The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-02-15 08:05:08

PUSKUR - Tsunami

PUSKUR - Tsunami

Keywords: puskur,tsunami

Modul Ajar

TSUNAMIPengintegrasian Pengurangan Risiko

Bahan Pengayaan Bagi Guru SMP/MTs

Cover dalam

Penulis: Drs. Marga Surya Mudhari M.Si
Nara Sumber: Subandono Diposaptono

PUSAT KURIKULUM
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
JAKARTA, 2009

Modul Ajar Pengintegrasian
Pengurangan Risiko Tsunami

Bahan Pengayaan Bagi Guru SMP/MTs
Penulis: Drs. Marga Surya Mudhari M.Si
Nara Sumber: Subandono Diposaptono
Editor: Ninil R Miftahul Jannah dan Dian Afriyanie
Ilustrator Sampul : Adinda Mubarina (SD Glagah Yogya Timur Yogyakarta)
Ilustrator Isi:
Rizki Goni, Feri Rahman, Antan Juliansyah, Feri Fauzi, Rigan A.T.
Lay Out Isi:
Galang Gumilar, Antan Juliansyah, Feri Fauzi, Rudini Rusmawan, Ardi H, Agusbobos.
ISBN : 978-979-725-235-9

Program Safer Communities through Disaster Risk Reduction (SCDRR)
Jl. Tulung Agung No. 46, Jakarta 10310, INDONESIA
Telp : +62 21 390 5484 (hunting)
Fax : +62 21 391 8604
E-mail : [email protected]
Website : www.sc-drr.org

Program masyarakat yang lebih aman melalui pengurangan risiko bencana (Safer Communities through
Disaster Risk Reduction disingkat SCDRR), merupakan proyek kerja sama antara United Nations Development
Programme (UNDP), BAPPENAS, BNPB dan Kementerian Dalam Negeri, dengan dukungan dana UNDP,
Department for International Development (DFID) Pemerintah Inggris dan Australian Agency For International
Development (AusAID)

KEPALA SAMBUTAN
PUSAT KURIKULUM
Indonesia yang merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia
berada di kawasan yang disebut cincin api, dimana risiko untuk terjadi
bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, letusan gunung api, banjir dan
longsor sangat tinggi. Bencana alam ini telah menimbulkan ribuan korban
jiwa, kerugian materil dan meninggalkan banyak orang untuk berjuang
membangun kembali tempat tinggal dan mata pencahariannya.

Kesiapsiagaan merupakan hal yang penting dan harus dibangun pada setiap tingkat
kelompok di masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa kehancuran akibat
bencana dapat secara drastis dikurangi jika semua orang lebih siap menghadapi
bencana. Sekolah adalah pusat pendidikan yang tidak hanya memberikan kita
ilmu pengetahuan tetapi juga bekal untuk kelangsungan hidup kita, kesiapsiagaan
terhadap bencana merupakan bagian dari ketrampilan untuk kelangsungan
hidup kita. Sekolah juga seringkali menjadi tempat penghubung dan tempat
belajar bagi seluruh masyarakat. Anak-anak merupakan peserta ajar yang paling
cepat dan mereka tidak hanya mampu memadukan pengetahuan beru ke dalam
kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan bagi keluarga
dan masyarakatnya dalam hal prilaku yang sehat dan aman, yang mereka dapatkan
di sekolah. Oleh karenanya, menjadikan pencegahan bencana menjadi salah satu
fokus di sekolah dengan memberdayakan anak-anak dan remaja untuk memahami
tanda-tanda peringatan bencana dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk
mengurangi risiko dan mencegah bencana, merupakan suatu langkah awal yang
penting dalam membangun ketangguhan bencana seluruh masyarakat. Jadi
kesiapsiagaan haruslah menjadi bagian dari materi yang diberikan dalam dunia
pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah.

Pusat Kurikulum sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam
pengembangan model-model kurikulum sebagai referensi satuan pendidikan
dalam pengembangan kurikulumnya, telah berhasil dalam menyusun
serangkaian modul ajar dan modul pelatihan untuk pengintegrasian
pengurangan risiko bencana ke dalam tingkat satuan pendidikan. Secara
keseluruhan modul ini terdiri atas 15 modul ajar dan 3 modul pelatihan, yaitu:

 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SD.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SMP.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SMA.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SMP.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SMA.

 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SD.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SMP.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SMA.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SMP.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SMA.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SD.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SMP.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SMA.
 Modul Pelatihan Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana untuk SD,

SMP dan SMA.
Penyusunan modul-modul tersebut merupakan hasil kerjasama antara Pusat
Kurikulum dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal BAPPENAS
dalam sebuah Program Safer Community Through Disaster Risk Reduction (SCDRR)
In Development yang didanai oleh United Nations Development Program (UNDP)
yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang aman dari ancaman melalui
berbagai upaya pengurangan risiko bencana.
Setiap modul ajar dilengkapi dengan contoh-contoh silabus, rencana pelaksanaan
pembelajaran dan model bahan ajar. Sedangkan modul pelatihan terdiri dari
panduan fasilitasi dan bahan bacaan bagi pelatih mengenai penyelenggaraan
penanggulangan bencana, pengurangan risiko bencana, sekolah siaga bencana,
pendidikan PRB, dan strategi pengintegrasian pendidikan PRB ke dalam kurikulum
satuan pendidikan.
Diharapkan modul-modul tersebut dapat bermanfaat dan dijadikan bahan acuan
bagi para pihak yang berkepentingan dalam kesiapsiagaan di sekolah.

