The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by desi.bpdikjur, 2021-12-20 02:53:12

Pulang Senyummu Abadi

Pulang Senyummu Abadi

Sejak saat itu, hubunganku dengan Mbak Weni
mulai berkurang. Aku semakin sibuk berkutat dengan
tugas-tugas yang menumpuk.

Ketika aku hamil, Mbak Weni senang sekali
kukabari. Beliau menyempatkan datang ke rumah. Pun
ketika aku melahirkan. Kulihat beliau senang dan
merasakan kebahagiaan yang kurasakan.

Ketika kami keluar, sudah tidak berdua lagi, tetapi
sudah bertiga dengan anak semata wayangku: Arif. Pun
ketika Desember 2004 kuberitahu kalau aku diterima
CPNS, beliau langsung menangis.

"Selamat ya Bu...," katanya dengan suara bergetar.
Omonganmu jadi kenyataan, tak harus pakai uang kamu
bisa jadi PNS. Selamat ya," katanya lagi.

"Iya ya, sekarang aku sudah jadi ibu okh ya...,"
kataku tertawa ngakak.

"Iyolah...," jawabnya, "wes rak Rum meneh ya,"
sahutnya.

"Makasih Mbak Weni untuk semuanya, akan saya
ingat selalu. Pasti kelak kuceritakan pada anakku tentang
panjenengan," kataku bangga,"salam sayang njih", kataku
masih ngakak.

Lama tak terdengar kabar tentang Mbak Weni,
ternyata ada teman sekantor di SMA Negeri 9 Semarang,
tempatku bekerja kini, yang menjadi tetangganya mbak
Weni.

Ah, ternyata nasibnya tragis. Setelah Ibu
kapundhut, rumah di Kelengan Kecil dijual dan warisan

96

itu dibagi dengan adiknya. Mbak Weni hanya mengambil
sebagian kecil saja, karena memang mbak Weni tidak
begitu butuh.

Setelah itu, kabarnya, mbak Weni menikah dengan
duda teman sekantornya.

"Wong legan golek momongan," kata teman-teman
sekantornya.

Ah... aku bisa membayangkan, betapa menderitanya
mbak Weni. Hidup dengan seorang duda dengan beberapa
anak dengan beberapa cucu tinggal satu rumah. Ingin aku
menjerit dan menangisi nasibnya yang tragis.

Selang beberapa waktu, aku dengar mbak Weni
sakit.

Kuluangkan waktu dan kusempatkan diri menengok
Mbak Weni. Betul-betul kutangisi melihat kondisi
fisiknya: layu dan terlihat sangat renta, tinggal kulit
pembalut tulang.

"Mbak, kok bisa begini?" tanyaku tak dapat kutahab
tangusku,"pripun Mbak, kok tidak pernah cerita", kataku
sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

"Sakit, Rum...", katanya merintih.
"Mbak...," aku sudah tak dapat menahan diri untuk
tidak mendekapnya. Kupeluk dan kuciumi wajah yang
seperti mayat hidup. Meski bisa duduk di kursi reyot, tapi
kulihat tubuhnya payah.
"Alhamdulillah, ini sudah mending Rum," katanya
membesarkan hatinya sendiri.

97

Aku tersenyum sambil menggigit bibir bawahku agar tak
menangis

"Enggal dangan Mbak, biar kita bisa jalan-jalan
lagi," katanya sambil mengelu-elus tangannya yang
sebagian kulitnya sudah keriput.

Ketika matahari hampir tenggelam, aku pamit
undur diri.

"Enggal dangan njih Mbak," kataku. Kuceritakan
kebaikan beliau di depan anakku Arif untuk
membesarkan hatinya

"Budhe Weni sangat baik sama ibu, Lik,"
kuacungkan dua jempolku," pokoknya huebat," lanjutku.
Kulihat air mukanya cerah, tersenyum manis. Masih
seperti senyumnya yang dulu, tapi kali ini kulihat
senyum yang dipaksakan.

"Salim ke Budhe Weni, Lik," kataku pada Arif,"
Mbak, saya pulang dulu, enggal dangan njih," kataku
menatap lekat wajah pucat pasi di hadapanku. Wanita
yang kusayangi dan kuhormati.

Satu bulan setelah kunjunganku ke rumah Mbak
Weni, kudengar beliau anfal. Kubuat jadwal khusus
supaya aku bisa mengunjungi beliau kembali, memberi
nya semangat untuk bisa bertahan lebih lama lagi.
Ternyata, kondisi yang kini terpampang di hadapanku,
lebih buruk dari sebelumnya. Mbak Weni sudah rebahan
di kasur yang digelar di atas tikar. Beliau sudah tak
dapat duduk, apalagi berdiri, sedangkan menopang
tubuhnya saja sudah tak sanggup.

98

"Awakku sakit semua Rum," katanya sambil
meringis kesakitan setiap kali kusentuh tubuhnya. Kuelus
tangannya.

"Sakit, Rum," katanya lagi. Aku semakin tak kuasa
untuk bertahan. Bendungan air mataku akhirnya jebol
juga.

"Sampun dahar, Mbak?" tanya untuk mengalihkan
pembicaraan.

"Pahit," jawabnya pendek.
"Pengen menopo, Mbak?" tanyaku lirih.
"Pengen mbok tunggoni," katanya tersenyum.
"Inggih, kulo tenggo," kataku,"tapi kalih dahar
njih?" kataku mengambil pisang, ditariknya tanganku.
"Pahit," lirih suaranya. Aku tak memaksanya untuk
makan, tak tega.
"Inggih sampun, sare mawon," kataku sambil terus
berdoa hingga kulihat beliau sudah tenang.
"Mbak Weni istirahat, sare njih. Mbenjang kuli
mriki malih," kataku menenangkan diri. Ada titik air mata
di sudut. Kucoba hapus dengan tangan kananku. Tapi
tiba-tiba
"Maafke kesalahanku ya, Rum," suaranya lirih,
dipegangnya tanganku erat.
"Mbak Weni mboten wonten lepate," kataku
tersenyum, menggenggam erat tangannya. Kuambil
amplop putih yang sudah kusiapkan dari rumah.
"Duko ni kagem menopo, niki tondo tresno mawon
njih Mbak," kataku meletakkan amplop putih itu di dekat

99

bantal putih yang sudah agak lusuh. Kulihat beliau
tersenyum.

"Le, budhe tompo ya, Ibumu saiki wes sugih, wes
sukses" katanya tersenyum tulus. Aku tersenyum. Kucium
tangan kusut itu agak lama.

"Kulo pamit riyin njih, Mbak," kataku pamit.
Sekali lagi kucium pipi yang tirus itu, Mbak Weni
tersenyum.

"Ati-ati. Aku saiki wes rak iso mboncengke kowe
meneh," katanya lirih.

"Tidak apa-apa Mbak, sekarang sudah ada Arif,"
kataku tersenyum.

"Titip ibumu ya, Le," katanya menatap Arif. Arif
tersenyum dan salim pada beliau. Kami tersenyum.

Ternyata, senyum Mbak Weni hari itu adalah
senyum terakhir denganku. Dua hari setelah besukku di
rumah beliau, hari ini aku kesini lagi. Ya kesini lagi.

Hari ini, 8 April 2018 aku ada di depan jenazah
almarhumah Mbak Weni. Wanita yang sangat
menyayangi dan memperhatikanku itu kini terbujur kaku
di hadapanku. Tak dapat kubendung lagi air mataku. Aku
menangis sejadi-jadinya. Bersimpuh di hadapan jasad
mbak Weni, aku kenang kembali segala kebaikannya.
Kelembutan hati, keramahannya, dan semua kebaikannya,
terutama padaku.

Hingga larut malam, tak ada jeda murid dan
mantan murid mbak Weni datang silih berganti. Mereka
sengaja ingin memberikan penghormatan yang terakhir

100

untuk guru mereka yang sangat baik dan penuh
kelembutan. Ternyata, aku belum bisa membalas kebaikan
Mbak Weni. Aku datang malam ini karena besok pagi,
saat jenazah Mbak Weni dikebumikan, ada tugas yang tak
bisa kutinggalkan.

