d. Klimaks
Memang. Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan
berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan. Dia
tersenyum ketika menapaki tanah licin yang berparut bekas perosotan tubuhnya tadi. Di punggung
tanjakan, Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat
kubik, tetapi harus ditinggalkannya. Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar
dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.
“Masih pagi kok mau pulang, Min?” tanya Saidah. “Sakit?”
Karyamin menggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua
telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perut
Karyamin. “Makan, Min?”
“Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”
“Iya, Min, iya. Tetapi kamu lapar, kan?”
Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah. Ada
kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.
“Makan, ya Min? aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu
tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?”
Si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet. Karyamin tak lagi membencinya
karena sadar, burung yang demikian pasti sedang mencari makan buat anak-anaknya dalam sarang
entah di mana.
....Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu yang bergerak
pada sebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh, si paruh udang. Punggungnya biru
mengkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah saga. Tiba-tiba burung itu menukik
menyambar kan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung itu
melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap di balik
gerumbul pandan. Ada rasa iri di hati Karyamin terhadap si paruh udang. Tetapi dia hanya bisa
tersenyum sambil melihat dua keranjangnya yang kosong.
e. Penyelesaian
Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. “Maka apa salahnya bila aku
pulang buat menemani istriku yang meriang.”
Karyamin mencoba berjalan lebih cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak kunang-kunang
menyerbu ke dalam rongga matanya. ….. Kunang-kunang di matanya pun semakin banyak. Maka
Karyamin sungguh-sungguh berhenti, dan termangu. Dibayangkan istrinya yang sedang sakit harus
menghadapi dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu, istrinya tidak mampu membayar
kewajibannya hari ini, hari esok, hari lusa, dan entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya
tengkulak yang telah setengah bulan membawa batunya.
Masih dengan seribu kunang-kunang di matanya, Karyamin mulai berpikir apa perlunya dia pulang.
Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau setidaknya menolong istrinya yang sedang
menghadapi dua penagih bank harian. Maka pelan-pelan Karyamin membalikkan badan, siap
kembali turun. Namun di bawah sana Karyamin melihat seorang lelaki dengan baju batik bermotif
tertentu dan berlengan panjang. Kopiahnya yang mulai botak kemerahan meyakinkan Karyamin
bahwa lelaki itu adalah Pak Pamong.
“Nah, akhirnya kamu ketemu juga, Min. Kucari kau di rumah, tak ada. Di pangkalan batu, tak ada.
Kamu mau menghindar, ya?”
“Menghindar?”
96
“Ya, kamu memang mbeling, Min. di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya
kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di
sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kaupersulit.”
Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga mendengar detak jantung
sendiri. Tetapi karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum. Senyum
yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam akan diri serta situasi yang harus
dihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin.
“Kamu menghina aku, Min?” “Tidak, Pak. Sungguh tidak.”
“Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-senyum? Hayo cepat; mana uang iuranmu?”
Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras. Demikian keras sehingga
mengundang seribu lebah masuk ke telinganya, seribu kunang masuk ke matanya. Lambungnya
yang kampong berguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika
melihat tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang,
gagal.
C. Penokohan
1. Karyamin
a. Pantang Menyerah
Karyamin adalah orang yang pantang menyerah. Hal ini terjadi ketika Karyamin sudah dua kali
tergelincir, tetapi Karyamin mencoba untuk bangkit dan menyusun batu-batu yang jatuh dari
keranjangnya
“Pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh lalu menggelinding ke bawah,
berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya.”
b. Sabar
Karyamin adalah orang yang sabar. Hal ini terjadi ketika Karyamin ditertawakan oleh kawan-
kawannya, tetapi Karyamin hanya tersenyum saja.
“Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan
cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup
tersenyum.
Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir.”
2. Saidah
a. Baik
Saidah adalah orang yang baik. Hal ini terjadi ketika Saidah melihat Karyamin yang mukanya
terlihat pucat karena kelaparan dan Saidah menawarkan makanan dagangannya kepada Karyamin.
“Makan, ya Min? aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu
tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?”
D. Latar
1. Tempat
a. Tepi sungai
“Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu yang mereka lempar ke tepi
sungai.”
“Diperhatikannya Karyamin yang berjalan melalui lorong liar sepanjang tepi sungai.”
b. Sungai
“Air sungai mendesau-desau oleh langkah-langkah mereka. Ada daun jati melayang, kemudian
jatuh di permukaan sungai dan bergerak menentang arus karena tertiup angin.”
c. Dibawah pohon
“Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun
naik. Ususnya terasa terpilin.”
d. Di rumah
“Di rumahnya tak ada sesuatu buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya.”
97
e. Halaman rumah
“Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda
jengki diparkir di halaman rumahnya.”
2. Suasana
a. Bersenang-senang
“Empat atau lima orang kawan Karyamin terbahak bersama. Mereka, para pengumpul batu itu,
senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.”
“Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu yang mereka lempar ke tepi
sungai.”
b. Menyebalkan
“Boleh jadi Karyamin akan selamat sampai ke atas bila tak ada burung yang nakal. Seekor burung
paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di atas air, menyambar seekor ikan kecil, lalu
melesat tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin.”
“Bangsat!” teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya
bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suara dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut
meluncur, tetapi terhenti karena tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan.”
3. Waktu
a. Pagi hari
“Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir.” “Masih pagi kok mau pulang,
Min?” tanya Saidah. “Sakit?”
E. Sudut Pandang
Sudut pandang yang terdapat di dalam cerpen Senyum Karyamin adalah sudut pandang orang
ketiga sebagai pengamat.
F. Kebahasaan
1. Majas Hiperbola.
“Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena tangan Karyamin berhasil mencengkeram
rerumputan”
2. Majas Personofikasi
“Daun-daun itu selalu saja bergerak menentang arus karena dorongan angin.”
3. Majas Perumpamaan
“Lidahnya seakan terkena air tuba oleh rasa buah salak yang masih mentah.”
G. Amanat
1. Jangan besenang-senang diatas kesulitan orang lain.
2. Jangan mudah menyerah.
3. Apapun rintangan yang dialami tetap be
98
BIOGRAFI
Nama saya Luthfiya Rosyda Fadhila. Biasa dipanggil
Fiya. Saya lahir di Kota Surakarta, tepatnya pada tanggal
1 Desember 2002. Hobby saya mendengarkan musik dan
travelling. Motto hidup saya adalah " Balas dendam
terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik." -Ali bin
Abi Thalib. Email yang dapat dihubungi
[email protected]
99
Luthfiya Rosyda Fadhila
21201244025
Analisis Unsur Intrinsik Cerpen “Kunang-Kunang di Langit Jakarta”
Karya Agus Noor
1. Tema
Tema dari cerpen Kunang-Kunang di Langit Jakarta ialah kenangan. Cerpen ini
membahas mengenai kenangan orang-orang yang telah tiada tetapi selalu hidup di
pikiran orang-orang yang perhatian serta peduli kepada mereka.
2. Tokoh dan Penokohan
a. Peter
Peter ialah seorang ahli binatang dan ia adalah pacar Jane. Namun, Peter bukanlah
pacar romantis. Hal ini dikarenakan dalam kebersamaan mereka, Peter selalu
membicarakan ketertarikannya pada binatang-binatang. Ini membuat Peter
menjadi seorang yang istimewa dan berbeda dengan pria pada umumnya.
( ... meski ia tahu, kekasihnya selalu mengunjungi pulau itu bukan karena alasan
romantis, tapi karena kura-kura. Kura-kura itu bernama George.)
b. Jane
Jane ialah kekasih Peter, ia sangat sabar terhadap kekasihnya meskipun Peter
jarang sekali memberi Jane perhatian. Jane juga bersifat ramah kepada orang-
orang di sekitarnya meski ia tak mengenalnya. Selain itu, Jane memiliki sifat yang
simpatik.
