The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

teladan anak muslim, kisah Khalid bin Walid, Pedang Allah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by desa Tegallega, 2024-03-14 03:19:27

teladan anak muslim, kisah Khalid bin Walid, Pedang Allah

teladan anak muslim, kisah Khalid bin Walid, Pedang Allah

Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Sanksi Pelanggaran Pasal 72 : Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang HAK CIPTA : (1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan / atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau dengan paling banyak Rp 500.000.000,- (lima ratus KHALID BIN WALID Pedang Allah Naskah: Juniarto Akbar Editing: Tim Redaksi Luxima Ilustrasi: cbmagency.com Desain Cover: Muhlis Umar Penata Letak: cbmagency.com Penerbit: PT Luxima Metro Media ISBN: 978-602-268-055-0 Cetakan I: Desember 2014 PT Luxima Metro Media Jl. Kalisari III No. 28A, Pasar Rebo Jakarta Timur - 13790 Telp. 021-29378394; 91214048 Faks. 021-29378394 www.penerbitluxima.com email: [email protected] Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Kata Pengantar Khalid bin Walid ( Syaifullah Al - Maslul ) dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk di antara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Khalid bin Walid (592–642) (584 - 642) adalah seorang panglima perang pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya, terkenal sebagai panglima tertinggi untuk Nabi Muhammad dan penerus-penerusnya. Salah satu rahasia kemenangan-kemenangan istimewa yang diraih Khalid dalam setiap pertempuran,ialah “Tsabat” artinya tetap tabah dan disiplin. Ia melihat, bahwa larinya dua tiga orang prajurit, akan menyebarkan kepanikan dan kekacauan pada seluruh kesatuan yang akan berakibat fatal, dan ini merupakan bencana. Oleh sebab itu, tindakannya sangat tegas dan keras sekali terhadap mereka yang membuang senjata dan melarikan diri dari medan pertempuran. Maka dalam peperangan Yarmuk ini, setelah seluruh pasukannya mangambil posisi, dipanggilnya perempuan-perempuan Muslimah untuk memanggul senjata. Mereka diperintahkan untuk mengambil posisi dibelakang barisan pasukan muslimin di setiap penjuru. Khalid berpesan kepada mereka, “Siapa saja yang melarikan diri dari medan pertempuran ini, bunuh saja mereka!” Ada sesuatu yang selalu merisaukan pikirannya sewaktu masih hidup, yaitu kalau-kalau ia mati di atas tempat tidur, padahal ia telah menghabiskan seluruh usianya di atas punggung kuda perang dan dibawah kilat pedangnya. Ketika itu ia berkata: “Aku telah ikut serta berperang dalam pertempuran di mana-mana, seluruh tubuhku penuh dengan tebasan pedang, tusukan tombak serta tancapan anak panah…….kemudian inilah aku, tidak seperti yang aku inginkan, mati di atas tempat tidur, laksana matinya seekor unta.” www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia ber- wasiat kepada Khalifah Umar, agar Khalifah mewakafkan harta kekayaan yang ia tinggalkan, yang berupa Kuda dan Pedangnya. Selebihnya tidak ada lagi barang berharga yang dapat dimiliki oleh orang. Seumur hidupnya ia tak pernah dipengaruhi oleh keinginan, kecuali menikmati kemenangan dan berjaya mengalahkan musuh kebenaran. Tak satupun kesenangan duniawi yang dapat mempengaruhi keinginan nafsunya, kecuali hanya satu, yaitu barang yang dengan sangat hati-hati sekali dan mati-matian ia menjaganya. Barang itu berupa Kopiah. Pernah suatu ketika, kopiah itu jatuh dalam perang Yarmuk. Ia bersama beberapa pasukannya dengan susah payah mencarinya. Ketika orang lain mencelanya karena itu, ia berkata, “Di dalamnya terdapat beberapa helai rambut dari ubun-ubun Rasulullah saw”. Selamat membaca, Penulis Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


1 Masa Kecil Khalid 5 Harapan Rasulullah 9 Mematahkan kaki Umar 13 Khalid sang petarung 21 Khalid berjumpa Rasulullah 31 Mengenang Perang Mu’tah 43 Pedang Allah 49 Ke Mekah kita kembali!” 53 Khalid menumpas pembangkang 59 Khalid Menumpas Nabi Palsu 71 Penaklukan Iraq 79 Panglima Khalid dipecat daftar isi www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan hidayah-Nya kepada Anda. Sejak dahulu, aku telah memandang Anda berakal sehat, yang dengan akalmu itu, aku berharap Anda membawa kebaikan.” Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Masa Kecil Khalid www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Kapan Khalid dilahirkan? Beberapa sumber menjelaskan, ia dilahirkan sekitar tujuh belas tahun sebelum kebangkitan agama Islam. Ia berasal dari Bani Makhzum, belahan suku Quraisy. Ayahnya bernama Abdu Syams alWalid bin Mughirah. Ia adalah seorang ahli pidato (orator) yang piawai. Nama ibunya Lababah. Sebenarnya, Khalid bin Walid masih ada hubungan dekat dengan Rasululullah Saw. Maimunah, salah seorang istri beliau adalah bibi Khalid. Umar bin Khatab adalah saudara sepupu Khalid. Ketika orang-orang Quraisy memugar Ka’bah, tidak seorang pun berani meruntuhkan dinding Ka’ah tua dan rapuh. Mereka berpikir, kala ditimpa reruntuhan pasti mati. Melihat orang-orang ketakutan dan saling mengandalkan, Walid maju. Bersenjatakan linggis dan sekop, Walid maju sambil berseru,”0h, Tuhan, jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumah-Mu.” Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 2


