Krim sebanyak 1 gram diteteskan kristal violet. Krim
diaduk hingga homogen lalu dioleskan di atas kaca
transparan. Pengamatan makroskopik dilakukan
secara visual diatas kaca. Pengamatan mikroskopik
dilakukan dengan menggunakan mikroskop untuk
melihat adanya fase minyak dan fase air sehingga
bisa ditentukan tipe emulsi krim. Kristal violet akan
terlarut dalam fase air. Jika medium pendispersi
berwarna biru merata maka emulsi bertipe (M/A)
minyak dalam air (Lachman et al., 2008).
5.7. TES DASAR UNTUK KEAMANAN PRODUK
KOSMETIKA SECARA GLOBAL
1. Tes mikrobiologi
Uji mikrobiologi dilakukan untuk menihat tingkat
kontaminasi mikrobiologi seperti bakteri, kapang
dan khamir dalam sediaan. Pengujian dilakukan
secara mikrobiologi yang biasanya menggunakan
46
metode angka lempeng total serta angka kapang
dan khamir
2. Tes kontaminan bahan kimia toksik
Uji terhadap kontaminan bahan kimia diperlukan
untuk mengetahui ada tidaknya senyawa atau
bahan berbahaya bagi kesehatan yang terdapat
dalam sediaan krim. Bahan kimia kontaminan
tersebut biasanya berasal dari bawaan senyawa
aktif ataupun biasanya ditambahkan secara illegal
dalam produk kosmetik
3. Pengujian efektivitas pengawet
4. Stabilitas produk
5. Pengujian kinerja produk
5.8. ANALISIS KOSMETIK BERDASARKAN
PERATURAN BPOM TAHUN 2011
1. Pengujian cemaran mikroba
47
Kosmetika yang akan diuji disimpan pada suhu
ruang. Jangan dibekukan atau didinginkan sebelum
selesai analisis. Analisis dapat dilakukan dengan
angka lempeng total bakteri, penetapan angka
kapang dan khamir,
2. Pengujian logam berat (arsen, cadmium, timbal dan
merkuri)
Analisis logam pada sediaan krim dapat dilakukan
dengan menggunakan metode spektrofotometri
yang sering digunakan seperti AAS dan metode
kromatografi seperti kromatografi gas dan
kromatografi cair kinerja tinggi
3. Pengujian beberapa bahan yang dilarang dalam
kosmetika
4. Pengujian beberapa bahan pengawet yang
digunakan dalam kosmetika
48
5.9. PENGUJIAN SIFAT FISIKA
1. Organoleptik
Pada pengujian ini umunya yang diamati adalah
bentuk, warna dan bau dari sediaan krim yang ada
2. Uji viskositas
Pengukuran viskositas dilakukan terhadap sediaan
krim sebelum dan setelah diberi kondisi
penyimpanan dipercepat yaitu penyimpanan
selangseling pada suhu 5oC dan 35oC
masingmasing selama 12 jam sebanyak 10 siklus.
Viskositas diukur dengan viskometer Brookfield
dengan menggunakan “spindle” no. 6.
3. Uji daya lekat
Untuk uji daya lekat, krim seberat 500 mg
diletakkan di atas objek gelas dengan luas tertentu,
kemudian ditutup objek gelas lain, ditekan dengan
menggunakan beban seberat 1 kg selama 5 menit.
49
Objek gelas dipasang pada alat uji, kemudian
dilepas dengan beban seberat 80 gram dan waktu
yang diperlukan untuk memisah kedua objek
tersebut. Replikasi dilakukan 5 kali.
50
VI. ANALISIS LIPSTIK
6.1. DEFINISI
Lipstik adalah sediaan kosmetika yang digunakan
untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga
dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah yang
dikemas dalam bentuk batang padat.
Hakikat fungsinya adalah untuk memberikan warna
bibir menjadi merah, yang dianggap akan memberikan
ekspresi wajah sehat dan menarik (Ditjen POM, 1985).
Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam
pembawa yang terbuat dari campuran lilin dan minyak
dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga dapat
memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikendaki.
Suhu lebur lipstik yang ideal sesungguhnya diatur hingga
suhu yang mendekati suhu bibir, bervariasi antara 36-38o
C. Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan
51
terhadap suhu sekelilingnya, terutama suhu daerah tropik.
Suhu lebur lipstik dibuat lebih tinggi, yang dianggap lebih
sesuai diatur pada suhu lebih kurang 620C, biasanya
berkisar antara 55-750C (Ditjen POM, 1985).
6.2. PERSYARATAN LIPSTIK`
Dari segi kualitas, lipstik harus memenuhi beberapa
persyaratan berikut (Mitsui, 1977) :
1. Tidak menyebabkan iritasi atau kerusakan pada
bibir
2. Tidak memiliki rasa dan bau yang tidak
menyenangkan
3. Polesan lembut dan tetap terlihat baik selama
jangka waktu tertentu
4. Selama masa penyimpanan bentuk harus tetap
utuh, tanpa kepatahan dan perubahan wujud.
5. Tidak lengket
52
6. Penampilan tetap menarik dan tidak ada perubahan
warna
Persyaratan untuk lipstik yang diinginkan atau dituntut
oleh masyarakat, antara lain (Tranggono dan Latifah,
2007):
1. Melapisi bibir secara mencukupi
2. Dapat bertahan di bibir selama mungkin
3. Cukup melekat pada bibir, tetapi tidak sampai
lengket
4. Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada
bibir
5. Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya
6. Memberikan warna yang merata pada bibir
7. Penampilannya harus menarik, baik warna maupun
bentuknya
53
8. Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus,
tidak bopeng atau berbintik-bintik, atau
memperlihatkan hal-hal lain yang tidak menarik.
6.3. FORMULASI LIPSTIK
Komponen utama
Minyak
Minyak adalah salah satu komponen dalam basis
lipstik yang berfungsi untuk melarutkan atau
mendispersikan zat warna. Minyak yng sering digunakan
antara lain minyak jarak, minyak mineral dan minyak
nabati lain.
Minyak jarak merupakan minyak nabati yang unik
karena memiliki viskositas yang tinggi dan memiliki
kemampuan melarutkan staining-dye dengan baik.
Viskositasnya yang tinggi adalah salah satu keuntungan
dalam menunda pengendapan dari pigmen yang tidak
54
larut pada saat pencetakan, sehingga dispersi pigmen
benar benar merata (Balsam, 1972).
Lilin
Lilin digunakan untuk memberi struktur batang yang
kuat pada lipstik dan menjaganya tetap padat walau
dalam keadaan hangat.
Campuran lilin yang ideal akan menjaga lipstik
tetap padat setidaknya pada suhu 50°C dan mampu
mengikat fase minyak agar tidak ke luar atau berkeringat,
tetapi juga harus tetap lembut dan mudah dioleskan pada
bibir dengan tekanan serendah mungkin. (Balsam, 1972).
Lilin yang digunakan antara lain carnauba wax,
candelilla wax, beeswax, ozokerites, spermaceti dan setil
alkohol. Carnauba wax merupakan salah satu lilin alami
yang sangat keras karena memiliki titik lebur yang tinggi
yaitu 85°C. Biasa digunakan dalam jumlah kecil untuk
55
meningkatkan titik lebur dan kekerasan lipstik (Balsam,
1972).
Lemak
Lemak yang biasa digunakan adalah campuran
lemak padat yang berfungsi untuk membentuk lapisan
film pada bibir,memberi tekstur yang lembut,
meningkatkan kekuatan lipstik dan dapat mengurangi
efek berkeringat dan pecah pada lipstik.
Fungsinya yang lain dalam proses pembuatan
lipstik adalah sebagai pengikat dalam basis antara fase
minyak dan fase lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk
pigmen. Lemak padat yang biasa digunakan dalam basis
lipstik adalah lemak coklat, lanolin, lesitin, minyak nabati
terhidrogenasi dan lain-lain.
