The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by khoirunnisyaisyah, 2022-03-18 23:13:03

E-book Biologi Materi Spermatophyta Berbasis Inkuiri Terbimbing (Nur Sakinah Hasibuan)

E-book Spermatophyta

TUMBUHAN BERBIJI

Gambar 3.67. Bunga Mangga (Mangifera indica) Mangifera indica merupakan
(Sumber : Pribadi) pohon yang sepanjang tahun terus
memiliki daun hijau dan dapat tumbuh
hingga 10-45 m. Tanaman ini berbentuk
kubah dengan dedaunan lebat, dan
biasanya memiliki percabangan berat
yang berasal dari batang yang kokoh.

Bunga kecil berwarna putih
kemerahan atau hijau kekuningan dan
tumbuh di ujung percabangan dengan
jumlah sekitar 3000. Buah tanaman
mangga memiliki biji besar dan memiliki
banyak variasi dalam bentuk dan ukuran.
Daging buahnya tebal dan berwarna
kuning, memiliki satu biji dan kulit
kekuningan ketika matang (Luqyana dan
Patihul, 2019).

c. Famili Sapindaceae
Anggota Sapindaceae ada yang berupa perdu, pohon, dan liana. Beberapa

anggotanya yang penting secara ekonomis. Sifat khusus dari jenis baru ini adalah
mempunyai sepasang organ mirip stipula yang melekat pada dasar tangkai daun.
Contohnya, kelengkeng (Dimocarpus longan L.) dan rambutan (Nephelium
lappaceum L.) (Djuita, 2012).

SPERMATOPHYTA 91

TUMBUHAN BERBIJI

Dimocarpus longan

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Familia : Sapindaceae
Genus : Dimocarpus
Spesies : Dimocarpus

longan

Gambar 3.68. Daun Kelengkeng (Dimocarpus longan) Deskripsi
(Sumber : Aini, 2013)
Lengekeng (Dimocarpus longan L)
Gambar 3.69. Daun Kelengkeng (Dimocarpus longan)
(Sumber : Tyas, 2013) merupakan salah satu tanaman asli dari

Asia Tenggara yang termasuk dalam famili

sapindaceae. Lengkeng sudah

dibudidayakan di beberapa daerah di

Indonesia, termasuk di Jember seperti

lengkeng local, Diamond river, pingpong dan

itoh (Aini dkk, 2014).

Morfologi pada tanaman kelengkeng

yaitu pada akar tunggang lebih dari 3 m

dalamnya. Akar penyerap ini mempunyai

fungsi menyerap air maupun zat makanan.

Akar pada kelengkeng mempunyai jaringan

pengangkut berupa floem dan xylem. Floem

pada kelengkeng terbagi menjadi dua

macam yakni floem primer dan floem

sekunder.

SPERMATOPHYTA 92

TUMBUHAN BERBIJI

Kelengkeng merupakan tanaman
keras mempunyai batang dan kayu yang
kuat, sistem perakaran akar tunggang.

Daun kelengkeng termasuk daun
amjemuk tiap tangkai emmiliki tiga sampai
enam pasang helai daun. Brntuk bulat
Panjang, ujungnya agak runcing tidak
berbulu, tepinya rata dan permukaannya
mempunyai lapisan lilin (Oktafiani dkk,
2020).

Gambar 3.70. Buah Kelengkeng (Dimocarpus longan)
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020)

Nephelium lappaceum

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Familia : Sapindaceae
Genus : Nephelium
Spesies : Nephelium

lappaceum

Gambar 3.71. Buah Rambutan (Nephelium lappaceum)
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020)

SPERMATOPHYTA 93

TUMBUHAN BERBIJI

Deskripsi

Rambutan (Nephelium

lappaceum) merupakan tanaman buah

hortikultura berupa pohon dengan

famili Sapindacaeae. Tanaman ini

berasal dari daerah kepulauan di Asia

Tenggara. Rambutan dibudidayakan

sebagai tanaman pekarangan untuk

dimanfaatkan buahnya karena

mempunyai kandungan gizi, zat tepung,

sejenis gula yang mudah terlarut dalam

air, zat protein dan asam amino, zat

lemak, zat enzim-enzim yang esensial

dan nonesensial, vitamin, zat mineral

Gambar 3.72. Biji Rambutan (Nephelium lappaceum) makro, dan mikro yang menyehatkan.
(Sumber : Joanne dkk, 2016)
Buah rambutan berbentuk bulat

lonjong, panjang 3-5 cm, dan terdapat

duri (rambut) tempel dengan struktur

lemas/ kaku. Kulit buah berwarna hijau,

dan akan berubah menjadi kuning/

merah apabila buah masak. Dinding

buah tebal. Daging buah berwarna putih

transparan, dapat dimakan, rasa

bervariasi dari masam sampai manis,

dan mengandung banyak air. Biji

terbungkus daging buah, berbentuk

elips dengan kulit tipis berkayu

(Purbasari, 2018).

Rambutan adalah buah yang

banyak dikonsumsi masyarakat dan

digunakan untuk pengobatan. Kulit buah

rambutan diketahui mengandung

senyawa aktif flavonoid. Beberapa

flavonoid dari tanaman diketahui

mempunyai aktivitas antioksidan

(Suparmi dkk, 2012).

SPERMATOPHYTA 94

TUMBUHAN BERBIJI

11. Ordo Solanales
a. Famili Solanaceae
Solanaceae (suku terung-terungan) merupakan salah satu suku

tumbuhan berbunga, herba atau perdu, dan kadang-kadang pohon. Suku
Solanaceae terbagi kurang lebih 80 genus dan seluruhnya mencakup sekitar
1.700 jenis, yang tersebar di daerah-daerah iklim panas sampai daerah-
daerah iklim sedang. Famili Solanaceae adalah salah satu famili terpenting
dalam hal memenuhi kebutuhan manusia. Contohnya, terong (Solanum
melangena), cabai (Capsicum annuum) (Krinawati dan Yuli, 2019).

Solanum melangena

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Familia : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : Solanum

melangena

Gambar 3.73. Tanaman Terong (Solanum melangena)
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020)

SPERMATOPHYTA 95

TUMBUHAN BERBIJI

Gambar 3.74. Buah Terong (Solanum melangena) Deskripsi
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020) Morfologi terung ungu memiliki
bentuk yang beragam yaitu silindris,
lonjong, oval atau bulat. Letak buah terung
tergantung dari tangkai buah. Dalam satu
tangkai umumnya terdapat satu buah
terung, tetapi ada juga yang memiliki lebih
dari satu buah. Biji terung terdapat dalam
jumlah banyak yang tersebar di dalam
daging buah. Daun kelopak melekat pada
dasar buah, berwarna hijau atau keunguan.
Bunga terung ungu sering disebut
sebagai bunga banci, karena memiliki dua
kelamin. Dlam satu bunga terdapat alat
kelamin. Dalam satu bunga terdapat alat
kelamin jantan (benang sari) dan alat
kelamin betina (putik). Bunga terung
bentuknya mirip bintang, berwarna biru
atau lembayung, cerah sampai gelap.
Penyerbukan bunga dapat berlangsung
secara silang maupun menyerbuk sendiri
(Oktafiani, 2020).

SPERMATOPHYTA 96

TUMBUHAN BERBIJI

Capsicum annuum

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Familia : Solanaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum

annuum

Deskripsi

Gambar 3.75. Tanaman Cabai (Capsicum annuum) Cabai adalah tanaman semusim yang

(Sumber : Pribadi) berbentuk perdu dengan perakaran akar

tunggang. System perakaran tanaman

cabai agak menyebar. Bunga cabai

berbentuk seperti terompet sama dengan

bunga pada Solanaceae lainnya. Bunga

cabai merupakan bunga lengkap yang

terdiri dari kelopak bunga, mahkota bunga,

benang sari dan putik terdapat dalam satu

tangkai dan bunga cabai ini keluar dari

ketiak daun.

Struktur buah cabai besar terdiri

atas kulit, daging buah dan dalamnya

terdapat sebuah plasenta (tempat biji

menempel secara tersusun). Buah cabai

banyak mengandung karotein, vitamin A

dan C (Oktafiani, 2020)

Gambar 3.76. Buah Cabai (Capsicum annuum)

(Sumber : Pribadi)

SPERMATOPHYTA 97

TUMBUHAN BERBIJI

b. Monocotyledone (Liliopsida)
Tumbuhan berkeping biji tunggal atau monokotil adalah salah satu

dari dua kelompok besar tumbuhan berbunga yang bijinya tidak membelah
karena hanya memiliki satu daun lembaga (Meilina, 2018).