Walid, ayah Khalid adalah seorang bangsawan kaya. Ia dihormati kaumnya karena kaya, dermawan, dan sebagai pembesar Quraisy yang gagah berani. Suatu ketika, ia memberi makan semua orang yang melaksanakan rukun haji di Mina. Ia pun sangat menghormati Ka’bah. Dua tahun sekali, Walid menyediakan kain penutup Ka’bah. Tetapi, guna memelihara kehormatan dan wibawanya, Walid tidak mau memeluk agama Islam. www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 3


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 4


Harapan Rasulullah www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Rasulullah mengharap sepenuh hati agar Walid segera memeluk agama Islam. Ia kaya, dermawan, berani, dan dihormati. Pengikutnya banyak. Apabila ia memeluk agama Islam, pasti jumlah pengikut agama Islam akan bertambah banyak. Walid mengakui sejujurnya bahwa Al-Qur’an adalah kalimat-kalimat Allah. Kepada Rasul, Walid berkata,”Aku tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan di dalam Al-Qur’an. Ucapan yang terang-terangan itu bernar-benar memberikan harapan besar kepada Rasulullah bahwa Walid segera memeluk agama Islam. Ternyata, Walid hanya pengagum Al-Qur’an. Harapan Rasulullah tinggal impian. Kebanggaan Walid terhadap kehebatan, kekayaan diri sendiri membendungnya untuk memeluk agama Islam. Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 6


Sesungguhnya, Walid takut kehilangan pengaruh di kalangan suku Quraisy bila memeluk agama baru yang didakwahkan Muhammad Utusan Allah. Kesangsian itu menghalanginya untuk menurutkan bisikan hati nurani. Bani Makhzum memang punya tugas-tugas penting di dalam suku Quraisy. Jika terjadi peperangan, Bani Makhzum yang menyiapkan persenjataan dari gudang dan menyediakan hewan tunggangan bagi para prajurit. Pendek kata, semua perlengkapan perang menjadi tanggung jawab Bani Makhzum. Tanggung jawab itu pula yang menjadi pikiran Walid. Bisa saja orang-orang Quraisy menuduhnya pengkhianat bila menjadi pemeluk agama Islam. Bani Makhzum memang menjadi andalan dalam soal kekayaan, kekompakan, keberanian, kejujuran, dan ketegasan. www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 7


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com Pada saat terjadi pengepungan terhadap umat Islam di lembah Abu Thalib, orang-orang dari Bani Makhzum yang bersuara paling lantang untuk menentang pengepungan itu. Agaknya, Bagi Bani Makhzum, rasa kekeluargaan dan kekompakan jauh lebih penting dibanding kepercayaan yang datang dari luar adat istiadat leluhur. Bagi mereka, adat istiadat leluhur adalah bagian dari harga diri dan kehormatan. Oleh karena itu, wajarlah bila warga suku Quraisy memerangi pengikut agama Islam. Maka dari itu, harapan dan impian Rasulullah agar Walid mau memeluk agama Islam memerlukan upaya yang luar biasa di samping menunggu hidayah dari Allah Swt. 8


Mematahkan kaki Umar www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Sejak kecil, Khalid selalu tenang. Ia termasuk pendiam. Tetapi, kalau sudah berbicara, suaranya lantang. Ia sangat menyukai olah raga bela diri. Ia rajin latihan memanah, melemparkan tombak, menggunakan pedang, dan belajar ilmu perang, serta menunggang kuda. Ia senang menunggang kuda di padang pasir, balapan bersama teman-teman sebaya. Biasanya, Khalid ngotot, tidak mau menduduki nomor bontot dalam setiap balapan. Suatu hari, ia adu gulat melawan Umar bin Khatab yang bertubuh kekar. Saudara sepupunya itu pun suka berkelahi. Mula-mula, keduanya adu gulat hanya main-main saja. Tetapi, pergumulan menjadi seru, lalu sama-sama lupa diri. Kaki kiri Umar sampai patah. Untunglah setelah diurut dan dirawat cukup lama, kaki kiri Umar dapat disempuhkan. Tentu saja tidak ada permusuhan di antara keduanya. Khalid langsung minta maaf. Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 10


Walid, ayah Khalid mempunyai kebun buah-buahan yang luas dari Mekah sampai ke Tha’if. Oleh karena ayahnya kaya raya, Khalid bebas dari tugas dan kewajiban apa pun. Kesenangan Khalid adalah berlatih menggunakan berbagai senjata. Berkelahi pun ia suka jika ada yang berani menantang. Pada masa kecil Khalid, seseorang yang menguasai seni dan strategi berperang dianggap sebagai satria. Panglima perang adalah pemimpin besar. Pahlawan di medan perang sangat terhormat di masyarakat. Hal semacam itulah yang diidam-idamkan Khalid bin Walid sejak masih kecil. www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 11