Zat warna
56
Zat warna dalam lipstik dibedakan atas dua jenis yaitu
staining dye dan pigmen.
1. Staining dye merupakan zat warna yang larut atau
terdispersi dalam basisnya
2. pigmen merupakan zat warna yang tidak larut
tetapi tersuspensi dalam basisnya.
Kedua macam zat warna ini masing-masing memiliki
arti tersendiri, tetapi dalam lipstik keduanya dicampur
dengan komposisi sedemikian rupa untuk memperoleh
warna yang diinginkan. Pigmen-pigmen yang digunakan
dalam lipstik dapat berupa lake dari barium atau kalsium,
akan tetapi lake dari stronsium juga sering digunakan
karena menghasilkan warna yang tahan lama dan jernih.
Untuk menghasilkan warna yang agak pudar (muda),
pigmen putih seperti titanium dioksida dan zink oksida
harus ditambahkan (Balsam, 1972).
57
Pembagian zat warna menurut FDA (Food and Drugs
Administration):
a. FD & C color, untuk makanan, obat-obatan, dan
kosmetik.
b. D & C, untuk obat-obatan dan kosmetik (tidak dapat
digunakan untuk makanan.
c. Ext D & C yang diizinkan untuk dipakai pada obat-
obatan dan kosmetik dalam jumlah yang dibatasi.
Zat tambahan dalam sediaan lipstik
Zat tambahan dalam lipstik adalah zat yang
ditambahkan dalam formula lipstik untuk menghasilkan
lipstik yang baik, yaitu dengan cara menutupi kekurangan
yang ada tetapi dengan syarat zat tersebut harus inert,
tidak toksik, tidak menimbulkan alergi, stabil dan dapat
bercampur dengan bahan-bahan lain dalam formula
58
lipstik. Zat tambah yang digunakan yaitu antioksidan,
pengawet dan parfum.
1. Antioksidan
Antioksidan digunakan untuk melindungi minyak dan
bahan tak jenuh lain yang rawan terhadap reaksi oksidasi.
BHT, BHA dan vitamin E adalah antioksidan yang paling
sering digunakan (Poucher, 2000).
Antioksidan yang digunakan harus memenuhi syarat
(Wasitaatmadja, 1997):
a. Tidak berbau agar tidak mengganggu wangi
parfum dalam kosmetika
b. Tidak berwarna
c. Tidak toksik
d. Tidak berubah meskipun disimpan lama.
2. Pengawet
59
Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh di
dalam sediaan lipstik sebenarnya sangat kecil karena
lipstik tidak mengandung air. Akan tetapi ketika lipstik
diaplikasikan pada bibir kemungkinan terjadi kontaminasi
pada permukaan lipstik sehingga terjadi pertumbuhan
mikroorganisme. Oleh karena itu perlu ditambahkan
pengawet di dalam formula lipstik. Pengawet yang sering
digunakan yaitu metil paraben dan propil paraben.
3. Parfum
Parfum perlu ditambahkan dalam formula lipstik
untuk menutupi bau dari minyak dan lilin yang terdapat
dalam basis dan bau lain yang tidak enak yang timbul
setelah lipstik digunakan atau disimpan. Parfum yang
berasal dari minyak tumbuhan (bunga) adalah yang
paling banyak digunakan (Balsam, 1972).
60
6.4. MACAM, BENTUK DAN FUNGSI LIPSTIK
Macam-macam lipstik
1. Lipstik basis minyak
2. Lipstik basis emulsi
Bentuk-bentuk lipstick
1. Lipstick Padat
2. Lipstick Semi padat
3. Lipstick Cair
Fungsi lipstick
1. Menambah warna pada bibir
2. Melindungi bibir dari kekeringan dan radiasi UV
6.5. EVALUASI SEDIAAN LIPSTIK
1. Pemeriksaan organoleptic
Uji organoleptic dilihat pemerian dari sediaan
berupa bentuk, warna dan bau dengan
menggunakan indera.
