The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-01-10 22:34:57

Konsep Desain Arsitektur

Konsep Desain Arsitektur

Keywords: Konsep,Desain,Arsitektur

Ashadi

KONSEP
desain

ARSITEKTUR

?

Arsitektur UMJ Press

KONSEP
DESAIN
ARSITEKTUR

ASHADI

Penerbit Arsitektur UMJ Press
2019



KONSEP DESAIN ARSITEKTUR

|arsitekturUMJpress|
|

Penulis: ASHADI

CETAKAN PERTAMA, NOPEMBER 2019

Hak Cipta Pada Penulis
Hak Cipta Penulis dilindungi Undang-Undang Hak Cipta 2002
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan
cara apapun tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Desain Sampul : Abu Ghozi
Tata Letak : Abu Ghozi

Perpustakaan Nasional – Katalog Dalam Terbitan (KDT)
ASHADI
KONSEP DESAIN ARSITEKTUR
Jumlah Halaman 174

ISBN 978-602-5428-28-9

Diterbitkan Oleh Arsitektur UMJ Press
Jln. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510
Tetp. 021-4256024, Fax. 021-4256023
E-mail: [email protected]
Gambar Sampul: Gambar Diagram Proses Desain Arsitektur
Dicetak dan dijilid di Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan

__________________________________________________________
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
Sanksi Pelanggaran Pasal 72 :

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
atau pasal 49 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana
penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/
atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah),
atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau
denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan
atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda
paling banyak Rp. 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah).

ABSTRAK

Konsep desain arsitektur dalam proses desain arsitektur
memainkan peran penting dalam pengembangan solusi desain
arsitektur inovatif untuk banyak para praktisi dan akademisi,
dan para mahasiswa arsitektur. Konsep desain arsitektur
digunakan untuk membingkai beberapa pendekatan desain
arsitektur. Tulisan ini merupakan hasil dari sebuah kajian
kecil. Kajian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman
tentang konsep desain arsitektur. Metode yang digunakan
adalah eksplorasi pustaka. Eksplorasi dilakukan terhadap
referensi dan sumber-sumber internet yang dapat
dipertanggungjawabkan yang berkaitan dengan konsep desain
arsitektur. Sumber utama referensi adalah buku Concept
Sourcebook. A Vocabulary of Architectural Forms, karya
Edward T. White.
Kata Kunci: Desain Arsitektur, Konsep Desain, Proses Desain



KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, buku berjudul Konsep Desain Arsitektur dapat
diselesaikan. Buku ini merupakan hasil kajian kecil tentang
konsep dalam arsitektur dan aplikasinya (rumusannya) dalam
desain arsitektur.

Buku ini disusun sebagai salah satu buku referensi
dalam Mata Kuliah Perancangan Arsitektur di Program Studi
Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah
Jakarta.

Dalam buku ini diuraikan kedudukan ilmu arsitektur
di dalam khasanah ilmu pengetahuan ilmiah, dan penjelasan
bahwa arsitektur lebih dari sekedar ilmu pengetahuan ilmiah;
ia bahkan mewujudkan konsep-konsep yang abstrak menjadi
bangunan konkret yang siap mewadahi kegiatan manusia
dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.

Proses analisis tapak dan perencanaan ruang menjadi
salah satu bahasan penting. Di awali dengan penggalian data
dasar: tapak, klien, dan bangunan sejenis, kemudian
dilanjutkan dengan pembahasan tentang proses analisis. Di
dalam ulasan tentang proses analisis tapak dan perencanaan
ruang disertakan pula contoh-contoh berupa ilustrasi (sketsa).

Pada bagian akhir disajikan contoh-contoh rumusan
dan sketsa konsep desain arsitektur, yang sumber utamanya
diambil dari buku Concept Sourcebook. A Vocabulary of
Architectural Forms, karya Edward T. White.

i

ii

Akhirnya, semoga buku ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca, khususnya bagi para mahasiswa, sebagai salah satu
referensi dan sumbangan ilmu pengetahuan tentang konsep
desain arsitektur.

Jakarta, Nopember 2019
Penulis

PENGANTAR PENERBIT

Alhamdulillah, tulisan Ashadi yang berjudul Konsep Desain
Arsitektur dapat kami terbitkan. Buku ini merupakan hasil
kajian kecil tentang konsep dalam kaitannya dengan desain
arsitektur.

Dalam buku ini, penulis berusaha memahamkan konsep
desain arsitektur dan kedudukannya di dalam ilmu
pengetahuan ilmiah. Pada bagian awal dilakukan telaah atas
pentingnya konsep dalam desain arsitektur, dilanjutkan
dengan telaah atas tapak, klien, dan bangunan sejenis yang
ketiganya merupakan bahan dasar konsep desain arsitektur.
Selanjutknya adalah pembahasan tentang analisis tapak dan
perencanaan ruang. Analisis tapak adalah proses mengevaluasi
lokasi fisik, mental, dan karakteristik sosial tertentu dengan
ambisi mengembangkan solusi arsitektur yang akan mengatasi
dan meningkatkan konteks internal dan eksternal.
Perencanaan ruang adalah proses yang kompleks dengan
banyak faktor untuk dipertimbangkan. Prinsip-prinsip
perencanaan ruang melibatkan pemenuhan kriteria yang
ditetapkan berdasarkan prioritas. Desain bangunan atau ruang
akan memiliki banyak persyaratan dari klien atau pengguna
(user). Penting dalam tahap awal desain untuk melakukan
penelitian mendalam dan mempertimbangkan sebanyak
mungkin aspek penggunaan ruang.

iii

iv

Pada bagian akhir dari buku ini disajikan contoh-contoh
rumusan konsep desain arsitektur. Konsep-konsep yang
disajikan terutama adalah merupakan tanggapan terhadap
konteks

Kehadiran buku ini menjadi salah satu sumbangan
penting bagi khasanah ilmu pengetahuan, khususnya tentang
konsep desain arsitektur. Dan tentu saja menjadi salah satu
referensi penting bagi mahasiswa arsitektur, khususnya untuk
mata kuliah Perancangan Arsitektur.

Jakarta, Nopember 2019
Penerbit

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK HAL.
KATA PENGANTAR
PENGANTAR PENERBIT i
DAFTAR ISI iii
v

BAB 1 1
ILMU PENGETAHUAN DAN ARSITEKTUR 1
1.1 Ilmu Pengetahuan 4
1.2 Arsitektur Sebagai Ilmu Pengetahuan 11
1.3 Konsep

BAB 2 15
KONSEP DESAIN ARSITEKTUR 15
2.1 Arti dan Pentingnya Konsep Desain Arsitektur 20
2.2 Arti Lain Konsep Desain Arsitektur

BAB 3 33
BAHAN DASAR KONSEP DESAIN ARSITEKTUR 33
3.1 Tapak 36
3.2 Klien 41
3.3 Bangunan Setipe atau Sejenis 42
3.4 Studi Preseden

v

vi

BAB 4 45
ANALISIS TAPAK DAN RUANG 45
4.1 Analisis Tapak 70
4.2 Perencanaan dan Analisis Ruang
83
BAB 5
PENGEMBANGAN KONSEP DESAIN ARSITEKTUR 121
165
BAB 6
CONTOH-CONTOH KONSEP DESAIN ARSITEKTUR

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
ILMU PENGETAHUAN DAN

ARSITEKTUR

1.1 Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, dan
pemahaman yang dimiliki manusia, tentang dunia dan segala
isinya, termasuk manusia itu sendiri dan kehidupannya, yang
diperolehnya dengan cara tertentu, dan dengan usaha untuk
membuktikan kebenaran selanjutnya. Dalam contoh di atas,
tentang jamu (air rebusan daun insulin), jika jenis jamu itu
dianalisis melalui laboratorium dan kemudian diketahui bahwa
di dalam air rebusan daun insulin itu terdapat zat yang memang
ampuh untuk mengobati penyakit (atau menurunkan tingkat
kadar) gula darah seseorang, maka di sana didapatkan
penjelasan mengapa jamu itu dapat menyembuhkan penyakit
tertentu. Berarti pengetahuan sudah ditingkatkan menjadi ilmu
pengetahuan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ilmu
pengetahuan (science) adalah bagian dari pengetahuan
(knowledge).

