MATERI PEMBELAJARAN
PENGURANGAN RISIKO BANJIR BAB IV
4.1. Identifikasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Banjir
Muatan Pendidikan PRB untuk siswa SD/MI disusun dengan mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut :
1. Kepentingan dan kemampuan peserta didik dan lingkungannya
Muatan pendidikan PRB dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta
didik memiliki peluang atau kesempatan untuk selamat dan membantu orang
lain agar selamat ketika gempa bumi terjadi. Untuk mendukung pencapaian
tujuan tersebut perlu peningkatan kompetensi/kapasitas peserta didik
disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik serta tuntutan lingkungan, termasuk kearifan lokal yang dimiliki
masyarakat dalam lingkungan tersebut. Kegiatan pembelajaran PRB berpusat
pada peserta didik.
2. Keragaman risiko bahaya dan karakteristik daerah dan lingkungan
Setiap daerah memiliki risiko, kebutuhan, tantangan, dan keragaman
karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan PRB
sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh
karena itu, kurikulum harus mengakomodir keragaman tersebut yang relevan
dengan kebutuhan pendidikan PRB.
3. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
Pengembangan muatan pendidikan PRB dilakukan dengan memperhatikan
karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian
keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat
diperlukan, termasuk kearipan lokal yang ada.
4. Peningkatan kesadaran akan adanya risiko bencana akibat gempa
Muatan pendidikan PRB dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan
kesadaran siswa akan adanya risiko bahaya gempa. Untuk itu diperlukan
pengetahuan dan pemahaman terjadinya gempa bumi, zona gempa bumi,
hal-hal yang terjadi ketika dan setelah gempa bumi.
5. Peningkatan kompetensi/kapasitas diri agar dapat mengurangi bahaya
bencana yang diakibatkan gempa bumi
Pendidikan PRB dilakukan secara sistematik dan terpadu dengan pendidikan
mata pelajaran lain, untuk meningkatkan kompetensi siswa secara holistik
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Banjir
yang memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor) berkembang
secara optimal, agar selamat ketika gempa terjadi. Sejalan dengan itu,
kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan,
minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik
peserta didik.
6. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi muatan pendidikan PRB mencakup keseluruhan dimensi
kompetensi yang diperlukan, dimensi kognitif, psikomotor dan afektif.
7. Belajar sepanjang hayat
Pengembangan muatan pendidikan PRB diarahkan kepada proses
pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat.
Adapun materi pembelajaran pengurangan risiko banjir untuk setiap jenjang kelas
adalah sebagai berikut:
Adapun materi pembelajaran pengurangan
risiko banjir Tuanbtuelk4s.e1tiMapatjeernijPaenmg bkeellaasjaardaanlaPhensegbuaragnagi baenrRikiusitk: o Banjir
MATERI PEMBELAJARAN KELAS
(1) IV V VI
(2)
A. Sebelum Terjadi Bencana Banjir v v v
t 1FOHFSUJBO CBOKJS v v v
t +FOJT KFOJT CBOKJS v v v
t 1FUB EBFSBI CBOKJS v v v
t 1FOZFCBC CBOKJS v
t 5BOEB UBOEB UFSKBEJOZB CBOKJS v v
t 1FODFHBIBO CFODBOB CBOKJS v v v
t .FOZJBQLBO QPTLP CBOKJS v
B. Tindakan Saat Terjadi Banjir v
t 1SPTFT UFSKBEJOZB CBOKJS
v
t .FLBOJTNF QFOZFMBNBUBO PMFI v
individu, masyarakat dan pemerintah v
t 5JOEBLBO QBEB TBBU CBOKJS UFSKBEJ
(mencari tempat yang lebih tinggi, tidak
bermain di air deras, menghindari
aliran listrik di air)
t 1FOZFEJBBO CBOUVBO EBSVSBU NBLBOBO
air bersih, pakaian, obat-obatan)
C. Tindakan Setelah Terjadi Banjir
t %BNQBL CBOKJS
t .BOGBBU CBOKJS
t Trauma Healing
34
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
4.2. Pemetaan Indikator Siswa
Kompetensi tersebut dapat dielaborasi ke dalam indikator-indikator sebagai berikut :
35
B. Pemetaan Indikator Siswa
,PNQFUFOTJ UFSTFCVU EBQBU ETJaFbMBeCl P4S.2BTIJn LdFik EaBtoMBrNPr JiOlaEkJuLBSUiPswS aJOuEnJLtuBUkPPS eTmFCbBeHlaBjJa CraFnSJLPVeUn gurangan Risiko Banjir
MATERI KELAS
PEMBELAJARAN
(1) IV V VI
SEBELUM TERJADI BENCANA (2) (3) (4)
BANJIR INDIKATOR PRILAKU SISWA
t 1FOHFSUJBO CBOKJS .FOHFOBMJ QFOHFSUJBO .FOHFOBMJ LFLVBUBO CBOKJS
t +FOJT KFOJT CBOKJS .FOHFOBMJ KFOJT KFOJT CBOKJS
t 1FUB EBFSBI CBOKJS t .FOHFOBMJ UFNQBU UFNQBU ZBOH BNBO LFUJLB t .FOHFOBMJ UFNQBU UFNQBU ZBOH CFSCBIBZB t .FOHFUBIVJ EBFSBI ZBOH TFSJOH UFSKBEJ
t 1FOZFCBC CBOKJS UFSKBEJ CBOKJS LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS CBOKJS
t 1FNFUBBO EBFSBI SBXBO CFODBOB
.FOHFOBMJ QFOZFCBC
.FOHFOBMJ QFOZFCBC .FOHFOBMJ QFOZFCBC
t 5BOEB UBOEB UFSKBEJOZB CBOKJS .FOHFOBMJ HFKBMB .FOHFOBMJ HFKBMB
t 1FODFHBIBO CFODBOB CBOKJS t .FOHFOBMJ CFOEB CFOEB ZBOH CFSHVOB LFUJLB t .FOHFOBMJ CFOEB CFOEB ZBOH CFSCBIBZB t .FOHFUBIVJ KBMVS FWBLVBTJ KJLB UFSKBEJ
UFSKBEJ CBOKJS LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS CFODBOB CBOKJS
t .FOHFUBIVJ KBMVS FWBLVBTJ KJLB UFSKBEJ CFODBOB t .FOHFUBIVJ KBMVS FWBLVBTJ KJLB UFSKBEJ t .BNQV QSBLUFL TJNVMBTJ
LFUFSBNQJMBO
CBOKJS CFODBOB CBOKJS QFOZFMBNBUBO EJSJ LFUJLB UFSKBEJ CFODBOB
t .BNQV QSBLUFL TJNVMBTJ
LFUFSBNQJMBO t .BNQV QSBLUFL TJNVMBTJ
LFUFSBNQJMBO CBOKJS
QFOZFMBNBUBO EJSJ LFUJLB UFSKBEJ CFODBOB CBOKJS QFOZFMBNBUBO EJSJ LFUJLB UFSKBEJ CFODBOB
t .FMBLVLBO LFSKB CBLUJ NFNCFSTJILBO TBMVSBO BJS CBOKJS
t .FOHFUBIVJ LFHJBUBO LFCJBTBBO ZBOH BLBO
NFOZFCBCLBO UFSKBEJ CFODBOB CBOKJS
NJTBM .FNCVBOH TBNQBI TFNCBSBOHBO
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko BanjirMATERIKELAS
PEMBELAJARAN
36
(1) IV V VI
TINDAKAN SAAT TERJADI (2) (3) (4)
BANJIR INDIKATOR PRILAKU SISWA
t 1SPTFT UFSKBEJOZB CBOKJS t .FODBSJ MPLBTJ QFOZFMBNBUBO EJSJ ZBOH UFSEFLBU t .FODBSJ MPLBTJ QFOZFMBNBUBO EJSJ ZBOH t .FODBSJ MPLBTJ QFOZFMBNBUBO EJSJ ZBOH
EBO BNBO UFSEFLBU EBO BNBO UFSEFLBU EBO BNBO
t .FOHIJOEBSJ UFNQBU ZBOH CFSCBIBZB LFUJLB
UFSKBEJ CBOKJS
t .FLBOJTNF QFOZFMBNBUBO t .FOHFOBMJ DBSB NFLBOJTNF NFOZFMBNBULBO t .FOHFOBMJ DBSB NFLBOJTNF NFOZFMBNBU t .FNJMJLJ LFUFSBNQJMBO VOUVL NFOZFMBNBU
PMFI JOEJWJEV
NBTZBSBLBU EBO EJSJ TBBU CBOKJS LBO EJSJ TBBU CBOKJS LBO EJSJ EBSJ CBIBZB CBOKJS
QFNFSJOUBI
t .FOHFOBMJ DBSB NFOPMPOH &WBLVBTJ LFMVBSHB t .FOHFOBMJ DBSB NFOPMPOH &WBLVBTJ t .FOHFOBMJ DBSB NFOPMPOH &WBLVBTJ
,PSCBO LFUFNQBU ZBOH BNBO LFMVBSHB ,PSCBO LFUFNQBU ZBOH BNBO LFMVBSHB ,PSCBO LFUFNQBU ZBOH BNBO
t 5JOEBLBO QBEB TBBU CBOKJS t .FOHHVOBLBO NFNBOGBBULBO CFOEB CFOEB t .FOHIJOEBSJ CFOEB CFOEB ZBOH CFSCBIBZB t .FOHIJOEBSJ CFOEB CFOEB ZBOH CFSCBIBZB
UFSKBEJ NFODBSJ UFNQBU ZBOH ZBOH CFSHVOB LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS VUL LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS
MFCJI UJOHHJ
UJEBL CFSNBJO QFOZFMBNBUBO EJSJ t .FOHHVOBLBO NFNBOGBBULBO CFOEB t .FOHHVOBLBO NFNBOGBBULBO CFOEB
EJ BJS EFSBT
NFOHIJOEBSJ BMJSBO t .BNQV NFOHBNBOLBO CBSBOH CBSBOH CFOEB ZBOH CFSHVOB LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS CFOEB ZBOH CFSHVOB LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS
MJTUSJL EJ BJS
CFSIBSHB EBO EPLVNFO QFOUJOH LF UFNQBU t .BNQV NFOHBNBOLBO CBSBOH CBSBOH t .BNQV NFOHBNBOLBO CBSBOH CBSBOH
ZBOH BNBO CFSIBSHB EBO EPLVNFO QFOUJOH LF UFNQBU CFSIBSHB EBO EPLVNFO QFOUJOH LF UFNQBU
ZBOH BNBO ZBOH BNBO
t .FNBUJLBO QFSBMBUBO MJTUSJL TVNCFS MJTUSJL
t .FNBIBNJ DBSB NFODBSJ UFNQBU ZBOH BNBO
t 1FOZFEJBBO CBOUVBO EBSVSBU t .FOHHVOBLBO BJS CFSTJI EFOHBO FöTJFO
NLBOBO
BJS CFSTJI
QBLBJBO
PCBU PCBUBO
TINDAKAN SETELAH BANJIR
t %BNQBL CBOKJS t .BNQV NFOKBHB LFTFIBUBO t .FNCFSTJILBO UFNQBU UJOHHBM EBO V
t 5SBVNB IFBMJOH MJOHLVOHBO SVNBI t .BNQV CFSBEBQUBTJ EBMBN TJUVBTJ TFUFMBI
HFNQB
t .FOHJLVUJ QFNCFMBKBSBO EJ UFNQBU UFSEFLBU
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
4.3. Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar-mengajar pendidikan pengurangan risiko bencana khususnya
untuk bencana banjir dilakukan melalui 2 tahapan kegiatan mencakup tahap
persiapan dan tahap pelaksanaan.
Dalam rangka persiapan pengintegrasian pendidikan pengurangan risiko bencana
banjir dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, perlu memperhatikan beberapa
prinsip yaitu:
1. Berpusat pada kondisi daerah potensi bencana dan jenis bencana yang terjadi
serta kebutuhan pengetahuan, pemahaman, dan penerapan penanggulangan
bencana.
2. Pendidikan PRB mengikuti prinsip beragam yaitu dikembangkan sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan daerah potensi bencana serta integrasi dengan
matapelajaran IPA, IPS, Penjaskes, Agama, Muatan Lokal dan Pengembangan
Diri. Dimungkinkan pula untuk dikembangkan dalam materi pengembangan
diri atau dapat bentuk kegiatan temporer, bahkan dalam bentuk lainnya
3. Tanggap terhadap perkembangan dengan memperhatikan perkembangan
kondisi wilayah setempat, kemajuan iptek, dan pengembangan potensi daerah
setempat.
4. Relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat agar dapat diterapkan dalam
situasi yang membutuhkan.
5. Pendidikan PRB disusun untuk dipergunakan dan dikembangkan dengan
berkesinambungan sehingga memuat pengetahuan dan pemahaman yang
komprehensif dan melekat dalam kehidupan siswa.
Pendekatan pengintegrasian pengurangan risiko bencana dalam pelaksanaan
kegiatan belajar-mengajar sebagai berikut:
1. Berorientasi pada perkembangan anak
Dalam melakukan kegiatan, pendidik perlu memberikan kegiatan yang sesuai
dengan tahapan perkembangan anak. Anak merupakan individu yang unik,
maka perlu memperhatikan perbedaan secara individual. Dengan demikian
dalam kegiatan yang disiapkan perlu memperhatikan cara belajar anak yang
dimulai dari cara sederhana ke rumit, konkrit ke abstrak, gerakan ke verbal, dan
dari ke-aku-an ke rasa sosial.
2. Berorientasi pada kebutuhan anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada
kebutuhan anak dan dimaksudkan untuk mengoptimalkan semua aspek
perkembangan anak. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran
hendaknya dilakukan berdasarkan pada perkembangan dan kebutuhan
masing-masing anak.
3. Aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan
Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan
dapat dilakukan oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-
kegiatan yang menarik, menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu
37
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Banjir
anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru.
Pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara demokratis, mengingat
anak merupakan subjek dalam proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran
yang disiapkan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang
menyenangkan dengan menggunakan multi strategi, multi metode, materi/
bahan, dan media yang menarik serta mudah diikuti oleh anak.
4. Menggunakan berbagai media dan sumber belajar
Setiap kegiatan untuk menstimulasi perkembangan potensi anak, perlu
memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar, antara lain lingkungan alam
sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik. Penggunaan
berbagai media dan sumber belajar dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi
dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya.
5. Mengembangkan kecakapan hidup
Proses pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan kecakapan
hidup melalui penyiapan lingkungan belajar yang menunjang berkembangnya
kemampuan menolong diri sendiri, disiplin dan sosialisasi serta memperoleh
keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.
38
PENGINTEGRASIAN MATERI POKOK BAB V
PENGURANGAN RISIKO BANJIR
KE DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN
PENDIDIKAN DASAR (SD/MI)
Integrasi pendidikan pengurangan risiko bencana kedalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) dimaknai sebagai menggabungkan muatan pendidikan
PRB dan muatan KTSP, atau memasukkan muatan pendidikan PRB dalam
muatan KTSP. Pengintegrasian pendidikan PRB dilakukan dengan memperhatikan
keterpaduan dan kesinambungan muatan pendidikan PRB dan muatan KTSP
(termasuk program ekstra kurikuler yang dimiliki sekolah), sumber daya yang
dimiliki untuk melaksanakan pendidikan PRB. Pengintegrasian muatan pendidikan
PRB dapat dilakukan dengan muatan mata pelajaran pokok, mata pelajaran muatan
lokal, dan/atau program ekstra kurikuler. Pengintegrasian dilakukan secara terpadu
sehingga menyatu, saling terkait dan berkesinambungan secara harmonis.
Pengintegrasian dilakukan dengan mempertimbangkan muatan pendidikan PRB,
standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran pokok dan muatan lokal,
objek kajian mata pelajaran pokok, program pembiasaan, dan/ atau ketersediaan
sumber daya guru yang akan melaksanakannya. Cara pengintegrasian yang dipilih
mempunyai implikasi tuntutan pengerjaan administratif yang berbeda-beda
sebelum pelaksanaan pendidikan PRB dilakukan.
Pengintegrasian pendidikan PRB ada baiknya dilakukan secara terpadu dan
menyeluruh kepada salah satu cara berikut: mata pelajaran pokok, muatan lokal,
atau kegiatan ekstra kurikuler. Agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi mudah
dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Selanjutnya adalah, bila muatan pendidikan PRB dintegrasikan dengan muatan
mata pelajaran, merumuskan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar muatan
Pendidikan PRB. Membuat perencanaan pembelajaran dan evaluasi muatan
Pendidikan PRB atas dasar SK dan KD muatan Pendidikan PRB kedalam silabus
dan RPP. Bila muatan Pendidikan PRB diintegrasikan dengan Program Pembiasaan,
maka selanjutnya adalah menyusun program pelaksanaan muatan Pendidikan PRB
tersebut
Permen Diknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses mengamanatkan bahwa
proses pembelajaran untuk mencapai KD dilakukan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
Selain itu, proses pembelajaran juga harus menggunakan metode yang disesuaikan
dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses
eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
Berbagai model pembelajaran dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar
agar anak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Untuk itu, guru perlu mengupayakan kegiatan pembelajaran
tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dapat diberikan pada siswa adalah
model pembelajaran terintegrasi.
Pembelajaran integrasi yang memasukkan materi tertentu ke dalam suatu bidang
studi dengan menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan, diharapkan akan
dapat memotivasi anak dalam belajar dan memberikan pengetahuan, sikap, atau
keterampilan yang bermakna bagi anak.
Terdapat beberapa alternatif cara mengitegrasikan pendidikan PRB kedalam
kurikulumsatuanpendidikan.Pertamaadalahmengintegrasikanmuatanpendidikan
PRB kedalam mata pelajaran pokok. Kedua adalah mengintegrasikan muatan
pendidikan PRB kedalam mata muatan Lokal. Ketiga adalah mengintegrasikan
muatan pendidikan PRB kedalam kegiatan ekstra kurikuler. Keempat adalah
mengintegrasikan secara lintas mata pelajaran, atau kedalam beberapa mata
pelajaran pokok, mata pelajaran muatan lokal, dan/atau kegiatan ekstra kurikuler.
5.1. Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir ke dalam Mata
Pelajaran
Tahapan dalam pengintegrasian materi PRB terhadap mata pelajaran di tingkat SD
sebagai berikut :
1. Identifikasi materi pembelajaran tentang PRB
Konsep mengenai pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dapat
diintegrasikan ke dalam mata pelajaran pokok dalam kurikulum, diantaranya:
IPA Terpadu, IPS Terpadu, Bahasa Indonesia, Muatan Lokal, dan Penjas Orkes.
2. Analisis KD yang memungkinkan dapat diintegrasikan dengan PRB
Kompetensi-kompetensi dasar yang terdapat pada KTSP dapat diintegrasikan
dengan materi PRB dalam bentuk model KTSP daerah bencana. Model ini
disusun sesuai dengan kondisi, kebutuhan, potensi, dan karakteristik satuan
pendidikan dan peserta didik di daerah bencana yang diharapkan dapat
digunakan sebagai acuan atau referensi bagi satuan pendidikan di daerah lain
yang punya karakteristik yang sama.
Setelah kurikulum, bahan ajar sebagai acuan yang lebih operasional dalam
melaksanakan pembelajaran di sekolah, merupakan komponen yang sangat
berperan dalam memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai
bencana dan kesiapsiagaan bencana terhadap warga negara, khsusnya peserta
didik.
Melalui bahan ajar yang disusun pada pembelajaran tematik dan di setiap
mata pelajaran dapat diintegrasikan mengenai jenis-jenis bencana beserta
40
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
penyebabnya, usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam menghindari terjadinya
beberapa bencana, apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, dampak
yang ditimbulkan oleh bencana dan usaha-usaha yang dalam mengurangi
dampak tersebut, apa yang dilakukan setelah bencana itu terjadi, dan lain-
lain.
3. Menyusun silabus yang terintegrasi PRB
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian,
alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar yang diintegrasikan dengan nilai-
nilai pengurangan risiko bencana (PRB).
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar
ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Silabus Integrasi PRB dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-
masing sekolah dan jenis ancaman bencana yang rentan di wilayahnya.
Langkah-langkah penyusunan silabus yang mengintegrasikan PRB diantaranya
adalah sebagai berikut.
Mengkaji dan menentukan standar kompetensi (SK) yang dapat
diintegrasikan dengan PRB.
Mengkaji dan menentukan kompetensi dasar (KD) yang sesuai dengan SK
yang diintegrasikan.
Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi (dengan mengacu pada
SK dan KD).
Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran yang sesuai dengan PRB
gempa bumi.
Mengembangkan kegiatan pembelajaran berintegrasi PBR gempa bumi,
seperti penyampaian informasi bahaya gempa, simulasi penyelamatan
diri, pertolongan pertama, dan lainnya.
Menentukan Jenis Penilaian.
Menentukan Alokasi Waktu.
Menentukan Sumber Belajar yang berhubungan dengan PRB gempa
bumi.
4. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pembelajaran merupakan langkah awal dari suatu menejemen
pembelajaran yang berisi kebijakan strategic tentang pelaksanaan pembelajaran
yang akan dilakukan. Dalam rencana pembelajaran selalu terdapat komponen
yang saling berkaitan yaitu tujuan, bahan ajar, metode/teknik, media, alat
evaluasi, dan penjadwalan setiap langkah kegiatan. Komponen-komponen
tersebut saling berkaitan dan diintegrasikan dengan nilai-nilai usaha
pengurangan risiko bencana (PRB).
RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan
atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang
41
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. RPP yang terintegrasi
PRB banjir disusun sesuai dengan KD yang relevan dengan materi ajar PRB
banjir.
Untuk lebih jelasnya, tahapan pengintegrasian dijelaskan sebagai berikut.
5.1.1. Identifikasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Banjir
Setelahdianalisis,penguranganrisikobanjirdapatdiintegrasikanpadabeberapa
mata pelajaran. Pemetaan materi pembelajaran untuk pengintegrasian
pengurangan risiko banjir dengan contoh format identifikasi materi pelajaran
tentang PRB adalah sebagai berikut.
Tabel 5.1 Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Banjir
NO Tahapan Peristiwa Bencana Materi Pembelajaran
1 Sebelum terjadi bencana a. Pengertian banjir
banjir b. Jenis-jenis banjir
c. Peta daerah banjir
d. Penyebab banjir
e. Tanda-tanda terjadinya banjir
f. Pencegahan bencana banjir
g. Menyiapkan posko banjir
2 Saat terjadi bencana banjir t 1SPTFT UFSKBEJOZB CBOKJS
3 Setelah terjadi bencana t .FLBOJTNF QFOZFMBNBUSBO PMFI JOEJWJEV
masyarakat dan pemerintah
banjir t 5JOEBLBO QBEB TBBU CBOKJS UFSKBEJ NFODBSJ
UFNQBU ZBOH MFCJI UJOHHJ
UJEBL CFSNBJO
EJ BJS EFSBT
NFOHIJOEBSJ BMJSBO MJTUSJL EJ BJS
t 1FOZFEJBBO CBOUVBO EBSVSBU NLBOBO
BJS CFSTJI
QBLBJBO
PCBU PCBUBO
t %BNQBL CBOKS
t .BOGBBU CBOKJS
t Trauma healing
42
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
5.1.2. Analisis Kompetensi Dasar (KD) yang dapat diintegrasikan
Kegiatan Analisis Kompetensi Dasar yang memungkinkan dapat diintegrasi
dengan PRB perlu dilakukan agar pembelajaran yang diitegrasikan dapat
sesuai, Kegiatan analisis dapat dituangkan pada format analisis kompetensi
dasar dengan materi pengurangan resiko bencana. Di bawah ini terdapat
hasil analisis Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk beberapa
mata pelajaran yang dapat diintegrasikan dalam pendidikan pengurangan
risiko bencana banjir.