Tumbuhan monokotil memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Keping biji tunggal atau satu.
Daun berbentuk pita dan panjang, bertulang daun sejajar dan
melengkung.
Sistem akar serabut.
Bagian bunga (kelopak bunga, mahkota bunga dan benang sari)
berjumlah kelipatan tiga.
Ujung akar dilindungi oleh koleoriza dan ujung batang
dilindungi oleh koleoptil.
Pada umumnya, batang dan akar tidak memiliki cambium
sehingg tidak terjadi pembuahan sekunder dan tidak tumbuh
membesar. Namun, ada pula tumbuhan monokotil yang
berkambium, misalnya sisal (Agave sisalana).
Pada umumnya, batang tidak bercabang, memiliki rambut-
rambut halus dan ruas-ruas pada batang tampak jelas.
Pada umumnya berdaun tunggal, kecuali pada kelompok palem.
(Irnaningtyas, 2016).

Tumbuhan monokotil mempunyai beberapa famili yang banyak
dimanfaatkan untuk memenuhi kelangsungan hidup sehari-hari adalah
sebagai berikut:

1. Ordo Liliales
a. Famili Liliaceae
Liliaceae merupakan semak basah, ada yang memanjat, memiliki

akar rimpang, umbi, atau umbi lapis. Contohnya, Lilium regale (bunga lili),
Sensevieria trifasciata (lidah mertua), Aloe vera (lidah buaya)

SPERMATOPHYTA 98

TUMBUHAN BERBIJI

Lilium regale

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Spermatophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Liliales
Familia : Liliaceae
Genus : Lilium
Spesies : Lilium regale

Gambar 3.78. Bunga Lili (Lilium regale) Deskripsi
(Sumber : Deswiniyanti dkk, 2016) Bunga lili berasal dari daerah yang
beriklim sedang yaitu bagian utara Eropa,
Amerika Utara dan Jepang, serta
merupakan tanaman herbal berumbi lapis,
yang memiliki tinggi 0,5 sampai 1,3m.
Bunga lili mempunyai manfaat dalam
menjaga kesehatan kulit dari
permasalahan ringan seperti kulit kering,
iritasi maupun peka (sensitive) terhadap
sesuatu, adanya kandungan karbohidrad
(polisakarida) dalam bunga, dapat
meningkatkan ketebalan atau pergesekan
internal (viskositas) dan kelembapan air
pada kulit (Gani, 2019).

Gambar 3.79. Kuncup Bunga Lili (Lilium regale)
(Sumber : Deswiniyanti dkk, 2016)

SPERMATOPHYTA 99

TUMBUHAN BERBIJI

Sensevieria trifasciata

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Spermatophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Liliales
Familia : Liliaceae
Genus : Sansevieria
Spesies : Sansevieria

trifasciata

Deskripsi

Gambar 3.80. Tanaman Lidah Mertua (Sensevieria Akar Sansevieria memiliki bentuk
trifasciata) akar serabut atau dengan sebutan wild
root (akar liar). Daun lidah mertua
Sumber : Pribadi

memiliki ciri khas dan mudah dikenal

karena daunnya bertekstur tebal dan

memiliki banyak kandungan air sehingga

dengan bentuk daun tersebut membuat

daun lidah mertua tahan akan kekeringan

karena proses penguapan air dan laju

transpirasi bisa ditekan.

Bentuk daun memanjang dan

runcing pada bagian ujung serta memiliki

pertulangan daun sejajar. Tanaman ini

bisa dijadikan penghias taman sampai

hotel berbintang, dan merupakan

tanaman import yang berawal dari

Afrika, namun sudah lama tumbuh di

Gambar 3.81. Akar Lidah Mertua (Sensevieria trifasciata) wilayah Indonesia (Jumadi, 2018).
Sumber : Pribadi

SPERMATOPHYTA 100

TUMBUHAN BERBIJI

Aloe vera

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Spermatophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Liliales
Familia : Liliaceae
Genus : Aloe
Spesies : Aloe vera

Gambar 3.82. Tanaman Lidah Buaya (Aloe vera) Deskripsi
Sumber : Pribadi Aloe vera atau yang lebih dikenal

sebagai lidah buaya merupakan tanaman asli

dari Afrika Selatan, Madagascar dan Arabia.

Ciri fisik dari tanaman ini adalah daunnya

berdaging tebal, panjang, mengecil kebagian

ujungnya, berwarna hijau serta berlendir.

Lidah buaya digunakan sebagai bahan

obat sejak beberapa ribu tahun yang lalu untuk

mengobati luka bakar, rambut rontok, infeksi

kulit, peradangan sinus, dan rasa nyeri pada

saluran cerna.Lidah buaya biasa digunakan

sebagai penyubur rambut, penyembuhan luka,

dan perawatan kulit. Tanaman ini bermanfaat

sebagai bahan baku, industri farmasi dan

kosmetik, serta sebagai bahan baku makanan

dan minuman kesehatan, obat-obatan yang

tidak mengandung bahan pengawet kimia

(Sewta dkk, 2015).

SPERMATOPHYTA 101

TUMBUHAN BERBIJI

Allium ascalonicum

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Spermatophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Asparagales
Familia : Liliaceae
Genus : Allium
Spesies : Allium

ascalonicum

Gambar 3.83. Bawang (Allium ascalonicum)
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020)

Deskripsi
Batang tanam bawang merah merupakan
bagian kecil dari keseluruha kuncup-kuncup.
Bagian bawah cakram merupakan tempat
tumbuh akar. Bagian atas batang sejati
merupakan umbi semu, berupa umbi lais yang
berasal dari modifikasi pangkal daun.

Daun bawang merah relative pendek,
berwarna hijau muda hingga tua. Berbentuk
silinder seperti pipa memanjang dan
berongga serta ujung runcing (Oktafiani dkk,
2020).

Gambar 3.84. Daun (Allium ascalonicum)
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020)

SPERMATOPHYTA 102

TUMBUHAN BERBIJI

2. Ordo Asparagales
a. Famili Orchidaceae
Orchidaceae merupakan kelompok anggrek yang merupakan
tumbuhan semak menahun. Sebagian orchidaceae hidup epifit,
mrmiliki akar rimpang, dan memiliki daum daun berdaging.

Dendrobium macrophylum

Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Spermatophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Asparagales
Familia : Orchidaceae
Genus : Dendrobium
Spesies : Dendrobium

macrophylum

Gambar 3.85. Bunga Lili (Dendrobium mecrophylum)
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020)

SPERMATOPHYTA 103

TUMBUHAN BERBIJI

Deskripsi
Bunga anggrek terdiri atas daun kelopak,
mahkota, benang sari, putik dan calon buah
serta daun kelopak dari tanaman anggrek ini
biasanya memiliki jumlah tiga buah. Susunan
daun berhadapan dan juga berselang-seling.

Akar berbentuk silindris yang daging
lunak serta mudah untuk patah. Akar
anggrek ini biasanya berfilamen, bertujuan
untuk melindungi akar terhadap kehilangan
air pada saat proses evapotranspirasi
(Oktafiani, 2020).

Gambar 3.86. Akar Bunga Lili (Dendrobium mecrophylum)
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020)

Dendrobium phaleonopsis

Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Spermatophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Asparagales
Familia : Orchidaceae
Genus : Dendrobium
Spesies : Dendrobium

phaleonopsis

Gambar 3.87. Tanaman Bunga Lili (Dendrobium phaleonopsis)
(Sumber : Ambarwati dkk, 2019)

SPERMATOPHYTA 104

TUMBUHAN BERBIJI

Deskripsi
Dendrobium phalaenopsis yang ditemukan
di lokasi penelitian mempunyai ciri-ciri
hidup secara epifit, memiliki pseudobulb
yang tidak terlihat, dan pertumbuhan
batang secara simpodial. Anggrek ini
memiliki daun berbentuk lanset yang
panjang dan berdaging tebal, warna daun
hijau muda hingga tua, mengkilap dan
bertekstur kaku. Anggrek ini memiliki
bunga yang tersusun dalam bentuk tandan,
tumbuh di buku-buku batang, bunga
menggantung. Anggrek ini memiliki bunga
berwarna ungu, putih atau perpaduan warna
tersebut serta memiliki mahkota bunga
berjumlah enam (Ambarwati dkk, 2019).