Selamat jalan Mbak Weni. Kami, aku sangat
menyayangimu, tapi ternyata Allah SWT lebih sayang
padamu. Diangkatnya seluruh rasa sakitmu, hingga kau
tersenyum cantik sekali dijemputnya. Telah disediakan
surga buat tempat kembalimu, sebagai tempat
peristirahatan tetakhirmu. Aku sebagai saksi: kau orang
baik, orang baik, orang baik... pantaslah kau mendapat
tempat terbaik dan mulia sebagai tempat kembalimu,
tidur panjangmu, hingga kelak kau dibangunkan kembali
ditemani para bidadara-bidadara surga.

Sugeng tindak Mbak Weni, selamat jalan...
kebaikanmu tak lekang dimakan waktu. Selamat jalan
mbak Weni.... kan kukenang semua budi baikmu.

101

perjalanan panjangmu
ternyata harus terhenti di sini

Mbak Weniku sayang

banyak kisah yg kita lalui
di masa sulitku

kau selalu ada buatku
selalu melindungi

dan membimbingku

Mbak Weni
cerita dukamu
coba kau sembunyikan dariku

tapi aku tau
belum ada bahagia
yang sempat kaukecap
kauterlalu tulus menikmati hidup

102

bunga itu telah layu
kelopaknya tak berseri
gugur dan berserakan di bumi
wangimu kan tetap abadi
kini kembali ke pangkuan Illahi
Selamat jalan Mbak Weni
kakak tercintaku, sayangku
Allah SWT telah menyediakan surga
tempat kembalimu yang abadi....

duka mendalamku
atas kapundhutnya
Mbak Weniku tersayang

103

Aya, Pulang Ma...
Oleh Rumisih, M.Pd.

“Bangun, Sayang...bangunlah....”, lirih kudengar
suara mama.

Aku ingin membalas pelukan mama, menghapus
air mata yang membasahi wajahnya yang cantik. Namun,
aku tak bisa.

Aku hanya seonggok daging yang tak berguna.
Kecelakaan itu betul-betul membuatku seperti mayat
hidup. Membuatku hampir putus asa. Ah....

***
“Mama, Aya berangkat...”, kataku sambil mencium
pipi mama. Mama membalas mencium dua pipi kanan-
kiri dan keningku.
“Selamat belajar, Sayang”, kata mama lembut,”
hati-hati di jalan”, katanya lagi. Aku tersenyum sambil
melambaikan tangan.
Ringan kuayun langkah menuju si putihku ERTIGA
yang sudah siap mengantarku ke sekolah.

104

“Mbak Siti belum mandi ya”, sapaku pada
pembantuku yang masih menyapu teras.

“Kok tahu, Non?” tanya Mbak Siti tersipu.
“Ya tahulah, Mbak...”, kataku sambil berlalu.
“Bau ya, Non?” tanya mbak Siti.
“Iya, hahaha...”, kataku senang melihat wajah Mbak
Siti yang masih tersipu. Kulihat sekilas Mbak Siti
mencium lengan kanan dan kirinya.
Aku senang menggoda Mbak Siti, pembantuku
yang paling cantik itu. Mbak Siti adalah satu-satunya
pembantu wanita di rumah. Dua pembantuku yang lain
adalah laki-laki: Pak Yus yang bertugas merawat taman
dan Pak Man yang khusus mengantar jemput aku ke
sekolah. Juga mengantar jemput aku di semua kegiatan.
Mbak Siti sudah bekerja di rumah mama sejak
masih remaja.
Dulu orang tua Mbak Siti membantu di rumah
nenekku. Setelah mama menikah, Mbak Siti ingin ikut
mama. Mbak Siti juga sudah menikah, tetapi sekarang
Mbak Siti sudah tidak punya suami lagi. Suaminya
meninggal dunia karena jatuh dari lantai lima gedung
yang dikerjakannya. Mereka mempunyai seorang anak
yang masih berumur 4 tahun. Mama memperbolehkan
Mbak Siti membawa Nur, anaknya di rumah. Nur
disekolahkan oleh mama di PAUD (Pendidikan Anak Usia
Dini) di kelurahan. Kami sekeluarga sangat menyayangi
Nur. Dia bisa menghiburku karena aku anak tunggal, jadi
ada teman di rumah. Ada Nur, aku tak kesepian.

105

“Selamat pagi, Pak Man”, sapaku sambil menepuk
bahunya.

Pak Man yang masih mengelap mobil tampak
kaget.

”Eh Non. Selamat pagi juga, Nona cantik..., sudah
siap berangkat Non?” tanya Pak Man dengan ramah.

“Sudah, Pak. Ayo kita kemon”, kataku sambil
membuka pintu.

Pak Man menyusul membuka pintu mobil setelah
menyelesaikan mengelap kaca mobil.

Pak Man mengemudikan si putih dengan halus.
Tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat: sedang-
sedang saja. Aku menikmati perjalanan. Sambil
berdendang lirih menirukan lagu yang Pak Man putar,
aku bisa membuka-buka buku bahasa Indonesia yang
semalam sudah kupelajari.

Pagi ini aku ada ulangan bahasa Indonesia. Bu
Chris, guru bahasa Indonesia idolaku, telah
menyampaikan pengumuman ini seminggu yang lalu.

Aku konsentrasi mempelajari bahasa Indonesia,
ketika tiba-tiba terdengar bunyi “bum” yang sangat keras.

Adu baja terjadi secara tiba-tiba.
Truk yang rem blong dan sopirnya tak dapat
mengendalikan truknya itu mengakibatku si putihku
ringsek, babak belur tak karuan. Sebelum aku tak
sadarkan diri, bintang-bintang berkeliaran di kepalaku.
Darah segar yang keluar dari kepala dan hidungku,
secepat kilat melumuri tubuhku. Dadaku rasanya sesak,

106

dan kepalaku berputar keras. ERTIGA-ku berada di bawah
truk yang memuat besi baja. Aku tak sadarkan diri.

***

Dua bulan aku terbaring di ruang ICU ini. Aku
tergolek tak berdaya.

Mataku terbuka lebar, tetapi aku tak bisa berbuat
apa-apa. Berkedip pun tidak bisa, mataku terbelalak dari
pertama aku dilarikan di ruang ini. Aku melihat semua
yang dilakukan papa dan mamaku, para pembantu
setiaku. Juga teman-teman sekolahku. Aku mengetahui
semua gerak-gerik mereka, tapi aku tak bisa berbuat apa-
apa. Aku tergolek seperti bayi. Bahkan seperti mayat
hidup. Sehari-hari aku hanya berbaring di kamar serba
putih ini. Dengan berbagai peralatan yang menempel di
seluruh tubuhku, membuatku semakin tak bisa bergerak.
Namun, berkat alat ini juga aku masih bisa bernapas.

“Sadar, Sayang...”, lirih suara papa kudengar di
telinga.

“Aya, ayo bangun sayang...kita jalan-jalan”, mama
berulang mengelus dan mencium pipiku.

Air panas kurasakan di sudut mataku.
“Non Aya, bangun Non, ini Mbak Siti”, bergetar
suara Mbak Siti terdengar.
Hanya mendengar.
Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku ingin membalas
setiap kata yang dibisikkan di telingaku. Aku ingin
membalas kalimat-kalimat manis yang kudengar, tapi

107

aku tak bisa. Bibirku kelu. Hatiku kaku. Kepalaku
rasanya seperti batu: berat semuanya.

***

Ini bulan keempat kalau tidak salah aku berada di
ruang serba putih ini.

Kulihat Dokter Djoko berbisik-bisik dengan papa
dan mamaku. Kulihat ada senyum yang dipaksakan. Tapi
aku tak tahu.