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com Ayah Khalid dan beberapa pamannya adalah lelaki-lelaki terpandang di masyarakat Quraisy. Hal itu mendorong Khalid tidak mau kalah dalam bidang apa pun di antara teman-temannya, terutama dalam hal adu tenaga. Makanya, Khalid menceburkan diri dalam seni bela diri dan latihan berperang secara mendalam. Keberanian Khalid memang dikagumi banyak orang. Fisiknya besar dan kuat luar biasa. Oleh karena ayahnya kaya raya, Khalid tidak perlu ikut berdagang ke negeri asing. Khalid tidak perlu bekerja untuk mencari nafkah. Khalid asyik dengan kesenangan-kesenangannya di bidang ilmu perang. Baginya, bila seseorang ikut memenangkan perang, orang itu adalah satria. Cita-cita Khalid ingin menjadi panglima perang, bukan pedagang. Dengan menjadi panglima perang, Khalid akan menjadi pahlawan Quraisy yang dihormati masyarakat. 12


Khalid sang petarung www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Sejak kecil, Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan itu diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan kaum Muslimin. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya, ia harus menonjolkan dirinya dalam pertempuran yang sesungguhnya di medan perang. Khalid mesti menunjukkan kualitasnya sebagai petarung sejati. Para pembesar suku Quraisy mengatakan kepada Khalid, ”Dalam Perang Badar kaum Qurasy porak peranda setelah dikalahkan pasukan Muslimin. Kita balas kekalahan yang memalukan itu dalam Perang Uhud!” Terbukalah peluang bagi Khalid untuk unjuk gigi sebagai pahlawaan Quraisy dalam Perang Uhud. Boleh dikatakan, perang di Uhud itu adalah ‘perang balas dendam’ terhadap pasukan kaum Muslimin. Ketika Perang Badar berkobar, Khalid belum berperan apa-apa. Namun, ia merasakan betapa terhinanya suku Quraisy dikalahkan pasukan Muslimin. Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 14


Perang di bukit Uhud terjadi pada pertengahan bulan Syawwal, tahun ke-3 Hijriah, bertepatan dengan tahun 625 Masehi. Bukit Uhud terletak sekitar tiga kilo meter dari kota Madinah. Pasukan kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Bala tentaranya berjumlah 3.000 orang. Rasulullah memimpin 700 orang pasukan Muslimin. Tiga panglima perang pasukan Musimin adalah Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Dujanah. Ketiga panglima perang Islam yang gagah berani dan pandai mengatur siasat itu mengenakan ikat kepala warna merah, tanda siap mati di medan perang. Sembilan orang pemegang panji pasukan Quraisy sudah berhasil ditewaskan oleh Ali, Hamzah, dan Abu Dujanah. Akibatnya, mental pasukan Quraisy makin runtuh. Kesembilan kepala pemegang panji pasukan Quraisy itu tewas di ujung pedang Ali, Hamzah, dan Abu Dujanah. Maka, kocar kacirlah pasukan Quraisy. Mereka berlarian tunggang langgang ke berbagai penjuru untuk menyelamatkan diri. www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 15


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com Kemudian, apa yang terjadi? Tiga regu pemanah jitu yang ditempatkan Rasulullah di lereng Bukit Uhud lupa pada tugas semua. Melihat pasukan Quraisy lari kocar kacir, sebagian besar regu pemanah jitu meninggalkan tempat tugas. Mereka terpikat oleh barangbarang berharga pihak musuh yang bergeletakan di medan perang. Pasukan pemanah jitu kaum Muslimin menduga perang telah usai. Lalu, langsung mereka berebutan harta rampasan. ‘Abdullah bin Zubair, sang komandan regu pemanah juga berseru agar anak buahnya kembali ke pos masing-masing. Tapi, seruannya tidak dihiraukan. Mereka khawatir tidak kebagian harta rampasan. Perintah Rasulullah agar tidak meninggalkan tempat tugas sampai ada perintah lebih lanjut telah dilangggar oleh regu pemanah pasukan Muslimin. 16


www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com Dalam keadaan pasukan Muslimin sedang mabuk kemenangan, tiba-tiba pasukan berkuda pihak Quraisy balik menyerang. Pasukan berkuda Quraisy itu dipimpin oleh Khalid bin Walid. Pasukan berkuda Quraisy itu menyerang dari belakang, melalui lereng-lereng bukit – yang telah ditinggalkan oleh pasukan pemanah kaum Muslimin. Menyaksikan pasukan berkuda Quraisy berhasil menerobos pasukan Muslimin, tentara Quraisy yang sudah kocar kacir bangkit kembali. Mereka pun balik menyerbu pasukan Muslimin. Keadaan menjadi berbalik. Giliran pasukan Muslimin terpukul mundur. Barang-barang rampasan terpaksa mereka tinggalkan demi menyelamatkan diri. Tetapi, pasukan Muslimin sudah cerai berai, centang perenang, tidak teratur lagi. 17


Dalam keadaan pasukan Muslimin kacau balau, terdengar teriakan,”Muhammad sudah mati! Muhammad sudah mati!” Saat itu pula, pasukan Quraisy makin mengganas. Mereka menggempur pasukan Muslimin yang sudah berantakan. Terdesak terus pasukan Muslimin hingga mendekati tempat Rasulullah bertahan. Dengan keberanian yang luar biasa, Ali, Abu Dujanah, dan puluhah sahabat yang lain membentengi Rasulullah. (Hamzah telah gugur ditombak si hitam Wahsyi, pen). Di saat-saat gawat itu, tiba-tiba satu batu besar yang dilemparkan pihak musuh melukai wajah Rasulullah. Sang pelempar batu adalah ‘Utbah bin Abi Waqqash. Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 18


