The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by desi.bpdikjur, 2021-12-20 02:53:12

Pulang Senyummu Abadi

Pulang Senyummu Abadi

kampung menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer
demi anak-anaknya agar dapat bersekolah tinggi dan
nantinya dapat memperoleh pekerjaan kantoran. Kuingat
di suatu sore sehabis sholat maghribaku duduk-duduk
bersama ibu di depan rumah sambil menikmati indahnya
sinar rembulan dan gemerlapnya langit cerah bertaburkan
bintang. Sesekali kudengar suara jengkerik bernyanyi
bersahut-sahutan. Suasana rumah kami sepi karena hanya
ada ibu dan kedua adikku Dwi dan Tri. Kedua adikku
bermain motor-motoran dengan menggunakan bangku
panjang yang sudah lusuh berlumur debu dan rapuh
dimakan rayap. Sementara kepalaku kurebahkan di
pangkuan ibu, dengan suara parau ibu berkata.

“Nduk kowe kudu sekolah sing dhuwur ben iso
kerjo kantoran lan urip mulyo”, katanya. Maksudnya saya
disuruh sekolah yang tinggi akan bisa bekerja di kantor
dan bisa hidup berkecukupan. Hingga kini air mataku
tak bisa kubendung bila ingat pesan beliau, bahkan
semakin deras dan merinding ketika ibu menambahkan.

“Aku ora bisa nyangoni bondho donyo Nduk, tak
sekolahke wae sing dhuwur mbuh piye carane ben kowe
lan adi-adimu biso nggolek duit sing akeh”, lanjutnya.
Maksudnya ibu tidak bisa memberi bekal warisan berupa
harta benda, kecuali hanya memberi bekal pendidikan.

Pendidikan yang diberikan orang tuaku sejak kecil
sungguh tak berbanding dengan anak-anak sebayaku pada
waktu itu. Teman-teman seusiaku dapat bermain dan jajan
apa saja sesuai keinginan hati mereka sementara aku

46

harus belajar dan bekerja membantu ibu mulai dari
memasak, mencuci, menyapu, dan menjaga adik-adikku
yang masih kecil. Jarang aku mendapat ijin untuk bisa
bermain dengan teman-teman meskipun hanya sekadar
bermain lompat tali atau berkejar-kejaran. Terlebih
setelah adikku ketiga lahir ibu makin sibu karena mulai
membuka warung kelontong kecil-kecilan berukuran 3x3
meter. Pekerjaanku tentu saja semakin bertambah, di sela-
sela waktu luang aku harus membantu menjaga warung.
Perekonomian keluarga kami semakin membaik dan
bapakku bisa membeli sawah tahunan, artinya membeli
sawah untuk dikerjakan dalam jangka waktu tertentu
misalnya 3 tahun, 5 tahun, atau 8 tahun. Aku semakin
yakin bahwa kedua orang tuaku benar-benar
menginginkan anak-anaknya bersekolah tinggi. Meski
lelah aku harus tetap bersemangat mewujudkan cita-cita
beliau.

***

Aku dinyatakan lulus sekolah dasar dengan nilai
yang cukup baik, cepat-cepat kubawa pulang selembar
ijazah dengan angka-angka yang cukup membanggakan
untuk dapat melanjutkan ke sekolah menengah pertama.

Pendaftaran sekolah pun tiba, aku terpaksa harus
berangkat sendiri, karena ibu memerintahkan aku untuk
mandiri dan harus dapat memberi contoh ketiga adikku
yang masih kecil. Buliran air mata mengalir begitu saja
ketika kudapati teman-temanku diantarkan oleh orang

47

tuanya.“Duh, aku seperti anak terbuang yang tiak punya
siapa-siapa”. Bapakku pergi ke sawah pada waktu itu
dan ibu melahirkan adikku si kembar. Tapi mengapa aku
dilepaskan pergi sendiri tanpa kekhawatiran apa-apa. Aku
merasa ibu tidak khawatir karena ibu menyuruhku
berangkat sendiri dengan suara keras. Untung saja pada
waktu mengisi formulir pendaftaran aku dibantu oleh
tetanggaku, Pak Pur, yang kebetulan juga mendaftarkan
anaknya di sekolah yang sama denganku. Sama ketika aku
masuk ke sebuah SMA, aku pun juga mencari sekolah
sendiri. Ingin sekali aku masuk ke sekolah perawat pada
waktu itu dan harus membayar dua juta rupiah. Impianku
langsung kandas tatkala ibu tidak bisa menyediakan uang
yang kuminta. Kugantungkan harapan pada angan yang
hampa, kugantungkan harapan pada imajinasi semata.
Peristiwa ini begitu berat menindih hati dan perasaanku,
rasanya aku tak ingin lagi melanjutkan sekolah tinggi.
Kembali terngingang suara lantang menggelegar, “Sing
penting sekolah sing dhuwur, ora sah milih-milih sing
mbayare larang” suara ibu terdengar menggelegar penuh
amarah sementara bapakku hanya diam seribu basa.
Akhirnya kupupus angan-anganku dan masuklah aku ke
sebuah SMA swasta di kota kelahiranku yang pada
waktu itu hanya membayar seratus enam puluh lima ribu
rupiah. Aku harus mengayuh sepeda jengki lusuh
menempuh jarak 10 km tiap hari dengan menyusuri jalan
kota kabupaten. Sebagian besar teman-temanku sudah
naik angkot atau naik kendaraan ke sekolah. Teman-

48

teman selalu mencibirku, “Kamu kan anak orang kaya
Sit, mau-maunya tiap hari naik sepeda onthel”. Perih
rasanya mendengar ledekan teman-temanku. Memang
setahun setelah aku bersekolah di SMA perekonomian
keluargaku semakin meningkat, bisa dikatakan naik
drastis. Bapakku bisa membeli mobil izuzu doplak dan
sebuah kendaraan roda 2. Toko kelontong ibu juga
semakin ramai dan besar bahkan dalam waktu singkat
bisa membangun toko yang lebih besar. Meskipun begitu,
aku tidak boleh sombong bahkan ibu terus mengharuskan
aku untuk tetap hidup sederhana dan terus bekerja keras.
Terkadang bapak tidak tega melihatku kelelahan
bermandikan keringat saat pulang sekolah terbakar terik
matahari, sampai di rumah terus membantu bapak ke
sawah, pulang masih harus membantu ibu menyelesaikan
pekerjaan dapur, terus menjaga adik-adikku. Uang jajan
pun nyaris tidak pernah diberikan, tetapi ketika aku minta
jajan ibu langsung membuatkan sendiri agar lebih hemat
kata beliau. Itulah aturan yang ada di rumahku, tetap
harus hidup sederhana, bekerja keras, belajar, dan selalu
memanfaatkan waktu sepanjang hari. Begitulah cara ibu
mendidikku.

Hal yang sama kembali terulang saat aku lulus
SMA, aku mendapatkan pelajaran berharga lagi buat
kehidupanku. Ibu menyuruhku untuk berjualan jamu
gendong seperti Lek Ni, adik bapakku yang kaya raya
memiliki sawah berhektar-hektar, rumah besar, bagus,

49

dan ternaknya banyak. Itulah ukuran kekayaan di desa
tempat tinggalku.

“Kono melu lek Ni wae nduk dodol jamu gendong,
duite akeh”. Kata-kata ibu begitu pedas kurasakan,
benar-benar menamparku ke lembah yang paling bawah.
Aku tidak pernah mengerti dulu ibu mengatakan aku
harus bersekolah tinggi agar dapat bekerja di kantor dan
hidup bahagia, tetapi mengapa kini tiba-tiba berbalik 180
derajat. Impian masa depan gemilang yang sudah mulai
kuukir pun nyaris sirna, apalagi adik bungsuku lahir
pada waktu itu. Aku menjadi bahan ledekan teman-teman
SMA-ku karena sudah gede masih punya adik bayi dan
aku harus menggendongnya setiap waktu. Ini pun juga
menjadi pukulan berat bagiku, semua tenagaku kukuras
habis untuk menyelesaikan pekerjaan rumah membantu
ibu dan menjaga kelima adikku.

***

Aku adalah anak sulung dan satu-satunya anak
perempuan bapak dan ibu. Kata orang-orang kampung
seharusnya aku dimanja bukan disia-siakan, diperas
tenaganya, bahkan tidak boleh keluar rumah bermain
dengan teman-teman sebayaku. Dalam kondisi seperti ini
rasanya selalu ada yang berbisik lirih, yang sabar ya
anakku bocah ayu lakukan semua dengan ikhlas hati
karena ini adalah tempatmu menempa diri dan belajar.
Hampir tiap malam aku terjaga terus karena adikku
yang masih kecil-kecil pasti pipis di tengah malam buta,

50

minta dibuatkan susu, bahkan minta digendong sepanjang
malam. Ketika rasa lelah menghampirku, kembali suara
misterius itu terdengar merdu, sabar anakku, di sinilah
tempatmu belajar.