Ilmu pengetahuan memiliki ciri-ciri: sistematis (memiliki
sistem), metodis (memiliki metode), universal (berlaku dimana
saja), objektif, verifikatif, progresif, dapat diaplikasikan atau
digunakan (ada kaitan antara teori dengan praktik), dan tanpa
pamrih (prinsip ilmu demi ilmu). Sistematis artinya, bahwa

1

2

dalam usaha untuk menjabarkan pengetahuan yang diperoleh,
melalui suatu hubungan yang teratur, logis dan terarah sehingga
menjadi suatu keseluruhan yang terpadu, utuh, dan menyeluruh,
yang mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat tentang
objeknya. Metodis artinya, bahwa dalam proses menemukan dan
mengolah pengetahuan menggunakan metode tertentu, tidak
serampangan. Metode yang digunakan untuk menghasilkan ilmu
pengetahuan dinamakan metode ilmiah. Tanpa metode ilmiah,
suatu pengetahuan bukanlah ilmu. Universal artinya, bahwa
kebenaran ilmu pengetahuan melampaui batas-batas individu,
ruang, dan waktu, sehingga ia bersifat umum. Objektif artinya,
bahwa dalam usaha menemukan kebenaran tentang objek
kajian, harus mencarinya dari rangkaian sebab akibat
menyangkut objeknya itu sendiri, sehingga disebut kebenaran
objektif, bebas prasangka dan kepentingan subjek atau peneliti.
Pendapat atau kesukaan subjektif dan dugaan-dugaan spekulatif
perorangan tidak mempunyai tempat di dalam ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang dapat
dipercaya, karena ia telah dibuktikan kebenarannya secara
objektif. Verifikatif artinya, bahwa kebenaran dalam ilmu
pengetahuan tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat terbuka
untuk dikoreksi bahkan dianulir oleh penelitian lain. Sehingga
apabila ditemukan bukti-bukti baru yang tidak mendukung
kebenaran tersebut, maka ia dapat dianulir dan memberi tempat
kepada kebenaran yang baru. Progresif artinya, bahwa suatu
kebenaran dalam ilmu pengetahuan dapat dikatakan ilmiah
apabila dalam kebenaran itu mengandung pertanyaan-
pertanyaan baru dan menimbulkan problem baru lagi, yang
mendorong perlunya dilakukan penelitian-penelitian lanjutan.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan akan selalu berkembang.

3

Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan atau bersifat aplikatif.
Inilah kaitan antara teori dan praktik. Kebenaran dalam ilmu
pengetahuan yang diperoleh harus tanpa pamrih. Artinya
seorang peneliti dalam mencari kebenaran ilmu pengetahuan
bukan oleh karena kepentingan-kepentingan lainnya (di luar
ilmu pengetahuan).

Ilmu pengetahuan, berdasarkan cara pandang ilmu
pengetahuan secara keseluruhan, dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu pertama, kelompok ilmu pengetahuan alam (fisika,
kimia, astronomi, biologi, dan lain-lain), dan kedua, kelompok
ilmu pengetahuan sosial-budaya (sosiologi, antropologi, psikologi,
arkeologi, dan lain-lain). Pembagian dua kelompok ilmu
pengetahuan ini, untuk pertama kalinya dilakukan oleh Wilhelm
Dilthey (1833-1911), pada akhir abad ke-19. Kelompok ilmu
pengetahuan alam (naturwissenschaften) bertumpu pada metode
erklaren (penjelasan), sementara itu, ilmu pengetahuan sosial-
budaya (geisteswissenschaften) bertumpu pada metode verstehen
(pemahaman). Metode erklaren memusatkan diri pada ‘sisi luar’
objek penelitian. Erklaren pada akhirnya merupakan ‘analisis-
kausal’, yaitu analisis atas proses-proses yang berhubungan
dengan sebab-akibat untuk menemukan hukum-hukum alam.
Sementara metode verstehen memusatkan diri pada ‘sisi dalam’
objek penelitian, yaitu dunia mental atau penghayatan, maka
sesuai untuk masyarakat dan kebudayaan. Di sini, seorang
peneliti tidak mengambil distansi penuh, melainkan justru
sebaliknya, berpartisipasi di dalam interaksi dan komunikasi
sosial dengan hal-hal yang ditelitinya. (Ashadi, 2017: 6;
Hardiman, 2015: 75-78; Palmer, 2005:116-119).

4

Kelompok ilmu pengetahuan alam disebut juga kelompok
ilmu nomotetis, karena tujuan penelitian dalam kelompok ilmu
pengetahuan ini adalah mencari hukum-hukum (nomos). Metode
yang digunakan biasanya adalah metode empiris-kuantitatif
dengan model penjelasan kausalitas tentang fenomena alam.
Sementara itu, kelompok ilmu pengetahuan sosial-budaya
disebut juga kelompok ilmu idiografis, karena tujuan penelitian
dalam kelompok ilmu pengetahuan ini adalah memahami
keunikan atau kekhasan satu fenomena sosial-budaya. Metode
yang digunakan biasanya adalah kualitatif, fenomenologi, dan
hermeneutika, dan pembahasannya dilakukan secara deskriptif.

Lalu ilmu arsitektur termasuk kelompok yang mana?
Apakah ia termasuk dalam kelompok ilmu pengetahuan sosial
ataukah ilmu pengetahuan alam? Ataukah dua-duanya? Di
sinilah keunikan ilmu arsitektur. Sebelumnya, perlu kiranya
dijelaskan apa itu arsitektur.

1.2 Arsitektur sebagai Ilmu Pengetahuan
Secara etimologi, arsitektur berasal dari kata dalam bahasa
Yunani “arche” dan “tektoon”. Arche berarti: yang asli, yang
utama, yang awal; sedangkan tektoon menunjuk pada sesuatu
yang berdiri kokoh, tidak roboh, stabil. Architectoon berarti
tukang ahli bangunan yang utama. [Mangunwijaya, 1995: 327].

Dari sejak dulu arsitektur adalah gedung, tetapi tidak
semua gedung dapat atau boleh disebut arsitektur. Banyak
gedung tidak diakui sebagai arsitektur, kalaupun diakui, ia
dinista sebagai arsitektur gombal. Asal katanya sendiri
menunjukkan kaitan antara wujud dan pembuatnya. Arsitektur
adalah gedung yang dibuat oleh tukang ahli bangunan

5

(“tectoon”), yang jagoan, yang utama, dan yang mampu
memimpin (“arche”). [Kuswartojo, 2005: 76-77].

Arsitektur sesungguhnya memiliki cakupan yang jauh
lebih luas daripada sekedar sebagai kepala tukang ahli bangunan
yang utama. Ruang lingkup konsepsi tentang arsitektur sangat
bervariasi, dan setiap interpretasi yang dimunculkan akan
sangat dipengaruhi oleh latar belakang pemikiran seseorang
mengenai dunia di sekitarnya dan pengalaman-pengalaman yang
dilaluinya.

Louis Isadore Kahn [1901-1974], seorang teoritisi
arsitektur zaman modern, pernah berkata seperti dikutip
Cornelis van de Ven dalam Ruang Dalam Arsitektur, yang
intinya bahwa arsitektur adalah ruang yang diciptakan dengan
cara yang benar-benar direncanakan [van de Ven, 1991: xiii].
Senada dengan ini, Budi A. Sukada seorang pengajar Arsitektur
di Universitas Indonesia menyatakan, ruang yang digubah itulah
arsitektur [Masinambow, 2001: 104].

Pada periode arsitektur modern, yang dinamakan ruang
arsitektur adalah ruang geometri tiga dimensional, yang
meliputi: bidang pelingkup bawah, yang berupa bidang lantai,
bidang pelingkup samping, yang berupa bidang dinding, dan
bidang pelingkup atas, yang berupa bidang atap atau plafon.
Ketiga elemen ini membentuk sebuah ruang arsitektur yang
teraba dan kasat mata (touchable dan visible).

