duanya disahkan Allah. Masing-masing
berkedudukan sendiri. Gereja mengurusi hal-hal kerohanian dan
Negara mengurusi perkara praja, tetapi keduanya hendaknya
bekerja sama dan selaras, bergotong royong melaksanakan fungsi
dan kodratnya.
4.3. Gereja juga bersifat sosial dalam pengertian kegiatan sosial ke
dalam dan keluar baik yang bersifat regional maupun nasional.
Kegiatan-kegiatan sosial tersebut bersifat umum yang
berdasarkan ajaran kasih Yesus Kristus dalam mencapai
kebahagiaan umat secara spiritual dan material.
4.4. Gereja bersifat non-politik, dengan kata lain, Gereja dalam bentuk
organisasi tidak melakukan kegiatan politik. Gereja memberikan
kebebasan bagi anggota-anggota orang perseorangan melakukan
kegiatan politik, tetapi secara terpisah bukan atas nama dan
melibatkan Gereja sebagai organisasi dalam politik.
4.5. Pemerintahan Gereja menganut sistem kongregasional yang
dijalankan secara teokratis dan kekeluargaan. Pengertian
Kongregasional adalah pengelolaan gereja yang berpusat pada
anggota gereja. Pengertian Kongregasional mencakup asas
demokrasi di dalamnya. Demokrasi yang dijalankan bersifat
teokrasi (dipimpin oleh Tuhan Allah). Pengertian Kekeluargaan
adalah pengelolaan organisasi dalam gereja dijalankan dengan
memperhatikan dan mengutamakan kasih persaudaraan.
Berorganisasi dalam Gereja adalah mengatur rumah tangganya
sendiri, untuk mencapai tujuan gereja dengan menjaga dan
meningkatkan kebersamaan, keharmonisan dan kerukunan dari
setiap anggota sebagai keluarga Allah yang tunduk kepada Kristus
sebagai Tuhan.
9
4.6. Gereja adalah anggota dari Gabungan Gereja Baptis Indonesia
yang merupakan wadah persatuan Umat Baptis Indonesia yang
diorganisasikan dengan tujuan untuk melaksanakan program
bersama dalam bidang penginjilan, pendidikan, dan usaha-usaha
sosial.
PASAL 5
TUJUAN, KEGIATAN / USAHA
5.1. Tujuan
5.1.1. Melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus melalui
penyembahan, persekutuan, pemuridan, penginjilan,
dan pelayanan melalui kegiatan-kegiatan kerohanian
ataupun sosial.
5.1.2. Mempertinggi kehidupan rohani para anggotanya.
5.1.3. Meningkatkan kesejahteraan para anggotanya dan
masyarakat pada umumnya.
5.2. Kegiatan
Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 5
Gereja berusaha antara lain :
5.2.1. Membina dan membimbing para anggotanya sehingga
mampu melayani pekerjaan Tuhan dan sebagai saksi
Tuhan Yesus dengan jalan:
a) Mengadakan kebaktian-kebaktian umum pada hari
Minggu sesuai dengan tata ibadah dalam Gereja-
Gereja Baptis pada umumya.
10
b) Mengadakan kelas-kelas Alkitab / Sekolah Minggu.
c) Mengadakan Pembinaan Warga Jemaat, per
kelompok sesuai wilayah tinggal anggota-anggota.
d) Mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani.
e) Membuka Pos Pengabaran Injil dan
mengembangkannya menjadi cabang dan
selanjutnya dibina untuk berdiri sendiri jika
memungkinkan.
f) Ikut serta dalam menyokong pendidikan Teologia
Baptis.
g) ikut serta dalam menyokong kegiatan sosial,
kesehatan dan kegiatan lainnya yang dijalankan
oleh Gabungan Gereja Baptis Indonesia.
5.2.2. Membina dan membimbing anggota Gereja dalam rangka
meningkatkan kerohanian mereka dan rasa kesatuan dan
semangat kekeluargaan antar-umat dengan jalan:
a) Mengadakan Kebaktian Rumah Tangga.
b) Mengadakan kunjungan.
c) Mengadakan pertemuan untuk seluruh warga
Jemaat.
d) Mengadakan / menyelenggarakan perayaan
keagamaan bersama-sama.
5.2.3. Menyelenggarakan pendidikan / kursus-kursus yang
bersifat rohani maupun bersifat umum dalam bentuk:
11
a) Latihan pelayanan.
b) Menyelenggarakan kursus-kursus yang menunjang
ketrampilan para anggota dalam bidang kerohanian
antara lain :
- Kursus bagi calon-calon Diakon, calon
pelayan/petugas Gereja, calon Guru Sekolah
Minggu dan sebagainya.
- Kursus dalam bidang umum antara lain kursus
musik, kursus ketrampilan, dan
menyelenggarakan pendidikan umum menurut
kebutuhan dan kemampuan.
BAB IV
UPACARA GEREJA
PASAL 6
Upacara Pembaptisan dan Upacara Perjamuan Tuhan adalah dua
upacara terpenting yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus kepada
Gereja-Nya. Kedua upacara itu tidak berkuasa untuk mengampuni
dosa atau menyelamatkan, tetapi merupakan lambang yang sangat
dalam artinya.
6.1. Upacara Pembaptisan
6.1.1. Pembaptisan melambangkan kematian dan kebangkitan
Kristus. Orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus
dan diselamatkan, dibaptiskan sebagai suatu kesaksian
dan menyatakan bahwa dirinya telah mengalami hidup
12
baru di dalam Tuhan Yesus, dan bersedia
menggabungkan diri menjadi anggota tubuh Kristus
melalui Gereja-Nya.
6.1.2. Upacara pembaptisan dilaksanakan atas dasar kuasa dari
Gereja (Sidang Jemaat) setelah calon baptisan memenuhi
semua persyaratan untuk menjadi anggota gereja,
dengan jalan diselamkan ke dalam air atas nama Allah
Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.
6.1.3. Syarat-syarat untuk dibaptiskan:
6.1.3.1. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru
Selamat pribadi.
6.1.3.2. Mengikuti secara intensif kelas persiapan
baptisan.
6.1.3.3. Menerima doktrin/asas kepercayaan dan
perjanjian Gereja.
6.1.3.4. Memberi kesaksian pribadi dalam jemaat.
6.1.3.5. Direkomendasikan oleh Panitia Keanggotaan.
6.1.3.6. Disetujui oleh gereja melalui rapat urusan
gereja atau khusus untuk itu.
6.1.4. Pelaksanaan upacara pembaptisan:
6.1.4.1. Dilaksanakan didepan jemaat dalam suatu
kebaktian umum.
6.1.4.2. Dipimpin oleh Pendeta Gereja.
13
6.1.4.3. Dalam keadaan darurat gereja akan meminta
Pendeta Gereja Baptis lain untuk
melaksanakan upacara tersebut.
6.1.4.4. Setelah dibaptiskan diberikan kartu tanda
pembaptisan yang ditanda tangani oleh
Pendeta dan Sekretaris Gereja.