“Hari ini kita pulang sayang”, suara mama agak
berat terdengar.

“P-u-l-a-n-g?”, tanyaku agak ragu, kelu dan kaku.
Mama dan papa mengangguk bersamaan. Kulihat
air bening menyapu wajah mereka.
Aku senang mendengar berita ini. Aku akan
pulang.
PULANG.

***

Kulihat semua teman dan bapak ibu guru sudah
ada di rumahku. Para tetangga juga sudah bersiap
menyambutku. Aku pulang.

Aku diangkat dari mobil kesayanganku menuju
kamarku.

Masih seperti dulu: bersih dan rapi.
“Selamat datang, Aya sayang”, Bu Win, kepala
sekolahku mencium pipi dan membelai lembut rambutku.
Aku mencoba memaksakan tersenyum, tapi tak bisa.

108

“Aya, lekas sembuh ya, aku kangen kamu”, lembt
suara Nina, sahabatku. Ia mengeluas wajah, tangan, dan
pipiku. Aku diam. Ada rasa haru, tetapi sekali lagi: aku
tak bisa berbuat apa-apa.

“Doakan saja, semoga Aya diberi yang terbaik”,
suara papa bergetar,” maafkan atas semua salah dan khilaf
anak saya selama ini”, papa menutup kalimatnya sambil
menutup wajah dengan kedua tangannya.

Papa berjalan ke belakang mama.
Kulihat mama menyeka air mata yang sudah
membanjiri wajahnya. Tak ada sedu-sedan. Tak ada
tangis menyayat. Semua diam membisu. Sekuat tenaga
kuedarkan pandangan dengan ekor mataku. Sekuat tenaga
kucoba berkata.
“M-a-m-a, p-a-p-a”, suaraku tersendat-sendat tak
karuan.
Mama dan papa mendekat ke arahku.
Mereka kulihat tegar. Berdua mereka menggenggam
tangan mungilku. Aku merasakan kehangatan menjalar di
seluruh tubuhku. Kurasakan kasih sayang yang sangat
dalam. Aku ingin membalas peluk cium mereka,
membalas genggaman dan sentuhan mereka. Namun
nyatanya, aku tak bisa.
Kulihat semua pembantu, teman-teman, bapak-ibu
guru sudah tak dapat menahan air mata. Kudengar sedu-
sedan di seluruh ruangan.
Aku hanya bisa memandang mereka. Hanya
memandang.

109

Sekuat tenaga kucoba menyusun kata-kata.
“Ma-ma, pa-pa, a-ku pu-la-ng. P-U-L-A-N-G”, aku
mencoba menghela napas. Semua mata menatap lurus ke
arahku.
“J-a-n-g-a-n m-e-n-a-ng-i-s, m-a-m-a”, kurasakan
kian kuat genggaman tangan papa mamaku.
“L-i-a-t m-e-j-a b-e-l-a-j-a-r A-y-a”, tanganku
mencoba menunjuk ke arah meja belajar, tetapi terkulai
lemas. Aku mencoba tersenyum. Bersamaan dengan itu,
mataku tertutup: gelap, gelap, dan semakin gelap.
Untuk terakhir kali, masih kurasakan mama dan
papa menggoyang-goyangkan tanganku. Kurasakan ada
yang menyentuh pergelangan tanganku: urat nadiku. Ada
yang menyentuh dadaku: memastikan detak jantungku.
Terakhir, kudengar jerit tangis semua manusia. Hingar
bingar tak karuan. Aku tersenyum meninggalkan jasadku.
Aku melambaikan tangan pada mereka, tapi tak ada
seorang pun yang membalas. Semua masih sesenggukan.
Aku melenggang pergi meninggalkan mereka, dengan
senyum mengembang.
Langkahku ringan. Aku sudah tak merasakan sakit
sedikitpun. Aku telah terbebas dari segala macam
penyakit dunia.
Dari sini kulihat jelas mama mengambil kertas di
atas meja belajarku. Dengan raga yang lemah lunglai
tanpa daya, diraihnya kertas itu. Dibua dan dibacanya.

110

Buat Mama dan Papa tercinta...
Mama,
aku bangga sama mama. Mama selalu mengerti apa
yang aku ingin. Mama selalu menemani Aya
kemana pergi. Mama selalu ada buat Aya. Aya
bangga punya mama. Muachhhh...
Papa,
Meski papa jarang di rumah, tetapi Aya bangga
papa. Papa mencari uang untuk kita. Aya mengerti
papa bekerja keras membanting tulang untuk kita.
Papa adalah papa terhebat yang Aya punya.
Meski ada mama lain selain mama Aya, tetapi
papa memberikan yang terbaik buat mama dan
Aya. I love you papa.
Satu pinta Aya
Aya ingin pas ulang tahun Aya tahun ini, mama
dan papa menemani Aya. Aya ingin kita kumpul
pas Aya ulang tahun. Selama ini papa belum
pernah kan menemani Aya meniup lilin dan
memotong kue? Aya mohon, Papa. Ya, Pa? Sebelum
Aya PULANG, Aya ingin papa dan mama ada di
rumah. Kita meniup lilin bertiga. Kita potong kue

111

bertiga. Dan kita nikmati semua bertiga. Sama
pembantu-pembantu kita juga tak apa. Aya akan
senang. Aya bahagia jika mama dan papa bisa
selalu serumah sebelum Aya PULANG. Aya
bahagia sekali. Aya sayang dan cinta kalian. Aya
merasa berlimpah kasih sayang.
Terima kasih mama. Terima kasih papa. Tunggu
Aya PULANG ya.

Love you,

Aya

Tiba-tiba mama meraih kalender yang ada di
kamarku. Diamatinya dengan saksama: Rabu, 31
Desember 2014. Tepat hari ini ulang tahunku, hari ini
aku PULANG.

Kulihat mama tak kuasa menahan berat tubuhnya:
limbung.

Papa membawa mama di tempat tidur bersebelahan
dengan jasadku. Beberapa kali kulihat papa meremas-
remas rambutnya. Aku bahagia melihat mereka berdua
bersama. Bersatu. Serumah.

Kusentuh pipi mama, tapi tak ada reaksi.

112

“Jangan menangis, Mama. Aku PULANG”, kataku
sambil melambailan tangan, tetapi tak ada seorang pun
yang membalas. Mereka malah berebutan kertas putih
yang telah dibaca mamaku. Satu per satu mereka
menangis semakin keras setelah membaca coretanku.

Aku tersenyum meninggalkan mereka. Aku
PULANG....

***TAMAT***

113

Semua yang bernyawa
pasti akan mengalami kematian.
Sebelum datang hari kematian itu
mari kita siapkan sebaik-baiknya diri kita

Kita perbanyak amal ibadah
Kita perbanyak amalan di dunia

Senyampang masih ada waktu
Masih ada kesempatan

Berlomba-lombalah berbuat kebaikan
Bukan hanya pada orang tua, tetapi pada

teman
Bukan hanya pada saudara, tetapi pada kawan
Bukan hanya pada sahabat, tetapi pada rekan

Bukan hanya pada kawan, tetapi juga pada
lawan

Berbuat kebaikan dan kebajikan pada semua
orang

114

Pulangnya Lelaki Berambut Cepak
Oleh Rumisih, M.Pd.