3. Alur
Dalam cerpen Kunang-Kunang di Langit Jakarta menggunakan alur maju, dengan
tahapan sebagai berikut.
a. Tahap Eksposisi
Peter yang memiliki kertertarikan lebih terhadap binatang-binatang yang unik
atau tidak pernah ditemukan. Hal ini tentunya akan menghabiskan sebagian besar
waktunya. Peter yang berpacaran dengan Jane selalu memberi perhatian yang
sangat sedikit terhadap kekasihnya. Setiap kali mereka pergi berkencan,
pembahasannya akan selalu mengenai kegemaran Peter. Apabila kencan mereka
tidak berhubungan dengan kegemaran Peter, maka ia akan kurang antusias.
Namun, karena sifat Jane yang penuh pengertian, ia selalu berusaha menerima
dengan sabar.
b. Tahap Komplikasi
Pada salah satu kencan mereka, Jane benar-benar merasa jenuh dan penat karena
harus mendengarkan kekasihnya yang banyak berbicara mengenai kegemarannya.
Peter mulai sadar dengan kejenuhan Jane dan mencoba untuk membicarakan
sesuatu yang mungkin bisa membuat kekasihnya tertarik. Peter mulai
membicarakan sejarah di balik kunang-kunang dan Jane mulai tertarik.
c. Tahap Klimaks
100
Saat Peter mulai membahas mengenai kunang-kunang, Jane merasa tertarik dan
memberinya perhatian lebih. Peter menceritakan bahwa menurut legenda, kunang-
kunang itu ialah penjelmaan wanita yang menjadi korban pemerkosaan pada saat
kerusuhan rasial terhadap etnis Tiong Hoa pada tahun 1998. Tiba-tiba, Jane
menjadi tercengang dan tidak bisa berkata-kata karena dalam pikirannya, ia
mendengar suara-suara para korban. Hal ini membuat Peter harus menyadarkan
Jane dari lamunannya.
d. Tahap Anti-Klimaks
Beberapa waktu kemudian, Jane mendapatkan berita yang tak terduga dan
sungguh mengejutkan bahwa Peter meninggal dunia akibat terjatuh dari puncak
ketinggian gedung. Diduga kematiannya terkait dengan pengetahuan Peter
mengenai legenda di balik kunang-kunang yang semakin mendalam serta
hubungannya dengan para korban yang kukunya menjadi kunang-kunang itu. Jane
berfikir bahwa saat kekasihnya meloncat dari gedung, tubuhnya menjadi ribuan
kunang-kunang.
e. Tahap Penyelesaian
Sejak saat itu, populasi kunang-kunang di Jakarta meningkat. Setiap pertengahan
bulan Mei, masyarakat setempat akan menyaksikan kunang-kunang di gedung
yang dahulu dikunjungi sepasang kekasih itu. Setiap kali Jane melihat kunang-
kunang di gedung tersebut, ia akan selalu teringat pada Peter.
4. Latar
a. Latar Tempat
- Jakarta (Kemunculan kunang-kunang yang memenuhi langit kota Jakarta
menjadi fenomena yang luar biasa.)
- Cafe Gratitude ( ... keriuhan kendaraan yang memadati Horrison Street
menyelusup masuk Cafe Gratitude.)
- Gedung gosong ( ... memandang takjub pada ribuan kunang-kunang yang
muncul berhamburan dari gedung-gedung yang gosong ...)
b. Latar Waktu
- Malam hari (Langit mulai menggelap ...)
c. Latar Suasana
- Kecewa (Mungkin karena saat itu, ia memendam kekecewaan ... )
- Gelisah (Ia menunggu tak jenak.)
- Hening (Keheningan itu seperti genangan udara dingin ... )
- Sedih (Mata Jane selalu berkaca-kaca setiap kali menyaksikan itu ...)
5. Sudut Pandang
Dalam cerpen Kunang-Kunang di Langit Jakarta ini menggunakan sudut pandang
orang ketiga serba tahu.
6. Amanat
Amanat yang terkandung pada cerpen Kunang-Kunang di Langit Jakarta ini adalah
setiap warga negara Indonesia wajib untuk mengenang sejarah bangsa ini yang
sungguh kelam karena sampai saat ini kasus pembunuhan massal tersebut belum
101
terusut tuntas. Selain itu, bangkitlah dari keterpurukan dengan memperlihatkan
keindahan seperti kunang-kunang.
7. Gaya Bahasa
Dalam cerpen ini, gaya bahasa yang digunakan lebih dominan dengan gaya bahasa
metafora. Pengarang memilih diksi kunang-kunang dan gedung gosong yang
dihubungkan dengan peristiwa pada masa kelam saat itu sehingga kata-kata dalam
cerpen Kunang-Kunang di Langit Jakarta ini menjadi lebih indah.
102
Luthfiya Rosyda Fadhila
21201244025
Analisis Puisi
“Api Suci”
Karya Sutan Takdir Alisjahbana
Selama nafas masih mengalun,
Selama jantung masih memukul,
Wahai api, bakarlah jiwaku,
Biar mengaduh biar mengeluh.
Seperti baja merah membara,
Dalam bakaran Nyala Raya,
Biar jiwaku habis terlebur,
Dalam kobaran Nyala Raya.
Sesak mendesak rasa di kalbu,
Gelisah liar mata memandang,
Di mana duduk rasa dikejar.
Demikian rahmat tumpahkan selalu,
Nikmat rasa api menghangus,
Nyanyian semata bunyi jeritku.
Unsur Intrinsik Puisi
1. Diksi
Diksi yang terdapat pada puisi ini terdapat beberapa kata yang memakai konotasi.
2. Imaji
Imaji auditif
Nyanyian semata bunyi jeritku
Imaji visual
Seperti baja merah membara
Gelisah liar mata memandang
Dimana duduk rasa dikejar
Imaji kinestetik/ peraba
Nikmat rasa api menghangus
3. Majas
Hiperbola
Biar jiwaku habis terlebur
Gelisah liar mata memandang
Nikmat rasa api menghangus
Metafora
Demikian rahmat tumpahkan selalu
103
Perbandingan
Seperti baja merah membara
Repetisi
Selama napas masih mengalun
Selama jantung masih memukul
Dalam bakaran api Nyala Raya
Dalam kobaran Nyala Raya
Sesak mendesak rasa di kalbu
Di mana duduk rasa dikejar
4. Bunyi
Puisi ini mengandung bunyi efoni karena bunyi-bunyi puisi ini memberikan kesan
semangat.
5. Rima
Aliterasi
Biar – biar
Mengaduh - mengeluh
Merah - membara
Sesak – mendesak
Demikian – tumpahkan
Asonansi
Biar – biar
Mengaduh – mengeluh
Biar – jiwa
6. Kata Konkret
Pada puisi ini terdapat kata-kata konkret seperti /Wahai api bakarlah jiwaku/, /Biar
mengaduh biar mengeluh/, /Seperti baja merah membara/, /Dalam bakaran Nyala
Raya/ maksud dari kata konkret diatas adalah memohon kepada sang pencipta, baja
yang merah membara itu sebagai penanda rasa emosi yang memuncak yang berapi-api
sehingga terlihat cahaya api yang besar. Jadi baja merah membara itu dilambangkan
seperti api. Arti dari kalimat /Seperti bara merah membara/, /Dalam bakaran Nyala
Raya/ adalah doa seorang hamba agar diberikan ketegaran jiwa, dan dalam doa itu ia
ingin bangkit dalam keterpurukan hingga memiliki semangat.
7. Tipografi
Tipografi pada puisi ini cukup sederhana. Penulisan puisinya menjorok ke tengah.
Puisi ini terdiri dari dua bait dengan jumlah larik 14 dan masing-masing terdiri atas
empat kata dengan 11 suku kata. Pada awal larik, kata ditulis dengan huruf kapital
serta diakhiri tanda koma dan khusus larik terakhir pada bait diakhiri dengan tanda
titik.