43
a. Mata Pelajaran IPS Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
44
Tabel 5.2 Tabel Pemetaan SK-KD ke dalam mata pelajaran IPS
KLS/ SMT MATERI INDIKATOR PERILAKU STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI
IV PEMBELAJARAN SISWA (INDIKATOR MA.PEL. (SK) DASAR
(KD)
PRB PEMBELAJARAN PRB)
Sebelum terjadi Sebelum terjadi IPS Smt 1: t .FNCBDB QFUB
bencana bencana .FNCBDB QFUB MJOHLVOHBO MJOHLVOHBO TFUFNQBU
t 1FUB EBFSBI CBOKJS t .FOKFMBTLBO UFNQBU TFUFNQBU LBCVQBUFO LPUB
LBCVQBUFO LPUB
t 5BOEB UBOEB UFNQBU ZBOH QSPWJOTJ
EFOHBO NFOHHVOBLBO QSPWJOTJ
EFOHBO
UFSKBEJOZB CBOKJS CFSCBIBZB LFUJLB TLBMB TFEFSIBOB .FOHFOBM NFOHHVOBLBO TLBMB
Saat terjadi bencana UFSKBEJ CBOKJS QFSNBTBMBIBO TPTJBM EJ EBFSBI TFEFSIBOB
t 5JOEBLBO QBEB TBBU t .FOKFMBTLBO UFNQBU OZB t .FOEFTLSJQTJLBO
CBOKJS UFSKBEJ UFNQBU ZBOH BNBO Smt 2: LFOBNQBLBO BMBN
NFODBSJ UFNQBU LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS .FOHFOBM TVNCFS EBZB BMBN
EJ MJOHLVOHBO
ZBOH MFCJI UJOHHJ
t .FOEFTLSJQTJLBO LFHJBUBO FLPOPNJ
EBO LFNBKV LBCVQBUFO LPUB
UJEBL CFSNBJO LFHJBUBO LFCJBTBBO BO UFLOPMPHJ EJ MJOHLVOHBO EBO QSPWJOTJ TFSUB
EJ BJS EFSBT
ZBOH BLBO LBCVQBUFO LPUB EBO QSPWJOTJ IVCVOHBOOZB
NFOHIJOEBSJ BMJSBO NFOZFCBCLBO UFSKBEJ EFOHBO
MJTUSJL EJ BJS
CFODBOB CBOKJS NJTBM LFSBHBNBO TPTJBM
Sesudah Terjadi t .FNCVBOH TBNQBI EBO CVEBZB
Bencana TFNCBSBOHBO
t %BNQBL CBOKS
t 5SBVNB IFBMJOH
KLS/ SMT MATERI INDIKATOR PERILAKU STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI
V PEMBELAJARAN SISWA (INDIKATOR MA.PEL. (SK) DASAR
(KD)
PRB PEMBELAJARAN PRB)
Sebelum terjadi Sebelum terjadi IPS Smt 1: .FOHFOBM
bencana bencana .FOHIBSHBJ CFSCBHBJ QFOJOH LFSBHBNBO
t +FOJT KFOJT CBOKJS t .FOKFMBTLBO KFOJT
HBMBO EBO UPLPI TFKBSBI ZBOH LFOBNQBLBO BMBN
t 1FOZFCBC CBOKJS t .FOKFMBTLBO CFSTLBMB OBTJPOBM QBEB NBTB EBO CVBUBO TFSUB
QFOZFCBC )JOEV #VEIB EBO *TMBN
QFNCBHJBO
Saat terjadi bencana LFSBHBNBO LFOBNQBLBO BMBN XJMBZBI XBLUV EJ
t 5JOEBLBO QBEB TBBU Saat terjadi bencana EBO TVLV CBOHTB
TFSUB LFHJBUBO *OEPOFTJB EFOHBO
CBOKJS UFSKBEJ t .FOVOKVLLBO MPLBTJ FLPOPNJ EJ *OEPOFTJB NFOHHVOBLBO
NFODBSJ UFNQBU QFOZFMBNBUBO EJSJ QFUB BUMBT HMPCF
ZBOH MFCJI UJOHHJ
ZBOH UFSEFLBU EBO Smt 2: EBO NFEJB
UJEBL CFSNBJO BNBO .FOHIBSHBJ QFSBOBO UPLPI MBJOOZB
EJ BJS EFSBT
QFKVBOH EBO NBTZBSBLBU EBMBN
NFOHIJOEBSJ BMJSBO Sesudah Terjadi NFNQFSTJBQLBO EBO NFNQFS
MJTUSJL EJ BJS
Bencana UBIBOLBO LFNFSEFLBBO
t NFOHJEFOUJöLBTJ *OEPOFTJB
Sesudah Terjadi EBNQBL CBOKJS
Bencana
t %BNQBL CBOKJS
KLS/ SMT MATERI INDIKATOR PERILAKU STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI
VI PEMBELAJARAN SISWA (INDIKATOR MA.PEL. (SK) DASAR
(KD)
PRB PEMBELAJARAN PRB)
Sebelum terjadi Sebelum terjadi IPS Smt 1: Smt 1:
bencana bencana .FNBIBNJ QFSLFNCBOHBO .FNCBOEJOHLBO
t 1FUB EBFSBI CBOKJS t .FOHJOEFOUJöLBTJ XJMBZBI *OEPOFTJB
LFOBNQBLBO LFOBNQBLBO
Saat terjadi bencana EBFSBI ZBOH TFSJOH BMBN EBO LFBEBBO TPTJBM BMBN EBO LFBEBBO
t 5JOEBLBO QBEB TBBU UFSKBEJ CBOKJS OFHBSB OFHBSB EJ "TJB 5FOHHBSB
TPTJBM OFHBSB
CBOKJS UFSKBEJ t .FMBLVLBO 1FNFUBBO TFSUB CFOVB CFOVB OFHBSB UFUBOHHB
NFODBSJ UFNQBU EBFSBI SBXBO CFODBOB
ZBOH MFCJI UJOHHJ
t .FODBSJ MPLBTJ QFOZF Smt 2: Smt 2:
UJEBL CFSNBJO MBNBUBO EJSJ ZBOH UFS .FNBIBNJ HFKBMB BMBN .FOKFMBTLBO
EJ BJS EFSBT
EFLBU EBO BNBO ZBOH UFSKBEJ EJ *OEPOFTJB EBO QFSBOBO
NFOHIJOEBSJ BMJSBO t .FOKFMBTLBO DBSB TFLJUBSOZB *OEPOFTJB QBEB
MJTUSJL EJ BJS
NFODBSJ UFNQBU ZBOH .FNBIBNJ QFSBOBO CBOHTB FSB HMPCBM EBO
BNBO *OEPOFTJB EJ FSB HMPCBM EBNQBL QPTJUJG
TFSUB OFHBUJGOZB
Sesudah Terjadi Saat terjadi bencana UFSIBEBQ
Bencana t .FOKFMBTLBO DBSB LFIJEVQBO
t %BNQBL CBOKJS NFODBSJ MPLBTJ CBOHTB *OEPOFTJB
QFOZFMBNBUBO EJSJ
ZBOH UFSEFLBU EBO
BNBO
Sesudah Terjadi
Bencana
t .FOKFMBTLBO DBSB
CFSBEBQUBTJ EBMBN
TJUVBTJ TFUFMBI CBOKJS
b. Mata Pelajaran IPA Tabel 5.3 Tabel Pemetaan SK-KD ke dalam mata pelajaran IPA
KLS/ SMT MATERI INDIKATOR PERILAKU STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI
PEMBELAJARAN SISWA (INDIKATOR MA.PEL. (SK) DASAR
(KD)
PRB PEMBELAJARAN PRB)
IV Sebelum Terjadi Bencana Sebelum Terjadi IPA Smt 1: .FOEFTLSJQTJLBO QSPTFT
t +FOJT KFOJT CBOKJS Bencana Banjir .BLIMVL )JEVQ EBO 1SPTFT ,FIJEVQBO QFNCFOUVLBO UBOBI
t 1FOZFCBC CBOKJS t .FOVMJTLBO KFOJT KFOJT .FNBIBNJ IVCVOHBO BOUBSB LBSFOB QFMBQVLBO
t 5BOEB UBOEB UFSKBEJOZB CBOKJS TUSVLUVS CBHJBO UVNCVIBO EFOHBO .FOEFTLSJQTJLBO QSPTFT
CBOKJS t .FOHJEFOUJöLBTJ UFNQBU GVOHTJOZB EBVS BJS EBO LFHJBUBO
t 1FODFHBIBO CFODBOB CBOKJS UFNQBU ZBOH CFSCBIBZB .FNBIBNJ IVCVOHBO TFTBNB NBOVTJB ZBOH EBQBU
LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS NBLIMVL IJEVQ EBO BOUBSB NBLIMVL NFNQFOHBSVIJOZB
Saat Terjadi Bencana t .FOKFMBTLBO QFOZFCBC IJEVQ EFOHBO MJOHLVOHBOOZB .FOEFTLSJQTJLBO QFSMV
t 1SPTFT UFSKBEJOZB CBOKJS CBOKJS #FOEB EBO 4JGBUOZB OZB QFOHIFNBUBO BJS
t .FLBOJTNF QFOZFMBNBUBO t .FOKFMBTLBO HFKBMB .FNBIBNJ CFSBHBN TJGBU EBO .FOHJEFOUJöLBTJ
PMFI JOEJWJEV
NBTZBSBLBU t .FOEFTLSJQTJLBO LFHJBUBO QFSVCBIBO XVKVE CFOEB TFSUB CFS QFSJTUJXB BMBN ZBOH
EBO QFNFSJOUBI LFCJBTBBO ZBOH BLBO CBHBJ DBSB QFOHHVOBBO CFOEB UFSKBEJ EJ *OEPOFTJB EBO
t 5JOEBLBO QBEB TBBU CBOKJS NFOZFCBCLBO UFSKBEJ CFSEBTBSLBO TJGBUOZB EBNQBLOZB CBHJ
UFSKBEJ NFODBSJ UFNQBU CFODBOB CBOKJS NJTBM NBLIMVL IJEVQ EBO
ZBOH MFCJI UJOHHJ
UJEBL .FNCVBOH TBNQBI Smt 2: MJOHLVOHBO
CFSNBJO EJ BJS EFSBT
TFNCBSBOHBO &OFSHJ EBO 1FSVCBIBOOZB .FOHJEFOUJöLBTJ
NFOHIJOEBSJ BMJSBO MJTUSJL t .FOEFTLSJQTJLBO CFOEB .FNBIBNJ HBZB EBQBU NFOHVCBI CFCFSBQB LFHJBUBO
EJ BJS
CFOEB ZBOH CFSHVOB LFUJLB HFSBL EBO BUBV CFOUVL TVBUV CFOEB NBOVTJB ZBOH EBQBU
UFSKBEJ CBOKJS .FNBIBNJ CFSCBHBJ CFOUVL FOFSHJ NFOHVCBI QFSNVLBBO
Sesudah Terjadi Bencana EBO DBSB QFOHHVOBBOOZB EBMBN CVNJ QFSUBOJBO
t %BNQBL CBOKS Tindakan Saat Terjadi LFIJEVQBO TFIBSJ IBSJ QFSLPUBBO
ETC
t 5SBVNB IFBMJOH Banjir #VNJ EBO "MBN 4FNFTUB
t .FODBSJ MPLBTJ QFOZFMBNBU .FNBIBNJ QFSVCBIBO LFOBNQBLBO
BO EJSJ ZBOH UFSEFLBU EBO QFSNVLBBO CVNJ EBO CFOEB MBOHJU
BNBO .FNBIBNJ QFSVCBIBO MJOHLVOHBO
t .FOHJEFOUJöLBTJ DBSB öTJL EBO QFOHBSVIOZB UFSIBEBQ
NFLBOJTNF NFOZFMBNBU EBSBUBO
LBO EJSJ TBBU CBOKJS .FNBI BNJ IVCVOHBO BOUBSB
t .FOZFCVULBO DBSB NFOP TVNCFS EBZB BMBN EFOHBO
MPOH &WBLVBTJ LFMVBSHB MJOHLVOHBO
UFLOPMPHJ
EBO
,PSCBO LFUFNQBU ZBOH NBTZBSBLBU
BNBO
5JOEBLBO 4FUFMBI
5FSKBEJ #BOKJS
.FOHJEFOUJöLBTJ EBNQBL
CBOKJS
c. Mata Pelajaran Penjas Tabel 5.4 Tabel Pemetaan SK-KD ke dalam mata pelajaran Penjas
KLS/ SMT MATERI INDIKATOR PERILAKU STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI
IV PEMBELAJARAN SISWA (INDIKATOR MA.PEL. (SK) DASAR
(KD)
PRB PEMBELAJARAN PRB)
Smt 1:
Sebelum Terjadi Sebelum Terjadi PENJAS .FNQSBLUJLLBO HFSBL
Bencana Bencana EBTBS BUMFUJL TFEFSIBOB
t 1FOZFCBC CBOKJS t .FOVMJTLBO QFOZFCBC TFSUB OJMBJ TFNBOHBU
t 5BOEB UBOEB CBOKJS QFSDBZB EJSJ EBO EJTJQMJO
UFSKBEJOZB CBOKJS t #FSCBIBZB LFUJLB .FOKBHB LFCFSTJIBO
t 1FODFHBIBO UFSKBEJ CBOKJS MJOHLVOHBO SVNBI
CFODBOB CBOKJS t .FOHFOBMJ UFNQBU EBO TFLPMBI
Saat Terjadi UFNQBU ZBOH BNBO .FNCJBTBLBO NFNCV
Bencana LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS BOH TBNQBI QBEB UFN
t .FLBOJTNF QBUOZB
QFOZFMBNBUSBO PMFI Saat Terjadi Bencana Smt 2:
JOEJWJEV
NBTZBSBLBU t .FODBSJ MPLBTJ .FNQSBLUJLLBO HFSBL
EBO QFNFSJOUBI QFOZFMBNBUBO EJSJ EBTBS NFMVODVS
t 5JOEBLBO QBEB TBBU ZBOH UFSEFLBU NFOHHFSBLLBO UVOHLBJ
CBOKJS UFSKBEJ NFODBSJ t .FOHJEFOUJöLBTJ NFOHHFSBLLBO MFOHBO
UFNQBU ZBOH MFCJI DBSB NFLBOJTNF TFSUB OJMBJ LFCFSTJIBO
UJOHHJ
UJEBL CFSNBJO NFOZFMBNBUBLBO EJSJ .FNQSBLUJLLBO DBSB
EJ BJS EFSBT
TBBU CBOKJS CFSOBQBT EBMBN
NFOHIJOEBSJ BMJSBO t .FOZFCVULBO DBSB SFOBOH HBZB CFCBT
MJTUSJL EJ BJS
NFOPMPOH FWBLVBTJ .FOHLPNCJOBTJLBO
Sesudah Terjadi LFMVBSHB LPSCBO HFSBLBO MFOHBO EBO
Bencana LFUFNQBU ZBOH BNBO UVOHLBJ SFOBOH
t %BNQBL CBOKJS HBZB CFCBT
Sesudah Terjadi .FNQSBLUJLLBO EBTBS
Bencana EBTBS LFTFMBNBUBO
t .BNQV NFOKBHB EJ BJS
LFTFIBUBO .FNQSBLUJLLBO QPMB
t .FNQSBLUJLLBO DBSB IJEVQ TFIBU
IJEVQ TFIBU .FOHFOBM CFSCBHBJ
t .FOHJEFOUJöLBTJ DBSB VQBZB EBMBN NFOKBHB
DBSB NFOKBHB LFCFSTJIBO MJOHLVOHBO
LFCFSTJIBO MJOHLVOHBO .FOKBHB LFCFSTJIBO
MJOHLVOHBO UFSIBEBQ
TVNCFS QFOVMBSBO
QFOZBLJU TFQFSUJ
OZBNVL EBO VOHHBT
KLS/ SMT MATERI INDIKATOR PERILAKU MA.PEL. STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI
V PEMBELAJARAN SISWA (INDIKATOR (SK) DASAR
(KD)
VI PRB PEMBELAJARAN PRB)
Sebelum Terjadi Bencana Sebelum Terjadi Bencana PENJAS Smt 1:
t 1FODFHBIBO CFODBOB CBOKJS t .FOJEFOUJöLBTJ MPLBTJ 4.2 Mempraktikkan kombi-
evakuasi jika terjadi banjir
Saat Terjadi Bencana nasi pola gerak jalan,
t .FLBOJTNF QFOZFMBNBUBO Saat Terjadi Bencana lari dan lompat dalam
oleh individu, masyarakat t .FODBSJ MPLBTJ QFOZFMBNBUBO EJSJ gerak ritmik, serta nilai
dan pemerintah yang terdekat kerjasama, percaya diri,