2. Uji homogenitas
61
Uji homogenitas dilakukan dengan cara
mengoleskan sejumlah tertentu sediaan lipstick
pada kaca transparant. Sediaan harus menunjukan
susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya
butir-butir kasar
3. Pengujian titik leleh
Pengujian titik lebur dilakukan dengan mengamati
titik lebur lipstick dengan menggunakan alat melting
point. Sediaan yang baik memiliki titik lebur lebih
dari 500C
4. Pemeriksaan pH
Pengujian ini dilakukan untukmengetahui tingkat
keasaman dari sediaan. pH sediaan lipstick yang
memenuhi syarat pH fisiologis kulit yaitu 4,5-6
5. Tes iritasi
62
Uji iritasi dapat dilakukan dengan berbagai metode
yaitu
a. Uji toksisitas akut
b. Uji iritasi primer
c. Uji iritasi kumulatif
d. Uji sensitivitas
e. Patch test
Analisis lipstik berdasarkan BPOM
1. Pengujian cemaran biologi
Pengujian cemaran mikrobiologi yang dilakukan
pada sediaan lipstick dilakukan sama dengan pada
sediaan kosmetika lainnya yaitu uji angka lempeng
total dan uji angka kapang khamir.
2. Pengujian logam berat
Pengujian logam berat dapat dilakukan dengan
metode spektrofotometri, kromatografi ataupun
63
dengan metode konvensional lainnya yang sudah
tervalidasi
3. Pengujian bahan pengawet
Pengujian ini hampir sama dengan pengujian
logam berat dimana menggunakan metode yang
hampir sama, yang berbeda adalah cara preparasi
sampe
64
VII. ANALISIS SHAMPO
7.1. PENDAHULUAN
Suatu bentuk sediaan untuk digunakan pada
rambut, yang mengandung detergen. Tujuan utama dari
shampoo yaitu untuk mencuci, menghilangkan lemak,
debu dan sel-sel korneal yang lepas.
Komposis shampoo antara lain yaitu Surfaktan,
booster foam, dan stabilizer, conditioning agent, bahan
tambahan khusus seperti pengawet, sequestering agent,
bahan pelembab (moisturizer), bahan modifikasi
viskositas, bahan pengopak atau clarifying agent, pewangi
dan pewarna.
7.2. JENIS SHAMPO
1. Shampoo cair jernih
2. Shampoo krim/losion cair
3. Shampoo krim
65
4. Shampoo gel
5. Shampoo bubuk
6. Shampoo foam aerosol berdasarkan modifikasi
jumlah surfaktan, lemak padat, pengopak &
penjernih.
7.3. PENGUJIAN UMUM
1. Pemerian
2. Volume, bobot
3. pH (syarat tidak kurang dari 6,0 dan tidak lebih dari
9)
4. Kadar detergen anionik (syarat tidak kurang dari
5%)
5. Zat yang menguap pada suhu 105ºC (syarat tidak
lebih dari 95%)
6. Garam anorganik (syarat tidak lebih dari 7,0%)
7. Uji iritasi mata
66
8. Identifikasi dan penetapan kadar asam sorbat dan
garamnya (syarat tidak lebih dari 0,5%)
Analisis Umum
1. Berat bersih sediaan
2. Deskripsi shampoo
3. Uji senyawa basa nitrogen termasuk ammonia.
4. pH shampoo
5. Pengabuan pada 600°C
6. Pengujian kadar abu
7. Pengujian bahan tidak menguap pada 105°C
8. Pengujian kadar air dengan destilasi Toluena.
9. Pengujian kadar EDTA
10. Pengujian kadar Asam
11. Pengujian Inframerah bahan tidak menguap lemak,
Alkanolamin & logam Alkali
12. Pengujian gom yang larut air
67
Pengamatan Organoleptis
Dilakukan terhadap perubahan homogenitas, aroma
dan warna sediaan sampo ekstrak bunga chamomil.