Dalam upaya mengelakkan serangan musuh, Rasulullah terperosok ke sumur yang sengaja digali pihak musuh. Segera Ali dan Thalhah bin ‘Ubaidillah serta para sahabat menolong beliau, lalu menyelinap di lereng Bukit Uhud. Di balik Bukit Uhud, Ali membersihkan luka Rasulullah dengan air. Sedangkan pecahan rantai besi yang menancap di raham beliau, hati-hati dicabut oleh ‘Ubaidillah bin Al-Jarrah dengan menggunakan gigi serinya, hingga dua giginya tanggal. Terdengar lagi teriakan Abu Sufyan bin Harb,”Muhammad sudah mati! Muhammad sudah mati!” Mendengar teriakan pemimpin pasukan Quraisy, Rasulullah sempat bersabda, “Jangan tanggapi teriakan Abu Sufyan bin Harb!” Oleh karena tanpa tanggapan dari pihak pasukan Muslimin, Abu Sufyan dan pasukan Quraisy yakni benar Rasulullah telah gugur di medan Perang Uhud. “Kemenangan ini untuk menebus kekalahan kita dalam Perang Badar!” teriak Abu Sufyan bin Harb. “Sampai berjumpa lagi di tahun depan!” Khalid memimpin pasukan berkuda tentara Quraisy bersama Ikrimah bin Abu Jahal. Serangan balik yang dilancarkan Khalid berhasil membuat kocar kacir pasukan Muslimin. Sungguh, Khalid telah unjuk gigi. Ia telah membuktikan taktik dan stategi perang yang dipelajarinya sejak masih kecil telah berhasil gemilang. Meskipun, ia menyadari benar, pasukan Quraisy berkekuatan 3.000 orang dapat diimbangi oleh pasukan Muslimin yang hanya berkekuatan 700 orang. www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 19


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com Apa pun yang telah terjadi, perang di Bukit Uhud sungguh merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kaum Muslimin. Tindakan tidak disiplin regu pemanah jitu pasukan Muslimin tidak mengindahkan petunjuk dan perintah Rasulullah Saw. Pasukan Muslimin yang pada mulanya sudah menguasai medan perang, nyaris memenangi perang, jadinya babak belur. 20


Khalid berjumpa Rasulullah www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com Khalid telah mendapat pujian setinggi langit dari kaum Quraisy setelah ia menjadi pahlawan dalam Perang Uhud. Tetapi, belakangan ia gelisah memikirkan agama baru yang didakwahkan Muhammad bin Abdullah. Khalid pun mengagumi ketangguhan pasukan Muslim. Ia membayangkan, hanya dengan 700 tentara, pasukan Muslimin dapat melawan pasukan Quraisy berkekuatan 3.000 orang. “Alangkah hebatnya pasukan Muslimin,” puji Khalid di dalam hati sejujur-jujurnya. Sejujurnya pula diakui Khalid, baik dalam Perang Badar maupun Perang Uhud, sesungguhya kaum Muslimin membela diri. Mereka pun membela keyakinan baru yang bersumber dari wahyu Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Perang untuk membela Allah dan Rasul-Nya, juga membela Al-Qur’an adalah suci. Mati untuk membela Allah dan Rasul-Nya disebut mereka mati syahid, lalu menjadi penghuni surga, pikir Khalid. 22


www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com Pertanyaan-pertanyaan Khalid “Demi Allah,” kata Khalid, “sungguh telah nyata bukti-buktinya….! Aku yakin sekali, lelaki bernama Muhammad bin Abdullah, itu adalah Utusan Allah. Pertanyaan pertama adalah, “Jadi, aku telah melawan Utusan Allah dalam Perang Uhud?” Pertanyaan kedua yakni, “Mengapa aku memerangi Utusan Allah dan para pengikutnya?” Jawaban untuk pertanyaan pertama: “Sesungguhnya, kalau aku telah meyakini Muhammad adalah Utusan Allah, benar aku telah melawan beliau. Tetapi, ketika aku memerangi beliau bersama pasukan Quraisy, aku belum menyatakan apa-apa. Dalam hal ini, aku membela keyakinan lama kaum Quraisy.” 23


Jawaban untuk pertanyaan kedua: ”Aku ikut memerangi mereka atas kehendak kaum Quraisy karena Muhammad dan agama baru yang didakwahkannya telah mengusik adat istiadat dan kepercayaan kaum Quraisy. Adat istiadat dan kepercayaan itu telah berlangsung turun-temurun tanpa usikan maupun gangguan dari pihak mana pun.. Terlepas, apakah adat istiadat dan kepercayaan kaum Quraisy itu, benar atau tidak benar. Tetapi, masalahnya, adalah, setiap sesuatu yang baru pasti dicurigai akan mengusik atau mengganggu yang lama.” Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 24