6.2. Upacara Perjamuan Tuhan
6.2.1. Perjamuan Tuhan adalah upacara yang diperintahkan
oleh Tuhan Yesus kepada Gereja-Nya, untuk
memperingati pengorbanan dan kematian-Nya.
6.2.2. Upacara Perjamuan Tuhan diadakan sekurang-kurangnya
3 (tiga) kali setahun.
6.2.3. Yang mengambil bagian dalam Upacara Perjamuan
Tuhan.
6.2.3.1. Anggota Gereja.
6.2.3.2. Orang-orang yang menerima keyakinan iman
yang sama tentang Perjamuan Tuhan.
6.2.4. Pelaksanaan Upacara Perjamuan Tuhan.
6.2.4.1. Dipimpin oleh Pendeta dibantu oleh para Diakon
dan orang-orang yang ditunjuk oleh Panitia
Upacara Gereja.
6.2.4.2. Sebelum Upacara Perjamuan Tuhan
dilaksanakan, terlebih dahulu Pendeta
menjelaskan arti maksud dan tujuan sesuai
keyakinan Gereja mengenai Perjamuan Tuhan.
14
6.2.4.3. Selanjutnya Pendeta mengundang jemaat dalam
upacara ini sesuai keyakinan iman mereka
masing.
6.2.4.4. Pendeta membagikan roti Perjamuan Tuhan
melalui para petugas, dan dilanjutkan dengan
pembagian anggur.
6.2.4.5. Alat-alat dan bahan Perjamuan Tuhan disiapkan
oleh Panitia Upacara Gereja.
6.3. Upacara lain yang menyangkut pelayanan Gereja
6.3.1. Upacara Pernikahan
Upacara ini merupakan suatu kebaktian kepada Tuhan
sesuai adat-istiadat yang tidak bertentangan dengan
Asas Kepercayaan Gereja, tetapi bukan sakramen atau
upacara yang mengandung kuasa yang ajaib dari Tuhan.
6.3.1.1. Syarat-Syarat Pernikahan Gereja
a) Memenuhi persyaratan Undang-Undang
pernikahan yang berlaku.
b) Menyerahkan bukti-bukti pendaftaran ke
kantor Pencatatan Sipil.
c) Memperoleh persetujuan dari Gereja.
d) Calon mempelai harus mengikuti bimbingan
“Pranikah” terlebih dahulu dengan Pendeta
yang akan memimpin upacara, sekurang-
kurangnya 2(dua) bulan atau 8(delapan) kali
pertemuan sebelum upacara peneguhan
pernikahan dilaksanakan.
15
e) Diumumkan di Gereja sekurang-kurangnya
1(satu) bulan sebelum tanggal pernikahan.
f) Acara peneguhan pernikahan dapat
dilaksanakan di Gereja apabila calon
mempelai:
1) belum pernah menikah;
2) calon mempelai menghormati kekudusan
pernikahan;
3) orang yang sudah pernah menikah dapat
dinikahkan lagi digereja, karena
pernikahan yang terdahulu berakhir oleh
kematian;
4) salah satu calon mempelai adalah
anggota gereja.
5) calon mempelai yang bukan anggota
gereja, harus ada rekomendasi dari
gerejanya.
6.3.3. Upacara Penyerahan anak-anak
Bagi anak-anak, dapat diserahkan pada Tuhan oleh orang
tuanya, pada saat undangan diadakan. Maksud
penyerahan tersebut ialah untuk didoakan dalam
kebaktian umum, dan ini bukan skaramen atau upacara
baptisan anak.
6.3.2.Upacara Perkabungan (kematian).
Upacara perkabungan dapat merupakan suatu peristiwa
yang memuliakan nama Tuhan, bila hidup orang yang
16
meninggal itu merupakan kesaksian yang nyata bagi
Kristus.
Tujuan utama dalam kebaktian itu ialah menghibur orang
yang berduka cita. Disamping itu sebagai kesempatan
untuk bersaksi kepada orang-orang yang belum percaya
kepada Kristus. Kebaktian perkabungan dapat juga
dilakukan di gereja bagi anggota gereja dan orang Kristen
bukan anggota gereja bila keluarga yang meninggal itu
menghendakinya.
Acara / kebaktian tersebut hendaknya dipimpin oleh
pendeta Gereja, kecuali dalam keadaan darurat dapat
dilaksanakan oleh Diakon atau pemimpin rohani lainnya
yang ditunjuk oleh gereja.
BAB V
PEJABAT, PETUGAS DAN PELAYAN DI GEREJA DAN
ORGANISASI/PANITIA GEREJA
PASAL 7
PEJABAT GEREJA
7.1. Gembala Sidang
Gembala Sidang adalah seorang yang dipanggil secara khusus
oleh Tuhan, dan ditetapkan oleh Gereja sebagai Pendeta untuk
melaksanakan tugas menggembalakan Gereja.
7.1.1. Syarat-Syarat Gembala Sidang:
17
7.1.1.1. Orang yang dipanggil oleh Tuhan secara khusus,
dan menyambut panggilan tersebut dengan
penuh kesadaran.
7.1.1.2. Seorang yang sudah diperlengkapi Tuhan untuk
melaksanakan tugasnya melalui pendidikan
Teologia Baptis yang memadai.
7.1.1.3. Sudah menjadi anggota di salah satu Gereja
Baptis Indonesia minimal 5 tahun.
7.1.1.4. Seorang pria yang memenuhi syarat-syarat
sebagaimana tertulis dalam Alkitab (1 Timotius
3:1-7; Titus 1:5-9).
7.1.1.5. Bersedia menggembalakan gereja sepenuh
waktu.
7.1.2. Tugas Gembala Sidang:
7.1.2.1. Melayani sebagai pemimpin utama dalam
penggembalaan.
7.1.2.2. Memberitakan Injil baik secara perorangan
maupun secara umum, dan memimpin serta
mendorong anggota Gereja untuk
memberitakan Injil.
7.1.2.3. Bertanggung jawab atas pelaksanaan semua
kebaktian umum dan jam doa Gereja.
7.1.2.4. Bertanggung jawab atas pelayanan mimbar,
dengan upaya-upaya sebagai berikut:
7.1.2.4.1. Belajar Firman Allah setiap hari.
7.1.2.4.2. Mencari kehendak Tuhan dalam
menentukan pokok-pokok khotbah.
18
7.1.2.4.3. Menyediakan waktu yang cukup
dalam mempersiapkan khotbah-
khotbah yang bermutu dan yag
cocok dengan kebutuhan gereja.
7.1.2.4.4. Merencanakan khotbah-khotbah
yang memenuhi kebutuhan gereja
dari semua kitab dan doktrin
Alkitab termasuk penatalayanan
/pegabdian gereja.
7.1.2.4.5. Berdoa agar khotbah-khotbah yang
disampaikan dengan kuasa Roh
Kudus diberkati dan berbuah.
7.1.2.4.6 Mencari pengganti/mengundang
pengkhotbah lain untuk mengisi
mimbar.
