The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tugas akhir semester kelas C/P dengan pengampu dosen Prof. Dr. Drs. Suroso, M.Pd.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by salasatulramadhinta, 2022-01-04 12:59:44

UAS MEMBACA SASTRA PBSI C/P

Tugas akhir semester kelas C/P dengan pengampu dosen Prof. Dr. Drs. Suroso, M.Pd.

 Koh Acan
Koh Acan adalah keturunan Cina, ia sangat memelihara budaya peninggalan leluhurnya,
namun ia memiliki rasa toleransi yang tinggi. Meskipun koh Acan Konghucu namun ia
senang melihat anak-anak belajar shalat. Koh Acan memiliki sifat yang baik, ia memberikan
harga separuh untuk kalung Delisa. Ia juga sabar dalam menghadapi musibah, meskipun ia
kehilangan seluruh keluarganya, ia tetap bisa tersenyum. Koh Acan juga orang yang pantang
menyerah, meskipun usahanya hancur, ia segera membangun usahanya lagi dalam bidang
lain.

 Bu Guru Nur
Bu Gur Nur adalah Guru Delisa di sekolah, bu Guru Nur pandai membesarkan hati muridnya,
ia sangat baik hati. Bu guru Nur membantu melindungi Delisa ketika musibah terjadi.

 Ustadz Rahman
Ustadz Rahman adalah guru mengaji Delisa, ia pandai bercerita dan sabar dalam menjawab
pertanyaan Delisa, Ustadz rahman juga sering memberikan hadiah kepada murid-muridnya.

 Tiur
Tiur adalah teman Delisa di sekolah dan mengaji. Rumah Tiur berdekatan dengan Delisa.
Ayah Tiur telah meninggal, Tiur memiliki sifat baik hati, ia meminjami Delisa sepeda untuk
belajar dan Tiur Juga yang mengajari Delisa naik sepeda.

 Umam
Umam adalah teman Delisa. Umam memiliki sifat nakal dan jahil, ia sering menarik
kerudung teman-teman perempuannya, ia juga sering bersikap jahil di rumah. Umam sering
mencuri uang belanja umminya, merobek buku kakaknya, memecahkan tugas keramik
kakaknya,menggembosi ban motor kakaknya.

 Dokter Eliza
Dokter Eliza adalah dokter yang merawat Delisa di kapal setelah Delisa ditemukan oleh
tentara Amerika. Dokter Eliza berusaha menjalankan tugasnya dengan baik, ia
mengupayakan kaki palsu untuk Delisa.

 Suster Shopi
Shopi adalah seorang perawat yang merawat Delisa di kapal. Shopi beragama Islam dan
berjilbab. Ia penyayang dan baik hati. Shopi memberi cokelat dan boneka kepada Delisa, ia
juga merawat Delisa dengan kasih sayang, Shopi juga menggantikan baju Delisa dan
membacakan buku untuk Delisa dan menemani Delisa selama dirawat.

 Kak ubai
Kak Ubai adalah relawan PMI yang memiliki hobi memotret, ia juga menjadi guru ngaji
sementara bagi Delisa dan teman-temannya. Kak Ubai juga pandai bercerita dan menjawab
pertanyaan Delisa dengan sabar. Kak Ubai juga pandai bergurau dan kreatif dalam mengajar
muridmuridnya.

 Sersan Ahmed
Sersan Ahmed adalah adalah lulusan terbaik pendidikan tamtama marinir di Amerika Serikat.
Ia seorang mualaf, ia sangat tegas dan galak dalam menjalankan tugas dan memimpin anak
buahnya.

 Prajurit Smith

46

Prajurit Smith Adalah anak buah dari Sersan Ahmed, ia baru saja kehilangan anak dan
istrinya. Prajurti Smith menemukan Delisa di tengah semak belukar dan hal ini menjadi salah
satu alasannya memeluk agama Islam dan mengubah namanya menjadi prajurit Salam.

 Dokter Peter
Dokter adalah dokter yang merawat Delisa di rumah sakit, ia amat tegas dan berusaha
menjalankan tugasnya dengan baik.

3) Sudut pandang
Sudut pandang dalam novel Hafalan Shalat Delisa adalah orang ketiga. Dalam Novel ini
banyak digunakan penyebutan nama dan kata ganti orang ketiga seperti: ia.

4) Alur
Cerita dalam novel ini berurutan dari satu waktu ke waktu berikutnya sehingga alur dalam
novel Hafalan Shalat Delisa adalah maju. Meskipun ada beberapa bagian pada cerita yang
menceritakan kehidupan masa lalu namun lebih banyak cerita yang mengarah ke masa dan
waktu yang akan
datang.

5) Latar
Latar terbagi menjadi tiga, yaitu: latar waktu, latar tempat dan latar suasana. Berikut ini
penjelasan dari ketiga latar dalam novel Hafalan Shalat Delisa:

a. Latar tempat
Latar tempat dalam novel ini secara umum di Lhok Nga, Aceh. Namun ada pula bagian cerita
ini yang berada di kapal, rumah Delisa, rumah sakit, lapangan bola, pemakaman massal,
sekolah, meunasah, tenda pengungsian.

b. Latar waktu
Latar waktu dalam novel ini antara lain: pagi, siang, sore maupun malam hari. Namun secara
umum waktu dalam novel ini adalah sebelum dan setelah peristiwa Tsunami Aceh tanggal 26
Desember 2004.

c. Latar suasana
Latar suasana yang sering muncul dalam novel ini adalah menyedihkan dan mengharukan,
namun ada beberapa bagian yang menyenangkan dan gembira.

6) Amanat
Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca. Amanat dari novel ini
yaitu: Allah menguji kesabaran hambaNya dengan sebuah ujian dan musibah, dan dibalik
musibah dan ujian itu tersimpan hikmah yang sangat besar.

Komentar
Novel ini memiliki nilai religius yang sangat bagus, memberikan contoh kepada pembaca
betapa pentingnya kedekatan hambanya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sifat sabar dan tabah
pasti akan membuat diri kita terbiasa dalam kenyataan sepahit apapun dan setinggi apapun
kita jangan lupa untuk menolong sesama yang sedang ditimpa musibah.

47

BIOGRAFI
Saya biasa di panggil Hafidh / Muhaf, lahir di
Semarang pada tanggal 19 September 2002. Saya
besar di Semarang sebelum akhirnya pindah ke
Gunungkidul, DIY. Saya mempunyai hobi yang
sama seperti remaja pada umumnya yaitu sepak
bola, menonton film, bermain game dan
sebagainya, jika saya sebutkan satu persatu akan
panjang biografinya. Saya memiliki motivasi yang
berbunyi seperti ini “jika belum mampu meraih
mimpi yang tinggi, raihlah yang sudah pasti
daripada nanti sakit hati”. Saya juga mempunyai
motto hidup yang sederhana akan tetapi sulit untuk
melakukannya yang bertuliskan “jadilah diri sendiri”, karena menjadi diri sendiri tidak
mudah daripada menjadi orang yang bermuka dua. Saya mempunyai alamat email
[email protected] jika ingin mengenal lebih dalam tentang saya bisa
langsung hubungi alamat email tersebut. Terima kasih.

48

Muhammad Hafidh Gymnastiar

21201244017

Analisis Cerpen Untuk Siapa Kau Bersiul?

1. Tema

Keyakinan yang dimiliki tokoh utama pada hati dan fikiran yang teguh.

2. Penokohan

a. Tokoh utama : Tanpa nama (saya)

b. Tokoh pembantu :

 Tokoh protagonis : Seorang penumpang bis berjenis kelamin laki-laki

 Tokoh figuran : Ed (teman tokoh utama), seorang gadis beserta teman
lelakinya, laki-laki penumpang angkutan kota, sopir bus, kondektur bus,
penumpang bus.

3. Perwatakan

a. Tanpa nama (saya) :
 Mudah emosi (Dan tokoh utama pun menjawab “Saya terganggu !”)

 Memiliki keyakinan tinggi (lagu gugur bunga merupakan lagu yang khusus
dinyanyikan untuk seorang pahlawan bukan seorang teroris yang dianggap
para pengacau keamanan!)

 Pendendam (dalam senyum saya balas tatapannya tanpa saya berhenti bersiul.
Terror harus dibalas dengan teror)

 Egois (saat mendapat bis terakhir saya bertemu dengan laki-laki tersebut, dia
melambai-lambai untuk menyetop bis tapi saya menyuruh sopir bus dan
kondektur untuk tidak memberikan tumpangan dengan cara memberikan
sejumlah uang sebagai gantinya)

b. Seorang penumpang bis berjenis laki-laki

 Memiliki keyakinan yang tinggi ("saya suka bersiul. Apa salahnya saya bersiul
siul adalah terompet duka bagi saya!...”)

 Pembangkang (tokoh utama berkata “… bahkan seluruh bangsa Indonesiaakan
mendukung saya kalau mereka tahu untuk siapa saudara bersiul lagu Gugur
Bunga” dan laki laki itu pun berkata “belum tentu begitu! katanya
membangkang)

49

 Baik hati (laki-laki tersebut berkata “kalau kita yakin,kita tidak akan capek )

c. Ed (teman tokoh utama)

Senang berbagi cerita (satu diceritakan Ed kepada saya, tentang seorang gadis
dungu yang tolol)

d. Seorang gadis
Lugu dan polos (“kamu mau melamarku?”)

e. Teman lelaki seorang gadis

Tidak memiliki perasaan (dengar ya, nenek saya kawin dengan kakek saya, tante
saya kawin dengan om saya, ibu saya kawin dengan ayah saya. Dan kamu apa
saya?”)

f. Laki-laki penumpang angkutan umum
Pintar tapi aneh (“panas pagi sangat berguna bagi kesehata. Mengandung vitamin
A mungkin vitamin B tapi yang pasti bukan C. sebab, vitamin C ada di dalam
mangga. Pokoknya disalah satu vitamin A hingga Z kecuali vitamin C sebab
vitamin C ada di dalam mangga.)

g. Supir bis
Penurut (“stop! Stop!” teriak para penumpang memberhentikan bus. Dan sopir itu
memperlambat jalan kendaraannya )

h. Kodektur
Mementingkan uang (“kami membutuhkan uang dan penumpang” kata kondektur)

i. Para penumpang bus
Baik dan peduli terhadap manusia (“hentikan. Kasian orang itu.”, “kasihan orang
itu. Hentikan bus ini! dia juga sama seperti kita. Sama-sama kemalaman.”)

4. Setting

a. Tempat :

 Angkutan umum (waktu itu saya berada di kendaraan angkutan umum dan
seorang laki-lakipun naik dan menoleh deretan bangku kosong kiri dan kanan)

 Bus kota (ketika saya pulang menumpang bis kota, dibangku sebelah kiri saya
melihat seorang penumpang laki-laki terus menerus mempertontonkan
kekonyolan…)

50

 Halte bus (di halte berikutnya saya turun. Saya duduk di bangku beton yang
dingin di sebuah halte bus)

b. Waktu :
 Pagi hari (tadi pagi saya menemukan kekonyolan yang kedua…)

 Malam hari (PADA malam harinya, ketika saya pulang menumpang bus
kota….)

c. Suasana :

 Membingungkan (saat laki-laki penumpang angkutan kota menaiki kendaraan
tersebut dia duduk disebelah kanan yang akan di sinari oleh cahaya matahari.
Aneh, piker saya. Mungkin demikian juga tanggapan penumpang yang lain.)