t 5JOEBLBO QBEB TBBU CBOKJS t .FOHJEFOUJöLBTJ DBSB NFLBOJTNF dan disiplin
terjadi (mencari tempat menyelamatkan diri saat banjir Smt 2:
yang lebih tinggi, tidak t .FOHJEFOUJöLBTJ DBSB NFOPMPOH 11.2 Mempraktikkan ber-
bermain di air deras, meng- FWBLVBTJ LFMVBSHB LPSCBO bagai keterampilan
hindari aliran istrik di air) ketempat yang aman gerak dalam kegiatan
penjelajahan di ling-
Sesudah Terjadi Bencana Sesudah Terjadi Bencana kungan sekolah yang
t %BNQBL CBOKJS t .FOHVOHLBQLBO DBSB sehat, serta nilai
menjaga kesehatan kerjasama, disiplin,
t .FNQSBLUJLLBO DBSB IJEVQ TFIBU keselamatan,
t .FOHJEFOUJöLBTJ DBSB DBSB kebersihan, dan etika
menjaga kebersihan lingkungan
Sebelum Terjadi Bencana Sebelum Terjadi Bencana Smt 1:
t 1FODFHBIBO CFODBOB CBOKJS t .FOVOKVLLBO UFNQBU 1.3 Mempraktikkan koordinasi
Saat Terjadi Bencana tempat yang aman ketika
t .FLBOJTNF QFOZFMBNBUBO terjadi banjir gerak dasar dalam teknik
oleh individu, masyarakat t .FOHJEFOUJöLBTJ MPLBTJ lari, lempar dan lompat
dan pemerintah evakuasi jika terjadi banjir dengan peraturan yang
t 5JOEBLBO QBEB TBBU CBOKJS Saat Terjadi Bencana dimodi kasi, serta nilai
terjadi (mencari tempat t .FODBSJ MPLBTJ QFOZFMBNBU semangat, sportivitas,
yang lebih tinggi, tidak ber- an diri yang terdekat percaya diri dan kejujuran
main di air deras, menghin- t .FOHJEFOUJöLBTJ Smt 2:
dari aliran listrik di air) DBSB NFLBOJTNF NFOZFMB 10.2 Mempraktikkan cara ber-
Sesudah Terjadi Bencana matakan diri saat banjir napas salah satu gaya
t %BNQBL CBOKJS t .FOHJEFOUJöLBTJ DBSB renang, serta nilai kebera-
NFOPMPOH FWBLVBTJ nian, disiplin, dan
LFMVBSHB LPSCBO kebersihan
ketempat yang aman 10.3 Mempraktikkan kombinasi
gerakan lengan dan
Sesudah Terjadi Bencana tungkai dalam renang
t .FOHJEFOUJöLBTJ DBSB DBSB gaya dada, serta nilai
menjaga keselamatan di air keberanian dan disiplin
10.4 Mempraktikkan dasar-
dasar keselamatan di air
d. Mata Pelajaran Bahasa InTdaobneel s5i.a5 Tabel Pemetaan SK-KD ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia
KLS/ MATERI INDIKATOR PERILAKU SISWA MATA STANDAR KOMPETENSI DASAR
SMT PEMBELAJARAN (INDIKATOR PELAJARAN KOMPETENSI (KD)
PRB PEMBELAJARAN PRB) (SK)
(2) (1) (3) (4) (5) (6)
IV/1 Sebelum Terjadi Bencana Sebelum Terjadi Bencana Banjir Bahasa Mendengarkan .FNCVBU HBNCBS EFOBI CFSEBTBSLBO QFOKFMBTBO ZBOH
t 1FOHFSUJBO CBOKJS t .FOKFMBTLBO QFOHFSUJBO
Indonesia .FOEFOHBSLBO EJEFOHBS
t +FOJT KFOJT CBOKJS t .FOZFCVULBO KFOJT KFOJT CBOKJS QFOKFMBTBO .FOKFMBTLBO LFNCBMJ TFDBSB MJTBO BUBV UVMJT QFOKFMBTBO
t 1FUB EBFSBI CBOKJS t .FOZFCVULBO UFNQBU UBNQBU ZBOH UFOUBOH QFUVOKVL UFOUBOH TJNCPM EBFSBI MBNCBOH LPSQT
t 1FOZFCBC CBOKJS BNBO LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS EFOBI EBO .FOEFTLSJQTJLBO UFNQBU TFTVBJ EFOHBO EFOBI
t 5BOEB UBOEB UFSKBEJOZB t .FOKFMBTLBO QFOZFCBC
TJNCPM EBFSBI BUBV HBNCBS EFOHBO LBMJNBU ZBOH SVOUVU
CBOKJS t .FOKFMBTLBO CFOEB CFOEB ZBOH > MBNCBOH LPSQT .FOKFMBTLBO QFUVOKVL QFOHHVOBBO TVBUV BMBU
t 1FODFHBIBO CFODBOB CFSHVOB LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS EFOHBO CBIBTB ZBOH CBJL EBO CFOBS
CBOKJS t .FNCVBU KBMVS FWBLVBTJ KJLB UFSKBEJ Berbicara .FOFNVLBO QJLJSBO QPLPL UFLT BHBL QBOKBOH
CFODBOB CBOKJS .FOEFTLSJQTJLBO LBUB
EFOHBO DBSB NFNCBDB TFLJMBT
Saat Terjadi Bencana t .FNQSBLUFLLBO TJNVMBTJ
LFUFSBNQJM TFDBSB MJTBO .FMBLVLBO TFTVBUV CFSEBTBSLBO QFUVOKVL QFNBLBJBO
t 1SPTFT UFSKBEJOZB CBOKJS BO QFOZFMBNBUBO EJSJ LFUJLB UFSKBEJ UFNQBU TFTVBJ ZBOH EJCBDB
t .FLBOJTNF QFOZFMBNBU CFODBOB CBOKJS EFOBI EBO .FOFNVLBO NBLOB EBO JOGPSNBTJ TFDBSB UFQBU
BO PMFI JOEJWJEV
NBTZB t .FMBLVLBO LFSKB CBLUJ NFNCFSTJILBO QFUVOKVL QFOH EBMBN LBNVT FOTJLMPQFEJ NFMBMVJ NFNCBDB NFNJOEBJ
SBLBU EBO QFNFSJOUBI TBMVSBO BJS HVOBBO TVBUV .FMFOHLBQJ QFSDBLBQBO ZBOH CFMVN TFMFTBJ EFOHBO
t 5JOEBLBO QBEB TBBU CBOKJS BMBU NFNQFSIBUJLBO QFOHHVOBBO FKBBO UBOEB UJUJL EVB
EBO
UFSKBEJ NFODBSJ UFNQBU Tindakan Saat Terjadi Bencana UBOEB QFUJL
ZBOH MFCJI UJOHHJ
UJEBL t .FODBSJ MPLBTJ QFOZFMBNBUBO EJSJ ZBOH Membaca .FOVMJT QFUVOKVL VOUVL NFMBLVLBO TFTVBUV BUBV
CFSNBJO EJ BJS EFSBT
UFSEFLBU EBO BNBO .FNBIBNJ UFLT QFOKFMBTBO UFOUBOH DBSB NFNCVBU TFTVBUV
NFOHIJOEBSJ BMJSBO MJTUSJL t .FOHIJOEBSJ UFNUBQU ZBOH CFSCBIBZB BHBL QBOKBOH .FMFOHLBQJ CBHJBO DFSJUB ZBOH IJMBOH SVNQBOH
EJ BJS
LFUJLB UFSKBEJ CBOKJS LBUB
EFOHBO NFOHHVOBLBO LBUB LBMJNBU ZBOH UFQBU
t .FOKFMBTLBO DBSB NFLBOJTNF NFOZF QFUVOKVL TFIJOHHB NFOKBEJ DFSJUB ZBOH QBEV
Sesudah Terjadi Bencana MBNBULBO EJSJ TBBU CBOKJS QFNBLBJBO
.FOVMJT TVSBU VOUVL UFNBO TFCBZB UFOUBOH QFOHBMBNBO
t %BNQBL CBOKS t .FOHJEFOUJöLBTJ DBSB NFOPMPOH NBLOB LBUB BUBV DJUB DJUB EFOHBO CBIBTB ZBOH CBJL EBO CFOBS EBO
t 5SBVNB IFBMJOH &WBLVBTJ LFMVBSHB ,PSCBO LFUFNQBU EBMBN LBNVT NFNQFSIBUJLBO QFOHHVOBBO FKBBO IVSVG CFTBS
UBOEB
ZBOH BNBO FOTJLMPQFEJ UJUJL
UBOEB LPNB
EMM
t .FOHHVOBLBO NFNBOGBBULBO CFOEB .FOZBNQBJLBO LFNCBMJ JTJ QFOHVNVNBO ZBOH EJCBDBLBO
CFOEB ZBOH CFSHVOB LFUJLB UFSKBEJ Menulis .FOJSVLBO QFNCBDBBO QBOUVO BOBL EFOHBO MBGBM
CBOKJS VUL QFOZFMBNBUBO EJSJ .FOHVOHLBQLBO EBO JOUPOBTJ ZBOH UFQBU
t .FOHJEFOUJöLBTJ DBSB NFOHBNBOLBO QJLJSBO
QFSBTBBO
#FSCBMBT QBOUVO EFOHBO MBGBM EBO JOUPOBTJ ZBOH UFQBU
CBSBOH CBSBOH CFSIBSHB EBO EPLVNFO EBO JOGPSNBTJ .FOZBNQBJLBO QFTBO ZBOH EJUFSJNB NFMBMVJ
QFOUJOH LF UFNQBU ZBOH BNBO TFDBSB UFSUVMJT UFMFQPO TFTVBJ EFOHBO JTJ QFTBO
EBMBN CFOUVL .FOFNVLBO LBMJNBU VUBNB QBEB UJBQ QBSBHSBG NFMBMVJ
Tindakan Setelah Terjadi Banjir QFSDBLBQBO
NFNCBDB JOUFOTJG
t .FOKFMBTLBO DBSB NFOKBHB LFTFIBUBO QFUVOKVL
DFSJUB
.FNCBDB OZBSJOH TVBUV QFOHVNVNBO EFOHBO MBGBM EBO
EBO TVSBU JOUPOBTJ ZBOH UFQBU
.FNCBDB QBOUVO BOBL TFDBSB CFSCBMBTBO EFOHBO
MBGBM EBO JOUPOBTJ ZBOH UFQBU
.FOZVTVO LBSBOHBO UFOUBOH CFSCBHBJ UPQJL TFEFSIBOB
EFOHBO NFNQFSIBUJLBO QFOHHVOBBO FKBBO IVSVG CFTBS
UBOEB UJUJL
UBOEB LPNB
EMM
.FOVMJT QFOHVNVNBO EFOHBO CBIBTB ZBOH CBJL EBO
CFOBS TFSUB NFNQFSIBUJLBO QFOHHVOBBO FKBBO
.FNCVBU QBOUVO BOBL ZBOH NFOBSJL UFOUBOH CFSCBHBJ
UFNB QFSTBIBCBUBO
LFUFLVOBO
LFQBUVIBO
EMM
TFTVBJ
EFOHBO DJSJ DJSJ QBOUVO
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
5.1.3. Penyusunan Silabus Integrasi
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/ tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber
belajar.
Di dalam menyusun silabus, haruslah memperhatikan beberapa prinsip antara
lain:
1. Ilmiah adalah : Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan
dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara
keilmuan (dikaitkan dengan PRB tsunami).
2. Relevan adalah : Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan
penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik,
intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik (contoh: peserta
didik di Sekolah Dasar mendapat materi tentang bencana tsunami relevan
dengan tingkat kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian di
SD).
3. Sistematis adalah: Komponen-komponen silabus saling berhubungan
secara fungsional dalam mencapai kompetensi (dikaitkan juga PRB
tsunami)
4. Konsisten adalah: Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas)
antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian (yang mampu menilai
materi PRB tsunami).
5. Memadai adalah: Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang
pencapaian kompetensi dasar (sesuai dengan jenjang pendidikan dasar).
6. Aktual dan Konstekstual adalah: Cakupan indikator, materi pokok/
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian
memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam
kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi (terutama dikaitkan dengan
PRB tsunami).
7. Fleksibel adalah: Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi
keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi
di sekolah dan tuntutan masyarakat (misal: peserta didik yang pernah
terkena bencana tsunami tentu akan lebih mendalami materi dibandingkan
peserta didik yang belum pernah mengalaminya).
8. Menyeluruh adalah: Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah
kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor). Hal ini dimungkinkan karena PRB
tsunami dapat diaplikasikan peserta didik pada saat terjadinya tsunami.
Adapun komponen silabus adalah:
1. Standar kompetensi.
2. Kompetensi dasar.
51
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
3. Indikator.
4. Materi pokok/pembelajaran.
5. Kegiatan Pembelajaran (mengacu pada indikator).
6. Penilaian.
7. Alokasi waktu.
8. Sumber belajar.
Langkah-langkah pengembangan silabus sebagai berikut:
1. Mengkaji dan menentukan standar kompetensi.
2. Mengkaji dan menentukan kompetensi dasar.
3. Merumuskan indikator pencapaian kompetensi.
4. Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran.
