The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by elly suoth, 2020-11-22 17:54:40

ANALISIS MAKANAN DAN KOSMETIKA

ANALISIS MAKANAN DAN KOSMETIKA

Keywords: analisis makanan dan kosmetik

EBOOK

ANALISIS MAKANAN DAN
KOSMETIKA

PENYUSUN : ELLY JULIANA SUOTH

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
karena hanya karena kemurahan-Nya sehingga buku ajar
dengan konsep ebook ini dapat diterbitkan. Ebook dengan
judul ANALSIS MAKANAN DAN KOSMETIKA ini,
diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai
cara-cara analisis produk makanan serta kosmetik.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada banyak
pihak yang telah membantu dan sangat berjasa dalam
proses penyusunan serta penulisan buku ebook ini.

Buku ini pasti masih banyak terdapat kekurangan
maupun kesalahan yang terlepas dari pengamatan
penulis. Oleh karena itu penulis sangat berharap kritik dan
saran dari pengguna buku ini untuk kesempurnaan buku
ini.

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................... iii
I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1
II. ANALISIS KARBOHIDRAT......................................................... 6

2.1. PENDAHULUAN ................................................................... 6
2.2. KLASIFIKASI KARBOHIDRAT............................................ 7
2.3. PREPARASI SAMPEL YANG MENGANDUNG
KARBOHIDRAT ............................................................................ 9
2.4. ANALISIS KUALITATIF...................................................... 12
2.5. ANALISIS KUANTITATIF................................................... 14
III. ANALISIS PROTEIN................................................................. 18
3.1. PENDAHULUAN ................................................................. 18
3.2. KLASIFIKASI PROTEIN..................................................... 19
3.3. TUJUAN ANALISIS PROTEIN .......................................... 22
3.4. ANALISIS KUANTITATIF................................................... 22
3.5. ANALISIS KUANTITATIF................................................... 23
IV. ANALISIS LIPIDA ..................................................................... 26
4.1. PENDAHULUAN ................................................................. 26
4.2. TUJUAN ANALISIS LIPIDA ............................................... 27

iii

4.3. PREPARASI SAMPEL ....................................................... 27
4.4. CARA ANALISIS LIPIDA.................................................... 30
4.5. PENENTUAN SIFAT LEMAK DAN MINYAK .................. 32
4.6. PENENTUAN KUALITAS MINYAK .................................. 36
V. ANALISIS SEDIAAN KRIM....................................................... 38
5.1. DEFINISI KRIM ................................................................... 38
5.2. TIPE KRIM ........................................................................... 39
5.3. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SEDIAAN KRIM ..... 40
5.4. BAHAN PENYUSUN KRIM ............................................... 41
5.5. EVALUASI SEDIAAN ......................................................... 41
5.6. EVALUASI MUTU SEDIAAN KRIM.................................. 42
5.7. TES DASAR UNTUK KEAMANAN PRODUK
KOSMETIKA SECARA GLOBAL ............................................. 46
5.8. ANALISIS KOSMETIK BERDASARKAN PERATURAN
BPOM TAHUN 2011 .................................................................. 47
5.9. PENGUJIAN SIFAT FISIKA............................................... 49
VI. ANALISIS LIPSTIK ................................................................... 51
6.1. DEFINISI .............................................................................. 51
6.2. PERSYARATAN LIPSTIK` ................................................ 52
6.3. FORMULASI LIPSTIK ........................................................ 54
6.4. MACAM, BENTUK DAN FUNGSI LIPSTIK ..................... 61
6.5. EVALUASI SEDIAAN LIPSTIK ......................................... 61

iv

VII. ANALISIS SHAMPO................................................................ 65
7.1. PENDAHULUAN ................................................................. 65
7.2. JENIS SHAMPO ................................................................. 65
7.3. PENGUJIAN UMUM ........................................................... 66

VIII. ANALISIS SABUN .................................................................. 73
8.1. DEFINISI .............................................................................. 73
8.2. MACAM-MACAM SABUN.................................................. 73
8.3. ANALISIS MUTU SABUN .................................................. 76

IX. ANALISIS PARFUM ................................................................. 81
9.1. DEFINISI .............................................................................. 81
9.2. PERSYARATAN PARFUM................................................ 82
9.3. PENGGOLONGAN PARFUM ........................................... 84
9.4. KOMPOSISI......................................................................... 85
9.5. ANALISIS YANG DILAKUKAN PADA SEDIAAN
PARFUM...................................................................................... 87

v

I. PENDAHULUAN

Analisis merupakan salah satu usah atau proses
pemisahan suatu kesatuan atau suatu materi bahan
menjadi komponen-komponen penyusunya sehingga
dapat untuk dikaji kembali berdasarkan senyawa-senyawa
yang terpisah tersebut. Senyawa-senyawa yang terpisah
kemudian dapat digunakan sebagai data untuk
menetapkan komposisi bahan atau material tersebut.