Jakarta, Desember 2009
Kepala Pusat Kurikulum

Dra. Diah Harianti, M.Psi

KEPALA BADAN PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL SAMBUTAN

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan letak geografisnya pada posisi
pertemuan 4 lempeng tektonik, merupakan wilayah yang rawan bencana.
Selain itu dengan kompleksitas kondisi demografi, sosial dan ekonomi di
Indonesia yang berkontribusi pada tingginya tingkat kerentanan masyarakat
terhadap ancaman bencana, serta minimnya kapasitas masyarakat dalam
menangani bencana menyebabkan risiko bencana di Indonesia menjadi
tinggi. Pada tahun 2005, Indonesia menempati peringkat ke-7 dari sejumlah
negara yang paling banyak dilanda bencana alam (ISDR 2006-2009, World
Disaster Reduction Campaign, UNESCO).

Berangkat dari hal tersebut dan guna mendukung paradigma pengurangan
risiko bencana di sektor pendidikan, maka Pusat Kurikulum-sebuah unit eselon
II di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan pada Kementerian Pendidikan
Nasional bekerjasama dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal
BAPPENAS tengah melaksanakan kegiatan Program Safer Community Through
Disaster Risk Reduction (SCDRR) In Development melalui dana hibah UNDP. Kegiatan
ini bertujuan membangun masyarakat yang aman dari ancaman melalui berbagai
upaya pengurangan risiko bencana.

Dalam kerjasama ini, Pusat Kurikulum telah mengembangkan kurikulum khususnya
dalam mengintegrasikan materi-materi dan kompetensi Pengurangan Risiko
Bencana (PRB) ke dalam mata pelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan Pendidikan
Jasmani yang ada di sekolah mulai dari jenjang SD atau yang sederajat sampai
SMA atau yang sederajat. Model pengintegrasian materi dan kompetensi PRB
dengan mata pelajaran-mata pelajaran ini bertujuan agar muatan kurikulum dan
beban belajar tidak menjadi lebih berat. Disamping mengintegrasikan ke mata
pelajaran yang sudah ada PRB juga bisa dijadikan muatan lokal (Mulok) serta ekstra
kurikuler.

Modul Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ini disusun dalam rangka
untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan tentang bencana
dan mensosialisasikan langkah-langkah preventif untuk mengurangi risiko bencana
yang dapat menimpa di wilayah Indonesia. Tanpa adanya upaya terus-menerus
untuk mendiseminasikan informasi tentang ancaman dan langkah-langkah yang
dapat diambil untuk mengurangi risiko-risiko yang dapat ditimbulkannya, sulit bagi
kita untuk mewujudkan guru dan peserta didik yang tangguh dalam menghadapi
bencana.

Modul ini dapat menjadi salah satu solusi yang memungkinkan bagi para guru untuk
mengajarkan peserta didik dari hari ke hari di sekolah secara berkesinambungan,
sehingga proses, internalisasi pengetahuan kebencanaan bukan hanya dipahami

dan diketahui dalam ingatan belaka tapi juga mendorong munculnya respon cepat
penyelamatan yang benar dari peserta didik ketika menghadapi bencana.
Diharapkan modul ini dapat dimanfaatkan, antara lain:

 Sebagai alat pemandu dalam membantu para guru dalam melakukan
pengajaran tentang pengurangan risiko bencana kepada peserta didik di
sekolah sebagai upaya membangun kesiapsiagaan dan keselamatan dari
bencana di sekolah.

 Membuka peluang dan membangun kreatifitas guru dalam menerapkan
pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana yang disesuaikan
dengan konteks sekolah yang dibinanya

 Memberikan gambaran secara lebih sistematis dan komprehensif cara
pengintegrasian pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana
ke dalam mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri di
Sekolah.

 Mendorong inisiatif para guru, sekolah dan gugus dalam mengupayakan
pengurangan risiko bencana dan membangun budaya keselamatan di
sekolah, lingkungan rumah dan lingkungan sekitar.

Semoga Modul Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ini menjadi
bermanfaat dan membantu bagi semua guru untuk meningkatkan pengetahuan,
meningkatkan ketrampilan dan membentuk sikap anak untuk menjadi lebih
tanggap terhadap ancaman bencana.