 Mengharukan (saya berduka untuk berita radia sore tadi. Dengan berlinang air
mata)

 Menegangkan (seorang laki-laki tersebut bertanya pada tokoh utama untuk
siapa anda bersiul? dan tokoh utamapun menjawab untuk Ahmad Kirang! Lalu
dia bertanya siapa Ahmad Kirang itu? dan tokoh utamapun menjawab
pahlawanku! Syuhadaku yang gugur saat menumpas 5 teroris sore tadi.
Baiklah kalo begitu kita sudah bersebrangan dan jika kau ingin bersiul maka
bersiullah di tempat lain. kata laki-laki tersebut)

 Menyenangkan (untuk siapa kau bersiul, lagu gugur bunga? kata tokoh utama
lalu dia menoloh kepada saya. Dia senyum, lalu menjawab. “untuk Ahmad
Kirang!”)

d. Alur : Maju

5. Amanat

 Jangan pernah menilai seseorang dari penampilan luarnya saja.

 Kejahatan tidak harus di balas dengan kejahatan.

 Jika kita yakin akan sebuah kebenaran, kita tidak akan lelah untuk
memperjuangkannya.

6. Sudut Pandang

 Orang pertama sebagai pelaku utama (saya)

 Orang ketiga sebagai pelaku sampingan (dia laki-laki)

51

Muhammad Hafidh Gymnastiar

21201244017
Yang Fana Adalah Waktu – Karya Sapardi Djoko Damono

Yang fana adalah waktu. Kita abadi,

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”

tanyamu.

Kita abadi.

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,

1982

Analisis Puisi

1. Judul
Yang Fana Adalah Waktu

2. Tema
Puisi Yang Fana adalah Waktu memiliki membawa tema ketuhanan. Setiap bait yang
diungkapkan berkaitan dengan eksistensi atau kehidupan manusia sebagai makhluk
ciptaan tuhan.

3. Diksi
Diksi atau pilihan kata yang digunakan pada puisi Yang Fana adalah Waktu adalah
penggunaan kata konkrit. Kosa kata yang digunakan adalah kosa kata keseharian yang
sudah ada dan tidak memunculkan makna yang baru

4. Gaya bahasa
a. ―memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga‖, merupakan majas
simbolik. Detik yang dipungut dan dirangkai seperti bunga sebagai simbol dari
waktu-waktu sepanjang hidup hingga membentuk sebuah rangkaian kehidupan
yang telah kita lalui.
b. ―kita abadi‖, merupakan majas totem pro parte yang mengungkapkan kita
sebagai keseluruhan objek, padahal yang di maksud adalah jiwa.

52

c. ―detik demi detik‖, sebagai majas aliterasi yang mengulang konsonan D di
awal setiap kata secara berurutan.

d. ―Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?‖ tanyamu.
Kita abadi, penggunaan majas asindetron. Bait kita abadi diungkapkan
tanpa menggunkan kata penghubung dari bait sebelumnya.

e. ―Yang fana adalah waktu. Kita abadi‖, merupakan sebuah
ungkapan paradoks.

5. Amanat
Amanat yang terkadung dalam puisi ini disampaikan pengarang secara tersirat atau
secara tidak langsung. Pembaca dibebaskan untuk mencari dan menginterpretasikan
sendiri. Berdasarkan tema dan rasa yang telah disampaikan, puisi ini memberi pesan
tentang kehidupan manusia di dunia. Secara eksplisit kita paham bahwa semua
manusia kelak akan meninggal, sementara waktu terus berjalan. Tetapi, sesungguhnya
yang abadi itu bukanlah waktu, melainkan jiwa manusia itu sendiri. Jiwa yang akan
menempuh kehiudupan setelah kehidupan di dunia. Pada kehiupan inilah manusia
akan hidup kekal dan abadi selamanya.

53

BIOGRAFI
Perkenalkan nama saya Sholekhah Anjar Wigati lahir di
Magelang, 27 Mei 2003. Saya memiliki hobi mendengarkan
musik dan menulis. Motto hidup saya adalah lurus, mantep,
ajeg artinya saya berharap bisa tepat dalam memilih tujuan
dan benar-benar tidak merubah tujuan itu demi masa depan.
Email: [email protected].

54

Sholekhah Anjar Wigati

21201244018

ANALISIS PUISI SAJAK SEBATANG LISONG

Karya W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong,
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat.
dan dilangit
dua tiga cukong mengangkang.
berak di atas kepala mereka.

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya.
Tetapi pertanyaan-pertanyaanku
Membentur meja kekuasaan yang macet,
Dan papantulis-papantulis para pendidik
Yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan.
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.

Menghisap udara
Yang disemprot deodorant,
Aku melihat sarjana-sarjana menganggur
Berpeluh di jalan raya ;
Aku melihat wanita bunting
Antri uang pensiunan.

Dan dilangit ;
Para teknokrat berkata :

Bahwa bangsa kita adalah malas,
Bahwa bangsa mesti dibangun,
Mesti di-up-grade,
Disesuaikan dengan teknologi yang diimpor.

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala.
Dan aku melihat

55

Protes-protes terpendam,
Terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
Tetapi pertanyaanku
Membentur jidat penyair-penyair salon,
Yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
Sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,
Dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

Termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
Berkunang-kunang pandang matanya,
Di bawah iklan berlampu neon.
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
Menjadi gemalau suara yang kacau,
Menjadi karang di bawah muka samodra.

Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluarke jalan raya,
Keluar ke desa-desa,
Mencatat sendiri semua gejala,
Dan meghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku !
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
Bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
Bila terpisah dari masalah kehidupan.

Unsur intrinsik :

1. Tema :

mengandung ironi pendidikan. Artinya Para penguasa yang menganggap pentingnya

pendidikan, namun kenyataannya seolah tidak peduli padanya, dan para pendidik

yang bergelut dalam pendidikan namun seolah terlepas dari hakikat pendidikan itu

sendiri, yaitu tentang masalah kehidupan.

2. Rasa: mengungkapkan kekesalan terhadap keadaan pendidikan di Indonesia
khususnya pada tahun 1997. Hal ini terdapat pada bait pertama yaitu “dua tiga cukong
mengangkang, berak di atas kepala mereka.‖ Yang memiliki makna bahwa para

penguasa yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

3. Nada: nada yang digunakan adalah memberi tahu dan mengajak. Hal ini terdapat

pada bait ke-12.

Inilah sajakku!

Pamplet masa darurat.

56

Apakah artinya kesenian,
Bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
Bila terpisah dari masalah kehidupan.
4. Diksi: mengacu pada pilihan kata. Sehingga puisi ini memilih kata-kata yang
dianggap mengandung nilai dan rasa tertentu. Contohnya yaitu lisong, cukong,
mengangkang, dangau, berpeluh, dan lain-lain.
5. Imajinasi: menggunakan imajinasi visual (penglihatan), auditif (suara), dan taktil
(perasaan).
- Bait 1: imajinasi visual  Menghisap sebatang lisong, Melihat Indonesia Raya.

Imajinasi auditif  Mendengar 130 juta rakyat.
- Bait 3 : imajinasi taktil  Aku bertanya. Tetapi pertanyaan-pertanyaanku,

Membentur meja kekuasaan yang macet.
6. Kata konkrit: cenderung mengandung kata-kata yang lugas dan bermakna jelas.

Misalnya pada bait ke-12 yaitu
Apakah artinya kesenian,
Bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
Bila terpisah dari masalah kehidupan.
Bait ini memiliki makna bahwa kesenian dan pendidikan hanya akan jadi omong
kosng belaka bila terlepas dari hakikatnya yaitu masalah kehidupan.
7. Gaya bahasa: menggunakan beberapa macam gaya bahasa atau majas di dalamnya.
Contohnya majas sinekdoke pada bait ke-2 “Dan aku melihat delapan juta kanak-
kanak.” kemudian majas personifikasi pada bait ke-8 “Langit pesta waarna di dalam
senjakala.”
8. Irama: irama yang terkandung di puisi sajak sebatang lisong yaitu irama yang
menghentak-hentak. Misalnya pada bait ke-3:
Aku bertanya.
Tetapi pertanyaan-pertanyaanku
Membentur meja kekuasaan yang macet,
Dan papantulis-papantulis para pendidik
Yang terlepas dari persoalan kehidupan.
9. Rima: rima yang terkandung di dalamnya adalah rima asonansi, yaitu mengulangi
bunyi huruf vokal yang sama pada baris yang sama dan aliterasi, pengulangan bunyi
huruf konsonan yang sama pada baris yang sama juga. Terdapat pada bait pertama.
Menghisap sebatang lisong, (ng,ng,ng)
Melihat Indonesia Raya, (a,a,a)
Mendengar 130 juta rakyat. (a,a,a)
10. Amanat: puisi berjudul sajak sebatang lisong ini mengandung makna bahwa
pendidikan terutama pendidikan di Indonesia seharusnya mendasar pada kehidupan
dan permasalahan yang nyata bukan hanya teori-teori yang diajarkan di kelas saja.
11. Komentar: setelah membaca dan menganalisis puisi ini, saya dapat menyimpulkan
dan berkomentar bahwa puisi ini terjadi sesuai realita di Indonesia hingga saat ini.
Karena dari banyaknya penduduk yang tinggal di Indonesia masih merasa
kebingungan dengan sistem pendidikan di Indonesia itu sendiri. Bahkan tidak semua
pendidikan di Indonesia berjalan secara layak. Rakyat bekerja keras demi memiliki
kehidupan yang semestinya, namun penguasa berbuat sewenang-wenang yang hanya
mengandalkan sebuah jabatan. Oleh karena itu, puisi tersebut menurut saya kelebihan
dari puisi adalah mudah untuk dipahami karena menggunakan pilihan kata yang
sesuai untuk mengkritik keadaan sosial, pendidikan di Indonesia.

57

Sholekhah Anjar Wigati

21201244018

ANALISIS DRAMA BILA MALAM BERTAMBAH MALAM
Karya Putu Wijaya

1. Tema: tema yang diangkat oleh Putu Wijaya adalah persolan status sosial. Karena
pada drama ini menceritakan seorang tokoh yang mempersoalkan derajat
kebangsawanan.

2. Alur: alur yang digunakan adalah alur maju. Alur ini dmulai dengan pengenalan
situasi cerita, pengungkapan peristiwa, menuju pada adanya konflik, puncak konflik
dan penyelesaian.
- Eksposisi: dimulai dengan adanya pengenalan latar cerita dan munculnya tokoh
Nyoman, wayan, dan Gusti Biang.
- Konflik: dimulai saat Gusti Biang mengusir Nyoman kemudian Wayan
memberitahu Gusti Biang bahwa Nyoman adalah calon tunangan dari Ngurah.
- Komplikasi : dimulai pada saat Ngurah pulang dari perantauan kemudian
menyadari bahwa Nyoman telah diusir oelh ibunya. Kemudian Gusti Biang
mencoba untuk menghasut Ngurah agar tidak melamar Nyoman namun Wayan
tetap membela Nyoman dengan mengatakan bahwa Nyoman adalah wanita yang
baik. Kemudian Gusti Biang mencoba mmepengaruhi anaknya lagi untuk
membenci Wayan dengan mengatakan bahwa Wayan telah membunuh ayahnya.
- Klimaks: semakin memuncak ketika wayan membongkar rahasia ayah Ngurah
bahwa ayahnya bukanlah seorang lelaki sejati, melainkan seorang wandu. Jadi
Ngurah bukanlah anak dari ayahnya melainkan anak dari Wayan yang sejak dulu
mencintai Gusti Biang.
- Penyelesaian : pada saat Gusti biang menyadari kesalahannya terhadap Nyoman
ketika Ngurah datang dan menyadarkan Gusti Biang akan perilakunya yang sudah
kelewat batas. Selain itu, Ngurah juga memutuskan untuk mempersunting
Nyoman.