8. Tema
Tema pada puisi “Api Suci” yaitu tema percintaan, khususnya kepada sang pencipta
yang ditujukan seseorang yang sedang mengadu kepada pencipta-Nya karena
kecemasan dan keinginan untuk bangkit lagi dari kegelisahan hatinya.
104
9. Rasa
Rasa yang ada pada puisi ini ialah rasa ingin selalu bersemangat, meskipun jiwanya
telah habis terlebur, ia tetap ingin mengobarkan semangatnya.
10. Amanat
Hendaknya setiap manusia memiliki semangat yang besar untuk dapat bangkit
dari sebuah keterpurukan.
Jangan pernah berhenti untuk mencari inspirasi dan wawasan.
Bersyukur terhadap apa yang terjadi meskipun dalam waktu pahit.
11. Nada
Nada yang muncul pada puisi ini ialah nada yang penuh semangat.
105
BIOGRAFI
Nurfa Rahmana. Lahir pada tanggal 11 November 2002 di Pati,
Jawa Tengah. Saya sendiri beralamat di Desa Tawangrejo RT
01/RW 04, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati.
[email protected] adalah alamat e-mail
student UNY milik saya, hobi yang paling sering saya lakukan
adalah bernyanyi dan mendengarkan musik, namun selain itu saya
juga hobi membaca, terutama membaca novel. Saya memiliki
motto hidup “Jalani, Yakini, dan Syukuri”. Dengan motto hidup ini, saya pribadi berharap
agar tetap bertahan dalam keadaan apapun, tetap yakin dengan pilihan yang telah saya
tentukan, dan bersyukur atas apa saja yang telah diberikan kepada saya. Saya pun
berkeinginan agar bisa bermanfaat bagi orang sekitar saya kelak, bermanfaat disini tentunya
dalam konteks membawa perubahan atau dampak positif.
106
Nurfa Rahmana
21201244026
Analisis Unsur Intrinsik Cerpen
“Pesan Pendek dari Sahabat Lama”
1. Tema
Tema dalam cerpen “ Pesan Pendek dari Sahabat Lama” adalah Persahabatan. Cerita
ini menceritakan tentang tokoh Aku yang kehilangan sahabatnya semenjak kerusuhan
30 tahun yang lalu. Dikisahkan tokoh Aku merupakan seorang gubernur. Ia bertemu
kembali dengan Gardaz, sahabatnya. Ia merasa bersalah dengan Gardaz karena ia
sekarang merupakan seorang gubernur, padahal ia dan Gardaz merupakan pejuang
melawan tirani. Gardaz yang kini menjadi seorang geladangan datang kembali untuk
untuk meminta kebaikan hati tokoh aku tersebut.
2. Alur
Alur yang terdapat dalam cerpen ini, adalah alur campuran (maju mundur). Karena
terkadang penulis menceritakan kilas balik kejadian yang sudah terjadi, dan juga
menceritakan kejadian sekarang yang dialami.
3. Penokohan
-Gardaz : Cerdas, pemberani, rela berkorban
Bukti Kalimat :
Ya, Gardaz, mahasiswa paling cerdas dan paling berani berdemonstrasi melawan
tirani.
Ketika aku sakit ia merelakan uang kuliahnya untuk menebusku dari rumah sakit,
ketika aku terlambat menerima kiriman uang dari desa, dia menanggung hidupku
untuk beberapa minggu dan jasa baik lainnya.
-Aku : Tidak setia, dan tak berbelas kasih
Bukti Kalimat :
“Gila. Pacarku yang mana?.” “ Gadis itu kukenal saat aku mengunjungi ibunya yang
rumahnya kamu gusur untuk ma, Bung”
”Aku hanya butuh hatimu, kawan.”
-Istri Tokoh Aku : Perhatian dan mudah khawatir
Bukti Kalimat : ”Are you okay, Pa?” istriku menyeka keringat di keningku.
”Ya, agar papa makin sehat saja atau bisa lebih tenang….”
Dia memintaku untuk bertahan di rumah sakit sehari atau dua hari lagi.
107
4. Latar
a. Latar suasana
-Tegang dan Rusuh
Bukti Kalimat : sejak kerusuhan di Ibu Kota itu meletus dan nyawa-nyawa
membubung bagai gelembung- gelembung busa sabun.
-Sedih dan Haru
Bukti Kalimat : Aku telah kehilangan dia mungkin sekitar 30 tahun.
b. Latar waktu
-Siang hari
Bukti Kalimat : Siang itu, setelah rapat di kantor, sekretarisku memberi tahu ada
seorang laki-laki yang mencariku.
c. Latar tempat
-Kota margaz
Bukti Kalimat : ia mendatangi komandan daerah militer di kota Margaz.
-Rumah sakit
Bukti Kalimat : Dia memintaku untuk bertahan di rumah sakit.
-Hotel
Bukti Kalimat : Aku memaksa, tapi ia tetap memintaku tinggal di hotel.
5. Sudut pandang
- Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen ini adalah sudut pandang orang pertama
tokoh utama.
Bukti Kalimat : Aku meminta ajudanku meninggalkan kami. Aku mengajak dia
masuk ruang tamu.
6. Gaya bahasa
- Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen ini adalah gaya bahasa Paradoks.
Bukti Kalimat : Aku merasa kehilangan seorang kawan, sahabat yang sangat
kukagumi. Namun, aku tak pernah berharap dia kembali lagi.
7. Amanat
Amanat atau pesan yang dapat diambil dari cerpen ini, lebih mengarah pada kritik
sosial yang ditujukan kepada kaum kaum kelas menengah ke atas. Mereka yang
seanantiasa melakukan penggusuran demi kepentingan bisnis, entah itu pembangunan
mall, apartemen-apartemen mewah, jembatan, dan proyek-proyek lainnya. Tanpa
108
mereka ketahui, perilaku tersebut dapat menimbulkan korban. Bayangkan saja, orang-
orang yang tidak mampu harus digusur dan kebingungan mencari tempat untuk
berlindung. Oleh karena itulah, kita dituntut untuk senantiasa bersikap kritis dan
berani dalam menentang tindakan yang justru merugikan masyarakat kecil, dan
semakin menguntungkan kaum kelas atas. Dimana letak keadilan jika rakyat kecil
selalu ditindas? Memang benar jika terdapat dialog ”Aku hanya butuh hatimu,
kawan.” Hal tersebut mengartikan bahwa setiap pemimpin harus memiliki hati nurani,
agar tidak sembarangan dalam mengambil tindakan dan kebijakan yang tidak masuk
akal.
109
Nurfa Rahmana
21201244026
Analisis Unsur Puisi “Padamu Jua”
PADAMU JUA
Amir Hamzah
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia, selalu
Satu kasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa darah dibalik tirai
Kasihku sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu—bukan giliranku
Mati hari—bukan kawanku
110
Unsur Instrinsik Puisi
1. Unsur fisik puisi
a. Diksi
Menurut saya penggunaan diksi yang di gunakan oleh Amir Hamzah dalam puisi
diatas, secara umum menggunakan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-
hari, namun beberapa kata pada dasarnya juga mempunyai arti yang sedikit sulit
untuk dipahami. Misalnya pada bait ke enam :
Nanar aku gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menusuk ingin
Serupa dara di balik tirai.
Berdasarkan pemilihan kata yang digunakan dalam puisi diatas, karena terdapat
beberapa pemilihan kata yang mempunyai makna asing misalnya kata nanar, gila
sasar, padamu jua, pelik, dara dibalik tirai, sehingga diksi yang dipilih harus
menghasilkan pengimajian, sehingga kata-kata menjadi lebih konkret.
b. Imaji/Citraan
Dalam puisi Padamu Jua karya Amir Hamzah, terdapat beberapa citraan yaitu:
Citraan Pendengaran, dapat dilihat dari kata sunyi.