Jakarta, Desember 2009
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan Nasional

Prof. Dr. H. Mansyur Ramly

DIREKTUR KAWASAN KHUSUS SAMBUTAN
DAN DAERAH TERTINGGAL, BAPPENAS

SELAKU NATIONAL PROJECT
DIRECTOR SCDRR

Menyikapi situasi kejadian bencana dan kenyataan luasnya cakupan wilayah
tanah air yang memiliki berbagai ancaman bencana, pemerintah Indonesia
telah melakukan sejumlah inisiatif guna mengurangi risiko bencana ditanah
air. Pada akhir tahun 2006 Bappenas meluncurkan buku Rencana Aksi Nasional
Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2006 – 2009, sebagai komitmen dalam
mengarusutamakan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan nasional, yang
merupakanpelengkapdariRencanaPembangunanJangka MenengahNasional(RPJMN)
2005 – 2009 yang telah ada. Berdasarkan RAN PRB 2006 – 2009 tersebut, Pemerintah
telah mengalokasikan anggaran untuk program pencegahan dan pengurangan risiko
bencana, sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) mulai tahun
2007. Lebih lanjut pada April 2007, Pemerintah menerbitkan Undang – Undang Nomor
24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang menjadi tonggak sejarah
dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia, dan diikuti dengan peraturan
turunannya, serta dibentuknya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP)
melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008.

Untuk mendukung prakarsa – prakarsa yang telah dimulai oleh Pemerintah Indonesia
tersebut, UNDP bekerjasama dengan Bappenas, BNPB dan Kementerian Dalam Negeri
telah menginisiasi sebuah program yang ditujukan untuk mewujudkan masyarakat
yang lebih aman melalui pengurangan risiko bencana dalam pembangunan atau
yang dikenal dengan Program Safer Communities Through Disaster Risk Reduction in
Development (SCDRR in Development). Program SCDRR ini kan berlangsung selama 5
tahun(2007–2012)dandirancanguntuk mendorongagarpenguranganrisikobencana
menjadi sesuatu yang lazim dalam proses pembangunan yang terdesentralisasi. Untuk
mewujudkan hal itu maka upaya pengarusutamaan pengurangan risiko bencana
kedalam proses pembangunan mutlak harus dijalankan. Upaya tersebut dilaksanakan
melalui 4 pilar sasaran program SCDRR, yaitu : (1) Diberlakukannya kebijakan, peraturan
dan kerangka kerja regulasi pengurangan risiko bencana; (2) Diperkuatnya kelembagaan
pengurangan risiko bencana dan kemitraan diantara mereka; (3) Dipahaminya risiko
bencana dan tindakan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko tersebut oleh
masyarakat dan pengambil kebijakan melalui pendidikan dan penyadaran publik;
(4) Didemonstrasikannya pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari program
pembangunan.

Terkait dengan sasaran ketiga mengenai perlunya pendidikan dan penyadaran
publik terhadap pengurangan risiko bencana, selama beberapa tahun ini pemerintah
bersama-sama beberapa lembaga swadaya masyarakat, dan institusi pendidikan di
tingkat nasional maupun daerah telah melakukan berbagai upaya dalam pendidikan
kebencanaan, termasuk memasukkan materi kebencanaan kedalam muatan lokal,
pelatihan untuk guru, kampanye dan advokasi, hingga school road show untuk kegiatan
simulation drill di sekolah-sekolah. Namun demikian, kegiatan-kegiatan tersebut belum
terkoordinasi dengan baik dan belum terintegrasi dalam satu kerangka yang dapat

disepakati bersama. Dilain pihak, pemetaan aktivitas pendidikan diberbagai wilayah rawan
bencana di Indonesia serta intervensi dan dukungan peningkatan kapasitas untuk pendidikan
masih sangat minim dan terpusat, khususnya di wilayah Jawa dan Sumatera. Kajian kesiapsiagaan
masyarakat terhadap bencana yang telah dilakukan di berbagai wilayah menunjukkan rendahnya
tingkat kesiapsiagaan komunitas sekolah dibanding masyarakat serta aparat (LIPI, 2006 – 2007).
Hal ini sangat ironis, karena sekolah adalah basis dari komunitas anak-anak, yang merupakan
kelompok rentan yang perlu dlindungi dan secara bersamaan perlu ditingkatkan pengetahuan
dan keterampilannya.
Di sisi lain, tantangan dalam mengintegrasikan upaya-upaya pengurangan risiko bencana
kedalam sistem pendidikan juga telah banyak dikaji, seperti : (1) Beratnya beban kurikulum siswa;
(2) Kurangnya pemahaman guru mengenai bencana ; (3) Kurangnya kapasitas dan keahlian guru
dalam integrasi PRB kedalam kurikulum; (4) Minimnya panduan, silabus dan materi ajar yang
terdistribusi dan dapat diakses oleh guru; (5)Terbatasnya sumberdaya (tenaga, biaya dan sarana);
dan (6) Kondisi bangunan fisik sekolah, sarana dan prasarana pada ummnya memprihatinkan,
tidak berorientasi pada AMDAL dan konstruksi tahan gempa.
Untuk menjawab tantangan tersebut dan guna melaksanakan integrasi pengurangan risiko
bencana ke dalam sistem pendidikan, dalam rangka mewujudkan budaya aman dan siaga
bencana, maka SCDRR telah mendukung Kementerian Pendidikan Nasional dalam menyusun
Strategi Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana kedalam Sistem Pendidikan Nasional.
Strategi ini akan disahkan melalui suatu bentuk kebijakan ditingkat nasional yang diharapkan
dapat menjadi acuan bagi pelaksanaan integrasi PRB ke dalam sistem pendidikan baik intra
maupun ekstrakurikuler secara nasional.
Untuk mendukung implementasi kebijakan tesebut, maka SCDRR mendukung Pusat Kurikulum,
Kementerian Pendidikan Nasional dalam menyusun modul ajar dan modul pelatihan
pengintegrasian pengurangan risiko bencana ke dalam intra dan ekstrakurikuler. Modul-modul
ini berisi model pembelajaran, materi ajar lengkap dengan panduan pengajarannya, dalam hal
integrasi PRB kedalam intra dan ekstrakurikuler.
Diharapkan modul-modul yang disusun oleh Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional
ini dapat menjadi acuan standar dan/atau memperkaya bahan-bahan yang sudah ada dan sudah
disusun oleh berbagai pihak lainnya, sehingga dapat bermanfaat dan digunakan oleh praktisi
pendidikan dan pemangku kepentingan lainnya dalam rangka peningkatan kesiapsiagaan
sekolah terutama didaerah rawan bencana. Terima Kasih.