Aku tumbuh menjadi gadis pendiam, hitam, kurus,
lusuh, kumal, dan dekil karena tak pernah ada waktu
untuk mengurus diri. Berbeda dengan gadis-gadis sebaya
di kampungku, mereka cantik-cantik, rambut dikucir dan
dikepang dua bak tanduk kuda, kulit bersih, baju bagus,
bermain berlarian kesana kemari tampak sungguh sangat
bahagia.Aku teringat setiap malam takbir tiba, air mata
tumpah bak sungai bengawan Solo yang memanjang
hingga ke ujung kaki. Bagaimana tidak melihat
ketidakadilan antara aku dan kelima adikku. Mereka
sudah dibelikan baju baru, aku cukup disuruh memakai
baju lama yang sudah usang karena dianggapnya aku
sudah gede dan terkadang disuruh memakai baju ibu.
Yang lebih menyakitkan lagi pada hari lebaran tiba
semua keluargaku pergi ke rumah kakek nenekku, aku
disuruh menjaga warung sendirian di rumah. Lagi-lagi
bisikan misterius kembali menghampiri, tetap sabar dan
kuat anakku. Bisikan-bisikan itulah yang membuatku
tetap bersemangat bahkan aku berjanji pada diriku sendiri,
aku harus sekolah tinggi.

Kembali kata-kata ibu bergema di sudut hatiku
sembilan atau sepuluh tahun lalu ketika aku masih
duduk di bangku sekolah dasar. Kata-kata itulah yang aku
jadikan sebagai pedoman bagiku untuk dapat sukses

51

dalam kehidupan, sekolah tinggi, kerja kantoran, dan
hidup bahagia serba berkecukupan. Kukuatkan niatku,
selepas SMA aku harus melanjutkan kuliah apapun
alasan dan pasalnya. Aku harus kuliah, aku harus kuliah
di tempat yang jauh agar aku bisa lebih mandiri, aku
harus kuliah dan menjadi seorang sarjana.

***

Angka-angka di buku raportku dapat kujadikan
modal dasar untuk mendaftar kuliah melalui jalur
PMDK dari SMA Veteran tempat aku belajar.
Alhamdulillah diterima tanpa tes tanpa bersusah-surah
berebut bangku melalui jalur SIPENMARU. Aku
diterima di Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Bahasa dan
Sastra Indonesia IKIP Negeri Semarang, yang sekarang
menjadi UNNES. Menurut orang-orang dewi fortuna telah
datang menghampiriku dan membawaku pada menuju
kesuksesan. Tapi bagiku semua itu karena kemurahan
Tuhan, karena limpahan karunia dan rahmat-Nyalah saya
bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Semua
terjadi di luar nalar dan kemampuanku. Kembali bisikan
misterius itu datang, kamu harus berangkat nak
berjuanglah dengan sekuat tenaga.

Kuberanikan diri untuk bicara pada bapak ibu dari
hati ke hati dengan rasa takut yang tak pernah kurasakan
sebelumnya. Kujelaskan bahwa aku sudah diterima
kuliah di semarang dan harus membayar uang SPP Rp
195.000,00. Aku juga pamit kalu besuk akan berangkat

52

sekalian mencari tempat kos. Bapak menganguk-angguk
tanpa mengeluarkan kata sepatah pun, mungkin itu
sebagai pertanda bahwa beliau telah setuju dan
merestuiku. Biarlah itu kuterjemahkan dengan bahasaku
sendiri. Tidak lama berselang aku dikejutkan dengan suara
Ibu, “Sekolah kok dadak adoh-adoh,” sambil membanting
pintu kamar. Kutunggu hingga larut malam kamar ibu
tidak dibua, suasana rumah kami hening kecuali suara
tangisan adikku si Halim yang rewel minta susu karena
kehausan dan kegerahan.

Malam itu menjadi malam penuh pengharapan dan
penantian yang menentukan masa depanku kelak. Mata
tak bisa kupejamkan, anganku mengembara jauh ke
negeri seberang, dan kubayangkan sebuah kantor megah
tempat aku bekerja lima tahun mendatang. Kupandangi
wajah-wajah lugu nan lucu keempat adikku karena adik
bungsuku si Halim masih menyusu ibu. Aku harus kuat
dan tega meninggalkan mereka semua, aku harus tega
melihat ibu banting tulang pontang-panting menjaga
keempat adikku, aku harus tega membiarka bapak
bermandikan keringat tiap hari di bawah terik tanah
persawahan garapan. Pagi harinya aku berpamitan dengan
bapak dan ibu dan tanpa kuduga ibu memberiku uang Rp
300.000,00. Aku berangkat ke Semarang ikut temanku
satu sekolah bernama Sutini. Temanku beruntung diantar
oleh bapaknya sementara aku hanya ikut bareng ke
Semarang naik bus. Aku tidak bisa membayangkan

53

seandainya aku harus berangkat sendiri, bisa-bisa aku
hilang.

Pendidikan kutempuh empat setengah tahun, aku
lulus menjadi seorang sarjana yang biasa-biasa saja. Di
tempat yang jauh inilah aku baru merasakan betapa ibu
adalah seorang yang berharga dalam hidupku. Aku didik
dan dibesarkan dengan cara yang berbeda dengan orang-
orang kebanyakan di kampungku. Berkat didikan ibu aku
dapat tumbuh menjadi gadis yang pemberani dan mandiri.

Selama aku kuliah di Semarang ibu belum pernah
mengunjungiku, melihat kampusku atau melihat tempat
kosku. Ibu juga tidak pernah tahu apa yang aku lakukan
di Semarang, tempat kosku dimana, dan bagaimana
kehidupannku. Pada aalnya memang sakit karena aku
serasa dibiarkan begitu saja menjadi anak yang terbuang,
tapi di balik itu aku baru menyadari bahwa ibu begitu
menyayangiku dengan memberikan bekal hidup untuk
menjadi anak yang kuat, mandiri, dan pemberani.

Suatu hari ketika aku pulang kampung saat liburan
kampus aku mengunjungi nenekku yang berada agak jauh
dari desa tempat tinggalku. Nenek bercerita banyak
tentang ibu. Semua yang ibu lakukan selama ini ternyata
hanya untuk melatihku menjadi anak yang kuat, cerdas,
mandiri, pemberani, punya daya juang tinggi, pantang
menyerah, dan yang paling penting nantinya menjadi
anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Terlebih
lagi aku adalah anak perempuan satu-satunya dan ibuku
menaruh harapan yang tinggi bahwa nantinya aku harus

54

dapat menggantikan posisi ibu sebagai orang tua dari
kelima adikku. Selain itu aku juga diharapkan bisa
menjadi panutan dan contoh yang baik buat adik-
adikku. Nenek yang biasa kupanggil mbah putri terus
nerocos membicarakan perihal ibu. Ternyata selama ini
ibu mencurahkan semua isi hatinya kepada ibunya yang
tak lain adalah nenekku. Semua diungkap dengan lembut
mengharukan. Aku baru menyadari betapa selama ini ibu
sangat mecintai dan menyayangiku. Betapa beratnya ibu
harus bersandiwara sekian lama dengan keras mendidikku.
Ibu sendiri sebenarnya tidak tega memperlakukan aku
seperti seorang pembantu, tetapi semua itu harus beliau
lakukan demi keberhasilan hidupku di masa mendatang.
Aku tak bisa berkata sepatah pun kecuali cucuran air
mata yang tak bisa aku bendung. Ingin rasanya aku
segera berlari ke pangkuan ibu minta maaf karena
selama ini aku telah berburuk sangka. Ingin rasanya
kupeluk tubuh ibu erat-erat dan membisikkan rasa terima
kasih yang tak terhingga. Aku pun juga teringat guru
bahasa Indonesiaku waktu SMA, Bu Gati Setiti, beliau
mengajarkan peribahasa bahwa kasih anak sepanjang
galah kasih orang tua sepanjang jalan. Seperti yang
kulakukan saat ini kasihku, cintaku kepada ibu hanya
sebatas waktu aku masih kecil.

Ketika aku mulai dididik diberi beban pekerjaan
untuk membantu mengerjakan semua pekerjaan rumah,
aku mulai tidak suka dengan perlakuan ibu bahkan aku
mulai membencinya. Aku beranggapan bahwa ibu benar-

55

benar membenciku benar-benar tidak suka denganku.
Tuhan telah mengingatkanku melalui ngendikan mbah
putri, tentang apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan
ibu. Mata dan hatiku mulai terbuka bagai menemukan
mutiara yang hilang, menemukan bintang gemintang di
tengah malam buta, dan menemukan air di tengah
padang tandus. Alhamdulillah Ya Allah Engkau telah
membawaku kembali pada ibu. Aku terus saja terisak-isak
di pangkuan mbah putri sambil melayangkan angan
jauuuuuuh ke dasar pengembaraan perjalanan hidup yang
pernah aku lewati lengkap dengan segenap suka duka
pahit getir kehidupan. Yang semuanya pada akhirnya
akan berbuah manis. Satu yang kesesalkan mengapa aku
harus membenci ibu.

Oh Tuhan, ampuni dosa-dosa hamba, dosa kedua
orang tua hamba, dan muliakanlah mereka Ya Allah. Aku
tahu mbah putri berusaha menenangkanku dengan belaian
nan lembut dan kata-kata nan indah yang menyejukkan,
tapi bagiku justru membuat penyesalanku semakin
mendalam dan menambah rentetan dosa yang kulakukan
terhadap ibu.

***

Suatu sore kulihat mendung menggelantung di atas
sanatapi langit tampak begitu cerah. Sinar jingga
keemasan menembus celah-celah awan dan sinarnya
meredup menyejukkan bumi.