Citraan Penglihatan, dapat dilihat dari adanya penggunaan kata nanar,
menarik tirai.
Citraan Perabaan, dapat dilihat dari penggunaan kata cakar.
c. Majas
Dalam puisi ini terdapat beberapa majas, yakni :
Majas personifikasi : pelita jendela di malam gelap melambai pelang perlahan.
Majas hiperbola : segala cintaku hilang terbang.
d. Rima
Di dalam puisi ini terdapat beberapa rima, diantaranya :
-Rima berpeluk (abba) : pada baris ke 1-4
-Rima berselang (abab) : pada baris ke 12-15
-Rima berangkai (aabb) : pada baris ke 20-23 dan 24-27
-Rima berpeluk (abba) : pada baris ke 5-8
-Rima berangkai (aabb) : pada baris ke 9-12 dan 20-23
e. Kata konkret
Dalam puisi ini, kata konkret yang terkandung antara lain, aku manusia, dimana
engkau, dan menunggu seorang diri.
f. Tipografi
Menurut saya pada bait puisi tersebut terkesan menyedihkan, karena
mempunyai makna tentang penantian dan kesetiaan terhadap kekesihnya yang
pergi meninggalkan (engkau) hanya untuk mencari kekasihh baru, meskipun
demikian (si engkau) tetap berharap bahwa kekasihnya akan kembali kepadanya
lagi.
111
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Matahari– bukan kawanku
Dengan demikian, tipografi atau bentuk puisi tersebut tidak terlalu terikat oleh
aturan dan terkesan bebas, karena panyair sepertinya lebih ingin menyampaikan
pesan yang ada dalam puisi tersebut, namun juga tidak mengesampingkan unsur
keindahan yang ada dalam puisi itu sendiri.
2. Unsur batin puisi
a. Tema
Percintaan, Kerinduan
b. Rasa
Rasa yang terdapat pada puisi ini lebih terkesan sendu, karena menggambarkan sosok
“aku” yang tengah merindukan kekasihnya.
c. Amanat
Menurut saya amanat yang terkandung dalam puisi “padamu jua” adalah jika
ada seseorang yang mencintai kita dengan setulus hati maka janganlah pernah kita
berusaha untuk mencari cinta yang lain karena cinta yang baru, karena yang baru
belum tentu baik. jangan selalu berfikir ketika kita mendapatkan cinta yang baru
maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang baru juga, karena semua itu belum
tentu terjadi. Dengan demikian ketika kita mencintai dan dicintai oleh seseorang
maka, Cintailah dia dengan setulus hatimu, sebelum ia meninggalkanmu, karena
penyesalan selalu datang diakhir cerita.
d. Nada
Nada pada puisi tersebut memiliki pembawaan yang sendu dengan suara yang
lembut, karena isi puisi tersebut menggambarkan mengenai kerinduan pada
seorang kekasih, selain itu juga menggambarkan kekecewaan dikala menunggu
kekasih yang tak kunjung datang, dan menggambarkan kesetiaan dalam menanti
sang kekasih kembali.
112
BIOGRAFI
Nama saya Nevilia Adina Prabaningtyas, saya lahir di Yogyakarta
pada 7 November 2002 dan masih bertempat tinggal di Yogyakarta
tepatnya di kecamatan Kotagede. Saya memiliki hobi bernyanyi dan
mendengarkan musik, saat ini saya berstatus sebagai mahasiswa
Universitas Negeri Yogyakarta dengan Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2021. Motto hidup saya
adalah ―Jangan berhenti bersyukur dan selalu berbuat baik kepada
siapa pun‖. Hasil analisis karya sastra ini saya sajikan secara
sederhana dalam rangka memenuhi tugas akhir semester satu mata kuliah Membaca Sastra
dengan dosen pengampu Prof. Dr. Suroso, M.Pd. Terima kasih.
113
Nevilia Adina Prabaningtyas
21201244027
Analisis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Sinopsis
Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menceritakan tentang seorang pemuda
Minangkabau bernama Zainuddin yang tidak dapat menikahi gadis yang dicintainya yaitu
Hayati dikarenakan oleh latar belakang sosial. Zainuddin yang menjadi tokoh utama dalam
novel ini merupakan seorang keturunan campuran Minang dan Bugis, dimana ia tidak
mendapat pengakuan sebagai suku Minang, karena ibunya bersuku Bugis. Pada saat itu,
tradisi adat istiadat suku Minang begitu mengikat. Hingga pada akhirnya Hayati menikah
dengan seorang Minang asli yang kaya raya, bernama Aziz. Zainuddin memutuskan untuk
pindah ke Pulau Jawa bersama sahabatnya bernama Bang Muluk. Zainuddin berhasil
menggapai impiannya di Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku.
Karena pekerjaan, Aziz dipindahkan ke Surabaya dan Hayati pun mengikuti suaminya. Di
Surabaya Hayati mendapatkan undangan dari perkumpulan sandiwara dan ternyata itu
merupakan acara milik Zainuddin. Mereka bertemu di acara tersebut, hubungan Zainuddin
dengan Hayati dan Aziz tetap baik-baik saja. Perkembangan selanjutnya, Aziz dipecat dari
tempat kerjanya karena terlilit hutang hingga akhirnya Aziz beserta Hayati harus
meninggalkan rumah sewanya karena sudah tiga bulan tidak membayar. Mereka memutuskan
untuk tinggal di rumah Zainuddin sementara waktu. Setelah beberapa bulan Aziz memilih
untuk pergi ke Banyuwangi namun tidak bersama Hayati. Aziz menitipkan Hayati ke
Zainuddin untuk menjaganya. Suatu saat Hayati mendapat kabar bahwa Aziz bunuh diri. Kini
Hayati menjadi janda tetapi Zainuddin tidak ingin menikahi Hayati. Zainuddin menyuruh
Hayati untuk kembali ke Padang karena Zainuddin tidak ingin melihat Hayati menderita.
Hayati akhirnya memutuskan untuk kembali ke Padang dengan menaiki kapal Belanda
termewah pada saat itu, yaitu kapal Van Der Wijck yang berlabuh ke laut Andalas. Namun
kejadian naas menimpa Hayati. Kapal mewah yang ditumpanginya mengalami kecelakaan
dan tenggelam. Zainuddin merasa menyesal karena sudah menyuruh Hayati kembali ke
Padang. Hingga setahun kemudian Zainuddin menyusul Hayati ke sisi Tuhan. Saat maut
menjemputnya, Zainuddin menyelesaikan kisah hikayat cinta bersama Hayati dalam tulisan
terakhirnya berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”.
1. Tema
Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka, bertema tentang
cinta sejati, tulus, dan setia meskipun keduanya tidak dapat dipersatukan dan tak
dapat tersampaikan karena terhalang tradisi adat istiadat suku Minang yang begitu
mengikat serta mendiskriminasi adat lain pada saat itu.
2. Gaya Bahasa
Yang sulit saya pahami saat membaca novel ini yaitu penggunaan gaya
bahasanya. Novel ini menggunakan bahasa melayu kental yang dipadukan dengan
bahasa Minangkabau. Terkadang juga menggunakan bahasa pengandaian.
3. Tokoh dan Penokohan
a. Zainuddin
114
Seorang pemuda baik hati, sederhana, memiliki ambisi dan cita-cita yang
tinggi, pemuda yang setia, namun hidupnya penuh kesengsaraan oleh cinta
tetapi memiliki percaya diri yang tinggi.
b. Hayati
Wanita yang baik hati, lemah lembut, ramah, dan patuh dengan adat istiadat.
Wanita yang pendiam dan memiliki kesetiaan. Hayati sangat menghormati
sang ibu, penyayang, memiliki belas kasihan, wanita yang tulus, dan sabar.
c. Aziz
Seorang lelaki yang boros dan tidak memiliki tujuan hidup karena sudah kaya
raya. Ia juga kurang bertanggung jawab kepada istrinya.