Sejak menjelang tahun 1970-an, lahirlah pemahaman-
pemahaman tentang konsepsi ruang arsitektur yang melibatkan
dimensi budaya. Amos Rapoport dalam Human Aspects of Urban
Form, menjelaskan, ruang (arsitektur) tidak sekedar berurusan
dengan ruang fisik tiga dimensional, sebab pada waktu dan

6

konteks yang berbeda, seseorang, sebenarnya sedang berurusan
dengan macam ruang (arsitektur) yang berbeda. Orang-orang
dari kebudayaan yang berlainan akan berbeda di dalam
bagaimana mereka membagi-bagi dunia mereka, memberikan
nilai kepada bagian-bagiannya, dan mengukurnya. Ruang
(arsitektur) adalah penjabaran dari dunia sekitar kita dalam tiga
dimensi, yaitu penjabaran interval-interval, hubungan-hubungan
dan jarak-jarak antara manusia dan manusia, manusia dan
benda, benda dan benda. Rapoport menambahkan,
sesungguhnya perencanaan dan perancangan pada semua skala,
mulai dari wilayah yang sangat luas sampai pengaturan perabot
rumah, dapat dianggap sebagai pengaturan ruang untuk
berbagai kegunaan, menurut ketentuan yang mencerminkan
kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai, dan hasrat-hasrat kelompok
atau pribadi yang melakukan pengaturan tersebut. Pengaturan
ruang itu sendiri mengekspresikan makna dan mempunyai sifat-
sifat komunikatif. [Rapoport, 1977]. Makna sering terwujud
dalam tanda, bahan, bentuk, ukuran, perlengkapan perabot,
pertamanan, dan sebagainya.

Pada hakekatnya, arsitektur adalah lingkungan yang

utuh hasil dari upaya manusia untuk menampung kebutuhan

manusia bertempat tinggal, berusaha, dan bersosial-budaya.

Sasaran utama arsitektur adalah ruang yang dapat menampung

kegiatan manusia dan sekaligus memiliki makna, baik pada skala

elemen bangunan, suatu ruang sebagai bagian dari bangunan,

sebuah bangunan, suatu kelompok bangunan, suatu lingkungan,

dan bahkan suatu kota. Agar dapat memenuhi tuntutan

kemajuan budaya yang terus meningkat, maka kualitas ruang

arsitektur yang dihasilkan secara umum harus dapat memenuhi

7

fungsinya sebagai wadah yang layak bagi manusia berkegiatan

(livable), berjati-diri (imageable), mendorong produktivitas,

tahan lama dan berkelanjutan (sustainable), terjangkau, dan

dapat secara mudah dikelola dengan baik.

Dalam periode arsitektur post-modern, keterlibatan
dimensi budaya, telah menghadirkan ruang arsitektur yang
memungkinkan terbentuk oleh elemen-elemen yang tak teraba
dan tak kasat mata (untouchable dan invisible).

Saat ini, isu-isu beragam seperti akustik, kromatik,
kontrol biaya, ekologi, ergonomi, ilmu material, mekanika tanah,
manajemen proyek, domain fisika, psikologi dan sosiologi,
semuanya relevan dengan desain arsitektur. Sama seperti
komponen sistem yang kompleks, masalah ini selalu sangat
terjalin. Setiap keputusan yang diambil arsitek kemungkinan
memiliki implikasi yang melintasi berbagai aspek dan
berkembang biak di seluruh proses desain. Saling keterkaitan
mereka membuat desain arsitektur aktivitas yang sangat
kompleks.

Kompleksitas ilmu arsitektur, bahkan sudah ada pada
zaman Vitruvius (sekitar permulaan abad Masehi). Dalam De
Architectura – The Ten Books on Architecture (1914), pada Buku
1, Bagian 1 dijelaskan bahwa seorang arsitek harus dilengkapi
dengan pengetahuan tentang berbagai cabang studi dan beragam
jenis pembelajaran, baik praktek maupun teori. Praktek adalah
latihan kerja secara terus menerus dan teratur. Di sisi lain, teori
adalah kemampuan untuk menunjukkan dan menjelaskan
produksi ketangkasan pada prinsip-prinsip proporsi. Arsitek
yang menguasai keduanya (praktek dan teori), seperti laki-laki
bersenjata di semua titik, dan lebih cepat mencapai objek.

8

Seorang arsitek harus memiliki ketrampilan dan pengetahuan
tentang gambar sehingga dengan mudah membuat sketsa untuk
menunjukkan pekerjaan yang ia usulkan. Seorang arsitek harus
akrab dengan ilmu ketrampilan, sastra, matematika, aritmetika,
sejarah, filsafat, musik, obat-obatan, hukum, optik, fisika, dan
ilmu astronomi. (Ashadi, 2016: 120).

Lebih dari itu, arsitektur tidak hanya seni dan ilmu untuk
mengembangkan desain yang baik untuk klien tetapi juga
keterampilan membawa desain itu membuahkan hasil sebagai
bangunan nyata.

Dari penjelasan singkat di atas, kedudukan arsitektur
dalam ilmu agak sulit berpihak ke salah satu kelompok ilmu
pengetahuan. Arsitektur sebagai salah satu ilmu terapan, di satu
sisi bersifat teknik / engineering, yang termasuk dalam kelompok
ilmu pengetahuan alam, di sisi lain juga bersifat humaniora,
yang termasuk dalam kelompok ilmu pengetahuan sosial-budaya.
Kedudukan arsitektur yang demikian, sering berakibat pada
ketidak-konsistennya sebuah konsep desain arsitekturnya.
Dalam kedudukan arsitektur sebagai benda, harus mengikuti
kerangka teoritis ilmu esakta (kelompok ilmu pengetahuan
alam). Dalam melihat manusia sebagai pemakai yang
berkonteks, harus mengikuti kerangka teoritis ilmu humaniora
(kelompok ilmu pengetahuan sosial-budaya).

Sejak zaman Vitruvius bahkan arsitektur sulit
memosisikan dirinya sebagai sebuah ilmu pengetahuan ilmiah,
karena padanya terkandung unsur seni yang sulit diilmiahkan.

Dalam kuliah-kuliah arsitektur selalu ditekankan bahwa
arsitektur harus memenuhi tiga syarat (menurut Vitruvius),
yaitu : kegunaan (utilitas), kekuatan (firmitas), dan keindahan
(venustas). Ketiga syarat ini sama-sama pentingnya. Namun dari

9

ketiga syarat ini, syarat keindahan yang paling sulit diukur dan
didefinisikan, sehingga ada tudingan bahwa arsitektur bukan
sebagai sebuah ilmu pengetahuan ilmiah karena sulit diukur
kebenarannya.

Arsitektur tidak hanya seni dan ilmu tetapi juga
keterampilan yang membuahkan hasil berupa bangunan nyata
yang baik dan berguna bagi para penggunanya.

Arsitektur lebih merupakan kegiatan terpadu yang
tertuju pada memengaruhi masa depan daripada menjelaskan
peristiwa-peristiwa terkucil di masa lampau. Arsitektur tidak
memiliki teori yang seksama, karena bangunan dan para
penggunanya terlalu rumit untuk dapat dikenal dan diramalkan.
Misalnya tidak terdapat rumusan arsitektur yang akan
memungkinkan kita meramalkan kepuasan hati para penghuni
di rumah-rumah di bawah tanah. (Attoe, 1984: 37).

Arsitektur terus mencoba untuk mencari landasan lain
yang bisa dipakai untuk melegitimasi dirinya sebagai sebuah
ilmu pengetahuan ilmiah, salah satunya yang penting adalah
adanya metode merancang arsitektur.

Sebagai hasil dari usaha yang terus menerus, baru pada
dekade tahun 1960-an muncul berbagai gerakan untuk
mengilmiahkan arsitektur dengan memperkenalkan berbagai
metodologi ilmiah di dalam proses desainnya. Dengan usaha ini,
arsitektur ingin ditempatkan sebagai ilmu praktek merancang
dan sekaligus sebagai ilmu pengetahuan ilmiah.

Namun usaha-usaha memadukan arsitektur sebagai
sebuah ilmu praktek merancang dan sebagai ilmu pengetahuan
ilmiah ternyata banyak kendalanya. Salah satu penyebabnya
adalah pandangan ilmiah tentang masalah yang dihadapi

10

arsitektur. Pendekatan ilmiah mengandaikan permasalahan
yang dihadapi sebagai permasalahan jinak yang sudah
terdifinisikan dengan jelas, sedangkan di lapangan yang sering
dihadapi oleh arsitektur adalah permasalahan yang secara
mendasar sulit dihadapi dan ditaklukkan oleh pendekatan
ilmiah.

