Bahan Kimia
Bahan kimia yang dibutuhkan antara lain :
1. Tawas,
2. kapur tohor dan,
3. kaporit bubuk.
CARA PEMBUATAN
Gambar 1.5 cara pembutan air bersih
1. Masukkan air baku kedalam tangki penampung sampai hampir penuh (550 liter).
2. Larutkan 60 - 80 gram bubuk kapur / gamping (4 - 6 sendok makan) ke dalam ember kecil
yang berisi air baku, kemudian masukkan ke dalam tangki dan aduk sampai merata.
3. Masukkan slang aerasi ke dalam tangki sampai ke dasarnya dan lakukan pemompaan
sebanyak 50 - 100 kali. setelah itu angkat kembali slang aerasi.
4. Larutkan 60 - 80 gram bubuk tawas (4 - 6 sendok makan) ke dalam ember kecil, lalu
masukkan ke dalam air baku yang telah diaerasi. Aduk secara cepat dengan arah yang
putaran yang sama selama 1 - 2 menit. Setelah itu pengaduk diangkat dan biarkan air
dalam tangki berputar sampai berhenti dengan sendirinya dan biarkan selama 45 - 60
menit.
5. Buka kran penguras untuk mengelurakan endapan kotoran yang terjadi, kemudian tutup
kembali.
6. Buka kran pengeluaran dan alirkan ke bak penyaring. Buka kran saringan dan usahakan
air dalam saringan tidak meluap.
7. Tampung air olahan (air bersih) dan simpan ditempat yang bersih. Jika digunakan untuk
34 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
minum sebaiknya dimasak terlebih dahulu.
Catatan :
1. Jika volume bak penampung lebih kecil maka jumlah kapur dan tawas yang dipakai harus
disesuaikan.
2. Jika menggunakan kaporit untuk membunuh kuman-kuman penyakit, bubuhkan kaporit
sekitar 1-2 gram untuk 500 liter air baku. Cara pemakaiannya yaitu dimasukkan bersama-
sama pada saat memasukkan larutan kapur.
Gambar 1.6 gambar alat pipa aerator dan penampang saringan pasir
PIPA AERATOR PENAMPANGAN SARINGAN PASIR
KUALITAS AIR HASIL PENGOLAHAN
Dari beberapa hasil pengolahan dengan menggunakan peralatan tersebut diatas, setelah
diperiksa di laboratorium di dapatkan hasil air olahan dengan kualitas seperti pada Tabel 3.3
Tabel 1.6 Hasil Analisa Kualitas Air Baku Dan Olahan
35 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
SYSTEM PORTABLE / LANGSUNG HISAP
Gambar 1.7 System Portable / Langsung Hisap
LifeStraw adalah filter air yang dirancang untuk digunakan oleh satu orang untuk
menyaring air sehingga mereka dapat dengan aman meminumnya. Ini filter maksimal 1000
liter air, cukup untuk satu orang selama satu tahun. Ini menghilangkan 99,9999% bakteri
ditularkan melalui air dan 99,9% parasit The Family LifeStraw, unit yang lebih besar yang
dirancang untuk penggunaan keluarga, juga menyaring 99,99% dari virus.
36 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Gambar 1.8 alat lifestraw
LifeStraw yang merupakan filter air komplementer point of penggunaan yang dirancang
oleh Swiss berbasis Vestergaard Frandsen bagi orang-orang yang tinggal di negara-negara
berkembang dan untuk distribusi dalam krisis kemanusiaan. Keluarga LifeStraw filter
maksimal 18.000 liter air, menyediakan air minum yang aman untuk keluarga dari lima sampai
tiga tahun. LifeStraw dan Keluarga LifeStraw dibagikan dalam gempa, Haiti 2010 2010 banjir
Pakistan, dan 2011 banjir Thailand.
Gambar 1.9
Alat
Water Filter System
Water Filter System adalah : Suatu alat penyaringan air yang memiliki teknologi modern,
tetapi sangat sederhana dalam penggunaannya dan mempunyai efektifitas tinggi untuk
menurunkan zat-zat Organik, Warna, Bau, Zat Besi, Zat Kapur, sehingga air yang dihasilkan
akan menjadi jernih,bersih dan sehat.
kesimpulan
Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan
biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas
37 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
mereka sehari-hari dan memenuhi persyaratan untuk pengairan sawah, untuk treatment air
minum dan untuk treatmen air sanitasi.
Banyak sumber air yang bisa dimanfaatkan sebagai air baku untuk air minum, yaitu
air hujan, air permukaan dan air tanah. Sumber air dan kualitas dapat dibedakan atas tiga
jenis, yaitu: air permukaan, air tanah, dan air hujan.
BAB IV
SISTEM PENGOLAHAN AIR LIMBAH
PENGERTIAN
Menurut Ehless dan Steel, Air limbah atau air buangan adalah sisa air dibuang yang
berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada umumnya
38 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia
serta mangganggu lingkungan hidup.
Batasan lainnya mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan
sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri,
bersama-sama dengan air tanah, air pemukiman dan air hujan yang mungkin ada (Haryoto
Kusnoputranto, 1985).
Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang tersisa
dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti industri,
perhotelan, dan sebagainya. Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya besar, karena
kurang lebih 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan manusia sehari-hari
tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar). Selanjutnya air limbah ini
akhirnya akan kembali ke sungai dan laut dan akan digunakan oleh manusia lagi. Oleh
karena itu, air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara baik
SUMBER LIMBAH
Air limbah ini dapat berasal dari berbagai sumber, secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
1. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water), yaitu air
limbah yang berasal dari pemukiman penduduk
2. Air buangan industri (industrial wastes water), yang berasal dari berbagai jenis industry
akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung di dalamnya sangat bervariasi sesuai
dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industri, antara lain: nitrogen,
sulfide, amoniak, lemak garam-garam zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut
dan sebagainya. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengolahan jenis air limbah ini, agar
tidak menimbulkan polusi lingkungan menjadi lebih rumit.
3. Air buangan kotapraja (municipal wastes water), yaitu air buangan yang berasal dari
daerah; perkantoran,perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat umum, tempat-tempat
ibadah, dan sebagainya. Pada umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah
ini sama dengan jenis air limbah rumah tangga.
KARAKTERISTIK AIR LIMBAH
39 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Karakteristik air limbah penting untuk diketahui, karena hal ini akan menentukan
pengolahan yang tepat, sehingga tidak mencemari lingkungan hidup. Secara garis besar
dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Karakteristik fisik
Air limbah terdiri dari 99,9% air, sedangkan kandungan bahan padatnya mencapai
0,1% dalam bentuk suspensi padat (suspended solid) yang volumenya bervariasi
antara 100-500 mg/l. Apabila volume suspensi padat kurang dari 100mg/l, air limbah
disebut lemah, sedangkan bila lebih dari 500mg/l disebut kuat.
Terutama air limbah rumah tangga, biasanya berwarna suram seperti larutan sabun,
bekas cucian beras dan sayur, dan sebagainya.
2. Karakteristik kimiawi
Biasanya air buangan ini mengandung campuran zat-zat kimia anorganik yang
berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organik berasal dari penguraian
tinja, urine, dan sampah-sampah lainnya. Oleh sebab itu, pada umumnya bersifat
basa pada waktu masih baru, dan cenderung ke asam apabila sudah mulai membusuk.
Substansi organik dalam air buangan terdiri dari 2 golongan, yakni:
a) Gabungan yang mengandung nitrogen, misalnya; urea, protein, atau asam
amino.
b) Gabungan yang tidak mengandung nitrogen, misalnya: lemak, sabun, atau
karbohidrat
3. Karakteristik bakteriologis
Bakteri dalam air limbah berfungsi untuk menyeimbangkan DO dan BOD.
Sedangkan bakteri pathogen banyak terdapat dari hasil buangan dari peternakan,
rumah sakit, laboratorium, sanatorium, buangan rumah tangga khususnya dari
kamar mandi/wc. Kandungan bakteri pathogen serta organism golongan E. coli
terdapat juga dalam air limbah tergantung dari mana sumbernya, namun keduanya
tidak berperan dalam proses pengolahan air limbah. Limbah industri tidak banyak
mengandung bakteri kecuali dari bahan produksinya memang berhubungan
dengan potensi adanya bakteri diantaranya industri makanan/minuman,
pengalengan ikan dan daging, abbatoir.
Beberapa mikroorganisme dalam air limbah, antara lain:
40 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
1. Kelompok protista : virus, bakteri, jamur, protozoa
2. Kelompok tanaman dan bintang :algae, cacing
PARAMETER AIR LIMBAH
Berikut adalah parameter yang dapat digunakan berkaitan dengan air
limbah.
1. Kandungan zat padat (total solid, suspending solid, dissolved solid)
2. Kandungan zat organik
3. Kandungan zat anorganik (mis; P, Pb, Cd, Mg)
4. Kandungan gas (mis: O2, N, CO2)
5. Kandungan bakteri (mis: E.coli)
6. Kandungan pH
7. Suhu
DAMPAK BUANGAN AIR LIMBAH
Air limbah yang tidak menjalani proses pengolahan yang benar tentunya dapat
menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Dampak tersebut antara lain:
1. Gangguan Kesehatan
Air limbah dapat mengandung bibit penyakit yang dapat menimbulkan penyakit
bawaan air. Selain itu di dalam air limbah mungkin juga terdapat zat-zat berbahaya dan
beracun yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi makhluk hidup yang
mengkonsumsinya. Adakalanya, air limbah yang tidak dikelola dengan baik juga dapat
menjadi sarang vector penyakit (misalnya nyamuk, lalat, kecoa, dan lain-lain)
2. Penurunan Kualitas Lingkungan
Air limbah yang dibuang langsung ke air permukaan (misalnya sungai dan danau)
dapat mengakibatkan pencemaran air permukaan tersebut. Sebagai contoh, bahan
organic yang terdapat dalam air limbah bila dibuang langsung ke sungai dapat
menyebabkan penurunan kadar oksigen yang terlarut didalam sungai tersebut.