7.1.2.5. Mengkoordinir semua bidang pendidikan dan
pengajaran.
7.1.2.6. Memotivasi anggota Gereja untuk berperan
aktif dalam melaksanakan dan mendukung
program gereja.
7.1.2.7. Menggembalakan anggota Gereja supaya
hidup sesuai dengan asas kepercayaan umat
Baptis.
7.1.2.8. Mengelola gereja meliputi:
7.1.2.8.1. Memimpin, membimbing, dan
mengevaluasi atas pelaksanaan
tugas staf/karyawan gereja.
7.1.2.8.2. Mengawasi tata usaha gereja
antara lain: keuangan, tata buku,
surat-menyurat, buku induk
19
keanggotaan gereja, arsip, dan
lain-lain.
7.1.2.8.3. Mengawasi staf dan karyawan
gereja dalam pelaksanaan
tugasnya.
7.1.2.8.4. Membimbing petugas dan pelayan
gereja.
7.1.2.8.5. Mengawasi pelaksanaan program
gereja: SM, WBI, PBI, PKMB, KPW
dan lain-lain.
7.1.2.8.6. Mengevaluasi seluruh program
dan anggaran pelayanan gereja.
7.1.2.8.7. Menyusun program jangka
pendek maupun jangka panjang
sesuai dengan keputusan Rapat
Urusan Gereja.
7.1.2.8.8. Bersama panitia pencalonan,
memilih dan mengusulkan kepada
gereja, panitia-panitia dan
pegurus organisasi yang disebut
dalam AD/ART gereja dan atau
panitia-panitia khusus yang
diperlukan.
7.1.2.8.9. Mengembangkan komunikasi
antar pemimpin gereja dengan
jemaat, antar BPD GGBI dengan
gereja, antar BPN GGBI dengan
gereja. Secara otomatis menjadi
anggota kehormatan (ex-officio)
dalam setiap panitia gereja.
7.1.2.8.10. Mengevaluasi AD/ART gereja.
7.1.2.8.11 Melaksanakan Keputusan Rapat
Urusan Gereja.
20
7.1.2.8.12 Bersama dengan paling sedikitnya
satu orang diakon dan satu orang
anggota yang ditunjuk oleh Gereja
sesuai dengan keperluan yang
diperlukan yang ditetapkan dalam
Rapat Urusan Gereja, mewakili
Gereja dalam berhubungan keluar
secara resmi, baik dalam
berurusan dengan pihak instansi
pemerintah maupun non
pemerintah.
7.1.2.9. Memimpin Rapat Panitia Perancang.
7.1.2.10. Memimpin Rapat Urusan Gereja.
7.1.2.11. Merencanakan dan memimpin Upacara
Gereja.
7.1.2.12. Bertanggung jawab dalam merencanakan
dan melaksanakan kebaktian-kebaktian
khusus (kematian, pernikahan, penyerahan
anak dan lain-lain).
7.1.3. Pemilihan Gembala Sidang
7.1.3.1. Apabila ada kekosongan dalam jabatan
Gembala Sidang, Gereja akan membentuk
Panitia Mimbar untuk mencari calon
Gembala Sidang yang memenuhi syarat-
syarat yang telah ditentukan. Panitia
Mimbar akan mengajukan kepada Gereja
hanya satu calon saja pada suatu saat.
7.1.3.2. Pemilihan akan diadakan di dalam suatu
rapat khusus anggota yang diadakan untuk
itu, dan setelah diumumkan secara terbuka
21
sekurang-kurangnya 2(dua) minggu
sebelumnya.
7.1.3.3. Pemilihan diadakan secara musyawarah
untuk mufakat, jika tidak tercapai
kemufakatan, maka pemilihan diadakan
secara tertulis dan disetujui sekurang-
kurangnya 3/4 (tiga perempat) suara dari
anggota yang hadir.
7.1.3.4. Gereja menyelenggarakan kebaktian khusus
untuk peneguhan Gembala Sidang.
7.1.5. Hak-Hak Gembala Sidang
7.1.5.1. Gereja akan berusaha memenuhi kebutuhan
biaya hidup Gembala Sidang dan
keluarganya. Oleh karena itu Gembala
sidang diwajibkan untuk melayani Gereja
sepenuh waktu dan tidak akan berusaha
mencari tambahan penghasilan diluar,
kecuali bila Gereja sudah memberi ijin
kepadanya untuk hal itu. Hal yang sama
juga berlaku bagi seorang isteri Gembala
Sidang.
7.1.5.2. Hak cuti Gembala Sidang adalah 14 hari
kalender yang diberikan setelah ia melayani
selama 12 (duabelas) bulan, dan diberikan
tunjangan cuti sebesar 1 (satu) bulan gaji.
Cuti ini terlepas dari kepergian Gembala
Sidang untuk memimpin kegiatan
pengabaran Injil diluar gereja.
22
7.1.5.3. Gembala Sidang diberi hak memimpin
usaha-usaha Pengabaran Injil di luar gereja
paling banyak 14 hari setiap tahun, kecuali
mendapat persetujuan dari Gereja terlebih
dahulu.
7.1.5.4. Gereja akan membiayai Gembala Sidang
untuk menghadiri rapat, konperensi,
seminar yang diselenggarakan oleh
Gabungan Gereja Baptis Indonesia,
sebanyak-banyaknya 4 (empat) kali
kesempatan dengan jumlah 18
(delapanebelas) hari pertahun, kecuali
sudah mendapat persetujuan dari Gereja
terlebih dahulu.
7.1.5.5. Gembala Sidang dan keluarganya mendapat
tunjangan pengobatan berdasarkan
rekomendasi dokter dan bukti pembayaran
yang sah dengan total biaya maksimum 2
(dua) bulan gaji pertahun.
7.1.5.6. Pada setiap akhir tahun Gembala Sidang
akan diberi persembahan kasih dari Gereja
berupa tunjangan Natal sekurang-kurangnya
sebesar 1(satu) bulan gaji.
7.1.5.7. Gereja akan membayar iuran dana pensiun
bulanan selama ia menggembalakan Gereja.
7.1.5.8. Gaji Gembala Sidang ditetapkan dalam
Rapat Urusan Gereja pada setiap awal tahun
anggaran.
23
7.1.5.9. Rumah tinggal dan fasilitas lain untuk
Gembala Sidang ditetapkan dalam Rapat
Urusan Gereja.
7.1.6. Masa Jabatan
Gembala Sidang yang terpilih akan melaksanakan tugas
penggembalaan dengan setia sampai secara fisik dan
psikis tidak lagi mampu melaksanakan tugas-tugas
penggembalaan.