Juli 1986
“Kalau begitu percuma, turunkan saja,” koor setuju
bergema.
“Ya, turunkan saja. Tak ada guna kita memilih
nya,” suara-suara sumbang mulai berkumandang. Terik
menyengat. Hati tersayat. Keputusan dan niatku
bersekolah di SMP Negeri 21 sempat ternodai. Gelombang
protes bersahutan. Pening kepala kian terasa.
Aku, Mago, dan Madeking melangkahkan kaki di
SMP Negeri 21 Semarang. Sekolah yang menjadi tujuan
dan idolaku. Sekolah nomor satu di wilayah Banyumanik.
Sekolah anak-anak pintar, katanya. Sekolahnya anak
gedongan, aku hanya tertawa. Aku bukan anak gedongan:
tapi bisa di sini. Aku di I-D, Mago di I-E, dan Madeking
di I-B. Sedangkan Tutur memilih SMP Negeri 12
Semarang. Hanya Arif yang “terdampar” di SMP
Banyumanik karena gagal masuk SMP Negeri 21
sebagai tempat menimba ilmu. SMP Negeri 21 Semarang
terletak di Jalan Karangrejo Banyumanik. Bersebelahan

115

dengan SMA Negeri 4 yang juga sekolah favorit di
Semarang. Tembok kokoh mengelilingi sekolahku. Di
bagian depan sekolah terpasang pagar besi berwarna
cokelat. Serasi dengan warna temboknya. Pohon-pohon
besar sengaja ditanam untuk mewujudkan kerindangan.
Akasia salah satunya. Pohon idolaku dengan bunga
kuningnya menambah kesejukan mata. Jatuh, berguguran
di tanah lapang bagai manik-manik dan untaian mutiara.
Segar kian terasa. Burung bernyanyi merdu, bersahutan
di atas pepohonan menciptakan kedamaian. Angin yang
berembus sepoi-sepoi membuat daun melambai-lambai,
guguran daun beterbangan kian-kemari. Sesekali kudengar
lolongan anjing dari kampung dekat sekolah. Disusul
teriakan ayam betina yang dikejar-kejar oleh sang jantan,
membuyarkan konsentrasi belajar. Terdapat lima belas
kelas mulai kelas I sampai dengan kelas III. Masing-
masing lima kelas paralel. Di samping lima belas ruang
kelas, terdapat juga sebuah musala, laboratorium,
perpustakaan, ruang TU, BK, guru, dan ruang kepala
sekolah. Tak ketinggalan kantin: tempat yang paling
menyenangkan, wajib diketahui oleh warga sekolah.
Hehehe.

***

“Teman-teman, mohon perhatian sebentar,” suara
Dwi Haris Pujiantoro menggema. Tak ada yang
memperhatikan. Suara riuh rendah kelas tak
terbendung.Tak dapat dikendalikan. Mereka berkumpul

116

dengan teman asal sekolahnya masing-masing.
Berkoordinasi untuk menjagokan salah seorang dari
mereka menjadi Ketua kelas. Seru. Sedangkan aku?
Hanya diam membisu. Tak ada seorang teman pun di
kelas ini. Aku sendiri: dari SD Negeri Kramas 2. Clingak-
clinguk: tak ada seorang pun yang kukenal.

Kuamati satu demi satu teman-teman kelasku. Aku
berkenalan, memperkenalkan diri, dengan teman yang
diam di tempat, tak bergerak. Diam menekuri bacaan.

“Hai, aku Arum. Kamu?” tanyaku sok akrab.
“Rina,” balasnya pendek. “Rina Dwi Rakhmawati,”
lanjutnya. Aku tersenyum menerima balasan perkenalan
nya.
“Namamu bagus,” sahutku. Dia tersenyum dan
menunduk malu. Kemudian kami sepakat duduk
sebangku. Hanya itu. Ya, hanya Rina yang kukenal.
Lainnya, aku enggan menyapa. Mereka sedang sibuk
mengurusi pemilihan Ketua Kelas. Sibuk dan ramainya
melebihi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, atau
Pemilihan Anggota-anggota DPR-DPD. Menghitung
kekuatan lawan. Menghitung kemungkinan menang.
Jago-jago dari tiap-tiap sekolah sudah dicalonkan. Wah,
meriah pokoknya. Hanya aku dan Rina yang tidak
mengambil bagian, tak urun rembuk. Tak ikut sibuk.
Ekor mataku mengikuti tiap gerakan mereka, tetapi aku
tak berani memandang. Tak ada kekuatan untuk
bergabung dengannya.

117

“Diam... diam teman-teman,” suaranya sudah mulai
serak. Napasnya tersengal-sengal memohon perhatian.
Namun, tetap saja tak dihiraukan. Kasihan.

Tampil cewek tomboi. Hitam manis berambut
cepak. Bermata sipit tersenyum manis.

“Perkenalkan teman-teman, aku Weni Prabawani,”
suaranya cempreng, tetapi karena senyum selalu
menghias bibirnya sehingga dia terlihat manis. Seperti
dihipnotis semua diam. Kembali ke tempat duduk masing-
masing. Gaduh. Aku dan Rina hanya berpandangan:
tersenyum. Tanpa kata, tanpa suara menyaksikan itu
semua.

“Tolong teman-teman, tolong hargai Haris
berbicara. Kalau kita ramai seperti ini, tidak akan selesai-
selesai acara ini,” Weni memuntahkan kata hatinya.
Kekuatan dan senjata apa yang ia miliki hingga bisa
menundukkan dan meminta perhatian teman-teman.

“Sudah? Mari kita lanjutkan penghitungan suara.
Silakan Haris...,” Haris ke depan dan Weni mengambil
posisi berdiri di belakangnya. Layaknya satpam menjaga
majikannya. Atau bodyguard mengawal nasabah bank.
Hehehe.

“Telah kita lihat dan saksikan bersama. Berdasarkan
data yang tertera di papan tulis...,” Haris menoleh ke
papan tulis, mengamati angka-angka yang tertera. Kembali
pandangannya menyapu wajah teman-teman sekelas.
“Dapat kita simpulkan bahwa Ketua Kelas kita, I-D adalah
Arum. Dengan perolehan suara yang fantastis 33.

118

Berikutnya tiga suara untuk Putranto Budi Santosa sebagai
wakilnya. Sekretaris Retno Januamiati dan Siti Yuliati
sebagai bendahara kita. Bagaimana teman-teman, setuju
semua?” Haris mengakhiri pembicaraan.

“Setuju... setuju...,” teriak mereka bersahutan.
“Sip...,” sambut mereka.
Aku hanya tersenyum menyaksikan ini semua.
Biasa. Langganan ketua kelas: Kepala Suku, mereka
menyebutku. Bukan sombong lho. Tidak. Karena aku
menjadi Ketua Kelas sudah sejak kelas III SD setelah
berpisah kelas dengan Mago sampai kelas VI.
“Terima kasih teman-teman yang sudah memberikan
kepercayaan kepada saya untuk menjadi Ketua Kelas.
Saya hanya seorang, tak punya siapa-siapa, tidak akan
pernah dapat mewujudkan mimpi-mimpi kalian...” aku
sengaja memenggal, menjeda kalimat, melihat reaksi
teman-teman yang belum seluruhnya kukenal.
“Huuuuuu....,” koor serentak tanpa komando.
“Walah... percuma to kita pilih,” suara-suara
sumbang mulai terdengar bersahutan.
“Iya, rugi kita telah memilihnya,” ketus sekali
suaranya. Aku hanya tersenyum. Tidak menanggapi
suara-suara sumbang.
“Apalah artinya saya. Cewek tambun dari SD yang
tak berteman. Tanpa bantuan kalian, tanpa kerja sama kita
semua, saya yakin tidak akan dapat berjalan sendiri.
Ibarat motor aku adalah pengendara, kalian adalah bahan
bakarnya. Onak dan duri di sepanjang perjalanan. Bak

119

kapal aku nakhoda kalian semua adalah kelasi-kelasi
nya. Ke mana biduk tujuan kan kita bawa? Bergantung
kita semua. Perjalanan kita di lautan akan diwarnai oleh
ombak yang setiap saat siap menghantam, mengombang-
ambingkan kapal kita. Gelombang yang datang akan
memporak-porandakan. Jika kita tidak bersatu padu, tak
bahu-membahu manalah mungkin kita akan sampai
dermaga? Sampai pelabuhan? Tak mungkin kan...?”
panjang yang kuungkapkan.