Pada sekitar tahun 1970-an timbul pemikiran-pemikiran
lain yang mengajukan pemikiran tentang adanya ‘Plurality of
Approaches’ dalam Arsitektur. Pemikir-pemikir ini seperti
Rappoport, Brolin dan Jencks mempertanyakan bahwa pada
Arsitektur, khususnya Arsitektur Modern, yang selama ini
diajarkan seolah-olah hanya ada satu - Unified Theory and
Practise – tentang Arsitektur Modern. Latar belakang pemikiran
kelompok tersebut di atas terutama berkisar bahwa Arsitektur
itu hasil dan bagian dari kebudayaan, sehingga dalam
Perancangan Arsitektur perlu ditinjau secara sistematis akar-
akar budaya yang melatar belakangi pemikiran-pemikiran dan
artifak Arsitektur yang telah ada atau yang akan dihasilkan.

Pemikiran-pemikiran programming sebagai suatu
pemikiran yang nampak mulai mengkristalisasi di cakrawala
Perancangan Arsitektur sekitar akhir tahun 1980-an. Pelopor
pemikir programming adalah Palmer, White, Sanof, Preiser,
Pena, Wade, dan lain-lain. Dasar yang dianut oleh para pemikir
programming adalah ‘concerned’ tentang semua informasi yang
bagaimana, apa, siapa nya klien / pemakai yang harus jadi titik
tolak dari segala pemikiran Perancangan. Cikal bakal dari
pendekatan ini adalah karena adanya kekhawatiran dan
keraguan dari pihak klien dan masyarakat umum tentang
kekecewaan yang telah dialaminya ketika bangunan yang telah
selesai dan mulai ditempati, bangunan itu tidak memenuhi apa

11

yang telah diharapkan/ dibayangkan baik secara fungsional
maupun ideal. (Kartadiwiria, 1989).

Beberapa hal tentang arsitektur dapat diketahui dalam
arti ilmiah. Misalnya kita dapat menentukan reaksi-reaksi
psikologis terhadap ruangan yang panas atau lembab. Kita dapat
meramalkan rangka struktur beton. Kita dapat memperkirakan
masalah penangkapan bunyi dalam suatu ruang kuliah yang
tidak tepat bentuknya. Pengetahuan arsitektur yang sedikit ini
dapat dijelaskan dari segi teori fisiologi manusia, teori struktur
bangunan, dan teori transmisi suara. Tetapi semuanya ini tidak
merupakan suatu teori arsitektur, baik secara berdiri sendiri
maupun secara kolektif. Teori dalam arsitektur adalah hipotesis,
harapan, dan dugaan tentang apa yang terjadi bila semua unsur
yang membentuk bangunan dikumpulkan dalam suatu cara,
tempat, dan waktu tertentu. (Attoe, 1984: 37).

1.3 Konsep
Istilah konsep berasal dari Bahasa Inggris “concept” yang
berakar pada kata dalam Bahasa Latin “conceptus” yang berarti
“tangkapan”. Tangkapan dalam konteks logika berkaitan dengan
aktivitas intelektual untuk menangkap realitas. Concept dapat
diartikan simbol yang digunakan untuk memaknai sesuatu. Dari
berbagai pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa yang
dimaksud dengan konsep adalah, aktivitas akal budi untuk
memaknai realitas dengan menggunakan simbol tertentu.

Manusia menggunakan konsep sepanjang waktu karena
konsep adalah bagian penting dari kehidupan manusia untuk
dapat memahami alam semesta dan berkomunikasi dengan
manusia lain. Peneliti dapat menggunakan satu istilah yang itu

12

bisa disebut konsep, untuk beberapa kejadian atau keadaan.
Misalnya, peneliti dapat menggunakan konsep lampu untuk
merujuk pada benda-benda yang dapat mengeluarkan cahaya
ketika dialiri arus listrik. Atau misalnya, peneliti dapat
menggunakan konsep kompor untuk merujuk pada benda-benda
yang dapat mengeluarkan api ketika dialiri arus listrik ataupun
gas, yang dapat berguna untuk memasak atau menghangatkan
makanan. Intinya, dengan menggunakan konsep, peneliti tidak
perlu mengatakan satu hal dengan menggunakan kalimat
panjang. Kalimat yang Panjang itu dapat diwakili dengan sebuah
istilah yang dinamakan konsep. Dengan demikian, konsep dapat
diartikan sebagai sebuah konstruksi simbolik, yang dengannya,
manusia dapat memahami dan memberikan arti bagi
kehidupannya.

Ada dua jenis konsep, yaitu konsep abstrak dan konsep
konkrit. Konsep abstrak tidak dibatasi dengan ruang dan waktu,
sedangkan konsep konkrit dibatasi dengan ruang dan waktu.
Konsep konkrit berhubungan dengan fakta atau realitas yang
diwakilinya. Konsep konkrit juga menunjuk pada sesuatu yang
sifatnya riil dan dapat teramati. Konsep konkrit disebut juga
konstruk (construct). Contohnya, suhu adalah konsep abstrak,
dan suhu kamar adalah konsep konkrit; sikap adalah konsep
abstrak, dan sikap remaja adalah konsep konkrit. (Martono,
2016: 142).

Ada perbedaan pemaknaan konsep dalam penelitian
kuantitatif dan kualitatif. Bagi peneliti kuantitatif, mereka
cenderung memilih konsep atau menyusun kata-kata, dengan
cara sedemikian rupa sehingga tidak lebih dari satu makna yang
dapat melekat pada kata yang mereka pilih. Mereka harus
menentukan dari awal bagaimana mereka membuat konsep yang

13

abstrak menjadi konsep konkrit. Dengan kata lain, mereka harus
memberikan definisi opresional secara eksplisit. Sementara itu,
dalam penelitian kualitatif, konsep merupakan kata-kata yang
bermakna yang dapat dianalisis dalam kerangka pemikiran
peneliti untuk mendapatkan pemahaman konsep lebih
mendalam. Para peneliti kualitatif akan melakukan analisis
etimologis terhadap konsep yang dioperasionalkan sebagai
bagian dari deskripsi mereka mengenai fenomena yang diteliti.
Peneliti kemudian akan menafsirkan fenomena atas dasar
kekayaan makna konsep tersebut. (Martono, 2016: 141-142).

Ketika mengacu pada arsitektur; sebuah konsep adalah
ide, pemikiran atau gagasan yang membentuk tulang punggung
dan fondasi proyek desain dan yang mendorongnya maju. Konsep
adalah ide, teori atau gagasan, tetapi dalam arsitektur kita juga
bisa menggambarkan konsep sebagai 'pendekatan' terhadap
desain. Tegasnya dalam hal desain arsitektur, konsep adalah
tema utama, gagasan utama yang memandu dan memimpin
penciptaan suatu proyek (bisa berupa situs, bangunan, interior,
dll) bentuk atau fungsi atau semuanya. Konsep adalah apa yang
memberi karakter pada proyek yang dihadapi.

Konsep-konsep arsitektur tidak dimaksudkan untuk
membangun teori-teori ilmiah yang menggambarkan bagaimana
dunia itu tetapi bagaimana pemikiran arsitektur meletakkan
dugaan formal yang mewujudkan prediksi fungsional, dan dapat
dikembangkannya. Dengan kata lain, arsitektur adalah proses
desain kreatif yang menginspirasi desainer untuk memetakan
pengetahuan tentang kemungkinan formal menjadi dugaan
untuk kekhususan formal, dan juga dari pengetahuan tentang
probabilitas fungsional hingga prediksi fungsional.

14

Karenanya, konsep arsitektur bukanlah formasi teoretis
tetapi pemahaman komprehensif tentang masalah desain
spesifik yang dihasilkan dari proses intelektual yang terlibat
dalam memproyeksikan bentuk arsitektur yang sesuai.

BAB 2
KONSEP DESAIN ARSITEKTUR

2.1 Arti dan Pentingnya Konsep Desain Arsitektur
Dalam pembahasan ini, yang dimaksud dengan konsep adalah
konsep desain dalam arsitektur atau konsep desain arsitektur.

Konsep memainkan peran penting dalam pengembangan
solusi desain inovatif untuk banyak para praktisi dan akademisi,
dan para mahasiswa arsitektur. Konsep digunakan untuk
membingkai beberapa pendekatan desain arsitektur.

