The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mariratulmawaddah49, 2022-05-10 22:45:02

Naisya Albiana

Sebuah Novel

Keywords: Novel

Naisya albiana

NAILU SA’ADAH
SMP Negeri 3 Ampek Angkek

NAISYA ALBIANA
NAILU SA’ADAH
SMP Negeri 3 Ampek Angkek
Hak cipta @2022 SMP N 3 Ampek Angkek

Disklaimer: Buku ini merupakan buku novel siswa
kelas VIII yang dipersiapkan dalam rangka Gebyar
Literasi SMP N 3 Ampek Angkek, sebagai salah
satu kegiatan Gerakan Literasi Sekolah.

Penulis : Nailu Sa’adah
Desain Cover :
Editor : Mariratul Mawaddah, M.Pd.
Penerbit : SMPN 3 Ampek Angkek

Kata Pengantar

Alhamdulillah, segala syukur kehadirat Allah yang
selalu melimpahkan berkah dan rahmat kepada kita
semua, sehingga buku novel karya peserta didik kelas
VIII SMP Negeri 3 Ampek Angkek dapat diselesaikan
dengan baik. Buku ini merupakan kreativitas yang
berasal dari imajinasi peserta didik SMP Negeri 3 Ampek
Angkek setelah Pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai
bentuk pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah.

Terdapat dua tujuan dalam penulisan buku ini.
Pertama, sebagai salah satu perwujudan program
Gebyar Literasi Sekolah. Harapan kami, semoga tnovel
ini dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca dan
penikmat sastra. Kami menyadari bahwa buku ini belum
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari
pembaca akan diterima dengan senang hati yang
terbuka. Terima kasih.

Yetti Yulia, M.Pd.

NAISYA ALBIANA

Dia Naisya Albiana, seorang gadis dengan

rupa yang begitu memesona setiap kaum adam yang
melihatnya. Di balik rupa yang begitu memesona, beribu
luka disembunyikan dengan senyum indah yang terpatri
di wajahnya.

Kulit putih dengan rambut panjang sebahu,
memiliki bulu mata lentik dengan hidung mancung dan
bibir kecil berwarna pink ranumnya itu, ia berhasil
menyembunyikan luka yang teramat kelam untuk layak
dibiarkan menetetap di memori pikiran dan hatinya.

Semua orang yang melihatnya, akan berdecak
kagum akan apa yang ada pada diri gadis itu, mereka
menganggap itu suatu keberuntungan yang semua
orang pasti inginkan.

"Ih ih liat itu dia cantik bangett sihh."
"Gw insecuree liat tu muka."
"Beruntung banget punya temen kayak dia"
"Segitu doang mah cantikkan gw kali."

"Cih gw pikir bener apa yang dibilang orang-
orang."

Begitulah desas-desus bisikan orang tentangnya,
tidak hanya kekaguman tapi juga cibiran, sementara,
yang dibicarakan hanya acuh dan tidak peduli akan
ucapan mereka.

"Sya mereka ngomongin kita tuh," bisik orang
yang ada di sampingnya, ia salah satu sahabat Naisya,
Viana Richard Biatama.

Yang kerap disapa Viana itu, sahabat Naisya dari
ia SMP, Viana anak yang bar-bar, ia suka sekali
berciloteh yang tidak penting menurut teman-temannya.

Viana gadis dengan tubuh yang tidak terlalu
tinggi, hidung mancung dan bulu mata lentik serta kulit
putih mulusnya menambah kesan cantik pada dirinya.

"Ga usah ditanggepin apa yang mereka omongin
deh, mereka cuma iri sama kita" saut Naisya membalas
ucapan Viana dengan bodo amat.

"Iya masih pagi, jangan buat keributan," tambah
Viani, gadis kembaran Viana, Viana yang tidak terima
dengan jawaban sahabat dan kembarannya itu hanya

bisa berdecak sebal, menurutnya itu memekakkan
telinga dan harus dibasmi.

Iya, Viana punya kembaran, Viani Richard
Biatama, adik kembarannya, yang hanya berselisih 4
menit itu. Mereka sangat mirip, bahkan orang-orang
susah mengenal keduanya dengan benar.

Viana dan Viani sangat berbeda, Viana dengan
tingkah bar-bar dan banyak omong, berbanding terbalik
dengan Viani dengan sifat cuek dan dinginnya, ia hanya
akan berbicara dengan sahabat dan orang yang dekat
dengannya.

Membedakan Viana dan Viani bisa dengan
melihat rambut mereka, Viani memiliki rambut lurus dan
panjang sebahu sementara Viana memiliki rambut ikal di
bawahnya.

Jika orang-orang akan mengira mereka memiliki
kemampuan yang sama, mereka salah besar, Ana dan
Ani memiliki kemampuan yang berbeda.

Jika disuruh memilih belajar dari pada membuat
suatu karya kerajinan maka Viana akan cenderung lebih
memilih mengerjakan tugas keseniannya dari pada

mengerjakan tugas tulis yang diberikan guru mereka, ia
adalah murid yang kreatif.

Sementara Viani, gadis itu lebih cenderung
memiliki kemampuan dalam berbagai mata pelajaran.
Bisa dibilang Viani itu cerdas dibidang akademik. Dalam
bidang apapun ia sangat mudah memahami materi-
materi yang sangat sulit bagi mereka yang lemah
Akademiknya.

"Ya udah kita langsung ke kantor kepala
sekolahnya aja," ujar Dinda menengahi percakapan
sahabatnya.

Dinda Syaquela, yang kerap disapa dengan
sebutan Dinda oleh banyak orang, tapi itu tidak berlaku
untuk sahabatnya yang memanggilnya dengan sebutan
Syaquel, sahabatnya mengatakan itu sebutan spesial
darinya untuk Dinda, gadis itu hanya mengiyakan
perkataan sahabat-sahabatnya.

Dinda, gadis itu bisa dibilang lemah dalam
akademik, tapi jangan tanya kesolidaritasanya, itu sangat
dijunjung tinggi oleh Syaquel. Ia akan membela mati-
matian jika itu sahabatnya. Itu juga yang membuat
teman-temannya mudah bergaul dengannya.

Dinda juga anak yang friendly terhadap semua
orang, dan termasuk orang yang royal, Dinda berasal
dari kedua orang tua yang kaya raya. Papa Dinda
bekerja sebagai Dosen di salah satu kampus di
daerahnya, mamanya juga berprofesi sebagai dokter
umum. Dinda anak tunggal, sebab itu orang tuanya
sangat sayang dan menjaga Dinda dengan keposesifan
mereka.

Dinda akan menyapa dan membantu siapa pun
jika ia mampu melakukannya. Dinda juga tidak pandang
bulu, kepada siapa pun ia berbuat baik.

"Kita kan ga tau dimana kantor kepala sekolanya,
gimana dong?" Aqila menghentikan langkah sahabat
sahabatnya.

Aqila Syaquenby, gadis polos yang selalu saja
mendengarkan omongan orang dan sangat ambisius
akan pelajarannya. Aqila yang lebih pendek dari
temannya yang lain, dengan hidung pesek kulit sawo
matang dan bibir yang berukuran sedang.