Tokoh yang saya kagumi pada cerita novel ini yaitu Zainuddin, karena ia
memiliki sifat yang sederhana dan setia. Zainuddin adalah seorang yang tidak
pernah mengaharapkan apapun kepada orang lain meski ia mencintainya. Ia
juga memiliki tujuan hidup dan tidak pernah menyerah dalam mengejar
impian walaupun harus pergi jauh untuk meraihnya.
4. Amanat
Dalam novel ini amanat yang dapat saya ambil yaitu, cinta yang sejati adalah cinta
yang tulus dan tak lekang oleh waktu. Dan kita perlu mengerti bahwa dalam
hidup, kita harus memiliki tujuan hidup dan tidak boleh putus asa dalam meraih
cita-cita.
115
Nevilia Adina Prabaningtyas
21201244027
Analisis Drama Petang di Taman Karya Iwan Simatupang
Naskah drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang ini menceritakan tentang
pertemuan beberapa orang dengan latar belakang yang berbeda-beda di sebuah taman.
Mereka tidak saling mengenal, tetapi taman adalah publik, sehingga semua orang merasa
bebas untuk masuk ke dalam suatu obrolan. Di dalam pertemuan tersebut ada seorang pria
yang sedang diam ditaman, ada seorang orang tua yang kehilangan Minah (kucingnya), ada
seorang pria penjual balon yang memiliki hobi terhadap balon, dan ada seorang wanita yang
memiliki anak tapi bukan nyonya (tidak bersuami).
1. Tema
Tema yang diangkat oleh Iwan Simatupang dalam drama ini adalah keresahan,
karena pada drama ini menceritakan perasaan yang membuat setiap orang ingin
mengutarakan segala perasaan. Percakapan yang terjadi cukup luas pembahasannya
karena semua tokoh memiliki kisah sendiri-sendiri.
2. Alur
Alur atau kerangka drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang menggunakan
alur maju, karena diceritakan secara runtut dari awal hingga akhir. Mulai dari
pelukisan awal cerita, komplikasi, klimaks atau puncak konflik, dan berakhir dengan
penyelesaian konflik.
3. Latar
a. Latar Tempat
Latar tempat drama adalah di taman yang terdapat pada kutipan berikut.
OT : “Itulah celakanya dari tiap taman. Setiap orang yang datang ataulewat
taman, menganggap dirinya mer-deka untuk mencampuri setiap pembicaraan, ya
setiap pembicaraan, ya setiap penghidupan, yang kebetulan sedang berlaku
disitu”.
b. Latar Waktu
Latar waktu pada drama terjadi pada malam hari yang ditunjukan pada dialog
berikut.
OT : “(TERTAWA RAGU) Tidak, tidak ! Aku tak mau bertemu kau lagi.
(TERSENYUM) Selamat malam, Nak ! Mudah-mudahan tidurmu nyenyak
dimana saat kau akan tidur malam ini (SAMBIL BATUK-BATUK, PERGI
PELAN- PELAN)”
c. Latar Suasana
Latar suasana pada drama memiliki suasana yang tegang yang ditunjukan pada
dialog berikut.
W : “Kurang ajar ! Kau telah lari, ha ! Lari, dan kau tinggalkan aku sendirian
dengan seluruh keadaan kedalam mana kau tempatkan aku dengan perbuatanmu.
Aku sendirian harus menanggung semuanya. Aku, seorang wanita,sendirian, hah
! (ME RENGGUT KEDUA TANGAN PB DARI MUKA-NYA DENGAN
SANGAT KUAT) Ayo, Bukaa !”
116
PB : “Bukan saya ! Bukan saya ! Saya Cuma berbuat sekali saja !”
4. Tokoh dan Penokohan
a. Orang Tua (OT)
Orang Tua ini merupakan tokoh antagonis dalam drama ini, dimana menjadi
fokus dari tokoh-tokoh lainnya dan setiap kali muncul dalam pembicaraan.
Orang Tua memiliki sikap yang berwibawa, menghormati orang lain dan
mengalah.
OT: “Tidak, tidak ! Yang lebih tua mesti tahu diri, dan mengalah. Ini musim
kemarau.”
LSB : “(SANGAT MARAH) Mengapa bapak ketawa ?!”
OT : “(DALAM TAWA) Karena...saya mau ketawa.. (TERBAHAK-BAHAK)”
b. Lelaki Setengah Baya (LSB)
Lelaki ini merupakan tokoh antagonis dalam drama ini, dimana menjadi fokus
dari tokoh-tokoh lainnya dan setiap kali muncul dalam pembicaraan. Lelaki
separuh baya adalah orang yang pemarah.
LSB : “Pakai silahkan segala ! Ini kan taman ? (TIBA-TIBA MARAH) Dia
duduk, kalau dia mau duduk. Dan tidak duduk kalau dia memang tidak mau
duduk.Habis perkara ! Bah! (MELIHAT DENGAN GERAM KEPADA PB)”
c. Penjual Balon (PB)
Penjual balon merupakan tokoh tritagonis, ia mempunyai sikap yang
kekanak- kanakan dan gampang menangis. Adapun kutipan dialognya adalah
sebagai berikut.
LSB : “(KEPADA PB) Mengapa… Hei….. mengapa kau menangis ?”
PB : “(TAK MENYAHUT TERUS DUDUK DI TANAH, MENANGIS)”
PB : “Saya lebih suka balon.”
LSB : “(TAK MENGERTI) Tapi kau kan penjual balon ?”
PB : “Itu hanya alasan saya saja untuk dapat memegang-megang balo. Saya
pencinta balon.”
d. Wanita (W)
Wanita merupakan tokoh tritagonis, ia adalah orang yang gampang menangis dan
tidak berpikir sebelum bertindak . Adapun kutipan dialognya adalah sebagai
berikut.
LSB : “Lepas ! Lepaskan saya ! Biar saya hajar dia dulu !”
W : “Jangan ! Jangan ! (MENANGIS)”
W : “(MAJU DEKAT SEKALI MALIHAT KEWAJAH Penj. Balon)
Bangsat! Laki-laki jahanam ! Kurangaj…(TIBA-TIBA MEMEKIK) Bukan !
Bukan ! Ya Tuhan, bukan dia…”
LSB dan OT : “(SEREMPAK) Bukan dia !”
W : “Bukan… (PINGSAN, TAPI CEPAT DIPEGANG Orang Tua)”
117
5. Amanat
Setiap orang berhak mengutarakan isi hatinya, berbagi ilmu, kisah atau masa lalunya
dengan bebas karena manusia itu makhluk sosial. tentu tidak bisa terlepas dari
makhluk hidup yang lain. Karena kita membutuhkan satu sama lain. Kita harus
bersikap sama antara makhluk yang satu
118
BIOGRAFI
Nama saya adalah Irsyad Fachruddin, atau bisa dipanggil
Irsyad. Saya lahir di Jakarta pada tanggal 11 September
2003 dan hari ini saya masih berumur 18 tahun. Rumah atau
tempat tinggal saya kini berada di Bintara, Bekasi Barat.
Saya memiliki hobby yaitu travelling atau touring dengan
kendaraan apapun dan segala jenis olahraga, khususnya
futsal. Saya mempunyai dua motto yang berisi “Melangkah
atau tidak sama sekali” dan “Menjadi orang penting itu baik,
tetapi lebih penting menjadi orang baik”. Saya memiliki
moda komunikasi email dengan alamat
[email protected]. Lalu saya akan merespon
dua karya sastra yang terdiri dari satu puisi yang berjudul
“Sajak Kecil Tentang Cinta” karya Sapardi Djoko Darmono dan satu drama yang berjudul
“Rt Nol Rw Nol” karya Iwan Simatupang.