56

Alam seakan mengisaratkan kegalauan suasana
hatiku. Aku berlari mencari ibu kupeluk erat tubuhnya,
aku menangis sejadi-jadinya. Kurasakan kehangatan tiada
tara berada dalam dekapan ibu di saat usiaku menjelang
22 tahun, usia yang sudah bisa dibilang dewasa. Lidahku
kelu tak mampu mngeluarkan kata barang sepatahpun. Di
sela isak tangisku yang mulai mereda ibu membisikkan
kata-kata meneduhkan sama persis dengan bisikan-bisikan
misterius yang selama bertahun-tahun aku alami. Yang
membedakan adalah apa yang terjadi saat ini sungguh
nyata dan aku alami dengan sesungguhnya. Suara lembut
ibu benar-benar terdengar di telingaku dan masuk dalam
relung hati. Ibu bagiku benar-benar seorang bidadari
yang selalu setia mengiringi langkah kaki kemana aku
pergi, selalu menguatkan hati ketika aku rapuh, dan selalu
membangkitkan semangat juang ketika aku hancur,
selalu membahagiakan ketika aku berada diujung
penderitaan, dan selalu mengatakan bahwa aku bisa,
sangup, dan mampu mengatasi semua persoalan dalam
hidupku. Kudengar dengan jelas doa-doa terindah ibu
panjatkan hanya untukku. Suatu hari nanti aku akan hidup
dalam berkecukupan dan menjadi orang yang
bermartabat. Semoga aku nanti dapat memperoleh
pendamping hidup yang baik yang dapat menjadi teman
sepanjang hayat dunia dan akherat. Beberapa lelaki yang
datang pada ibu dan berniat untuk mendampingiku, tapi
ibu selalu menolak dengan halus, masalah jodoh biarlah
anak yang memilih dan Tuhan yang menentukan.

57

Ibu benar-benar bijaksana.
Setelah mendapatkan banyak wejangan ibu mencium
mesra keningku. Pelan kulepaskan pelukan ibu dan aku
bersujud mengucap syukur pada Tuhan, bersimpuh di
hadapan ibu, kucium mesra tangan beliau dan aku minta
maaf atas semua salah dan dosa-dosaku pada ibu. Selama
ini aku telah salah sangka terhadap perlakuan ibu. Semua
yang beliau lakukan hanya demi kebahagiaan dan
kesuksesan hudupku kelak. Benar adanya bahwa surga
berada di bawah telapak kaki ibu. Sejak peristiwa itu
hari-hariku berubah menjadi penuh warna. Lengkuas
keceriaan terbersit di ujung bibir. Semua yang kulakukan
menjadi keikhlasan yang tak mengharapkan balas dan
pamrih. Aku pun bangga memiliki kelima adik laki-laki
yang gagah dan berani. Semua karena ibu hebat luar biasa.
Tidak lama kemudian aku dapat menyelesaikan
skripsiku dengan bantuan seorang teman yang kuanggap
sebagai kakakku sendiri. Sampai sekarang aku
memanggilnya mbak Roem bahkan ibu pernah bilang,
“Anakku wedok saiki jadi loro”. Anak perempuanku
sekarang jadi dua bahkan ibu pun akrab dengan mbak
Roem. Hal yang membahagiakan saat wisuda aku
ditunggui oleh bapak dan ibu. Aku bangga karena bisa
menjadi seorang sarjana dan bisa bekerja kantoran,
yaitu mengajar di sebuah SMK.
Tidak bisa dibohongi usia terus berjalan, ibu
semakin tua dan renta. Setelah aku menikah dan pindah
ke kota Kendal mengikuti suami, aku tak lagi dapat

58

melihat ibu setiap hari, hanya sesekali aku pulang
kampung mengunjungi beliau. Aku tahu sebenarnya
beliau tidak menginginkan aku pergi dari rumah, tapi
karena rasa cintanya padaku ibu rela melepasku pindah ke
kota lain. Belum sempat aku membahagiakan ibu, beliau
sakit. Pada awalnya kena hipertensi, setahun kemudian
kena diabetes.

Aku terbangun dari berjuta kenangan bersama ibu
ketika sampai di tempat parkir. Angin berembus lirih
menembus celah pepohonan, hari beranjak senja pertanda
malam akan segera tiba. Suasana rumah sakit sepi, sunyi,
senyap, dan hanya ada beberapa orang berseragam putih-
putih berlalu berlalu lalang menyusuri koridor rumah
sakit tanpa berkata-kata. Sesekali terdengar suara
belalang cetak cetik berpindah dari satu ranting ke
ranting lain. Rumah sakit ini memang sejuk banyak
pepohonan hijau nan rindang.

Aku berlari menuju ruang ICU. Kudapati tubuh
yang terlihat renta tergolek lemas tak berdaya. Hampir
seluruh bagian tubuhnya dipasang alat mulai dari alat
buang air kecil, alat bantu pernapasan, alat deteksi
jantung, dan masih banyak lagi yang aku sendiri tidak
tahu apa namanya. Kupeluk tubuh ibu yang kulihat
semakin lunglai, matanya terpejam, kulitnya berkerut,
wajahnya pucat. Tubuh yang dulu gemuk segar padat
berisi kini tampak kecil dan layu. Menurut dokter, ibu
sudah tidak sadar. Dalam tangisku aku terus lantunkan
doa-doa terindah agar ada keajaiban. Beliau bisa

59

membuka mata dan diberi kesmbuhan oleh Alllah. Waktu
itu hanya ada aku, suamiku, dik fajar dan istrinya, dik
Halim dan istrinya. Satu minggu yang lalu baru saja Dik
Halim menikah dengan Dik Mita, pernikahannya pun
juga mengharu biru.

Satu hari menjelang ijab khobul, ibu kena serangan
jantung dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Pagi
harinya upacara ijab qobul itu tetap berlangsung, baru saja
selesai akad nikah aku sebagai anak sulung sudah
ditelepon dari pihak rumah sakit bahwa ibu butuh
penanganan serius, tanpa berpikir panjang aku langsung
menggandeng Dik Dewi menuju rumah sakit, aku tidak
bicara apa-apa supaya tidak merusak suasana akad nikah
adik bungsuku.

Rencana syukuran pernikahan mereka akan
dilaksanakan pada bulan Februari 2019. Harapan keluarga
kami ibu sudah sembuh, bisa berbahagia bersama
keluarga karena ini adalah acara mantu terakhir anak
bungsu. Sampai di rumah sakit aku langsung
menandatangani persetujuan pemasangan alat jantung
pada tubuh ibu. Dengan gemetar memohon pertolongan
Allah kutandatangani persetujuan itu. Dengan harap-harap
cemas aku menunggui ibu. Sebuah keajaiban sore harinya
ibu bisa ngendikan, “Halim karo Mita ndi aku meh
weruh”. Seperti sudah diskenario, tiba-tiba Dik Halim dan
istrinya masuk ruangan langsung mencium tangan ibu dan
memeluknya.

60

Aku tak dapat menahan keharuan itu.
Ada setitik kebahagiaan dalam keharuan yang tak
dapat kuungkap walau hanya dengan sebuah kata. Kulihat
ada lengkung senyum indah di ujung bibir ibu yang
selama ini sudah jarang kami temui. Sorot mata bahagia
benar-benar terpancar pada sore itu. Waktu itu semua
anak cucu kumpul di rumah sakit kecuali bapak. Beliau
hanya menengok sesekali karena tidak kuat melihat
istrinya tergolek di rumah sakit. Dan kalau pun
dipaksakan penyakit jantung bapak akan kambuh. Seperti
sudah diskenario juga tiba-tiba bapak datang diantar
Yuan, tetangga sekaligus sahabat karib Dik Halim.
Lengkap sudah seluruh keluarga besar kami kumpul
meski pun berada di rumah sakit.
Skenario Tuhan memang sungguh luar biasa,
keajaiban datang tanpa diduga. Ibu bisa berkomunikasi
dengan suami, anak, menantu, dan cucu. Alhamdulillah
Ya Allah semoga ini bisa menjadi obat bagi ibu agar
cepat sembuh. Dengan penuh pengharapan aku tetap
memohon agar ibu segera diberi kesembuhan oleh Allah,
bisa segera pulang ke rumah berkumpul bahagia dengan
keluarga. Ada perubahan drastis kondisi ibu berangsur
membaik. Dalam beberapa hari semua alat-alat yang
menempel di tubuh ibu sudah dilepas dan ibu dinyatakan
sembuh.
Kondisi pada saat ini tidak jauh berbeda dengan
kondisi pada waktu ibu kena serangan jantung yang
pertama. Semoga beliau segera sadar, kondisinya

61

membaik, bisa pindah ke ruang perawatan, dan kondisi
nya segera pulih. Suasana di bangsal ruang ICU tempat
ibu dirawat hening, yang ada hanya isakan tangis dan
lantunan doa penuh pengharapan dari anak-anaknya.
Kami tidak pedulikan bahwa aturan berkunjung di ruang
ICU hanya satu atau dua orang. Kami berempat ditambah
para menantu menunggui ibu kecuali Dik Amir dan Dik
Dwi yang masih dalam perjalanan dari Kota Bogor.