7.1.6.1. Purna tugas Gembala Sidang
a) Gembala Sidang dapat menerima
tunjangan dana pensiun setelah melayani
sampai usia 58 tahun dan dapat
diperpanjang sampai usia 60 tahun hak
tunjangan dana pension harus diberikan,
dan tetap dapat melayani sebagai
Gembala Sidang jika masih dianggap
mampu secara fisik dan psikis untuk
melaksanakan tugas-tugas pengembalaan.
b) Gereja akan memberitahukan kepada
Gembala Sidang yang akan memasuki
masa purna tugas sekurang-kurangnya
6(enam) bulan sebelumnya, dan surat
keputusan Gereja diberikan sekurang-
kurangnya 2(dua) bulan sebelumnya.
c) Gembala Sidang yang memasuki masa
purna tugas, dan sudah melayani selama
lebih dari 25 tahun di Gereja, akan
diberikan uang pengabdian sejumlah
24
5(lima) kali gaji terakhir dan tujangan
untuk rumah tinggal pribadi.
7.1.6.2. Peletakan jabatan Gembala Sidang:
a) Gembala Sidang mempunyai hak untuk
meletakkan jabatannya.
b) Gembala Sidang yang hendak meletakkan
jabatannya wajib memberitahukan secara
tertulis kepada Gereja dengan menyebutkan
alasan-alasan yang jelas.
c) Gembala Sidang akan menyampaikan
permohonan peletakan jabatan, selambat-
lambatnya 60 (enampuluh) hari sebelum ia
meninggalkan pelayanannya.
d) Gembala Sidang yang meletakan jabatannya
sudah harus menyerahkan seluruh fasilitas
dan inventaris yang disediakan oleh gereja
selambat-lambatnya 60 (enampuluh) hari
terhitung sejak berakhir masa pelayanannya.
7.1.6.3. Pemberhentian Gembala Sidang:
a) Dapat diberhentikan dari jabatannya bila
cara hidupnya dinilai tidak sesuai dengan
ajaran Alkitab.
b) Dapat diberhentikan bila ia mulai memimpin
anggotanya ke arah ajaran yang
bertentangan dengan asas-asas / doktrin
kaum Baptis.
25
c) Ketentuan (a) dan (b) juga berlaku bagi
seorang isteri Gembala Sidang.
d) Usul pemberhentian yang terkena ketentuan
(a) dan (b) wajib diajukan oleh para Diakon
atau Panitia Perancang atas dasar
permohonan tertulis yang ditandatangani
oleh 1/5 (seperlima) jumlah anggota.
e) Para Diakon dan Panitia Perancang wajib
mengetahui kepastian kebenaran yang
menjadi dasar permohonan tertulis
tersebut, sebagai bahan untuk
meneruskannya kepada Gereja.
f) Gembala Sidang diberhentikan melalui
pemungutan suara secara tertulis dalam
suatu Rapat Urusan Gereja yang dihadiri
oleh sekurang-kurangnya 30%(tigapuluh per
seratus) dari jumlah anggota yang terdaftar,
dan disetujui sekurang-kurangnya 2/3(dua
per tiga)dari anggota yang hadir.
g) Gembala Sidang yang terkena ketentuan (a)
dan (b) akan diberikan uang pesangon
maksimal 3 (tiga) bulan gaji pokok sesuai
hasil Rapat Urusan Gereja.
h) Gembala sidang yang terkena ketentuan (a)
dan (b) harus menyerahkan seluruh fasilitas
dan inventaris yang disediakan oleh Gereja
selambat-lambatnya 90 (sembilanpuluh) hari
setelah menerima surat Keputusan Rapat
Urusan Gereja.
26
7.2. Asisten Gembala Sidang (Associate Pastor).
Asisten Gembala Sidang adalah seorang yang dipanggil secara
khusus oleh Tuhan, dan ditetapkan oleh Gereja untuk
melaksanakan tugas membantu Gembala Sidang dalam bidang
pelayanan tertentu. Ia bertanggung jawab kepada Gereja
melalui Gembala Sidang.
7.2.1. Syarat-Syarat Asisten Gembala Sidang:
7.2.1.1. Orang yang dipanggil oleh Tuhan secara
khusus, dan menyambut panggilan tersebut
dengan penuh kesadaran.
7.2.1.2. Seorang yang sudah diperlengkapi Tuhan untuk
melaksanakan tugasnya melalui pendidikan
Teologia yang memadai.
7.2.1.3. Sudah menjadi anggota Gereja Baptis
Indonesia minimal 5 tahun.
7.2.1.4. Bersedia bekerja sama dengan Gembala
Sidang.
7.1.1.5. Bersedia melayani Gereja sepenuh waktu.
7.2.2. Tugas Asisten Gembala Sidang:
7.2.2.1. Membantu Gembala Sidang dalam pelayanan
sesuai dengan bidang yang dikuasainya dan
diperlukan dalam pelayanan Gereja.
7.2.2.2. Memberitakan Injil baik secara perorangan
maupun secara umum, dan membantu
Gembala Sidang dalam mendorong anggota
Gereja untuk memberitakan Injil.
27
7.2.2.3. Membantu Gembala Sidang untuk memotivasi
anggota Gereja untuk berperan aktif dalam
melaksanakan dan mendukung program
Gereja.
7.2.2.4. Bekerjasama dengan bidang-bidang terkait
lainnya dalam menyusun program dan
anggaran sesuai dengan keperluan bidang.
7.2.2.5. Mengkoordinasi organisasi gereja dalam
menyusun program dan anggaran sesuai
bidang yang terkait dengan Asistensi bidang
Pendidikan/Pemuda/PI/Musik.
7.2.2.6. Mengembangkan kerohanian pribadinya.
7.2.3. Pemilihan Asisten Gembala Sidang
7.2.3.1. Apabila Gereja merasa perlu seorang atau lebih
Asisten Gembala Sidang. Gereja
membentuk Panitia khusus untuk keperluan
tersebut. Panitia Khusus mengajukan ke
hadapan Gereja hanya satu calon Asisten
Gembala Sidang pada suatu saat.
7.2.3.2. Pemilihan akan diadakan di dalam suatu rapat
khusus anggota yang diadakan untuk itu, dan
setelah diumumkan secara terbuka sekurang-
kurangnya 2 (dua) minggu sebelumnya.
7.2.3.3. Pemilihan diadakan secara musyawarah untuk
mufakat, jika tidak tercapai kemufakatan, maka
pemilihan diadakan secara tertulis dan disetujui
sekurang-kurangnya 3/4(tiga perempat) suara
dari anggota yang hadir.
28
7.2.3.4. Gereja menyelenggarakan kebaktian khusus
untuk peneguhan Asisten Gembala Sidang.
7.2.5. Hak-Hak Asisten Gembala Sidang
7.2.5.1. Gereja akan berusaha memenuhi kebutuhan
biaya hidup Asisten Gembala Sidang dan
keluarganya. Oleh karena itu Asisten Gembala
Sidang diharapkan akan melayani sepenuh
waktu dan tidak akan berusaha mencari
tambahan penghasilan diluar, kecuali bila Gereja
sudah memberi ijin kepadanya untuk hal itu. Hal
yang sama juga berlaku bagi seorang isteri
Asisten Gembala Sidang.