119
Irsyad Fachruddin
21201244028
1. Puisi
“Sajak Kecil Tentang Cinta”
Karya: Sapardi Djoko Darmono
Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintai-Mu harus menjelma aku
Respon:
Berdasarkan puisi di atas, karya Sapardi Djoko Darmono yang berjudul “Sajak Kecil
Tentang Cinta” ini penuh makna tentang cinta. Bahwa cinta itu harus diperjuangkan,
karena sejatinya cinta itu butuh pengorbanan. Cinta juga berkehendak di atas segalanya.
Maka dari itu pesan yang bisa diambil dari puisi di atas adalah, jika kita mencintai
seseorang kita harus menjadi bagian apa yang orang kita cintai tersebut, seperti di dalam
kalimat “Mencintai gunung harus menjadi terjal‖. Seperti yang kita ketahui bahwa
gunung-gunung tinggi di dunia pasti memiliki terjal.
120
Irsyad Fachruddin
21201244028
Analisis Drama
Unsur Intrinsik Drama “Rt Nol Rw Nol” karya Iwan Simatupang.
Tema
Tema dalam naskah drama RT. Nol RW. Nol karya Iwan Simatupang adalah tentang
kritik sosial terhadap masyarakat dan pemerintah. Sebab, dalam naskah drama ini
menceritakan tentang kehidupan orang-orang yang tinggal di kolong jembatan.
Kehidupan mereka sungguh sangat memprihatinkan; hidup berada dibawah garis
kemiskinan, kesengsaraan, bahkan bahaya bisa saja mengancam mereka kalau seandainya
kolong jembatan yang mereka huni tiba-tiba roboh. Akan tetapi pemerintah seolah
menutup mata terhadap keberadaan mereka. Bahkan, mereka tidak dianggap sebagai
warga Negara yang mempunyai hak dan kedudukan yang sama oleh masyarakat dan
pemerintah, dengan alasan tidak memiliki Kartu Identitas (KTP).
Plot atau Alur
Alur dalam naskah drama yang berjudul RT. Nol RW. Nol karya Iwan Simatupang adalah
alur maju atau alur lurus. Dimana penulis naskah drama menceritakan dari awal mula
adegan sampai pada akhir adegan. Susunan alur atau plot dalam naskah drama yang
berjudul RT. Nol RW. Nol karya Iwan Simatupang adalah sebagai berikut:
1) Perkenalan atau Eksposisi
Dalam adegan I pengarang mencoba mendeskripsikan suatu tempat, keadaan, serta
kegiatan yang dilakukan oleh para tokoh lewat prolog. Pada adegan tersebut pembaca
juga diberikan penjelasan mengenai beberapa tokoh serta profesinya, akan tetapi
penjelasan atau pengenalan tersebut tidak terlalu detail, sebab dalam adegan I hanya
mengenalkan beberapa tokoh. Tokoh yang lainnya akan dijelaskan pada adegan
berikutnya.
2) Insiden Permulaan
Insiden permulaan muncul pada adegan II. Pada adegan II ini menceritakan kenangan
hidup Kakek sebelum menghuni kolong jembatan, dan keluhan Bopeng yang sering
mendengar anggapan masyarakat terhadap orang-orang yang hidupnya di kolong
jembatan. Konflik batin Kakek dan Pincangpun mulai dihadirkan.
3) Muncul konflik
Dengan hadirnya tokoh Bopeng dan Ati pada adegan tersebut membuat insiden yang
terjadi menjadi bertambah ruwet. Dengan hadirnya tokoh Ati sehingga muncul benih
konflik yang terjadi antara Pincang dengan Bopeng. Pertanyaan Pincang yang terlalu
lugas dan blak-blakan membuat Bopeng merasa tersinggung.
4) Klimaks
Krisis balik atau klimaks pada naskah drama RT. Nol RW. Nol adalah ketika Bopeng tak
kuat lagi menahan amarah ketika perkataan Pincang yang didengarnya dianggap
menyinggung perasaannya. Perkelahian antara keduanya tak dapat dihindari, Bopeng
menerkam Pincang, kemudian mencekiknya. Kemudian Kakek mencoba melerai
perkelahian tersebut dengan susah payah dan Ati menjerit ketakutan melihat Pincang
sedang dicekik oleh Bopeng.
5) Penyelesaian
Pada bagian ini pengarang mulai memecahkan persoalan melalui tokoh Ina dan tokoh
Bagong. Setelah pulang melayani laki-laki hidung belang, Ina pulang diantarkan oleh
Bang Becak langganan Ina sekaligus tunangannya. Akan tetapi Ina pulang sendirian,
121
sebab Ani tertangkap razia saat melayani si babah tamu langganannya. Dan Ani bersedia
menerima lamaran si Babah untuk dinikahi. Begitupun dengan Ina, setelah menyerahkan
titipan makanan dari Ani untuk Kakek, Ina pun memberitahu kepada Kakek, Pincang, dan
Bopeng bahwa ia juga sudah menerima lamaran Bang Becak untuk dinikahi. Kemudian
Ina meminta maaf dan berpamitan kepada semuanya, termasuk pada Ati. Mengetahui
peristiwa yang dialami Ati, kemudian Ina menyarankan Ati untuk ulang ke kampung
halamannya. Tidak hanya itu, Ina juga memberikan uang kepada Ati untuk ongkos pulang
ke kampung halamannya. Melihat sikap Ina terhadap Ati, Bopeng pun kemudian meminta
Pincang untuk mengantarkan Ati pulang ke kampung halamannya dan Bopeng juga
memberikan uang kepada Pincang untuk ongkos pulang pergi.
Tokoh atau Penokohan
Tokoh dalam naskah drama RT. Nol RW. Nol karya Iwan Simatupang ada enam tokoh
yaitu: Kakek, Pincang, Ani, Ina, Bopeng, dan Ati.
a) Tokoh Protagonis
Tokoh protagonis merupakan tokoh utama yang muncul dan ingin mengatasi berbagai
persoalan. Dalam naskah ini yang termasuk tokoh protagonis yaitu: Kakek, Pincang, dan
Ina. Misalnya ketika terjadi perdebatan antara Bopeng dan Pincang karena Bopeng
merasa tersinggung dengan perkataan Pincang, Kakek mencoba mengatasi persoalan
tersebut dengan cara melerai. Kemudian ketika muncul persoalan pada Ati, setelah
Bopeng yang membawanya dari pelabuhan ke kolong jembatan akan pergi berlayar
karena Bopeng diterima bekerja menjadi seorang kelasi. Ati bingung akan nasib hidupnya
bagaimana, kemudian Pincang mencoba menyelesaikan persoalan Ati. Pincang bersedia
mengantarkan Ati pulang ke kampung halamannya.
b) Tokoh Antagonis
Tokoh antagonis merupakan tokoh yang kerap memunculkan berbagai persoalan atau
dapat dikatakan juga sebagai tokoh yang melawan/bertentangan dengan tokoh protagonis.
Tokoh inilah yang merangsang timbulnya konflik dalam diri tokoh protagonis. Dalam
naskah ini yang termasuk tokoh antagonis yaitu: Ani dan Bopeng. Misalnya ketika Ani
yang bekerja sebagai PSK sedang berdialog dengan Kakek terkait aturan pemerintah, Ani
selalu menentang perkataan Kakek. Kemudian ketika Pincang menyarankan kepada Ani
agar jangan pergi bekerja, Ani malah menentang saran dari Pincang. Dan ketika Bopeng
membawa Ati ke kolong jembatan, konflik yang terjadi semakin rumit. Sehingga jelas
bahwa tokoh Ani dan Bopeng merupakan tokoh-tokoh yang merengsang timbulnya
konflik atau kerap memunculkan berbagai persoalan.
c) Tokoh Tritagonis
Tokoh Tritagonis merupakan tokoh yang berada di luar tokoh protagonis dan antagonis.
Tokoh ini bisa mempertajam adanya konflik, atau membantu memecahkan konflik.