Khalid mengakui pula, ”Aku ikut pasukan Quraisy memerangi Muhammad Utusan Allah dan pasukan beliau, tentu saja untuk menunjukkan bahwa aku ingin diakui selaku pahlawan bagi kaum Quraisy. Aku bangga bila mendapat pengakuan sebagai pahlawan kaumku. Selain itu, aku hendak menunjukkan kemampuan dan keahlianku di bidang ilmu perang. Jadi, pertama, aku berperang untuk mendapatkan pengkuan dan kebanggaan sebagai pahlawan. Kedua, aku mau membuktikan kemampuanku selaku ahli ilmu dan strategi perang.” Sedangkan dari pihak kaum Muslimin, tujuan mereka berperang adalah untuk membela kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Dasar kebenaran yang mereka yakini tercantum di dalam Al-Qur’an. Khalid juga jadi heran, mengapa Abu Sufyan bin Harb telah berteriakteriak di tengah medan perang, menyatakan, ”Muhammad sudah mati! Muhammad sudah mati!!” Nyatanya, Muhammad Rasulullah masih hidup. Beliau kembali ke Madinah bersama pahlawan-pahlawan pembela Islam. Tidak benar, Muhammad telah mati! Jadi, pemimpin pasukan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb telah berdusta kepada anak kaumnya sendiri, juga kepada musuh. Padahal, kebohongan dalam perang tetap saja disebut kejahatan, pikir Khalid. www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 25


Sejak masih kecil, Khalid dikenal kaumnya, berani, jujur, dan cerdas. Lebih dari itu, Khalid selalu ingin lebih unggul dibanding orang lain. Memang, setiap keunggulan wajib dibuktikan dengan tindakan nyata agar benar-benar terbukti kebenarannya. Kebohongan Abu Sufyan bin Harb dalam Perang Uhud dinilai Khalid telah mencederai kewibawaannya sendiri. “Masa sih pemimpin bohong!” tanya Khalid. Setelah mengetahui Muhammad Rasulullah Saw. masih hidup, di kota Mekah, kaum Quraisy mencemooh Abu Sufyan bin Harb. Cemoohan itu sangat wajar, pikir Khalid. Bisa jadi, Abu Sufyan tidak berniat berdusta. Tetapi, tanpa meneliti secara cermat terlebih dahulu, tindakannya dinilai ceroboh, gegabah, alias asal cuap-cuap. Sebagaimana telah dikumandangkan oleh Abu Sufyan bin Harb, tujuan utama Perang Badar adalah untuk membunuh Muhammad. Sama, tujuan utama Perang Uhud, pun untuk membunuh Muhammad, sekaligus balas dendam atas kekalahan kaum Quaisy dalam Perang Badar. Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 26


Inilah pengakuan Khalid bin Walid: “… Aku menginginkan seseorang menjadi teman seperjalananku menuju Madinah. Lalu, kutemui Utsman bin Thalhah. Kuceritakan kepadanya apa maksudku ke Madinah. Ia menyetujui rencanaku. Kami keluar dari kota Mekah menjelang siang. Ketika tiba di suatu dataran tinggi, kami berjumpa dengan ‘Amir bin ‘Ash. Amir mengucapkan salam. Kami membalas salamnya. ‘Mau ke mana, Saudara-saudara?’ tanya ‘Amir. Kami menceritakan tujuan ke kota Madinah. ‘Amir pun bermaksud bertemu dengan Muhammad Rasulullah. Ternyata, tujuan kami sama-sama mau menyatakan memeluk agama Islam kepada Rasulullah. Kami tiba di Madinah pada awal bulan Syafar, tahun ke-8 Hijriah. Tiba di kediaman Rasulullah, kami memberi salam kenabian kepada beliau. Beliau membalas salam kami dengan hangat. Wajah beliau sangat cerah. Lalu, aku mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan beliau. Tak lama kemudian, beliau bersabda, ’Sungguh, aku telah mengetahui bahwa Anda mempunyai akal sehat, dan aku mengharap, akal sehat itu hanya akan menuntun Anda ke jalanan yang baik….’ www.ebookanak.com/www. Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 27


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com ‘Aku berjanji setia (bai’at) kepada Rasulullah. Mohonkan ampunan bagiku terhadap semua tindakan masa lalu ku yang menghalangi jalan Allah….’ Rasulullah menjawab, ’Sesungguhnya keislaman itu telah menghapus segala perbuatan yang lampau.’ ‘Sekalipun demikian, ya Rasulullah…,’ kataku. Kemudian, beliau mengucapkan doa; ‘Ya Allah, aku mohon Engkau ampuni dosa Khalid ibnu Walid terhadap tindakannya menghalangi jalan-Mu di masa lalu.’ Setelah aku menghadap Rasulullah, datang pula ‘Amir bin ‘Ash dan Utsman bin Thalhah. Keduanya mengucapkan dua kalimat syahadat dan berjanji setia kepada Rasulullah Saw.” 28


www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com *** Takdir telah menentukan, (walaupun memerlukan waktu agak panjang), Khalid bersatu dengan umat Islam di bawah pimpinan Muhammad Utusan Allah. Bersama Khalid bin Walid yang telah memeluk agama Islam, kaum Muslimin tambah percaya diri. Janji setianya kepada Rasulullah, tentu akan ia buktikan dengan tindakan nyata selaku seorang satria Muslimin. 29