7.2.5.2. Hak cuti Asisten Gembala Sidang adalah selama
14 hari kalender yang akan diberikan setelah ia
melayani selama 12 bulan dan akan diberikan
tunjangan cuti sebesar 1 (satu) bulan gaji. Cuti
ini terlepas dari kepergian Asisten Gembala
Sidang untuk memimpin kegiatan pengabaran
Injil diluar gereja.
7.2.5.3. Asisten Gembala Sidang diberi hak memimpin
usaha-usaha Pengabaran Injil di luar Gereja
paling banyak 7 hari setiap tahun, kecuali
mendapat persetujuan dari Gereja terlebih
dahulu.
7.2.5.4. Gereja akan membiayai Asisten Gembala Sidang
untuk menghadiri rapat, konperensi, dan
seminar yang diselenggarakan oleh Gabungan
Gereja Baptis Indonesia, sebanyak- 2 kali
kesempatan dengan jumlah 9 hari pertahun,
29
kecuali sudah mendapat persetujuan dari Gereja
terlebih dahulu.
7.2.5.5. Asisten Gembala Sidang dan keluarganya
mendapat tunjangan pengobatan berdasarkan
rekomendasi dokter dan bukti pembayaran yang
sah dengan biaya maksimum 2 (dua) bulan gaji
pertahun.
7.2.5.6. Pada setiap akhir tahun Asisten Gembala Sidang
akan diberi persembahan kasih dari Gereja
berupa tunjangan Natal sekurang-kurangnya
sebesar 1 (satu) bulan gaji.
7.2.5.7. Gereja akan membayar iuran dana pensiun
bulanan selama ia menjalankan tugasnya
sebagai Asisten Gembala Sidang di Gereja.
7.2.5.8. Gaji Asisten Gembala Sidang ditetapkan dalam
Rapat Urusan Gereja pada setiap awal tahun
anggaran.
7.2.5.9. Rumah tinggal dan fasilitas lain untuk Asisten
Gembala Sidang ditetapkan dalam Rapat Urusan
Gereja.
7.2.6. Masa Jabatan
Asisten Gembala Sidang yang terpilih akan
melaksanakan tugas penggembalaan dengan setia
sampai secara fisik dan psikis tidak lagi mampu
melaksanakan tugas-tugasnya.
7.2.6.1. Purna tugas Asisten Gembala Sidang:
30
a) Asisten Gembala Sidang dapat menerima
tunjangan dana pensiun setelah melayani
sampai usia 58 tahun dan dapat diperpanjang
sampai usia 60 tahun hak tunjangan dana
pension harus diberikan, dan tetap dapat
melayani sebagai Asisten Gembala Sidang jika
masih dianggap mampu secara fisik dan psikis
untuk melaksanakan tugas-tugasnya.
b) Gereja akan memberitahukan kepada Asisten
Gembala Sidang yang akan memasuki masa
purna tugas sekurang-kurangnya 6(enam) bulan
sebelum tiba waktunya dan surat keputusan
Gereja akan diberikan kepada yang
bersangkutan sekurang-kurangnya 2(dua) bulan
sebelumnya.
c) Asisten Gembala Sidang yang memasuki masa
purna tugas, dan sudah melayani selama lebih
dari 25 tahun di Gereja, akan diberikan uang
pengabdian sejumlah 5(lima) kali gaji terakhir
dan tujangan untuk rumah tinggal pribadi.
7.2.6.2. Peletakan jabatan Asisten Gembala Sidang:
a) Asisten Gembala Sidang mempunyai hak untuk
meletakkan jabatannya.
b) Asisten Gembala Sidang yang meletakkan
jabatannya wajib memberitahukan secara
tertulis kepada Gereja dengan menuliskan
alasan-alasan yang jelas.
c) Asisten Gembala Sidang harus menyampaikan
permohonan peletakan jabatan, selambat-
31
lambatnya 60 (enampuluh) hari sebelum ia
meninggalkan pelayananya.
d) Asisten Gembala Sidang yang meletakan
jabatannya sudah harus menyerahkan seluruh
fasilitas dan inventaris yang disediakan oleh
gereja selambat-lambatnya 60 (enampuluh)
hari terhitung sejak berakhir masa
pelayanannya.
7.2.6.3. Pemberhentian Asisten Gembala Sidang:
a) Dapat diberhentikan dari jabatannya bila cara
hidupnya dinilai tidak sesuai dengan ajaran
Alkitab.
b) Dapat diberhentikan bila ia mulai memimpin
anggotanya ke arah ajaran yang bertentangan
dengan asas-asas / doktrin kaum Baptis.
c) Ketentuan (a) dan (b) juga berlaku bagi seorang
isteri Asisten Gembala Sidang.
d) Usul pemberhentian untuk Asisten Gembala
Sidang yang dikenai ketentuan (a) dan (b) wajib
diajukan oleh para Diakon atau Panitia
Perancang atas dasar permohonan tertulis yang
ditandatangani oleh 1/5 (seperlima) jumlah
anggota Gereja.
e) Para Diakon dan Panitia Perancang wajib
meneliti dan memastikan kebenaran dari
tuduhan yang menjadi dasar permohonan
tertulis tersebut, sebagai bahan untuk
meneruskannya kepada Gereja.
32
f) Asisten Gembala Sidang akan diberhentikan
melalui pemungutan suara secara tertulis
dalam suatu Rapat Urusan Gereja yang dihadiri
oleh sekurang-kurangnya 30% (tigapuluh per
seratus) dari jumlah anggota Gereja yang
terdaftar, dan disetujui sekurang-kurangnya
2/3(dua per tiga)dari jumlah anggota Gereja
yang hadir.
g Asisten Gembala Sidang yang terkena
ketentuan (a) dan(b) akan diberikan uang
pesangon maksimal 3 (tiga) bulan gaji pokok
dan sesuai hasil Rapat Urusan Gereja.
h) Asisten Gembala sidang yang terkena
ketentuan (a) dan (b) harus menyerahkan
fasilitas dan inventaris yang disediakan oleh
Gereja selambat-lambatnya 90 (sembilanpuluh)
hari setelah menerima surat Keputusan Rapat
Urusan Gereja.
7.2.7. Penahbisan Pendeta:
Penahbisan Pendeta dilaksanakan dengan langkah-
langkah sbb.:
7.2.7.1. Gereja membentuk Panitia Pentahbisan
Pendeta yang terdiri dari Gembala Sidang,
Diakon, dan ketua Panitia Pengabaran
Injil.
7.2.7.2. Panitia Pentahbisan mengundang seksi
Kependetaan Daerah untuk membentuk
Dewan Pentahbisan.
33
7.2.7.3. Dewan memeriksa calon dan memberi
rekomendasi kepada Gereja.
7.2.7.4. Panitia Pentahbisan menyelenggarakan
kebaktian pentahbisan.
7.3. Diakon
Diakon adalah pejabat gereja yang terpanggil secara khusus yang
dipilih dan ditetapkan serta ditahbiskan oleh gereja setempat untuk
membantu Gembala Sidang, dalam bidang pelayanan rohani dan
sosial.