41 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Dengan demikian menyebabkan kehidupan di dalam air yang membutuhkan oksigen
akan terganggu, dalam hal ini akan mengurangi perkembangannya. Adakalanya, air
limbah juga dapat merembes ke dalam air tanah, sehingga menyebabkan pencemaran
air tanah. Bila air tanah tercemar, maka kualitasnya akan menurun sehingga tidak
dapat lagi digunakan sesuai peruntukannya.
3. Gangguan Terhadap Keindahan
Adakalanya air limbah mengandung polutan yang tidak mengganggu kesehatan dan
ekosistem, tetapi mengganggu keindahan. Contoh : air limbah yang mengandung
pigmen warna yang dapat menimbulkan perubahan warna pada badan air penerima.
Walaupun pigmen tersebut tidak menimbulkan gangguan terhadap kesehatan, tetapi
terjadi gangguan keindahan terhadap badan air penerima tersebut.
Kadang-kadang air limbah dapat juga mengandung bahan-bahan yang bila terurai
menghasilkan gas-gas yang berbau. Bila air limbah jenis ini mencemari badan air,
maka dapat menimbulkan gangguan keindahan pada badan air tersebut.
4. Gangguan terhadap kerusakan benda
Adakalanya air limbah mengandung zat-zat yang dapat dikonversi oleh bakteri
anaerobik menjadi gas yang agresif seperti H2S. Gas ini dapat mempercepat proses
perkaratan pada benda yang terbuat dari besi (mis. Pipa saluran air. limbah) dan
bangunan air kotor lainnya. Dengan cepat rusaknya air tersebut maka biaya
pemeliharaannya akan semakin besar juga, yang berarti akan menimbulkan kerugian
material.
Untuk menghindarkan terjadinya gangguan-gangguan diatas, air limbah yang dialirkan
ke lingkungan harus memenuhi ketentuan seperti yang disebutkan dalam Baku Mutu
Air Limbah. Apabila air limbah tidak memenuhi ketentuan tersebut, maka perlu
dilakukan pengolahan air limbah sebelum mengalirkannya ke lingkungan.
PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani pengolahan
terlebih dahulu. Untuk dapat melaksanakan pengolahan air limbah yang efektif
diperlukan rencana pengelolaan yang baik. Pengelolaan air limbah dapat dilakukan
42 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
secara alamiah maupun dengan bantuan peralatan. Pengolahan air limbah secara
alamiah biasanya dilakukan dengan bantuan kolam stabilisasi sedangkan pengolahan
air dengan bantuan peralatan misalnya dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air
Limbah/ IPAL (Waste Water Treatment Plant / WWTP).
TUJUAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Adapun tujuan dari pengelolaan air limbah itu sendiri, antara lain:
1. Mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga.
2. Melindungi hewan dan tanaman yang hidup didalam air.
3. Menghindari pencemaran tanah permukaan.
4. Menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vektor penyakit.
SYARAT SISTEM PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Sementara itu, sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan harus memenuhi
persyaratan berikut:
1. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air minum.
2. Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan.
3. Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air di dalam
penggunaannya sehari-hari.
4. Tidak dihinggapi oleh vektor atau serangga yang mengakibatkan penyakit.
5. Tidak terbuka dan harus tertutup.
6. Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap.
METODE PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengelolah air limbah, diantaranya:
a) Pengenceran (disposal by dilution)
Air limbah dibuang ke sungai, danau, atau laut agar mengalami pengenceran.
Dengan cara ini air limbah akan mengalami purifikasi alami. Namun, cara semacam
43 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
ini dapat mencemari air permukaan dengan bakteri pathogen, larva dan telur cacing,
serta bibit penyakit lain yang ada di dalam air limbah itu.
Apabila hanya cara ini yang dapat diterapkan, maka persyaratan berikut harus
dipenuhi:
1. Air sungai atau danau tidak boleh digunakan untuk keperluan lain.
2. Volume air mencukupi sehingga pengenceran berlangsung kurang dari 30-40
kali
3. Air harus cukup mengandung oksigen. Dengan kata lain air harus mengalir (tidak
boleh stagnan) agar tidak menimmbulkan bau.
b) Cesspool
Bentuk cesspool ini menyerupai sumur tetapi digunakan untuk pembuangan air
limbah. Dibuat pada tanah yang berpasir agar air buangan mudah meresap kedalam
tanah. Bagian atas ditembok agar tidak tembus air. Apabila ceespool sudah penuh
(±60bulan), lumpur didalamnya dapat dihisap keluar atau dari semula dibuat
cesspool secara berangkai, sehingga bila yang satu penuh, air akan mengalir ke
cesspool berikutnya. Jarak cesspool dengan sumur air bersih adalah 45 meter dan
minimal 6 meter dari pondasi rumah.
c) Sumur resapan (seepage pit)
Sumur resapan merupakan sumur tempat menampung air limbah yang telah
mengalami pengolahan dalam system lain, misalnya dari aqua privy atau septic tank.
Dengan cara ini, air hanya tinggal mengalami peresapan ke dalam tanah. Sumur
resapan ini dibuat pada tanah yang berpasir, dengan diameter 1-2,5 meter dan
kedalaman 2,5 meter. Lama pemakaian dapat mencapai 6-10 tahun.
d) Septic tank
Septic tank, menurut WHO, merupakan metode terbaik untuk mengelolah air limbah
walau biayanya mahal, rumit, dan memerlukan tanah yang luas. Septic tank memiliki
4 bagian, antara lain:
1. Ruang pembusukan
44 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Dalam ruang ini, air kotor akan tertahan 13 hari dan akan mengalami penguraian
oleh bakteri pembusuk yang akan menghasilkan gas, cairan, dan lumpur. Gas dan
cairan akan masuk kedalam dosing chamber melalui pipa. Lumpur akan masuk
ke ruang lumpur.
2. Ruang lumpur
Ruang lumpur merupakan tempat penampungan lumpur. Apabila ruang sudah
penuh, lumpur dapat dipompa keluar.
3. Dosing chamber
Dalam dosing chamber terdapat siphon McDonald yang berfumgsi untuk
mengatur kecepatan air yang akan dialirkan ke bidang resapan agar merata.
4. Bidang resapan
Bidang ini akan menyerap cairan keluar dari dosing chamber dan menyaring
bakteri pathogen maupun bibit penyakit lain. Panjang minimal bidang resapan
ini 10meter dan dibuat pada tanah berpasir.
e) System Riool (sewage)
System riool menampung semua air kotor dari rumah maupun perusahaan, dan
terkadang menampung kotoran dari lingkungan. Apabila dipakai untuk menampung
air hujan, sistem riool ini disebut combined system, sedangkan jika bak penampung
air hujannya dipisahkan maka disebut separated system. Agar tidak merugikan
kepentingan lain, air kotor dialirkan ke ujung kota, misalnya ke daerah peternakan,
pertanian, atau perikanan darat. Air kotor itu masih memerlukan pengolahan.
Proses pengolahan yang dilakukan, antara lain:
1. Penyaringan (screening)
Penyaringan ditujukan untuk menangkap benda-benda yang terapung diatas
permukaan air.
2. Pengendapan (sedimentation)
Pada proses ini, air limbah dialirkan ke dalam bak besar (sand trap) sehingga
aliran menjadi lambat dan lumpur serta pasir mengendap.
3. Proses biologis
Proses ini menggunakan mikroba untuk memusnahkan zat organic di dalam
limbah baik secara aerob maupun anaerob.
45 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
4. Disaring dengan saringan pasir (sand filter)
5. Desinfeksi
Desinfeksi dengan kaporit (10kg/1 juta air limbah) untuk membunuh mikroba
patogen.
6. Pengenceran
Terakhir, air limbah dibuang ke sungai, danau atau laut sehingga mengalami
pengenceran.
LIMBAH INDUSTRI
Limbah industri (industrial waste) yang berbentuk cair dapat berasal dari pabrik
yang biasanya banyak menggunakan air pada proses produksinya. Selain itu libah cair
juga dapat berasal dari bahan baku yang mengandung air sehingga di dalam proses
pengolahannya, air harus dibuang. Jenis-jenis industry yang menghasilkan limbah cair
antara lain, industri pulp dan rayon, pengolahan cramb rubber, minyak kelapa sawit,
baja dan besi, minyak goring, kertas, tekstil, kaustik soda, elektor plating, plywood,
tepung tapioka, pengalengan, pencelupan dan pewarna, daging dan lain-lain.
Limbah cair industri mengandung bahan pencemar yang bersifat racun dan
berbahaya yang dikenal dengan sebutan B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya).
Menurut Undang-undang RI No. 23/ 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup,
Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan
berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau
merusakkan lingkungan hidup dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Bahan ini
dirumuskan sebagai bahan yang dalam jumlah relative sedikit tetapi mempunyai potensi
untuk mencemarkan dan merusak kehidupan dan sumber daya. Apabila ditinjau secara
kimia, bahan-bahan tersebut mengandung 60.000 jenis bahan kimia dari 5 juta jenis
bahan kimia yang sudah dikenal.
Tingkat bahaya keracunan yang disebabkan limbah ini bergantung pada jenis dan
karakteristiknya, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Mengingat
sifat, karakteristik dan akibat yang ditimbulkan limbah di masa sekarang maupun di
46 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
masa akan datang, diperlukan langkah-langkah pencegahan, penanggulangan, dan
pengelolaannya secara efektif.
Air dari pabrik membawa sejumlah padatan dan partikel baik yang larut maupun
yang mengendap. Bahan ini ada yang kasar dan halus. Kerapkali air dari pabrik
berwarna keruh dan temperaturnya tinggi,
Air yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya mempunyai sifat
tersendiri. Air limbah yang telah tercemar memberikan ciri yang dapat diidentifikasi
secara visual maupun melalui pemeriksaan laboratorium. Identifikasi secara visual
dapat diketahui melalui: kekeruhan, warna air, rasa, bau yang ditimbulkan, dan indikasi
lain. Sementara itu, identifikasi secara laboratorium ditandai dengan terjadinya
perubahan sifat kimia air karena air telah mengandung bahan kimia beracun dan
berbahaya dalam konsentrasi yang melebihi batas yang dianjurkan.