Yang berfikiran jika Aqila akan berpakaian dan
bersifat seolah nerd, kalian salah besar, sebab Aqila
memiliki fashion yang bagus, ia hanya sedikit ambisius

akan pelajarannya dan polos yang teramat sangat
melekat pada dirinya.

"Tumben lo ngomong bener," kekeh Viana yang
buat Aqila berdecak sebal padanya.

"Aku itu emang pinter ya Na, dari orok
malahan!?" bela Aqila bangga dengan sedikit
membusungkan dadanya ke depan dan kepala sedikit
terangkat.

"Iya deh iya, yang pintermya dari orok..." Saut
Viana yang sengaja untuk membuat Aqila tambah kesal,
dan mendapatkan tatapan tajam dari Viani.

"Ga usah mulai?!" kesal Viani mendengar
kembaranya berbicara dengan menatap lawan bicaranya
dengan tajam.

"Iya iya…. iss gw cuma becanda, tegang amat
muka lo, masih pagi nih senyum kek," ujar Viana yang
langsung dihentikan Naisya.

"Udah udah kalian jangan berantem dong baru
juga masuk," Naisya menengahi percakapan Si duo
kembar itu, jika tidak perdebatan mereka tidak akan
selesai.

"Tanya aja sama murid sini di mana kantor kepala
sekolahnya," tambah Naisya yang dibalas anggukan oleh
sahabatnya.

"Yaudah biar gw deh yang nanya, sekalian tepe-
tepe, hehe," cengiran Viana, yang langsung ditempeleng
pelan oleh Dinda.

"Kebiasaan banget suka tepe-tepe," sungut
Dinda.

"Biarin kan gw cantik jadi wajar kalau gw
memanfaatkan pemberian Tuhan sama gw," membuat
mereka langsung bergaya seperti akan muntah
mengejek ucapan Ana.

"Tanya, cepet!?" ujar viani yang kesal dengan
omongan kembarannya.

"Sabar dong, main ngegas aja," ucap Viana
sambil berjalan mendekati beberapa siswi yang ada di
koridor sekolah itu.

"Emm boleh nanya ga? Kantor kepala sekolah di
mana ya?” Ujar Viana sopan pada siswa siswi yang
sedang berkumpul itu

"Ohh... kantor kepala sekolah, tinggal lurus aja
ntar mentok belok kiri di sebelah kantor guru," ujar
seorang siswa menjelaskan letak ruangannya.

"Makasih ya," ucap Viana tulus sambil tersenyum
pada siswa tadi, bisa dilihat Viana, siswa tadi salting
dengan senyumannya.

Setelah bertanya Viana langsung mengajak
teman-temannya ke kantor kepala sekolah.

"Yukk udah gw tanya tadi," semangat Viana
menarik sahabat-sahabatnya.

Setelah kelima sahabat itu pergi, para siswa dan
siswi mengerubungi siswa tempat Viana tadi bertanya.
Mereka sungguh kepo apa yang dikatakan Viana pada
siswa tadi.

"Ehh kok dia ngomong sama lu, ngomongin
apa?"

"Nama nya siapa, tadi lu kenalan sama dia?"
"Dia temen lu."
"Kenalin dong sama temennya." Tanya siswa
yang mengerubungi siswa tadi.
"Dia cuma nanya di mana kantor kepala sekolah,
kalian tu apa-apan sihh, brisik tau ga, satu-satu nanya

nya," siswa tadi membalas ucapan semua teman-
temannya yang bertanya.

"Yah cuma nanya kantor kepala sekolah."
"Padahal mau tau tentang temennya."
"Gimana sih caranya biar kenalan sama tu lima
cewek." Kecewa para siswa dengan pergi dari hadapan
cowok tadi.
Mereka pun sampai di depan pintu kepala
sekolah.
"Lo yakin ini kantornya kan Na?" Tanya Dinda
memastikannya, yang benar saja, jika salah mereka
berlima akan malu dibuatnya.
"Sesuai yang dikasih tau sama cowok tadi sih iya
ini, coba ketuk dulu aja ntar kalo salah biar gw yang
nanya sama yang ada di dalam." ujar Viana pada
sahabat-sahabatnya.
Dinda pun mengetuk pintu yang ada di depan
mereka, mendengar sautan yang menyuruh mereka
masuk, kelimanya masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Kalian murid baru, murid pertukaran pelajar
kan?" Tanya seorang lelaki yang sudah agak berumur.

"Um... Iya Pak kami berlima murid pertukaran
pelajar dari SMA lama ke SMA ini," ucap Aqila mewakili
sahabat-sahabatnya.

"Kalau begitu, tunggu sebentar ya, saya akan
panggilkan wali kelas kalian yang akan mengantar kalian
ke kelas," ujar bapak yang mereka ketahui adalah kepala
sekolah SMA Garuda.

Ya, mereka berlima adalah murid pertukaran
pelajar dari SMA lamanya dan sekarang di SMA Garuda,
SMA yang cukup elit di kotanya.

"Bu Melati bisa ke ruangan saya sekarang?"
Tanya pak kepsek pada orang di seberang telepon.

.....

"Oke segera ya, makasih," ujarnya lagi dan
langsung memutuskan sambungan telepon dengan
sepihak.

Tak beberapa lama setelah telepon dimatikan,
seseorang mengetuk pintu, yang dipersilahkan oleh pak
kepsek (Kita sebut aja nama pak kepseknya pak Retno
Wulandara).

"Silahkan masuk," ujar pak Retno.
"Iya, ada apa ya Bapak manggil saya?" Ujar
seorang wanita yang masih kelihatan muda dengan
tersenyum kecil yang mereka kira-kira adalah orang di
seberang telepon pak Retno tadi.
"Ini saya mau kasih tau murid-murid pelajar yang
saya kasih info kemaren sudah datang, Bu Melati tolong
ya mereka berlima masuk ke kelas ibu," ujar pak Retno
menerangkan maksudnya memanggil guru yang
bernama Bu Melati.
Bu Melati melirik mereka sebentar dan langsung
mangangguk mengerti.
"Ya sudah Pak, saya permisi dulu, mau
mengantar mereka ke kelas," pamit bu Melati pada pak
Retno, yang di angguki oleh pak Retno.
"Mari, ikuti saya, kalian bisa manggil saya Bu
Melati, saya juga wali kelas kalian nantinya," ucap bu
Melati mencoba mengenalkan diri yang dibalas
anggukan kepala oleh kelimanya.
Setelahnya mereka berhenti di depan pintu yang
berwarna coklat tua dengan di atasnya bertuliskan
"welcome to class"

Bu Melati masuk yang disusul oleh kelimanya.
"Anak-anak ibu minta perhatiannya sebentar ya,"
ucap bu Melati membuat murid-murid yang ada di kelas
yang tadinya ada yang berkumpul-kumpul, ada yang
membuat tugas, ada yang bermain, sontak langsung
memperhatikan ke depan mendengar suara bu Melati.
"Kelas kita kedatangan murid pertukaran pelajar
dari SMA sebelah, dan teman-teman kalian akan
bergabung di kelas ini," ujar bu Melati panjang lebar.
"Perkenalkan diri kalian masing-masing," tambah
bu Melati lagi, kemudian dibalas anggukan kecil oleh
kelimanya.
"Kenalin nama gw Naisya Elbiana, kalian bisa
panggil gw Naisya," ucap Naisya mulai memperkenalkan
diri dengan senyuman tentunya.
"Gw Viana Richard Biatama, biasa dipanggil Ana,
gw anaknya baik banget, cantik, suka menabung, saling
menolong, pinter lagi. Jadi kalian harus punya temen
kayak gw," sambung Viana memperkenalkan diri dengan
menyombongkan dirinya, yaa walaupun faktanya
memang seperti itu.