Bahan makanan dan produk sediaan kosmetika
pada hakekatnya merupakan bahan kimia alam, dimana
kaedah-kaedahnya serta sifat fisik maupun sifat kimianya
tidak menyimpang ataupun tidak berbeda dengan benda-
benda lain yang terdapat dialam. Bahan makanan memiliki
sifat khusus antara lain myaitu kemampuannya untuk
menjadi sumber penyedia gizi untuk kehidupan. Sifat

1

lainnya dari bahan makanan yaitu dapat menimbulkan
selera bagi makhluk hidup yang memiliki indera.

Sediaan kosmetik merupakan merupakan salah
satu sediaan farmasi yang dibuat dengan tujuan tertentu
salah satunya yaitu untuk membersihkan, memelihara,
menambah daya tarik, atau mengubah rupa namun tidak
termasuk dalam golongan obat. Teknologi pembuatan
kosmetika tidak jauh berbeda dengan teknologi
pembuatan obat topical lainnya. Pada pembuatan
kosmetika tergabung berbagai macam bahan kimia baik
sintetik maupun alami. Namun ada bahan-bahan tertentu
yang tidak diperbolehkan ada dalam sediaan kosmetik
karena dapat merubah struktur kulit ataupun struktur
daerah tempat mengaplikasikannya kosmetik oleh karena
itu ada berbagai macam undang-undang yang mengatur
produk kosmetik mulai dari bahan aktifnya sampai dengan

2

bahan tambahannya. Hal tersebut dimaksudkan agar
supaya produk kosmetik yang dibuat tidak merugikan
pihak konsumen dengan efek samping yang mungkin
akan ditimbulkan sesudah pemakaian. Untuk itu perlu
untuk dilakukan berbagai analisis terhadap sedian
kosmetika pada waktu pembuatan sampai kosmetika
beredar perlu untuk dilakukan pemantauan.

Prosedur analisis yang ideal sebaiknya memenuhi
syarat-syarat penting berikut :
1. Prosedur analisis harus sahih (valid) untuk mengukur

besaran tertentu. Prosedur analisis tersebut dikatakan
sahih apabila dalam perancangannya didasari oleh
dasar-dasar ilmiah yang menurut logika sesuai untuk
pengukuran yang dimaksud oleh prosedur
2. Prosedur analisis harus memiliki nilai ketepatan yang
tinggi. Ketepatan (akurasi) menunjukan tinggak

3

kebenaran angka-angka yang dihasilkan oleh prosedur
tersebut
3. Prosedur anlisa yang baik juga memiliki nilai
kecermatan yang tinggi. Kecermatan (precission) ini
berhubungan dengan daya ukur suatu cara analisa
4. Sebaiknya suatu perosedur analisa memakan waktu
yang singkat artinya dapat menghasilkan suatu angka
akhir dalam waktu yang pendek atau relative hemat
dalam penggunaan waktu
5. Prosedur analsiis juga sebaiknya hemat, tanpa harus
menggunakan bahan dan alat serta biaya dan
keterampilan yang rumit atau sulit dan mahal
6. Proses analisis juga sebaiknya memiliki tingkat
keselamatan yang tinggi yang artinya tidak
menyebabkan cedera atau gangguan kesehatan bagi
pelaksananya.

4

7. Proses analisis harus memiliki nilai keterulangan yatu
cara analisa tersebut harus dapat dipakai untuk
menentukan satu hal yang sama secara berulang-
ulang dengan hasil yang secara statistic tidak berbeda
jauh.

8. Memiliki sifat khusus artinya proses tersebut khusus
berlaku untuk pengukuran hal tertentu saja dan tidak
berlaku untuk pengukuran senyawa yang lainnya

9. Prosedur analisis harus dapat diandalkan (reliable)
sehingga proses tersebut dapat dilaksanakan dalam
kondisi laboratorium pada umumnya

10. Prosedur analisis harus mantap (stable) sehingga
dapat dilaksanakan dalam tahaopan waktu yang wajar.

5

II. ANALISIS KARBOHIDRAT

2.1. PENDAHULUAN
Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid atau

polihidroksi keton yang memiliki Rumus empiris CnH2nOn.
Karbohidrat merupakan sumber kalori atau makronutrient
utama bagi organisme Karbohidrat dialam merupakan
hasil sintesis dari CO2 dan H2O dengan adanya bantuan
dari sinar matahari dan klorofil. Disamping sebagai
sumber kalori sebagian karbohidrat juga berfungsi dalam
pengembangan produk makanan seperti gum yang
biasanya digunakan sebagai pengental.