Dalam naskah ini yang termasuk tokoh tritagonis yaitu Ati. Tokoh Ati jelas merupakan
tokoh Tritagonis, sebab dengan kehadiran Ati di kolong jembatan turut mempertajam
permasalahan/konflik yang terjadi.
Latar
1) Latar waktu
Latar waktu dalam naskah drama RT. Nol RW. Nol karya Iwan Simatupang mulai
dari adegan pertama hingga adegan kelima atau terakhir settingnya malam hari. Hal
ini dapat dibuktikan dari narasi drama dan beberapa dialog para tokoh, antara lain:
I. Narasi adegan pertama “Pemandangan biasa dari pemukiman kaum
gelandangan, lewat senja”
122
II. Narasi adegan terakhir “Bunyi-bunyi malam dari jangkrik, kodok, dan lain-
lain...”
2) Latar suasana
a) Suasana Marah
Suasana marah tampak terjadi pada adegan III pada saat Picang menanyakan masalah
Ati, orang yang dibawa Bopeng dari pelabuhan. Bopeng merasa tersinggung dengan
pertanyaan Pincang yang terkesan menyudutkannya, dan akhirnya Bopeng marah
pada Pincang.
b) Suasana Sedih
Suasana sedih tampak terjadi pada adegan IV pada saat Ina menceritakan Kakaknya
telah menerima lamaran Si Babah. Kemudian Ina juga sudah memutuskan menerima
lamaran Bang Becak meski tak didasari rasa cinta yang tulus. Keputusan Ani dan Ina
untuk menerima lamaran semata-mata karena ingin mempunyai kedudukan tetap,
mempunyai alamat tetap, mendapatkan pengakuan, dan yang pasti mempunyai Kartu
Tanda Penduduk (KTP).
c) Suasana Haru
Suasana Hening tampak terjadi pada adegan V atau adegan terakhir. Suasana haru
terjadi ketika Ati mengajak Kakek untuk ikut ke kampung dan tinggal di kampung
halamannya. Namun kakek menolak ajakan Ati, ia lebih memilih tetap tinggal di
kolong jembatan karena bagi Kakek kolong jembatan yang selama ini ditempati
sangat berarti baginya. Rupa-rupanya memang tak dapat berbuat lain lagi. Ia milik
manusia-manusia yang terpojok dalam hidupnya.
3) Latar tempat
Kolong jembatan
“Kolong suatu jembatan ukuran sedang, di suatu kota besar pemandangan biasa dari
suatu pemukiman kaum gelandangan.”
Di pilar jembatan
“Kakek duduk di samping Pincang di beton semen salah satu pilar jembatan.”
Di pojok kolong jembatan
“Bopeng dan Pincang tampak pergi ke pojok sebelah sana dari kolong jembatan, dan
merebahkan dirinya di sana.”
Sudut pandang
Menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Bukti kalimat: Dua tungku, berapi. Di atasnya kaleng mentega, dengan isi berasap. Si
Pincang menunggui jongkok tungku yang satu, yang satu lagi ditunggui oleh kakek.
Dalam contoh kalimat tersebut sudah terlihat bahwa narator menarasikannya tidak
menggunakan kata “aku”, jadi narator yang seolah mengetahui kisahnya dan kemudian
menceritakan.
Amanat
Terdapat beberapa pesan yang dapat dipetik dari naskah drama RT. Nol RW. Nol karya
Iwan Simatupang, antara lain;
Jangan memandang seseorang hanya dari satu sudut pandang
Setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencapai
kehidupan yang layak
Manusia harus selalu berusaha dan berjuang dalam menjalani hidupnya
123
BIOGRAFI
Nama saya, Niken Kusumaningtias saya lahir di Klaten
pada 30 April 2002 dan masih bertempat tinggal di Klaten.
Saya memiliki hobi Membaca Novel dan Menulis Puisi,
saat ini saya berstatus sebagai mahasiswa Universitas
Negeri Yogyakarta dengan Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2021. Motto hidup
saya adalah : Kamu harus percaya sama diri sendiri, jangan
biarkan orang lain menjatuhkanmu, jangan memikirkan hal
negatif dan pikirkanlah saja hal yang positif. Kelilingi
dirimu dengan teman dan rekan yang baik pula, karena
kamu juga orang baik (Mark Lee). Hasil analisis karya
sastra ini saya sajikan secara sederhana dalam rangka
memenuhi tugas akhir semester satu mata kuliah Membaca
Sastra dengan dosen pengampu Prof. Dr. Suroso, M.Pd.
124
Niken Kusumaningtyas
21201244029
ANALISIS NOVEL
BUMI MANUSIA
A. Resensi Novel
Kategori
Judul : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan : 7 Januari 2011
Isi : 535 Halaman
Penjajahan cenderung membahas tentang perampasan kekayaan oleh suatu bangsa
terhadap bangsa lain. Penjajahan di Nusantara dilakukan oleh Belanda, dengan tujuan agar
negaranya semakin berjaya. Perampasan yang dilakukan oleh penjajah itu bukan hanya dalam
hal kekayaan alam atau kekayaan lainnya, melainkan juga perampasan sosial dan budaya.
Oleh mereka, penduduk Indonesia dibagi-bagi ke dalam berbagai kelas sosial. Dan kelas yang
tertindas dalam cerita ini adalah kelas pribumi. Inilah yang ingin diperjuangkan oleh
Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia ini.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Minke, seorang pribumi asli, namun karena
keturunan ningrat Jawa, ia diperbolehkan bersekolah di HBS Surabaya. Hanya dia pribumi
yang bersekolah disana. Selebihnya adalah warga negara kelas 1, orang Eropa, kelas 2 : Indo
dan Tionghoa. Karena ajakan Robert Surhorf (teman Minke di HBS), dia berkesempatan
berkunjung ke sebuah rumah Tuan Belanda, Herman Mellema. Tidak disangka, Annelies
Mellema, putri sang tuan rumah jatuh cinta pada Minke. Cinta sang putri mendapat dukungan
dari sang bunda, Nyai Ontosoroh. Minke memasuki kehidupan keluarga itu, bahkan
dipersilahkan untuk tinggal serumah dengan mereka. Sejak itulah, banyak pertentangan dan
rintangan yang menghampiri hidupnya.
Tentangan pertama datang dari keluarganya sendiri yang tak sudi Minke tinggal dalam
rumah seorang Nyai. Oleh sebab itu, ayahnya tak mau mengakuinya sebagai anak lagi.
Bencana kedua datang dari pihak sekolah yang karena alasan moral memberhentikannya
sebagai siswa. Namun, bencana sesungguhnya datang dari sepucuk surat dari pengadilan
Belanda. Seusai kematian Herman Mellema yang misterius di rumah pelesiran Ah Tjong.
Anak Mellema dari istri Belandanya menggugat harta kekayaan yang dengan susah payah
dipelihara dan dikembangkan Nyai Ontosoroh. Bukan itu saja. Annelies yang telah dinikahi
Minke secara syah, harus memenuhi panggilan pengadilan untuk 'kembali' ke tanah
leluhurnya, Belanda. Sebuah tindakan yang jauh dari rasa keadilan. Itulah yang disebabkan
oleh para penjajah; perampasan kekayaan, pertentangan kelas dan penindasan.
125
B. Unsur Intrinsik
ANALISIS UNSUR INTRINSIK
1. Tema
Tema novel ini adalah tentang kisah percintaan seorang pemuda keturunan priyayi Jawa
dengan seorang gadis keturunan Belanda dan perjuangannya di tengah pergerakan Indonesia
di awal abad ke-20.
2. Tokoh dan Penokohan
Tokoh Penokohan
Minke Merupakan tokoh utama dalam novel ini, cerdas, berjiwa
pribumi, keturunan priyayi, siswa HBS, baik, penyayang.
Annelies Putri dari orang belanda (Herman Mellema) dan pribumi (Nyai
Ontosoroh), pendiam, manja, labil.