"Viani Richard Biatama," ujar Viani dengan wajah
datar yang terpatri di wajahnya. Viani memang cuek dan
dingin tapi dia baik kok. Kalau kalian sudah berteman
baik sama dia juga akan sedikit terbuka, SEDIKIT
ya... guyyss.

"Mereka kembar kan?"
"Njir mirip banget."
"Ga ada bedanya pliss.”
"Beda banget sifat mereka." Bisik-bisik murid
yang mulai membicarakan Viana dan Viani.
"Shuutt…. anak-anak diam sebentar," ujar bu
Melati menenangkan kelas yang sedikit gaduh, mereka
kembali memperhatikan ke depan.
"Hai semua, kenalin gw Dinda Syaquel, kalian
bisa panggil gw Dinda, semoga bisa berteman baik sama
gw ya," ucap Dinda ramah.
"Sementara gw, gw Aqila Syaquenby, kalian
panggil aja Aqila, salam kenal semuanya." Ujar Aqila
mengakhirinya dengan senyuman yang memperlihatkan
gigi putih dan rapi Aqila.

Setelah sesi perkenalan diri mereka

"Baik anak-anak apakah ada yang mau
ditanyakan?" Tanya bu Melati selaku wali kelas dan juga
mengajar Bahasa Indonesia.

"Saya Bu," tunjuk tangan seorang siswa.
"Iya Dirta, silahkan bertanya," ujar bu Melati.
"Humm Viana luu udah punya pacar blumm?"
Tanya siswa yang diketahui dengan sebutan Dirta itu,
yang langsung diteriaki oleh teman sekelasnya.
"Gw blum punya pacar sih, emangnya kenapa?"
Tanya Viana lagi.
"Sudah… sudah… sesi tanyanya nanti saja
dilanjutkan waktu jam istirahat ," ujar bu Melati sebelum
waktu mereka belajar terpakai lebih banyak lagi.
"Kalian berlima duduk di belakang, duduk di
bangku yang kosong ya," ujar bu Melati lagi.
Mereka berlima pun duduk di bangku yang
kosong, Aqila dan Dinda duduk sebangku, Naisya dan
Viani juga duduk sebangku, dan kebetulan Viana duduk
sebangku dengan Dirta, orang yang bertanya padanya
tadi.

"Hay, kenalin nama gw Dirta Andromeda, gw
ketua kelas kita," ujar Dirta sambil tersenyum simpul
pada Viana, dan mengulurkan tangannya.

"Viana Richard Biatama," balas Viana
menyalami tangan Dirta yang terulur padanya,
tersenyum canggung. Bagaimana tidak canggung
melihat wajah Dirta yang sangat tampan dengan ukiran
wajah yang pas untuknya. Setelah itu mereka semua
belajar seperti biasa

Kringg

Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi yang
menandakan bahwa jam istirahat sudah datang.

"Baiklah anak-anak karena bel sudah berbunyi
kita akhiri pertemuan kita hari ini, dan jangan lupa buat
tugas yang sudah ibu bagikan yaa, tugas akan
dikumpulkan minggu depan," bu Melati menutup
pelajaran dan berjalan ke luar kelas.

"Yuk ke kantin, dahh laper bangett nihh gw, dah
pada minta makan cacing-cacing di perut gw," ujar Dinda
dengan sedikit memajukan mulutnya manyun.

"Ya udah Yuk Na, Ni, Sya," ajak Aqila.
"Hmm gw ikut kalian ke kantin bareng boleh ga?
Sekalian nanti gw kenalin sama temen-temen gw juga,"
ujar cowo yang dikenal sebagai Dirta itu
memberhentikan lima kawanan itu.
"Boleh kok, gabung aja kita juga baru di sini,
jadi, belum hafal banget letak sekolah," jawab Dinda.
Mendengar jawaban Dinda, Dirta tersenyum
antusias dan mengangguk cepat dan berjalan bersama
lima kawanan itu.
Setibanya di kantin sekolah, mereka mencari
bangku yang kosong.
"Umm di sana kosong kayanya deh, muat buat
kita berenam," ujar Dinda yang melihat dengan mata
sedikit terpicing, ke arah satu buah meja dengan enam
kursi.
"Ya udah langsung aja ke sana, udah capek nih
kaki gw berdiri dari tadi," keluh Naisya.
"Kalian pesen apa? Biar sekalian gw aja yang
mesenin," kata Dirta.

"Biar ga susah, samain aja gimana, gw pesen
nasi goreng aja sama minumnya jus mangga satu," ujar
Dinda.

"Samain ajalah," balas yang lainnya.
Dirta pun langsung pergi memesan makanan
mereka.
"Yuhhuu.. makanan sampeee, nih pesenan
kalian," Dirta begitu antusias habis dari stan jualan tadi.
Mereka pun makan dengan lahapnya. Sesekali
melirik ke segala arah melihat ramainya kantin saat itu.
“Ehh itu yang anak baru bukan sih?”
“Iya iya itu anak baru yang dikabarin pindah
kan?”
“Mereka masuk kelas mana ya?”
“Ehh mereka duduk bareng Dirta tuh!”
“Jangan-jangan mereka sekelas sama Dirta.”
“Berarti mereka masuk MIPA 1 dong.”
“Wah dari wajah wajahnya mereka pinter banget
ga sihh?”
“Ga salah sih mereka cantikk semuaaaa.. aku
insecuree makk.”
Begitulah gosip gosip yang mereka dengar.

Brakk!!!!!
Meja mereka dipukul dengan keras oleh
seorang siswi yang tidak mereka kenal dengan kanan
dan kiri nya ada siswi lain. Membuat siswa dan siswi
yang ada di kantin memperhatikan ke arah meja mereka.
"Heh lo, jangan jadi cewek kecentilan dehh,
deket dekettin cowok orang, cantik juga kagak, sok-
sokan mau deketin cowok orang, ngaca deh lo, anak
baru belagu banget lu," teriaknya dan menujuk ke arah
Viana yang duduk di samping Dirta.
Viana yang merasa ditunjuk pun tidak terima
akan tuduhan itu, ia berdiri dari duduknya.
"Apa maksud lo bilang gw kayak gitu hah, kenal
lo aja gw ga nuduh-nuduh gw lagi lo, punya nyali brapa
lu lawan gw," balas Viana tidak kalah besar.
"Huh ga tau diri juga lu ternyata hah, dasar
cupu, ga tau siapa gw disini hm? " Balasnya lagi.
"Gw ga kenal lu, siapa sih yang mau temenan
sama nenek lampir kaya lu, katarak tuh mata mereka
berdua," tunjuk Viana pada dua orang kanan dan kiri
siswi tadi.