5. Mengembangkan kegiatan pembelajaran.
6. Menentukan jenis penilaian.
7. Menentukan alokasi waktu.
8. Menentukan sumber belajar.
52
e. Contoh Silabus
$POUPI .BUB 1FMBKBSBO *14
Tabel 5.6 Contoh Pengembangan Silabus Model Integr4as*-i P"e#n6gu4rangan Risiko Banjir ke dalam mata pelajaran IPS
.BUB 1FMBKBSBO *-.6 1&/(&5")6"/ 404*"-
,FMBT 4FNFTUFS 7*
4UBOEBS ,PNQFUFOTJ .FNBIBNJ HFKBMB BMBN ZBOH UFSKBEJ EJ *OEPOFTJB EBO TFLJUBSOZB
KOMPETENSI INDIKATOR MATERI KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN WAKTU SUMBER
DASAR POKOK BELAJAR
2.1 Mendeskrip- t .FOHVSBJLBO QFOHFSUJBO Banjir t .FOEJTLVTJLBO QFOHFSUJBO CBOKJS t 5FT 6 x 35 t 1FUB "UMBT *OEPOFTJB
sikan gejala banjir dan contoh peristiwa dan contoh peristiwa banjir t /PO 5FT menit t (BNCBS UFOUBOH
(peristiwa) yang pernah terjadi t .FOHJEFOUJöLBTJ EBFSBI SBXBO CFODBOB UTVOBNJ
alam t .FOHJEFOUJöLBTJ EBFSBI bencana banjir dengan t #VLV *14 LFMBT 7*
yang terjadi rawan bencana banjir NFOHHVOBLBO QFUB semester 2
di t .FOKFMBTLBO QFOZFCBC t .FOEJTLVTJLBO QFOZFCBC UFSKBEJ t .BKBMBI LPSBO NFEJB
Indonesia terjadinya banjir nya banjir elektronik
dan negara t .FOEFTLSJQTJLBO UBOEB UBOEB t .FOEJTLVTJLBO UBOEB UBOEB t 1FOHBMBNBO BOBL
tetangga terjadinya banjir terjadinya banjir EBO HVSV
t .FOKFMBTLBO QSPTFT t .FOEJTLVTJLBO QSPTFT UFSKBEJOZB
terjadinya banjir banjir
t .FOKFMBTLBO EBNQBL CBOKJS t .FODBSJ JOGPSNBTJ NFMBMVJ CFSCBHBJ
t .FOKFMBTLBO VQBZB TVNCFS EBNQBL CBOKJS
NFOHVSBOHJ SJTJLP CBOKJS t .FOHBNBUJ NFEJB NJUJHBTJ
t .FOKFMBTLBO UJOEBLBO UJOEBL bencana
BO TFCFMVN
TBBU EBO t .FOTJNVMBTJLBO VQBZB
TFTVEBI CFODBOB penyelamatan jika terjadi bencana
t .FNCFSJLBO DPOUPI
penyelamatan jika terjadi
banjir
$POUPI .BUB 1FMBKBSBO *1"
Tabel 5.7 Contoh Pengembangan Silabus Model Integr4as*-i P"e#n6gu4rangan Risiko Banjir ke dalam mata pelajaran IPA
.BUB 1FMBKBSBO *-.6 1&/(&5")6"/ "-".
,FMBT 4FNFTUFS 7*
Standar Kompetensi :
KOMPETENSI INDIKATOR MATERI KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN WAKTU SUMBER
DASAR POKOK BELAJAR
7.6 Mengidenti - t .FOVMJTLBO KFOJT KFOJT Banjir t .FOEJTLVTJLBO QFOHFSUJBO t 5FT 4 x 35 t (BNCBS UFOUBOH
kasi peristiwa banjir banjir dan contoh peristiwa t /PO 5FT menit bencana banjir
banjir t #VLV *1"
.BKBMBI
alam yang t .FOHJEFOUJöLBTJ UFNQBU t .FOHJEFOUJöLBTJ EBFSBI LPSBO NFEJB
terjadi di tempat yang berbahaya rawan bencana banjir elektronik
Indonesia ketika terjadi banjir dengan menggunakan peta
dan dampak- t .FOZFCVULBO QFOZFCBC t .FOEJTLVTJLBO QFOZFCBC
nya bagi terjadinya banjir terjadinya banjir
makhluk t .FOEJTLVTJLBO QSPTFT
hidup dan terjadinya banjir
lingkungan t .FODBSJ JOGPSNBTJ NFMBMVJ
berbagai sumber dampak
banjir
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
5.1.4. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RencanaPelaksanaanPembelajaran(RPP)adalahrencanayangmenggambarkan
prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu
kompetensi dasar. RPP paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang
meliputi 1 (satu) atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau
lebih.
Dalam menyusun RPP yang akan diintegrasikan tentang bencana banjir perlu
memperhatikan beberapa hal, antara lain:
1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik (misal: peserta didik
yang telah mengerti tentang banjir dan yang belum).
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik (contoh: peserta didik diajak
untuk memecahkan masalah apabila terjadinya bencana banjir).
3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis yang berkaitan dengan
bencana banjir.
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut dikaitkan dengan bencana
banjir.
5. Keterkaitan dan keterpaduan antara materi bencana banjir dengan
indikator pencapaiannya.
6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi (missal: gambar-gambar
dan informasi dari Internet mengenai banjir).
Langkah-langkah menyusun RPP yang mengintegrasikan PRB Banjir:
1. Mengisi kolom identitas.
2. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah
ditetapkan.
3. Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan (terdapat pada
silabus yang telah disusun).
4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang
telah ditentukan. (Lebih rinci dari KD dan Indikator, pada saat-saat tertentu
rumusan indikator sama dengan tujuan pembelajaran, karena indikator
sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi).
5. Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang
terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/
pembelajaran dikaitkan dengan PRB banjir.
6. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan.
7. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan
awal, inti, dan akhir dikaitkan dengan PRB banjir.
8. Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan sesuai dengan
PRB banjir.
9. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik
penskoran, dll sesuai dengan PRB banjir.
Dibawah ini akan merupakan contoh penyusunan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP).
55
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
Kotak 5.1: Contoh Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Model Integrasi
Pengurangan Risiko Banjir pada mata pelajaran IPS
Contoh 1 Contoh Rencana Pembelajaran
Satuan Pendidikan : Mata Pelajaran IPS,
Mata Pelajaran : Sekolah Dasar
Kelas/Semester : ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Topik : V1/1I
Waktu : Banjir
: 6 X 35 menit
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
2. Memahami gejala alam yang terjadi 2.1 Mendeskripsikan gejala (peristiwa)
di Indonesia dan sekitarnya alam yang terjadi di Indonesia dan
negara tetangga
Indikator
1. Menguraikan pengertian banjir dan contoh peristiwa banjir
2. Mengidentifikasi daerah rawan bencana banjir
3. Menjelaskan penyebab terjadinya banjir
4. Mendeskripsikan tanda-tanda terjadinya banjir
5. Menjelaskan proses terjadinya banjir
6 Menjelaskan dampak banjir
7. Menjelaskan upaya mengurangi risiko banjir
8. Menjelaskan tindakan-tindakan sebelum, saat, dan sesudah banjir
9. Memberikan contoh penyelamatan jika terjadi banjir
Materi Pokok :
Banjir
Alat dan Sumber Belajar
1. Gambar bencana banjir
2. Buku IPS kelas VI
3. Pengalaman guru
PERTEMUAN 1
Alat dan Sumber Belajar
1. Gambar proses terjadinya banjir
56
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
2. Buku IPS kelas VI
3. Pengalaman guru
4. Berbagai artikel/berita tentang banjir
Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan awal
1. Guru memperlihatkan beberapa gambar mengenai bencana banjir
2. Menugaskan anak untuk mengamati gambar dan meminta anak untuk
menceritakan isi gambar yang dilihatnya
Kegiatan inti
1. Siswa dan guru melakukan tanya jawab seputar bencana banjir.
Misalnya:
Apakah banjir itu?
Apa akibat yang ditimbulkan karena adanya banjir?
2. Siswa membaca teks tentnag banjr
3. Siswa mendiskusikan tentang pengertian banjir dan penyebab
terjaadinya banjir.
4. Siswa mengamati peta dan menemutunjukkan daerah-daerah yang
rawan bencana banjir
5. Siswa bersama guru membahas hasil identifikasi/temuannya.
Kegiatan akhir
Guru dan siswa menyimpulkan kegiatan pembelajaran
Penilaian
Tes esai
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan benar!
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan banjir!
2. Berikan contoh peristiwa bencana banjir yang pernah terjadi!
3. Apa yang menyebabkan terjadinya banjir?
PERTEMUAN 2
Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan awal
Guru mengajak siswa untuk mengingat kembali pelajaran sebelumnya
tentang penyebab terjadinya bencana banjir melalui tanya jawab.
Kegiatan inti
1. Guru menunjukkan gambar-gambar yang dapat menyebabkan
terjadinya banjir.
2. Siswa mendiskusikan proses terjadinya banjir dengan bantuan gambar.
3. Siswa mendiskusikan tanda-tanda terjadinya banjir.
4. Siswa mendiskusikan dampak dari bencana banjir yang telah diperoleh
57
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
dari berbagai sumber.
5. Berdasarkan hasil diskusi siswa mengisikan hasilnya pada table
misalnya.
JENIS PENYEBAB PROSES TANDA-TANDA YANG DAMPAK
BENCANA TERJADINYA DITUNJUKKAN
Kegiatan akhir
1. Guru bersama siswa membuat kesimpulan dari kegiatan belajar yang
telah dilakukan
Penilaian
Tes esai
Jawablah pertanyaan berikut ini dengan benar!
1. Jelaskan proses terjadinya banjir!
2. Sebutkan tanda-tanda banjir!
3. Jelaskan dampak banjir!
5.1.5. Penyusunan Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru/instruktur
untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Bahan ajar
adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud
bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis
baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang
memungkinkan siswa untuk belajar.
Sedangkan fungsi bahan ajar adalah :
1. Pedoman bagi guru.
2. Pedoman bagi siswa.
3. Alat evaluasi.
Tujuannya adalah:
1. Membantu siswa.
2. Memberikan banyak pilihan.
3. Memudahkan guru
4. Lebih menarik
58
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
Langkah-langkah menyusun bahan ajar yang mengintegrasikan PRB
banjir
1. Memahami teknik penyusunan bahan ajar
2. Mengidentifikasi materi pembelajaran tentang PRB banjir
3. Menganalisis kompetensi dasar yang dapat diintegrasikan materi PRB
banjir
4. Menyusun silabus dan rpp yang mengintegrasikan materi PRB banjir
5. Menyusun bahan ajar yang mengintegrasikan materi PRB banjir
Contoh Bahan Ajar
Kotak 5.2: Contoh Model Bahan Ajar Integrasi Pengurangan
Risiko Banjir pada Mata Pelajaran
(Sumber: Pelatihan Penyusunan Bahan Ajar,Terintegrasi Materi Bencana
dan Kesiapsiagaan Bencana Di Sekolah Dasar)
Kegiatan 1
Bacalah teks berikut ini dengan teliti!
Bencana Banjir Dan Penyebabnya
Hujan adalah salah satu peristiwa alam sebagai karunia Allah yang sangat
dibutuhkan makhluknya, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Proses
turunnya hujan menurut ilmu pengetahuan adalah butir-butir air laut yang
mengkristal kemudian turun ke bumi, lalu kemudian disebut sebagai hujan.
Namun, adakalanya hujan yang turun berlebihan akan menjadi masalah bagi
manusia, yaitu terjadi banjir yang dapat menyengsarakan.
59
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
Banjir merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda beberapa
daerah di Negara Indonesia. Tidak ada seorang manusia pun yang menginginkan
bencana itu. Tetapi kalau sudah terjadi seolah-olah kita tidak dapat berbuat
apa-apa. Banjir, ada yang menyebutnya air bah, adalah meluapnya aliran
sungai akibat air melebihi kapasitas tampungan sungai sehingga meluap dan
menggenangi dataran atau daerah yang lebih rendah disekitarnya.
Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat
akibat hujan besar, peluapan air sungai, pecahnya bendungan sungai atau
akibat badai tropis. Kejadian banjir sebetulnya merupakan hasil interaksi antara
manusia dan alam yang keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi.
Agama Islam melalui Surat Ar-Ruum (030): 41 menekankan tentang hubungan
manusia dengan lingkungannya:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan oleh perbuatan
tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar)”. (Erik Teguh Primiantoro)
Tugas
Buatlah karangan singkat tentang peristiwa banjir. Kemukakan mengenai
antara lain: apakah kamu pernah mengalami peristiwa kebanjiran? Bagaimana
menurutmu, peristiwa itu menyenangkan atau menyedihkan? Mengapa
demikian? Apa yang kamu lakukan saat mengalami peristiwa itu?
Tahukah kalian sebab terjadinya banjir? Telah kita ketahui bahwa banjir akan
menyengsarakan kita semua. Maka kita perlu mengetahui penyebab terjadinya
banjir. Di bawah ini dipaparkan penyebab berbagai penyebab banjir antara
lain :
1. Curah hujan yang sangat tinggi yang tidak diimbangi dengan daya
tampung air di permukaan daratan untuk menyerap air;
2. Adanya perusakan lingkungan berupa penggundulan hutan;
3. Kerusakan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) dimana daya tampung
palung sungai menjadi kecil;
4. Saluran air yang tidak berfungsi dengan baik, karena banyak yang
tersumbat, ditutup, atau dicaplok menjadi lahan rumah sehingga aliran
air menjadi tersumbat atau tidak lancar;
5. Tanah yang mempunyai daya serapan air yang buruk, karena adanya
permukaan tanah yang tertutup / ditutup untuk digunakan sebagai areal
pemukiman;
60
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
Buruknya penanganan sampah kota
PENDANGKALAN AKIBAT SAMPAH DI SUNGAI (SUNGAI WINONGO, YOGYAKARTA)
( sumber: sebab banjir terus-menerus di indonesia oleh dr.-ing. Ir. Agus maryono)
Gelombang besar / Tsunami akibat gempa bumi menyebabkan banjir pada
daerah pesisir pantai pada wilayah tertentu di tanah air;
Tugas
Amati tabel curah hujan di atas dan buatlah grafik dari data tersebut.
Kegiatan 2
Bacalah teks di bawah ini dan kerjakan tugasnya
Jenis banjir dan dampaknya
Banjir pada umumnya terjadi di wilayah Indonesia Bagian Barat yang menerima
curah hujan lebih banyak dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian
Timur. Carilah pada peta wilayah apa saja yang menerima curah hujan lebih
banyak dan yang sedikit curah hujannya.