Nyai Ontosoroh Istri simpanan dari Herman Mellema, mandiri, tegas, bijaksana,
pandai, dan tegar.
Herman Mellema Kaku dan kasar
Robert Mellema Egois, tidak bermoral
Ayah Minke Masih berpatokan dengan adat istiadat Jawa, pemarah, keras
dalam mendidik Minke.
Ibu Minke Bijaksana, penyayang
Robert Surhorf Pengecut
Jean Marais Penyayang
Darsam Seorang Madura yang berwatak keras, patuh kepada tuannya.
Ah Tjong Licik
Maiko Seorang pelacur dari Jepang, egois dan tidak jujur
Amelia Hammers Istri sah Herman Mellema, ambisius
Mellema
Insinyur Maurits Ambisius
Mellema
Magda Petters Baik
Mevrow Telinga Penyayang
Tokoh yang dapat dijadikan seagai teladan
Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner, ia berani melawan ketidakadilan yang
terjadi pada bangsanya.
3. Latar
a) Latar tempat : Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur
b) Latar waktu : Zaman kolonialisme
c) Latar suasana : Tegang dan genting
4. Sudut Pandang
Dalam novel Bumi Manusia pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku
utama, seperti pada kutipan novel di bawah ini. “Aku tunggu-tunggu meledaknya kemarahan
Nyai karena puji-pujian”.
5. Alur dan Pengaluran
Alur cerita ini menggunakan alur keras, yaitu akhir cerita tidak dapat ditebak. Pada awal dan
tengah cerita, mungkin pembaca akan berpikir cerita akan berakhir bahagia dengan
126
pernikahan Minke dan Annelies, tetapi cerita ini diakhiri dengan perpisahan Annelies dan
Minke. Annelies harus pergi ke negaranya, Belanda, sedangkan Minke tetap di Hindia
sebagai seorang Pribumi.
6. Gaya Bahasa
a. Metafora Sarkasme (Menunjukkan Suatu Ideologi atau Penindasan)
Ahoi, si philogynik mata keranjang kita, buaya kita!
Kalimat tersebut dikatakan sebagai metafora sarkasme karena tokoh Robert Suurhof
menghina tokoh Minke (seorang pribumi bertubuh pendek berkulit coklat tidak bermatabat)
b. Majas Personifikasi (Memanusiakan Benda)
Ilmu pengetahuan telah memberikan padaku restu yang tiada terhingga indahnya.
Karena pada saat zaman Hindia Belanda mayoritas manusia Pribumi tidak mengenal
pendidikan dan tidak dapat menikmati pendidikan. Karena pada saat itu pendidikan seperti
mimpi bagi manusia pribumi. Hanya keturunan Eropa Belanda, keturunan Indo-belanda atau
campuran serta bangsawan yang mendapat pendidikan. Beruntung bagi manusia pribumi
yang dapat merasakan pendidikan, walaupun harus dengan perjuangan keras.
7. Amanat
Novel yang dilatar belakangi pergerakan Indonesia di awal abad 20 ini, menceritakan
pergerakan, perjuangan, dan semangat pemuda Indonesia di masa itu. Pengarang menyerukan
agar pemuda-pemudi sekarang ini tetap mempunyai semangat itu meskipun sekarang sudah
tidak ada penjajahan kolonial. “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam
pikiran, apalagi dalam perbuatan”
127
Niken Kusumaningtyas
21201244029
Analisis Cerpen Pohon Jejawi
A. Sinopsis Cerpen
Kategori KETERANGAN
Judul Pohon Jejawi
Penulis Prof. Dr. H. Budi Darma, M.A.
Penerbit Kompas
Tahun Terbit 26 Desember 2010
Dikisahkan bahwa Surabaya pada masa penjajahan Belanda jauh berbeda dengan
Surabaya masa kini. Pada masa itu, jalan dan kampung bernama ”kedung” di Surabaya tidak
sebanyak sekarang. Hanya ada satu pada waktu itu, yaitu Kedung Gang Buntu. Di kedung ini,
hiduplah pohon jejawi yang sangat besar. Kala itu, Surabaya dipimpin oleh seorang walikota
berkewarganegaraan Belanda yang bernama Henky van Koperlyk. Tidak diketahui kapan
pohon itu tumbuh, yang pasti Pohon jejawi ini sangat dikeramatkan oleh penduduk sekitar.
Mereka sangat mempercayai kekuatan dari pohon tersebut. Dan hebatnya hal tersebut
terbukti. Antek-antek kompeni Belanda yang berani mencemooh pohon itu akan selalu
mengalami kesialan, bahkan bisa berujung kematian. Henky van Kopperlyk yang sangat
membenci rakyat pribumi, berinisiatif untuk menebang pohon tersebut bahkan berniat untuk
memusnahkan pohon tersebut hingga ke akar-akarnya. Namun saat hari penebangan telah
tiba, jangankan memusnahkannya, saat hendak menebang pohon tersebut berbagai kesialan
pun menimpa Henky van Kopperlyk sang Walikota.
B. Unsur Intrinsik Cerpen
Analisis Unsur Intrinsik
Tema
Kepercayaan yang primitif, kondisi sosial pada masa itu juga rentan dengan adanya
diskriminasi sosial.
Tokoh dan Penokohan
Henky van Koperlyk : Congkak, sombong, ambisius, egois
Anneke von Hubertu : Berhati duri, congkak, selalu menganggap dirinya benar.
Henricus von Hubertus : Saudagar sombong
Pribumi : Primitif / mempercayai hal yang bersifat (konon) takhayul.
128
Latar
Latar Tempat : Kedung Gang Buntu, Surabaya.
Latar Waktu : Masa Kolonial Belanda.
Latar Suasana : Hiruk-Pikuk masyarakat pribumi yang percaya kekuatan dari pohon Jejawi.
Sudut Pandang
Susut pandang orang ketiga. Penulis menempatkan dirinya sebagai orang ketiga yang
megetahui semua kejadian terkait dengan tokoh utama, Henky van Koperlyk.
Alur dan Pengaluran
Menggunakan alur maju, dimana cerita diawali dengan pperkenalan, munculnya konflik, dan
penyelesaian. Namun, dalam Pohon Jejawi ini penyelesaian dibuat absurd, sehingga pembaca
cenderung mengakhirinya dengan sudut pandangnya sendiri.
Gaya Bahasa
Personifikasi
Seolah-olah jatuh dari langit biru, tiba-tiba saja Kedung Gang Buntu ada di situ, di
sebuah kawasan dari sekian banyak kawasan di kota Surabaya.
Sudah beberapa kali pohon jejawi ini memakan korban, semuanya orang Belanda.
Justru sepatu Henky van Kopperlyklah yang terlepas, lalu melayang di udara, terus
melayang, seolah-olah ingin menggedor-gedor pintu surga. Bola tetap berada di
tempatnya semula.
Amanat:
Selain tentang kepercayaan yang primitif, kondisi sosial pada masa itu juga rentan
dengan adanya diskriminasi sosial. Dimana, penguasa pada masa itu adalah orang Belanda,
sehingga secara otomatis orang Belanda lah orang yang menduduki strata sosial teratas,
sementara rakyat pribumi merupakan orang yang memiliki strata sosial yang paling rendah
dan hina, sampai-sampai orang Belanda menyamakannya dengan hewan.
Oleh karena itu, berbekal ilmu pengetahuan diharapkan pribumi/rakyat Indonesia
memliki kecerdaan intelektual, berpikir kitis, akhlak dan moral, serta mengharumkan nama
indonesia dimata dunia. Tentunya, hal ini agar kita tidak direndahkan dan dianggap kolot
oleh negara lain. Sehingga dengan ini penjajahan yang dilakukan bangsa asing pada masa
kolonial tidak lagi terulang untuk Indonesia kedepannya.
129
TERIMA KASIH
130