Pla------

Waktu siswi tadi mau menampar Viana, ada
tangan yang menahan dan menghempaskan tangannya
dengan kasar.

"Brani lu nampar kembaran gw brani lu mati
ditangan gw, MBAK," ujar Viani yang berdiri dari
bangkunya dengan tatapan tajam dan menekan kata-
kata terakhirnya.

Plakk

Tidak, bukan siswi tadi yang menampar Viana
tapi, Viani yang menampar siswi tadi dengan suara yang
menggelegar di kantin, semua orang dibuat cengo
melihat aksi Viani tadi, mereka seakan mengatakan
bahwa tidak ada yang pernah berani dengan siswi itu.

"LO NAMPAR GW HAH!!! LO BELUM TAU GW
SIAPA DI SINI?? OKE SEBENTAR LAGI KALIAN AKAN
DIKELUARIN DARI SEKOLAH INI, CAMPKAN ITU."
teriaknya marah dan langsung pergi dari kantin bersama
dua anteknya.

"Gw tunggu, apa yang lo bilang Mbakkk," balas
Viana dengan sedikit senyuman seakan mengejek.

Mereka kembali duduk dan melanjutkan makan
yang tadi sempat tertunda.

"Yang dimaksud cewek stres tadi lo Dit? Kan
cuma lo cowok di meja ini, dan juga cuma lo yang duduk
di samping Viana," tanya Naisya membuka suara karena
teramat kepo dengan siswi tadi.

"... Iya tadi dia ngomongin gw ke kalian, tapi gw
bukan cowoknya dia, dia suka sama gw, lebih tepatnya
sih obsesi, karena gw pernah nolak dia waktu itu, dan
sejak itu cewek yang deket sama gw selalu di bully dan
dikasarin sama Anya dan antek-anteknya itu," ungkap
Dirta menundukkan kepalanya merasa bersalah.

"Owwhh jadi nama cewek lampir tadi Anya,
centilnya kelihatan jelas yaa, make baju kek kurang
bahan gitu, tu lagi muka dipakein tepung apa ya,
putihnya dah kayak kunti aja, mana lagi bibir merah
merona kayak cabe, ehh kan emang cabe ya, cabe
cabean," ejek Dinda tertawa terbahak-bahak dan diikuti
yang laninya ketawa.

"Lo harus hati-hati sama dia, dia bisa aja
keluarin lu dengan mudah dari sekolah ini, bokopnya
kepala sekolah di sini," ujar Dirta lagi.

"Kalau bokapnya cuma kepala sekolah di sini,
bokap gw yang punya sekolah ini dia bisa apa? Hmm… "
Balas Viana lagi dengan senyuman liciknya.

"Jadi... bokap kalian berdua pak Dimas
Biatama? Ohh iya, kalian kan pakai marga keluarga
Biatama, kenapa gw ga ngeh ya waktu kalian kenalin
diri," jawab Dirta lega karena Viana tidak akan bisa
dikeluarkan dari sekolah itu.

Viana hanya membalas dengan menggerakkan
bahunya acuh dan melanjutkan makannya.

Sesaat kemudian mereka sudah selesai makan
dan akan menuju ke kelas kembali. Di saat perjalanan,
mereka dihentikan oleh suara panggilan dari pengeras
suara.

“KEPADA SISWI YANG BERNAMA VIANA RICHARD
BIATAMA DAN VIANI RICHARD BIATAMA DIPANGGIL
KERUANG KEPSEK”

“DIULANG KEMBALI KEPADA SISWI YANG BERNAMA
VIANA RICHARD BIATAMA DAN VIANI RICHARD
BIATAMA DI PANGGIL KERUANG KEPSEK”

“SEGERA KERUANGAN”

"Kalian dipanggil ke ruang kepsek, pasti Anya
udah ngadu sama bokapnya," ujar Dirta.

"Udah ga papa, nanti juga bokapnya dipecat
sebentar lagi, yuk," ajaknya pada Viani, Viani
menganggukkan kepalanya dan berjalan beriringan di
sebalah Viana.

"Kalian duluan aja ke kelas ntar gw nyusul kok,"
ujar Viana dari kejauhan dan diangguki oleh mereka
berempat.

tok tok tok

“Masukk….”
Di sanalah mereka sekarang di ruang kepala
sekolah.
"Ada apa Bapak manggil kita ya Pak?" ujar
Viana.

"Benar kalau Viani menampar Anya di kantin
tadi?" Tanya pak Retno to the poin.

"Benar, keberatan?" Tanya Viani membuka
suara dengan wajah yang masih datar.

"Kenapa kamu melakukan itu Viani, kamu anak
baru di sini, kamu harus sopan dan menjaga attitude
kamu di sekolah ini!" Ungkap pak Retno menaikan satu
oktaf suaranya.

"Bapak belum mendengarkan penjelasan kami,
Bapak tidak bisa semena-mena seperti itu. Kami tidak
bersalah di sini," ujar Viana sedikit kesal.

"Apapun alasannya yang namanya kekerasan
itu tidak diperbolehkan di sekolah ini Viana," ujar pak
Retno lagi.

"Lalu bagaimana dengan perundungan yang
dilakukan anak bapak Anya, bukankah bapak lebih tau
akan hal itu? Mana perlakuan bapak yang sok mengadili
semua itu seperti kami saat ini?" Ungkap Viani panjang
lebar.

Viana yang mendengar kembarannya berbicara
panjang lebar seperti suatu kejadian langka baginya.

"Apa maksud kamu? Anya tidak pernah berlaku
seperti yang kamu tuduhkan tadi. Jadi itu hanya tuduhan
palsu," ujar pak Retno sedikit gugup dibuatnya.

"Woo lalu bagimana dengan ini pak Retno yang
TERHORMAT," balas Viani lagi dengan menyerahkan
layar handphonenya pada wajah pak Retno.

Melihat layar handphone Viani, pak Retno
berkeringat dingin dibuatnya, bagaimana tidak, dilayar
handphone Viani, terdapat video Anya yang sedang
merundung salah satu siswi dengan kejamnya.

Viani yang melihat pak Retno gugup dan
berkeringat dingin tersenyum kecil.

"Kenapa? Kaget dari mana saya dapat video
itu? Itu tidak penting. Yang penting sebentar lagi kalian
akan keluar dari sekolah ini, siap-siap jatuh miskin," ujar
Viani dengan seringainya.

"Heh jangan sok deh loo pake ngomong mau
ngeluarin gw sama bokap gw dari sekolahan ini, punya
apa lo?" Suara Anya tidak senang.