Penebangan hutan yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan peningkatan
aliran air sehingga tidak terkendali. Akibatnya, terjadi kerusakan lingkungan
di daerah aliran sungai yang mengakibatkan adanya bencana banjir. Telah
terjadi beberapa kejadian banjir misalnya di Kecamatan Bahorok dan Langkat
(Sumatra Utara) pada tahun 2003, Kecamatan Ayah di Kabupaten Kebumen
(Jawa Tengah), dan Aceh Tamiang pada akhir tahun 2006.
Tahukah kalian jenis-jenis banjir? Banjir dapat dibedakan menjadi beberapa
jenis, yaitu:
61
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
1. Banjir bandang adalah banjir besar yang terjadi secara tiba-tiba dan
berlangsung hanya sesaat yang yang umumnya dihasilkan dari curah
hujan berintensitas tinggi dengan durasi (jangka waktu) pendek yang
menyebabkan debit sungai naik secara cepat. Contoh banjir bandang adalah
di Bahorok, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Banjir itu terjadi
pada tanggal 2 November 2003 dengan dengan korban jiwa sebanyak 151
jiwa dan korban hilang mencapai 101 jiwa.
2. Banjir Hujan Ekstrim: Banjir ini biasanya terjadi hanya dalam waktu 6 jam
sesudah hujan lebat mulai turun. Biasanya banjir ini ditandai dengan
banyaknya awan yang menggumpal di angkasa serta kilat atau petir yang
keras dan disertai dengan badai tropis atau cuaca dingin. Umumnya banjir
ini akibat meluapnya air hujan yang sangat deras, khususnya bila tanah
bantaran sungai rapuh dan tak mampu menahan cukup banyak air. nya
antara lain adalah:
kegagalan bendungan menahan volume air (debit) yang meningkat,
es yang tiba-tiba meleleh atau,
berbagai perubahan besar lainnya di hulu sungai.
Kerawanan terhadap banjir kilat akan meningkat bila wilayah itu merupakan
lereng curam, sungai dangkal dan pertambahan volume air jauh lebih besar
daripada yang tertampung, air mengalir melalui lembah-lembah sempit
dan bila hujan guntur terjadi.
3. Banjir luapan sungai atau kiriman: Jenis banjir ini biasanya berlangsung
dalam waktu lama dan sama sekali tidak ada tanda-tanda gangguan cuaca
pada waktu banjir melanda dataran – sebab peristiwa alam yang memicunya
telah terjadi berminggu-minggu sebelumnya. Data sejarah banjir luapan
sungai yang melanda kota-kota di lembah utama membuktikan bahwa
tindakan-tindakan perlindungan tidak bisa diandalkan, akibat beraneka-
ragamnya sumber banjir, yang bukan hanya dari induk sungai melainkan juga
dari anakanak sungai. Di bawah ini adalah gambar tentang Pemukiman di
sempadan sungai, bahaya pada saat banjir bandang. Kabupaten Bantaeng,
Sulawesi Selatan.
Jenis banjir ini terjadi setelah proses yang cukup lama. Datangnya banjir
dapat mendadak. Banjir luapan sungai ini kebanyakan bersifat musiman
atau tahunan dan bisa berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-
minggu tanpa berhenti. Jenis banjir ini terjadi sepanjang sungai dan anak-
anak sungainya dan membanjiri wilayah luas. dan mendorong peluapan
air lembah-lembah sungai yang mandiri (yang bukan merupakan anak
sungainya) banjir yang meluap dari sungai-sungai selain induk sungai.
Banjir bandang. Banjir bandang umumnya Dari sekian banyak kejadian,
sebagian besar diawali oleh adanya longsoran di bagian hulu sungai.
Kemudian, material longsoran dan pohon-pohon menyumbat sungai
dan menimbulkan bendung-bendung alami. Selanjutnya, bendung alami
tersebut ambrol/roboh dan mendatangkan air bah dalam volume besar
62
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
dalam waktu yang sangat singkat. Banjir bandang dengan debit puncak
tinggi disertai aliran kayu-kayuan dan butu-batuan yang terjadi dengan
kecepatan tinggi dan waktu relatif singkat, kembali menggoncang persada
Indonesia. Kejadian ini dapat dirunut kembali secara berturut-turut; Pacet
2001 Jawa Timur, Bahorok 2003 dan Kutacane 2004 di Sumatra Utara,
Jember 2005 Jawa Timur, Sinjai 2006 Sulawesi Selatan dan Gorontalo 2006
Sulawesi Utara, dan terakhir adalah banjir bandang di Aceh dan Langkat
Sumut tahun 2006 yang sangat memilukan hati.
4. Banjir pantai ( ROB ): Banjir yang disebabkan angin puyuh laut atau taifun
dan gelombang pasang air laut.
5. Banjir hulu: Banjir yang terjadi di wilayah sempit, kecepatan air tinggi, dan
berlangsung cepat dan jumlah air sedikit.
Menurutmu apakah dampak atau akibat dari banjir? Amatilah gambar di bawah
ini. Gambar di bawah ini menggambarkan dampak akibat adanya bencana
banjir.
Nah, sekarang amatilah keempat gambar di bawah ini. Pilihlah satu gambar
dan ungkapkanlah apa isi gambar tersebut, dan penyebab dari persoalan yang
tergambar pada gambar
298 x 225 - 19k - jpg indoalert.blogspot.com
202.146.4.17
banjir seperti peaceandcat.blogsome.com 63
1024 x 679 - 169k - jpg
dedenfaoz.wordpress.com
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurik2u9l8uxm2T2i5n-g1k9akt -S japtguan Pendidikan Dasainr d(SoDal/eMrtI.)blogspot.com
202.146.4.17
banjir seperti peaceandcat.blogsome.com
1024 x 679 - 169k - jpg
dedenfaoz.wordpress.com
Berdasarkan gambar di atas, jawablah pertanyaan di bawah ini
1. Gambar di atas menceritakan peristiwa .....
2. Akibat peristiwa bencana sesuai dengan gambar adalah .....
3. Penyebab terjadinya bencana sesuai gambar yaitu .....
4. Usaha yang dapat dilakukan saat terjadi peristiwa sesuai gambar adalah .....
5. Usaha yang dapat dilakukan setelah peristiwa terjadi adalah .....
6. Saran yang tepat untuk peristiwa seperti gambar di atas adalah .....
7. Pendapatmu mengenai bencana yang terdapat pada gambar adalah
8. Pertanyaan yang dapat kamu ajukan sesuai dengan gambar adalah .....
9. Jika teman kamu mengalami peristiwa seperti pada gambar di atas, yang
dapat kamu lakukan adalah .....
Kegiatan 3
Usaha mencegah banjir
Banjir dan permasalahannya mengakibatkan kerugian. Dalam kondisi
demikian manusia tidak mungkin lagi dapat menghindari timbulnya
sebagai akibat dari bencana banjir yang terjadi. Upaya yang mungkin
dilakukan adalah mengurangi dampak kerugian dan kerusakan yang
ditimbulkan oleh bencana tersebut. Untuk mencegah atau mengurangi
datangnya bencana banjir, maka perlu dilakukan beberapa usaha antisipasi
bencana banjir. Usaha itu antara lain adalah :
1. Merehabilitasi setu yang ada sebagai penampung air hujan.
2. Membuat bendungan atau danau buatan.
3. Membuat resapan air di pekarangan rumah atau perkantoran.
4. Perbaikan sistem DAS, meningkatkan jumlah dan kualitas vegetasi
penutup tanah maupun daya tampung jaringan hidrologi DAS. Caranya
antara lain dengan menanami kembali kawasan DAS dengan tanaman
yang akarnya mampu meretensi air dan melakukan perbaikan bila
terdapat penyempitan saluran air atau jaringan hidrologi.
5. Membentuk satuan khusus untuk melaksanakan program pencegahan
banjir yang terdiri dari berbagai komponen masyarakat, mulai dari
pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat bahu membahu.
64
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
6. Meningkatkan akan kesadaran lingkungan, yaitu mempelajari jenis
intervensi yang dilakukan manusia yang merusak lingkungan sehingga
mengganggu siklus hidrologi;
7. Membangun komitmen mencegah / mengatasi banjir secara
berkesinambungan yaitu dengan tidak mengalirkan air hujan ke selokan,
tetapi diresap ke dalam tanah atau ke dalam sumur resapan.
8. Pemberdayaan masyarakat dengan penyuluhan, kampanye, dan
bimbingan tentang cinta lingkungan secara berkesinambungan,
diintensifkan sebagai program pembangunan pemerintah daerah.
9. Mengembangkankembalibangunanrumahpanggunguntukmasyarakat
yang tinggal di daerah yang searing ada bencana banjir.
10. Memberikan peringatan dini banjir yang dapat dilakukan beberapa hari
sampai satu hari sebelum terjadi dengan menginformasikan pada instansi
terkait. Dalam hal ini dapat digunakan radar hujan yang bisa memprediksi
curah hujan sesaat, sebagai bagian dalam sistem peringatan dini banjir.
Alat ini dapat memprediksi intensitas dan lamanya hujan yang akan
terjadi hingga H minus 4.
Tuliskan langkah-langkah penanggulangan yang dapat dilakukan untuk
menghindari peristiwa banjir
Tindakan-tindakan sebelum, saat, dan sesudah bencana banjir
Banyaknya korban dalam suatu kejadian bencana banjir, baik jiwa maupun
harta benda, menggambarkan kurangnya kesiapan dan antisipasi masyarakat
dalam menghadapi bencana. Keadaan ini berkaitan dengan kurangnya
informasi dan pengetahuan dasar mengenai gejala bencana banjir tersebut.
Untuk itu, perlu diketahui tentang hal-hal apa yang harus dilakukan sebelum,
pada saat, dan setelah terjadinya bencana banjir.
1. Sebelum terjadi bencana
Sebelum terjadi bencana kita harus sudah bisa memilih dan menentukan
beberapa lokasi yang bisa kita jadikan sebagai tempat penampungan
jika terjadi bencana.
Melatih diri dan anggota keluarga hal-hal yang harus dilakukan apabila
terjadi bencana banjir.
Mendiskusikan dengan semua anggota keluarga tempat di mana anggota
65
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
keluarga akan berkumpul usai bencana terjadi.
Mempersiapkan tas siaga bencana yang berisi keperluan yang dibutuhkan
seperti: Makanan kering seperti biscuit, air minum, kotak kecil berisi obat-
obatan penting, lampu senter dan baterai cadangan, Lilin dan korek api,
kain sarung, satu pasang pakaian dan jas hujan, surat berharga, fotokopi
tanda pengenal yang dimasukkan kantong plastik, serta nomor-nomor
telepon penting.
2. Saat menjelang dan saat terjadi bencana
Jangan panik!
Mengajak keluarga dan teman-teman untuk segera menyelamatkan diri
meninggalkan rumah, pantai atau daerah bahaya menuju ke tempat yang
lebih tinggi.
Menghubungi posko-posko bantuan seperti Pemda, Polisi, Rumah Sakit,
Palang Merah dan lembaga pemerintah lainnya secepat mungkin.
Bawa tas darurat yang telah disiapkan sebelumnya.
Ketika melihat air datang, segera selamatkan diri dengan berlari secepat
mungkin menuju tempat yang tinggi.
Jikaterjebakdalamrumahataubangunan,raihbendayangbisamengapung
sebisanya.
3. Sesudah terjadi bencana
Menjauhi bangunan yang rusak atau pohon yang miring.
Menjauhi kabel atau instalasi listrik lainnya.
Menghindari memasuki wilayah yang rusak kecuali dinyatakan aman.
Memeriksa dan menolong diri sendiri kemudian menolong orang di dekat
kamu yang memerlukan bantuan.
Mencari anggota keluarga.
Jika keadaan sudah aman, masuk rumah dengan hati-hati, jangan
menyalakan listrik kecuali telah dinyatakan aman.
Membersihkan lumpur.
Periksa persediaan makanan dan air minum. Jangan minum air dari sumur
terbuka karena sudah terkontaminasi. Makanan yang telah terkena air
banjir harus dibuang karena tidak baik untuk kesehatan.
Ikut bergotong royong mendirikan tenda darurat, mengubur jenazah dan
mengumpulkan benda-benda yang masih dapat digunakan.
KEGIATAN 1
1. Jawablah soal-soal berikut ini dengan benar!
Tulislah sebab-sebab terjadinya banjir!
Jelaskan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh banjir
Jelaskan cara-cara mencegah banjir!
66
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
Bagaimana sikapmu terhadap korban banjir jika kamu tidak terkena
banjir?
Bagaimana sikapmu jika melihat orang yang membuang sampah di
sungai?
2. Tugas
Buatlah kliping tentang bencana banjir di seluruh Indonesia
Bandingkan, apakah ada perbedaan antara banjir yang terjadi di Ibukota
Jakarta dengan banjir yang terjadi di daerah lain!
5.2. Pengembangan Model Muatan Lokal Pengurangan Risiko
Banjir
Pengintegrasian pendidikan kebencanaan dapat dalam bentuk muatan
local. Muatan Lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan
kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk
keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam
mata pelajaran yang ada. Substansi mata pelajaran muatan lokal ditentukan
oleh satuan pendidikan.
Muatan lokal merupakan bagian dari struktur dan muatan kurikulum yang
terdapat pada Standar Isi di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Keberadaan mata pelajaran muatan lokal merupakan bentuk penyelenggaraan
pendidikan yang tidak terpusat, sebagai upaya agar penyelenggaraan
pendidikan di masing-masing daerah lebih meningkat relevansinya terhadap
keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Muatan lokal merupakan
mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal yang
diselenggarakan. Ruang lingkup muatan lokal meliputi lingkup keadaan
dan kebutuhan daerah. Oleh karena itu, bagi daerah yang dekat dengan
kebencanaan banjir dapat menyelenggarakan mata pelajaran muatan lokal
yang diperlukan dan sesuai dengan kebutuhan daerah. Dalam penentuan
mata pelajaran muatan lokal ini, perlu memperhatikan pula isi atau jenis
muatan lokalnya misalnya untuk memberi pengetahuan pada anak khususnya
tentang berbagai ciri khas lingkungan alam sekitar, serta hal-hal yang
dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan. Bagi daerah yang sering
atau berkecenderungan mendapat bencana, daerah atau sekolah dapat
menentukan muatan lokal untuk mengurangi akibat bencana yaitu dengan
memberi pemahaman tentang kebencanaan tersebut.