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 30


Mengenang Perang Mu’tah www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Mu’tah adalah nama pedusunan, yang terletak 12 kilo meter di sebelah selatan Al-Kirk, di Yordania. Jarak dari Madinah ke Mu’tah 1.100 kilo meter lebih. Perjalanan sejauh itu akan ditempuh pasukan Muslimin dengan menunggang unta dan kuda. Sepulang dari menunaikan ibadah ‘Umratul-Qadha di Mekah, Rasulullah memanggil Al-Harits bin Umair. “Engkau kuutus ke Basyrah, suatu kawasan di negeri Syam (Suriah), yang masih dikuasai Kaisar Romawi,” Rasulullah bersabda sambil menyerahkan sepucuk surat. “Sampaikan suratku ini kepada Syurahbil, penguasa setempat,” lanjut beliau. Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 32


Malang benar nasib Al-Harits bin Umair. Ia ditangkap, dibelenggu, kemudian kepalanya dipenggal. Rupaya, Syurahbil naik pitam setelah membaca surat dari Rasulullah. Kemarahannya dilampiaskan kepada sang utusan. Tindakan penguasa di kawasan kekuasaan Romawi itu telah melanggar aturan antarnegara. Selain itu, kesewenang-wenangan demikian telah menghina pihak yang mengirim utusan. Merasa terhina dan dilecehkan, Rasulullah mengirim pasukan Muslimin untuk memberi ‘pelajaran’ kepada Syurahbil. Pasukan Muslimin yang dikirim itu berkekuatan 3.000 orang. Untuk memimpin pasukan itu, beliau menunjuk Zaid bin Haritsah, bekas budak, yang menjadi anak angkat beliau. Penulis riwayat menjelaskan, pasukan Romawi berkekuatan 100.000 orang. Pasukan itu dipimpin langsung oleh Kaisar Heraclius. Tetapi, sumber lain menjelaskan, pemimpin pasukan Romawi adalah Theodore, saudara sang kaisar sendiri. Penunjukan Zaid bin Hartsah sebagai pemimpin pasukan m e n d a p a t reaksi dari berbagai pihak. Pasti ada pihak yang iri hati. Ada juga yang melecehkan Zaid sebagai bekas budak. Tetapi, Rasulullah tidak peduli. Ocehan orang-orang yang iri, beliau anggap angin lalu. Sebelum pasukan berangkat beliau bersabda: “Bila Zaid bin Haritsah gugur, Ja’far bin Abi Thalib penggantinya. Bila Ja’far gugur, maka Abdullah bin Ruwahah penggantinya.” Pasukan Muslimin itu diantar Rasulullah sampai di perbatasan dengan kota Madinah. Baru kali ini pasukan Muslimin akan menempuh perjalanan yang sangat jauh. Musuh yang akan dihadapi sangatlah berat yakni pasukan Romawi (Byzantium), yang terkuat di dunia, pada masa itu. Kehadiran Khalid bin Walid dalam pasukan Muslimin, sebenarnya adalah sebagai suka relawan. Selaku orang yang baru memeluk agama Islam, ia memang belum dapat tugas atau jabatan apa-apa. Ia merasa tidak enak hati bila menganggur di Madinah. Makanya, ia bergabung dalam pasukan Muslimin tersebut. www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 33


Zaid bin Haritsah selalaku panglima pasukan, merencanakan serangan mendadak ke Syam. Sebagaimana sering dilakukan Rasulullah, serangan demikian lebih cepat mendapatkan kemenangan. Akan tetapi, setibanya di Ma’an, pihak tentara Romawi telah mengetahui kedatangan pasukan Muslimin. Syuhrabil telah menyiagakan kabilah-kabilah Arab, sekutu Romawi untuk untuk menghang pasukan Muslimin. Ia pun mendatangkan bala bantuan dari Yunani dan Arab. Pasukan Romawi bermarkas di Ma’ab, daerah Balqa. Jumlah pasukan 100.000 orang itu belum termasuk prajurit dari Bani Lakhhm, Judzam, Qain, sekutu-sekutu Romawi yang lain. Zaid sudah mengetahui kalau pasukan Romawi telah menanti di suatu tempat bernama Balqa. Itulah sebabnya, pasukan Muslimin beristirahat di Ma’an. Mengetahui pasukan Romawi berjumlah 100.000 lebih, Zaid usul kepada Ja’far dan Abdullah – untuk minta bala bantuan tentara dari Madinah. Usul Zaid itu nyaris disetujui oleh para komandan. Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 34


Tiba-tiba, Abdullah bin Ruwahah berkata tegas, mengobarkan semangat juang kepada pasukan Muslimin, ”Saudara-saudara, demi Allah!” pekiknya. “Apa yang kita sukai justru yang sekarang kita hadapi, yaitu mati syahid. Kita berperang melawan musuh bukan mengandalkan pada jumlah prajurit dan kekuatan. Kita berperang membela agama Islam, yakni agama Allah yang telah memuliakan kita. Karena itu, mari kita maju! Kita pasti akan mendapatkan dua keuntungan yaitu menang atau mati syahid!” Kata-kata Abdullah benar, dapat mengobarkan semangat juang pasukan Muslimin. Mereka maju terus hingga tiba di perbatasan daerah Balqa, yakni pedusunan bernama Masyarif. Dari sana pasukan dapat melihat gabungan pasukan Romawi, Yunani, dan Arab. Mengetahui pasukan musuh sangat besar, para panglima pasukan Muslimin membatalkan serangan mendadak, tapi mengatur siasat dan strategi baru. Begitu melihat pasukan Romawi, pasukan Muslimin menghindari ke daerah Mu’tah. Di sanalah, pasukan Muslimin yang berjumlah 3.000 orang berhadapan dengan pihak pasukan Romawi berkekuatan 100.000 lebih. www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 35