3. Tokoh dan penokohan :
- Gusti Biang  Tokoh antagonis dan tokoh sentral. Seorang janda yang
sombong dan membanggakan kebangsawanannya. Memiliki watak yang keras,
pemarah, angkuh, dan egois. Beliau juga memiliki hobi marah-marah dan
memiliki sikap yang memandang manusia berdasarkan kasta, sehingga membuat
beliau menjadi sombong dan memandang rendah orang lain.
- Nyoman  Tokoh protagonis dan tokoh sentral. Seorang gadis desa yang sudah
mengabdi Gusti Biang kurang lebih 18 tahun. Pendidikan dan kebutuhannya
tercukupi oleh Gusti Biang. Seorang yang setia dan sabar menghadapi perilaku
Gusti Biang yang seenaknya.
- Ngurah  Tokoh utama. Anak dari Gusti Biang yang sedang menyelesaikan
pendidikannya di salah satu Universitas di Pulau Jawa. Dia adalah anak dari gusti
Biang dengan Wayan dan merupakan kekasih Nyoman. Selain itu, dia memiliki
watak yang baik, bijaksana, dan perhatian dengan ibunya.
- Wayan  tokoh protagonis dan tokoh pembantu. Dia digambarkan sebagai sosok
lelaki tua yang rela menjadi abdi Gusti Biang karena rasa cintanya kepada Gusti

58

Biang. Dia juga merupakan sosok yang baik, penyayang, dan selalu membela
kebenaran.
4. Amanat: sebagai manusia yang bermasyarakat dan juga hakikatnya manusia
merupakan akhlak sosial, tentunya dalam menjalani kehidupan di dunia ini pasti
membutuhkan bantuan orang lain. Kita harus bersikap sama terhadap sesama dan juga
harus menanamkan sikap saling menghormati antar sesama. Kemudian dalam
melakukan segala sesuatu jika didasari dengan rasa ikhlas dan sabar pasti hasilnya
akan baik dan sesuai dengan yang kita harapkan.
5. Dialog: dialog yang ada dalam drama tersebut sebagian menggunakan dialek Bali.
Hal ini menyebabkan latar belakang sosial-budaya tokoh-tokohnya semakin jelas.
Konflik-konlik yang dibangun antara Gusti Biang dengan Nyoman, Gusti Biang
dengan Wayan, dan Gusti Biang dengan Ngurah menegaskan bahwa bantuk lakon ini
adalah tragedi.
6. Latar:
- Latar tempat  di rumah Gusti Biang.
Gusti Biang: “Ya! Leak itu tidak boleh masuk rumahku ini. setan itu juga! Biar
mati dua-duanya sekarang! Kalau kau mau ikut pergi terserah. Aku akan
mempertahankan kehormatanku. Kehormatan suamiku, kehormatan Sanggung
Rai, kehormatan leluhur-leluhur di puri ini”.
- Latar waktu  malam hari dan sore hari.
Nyoman : “Nah, itu sebabnya kalau belum santap malam. Apalagi sejak beberapa
hari ini Gusti sudah tidak mau minum jamu lagi, minum sekarang ya?”
Wayan: “Mana ada setan sore-sore begini Gusti?”
7. Bahasa: Putu Wijaya menggunakan bahasa sehari-hari dan bahasanya kasar.
8. Konflik: Nyoman dimaki-maki oleh Gusti Biang ketika terus-terusan menawarkan
obat, padahal kondisi Gusti Biang memang sedang sakit. Selain itu, Nyoman pergi
dari rumah Gusti Biang karena sudah tidak tahan dengan perlakuan Gusti Biang.
9. Sudut pandang: dalam drama ini menggunakan sudut pandang orang pertama.
10. Komentar: pada drama berjudul “Bila malam Bertambah Malam” karya Putu Wiajya
ini menggamabrkan kisah nyata di kehidupan manusia. Hal ini didasari bahwa di
dalam kehidupan manusia tidak ada yang sempurna, pasti terdapat sebuah
kebohongan-kebohongan yang akan dilakukan agar bisa terlihat sempurna di mata
orang lain. Sehingga dalam drama ini memunculkan permasalahn yang sangat
kompleks atau dapat kita jumpai di sekitar kita. Dalam drama ini terdapat kelibihan
dan kekurangan. Keliebihannya adalah drama ini telah menggunakan latar yang pas,
terdapat budaya yang khas yaitu budaya Bali. Sedangkan kekurangannya adalah
penggambaran tokoh Nyoman kurang detail, bahasa yang digunakan juga masih sulit
dimengerti karena masih banyak menggunakan bahasa daerah (dialek Bali).

59

BIOGRAFI
Shofia Syahara Vathin. Lahir pada 8 Februari 2002 di
Sleman, Yogyakarta. Saya sekarang tinggal di Sucen RT
04 RW 05 Triharjo, Sleman, Yogyakarta. Saya anak ke 3
dari 3 bersaudara. Saya memiliki hobi jalan-jalan dan juga
mendengarkan musik. Saya sewaktu TK bersekolah di TK
ABA Sleman Kota, saya lulus tahun 2009. Lalu
melanjutkan studi di SD Muhammdiyah Sleman dan lulus pada tahun 2014. Untuk SMP saya
melanjutkan di SMP Negeri 1 Sleman yang lulus pada tahun 2017, selanjutnya saya
melanjutkan studi di SMA Negeri 1 Sleman dan lulus pada tahun 2020. Setelah lulus SMA
saya melanjutkan studi saya di Universitas Negeri Yogyakarta dengan mengambil jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang sekarang baru menginjak semester 1.

60

Shofia Syahara Vathin

21201244019
Unsur Intrinsik Drama “Orang-orang Di Tikungan Jalan” Karya WS. Rendra

1. Tema
Tema dari drama ini adalah Romansa dan Sosial karena drama ini menceritakan
tentang permasalahan kehidupan yang di latar belakangi konflik percintaan. Selain itu
drama ini juga menampilkan lingkungan dan kehidupan sosial di lingkungan
pelacuran.

2. Alur
Alur yang terdapat dalam drama ini adalah alur campuran, karena drama ini memiliki
jalan cerita yang maju, namun diselipkan beberapa bagian kilas balik yang tergambar
pada dialognya.

3. Tokoh dan Penokohan
● Tokoh:
Tokoh Utama: Djoko, Sri, Botak
Tokoh Tambahan: Surya, Surati, Narko, Tarjo, Tukang Wedang
● Penokohan:
1. Joko: seorang laki-laki yang mengharapkan dan setia pada kekasihnya, dan
dia mempunyai ketertarikan nama pada setiap orang baru yang ia jumpai
2. Sri: seorang pelacur yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap teman dan
keluarganya, serta mempunyai cinta yang tulus. Seperti cerita dan ending
yang terjadi pada drama tersebut, sri menjadi pelacur demi keluarga, dan
akhirnya ia menikah denga tarjo yang usianya jauh lebih tua darinya.
3. Botak: seorang laki-laki yang tegar dan selalu menjadi penengah dalam
masalah.
4. Surya: seorang pemabuk yang mudah putus asa, tergambar pada drama
tersebut bahwa ia meninggal karena bunuh diri.
5. Lelaki: kasar, jahat, dan tidak bertanggung jawab
6. Surati: Setia
7. Tarjo: laki-laki separuh baya yang mencari wanita muda. Dijelaskan pada
ending cerita ia menikah dengan sri yang usianya jauh lebih muda.
8. Tukang wedang: Ramah dan lucu, namun suka bergosip

61

9. Narko: memiliki gangguan kejiwaan karena selalu menyebut dirinya Anak
Jadah karena ditinggal kedua orang tuanya. Di akhir drama dijelaskan bahwa
Narko adalah anak dari Surya.

4. Latar
● Latar tempat:
1. Tikungan Jalan kecil
Pada sebuah tikungan jalan kecil yang diterangi oleh lampu listrik, tampak
seorang lelaki termenung sendiri dengan rokok yang menyala di mulutnya.
2. Bangku panjang penjual kacang
Keduanya lalu duduk dibangku panjang. Sambil menantikan si Penjual
mengatur pelayanannya.
● Latar waktu: Malam hari
Waktu malam. Larut malam.
● Latar suasana:
1. Senang
Sri: (tertawa kecil) Apakah aku akan kau ambil istri?
2. Sedih
Lelaki: Kau lebih tua dari yang kusangka. Engkau lebih penipu lagi! (Sesudah itu
laki-laki itu lenyap ke sebelah kanan. Perempuan itu menangis tersedu-sedu).

5. Sudut pandang
Menggunakan sudut pandang orang pertama, karena dialog dalam drama
menggunakan kata "aku" dan drama tersebut menggambarkan cerita dari sudut
pandang tokoh utama (Djoko).
Contoh dialog yang di dalamnya terdapat kata “aku”:
Botak: “Sekarang aku jadi tidak mengerti, mengapa kau datang kemari?”
Djoko: “Aku tak tahu, terkadang harus ku tanyakan sendiri pada hatiku. Aku sedang
memikirkannya.

6. Gaya Bahasa
Peranan bahasa merupakan hal sangat penting dalam mengungkapkan isi hati, pikiran,
dan perasaan seseorang khususnya pengarang. Pengungkapan hal tersebut akan lebih
baik apabila penggunaan bahasa itu ditafsirkan dengan gaya bahasa, yang akan
menimbulkan serta memberikan keindahan, kenikmatan, dan perasaan tertentu bagi
pembaca. Dan gaya bahasa yang digunakan oleh W.S Rendra dalam drama Orang-

62

orang ditikungan jalan cukup mudah dimengerti pembaca, khususnya saya dalam
menganalisis karena gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa sehari-hari.
Hampir tidak ada dialog yang menggunakan majas ataupun gaya bahasa yang sulit.
Contohnya pada dialog:
Djoko:” Ya. --- He, baiknya kita berkenalan saja.” (Lalu ia mengulurkan tangannya
pada orang itu). Djoko! (Orang itu menjabat tangan Djoko dengan ramahnya, tetapi ia
tidak menyebutkan namanya sendiri. Sri pun berbuat seperti Djoko, menjabat tangan
orang itu).
Sri: (sambil berjabatan tangan). Sri! (Kembali orang itu setelah berjabat tangan
dengan sri tiada juga menyebutkan namanya. Maka, Djoko lalu bertanya kepadanya)
7. Amanat
● Tokoh botak juga mengajarkan bahwa mabuk mabukan bukan lah hal yang dapat

menyelesaikan masalah. Lebih baik melakukan sesuatu yang positif seperti
relaksasi dan memancing. Hal ini sesuai dengan dialog:
Botak: pernah juga aku seperti halmu, tetapi aku sudah dapat mengatasinya. Aku
tak mau mabuk aku mabuk lagi sekarang. Sebab itulah aku tak suka sajak itu.