Bagi banyak arsitek, kemampuan untuk mendiagnosis
masalah desain dan mengusulkan konsep dan hipotesis yang
produktif memainkan peran penting dalam pengembangan solusi
inovatif di studio. Deskripsi konseptual yang ditetapkan pada
tahap awal proses desain digunakan untuk membingkai
beberapa pendekatan desain umum. Konsep-konsep desain
diperkenalkan secara kontekstual dan paralel dengan rangkaian
tindakan desain produktif yang dijelaskan dan dijelaskan dalam
istilah-istilah tersebut. Menafsirkan output dari aksi desain
memberi makna pada konsep. Ini memungkinkan konsep dan
artefak desain berkembang secara paralel. Dalam implementasi
desain, keberadaan kerangka kerja konseptual memungkinkan
revisi yang diperlukan terjadi dalam kerangka tujuan desain asli.
(Kotsopoulos, 2007).

15

16

Desain arsitektur dipandang, dipelajari, dan
dikembangkan sebagai aktivitas unik dengan karakteristik
berbeda. Ini dianggap sebagai aktivitas yang sangat kompleks,
kaya pengetahuan, yang membutuhkan sejumlah besar
pengetahuan di luar apa yang dinyatakan dalam masalah desain
arsitektur. Terutama tahap konseptual dari proses desain
arsitektur membuat tuntutan besar pada arsitek, karena
melibatkan banyak pengetahuan serta berbagai cara untuk
mengetahuinya.

Dalam domain arsitektur, istilah konseptual digunakan
untuk menggambarkan elemen-elemen desain dan pengalaman
yang dibayangkan. Terminologi konsep digunakan untuk
mengonseptualisasikan tapak, organisasi ruang, penggunaan
fungsi, bentuk, skala, dan gaya (Steier, 2011).

David Smith Capon dalam The Vitruvian Fallacy Volume
One memberikan penjelasan tentang konsep dan istilah-istilah
yang berkaitan dengannya (1999:xiv).

“A concept is generalization or abstraction made from a
mental representation. Kinds of concept differ according to the
degree of mental analysis has taken place, and may be divided
into notions and ideas.” (“Sebuah konsep adalah generalisasi
atau abstraksi yang dibuat dari representasi mental. Jenis-jenis
konsep berbeda sesuai dengan tingkat analisis mental yang telah
terjadi, dan dapat dibagi ke dalam notions dan ideas.

“A notion is an unformulated, or only partially analysed,
concept, clearer than an intuition but not as clear as an idea.” (“A
notion adalah konsep yang tidak dirumuskan, atau hanya
dianalisis sebagian, lebih jelas daripada intuisi tetapi tidak
sejelas idea”).

17

“An idea is a formulated concept, clearer than a notion,
and connoting a degree of mental analysis of its subject matter in
accordance with the categories of pure reason, or kinds of
relation.” (“An idea adalah konsep yang dirumuskan, lebih jelas
daripada notion, dan berkonotasi dengan tingkat analisis mental
terhadap pokok bahasannya sesuai dengan kategori nalar murni,
atau jenis hubungan”).

Menurut Tim McGinty, konsep adalah gagasan yang
memadukan berbagai unsur ke dalam suatu kesatuan. Unsur-
unsur ini bisa jadi berupa gagasan, pendapat, dan pengamatan.
Suatu konsep mengemukakan suatu cara khusus bahwa syarat-
syarat suatu rencana, konteks, dan keyakinan dapat
digabungkan bersama. (McGinty,1984: 287).

Menurut Edward T. White dalam Concept Sourcebook, A
Vocabulary of Architectural Forms (1975: 10), sebuah konsep
adalah:

• Suatu gagasan awal yang digeneralisasikan.
• Suatu pengembangan yang harus diperluas dan

dikembangkan lebih lanjut secara lebih terperinci.
• Suatu kerangka embrionikyang akan menampung suatu

kerumitan yang lebih kaya.
• Suatu persepsi tentang penghasilan bentuk dari suatu

analisis permasalahan.
• Suatu gambaran mental yang berasal dari situasi proyek.
• Suatu strategi untuk bergeser dari kebutuhan-kebutuhan

proyek ke pemecahan bangunan.
• Sekumpulan taktik dasar untuk melanjutkan

perancangan.

18

• Studi pendahuluan untuk mengembangkan persoalan-
persoalan proyek yang utam.

• Gagasan perancang yang pertama mengenai morfologi
bangunan.

Konsep desain arsitektur adalah makna dan alasan untuk
produk akhir arsitektur (bangunan atau struktur yang telah
selesai) dan merupakan bagian pertama dari proses desain yang
akan dikembangkan dan direalisasikan seperti halnya benih
untuk ditanam. Dan seperti halnya benih tanaman, benih dapat
berasal dari beragam sumber, dan menghasilkan banyak variasi
dan hasil. Sehingga sangat jelas bahwa konsep merupakan
bagian penting dari desain arsitektur.

Tiap rancangan bangunan sebenarnya tersusun dari atau
memiliki banyak konsep. Bahkan sebuah proyek berskala kecil
pun tidak mungkin menghadapi semua aspek dari bangunan
secara serempak hanya dengan sebuah konsep (konsep tunggal).
Perancang harus bisa membagi situasi proyek menjadi sejumlah
bagian yang mudah ditangani, menghadapinya secara individual
dan kemudian menyintesiskannya menjadi sebuah bangunan
“serempak” keseluruhan.

Dalam proses desain, pada tiap-tiap tahapan
membutuhkan konsep desain. Menurut Edward T. White, proses
desain meliputi lima langkah atau tahapan (1975: 12-13)
(Gambar 2.1): pemrograman (programming) – desain skematik
(schematic design) – pengembangan desain (design development)
– dokumen kontrak (contract documents) – administrasi
konstruksi (construction administration).

Pada tahap pemrograman, misalnya di sana terdapat
konsep-konsep tentang kedekatan ruang yang dibutuhkan. Pada

19

tahap desain skematik terdapat konsep untuk pengelompokan
dan penzoningan fungsi-fungsi tapak. Pada tahap pengembangan
desain terdapat konsep untuk detail fenestrasi. Pada tahap
dokumen kontrak terdapat konsep untuk pengorganisasian
seluruh perangkat keras dalam bangunan. Pada tahap ini juga
terdapat konsep untuk menentukan rentang kualitas material
yang diijinkan. Pada tahap administrasi konstruksi terdapat
konsep untuk mengansuransikan kualitas instalasi. Pada tahap
ini juga terdapat konsep untuk penempatan bangunan. Jadi,
konsep-konsep bisa berorientasi ke proses atau produk,
mengambil tempat pada tiap tahap di dalam proses desain.

Bagi para mahasiswa arsitektur, paling tidak tiga tahapan
awal proses desain (pemrograman – desain skematik –
pengembangan desain) menjadi pelajaran yang penting, sehingga
harus dipahami secara benar.

Dalam proses desain, setiap melangkah ke tahapan
berikutnya harus selalu dilakukan umpan balik (feedback) ke
tahapan sebelumnya, demikian seterusnya sampai pada tahapan
akhir proses desain. Umpan balik jangan hanya dilakukan ketika
proses desain sampai ke tahapan akhir dan dilakukan terhadap
tahapan paling awal, namun seharusnya dilakukan pada setiap
tahapan berikutnya. (Gambar 2.2).

12345 ?

Gambar 2.1 Diagram Proses Desain
(Elaborasi dari Edward T. White, 1975: 12-13).

20

Feedback (umpan balik)

Gambar 2.2 Diagram Proses Desain (tahapan minimal yang harus dipahami oleh
para mahasiswa arsitektur). Feedback adalah penting dalam proses desain.

2.2 Arti Lain Konsep Desain Arsitektut
Konsep arsitektur dapat digambarkan sebagai:

• Idea
• Abstraction
• Belief
• Inspiration
• Plan
• Hypothesis
• Response
• Approach
• Philosophy

Konsep sebagai Ide (Idea)
Arsitek datang dengan ide atau gagasan. Arsitek membuat
desain dan bangunanan gedung dan kawasan, bahkan kota
berangkat dari ide. Ide arsitektur bisa berasal dari sang arsitek

21

maupun dari sang klien. Profesi arsitek memang unik;
meskipun, misalnya memiliki banyak ide tentang suatu desain
arsitektur, namun seorang arsitek tidak bisa memaksakan ide
atau gagasannya tersebut kepada klien sepenuhnya, bahkan
tidak jarang ide-ide datang dari para klien. Klien datang kepada
arsitek untuk meminta bantuan. Terkadang mereka
membutuhkan bangunan kantor baru, rumah baru, galeri baru,
sekolah baru, dan, mereka ingin keahlian arsitek untuk
membantu mereka melalui proses kompleks menciptakan
bangunan atau ruang arsitektur yang mereka butuhkan. Mereka
adalah klien yang baik, terkadang mereka memiliki visi untuk
perkembangan baru yang tentu saja dengan pertimbangan pada
anggaran yang tersedia, dan mereka membutuhkan bantuan
arsitek untuk merealisasikannya. Terkadang mereka memiliki
ide baru yang ingin mereka terapkan.

