selalu ga ada artinya sama papa, kenapa aku selalu di
tuntut ini itu sementara ga pernah papa lirik sedikit pun
pah."
"Aku udah berusaha, aku udah rajin belajar, aku
udah naikin prestasiku, aku dah berusaha buat papa
bangga sama aku, aku udah ikut berbagai lomba, aku
juga ga pernah nuntut ini itu sama papa. Aku ga pernah
bilang masalah aku, aku ga pernah minta papa buat
lakuin sesuatu yang seharusnya memang benar papa
lakuin, aku ga pernah nuntut buat aku harus bahagia, ga
pernah. Tapi kenapa papa bersifat seperti ini sama aku
seolah-olah aku itu lakuin semuanya, seolah olah aku
bukan manusia yang bisa segalanya, aku punya hati,
aku juga bisa capek, aku juga bisa nyerah, aku bisa
lakuin semua yang manusia bisa lakukan."
"Jangan seolah-olah kamu korban Naisya, kamu
mau dikasihani, sangat tidak tau diri sekali kamu
ngomong seperti itu, anak itu tau bagaimana caranya
biar bisa buat orang tuanya bahagia dan bangga sama
dia."
"Dan orang tua seharusnya lebih dulu tau
bagimana cara membahagiakan anaknya Pah!" Kata
Naisya menyambung kata ayahnya.
"Aku capek, aku lelah, ingin rasanya aku nyerah
sama hidup aku Pa, tapi aku ga bisa, biar Papa aja yang
bikin aku nyerah sampai aku benar-benar sudah pergi,
mungkin dengan aku udah ga ada Papa bisa lanjutin
hidup Papa tanpa anak pembawa sial ini." Ucap Naisya
pelan dengan suara yang sudah bergetar.
"Aku permisi Pah, mau ke kamar," lanjut Naisya
dengan berjalan perlahan ke arah kamarnya. Dan
mengacuhkan ayahnya yang terus meneriaki namanya.