Jumlah limbah yang dikeluarkan masing-masing industri bergantung pada
banyaknya produksi yang dihasilkan serta jenis produknya. Sebagai gambaran, industri
pulp dan rayon menghasilkan limbah air sebanyak 30 m3 setiap ton pulp yang
diproduksi. Contoh lainnya, industri ikan dan makanan laut menghasilkan limbah air
berkisar antara 79-500 m3 per hari, sedangkan industri pengolahan crumb rubber
menghasilkan antara 100-1000 m3 limbah air per hari.
Pengolahan Limbah Cair Industri
Pengolahan limbah cair industri dapat dibagi menjadi dua, pengolahan menurut
tingkat perlakuan dan pengolahan menurut karakteristiknya.
1. Pengolahan berdasarkan tingkat perlakuan
Menurut tingkatan prosesnya, pengolahan limbah dapat digolongkan menjadi 5
tingkatan. Namun, tidak berarti bahwa semua tingkatan harus dilalui karena pilihan
tingkatan proses tetap bergantung pada kondisi limbah yang diketahui dari hasil
pemeriksaan laboratorium. Dengan mengetahui jenis-jenis parameter dalam
limbah, dapat ditetapkan jenis peralatan yang dibutuhkan. Berikut beberapa
tahapan pengolahan air limbah.
a. Pra-pengolahan (pre-treatment)
47 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Pada tahap ini, saringan kasar yang tidak mudah berkarat dan berukuran ± 30×30
cm untuk debit air 100 m2 per jam sudah cukup baik. Untuk mendapatkan hasil
yang lebih baik, saringan dapat dipasang secara seri sebanyak dua atau tiga
saringan. Ukuran messnya (besar lubang kawat tikus) dapat dibandingkan
dengan kawat kasa penghalang nyamuk. Saringan tersebut diperiksa setiap hari
untuk mengambil bahan yang terjaring. Contoh bahan-bahan yang terjaring
dapat berupa padatan terapung atau melayang yang ikut bersama air. Bahan
lainnya adalah lapisan minyak dan lemak di atas permukaan air.
b. Pengolahan primer (primary treatment)
Pada tahapan ini dilakukan penyaringan terhadap padatan halus atau zat warna
terlarut maupun tersuspensi yang tidak terjaring pada penyaringan terdahulu.
Pengolahan secara kimia dilakukan dengan cara mengendapkan bahan padatan
melalui penambahan zat kimia. Reaksi yang terjadi akan menyebabkan berat
jenis bahan padatan menjadi lebih besar daripada air. Tidak semua reaksi dapat
berlaku untuk semua senyawa kimia (terutama senyawa organik).
Pengolahan secara fisika dilakukan melalui pengendapan maupun pengapungan
yang ditujukan untuk bahan kasar yang terkandung dalam air limbah. Penguapan
dilakukan dengan memasukkan udara ke dalam air dan menciptakan gelembung
gas sehingga partikel halus terbawa bersama gelembung ke permukaan air.
Sementara itu, pengendapan (tanpa penambahan bahan kimia) dilakukan dengan
memanfaatkan kolam berukuran tertentu untuk mengendapkan partikel-partikel
dari air yang mengalir di atasnya.
c. Pengolahan sekunder (secondary treatment)
Tahap ini melibatkan proses biologis yang bertujuan untuk menghilangkan
bahan organik melalui proses oksidasi biokimia. Di dalam proses biologis ini,
banyak dipergunakan reactor lumpur aktif dan trickling filter
d. Pengolahan tersier (tertiary treatment)
Pengolahan tersier merupakan tahap pengolahan tingkat lanjut yang ditujukan
terutama untuk menghilangkan senyawa organik maupun anorganik. Proses pada
tingkat lanjut ini dilakukan melalui proses fisik (filtrasi, destilasi, pengapungan,
pembekuan, dan lain-lain), proses kimia (absorbs karbon aktif, pengendapan kimia,
48 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
pertukaran ion, elektrokimia, oksidasi, dan reduks), dan proses biologi
(pembusukan oleh bakteri dan nitrifikasi alga).
2. Pengolahan berdasarkan karakteristik
Proses pengolahan berdasarkan karakteristik air limbah dapat dilakukan secara:
a. Proses fisik, dapat dilakukan melalui:
1. Penghancuran
2. Perataan air (misalnya: mengubah system saluran dan membuat kolam)
3. Penggumpalan (misalnya: menggunakan alumunium sulfat dan ferrosulfat)
4. Sedimentasi
5. Pengapungan
6. Filtrasi
b. Proses kimia, dapat dilakukan melalui:
1. Pengendapan dengan bahan kimia
2. Pengolahan dengan logoon atau kolam
3. Netralisasi
4. Penggumpalan atau koagulasi
5. Sedimentasi (misalnya dengan discrete settling, floculant settling, dan zone
settling)
6. Oksidasi dan reduksi
7. Klorinasi Penghilangan klor (biasanya menggunakan karbon aktif atau
natrium sulfat)
8. Pembuangan fenol
9. Pembuangan sulfur
c. Proses biologi, dapt dilakukan dengan:
1. Kolam oksidasi
2. Lumpur aktif (mixed liquid suspende solid / MLSS)
3. Trickling filter
49 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
4. Lagoon
5. Fakultatif
d. Proses fisika kimia biologi
e. Pengolahan tingkat lanjut
Instalasi pengolahan air limbah ( IPAL )
Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) (wastewater treatment plant, WWTP), adalah sebuah
struktur yang dirancang untuk membuang limbah biologis dan kimiawi dari air sehingga
memungkinkan air tersebut untuk digunakan pada aktivitas yang lain. Fungsi dari IPAL
mencakup:
Pengolahan air limbah pertanian, untuk membuang kotoran hewan, residu pestisida, dan
sebagainya dari lingkungan pertanian.
Pengolahan air limbah perkotaan, untuk membuang limbah manusia dan limbah rumah
tangga lainnya.
Pengolahan air limbah industri, untuk mengolah limbah cair dari aktivitas manufaktur sebuah
industri dan komersial, termasuk juga aktivitas pertambangan.
Meski demikian, dapat juga didesain sebuah fasilitas pengolahan tunggal yang mampu
melakukan beragam fungsi Beberapa metode seperti biodegradasi diketahui tidak mampu
menangani air limbah secara efektif, terutama yang mengandung bahan kimia berbahaya.
gambar 1.10 alat waste water treatment plant
Gambar 1.11 tahapan pengolahan air limbah dengan sistem Aerob :
50 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
1. Tahap pertama Limbah dikumpulkan untuk melalui tahap Presedimentation. Limbah
Cairan di endapkan padatannya yang tersuspensi/teremulsi. Terkadang terdapat kurang lebih
tiga kolam presedimentation.
2. Karena kita nanti akan menggunakan bakteri Aerob dan bakteri aerob akan kaget apabila
kondisi yang dimakan berbeda – beda setiap limbah yang datang berbeda, sehingga berakibat
ke tidak optimalnya bakteri aerob mendegradasi limbah, maka limbah cair yang telah melalui
tahap presedimentation tadi di masukan ke tahap yang kedua, yakni Equalisasi. Tujuan tahap
ini untuk menyetarakan beban BOD, COD sehingga mikroorganisme tidak bingung, karena
mikroorganisme tidak bisa merusak chemical klo keadaan limbah berbeda – beda.
3. Tahap selanjutnya adalah Contact Aerasi. Di sini limbah mulai dimakan oleh bakteri.
Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 7 Hari dengan tanda nanti ada bakteri dan air yang sudah
terpisah. pabila sudah terpisah, bakteri yang telah bekerja di pompa masuk ke tempat
stabilation. Tempat stabilation ini menjadikan bakteri untuk beristirahat terlebih dahulu.
4. Air yang telah melalui tahap aerasi, menuju penjernihan (Clarifier). Di sini dipisahkan
antara padatan yang masih tersuspensi di air. Suspensi dikeringkan di sludge drying Bed, dan
air yang jernih di bawa ke Kolam Carbon Filter yang gradenya keras . Untuk mengeluarkan
air, maka sebelum di buang ke sungai, masuk ke kolam ikan nilai terlebih dahulu.
Kualitas air limbah di pantau dengan pengukuran kadar nitrogen, kadar fenol, pH, Chemical
Oxygen Demand (COD), Biological Oxygen Demand (BOD), dan Total Suspended Solid
(TSS). Jika kualitas air hasil pengolahan limbah tersebut telah memenuhi syarat, maka air
tersebut dialirkan kesungai.
51 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Monitoring keberhasilan pengolahan limbah dilakukan pada tahap – tahap berikut :
1. Sebelm masuk aerasi, kita ukur BOD/COD. sesuai dengan yang kita harapkan belum
2. decanter Aeration dengan pemisahan Volume air/ Volume endapan mikroba = 60/40.
Apabila kurang dari jumlah ini artinya bakterinya kurang, namun apabila lebih maka bakteri
terlalu banyak. Maka bakteri perlu dikendalikan.
3. Monitoring pH, COD, dan BOD di kolam ikan. pH harus 6-7, BOD, COD
Kesimpulan
di jaman yang semakin modern seperti sekarang ini, tidak di pungkiri bahwa
pertumbuhan penduduk dan pembangunan sangat lah pesat, sehingga menjadikan meningkat
nya kebutuhan air yang terbebas dari limbah.
Dengan adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah ditengah kebutuhan air bersih yang semakin
tinggi, tentu dapat menciptakan terpenuhi nya kebutuhan air yang dapat menciptakan
kondusifitas pengelolaan air bersih yang ada di sebuah kota, daerah atau bahkan Negara.
o Air buangan/ air limbah adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia, baik
kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti industri, perhotelan, dan
sebagainya.
3.
o Sumber air limbah yaitu air limbah rumah tangga, air limbah industri dan air
limbah kotapraja.
4.
o Karakteristik air limbah ada 3 yaitu: karakteristik fisik, karakteristik kimia,
karakteristik biologi.