7.3.1. Syarat-Syarat Diakon:
7.3.1.1. Telah menjadi angggota Gereja Baptis
Indonesia paling sedikit 5 tahun dan telah
menjadi anggota Gereja setempat sekurang-
kurangnnya 3 tahun.
7.3.1.2. Yakin akan panggilannya.
7.3.1.3. Memiliki hidup kerohanian seperti yang tertulis
dalam (Kisah Para Rasul 6:3; 1 Timotius 3:8-13;
dan Titus 1:5-9).
7.3.1.4. Seorang pemimpin yang setia di Gereja.
7.3.1.5. Setia terhadap denominasinya.
7.3.1.6. Dapat bekerja sama dengan Gembala Sidang.
7.3.2. Tugas Diakon
7.3.2.1. Diakon berusaha menjaga kesatuan jiwa
diantara sesama anggota Gereja dalam
suasana damai, sejuk, dan tenteram.
34
7.3.2.2. Diakon bertindak sebagai anggota panitia
penasehat dan bermusyawarah dengan
Gembala Sidang mengenai segala hal
berkenaan dengan pelayanan dan kegiatan
gereja.
7.3.2.3. Membantu Gembala Sidang dalam pelayanan
Mimbar.
7.3.2.4. Apabila gereja tidak mempunyai Gembala
Sidang, maka Diakon yang akan menangani
pekerjaan penggembalaan.
7.3.2.5. Membantu Gembala Sidang dalam
menyelenggarakan Upacara Perjamuan Tuhan.
7.3.2.6. Bekerja sama dengan Panitia Tolong
Menolong dalam pelayanan sosial Gereja.
7.3.2.7. Memberikan nasihat dan teladan kepada
anggota Gereja.
7.3.2.8. Memperhatikan keperluan rumah tangga
Gembala Sidang dengan berkoordinasi
bersama Ketua-ketua Panitia di Gereja yang
tugasnya berhubungan dengan hal tersebut,
seperti Panitia Bangunan, Panitia Tolong
Menolong, Panitia Keuangan, dan sebagainya.
7.3.3. Pemilihan Diakon:
7.3.3.1. Diakon dipilih dari anggota oleh Gereja, dan
jumlahnya akan disesuaikan dengan
keperluan Gereja.
35
7.3.3.2. Langkah-langkah pemilihan Diakon adalah
sebagai berikut:
a) Gereja membentuk panitia pencalonan
Diakon.
b) Setiap anggota gereja mengusulkan nama
calon Diakon secara tertulis
c) Nama-nama yang diusulkan oleh anggoa
gereja untuk menjadi Diakon, diundang
untuk mengikuti kursus tentang
kediakonan.
d) Panitia pencalonan Diakon akan
menghubungi calon berdasarkan urutan
suara terbanyak.
e) Apabila seorang calon bersedia untuk
melayani sebagai Diakon, maka panitia
pencalonan Diakon akan mengusulkan dia
sebagai calon Diakon kepada Gereja.
.f) Pemilihan diadakan secara musyawarah
untuk mufakat, jika tidak tercapai
kemufakatan, maka pemilihan diadakan
secara tertulis dan disetujui sekurang-
kurangnya 3/4(tiga perempat) suara dari
anggota Gereja yang hadir.
7.3.4. Penahbisan Diakon dilaksanakan sebagai berikut:
7.3.4.1. Panitia pencalonan mengundang Dewan
Penahbisan yang terdiri dari Gembala Sidang,
diakon, 2 Diakon dari Gereja Baptis lain, dan
Ketua Seksi Kependetaan Badan Pengurus
36
Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia.
Dewan Pentahbisan memeriksa para calon dan
selanjutanya memberi rekomendasi kepada
gereja.
7.3.4.2. Mengadakan kebaktian khusus Penahbisan.
7.3.5. Masa Jabatan
8.3.5.1. Diakon akan melayani dalam jabatannya
selama dikehendaki Tuhan yaitu secara fisik
dan psikis mampu untuk melayani sebagai
seorang Diakon Gereja.
7.3.5.2. Diakon dapat mengundurkan diri dari jabatan
diakon atas permintaan sendiri.
7.3.5.3. Diakon dapat diberhentikan dari jabatannya
bila cara hidupnya tidak sesuai dengan
ajaran Alkitab.
7.3.5.4. Diakon dapat diberhentikan bila ia memimpin
jemaat ke arah ajaran yang bertentangan
dengan asas kepercayan kaum Baptis.
7.3.5.5. Diakon dapat diberhentikan dari jabatan bila
isterinya melakukan hal tersebut dalam ayat
7.3.5.3 dan ayat 7.3.5.4.
PASAL 8
SEKRETARIS DAN BENDAHARA
8.1. Sekretaris Gereja
37
Sekretaris Gereja adalah seorang anggota Gereja yang dipilih
setiap satu tahun sekali dalam suatu Rapat Urusan Gereja. Pada
dasarnya seorang Sekretaris Gereja dapat dipilih untuk melayani
dalam 2(dua) tahun berturut-turut. Sekretaris Gereja
bertanggung jawab kepada Gereja, dengan tugas-tugas sebagai
berikut:
8.1.1. Mencatat dengan lengkap, teratur dan sistematis segala
keputusan rapat dan laporan kegiatan Gereja, dan
dibuatkan arsipnya dengan baik.
8.1.2. Membuat daftar anggota Gereja dengan mencantumkan
tanggal masuk, keluar, serta alamat terakhirnya.
8.1.3. Mengurus surat-surat Gereja baik masuk dan keluar,
serta mengarsipkannya dengan tertib dan teratur.
8.1.4. Dalam hal tertentu, menandatangani surat-surat keluar
dari Gereja.
8.1.5. Menyiapkan bahan-bahan rapat Panitia Perancang dan
Rapat Urusan Gereja.
8.1.6. Ikut serta sebagai anggota Panitia Perancang.
8.2. Bendahara Gereja
Bendahara Gereja adalah seorang anggota Gereja yang dipilih
setiap satu tahun sekali dalam suatu Rapat Urusan Gereja. Pada
dasarnya seorang Bendahara dapat dipilih untuk melayani
selama 2(dua) tahun berturut-turut. Seorang Bendahara
bertanggung jawab kepada Gereja, dengan tugas-tugas sebagai
berikut:
8.2.1. Menerima dan menyimpan semua uang yang masuk ke
Gereja, menyimpan semua buku-buku dan catatan-
38
catatan keuangan, surat-surat berharga, dan arsip-arsip
penting lainnya.
8.2.2. Menyelenggarakan pembukuan keuangan Gereja dengan
sistim pembukuan yang berlaku umum.
8.2.3. Melakukan pembayaran untuk semua pengeluaran yang
telah dianggarkan.
8.2.4. Memberikan laporan keuangan bulanan pada setiap
rapat Panitia Perancang, demikian pula memberikan
laporan tahunan pada akhir tahun anggaran.