"Kenalan lagi aja Pak, kalau Bapak lupa nama
kita, Viana Richard BIATAMA dan Viani Richard
BIATAMA. YA BAPAK RETNO YANG TERHORMAT.

Ohh masih belum kenal ya Pak, ya udah biar lebih
mudah dipahami saya ulangi lagi ya pak, BAPAK DIMAS
BIATAMA ADALAH AYAH KANDUNG SAYA, jadi kalau
bapak tidak profesional seperti ini saya pastikan detik ini
juga profesi sebagai kepala sekolah akan tergantikan
oleh pihak lain yang lebih LAYAK TENTUNYA," kata
viana panjang lebar dengan diakhiri senyuman
mengejeknya pada pak Retno.

"Ka… kalian anaknya pa-pak Dimas?" Ujar pak
Retno yang benar-benar gugup sekaligus takut tapi
berusaha menetralisirkan raut wajahnya senormal
mungkin agar tidak terlihat cemas.

Anya yang mendengarkan pengakuan atas
identitas dari Viana, Viani menggigil sebab ia tau
seberapa kayanya keluarga Biatama itu.

"Dan lo, tangan kotor yang lo gunain buat
nampar kembaran gw tadi, siap-siap aja besok ga ada
lagi tu tangan," ujar viani dengan raut muka tetap datar
dan tenang.

"Ga ada yang perlu dibahas lagi kan pak Retno
yang sangat terhormat, kalau gitu saya dan kembaran
saya mau keluar dulu, permisi," ujar viana dan langsung

melenggang pergi dari ruangan itu diikuti Viani di
belakangnya dengan senyuman.

Di perjalanan menuju kelas Viana dan Viani,
Viana merasa sangat bahagia karena apa? Karena ia
berhasil membuat tukang bully yang ditakuti seantero
sekolah bertekuk lutut di hadapannya.

"Ehh itu Ana, Ani ga sihh?" Ujar Dinda,
menunjuk ke depan dengan memicingkan matanya
hingga sedikit sipit.

"Iya tu mereka, sorakin aja," sahut Naisya.
"Vianaaa, Vianiii!! " Teriakan Dinda menggema
di sepanjang koridor sekolah dengan lambaian tangan.
Merasa diteriaki, Viana dan Viani berbalik ke
belakang dan mendapati sahabat-sahabatnya, Naisya
dan yang lainnya berlari kecil menuju Viana dan Viani.
"Gimana tadi!? Pasti tadi kalian kena amuk pak
Retno kan!? Truss dihukum, truss diskors atau ga
langsung dikeluarin karena berani nampar anaknya!!?"
Tanya Dirta bertubi-tubi dengan nafas tersengal-sengal.
"Ihh cerewet banget sihh luu, kita gak papa,
lebay amat dah, siapa yang berani ngehukum anaknya
pemilik sekolahan hah?" Cerocos Viana dengan sedikit

membusungkan dadanya kedepan seakan bangga akan
ucapan terakhirnya.

"Beneran ga papa? Ga diapa-apain kan?"
Tanya Naisya memastikan dan dibalas anggukan oleh
sahabatnya.

"Iya ga papa, kita aman. Kalian kenapa masih di
luar, ga masuk?" Tanya Viani membuka suara.

"Lagi jamkos, gurunya izin katanya anaknya
sakit, jadi bisa deh keluar," jawab Syaquel dengan
cengiran.

"Ya udah yuk… kelas," lanjutnya lagi sambil
berjalan dan diikuti yang lainnya.

"Eiitt tunggu dulu, jangan ke kelas. Gimana
kalau ke kantin lagi aja," ucap Dirta menghentikan
langkah yang lainnya.

"Males ahh ntar ada setan cosplay jadi mak
lampir lagi kan ngeri yaa," balas Aqila menyindir Anya
yang berpakaian seperti kurang bahan dan ber make up
tebal.

"Dah julid aja mulut lu la, biasanya polos-polos,"
tatapan Aqila beralih pada Dinda dengan mengangkat
satu alisnya ke atas dengan raut wajah tidak senang.

"Hehe becanda Aqila jangan gitu dong mukanya
nanti mirip mak lampir mau lo?" Cengiran Dinda dengan
candaan freaknya.

Tidak diherankan lagi Dinda memang anak yang
suka sekali menjaili dan memberikan candaan pada
temannya walaupun kadang itu tidak ada lucunya, dan
yang lebih parahnya lagi Dinda bisa mengeluarkan
candaan anehnya disaat saat genting atau dalam
keadaan tegang.

Kalau kata Dinda biar ga tegang-tegang amat,
biar bisa leluasa juga. Dahlah Dinda emang berbeda.

Karena tidak jadi pergi ke kantin, alhasil mereka
pergi ke kelas. Setibanya di kelas murid-murid yang di
dalam menatap heran kapada Viana dan Viani yang
santai saja berjalan seperti tidak ada apa-apa.

"Na, lu kenapa santai aja? Pasti lu kena amukan
pak Retno kan? Karena habis nampar anaknya atau lu
kena hukum? Diskors atau langsung disuruh manggil
orang tua Na?" Tanya salah satu teman sekelasnya
dengan berbagai macam petanyaan yang bernama
Dania. Dania itu murid cerewat dan selalu update perihal
apa pun.

Viana yang ditanya dengan berbagai
pertanyaan pusing sendiri.

"Gw ga papa santai aja, gw ga diapa-apain kok,"
jawab Viana.

"Kok bisa? Biasanya yang gangguin Anya bakal
dihukum atau ga diskors. Parahnya lagi kalau kita
ngelawan atau mau kasih penjelasan bakal dipanggil
orang tua," teriak Dania sedikit kencang dan tidak
percaya kalau Viana dan Viani bisa bebas begitu saja, itu
mustahil.

"Yang bener lo? Sampai kayak gitu, aneh
banget. Padahalkan anaknya yang bikin ulah dan bully
sana sini," sahut Dinda yang terheran mendengar
penjelasan Dania.

"Iyaa bener. Ya kali gw boong. Kalau lu ga
percaya tanyain ke yang lain deh soalny-" ucapan Dania
terpotong kala guru mata pelajaran masuk dan
mengucapkan salam.

"Hai semua," sapa guru lelaki yang bernama
pak Jono, Pak Jono mengajar mata pelajaran
Matematika. yaaa mata pelajaran, kali ini Matematika.

"Baik anak-anak, karena minggu depan bab 2
sudah tamat dan bapak juga memberikan PR kepada
kalian, tolong sehabis jam pelajaran ketua kelas
antarkan ke meja bapak di kantor," lanjut pak Jono.

"Kok perasaan gw tiba-tiba ga enak gini ya La?"
bisik Dinda kepada Aqila.

"Ga enak gimana?" tanya Aqila dengan berbisik
bisik seperti yang dilakukan Dinda.

Sebelum Dinda kembali menjawab pak Jono
sudah kembali berbicara, murid yang mendengar ucapan
pak Jono langsung menghela nafas melas.

"Kita ulangan sekarang mengenai bab 2 yang
telah kita pelajari minggu kemarin, bapak mau melihat
sampai mana pemahaman kalian mengenai bab 2," ucap
pak Jono yang membuat murid menjadi misuh-misuh.