Jakarta, Desember 2009
Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Bappenas
Selaku National Project Director SCDRR

Dr.Ir Suprayoga Hadi, MSP

DAFTAR ISI

SAMBUTAN KEPALA PUSAT KURIKULUM III

SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN, V
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

SAMBUTAN DIREKTUR KAWASAN KHUSUS DAN DAERAH TERTINGGAL,

BAPPENAS SELAKU NATIONAL PROJECT DIRECTOR SCDRR VII

DAFTAR ISI IX

DAFTAR TABEL XI

DAFTAR GAMBAR XIII

DAFTAR KOTAK XV

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Landasan dan Pedoman 1
1.1.1 Landasan Filosofis 4
1.1.2 Landasan Sosiologis 4
1.1.3 Landasan Yuridis 4
1.1.4 Pedoman Pengembangan Produk 5
1.1.5 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ke dalam
Sistem Pendidikan Nasional 6

1.2 Kerangka Kerja Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana 7
1.2.1 Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana
dan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan 7
1.2.2 Konsep Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana 8

BAB II FENOMENA DAN PERISTIWA TSUNAMI 10

2.1 Fenomena Tsunami di Indonesia 10

2.2 Peristiwa Tsunami di Indonesia 18

BAB III PENGURANGAN RISIKO TSUNAMI 22

3.1 Pengurangan Risiko Tsunami 22
3.1.1 Bencana 23

Daftar Isi 25
27
3.1.2 Risiko Bencana, Konstruksi dari Ancaman, Kerentanan 27
dan Kapasitas 30
3.1.3 Pengurangan Risiko Bencana 30
3.1.4 Upaya Pengurangan Risiko Bencana 32
35
3.2 Kesiapsiagaan Tsunami 39
3.2.1 Tindakan Sebelum Terjadi Tsunami 39
3.2.2 Tindakan Saat Terjadi Tsunami 42
3.2.3 Tindakan Setelah Terjadi Tsunami 43

BAB IV MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN RISIKO TSUNAMI 44

4.1 Identifikasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami 45

4.2 Pemetaan Indikator Siswa 47
48
4.3 Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar
BAB V PENGINTEGRASIAN MATERI POKOK PENGURANGAN 56
RISIKO TSUNAMI KE DALAM KURIKULUM 59
TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DASAR (SD/MI) 61

5.1 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami 65
ke dalam Mata Pelajaran 69

5.1.1 Identifikasi Materi Pembelajaran Pengurangan
Risiko Tsunami
5.1.2 Analisis Kompetensi Dasar (KD) yang dapat diintegrasikan
5.1.3 Penyusunan Silabus Integrasi Standar Kompetensi/
Kompetensi Dasar (SK/KD)
5.1.4 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
5.1.5. Bahan ajar

DAFTAR ISTILAH
DAFTAR PUSTAKA

x

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Aktifitas Tsunami di Indonesia 19
Tabel 2.2 Kejadian Tsunami di Indonesia sejak tahun 1961-2007 20
Tabel 4.1 Materi Pembelajaran Perjuangan Risiko Tsunami 40
Tabel 4.2 Indikator Prilaku Siswa Untuk Pembelajaran 42
Pengurangan Risiko Tsunami 47
Tabel 5.1 Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
Tabel 5.2 Pemetaan SK-KD ke dalam Mata 49
Pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, IPS,dan 58
Pendidikan Jasmani
Tabel 5.3 ContohPengembangan Silabus Model Integrasi
Pengurangan Risiko Tsunami Ke dalam Mata Pelajaran

Daftar Tabel

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Mesjid di Aceh yang selamat dari Tsunami 10
Gambar 2. 2 Perbedaan gelombang angin dan gelombang tsunami 17
Gambar 2. 3 Peta distribusi Tsunami di Indonesia tahun 1600 -2007 20
Gambar 3.1 Proses Terjadinya Bencana 23
Gambar 3.2 Wilayah di Asia yang 24
terkena dampak tsunami 26 Desember 2004 25
Gambar 3. 3 Persentase Orang Terkena
Bencana Berdasarkan Jenis Bencana

Daftar Gambar

xiv

DAFTAR KOTAK

Kotak 5.1.1 Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran terintegrasi 60
PRB Tsunami Mata Pelajaran IPA 61
Kotak 5.2.1 Contoh Bahan Ajar Mata Pelajaran IPA