Ketika sebuah konsep disepakati, arsitek akan menguji
ide-ide, memperbaiki detail dan membentuk desain akhir. Desain
yang dikembangkan adalah fase kunci - ini adalah kesempatan
terakhir arsitek dan klien untuk memperbaiki sifat keseluruhan
proyek sebelum perencanaan dimulai.

Konsep sebagai Abstraksi (Abstraction)
Proses desain adalah proses berpikir dan proses yang diadopsi
harus menghasilkan pemikiran kreatif. Berpikir kreatif
melibatkan visualisasi yang merupakan keterampilan dan
kemampuan untuk mengubah visi menjadi visual. Unsur
kreativitas dapat dipupuk jika stimulus kreatif diperkenalkan
dan teknik pemecahan masalah dijelaskan. Proses desain
membutuhkan banyak keterampilan. Mungkin yang paling

22

penting adalah kemampuan untuk membuat sketsa dan
membubuhi keterangan desain konseptual. Abstraksi adalah
teknik yang diadopsi oleh seniman dari masa sejarah untuk
mengeluarkan estetika subjek. Abstraksi adalah proses
mengambil atau menghilangkan karakteristik dari sesuatu
untuk menguranginya menjadi seperangkat karakteristik
penting. (Ghom, 2017).

Abstraksi dilakukan untuk mencapai konsep abstrak yang
mewujudkan tahap paling kompeten dari proses pencerahan.
Tidak mungkin untuk memperoleh pengetahuan tentang esensi
dan realitas apa pun tanpa terlebih dahulu mendapatkan konsep
abstrak. Fenomena dan peristiwa nyata hanya dapat
memberikan realitas formal dan lahiriah; itu adalah abstraksi
yang memberikan informasi penting. Pada kenyataannya
abstraksi adalah metode, alat yang digunakan untuk mendekati
hal-hal konkret dan memahaminya secara dalam hubungannya
satu sama lain.

Dalam arsitektur abstraksi ada dalam berbagai tahap
proses desain dari awal hingga akhir dan menghadirkan dirinya
dalam produk akhir. Abstraksi digunakan sebagai metode dalam
akuisisi pengetahuan lingkungan dan mengembangkan fase opini
proses perancangan. Sketsa dan rancangan kasar, yang
mengubah bentuk konkret menjadi abstrak dan yang membuka
keseluruhan meskipun kesederhanaannya juga dikenal sebagai
abstraksi. (Gencosmanoglu, 2010).

Konsep sebagai Keyakinan (Belief)
Keyakinan adalah sikap bahwa sesuatu itu benar atau salah.
Dalam epistemologi, para filsuf menggunakan istilah

23

“keyakinan” untuk merujuk pada sikap pribadi yang terkait
dengan ide dan konsep yang benar atau salah.

Desain memiliki hubungan yang sangat kuat dengan
keyakinan. Desain adalah pengubahan ide dan keyakinan
menjadi rencana implementasi melalui pemikiran, perencanaan
dan analisis serta pelaksanaan. Keyakinan desain dapat
merupakan pengetahuan apabila keyakinan itu benar menurut
ilmu pengetahuan. Keyakinan desain dapat membentuk
pengetahuan karena keyakinan desain dibentuk secara
mendasar; oleh karenanya ia dapat memiliki jaminan kebenaran
jika diproduksi oleh proses kognitif yang berfungsi dengan baik
sesuai dengan rencana desain dan ditujukan untuk kebenaran.

Konsep sebagai Inspirasi (Inspiration)
Inspirasi memainkan peran yang kuat di awal proses desain,
dalam penelitian dan perencanaan pengumpulan strategis.
Sumber inspirasi juga memainkan peran penting dalam
komunikasi ide-ide desain, baik di kalangan desainer, dan antara
desainer dan manajer dan pembeli (Eckert, 1997). Ide-ide desain
seringkali datang dari sumber inspirasi.

Para ilmuwan kognitif menemukan bahwa orang mau
tidak mau membangun ide-ide baru dari pengetahuan dan
pengalaman mereka sebelumnya. Dengan demikian,
pengetahuan-pengetahuan dan pengalaman-pengalaman
sebelumnya dapat menjadi sumber inspirasi dan mendorong
penciptaan ide yang berkelanjutan (Chan, 2014).

Sumber inspirasi memainkan peran penting dalam proses
desain, baik dalam menentukan konteks untuk desain baru dan
dalam menginformasikan penciptaan desain individu. Desain

24

sebelumnya dan sumber ide lain melengkapi kosa kata untuk
berpikir tentang desain baru dan untuk mendeskripsikan desain
kepada orang lain. Desainer berkomunikasi satu sama lain
tentang desain baru, gaya dan suasana hati, sebagian besar
dengan mengacu pada sumber ide-ide mereka. (Eckert, 2000).

Saat menangani masalah, desainer mungkin terinspirasi
oleh berbagai sumber, baik yang konkret maupun abstrak.
Sumber yang lebih konkret sering terdiri dari representasi solusi
potensial atau contoh desain yang ada. Sumber yang lebih
abstrak sering mewakili sifat yang diinginkan dari sistem
rekayasa, seperti arsitektur sistem modular (Vasconcelos, 2019).
Desainer sering menggunakan sumber inspirasi ketika mencoba
membingkai masalah yang ada dan mencari solusi yang
memungkinkan.

Konsep sebagai Rencana (Plan)
Sebuah rencana biasanya berupa diagram atau daftar langkah-
langkah dengan perincian waktu dan sumber daya, yang
digunakan untuk mencapai tujuan untuk melakukan sesuatu.
Biasanya dipahami sebagai seperangkat tindakan sementara
yang dimaksudkan melalui mana seseorang mengharapkan
untuk mencapai tujuan.

Di bidang arsitektur rencana arsitektur adalah desain dan
perencanaan untuk sebuah bangunan, dan dapat berisi gambar
arsitektur, spesifikasi desain, perhitungan, perencanaan waktu
proses pembangunan, dan dokumentasi lainnya.

Konsep sebagai Hipotesis (Hypothesis)
Hipotesis adalah penjelasan yang diajukan untuk suatu
fenomena. Untuk hipotesis menjadi hipotesis ilmiah, metode

25

ilmiah mengharuskan seseorang dapat mengujinya. Para
ilmuwan umumnya mendasarkan hipotesis ilmiah pada
pengamatan sebelumnya yang tidak dapat dijelaskan dengan
teori-teori ilmiah yang ada. Meskipun kata-kata “hipotesis” dan
“teori” sering digunakan secara sinonim, hipotesis ilmiah tidak
sama dengan teori ilmiah. Hipotesis yang berfungsi adalah
hipotesis yang diterima sementara diajukan untuk penelitian
lebih lanjut, dalam proses yang dimulai dengan tebakan atau
pemikiran yang berpendidikan. (https://en.wikipedia.org, akses
20 September 2019).

Pada umumnya ilmuwan merujuk pada solusi uji coba
untuk masalah sebagai hipotesis, sering disebut sebagai
“tebakan berpendidikan” karena memberikan hasil yang
disarankan berdasarkan bukti.

Hipotesis adalah unsur ilmiah yang dimiliki oleh
arsitektur. Teori dalam arsitektur adalah hipotesis, yakni
harapan dan dugaan tentang apa yang terjadi bila semua unsur
yang membentuk bangunan dikumpulkan dalam suatu cara,
tempat, dan waktu tertentu. Arsitektur lebih merupakan
kegiatan terpadu yang tertuju pada memengaruhi masa depan
daripada menjelaskan peristiwa-peristiwa terkucil di masa
lampau. Arsitektur tidak memiliki teori yang seksama, karena
bangunan dan para penggunanya terlalu rumit untuk dapat
dikenal dan diramalkan. (. (Attoe, 1984: 37).