Tak kudengar lagi celometan. Tak ada koor tanda
peperangan. Teman-teman diam sambil mengangguk-
anggukkan kepala. Senyum mengembang di bibir-bibir
polos tanpa sapuan make up. Kepolosan inilah yang akan
mengantarkanku menuju kekesuksesan, keberhasilanku
menjadi pemimpin sejati, pemimpin sesungguhnya,
pemimpin tanpa koalisi, tanpa materi, tanpa ambisi.
Wih...

“Setuju. Hidup, Arum. Hidup Arum. Hidup Arum!”
ramai sekali teriakan mereka.

Kulihat Rina tersenyum dan mengacungkan
jempolnya untukku. Ya, dengan Rina aku menjadi
tenang.

***

Rina Dwi Rakhmawati nama panjangnya. Aku
bisa memanggilnya dengan Nina. Nama kesayanganku.
Nama yang tak pernah kulupa. Dialah yang pertama kali
kukenal, selain Mago dan Madeking.

120

Rina, gadis cantik nan pendiam. Rambutnya pendek
lurus, hidungnya mbangir, wajahnya senyum. Sebenarnya
dia gadis yang pendiam, tapi denganku: dia gadis yang
manja.

***
“Assalammualaikum,” suara saam dari luar rumah.
Aku bergegas keluar.
“Waalaikum salam,” sahutku, ”eh, kamu Nin”
sambutku girang.
Kupersilakan Nina dan temannya duduk di tempat
lesku. Ada Mago juga yang ikut bergabung.
“Mbak, ini Agung,” kata Nina memperkenalkan
teman cowoknya. Aku tersenyum, kusambut uluran
tangan Agung.
“Agung,” katanya pendek.
“Rumisih,” balasku memperkenalkan diri.
“Saya sudah mendengar cerita tentang Mbak Rum
dari Rina‟” katanya.
“Oh ya,” sahutku,”emang Nina cerita apa saja?”
pancingku. Agung tersenyum. Kalau kulihat sebenranya
Agung ini tipe pendiam: tidak banyak bicara.
Cerita terpisah. Agung yang ternyata kakak
kelasku SMP 21 berbincang-bincang dengan Mago,
sedangkan Nina bercerita panjang lebar denganku
tentang Agung. Matanya berbinar-binar dan wajahnya
cerah. Antusias sekali dia meceritakan Agung.
“Kamu suka?” tanyaku menyelidik.
“Teman yo Mbakkk...,” potongnya tersipu-sipu.

121

“Teman apa teman?” selidikku.
“Yo wes ngalah... iya ya... dia teman dekatku,”
katanya menepuk-nepuk tanganku. Aku tersenyum
melihat Nina salah tingkah. Aku senang dia dekat dengan
seseorang. Artinya, ada yang melindungi dia.

***

Lama tak kudengar kabar berita tentang Agung,
cowok berkulit sawo mentah berambut cepak teman
dekat Nina. Aku berharap banyak: semoga kelak dia
menjadi pendamping hidup Nina. Aamiin.

***

“Mbak Rum, sudah dengan kabar?” tanya Neni,
sahabat Nina. Teman SMP-ku juga.

“Kabar apa Nen?” tanyaku kepo.
“Agungnya Rina meninggal,” katanya pelan.
“Apa?” aku kaget setengan mati.
Kami diam tak ada suara. Neni tahu, aku turut
bersedih.

***

Perum Griyasunyaragi Cirebon 1993
Suasana rumah sepi. Bapak Mudjib dan Ibu
menikmati kesunyian itu. Beraktivitas sesuai dengan
kegiatan dan tugasnya masing-masing. Dua putranya: Mas
Helmi dan Rina juga masih asik dengan kegiatannya.
Rumah besar itu hanya dihuni oleh empat manusia saja,

122

sehingga apabila dua putranya tidak di rumah, tampak
terasalah kelengan rumah itu.

Halaman rumah yang luas, cukup untuk menikmati
tatanan bunga karya Bu Mudjib yang terampil. Bapak tak
mau kalah, ada saja kegiatan yang dilakukan untuk
mengimbangi kegiatan Ibu.

***

Kantor Pak Mudjib 2013

Kriingggggggggggg

Telepon di ruangan Pak Mudjib berdering berulang

kali. Dengan langkah gontai, Pak Mudjib mengangkat

gagang telepon yang memanggilnya. membuka
“Assalammualaikum...,” katanya

percakapan.
“Waalaikum salam...,” sahut suara dari

seberang,”benar ini Bapak Mudjib?” tanyanya.
“Iya benar, saya Mudjib,” sahut Pak Mudjib ramah.
“Alhamdulillah, bagaimana kabarnya Pak Mudjib?”

tanya suara wanita di seberang sana.
“Maaf, ini siapa ya?” tanya Pak Mudjib

penasaran,”sepertinya saya kenal...”
“Masak Pak Mudjib tidak nela suara saya?”

tanyanya,”Bu Imam, Pak”
“O walah... maaf Bu Imam... suaranya masih

remaja,” suara Pak Mudjib renyah betul,” bagaimana
kabarnya, Bu Imam?” tanya Pak Mudjib.

123

“Alhamdulillah baik, Pak,” jawab Bu
Imam,”keluarga sehat semua kan?” bu Imam balik

bertanya.
“Alhamdulillah iya, Bu...,” jawab Pak Mudjib,

‟tumben nelpon, ada perlu, Bu Imam?” tanya Pak Mudjib

pada Bu Imam yang tidak biasanya.
“Maaf Pak kalau mengganggu...,” kata Bu Imam,

”ini kok ada kabar yang kurang enak....” Bu Imam serius.
“Berita apa?” Pak Mudjib terlihat tdak sabar.
“Anu Pak...anu...,” suara di seberang mulai

tergagap.
“Iya... anu apa? Ada apa, Bu?” Pak Mudjib semakin

tak sabar.
“Agung Pak...,” katanya.
“Agung siapa?” tanya Pak Mudjib , ”ada apa dengan

Agung?” Pak Mudjib mulai tenang.
“Agung meninggal Pak...,” suara Bu Imam mulai

samar.
“Apa?” teriak Pak Mudjib,”apa tadi...kurang jelas”

suara Pak Mudjib semakin meninggi.
“Agung meninggal dunia akibat kecelakaan di

Pringsurat 1 Muharam kemarin, Pak” bergetar suara Bu

Imam dari seberang sana.
“Innalillahi wainna illaihi rojiun...,” suara lirih Pak

Mudjib. Kakinya gemetar dan... gagang telepon yang

sejak tadi dipegangnya, lepas dari genggaman. Lemas

seluruh tubuhnya. Dengan beban yang terasa begitu berat,

sambil sempoyongan mencari kursi terdekat.

124

“Bagaimana aku harus menyampaikan berita berat
ini?” tanyanya dalam hati. Ia ingin menyimpan duka ini
rapat-rapat. Biarkan beban ini ia tanggung sendiri. Semua
harus dirahasiakan, batinnya. Ia keluar ruang tamu
kantor. Masuk lagi. Keluar lagi: bingung

***

Perum Griyasunyaragi Cirebon 1993
Beberapa hari setelah menerima telepon dari Bu
Imam, Pak Mudjib masih merahasiakan kabar duka itu.
Menata hati dan ekspresi agar semua terlihat biasa saja,
seolah-olah tak terjadi apa-apa. Namun, tidak untuk kali
ini, beliau sudah tak bisa lagi menyimpan rahasia itu.
“Ada apa, Pak?” tanya Bu Mudjib begitu melihat
suaminya datang.
“Tidak ada apa-apa, Bu,” katanya berbohong. Inilah
untuk pertama kalinya Pak Mudjib membohongi istri
yang sudah puluhan tahun dinikahinya. Deg-degan juga
rasanya.
“Mas Agung..., eh bukan...,” katanya meralat.
“Ada apa dengan Mas Agung?” tanya Bu Mudjib
penasaran.
“Ah, eh... nggak...,” Pak Mudjib semakin gugup,
”ayok istirahat dulu...,” ajaknya.
“Iya Pak. Bapak istirahat dulu, Ibu mau
membereskan ini...,” katanya sambil menunjuk beberapa
ranting yang belum terpotong.