Daftar Isi

xvi

PENDAHULUAN BAB I

1.1 Landasan dan Pedoman

Berdasarkan hasil Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Risiko Bencana (World
Conference on Disaster Reduction) yang diselenggarakan pada tanggal 18-22 Januari
2005 di Kobe, Hyogo, Jepang; dan dalam rangka mengadopsi Kerangka Kerja Aksi
2005-2015 dengan tema ‘Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas Terhadap
Bencana’ memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan
yang strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap
bahaya. Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifikasi cara-cara
untuk membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana.
Pada bulan Januari 2005, lebih dari 4.000 perwakilan pemerintah, organisasi non-
pemerintah (NGO), institusi akademik, dan sektor swasta berkumpul di Kobe, Jepang,
pada World Conference on Disaster Reduction (WCDR) kesebelas. Konferensi tersebut
mengakhiri perundingan-perundingan tentang Kerangka Kerja Aksi Hyogo 2005-
2015 : Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas terhadap Bencana (HFA).
Kerangka aksi ini diadopsi oleh 168 negara dan menetapkan tujuan yang jelas –
secara substansial mengurangi kerugian akibat bencana, baik korban jiwa maupun
kerugian terhadap aset-aset sosial, ekonomi, dan lingkungan suatu masyarakat
dan negara – dan merinci seperangkat prioritas untuk mencapai tujuan setidaknya
pada tahun 2015.
HFA menekankan bahwa pengurangan risiko bencana adalah isu sentral kebijakan
pembangunan, selain juga menjadi perhatian berbagai bidang ilmu, kemanusiaan,
dan lingkungan. Bencana merusak hasil-hasil pembangunan, memelaratkan rakyat
dan negara. Tanpa usaha yang serius untuk mengatasi kerugian akibat bencana,
bencana akan terus menjadi penghalang besar dalam pencapaian Sasaran
Pembangunan Millenium. Untuk membantu pencapaian hasil yang diinginkan,
HFA mengidentifikasi lima prioritas aksi yang spesifik: (1) Membuat pengurangan
risiko bencana sebagai prioritas; (2) Memperbaiki informasi risiko dan peringatan
dini; (3) Membangun budaya keamanan dan ketahanan; (4) Mengurangi risiko pada
sektor-sektor utama; (5) Memperkuat kesiapan untuk bereaksi.

Pendahuluan

HFA memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang
strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap bahaya.
Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifikasi cara-cara untuk
membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana. Karena bencana
dapat diredam secara berarti jika masyarakat mempunyai informasi yang cukup dan
didorong pada budaya pencegahan dan ketahanan terhadap bencana, yang pada
akhirnya memerlukan pencarian, pengumpulan, dan penyebaran pengetahuan
dan informasi yang relevan tentang bahaya, kerentanan, dan kapasitas.
Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha antara lain: (1) menggalakkan dimasuk-
kannya pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana sebagai bagian
yang relevan dalam kurikulum pendidikan di semua tingkat dan menggunakan
jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau anak-anak muda dan anak-
anak dengan informasi; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana
sebagai suatu elemen instrinsik dalam dekade 2005–2014 untuk Pendidikan bagi
Pembangunan Berkelanjutan (United Nations Decade of Education for Sustainable
Development); (2) menggalakkan pelaksanaan penjajagan risiko tingkat lokal
dan program kesiapsiagaan terhadap bencana di sekolah-sekolah dan lembaga-
lembaga pendidikan lanjutan; (3) menggalakkan pelaksanaan program dan
aktivitas di sekolah-sekolah untuk pembelajaran tentang bagaimana meminimalisir
efek bahaya; (4) mengembangkan program pelatihan dan pembelajaran tentang
pengurangan risiko bencana dengan sasaran sektor-sektor tertentu, misalnya: para
perancang pembangunan, penyelenggara tanggap darurat, pejabat pemerintah
tingkat lokal, dan sebagainya; (5) menggalakkan inisiatif pelatihan berbasis
masyarakat dengan mempertimbangkan peran tenaga sukarelawan sebagaimana
mestinya untuk meningkatkan kapasitas lokal dalam melakukan mitigasi dan
menghadapi bencana; (6) memastikan kesetaraan akses kesempatan memperoleh
pelatihan dan pendidikan bagi perempuan dan konstituen yang rentan; dan (7)
menggalakkan pelatihan tentang sensitivitas gender dan budaya sebagai bagian tak
terpisahkan dari pendidikan dan pelatihan tentang pengurangan risiko bencana.
‘Kampanye Pendidikan tentang Risiko Bencana dan Keselamatan di Sekolah’ yang
dikoordinir oleh UN/ISDR (United Nations/International Strategy for Disaster Reduction)
hingga penghujung tahun 2007 dengan didasari berbagai pertimbangan. Anak-
anak adalah kelompok yang paling rentan selama kejadian bencana, terutama
yang sedang bersekolah pada saat berlangsungnya kejadian. Pada saat bencana,
gedung sekolah hancur, mengurangi usia hidup murid sekolah dan guru yang
sangat berharga dan terganggunya hak memperoleh pendidikan sebagai dampak
bencana. Pembangunan kembali sekolah juga memerlukan waktu yang tidak
sebentar dan pastilah sangat mahal.
Kampanye ditujukan kepada murid sekolah dasar dan menengah, para guru,
pembuat kebijakan pendidikan, orangtua, insinyur dan ahli bangunan. Selain
itu juga ditujukan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung-jawab atas
isu manajemen bencana, mendiknas, para pemimpin politik di tingkat nasional,
pembuat keputusan di masyarakat, dan otoritas lokal. Pesan yang bisa disampaikan
antara lain: (1) pendidikan tentang risiko bencana menguatkan anak-anak dan