"Nahh kan bener, perasaan gw ga enak yaa, ini
mana tadi malem gw ga ada ngulang materi lagi, ahh
elah," ucap Dinda lagi.

"Tenangg ada ana sama ani tuh di depan
Naisya juga, nanti panggil mereka ajaa hehe," Aqila tidak
khawatir karena Viana Viani pintar Naisya juga memiliki
otak yang encer.

"Naa," bisik Dinda.
Viana menolehkan kepalanya seolah bertanya
ada apa.
"Na, nanti bantuin gw ya, gw ga belajar
semalem," ucap Dinda dengan muka yang berekspresi
memohon.
Viana mengangkat tangannya dan
menyimbolkan tanda oke. Dan ulangan pun dilaksakan
dengan muka anak-anak yang masam.
Dan tidak heran lagi jika pada ulangan
matematika banyak yang mencontek, bertanya pada
teman sebelah dan masih banyak lagi ragam cara untuk
mereka mencontek.
Contohnya Dinda sekarang, ia lagi berusaha
memanggil Viana dan Viani dengan menendang kursi
yang diduduki oleh Viana dan Viani bergantian.
Viana menoleh dan melihat ke arah Dinda,
melihat ada kesempatan emas Dinda menanyakan
beberapa soal pada Viana.
"Na, yang no 15 sampe 20 gw belummm," bisik
Dinda yang meminta jawaban.

"Et dah buset banyakk banget, lo bikin aja
sendiri, gw aja belum kelar," Viana tidak menoleh lagi ke
arah Dinda dan fokus pada lembar ulangannya.

"Huuaaaa… Anaaa sekalii inii ajaa pliss, gw
benerann ga tau jawabannyaa," Dinda memohon tetapi
Viana tidak menoleh padanya.

Lagi-lagi Dinda pasrah dan berakhir tidak
mengisi. Waktu ulangan hampir habis dan yang diisinya
baru sampai no 15 padahal ulangannya memiliki soal 30.

"Waktu ulangan tinggal 10 menit lagi,"
perkataan pak Jeno berhasil membuat Dinda dan yang
lainnya panik.

"Qila, lo udah siap belum? mintaa dong gw, gw
masihh banyakk."

"Gw belum siap masih banyak nih," balas Aqila
seraya memperlihatkan lembar jawabannya.

"Nih, isi cepetan, waktu tinggal 6 menit," ucap
Naisya tiba-tiba seraya memberikan secarik kertas
contekan pada Dinda.

"Loo emangg the best deh Syaa, prennd gw
nihh," Dinda sangat happy dan segera menulis

jawabannya dan setelah itu ia berikan kertas contekan
tadi pada Aqila dan yang lainnya.

Dinda dan Aqila sesat yaa gais ya, jangan ditiru.
Harus belajar tiap hari walaupun sebentar, oke!

Setelah ulangan mendadak itu, bel berbunyi
menandakan jam istirahat sudah masuk. Anak-anak
bersorak ria secara berbisik.

"Baik ananda, dikarenakan bel stirahat sudah
berbunyi, kumpulkan kertas ulangan di meja bapak,
segera," pak Jono menginstruksikan untuk segera
meletakkan kertas ulangan di mejanya.

Lalu anak-anak keluar secara bergantian,
mereka akan pergi ke kantin tempat mereka
menghilangkan sedikit frustasinya. Tugas yang
menumpuk.

Setelah sesi ulangan mendadak yang membuat
otak pusing tujuh keliling. Anak-anak keluar dan menuju
kantin, ada juga yang ke perpustakaan untuk memakan
bekal mereka dengan tenang dan sendirian dan ke toilet.

Naisya dan keempat sahabatnya memilih untuk
makan di kantin, mereka berpendapat jika makanan di
kantin enak dan siap saji, kenapa harus membawa bekal

yang pasti memberatkan isi tas mereka dan nanti juga
waktu dimakan pasti sudah dingin.

Berjalan ke kantin untuk mengisi kekosongan
perut mereka. Setibanya di kantin mereka melihat warga
sekolah yang sangat ramai, dan mereka memilih di pojok
kanan kantin yang dekat dengan pintu ke luar kantin.

Lalu mereka memilih untuk duduk di meja yang
ada di pojok kanan yang pasti memiliki kursi yang pas
untuk mereka berlima.

"Siapa yang mau pergi mesen?" Tanya Aqila.
"Gw aja, kalian mau pesen apa?" Tanya Naisya.
"Gw mau nasi goreng sama minumannya teh
es," ucap Dinda menyebutkan pesanannya.
"Samain," satu kata itu berasal dari mulut Viani
dengan wajah datar dan tidak berekspresi lain.
Tak lama kemudian makanan yang mereka
pesan pun datang, lalu mereka memakan makanan
mereka dengan berbincang - bincang.
Sekarang di kelas mipa x¹ sedang bertukar
pakain, meraka sekarang ada jam PJOK, lalu setelah
berkumpul di lapangan outdor, mereka melakukan
pemanasan terlebih dahulu, sekarang mereka di berikan

materi yang dijelaskan langsung oleh guru PJOK yaitu
bapak Afdal. Bapak Afdal menjelaskan materi tentang
bola basket. Setelah dijelaskan mereka akan disuruh
mempraktekkannya, cowok dan cewek bergantian
bermain.

Ketika bermain bola basket, cowok yang
bernama Maulana Giananta Skala yang kerap disapa
Kala atau Skala oleh teman-temannya, lelaki yang
berbadan tegap dan memiliki paras yang diidam-
idamkan kaum hawa.

Memiliki sifat yang cuek akan sekitar dan tidak
memintingkan orang lain kecuali yang ia sayang, tetapi ia
bukan tipe orang yang buta akan sosial dan tidak update
berita, ia hanya tidak ingin mempedulikan sekitar.

Ketika Skala ingin mengoper bola pada
temannya, bola tersebut malah melenceng dan berakhir
mengenai seorang cewek. Semua orang terkejut karena
si cewek tiba-tiba ada di tepi lapangan.

Lalu Skala menghampiri sang gadis itu dan
berjongkok untuk mengulurkan tangannya, lalu si gadis
menerima uluran tangan Skala. Skala masih berhati baik

ya. Jika ia salah, ia akan bertanggung jawab atas
kesalahan yang diperbuatnya.

"Maaf gw ga sengaja," ujar Skala, lalu
mengambil bola basket yang ada di samping sang gadis.
Gadis tadi masih menunduk membersihkan roknya yang
kotor akibat jatuh tadi.

"Iya ga papa, gw yang salah juga kok, karna
berdiri deket lapangan," balas gadis yang Skala lihat
berambut sebahu itu. Dan melihat ke arah Skala, ketika
itu Skala dan sang gadis sama-sama melamun sejenak,
akibat memandang satu sama lain.

"Ganteng bangettt, gilaa mimpi apaa gw
semalem sampe ketemu cowo ganteng, ya tuhannn"
gadis itu berteriak di dalam hati karena melihat
ketampanan dari Skala.