Tidak seperti hipotesis ilmiah, yang bertujuan untuk
menjadi prediksi (memprediksi semua kejadian di masa depan
dari suatu fenomena), hipotesis desain bertujuan untuk menjadi
produktif: itu bertujuan untuk menghasilkan setidaknya satu
solusi yang sukses dalam menanggapi suatu masalah. Hipotesis

26

terkait dengan pengenalan konsep. Sementara para ilmuwan
memperkenalkan konsep dengan kapasitas prediksi, desainer
(Arsitek) memperkenalkan konsep produktif. Sebuah konsep
memilih properti, relasi, atau fungsi yang secara intuitif kita
pahami dengan menetapkan nama, atau skema. (Kotsopoulos,
2007).

Konsep sebagai Respon (Response)
Respon desain adalah informasi yang biasanya disiapkan oleh
arsitek / perancang untuk memenuhi persyaratan informasi
persetujuan sumber daya standar. Respons desain diperlukan
untuk semua pernyataan desain. Ini terdiri dari rencana konsep,
tata letak tapak, desain bangunan dan akses sinar matahari
(diagram bayangan).

Respons desain memberikan uraian terperinci tentang
pengembangan baru dan menjelaskan bagaimana responsnya
terhadap peluang dan kendala, serta analisis konteks yang lebih
luas. Respons desain menggambarkan bentuk akhir dan
tampilan pengembangan yang akan diambil, termasuk bahan
bangunan, warna, dan hasil akhir dari semua bangunan. Untuk
pengembangan yang lebih besar atau lebih kompleks, respons
desain juga dapat mencakup rencana lanskap dan ruang terbuka,
serta desain jalan.

Respon desain mengaitkannya dengan desain arsitektur
yang dalam proses rancangannya responsif terhadap iklim dan
keunikan masing-masing tempat. Desain arsitektur semacam ini
dinamakan desain arsitektur respons. Arsitektur respons selalu
unik dan inovatif; ia bukan merupakan penyimpangan tetapi
merupakan respons terhadap budaya yang kaya dari orang-orang
penggunanya.

27

Konsep sebagai Pendekatan (Approach)
Seperti dalam bidang apa pun, ada banyak cara untuk mendekati
desain arsitektur. Cara pendekatan desain awal akan
membentuk keseluruhan proyek secara keseluruhan. Karenanya
sangat penting untuk memutuskan pendekatan desain dan
menindaklanjutinya hingga proyek selesai. Pendekatan desain
dan strategi pemikiran seorang arsitek akan bergantung pada
berbagai faktor - dari visi klien hingga lingkungan eksternal.

Tiga contoh pendekatan desain arsitektur yang umum
(https://workwithfocus.com, akses 20 September 2019): The
Sustainable Approach, The Experiential Approach, dan The
Practical Approach.

Salah satu pendekatan arsitektur yang paling umum
dalam 10 tahun terakhir adalah pendekatan berkelanjutan (The
Sustainable Approach). Semua orang menginginkan bangunan
hijau yang ramah lingkungan. Dan untuk mencapai itu, seorang
arsitek harus memasukkan desain berkelanjutan sejak awal.
Pendekatan arsitektur berkelanjutan melibatkan merancang
bangunan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap
lingkungan. Ini dapat melibatkan apa saja mulai dari
penggunaan energi berkelanjutan hingga penempatan bangunan.
Secara keseluruhan, bangunan yang dibuat diusahakan seramah
mungkin.

Pendekatan pengalaman (The Experiential Approach)
memperhitungkan pengalaman pengguna akhir. Dalam strategi
desain ini, sebuah bangunan dirancang sebagai pengalaman. Ini
mencakup setiap kesan yang akan dimiliki pengunjung di gedung
- menciptakan pengalaman yang mendalam. Pendekatan desain

28

yang menciptakan pengalaman mendalam akan memandu
pengunjung melalui pengerjaan batin dari karya seni yang indah.
Pendekatan desain ini adalah yang pertama dan terutama
tentang estetika.

Boleh dibilang pendekatan yang paling banyak digunakan
adalah strategi desain praktis (The Practical Approach). Strategi
ini hanya terdengar, praktis. Dalam pendekatan arsitektur ini,
arsitek menggunakan bahan paling praktis, dan desain paling
efisien. Ini adalah pendekatan arsitektur yang paling hemat
biaya. Kadang-kadang klien menginginkan desain arsitektur
yang berani, tetapi lebih sering daripada tidak, pendekatan
praktis yang paling populer. Pendekatan praktis adalah solusi
yang masuk akal untuk merancang bangunan sehari-hari.

Konsep sebagai Filosofi (Philosophy)
Filosofi desain dan konsep desain memiliki sedikit perbedaan,
yakni filosofi desain bersifat umum sedangkan konsep desain
bersifat khusus.

Filosofi desain lebih umum dan berorientasi pada belief
(keyakinan), sedangkan konsep desain lebih spesifik dan
berorientasi pada konteks dan aplikasi. Keduanya terkait erat,
karena konsep desain berasal dari filosofi desain.

Filosofi Desain adalah bagaimana seorang arsitek
mendekati masalah. Ini pada dasarnya bagaimana arsitek
memikirkan desainnya secara umum. Ini adalah serangkaian
nilai yang digunakan untuk menginformasikan desain. Nilai-
nilai itu bisa berupa nilai-nilai kehidupan sang arsitek, atau bisa
jadi merupakan cerminan dari ringkasan desain atau konteks
tapak, atau memang berupa kombinasi antara dua atau
ketiganya.

29

Konsep desain adalah pernyataan yang mengekspresikan

pendekatan arsitek terhadap masalah desain. Konsep ini

berbicara dengan masalah / proyek tertentu tetapi masih sejalan

dengan filosofi desain. Ini menciptakan hubungan antara

masalah desain dan solusi desain. Konsepnya konsisten

sepanjang desain itu sendiri. Konsep harus berhubungan dengan

masalah desain dan solusi desain

Berikut adalah contoh kaitan antara filosofi desain,

konsep desain, dan pertimbangan desain.

Filosofi desain: “arsitektur yang berjiwa murni”

Konsep desain: “menciptakan arsitektur fungsional”

Pertimbangan desain:

• “Sirkulasi dan alur kerja – desain harus

mensintesiskan berbagai interaksi dan kegiatan untuk

menciptakan aliran spasial yang efektif dan efisien.”

• “Aksesibilitas – desain memberikan pengalaman yang

sama bagi semua orang dari semua lapisan

masyarakat. Itu harus peka terhadap keselamatan dan

operabilitas tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan

kecacatan.”

• “Efisiensi Energi – desain harus mensintesiskan

konteks, iklim, dan teknologi dalam upaya

menyediakan cara untuk mengurangi biaya

operasional harian. Ini harus memanfaatkan manfaat

dari orientasi yang tepat, sumber daya alam dan daur

ulang, serta menghindari pemanasan atau

pendinginan yang tidak perlu.”

30

Edward T. White menjabarkan secara rinci filosofi desain
seorang arsitek atau perancang. Arsitek atau perancang, melalui
pendidikan dan pengalamannya, biasanya telah mengembangkan
suatu filosofi desain, sekumpulan sikap atau nilai tentang desain
yang diandalkan untuk pembuatan bentuk di dalam desain
bangunan.

Beberapa contoh filosofi desain adalah sebagai berikut
(White, 1975:15-16):

a. Bangunan sebaiknya berupa apa yang bangunan tersebut
inginkan, bukan apa yang arsitek atau perancang
inginkan.

b. Bangunan, ketika digunakan, adalah suatu organisme
hidup. Bangunan tersebut harus dirancang sedemikian
agar seluruh fungsi kehidupannya terwadahi (sirkulasi,
pencernaan, ukuran, fungsi organ, pembuangan, persepsi,
dan lain-lain).

c. Desain bangunan adalah pada dasarnya suatu tindakan
berupa pengenalan, penggabungan, dan penyempurnaan
bagian-bagian menjadi suatu keseluruhan.

d. Bentuk harus diperoleh dari pengorganisasian dan
pengungkapan dari pola-pola kegiatan.

e. Pemecahan terhadap masalah adalah terkandung di
dalam masalah itu sendiri.

f. Sebuah bangunan harus memperlihatkan pada beberapa
tingkatan: kesehatan dan keamanan, utilitas, ekonomi,
dan estetika.

g. Bangunan adalah suatu sintesis dari kegiatan-kegiatan
dan pola-pola geomatrik dalam bentuk.

h. Bentuk-bentuk bangunan haruslah jelas Bersama pesan-
pesannya.