63

Shofia Syahara Vathin

21201244019

Unsur Intrinsik Puisi “Seorang Tukang Rambutan pada Isterinya”

Unsur fisik:

 Diksi:
o Puisi berjudul Seorang Tukang Rambutan pada Isterinya banyak
menggunakan kata-kata yang umum digunakan sehari-hari dan mudah
dipahami contoh: Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali

o Ada beberapa kata yang bersifat konotatif, contohnya:
terbakar muka yang memiliki makna muka yang
kepanasan orang kecil yang memiliki makna rakyat
miskin

 Repetisi
Beberapa kata dalam puisi ini mengalami pengulangan
o Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Pengulangan ini bertujuan menegaskan kepada istrinya, bahwa benar
demonstran menyoraki tukang rambutan.
o Terima kasih, pak, terima kasih!
Pengucapan terimakasih yang berulang menggambarkan terima kasih
yang tulus.
o “Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Pengulangan kata hidup tersebut merupakan bagian dari sorakan
demonstran.

 majas:
Majas-majas yang digunakan dalam penulisan puisi “Tukang Rambuta kepada
Istrinya”

o hiperbola adalah majas yang mengungkapkan sesuatu dengan kesan
berlebihan, bahkan hampir tidak masuk akal. terbakar mukanya diatas truk
terbuka, yang dimaksud dengan terbakar adalah kepanasan.

o Metafora adalah majas yang meletakkan sebuah objek yang bersifat sama
dengan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk ungkapan. Pada
orangkecil seperti kita, yang dimaksud dengan orang kecil adalah rakyat
miskin.

64

 tipografi:
Puisi “Seorang Tukang Rambutan pada Isterinya” ditulis dalam dua bait, bait
pertama terdiri atas delapan baris sedangkan bait kedua terdiri 23 baris,

Unsur Batin:

 Tema:
Tema adalah pokok pikiran atau dasar cerita. Menurut Herman J. Waluyo
(1987:106) tema merupakan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh
penyair. Saya pikir puisi berjudul “Seorang Tukang Rambutan pada Isterinya”
memiliki tema demokrasi, dapat diketahui bahwa, puisi menggambarkan situasi
demontrasi, salah satu jalan untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Dimana
dijelaskan tentang peristiwa demonstrasi yang menelan korban jiwa,
demonstran yang kegirangan dan berterimakasih saat seorang tukang rambutan
memberikan, dan keberhasilan demonstran untuk menurunkan harga minyak.

 nada dan suasana:
Nada adalah bentuk sikap atau keinginan penyair terhadap pembaca. Sedangkan
Suasana adalah akibat yang ditimbulkan puisi terhadap jiwa pembaca.
menurut saya nada yang dapat digunakan dalam membaca puisi “Seorang
Tukang Rambutan pada Isterinya” adalah nada dan suasana yang sedu pada bait
pertama karena, menggambarkan korban jiwa demonstrasi

Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali…

 perasaan:
Perasaan adalah ungkapan atau ekspresi penyair kepada sesuatu yang
dituangkan ke dalam puisinya. Perasaan yang diungkapkan penyair adalah
kegembiraan yang dirasakan tukang rambutan karena orang-orang yang
berterima kasih begitu tulus.


Saya tersedu, bu. Saya
tersedu Belum pernah
seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.

 amanat:
Apapun yang dilakukan dengan ikhlas akan mendatangkan
kebaikan. Berbagilah walaupun hanya sedikit.

65

BIODATA
Nama : Ashetria Noviska Ramadhani
NIM : 21201244020
TTL : Gunungkidul, 5 November 2002
Hobi : Berolahraga, melukis, dan menulis
Motto : Urip iku urup
Email:[email protected]

66

Ashetria Noviska Ramadhani

21201244020

PELAJARAN MENGARANG

Karya: Seno Gumira Ajidarma

Respon Terhadap Cerpen:
Menurut saya cerpen yang berjudul “Pelajaran Mengarang” ini menceritakan seorang

anak yang berasal dari ibu seorang pelacur dan entah siapa ayah dari anak itu. Kehidupannya
sehari-hari saya rasa menyedihkan dia hidup dalam lingkungan yang tidak baik. Saya menjadi
simpatik terhadap Sandra si anak dari ibu pelacur ini karena Sandra memiliki sikap dan
sifatnya yang selalu sabar dan tetap menghormati ibunya walau kadang kala ibunya itu
mengeluarkan kalimat-kalimat yang kasar terhadapnya. Dengan keadaan keluarganya ini
dapat membawa dampak negatif bagi perkembangannya. Cerpen ini juga mengandung pesan
tersirat dari si penulis. Cerpen ini menurut saya dapat dinikmati karena alur berjalan saling
beriringan. Penggunaan gaya bahasa juga sangat menarik dan mudah untuk para pembaca
dalam memahaminya. Tokoh di dalam cerita juga sangat menonjol dan jelas. Menurut saya
cerpen ini patut untuk dibaca semua orang terutama untuk orangtua selaku agen pertama
dalam mendidik anak untuk memiliki kepribadian yang baik.

Analisis Cerpen: Kalimat
No. Unsur Intrinsik

1. Tema Kehidupan Sosial yang dialami oleh satu keluarga

2. Alur Menggunakan alur campuran dimana terdapat alur maju dan
mundur di dalam cerita tetapi lebih dominan menggunakan alur
mundur karena Sandra selalu membayangkan tentang 3 judul
yang di berikan oleh Ibu Guru Tati.

3. Tokoh dan  Sandra. Sandra adalah seorang anak berumur sepuluh

Penokohan tahun yang masih duduk di bangku kelas V SD. Sandra

adalah tokoh sederhana karena tidak mengalami perubahan

watak dari awal hingga akhir cerita. Berdasarkan tingkat

kepentingan peranannya Sandra merupakan tokoh utama

karena dia terkait dengan seluruh peristiwa yang

berlangsung. Dia merupakan tokoh penggerak alur. Jika

ditinjau dari fungsi penampilannya, Sandra tergolong dalam

tokoh protagonis. Sandra memiliki sifat yang baik, berbakti

kepada orang tua, penurut, dan sabar.

 Marti. Marti ialah ibu dari Sandra adalah wanita yang
cantik. Akan tetapi, dia memiliki sifat yang keras. tokoh
Marti merupakan tokoh bulat. Dia mengalami peruabahan

67

4. Latar watak, dari yang sangat keras dan sering mencaci Sandra
5. Sudut Pandang terkadang dia bisa lembut dan menampakkan rasa
sayangnya pada Sandra. Berdasarkan tingkat kepentingan
peranannya, Marti termasuk tokoh utama karena dia
termasuk ke dalam tokoh penggerak alur. Tingkat
kemunculannya lumayan tinggi.

 Ibu Guru Tati. Ibu Guru Tati merupakan guru yang sabar.
Wanita ini merupakan tokoh sederhana karena hanya
memiliki satu watak, monoton, tidak ada perubahan watak.
Dia hanya tokoh tambahan karena tingkat kepentingan
peranannya tidak begitu penting. Dia adalah perempuan
kalem dan penyayang. Hal itu terbukti dari sikapnya pada
murid-muridnya.

 Mami. Seorang germo yang disangka nenek dari Sandra
karena ibunya memanggil wanita itu dengan sebutan mami.
Dia tidak jauh beda dengan Marti. Wanita yang sudah
berkeriput ini berwatak keras dan tidak berpendidikan.
Tokoh ini juga tidak menampakkan rasa sayangnya pada
anak-anak. Bisa saja dia memanggil Sandra dengan
namanya, tetapi dia memanggil Sandra dengan sebutan
anak setan. Tokoh mami merupakan tokoh sederhana. Dia
hanya berwatak kasar, tidak mengalami perubahan watak.
Wanita ini termasuk ke dalam tokoh tambahan.
Kehadirannya tidak begitu menggerakkan alur dan tingkat
kemunculannya jarang.

 Latar Tempat. Latar cerita dalam cerpen ini dominan berada
di ruang kelas, saat pelajaran mengarang. Latar tempat
pendukung berupa rumah, tempat pelacuran, plaza, kolong
ranjang.

 Latar Suasana. Latar suasana cenderung menegangkan dan
mencekam. Itu berlangsung sangat lama dan hampir
keseluruhan cerita karena memang konflik mendominasi
cerpen ini. Latar suasana berubah menjadi santai ketika latar
tempat berpindah ke rumah Ibu Guru Tati.

 Latar Waktu. Latar waktu berupa malam-malam, ketika,
suatu malam, kadang-kadang sebelum tidur, setiap hari
minggu.

Sudut pandang pengarang di dalam cerpen ini adalah orang
ketiga serba tahu. Pengarang tidak hadir di dalam cerita. Dia

68

6. Gaya hanya menjadi pembawa cerita saja. Akan tetapi, pengarang
7. Amanat tidak hanya bercerita apa yang bisa dia lihat dengan mata saja,
melainkan dengan hati pun iya. Dia tahu isi hati Sandra. Dia
juga tahu apa yang sedang dibayangkan oleh Sandra, tokoh
utama dia tahu dan paham betul. Hal yang ada di benak Sandra
meskipun itu hanya bisikan di hati pengarang tahu semua.

Pengarang menggunakan bahasa yang lugas sehingga mudah
dimengerti oleh semua kalangan. Bahasa kiasan muncul
sesekali, tetapi mudah dipahami oleh pembaca.

 Personifikasi

Berikut bukti penggunaan majas personifikasi.

“Ada dahan bergetar ditiup angin kencang.”

“Tiga puluh menit lewat tanpa permisi.”

 Hiperbola

Berikut bukti penggunaan majas hiperbola.

“Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir
menyentuh meja”

Amanat yang terkandung dalam cerpen Pelajaran
Mengarang adalah bagaimana kita seharusnya bisa merawat
anak dengan baik, kalau memang Orang Tua itu sudah terlanjur
masuk ke dalam dunia yang tidak baik tetapi Orang Tua itu akan
berfikir jangan sampai anak kita juga bernasib sama seperti
Orang Tuanya

69

Ashetria Noviska Ramadhani

21201244020

TITIK-TITIK HITAM

Karya: Nasyah Djamin

Respon Terhadap Drama:
Setelah membaca drama “Titik-titik Hitam” ini saya terus bertanya-tanya sebenarnya

konflik apa yang sedang terjadi, karena menurut saya pemilihan kata yang digunakan banyak
yang sulit saya pahami. Penokohan di setiap tokohnya juga kurang jelas dan narasi terlalu
banyak sehingga membuat pembaca tidak fokus dalam percakapan yang sedang berlangsung.
Penggunaan bahasa juga tidak baku, dominan pada bahasa sehari-hari. Kemudian alur
ceritanya seperti belum sampai pada akhir cerita atau cerita menggantung entah akhir bahagia
atau penyesalan tidak diketahui. Namun, setelah saya berkali-kali membaca drama ini sehinga
terdapat sedikit pemahaman dari drama ini, saya rasa pesan yang ingin disampaikan penulis
dapat mudah tersampaikan karena sudah sangat jelas pesan-pesan yang terkandung ini
dicantumkan dalam dialog-dialog drama “Titik-titik Hitam”.