5.
o Parameter-parameter yang digunakan dalam air limbah yaitu BOD, COD,
DO, hardness, settleable solid, Total Suspended Solid, Mixed Liquor
Suspended Solid, Mixed Liquor Volatile Suspended Solid.
o Dampak pengelolaan air limbah antara lain : gangguan kesehatan, penurunan
kualitas lingkungan, gangguan terhadap keindahan, gangguan terhadap
kerusakan benda.
o Pengelolaan air limbah pun dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu secara
alamiah maupun dengan bantuan peralatan. Dengan cara alamiah yaitu
52 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
dengan kolam stabilisasi sedangkan dengan peralatan biasanya dilakukan
pada IPAL, yang prosesnya dapat dikelompokkan menjadi primary
treatment, secondary treatment,dan tertiary treatment.
CONTOH SOAL
1. Tahap awal dalam pengolahan limbah dikenal dengan sebutan unit pengolahan...
a. fisika dan biologi
b. anorganik
c. kimiawi
d. fisika
e. biologi
2. Tujuannya yaitu untuk memperbaiki lingkungan, tanah, maupun air yang tercemar
oleh aktivitas manusia dengan memanfaatkan organisme termasuk dalam teknik unit
pengolahan ...
a. anorganik
3. 4. Jenis limbah yang tidak bisa diuraikan oleh organisme dinamakan...
a. Incineration
b. Polutan
c. Limbah organik
d. Limbah anorganik
e. Landfill
4. Pengolahan limbah yang bersumber dari tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai...
a. Minyak goreng
b. Biogas
c. Makanan
d. Kompos
e. Semua jawaban benar
5. Di bawah ini merupakan pernyataan yang benar mengenai Iimbah yaitu ...
a. suatu zat yang mengakibatkan pencemaran tanah dan udara
b. hasil buangan dari aktivitas hewan dan tidak mengakibatkan keseimbangan
Iingkungan berubah
c. hasil buangan dari aktivitas manusia/alam yang dapat
mengakibatkan keseimbangan Iingkungan menjadi terganggu.
d. suatu benda yang tidak mengandung berbagai unsur bahan yang dapat
membahayakan kehidupan hewan atau manusia
e. hasil buangan dari kegiatan industri yang tidak mengganggu Iingkungan
6. Berikut ini pernyataan yang benar mengenai limbah B3 yaitu...
a. Limbah yang tidak beracun dan berbahaya
b. limbah hasil aktivitas manusia yang mengandung zat kimia, akan tetapi dapat
menyuburkan tanaman
53 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
c. Limbah dari aktivitas manusia yang mengandung zat kimia dan dapat digunakan
bagi makhluk hidup.
7. . Jenis limbah yang tidak bisa diuraikan oleh organisme dinamakan...
a. Incineration
b. Polutan
c. Limbah organik
d. Limbah anorganik
e. Landfill
8.Pengolahan limbah yang bersumber dari tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai...
a. Minyak goreng
b. Biogas
c. Makanan
d. Kompos
e. Semua jawaban benar
9. Di bawah ini merupakan pernyataan yang benar mengenai Iimbah yaitu ...
a. suatu zat yang mengakibatkan pencemaran tanah dan udara
b. hasil buangan dari aktivitas hewan dan tidak mengakibatkan keseimbangan Iingkungan
berubah
c. hasil buangan dari aktivitas manusia/alam yang dapat mengakibatkan keseimbangan
Iingkungan menjadi terganggu.
d. suatu benda yang tidak mengandung berbagai unsur bahan yang dapat membahayakan
kehidupan hewan atau manusia
e. hasil buangan dari kegiatan industri yang tidak mengganggu Iingkungan
10. Berikut ini pernyataan yang benar mengenai limbah B3 yaitu...
a. Limbah yang tidak beracun dan berbahaya
b. limbah hasil aktivitas manusia yang mengandung zat kimia, akan tetapi dapat
menyuburkan tanaman
54 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
c. Limbah dari aktivitas manusia yang mengandung zat kimia dan dapat digunakan bagi
makhluk hidup.
d. Limbah hasil dari aktivitas manusia yang mengandung zat beracun dan bahan kimia yang
berbahaya bagi makhluk hidup.
e. Limbah yang bersumber dari makhluk hidup
55 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
BAB V
DRAINASE ALAMIAH DAN BUATAN
1.1 Air Hujan
1.1.1 Pengertian
Hujan adalah titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan
(Setiawan, 2011). Hujan adalah butir curahan berupa air yang garis tengahnya lebih besar dari
0,5 mm (Pusat Bahasa, 2008; Setiawan, 2011). Sementara Tjasyono (2006) menyatakan bahwa
hujan adalah hydrometeor yang jatuh berupa partikel-partikel air yang mempunyai diameter
0.5 mm atau lebih. Hydrometeor yang jatuh ke tanah disebut hujan sedangkan yang tidak
sampai tanah disebut Virga. Air hujan adalah air yang menguap karena panas dan dengan
proses kondensasi membentuk tetes air yang lebih besar kemudian jatuh kembali ke permukan
bumi. Pada waktu berbentuk uap air terjadi proses transportasi. Ketika proses transportasi
tersebut uap air tercampur dan melarutkan gas-gas dan senyawa lain yang ada di udara
(Sanropie, et. al., 1984).
Air hujan pada umumnya bersifat lebih bersih dari air permukaan dan air tanah. Namun
air hujan dapat bersifat korosif karena mengandung zat-zat yang terdapat di udara seperti NH3,
CO2 agresif, SO2, O2, N2, juga zat-zat renik dan debu. Adanya konsentrasi SO2 yang tinggi di
udara yang bercampur dengan air hujan akan menyebabkan terjadinya hujan asam (acid rain)
(Waluyo, et. al., 2008; Sutrisno, 1996; Gambiro, 2013).
Ketersediaan air hujan tergantung pada besar kecilnya curah hujan, sehingga air tidak
mencukupi untuk persediaan umum karena jumlahnya berfluktuasi. Air hujan tidak dapat
diambil secara terus menerus, karena tergantung pada musim. Pada musim kemarau
kemungkinan air akan menurun karena tidak ada penambahan air hujan (Gambiro, 2013).
1.1.2 Siklus Hidrologi
Anonymous (2015) menyatakan bahwa siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak
pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer
melalui kondensasi (pengembunan), presipitasi (air hujan), evaporasi (penguapan) dan
transpirasi (penguapan oleh tumbuhan). Sedangkan menurut Asdak (2007), selama
berlangsungnya siklus hidrologi, yaitu perjalanan air dari permukaan laut ke atmosfer
56 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
kemudian ke permukaan tanah dan kembali lagi ke laut dan tidak pernah habis. Air tersebut
akan tertahan sementara di sungai, waduk atau danau, dalam tanah sehingga dapat
dimanfaatkan oleh manusia dan makhluk lain sebagaimana Gambar 1.
Gambar 1. Siklus hidrologi (Anonymous, 2017)
Gangguan siklus hidrologi mengakibatkan banjir dan kekeringan, karena air hujan yang
seharusnya meresap ke dalam tanah menjadi “air larian”. Banjir dan kekeringan disertai
pencemaran di beberapa bagian sungai merupakan gambaran suatu krisis air yang sedang dan
akan dihadapi pada masa mendatang. Usaha mengatasi masalah banjir dan kekeringan adalah
meningkatkan besaran resapan air ke dalam tanah yang antara lain bisa dilakukan dengan
menjaga kelestarian hutan dan menghambat laju “air larian” melalui pembuatan sumur resapan
atau penampungan (Santoso, 2005). Jadi air hujan yang turun dan berada di permukaan tanah
sebelum masuk ke selokan atau saluran pembuangan dibelokkan terlebih dahulu ke sumur
resapan sehingga kesempatan air meresap ke dalam tanah menjadi lebih besar atau dibelokkan
ke dalam kolam penampungan.
1.1.3 Sumber Air di Alam
Tersedianya sumber air baku dalam suatu sistem penyediaan air bersih sangat penting.
Sumber-sumber air tersebut secara kuantitas harus cukup dan dari segi kualitas harus
memenuhi syarat untuk mempermudah proses pengolahan. Di samping itu letak sumber air
dapat mempengaruhi bentuk jaringan transmisi, distribusi dan sebagainya. Secara umum air
berasal dari sumber-sumber sebagai berikut:
a. Air Hujan
Air hujan adalah uap air yang sudah mengalami kondensasi, kemudian jatuh ke bumi berbentuk
air. Air hujan juga merupakan sumber air baku untuk keperluan rumah tangga, pertanian, dan
lain-lain. Air hujan dapat diperoleh dengan cara menampung air hujan yang jatuh dari atap
rumah.
b. Air Permukaan
57 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Air permukaan adalah air yang mengalir di permukaan bumi. Pada umumnya air permukaan
ini akan mengalami penurunan kualitas selama pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang-
batang kayu, daun-daun, limbah industri kota dan sebagainnya. Macam-macam air permukaan
yaitu air rawa/danau dan air sungai.
c. Air Tanah
Air tanah merupakan air hujan atau air permukaan yang meresap kedalam tanah dan bergabung
dalam pori-pori tanah yang terdapat pada lapisan tanah yang biasanya disebut aquifer. Air tanah
dapat dibagi dalam beberapa jenis yaitu:
1) Air Tanah Dangkal
Air tanah dangkal terjadi karena adanya proses peresapan air dari permukaan tanah. Air tanah
biasanya jernih tetapi lebih banyak mengandung zat kimia (garam-garam yang terlarut)
daripada air permukaan.
2) Air Tanah Dalam
Air tanah dalam terdapat setelah lapisan rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam
tidak semudah pada air tanah dangkal. Dalam hal ini harus digunakan bor dan memasukkan
pipa kedalamnya (biasanya kedalaman bor antara 10-100 m) akan didapat suatu lapisan air.
3) Mata Air
Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah. Mata air yang
berasal dari air tanah dalam hampir tidak terpengaruh oleh musim dan kualitas/kuantitasnya.
1.1.4. Penakaran Air Hujan
Penakar hujan adalah instrumen yang digunakan untuk mendapatkan dan mengukur
jumlah curah hujan pada satuan waktu tertentu. Panakar hujan mengukur tinggi hujan seolah-
olah air hujan yang jatuh ke tanah menumpuk ke atas merupakan kolom air. Air yang
tertampung volumenya dibagi dengan luas corong penampung, hasilnya adalah tinggi atau
tebal, satuan yang dipakai adalah milimeter (mm).