31

i. Masalah dan konflik di dalam sebuah proyek merupakan
suatu sumber yang kaya akan kreativitas di dalam
mengembangkan bentuk bangunan.

j. Arsitektur harus bersifat menyatakan ekspresi dari nilai-
nilai kebudayaan dimana bangunan itu berada.

k. Semakin sederhana bangunan semakin baik.
l. Alam merupakan sumber yang terbaik untuk analogi-

analogi fungsional dan formal di dalam desain bangunan.
m. Pengaruh-pengaruh terhadap dan oleh bangunan yang

telah didirikan adalah satu-satunya persoalan penting di
dalam desain.
n. Elemen-elemen bangunan harus memiliki suatu arti
kesesuaian, baik terhadap satu sama lain maupun
terhadap konteks di sekitarnya.
o. Desain bangunan harus dimulai dengan suatu
keseluruhan dan kemudian dibuang apa-apa yang tidak
dibutuhkan. Itu adalah suatu proses pengurangan.
p. Desain yang baik adalah sesuatu yang harus dibuat
dengan menggunakan siasat dari pikiran, dan hal itu
tidak bisa dipaksakan.
q. Sebuah bangunan adalah tidak lebih daripada
sekumpulan pengalaman.
r. Arsitektur harus merupakan suatu wahana bagi proses-
proses sosial.
s. Bangunan adalah suatu pengungkapan fisik di sekitar
pemecahan berupa ruang/spasial terhadap permasalahan.
t. Bangunan harus selalu menampakkan bagaimana
bangunan tersebut telah digabungkan Bersama.

32

u. Semakin rumit masalah, semakin sedikit pengalaman
manusia, sebagaimana hal itu berhubungan dengan
pemakaian bangunan, dapat dikaitkan sebagai suatu
faktor penentu desain. Sistem-sistem muncul pertama
kali dan orang-orang menyesuaikan terhadap system-
sistem tersebut.

v. Pada tiap bangunan terdapat ruang-ruang yang berguna
untuk sesuatu kebutuhan (serve) dan ruang-ruang yang
dipergunakan (served).

w. Pengenalan akan apa yang keramat dana pa yang duniawi
di dalam sebuah bangunan memberikan kekuatan
(potential) yang kreatif bagi tata wilayah dan
pengelompokan fungsi-fungsi dan penghasilan bentuk.

Seorang arsitek atau perancang mestinya tidak akan
mungkin dia akan berpegang teguh kepada suatu filosofi desain
terus-menrus (tidak berubah) selamanya. Sebagaimana dia
mengumpulkan pengalaman, menguji gagasan-gagasannya dan
mencerminkan pada tujuan dasarnya, sikap-sikap yang
dimilikinya tentang desain tentu saja berkembang.

BAB 3
BAHAN DASAR KONSEP DESAIN

ARSITEKTUR

Titik berangkat dalam proses desain arsitektur, paling tidak
terdiri atas tiga sumber data (yang tentu saja semuanya
membutuhkan analisis), yaitu data yang bersumber dari:

• tapak,
• klien, dan
• bangunan setipe atau sejenis.

Ketiga sumber data tersebut merupakan bahan dasar
konsep desain arsitektur.

3.1 Tapak
Data tapak meliputi hal-hal seperti: iklim lokal, angin yang ada,
aspek matahari, vegetasi, struktur tetangga, sejarah tapak, dan
setiap kewajiban atau peluang unik. Tapak ini juga dilengkapi
dengan kerangka hukum untuk pengembangan, yang
menggambarkan di mana dan apa yang bisa dan tidak bisa kita
bangun.

Setiap tapak adalah unik dan terdiri dari banyak elemen
kompleks seperti: topografi yang bervariasi, aliran air, pohon,
tanaman, habitat, dan pola cuaca. Semuanya memengaruhi

33

34

proses desain dan pengambilan keputusan arsitek. Analisis yang
tepat dari elemen-elemen ini pada awalnya akan membantu
menentukan penempatan, orientasi, bentuk dan materialitas
bangunan, tetapi kemudian akan mempengaruhi struktur,
keberlanjutan, dan rute pengadaannya.

Keberhasilan proyek dibangun berdasarkan hubungannya
dengan tapak dan lingkungannya, dan oleh karena itu secara
default harus selalu disesuaikan dengan dan berdasarkan lokasi
dan karakteristik tapak.

Merujuk ke seluruh proses desain dan konstruksi, daftar
di bawah ini menyoroti beberapa bidang utama yang harus
diselidiki.

Sebelum mengunjungi tapak, ada banyak informasi yang
dapat diperoleh dari studi desktop. Dengan melakukan
penelitian menyeluruh sebelum kunjungan ke tapak, arsitek
atau perancang akan mendapat informasi lengkap, dan mungkin
telah mengidentifikasi hal-hal spesifik yang dibutuhkan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum pergi ke tapak
adalah sebagai berikut (https://www.archisoup.com dan
https://www.firstinarchitecture.co.uk, akses 23 September 2019):

Lokasi:
• Peta geologi untuk menemukan jenis tanah atau batu
yang dominan di tapak.
• Foto dan peta udara (google dan bing memiliki antena
udara yang sangat berguna dan sangat berbeda gambar-
gambar).
• Peta sejarah juga bisa menarik.
• Jarak dan waktu perjalanan antara tapak dan lokasi
penting lainnya

35

Informasi Legalitas Hukum:
• Hak jalan, hak akses, batasan Perencanaan Kota dan
Negara, apakah tapak di sabuk hijau?
• Sejarah tapak - apa pun yang dapat digunakan untuk
menginformasikan desain. Setiap terowongan, ranjau
bekas, kepentingan arkeologi di bawah tapak dapat
membatasi pembangunan.
• Penggunaan historis tapak - dapatkah proses industri
mencemari tanah?
• Jika tapak tersebut berada di kawasan konservasi atau
dekat dengan bangunan yang terdaftar sebagai bangunan
konservasi, arsitek atau perancang mungkin perlu merinci
lebih lanjut tentang signifikansi budaya, signifikansi
bersejarah, dll.
• Kontrol perkembangan - apakah lokasi tersebut tunduk
pada kontrol perencanaan khusus, kontrol bangunan atau
kesehatan dan keselamatan?
• Apakah ada pohon di lokasi ini? Apakah mereka memiliki
Perintah Pelestarian Pohon?

Utilitas:
• Tentukan apakah air, listrik, gas, telepon, saluran air
kotor dan layanan lainnya terhubung ke tanah.

Iklim:
• Kondisi iklim tapak / area.
• Jalur dan sudut matahari.
• Apakah daerah tersebut rentan terhadap banjir, apakah
dianggap sebagai daerah berisiko banjir?

36

3.2 Klien
Data yang bersumber dari klien adalah data yang diperoleh dan
dikumpulkan dari klien. Setiap proyek memiliki klien, apakah ini
masyarakat luas, pengembang berpengalaman atau klien baru
yang menugaskan proyek pertama mereka. Setiap proses desain
arsitektur harus dimulai dengan serangkaian pertemuan dan
diskusi dengan klien.

Pengarahan dari klien dapat berupa pertemuan formal
yang membahas tujuan pengembangan secara keseluruhan,
dengan pengarahan tertulis, rencana lokasi, dan dokumentasi
hukum yang dikeluarkan untuk arsitek. Atau, bisa berupa
percakapan di sebuah kafe tentang ide pengembangan dan
diskusi tentang bagaimana mengatasi masalah desain.

Setiap klien memiliki seperangkat keyakinan dan
prasangka budaya, preferensi, dan agenda. Yang perlu
diperhatikan adalah anggaran yang tersedia (yang disediakan
oleh klien), kepribadian klien, dan keinginan dan hasrat klien.

Ada dua jenis klien yang dalam banyak hal sangat berbeda
satu sama lain. Yang pertama adalah klien pribadi atau
domestik, yang mungkin ingin memiliki rumah yang dirancang.
Mereka bisa menjadi seseorang yang belum pernah
mempekerjakan seorang arsitek sebelumnya, dan memiliki
sedikit atau tidak ada pengalaman dalam desain arsitektur dan
proses konstruksi. Yang kedua adalah klien komersial, yang
umumnya lebih berpengalaman, dan memiliki prioritas yang
sangat berbeda dengan klien domestik.

Seringkali klien, khususnya domestik, mungkin merasa
sulit untuk menyusun ringkasan desain dan karena itu penting
bagi para profesional, membimbing klien untuk bisa memberikan
informasi yang dibutuhkan secara baik.


Click to View FlipBook Version