Malam semakin larut dan kondisi ibu semakin
memburuk. Suasana hati kami sungguh kacau, bingung,
tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya berdoa dan
membaca surat Yassin atau surat apa saja yang kami bisa.
Menurut dokter penyakit yang diderita ibu sudah menjalar
ke seluruh tubuh bahkan tadi siang sudah dipasang selang
di perut untuk mengeluarkan cairan. Dan yang paling
menegangkan adalah ketika dokter datang dan salah satu
dari kami harus menandatangani surat yang menyatakan
bahwa ibu hanya bergantung pada alat-alat yang dipasang
di tubuhnya, selebihnya jika ada salah satu alat tersebut
dilepas maka secara kedokteran ibu sudah tidak bisa
ditolong. Dokter juga menuturkan, “Kasihan ibu lho
Mbak, Mas kalau terus-menerus dibiarkan seperti ini,
terus mau bertahan sampai kapan. Dengan alat-alat ini
justru akan menambah penderitaan ibu.” Ya Allah
sedikitpun aku sudah tidak bisa berpikir, sebuah dilema
yang pilihannya sama-sama berat, jika alat itu tetap
terpasang ibu kesakitan tiada tara, jika dilepaskan tentu
saja kami belum rela.

62

Tiba-tiba bapak datang ke rumah sakit sama seperti
dulu diantar oleh Yuan.

Tanpa berkata-kata beliau berdoa di samping
istrinya. Kulihat air mata bapak meleleh. Hal ini belum
pernah aku lihat sebelumnya selama aku menjadi anak
bapak dan ibu. Bapak berdoa lama sekali mengadu
mencurahkan segala keinginannya kepada Yang
Mahakuasa. Aku dan anak-anak mantu perempuan terus
menangis tiada henti, sementara ketiga adikku masih
kuat membaca surat Yassin.

Setelah bapak mengusap wajahnya dengan kedua
telapat tangan sebagai pertanda doanya telah selesai,
beliau dipapah oleh dua orang perawat dan duduk di
hadapan dokter. Beberapa dari kami berlari mengikutinya,
aku dan Dik Fajar. Dengan lemas gemetar bapak
memberanikan diri menandatangani persetujuan yang
disarankan dokter tadi. Tanda tangan belum juga selesai
bapak sudah jatuh tersungkur ke lantai, kami semakin
panik. Ya Allah apa lagi yang akan terjadi, beri kekuatan
pada kami Ya Allah. Tanpa sadar aku menjerit sekeras-
kerasnya. Bapak dipapah keluar ruangan ICU dan
ditenangkan, ternyata jantungnya kambuh, dadanya
berdebar kencang, tapi beliau bersikeras untuk pulang ke
rumah. Kami pun tak kuasa untuk menolaknya karena
jika itu kami lakukan kondisi bapak akan semakin
memburuk. Akhirnya Yuan tetap setia mengantar bapak
pulang dan menemaninya di rumah.

63

Belum juga berganti menit, Lek Ni, adik bapak
seorang penjual jamu gendong yang sukses itu datang.
Katanya dia akan melihat kondisi ibu dan meminta maaf
siapa tahu besok sudah tidak bisa bertemu lagi. Kata-
kata itu sungguh menyakitkan, sebuah tamparan yang
membuat balur luka di atas luka, pedih, perih, dan
menusuk-nusuk. Kami hanya diam dengan pemandangan
itu, mulutnya komat-kamit mungkin minta maaf atau
berdoa aku tidak begitu pedulikan. Yang ada di kepalaku,
siapa yang akan menjaga bapak jika terjadi apa-apa pada
beliau. Seberapa besar rasa sakit hatiku masih aku tahan
dan ini sebuah kesempatan untuk minta bantuan pada Lek
Ni. Bulik pulang ke rumah saja, menjaga bapak, kasihan
beliau sendirian, tadi jantungnya kambuh. Mendengar
kata-kataku Lek Ni langsung kabur meninggalkan rumah
sakit, maklumlah bapak adalah kakak kesayangannya.
Dengan begitu hatiku sedikit lega, tapi ketika kulihat
wajah ibu yang makin tak berdaya kembali aku berderai
air mata.

Aku sudah tidak bisa melukiskan kondisi ibu
dengan apapun juga kecuali dengan air mata dan doa.
Kondisi ibu semakin bertambah buruk, Dik Amir dan dik
Dwi yang belum juga sampai aku telepon, “Tolong
ikhlaskan ibu ya le, kasihan ibu, kata dokter ibu sudah
tidak kuat lagi”. Satu lagi adikku yang ketiga, Dik Roh,
bekerja di kapal Malaysia, juga sudah bersiap untuk
pulang. Di saat yang sama istri Dik Roh juga sedang
menjalani opname di rumah sakit Nirmalasuri Sukoharjo

64

karena tipus. Keluarga kami memang sedang diuji oleh
Allah, harapanku semoga akan ada keajaiban-keajaiban
dan badai akan segera berlalu.

Malam bermandikan rembulan dan gemerlapnya
bintang gemintang. Mentari kan kembali bersinar terang
esok hari. Suasana gembira dan bahagia penuh canda
tawa akan hadir kembali mewarnai hari-hari.

Malam semakin larut, kondisi ibu semakin buruk,
suasana ruang ICU semakin sepi hanya ranjang tempat
beliau berbaring yang penuh denga orang-orang yang
tak lain adalah anak dan menantu ibu. Doa semakin
kencang kami panjatkan. Si kecil Halim menuntun ibu
untuk melafalkan takbir, tahlil, dan tahmid bergantian
dengan Dik Fajar. Kami yang perempuan-perempuan
menangis semakin keras.

Beruntung aku didampingi suami yang selalu setia
menemani dalam segala suasana. Suamiku adalah saudara
Mbak Roem. Beliau adalah sahabatku yang kini telah
menjadi anak ibu. Mbak Roem belum kukabari karena
beliau masih sibuk dengan urusan kantor yang tidak bisa
ditinggalkan. Sengaja aku memberi kabar karena beliau
pasti panik dan langsung berangkat ke Solo malam itu
juga. Aku akan beritahu perihal ibu besuk pagi sehabis
sholat subuh. Dua orang perawat terus berjaga di samping
kami bahkan ikut terharu melihat kami terus saja mendoa
tiada henti demi kesembuhan ibu tercinta.

Kami tidak menyadari tiba-tiba seorang dokter
perempuan sudah berada di antara kami. Tubuhku

65

digoncang-goncangkan, “Mbak sebentar ya saya tak
matur,” aku langsung menengadah dan kulihat ada
secercah harapan kondisi ibu membaik, “Ibu sudah
pulang, beliau sudah pergi”.

Aku menjerit dan menangis sejadi-jadinya.
Secercah harapan yang kubangun hilang begitu saja,
hancur diterjang gelombang besar terhempas ke tengah
lautan. Adik-adikku berusaha menenangkanku, aku harus
merelakan, mengihklaskan kepergian ibu agar jalannya
lapang dan terang menuju surga.
Ibu pulang hari Rabu, 18 September 2018 pukul
23.00 wib tepat berusia 63 tahun.
Bagiku itu usia yang belum terlalu tua, tapi kata
orang-orang itu bagus sama dengan usia Nabi
Muhammad. Ibu pergi dalam kondisi yang baik, sakitnya
tidak begitu lama, tidak merepotkan anak cucu, tugasnya
di dunia telah selesai. Beliau telah sukses mengantarkan
keenam anaknya menjadi sarjana padahal beliau hanya
lulusan SMP dan berawal dari seorang penjual jamu
gendong. Pahit getirnya kehidupan telah beliau jalani
lengkap dengan segala suka dan duka.
Aku harus kuat, aku harus bisa mewujudkan cita-
cita dan harapan beliau, aku harus bisa melaksanakan
pesan-pesan beliau semasa hidupnya. Satu yang membuat
penyesalanku begitu mendalam, aku belum bisa membalas
semua kebaikan dan pengorbanan beliau. Aku sibuk, Dik
Fajar dan suamiku mengurus administrasi kepulangan

66

jenazah ibu. Tepat pada saat pengurusan administrasi,
Dik Amir datang.

Deru suara ambulan pada tengah malam itu
membuat kaget para tetangga. Meski sudah ada kabar
satu jam yang lalu, mereka belum percaya kalau ibu telah
tiada. Mereka setia menunggu kedatangan jenazah ibu
ada di tengah malam buta. Rumah tempat tinggal kami
waktu kecil sudah penuh dengan orang-orang. Tetangga
dan saudara sudah berdatangan sejak ada kabar bahwa
ibu telah meninggal. Ada yang membersihkan rumah
mulai dari ruang depan sampai belakang bahkan sampai
dapur. Ada yang menyiapkan air untuk memandikan.

Pada saat dimandikan kukuatkan diri untuk
menyentuh tubuh ibu yang terakhir, aku ingin menjadi
anak yang berbakti. Kutahan air mataku agar tidak jatuh
menetes, kubersihkan tubuh beliau dengan penuh
kelembutan. Siraman air dan cahaya lampu neon pada
dini hari itu membuat tubuh beliau berkilau bercahaya
putih segar lembut dan kenyal. Wajahnya cantik bersinar
terang. Aku berpikir ibu masih ada, beliau hanya tidur
beristirahat kelelahan. Begitu dikafani terlihat anggun
dengan balutan kain ikrom berlapiskan kafan. Ada
senyum manis di ujung bibir, cantik memesona.