"Gw duluan," kata Skala dan langsung
meninggalkannya dan lanjut bermain.

Sekarang, giliran cewek yang bermain basket,
sementara itu cowok menepi untuk beristirahat duduk
dan melepaskan dahaga mereka.

"Cewek tadi cakep ya," mendengar suara itu
teman-temannya menoleh pada Kinan Baskara, kerap

disapa dengan Kinan, dan ganteng tiada tara. Se circle
ganteng semua gimana dong, most wanted pula di
sekolah, memiliki jajaran fans. Dan taat kala memberikan
berbagai bingkisan dan makasan pada mereka.

"Ituu cewek yang tadi kena lemparan bola"
ujarnya lagi dan dibalas dengan ber ohh ria saja oleh
temannya. Sekala yang melihat, hanya mendengarkan
malas ikut berbicara.

"Iyaa woii, kayaknya anak baru deh, soalnya ga
pernah tuh gw ketemu sebelumnya," sahut Rian, Rian
Ananta, Rian terkenal dengan ke playboyannya, memiliki
berbagai pacar dari Sabang sampai Merauke, begitulah
istilahnya. Jadi heran saja kenapa ia tidak tahu
mengenai keberadaan gadis cantik tadi.

"Nama cewek tadi Dinda Syaquel, murid
pertukaran pelajar dari SMA sebelah, dia ga sendiri, dia
berlima, hmm kalau ga salah sih cewek semua, Naisya,
Viana, Vania, Dinda sama Aqila," perkataan dari
Pratama Aksa yang sangat detail mencari informasi,
Aksa panggilannya, cowok jakun dengan tubuh tegap
dan tingginya kurang lebih 180. Yang selalu mencari

informasi dan juga selalu mendapatkannya, dan sangat
detail.

Mendengar itu Skala sedikit tertarik dengan
perbincangan hangat itu, terlihat jelas dari tubuhnya
yang tadi bermain hp, berhenti dan memperhatikan
teman-temannya.

Ketika Skala ingin mengucapkan sesuatu,
terhenti diakibatkan oleh cewek yang sangat tidak ingin
ia lihat, heh sangat menjengkelkan, ujar batinnya.

"Hayy semuaa, kalian lagi istirahat yaa, Skala
kamu haus ga atau laper, aku ada bawain kamu minum
nih, kalau laper kita ke kantin aja yuukk, aku kangenn
tauu sama kamuu, kamuu pastii kangen jugaa kan sama
aku, ohh iya kamu keringetan nih akuu lapin yaa
keringetnya," dan langsung bergelayut di lengan Skala.
Ketika ingin membersihkan keringatnya, Skala langsung
menepis tangan cewek tadi dengan kasar.

"Awasinn tangan kotor lo dari gw, jijik," ujar
Skala menatap tajam ke arah cewek tadi.

"Berhenti deket- deket sama gw, gw ga suka, lo
persis kayak wanita murahan, ngejer-ngejer cowok."

"Kamu kok gitu sih, kasar banget sama aku kan
aku perhatian sama kamu, aku juga cantik, trus aku juga
suka sama kamu, harusnya kamu juga suka sama aku,"
balas gadis tadi dan menekan kata suka diakhirnya.

"Gw ga suka sama lo, yang ada illfeel gw liat lo
lama-lama," hardik Skala dan langsung pergi
meninggalkan cewek tadi yang diam dengan wajah
ditekuknya.

Teman-teman Skala yang melihat itu tidak
heran dengan sikap Skala yang bisa dibilang kasar pada
gadis ini, gadis yang terlalu terobsesi pada Skala.

Skala sudah jengah melihat sifat gadis itu, yang
seakan murahan dipandangannya, ia tidak suka dikejar
oleh cewek.

Ketika menuju loker, Skala tidak sengaja
menabrak bahu Dinda, karena itu Naisya dan yang
lainnya berhenti.

"Maaf gw ga sengaja," ucap Skala dan menoleh
ke arah Dinda, Skala merasa tidak asing dengan wajah
Dinda, begitu juga sebaliknya.

"Lo tadi yang di lapangan kena lemparan bola
kan?" Ujar Skala lagi setelah ingat pertemuan pertama

mereka di lapangan. Gadis yang tidak sengaja terkena
lemparan bola itu adalah Dinda, juga orang yang suka
dan tertarik kepada Skala di pertemuan pertama mereka.

"Ehh hai, iya gw yang tadi kena bola,"
senyuman Dinda dan pipi yang sedikit merona seperti
salah tingkah melihat ke arah Skala.

Viana yang peka jika Dinda temannya itu
sedang salting, mencoba memanas-manasi sambil
tersenyum penuh arti.

"Din lo sakit apa gimana? Ko pipinya merahh
gitu atau jangan-jangann lo saltingg yaaa," kata Viana
mengalihkan pandangan Skala ke arah samping, dan
tidak sengaja ia melirik ke arah Naisya.

"Apaan sihh Naa, gw ga sakit apalagi salting
ya," balas Dinda dengan jengkel.

"Kalau gitu gw pamit dulu ya, maaf sekali lagi,"
potong Skala dan berlalu pergi dari hadapan mereka.

"Din loo sukaa kann sama diaa, ngakuu loo."
"Yakin gw, tadi lo saltingnya jelass bangett
bego, siapa sih namanya?"

"Sok tauu banget lo Na," elaknya dan pergi
begitu saja, disusul dengan Viani, Naisya dan Aqila.
Meninggalkan Viana sendirian.

"Kok gw ditinggal sihh."
"Woii tungguinn dongg."
"Main pergi aja loo pada." Teriak Viana yang
sedikit berlari mengejar sahabat-sahabatnya di
sepanjang koridor, yang membuat perhatian tertuju
padanya.

***

Bel pulang berbunyi menggelegar diseluruh
sudut sekolah, itu sangat penting bagi siswa maupun
siswi yang ingin segera pulang dan merebahkan badan.

"Akhirnya setelah sekian abad bunyi juga tu
bel," helaan nafas lega dari Rian itu dan berlangsung
membereskan alat tulis yang berada di atas meja, dan
diikuti yang lainnya karena guru yang mengajar tadi
sudah berhenti menerangkan dan membereskan juga
bukunya.

"Ibu akhiri pembelajaran kali ini, terima kasih
dan assalamualaikum wr. wb." Ucapnya lalu pergi,
disusul yang lainnya keluar dari kelas.

Sepulang sekolah, Naisya dan keempat
sahabatnya langsung pulang. Setibanya Naisya di
rumah, ia langsung membuka pintu rumah dan berjalan
perlahan. Tapi di ruang tamu ia dikejutkan dengan suara
bariton papanya yang sangat marah.

"Naisya kamu tu bisa ga sih buat papa bangga
sama kamuu?!! Kamuu tu nyusahinn aja kerjanya, liat
tuh anak tetangga, dia bisa ngasih prestasi sama
orangtuanya. Dia sopan, baik, ga pembangkang sama
orang tuanya bedaa banget sama kamu!!" Ucap papa
Naisya dengan intonasi tinggi, membuat Naisya bingung
dan hanya mendengarkan kata papanya. Tetapi Naisya
sudah tidak tahan dan menjawab kata papanya.