3. Ordo Arecales
a. Famili Palmae
Palmae berbentuk pohon atau memanjat. Pada batang , terdapat

bekas daun berbentuk cincin. Daun palmae menyirip atau berbentuk kipas,
dengan pangkal pelepah daun yang melebat.pohon (biasanya tidak
bercabang). Daun tunggal, bercangap, panjangnya dapat mencapai beberapa
meter. Bunga kecil, banci atau karena adanya reduksi salah satu alat
kelaminnya menjadi berkelamin tungga, tersusun dalam bunga majemuk
yang bersifat seperti malai. Contohnya, Cocos nucifera (kelapa)

SPERMATOPHYTA 105

TUMBUHAN BERBIJI

Cocos nucifera

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Monocotyledoneae
Ordo : Arecales
Familia : Arecaceae
Genus : Cocos
Spesies : Cocos nucifera

Gambar 3.88. Buah Kelapa (Cocos nucifera) Deskripsi
(Sumber : Pribadi) Kelapa Cocos nucifera suku arenan
merupakan salah satu tanaman Perkebunan
yang memiliki arti strategi bagi bangsa
Indonesia. Tanaman kelapa memiliki
perakaran yang kuat. Akarnya bertipe
serabut sebagaimana tanaman monokotil lain.
Batang pada tanaman kelapa hanya mempunyai
satu titik tumbuh terletak pada ujung dari
batang, sehingga tumbuhnya batang selalu
mengarah ke atas dan tidak bercabang.
Buah kelapa termasuk buah sejati
tunggal yang berdaging. Daging buah kelapa
biasanya diesktrak dan biasa disebut
santan(Ningrum, 2019).

SPERMATOPHYTA 106

TUMBUHAN BERBIJI

Colocasia esculenta

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Monocotyledoneae
Ordo : Arecales
Familia : Arecaceae
Genus : Colocasia
Spesies : Colocasia

esculenta

Gambar 3.89. Tanaman Talas (Colocasia esculenta) Deskripsi
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020) Talas memiliki batang dengan
bentuk yang bulat umumnya tumbuh tegak

dan juga memiliki percabangan daun tunggal

yang cukup besar. Akar talas adalah

adventif dengan tumbuh tegak di dalam

tanah adanya penggunaan akar serabut yang

dangkal tersusun dari sekelompok akar

adventif.

Daun talas memiliki bagiat tepi rata

disertai dengan pertulangan daun yang

sangat jelas. Berwarna putih kotor atau

putih kecoklatan.

Bunga dari tanaman ini berukuran 10

sehingga 30 cm dengan warna hijau ataupun

kemerahan bunga tanaman ini terpisah

Gambar 3.90. Daun Talas (Colocasia esculenta) dengan bunga jantan dan betina (Oktafiani

(Sumber : Oktafiani dkk, 2020) dkk 2020).

SPERMATOPHYTA 107

TUMBUHAN BERBIJI

4. Ordo Poales
a. Famili Poaceae
Poaceae merupakan kelompok rumput-rumputan. Poaceae memiliki

batang silindris, agak pipih, persegi dan berongga, berdaun tunggal dan
berpelepah. Bunga tersusun dalam bulir, berbiji satu dan batang berbuku-
buku. Contohnya, Oryza sativa (padi), Zea mays (jagung).

Oryza sativa

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Liliopsida
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa

Gambar 3.91. Tanaman Padi (Oryza sativa)
(Sumber : Pribadi)

SPERMATOPHYTA 108

TUMBUHAN BERBIJI

Gambar 3.92. Bunga Padi (Oryza sativa) Deskripsi
(Sumber : Pribadi) Akar pada tanaman padi dapat
dibedakan menjadi beberapa bagian
yaitu radikula, akar yang tumbuh
pada saat benih berkecembah. Akar
serabut. Batang beruas-ruas. Daun
tanaman padi termasuk daun tidak
lengkap karena hanya memiliki
helaian daun dan upih daun. Bunga
pada tanaman ini termasuk bunga
telanjang (Oktafiani dkk, 2020)

Gambar 3.93. Biji Tanaman Padi (Oryza sativa)
(Sumber : Pribadi)

SPERMATOPHYTA 109

TUMBUHAN BERBIJI

Zea mays

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Liliopsida
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays

Gambar 3.94. Tanaman Jagung (Zea mays) Deskripsi
(Sumber : Pribadi) Jagung memiliki tiga akar
serabut yang terdiri dari: (a) akar
Gambar 3.95. Buah Jagung (Zea mays) seminal; (b) akar adventif dan (c)
(Sumber : Pribadi) akar penyangga. Batang tanaman
jagung juga tidak bercabang,
berbentuk silindris dan terdapat
sejumlah ruas-ruas. Batang memiliki
tiga komponenn jaringan utama yaitu
kulit, jaringan pembuluh dan pusat
batang.
Jagung berumah satu karena
bunga jantan dan betinanya terdapat
dalam satu tanaman. Biji jagung
disebut kariopsis. Biji jagung terdiri
atas tiga bagian utama (a)
pericarp,(b) endosperm, (c) embrio
(lembaga) (Oktafiani dkk, 2020)

SPERMATOPHYTA 110

TUMBUHAN BERBIJI

b. Famili Bromeliaceae
Bromeliaceae termasuk kelompok nanas-nanasan yang berbentuk

semak basah (Irnaningtyas, 2016). Terna jarang mempunyai batang yang
kokoh kuat, kadang-kadang mirip rumput, bunga banci karena adanya
reduks, kadang-kadang berkelamin tunggal, aktinimorf atau zigomorf
(Oktafiani dkk, 2020). Contohnya, Annanas comosus (nanas).

Annanas comosus

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Liliopsida
Ordo : Bromeliales
Familia : Bromeliaceae
Genus : Annanas
Spesies : Annanas comosus

Gambar 3.96. Daun Nanas (Annanas comosus) Deskripsi
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020) Nanas berasal dari Brazilia
(Amerika Selatan ) di kawasan lembah
sungai Parana, Paraguay. Bangsa Indian
diduga melekukan seleksi dari berbagai
jenis nanas sehingga diperoleh jenis
ananas comosus yang enak dimakan dan
sekarang dibudidayakan secara luas
diseluruh dunia (Ardi dkk, 2019).
Akar tanaman nanas terdiri dari
akar tanah dan akar samping. Nanas
mempunyai batang yang pendek dan
tertutup oleh daun-daun dan akar
tanamannya.

SPERMATOPHYTA 111

TUMBUHAN BERBIJI

Batang tanaman nanas berkisar antara
20-30 cm.

Daun tanaman nanas tidak
memiliki tulang daun , daun berduri
serta panjang. Bentuk buah kerucut
dengan berat buah antara 0,5-1,1 kg.
Kulit buahnya memiliki sisik-sisik yang
simetris dan pada bagian ujung
buahnya memiliki mahkota yang bisa
digunakan sebagai perbanyakan
tanaman (Amda dkk, 2020).

Gambar 3.97. Buah Nanas (Annanas comosus)
(Sumber : Pribadi)

5. Ordo Caryophyllales
a. Famili Cactaceae
Cactaceae merupakan kelompok kaktus. Cactaceae memiliki batang

yang menyimpan air (sukulen). Daunnya kecil dan berbentuk sisik (rambut)
atau duri tempel. Kaktus dapat tumbuh pada waktu yang lama tanpa air.
Kaktus biasa ditemukan di daerah-daerah yang kering (gurun). Kaktus
memiliki akar yang panjang untuk mencari air dan memperlebar
penyerapan air dalam tanah. Air yang diserap kaktus disimpan dalam ruang
di batangnya. Kaktus juga memiliki daun yang berubah bentuk menjadi duri
sehingga dapat mengurangi penguapan air lewat daun.Contohnya Opuntia
elatior (buahnya dapat dimakan).

SPERMATOPHYTA 112

TUMBUHAN BERBIJI

Opuntia elatior

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Caryophyllales
Familia : Cactaceae
Genus : Opuntia
Spesies : Opuntia elatior

Gambar 3.98. Tanaman Opuntia eliator Deskripsi
(Sumber : Salsabila, 2020) Kaktus (Opuntia elatior) adalah
tumbuhan berbunga dan hidup liar di
Gambar 3.99. Buah Opuntia eliator daerah dataran tinggi dan kering. Buah
(Sumber : Salsabila, 2020) serta batangnya dapat digunakan untuk
menyiapkan produk bernilai tambah,
seperti lotion tubuh, shampo, krim, dan
selai. Kaktus termasuk tanaman dalam
family Cartaceae yang dapat digunakan
sebagai pewarna alami karena buahnya
mengandung pigmen alami betasianin.
Betasianin merupakan pigmen
berwarna merah violet dari kelompok
pigmen betalain. Betasianin berfungsi
memberikan warna merah dan
berpotensi menjadi pewarna alami
untuk lipstik yang lebih aman bagi
kesehatan dibanding pewarna sintetik
(Aanisah dkk, 2020).