Karbohidrat tersebar luas dpada tumbuhan serta
hewan dimana unsur makanan memiliki peranan baik
secara structural maupun metabolik. Pada hewan
senyawa karbohidrat dapat disintesis dalam tubuh namun

6

dalam jumlah yang sedikit. Sebagian besar karbohidrat
dalam tubuh hewan berasal dari tumbuhan.

2.2. KLASIFIKASI KARBOHIDRAT
1.Monosakarida

Bentuk karbohidrat yang tidak dapat dipecah atau
di hidrolisis menjadi bentuk yang lebih sederhana. Dapat
sebagai aldose atau ketosa tergantung dari gugus aldehid
atau keton yang ada. Contohnya adalah glukosa dan
fruktosa, dimana glukosa mengandung gugus aldehid dan
fruktosa mengandung gugus keton.

7

2.Disakarida
Bentuk karbohidrat yang ketika di hidrolisis

menghasilkan dua molekul monosakarida yang sama atau
berbeda. Contohnya yaitu maltosa yang menghasilkan
dua molekul monosakarida pada saat dihidrolisis yaitu
glukosa dan fruktosa
3.Oligosakarida.

Merupakan bentuk karbohidrat yang menghasilkan
2-10 unit monosakarida pada saat dihidrolisis. Contohnya
adalah maltotriosa.
4. Polisakarida.

Bentuk karbohidrat yang menghasilkan lebih dari
10 molekul monosakarida ketika dihidrolisis. Contohnya
yaitu pati dan dekstrin. Polisakarida mempunyai rumus
bangun yang linear atau bercabang yang sering disebut

8

heksosa atau pentose berdasarkan jenis monosakarida
yang dihasilkan pada saat terhidrolisis.

Mono dan disakarida mempunyai rasa yang manis
sehingga termasuk dalam golongan yang biasanya
disebut gula. Rasa manis yang ditimbulkan oleh mono dan
disakarida disebabkan karena adanya gugus hidroksil.

2.3. PREPARASI SAMPEL YANG MENGANDUNG
KARBOHIDRAT

1. Bahan harus dihancurkan terlebih dahulu sampai
pada derajat kehalusan yang sesuai, namun tetap
dijaga sehingga tidak terjadi perubahan secara
kimiawi selama proses

2. Pisahkan lipida dan klorofil dengan menggunakan
pelarut eterdengan suhu kurang dari 500C

3. Tambahkan kalsium karbonat selama proses
pemisahan dari zat pengotor agar supaya tidak
9

terjadi inversi dan hidrolisis dari sukrosa oleh asam
organik yang terkandung dalam bahan makanan
4. Jika terdapat enzim yang kemungkinan dapat
menghidrolisa gula maka harus ditambahkan
merkuri klorida atau ekstraksinya dilakukan dengan
menggunakan pelarut etahol 80% sambil
dipanaskan selama 30 menit
5. Apabila bahan sudah bebas dari zat pengotor
selanjutkan larutkan dalam aquadest
6. Karbohidrat dapat ditetapkan setelah dilakukan
penjernihan terlebih dahulu
7. Zat penjernih yang dapat digunakan adalah zat
yang dapat mengendapkan zat bukan gula tanpa
mengabsorbsi atau memodifikasi zat gula yang
terkandung

10

Zat penjernih yang dapat digunakan pada analisis
karbohidrat yaitu :

1. Timbal asetat, dapat mengendapkan asam organik,
asam amino, protein dan polifenol

2. Aluminium hidroksida, dapat mengendapkan zat
koloid

3. Asam trikloroasetat umunya digunakan untuk
mengendapkan protein

4. Poliamida, gelatin biasanya digunakan untuk
menghilangkan pewarna dalam larutan

5. Campuran merkuri nitrat dan alkali biasanya
digunakan untuk mengendapkan protein yang
terdapat pada jaringan daging

6. Campuran barium hidroksida dan zink sulfat,
biasanya digunakan dalam mengendapkan protein
pada susu yang dianalisis dengan cara Somogyi

11

7. Kieselguhr biasanya digunakan untuk
mengendapkan koloid

2.4. ANALISIS KUALITATIF
1. Uji Molisch.
Furfural atau hidroksi metil furfural dengan alfa
naftol akan berkondensasi membentuk senyawa
yang komplek dan berwarna ungu
2. Uji Seliwanoff.
Furfural yang berasal dari proses dehidrasi akan
bereaksi dengan resorcinol membentuk senyawa
yang kompleks dan berwarna merah
3. Uji Antrone.
Asam sulfat akan menghidrolisis karbohidrat
menjadi monosakarida yang selanjutnya terjadi
dehidrasi menjadi hidroksi metil furfuralyang