Analisis drama “Titik- titik Hitam”

No Unsur Intrinsik Kalimat
1. Tema Adapun tema dari drama Titik-Titik Hitam adalah
permasalahan moral.
2. Tokoh dan Penokohan 1. Adang, merupakan seorang lelaki yang penuh

perhatian pada istrinya. Dikenal dengan tokoh yang
keras kepala, tetapi tetap berusaha menyelamatkan
istrinya.

2. Ibu Hartati, memiliki watak keras kepala, selalu ingin

memisahkan anaknya dengan menantunya, sering

mengadu domba Hartati, tetapi juga menjadi luluh

karena semua perbuatannya kepada Hartati.

Berikut bukti penokohan tokoh Ibu Hartati.
Ibu: “Perlu kau menunjukkan kemana-mana
kemalanganmu!”
Ibu: “Ibu pikir kau sudah tak ingat rumah ini lagi.”

3. Hartati, merupakan perempuan yang berwatak lemah.
Tidak bisa melawan ibunya yang selalu memojokkan
suaminya. Mmeiliki watak yang tak mau kalah dengan
adiknya yaitu Rahayu.
Berikut bukti penokohan tokoh Hartati.
Ibu:” Dia sudah bertekad tidak mau hidup lagi.”

70

3. Latar 4. Rahayu, merpakan perempuan yang selalu mengalah,
4. Alur bertekad untuk selalu menghormati Ibunya. Namun
terkadang keras kepala.
Berikut bukti penokohan tokoh Rahayu.
Rahayu: “Ibu, maafkan segala perbuatanku yang
pernah melukai hati Ibu.”
Rahayu: “Kenapa aku akan menceritakannya pada
orang lain di dunia ini? Soal itu soal antara
aku dan dia, dan alam…”

5. Dr. Gun, merupakan dokter yang baik dan selalu
bersedia disetiap saat merawat pasiennya. Memiliki
watak yang keras, bijak, dan baik hati membantu orang
lain.
Berikut bukti penokohan tokoh Dr Gun.
Dr. Gun:” Hadapilah dengan hati besar dan terbuka
wajah Tati. Yang penting sekarang ini,
ialah kewajibanmu untuk mengembalikan
kepercayaan hidup bagi Tati.”
Dr. Gun:” Itu kewajiban saya. Dan lagi pula mendiang
suami ibu teman karib saya, sudah sebagai
saudara kandung sendiri.”

1. Latar Tempat
Drama Titik-titik Hitam seluruh peristiwa terjadi di
ruang depan rumah Adang dan sasaran penempatannya
menunjukkan kalau si penghuni memahami selera
modern, sederhana, dan bersih.

2. Latar Waktu
Keseluruhan adegan dalam drama ini latar waktu yaitu
pada malam hari saat sedang turun hujan.

3. Latar Suasana
Latar suasana terjadi pada saat setelah sebuah keluarga
sedang ditimpa maslah. Suasana tersebut membuat
panik karena terjadi perdebatan antar dr. Gun dengan
Rahayu, Ibu dengan Adang, Ibu dengan Rahayu, Ibu
dengan dr. Gun. Suasana itu kembali damai ketika
Hartati menyadari semua kesalahannya dan setelah
memaafkan Rahayu yang telah pergi dari rumahnya.

Alur dalam drama Titik-titik Hitam disajikan secara
kronologis yaitu alur maju.
Adegan I, pendeskripsian kondisi sebuah keluarga yang

71

5. Gaya Bahasa sedang sitimpa masalah dengan kondisi setempat menjadi
6. Amanat panas.
Adegan II, menandakan munculnya pemeran lain yaitu Dr.
Gun yang menggambarkan keadaan mulai tenang dan
berlangsung reda tanpa ada pertengkaran lagi.
Adegan III, kondisi Hartati yang selalu memanggil
adiknya bernama Rahayu, keadaan menjadi cemas.
Adegan IV, menggambarkan dengan terjadinya beberapa
dialog anatara Dr. Gun dengan Ibu Hartati dengan
menejlaskan kondisi Hartati dan mengenang-ngenang
Hartati.
Adegan V, menggambarkan munculnya Rahayu dan
terjadi pertengkaran anatara Dr. Gun dengan Rahayu.
Adegan VI, menggambarkan pertemuan anatar Ibu dengan
Rahayu, kondisi saling terbuka anatara anak dan ibu.
Dalam drama ini banyak menggunakan gaya bahasa
personifikasi yaitu gaya bahasa yang menggambarkan
benda-benda yang tidak bernyawa atau benda yang seolah-
olah hidup seperti manusia.
Ditandai dengan dialog yang menganggap bahwa
kehidupan yang dialami Adang dan Hartati pada saat itu
bagaikan puing. Puing diartikan sebagai kehidupan yang
sudah mengalami kehancuran bila dibiarkan tidak bisa
disatukan kembali.
Amanat yang dapat diambil dari drama tersebut adalah
1. Janganlah kita memperubutkan hal yang tidak

seharusnya milik kita.
2. Kita sebagai kakak seharusnya dapat menjaga dan

merawat adik hingga menjadi pribadi yang terbaik.
3. Sebagai orangtua seharusnya dapat mendidik anak

menjadi orang yang baik dan sukses di masa depannya.
4. Jika kita sebagai dokter yaitu orang yang merawat

pasien kita juga harus memiliki keyakinan dan bijak
dalam segala permasalahan yang menimpa.

72

BIODATA
Nama : Lodra Pangkaloka
NIM : 21201244021
TTL : Banyuwangi, 7 Juli 2001
Hobi : Kuliner dan Olahraga
Motto : Madep Mantep Karep
Email : [email protected]

73

Lodra Pangkaloka

21201244021

Analisis Cerpen SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU

1. Tema
Perjuangan dan usaha saat memberikan sesuatu kepada seseorang yang di dalam
pemberiannya mengandung banyak makna.

2. Alur
Menggunakan alur campuran di mana tokoh aku pada awal cerita menggunakan alur
maju diceritakan mengirim sepotong senja untuk Alina, namun selanjutnya
menggunakan alur mundur yang menceritakan perjuangan tokoh aku mendapatkan
sepotong senja itu.

3. Tokoh dan penokohan
a. Aku
Tokoh aku merupakan pemeran utama dalam cerpen ini, dimana diawal cerita
menceritakan pemberian dari tokoh Aku berupa sepotong senja yang ditujukan
kepada Alina. Pada cerita selanjutnya, tokoh Aku diceritakan pada saat
perjuangan dan usahanya dalam mendapatkan sepotong senja itu. Tokoh Aku
memiliki sifat yang keras kepala, tidak menggubris kejaran polisi dan
menghindarinya, terlebih menjauhkan diri dari polisi dengan memasuki gorong
gorong yang bau, semuanya dilakukannya daripada menyerahkan senja Alina.
b. Polisi
Tokoh polisi digambarkan seperti halnya di kehidupan, dimana akan mencari
dan mengejar seseorang berdasarkan laporan yang diterima.
c. Gelandangan
Tokoh gelandangan digambarkan sebagai seorang yang protagonis. Dimana
pada cerita ia menolong tokoh Aku dari kejaran polisi.

4. Sudut pandang
Sudut pandang yang digunakan pengarang menggunakan sudut pandang orang
pertama. Dimana tokoh aku selalu menjadi peran utama dari awal hingga akhir cerita.

5. Latar
a. Latar waktu
Latar waktu yaitu senja dan malam hari.
b. Latar tempat
Terdapat beberapa latar tempat yang terdapat di cerpen ini. Di tepi pantai dan di
Tol. Namun yang sering digambarkan yaitu di tepi pantai.
c. Latar suasana

74

Latar suasana menenangkan dan juga menegangkan, menenangkan Ketika tokoh
aku berada di tepi pantai dan menikmati senja. Menegangkan Ketika tokoh aku
beranjak pergi dari pantai dan dituduh mencuri senja yang akhirnya dikejar kejar
oleh polisi.
6. Amanat
Amanat yang dapat diambil dari cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku ini adalah
ketika ingin memberikan sesuatu kepada seseorang diperlukan perjuangan walaupun
banyak halangan menghadang. Memang semuanya membutuhkan pengorbanan,
namun nantinya akan mendapatkan kesenangan.
Respon Terhadap Cerpen:
Cerpen ini “Sepotong Senja Untuk Pacarku” menceritakan seseorang yang ingin
memberikan sesuatu kepada orang yang dikaguminya. Namun pemberian ini memiliki
banyak makna. Sepotong Senja, itulah yang menjadi pemberiannya, tetapi yang menjadi
pertanyaan kenapa “senja” ini menjadikan orang orang gempar, padahal saat di tepi pantai
hanya tokoh aku yang berada disana disaat pulang hanya tokoh aku yang mendapatkan
keindahan senjanya. Menurut saya sama halnya seperti kertas kosong, semua orang akan
menganggapnya biasa saja. Namun ketika seorang mampu mengubahnya menjadi lukisan
yang indah, orang orang akan antusias mengapresiasinya. Jika dimaknai secara mudah,
orang akan biasa saja melihat suatu hal apabila tidak dapat memaknainya, tetapi jika dapat
memaknainya secara dalam, orang akan antusias mengapresiasinya.

75

Lodra Pangkaloka
21201244021

PARA PEMINUM
Oleh: Sutardji Colzoum Bachri

Di lereng lereng
Para peminum
Mendaki gunung mabuk
Kadanh merekea terpeleset
Jatuh
Dan mendaki lagi
Memetik bulan
Di puncak

Mereka Oleng
Tapi mereka bilang
-kami takkan karam dalam lau bulan-
Mereka nyanyi – nyanyi
Jatuh
Dan mendaki lagi

Di puncak gunung mabuk
Mereka berhasil memetik bulan
Mereka menyimpan bulan
Dan bulan menyimpan mereka
Di puncak
Semuanya diam dan tersimpan

76

Analisis puisi
Isi puisi tentang para peminum menggambarkan tentang bagaimana orang yang berusaha
untuk mencapai tujuannya. Walaupun dalam mewujudkannya bukan perkara yang mudah.
Pada bait pertama berbunyi “di lereng lereng‖ ini menggambarkan situasi yang sulit untuk
dilewati. Namun para peminum (orang yang berusaha meraih cita – cita) tetap ingin
memulai langkahnya. Terdapat diksi “kadang mereka terpeleset jatuh‖ini menggambarkan
dalam perjalanannya mendapatkan masalah, tetapi tetap kukuh melanjtukan langkah nya
diperkuat dengan diksi “dan mendaki lagi‖.
Pada bait kedua terdapat baris yang berbunyi “mereka oleng tapi mereka bilang kami takkan
karam dalam laut bulan‖ dimana baris tersebut melambangkan kesenangan hidup yang
membuat mereka hampir terlena, namun tetap berusaha untuk kembali menggapai tujuan.
Terdapat pula diksi‖ mereka nyanyi – nyanyi‖ menggambarkan mereka menghibur diri
dalam menghadapi masalah yang terjadi dan bangkit lagi.
Di bait ketiga “di puncak gunung mabuk mereka berhasil memetik bulan‖ ini
menggambarkan para penggapai cita cita berhasil mendapatkan tujuan yang mereka
harapkan. Di bait terakhir “di puncak semuanya diam dan terdiam‖ menggambarkan
tertegun diam ketidakpercaayan atas keberhasilan mereka dalam menggapai cita – cita,
tersimpan sebagai pengalaman dan pelajaran yang tak terlupakan.
Secara umum puisi ini menceritakan bagaimana proses dalam mencapai tujuan yang
diinginkan, selama melakukannya tidak dapat dihindari masalah yang terus menghampiri,
namun jangan behenti dan terus melangkah berusaha untuk mendapatkan cita – cita yang
diinginkan.