SPERMATOPHYTA 113

TUMBUHAN BERBIJI

6. Ordo Zingiberales
a. Famili Musaceae
Musaseae merupakan kelompok pisang-pisangan. Musaseae

memiliki bentuk semak atau pohon, berbatang semu yang terdiri atas
pelepah daun, tulang daun menyirip dan bunga membentuk karangan.
Contohnya Musa paradisiaca (pisang).

Musa paradisiaca

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Liliopsida
Ordo : Musales
Familia : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa

paradisiaca

Gambar 3.100. Tanaman Pisang (Musa paradisiaca) Deskripsi
(Sumber : Pribadi) Pisang memiliki batang semu
(pseudostem) tingginya bervariasi
antara 1 samapai 4 meter. Pohon pisang
berakar rimpang dan tidak mempunyai
akar tunggang yang berpangkal pada
umbi batang. Daun pisang letaknya
tersebar, helaian daun berbentuk
lanset memanjang. Daun pisang mudah
sekali robek atau terkoyak oleh
hembusan angin yang keras karena
tidak mempunyai tulang-tulang pinggir
yang menguatkan lembaran daun. Bunga
pisang yang disebut jantung pisang
karena bentuknya menyerupai jantung.
Bunga pisang terdiri dari beberapa
lapisaSnPERMyAanTgOPHYdTisAebu1t14 seludang
(bractea).

TUMBUHAN BERBIJI

Bunga pisang terdiri dari beberapa

lapisan yang disebut seludang

(bractea). Seludang umumnya

berwarna merah tua. Diantara lapisan

seludang bunga terdapat bakal buah

yang disebut sisiran tandan, bunga

jantan dan bunga betina terjalin dalam

satu rangkaian yang terdiri dari 5-20

bunga. Rangkaian bunga ini nantinya

membentuk buah, yang disebut satu

sisir. Satu bunga jantung dapat pula

terdiri dari 1-2 rangkaian bunga

sehingga deretan sisirnya sangat

panjang.

Kulit buah pisang kemerahan

Gambar 3.101. Bunga Pisang (Musa paradisiaca) berbintik-bintik coklat, daging buah
(Sumber : Pribadi)
tebal dan tipis juga tergantung
Gambar 3.102. Buah Pisang (Musa paradisiaca)
(Sumber : Pribadi) varietas pisangnya. Buah pisang

tersusun dalam tandan tiap tandan

terdiri atas beberapa sisir dan tiap

sisir terdapat 6-22 buah pisang

tergantung varietasnya. Buah pisang

umumnya tidak berbiji kecuali pada

pisang kluthuk. Ukuran buah pisang

bervariasi tergantung pada

varietasnya. Panjang antara 10-18 cm

dengan ukuran diameter sekitar 2,5-

4,5 cm (Widarmo, 2021).

Organ tanaman pisang sudah

banyak dimanfaatkan, terutama yang

sering dimanfaatkan yaitu buahnya.

Buah pisang dapat dikonsumsi secara

langsung dan dapat pula diolah menjadi

berbagai jenis olahan makanan seperti

kripik pisang, selei pisang, pisang

goreng, dan lain-lain (Sariamanah dkk,

2016).

SPERMATOPHYTA 115

TUMBUHAN BERBIJI

b. Famili Zingiberaceae
Zingiberaceae merupakan kelompok jahe-jahean. Zingiberaceae

berbentuk semak basah menahun dan memiliki batang tegak dengan daun
berpelepah yang memeluk batang. Contohnya Zingiber officinale (jahe),
Alpina galanga (lengkuas), Curcuma domestica (kunyit).

Zingiber officinale

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Familia : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber

officinale

Gambar 3.103. Tanaman Jahe (Zingiber officinale) Deskripsi
(Sumber : Pribadi) Jahe termasuk tanaman
tahunan, berbatang semu, dan berdiri
tegak dengan ketinggian mencapai 0,75
m. Perakaran tanaman jahe merupakan
akar tunggal yang semakin membesar
seiring dengan umurnya, hingga
membentuk rimpang serta tunas-tunas
yang akan tumbuh menjadi tanaman
baru. Akar tumbuh dari bagian bawah
rimpang, sedangkan tunas akan tumbuh
dari bagian atas rimpang.

SPERMATOPHYTA 116

TUMBUHAN BERBIJI

Gambar 3.104. Rimpang Jahe (Zingiber officinale) Batang pada tanaman jahe
(Sumber : Pribadi) merupakan batang semu yang tumbuh
tegak lurus, berbentuk bulat pipih,
Gambar 3.105. Bunga Jahe (Zingiber officinale) tidak bercabang tersusun atas
(Sumber : Pribadi) seludang- seludang dan pelepah daun
yang saling menutup sehingga
membentuk seperti batang. Bagian luar
batang berlilin dan mengilap, serta
mengandung banyak air/succulent,
berwarna hijau pucat, bagian pangkal
biasanya berwarna kemerahan.

Bentuk bunga bervariasi:
panjang, bulat telur, lonjong, runcing,
atau tumpul. Bunga berukuran panjang 2
- 2,5 cm dan lebar 1 - 1,5 cm. Setiap
bunga dilindungi oleh daun pelindung
berwarna hijau berbentuk bulat telur
atau jorong. Jahe merupakan tanaman
berkelamin dua (hermaprodit)
(Wahyuno dkk, 2011).

Jahe bisa dimanfaatkan sebagai
bumbu masakan, bahan obat tradisional,
atau dibuat minuman. Sebagai bumbu
masakan, kandungan zat gizi dalam jahe
dapat melengkapi zat-zat gizi pada
menu utama dan membantu melancarkan
proses pencernaan.

Jahe dimanfaatkan sebagai
bahan obat herbal karena mengandung
minyak atsiri. Jahe dapat dimanfaatkan
untuk mengobati penyakit vertigo,
mual-mual, mabuk perjalanan, demam,
batuk, gangguan saat menstruasi,
kanker, dan penyakit jantung (Aryanta,
2019).

SPERMATOPHYTA 117

TUMBUHAN BERBIJI

Alpina galanga

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Familia : Zingiberaceae
Genus : Alpina
Spesies : Alpina galanga

Gambar 3.106. Tanaman Lengkuas (Alpina galanga) Deskripsi
(Sumber : Pribadi) Merupakan tumbuhan terna
berumur panjang, tinggi sekitar 1
sampai 2 meter, bahkan dapat
mencapai 3,5 meter. Rimpang besar dan
tebal, berdaging, berbentuk silindris,
diameter sekitar 2-4 cm, dan
bercabang-cabang. Bagian luar
berwarna coklat agak kemerahan,
mempunyai sisik-sisik berwarna putih
atau kemerahan, keras mengkilap,
sedangkan bagian dalamnya berwarna
putih (Pamugkas dkk, 2010).

Gambar 3.107. Rimpang Lengkuas (Alpina galanga)
(Sumber : Pribadi)

SPERMATOPHYTA 118

TUMBUHAN BERBIJI

Biasanya lengkuas digunakan
oleh masyarakat sebagai bahan bumbu
dapur sehari-hari sebagai penyedap
masakan karena aromanya yang khas.
Kegunaan lain dari rimpang lengkuas
adalah sebagai obat tradisional
berkhasiat menetralkan racun (anti
toksik), penurun panas (anti piretik),
menghilangkan rasa sakit (analgesik)
pencegah kanker, antioksidan, anti
tumor dan anti radang (Wibowo, 2013).

Gambar 3.108. Bunga Lengkuas (Alpina galanga)
(Sumber : Pribadi)

Curcuma longa

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Familia : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma

domestica

Gambar 3.109. Tanaman Kunyit (Curcuma longa)
(Sumber : Pribadi)

SPERMATOPHYTA 119

TUMBUHAN BERBIJI

Deskripsi

Secara alami, kunyit telah dikenal

untuk merawat kulit dan membantu

menyembuhkan luka. Kunyit telah lama

dikenal sebagai rimpang yang sangat

berkhasiat dan digunakan sebagai obat

tradisional sebagai obat luka. Ekstrak

rimpang kunyit berguna dalam proses

penyembuhan luka.

Rimpang kunyit memiliki khasiat

menyejukkan, membersihkan,

mengeringkan, menghilangkan gatal.

Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu

sebagai bahan obat tradisional, bahan baku

industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu

Gambar 3.110. Rimpang Kunyit (Curcuma longa) masak, peternakan dan lain-lain. Di samping
(Sumber : Pribadi)
itu rimpang tanaman kunyit juga bermanfaat
Gambar 3.111. Bunga Kunyit (Curcuma longa)
(Sumber : Pribadi) sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti

mikroba, pencegah kanker dan anti tumor

(Arisonya dkk, 2014).