125

“Sepertinya ada yang tidak beres dengan Bapak,”
gumamnya dalam hati, ”tapi... apa ya” teriak hatinya
penasaran.

***

“Bapak, boleh Ibu tanya?” Bu Mudjib tiba-tiba
sudah berada di belakangnya, duduk di kursi sebelahnya.

“Tanya apa, Bu?” Pak Mudjib balas bertanya.
“Anu...,” Bu Mudjib agak terggagap, ”Bapak
menyimpan sesuatu?” tanyanya mulai menebak-nebak.
“Apa, Bu?” Pak Mudjib balik bertanya.
Disembunyikannya wajah pucatnya belakangan ini.
“Ibu yakin, pasti ada yang Bapak sembunyikan dari
Ibu,” langsung tembak langsung pada sasaran. Ibu sendiri
sudah tak tahan melihat Bapak yang sudah mulai berubah.
Setiap kali bertemu, Bapak cepat-cepat menghindar
darinya. “Pasti ada yang tidak beres,” batinnya.
Pak Mudjib menggeser kursi. Cepat-cepat
dijatuhkannya tubuh gagahnya di kaki Bu Mudjib. Dia
tundukkannya kepala di kaki istrinya. Ia muntahkan
semua keresahan hatinya. Ia tumpahkan segala beban
derita yang selama ini ia pendam sendiri: ia menangis.
“Maafkan Bapak, Bu,” katanya dengan wajah
bersimbah air mata.
“Ada apa, Pak?” Bu Mudjib semakin tak mengerti.
Lelaki yang ndlosor di kakinya ini adalah lelaki yang
kuat, lelaki yang telah puluhan tahun mendampingi,

126

melindungi, dan imamnya, tetapi hari ini... Suaminya

terlihat begitu lemah dan lungkrah.
“Ada apa sebenarnya, Pak?” Bu Mudjib semakin

penasaran dibuatnya. Lelaki ini, suaminya belum pernah
melakukan hal semacam ini.

“Bu, maafkan Bapak...,” Pak Mudjib berusaha
setegar mungkin, ”memang ada yang banyak
sembunyikan,” katanya pelan.

“Bapak selingkuh?” Bu Mudjib sudah tak sabar,
”sama orang mana, Pak?” tanyanya penuh emosi.
Suaranya tinggi dan hampir menangis.

“Demi Allah tidak Bu, Bapak tetap setia dan
memegang kesetiaan dan janji suci itu hingga akhir
hayat,” terangnya.

“Lalu?” Bu Mudjib semakin tak sabar.
“Mas Agung, Bu...,” Pak Mudjib mulai bicara,”Mas
Agung meninggal...,” katanya. Pak Mudjib menutup

wajah dengan kedua tangan lembutnya.
“Bapak tidak sedang becanda kan?” Bu Mudjib

meyakinkan,”bapak sungguhan?” tanyanya lagi.
Pak Mudjib mengangguk-anggukkan kepalanya.

Pecahlah tangis yang selama ini disimpannya rapat-rapat.
Didekapnya istri tercinta yang ada di depannya. Kedua
suami istri itu saling menguatkan, menumpahkan tangis.
Tak ada kata, hanya air mata yang semakin deras
mengalir.

“Ya Allah, Bapak... berarti selama ini Bapak
menghindari Ibu karena ini?” tanya Bu Mudjib. Pak

127

Mudjib mengangguk. Sekali lagi, didekapnya istri
tercinta.

“Terus, kita harus bagaimana Pak?” tanya Ibu pelan.
Keduanya diam tanpa kata. Apa yang harus dilakukan?
Yang jelas, Pak Mudjib sudah lega. Semua beban berat
yang menghimpit dadanya, sudah terlepas: lega

.
***

Perum Griyasunyaragi Cirebon, di kediaman Bapak
Mudjib digelar acara tahlilan. Aku tak tahu, untuk apa
dan siapa acara tersebut. Yang jelas, masyarakat sekitar
dan jamaah masjid sudah berdatangan untuk mengikuti
acara besar tahlilan yang diadakan oleh keluarga Bapak
Mudjib.

“Acara apa ya, Bu?” tanya mereka saling
berpandangan.

“Iya ya, acara apa ya?” tanya yang lain,” nanti kita
akan tahu...,” lanjutnya.

Semua kusyuk mengikuti acara demi acara. Tak
ada yang berani bertanya. Tiba-tiba

“Apa, Agung? Agung siapa, Pak?” Nina menjerit
sejadi-jadinya di tengah-tengah pengajian yassin tahlil
yang sedang digelar.

Bapak mendekap Nina erat-erat. Ibu juga.
Dipeluknya anak gadis satu-satunya itu. Nina semakin
keras menangis di pelukan ibunya.

“Mengapa Bapak tega?” teriaknya,”mengapa, Pak?”
teriaknya semakin menjadi. Pak Mudjib tak bisa

128

mengelak. Di dekapnya Nina hingga tenang dalam
pelukannya.

“Maafkan Bapak, Nok...,” bapak masih mendekap
Nina dan mengelus-elus kepala anak gadisnya itu,
”maafkan Bapak, Nin. Bapak tidak tega menyampaikan
secara langsung padamu. Kamu masih ujian, Bapak tak
tega mengganggung ujianmu,” sekali lagi diciumnya
kepala Nina.

Nina sadar, ia yakin, bahwa karena kasih sayang
Bapaknya, orangtua semata, maka Bapak melakukan ini.
Bapak tak mau ujianku terganggu. Bapak menjaga hati
dan perasaanku. Ah Bapak...

***

Tiga hari sebelumnya.
Nina mengirim surat untuk Agung. Biasanya, setelah
Nina mengirim surat, akan mendapat surat balasan
secepatnya. Tapi rupanya tidak untuk kali ini. Nina jadi
bingung dan cemas: dengaren (tidak biasanya).
Bu Mudjib mulai mencari cara untuk
menyampaikan berita duka perihal Agung. Senyampang
semesteran sudah selesai, selesai sudah sholat Isya. “Inilah
saat yang tepat, seru Bu Mudjib dalam hati, hati-hati
sekali.
Bu Mudjib sudah menunggui anaknya, Nina, sholat
Isya: tumben. Nina ingin bersyukur dan menyampaikan

129

rasa syukur dengan sholat khusyu: ia telah selesai

semesteran.

Sholat ditunggui ibu, rasanya sudah lama sekali

tak ada ritual seperti ini. Terakhir, mungkin ketika SD

karena masih belajar sholat. Nina jadi bingung: ada apa

gerangan. Setelah sholat Isya, dilipatnya mukena dan

sajadah panjangnya.
“Nina...,” Bu Mudjib membuka percakapan.
“Iya Bu, kok tumben Ibu nunggui Nina sholat?”

tanya Nina belum tahu.
“Khusyuk nggak tadi sholatnya?” tanyanya basa-

basi.
“Ah, Ibuuuu,” rengeknya manja,”insyaallah,

Bu...kan yang tahu hanya Allah,” katanya masih

meletakkan kepalanya di dada ibunya. ke
“Nin, kapan terakhir Nina kirim surat

Magelang?” tanya Bu Mudjib hati-hati.
“Ihhhh... Ibu kepo...,” katanya masih merajuk.
“Hehe... kapan coba?” tanya Bu Mudjib sabar.

"Sudah 10 hari yang lalu." Jawab Nina pasti.

"Suratmu kemarin tdak pernah sampai, Nin",

begitu kata Bu Mudjib.

"Memangnya kenapa? Kok ibuk tau? ", tanya Nina

ke ibunya tanpa ada kecurigaan.
“Karena ketika suratku sampai, almarhum sudah

berada di alam yg berbeda,” kata Bu Mudjib menunduk.
“Maksud Ibu?” tanya Nina tak mengerti.