8.2.5. Menyimpan semua buku kas, catatan-catatan, dan bukti-
bukti penerimaan dan pengeluaran milik Gereja. Berkas
tersebut harus selalu tersedia untuk diperiksa oleh
setiap anggota Gereja, atas persetujuan tertulis dari
Panitia Keuangan.
8.2.6. Ikut serta sebagai anggota Panitia Perancang.
PASAL 9
ORGANISASI GEREJA
9.1. Organisasi dalam Gereja terdiri dari Persekutuan Pria Baptis,
Persekutuan Wanita Baptis, Persekutuan Kaum Muda Baptis,
dan Sekolah Minggu yang Pengurusnya terdiri dari Ketua dan
beberapa anggota Pengurus yang dipilih satu tahun sekali
dalam suatu Rapat Urusan Gereja.Pada dasarnya seorang
Pengurus Organisasi Gereja dapat dipilih untuk 2(dua) tahun
berturut-turut Ketua dari masing-masing Organisasi Gereja ikut
39
serta sebagai anggota Panitia Perancang. Seorang Pengurus
Organisasi Gereja bertanggung jawab kepada Gereja dengan
tugas-tugas sebagai berikut:
9.1.1. Persekutuan Pria Baptis (PBI).
a) Mengkoordinir kegiatan pria di Gereja dalam
pengembangan dan peningkatkan pelayanan
dan pengabdian kaum pria.
b) Menanamkan rasa tanggung jawab kaum pria
dan peranannya baik secara pribadi maupun
bersama-sama dalam pertumbuhan Gereja dan
pengabaran Injil.
c) Membina kaum pria dalam kegiatannya melalui
berbagai upaya untuk mengembangkan profesi
dan kemampuannya guna mempersiapkan
kaum Pria Baptis dalam pengabdiannya sebagai
jemaat Gereja dan warga negara yang baik.
d) Merencanakan dan melaksanakan kegiatan-
kegiatan kaum pria dengan tujuan
meningkatkan kerohanian, penyerahan hidup,
persekutuan, penginjilan, dan pelayanan, serta
pengabdian masyarakat.
e) Melaporkan kegiatan Organisasinya setiap
bulan kepada Gereja melalui rapat Panitia
Perancang.
9.1.2. Persekutuan Wanita Baptis (WBI).
a) Mengkoordinir kegiatan wanita di Gereja dalam
pengembangan dan peningkatkan pelayanan
dan pengabdian kaum wanita.
40
b) Menanamkan rasa tanggung jawab dan
peranan kaum wanita baik secara pribadi
maupun bersama-sama dalam pertumbuhan
Gereja.
c) Membina kaum wanita dalam kegiatannya
melalui berbagai upaya lain untuk
mengembangkan profesinya guna
mempersiapkan Kaum Wanita Baptis dalam
pengabdiannya sebagai jemaat Gereja dan
warga negara yang baik.
d) Merencanakan dan melaksanakan kegiatan-
kegiatan kaum wanita dengan tujuan
meningkatkan kerohanian, penyerahan hidup,
persekutuan, penginjilan, dan pelayanan, serta
pengabdian masyarakat.
e) Merencanakan kegiatan khusus dan ikut
terlibat aktif dalam menyokong Kegiatan Doa
antara lain Pekan Doa Pengabaran Injil se-
Dunia, Pekan Doa Pengabaran Injil se-
Indonesia, Hari Doa dan sebagainya.
f) Melaporkan kegiatan Organisasinya setiap
bulan kepada Gereja melalui rapat Panitia
Perancang.
9.1.3. Persekutuan Kaum Muda Baptis. (PKMB) adalah
persekutuan yang terdiri dari kaum Remaja dan Pemuda
dalam Gereja Baptis.
a) Mengkoordinir kegiatan Kaum Muda Baptis
dalam pengembangan dan peningkatkan
pelayanan dan pengabdian kaum muda.
41
b) Menanamkan rasa tanggung jawab kaum muda
dan peranannya baik secara pribadi maupun
bersama-sama dalam pertumbuhan Gereja.
c) Membina kaum muda dalam kegiatannya
melalui berbagai upaya lain untuk
mengembangkan perannya guna
mempersiapkan kaum muda dalam
pengabdiannya sebagai jemaat Gereja dan
warga negara yang baik.
d) Merencanakan dan melaksanakan kegiatan-
kegiatan kaum muda dengan tujuan
meningkatkan kerohanian, penyerahan hidup,
persekutuan, penginjilan, dan
pelayanan, serta pengabdian masyarakat.
e) Membina kaum muda dalam kegiatannya
melalui pengarahan, kursus, bimbingan dan
sebagainya.
f) Melaporkan kegiatan Organisasinya setiap
bulan kepada Gereja melalui rapat Panitia
Perancang.
9.1.4. Sekolah Minggu (SM)
a) Memimpin, merencanakan, menyelenggarakan,
dan mengevaluasi pendidikan Alkitab melalui
Sekolah Minggu.
b) Memimpin para petugas Sekolah Minggu
Gereja dalam menggali potensi untuk
pertumbuhan Sekolah Minggu. Membuat
42
rencana untuk menjangkau lebih banyak orang
bagi Kristus.
c) Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan
membentuk sikap petugas Sekolah Minggu
dengan mengadakan kursus, seminar,
pertemuan petugas Sekolah Minggu dan
sebagainya.
d) Memimpin dalam penjangkauan orang di luar
Gereja melalui Sekolah Minggu.
e) Ketua Umum Sekolah Minggu akan mencari dan
memilih calon Sekretaris Administrasi Sekolah
Minggu yang akan diusulkan kepada Gereja
untuk dipekerjakan di Gereja sebagai pegawai
kontrak Gereja.
f) Mengatur dan mengawasi pelaksanaan tugas
dari Sekretaris Adminstrasi Sekolah Minggu,
dan melakukan evaluasi dan penilaian dari
kinerjanya.
g) Melaporkan kegiatan Organisasinya setiap
bulan kepada Gereja melalui rapat Panitia
Perancang.
9.2. Syarat-syarat seorang Pengurus Organisasi Gereja:
a) Sudah menjadi anggota Gereja setia.
b) Sudah membuktikan kesetiaan dirinya dalam
pelayanan di Gereja sekurang- kurangnya 2
tahun.
43
c) Dewasa dalam kerohaniannya dan memiliki
kehidupan kesusilaan yang baik.
d) Terpanggil untuk melaksanakan tugas yang
dipercayakan Gereja kepadanya.
PASAL 10
PANITIA-PANITIA
10.1. Panitia-Panitia gereja terdiri dari Ketua Panitia dan beberapa
anggota Panitia yang dipilih satu tahun sekali dalam Rapat
Urusan Gereja. Pada dasarnya seseorang dapat dipilih 2(dua)
periode berturut-turut. Panitia Gereja bertanggung jawab
kepada Gereja, dengan tugas-tugas sebagai berikut:
10.1.1. Panitia Pencalonan dan Evaluasi:
a) Memilih dan menghubungi orang-orang yang
dinilai memenuhi syarat untuk diusulkan
kepada Gereja untuk melayani sebagai
Pengurus Organisasi atau Panitia Gereja.
b) Menjelaskan detail tugas dari setiap calon
Pengurus Organisasi atau Ketua Panitia Gereja.
c) Mengevaluasi pelaksanaan tugas setiap
Pengurus Organisasi atau Panitia, dan memilih
serta menghubungi calon pengganti yang
diperlukan kepada Gereja.