Pengamatan di lakukan pada suhu kamar (28-30ºC), 40ºC
dan suhu dingin (6-7ºC) tiap minggu selama 6 minggu
penyimpanan.
Pengukuran Viskositas
Dilakukan dengan menggunakan alat viskometer
Brookfield. Sampel yang digunakan sebanyak 2 ml untuk
formula sampo yang berbentuk cairan. Alat dihidupkan,
diatur rpm, dibaca nilai viskositas yang muncul, diambil
nilai yang stabil di atas 60 %
68
Pengukuran Bobot Jenis
Menggunakan piknometer pada suhu ruang. Bobot
jenis dari 0,1 % larutan formula diukur untuk menghitung
faktor koreksi dalam menentukan tegangan permukaan
formula.
Pengukuran Tegangan Permukaan
Tegangan permukaan 0,1 % larutan sediaan dalam
air suling diukur dengan menggunakan alat tensiometer
cincin du-Nuoy.
Pengukuran Kemampuan Membusa
Larutan sampo diencerkan sampai konsentrasi 1 %
. Disiapkan suatu bejana reservoir / corong pisah yang
dipasang tegak lurus di atas gelas ukur berukuran 100 ml,
50 ml larutan sampo kemudian dituang secara hati – hati
jangan sampai terbentuk busa kedalam bejana Ke dalam
gelas ukur dituang 5 ml larutan tersebut Alirkan larutan
69
sampo melalui keran bejana sebanyak 50 ml. Dicatat
tinggi busa yang terbentuk setelah 30’, 3’, 5’ dan 7’.
Lakukan repilkasi sebanyak 3 kali pada suhu kamar
Pengukuran Stabilitas Busa
Stabilitas busa dapat dihitung dengan
membandingkan tinggi busa setelah waktu ke 3’, 5’ dan 7’
terhadap tinggi busa pada waktu ke 30’’, yang diperoleh
dari tes kemampuan membusa.
Pengukuran pH
Keasaman (pH) sediaan diukur menggunakan pH
meter.
Uji ammonia
Buat campuran shampoo dengan basa kuat NaOH
30%, tandai jika bau ammonia muncul. Cara lainnya yaitu
dengan menggunakan kertas lakmus pada shampoo yang
70
telah dicampurkan dengan basa kuat. Jika kertas beruwah
warna menjadi warna biru artinya mengandung ammonia.
Penetapan Alkali Bebas
Proses pembuatan sabun ini sangat diperlukan
adanya ketepatan jumlah NaOH atau KOH dan jumlah
minyak yang dicampurkan, sehingga minyak yang akan
digunakan harus ditentukan terlebih dahulu angka
penyabunannya. Alkali bebas merupakan jumlah alkali/
basa yang tidak tersabunkan atau sisa alkali yang tidak
dapat bereaksi dengan minyak. Pemberian basa yang
terlalu banyak menyebabkan sabun yang berbentuk
sangat keras, berwarna putih dan terasa gatal dikulit,
sedangkan pemberian basa yang kurang akan
menyebabkan masih adanya minyak pada sabun yang
diperoleh.( Suladra M. 1998 )
71
Penetapan Asam Lemak Bebas ( SNI 01-3741-2002
Prinsip Analisis yaitu pelarut sampel lemak atau
minyak dengan pelarut organic tertentu ( alkohol 96 %
netral) dilanjutkan penitaran dengan basa ( NaOH/ KOH )
Metode Analisis Titrasi alkalimetri adalah penetapan
terhadap larutan asam atau larutan-larutan garam yang
berasal dari basa lemah ,yaotu pembentukan garam dan
H2O netral ( ph = 7) hasil reaksi antara H+ dari suatu dan
OH dari suatu basa . Reaksi berlangsung stokiometri
mgrek penitaran sama dengan mgrek titran, saat ini
disebut dengan titik ekivalen.dalam praktek kondisi ini
tidak bisa dilihat secara visiual tetapi dapat dilihat dengan
bantuan indikator ( asambasa ) yang mempunyai warna
yang spesifik pada pH tertentu phenolftalein ( pp ) akan
berwarna pink pada pH 8,3-10.saat tercapainya
perubahan warna pada titran disebut dengan titik titrasi
72
VIII. ANALISIS SABUN
8.1. DEFINISI
Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan
reaksi kimia antara basa natrium atau kalium dengan
asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun
mandi merupakan sabun natrium yang pada umumnya
ditambah zat pewangi atau antiseptik, digunakan untuk
membersihkan tubuh manusia dan tidak berbahaya bagi
kesehatan (SNI, 1994)
8.2. MACAM-MACAM SABUN
Sabun dibedakan atas tiga macam, yaitu sabun
tidak transparan(opaque), sabun transparan, dan sabun
agak transparan(translucent).