Aku tidak memejamkan mata hingga fajar tiba
terus terjaga menunggui jenazah ibu yang akan dimakam
kan besuk. Pagi hari orang-orang berdatangan silih
berganti, tak terhitung jumlahnya. Aku tak pedulikan
siapa saja yang datang aku tetap saja bersimpuh di dekat

67

ibu sampai jenazah diangkat ke peristirahatan yang
terakhir.

Upacara pemberangkatan jenazah ibu sungguh
mengharukan bak seorang putri yang memiliki jabatan
di daerah tertentu. Di dalam rumah, di halaman, di
sepanjang jalan tak kutemukan tempat kosong, semua
penuh sesak dengan para pelayat. Begitu keranda
almarhumah diangkat pecahlah derai air mataku, di sela-
sela buliran air mataku masih bisa kulihat keranda putih
berukir dipenuhi dengan rangkaian bunga mawar merah
putih dan melati yang harum semerbak mewangi.
Sebagian dari para pelayat mengantarnya hingga ke
perkuburan, tempat peristirahatan terakhir ibu. Tak
ketinggalan kami semua anak-anak ibu turut mengantar
nya.

“Selamat jalan Ibu, selamat jalan bidadari surga,
selamat jalan pejuang tangguh kehidupan, selamat jalan
motivator hebatku, dan selamat jalan ispiratorku,” seruku
berulang-ulang,”selamat berintirahat panjang Ibu. Semua
akan terus terkenang dalam memori indah di dalam jeruji
besi relung hati,” lanjutku.

Selepas kepergian ibu, kutata hati dengan segenap
keikhlasan agar jalan beliau menjadi lapang.

Kupahat doa di setiap sujudku.
Sesekali kukunjungi makam beliau setiap kali aku
pulang kampung. Makam ibu selalu bersih, bahkan rumput
pun tak sempat tumbuh di sekitarnya karena di setiap
minggu Dik Fajar dan Dik Halim selalu mengunjunginya.

68

Aku dan kelima adikku tetap berharap bahwa kami akan
bertemu di surga nanti.

69

Ibu Selamat jalan Ibu
selamat jalan bidadari surga
selamat jalan pejuang tangguh

kehidupan
selamat jalan motivator hebatku

dan selamat jalan ispiratorku
selamat beristirahat panjang Ibu.

Semua akan terus terkenang
dalam memori indah

di dalam jeruji besi relung hati

70

Seulas Senyum Terakhirmu
Oleh Rumisih, M.Pd.

"Lik, Make mboten wonten...,"suara Yani terputus-
putus, tapi aku dapat menangkap pesan yang disampaikan.

"Innalillahi wainnaillaihi rojiun," bergegas kusaut
tas dan beberapa baju ganti.

"Kita ke Drono, Lik. Budhe sedo, " kataku pada
Arif. Segera aku pamit pada suami dan ibu mertua.

***

Mbak Rubiah, semua orang memanggilnya dengan
Mbak Ru, adalah satu-satunya anak Emak yg tidak
sekolah. Dari kecil, tugas Mbak Ru adalah meminta jatah
uang Bapak untuk kebutuhan sekeluarga. Karena tugas
nya yang berat itu, akhirnya Mbak Ru mengorbankan diri
tidak sekolah, tidak seperti dua kakakku: Mbak Tu dan
Mbak Roh.

Mbak Ru anak yang berbakti dan tahan uji. Dia
tahu dimana harus menemui Bapak. Kadang, bukan
sambutan hangat yang diterimanya dari Bapak, tapi
pukulan dan caci maki. Saking seringnya menerima

71

perlakuan kasar itu, Mbak Ru sampai kebal: tetap
melaksanakan tugas mulianya.

Tidak hanya saat kecil tanggung jawabnya pada
keluarga, tetapi hingga berumah tangga. Bapak dan
Emak, hingga kapundhutnya, juga dirawat oleh Mbak
Ru. Kini terkenang kembali cerita Emak tentang Mbak
Ru, kakakku tercinta ini.

“Selamat siang, Pak...,” sapa Mbak Ru seramah
mungkin.

“Ada yang bisa saya bantu, Dik?” katanya kaku.
“Apakah saya bisa bertemu dengan Pak Salim?”
tanya Mbak Ru ragu-ragu pada orang yang berambut
cepak dengan badan tinggi besar agak gelap di hadapan
ku.
“Pak Salim siapa ya?” tanyanya agak linglung.
Mbak Ru agak tergagap.
Bagaimana mungkin orang ini tidak kenal bapakku?
Bapak penghuni tetap di sini. Tiap hari, tiap saat, dan tiap
waktu selalu ada di sini. Ini adalah rumah kedua, tempat
mangkal bapak. Di sini bapak sangat kerasan, hingga
berhari-hari lupa pulang ke rumah.
“Masak Bapak tidak kenal bapak saya?” tanya
Mbak Ru tak percaya.
“Kamu tanya atau memaksa, hah?” dia mulai
menaikkan suaranya.
Mbak Ru mundur beberapa langkah ke belakang.
Takut.

72

Wajah laki-laki di hadapan Mbak Ru ini jadi
tampak seram. Dengan kumis yang dipilin-pilin,
menjadikan hati Mbakku semakin kecut. Badannya
mengecil bak liliput. Tak ada nyali lagi. Gemetar seluruh
tubuh. Bibirnya ku lihat bergetar. Dadanya berdetak
terburu-buru. Napasnya ngos-ngosan seperti dikejar setan.
Mbakku kulihat ingin mengambil langkah seribu, tetapi...
kakinya menantap dalam tanah: tak bisa digerakkan. Dia
hanya mematung. Menunggu gertakan selanjutnya dari
laki-laki berwajah seram ini.

“Heh kamu... malah bengong!” katanya sambil
menggebrak meja yang ada di hadapannya. Diacung-
acungkannya tongkat yang dipegangnya. Hati Mbak Ru
semakin kecut.

“Ka-ka-ka-kalau tidak ada ya-ya sudah, Pak...,”
katanya dipaksakan seramah mungkin. Tapi jelas, pasti
wajah mbakku tampak pucat. Suaranya yang ketakutan
juga tak dapat disembunyikan. Aku ingin secepatnya
meninggalkan temapt ini dan berdoa agar seumur-umur
tak pernah bertemu laki-laki seseram ini. Hiii...

“Ya!” hanya itu jawaban yang keluar dari bibirnya
yang hitam tebal.

Dianggukkan kepala beberapa kali dan dipaksakan
tersenyum tanpa melihat wajahnya yang menakutkan.
Mbak Ru segera berlalu dari hadapannya. Lega...

***
Alhamdulillah....

73

Maha suci Allah yang telah menciptakan alam yang
begitu sempurna. Terbentang di hadapan kami
pemandangan yang begitu sempurna.

Gugusan mega yang cerah menyejukkan mata.
Deretan rumah-rumah kecil yang rapi dan teratur:
sewarna dan seukuran. Perbukitan dengan beraneka
macam tanaman terhampar. Padi yang mulai menguning
menyejukkan mata, rata dan berisi: bak permadani siap
untuk diduduki. Bulirnya tak kuat menopang isi berat
yang ada di dalamnya: semua merunduk bersamaan.

Kelokan air bening dari sumbernya, mengalir sesuai
jalan yang diperuntukkan baginya, sunatullah, alami: dari
atas menuju peraduan di bawahnya. Kicau burung
bersahutan, menambah keharmonisan alam.

Kepakan sayap elang yang menyambar, terlihat
semakin menantang: siap berjuang. Berjuta kumbang
beterbangan, melenggang dan melenggok kesana- kemari:
layaknya seorang puteri model yang siap mengumbar
senyum pada penonton. Gemerisik suara angin
pegunungan: ibarat tepukan penonton atas keberhasilan
pemain pujaan.

Petani yang menggarap sawah, tak henti tersenyum
memandang dan menikmati hasil kerjanya: letihnya telah
terobati dengan kuningnya padi.

Cucuran peluh yang berhamburan di badan: serasa
menghilang ditelan keberhasilan. Langkah kaki yang
terseret berat: hilang berganti dengan jejak-jejak yang
tegak menapak. Semua adalah keindahan semesta.

74

Betapa sempurnanya Tuhan menuntun manusia,
mengolah dan melestarikan alam: untuk kemaslahatan
umat. Takkan sia-sia Tuhan menciptakan manusia dengan
akal budi. Takkan menyesal Dia telah memberikan
kepercayaan pada makhluk yang sempurna ini sebagai
khalifah: pemimpin di bumi. Semua perintah telah
dilaksanakan oleh manusia. Semua larangan telah
ditinggalkan: oleh mereka yang beriman. Hanya oleh
yang beriman!

Suara gemerisik dedaunan membuayarkan lamunan.
Langkah kaki yang begitu tergesa: terasa sampai ke
dada.
“Ada apa, Mak?” tanya Mbak Ru begitu melihat
Emak telah berada tepat di belakangnya.
“A-a-anu Ru...,” suara Emak masih terdengar
tersengal. Napasnya yang memburu setelah menuruni
bukit yang lumayan terjal.
“Pripun? Bagaimana Mak?” diulangnya pertanyaan
setelah Emak menghentikan langkah dan Mbak Ru
melihat sudah agak tenang.
“Susul bapakmu gih...,” perintah Emak tegas.
Mbak Ru tersenyum memandang wajah Emakku
yang agak tirus.
Wajah yang selalu tersenyum, penuh syukur:
bagaimanapun keadaannya. Lengan-lengannya yang
meski kecil, tapi liat dan kuat. Otot-ototnya biru yang
mulai menyembul terlihat jelas: pertanda perjuangan

75

hidup. Kakinya tanpa alas yang menancap kuat di tanah:
menandakan semangat yang menyala.