Salah satu tipe pengukur hujan manual yang paling banyak dipakai adalah tipe
observatorium (obs) atau sering disebut ombrometer. Curah hujan dari pengukuran alat ini
dihitung dari volume air hujan dibagi dengan luas mulut penakar. Alat tipe observatorium ini
merupakan alat baku dengan mulut penakar seluas 100 cm2 dan dipasang dengan ketinggian
mulut penakar 1,2 meter dari permukaan tanah. Alat pengukur hujan otomatis biasanya
memakai prinsip pelampung, timbangan atau jungkitan. Keuntungan menggunakan alat ukur
58 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
otomatis ini antara lain seperti, waktu terjadinya hujan dapat diketahui, intensitas setiap
terjadinya hujan dapat dihitung, pada beberapa tipe alat, pengukuran tidak harus dilakukan tiap
hari karena periode pencatatannya lebih dari sehari, dan beberapa keuntungan lain.
Tinggi curah hujan diasumsikan sama di sekitar tempat penakaran, luasan yang tercakup
oleh sebuah penakar hujan bergantung pada homogenitas daerahnya maupun kondisi cuaca
lainnya. Penakar hujan dibagi dalam dua golongan yaitu tipe manual dan tipe otomatis. Bila
yang diinginkan hanyau jumlah hujan harian, maka dipakai tipe manual. Informasi lebih
banyak diperoleh dari alat otomatis. Alat yang dipakai yang ada di lapangan. Makin canggih
suatu alat makin banyak ketrampilan dan kemampuannya.
Kepadatan minimum jaringan penakar hujan untuk kepentingan hidro – meteorologis
umum menurut Linsley (1982) direkomendasikan sebagai berikut :
1. Untuk daerah datar, beriklim sedang, mediteranean dan zona tropis 600 – 900 km2 untuk
setiap stasiun.
2. Untuk daerah-daerah pegunungan beriklim sedang, mediteranean dan zone tropis, 100 – 250
km2 untuk setip stasiun.
3. Untuk pulau-pulau dengan pegunungan kecil dengan hujan yang beraturan, 25 km2 untuk
setiap stasiun.
4. Untuk zone-zone kering dan kutub, 1500 - 10.000 km2 untuk setiap stasiun.
2.2 Drainase
2.2.1 Pengertian Drainase
Drainase atau pengatusan adalah pembuangan massa air secara alami atau buatan dari
permukaan atau bawah permukaan dari suatu tempat.Pembuangan ini dapat dilakukan dengan
mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Drainase yang berasal dari bahasa
inggris drainage mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air.
Drainase secara umum dapat didefenisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk
mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari air hujan, rembesan, maupun kelebihan air
irigasi dari suatu kawasan/lahan, sehingga fungsi kawasan/lahan tidak terganggu. Drainase
dapat juga di artikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan
salinitas. Jadi, darinase menyangkut tidak hanya air permukaan tapi juga air tanah (Suripin,
2004).
59 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
2.2.2 Kapasitas Saluran
Kapasitas saluran drainase dihitung dengan menggunakan Rumus Manning dan Rumus
Kontinuitas:
a. Rumus Manning b. RumusKontinuitas
v = 1/n . R2/3 . S1/2 (6) Q = A .v (7)
catatan :
v = Kecepatan aliran rata-rata dalam saluran(m/dt)
R = jari-jari hidrolis (m)
S = kapasitas Saluran
n = koefisien kekasaran manning
A = luas penampang basah (m2)
P = keliling basah saluran (m)
Q = debit (m3/dt)
2.2.3 Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase
Membandingkan debit rencana (Qr) dengan kapasitas saluran (Qs). Apabila:
Qr < Qs berarti saluran mampu menampung debit yang terjadi.
Qr > Qs berarti saluran tidak mampu menampung debit yang terjadi.
2.2.4 Fungsi Drainase
Drainase memiliki banyak fungsi, diantaranya (Moduto, dalam jurnal Ainal Muttaqin
2011):
1) Untuk mengurangi kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehigga lahan dapat
difungsikan secara optimal.
2) Sebagai pengendali air kepermukaan dengan tindakan untuk memperbaiki
daerah becek, genangan air/banjir.
3) Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.
4) Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada.
5) Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehinga tidak terjadi bencana banjir.
6) Mengelola kualitas air.
2.3 Jenis-Jenis Drainase
2.3.1 Drainase Menurut Sejarah Terbentuknya
60 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Menurut Hadi Hardjaja (2009) Jenis drainase dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Drainase Alamiah (Natural Drainage)
Drainase yang terbentuk secara alami dan tidak terdapat bangunan-bangunan penunjang,
saluran ini terbentuk oleh gerusan air yang bergerak karena gravitasi yang lambat laun
membentuk jalan air yang permanen seperti sungai.
2. Drainase Buatan
Drainase yang dibuat dengan maksud dan tujuan tertentu sehingga memerlukan bangunan-
bangunan khusus seperti selokan pasangan batu, gorong-gorong, dan pipa-pipa.
2.3.2 Drainase Menurut Letak Bangunannya
1) Drainase Permukaan Tanah (Surface Drainage)
Saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi untuk mengalirkan air
limpasan permukaan.
2) Drainase Bawah Permukaan Tanah (Subsurface Drainage)
Saluran drainase yang bertujuan untuk mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di
bawah permukaan tanah (pipa-pipa) dikarenakan alasan - alasan tertentu. Ini karena alasan
tuntutan artistik, tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya saluran
dipermukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan terbang, dan taman.
2.3.3 Drainase Menurut Konstruksinya
1) Saluran Terbuka
Saluran yang lebih cocok untuk drainase air hujan yang terletak di daerah yang mempunyai
luasan yang cukup, ataupun untuk drainase air non-hujan yang tidak membahayakan kesehatan
atau menganggu lingkungan.
2) Saluran Tertutup
Saluran yang pada umumnya sering di pakai untuk aliran air kotor (air yang mengganggu
kesehatan atau lingkungan) atau untuk saluran yang terletak di tengah kota.
2.3.4 Drainase Menurut Sistem Buangannya
Menurut Hadi Hardjaja ( 2009) Pada sistem pengumpulan air buangan sesuai dengan
fungsinya maka pemilihan sistem buangan dibedakan menjadi :
1) Sistem Terpisah (Separate System)
Dimana air kotor dan air hujan dilayani oleh sistem saluran masing-masing secara terpisah.
2) Sistem Tercampur (Combined system)
61 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Dimana air kotor dan air hujan disalurkan melalui satu saluran yang sama.
3) Sistem Kombinasi (Pscudo Separate system)
Merupakan perpaduan antara saluran air buangan dan saluran air hujan dimana pada waktu
musim hujan air buangan dan air hujan tercampur dalam saluran air buangan, sedangkan air
hujan berfungsi sebagai pengenceran penggelontor .kedua saluran ini tidak bersatu tetapi
dihubungkan dengan sistem perpipaaan interceptor.
2.3.5 Pola Jaringan Drainase
Pola jaringan drainase terdiri dari enam macam, antara lain:
1) Siku, digunakan pada daerah yang mempunyai topografi sedikit lebih tinggi daripada sungai.
Sungai sebagai saluran pembuangan akhir berada di tengah kota.
2) Paralel, saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Apabila terjadi perkembangan
kota, saluran-saluran akan dapat menyesuaikan diri.
3) Grid iron, digunakan untuk daerah dengan sungai yang terletak di pinggir kota, sehingga
saluran-saluran cabang dikumpulkan dahulu pada saluran pengumpul.
4) Alamiah, sama seperti pola siku, hanya beban sungai pada pola alamiah lebih besar.
5) Radial, digunakan untuk daerah berbukit, sehingga pola saluan memencar ke segala arah.
6) Jaring-jaring, mepunyai saluran-saluran pembuangan yang mengikuti arah jalan raya dan
cocok untuk daerah dengan topografi datar.
Pola jaring-jaring terbagi lagi menjadi 4 jenis :
a. Pola perpendicular, Adalah pola jaringan penyaluran air buangan yang dapat digunakan untuk
sistem terpisah dan tercampur sehingga banyak diperlukan banyak bangunan pengolahan.
b. Pola interceptor dan pola zone, adalah pola jaringan yang digunkan untuk sistem tercampur.
c. Pola fan, adalah pola jaringan dengan dua sambungan saluran / cabang yang dapat lebih dari
dua saluran menjadi satu menuju ke sautu banguan pengolahan. Biasanya digunakan untuk
sistem terpisah.
d. Pola radial, adalah pola jaringan yang pengalirannya menuju ke segala arah dimulai dari
tengah kota sehingga ada kemungkinan diperlukan banyak bangunan pengolahan.
2.4 Drainase Air Permukaan
Drainase Permukaan adalah sistem drainase yang terletak di permukaan tanah baik yang
terbentuk secara alamiah dan buatan untuk mengalirkan air hujan dan limpasan permu
kaan.
62 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
2.4.1Tujuan
Tujuan drainase permukaan ialah mengendalikan kelebihan air permukaan
sehingga dapat mengurangi/menghilangkan genangan-genangan air penyebab
penyakit guna meningkatkan kesehatan lingkungan serta memperpanjang umur
ekonomis sarana-sarana fisik.
2.4.2Faktor-faktor yang Mempengaruhi Drainase Permukaan
a) Aspek Hidrologi
Limpasan permukaan dipengaruhi oleh unsur meterologi dan unsur daerah
pengaliran.
1. Unsur Meterologi : Jenis prepitasi, intensitas curah hujan, distribusi hujan,
arah pergerakan hujan, curah hujan, kelembaban tanah, kecepatan angin,
temperatur.
2. Unsur daerah pengaliran : Kondisi penggunaan tanah. Luas, jenis tanah,
serta kondisi topografi daerah pengaliran. Kondisi permukaan tanah.
b) Aspek Hidrolika
Hidrolika merupakan dasar untuk menetapkan dimensi saluran yang digunakan
terbuka atau tertutup.