Mata Pelajaran Muatan lokal pengembangannya sepenuhnya ditangani
oleh sekolah dan komite sekolah yang membutuhkan penanganan secara
profesional dalam merencanakan, mengelola, dan melaksanakannya.
Tahap persiapan pengembangan Mata Pelajaran Muatan Lokal oleh sekolah
dan komite sekolah dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut::
1. Mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan daerah (Analisis Konteks)
Kegiatan ini dilakukan untuk menelaah dan mendata berbagai keadaan dan
67
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
kebutuhan daerah yang bersangkutan. Keadaan daerah dapat ditinjau dari
potensi daerah yang bersangkutan yang meliputi aspek sosial, ekonomi,
budaya, dan kekayaan alam.
2. Menentukan fungsi dan susunan atau komposisi muatan lokal.
Berdasarkan kajian dari beberapa sumber diperoleh berbagai jenis
kebutuhan. Berbagai jenis kebutuhan ini dapat mencerminkan fungsi
muatan lokal di daerah. Untuk daerah yang terkena bencana banjir dapat
dikembangkan untuk mengurangi akibart bencana.
3. Menentukan bahan kajian muatan lokal.
Kegiatan ini pada dasarnya untuk mendata dan mengkaji berbagai
kemungkinan muatan lokal yang dapat diangkat sebagai bahan kajian
sesuai dengan dengan keadaan dan kebutuhan sekolah. Penentuan bahan
kajian muatan lokal didasarkan pada kriteria berikut:
Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik;
Kemampuan guru dan ketersediaan tenaga pendidik yang diperlukan;
Tersedianya sarana dan prasarana;
Tidak bertentangan dengan agama dan nilai luhur bangsa;
Tidak menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan;
Kelayakan berkaitan dengan pelaksanaan di sekolah;
Lain-lain yang dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kondisi dan
situasi daerah.
4. Menentukan mata pelajaran muatan lokal.
Berdasarkan hasil pengkajian dapat ditentukan jenis mata pelajaran
muatan lokal yang sesuai dengan kondisi daerah/sekolah. Misalnya mitigasi
bencana banjir. Cakupan mata pelajaran muatan local tersebut antara lain
tentang :
Memahami pengertian bencana;
Mengenai jenis-jenis bencana;
Gejala-gejala bencana;
Menanggulangi bencana;
Mengenali daerah-daerah rawan bencana di sekitarnya;
Mengenali daerah-daerah untuk penyelamatan diri jika terjadi
bencana.
68
Contoh 5: Mata Pelajaran Muatan Lokal
Tabel 5.8 Contoh Pengembangan SilabSuIsLMAuBaUtaSn Lokal Pengurangan Risiko Banjir
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester : IV/1
Standar Kompetensi : Mendeskripsikan kegiatan pengurangan risiko bencana untuk membangun kesadaran keselamatan diri dan
ketahanan terhadap lingkungan sekitar
KOMPETENSI INDIKATOR MATERI KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN WAKTU SUMBER
DASAR POKOK BELAJAR
Mengidenti kasi t .FOVMJTLBO BMBU FWBLVBTJ Kesela- t .FOVMJTLBO BMBU BMBU FWBLVBTJ t #BIBO BKBS ZBOH
cara penyela- sederhana yang dapat matan sederhana yang dapat disiapkan guru
matan diri/ dipakai saat banjir. diri digunakan pada saat
Evakuasi bencana banjir
Contoh 6: Mata Pelajaran Muatan Lokal
SILABUS
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : Mendeskripsikan kegiatan pengurangan risiko bencana untuk membangun kesadaran keselamatan diri dan ketahanan terhadap
lingkungan sekitar
KOMPETENSI INDIKATOR MATERI KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN WAKTU SUMBER
DASAR POKOK BELAJAR
Mengidenti kasi Menuliskan cirri daerah Pence- t .FOHBNBUJ MJOHLVOHBO t -JOHLVOHO TFLJUBS
daerah yang atau tempat yang dapat gahan sekitar dan menuliskan
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester : IV/1
Standar Kompetensi : Mendeskripsikan kegiatan pengurangan risiko bencana untuk membangun kesadaran keselamatan diri dan
ketahanan terhadap lingkungan sekitar
KOMPETENSI INDIKATOR MATERI KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN WAKTU SUMBER
DASAR POKOK BELAJAR
Mengidenti kasi t .FOVMJTLBO BMBU FWBLVBTJ Kesela- t .FOVMJTLBO BMBU BMBU FWBLVBTJ t #BIBO BKBS ZBOH
cara penyela- sederhana yang dapat matan sederhana yang dapat disiapkan guru
matan diri/ dipakai saat banjir. diri digunakan pada saat
Evakuasi bencana banjir
Contoh 6: Mata Pelajaran Muatan Lokal
Tabel 5.9 Contoh Pengembangan SilabSuIsLMAuBaUtaSn Lokal Pengurangan Risiko Banjir
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester : VI/2
Standar Kompetensi : Mendeskripsikan kegiatan pengurangan risiko bencana untuk membangun kesadaran keselamatan diri dan ketahanan terhadap
lingkungan sekitar
KOMPETENSI INDIKATOR MATERI KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN WAKTU SUMBER
DASAR POKOK BELAJAR
Mengidenti kasi Menuliskan cirri daerah Pence- t .FOHBNBUJ MJOHLVOHBO t -JOHLVOHO TFLJUBS
daerah yang atau tempat yang dapat gahan sekitar dan menuliskan
dapat untuk digunakan untuk bencana daerah yang kemungkinan
mengungsi mengungsi banjir terkena bencana banjir
t #FSEJTLVTJ UFOUBOH DJSSJ DJSJ
daerah yang dapat digunak-
an untuk mengungsi
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
5. Mengembangkan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar.
6. Pengembangan silabus, dan RPP untuk pelaksanaan pembelajaran.
Pengembangan silabus secara umum mencakup:
Mengembangkan indikator;
Mengidentifikasi materi pembelajaran;
Mengembangkan kegiatan pembelajaran;
Pengalokasian waktu;
Pengembangan penilaian;
Menentukan sumber belajar.
7. Pengembangan RPP.
Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan
pembelajaran untuk satu kali tatap muka. Adapun komponen dari RPP
minimal memuat: a). Tujuan pembelajaran, b). Indikator, c). Materi Ajar/
Pembelajaran, d). Kegiatan Pembelajaran, e) Metode Pengajaran, f ). Sumber
Belajar.
Tabel 5.10 Analisis Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk
Mata Pelajaran Muatan Lokal Pengurangan Risiko Banjir
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Mengidenti kasi tahapan t .FOHFOBM BODBNBO CBOKJS
Persiapan dalam t .FOEFTLSJQTJLBO GBLUPS GBLUPS QFOZFCBC SJTJLP
pencegahan bencana banjir
bencana banjir t .FOHJEFOUJöLBTJ EBFSBI ZBOH EBQBU VOUVL
NFOHVOHTJ
Mendeskripsikan kegiatan t .FOHJEFOUJöLBTJ MPLBTJ CFODBOB HFNQB EJ
QFOHVSBOHBO SJTJLP MJOHLVOHBOOZB
CFODBOB VOUVL t .FOHLBKJ DBSB NFOHVSOHJ SJTJLP CFODBOB
NFNCBOHVO LFTBEBSBO EJ MJOHLVOHBOOZB
keselamatan diri dan t .FOFSBQLBO TJTUFN QFSJOHBUBO EJOJ
ketahanan terhadap EJ MJOHLVOHBOOZB
MJOHLVOHBO TFLJUBS t .FOHJEFOUJöLBTJ DBSB QFOZFMBNBUBO
EJSJ &WBLVBTJ
71
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
Kotak 5.3: Contoh Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Model Integrasi
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SD SD
Matapelajaran Mulok/ mitigasi bencana banjir
Kelas / Semester VI/1
Standar Kompetensi Mendeskripsikan kegiatan pengurangan
Kompetensi Dasar risiko bencana untuk membangun
Indikator kesadaran keselamatan diri dan
Alokasi Waktu ketahanan terhadap lingkungan sekitar
Mengidenti kasi cara penyelamatan
diri/Evakuasi
Menuliskan alat evakuasi sederhana
yang dapat dipakai saat banjir.
6 X 35 menit ( 3 X Pertemuan)
Indikator : Melakukan langkah-langkah penyelamatan diri pada
saat banjir
Menuliskan alat evakuasi sederhana yang dapat dipakai
saat banjir
Tujuan Pembelajaran : Tindakan penyelamatan pada saat banjir
Materi Ajar : Keselamatan diri
Metode Pembelajaran :
1. Tanya jawab
2. Simulasi
3. Diskusi
4. Presentasi
Langkah-Langkah Pembelajaran
Kegiatan Awal (5 menit )
Klasikal :
1. Penjelasan tentang kegiatan yang dilakukan hari tersebut
Kegiatan Inti (50 menit)
Kelompok/Berpasangan:
1. Secaraberkelompoksiswamendiskusikantindakanyangharusdilakukan
pada saat terjadi bencana.
2. Siswa menuliskan alat evakuasi yang diketahuinya
3. Mengamati gambar-gambar alat evekuasi
4. Salah satu siswa diminta untuk mempresentasikan hasil kerjanya
72
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
5. Siswa lainnya ditugaskan untuk memberikan masukkan/tanggapan
6. Setiap kelompok melakukan simulasi upaya penyelamatan diri saat
terjadi banjir.
Kegiatan Penutup (15 menit)
Klasikal :
1. Seluruh kelompok dikumpulkan kembali secara bersama-sama
2. Guru menyimpulkan pelajaran dengan menjelaskan secara singkat
tentang bencana banjir
3. Pesan moral dan refleksi
Alat/Bahan/Sumber Belajar
1. Kertas dan alat tulis
2. Peralatan untuk simulasi
Penilaian :
1. Performance (Unjuk Kerja)
2. Produk (hasil karya)
Sumber dan Media Pembelajaran
Gambar alat evekuasi
Penilaian
1. Teknik Penilaian
Tertulis atau lisan
Hasil penagmatan
2. Bentuk Instrumen
Pertanyaan
Tugas tugas
Kotak 5.4: Contoh Bahan Ajar Model Pengintegrasian Pengurangan
Risiko Banjir ke dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
BAHAN AJAR MUATAN LOKAL
Metode Evakuasi Dan Rekonstruksi Sederhana Akibat Banjir
(Kesiap Siagaan Terhadap Banjir)
Banjir kembali menerjang di berbagai daerah musim hujan kali ini diawali banjir
kecil-kecil di Jakarta, Bandung-Jawa Barat dan Jawa Tengah, disusul banjir
bandang di Bahorok provinsi Sumatra Utara dan banjir bandang di Pelabuhan
Ratu provinsi Jawa Barat. Masuk bulan Desembar banjir terjadi di Pontianak,
Palembang dll.
Kerugaian harta benda akibat banjir secara musim hujan ini dapat mencapai lebih
dari 500 milyard rupiah. Kerugaian tersebut umumnya berupa kerusakan jalan,
73
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
jembatan dan fasilitas umum lainnya serta kerugian peralatan rumah tangga
misal telivisi, kompor, mebel, yang tidak bisa diselamatkan. Sedang kerugian
jiwa mencapai lebih dari 200 orang. Korban wanita dan anak-anak umumnya
lebih besar pada peristiwa banjir dibanding kaum laki-laki. Kerugian-kerugia dan
korban di atas umumnya disebkan karena tidak adanya persiapan menghadapi
banjir, sehingga saat banjir datang masyarakat tidak mampu menyelamatkan
harta bendanya bahkan jiwa keluarganya. Disamping itu setelah banjir berlalu,
banyak pekerjaan yang harus dikerjakan oleh masyarakat dan pemerintah
daerah seperti perbaikanjalan, jembatan dan penyediaan air minum. Pada
umumnya dana bantuan terlambat datang sehingga upaya berbaikan dan
penyelesaian pasca banjir sering terlambat.
Guna mengurangi kerugian akibat banjir di atas dan guna mengadakan
renovasi darurat sarana-prasarana paska banjir, berikut ini disajikan beberapa
teknik evakuasi dan renovasi darurat sederhana dan tepat guna yang dapat
dipersiapkan oleh masyarakat untuk menghadapi kemungkinan banjir (sebelum
banjir atau pada saat banjir) dan mengadakan penanganan dan perbaikan
pasca banjir.
Alat Evakuasi Sederhana:
Pada gambar-gambar disamping disajikan beberapa metode tepat guna yang
dapat dipersiapkan warga bersama pemerintah untuk mengantisipasi kerugian
material dan jiwa pada waktu banjir;
1. Konstruksi plafon; untuk„planggrangan“ digunakan untuk evakuasi/
menaruh barang-barang penting (mesin, elektronik dll). Setiap rumah di
daerah langganan banjir hendaknnya membuat konstruksi ini dengan cara
memperkuat konstruksi pilar ruang tengah dan plafonnya.
2. Anyaman Bambu (atau kayu), anyaman drem minyak bekas, anyaman
pohon pisang; bambu yang tidak dilobangi atau kayu dan pohon pisang
serta drem minyak bekas (bisa dilobang bagian atasnya atau tidak), dapat
dianyam untuk rakit evakuasi sederhana. Barang-barang penting dan
anak-anak serta para wanita bisa dievakuasi dengan alat ini.