Rimpang kunyit dapat digunakan

antara lain mengobati gusi bengkak, luka,

sesak nafas, sakit perut, bisul, sakit limpa,

usus buntu, encok, gangguan pencernaan,

perut kembung dan menurunkan tekanan

darah (Bustariannyo dkk, 2014).

Kunyit memiliki batang semu yang

tersusun dari kelopak atau pelepah daun

yang saling menutupi. Batang kunyit bersifat

basah karena mampu menyimpan air dengan

baik, berbentuk bulat dan berwarna hijau

keunguan. Tinggi batang kunyit mencapai

0,75 – 1m.

Daun kunyit tersusun dari pelepah

daun, gagang daun dan helai daun. daun

kunyit berbentuk bulat telur memanjang

dengan permukaan agak kasar. Pertulangan

daun rata dan ujung meruncing hijau muda.

SPERMATOPHYTA 120

TUMBUHAN BERBIJI

7. Ordo Pandanales
a. Famili Pandanaceae
Pandanaceae berbentuk pohon, perdu atau semak. Daun

pandanaceae terkumpul rapat dan bertulang daun sejajar. Daun yang rontok
meninggalkan bekas berbentuk cincin pada batangnya. Contohnya
Pandanus amaryllifolius (pandan wangi), Pandanus tectorius (pandan
tikar).

Pandanus amaryllifolius

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Liliopsida
Ordo : Pandanales
Familia : Pandanaceae
Genus : Pandanus
Spesies : Pandanus

amaryllifolius

Gambar 3.112. Tanaman Pandan Wangi (Pandanus Deskripsi
amaryllifolius) Pandan wangi merupakan
tumbuhan berupa perdu dan rendah,
(Sumber : Pribadi) tingginya sekitar dua meter. Batang
menjalar, daun berwarna hijau
kekuningan, kalua diremas daun ini
wangi.
Bunga majemuk, bentuk bongkol,
warna putih. Berakar gantung. Buahnya
buah batu, menggantung, bentuk bola,
warna jingga (Oktafiani dkk 2020).

SPERMATOPHYTA 121

TUMBUHAN BERBIJI

Pandanus tectorius

Klasifikasi

Kingdom :Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Liliopsida
Ordo : Pandanales
Familia : Pandanaceae
Genus : Pandanus
Spesies : Pandanus

tectorius

Gambar 3.113. Tanaman Pandan Tikar (Pandanus tectorius)
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020)

Deskripsi

Pandan tikar termasuk tumbuhan

berumah dua. Daunnya berbentuk pita

dengan ukuran Panjang 80-180 cm,

berwarna hijau, bertulang daun sejajar

dengan duri yang menempel pada tepi

daun.

Buahnya berbentuk bulat telur

dan berbentuk bola, kulit buah

berwarna hijau, kuning cenderung

jingga dan menjadi merah bila masak.

Daging buah berserat berwarna putih

kekuningan (Oktafiani dkk, 2020).

Gambar 3.114. Daun Pandan Tikar (Pandanus tectorius)
(Sumber : Oktafiani dkk, 2020)

SPERMATOPHYTA 122

TUMBUHAN BERBIJI

Perbedaan Tumbuhan Monokotil dan Tumbuhan Dikotil

Tabel 3.1. Perbedaan Tumbuhan Monokotil dan Tumbuhan Dikotil

Pembeda Tumbuhan Monokotil Tumbuhan Dikotil
Akar Umumnya tersusun atas akar Umumnya tersusun atas akar
serabut. tunggang.
Batang Tidak berkambium
Berkambium dan bercabang-
Daun Daun berbentuk pita dan cabang.
panjang. Bertulang daun sejajar
dan melengkung. Daun lebar. Bertulang daun
menyirip atau menjari.

Bunga Umumnya bagian-bagian bunga Umumnya bagian bunga
berjumlah 3 atau kelipatannya. berjumlah 2, 4 dan 5 atau
kelipatannya.

Berkas Pembuluh kayu dan pembuluh Pembuluh kayu dan pembuluh
Pengangkut tapis tapis letaknya teratur.
Pada Batang letaknya tersebar pada batang. Pembuluh kayu sebelah dalam
dari pembuluh tapis.

Peranan Tumbuhan Berbiji Terbuka (Angiospermae)

Tumbuhan angiospermae dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan
manusia, antara lain sebagai berikut:

 Makanan pokok , contohnya padi, jagung, ubi jalar dan singkong.
 Bahan sayuran, contohnya bayam, katuk, labu, siam dan kacang

panjang
 Bahan obat-obatan, contohnya kina, jahe dan kunyit
 Namun demikian, ada pula tumbuhan angiospermae yang

merugikan, misalnya rumput yang tumbuh liar dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman budidaya pertanian (Irnaningtyas, 2016).

SPERMATOPHYTA 123

TUMBUHAN BERBIJI

DAFTAR PUSTAKA

Aanisah, N., Evi, S., & Yusriadi. (2020). Pemanfaatan Ekstrak Buah Kaktus
(Oputian elatior Mill.) sebagai Pewarna Alami pada Sediaan Lipstik. Jurnal
Sains dan Kesehatan, 2(4): 391-398.

Abbas. (2018). Morfologi dan Taksonomi Apel Manalagi (Malus sylvestris).

Adelina, S, O., Enny, A., & Hasriyanty. (2017). Identifikasi Morfologi dan Anatomi
Jeruk Lokal (Citrus Sp) di Desa Doda dan Desa Lempe Kecamatan Lore
Tengah Kabupaten Poso. Jurnal Agrotekbis, 5(1): 58-65.

Ai, N, S., & Patricia, T. (2013). Karakter morfologi akar sebagai indikator
kekurangan air pada tanaman (Root morphological characters as water-deficit
indicators in plants). Jurnal Bioslogos, 3(1): 31-39.

Ai, N, S., Maria, B. (2010). Peranan Air dalam Perkecambahan Biji. Jurnal Ilmiah
Sains. 10(2): 191-195.

Aini. (2013). Struktur Anatomi Daun Lengkeng (Dimocarpus Longan Lour.)
Kultivar Lokal, Pingpong, Itoh, dan Diamond River. Skripsi. Jember:
Universitas Jember.

Ambarwati., Indriyanto., & Yusnita. Identifikasi Spesies Orchidaceae di Blok
Koleksi Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman, Lampung Indonesia.
Jurnal Hutan Tropi. 7(1): 1-10.

Amda, P, P, E., Diana, S, H., & Emmy, H, K. (2020). Karakterisasi Morfologis dan
Hubungan Kekerabatan Tanaman Nanas (Ananas Comosus (L.) Merr.) di

Kabupaten Kampar dan Siak Provinsi Riau. Jurnal Ilmiah Rhizobia, 2(2):
134-145.

Ananda, M, M. (2020). Praktikum Botani Tumbuhan Tinggi. Banjarmasin:
Universitas Negeri Antasasri Banjarmasin.

Anggrawati, P, S., & Zelika, M, R. (2016). Review Artikel. Kandungan Senyawa
Kimia dan Bioaktivitas dari Jambu Air (Syzygium Aqueum Burn. F. Alston),
14(2): 331-344.

Aprilyanto, A., Hablan, A, N., Risyad, L., & Tarwiyah, H. (2017). Budidaya
Tanaman Hias Zamia furfuracea dan Zamioculcas zamiifolia. Makalah.
Karawang: Universitas Singaperbangsa Karawang.

Ardi, J., Meilia, A., & Muhammad, A. (2019). Keragaman Morfologi Tanaman
Nanas( Ananas Comosus (L) Merr) di Kabupaten Indragiri Hilir. Jurnal
Agro Indragiri, IV(1): 34-38.

SPERMATOPHYTA 124

TUMBUHAN BERBIJI

Ariani, S, R, D., Endang, S., Elfi, S., & Setiyani. (2008). Uji Aktivitas Ekstrak
Metanol Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Antifertilitas
Kontrasepsi pada Tikus Putih (Rattus norvegicus), 8(2): 264-270.

Aryanta, I, W, R. (2019). Manfaat Jahe Untuk Kesehatan. Jurnal Widya Kesehatan,
1(2): 39-43.

Aziz, I, R. (2020). Variasi Kromosom Familia Rutaceae di Indonesia. Jurnal
Teknosains, 14(1): 115-127.

Carolia, N., & Wulan, N. (2016). Potensi Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L.)
sebagai Alternatif Terapi Acne vulgaris, 5(1): 140-145.

Deswiniyanti, N, W., Ida, A, S., & Ni, M, P. (2016). Studi Fenologi Perbungaan
Lilium Longiflorum Thunb. Jurnal Metamorfosa, I(1): 6-10.