44
d) Menyelenggarakan acara kebaktian khusus
pelantikan Pengurus Organisasi atau Ketua
Panitia Gereja.
e) Melaporkan kegiatan Panitianya setiap bulan
kepada Gereja melalui rapat Panitia Perancang.
10.1.2. Panitia Keanggotaan:
a) Meneliti latar belakang dan pribadi para calon
anggota Gereja.
b) Bilamana dinilai baik, maka Panitia akan
merekomendasikan para calon anggota kepada
Gereja, dan juga orang-orang yang ingin pindah
dari Gereja lain untuk menggabungkan diri
menjadi anggota di Gereja setempat.
c) Menyelidiki alasan dan sebab-sebab dari
anggota yang meminta mengundurkan diri dari
gereja.
d) Mempersiapkan dan mengatur pembimbing
bagi orang-orang yang mengambil keputusan
dalam kebaktian Gereja.
e) Menindak lanjuti dan membimbing orang-orang
yang mengambil keputusan dan memerlukan
pembinaan lebih lanjut.
f) Membuat catatan memutahirkan data tentang
mutasi anggota Gereja.
g) Mengadakan pembinaan anggota Gereja.
45
h) Bilamana belum ada sistim Nomor Induk
Anggota Gereja, bekerja sama dengan
Sekretaris Gereja menyusun Nomor Induk
Keanggotaan (NIK).
i) Melaporkan kegiatan Panitia setiap bulannya
kepada Gereja melalui rapat Panitia Perancang.
10.1.3. Panitia Keuangan:
a) Merencanakan dan menyiapkan rencana
anggaran belanja tahunan dengan mengacu
pada anggaran tahun berjalan dan tahun-tahun
sebelumnya, dan juga dengan
mempertimbangkan masukan-masukan dari
semua panitia dan organisasi gereja, untuk
diusulkan kepada Gereja melalui Pantia
Perancang.
b) Mengevaluasi secara berkala anggaran belanja
dan pendapatan yang sedang berjalan.
c) Memeriksa laporan keuangan bulanan dan
tahunan berdasarkan bukti-bukti (Rekening
koran, Tabungan, Bilyet Deposito, dll.) yang
dibuat oleh Bendahara untuk diajukan kepada
Gereja.
e) Merencanakan dan mengatur orang-orang yang
akan bertugas mengambil persembahan,
perpuluhan, persembahan khusus dan juga
yang akan menghitung/mencatat persembahan
dan perpuluhan yang masuk untuk selanjutnya
diserahkan kepada Bendahara Gereja.
46
f) Mengusulkan kepada Gereja untuk menunjuk
sekurang-kurangnya dua orang anggota Gereja
yang mengerti administrasi keuangan untuk
mengaudit keuangan Gereja sekurang-
kurangnya sekali setahun.
g) Melaporkan kegiatan Panitia setiap bulannya
kepada Gereja melalui rapat Panitia Perancang.
10.1.4. Panitia Pengabaran Injil
a) Merencanakan program pengabaran Injil Gereja
baik ke dalam maupun ke luar, baik untuk
jangka pendek, menengah dan panjang, untuk
diusulkan kepada Gereja melalui Panitia
Perancang.
b) Mengadakan kunjungan secara berkala ke pos-
pos Pengabaran Injil, dan cabang-cabang, untuk
melakukan pembinaan.
c) Mengadakan survei dan penelitian ke tempat-
tempat yang diproyeksikan untuk menjadi pos
Pengabaran Injil/cabang, dan saudara angkat
baru.
d) Melakukan koordinasi dengan Organisasi-
Organisasi Gereja (SM, WBI, PBI, PKMB) dalam
pelaksanaan program Pengabaran Injil.
e) Melaksanakan program pelatihan Pengabaran
Injil melalui kursus, seminar, dan sebagainya
untuk para anggota Gereja.
f) Mengevaluasi pelaksanaan program Penginjilan
Gereja secara berkala.
47
g) Melaporkan kegiatan Panitia setiap bulannya
kepada Gereja melalui rapat Panitia Perancang.
10.1.5. Panitia Upacara Gereja dan upacara lain
a) Mengkoordinir pelaksanaan upacara Gereja.
Menyediakan dan memelihara alat-alat upacara
Gereja.
b) Bertanggung jawab untuk mempersiapkan dan
membereskan alat yang dipakai dalam upacara
Gereja.
c) Mengusulkan untuk pengadaan alat-alat dan
bahan yang akan dipergunakan untuk upacara
Gereja.
e) Melaporkan kegiatan Panitia setiap bulannya
kepada Gereja melalui rapat Panitia Perancang.
10.1.6. Panitia Tolong Menolong
a) Menolong anggota Gereja yang mengalami
kesusahan dan memerlukan pertolongan
(misalnya menderita sakit, anggota keluarganya
meninggal dunia, memerlukan bantuan biaya
untuk pendidikan, terkena musibah kebakaran,
kebanjiran dan sebagainya)
b) Memberi bantuan yang sepantasnya, sesuai
dengan kemampuan keuangan Gereja, untuk
memenuhi kebutuhan darurat anggota Gereja.
c) Menolong anggota Gereja dengan: memberi
nasihat/saran, dorongan, peningkatan
ketrampilan, mencarikan pekerjaan,
48
memasukan anak ke sekolah, panti
asuhan/yatim piatu, rumah jompa dan
sebagainya.
d) Mengkoordinir anggota Gereja untuk hadir dan
berperan serta dalam menolong anggota
Gereja dan keluarganya yang sakit dan atau
mengalami musibah.
e) Menilai kelayakan atas seseorang anggota
Gereja yang memerlukan bantuan dari Gereja.
f) Mewakili Gereja keluar dalam usaha pelayanan
setelah mendapat persetujuan dari Gereja.
g) Melaporkan kegiatan Panitia setiap bulannya
kepada Gereja melalui rapat Panitia Perancang.
10.1.7. Panitia Penyambut Tamu
a) Mencari anggota Gereja yang bersedia
melayani sebagai Penyambut Tamu.
Merencanakan dan mengatur pelaksanaan
tugas penyambut tamu gereja dalam kebaktian
dan acara istimewa lainnya: misalnya Natal,
Paskah, Kebaktian Kebangunan Rohani dan lain
sebagainya.
b) Menyambut, mengantar, menemani, memberi
kartu tamu dan memberi informasi tentang
kegiatan Gereja kepada tamu yang baru
pertama kali datang ke kebaktian di Gereja.
c) Mendata tamu-tamu yang datang dalam satu
buku tamu Gereja.
49