77

BIOGRAFI

Nama Saya adalah Putri Tungga Dewi. Saya lahir pada 14
April 2002 di Purworejo. Alamat Saya berada di Dusun Sido
Luhur RT 02/ RW 03, Desa Kluwung, Kecamatam Kemiri,
Kabupaten Purworejo. Untuk alamat email UNY Saya yaitu
[email protected]. Membaca dan
mendengarkan musik adalah dua hal yang Saya gemari sejak
dahulu. “Trust to Allah” menjadi kalimat pegangan Saya
dalam menjalani hidup, di mana Saya selalu percaya kepada
Sang Pencipta terhadap segala hal yang diberikan-Nya.
Dahulu Saya menempuh pendidikan sekolah dasar di SD
Negeri 2 Wirun, kemudian melanjutkan studi di SMP Negeri 5
Purworejo. Setelah itu Saya melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah atas di SMA
Negeri 2 Purworejo, di mana saat itu Saya mengikuti dua organisasi yaitu pada bidang
keagamaan dan kepramukaan. Selepas lulus dari SMA Saya meneruskan pendidikan di
Universitas Negeri Yogyakarta dengan mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia. Saat ini Saya menjadi volunter di Manupsia yang berjalan di bidang
kesehatan mental atau psikologi. Di Manupsia saya menduduki Divisi Proofreading.

78

Putri Tungga Dewi

21201244022

Unsur Intrinsik Cerpen “Saksi Mata”

Karya: Seno Gumira Ajidarma

1. Tema: kritik sosial (di dalam cerpen ini pengarang mengkritik tentang pengadilan
yang terjadi terhadap saksi mata yang tidak mempunyai mata). Hal ini ditunjukkan
dalam kutipan berikut.

―Sungguh mati saya serius Pak, saya diam karena saya pikir toh terjadinya
cuma dalam mimpi ini. Saya malah ketawa-ketawa waktu mereka bilang mau
dibikin tengkleng.‖

2. Alur: campuran (maju, mundur, lalu maju lagi). Hal ini dapat dilihat dalam dialog
antara Hakim dengan Saksi Mata di pengadilan, dalam dialog tersebut dapat dilihat
bahwa saksi mata menceritakan kronologi kejadian yang terjadi di masa lampau.

3. Tokoh atau penokohan :

a. Saksi Mata (protagonis), digambarkan seperti orang kebingungan dan
tidak mengetahui apa yang terjadi, dan menganggapnya itu semua
mimpi.

b. Hakim (protagonis), hakim profesional dan tegas dalam menjalankan
pekerjaannya ditandai dengan menunda pengadilan karena saksi mata
belum bisa menjelaskan secara rinci kejadiannya.

c. Figuran, penonton sidang, wartawan, dan ninja dalam mimpi saksi
mata.

4. Latar :

a. Tempat : ruang sidang (paling dominan)
―Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang menganggu jalannya
pengadilan akan sayar usir keluar ruangan!‖

Berdasarkan kutipan tersebut, latar tempat yang dominan yaitu ruang
pengadilan.

b. Waktu : malam hari
―Pada waktu tidur lagi-lagi ia bermimpi, lima orang berseragam ninja
mencabut lidahnya-kali ini menggunakan catut.‖

Berdasarkan kutipan tersebut, latar waktu yang ditunjukkan adalah malam hari
saat saksi mata bermimpi.

79

c. Suasana : tegang
Di dalam ruang pengadilan, semua orang merasa bingung atas kedatangan
saksi tanpa mata itu.
―Coba tenang sedikit! Ini ruang pengadilan, bukan Srimulat!‖

5. Sudut Pandang : sudut pandang orang ketiga

―Ingatlah semua baik-baik, karena meskipun banyak saksi mata, tidak ada
satupun yang bersedia menjadi saksi di pengadilan kecuali saudara.‖
Dalam kutipan tersebut kata “saudara” merujuk pada saksi mata.

6. Bahasa dan Gaya Bahasa :

a. Pemanfaatan Leksikal Bahasa Jawa
―Terlalu!‖
―Edan!‖
―Sadis!‖

Kata edan bahasa Indonesia berarti “gila”. Dalam cerpen ini penggunaan kata
edan dimaksudkan sebagai rasa kaget hadirin di ruang pengadilan yang
melihat saksi mata tanpa mata itu bersimbah darah.

Pengarang juga menggunakan istilah makanan daerah yang masih
meenggunakan bahasa Jawa, yaitu tengkleng. Berikut kutipannya.

―Bukan Pak, diambil pakai sendok.‖ ―Haa? Pakai sendok? Kenapa?‖
―Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.‖
―Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang?‖
Istilah tengkleng merupakan nama masakan daerah khas Surakarta.
Penggunaan istilah ini dimaksudkan pengarang untuk menegaskan bahwa
mata si Saksi Mata itu diambil untuk digunakan sebagai bahan membuat
tengkleng.

b. Pemanfaatan dialek Betawi
―Tentu saja, bego! Maksud saya siapa yang mengambil mata saudara
pakai sendok?‖ ―Dia tidak bilang siapa namanya Pak.‖
―Saudara tidak tanya bego?‖

Dari kutipan di atas, kata bego merupakan salah satu hasil dari dialek Betawi.
Bego berarti tolol atau sangat bodoh. Penggunaan kata bego mengungkapkan
kekesalan Hakim terhadap pengakuan saksi mata.

c. Majas repitisi
―Saudara saksi mata masih ingat semua kejadian ini meskipun sudah
tidak bermata lagi?‖ ―Saya, Pak.‖
―Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?‖‖Saya,
Pak.‖

80

―Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang menyerang
dan mereka yang masih setengah ditusuk pisau sampai mati?‖ ―Saya,
Pak.‖
Pada kutipan di atas menunjukkan penggunaan frasa “saya pak” untuk
menjawab pertanyaan yang diberikan Hakim kepada Saksi Mata. Penggunaan
ini hanya sebatas cara tidak ada makna lain dari penggunaan frasa ini yang
berulang-ulang.
d. Majas Personifikasi
Sopir itu menjawab dengan sesuatu yang menghilangkan rasa
bersalah, semacam kalimat, ―Keadilan tidak buta.‖ Namun Hakim
telah tertidur dalam kemacetan yang menjengkelkan.
Pada kutipan di atas terdapat kalimat yang keadilan tidak buta. Pada kalimat
itu, terdapat personifikasi yang menyatakan bahwa keadilan disamakan
dengan manusia yang bisa menjadi buta. Pada bagian ini, pengarang
menegaskan bahwa keadilan sebenarnya dapat melihat mana yang benar dan
mana yang salah. Akan tetapi, pada masa itu keadilan memang dijual belikan
sehingga banyak orang yang tidak dapat merasakan keadilan.
7. Amanat
Seseorang yang memiliki jabatan hukum harus adil terhadap semua lapisan
masyarakat. Sesama manusia juga harus saling menghargai dan jangan sampai ada
yang melakukan kejahatan terhadap sesama.

81

Putri Tungga Dewi

21201244022

Unsur Intrinsik Puisi “Aku”

Aku

Oleh: Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Akan tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih baik tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

82

1. Tema
Puisi ini menggambarkan tentang ketekunan dan kemauan seseorang yang selalu ingin
memperjuangkan hak dirinya tanpa merugikan banyak orang, walaupun banyak
halangan yang datang menghampiri. Arti dari judul puisi ini menceritakan kisah “aku”
yang sedang menelusuri perjalanan arah hidupnya.

2. Diksi
Ketetapan dalam memilih kata seringkali menggantikan kata yang digunakan berkali-
kali, karena merasa kata-katanya belum tepat. Seperti baris kedua “kalau sampai
waktuku” dapat berarti “kalau aku mati”, “tak perlu sedu sedan” artinya “tak ada
gunanya kesedihan itu”.

3. Rasa
Rasa adalah sikap penyair pada puisinya, dalam puisi ini terdapat sebuah ekspresi
seseorang yang menginginkan kebebasan dari ikatan, penyair tidak ingin meniru atau
menampakkan keadannya, tetapi ia ingin bereaksi dan mempunyai semangat besar
dan bertekad yang kuat. Semuanya adalah sikap dan ekspresi jiwa penyair. Sikap jiwa
dalam puisi ini seperti “jika sampai waktunya”, dirinya tidak ingin terikat oleh siapa-
siapa, segala sesuatu yang terjadi dirinya ingin lepas sebagai “aku”. Bahkan jika
seseorang itu terluka, luka tersebut akan dibawa lari sehingga hilang seiring
berjalannya waktu. Ia berpikir kesakitan tersebut akan membuat dirinya tegar dan
berusaha bangkit untuk menggapai tujuannya, hingga ia ingin hidup lebih lama lagi.

4. Nada
Dalam puisi “aku” karya Chairil Anwar menggambarkan suasana yang mengandung
kewibawaan, dan jelas pada penyampaian puisi ini. Karena dalam setiap baris puisi ini
ada kata perjuangan dan suasana yang syahdu dan terlihat sendu.

5. Suasana
Dalam puisi “aku” karya Chairil Anwar menggambarkan keadaan seseorang yang
penuh dengan perjuangan, untuk mencapai sebuah tujuan, tetapi terdapat suasana
yang menjadi haru tentang perjalanan hidup yang penuh pengorbanan.

83

6. Majas
Terdapat majas hiperbola pada kalimat “aku tetap meradang menerjang”. Terdapat
juga majas metafora pada kallimat “aku ini binatang jalang”.

7. Pencitraan/pengimajian
Di dalam sajak ini terdapat beberapa pengimajian, diantaranya “ku tak mau seorang
kan merayu” yang merupakan Imaji Pendengaran, “tak perlu sedu sedan itu”
merupakan Imaji Pendengaran, “biar peluru menembus kulitku” yaitu Imaji Rasa, dan
“hingga hilang pedih perih” yang merupakan Imaji Rasa.

8. Amanat
Amanat yang terdapat pada puisi “aku” adalah kita sebagai manusia harus kuat,
mempunyai tekad, tidak mudah menyerah walaupun banyak halangan harus tetap
dihadapi, harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar tujuan yang
hendak dicapai bisa diraih dan semangatnya itu akan hidup selamanya.

84

BIODATA
ANIS RIFDA SAFITRI tinggal di Desa Tlogorejo rt02/rw03,
Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah
merupakan salah satu mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesi, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri
Yogyaarta. Penulis lahir di Purworejo, 05 Januari 2002. Selain
memiliki ketertarikan dalam bidang yang berhubungan dengan
bahasa dan seni penulis juga memiliki hobi memasak. Baginya
untuk tetap bahagia membutuhkan tenaga yang banyak, maka
harus banyak makan. Semasa duduk di bangku SMP sampai
SMA penulis selalu mengamati dan ingat betul betapa menyedihkannya bahwa teman saya
yang tidak pandai di salah satu bidang mata pelajaran lalu dijauhi oleh teman-teman,
seseorang anak yang tidak bertanggung jawab terhadap uang spp kemudian dipermalukan di
depan kelas, dan ada seseorang anak yang tengil terlambat masuk kelas kemudian guru
mengeluarkan mereka dari kelas saat pelajaran. Bukankah hal demikian akan menyakiti
perasaan mereka? Apakah mengeluarkan siswa dari kelas saat pelajaran membuat ia jera dan
pandai? Padahal bukankah usia remaja adalah usia minim empati. Itulah yang membuat hati
penulis tergerak untuk memilih prodi saya sekarang ini, yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Ya, penulis ingin mengubahnya. Penulis tidak
ingin mengubah dunia, tapi setidaknya penulis ingin mengubah dunia mereka. Saat ini
Penulis tinggal bersama ibunya yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil di Purworejo,
Jawa Tengah. Saat ini Penulis aktif di komunitas peduli lingkungan dan gerakan membaca.