12

bereaksi dengan antrone membentuk senyawa
berwarna biru yang kompleks
4. Uji Benedict.
Gula yang telah tereduksi akan bereaksi secara
redoks menghasilkan endapan berwarna merah
5. Uji iodin.
Karbohidrat golongan polisakarida akan bereaksi
dengan larutan iodin membentuk warna yang
spesifik. Amilosa dengan iodin berwarna biru,
glikogen dengan iodin akan berwarna merah coklat
6. Uji Fehlings.
Larutan fehling (kupri sulfat, Na K-tartrat dan
natrium hidroksida) dipanaskan bersama-sama
dengan gula reduksi akan membentuk endapan
yang berwarna hijau kuning orange, merah
tergantung dari macam gula reduksinya.

13

2.5. ANALISIS KUANTITATIF
Analisis kuantitatif karbohidrat dapat dilakukan

dengan beberapa metode, diantaranya yaitu :

1. Cara kimia. Terbagi atas beberapa metode yaitu

metode oksidasi dengan cupri, metode oksidasi

dengan larutan ferrisianida alkalis serta metode

iodometri. Cara oksidasi dengan cupri terbagi atas :

Cara Luff Schoorl

Cara Munson Walker

Cara Lane-Eynon

2. Cara enzimatis

3. Cara kromatografi

4. Cara spektrofotometri

5. Cara optic (fisis)

Analisis Kuantitatif Berdasarkan Jenis Karbohidrat

1. Penentuan gula reduksi

2. Penentuan sakarosa

14

3. Penentuan pati
4. Penentuan serat kasar
5. Penentuan laktosa dalam susu
Analisis Gula Reduksi Dengan Metode Luff Schoorl
Prinsip dari metode ini adalah

• Gula reduksi ditambahkan kuprisulfat berlebihan
dalam larutan alkalis akan menjadi asam gula dan
endapan kuprooksida berwarna merah

• Sisa kuprisulfat untuk mengoksidasi KI menjadi I2
yang kemudian di titrasi menggunakan tiosulfat
dengan indikator amilum sampai warna biru hilang

• Untuk mengetahui kuprisulfat mula-mula maka
dilakukan titrasi blanko

• Selisih titrasi blanko dan sampel menunjukkan
banyaknya kupri yang bereaksi dengan gula, dan

15

banyaknya gula dapat ditentukan berdasarkan tabel
yang tersedia.

Reaksi : ++

Cu + gula red.  Cu O + asam gula

2

++ - +
2 Cu + 2 I  2 Cu + I
2

I2 + 2 Na2S2O3  2 NaI + Na2S4O6

Analisis Gula Reduksi Dengan Metode Luff Schoorl
Prinsip dari metode ini adalah

• Gula reduksi akan dioksidasi oleh kupri-oksida
dihasilkan kupro-oksida

• Kupro-oksida direaksikan dengan arseno-molibdat
akan membentuk senyawa kompleks berwarna
violet/ungu

• Intensitas warna ekuivalen dengan kon-sentrasi
gula, yang dapat ditera absor-bansinya dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm

16

• Untuk mengetahui konsentrasi gula maka perlu
dibuat kurva standar yang menggambarkan
hubungan konsentrasi gula dengan absorbansi

• Larutan sampel setelah ditambah reagen Nelson
kmd ditera absorbansinya, dan dari nilai A dihitung
kadar gulanya menggunakan persamaan garis
kurva standar tersebut

17

III. ANALISIS PROTEIN

3.1. PENDAHULUAN
Protein merupakan salah satu makronutrient.

Berperan penting dalam pembentukan biomolekul sebagai
sumber energy. Protein mudah sekali mengalami
perubahan bentuk fisis maupun biologis dikarenakan
molekulnya yang snagat besar.

Dialam umumnya terdapat 20 jenis asam amino
penyusun protein. BM asam amino rata-rata adalah 120.
Sifat lain dari asam amino yaitu tidak berwarna, bersifat
polar atau larut dalam air, tidak larut dalam alkohol atau
eter. Membentuk kompleks dengan logam berat. Protein
dapat dihidrolisis atau diuraikan dalam pelarut air.
Hidrolisis protein juga dapat dilakukan dengan
menggunakan pelarut alkali