• Sabun tidak transparan (opaque) adalah jenis
sabun yang biasa digunakan sehari-hari.
73
• Sabun transparan adalah sabun yang
penampakannya lebih berkilau dan lebih bening,
sehingga sisi belakang sabunterlihat dari sisi
depannya.
• Sabun agak transparan (translucent) dan sabun
transparan hampir sama, hanya penampakannya
berbeda. Sabun translucent tampak cerah dan
tembus cahaya, tetapi tidak terlalu bening dan agak
berkabut (Hambali dkk, 2005).
REAKSI SAPONIFIKASI
Kata saponifikasi atau saponify berarti membuat
sabun, dimana (sapon=sabun dan fy =membuat). Sabun
dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow) dan
dari minyak, reaksi saponifikasi tidak lain adalah hidrolisis
basa suatu ester dengan alkali (NaOH, KOH) (Poedjiadi,
2006).
74
Proses saponifikasi terjadi karena proses reaksi
trigliserida dengan alkali yang terjadi pada suhu 800C.
Saponifikasi suatu trigliseraldehida menghasilkan suatu
garam dari asam lemak ke rantai panjang yang
merupakan sabun (Spitz, 1996). Reaksi saponifikasi
lemak atau minyak.
Gambar reaksi saponifikasi
75
8.3. ANALISIS MUTU SABUN
1. Kadar air
Kadar air merupakan bahan yang menguap pada
suhu dan waktu tertentu. Maksimal kadar air pada
sabun adalah 15%, hal ini disebabkan agar sabun
yang dihasilkan cukup keras sehingga lebih efisien
dalam pemakaian dan sabun tidak mudah larut
dalam air. Kadar air akan mempengaruhi
kekerasan dari sabun (Qisti, 2009).
Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan
beberapa cara. Hal ini tergantung pada sifat
bahannya. Pada umumnya penentuan kadar air
dilakukan dengan mengeringkan bahan dalam oven
pada suhu 105-110o C selama 3 jam atau sampai
didapat berat konstan. Selisih berat sebelum dan
sesudah pengeringan adalah banyaknya air yang
diuapkan (Winarno, 1992).
76
Pengeringan sampai bobot tetap berarti
pengeringan harus dilanjutkan hingga pada
perbedaan dua kali penimbangan berturut-turut
tidak lebih dari 0,50 mg untuk tiap gram zat yang
digunakan, penimbangan kedua dilakukan setelah
dipanaskan lagi selama satu jam (Ditjen POM,
1995).
2. Kadar asam lemak bebas
Jumlah asam lemak merupakan jumlah total
seluruh asam lemak pada sabun yang telah atau
pun yang belum bereaksi dengan alkali. Sabun
yang berkualitas baik mempunyai kandungan total
asam lemak minimal 70%, hal ini berarti bahan-
bahan yang ditambahkan sebagai bahan pengisi
dalam pembuatan sabun kurang dari 30%.
Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi proses
77
pembersihan kotoran berupa minyak atau lemak
pada saat sabun digunakan. Bahan pengisi yang
biasa ditambahkan adalah madu, gliserol,
waterglass, protein susu dan lain sebagainya.
Tujuan penambahan bahan pengisi untuk
memberikan bentuk yang kompak dan padat,
melembabkan, menambahkan zat gizi yang
diperlukan oleh kulit (Qisti, 2009).
3. Angka tak tersabunkan
Lemak tak tersabunkan adalah lemak netral /
trigliseria yang tidak bereaksi selama proses
penyabunan atau yang disengaja ditambahkan
hasil sabun supertat. Lemak yang tidak
tersabunkan yang masih ada pada hasil bekas
pemeriksaan asam lemak bebas / alkali bebas
disabunkan dengan KOH alkohol berlebih, sisa
78
KOH dititar dengan HCL. Pengertian lemak tak
tersabunkan. Lemak tak tersabunkan adalah
bilangan yang menunjukkan banyaknya NaOH
yang diperlukan untuk menyabunkan lemak tak
tersabunkan didalam sabun. Lemak yang tidak
tersabunkan ada dalam sampel penelitian alkali
bebas / asam lemak bebas yang telah dinetralkan
dengan HCL, sampel tersebut direaksikan dengan
KOH sehingga akan terjadi reaksi saponifikasi.
Jumlah KOH yang digunakan untuk menyabunkan
lemak netral eqivalen dengan jumlah lemak yang
ada pada sampel. Dilakukan juga pada blangko
dan jumlah HCL penitaran pada blangko harus
eqivalen dan dikurangi dengan penitaran pada
sampel.
4. Analisis pH
79
Metode yang digunakan dalam pengukuran seperti
metode Potensiometri . pH atau derajat keasaman
digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman
atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan.
Yang dimaksud “keasaman” disini adalah
kosentrasi ion hydrogen ( H+ ) menunjukkan larutan
memiliki sifat basa, sedangkan nilai pH7 Kadar Air
80
IX. ANALISIS PARFUM
9.1. DEFINISI
Parfum merupakan suatu bentuk sediaan kosmetik
yang mengandung wangi-wangian baik dari alam maupun
sintesis yang dibutuhkan untuk memberi kesenangan dan
kesegaran pada pemakaiannya.
Fragrans merupakan biang segala wewangian.
Menurut FDA (Food and Drugs Administration) Amerika,
fragrans berarti semua substansi baik alami maupun
sintetis yang semata-mata digunakan untuk memberi bau
pada produk-produk kosmetik. Umumnya parfum terdiri
dari minyak atsiri.
FORMULASI PARFUM
Zat pewangi
Zat pengikat
Bahan pelarut atau pengencer (diluent)
81
Bahan pelembab
Solubilizer
9.2. PERSYARATAN PARFUM
1. Merupakan suatu larutan yang jernih, harus bening
atau keruh tapi menarik.
2. Konsistensi harus lama.
3. Penggunaan antioksidan diperlukan.
4. Penggunakan alkohol, harus mudah atau cepat
hilang dan mempunyai sifat mendinginkan.
Menurut Takeo Mitsui, parfum yang baik harus memiliki
persyaratan sebagai berikut (Bahriyun, 2013)
1. Harus sesuai dengan konsep produk
2. Memiliki aroma yang enak.
3. Memiliki keaslian dan bebauan modern.
4. Dapat berbaur dengan baik, bau tidak menyengat.
5. Memiliki kualitas yang baik.
82
Pelarut yang paling umum digunakan untuk melarutkan
minyak parfum adalah etanol atau campuran etanol dan
air. Selain itu dapat pula digunakan minyak kelapa, wax
cair ataupun minyak jojoba.