Djalil, A, D., Siti, M., Bayu, S, N, P., Erza, G., & Ika, Y, A. (2017). Potensi Biji
Orok-orok (Crotalaria juncea L.) sebagai Kandidat Obat Insomnia. Jurnal
Pharmascience, 4(1): 1-10.

Fahira, R, Y. (2020). Pengaruh Ekstrak Daun Bunga Pukul Empat (Mirabilis Jalapa)
Terhadap Kadar Glukosa Darah Mencit Jantan (Mus Musculus) Yang
Diinduksi Aloksan. Skripsi: Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung.

Fananiar, A., Nasrul, R, H., & Joko, W. (2018). Identifikasi Keragaman Tumbuhan
Berbiji (Spermatophyta) di Kawasan Pesisir Pantai Soge Pacitan. Prosiding
Seminar Nasional Simbiosis III: 254-260.

Fauzi, Z, R. (2010). Evaluasi Ketahanan Beberapa Varietas Kacang Tanah (Arachis
Hypogea L.) Terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia Arachidis Speg.).
Skripsi Diterbitkan. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim.

Fauziah, N., Noviyanti & Iqbal, M. (2016). The Utilization of Jambu Bol (Syzygium
malaccense (L). Merr. & Perry) Stem as a New Source of Antioxidants. Jurnal
Ilmiah Farmako Bahari, 10(1): 33-41.

Fitriana, A. (2018). Pengembangan Sumber Belajar Bio Pocketbook Berbasis Unity
of Sciences pada Materi Reproduksi Tumbuhan untuk Siswa Kelas X
di Sma Pondok Modern Selamat Kendal. Skripsi. Semarang: Universitas
Islam Negeri Walisongo Semarang.

Frantauansyah., Siti, N., & Baharuddin, H. (2013). Ekstrak Bunga Waru (Hibiscus
Tiliaceus) Sebagai Indikator Asam-Basa. Jurnal Akademika Kimia, 2(1): 11-
16.

SPERMATOPHYTA 125

TUMBUHAN BERBIJI

Gani, M. (2019). Bunga Lily Sebagai Ornamentasi Lampu Hias Untuk Elemen
Interior. Yogyakarta : Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Gunawan, B., Inarah F., & Eka, K, U. (2019). Analisis Senyawa pada Ekstrak
Etanol Daun Alamanda (Allamanda Cathartica) Sebagai Antifertilitas. Jurnal
Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran Untan , 4(1): 1-6.

Hanifa, H, M., & Sri, H. (2016). Morfoanatomi Daun Jambu Air (Syzygium
samarangense) var. Demak Normal dan Terserang Hama Ulat, 1(1): 24-29.

Hapsari, M, D, Y., & Teti, E. (2015). Variasi Proses dan Grade Apel (Malus
Sylvestris Mill) pada Pengolahan Minuman Sari Buah Apel: Kajian Pustaka.
Jurnal Pangan dan Agroindustri, 3(3): 939-949.

Haq, A, S. (2009). Pengaruh Ekstrak Herba Putri Malu (Mimosa Pudica Linn.)
Terhadap Efek Sedasi pada Mencit Balb/C. Karya Tulis Ilmiah. Semarang:

Universitas Negeri Semarang.

Hasnunidah, N., & Wisnu, J, W. (2019). Botani Tumbuhan Tinggi. Bandar
Lampung: Penerbit Graha Ilmu.

Hayah, N. (2016). Inventarisasi Jenis Tumbuhan Spermatophyta pada Tempat
Penjualan Tanaman Hias di Kota Banda Aceh Sebagai Referensi Mata Kuliah
Botani Tumbuhan Tinggi. Skripsi. Banda Aceh : Universitas Islam Negeri Ar-
Raniry Darussalam.

Hidayati, A, N., Nuri, A., & Ervizal, Z. (2020). Potensi Biji Kedawung (Parkia
timoriana (DC.) Merr) Sebagai Bahan Pangan Fungsional. Journal of Agro-
based Industry, 37(2): 90-98.

Hidriya, H., Dharmono.,& Sri, A. (2016). Dinamika Vegetasi Mimosaceae di
Kawasan Reklamasi Tambang Batubara PT. Adaro Indonesia Kabupaten
Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan. Prosiding Symbion (Symposium
Biology Education), 593-606.

https://pin.it/3pQydUB diakses tanggal 11 Maret 2022 Pukul 22:24 WIB.

https://pin.it/4xTqtlF diakses tanggal 11 Maret 2022 Pukul 22:20 WIB.

https://pin.it/5Cnp3IN diakses Pada Tanggal 02 Januari 2022 Pukul 11:30 WIB.

https://pin.it/7cFnruv diakses Pada Tanggal 12 Oktober 2021 Pukul 10:01 WIB.

https://pin.it/7s2geiJ diakses pada tanggal 12 Maret 2022 Pukul 00:13 WIB.

https://pin.it/jgvw8W8 diakses Pada Tanggal 16 Februari 2022 Pukul 22:50 WIB.

SPERMATOPHYTA 126

TUMBUHAN BERBIJI

https://rempahku.co.id/kedawung-raja-tumbuhan-obat-obatan-hutan/ diakses pada
tanggal 19 Februari 2022 Pukul 21:08 WIB.

https://roboguru.ruangguru.com/question/bagian-biji-yang-biasa-kita-makan-
pada-zea-mays- adalah-sbmptn-2016_L2nO5w18l58 diakses pada tanggal
16 Februari 2022 Pukul 21:02 WIB.

Irnaningtyas. (2016). Biologi Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Jamilah., Isril, B., Junaidi., Zuherna, M., Erwin & Nursidah. (2020). Program
Cerdas Penghijauan dengan Casuarina Equisetifolia di Pantai Parupuk
Tabing Kota Padang, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat,
4(2): 285-292.

Joanne, A., Edith, W, A., & Fellicia, E. (2016). Pemanfaatan Biji Rambutan
(Nephelium Lappaceum) Sebagai Alternatif Bahan Pengganti Kacang Tanah.

Jones, M., & Geoff, J. (2014). Cambridge IGCSE Biology Coursebook Third
edition. Cambridge: University Press.

Jumadi, J. (2018). Penggunaan Ekstrak Daun Lidah Mertua (Sansevieria Trifasciata
P.) Sebagai Ovisida Keong Mas (Pomecea Canaliculata L.). Skripsi.
Lampung : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Kalsum, U. (2016). Botani. Gunadarma: Universitas Gunadarma.

Kardela, W., Fira, F., & Shonya, M. (2018). Biji Melinjo (Gnetum gnemon L.) :
Aktivitas Sebagai Antidiare. Jurnal Farmasi Higea, 10(1): 49-56.

Karyati., Muhammad, A, A. (2018). Jenis-jenis Tumbuhan Bawah di Hutan
Pendidikan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Kalimantan
Timur: Penerbit Mulawarman University Press.

Krisnawati, Y., & Yuli, F. (2019). Identifikasi Tumbuhan Famili Solanaceae Yang
Terdapat di Kecamatan Tugumulyo. Jurnal Bio & Pend. Bio, 4(2): 73-84.4

Kristianto, D. (2019). Karakterisasi Beberapa Varietas Buah Apel (Malus
Sylvestris, Mill) di Kp Telekung, Balitjestro Jawa Timur. Prosiding Temu
Teknis Jabatan Fungsional Non Peneliti: 71-79.

Kruger, G., Louwrens, T., Anine, J., & Reto, J, S. (2017). Opportunistic Survival
Strategy of Welwitschia mirabilis: Recent Anatomical and Ecophysiological
Studies Elucidating Stomatal Behaviour and Photosynthetic Potential.
Article in Botany.

Kumala, F, N., & Hartatik. (2019). Konsep Tumbuhan. Malang: Penerbit Ediide
Infografika.

Larassati, A., & Mudji, S. Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Buncis

SPERMATOPHYTA 127

TUMBUHAN BERBIJI

(Phaseolus vulgaris L.) terhadap Biourine Sapi dan Pupuk Kandang
Kambing. Jurnal Produksi Tanaman, 7(4): 589-598.

Lestari, I. (2020). Praktikum Botani Tumbuhan Tinggi. Banjarmasin: Universitas
Islam Negeri Antasari Banjarmasin.

Luqyana, L., & Patihul, H. (2019). Aktivitas Farmakologi Tanaman Mangga
(Mangifera Indica L.): Review, 17(2): 187-194.

Lutfiasari, N., & Dharmono. (2018). Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Famili
Myrtaceae di Hutan Pantai Tabanio, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah
Laut. Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah, 3(1): 186-190.