18

OO O

H2N HC C HN C C HN CH C

R R R OH

R dapat berupa alifatis maupun aromatis

Gambar Struktur umum protein

3.2. KLASIFIKASI PROTEIN
Klasifikasi Protein Sederhana

1. Albumin merupakan protein yang larut dalam air

2. Globulin merupakan protein yang tidaklarut dalam

air, tetapi larut dalam larutan garam encer

19

3. Prolamin adalah protein yang larut dalam etanol 70-
80%, tidak larut dalam air, larutan garam ataupun
etanol murni

4. Glutelin merupakan protein yang tak larut dalam air,
larutan garam atau etanol, tetapi larut dalam larutan
alkalis atau asam encer

5. Screroprotein merupakan protein yang larut dalam
larutan garam encer dan solven organic

6. Protamine dan histone merupakan protein yang
bersifat alkalis, larut dalam air dan larutan garam

Klasifikasi protein yang tidak larut
1. Keratin. Bentuk protein yang merupakan hasil
pengerasan jaringan epidermis khususnya pada
kulit. Keratin tidak dapat dicerna oleh enzim-
enzimpencernaan

20

2. Kolagen. Merupakan protein tidak larut dari jaringan
pengikat. Protein ini dapat dibersihkan dari dari
protein lain dengan menggunakan pelarut tertentu

Klasifikasi protein yang larut
1. Protein cairan sel. Berfungsi sebagai pengangkut
nutrient ke jaringan atau organserta membawa sisa
metabolisme ke ginjal untuk diekskresikan
2. Protein telur. Ovalbumin merupakan protein salah
satu jenis protein telur yang cepat mengalami
denaturasi yang bersifat ireversibel. Protein lain
yang terdapat dalam telur avidin dan lisozim.
3. Protein utama penyusun putih telur yaitu vitellin
yang dapat terpisah dari protein yang lainnya
dengan penambahan natrium klorida 19%

21

3.3. TUJUAN ANALISIS PROTEIN
1. Menera jumlah kandungan protein dalam bahan
makanan
2. Menentukan tingkat kualitas protein dipandang dari
sudut gizi
3. Menelaah protein sebagai salah satu bahan kimia
misalnya secara biokimia, fisiologis, enzimatis dan
telaah lain yang lebih mendasar

3.4. ANALISIS KUANTITATIF
Reaksi warna untuk protein

1. Uji Biuret

Kupri sulfat dalam suasana basa bereaksi dengan

senyawa yang mengandung dua atau tiga ikatan peptida

membentuk kompleks berwarna violet. Reaksi ini bersifat

tidak mutlak spesifik untuk ikatan peptida; juga diberikan

oleh semua senyawa yang mempunyai dua atau lebih

ikatan peptida.

22

2. Uji Millon
Hanya protein yang mengandung tirosin yang

mengalami hidrolisis yang memberikan reaksi positif.
Gugus hidroksifenil (-C6H4OH) pada tirosin merupakan
gugus yang merespon uji ini. Karenanya uji Millon
ditujukan untuk tirosin yang terdapat pada protein.

3.5. ANALISIS KUANTITATIF
1. Metode Kjeldahl

Penentuan jumlah N total dilakukan untuk mewakili
jumlah protein yang ada. Kadar protein yang ditentukan
dengan cara ini biasanya disebut sebagai kadar protein
kasar. Perhitungan kadar protein metode ini yaitu hasil
pengamatan yang menyatakan bahwa protein alamiah
mengandung unsur N rata-rata 16% (dalam protein murni)
Metode ini dibagi dalam tiga tahap daitu tahap destruksi,
tahap destilasi dan tahap titrasi

23

2. Metode Lowry
Protein dengan asam fosfotungstat-fosfomolibdat

pada keadaan basa akan menghasilkan warna biru yang
intensitas warnanya tergantung dari konsentrasi protein.
Konsentrasi protein dapat diukur dengan menggunakan
metode optikal density pada panjang gelombang 600 nm.
3. Metode Spektrofotometri UV

Sebagian besar protein mengabsorbsi sinar UV
pada panjang gelombang maksimum 280 nm. Pengukuran
kadar dengan metode ini sangatlah mudah dan cepat
serta tidak merusak bahan.
4. Turbidimetri

Pada turbidimetri, intensitas cahaya yang
dilewatkan melalui larutan turbid diukur vs intensitas
cahaya yang melalui larutan murni. Turbidimetri digunakan
sebagai metode untuk menentukan protein sederhana.

24

Jika semua kondisi pengujian adalah konstan, maka
konsentrasi dapat ditentukan hanya dari kurva kalibrasi.
Metode turbidimetri untuk menetapkan protein dapat
digunakan terutama untuk keperluan clinical analysis.