"Sekarang aku mau nanya sama papa, papa
pernah ga nanyain gimana aku di sekolah, papa pernah
nanyain aku udah makan ga, papa pernah ga nanya
keseharian aku di sekolah, papa pernah ga nanya aku
gimana di sekolah?? ga, papa ga pernah lakuin itu, papa
seolah buta akan apa yang aku perbuat, seolah ga

punya telinga buat mendengar keluhanku." Tanya Naisya
dengan mengeluarkan isi hatinya, berharap papanya
mengerti.

"Apa kamu bilang! Berani kamu ngomong kayak
gitu sama papa kamu!! HAH!! Anak tetangga sebelah ga
ada yang kayak kamu, dia selalu nurut sama kata-kata
orang tuanya. Dia selalu bisa buat orang tuanya bangga
memiliki anak seperti dia." Ujar papa Naisya dengan tak
mementingkan hati anak perempuannya.

"Papa ga tau kan apa yang dia dapat dari orang
tuanya, biar bisa kayak gitu papa ga tau kan apa aja
usaha orang tuanya biar anaknya ga salah didikan?"
Mata Naisya sudah berkaca-kaca, pertanda dia sudah
tak kuat menahan dirinya sendiri.

"Jadi kamu bilang didikan yang saya kasih sama
kamu itu salah, itu maksud kamu?" Ucap papanya lagi
dengan tangan yang mengangkat seakan menggertak
untuk menampar putrinya.

"Tampar pa, tampar aku biar aku sadar orang
tuaku ga seperti orang tua dari anak yang papa bilang
sama aku, biar aku tau seperti apa keluargaku dan
seperti apa keluarga anak itu." Pertahannya sudah

runtuh, air mata sudah mengalir deras di pipinya,
mendengar ucapan sang papa yang membandingkan
nya dengan anak tetangga.

Sakit, tentu sakit hati. Anak mana yang tidak
sakit dibandingkan dengan anak lain, sedangkan orang
tuanya tidak tau apa yang sudah ia perbuat, agar bisa
membanggakan papanya.

"Papa tau ga, anak tetangga yang Papa bilang
itu dia memang seperti yang Papa bilang, semua itu
fakta tapi Papa melewatkan satu fakta, di mana itu
sangat berpengaruh, Papa mau tau? Semua yang dia
dapatkan dan dia kasih sama orang tuanya sebanding
dengan usaha apa saja yang orang tuanya lakukan
untuknya."

"Karena apa? Orang tuanya ngerti dia, orang
tuanya paham anaknya, orang tuanya pun ga
mengekang anaknya, dia ga dituntut untuk dapet nilai
bagus, orang tuanya terbuka akan anaknya, orang
tuanya juga selalu perhatian sama anaknya, orang
tuanya ga pernah bandingin dia sama anak orang lain,
orang tuanya ga pernah maksa dia buat ngelakuin apa
yang ga dia suka."

"Semua itu dilakuin orang tuanya, ga akan ada
anak yang ga mau jadi dia, dia beruntung, semua orang
ingin di posisinya, karena itu anaknya pun memberikan
apa yang papa sebutkan tadi sama orang tuanya, dan
jangan lupakan orang tuanya ngedidik dan memberikan
semua itu lengkap dengan kedua orang tuanya ga hanya
dari satu pihak atau ga sama sekali."

"Maaf kalau aku ga sopan sama papa, tapi aku
harus bilang jangan meminta hak kalau kewajiban pun
tidak dikerjakan!? Karna apa itu sama saja seperti
seseorang meminta surga pada tuhan tapi shalat pun tak
ia kerjakan." Lemah, Naisya sudah tidak tau harus
bagaimana cara papanya bisa mengerti dia, ia sudah
berusaha semampunya.

"Heh, kamu mau diperlakukan sama kayak anak
itu, kamu ga pantes dapet semua itu, anak pembawa sial
!!?!" Benar, bahkan sedikit pun tidak ada rasa kasihan
untuk Naisya dari papanya.

"Haha segitu bencinya papa sama aku? Segitu
ga pantesnya aku papa anggap sebagai anak papa?
Kenapa Pa? Papa kenapa gini banget sama aku? Aku
takut, aku takut suatu saat, aku ga pernah ngerasain

rasa kasih sayang cinta pertama seorang anak
perempuan, aku tau itu ga akan mungkin, tapi aku masih
berharap papa berubah kayak dulu, papa yang sekarang
bukan papa yang aku kenal waktu aku umur 8 tahun."

"Papa tau ga anak tetangga yang papa bilang
tadi itu teman aku juga di sekolah bahkan dia sekelas
sama aku, setiap dia pergi sekolah dia selalu dianterin
sama orang tuanya, aku liat, dia juga selalu dijemput
sama orang tuanya, kadang aku bingung orang tuanya
ga sibuk kerja apa ya? Aku pernah nanya sama dia
kenapa orang tuanya ga pernah absen nganterin dia,
jemput dia, bahkan mamanya selalu bawain bekal buat
dia, trus dia jawab, "orang tuaku ngertiin aku banget,
pernah waktu itu aku bilang sama mama, papaku biar ga
usah antar jemput aku tapi mama papaku bilang
keselamatan dan kesehatanku nomor satu, mama papa
ga mau sampai aku ngerasa sendiri sampai aku capek,
mangkanya orang tuaku selalu ngantar jemput aku, aku
berentung bangettt punya orang tua kaya mama papa,
mereka juga ga menuntut ini itu sama aku cukup aku
fokus sama pelajaran aku aja, mereka bangga banget
sama aku, kata mama kalau aku capek aku boleh

istirahat aku juga boleh jalan-jalan juga sama mama
papa kalau aku lagi jenuh". Beruntung banget dia ya pa,
aku iri sama dia, aku bahkan pingin di posisinya dan dia
gantiin posisi ku." Ucap Naisya panjang lebar seakan
sudah lelah atas semuanya, dan mengeluarkan isi
hatinya.

"Ohh kamu mau diperlakuin seperti itu, kenapa?
Kurang semua yang saya berikan sama kamu, ga tau
diuntung banget kamu ngomong seperti itu, siapa kamu
berani beraninya membandingkan saya dengan orang tu
nya.”

"Aku ga bermaksud seperti itu, dan aku juga ga
menuntut akan seperti itu, aku cuma ngomong itu, karna
aku ga bisa rasain, papa bilang kenapa membandingkan
orang tuanya dengan papa? Kenapa papa marah aku
bilang seperti itu, ga enakkan pa dibanding bandingin,
papa pernah ga mikirin gimana hati aku hancurnya
disaat aku cape pengenn nyerah dan berharap papaku
ngerti dan peluk aku, aku dipatahkan dengan
kenyataanku sendiri."

"Kenapa yang aku lakuin selalu salah di mata
papa, kenapa semua yang aku kasih sama papa itu


Click to View FlipBook Version