85

Anis Rifda Safitri
21201244023

KEPADA UANG
Oleh: Joko Pinurbo

Uang, berilah aku rumah yang murah saja,
Yang cukup nyaman buat berteduh senja-senjaku,
Yang jendelanya hijau menganga seperti jendela mataku.

Sabar ya, aku harus menabung dulu.
Menabung laparmu, menabung mimpimu.
Mungkin juga harus menguras cadangan sakitmu.

Uang, berilah aku ranjang yang lugu saja,
Yang cukup hangat buat merawat encok-encokku,
Yang kakinya lentur dan liat seperti kaki masa kecilku.

Analisis Unsur Intrinsik Puisi

1. Tema
Dari puisi diatas yang berjudul “Kepada Uang” oleh Joko Pinurbo (pengarang)

ini, dapat di ketahui tema dari puisi diatas tersebut adalah pengharapan. Hal ini dapat
kita ketahui sebagaimana dalam baris pertama bait pertama dan baris pertama bait ke
tiga, “Uang, berilah aku rumah yang murah saja”, dan “Uang, berilah aku ranjang
yang lugu saja”, menerangkan bahwa penulis mengharap uang sebagai subjeknya
untuk mencapai segala kebutuhan dalam hidupnya.

2. Diksi (Pilihan Kata)
Dalam puisi yang berjudul "Kepada Uang" ini, pengarang menggunakan kata-

kata yang sudah umum dalam bahasa keseharian masyarakat dan pengarang juga
menggunakan sedikit kata atau tidak menghambur-hamburkan kata akan tetapi
terkandung makna yang sangat luas sehingga pembaca dapat dengan mudah mengerti
akan makna puisi tersebut, akan tetapi pengarang ini mempunyai ciri khas yang setiap

86

karyanya beliau selalu menyisipkan kata-kata yang menarik seperti puisi yang
berjudul "Kepada Uang" ini, sebagaimana terdapat dalam baris ke satu, dua, dan tiga,
bait ke dua, yaitu:

Sabar ya, aku harus menabung dulu.
Menabung laparmu, menabung mimpimu.
Mungkin juga harus menguras cadangan sakitmu.

3. Majas
Dalam puisi yang berjudul "Kepada Uang" ini, dapat diketahui pengarang

menggunakan sedikit kata atau tidak menghambur-hamburkan kata akan tetapi
terkandung makna yang sangat luas. Dalam puisi ini, pengarang menggunakan majas
personifikasi, yaitu mengungkapkan atau mengutarakan suatu benda dengan
membandingkannya dengan tingkah dan kebiasaan manusia. Contohnya yaitu terdapat
dalam bait ke satu, baris ke tiga, yaitu "yang jendelanya hijau menganga seperti
jendela mataku", bait ke satu, baris ke satu, dua dan tiga, yaitu "Sabar ya, aku harus
menabung dulu". "Menabung laparmu, menabung mimpimu". "Mungkin juga harus
menguras cadangan sakitmu", dan pada bait ke tiga baris ke satu dan kedua yaitu
"uang, beilah aku ranjang yang lugu saja," dan "yang cukup hangat buat merawat
encok-encokku".

4. Amanat
Dari puisi diatas yang berjudul “Kepada Uang” oleh Joko Pinurbo (pengarang)

ini, dapat di ketahui amanat yang dismpaikan penulis yaitu berdoa dan berusahalah
untuk mendapatkan yang diinginkan, dan doa itu harus sesuai dengan yang kita
usahakan karena kita tidak mungkin mampu membeli rumah, ranjang dan sebagainya
jika usaha kita tidak ada. Hal ini dapat diketahui dari baris ke satu, dua, dan tiga, bait
ke dua yaitu “Sabar ya, aku harus menabung dulu” dan “Menabung laparmu,
menabung mimpimu”.

:

87

Anis Rifda Safitri

21201244023

MATAHARI DI SEBUAH JALAN KECIL

1. Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema yang

diangkat dalam naskah drama ini adalah tentang kehidupan sosial yang ada di
masyarakat. Masalah yang diangkat dalam tema ini adalah tentang penghakiman
terhadap seorang pemuda yang lihai dalam berbohong. Dan celakanya kebohongan itu
semakin lama semakin terkuak dengan bertambah banyaknya orang-orang yang
mencercanya dengan berbagai pertanyaan.

2. Plot atau Kerangka Cerita
a. Pemaparan
Di sebuah jalan kecil terdapat sebuah pabrik es yang sudah sangat tua. Di
depan bangunan pabrik es itu ada seorang wanita tua yang berjualan makanan
berupa pecel. Pelanggannya kebanyakan dari pekerja pabrik juga. Saat itu yang
berada di warung pecel tersebut ada Si Tua, Si Peci, Si Kurus, Si Kacamata, dan Si
Pendek. Mereka sedang makan sekaligus mengeluh tentang harga makanan dan
kebutuhan pokok yang terus beranjak naik sedangkan gaji mereka tak kunjung naik.

b. Pertikaian Awal
Kemudian datanglah seorang pemuda yang ikut makan disitu. Jam istirahat

bagi para pekerja sudah habis jadi mereka memutuskan untuk kembali ke dalam dan
yang tersisia disitu tinggal seorang pemuda tersebut. Lalu setelah selesai makan dan
hendak membayar ternyata dompet pemuda itu ketinggalan dan ia meminta ijin
kepada simbok untuk mengambil dompetnya dirumah akan tetapi simbok tidak
percaya kepada pemuda itu dan terus memaksa pemuda tersebut untuk membayar
makanannya.

c. Klimaks
Suasana semakin tegang ketika datang satu persatu pekerja yang ikut terlibat

maupun melihat kejadian tersebut, mereka membela simbok dan terus memojokkan
pemuda itu dikarenakan alasan pemuda tersebut tidak masuk akal. Mereka terus
berdebat dan akhirnya mereka menyuruh pemuda tersebut untuk meninggalkan
bajunya sebagai jaminan.

d. Resolusi
Kemudian setelah semuanya pergi dan kembali bekerja, si pemuda tersebut

menceritakan yang sebenarnya kepada simbok bahwa dia tidak bermaksud untuk
berbohong. Dia datang ke kota ini dengan tujuan mencari pekerjaan akan tetapi
malang nasibnya dia tak juga kunjung mendapat pekerjaan dan sudah tiga hari ini dia
tidak makan. Simbok pun tersentuh hatinya mendengar cerita pemuda tersebut dan

88

akhirnya mengembalikan baju pemuda itu kembali. Dan membiarkan pemuda
tersebut pergi. Akan tetapi selang beberapa lama baru diketahui jika sebenarnya
pemuda tersebut telah sering menipu dimana-mana.

3. Tokoh dan Penokohan
Tokoh-tokoh dalam drama dapat diklasifikasikan menjadi beberapa, seperti:
a. Berdasarkan peranannya terhadap jalan cerita
1) Tokoh Protagonis:
 Simbok. Perempuan tua penjual pecel, baik hati, mempunyai rasa belas
kasihan, dan karena sudah lama disitu jadi ia terbiasa sabar menghadapi
pembeli dan tabah dalam menghadapi permasalahan.
 Pemuda. Seorang pemuda yang merantau dari kota gunung kidul yang
gersang, dia berbohong supaya dikasihani dan mendapat makan. Dan
ternyata tak hanya disitu saja dia berbohong namun di lain tempat di juga
sering melakukan kebohongan untuk mencapai tujuannya dengan berpura-
pura malang supaya dikasihani

2) Tokoh Antagonis:
 Si Peci. Dia merupakan tokoh yang hanya ikut-ikutan saja menyalahkan
Pemuda tanpa tahu masalah yang sebenarnya.
 Si Kurus. Seorang yang bijaksana dalam cerita ini itu terlihat ketika dia
membuat keputusan yang bijaksana dalam mengambil keputusan pada
seorang pemuda yang berbohong seperti pada kutipan “Bohong kau……
(geram hendak memukul pemuda itu tetapi tiba-tiba ia mengurungkan
niatnya) Saya percaya kau adalah manusia, bukan binatang. Saya jadi ingat
saudara saya sendiri. Seperti sekarang juga saya merasa parah dalam hati.
Waktu itu saya tidak bisa menahan diri lagi sebenarnya, tetapi saya juga
mengerti bahwa saudara saya itu mesti masuk penjara, sebab ia telah
melakukan kejahatan yang kubenci, tapi saya merasa parah dan tetap benci
akan apa yang berbau ketidakjujuran. Sekarang terus terang saja mau bayar
atau tidak?”
 Si Sopir. Merupakan orang yang cukup disegani karena dia adalah paling tua
dan bijaksana setelah dia keluar dari penjara dia pun menceritakan tentang
kisahnya dulu dalam pembicaraanya “dalam penjara. Nah, di tempat yang
sepi itu aku mengakui bahwa aku telah menyakiti dan pasti Tuhan akan
menutup pintuNya bagi orang semacam aku. Sebab itulah setelah aku keluar
dari rumah yang baik dan mulia itu, kemudian aku menjadi lebih maklum
bahwa kita tak boleh berbuat jahat.”

3) Tokoh Tritagonis:
 Penjaga Malam. Dalam tokoh ini ia menjadi orang yang kerjaanya hanya
mengeluh seperti dalam kutipan “Uuuuuh, gara-gara pencuri, aku jadi
kesiangan”

89

 Si Pendek. Dia adalah tokoh yang memiliki sifat Bijaksana, itu terlihat dalam
kutipan “Untuk apa kita melamun? Untuk apa kita mengkhayal? Apakah dulu
bangsa kita ada yang mengendarai mobil? Sepedapun hanya satu dua orang
saja yang memilikinya. Kalaupun dulu ada itulah mereka para bangsawan,
para priyayi dan para amtenar yang hanya mementingkan perut sendiri saja.”

 Si Tua. Seorang yang lugu dan polos. Dia hanya menurut atau mengangguk-
angguk saya. Hanya mengikuti alur yang ada.

 Si Kacamata. Seorang yang mengambil keputusan dengan tidak melihat
perasaan orang lain itu terlihat dalam kutipan “Mula-mula dia mau menipu
pura-pura akan mengambil uang yang katanya ketinggalan tetapi agaknya dia
berbohong. Sebab itu kami sepakat kalau ia menanggalkan celananya untuk
pengganti uang atau untuk jaminan kalau memang di punya uang.”