“Bapak tak pulang lagi ya, Mak?” tanya Mbak Ru
asal saja.

Kupandangi Emak yang masih berdiri tegak.
Mbak Ru menerka-nerka jawaban yang mungkin
akan diberikan. Disapunya wajah ayu dan lugu Emakku.
Semburat merah yang sempat kulihat, sirna. Rahangnya
yang mengeras, bergegas pergi. Kepalan tangan yang
kencang dan menantang, tiba-tiba hilang. Luruh. Mbak
Ru melihat sekali lagi Emakku. Senyumnya mengembang
dipaksakan. Gerakan kakunya lemas tanpa daya. Semua
melemah seperti yang dilihat.
“Belum... bapakmu belum pulang,” jawab Emak
meralat pertanyaan Mbak Ru
“Kan sama saja, Mak...,” protes Mbak Ru. Kulihat
Emak agak kelagapan.
“Siapa tahu hari ini pulang Ru....,” katanya penuh
harap. Mbak Ru meneliti Emak dengan sempurna.
Kekuatan macam apa yang telah dimilikki Emak?
Cinta seperti apa yang telah Emak rasakan? Sayang seperti
apa yang telah Emak bayangkan? Kasih seperti apa yang
telah ia dapatkan dari bapakku, laki-laki yang selalu
menyakitinya?
Tak tega berlama-lama menatap Emak, Mbak Ru
anggukkan kepala. Dilemparkannya senyum pada Emak
ku. Sebelum Mbak Ru bergegas pergi meninggalkan
Emak.

76

“Ya sudah, aku pergi Mak!” kata Mbak Ru mencium
tangan Emak yang masih belepotan parutan kelapa.

Emak mengikuti di belakang Mbak Ru:
meninggalkan pemandangan alam yang begitu sempurna.
Bedanya: Emak masuk gubuk kami, sedangkan Mbak Ru
meneruskan langkah mencari dan menyusul bapak.

***

Panas menyengat.
Semarang penuh dengan segudang bangunan:
perumahan, pabrik, dan pusat-pusat perbelanjaan. Semua
terasa menawarkan kesenangan. Pusat-pusat hiburan dari
kelas menengah atas sampai untuk masyarakat pinggiran,
juga bisa didapatkan. Semua ada: kunikmati „kota lumpia‟
dengan beragam pesona.
Agak tergesa Mbak Ru melangkahkan kaki kecilnya.
Dia hafal betul jalan menuju tempat Bapak: ke
pinggiran jalan kereta api atau di belakang kantor Bapak
yang gelap dan kumuh. Sayangnya, dua tempat yang
disebutkan itu jaraknya lumayan jauh. Tapi demi adik-
adiknya, Mbak Ru tak apalah melakukan itu semua.
Dijalaninya rutinitas ini sebagai tugas dan tanggung
jawabku sebagai kakak.
Mbak Ru anak ketiga dari delapan bersaudara:
ramai kan? Adiknya masih sangat kecil-kecil, jadi Mbak
Rulah yang mendapat tugas harian meminta jatah pada
bapak. Sedangkan dua kakaknya bekerja serabutan:

77

membantu di rumah tetangga. Mereka menjalankan tugas
sesuai perintah Emak: mereka manut, nurut.

Mbak Ru melangkahkan kaki yang pertama ke
kantor bapak.

Ditelusurinya jalanan yang agak terjal ini. Dengan
sandal yang tak seukuran dan tak sewarna: dia yakin
terlihat merana. Pakaian yang dikenakan juga seadanya:
lusuh dan agak kumal. Namun, tak mengurangi
keberaniannya untuk menemui Bapak, meminta uang
jatah buat Emak: buat makan aku dan saudara-saudaraku.

Satu jam berjalan, Mbak Ru melihat juga kantor
megah itu.

Gedung Lawangsewu berdiri gagah dan kokok.
Seribu pintu selalu terbuka buat siapa saja: ramah
menyambutnya. Dilangkahkannya dengan pasti kaki
kecilnya menuju tempat kerja Bapak. Mbak Ru tersenyum
setiap bertemu dengan teman-teman Bapak. Mereka sudah
hafal betul dengan Mbak Ru: anak kecil kumal, kotor,
dan berbau. Tiap hari mencari dan meminta „jatah‟ buat
keluarga.

“Pak Ikin, saya mau bertemu Bapak bisa?” tanya
Mbak Ru dengan mantap. Mbak Ru melongokkan kepala
ke dalam. Agak sepi ruangan yang biasa bapak gunakan.

“Lho, memang bapakmu tidak di rumah?” tanya
Pak Ikin heran. Mbak Ru menggeleng.

“Bapakmu sudah seminggu ini tidak ngantor,
Nok...,” katanya. Mbak Ru kaget bukan kepalang.
Kemarin-kemarin memang Mbak Ru bertemu Bapak di

78

luar. Dia pikir beliau sengaja menemuinya di luar karena
Bapak tahu kalau Mbak Ru mau datang, ternyata....

“Masak, Pak? Lha terus?” tanya Mbak Ru tak
habis pikir.

“Lha itu, Nok, Bapak juga tidak tahu. Coba kamu
cari di tempat mangkalnya,” kata Pak Ikin gemas. Beliau
memang karib bapaknya Mbak Ru, tetapi sikap dan
sifatnya bagai bumi dan langit dengan Bapak. Beliau
sangat rajin dan tak mengenal perjudian, sedangkan
Bapak... rajin nya sama, tetapi judinya... naudzubillah....

“Terima kasih, Pak Ikin, saya kesana ya...,” kata
Mbak Ru mencium tangan Pak Ikin yang masih belepotan
oli. Pak Ikin patner Bapak di bagian bengkel: menangani
mobil dan kendaraan-kendaraan yang butuh perawatan.
Tanpa menungga lama. Mbak Ru segera berlalu dari
hadapan beliau.

Siang ini semakin Mbak Ru rasakan matahari
menyengat badan.

Hatinya pun juga tersengat, bukan oleh sang raja
siang, tetapi oleh ulah bapaknya tercinta. Hadee....

Segera ditelusuri jalanan aspal hitam yang
menyilaukan mata. Panasnya minta ampun. Mbak Ru
berjalan agak tergesa, dia ingin secepatnya bertemu
dengan Bapak. Ingin minta penjelasannya: mengapa
seminggu tak masuk kantor. Bahaya... bisa-bisa Bapak
dipecat dari kantornya, lha terus keluarga mau makan
apa? Masak disuruh makan kartu? Huh....

79

Hampir sampai di tempat tujuan, ketika tiba-tiba
dari sebelah kanan melaju kereta api dengan kecepatan
yang luar biasa. Mbak Ru tersentak dari lamunan,
astaqfirullah... alhamdulillah ya Allah... aku masih Kau
selamatkan dari jahilnya kereta api, katanya dalam hati.

Beberapa menit Mbak Ru menunggu kereta api
melaju: bunyinya memekakkan telinga. Habis gerbang
terakhir, dipastikan: menengok kanan kiri.

Mbak Ru langkahkan kaki melewati rel yang
hampir rapuh.

Banyak kayu yang sudah usang. Beberapa malah
terlihat kendor: mur bautnya banyak yang hilang. Mbak
Ru cuek berjalan. Itu urusan negara, batinnya.

Dilihatnya ada keramaian di beberapa tempat yang
jaraknya tak berjauhan.

Dia pastikan Bapak ada di sana. Diayunkan langkah
pasti mencari-cari. Sulit baginya menyimak kerumunan
lautan manusia. Mereka berjubel. Mbak Ru tak dapat
melihat siapa saja yang ada, tetapi memang banyak
orang.

“Permisi...,” katanya mencoba mencari celah agar
dapat menemui bapaknya.

Tak ada sambutan.
Mereka asik dengan kegiatannya masing-masing.
Beberapa orang masih bersila mengeliling beberapa kertas
yang digelar di hadapan. Ada pula yang masih asik
mencekik botol, juga ada yang...masya allah... duduk
berhimpiatan dengan wanita-wanita yang bukan istrinya.

80

“Permisi-permisi....,” diulangnya sekali lagi. Tetap
saja tak ada yang bergerak

Tiba-tiba, dari arah yang tak disangka-sangka,
berdiri laki-laki tinggi, hitam-legam dengan kumis hitam,
tebal, dan melintang. Mbak Ru sempat ciut nyali. Namun
tak urung, dia beranikan diri menyapanya.

“Maaf, Pak. Apakah saya bisa bertemu Bapak
saya?” tanya Mbak Ru seramah mungkin.