Di dalam diri pasukan Muslimin tidak ada kata lain, kecuali memenangi perang di dunia, atau mati syahid di jalan Allah untuk akhirat. Syukur bisa menang dua-duanya. Bagi pasukan Muslimin, tidak istilah kalah. Kalaupun mati syahid, surga pasti telah menunggu di akhirat. Sungguh, tidak ada lagi pilihan lain dan betapa indahnya keimanan bila telah bertahta di hati manusia pilihan. Zaid maju dengan bendera Islam di tangan kiri dan pedang terhunus di tangan kanan. Ia diikuti Ja’far, Abdullah, dan Khalid bin Walid di belakang mereka. Zaid gugur dikeroyok. Tubuhnya terkoyak oleh pedang dan tombak. Segera bendera Islam dikibarkan Ja’far, maju tak gentar. Tetapi, Ja’far terjungkal dari kuda, lalu gugur. Giliran Abdullah mengambil alih bendera Islam. Ia berseru, berteriak majuuu! Bendera berkibar di tangan kirinya, pedangnya di tangan kanan, terus membabat lawan yang berlapis-lapis di depan, di kiri, di kanan, dan di belakang. Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 36


Bendera Islam di tangan kiri Abdullah nyaris robek kena tebasan pedang tentara Romawi. Sambil menebaskan pedang ke segala penjuru, Abdullah sempat melantunkan syair : “Hai nyawaku, bersumpahlah bahwa engkau akan terjun Akan terjunkah engkau, atau harus dipaksa terjun? Bila bunyi genderang perang telah mengalun Mengapa kulihat engkau masih tak suka akan surga? Betapa pun hebatnya seorang pejuang Islam, bila menghadapi puluhan musuh di muka, belakang, kiri, dan kanan, Abdullah gugur. Bendera Islam diambilalih Tsabit bin Arqam. (Padahal, Rasulullah Saw. tidak pernah bersabda, siapa yang mengibarkan bendera Islam setelah Abdullah bin Umair gugur di medan Perang Mu’tah? Tsabit mengambil inisiatif sendiri, pen). Tsabit bin Arqam cepat bertindak. Dengan tangan kanan, ia mengibarkan bendera Islam agar pasukan Muslimin tidak tercerai berai setelah kehilangan ketiga panglima perang. Berkibarnya bendera Islam itu menggelorakan semangat di dalam dada setiap prajurit Islam. Menyadari dirinya tidak mampu mengemban tugas sebagai panglima pasukan, Tsabit sempat berunding dengan para komandan. Ia bertanya, siapakah yang paling tepat menjabat sebagai panglima perang? Semua sepakat memilih Khalid bin Al-Walid – sang suka relawan. “Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman!” teriak Tsabit bin Arqam kepada Khalid bin Al;-Walid. (Nama panggilan Khalid bin Al-Walid adalah Abu Sulaiman, pen). “Tidak, wahai Tsabit!” tukas Khalid. “Aku ‘kan belum lama memeluk agama Islam. Jangan serahkan kepadaku panji Islam,” lanjut Khalid dengan sopan dan rendah hati. “Anda lebih tua, wahai Tsabit, peganglah panji itu! Anda lebih berpengalaman dibanding aku. Anda pun adalah pejuang Islam dalam Perang Badar!” lanjut Khalid. www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 37


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com “Ambilah, wahai Abu Sulaiman!” teriak Tsabit. “Anda lebih tahu siasat perang dibanding aku,” kata Tsabit. “Jadi, Anda lebih berhak memegang panji Islam ini!” Kemudian, Tsbit berseru,”Setujukah kalian, Khalid menjadi panglima perang?” “Setujuuu!” teriakan para komandan. Maka dengan gesit, Khalid melompat ke punggung kudanya, lalu mengibarkan panji pasukan Muslimin. Sementara itu, pasukan Romawi yang berjumlah besar, bagai banjir melanda pasukan Muslimin. Berguguran pejuang-pejuang Islam. Dalam keadaan kekuatan tidak seimbang demikian, sukar bagi seorang panglima perang untuk memenangi perang dengan cara berhadap-hadapan karena kalah dari segi jumlah. Kalau tidak jeli membaca situasi-kondisi, dan tidak cepat mengatur siasaat, bisa-bisa seluruh pasukan Muslimin habis tanpa sisa seorang pun. Khalid yang cerdas dan cekatan, cepat bertindak setelah mengatur siasat. Tindakan dalam keadaan darurat adalah menyelamatkan pasukan Islam yang tersisa dalam waktu yang secepat-cepatnya. 38