 Perempuan. Seorang tokoh perempuan yang tak terlalu peduli namun dia
peduli pada nasib yang dialami si pemuda dia lebih baik menyelesaikan
masalah itu dengan uangnya untuk membayarkan hutang si pemuda sperti
pada beberapa percakapannya “Ah, sedikit. Baiklah, jangan ribut-ribut.
Kasihan. (mengambil uang dari tasnya) Ini Mbok seratus rupiah.”

b. Berdasarkan peranannya dalam lakon serta fungsinya
1) Tokoh Sentral: Simbok dan pemuda
2) Tokoh Utama: Si Peci, Si Kurus, Si Sopir
3) Tokoh Pembantu: Penjaga malam, Si Pendek, Si Tua, Si Kacamata, Perempuan.

4. Latar atau Setting
Latar atau setting merupakan tempat kejadian cerita.
 Latar tempat: Warung Pecel depan pabrik es. Bukti: sebuah pabrik es yang tidak
kecil berdiri di pinggirnya dan pabrik itu….SIMBOK yang berjualan pecel
di halaman. Berdasarkan kutipan tersebut menunjukkan bahwa adanya sebuah
pabrik es yang di depan gedung itu terdapat sebuah halaman yang digunakan sebagai
tempat untuk simbok untuk berjualan pecel.
 Latar waktu: Pagi menjelang siang hari. Bukti: Sebentar lagi berkas-berkas di langit
akan buyar dan matahari akan memulai memancarkan sinarnya yang putih, terang
dan panas.

5. Amanat
Dalam drama ini amanat yang hendak disampaikan ialah bahwa kita dilarang

untuk berbohong karena kebohongan tersebut dapat mencelakakan diri kita sendiri dan
juga orang lain. Hal ini dapat terlihat ketika Pemuda tersebut dihakimi oleh banyak orang
dan kemudian terkuaklah kebohongannya. Jadi ketika kita telah merugikan orang lain
kita juga harus bertanggung jawab dengan perbuatan yang telah kita lakukan. Dan kita
tidak boleh mudah percaya dengan orang lain. Hal ini bisa terlihat pada bagian akhir
naskah drama ini si Pemuda menceritakan tentang kisah hidupnya lalu simbok merasa
kasian dan akhirnya simbok percaya dan mengembalikan lagi baju pemuda tersebut.

90

BIOGRAFI
Amalia Rahimsyah Mama. Lahir pada tanggal 14 Juni 2003 di
Bantul. Setelah lahir, saya tinggal di Jakarta selama tujuh tahun.
Alamat saya sekarang berada di Dusun Bibis, RT 02, Bangunjiwo,
Kasihan, Kabupaten Bantul. Sedangkan, alamat email saya dengan
email UNY yaitu [email protected] Saya
sendiri memiliki hobi mendengarkan musik, melukis dan menulis.
Motto hidup saya yaitu “Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan
besok harus lebih baik dari hari ini.” Saya menghabiskan sekolah
dasar di SD Negeri Bibis, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 3
Kasihan. Saya juga pernah menjalani studi di MAN Negeri 1
Bantul dengan mengambil jurusan Keagamaan. Saya suka
bersosialisasi dengan banyak orang dan sering gabung dalam berbagai organisasi. Saat
SMP, saya dipercaya untuk menjabat sebagai ketua III OSIS periode 2016 / 2017 dan
MPK. Di masa SMA saya juga mengikuti banyak organisasi dan komunitas, antara lain;
Sekretaris dan Bendahara Osis, Pemangku adat Putri di Dewan Ambalan, Ketua Tim
Literasi Madrasah, Duta Perpustakaan, Anggota Tim Go Green, dan Komunitas Band di
Sekolah. Di masyarakatpun saya mengikuti beberapa organisasi, antara lain; Sekretaris
dan sekarang Wakil Ketua PAC IPNU IPPNU di Kecamatan Kasihan, Anggota Forlanza
di Kabupaten Bantul, Anggota Lensa Pemuda Projotamansari, dan Sekretaris di Pemuda-
pemudi Desa. Sekarang saya sedang menjalani kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta
dengan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

91

AMALIA RAHIMSYAH MAMA

21201244024

Sajak Anak Muda
(1)Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik, dan tidak diajar dasar ilmu hukum.
(2)Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
(3)Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus, karena tidak diajar filsafat atau logika.
(4)Apakah kita tidak dimaksud untuk mengerti itu semua? Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja ?
(5) Inilah gambaran rata-rata pemuda tamatan S.L.A, pemuda menjelang dewasa.
(6)Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan. Bukan pertukaran pikiran.
(7) Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan, dan bukan ilmu latihan menguraikan.
(8)Dasar keadilan di dalam pergaulan, serta pengetahuan akan kelakuan manusia, sebagai
kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.
(9)Kenyataan di dunia menjadi remang-remang. Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan. Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan. Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.
(10)Di dalam kegelapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai, tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin, tetapi hanya bisa berkuasa, persis seperti bapa-bapa kita.
(11)Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat. Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti. Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!
Dan birokrasi menjadi berlebihan tanpa kegunaan- menjadi benalu di dahan.
(12)Gelap. Pandanganku gelap. Pendidikan tidak memberi pencerahan, Latihan-latihan
tidak memberi pekerjaan. Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.
(13)Apakah yang terjadi di sekitarku
ini? Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari dalam puisi ganja.
(14)Apakah artinya tanda-tanda yang
rumit ini? Apakah ini? Apakah ini?
Ah, di dalam kemabukan, wajah
berdarah

92

akan terlihat sebagai bulan.
(15)Mengapa harus kita terima hidup begini?
Seseorang berhak diberi ijasah dokter, dianggap
sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada tirani merajalela, ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.
(16)Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja?
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum dianggap sebagai
bendera-bendera upacara, sementara hukum dikhianati
berulang kali. Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.
(17)Kita berada di dalam pusaran tatawarna yang ajaib
dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang
memabukkan. Tangan kita menggapai untuk mencari
pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar ke arah udara.
(18)Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakkan oleh angkatan kurangajar. Daya
hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan. Kita adalah
angkatan yang berbahaya.

RESPON:
Puisi karya penyair terkenal WS Rendra dengan judul “Sajak Anak Muda” ini
menceritakan tentang bagaimana rasa kekecewaan dan amarah penulis terhadap keadaan
Negara Indonesia yang sedang carut-marut. Puisi ini tentunya ditujukan kepada seluruh
rakyat Indonesia, tetapi yang paling menjadi sorotan adalah anak muda atau seorang
mahasiswa. Puisi ini dibuat untuk menyadarkan anak muda tentang pentingnya keadilan
dan pendidikan, seperti anak muda dituntut untuk lebih kritis dalam menghadapi setiap
perubahan yang terjadi di dunia ini, terutama di negara sendiri. Jangan sampai kita mau
diperbudak oleh orang lain.
Tema: kritik sosial
Puisi ini menggambarkan suasana miris pada larik:
Kita kurang pendidikan resmi,

Karena tidak diajarkan berpolitik.

Suasana resah:
Apakah kita tidak dimaksud untuk mengerti itu semua?

93

Apakah kita hanya dipersiapkan
Untuk menjadi alat saja?
Suasana marah:
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi.
Dan birokrasi menjadi berlebihan
Tanpa kegunaan-
Menjadi benalu di dahan.
Diksi
Puisi ini memiliki banyak diksi yang digunakan untuk menggambarkan rasa kekecewaan
dan amarah penulis terhadap sistem dan penerapan pendidikan di Indonesia. Terdapat
lambang maupun diksi kias pada puisi ini. Contoh dari diksinya seperti:
a. Gelap, pada larik “Gelap. Pandanganku gelap.”
Maksud dari gelap di sini melambangkan keadaan yang sesat, bukan gelap sebenarnya. Dll.

Majas
Majas pada puisi ini mewakili rasa sesal penulis terhadap pendidikan. Contohnya seperti
“yang diperanakkan oleh angkatan takabur."Merupakan majas sarkasme. Artinya mengejek
generasi tua atau yang memimpin Indonesia saat ini sebagai golongan yang sombong. “dan
industri mereka berjalan tanpa henti." Merupakan majas personifikasi. Artinya industri di
dunia barat sudah terus berkembang, tidak seperti di Indonesia.
“ tanpa kegunaan menjadi benalu di dahan." Merupakan majas metafora. Artinya generasi
saat ini, yang akan menjadi penerus bangsa temyata berkembang menjadi generasi yang
tidak berguna, hanya bisa merepotkan orang lain.
“ wajah berdarah akan terlihat sebagai bulan.” Merupakan majas simile. Artinya orang yang
sengsara plin oleh orang yang bodoh, mabuk akan seperti orang yang berseri seti, sehingga
Indonesia tidak peka terhadap membantu sesama.
“la diam tidak bicara,” Merupakan majai plecnaime Artinya orang orang sat mu, khususnya
dokter, hanya dapat diam ketika terjadi sengketa politik, tidak ada yang turut membantu
prosesnya.

Nada dalam puisi ini adalah semangat, berapi-api karena protes dengan suara tinggi.
Amanat: pemuda harus bisa bangkit dalam keterpurukan dan kebodohan, pendidikan
Indonesia harus mengasah keterampilan bukan hanya teori.

94

AMALIA RAHIMSYAH MAMA

21201244024

ANALISIS CERPEN SENYUM KARYAMIN

A. Tema
Pengorbanan dan pantang meyerah

B. Alur
1. Alur Maju
a. Perkenalan

Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan
yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi
air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari
sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap
perjalananya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya
tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya.… Mereka, para pengumpul batu itu, senang
mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.
b. Awal konflik
Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati. Meski dengan lutut yang sudah bergetar, jemari kaki
dicengkeramkannya ke tanah. Segala perhatian dipusatkan pada pengendalian keseimbangan
sehingga wajahnya kelihatan tegang. Sementara itu, air terus mengucur dari celana dan tubuhnya
yang basah.
Dan karena pundaknya ditekan oleh beban yang sangat berat maka nadi di lehernya muncul
menyembul kulit.
Boleh jadi Karyamin akan selamat sampai ke atas bila tak ada burung yang nakal. Seekor burung
paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di atas air, menyambar seekor ikan kecil, lalu
melesat tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin. “Bangsat!” teriak Karyamin
yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh
terduduk dibarengi suara dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti
karena tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan.
c. Konflik
Empat atau lima orang kawan Karyamin terbahak bersama. Mereka, para pengumpul batu itu,
senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. “Sudah, Min. Pulanglah.
Kukira hatimu tertinggal di rumah sehingga kamu loyo terus,” kata Sarji yang diam-diam iri pada
istri Karyamin yang muda dan gemuk. “Memang bahaya meninggalkan istrimu seorang diri di
rumah. Min, kamu ingat anak-anak muda petugas bank harian itu? Jangan kira mereka hanya datang
setiap hari buat menagih setoran kepada istrimu. Jangan percaya kepada anak-anak muda penjual
duit itu. Pulanglah. Istrimu kini pasti sedang digodanya.”
“Istrimu tidak hanya menarik mata petugas bank harian. Jangan dilupa tukang edar kupon buntut
itu. Kudengar dia juga sering datang ke rumahmu bila kamu sedang keluar. Apa kamu juga percaya
dia datang hanya untuk menjual kupon buntut? Jangan-jangan dia menjual buntutnya sendiri!”
Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu yang mereka lempar ke tepi
sungai. Air sungai mendesau-desau oleh langkah-langkah mereka….. Pagi itu senyum Karyamin
pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang
berkunang-kunang.

95


Click to View FlipBook Version