Meilawati, N, L, W., Nurliani, B., Agus, P., & Dyah, M. (2016). Respon Tanaman
Lada (Piper ningrum L) Varietas Ciinten Terhadap Iradiasi Sinar Gamma.
Jurnal Litri, 22(2): 71- 80.

Munawaroh, E., & Yuzammi. (2017). Keanekaragaman Piper (Piperaceae) dan
Konservasinya di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Provinsi
Lampung, 22(2): 118-128.

Mustapa, M, A., & Ningsih, R, T. (2016). Bunga Kembang Merak (Caesalpinia
pulcherrima) Sebagai Anti Bakteri. Jurnal Saintek, 8(4) : 344-353.

Mutoharoh, L., Setyo, D, S., & Andita, A, M. (2020). Pemanfaatan Ekstrak Bunga
Sepatu (Hibiscus Rosa-Sinensis L.) Sebagai Alternatif Pewarna Alami
Sediaan Sitologi Pengganti Eosin pada Pengecatan Diff-Quick. Jurnal Sain
Health, 4(2): 21-26.

Nasrullah, N. (2012). Stimulasi Pembungaan Bugenvil (Bouganvillea Spectabilis
Willd) dengan Retar dan dan Berbagai Komposisi Media dalam Lingkungan
Jalan yang Terpolusi Udara. Jurnal Lanskap Indonesia, 4(1): 59-65.

Natalia, K., Jumari., & Murningsih. (2020). Struktur komposisi vegetasi hutan
pinus di Kawasan Candi Gedong Songo, Kecamatan Bandungan, Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah. Journal of Tropical Biology, 3(2): 50-58.

Ningrum, F, S. (2017). Karakteristik Morfologi Lada Perdu(Piper Nigrum
L.)Varietas Natar 1 dan Natar 2 Toleran Cekaman Naungan.

Ningrum, M, S. (2019). Pemanfaatan Tanaman Kelapa (Cocos Nucifera) Oleh Etnis
Masyarakat Di Desa Kelambir Dan Desa Kubah Sentang Kecamatan Pantai
Labu Kabupaten Deli Serdang. Skripsi, Medan : Universitas Medan Area.

Ningtias, A, F., Iis, N, A., & Pujiastuti. (2014). Manfaat Daun Sirih (Piper betle L.)
Sebagai Obat Tradisional Penyakit dalam di Kecamatan Kalianget
Kabupaten Sumenep Madura. Artikel Ilmiah. Jember: Universitas Jember.

SPERMATOPHYTA 128

TUMBUHAN BERBIJI

Novitasari, V. (2014). Uji Ekstrak Minyak Atsiri Lada Putih (Piper Nigrum Linn)
Sebagai Antibakteri Bacillus Cereus. Skripsi. Bengkulu: Universitas Negeri
Bengkulu.

Oktafiani, R., Amin, R., &Talitha, W. (2020). Tumbuhan Berbiji. Semarang:
Penerbit UNNES Press.

Palupi, E., Syafrizal., & Nova, H. (2018). Studi Morfologi Polen Tanaman
Pekarangan di Perumahan Gn. Dubbs Balikpapan. Jurnal Bioprospek,
23(2): 16-21.

Pamungkas, R, N., Dewi, J., & Shinta, D, P dkk. (2010). Pemanfaatan Lengkuas
(Lenguas Galanga L.) Sebagai Bahan Pengawet Pengganti Formalin. Bidang
Kegiatan Pkm-Ai. Malang : Universitas Negeri Malang.

Prakosa, G, G., Tatag, M., & Harjoko. (2018). Sifat Fisik dan Keawetan Kayu
Cemara Gunung (Casuarina junghuniana) di Pegunungan Bromo Kabupaten
Probolinggo. Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan, 5(2): 71-82.

Prasetiya, Y,Y,P. (2015). Hubungan Kesesuaian Lahan. Purwokerto: Universitas
Muhammadiyah Purwokerto.

Pratiwi, N., Diana, S, H., & Luthfi, A, M, S. (2018). Identifikasi Karakter
Morfologis Durian (Durio Zibethinus Murr) di Kecamatan Tigalingga dan
Pegagan Hilir Kabupaten Dairi Sumatera Utara.Jurnal Agroekotrknologi FP
USU, 6(2): 200-208.

Purbasari, K. (2018). Variasi Morfologi Rambutan (Nephelium Lappaceum L.)
Berdasarkan Ketinggian Tempat di Kabupaten Ngawi: 217-230.

Purbosari, P, P., & Etika, D, P. (2018). Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Tapak Dara
(Catharanthus roseus L.) dan Kolkisin Terhadap Perkecambahan Biji Cabai
Rawit Hibrida (Capsicum annuum). Proceeding Biology Education
Conference, 15(1): 733-736.

Putra, H, P., & Tomy, L. (2021). Relationship Between Axial Location and Board
Thickness Variation on the Development of Drying Schedule of Cemara
Gunung (Casuarina junghuhniana Miq.). Jurnal Sylva Lestari, 9(1): 121-137.

Razaq, K., Mia, A., Neng, S, J., & Nina, A. (2018). Aspek Ekonomi dari Budidaya
Tanaman Kapas (Gossypium hirsutum L.) di Indonesia.

Reskyna, K. (2020). Analisis Kemandirian dan Hasil Belajar Siswa pada
Pembelajaran Sub materi Spermatophyta Melalui Pendekatan Savi Di SMAN
1 Lhokseumawe. Skripsi, Banda Aceh : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
Darussalam Banda Aceh.

SPERMATOPHYTA 129

TUMBUHAN BERBIJI

Retnowati, A., Rugayah., & Joeni, S, R. (2019). Keanekaragaman hayati
Indonesia. Jakarta: Penerbit LIPI Press.

Rivai, H. (2021). Petai Cina (Leucaena leucocephala): Penggunaan Tradisional,
Fitokimia, dan Aktivitas Farmakologi. Padang: Budi Utama.

Rosnizar, R., Siti, M., Kartini, E., & Suwarno. (2017). Potensi ekstrak daun
flamboyan [Delonix regia (Boj. Ex Hook.) Raf.] terhadap peningkatan
aktivitas dan kapasitas makrofag. Jurnal Bioleuser, 1(3): 104-115.

Rugayah., Arief, H., & Udjang, H. (2014). Kedawung (Parkia Timoriana) dan
Kerabatnya di Jawa; Petir (P. Intermedia) dan Petai (P. Speciosa), 13(2):
143-152.

Sadili, A. (2015). Autekologi Pertumbuhan Pinus (Pinus Merkusii Junghuhn et de
Vriese) Paska Erupsi di Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya-Jawa
Barat. Jurnal Ilmu-ilmu Hayati, 14(3): 203-296.

Salsabila, R. (2020). Praktikum Botani Tumbuhan Tinggi. Skripsi. Banjarmasin:
Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin.

Samosir, O, M., Robert, G, M., & Tasarambowo, L. (2019). Respon Kacang Tanah
(Arachis Hypogaea L) Terhadap Pemberian Unsur Mikro. Jurnal Agrotekda,
3(2): 74-83.

Sari, A, T., Sri, W, A, S., & Sri, H. (2017). Pengaruh Pupuk Nanosilika Terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kapas (Gossypium Hirsutum L. Var.
Kanesia 8. Jurnal Biologi, 6(2): 75-83.

Sariamanah, W, S., Asmawati, M., & Ahdiat, A. (2016). Karakterisasi Morfologi
Tanaman Pisang (Musa Paradisiaca L.)di Kelurahan Tobimeita Kecamatan
Abeli Kota Kendari. Jurnal Ampibi, 1(3): 32-41.

Sarifuddin, M, J., & Nurul, A. (2020). Kegunaan Ginkgo Biloba Untuk Pengobatan
Penyakit Neurologis. Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran, 3(1): 36-43.

Seta, T, P, D., Muhammad., & Masrullita. (2019). Pemanfaatan Biji Orok-Orok
(Crotalaria juncea) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Minyak Nabati dengan
Metode Ekstraksi Padat-Cair. Jurnal Teknologi Kimia Unimal, 8(2): 42-52.

Setyawati, T., Narulita, S., Indra, P, B., & Gilang, T, R. (2015). A Guide Book to
Invasive Alien Plant Species in Indonesia. Bogor: Penerbit Research,
Development and Innovation Agency Ministry of Environment and Forestry
Republic of Indonesia.

Sewta, C., Christi, M., & Jane, W. (2015). Uji Efek Ekstrak Daun Lidah Buaya
(Aloe Vera L.) Terhadap Penyembuhan Luka Insisi Kulit Kelinci
(Oryctolagus Cuniculus). Jurnal e-Biomedik, 3(1): 453-459.