“Bapakmu...siapa ya?” katanya balik bertanya.
“Pak Salim, Pak?” kata Mbak Ru mantap.
“Wah maaf, Dik... di sini tidak ada yang namanya
Pak Salim!” katanya mantap dengan sikap yang digagah-
gagahkan: dada dibusungkan dan bahu diangkat agak ke
atas. Mbak Ru jadi tak berani untuk meneruskan bertanya.
“Ya sudah, terima kasih Pak...,” kata Mbak Ru
masih belum percaya.
“Hmmm...!” katanya tanpa menoleh.
Mbak Ru melangkahkan kaki meninggalkan
wilayah itu.
Dia lihat masih ada beberapa lagi pemandangan
yang sama: judi, minum, dan perempuan. Mbak Ru masih
punya harapan untuk bertemu Bapak.
Kali ini tidak begitu berjejal, sehingga Mbak Ru
dapat melihat dengan leluasa. Tapi, tak tampak batang
hidung bapaknya. Tanpa bertanya, dia berjalan melewati
mereka.
Tiba-tiba.

81

“Mau cari siapa, Nok?” tanya Bapak tukang becak

yang ada di sekitar tempat itu.
“Anu...mau mencari Bapak saya, Pak,” kata Mbak

Ru agak takut.
“Siapa bapakmu?” tanyanya sedikit ramah.
“Pak Salim, Pak!” kata Mbak Ru mantap.
“Salim yang rumahnya mana?” tanyanya lagi
“Krobokan, Pak,” kata Mbak Ru mulai ringan.
“Ooo...,” hanya itu yang keluar dari mulutnya.
“Maksudnya, Pak?” tanya Mbak Ru tak mengerti.
“Kalau di sini namanya Botoh, Nok,” katanya lagi.
“Pak Salim, Pak. Bukan Pak Botoh,” Mbak Ru

menerangkan.
“Kalau kamu menanyakan Pak Salim, mereka tidak

ada yang mengenal nama itu, Nok,” jelasnya.
“Tapi benar kan Pak yang dimaksud Pak Botoh itu

bapak saya?” tanya Mbak Ru meyakinkan.
“Coba saja, Nok,” katanya.
“Terus, dimana saya bisa bertemu bapak saya, Pak?”

tanya Mbak Ru penasaran.
“Kamu harus janji sama saya mau?” tanya beliau.
“Kok pakai janji segala, Pak?” tanya Mbak Ru agak

lucu.
“Mau tidak?” tanyanya lagi.
“Iya deh... saya janji!” kata Mbak Ru mantap sambil

mengangkat dua jarinya.
“Bapakmu beberapa hari ini terlihat murung,” Pak

tukang becak menerangkan.

82

“Lha memangnya ada apa, Pak?” tanya Mbak Ru
mengejar.

Dilihatnya beliau menarik napas dalam-dalam dan
mengembuskannya sekuat tenaga. Mbak Ru jadi ingin
mengetahui.

“Katanya...katanya...,” kata beliau terpatah-patah
“Katanya apa, Pak?” tanya Mbak Ru terus
mengejar.
“Katanya, bapakmu mau bertobat, Nok,” bapak itu
terlihat ragu-ragu.
“Alhamdulillah...,” Mbak Ru menjerit penuh
syukur,”terus...sekarang Bapak dimana ya, Pak?” tanya
Mbak Ru lagi. Dia ingin secepatnya bertemu.
“Itu...,” katanya sambil menunjuk ke arah gubug
reyot. Mata Mbak Ru mengikuti jalan yang ditunjukkan
oleh sahabat bapak.
“Terima kasih njih, Pak,” Mbak Ru mencium
tangan bapak yang hitam, tebal, dan agak kasar. Beliau
mengangguk dan tersenyum.
Secepatnya Mbak Ru mengikuti jalan yang
ditunjukkan teman bapaknya tadi. Memang agak becek
dan berbau, tapi tak apa. Dia ingin secepatnya bertemu
dengan bapaknya. Heran ya, baunya minta ampun
menyengat, kok bapak kerasan dan betah tinggal di sini.
Haduh...
Akhirnya sampai juga Mbak Ru di depan gubug
itu.

83

Beberapa tiang dari bambu keropos yang ditutup
dengan kardus-kardus dan kertas semen menjadi
pemandangan yang memilukan. Mbak Ru membayangkan
di dalamnya ada beberapa orang yang bermain kartu,
minum, dan perempuan seperti yang ditemuinya di
beberapa tempat tadi. Dengan berani disingkapnya
penutupnya.

“Assalamualaikum, Bapak....,” kata Mbak Ru
menyapa orang yang ada di dalam. Tak ada sahutan.
Dilongokkannya kepalanya lebih ke dalam, juga tak
ditemukan manusia. Kosong, tak ada sambutan. Mbak Ru
melangkah masuk”, Assalamuaaikum, Bapakku....”,
diulanginya sekali lagi.

“Wa-wa-wa-alaikum salam...,” katanya terbata-
bata.

Dicarinya pemilik suara itu.
Allahhu akbar....
Dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri, bapak
nya masih sujud dan bersimpuh. Segera didekapnya
bapaknya. Mbak Ru menangis haru. Tak kuasa
dibendungnya alirannya. Ditumpahkannya seluruhnya
dan sepuas hatinya. Bapak tak kalah eratnya memeluk
anak perempuan yang selama ini didzaliminya.
Dilampiaskan rindu dan sayangnya pada Mbak Ru,
anaknya..
“Pak...kita pulang... Emak sudah menunggu,” kata
Mbak Ru haru. Sekali lagi diciumnya bapaknya dengan

84

kelembutan dan keharuan yang mendalam. Bapak
mengangguk dan menggamit lengan anaknya.

“Ayok!” katanya pasti dan sangat mantap: tanpa ada
keraguan.

Mbak Ru tersenyum memandangi wajah bapak:
sangat meyakinkan.

Tak ada keraguan sedikitpun. Tak ada ketakutan
seperti yang biasa dirasakan. Tak ada kekalutan seperti
yang selama ini dia alami. Tak ada tamparan yang biasa
didapatkan. Semuanya berbalik 180 derajat.
Alhamdulillah... semoga ini bukan sekadar mimpi.
Semuanya nyata: bukan maya apalagi fatamorgana....

***

"Lek, Mae kangen. Kapan lek Sih mrene?" sms
Yani, ponakanku.

"Ning ruang opo Nok?" tanyaku pada Yani
ponakanku, putri sulungnya Mbak Ru.

Sore itu, kuajak Arif, anak semata wayangku untuk
besuk Mbak Ru, budhenya, setelah aku mengumpulkan
uang untuk transport.

"Piye kabare, Mbak?" tanyaku melihat kondisi
Mbakku yang lumayan segar,"maaf, nembe iso mrene,
cgak nduwe duwit," kataku tertawa keras. Mbakku juga
tertawa.

"Ngene ki Lek, awakku lara kabeh," katanya.
Kemudian beliau menjelaskan perihal masuknya ke
Rumah Sakit Tugu.

85

"Aku keselak mie ayam," tutupnya, "wes lumayan
saiki” lanjutnya.

"Alhamdulillah, semoga segera sembuh total ya
Mbak," kataku sambil mengelus-elus tangannya yang
terlihat agak bengkak.

Selang beberapa saat, Yani datang membawa
minuman dingin dan beberapa kudapan.

"Ini buat Mas Arif," katanya menyerahkan camilan
dan minuman itu pada Arif. Memang sejak bayi, Arif
dimanja sama Yani, ponakanku itu. Agak menjauh, Yani
menarik tanganku.

"Tadi malam jatuh ke lantai sampai dua kali, Lik,"
katanya. Aku rasakan, ada suara yang tersendat. Dia cerita
panjang lebar tentang kondisi Emaknya, Mbak Ru, yang
beberapa hari ini di rawat di RS ini.

"Sejak kemarin ngarep-arep Lik Sih terus,"
katanya,"kangen Lik," lanjutnya. Aku tersenyum.

"Nok, maaf ya, kok kuku sikil Emak wes kuning
yo," kataku hati-hati,"semoga ini proses sembuh ya,"
lanjutku. Ada rasa ngeri dan takut. Aku tak siap
membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi.

Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, aku
segera beranjak pamit pada Mbak Ru.

"Mbak, aku pamit si ya, wes meh mahgrib, sesuk
aku mrene neh," kataku memijit-mijit kaki sampai tangan
Mbak Ru.

"Sesuk ning omah wae, aku wes mulih," katanya
yakin.

86

"Insya Allah, aku mrono Mbak," kataku senang
melihat optimis Mbakku. Semua baik-baik saja. Mbakku
yakin sembuh. Aku pamit karena mahgrib hampir tiba.

***

"Lik, Make mboten wonten...," suara Yani terputus-
putus, tapi aku dapat menangkap pesan yang disampaikan.

"Innalillahi wainnaillaihi rojiun," bergegas kusaut
tas dan beberapa baju ganti.

"Kita ke Drono, Lik. Budhe sedo, " kataku pada
Arif. Segera aku pamit pada suami dan ibu mertua.

"Aku pasrah Lik Sih ubo rampene," kata Yani
setelah melihatku. Kudekap ponakanku satu per satu.
Jangan tanya, air mataku sudah tak sanggup kubendung.