2

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

membantu membangun kesadaran yang lebih besar isu tersebut di dalam
masyarakat; (2) fasilitas bangunan sekolah yang bisa menyelamatkan hidup dan
melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari suatu kejadian
bencana alam; dan (3) pendidikan tentang risiko bencana dan fasilitas keselamatan
di sekolah akan membantu negara-negara menuju ke arah pencapaian Tujuan
Pembangunan Millenium.
Sekolah dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap generasi muda,
yaitu dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan menyampaikan pengetahuan
tradisional dan konvensional kepada generasi muda. Untuk melindungi anak-
anak dari ancaman bencana alam diperlukan dua prioritas berbeda namun tidak
bisa dipisahkan aksinya yaitu pendidikan untuk mengurangi risiko bencana dan
keselamatan dan keamanan sekolah.
Sekolah juga harus mampu melindungi anak-anak dari suatu kejadian bencana
alam. Investasi dalam memperkuat struktur gedung sekolah sebelum suatu
bencana terjadi, akan mengurangi biaya/anggaran jangka panjang, melindungi
generasi muda penerus bangsa, dan memastikan kelangsungan kegiatan belajar-
mengajar setelah kejadian bencana. Pendidikan di sekolah dasar dan menegah
membantu anak-anak memainkan peranan penting dalam penyelamatan
hidup dan perlindungan aset/milik masyarakat pada saat kejadian bencana.
Menyelenggarakan pendidikan tentang risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah
sangat membantu dalam membangun kesadaran akan isu tersebut di lingkungan
masyarakat.
Mengurangi risiko bencana dimulai dari sekolah. Seluruh komponen, dalam hal
ini anak-anak sekolah, para guru, para pemimpin masyarakat, orangtua, maupun
individu yang tertarik dengan pendidikan tentang risiko bencana dan keselamatan
di sekolah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, institusi lokal/
regional/nasional/ internasional, sektor swasta dan publik untuk dapat berpartisipasi
secara aktif. Keterlibatan media juga diperlukan untuk mendorong sebuah budaya
ketahanan terhadap bencana dan keterlibatan komunitas yang kuat dalam rangka
kampanye pendidikan publik secara terus-menerus dan dalam konsultasi publik di
segenap lapisan masyarakat. Bencana?! Jika Siap Kita Selamat.
Padatnya kurikulum pendidikan nasional tidak boleh kita jadikan alasan untuk tidak
melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana di sekolah secara berkelanjutan.
Pembelajaran tentang pengurangan risiko bencana di sekolah-sekolah bisa
dilaksanakan dengan mengintegrasikan materi pembelajaran pengurangan
risiko bencana ke dalam (1) mata pelajaran pokok/paket, (2) muatan lokal, dan (3)
ekstrakurikuler dan pengembangan diri. Atau secara khusus mengembangkan dan
menyelenggarakan kurikulum muatan lokal dan ektrakurikuler/pengembangan
diri yang didedikasikan khusus untuk pendidikan pengurangan risiko bencana.
1.1.1 Landasan Filosofis

Bencana merupakan suatu bentuk gangguan terhadap kehidupan dan
penghidupan masyarakat, oleh karena itu, secara filosofis, pengurangan risiko

3

Pendahuluan

bencana merupakan bagian dari pemenuhan tujuan bernegara Republik
Indonesia, yaitu melindungi segenap rakyat dan bangsa, serta seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Upaya melindungi segenap rakyat dan bangsa dikuatkan pula dengan hak
setiap orang atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat,
dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman
dari ancaman ketakutan untuk untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang
merupakan hak asasi, hak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan (Pasal 28 G ayat (1) dan Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945.
1.1.2 Landasan Sosiologis
Ada tiga pertimbangan sosiologis yang patut diketengahkan, yaitu Pertama
secara geografis, demografis dan geologis, Indonesia merupakan negara
rawan bencana, baik bencana alam dan bencana akibat ulah manusia, seperti
kegagalan atau mal praktik teknologi. Kedua, adalah bahwa perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kondisi sosial masyarakat, telah
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan yang berakibat pada
terjadinya bencana. Ketiga, adalah kondisi struktur manajemen bencana
itu sendiri. Kematian, cidera dan kerugian materi, serta masalah lingkungan
dan ekonomi dapat dikurangi apabila penyelenggaraan penanggulangan
bencana telah dilakukan secara komprehensif yang mencakup pendekatan
yang bersifat pencegahan, pengurangaan risiko, tindakan kesiapsiagaan
tindakan tanggap terhadap bencana, serta upaya pemulihan. Disamping itu,
pendekatan yang mengedepankan pentingnya partisipasi dari semua tingkat
pemerintahan, baik pemerintah pusat dan daerah, mengambil peran yang
aktif dalam menciptakan manajemen bencana yang efektif. Serta pentingnya
partisipasi publik dan pemangku kepentingan dalam penanganan bencana.
1.1.3 Landasan Yuridis
Pertimbanganyuridis adalahmenyangkutmasalah-masalahhukumsertaperan
hukum dalam penanganan bencana. Hal ini dikaitkan dengan peran hukum
dalam pembangunan, baik sebagai pengatur perilaku, maupun instrumen
untuk penyelesaian masalah. Hukum sangat diperlukan, karena hukum atau
peraturan perundang-undangan dapat menjamin adanya kepastian dan
keadilan dalam penanganan bencana. Undang-Undang No.24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana ditempatkan guna memberikan jawaban
atau solusi terhadap permasalahan yang berkaitan dengan penanganan
bencana, merupakan landasan yuridis paling dekat untuk pelaksanaan usaha-
usaha pengurangan risiko bencana di Indonesia.