SPERMATOPHYTA 130

TUMBUHAN BERBIJI

Simanjutak, H, A. (2017). Potensi Famili Asteraceae Sebagai Obat Tradisional di
Masyarakat Etnis Simalungun Kabupaten Simalungun Provinsi
Sumatera Utara. Jurnal Biologi Lingkungan, Industri, Kesehatan, 4(1): 11-
18.

Suci, P, R. (2015). Pengaruh Proses Pengolahan Biji Melinjo (Gnetum gnemon L.)
Terhadap Kadar Total Likopen dan Karoten dengan Metode
Spektrofotometri. Jurnal Wiyata, 2(2): 151- 156.

Sukma, M. (2021). Pemanfaatan Tumbuhan Pekarangan Rumah Sebagai Media
Praktikum Mandiri pada Sub Materi Spermatophyta. Skripsi diterbitkan.
Aceh: Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh.

Suparmi., Hady, A., 7 Niche, D. (2012). Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol
Kulit Buah Rambutan (Nephelium Lappaceum, L.) dengan Metode Linoleat-
Tiosianat. Jurnal Ilmiah Farmasi, 9(1): 1-11.

Suradinata., & Wulansari. (2015). Respon tanaman mawar batik (Rosa hybrida L.)
dengan penggunaan konsentrasi 1–methylcyclopropene (1–MCP) pada
beberapa tingkat kemekaran bunga. Jurnal Kultivasi, 14(2): 55-62.

Surahmaida., Amelinda, R., & Elia, H. (2020). Kandungan Senyawa Kimia Daun
Waru (Hibiscus tiliaceus) di Kawasan Lingkar Timur Sidoarjo. Journal of
Pharmacy and Science, 5(2): 39-42.

Syukriah, F., & Liuvita, P. (2016). Implementasi Teknologi Augmented Reality 3D
pada Pembuatan Organologi Tumbuhan. Jurnal Ilmiah FIFO, VIII(1): 23-32.

Taib, E, N., & Cut, R, D. (2013). Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Angiospermae
di Kebun Biologi Desa Seungko Mulat. Jurnal Bioma, 2(1): 18-31.

Taufiq. (2010). Identifikasi Tumbuhan Kacang-Kacangan (Papilionaceae)
Menggunakan Sistem Pakar dengan Pendekatan Forward Chaining. Skripsi
diterbitkan. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. (2009). Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press. ISBN : 979-420-241-X.

Tjitrosoepomo, G. (2010). Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press. ISBN : 979-420-084-0.

Trisnawati, D., Triadiati., & Nisa, R, M. (2018). Keragaan Morfo-Fisiologi
Phaseolus Spp. Yang Ditanam pada Ketinggian Tempat Yang Berbeda
(Morpho-Physiological Performance Phaseolus Spp. On Different Altitudes).
Jurnal Hortikultura, 28(1): 59- 66.

Tyas, P, S. (2013). Perkembangan Pembungaan Lengkeng (Dimocarpus Longan
Lour) ‘Diamond River’. Skripsi: Jember: Universitas Jember.

SPERMATOPHYTA 131

TUMBUHAN BERBIJI

Ulfa, S, W. (2019). Inventarisasi Keanekaragaman Tumbuhan Tingkat Tinggi di
Kecamatan Medan Amplas Kota Medan Propinsi Sumatera Utara. 2(1): 15-
20.

Ulfa, S,W. (2020). Penuntun Praktikum Botani Phanerogamae. Medan:
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara UINSU.

Ulfah, K, Z., & Luthfi, N, A. (2016). Apel Manalagi (Malus Sylvestris Mill) Sebagai
Penurun Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi. Naskah Publikasi.
Yogyakarta: Universitas ‘Aisyiyah.

Wahdina. (2017). Tiga Warna Bunga Caesalpinia Pulcherrima. Seminar Nasional:
1-4.

Wahyuno, D., Yusron., & Supriyadi. (2011). Jahe (Zingiber Officinale Rosc.).
Bogor : Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Kementerian Pertanian. ISBN: 978-979-548-031-0.

Wibowo, N, T. (2013). Uji Efek Ekstrak Etanol 70% Lengkuas (Alpinia Galanga)
Terhadap Kadar Alanin Aminotransferase (Alt) pada Tikus Putih Yang di
Induksi Asetaminofen. Naskah Publikasi. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta.

Widarmo, T, Y, P. (2021). Identifikasi Karakter Morfologi Tanaman Pisang Awak
(Musa Paradisiaca Cv. Awak) di Kecamatan Percut Sei Tuan. Skripsi.
Medan: Universitas Sumatera Utara.

Zulianti, D., Ainul, M., Nynda, A, A, S., & Rofiatun, S. (2021). Inventarisasi
Bryophyta, Pteridophyta, Gymnospermae, di Kabupaten Lamongan. Best
Journal, 4(1): 46-54.

SPERMATOPHYTA 132

TUMBUHAN BERBIJI

GLOSARIUM

Abaksial = Permukaan yang membelakangi matahari
Adaksial
Degenerasi = Permukaan yang mengarah ke matahari

Embrio = Suatu perubahan keadaan secara fisika dan kimia dalam
sel, jaringan, atau organ yang bersifat menurunkan
Evapotranspirasi efisiensinya.
Floem
Gametofit = Bakal anak (dalam kandungan) hasil pembuahan sel telur
pada stadium permulaan yang kemudian menjadi janin,
Generatif yang berumur antara satu minggu sampai delapan
Gutasi minggu (pada manusia)
Haploid
= Proses kehilangan air dari suatu lahan menuju ke atmosfer
Hermaprodit melalui dua proses yaitu evaporasi dan transpirasi.

= Proses kehilangan air dari suatu lahan menuju ke atmosfer
melalui dua proses yaitu evaporasi dan transpirasi.

= Bentuk kehidupan yang berfungsi melakukan reproduksi
seksual/generatif pada organisme yang mengalami
pergiliran keturunan.

= Perkembangbiakan tumbuhan secara kawin atau
pembuahan

= Proses pelepasan air dalam bentuk cair dari jaringan daun

= Keadaan dalam sel jaringan, atau stadium yang inti selnya
hanya mempunyai satu perangkat kromosom yang tidak
berpasangan

= Individu yang memiliki 2 alat/organ kelamin yaitu jantan
dan betina yang berfungsi penuh.

SPERMATOPHYTA 133

TUMBUHAN BERBIJI

Imunostimulan = Senyawa yang dapat meningkatkan kerja komponen-
In vitro komponen sistem imun.
Kambium
= Di dalam kaca
Koleoriza
Konservasi = Lapisan jaringan meristematik pada tumbuhan yang sel-
Kromosom selnya aktif membelah dan bertanggung jawab atas
pertumbuhan sekunder tumbuhan.
Makrospora
Megasporangium = Selubung yang melindungi akar atau ujung akar
Meiosis
= Pelestarian atau perlindungan
Metamorfosis
= Bagian kromatin inti sel yang berceraian apabila sel
terbelah atau membelah yang merupakan rangkaian
pendukung jenis benda hidup

= Spora betina berupa spora paku berukuran besar dan
akan tumbuh menjadi makrotalus

= Sporangium yang menghasilkan megaspora, yang pada
tumbuhan berbiji berupa bakal biji.

= Salah satu jenis pembelahan sel yang terjadi pada
organisme yang bereproduksi secara seksual untuk
memproduksi sel gamet seperti sperma maupun sel telur

= Peralihan bentuk, ukuran, dan bagian- bagian tubuh hewan
dari satu fase ke fase selanjutnya.

Mikroorganisme = Organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk
Mikrosporangia mengamatinya diperlukan alat bantuan.
Ovum
Petal = Spora yang dapat menimbulkan gametofit yang hanya
menghasilkan gamet jantan.

= Sel reproduksi (gamet) yang dihasilkan dari ovarium pada
organisme berjenis kelamin betina.

= Daun mahkota

SPERMATOPHYTA 134

Pollinator TUMBUHAN BERBIJI
Sepal
Sporofil = Binatang yang membawa serbuk sari ke putik, baik dari
Strobilus
bunga yang sama atau dari bunga yang lain.
Vegetatif = Daun kelopak
Xylem
= Organ berbentuk daun atau berasal dari daun yang

mengandung alat perkembangbiakan
= Struktur yang ada pada banyak spesies tanaman darat

yang terdiri dari struktur yang mengandung sporangia
yang padat di sepanjang batang.
= Cara berkembang biak tanpa adanya proses perkawinan.
= Pembuluh dalam tanaman yang membawa air dari akar ke
bagian bagian tanaman.

SPERMATOPHYTA 135


Click to View FlipBook Version