25

IV. ANALISIS LIPIDA

4.1. PENDAHULUAN
Lemak dan minyak termasuk dalam kelompok

lipida. Lemak merupakan trigliserida yang berbentuk padat
pada suhu ruang sedangkan minyak adalah trigliserida
yang berbentuk cair pada suhu ruang. Sifat khas dari
lipida yaitu daya larutnya dalam pelarut organik seperti
eter, benzen, kloroform dan tidak larut dalam air.
Komponen Lipid

1. Gliserida :
1. Trigliserida
2. Digliserida
3. Monogliserida

2. Asam Lemak (fatty acid)
1. Asam Lemak Jenuh (saturated fatty acid)

26

2. Asam Lemak Tidak Jenuh (unsaturated fatty
acid)

3. Komponen Minyak Lemak Non-gliserida

4.2. TUJUAN ANALISIS LIPIDA
1. Nutritional labeling
Memberikan keterangan pada kemasan mengenai
kandungan minyak atau lemak yang terkandung
dalam bahan makanan ataupun produk makanan.
2. Menentukan apakah makanan sesuai standar atau
tidak
3. Untuk menjamin kesesuaian produk dengan
spesifikasi perusahaan makanan

4.3. PREPARASI SAMPEL
1. Lipid tidak dapat diekstrak secara efektif dengan
Etil eter pada makanan yang lembab  pelarut

27

tidak dapat menembus jaringan makanan dengan
mudah
2. Eter yang bersifat higroskopis menjadi jenuh
dengan air dan tidak efisien dalam ekstraksi
3. Pengeringan pada suhu tinggi tidak
direkomendasikan, karena akan terbentuk ikatan
antara lipida dan protein atau lipid dan karbohidrat.
Jika demikian maka ektraksi dengan pelarut akan
lebih sulit
4. Pengeringan dengan oven vakum pada suhu
rendah atau liopilisasi dapat memperluas
permukaan sampel sehingga bagus untuk ekstraksi
5. Pengeringan akan mempermudah penghancuran
sampel dan membuat lemak mudah larut sehingga
membantu membebaskan lemak dari jaringan
makanan

28

6. Ektraksi pada sampel kering tergantung pada
ukuran partikel. Ketepatan penghalusan sangat
penting

7. Sampel dan pelarut dicampur kemudian diblender
dengan kecepatan tinggi membuat ektraksi menjadi
lebih bagus

8. Hidrolisis asam dilakukan pada sampel yang
tercampur dengan makronutrient lainnya. Lipid
dalam beberapa produk seperti susu, roti, tepung,
produk hewani mengikat karbohidrat dan protein.
Ekstraksi langsung dengan pelarut non polar tidak
efisien sehingga perlu dipreparasi dengan hidrolisis
asam

9. Hidrolisis Asam dapat memecah ikatan kovalen dan
ikatan ionik yang mengikat lipid dengan mudah.

Pemilihan pelarut

29

 Pelarut harus selektif yang artinya mempunyai
kemampuan melarutkan lemak lebih tinggi
dibanding senyawa lain

 Mudah menguap dan tidak meninggalkan residu
 Mempunyai titik didih rendah sehingga tidak mudah

terbakar
 Tidak toksik baik dalam bentuk cair maupun uap
 Mampu menembus partikel sampel supaya tidak

terjadi fraksinasi
 Tidak membentuk peroksida
 Tidak higroskopis

4.4. CARA ANALISIS LIPIDA
1. Penentuan kuantitatif atau penetapan kadar lemak
atau minyak
2. Penentuan kualitas minyak (murni). Penentuan ini
berhubungan dengan kekuatan daya simpan, bau
30

dan rasa. Tolak ukur kualitas ini termasuk angka
asam lemak bebas, bilangan peroksida, tingkat
ketengikan dan kadar air
3. Penentuan sifat fisis maupun kimiawi yang khas
atau mencirikan sifat minyak tertentu
Penentuan kadar lemak dan minyak
1. Ekstraksi lemak dari bahan kering dapat dikerjakan
secara terputus-putus dengan metode soklet atau
berkesinambungan dengan alat Goldfisch
2. Penentuan kadar lemak juga dapat dilakukan
dengan Mojonnier atau dengan botol Babcock

31

Gambar alat sokletasi

4.5. PENENTUAN SIFAT LEMAK DAN MINYAK
1. Uji penyabunan
Digunakan untuk menentukan berat molekul
minyak dan lemak secara kasar. Angka
penyabunan adalh bilangan penyabunan
dinyatakan sebagai banyaknya (mg) KOH yang