4

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

1.1.4 Pedoman pengembangan produk
Program pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB) bertujuan untuk
meminimalisir risiko bencana dan meningkatkan kapasitas sekolah dalam
melaksanakan pengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan, mitigasi, dan
peringatan dini. PRB oleh satuan pendidikan dapat dilakukan dengan cara
mengintegrasikan materi pendidikan pengurangan risiko bencana dalam
kurikulum yang berlaku di sekolah, mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan
pengembangan diri dan ekstrakurikuler, dan bahan ajar.
Dasar hukum yang menjadi pedoman perancangan dan pengembangan serial
modul dan modul pelatihan adalah:
1. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
3. Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
4. Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 - 2025
5. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 - 2009
6. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan
7. Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional
Penanggulangan Bencana
8. Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2008 tentang Pengesahan ASEAN
Agreement on Disaster Management and Emergency Response (Persetujuan
ASEAN mengenai Penanggulangan Bencana dan Penanganan Darurat)
9. Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana
10. Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
11. Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan
12. Peraturan Mendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi
dan Standar Kompetensi Lulusan, yang disempurnakan dengan Peraturan
Mendiknas No. 6 Tahun 2007
13. Peraturan Mendiknas No. 40 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Balitbang Depdiknas
14. Peraturan Mendiknas No. 50 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan
Pendidikan oleh Pemerintah Provinsi
15. Peraturan Mendiknas No. 24 tTahun 2007 tentang Standar Sarana dan
Prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA
16. Surat Edaran Mendiknas No. 33/MPN/SE/2007 tentang Sosialisasi KTSP

5

Pendahuluan

1.1.5 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Sistem
Pendidikan Nasional
UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38 Ayat (2):
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan
relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite
sekolah/madrasah dibawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau
kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan
provinsi untuk pendidikan menengah
Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa penyusunan
kurikulum merupakan tanggung jawab setiap satuan pendidikan (sekolah
dan madrasah). Oleh karena itu tidak lagi dikenal apa yang disebut dengan
kurikulum nasional, yang pada periode sebelumnya menjadi tanggung jawab
pemerintah pusat.
Dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 17
menyebutkan:
1 Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/
MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan
sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah,
sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik
2 Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah,
mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya
berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan,
dibawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di
bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK dan departemen yang
mengurusi urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan
MAK
Penjabaran kurikulum dilakukan dengan penyusunan silabus dan bahan ajar
sesuai dengan kondisi geografis dan demografis untuk daerah, kebutuhan,
potensi dan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik, yang selanjutnya
diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dalam Permendiknas No.
24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi
Lulusan Pasal 1:
1 Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan
menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah
sesuai kebutuhan satuan pendidikan.
2 Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan
kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari standar isi dan standar
kompetensi lulusan.
3 Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh
kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan
pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah.

6

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 32 Ayat 1, juga telah mengakomodasi kebutuhan pendidikan
bencana dalam terminologi ‘pendidikan layanan khusus’. Yakni “pendidikan
bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat
yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak
mampu dari segi ekonomi”.