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com Selaku ahli perang perang ulung, Khalid mengatur siasat dan strategi baru untuk menghadapi musuh yang demikian besar. Ia berpikir, bila menghadapi musuh dalam jumlah besar, tidak mungkin melakukan perang berhadap-hadapan, atau frontal. Situasi dan kondisi tidak memungkinkan pasukan Islam melawan dengan berhadap-hadapan. Ia memilih, pasukan dibentuk dalam satuan-satuan kecil dan berpencar-pencar ke berbagai penjuru tetapi tetap kompak-menyatu dalam satu komando. Sehingga, perhatian musuh pun tidak fokus. Memecah konsentrasi musuh harus lebih dahulu dilakukan agar buyar dan terbelah-belah pula. Maka, pasukan Islam menyebar, berupa satuan-satuan kecil – dalam bentuk barisan memanjang. Khalid mengulur-ulur waktu dengan memencar, lalu menjauhi medan perang, menanti turunnya malam. Lewat tengah malam, Khalid memerintahkan pasukan yang sudah menjadi satuan-satuan kecil di berbagai gaduh di berbagai penjuru. Hal itu diatur untuk menciptakan kesan, pasukan Muslimin berjumlah banyak dan telah menyebar ke mana-mana. 39


Dengan keadaan demikian, konsentrasi musuh pecah lagi. Pasukan musuh akan bingung, lalu menduga, bala bantuan pasukan Muslimin telah datang dari Madinah. Kesan itu sungguh menguntungkan pasukan Muslimin. Kegaduhan pada tengah malam, yang dilakukan dari berbagai penjuru oleh pasukan Muslimin, benar-benar menciutkan nyali pasukan Romawi. Panglima pasukan mereka menyangka, bala bantuan dari Madinah benar-benar telah datang. Dengan kekuatan hanya 3.000 tentara yang berani mati, pasukan gabungan Romawi telah kewalahan. Bagaimana pula bila datang bala bantuan dari Madinah. Pertanyaan itu menghantui panglima perang Romawi. Maka, mereka bersiap-siap untuk mundur secara diam-diam mumpung malam masih gelap. Apabila pasukan Romawi yang besar dan kuat mundur, Khalid merasa lebih beruntung. Keadaan itu dapat ia manfaatkan untuk menyelamatkan sisa pasukan Muslimin, lalu dapat pulang ke Madinah sambil mengibarkan bendera Islam dengan tenang dan aman. Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 40


Taktik dan strategi Khalid berhasil gemilang. Pasukan Romawi berangsurangsur meninggalkan Mu’tah, menuju ke kota, sebelum waktu Subuh. Kepergian pasukan Romawi diiringi kegaduhan yang lebih riuh, bahkan tambah dahsyat dari berbagai penjuru Mu’tah. Setelah kawasan Mu’tah lengang, perang pun usai begitu saja. Khalid bin Al-Walid memimpin pasukannya balik kanan, menuju kota Madinah. Menjelang pagi, pasukan Muslimin tiba di tepi kota Madinah disambut dengan dengan cemoohan dan ejekan yang menyakitkan hati oleh warga kota. Penduduk menuduh, pasukan Musliman yang dipimpin oleh ‘panglima suka relawan’ Khalid bin Al-Walid telah melarikan diri dari kancah Perang Mu’tah. Tetapi, Rasulullah memahami, mengapa Khalid mengatur siasat dan strategi yang demikian tepat, menurut beliau. Oleh karena itu, beliau bersabda di hadapan penduduk yang menyambut pasukan Muslimin,”Sungguh, mereka bukan pelarian! Mereka akan maju kembali ke medan perang, Insya Allah!” www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 41


Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com Mendengar sabda Rasulullah, Khalid dan seluruh pasukan Muslimin merasa terharu. Mata mereka berkaca-kaca. Dalam Perang Mu’tah, Khalid bin Al-Walid membutuhkan sembilan bilah pedang untuk melakukan perang tanding (duel). Kesembilan pedang yang ia gunakan dapat membunuh musuh. 42


Pedang Allah www.ebookanak.com/www.katabaca.com Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com


Hari masih pagi ketika Rasulullah duduk di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Beliau dikelililingi para sahabat. Mereka belum menerima berita dari Mu’tah (riwayat lain menuliskan Mauta, pen). Tiba-tiba wajah beliau berubah menjadi merah. “Ah, lihatlah! Zaid membawa bendera, tetapi ia terbunuh. Kemudian, pimpinan perang diserahkan kepada Ja’far. Namun, ia pun tewas. Selanjutnuya, panglima digantikan oleh Abdullah bin Ruwahah, tetapi, ia juga tewas.” Lalu, beliau berkata lagi,”Bendera sampai ke tangan Khalid bin Walid. Dialah sebilah pedang Allah dan Allah telah mengarunianya dengan kemenangan gemilang….” Maka sejak saat itu, Khalid bin Al-Walid dikenal dengan panggilan “Pedang Allah”. Pada saat Khalid dan pasukan Muslimin kembali ke Madinah dari Mu’tah, beberapa penduduk bertanya,”Mengapa Anda lari dari Mu’tah? 0h, rupanya Anda takut mati, ya?” Copyright © All Rights Reserved/Penerbit: Luxima Dilarang Me mperjualbelikan se mua atau sebagian Konten yang a da di dala m ebook ini! Naskah: Juniarto Akbar/Ilustrasi: cbmagency.com/Desain Layout: cbmagency.com 44


Click to View FlipBook Version