Kulihat jasad kakakku ketiga, Mbak Ru, tersenyum.
"Tugasmu di dunia, berbakti dan merawat Emak
Bapak sudah terlaksana dengan baik
Mbak. Kini, Tuhan memanggilmu setelah semuanya
usai," bisikku di telinga Mbak Ru.
Kupandangi sekali lagi wajah Mbak Ru yang
tersenyum, aku balas tersenyum.
Kucium Mbak Ru yang sudah terbujur kaku.
"Opo sing perlu tak tumbas, Nok?" tanya setelah
membersihkan muka.
"Kebaya, jarik, sandal Lik," kata Yani pelan,"Ngga,
anter Lik Sih ya," katanya minta tolong adik iparnya.
Kami, aku dan Angga segera meluncur ke Ada Bulu
mencari perlengkapan yang dibutuhkan. Tak ada

87

kesulitan, karena ukuran Mbak Ru tak jauh beda
denganku.

Mbak Ru sudah berganti pakaian. Rias tipis juga
telah dilakukan oleh perias dari gereja. Semuanya lancar.
Saudara-saudaraku mulai berdatangan. Tak ada yang
tidak mengeluarkan air mata. Lebih-lebih yang baru tahu,
bahwa meninggalnya Mbak Ru akibat tersedak mie
ayam, hadeee... sepele kan. Itulah takdir, tersedak itu
hanya jalannya saja, tapi semua sudah tertulis di lauhal
mahfufz, sudah garisnya.

Kembali kupandangi jasad almarhumah Mbakku
ketiga ini, Mbak Ru yang terbujur di dalam peti.
Wajahnya senyum, seperti kesehariannya yang selalu
tersenyum, meski beban hidupnya berat.

Mbak Ru menikah dengan Mas Temu dengan jarak
usia 20 tahunan. Namun, keduanya menua bersama.
Mereka mempunyai 7 anak, meskipun kini tinggal 5
putri semua. Orang bilang, mereka tidak waris mempunyai
anak cowok. Jadi, setiap punya anak cowok: meninggal.

Bercerita tentang Mbak Ru, tak bisa dipisahkan
dari sejarah keluarga.

Mbak Ru adalah pahlawan keluargaku. Mbak Rulah
yang berjuang mencari, merayu, dan meminta uang Bapak
untuk bisa makan hari ini. Kadang penuh perjuangan dan
keuletan tersendiri menghadapi Bapak yang penjudi. Kini,
Mbakku telah menyelesaikan tugas dunianya. Berbakti
pada orangtua dengan merawatnya, berjuang pula buat

88

adik-adiknya. Anak-anaknya sudah berkeluarga, tinggal 1
yang masih lajang: Fila

Selamat jalan Mbak Ru, Tuhan telah menyediakan
surga sebagai tempat peristirahatan terakhirmu.

89

Di sini
masih kupandangi jasadmu yang tergolek

kaku
tak berdaya berbuat apa
terhenti sepak terjangmu

Senyum manis
penghias bibirmu
adalah ketulusanmu tinggalkan dunia fana

Kami, aku, adikmu
mengenangmu sebagai pahlawan keluarga
pengorbananmu hingga tak sekolah demi

kami
perjuanganmu yang tak letih, menyusuri

gelapnya Semarang menemui Bapak
adalah bukti ketulusanmu untuk kami

90

Senyum manismu mengembang
menghias bibirmu
untuk terakhir kali

adalah tanda Malaikat menjemputmu
dengan kelembutan

tanda Allah telah sediakan surga
buat peristirahatan terakhirmu

Selamat jalan, Mbak Ru
selamat beristirahat di sisi Tuhan
tetaplah tersenyum melihat kehidupan
anak-anakmu, adik-adikmu, dan saudara-

saudaramu
sisakan doa buat kami semua

91

Senyummu Abadi, Mbak Weni
Rumisih, M.Pd.

Namanya Weni Winarni, B.A., guru bahasa Inggris
di SMP Negeri 17 Semarang. Orangnya lembut, manis,
wajahnya senyum. Ramah, sesuai dengan raut wajahnya.
Matanya kalup, redup, meskipun sebenarnya bola mata
nya agak besar dan bulat. Kalau berbicara pelan, hampir
tak terdengar. Lembut pokoknya.

Aku tak tahu, mengapa sejak pertama kali bertemu
dan menginjakkan kaki di tanah asing, SMP Negeri 17
Semarang, aku suka sama ibu yang satu ini.

"Duduk sini saja, Bu," katanya sambil menunjuk
kursi di depan tempat duduknya.

"Inggih, Bu. Matur nuwun," kataku sambil
tersenyum seramah mungkin.

Setelah kuletakkan tas coklatku, aku langsung
menghadap ke belakang. Bertanya basa-basi untuk
perkenalan.

"Saya Rumisih, Bu," kataku sambil mengulurkan
tangan.

"Weni Winarni," katanya hangat.

92

Kami ngobrol ngalor-ngidul. Seperti sudah lama
kenal, padahal baru hari itu bertemu. Dalam hitungan
hari, aku sudah sering diajak jalan-jalan kalau kebetulan
aku pas ngajar di 17. Di samping mengajar di SMP 17,
aku juga mengajar di SMK Teuku Umar Semarang,
sekolah yang pertema kali menerimaku.

"Mulai besok kamu tidak usah naik ojek atau
dokar, Rum," kata mbak Weni tiba-tiba.

"Lha kenapa, Mbak?" tanyaku tak mengerti.
"Mulai besok, kamu nunggu saja di Ksatrian, nanti
bareng aku," katanya datar.
"Lho, apa Mbak Weni tidak malah kejauhan kalau
harus ke Ksatrian?" tanyaku tak mengerti.
"Gak papa, aku ikhlas," masih datar juga kata-
katanya.
Ah, Mbak Weni membuatku salah tingkah dan tak
mengerti. Rumahnya Kelengan Kecil dekat Paragon,
sebenarnya lebih dekat lewat Jangli, tapi mengapa rela
menyamperin aku di Ksatrian? Ah, inilah persahabatan.
Aneh memang, hati manusia sulit ditebak.
Kuikuti alur saja, kemana air mengalir.
"Rum, kamu gak pengen jadi PNS?" tanyanya tiba-
tiba. Saking kagetnya, hampir saja aku tersedak mie
ayam.
"Nggih pengen, Mbak...," kataku menatapnya
tajam.
"Cari info, mungkin sampai 10 jutaan bisa...,"
katanya

93

"Maksudnya, Mbak?" tanyaku betul-betul tak
mengerti.

"Carilah info untuk bisa jadi PNS, 10 jutaan
mungkin...," katanya datar. Aku ngakak.

"Mbak... mbak... darimana uang sebanyak itu?"
katanya masih tertawa. Kusedot es jeruk di gelas besar.

"Nanti tak pinjami," katanya serius.
"Mbak???" tanyaku tak percaya.
"Iya, nanti kalau kamu sudah dapat info, tak
ambilkan uang, kamu nggantinya nyicil kalau sudah jadi
PNS," katanya sungguh-sungguh.
"Terima kasih, Mbak Weni. Saya takut, kalau saya
masuk PNS karena bayar, saya takut...," kataku.
"Takut apa?" tanyanya tak sabar.
"Takut nanti kalau jadi PNS yang saya pikir malah
bagaimana cara membayar uang yang sata pinjam,"
kataku tak kalah serius,"Mbak Weni doakan saja saya
diterima PNS bersih, Mbak," kataku menjabat tangan
halusnya sebelum kucium dengan lembut.
"Ah kamu...," katanya sambil menarik tangannya.
Senyumnya nyessss...
Bersama Mbak Weni, aku tenang sekali. Sering
diajak jalan-jalan, jadi tempat curhat dan berbagi cerita.
Senang rasa hatiku. Di tengah-tengah padang tandus
resah hati, kutemukan oase yang menyejukkan kalbu.
Mbak Weni yang baik hati ini ternyata janda tanpa
anak. Suaminya meninggal dunia ketika pernikahan baru
seumur jagung. Sejak saat itu, beliau belum menikah.

94

Lama menjanda, sibuk mengurus ibunya yang juga sudah
janda. Tinggal berdua ditemani keponakan, duh sepinya...
di tengah Kota Semarang yang puanasnya.

Mbak Weni sering main ke rumahku. Kenal
dengan ibu mertua dan ibu kandungku, karena seringnya
kami bersama. Saking seringnya bersama, sampai-sampai
ibunya penasaran.

"Kaya apa Rumisih itu, kok kamu kalau dibel
langsung berangkat?" cerita mbak Weni perihal ibunda
nya. Aku tertawa. Besoknya, sepulang ngajar, aku
diajaknya main ke rumahnya di Kelengan Kecil.

"Dalem Rumisih, Bu," kataku setelah mengucap
salam dan persilakan masuk oleh wanita paruh baya.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan menyambut jabat
tangan dan sungkemku.

"Pantes Weni seneng, hehe," katanya.
"Pripun, Ibu?" kataku pura-pura tidak mendengar.
Wanita itu tersenyum. Ah... aku jadi senang juga.
"Titip Weni, Nak", katanya. Aku tersenyum
mengangguk.
Sejak saat itu, kami sering jalan. Aku sering
dibayari ketika makan bareng. Tapi sayang... Hanya satu
tahunan aku di SMP Negeri 17 Semarang karena aku tak
bisa membagi waktu. Jabatanku sebagai wali kelas,
pembina Pramuka, dan pembina OSIS tak memungkinkan
aku untuk mengajar nyabang di sekolah lain.

95


Click to View FlipBook Version