130

“Iya Nin, bacalah...,” Ibu menyerahkan sepucuk
surat pada Nina, putri semata wayangnya.

“Kok yang ngirim Agus Wijanarko,” tanya Nina
belum mengerti.

Dengan tergesa-gesa dibukanya dan dirobeknya
amplop itu. Dan... ia tak dapat membendung air mata
nya.

Isi surat itu jelas. Kronologi kejadian kecelakaan
yang dialami almarhum Agung. Sambil dia
memperkenalkan diri.

Tepat malam 1 muharam, 21 Juni 1993. Agung
berangkat dari rumah bersama beberapa temannya diantar
kakaknya, dari berlibur di rumah diantar kembali ke
asrama Akademi Militer.

Kebetulan Agung duduk di kursi belakang sopir,
kakaknya. Tapi naas, sesampai di Pringsurat Magelang
mobil mengalami kecelakaan, dari seluruh penumpang
mobil, hanya Agung yg meninggal dunia. Alhamdulillah,
Agusno, sang kakak hanya mengalami luka.

Rupanya, surat terakhir Nina, selamanya tidak
pernah terbaca oleh Agung, karena ketika surat Nina
sampai, almarhum sudah berada di alam yang berbeda.
Dia sudah tidur dengan tenang di sisi Tuhan, di tempat
paling mulia yang telah disediakan untuknya.

Esok harinya, Nina dan Bu Mudjib langsung ke
semarang.

Perjalanan dari Cirebon biasa ia lakukan, tapi tidak
seperti saat ini: Nina ditemani Ibu. Perjalanan terasa jauh.

131

Amat jauh, dan bus yang ditumpanginya terasa berjalan
seperti semut, seperti siput: nggremet, pelan sekali. Tak
sabar rasanya, pengen terbang saja agar secepatnya
sampai ke dalemnya Bu Imam.

Semarang terasa kian panas, sepanas hatinya.
Gundah gulana ia rasakan. Ingin segera mendekap Bu
Imam dan menumpahkan segala isi hatinya.

Secepat kilat dia turun dari bus yang ditumpangi
nya dan menangkap tangan Ibunya turun dari bus. Hup.
Dia lari secepat-cepatnya. Hanya satu yang dia inginkan:
sampai di rumah Bu Imam.

Seperti biasa, mereka bersilaturahmi ke Bu Imam
yang sudah dianggapnya saudara sendiri. Tujuan ke
Semarang pun, yang uama juga ke Bu Imam dan malam
harinya baru takziyah ke rumah almarhum Agung.

“Asalammualaikum..,” katanya nyaring.
“Waalaikum salam... eh Mbak Nina, ayo masuk,”
kata tuan rumah menggamit lengan Nina. Nina balas
menyalami tangan wanita setengah baya, mertua
wurungnya, didekapnya wanita itu, masih ada sisa dan
guratan kesedihan. Bu mudjib juga mendekap calon
besannya yang tidak jadi itu.
“Nderek belosungkowo njih Ibu, mohon maaf
baru bisa sowan, nunggu Nina selesai ujian semesteran,”
kata Bu Mudjib tak dapat menyembunyikan kesedihan
dan air matanya. Beliau tumpahkan rasa sedih yang
selama ini dipedamnya. Suasana jadi semakin haru dan
mencekam. Meledaklah angis dua keluarga itu.

132

Pagi hari berikutnya, Nina dan Bu Mudjib ke
Purworejo naik bis.

Mereka ke Sukun menumpang bus luar kota:
Purworejo tujuannya.

“Mau kemana Mbak?” tanya kondektur bus.
“Purworejo, Mas!” jawab Nina pendek sambil
menyerahkan beberapa uang kertas membayar bus.
“Purworejonya mana, Mbak?” tanya kondektur
lagi.
“Makam Anu, Mas,” jawab Nina masih pendek.
Dan dengan mudah bisa sampai ke rumah keluarga
besarnya Agung yang di Purworejo.
Letak makam almarhum Agung tidak jauh dari
rumah keluarga besarnya. Nama desanya Purwodadi,
beberapa meter sebelum jembatan Bogowonto.
Alhamdulillah...
Mereka sampai di makam yang mereka maksud. Ibu
heran, Nina yang terlihat penakut (jirih), ternyata berani
ke tempat yang belum pernah dikunjunginya sama
sekali.
Alhamdulillah, syukur tak pernah henti terucap
dari bibir mereka. Mereka masih dilindungi dan
dimudahkan-Nya.
Mereka berdua, anak-beranak itu, kusyuk tunduk
dan berdoa.
Mendoakan arwah almarhum Agung. Beberapa
mereka dengan pikiran dan doanya masing-masing. Air
bening tak henti menetas dari kedua mata Nina. Ibu tak

133

sepatah katapun mengganggu kekusyukan Nina yang
sedang berdoa.

“Aamiin...,” Nina membasuh-mengusapkan kedua
tangan ke wajahnya sebelum berdiri, ”ayo kita pulang,”
katanya menggamit lengan Ibunya.

Bus Semarang siap mengantarkan mereka berdua
sampai tujuan.

Terlihat sekali, Nina merasakan kelegaan dan
keikhlasan setelah dia berdoa di pusara Agung, bisa
dibayangkan bagaimana perasaannya saat dia mendengar
kepergian Agung yang sudah beberapa hari lalu.

Bu Mudjib terlihat sangat terharu dan bersyukur,
Nina akhirnya dapat menerima takdir Allah buat Agung:
bahwa umurnya memang hanya sampai di situ. Memang
mereka belum berjodoh. Manusia boleh berencana, tetapi
Tuhan jugalah pengatur segalanya: menentukan yang
terbaik buat hamba-Nya.

Takdir tak bisa dipinta dan tak dapat juga ditunda.
Semuanya sudah tertulis di lauhal mahfudz.

Mobil jimny putih telah mengantar Agung ke
hadirat Allah SWT tepat di Pringsurat, tempat yang telah
tertulis untuk Agung. Selamat jalan lelaki berambut
cepak, selamat jalan kakak kelasku. Aku menjadi saksi:
kau orang baik. Selamat beristirahat dengan tenang di sisi
Tuhan, di tempat yang mulia yang sudah disediakan
buatmu. Selamat jalan Mas....

***

134

Berbulan-bulan kemudian, setelah berpulangnya
Agung kekasihnya menghadap Allah SWT. Nina, remaja
belia yang baru pertama mengenal cinta yang masih 19
tahun itu, harus menelan pil pahit kehidupan. Ia harus
merelakan, mengikhlaskan kepergian kekasih tercintanya.

Sebagai tanda setia, cinta, dan kangennya kepada
almarhum Agung, Nina yang masih remaja itu
mengumpulkan kembali surat-surat yang pernah dikirim
oleh almarhum, kemudian disambung-sambungnya hingga
membentuk rangkaian kertas yang panjangnya 15 meter.
Ia bahagia: hanya itu yang bisa ia lakukan. Saat ingat
almarhum, Nina akan membuka kembali gulungan kertas
tersebut dan akan dibacanya kembali dari lembaran awal
hingga akhir.

Wajah ganteng kekasihnya itu masih sering
membayang memenuhi kepalanya, hingga sering mimpi
bertemu dengan almarhum kekasihnya. Berulang...
berulang... dan terus berulang mimpi dan bayangan itu
seperti nyata, saat itu sering kualami: tanpa dialog, hanya
senyum mengembangnya aja.

Nina masih sering dremimil melafazkan
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu doa
khusus almarhum Agung tercintanya juga selalu membaca
Yasin untuk almarhum, sampai dia hafal surat Yasin.

Alhamdulillah, setelah berbulan-bulan ber
cengkerama dengan fatamorgana, akhirnya realita segera
menyadarkannya. Ia ikut semua kegiatan kampus dan
harus sibuk dengan kegiatan di luar kampus agar bayangan

135

itu tak membelenggu dirinya, tak menghalangi gerak
langkanya, untuk keberlangsungan kehidupannya yang
lebih baik. Ia tak mau terus-menerus ngelangut,
memikirkan dan merengek minta kembali untuk sesuatu
yang tak mungkin.