Etanol adalah senyawa yang dapat menyebabkan
iritasi, mata kemerahan, nyeri kornea, peradangan dan
kerusakan kornea. Selain itu, bahaya untuk kulit jika
dalam waktu pendek maupun panjang dapat
menyebabkan kulit kemerahan, gatal, peradangan.
Bahkan jika digunakan dalam jangka panjang dapat
menyebabkan terjadinya kanker, tumor ganas rongga
mulut, faring, laring, esophagus dan hati (Filasavita dkk,
2014).
83
9.3. PENGGOLONGAN PARFUM
1. Eau de parfum
Merupakan suatu larutan alkohol yang
mengandung minyak atsiri dalam kadar yang relatif
tinggi dan kekuatan keharuman serta keawetannya
relatif baik. Mempunyai kadar essence lebih tinggi
dari Eau de toilette dan Eau de cologne sehingga
wanginya lebih menyengat
2. Eau de toilete
Merupakan suatu larutan minyak-minyak atsiri
dalam alkohol yang bentuknya lebih encer daripada
parfum, biasanya diberi suatu zat warna dan
mempunyai kadar alkohol yang lebih banyak dari
essense sehingga wanginya tidak begitu tahan
lama.
84
3. Eau de cologne
Merupakan suatu larutan alkohol dari minyak-
minyak atsiri yang lebih encer daripada parfum,
biasanya minyak-minyak atsiri yang terkandung
didalamnya merupakan minyak-minyak atsiri dari
bermacam jeruk seperti ol.citri, ol. Aurantii.
Fungsinya hanya menyegarkan aroma tubuh
karena wewangian yang paling ringan dan tidak
tahan lama.
9.4. KOMPOSISI
Eau de Parfume
1. komposisi minyak atsiri atau campurannya dengan
sekresi hewan.
2. Zat pelekat. Benzyl benzoat, dietil ptalat.
3. Zat pembawa. Alkohol atau larutan hidroalkohol
65 %
85
4. Bentuk sediaan : Larutan
5. Kegunaan : sebagai pewangi dan penyegar
Eau de toilette
1. Bentuk sediaan : larutan lebih encer dari parfum
dan diberi zat warna
2. Komposisi : minyak atsiri dalam alkohol (5:90%)
3. Zat pelekat : benzil benzoate
4. Kegunaan : pewangi tangan
Eau de cologne
1. Bentuk sediaan : larutan, gel
2. Komposisi : minyak atsiri (oleum citri) dalam alkohol
85-90%
3. Fixative : resin
4. Kegunaan : untuk menyegarkan (tidak tahan lama),
aromaterapi.
86
9.5. ANALISIS YANG DILAKUKAN PADA SEDIAAN
PARFUM
Analisis Kadar Benzaldehid
Parfum dibuat dengan cara mencampurkan
berbagai macam zat atau bahan kimia, baik yang alami
maupun buatan (sintetik) dengan formula tertentu. Bahan
yang digunakan pada parfum tidak sedikit dan banyak zat
yang telah dibuktikan dapat berdampak bagi kesehatan
pengguna parfum tersebut baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang. Benzaldehid merupakan salah
satu bahan kimia yang ditambahkan ke dalam parfum
dengan aroma almond tetapi dapat menimbulkan efek
iritasi pada mata, kulit, saluran pernafasan, kerusakan
sistem syaraf pusat dan reaksi alergi. Maka perlu adanya
kontrol kualitas untuk memastikan bahwa bahan kimia
seperti Benzaldehid ini tidak disalahgunakan.
87
Metode analisis yang sering digunakan untuk
penentuan ada tidaknya kandungan benzaldehid dalam
sediaan parfum yaitu metode kromatografi gas. Dilakukan
analisis kualitatif pada sampel parfum “X” dengan cara
menginjeksikan 1 µL sampel secara langsung ke alat
kromatografi gas dan diamati waktu retensi yang muncul.
Sampel dapat dikatakan mengandung Benzaldehid
apabila waktu retensi analit yang muncul mendekati waktu
retensi dari Benzaldehid murni.
88