Prinsip – prinsip aliran di saluran terbuka : kemiringan, gaya gravitasi, gaya
geseran dinding saluran
63 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
A. Kesimpulan
Berdasarkan Latar belakang penelitian, kajian teori terkait rumusan masalah, analisis
permasalahan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa perlu sinergitas antara
penataan kawasan yang cenderung bersifat fisik pembangunan dengan konservasi air, sehingga
tercipta penataan ruang daratan dengan memberikan ruang yang semestinya bagi air untuk
dapat masuk secara maksimal ke dalam tanah melalui proses infiltrasi atau peresapan, agar
pembangunan (penambahan ruang terbangun) tidak menimbulkan genangan. Secara spasial,
teknologi drainase yang diperlukan pada lokasi studi. ini merupakan kombinasi antara pola
detensi (menampung sementara) dan pola retensi (meresapkan).
B. Saran
Dengan kemampuannya, disarankan pengembang tidak semata-mata berorientasi pada nilai
ekonomi lahan tetapi juga harus menyeimbangkan nilai ekonomi lahan dengan nilai-nilai
konservasi yang manfaatnya tidak diukur dengan ekonomi saat ini.
64 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
CONTOH SOAL
1. Perhatikan gambar siklus hidrologi berikut!
Urutan proses siklus hidrologi yang benar ditunjukkan oleh angka...
a. 1, 2, 3, 5 dan 4
b. 2, 4, 3, 1 dan 5
c. 3, 1, 2, 4 dan 5
d. 5, 4, 1, 3 dan 2
e. 5, 1, 2, 4 dan 3
2. Perhatikan gambar siklus air berikut.
Jenis siklus air yang terjadi pada gambar tersebut adalah siklus...
a temporer
b panjang
c pendek
d sedang
e tetap
3. Perhatikan keterangan berikut.
(1) awan
(2) penguapan
(3) kondensasi
(4) salju
(5) hujan
65 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
(6) kristal-kristal
Urutan siklus air pendek adalah nomor...
a. 1→2→3→4
b. 2→3→4→5
c. 2→3→1→5
d. 4→5→6→1
e. 2→3→1→5
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi di suatu daerah yaitu...
a. Kedalaman dan permeabilitas tanah
b. Kemiringan lereng dan permeabilitas tanah
c. Sudut datang sinar Matahari dan kemiringan lereng
d. Kemiringan lereng dan sedimentasi
e. Kemiringan lereng dan kedalaman
5. Pernyataan:
1) morfologi
2) jenis tanah/batuan
3) jumlah vegetasi penutup
4) permeabilitas topsoil
5) jenis vegetasi
Faktor yang tidak mempengaruhi infiltrasi adalah nomor...
a. 1, 2, dan 3
b. 1, 2, dan 4
c. 1, 3, dan 5
d. 2, 4, dan 5
e. 3, 4, dan 5
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi adalah...
a. tingkat resistensi batuan dan luas permukaan tanah
b. luas permukaan tanah dan besarnya suhu udara
c. kemiringan permukaan tanah dan vegetasi
d. vegetasi dan besarnya suhu udara
e. permukaan tanah dan vegetasi
7. Peranan vegetasi hutan dalam siklus hidrologi adalah...
a. membantu penyerapan air dalam tanah
66 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
b. mendukung terjadinya kondensasi
c. mempercepat penjenuhan uap air
d. mempercepat proses penguapan
e. meningkatkan daya ilfiltrasi
8. Kegiatan reboisasi dengan menanami pohon pada hutan gundul
mempengaruhi proses siklus hidrologi dan berdampak positif bagi
pencegahan banjir. Fungsi pepohonan hutan dalam siklus hidrologi
adalah...
a. mempercepat aliran permukaan
b. memperlambat turunnya hujan
c. mengurangi curah hujan
d. meningkatkan infiltrasi
e. mengurangi penguapan
9. Setelah tanah jenuh air, hujan akan menjadi limpasan dan mengalir ke
sungai. Faktor penyebab banyaknya limpasan di suatu wilayah adalah...
a. lamanya proses evapotranspirasi
b. rendahnya intensitas curah hujan
c. rendahnya kerapatan vegetasi
d. rendahnya kemiringan lereng
e. tingginya laju infiltrasi
10. Infiltrasi air:
(1) Ketinggian muka air tanah
(2) Porositas tanah
(3) Kemiringan lereng
(4) Unsur kimia tanah
(5) Sifat biologis tanah
(6) Vegetasi penutup tanah
Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya infiltrasi adalah nomor...
A. 1, 2, dan 3
B. 1, 4, dan 5
C. 2, 3, dan 6
D. 3, 4, dan 5
E. 4, 5, dan 6
67 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
BAB VI
SISTEM PLUMPING ( PERPIPAAN )
A. Jaringan Pemipaan (Plumbing dan Sanitasi)
Bangunan gedung pada umumnya merupakan bangunan yang dipergunakan oleh manusia
untuk melakukan kegiatannya ,agar supaya bangunan gedung yang di dibangun dapat dipakai,
dihuni, dan dinikmati oleh pengguna, perlu dilengkapi dengan prasarana lain yang disebut
prasarana bangunan atau utilitas bangunan.
Utilitas Bangunan merupakan kelengkapan dari suatu bangunan gedung, agar bangunan
gedung tersebut dapat berfungsi secara optimal. Disamping itu penghuninya akan merasa
nyaman, arnan, dan sehat.
- Ruang lingkup dari Utilitas Bangunan diantaranya adalah :
Sistem plumbingair minum
Sistem plumbing air kotor
Sistem plumbing air hujan
Sistem pembuangan sampan
Sistem pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
Sistem instalasi listrik
Sistem pengkondisian udam
Sistem transportasi vertikal
Sistem telekomunikasi
Sistem penangkal petir
Salah satu bagian dari utilitas bangunan adalah Plumbing. Termasuk dalam ruang lingkup
plumbing diantaranya adalah :sistem penyediaan air minum, sistem pembuangan air kotor, dan
sistem pembuangan air hujan didalam bangunan gedung.
Plambling dapat didefirlisikan sebagai berikut Sistem Plumbing suatu bangunan gedung
adalah ‘’ pemipaan sistem penyediaan air minum, pemipaan sistem
68 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
pembuangan air kotor, dan pemipaan sistem pembuangan air hujan’’.
Karena plumbing, merupakan bagian dari utilitas bangunan, maka tujuan penempatan
Plumbing dalam suatu bangunan gedung juga, agar penghuni bangunan gedung tersebut merasa
aman, nyaman, dan sehat.
B. Hal Umum Sistem Instalasi Plumbing
1. Sistem Air Bersih
Sumber Air bersih diambil dari sumber air tanah berupa sumur dalam (deep well). Air dari
Deep Well ini masuk ke tangki penampungan yang berfungsi juga sebagai tangki pengendap
lumpur/pasir yang terbawa dari sumur. Air dari roof tank di alirkan ke seluruh instalasi
bangunan dengan cara grafitasi.
2. Sistem Air Kotor dan Air Bekas
Untuk limbah air kotor yang berasal dari toilet dan bangunan-bangunan penunjang masuk
langsung ke septic tank yang dibuat berdekatan dengan bangunan tersebut, dan masuk ke dalam
tangki resapan serta over flow diarahkan ke saluran terdekat.
3. Spesifikasi Teknis dan Produk
a. SUMUR BOR, sebagai sumber air yang akan digunakan dibuat dengan total kedalaman
pemboran min 30 meter atau ada penambahan kedalaman dengan menyesuaikan dengan
kondisi permukaan air. Konstruksi sumur menggunakan pipa PVC AW wavin. Seluruh
pelaksanaan teknis pembuatan sumur dalam ini harus sepenuhnya mengikuti rekomendasi dan
petunjuk teknis dari instansi terkait yaitu Dinas Pertambangan Setempat dan Direktorat
Geologi Tata Lingkungan, termasuk aturan peletakan screen, ukuran konstruksi sumur yang
diijinkan, dan penentuan kapasitas pompa. Untuk menentukan lokasi titik sumur kontraktor
harus melakukan test geolistrik.
b. Pipa-pipa yang digunakan untuk instalasi plumbing ini adalah sebagai berikut :
Instalasi Air bersih untuk keperluan Domestic water (MCK) menggunakan pipa
Galvanis GIP kelas Medium, sesuai dengan standar SNI/SII (Medium A).
Instalasi Air Bersih untukProduksi Air Minum Dalam Kemasan menggunakan Pipa
PVC RUCHIKA AW Class.
69 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Instalasi Air Kotor menggunakan Pipa PVC AW Class dengan kualitas yang baik,
rekomendasi material pipa PVC yang boleh digunakan adalah : RUCHIKA, atau
WAVIN.
c. Fitting-fitting yang digunakan untuk pemipaan harus sesuai dengan standar pipa yang
digunakan.
d. Sambungan pipa air bersih dari bahan GIP, menggunakan system screw/ulir, dan setiap
sambungan ulir harus diberi lem epoxi kecuali pada penyambungan ke peralatan plumbing
seperti kran/valve menggunakan seal tape.
e. Sambungan pipa PVC menggunakan lem PVC dengan kualitas yang baik atau sesuai dengan
rekomendasi pabrik pembuat pipa PVC.
f. Kontraktor harus sudah memperhitungkan adanya gantungan atau support pipa yang akan
dipasang dengan memperhitungkan support harus kuat dan kaku. Jarak support/gantungan pipa
yang akan dipasang adalah setian 1,5 meter.
g. Untuk pipa-pipa yang ditanam dalam tanah dan harus melintas jalan, ditanam dalam tanah
dengan kedalaman yang cukup (diatas 1 meter) dan harus dilindungi dengan pipa keras dengan
diameter yang lebih besar.
h. Galian pipa dalam tanah, harus terlebih dahulu diisi pasir yang dipadatkan lalu pipa digelar
dan kemudian diurug kembali dengan pasir yang dipadatkan, sebelum diurug dengan tanah
asal.
i. Pompa-pompa yang digunakan harus dari merk yang dapat dipertanggungjawabkan
kualitasnya, termasuk juga after sales service dan ketersediaan suku cadangnya. Pompa-pompa
yang dapat direkomendasikan untuk digunakan adalah merk EBARA, GRUNDFOS,
TORISHIMA, CAPRARI, atau setara.
j. Motor listrik yang digunakan sebagai penggerak pompa harus di kopel langsung oleh
pabrik/distributor pemegang merk, dan motor listrik yang digunakan sesuai dengan
rekomendasi pabrik pembuat pompa tersebut.
k. k.Sebelum serah terima dilakukan test komisioning. Seluruh alat harus dicek fungsi dan
kapasitasnya, terutama untuk pompa-pompa harus dicek besarnya arus listrik dan temperature
kerja motor panas tidaknya.