32

dibutuhkan untukmenyabunkan satu gram lemak
atau minyak
2. Penentuan angka ester.
Angka ester menunjukkan jumlah asam organic
yang bersenyawa ester. Angka ester dapat dihitung
sebagai selisih antara angka penyabunan dengan
angka asam
3. Penentuan angka iod
Angka iod mencerminkan ketidakjenuhan asam
lemak penyusun minyak dan lemak. Asam lemak
tidak jenuh mampu mengikat iod dan membentuk
senyawa yang jenuh. Banyak iod yang diikat
menunjukkan banyaknya ikatan rangkap. Angka iod
dinyatakan sebagai banyaknya gram iod yang diikat
oleh 100 gram minyak atau lemak

33

4. Uji titik cair
Titik cair minyak atau lemak tidak merupakan suhu
yang tepat tetapi merupakan kisaran suhu tertentu.
Hal tersebut disebabkan minyak atau lemak
disusun oleh campuran gliserida dan komponen
lainnya. Asam lemak menunjukkan kenaikan titik
cair dengan semakin panjangnya rantai karbon dan
semakin jenuhnya lemak tersebut.
Cara penentuan. Lemak atau minyak dicairkan,
kemudian celupkan pipa kapiler gelas sehingga
cairan dapat masuk ke dalam pipa. Ujung pipa
diangkat kemudian ditutup, ujung yang lainnya
ditutup dengan memanaskannya diatas spiritus
sehingga ujung pipa meleleh dan tertutup.
Selanjutnya dibekukan dalam freezer (4-100C)
kemudian masukkan pipa kedalam air dingin yang

34

sebelumnya telah diikatkan thermometer pada
salah satu ujung. Lemak akan berangsur menjadi
jernih sebelum mencair sempurna. Suhu yang
menunjukkan cairan dalam pipa kapiler jernih
merupakan titik cair lemak atau minyak.
5. Indeks bias
Alat yang digunakan adalah refraktometer.
Penentuan minyak dilakukan pada suhu 250C,
sedangkan lemak dilakukan pada suhu 400C.
6. Bobot jenis
Bobot jenis merupakan perbandingan berat dari
volume minyak atau lemak pada suhu 250Cdengan
berat air pada volume dan suhu yang sama.

35

4.6. PENENTUAN KUALITAS MINYAK
Faktor penentu kualitas minyak atau lemak yaitu

1. Angka asam lemak bebas
Angka asam dinyatakan sebagai jumlah mg KOH
yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak
bebas yang terdapat dalam satu gram minyak atau
lemak. Angka asam yang besar menunjukkan asam
lemak bebas yang besar yang berasal dari hidrolisa
minyak ataupun karena proses pengolahan yang
kurang baik

2. Angka peroksida
Kerusakan lemak atau minyak yang utaka adalah
karena peristiwaoksidasi dan hidrolitik baik secara
enzimatik maupun nonenzimatik. Oksidasi lemak
menghasilkan peroksida, asam lemak, aldehid dan
keton. Aldehid dan keton menyebabkan bau tengik

36

Cara penentuan angka peroksida dapat dengan

metode Hills dan Thiel atau dengan metode iodin

3. Angka Thiobarbiturat (TBA)

Lemak yang tengik mengandung aldehid dan

kebanyakan sebagai malonaldehid. Kadar

malonaldehid dapat ditentukan dengan proses

destilasi terlebih dahulu. Malonaldehid kemudian

direaksikan dengan thiobarbiturat sehingga

terbentuk larutan warna merah yang dapat dibaca

pada spektrofotometri dengan panjang gelombang

528 nm.

4. Kadar air

Penentuan kadar air dapat dilakukan dengan cara

thermogravimetri atau dengan cara

thermovolumetri.

37

V. ANALISIS SEDIAAN KRIM

5.1. DEFINISI KRIM
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV

Krim adalah bentuk sediaan setengah padat
mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau
terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
Menurut Formularium Nasional

Krim adalah sediaan setengah padat, berupa
emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan
dimaksudkan untuk pemakaian luar. Secara tradisional
istilah krim digunakan untuk sediaan setengah padat yang
mempunyai konsistensi relatif cair di formulasi sebagai
emulsi air dalam minyak(a/m)atau minyak dalam air (m/a).

38

5.2. TIPE KRIM
1. Tipe a/m

Merupakan jenis krim dimana fase air terdispersi
dalam minyak. Contohnya yaitu cold cream.

Cold cream adalah sediaan kosmetika yang
digunakan untuk maksud memberikan rasa dingin dan
nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih, berwarna
putih dan bebas dari butiran.Cold cream mengandung
mineral oil dalam jumlah besar.
2. Tipe m/a

Tipe krim dimana fase minyak terdispersi dalam air
yang contohnya yaitu vanishing cream.

Vanishing cream adalah sediaan kosmetika yang
digunakan untuk maksud membersihkan, melembabkan
dan sebagai alas bedak.