74
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
1m
1.5 m
5.41 cm
Gambar: Rakit Bambu
Bambu/Kayu
20 cm 2m
Gambar: Rakit Drum minyak Gambar: Rakit Pohon Pisang
3. Karet ban bekas dan ember plastik berbagai ukuran; merupakan alat evakuasi
sederhana yang dapat dipersiapkan sebelum banjir dan dipakai saat banjir.
Ban bekas bisa dipakai sebagai alat angkut dan alat evakuasi serta alat
emergensi renang.
56.5 cm
24 cm
Gambar: Ember plastik
Ban Karet Bekas
atau
Pelampung
30 cm 45 cm
4. Tali-temali dengan berbagai ukuran; sangat diperlukan dalam kondisi banjir,
misal dapat digunakan sebagai alat pengaman sewaktu berjalan keluar dari
75
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
lokasi banjir, dipakai mengikat barang-barang berharga (misal persediaan
kayu untuk bangunan dll.) agat tidak terbawa hanyut, mengevakuasi
ternak, menambatkan diri di atas pohon saat banjir dll. Alat sederhana ini
biasanya tidak dipersiapkan oleh masyarakat.
Tali - Temali
Diameter = 1 - 5 cm
Pada gambar selanjutnya disajikan cara-cara sederhana dalam menangani
masalah pasca banjir;
1. Jembatan sederhana dari bambu; jembatan sederhana ini sangat
diperlukan untuk menghubungakan daerah-daerah yang terputus, sambil
menunggu dana perbaikan. Jembatan bambu ini bisa digunakan sampai
mencapai bentang 30 m.
Bambu Apus/Wulung Bambu Petung
Bambu Petung
Gambar: jembatan dari bambu
2. Perbaikan jalan dengan konstruksi sederhana; jalan- jalan setelah banjir
biasanya mengalami kerusakan hebat. Konstruksi jalan sederhana dapat
diterapkan dengan memanfaatkan material lokal berupa batu-batuan dan
pasir yang ada.
76
Selokan Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
Badan Jalan
Konstruksi Jalan Lapisan Aus : Tanah Liat + Pasir
Lapisan Pengisi
Pondasi : Batu Pecah
Lapisan Pasir
Tanah Dasar
3. Pembuatan alat penyaring air bersih; setelah banjir biasanya masyarakat
kesulitan air bersih karena seluruh sumber air yang ada banyak
mengandung lumpur termasuk sumur-sumur yang ada. Alat sederhana
berupa saringan pasir cepat seperti pada gambar atau pemakaian tawas
dapat digunakan untuk medapatkan air bersih.
Lapisan Aus : 0.6 - 1.2 m 0.5 - 1 mm
Lapisan Pasir : 0.8 - 1.2 m 1 - 4 mm
Pasir Kasar : min 0.1 m 1 - 2 cm
Kerikil Halus : min 0.1 m 2 - 3 cm
Kerikil Sedang : min 0.1 m 3 - 6 cm
Kerikil Kasar : min 0.1 m
Air Keruh
Penguras Endapan
Saringan Pasir Cepat Pasir Halus
Pasir Kasar
Kerikil
Air Jernih
Metode-metode di atas sangat mungkin dilakukan oleh masyarakat awam.
Sebelum datang banjir sebaikknya setiap rumah di lokasi langganan banjir atau
lokasi yang diperkirakan akan mengalami banjir karena kesalahan penggunaan
77
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
lahan disekitarnya mempersiapkan diri dengan alat evakuasi sederhana dan metode
perbaikan sarana-prasarana dengan teknik sederhana seperti tersebut di atas.
Metode diatas diperkirakan dapat menekan kerugian material maupun jiwa akibat
banjir. Tentusaja pada masyarakat kelas menengah ke atas dapat menggunakan
alat-alat yang lebih modern seperti perahu karet, rompi pelampung dll.
5.3. Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir ke dalam
Kegiatan Pengembangan Diri
Materi PRB dapat diintegrasikan dalam kegiatan pengembangan diri. Artinya
materi PRB ini menjadi bagian dari kegiatan intra atau ekstra yang dilaksanakan
pada waktu yang ditentukan, misalnya secara bersama pada hari Sabtu siang, atau
dalam waktu khusus lain.
JeniskegiatanekstrakurikulerantaralainKepramukaan,Latihan Dasar Kepemimpinan
Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRA),
cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan.
Strategi Pelaksanaan kegiatan PRB yang dilakukan melalui kegiatan pengembangan
diri dapat dilakukan melalui kegiatan keteladanan/contoh, kegiatan spontan,
kegiatan rutin, dan kegiatan terprogram.
1. Kegiatan keteladanan/contoh. Upaya pengurangan risiko bencana (PRB)
terhadap banjir dilakukan melalui kegiatan pemberian contoh/teladan yang
dilakukan oleh guru dan kepala sekolah dalam hal bertingkah laku yang
baik terutama untuk membuang sampah pada tempatnya, tidak menebang
pohon sembarangan menjaga kebersihan lingkungan untuk menghindari
tersumbatnya aliran sungai
2. Kegiatan spontan. Upaya PRB terhadap banjir juga dapat dilakukan melalui
kegiatan spontan. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru melihat
seorang anak bertingkah laku yang kurang baik khususnya yang berhubungan
dengan kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya banjir. Misalnya guru
melihat seorang anak yang membuang sampah di saluran air sehingga akan
menyumbat dan menyebabkan banjir.
3. Kegiatan rutin. Upaya PRB terhadap banjir juga dapat dilakukan melalui
kegiatan rutin. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan anak secara
terus menerus dan konsisten. Contohnya guru dan anak bersama-sama
melakukan pembersihan sungai agar aliarannya menjadi lancar
4. Kegiatan terprogram. Upaya PRB terhadap banjir juga dapat dilakukan melalui
kegiatan terprogram. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang diprogramkan
untuk dilakukan anak misalnya melakukan simulasi penyelamatan diri
terhadap banjir. Dalam kegiatan yang diprogramkan ini terlebih dahulu
dibuatkan perencanaan atau diprogramkan terlebih dahulu. Misalnya
melakukan kegiatan melestarikan lingkungan, simulasi penanggulangan
bencana, pemasangan poster dan kegiatan lain yang menunjang.
78
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
Dalam rangka mengintegrasikan materi PRB dalam kegiatan pengembangan diri/
ektrakurikuler maka perlu dilakukan beberapa hal yaitu:
1. Analisis kegiatan ekstra kurikuler yang memungkinkan dapat diintegrasi
dengan PRB. Misalnya Pramuka, Palang Merah/uks, paskibra, kelompok
pencinta lingkungan, dsb
2. Menyusun Program Kegiatan ekstra kurikuler yang mengintegrasikan PRB.
Contoh format program kegiatan ekstra kurikuler misalnya
Jenis Kegiatan Tabel 5.11 FORMAT PROGRAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER
Bulan TAHUN PELAJARAN ....
:
:
No Waktu Sasaran Rangkaian Tempat Peralatan Pelaksana Pengorganisasian
Kegiatan Kegiatan Kegiatan yang Kegiatan
Digunakan
Jakarta,
Mengetahui,
Kepala Sekolah Penanggung jawab kegiatan
79
Tabel 5.12 Contoh Program Kegiatan Ekstrakurikuler SD/MI
PROGRAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER
TAHUN PELAJARAN 2009 / 2010
Jenis Kegiatan : Pramuka
Bulan : Agustus
No Waktu Sasaran Rangkaian Tempat Peralatan Pelaksana Pengorganisasian
Kegiatan Kegiatan Kegiatan yang Kegiatan
Pembina dan Pasukan
Digunakan Penggalang putra, Berbentuk regu.
putri.
1 Minggu I Siswa kelas V t .FNCFSTJILBO Halaman sekolah/ t "MBU LFCFSTJIBO Pembina dan Pasukan Berbentuk regu.
bulan Agustus dan VI sampah di lapangan Penggalang putra,
pinggiran kali putri. Berbentuk regu.
Pembina dan Penggalang
2 Minggu II Siswa kelas V t .FNCVBU UFOEB Halaman sekolah/ t 5FOEB
5JBOH
5BMJ putra, putri.
bulan Agustus dan VI darurat lapangan
3 Minggu III Siswa kelas V t 4JNVMBTJ Kolam renang/ t 1FSBIV LBSFU
bulan Agustus dan VI Menolong danau t 5BMJ
korban dengan Lagu –lagu riang
perahu karet
4 Minggu IV Siswa kelas V t #FSNBJO Di halaman Pembina dan Penggalang Berbentuk regu.
bulan Agustus dan VI penyelamatan sekolah. putra, putri.
terhadap banjir
Mengetahui, Jakarta,
Kepala Sekolah Penanggung Jawab Kegiatan Pramuka
.................... ..................
NIP. NIP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir Untuk SD/MI
Kotak 5.5: Contoh Bahan Ajar Model Pengintegrasian Pengurangan
Risiko Banjir ke dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
BAHAN AJAR : MELAKUKAN PENGHIJAUAN
Kegiatan 1 : Memberikan keterampilan pada anak untuk dapat
Judul kegiatan
Tujuan melakukan penghijauan dan menumbuhkan sikap
Kegiatan untuk cinta lingkungan sehingga dapat mengurangi
risiko bencana banjir
Kegiatan 2 : Penghijauan; penanaman dimulai dengan pembuatan
Judul kegiatan lubang “ Jogangan” di tanah (1 m x 1m x 1m), lubang
Tujuan dibiarkan selama dua bulan dimanfaatkan untuk
Kegiatan peresapan air, selanjutnya bibit pohon ditanam
sekaligus membuat lobang pupuk leter L untuk
penempatan pupuk tahap I; tiga bulan berikutnya
lobang ditimbun, dan dimulai pembuatan lubang
pupuk tahap II kemuadian lobang pupuk tahap III.
Setelah tanaman tumbuh dengan baik, dibuatlah
lubang untuk tanaman penghijauan berikutnya.
Proses penanaman dan pemupukan tersebut sekaligus
berfungsi meretensi dan meresapkan air limpasan
ke dalam tanah. Tanaman penghijauan dapat dipilih
yang menguntungkan bagi masyarakat sekaligus
menguntungkan konservasi. Pada umumnya tanaman
yang dipilih adalah tanaman keras yang berbuah
yang tercatat sebagai tanaman asli daerah setempat.
Sehingga masyarakat pedesaan mendapatkan
keuntungan dari buah-buahan bukan dari menebang
kayu tanaman penghijauan tersebut.
: MEMBUAT PERESAPAN AIR “JOGANGAN“ (LUBANG)
TANAH DENGAN ATAU TANPA BUIS BETON
: Memberikan keterampilan pada anak untuk dapat
membuat peresapan air dan menumbuhkan sikap
untuk cinta lingkungan sehingga dapat mengurangi
risiko bencana banjir
: “Jogangan” pada pekarangan dengan ukuran
berkisar 1 m x 2 m x 1,5 m. “Jogangan selain untuk
peresapan air hujan juga untuk pembuangan
sampah organik.„Jogangan“ ini sakaligus berfungsi
untuk meningkatkan kesuburan tanah pekarangan.
„Jogangan“ dengan pasangan buis beton umumnya
dibuat tiga buah. Dua buah untuk tempat
pembuangan sampah organik secara bergantian
dan lainnya untuk mengumpulkan sampah plastik,
81
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Banjir
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
Kegiatan 3 alumium, gelas dan metal (anorganik). Setelah penuh
Judul kegiatan sampah organik dapat ditimbun dengan tanah dan
Tujuan nantinya digali sebagai pupuk, sedang sampah
Kegiatan anorganik bisa dijual. Upaya ini sekaligus dapat
sebagai pengelolaan sampah pedesaan.
Kegiatan 4
Judul kegiatan : MEMBUAT MODEL TANGGUL PEKARANGAN
Tujuan : Memberikan keterampilan pada anak untuk dapat
Kegiatan
membuat model tanggul pekarangan sehingga dapat
Kegiatan 5 mencegah terjadinya eosi tanah
Judul kegiatan : Teknologi pembuatan tanggul pekarangan umumnya
sudah dikuasai oleh para pendahulu masyarakat di
daerah pedesaan. Maksud pembuatan tanggul ini
adalah untuk mencegah erosi tanah pekarangan
akibat aliran limpasan air hujan. Konstruksi yang biasa
dipakai adalah tumpukan batu kali, potongan bambu,
potongan bambu dan tanaman dan tanaman teh-
tehan. Dengan konstruksi tanggul ini selain mecegah
erosi tanah pekarangan juga berfungsi menahan
dan meresapkan limpasan air hujan ke dalam tanah
pekarangan.
: MEMBUAT SUMUR RESAPAN AIR HUJAN SEDERHANA
: Memberikan keterampilan pada anak untuk dapat
membuat peresapan air dan menumbuhkan sikap
untuk cinta lingkungan sehingga dapat mengurangi
risiko bencana banjir
: Sumur resapan air hujan sederhana merupakan cara
efektif untuk memasukkan limpasan air hujan ke
dalam tanah. Teknologi sumur resapan sebenarnya
merupakan perkembangan dari jogangan atau
kolam-kolam yang biasa dibuat oleh para pendahulu
masyarakat pedesaan yang berfungsi untuk menahan
dan meresapkan air hujan. Metode memanfaatkan
air hujan (rain water harvesting) ini di Indonesia sama
sekali belum dikembangkan. Air hujan sebenarnya
merupakan air dengan qualitas cukup baik untuk
berbagai keperluan dan mudah dimanfaatkan. Sumur
resapan ini adalah salah satu metode memanen hujan,
namun airnya langsung diresapkan kedalam tanah,
sehingga persediaan sumur-sumur penduduk pada
musim kemarau masih mencukupi.
: MEMBUAT TENDA DARURAT
82