Pekerjaan meliputi pengadaan, pemasangan, penyetelan dan pengujian dari semua
peralatan/material seperti yang disebutkan dalam spesifikasi ini, maupun pengadaan dan
pemasangan dan peralatan/material yang kebetulan tidak tersebutkan, akan tetapi secara. umum
70 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
dianggap perlu agar dapat diperoleh sistim instalasi air bersih dan instalasi air kotor yang baik,
dimana setelah diuji, dicoba. dan disetel dengan teliti siap untuk dipergunakan.
C. Lingkup Pekerjaan
Pedoman dasar teknis yang dipakai pada prinsipnya adalah PEDOMAN PLUMBING
INDONESIA 1979.
Pemasangan pipa untuk system sanitary/toilet lengkap dengan sambungan-sambungan
untuk Kran air dan bak cuci di dapur.
Pemasangan pipa untuk system air kotor (dari WC), air bekas, sesual dengan gambar.
Pemasangan pipa PVC untuk instalasi pipa vent yang dihubungkan derigan pipa tegak
air kotor maupun pipa tegak air bekas, serta pemasangan vent out pada puncak pipa.
vent tegak.
1. Bahan/Material
o Semua bahan/material yang digunakan/dIpasang harus dari jenis material
berkualitas. baik, dalam keadaan baru (tidak dalam keadaan bekas pakai/
rusak/afkir), sesuai dengan mutu dan standar yang berlaku (SII) atau standar
internasional seperti BS, JIS, ASA, DIN atau yang setaraf.
o Pemborong bertanggung jawab penuh atas mutu dan kualitas material yang akan
dipakai, setelah mendapat persetujuan pengawas/Direksi.
o Sebelum dilakukan pemasangan-pemasangan, pemborong harus menyerahkan
contoh-contoh (sample) dari bahan/material yang akan dipasang kepada
pengawas/Direksi
D. Pekerjaan Penyediaan Air Bersih
1. Bahan
Bahan/material pipa untuk distribusi air bersih adalah GIP pipe, Pipa dan fitting yang
digunakan harus mengikutl standar SII dan harus disertai sertifikat hasil pengujian.
Katup-katup (valve) untuk ukuran lebih kecjl atau sama dengan 50 mm dibuat danri
bahan kuningan dengan system penyambungan menggunakan ulir /screwed, sedangkan
yang lebih besar dari 50 mm dibuat dari bahan GIP, dengan system sambungan ulir.
71 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Penggantung pipa. (hanger) dan penjepit pipa (klem) harus dari bahan metal yang
digalvanis.
2. Pemasangan
Untuk sambungan yang menggunakan ulir harus memiliki spesifikasi panjang ulir.
Sebelum dilakukan penyambungan, baglan yang berulir harus dibersihkan terlebih
dahulu dari kotoran-kotoran yang melekat.
Setiap pemasangan katup yang menggunakan ulir harus digunakan sepasang water
moer (union coupling) untuk mempermudah pekerjaan pemeliharaan.
Semua ujung yang terakhir, yang tidak dilanjutkan lagi harus ditutup dengan dop/plug
atau blank flanged.
Pipa-pipa harus diberi penyangga, pipa-pipa tegak yang menempel sepanjang kolom
atau dinding dan pada setiap percabangan atau belokan harus diberi pengikat (klem).
Penyangga pipa harus dipasang pada lokasi-lokasi yang ditentukan.
Apabila lokasi penggantung pipa berhimpitan dengan katup, maka penyangga tersebut
harus digeser dari posisi tersebut dengan catatan pipa tidak akan melengkung apabila
katup tersebut dilepas.
Pipa-pipa induk dan distribusi harus ditest dengan tekanan hidrostatik sebesar 8 kg/cm2
dan dalam waktu minimum 8 jam, tekanan tersebut tidak turun/nalk serta tidak terjadi
kebocoran.
Instalasi yang hasil testnya tidak baik, segera diperbaiki. Biaya pengetesan, alat-alat
yang diperlukan dan biaya perbaikannaya ditanggung oleh pemborong.
Pipa-pipa yang ada di atas langit-langit, sepanjang kolom, dinding dan pada
tempat-tempat yang terlihat harus dicat dengan wama sebagal berikut:
- Pipa air bersih dengan warna biru
- Pipa instalasi fire hydrant dengan warna merah
- Pipa air bekas dan air kotor dengan warna abuabu
- Pipa air hujan dengan warna putih
Sebelum air bersih dipakai, maka air yang ada dalam pipa dibuang dulu, kemudian
sistim pemipaan diisi dengan larutan yang mengandung 50 mg/I Chloor dan didiamkan
selama 24 jam. Setelah 24 jam sistim dibilas dengan air bersih sampai kadar sisa Chloor
2 mg/l.
72 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
3. Tanki Air Atas (Roof Tank)
Tanki air atas dibuat dan bahan Fiber Glass Reinforced Plastic (FRP), dipasang 1 buah dengan
kapasitas 5000 It. Type tanki yang digunakan adalah vertical type, dilengkapi dengan lubang
inlet, outlet, drain, manhole dan ventilasi. Tanki ditempatkan pada dudukan yang kuat,
konstruksi beton besi WF
E. Pekerjaan Instalasi Sanitasi dan Lain-lain
1. Bahan
Jenis bahan yang dipakai untuk menyalurkan air bekas dan air limbah manusia dalam
bangunan memakai bahan PVC.
Pipa air buangan, air kotor menggunakan PVC klas AW untuk yang tertanam dalam
tanah.
Penyambungan pipa PVC dilakukan dengan solvent cement yang berkualitas baik.
Sebelum melakukan penyambungan pipa, bagian yang akan disambung harus
dibersihkan terlebih dahulu, bebas dari kotoran, air dan lain-lain. Solvent cement harus
merata pada bagian permukaan yang akan disambung.
2. Pemasangan
Sambungan-sambungan antara pipa PVC, diberi solvent cement darl kualitas balk yang
disetujui oleh pengawas/Direksi.
Pada pipa vent, semua ujung pipa atau fitting yang terakhir tidak dilanjutkan lagi harus
ditutup dengan dop atau plug dari bahan material yang sama.
Pipa PVC untuk saluran air kotor dan limbah manusia yang tertanam harus diberi
pondasi bantalan beton I pc + 3 ps + 5 krI pada setiap Jarak 3 m, pondasi ini juga
dipasang pada bagian sambungan pipa percabangan dan belokan.
Pipa tegak (riser) harus diberikan bantalan beton pondasi pada bagian pertemuan antara
pipa tegak dan datar di lantai dasar.
Pipa-pipa sebelum disambungkan ke fixture harus ditest dahulu terhadap
kebocoran-kebocoran.
Instalasi yang hasil testnya tidak balk, segera diperbaiki. Biaya pengetesan, alat-alat
yang diperlukan dan blaya perbalkan ditanggung pemborong.
Penanaman pada tembok harus ditutup oleh pekeriaan finishing
73 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Plpa-pipa harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak ada hawa busuk keluar, dan
tidak ada rongga-rongga udara, letaknya harus lurus. Untuk pipa air kotor mendatar
yang berukuran lebih besar dari 80 mm harus dibuat kemiringan minimal I % (satu
persen), dan pipa yang berukuran lebih kecil atau sama dengan 80 mm harus dibuat
kemiringan minimal 2 % (dua persen). Pipa limbah manusia harus dipasang dengan
kemiringan minimal 2 % (dua persen)
Pada Ujung buntu dilengkapi dengan lubang pembersih (clean out) dengan ukuran
diameter 50 mm atau 80 mm,
Ujung-ujung pipa dan lubang-lubang harus didop/plug selama pemasangan, untuk
mencegah kotoran masuk ke pipa.
F. Pekerjaan Pengujian Instalasi
1. Instalasi Air Bersih
Pipa instalasi plumbing siap terpasang seluruhnya.
Siapkan alat penekanan tekanan, pompa system mekanik atau pompa motor dan alat
ukur tekanan (pressure gauge).
Hubungkan pipa outlet dari instalasi pompa penekan ke pipa input instalasi bangunan.
Pengetesan dilaksanakan dengan cara bagian demi bagian dari panjang pipa maksimal
50 meter atau atas petunjuk Pengawas/Direksi.
Setelah selesai hubungan antara pipa instalasi bangunan dan alat pompa penekan, kran
yang berhubungan ke instalasi diseluruh posisi ditutup dengan plug sesual dimensi
kran.
Pipa instalasi stap ditest, pompa penekan dijalankan sampai pressure gauge
menunjukkan tekanan 8 kg/cm2 atau atas petunjuk pengawas/ Direksi.
Tekanan 8 kg/cm2 ini harus tetap berlangsung selama 8 jam terus menerus (atau atas
petunjuk pengawas/Direksi) tidak ada penurunan, kecuali akibat perubahan cuaca.
Untuk pemeriksaan tekanan bias dibuat daftar, dalam daftar ini tercantum tekanan
per-jam maupun keadaan cuaca pada saat uji tekan dilakukan.
Sesuai penguiian, sebelum pipa instalasi air bersih siap dipakai, maka pipa diisi larutan
yang mengandung 50 mg Chloor/lIter, dan didiamkan selarna 24 jam. Setelah itu pipa
instalasi dibilas dengan air bersih sampai kadar sisa. chloor 2 mg/I
74 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
2. Instalasi Pipa Air Kotor, Pipa Limbah Manusia.
Pipa instalasi seluruhnya siap terpasang.
Test dilakukan dengan cara mengisi sistim, pipa, dengan air dan salah satu ujungnya.
Pada bagian ujung-ujung lainnya ditutup dan air harus mencapal elevasi yang paling
atas. Demikian seterusnya baglan demi baglan sampai meliputi seluruh sistem.