39

5.3. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SEDIAAN KRIM
Kelebihan

1. Mudah menyebar rata
2. Praktis untuk digunakan
3. Lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air

terutama tipe m/a ( minyak dalam air )
4. Cara kerja langsung pada jaringan setempat
5. Tidak lengket, terutama pada tipe m/a ( minyak

dalam air)
Kekurangan

1. Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m
( air dalam minyak )

2. Susah dalam pembuatannya, karena pembuatan
cream mesti dalam keadaan panas

3. Mudah lengket, terutama tipe a/m (air dalam
minyak)

40

4. Gampang pecah, disebabkan dalam pembuatan
formulanya tidak pas

5. Pembuatannya harus secara aseptic

5.4. BAHAN PENYUSUN KRIM
Fase minyak, yaitu bahan obat yang larut dalam

minyak, bersifat asam. Contoh : asam stearat, adep
slanae, paraffin liquidum, paraffin solidum,cera, cetaceum,
vaselin, dsb

Fase air, yaitu bahan obat yang larut dalam air, bersifat
basa. Contoh : Na tetraborat ,Trietanolamin, Gliserin,
Polietilenglikol/ PEG, Propilenglikol, Surfaktan
,tween,span

5.5. EVALUASI SEDIAAN
Dibagi dalam tiga kelompok

1. Evaluasi Fisik

41

2. Evaluasi Kimia. Kadar dan stabilitas zat aktif dan
lain-lain.

3. Evaluasi Biologi
a. Kontaminasi mikroba. Salep mata harus
steril untuk salep luka bakar, luka terbuka
dan penyakit kulit yang parah juga harus
steril.
b. Potensi zat aktif. Pengukuran potensi
beberapa zat antibiotik yang dipakai secara
topikal.

5.6. EVALUASI MUTU SEDIAAN KRIM
1. Pengujian pH
Untuk pengujian pH sediaan kulit hendaknya
memiliki pH yang kurang lebih mirip dengan pH
kulit sehingga tidak mudah mengiritasi kulit. Krim
sebanyak 1 g ditimbang dan diencerkan dengan 10

42

ml air demineral lalu diaduk dengan menggunakan
batang pengaduk. Pengukuran pH dilakukan
dengan menggunakan kertas indikator. Hasil uji pH
sediaan krim yang diharapkan mendekati pH kulit
normal yaitu 5,5 (Iswari & Latifah, 2007) atau
kisaran pH yang dipersyaratkan oleh SNI 16-4399-
1996
2. Evaluasi daya sebar
Untuk uji daya sebar, krim seberat 500 mg
diletakkan di atas kaca bulat berskala kemudian
ditutup dengan menggunakan kaca bulat yang telah
ditimbang dan diketahui bobotnya selama 5 menit
serta dicatat diameter penyebarannya. Kemudian
ditambahkan beban seberat 50 g selama 1 menit,
dicatat diameter penyebarannya. Kemudian
dilanjutkan dengan beban seberat 100 g, dicatat

43

diameter penyebarannya. Replikasi dilakukan 5
kali.
3. Evaluasi penentuan ukuran droplet
Krim yang telah dibuat selanjutnya ditentukan
ukuran partikelnya dengan menggunakan particle
size analyzer (PSA) berdasarkan intensitasnya
(Pang et al., 2009). Konsentrasi larutan krim yang
digunakan untuk pengujian dengan paticle size
analyzer (PSA) adalah 10.000 ppm berdasarkan
hasil pengukuran. Air demineral digunakan sebagai
medium pendispersi krim
4. Uji Stabilitas Emulsi
Stabilitas emulsi (SE) yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah fase yang stabil. Sampel
dimasukkan ke dalam suatu wadah dan ditimbang
bobotnya menggunakan neraca analitik. Uji

44

stabilitas dipercepat ini dilakukan pada suhu 45 ºC
dan 0 °C. Wadah dan bahan tersebut dimasukkan
ke dalam oven dengan suhu 45 ºC selama 1 jam
kemudian dimasukkan ke dalam pendingin bersuhu
0 °C selama 1 jam. Setelah itu wadah dan bahan
dikembalikan lagi ke dalam oven bersuhu 45 ºC
selama 1 jam. Pengamaan dilakukan terhadap
kemungkinan terjadinya pemisahan air dari emulsi.
Apabila terjadi pemisahan maka emulsi dikatakan
tidak stabil dan tingkat kestabilannya dihitung
berdasarkan persentase fasa terpisahkan terhadap
emulsi keseluruhan. Pengujian ini mengacu pada
penelitian yang telah dilakukan oleh Rahmi et al.,
(2013)
5. Uji Penentuan Tipe Emulsi Krim Minyak
dalamAir(M/A)

45


Click to View FlipBook Version