136

Segalanya yang bernyawa
Pasti akan mati

Dan Allah telah menentukan
kapan dan di mana kematian itu

akan terjadi
Semua telah tertulis di pintu-pintu

langit

Mas Agung
Kau orang baik
Dan kembalimu dengan kebaikan
Dalam keadaan yang baik pula

Husnul khotimah kembalimu
Allah telah sediakan surga

Tempat yang mulia kembalimu

137

Semoga bidadari di dunia
Telah Allah ganti dengan bidadari

surga buatmu
Agar kau beristirahat dengan
tenang di sisi Allah SWT

Selamat jalan Mas
Sekali aku melihatmu
Sekali itu pula aku merelakan

sahabatku
Berdua bersamamu, untuk kau jaga,

kau lindungi
Ternyata

Manusia hanya boleh berencana
Tetapi Tuhan jualah penentunya

Selamat jalan Mas Agung...

138

Tentang Penulis

Rumisih, M.Pd. bernama pena Rumisih Roem
dilahirkan di Semarang, 15 Maret 1972 dari pasangan
Bapak Salim-Ibu Asiyah (keduanya telah wafat).

Penulis menamatkan SD Negeri Kramas 2 Semarang
1986. Lulus SMP Negeri 21 Semarang 1989. Tahun 1992
memperoleh ijazah dari SMA Teuku Umar Semarang.
Gelar Sarjana Pendidikan diraihnya 1997 di jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia-FPBS IKIP Negeri
Semarang. Pendidikan Pascasarjananya di selesaikan 2013

139

dari Universitas Negeri Semarang pada jurusan yang
sama.

Pernah mengajar di SMK Teuku Umar Semarang,
SMP Eka Sakti Semarang, SMP Negeri 17 Semarang, dan
SMA Negeri 2 Ungaran. Mulai 1 Januari 2005 sampai
sekarang penulis mengabdikan diri di SMA Negeri 9
Semarang sambil “momong” anak-anak belajar Bahasa
Indonesia.

Pertemanan dan persaudaraan dapat dibuka di FB
Rumisih Roem atau [email protected]. Lewat
WA 085742409484, telepon 087823625667 atau datang
langsung ke Kuwungsari RT 005 RW 01 Gedawang
Banyumanik Semarang Jawa Tengah.

Jangan Menangis Mama (1, 2) merupakan antoogi
cerpennya yang pertama bersama para siswanya.
Sebelumnya, kumpulan puisi kontemporer juga bersama
anak didiknya. Lebih awal lagi, Manusia Batu: Membuka
Tabir Kelabu merupakan novelnya yang pertama yang
diterbitkan sampai beberapa edisi juga Untuk Sebuah
Nama, Dekapan Rindu hingga Pelabuhan Terakhir
(Antologi Puisi), Mantraku (antologi puisi bersama para
siswanya), Kisah Kecil di Tengah Pandemi (Antologi

140

cerpen bersama para guru). Beberapa kumpulan puisi dan
cerpen nasional mencantumkan namanya sebagai salah
satu kontributor bahkan Menantu Untuk Emak
bertengger di peringkat pertama sebagai cerpen motivasi
yang terbaik. Yang menunggu terbit dan mencantumkan
namanya Pantun Nasihat Asean, Pantun Nasihat Guru
untuk Murid, dan Pantun Budaya Indonesia, Cerita
Anak, juga Cerita Fabel.

141

Dra.Retnaningsih, M.Pd., biasa dipanggil Ning
dalam keluarganya dan Retno oleh semua teman-
temannya, lahir di Semarang, 23 November 1964 dari
pasangan bernama Martono dan Sri Sudarinah sebagai
anak ketiga dalam keluarga.

Perjalanan akademiknya dimulai di Sekolah Dasar
Negeri Jogosetran Klaten lulus pada tahun 1976, di SMP
Pangudi Luhur Klaten dan menyelesaikan studinya tahun
1979. Pada tahun yang sama, ia mendaftar ke Sekolah
Menengah Negeri 2 Klaten dan lulus 1984. Sekolah
Menengah Atas khusus baginya karena dia menerima
pendidikan dan mengalami kegiatan yang berarti di dalam
dan di luar sekolah. Pada 1984 tepat setelah

142

menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Atas.
Retnaningsih diterima sebagai mahasiswa jurusan Sastra
Inggris di Universitas Diponegoro. Sejak itu, ia tinggal di
Semarang. Pada Juni 1990, setelah bertahun-tahun belajar,
ia lulus Sarjana Sastra. Pada tahun-tahun itu, dia mulai
berpikir bahwa dia perlu belajar lebih banyak untuk
mendapatkan lebih banyak pengetahuan ketika dia
memutuskan untuk mendaftar sebagai mahasiswa magister
di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan lulus pada
tahun 2011. Di Srondol Timur, ia mulai mengabdikan
dirinya untuk mengajar bahasa Inggris sejak 1987. Di
beberapa sekolah di sekitar Srondol Timur, ia belajar
untuk menjadi lebih bijaksana, lebih bertanggung jawab,
dan memperkuat kesediaannya untuk mengabdi menjadi
seorang guru. Akhirnya, pada Januari 2008, ia dapat
membuktikan dirinya dan mulai memiliki langkah-langkah
yang lebih kuat sejak ia diterima sebagai pegawai negeri
sipil pemerintah atau CPNS. Sebagai pegawai negeri sipil
pemerintah, ia ditugaskan menjadi guru bahasa Inggris di
SMA Negeri 9 Semarang. Mulai 1 Januari 2008 hingga
sekarang, penulis telah mengajar dan mengabdikan dirinya
di SMAN 9 Semarang.

143

Seperti pepatah lama mengatakan, "Satu juta teman
masih kurang, satu musuh terlalu banyak", Retnaningsih
terus melakukan yang terbaik untuk sekolahnya dan para
siswa dengan sepenuh hati. Dia percaya bahwa "Tuhan
tidak akan pernah meninggalkan beban kepada kita dan
akan selalu memberi kita kemampuan untuk meningkatkan
diri kita sendiri. "Setelah dia berpikir dia gagal, dia
percaya bahwa orang yang jatuh adalah hal biasa, tetapi
orang yang jatuh dan segera bangkit kembali adalah luar
biasa. Itu membuatnya kuat dan tangguh dalam melewati
semua tantangan dalam hidupnya. Terakhir, dia juga
percaya bahwa "Pengalaman adalah guru yang baik, dan
guru terbaik adalah orang yang memiliki banyak
pengalaman dan pengetahuan". Moto-moto itu telah
memperkuatnya dalam mengejar mimpinya. Akhirnya,
dengan melengkapi koleksi cerita pendek ini, dia ingin
memberikan rasa terima kasihnya kepada cucu cucunya
yang cantik dan ganteng, anak-anaknya, orang tua, semua
kerabat, dan teman-teman yang telah memberikan banyak
dukungan dan berdoa dalam menyelesaikan buku.

144

Siti Aminatun, S.Pd., M.Par. dilahirkan 46 tahun
silam di sebuah desa terpencil yang menjadi bagian dari
Kota Solo, tepatnya di Sukoharjo, 9 Maret 1974 dari
pasangan Bapak Wiyono dan Ibu Sri Murtini.

Penulis menamatkan SD Jagan 1 pada tahun
1986.Lulus SMP Negeri 1 Bendosari tahun 1989. Tahun
1992 memperoleh ijazah dari SMA Veteran 02
Sukoharjo.Gelar Sarjana Pendidikan diperoleh dari IKIP
Negeri Semarang jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
pada tahun 1997. Pendidikan Pascasarjana diselesaikan
tahun 2010 dari STIEPARI Semarang jurusan Manajemen
Pariwisata.

145


Click to View FlipBook Version