Air di dalam pipa yang dimaksud ditahan sampai 8 jam. Penurunan permukaan air
maximal yang diperbolehkan adalah 10 cm.
Setelah pengujian selesai system pipa harus dibersihkan dari segala kotoran yang
mungkin ada.
G.Sistem sambungan langsung
Sistem sambungan langsung adalah sistem dimana, pipa distribusi kebangunan langsung
dengan, pipa cabang dari sistem penyediaan air minum secara kolektif (dalam hal ini pipa
cabang distribusi PDAM). Karena terbatasnya tekanan air di pipa distribusi PDAM, maka
sistem ini hanya bisa untuk bangunan kecil atau bangunan rumah sampai dengan 2 (dua) lantai.
Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem, ini adalah, air yang berasal dan pipa
cabang sistem penyediaan air minum secara kolektif (dalam hal ini pipa cabang distribusi
PDAM).
Gambar 1.13 Sistem sambungan langsung
75 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
H. Sistem tangki tekan
Biasanya sistem ini digunakan bila air yang akan masuk kedalam bangunan, pengalirannya
menggunakan pompa.
Prinsip kerja sistem ini dapat dijelaskan sebagai berikut : Air dari sumur atau yang telah
ditampuag dalam tangki bawah dipompakan ke dalam suatu bejana (tangki) tertutup, sehingga
air yang ada didalam tangki tertutup tersebut dalam keadaan terkompresi. Air dan tangki
tertutup tersebut dialirkan ke dalam sistem distribusi bangunan. Pompa bekerja secara otomatis
yang diatur oleh suatu detektor tekanan, yang menutup/membuka saklar motor listlik
penggerak pompa. Pompa berhenti bekeria kalau tekanan dalam tangki telah mencapai suatu
batas maksimum yang ditetapkan, dan bekerja kembali setelah tekanan dalam tangki mencapai
suatu batas minimum yang ditetapkan. Daerah fluktuasi tekanan biasanya ditetapkan antard
1,00 kg/cm2 sampai 1,50 kg/cm2 Pada umumnya sumber air yang digunakan pada sistem ini
adalah, air yang berasal dari reservoir bawah (yang sumbernya bisa dari PDAM atau dari sumur
atau dan PDAM dan sumur) atau langsung dari sumur (air tanah).
Gambar 1.14 Sistem tangki tekan
I. Sistem tangki atap REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
76
Apabila sistem sambungan langsung oleh berbagai hal tidak dapat diterapkan, maka dapat
diterapkan sistem tangki atap dipompakan ke tangki atas. Tangki atas dapat berupa tangki yang
di simpan di atas atap atau dibangunan yang tertinggi, dan bias juga berupa menara air. Pada
umumnya sumber air yang digunakan pada sistem ini adalah air yang berasal dari reservoir
bawah (yang sumbernya bisa dari PDANI atau dari sumur atau dari PDAM dan sumur) atau
langsung dari sumur (air tanah). Agar supaya system penyediaan air minum di dalam bangunan
gedung (plumbing air minum) dapat berfungsi secara optimal, maka perlu memenuhi beberapa
persyaratan diantaranya adalah :
Syarat kualiitas
Syarat kuantitas
Syarat tekanan
1. Syarat kualitas
Air minum yang masuk kedalam bangunan atau masuk kedalam sistem plumbing air
minum, harus memenuhi syarat kualitan air minum, yaitu syarat fisik, Syarat kirmiawi?', dan
syarat baktereiologi, yang sesuai dengan peraturan pemerintah, dalam hal ini Departmen
Kesehatan.
2. Syarat kuantitas
Air minum yang masuk kedalam bangunan atau masuk kedalam sistem plumbing air
minum:, harus memenuhi syarat kuantitas air minum, yaitu kapasitas air minum harus
mencukupi berbagai kebutuhan air minum bangunan gedung tersebut.
Untuk menghitung besarnya kebutuhan air minum dalam bangunan gedung didasarkan pada
pendekatan sebagai berikut :
Jumlah penghuni gedung, baik yang permanen maupun vang tidak permanen.
Unit beban alat plumbing .
Luas iantai bangunan .
77 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Gambar 1.15 Sistem tangki atap
1. Syarat tekanan
Tekana air yang berada pada sistem, plumbing (pada pipa) tekanannya harus sesuai dengan
kctentuan yang berlaku, diantaranya vaitu : antara 2,5 kg/cm2 atau 25 kolom air (mka) sampai
3,5 kg/cm2 atau 35 meter kolom air (mka) untuk perumahan dan hotel 4,0 kg/cm2 atau 40
meter kolom air (mka) sampai 5,0 kg/cm2 atau 50 meter kolom air (mka) untuk perkantoran.
Tekanan tersebut tergantung dari peraturan setempat.
Untuk bangunan yang berlantai banyak, misalnya 64 tingkat maka tekanan air dilantai
bawah (untuk sistem pengaliran air dengan menggunakan tangki atap) akan sangat besar yaitu
sebasar 64 X 3,50 m = 224 meter kolom air (mka). Oleh karena itu, agar air tidak, melampoi
batas yang ditentukan, maka bangunan tersebut harus dibagi dimana setiap zona tekanan airnya
tidak melarnpoi tekanan yang yang telah ditentukan.
78 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Komponen-komponen atau bagian-bagian yang penting didalam sistem penyediaan air
minum suatu bangunan diantaranya adalah :
1) Sumber air
2) Pompa air
3) Pipa air dan perlengkapannya (assesories)
4) Tangki air
5) Peralatan plumbing air bersih
1). Sumber air
Sumber air untuk sistem penyedian air minum suatu bangunan gedung ada 2 (dua) macam
yaitu : Secara individu dan Secara kolektif
Secara individu, adalah sistem penyediaan air rninum yang Sumber airnya diambil secara
perorangan atau rumah tangga / bangunan.
Secara kolektif, adalah sistem penyediaan air minum yang Sumber airnya diambil bersama –
sama atau kolektif yang diselenggarakan oleh suatu badan perusahaan, pada umumnya badan
atau perusahaan yang menyelenggarakan adalah perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Sistem yang digunakan untuk mendistribusikan menggunakan sarana pemipaan. Oleh karena
itu sistem ini juga disebut penyediaan air minum sistem perpipaan.
79 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
gambar 1.16 pembagian zona tekan
Sistem penyediaan air minum dengan sumber air secara individu
Sistem penyediaan air minum dengan sumber air secara individu dapat dijelaskan sebagai
berikut : "air dari sumber air yang, ada didalam tanah melalui sumur diangkat
kepermuk'aan tanah dengan menggunakan timba. Lalu air tersebut digunakan untuk kebutuhan
sehari-hari. Ada juga air dari sumber air yang ada didalam tanah melalui sumur di pompa
langsung ke alat-alat plumbing atau di pompa ke menara air, lalu air dan menara air dialirkan
secara gravitasi ke alat-alat plumbing. Ada juga yang menggunakan sumber air dari mata air
atau dari air permukaan (sungai atau kolam).
Sistem penyediaan air minum dengan sumber air secara kolektif dapat dijelaskan sebagai,
berikut : "air dari number air (air tanah tertekan, mata air, atau air perrrnukaan) di alirkan
melalui saluran transmisi (saluran pembawa) air baku, baik secara gravitasi maupun secara
pemompaan ke bangunan atau unit peneolahan air minum (water treatment plan) untuk diolah
agar supaya air dari sumber air yang belum memenuhi syarat kualitas air kualitas air minum
menjadi memenuhi syarat kualitas air minum. Air minum dari unit pengolaan air minum (water
treatment plan) dialirkan melalui pipa. transmisi (pipa pembawa) air minum secara gravitasi
atau pemompaan ke reservoir. Air minum clan reservoir didistribusikan ke konsumen atau
pemakai melalui pipa atau jaringan pipa distribusi (pipa atau jaringan pipa. pembagi) secara
80 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
gravitasi atau secara pemompaan atau gabungan pemompaan dan gravitasi. Tekanan air pada
pipa distribusi, maksimal 40 meter kolom air (mka) dan pada ujung pipa distribusii minimal 10
meter kolom air (mka).
Dari pipa distribusi air dialirkan ke bangunan gedung, bisa, secara langsung keperalatan
plumbing, bisa juga secara tidak langsung (menggunakan menara air).
Air dari sistem penyediaan air minum kota (PDAM) pada umumnya kualitasnya sudah
memenuhi persyaratan kualitas air minum, kalau air dari sumber air individu, ada yang sudah
memenuhi syarat kualitas air minum ada juga yang belum memenuhi. Kalau belum memenuhi
syarat kualitas air minum, maka air tersebut harus diolah terlebili dahulu agar memenuhi
persyaratan air minum, sebelum masuk ke dalarn sistem, plumbing bangunan gedung.
2). Pompa air
Pompa air adalah suatu alat untuk menaikan air dari level yang rendah ke level vang, lebih
tiriggi. Dillhat dart jenisnya dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu pompa hisap dan pompa
hisap-tekan. Pompa hisap hanya menaikan air dari level di bawah pompa kelevel sama dengan
level pompa. Pompa hisap-tekan menaikan air dari level dibawah pompa ke level diatas pompa.
Pompa centrifugal akan efektif digunakan untuk menaikan air dari kedalaman lebih kecil
atau sama dengan 7.00 meter (jarak dari pompa centrifugal dengan permukaan air yang akan
di pompa < 7.00 meter). Untuk menaikan air, bila kedalaman muka air lebih besar dari 7.00
meter dari permukaan tanah, sebaiknya digunakan pompa jet (jet pump), atau pompa rendam
(submersible pump).
Agar pompa bisa berfungsi secara optimal (terutama pada pompa centrifugal), maka udara
tidak, boleh masuk kedalam pipa hisap.
Peralatan (assesories) yang harus ada sekitar pompa adalah
Foot valve
Pipa hisap dan peralatannya
Pompa itu sendiri
Fleksible joint
Sambungan peredam getaran
Pipa tekan
81 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
Katup (valve)
Katup searah (swing valve)
Saringan (sirainer)
Kadang,-kadang manometer
Gambar 1.17 macam macam pompa air
82 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )
83 REKAYASA LINGKUNGAN ( Muhammad Doni 19640013 )