1.2 Kerangka Kerja Pendidikan Untuk Pengurangan Risiko
Bencana

1.2.1 Pendidikan Untuk Pengurangan Risiko Bencana dan Pendidikan Untuk
Pembangunan Berkelanjutan
Pada bulan Desember 2002, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 57/254
untuk menempatkan Dekade Pendidikan Bagi Pembangunan Berkelanjutan
(Decade of Education for Sustainable Development - DESD), mulai 2005-2014,
dibawah koordinasi UNESCO. Pendidikan untuk pengurangan bencana
(alam) telah diidentifikasi sebagai masalah inti yang akan dibahas di bawah
DESD. Pendidikan dipandang dalam konsep yang lebih luas. Sebagaimana
didefinisikan dalam Bab 36 dalam Agenda 21, “Pendidikan sangat penting
untuk mencapai perlindungan lingkungan dan kesadaran etika, nilai-nilai
dan sikap, keterampilan dan perilaku yang konsisten dengan pembangunan
berkelanjutan. Baik formal dan pendidikan non-formal sangat diperlukan untuk
pembangunan berkelanjutan “. Pendidikan dan pengetahuan berkontribusi
untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya (alam) serta kerentanan
dan ancaman yang ada yang dihadapi oleh masyarakat. Juga memberikan
kontribusi untuk menumbuhkembangkan keterampilan hidup.
Dasawarsa ini didukung oleh Kerangka Aksi Hyogo 2005 – 2015 yang
menyoroti pentingnya pendidikan dan pembelajaran sebagai bagian dari
prioritas aksi, menggunakan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk
membangun sebuah budaya keselamatan dan ketahanan di semua tingkat.
Inisiatif pengurangan risiko bencana harus berakar di semua lembaga-
lembaga pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah dan memasukkan dalam
program pendidikan. Pendidikan pengurangan risiko bencana yang mencakup
semua aspek peningkatan kesadaran publik, pendidikan dan pelatihan yang
bertujuan untuk menciptakan dan atau meningkatkan budaya pencegahan
melalui identifikasi dan pemahaman risiko, serta belajar mengenai langkah-
langkah pengurangan risiko bencana, dan tanggap bencana.
OlehkarenaituPendidikanuntukPenguranganRisikoBencana -sebagaibagian
dari Pengurangan Risiko Bencana (PRB) - harus melekat dengan Pendidikan
untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development -
ESD), dan mendukung kerangka ESD yang mencakup 3 aspek, yaitu:
1 Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah interdisipliner.
Oleh karena itu, pertimbangan penting diberikan kepada dampak, dan
hubungan antara, masyarakat, lingkungan, ekonomi dan budaya.
2 Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana dan meningkatkan

7

Pendahuluan

pemikiran kritis dan pemecahan masalah, dan ketrampilan hidup sosial
dan emosional untuk pemberdayaan kelompok rentan atau terkena
bencana.
3 Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana mendukung Tujuan
Pembangunan Milenium. Tanpa mempertimbangkan Pengurangan
Risiko Bencana dalam perencanaan pembangunan, semua upaya
pembangunan termasuk inisiatif DESD dihancurkan dalam hitungan
detik.
Kerangka kerja Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana atau pendidikan
pengurangan risiko bencana dikembangkan mengikuti arahan UN-ISDR
sebagai berikut: “Pendidikan pengurangan risiko bencana adalah sebuah
proses pembelajaran bersama yang bersifat interaktif di tengah masyarakat
dan lembaga-lembaga yang ada. Cakupan pendidikan pengurangan risiko
bencana lebih luas daripada pendidikan formal di sekolah dan universitas.
Termasuk di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan kearifan tradisional
dan pengetahuan lokal bagi perlindungan terhadap bencana alam.”
HFA pada PRIORITAS AKSI 3, Poin Aktivitas kunci termaktub rekomendasi
bahwa PRB dimasukkan dalam kurikulum sekolah, pendidikan formal dan
informal.
“Menggalakkan dimasukkannya pengetahuan pengurangan risiko bencana
dalam bagian yang relevan dalam kurikulum sekolah di semua tingkat dan
menggunakan jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau pemuda
dan anak-anak; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana sebagai
suatu elemen intrinsik Dekade Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan
(2005-2015) dari PBB “.

1.2.2 Konsep Pendidikan Untuk Pengurangan Risiko Bencana
Pendidikan pengurangan risiko bencana adalah usaha sadar dan terencana
dalam proses pembelajaran untuk memberdayakan peserta didik dalam
upaya untuk pengurangan risiko bencana dan membangun budaya aman
serta tangguh terhadap bencana. Pendidikan PRB lebih luas dari penddidikan
bencana, bahkan lebih dari pendidikan tentang pengurangan risiko bencana.
Tetapi mengembangkan motivasi, keterampilan, dan pengetahuan agar
dapat tertindak dan mengambil bagian dari upaya untuk pengurangan risiko
bencana.
Tujuan pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah:
1 Menumbuhkembangkan nilai dan sikap kemanusiaan
2 Menumbuhkembangkan sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana
3 Mengembangkan pemahaman tentang risiko bencana, pemahaman tentang
kerentanan sosial, pemahaman tentang kerentanan fisik, serta kerentanan
prilaku dan motivasi,
4 Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk pencegahan dan
pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan
yang bertanggungjawab, dan adaptasi terhadap risiko bencana

8

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

5 Mengembangkan upaya untuk pengurangan risiko bencana diatas, baik
secara individu maupun kolektif

6 Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siaga bencana
7 Meningkatkan kemampuan tanggap darurat bencana
8 Mengembangkan kesiapan untuk mendukung pembangunan kembali

komunitas saat bencana terjadi dan mengurangi dampak yang disebabkan
karena terjadinya bencana
9 Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan besar dan
mendadak

9

BAB II FENOMENA DAN PERISTIWA TSUNAMI

2.1 Fenomena Tsunami di Indonesia

Bencana merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-komponen pemicu,
ancamandan kerentanan bekerjabersama secara sistematis,sehinggamenyebabkan
terjadinya risiko pada komunitas. Bencana secara sederhana didefinisikan sebagai
suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga
menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi,
ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat tersebut
untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya mereka sendiri.
Pemicu merupakan faktor-faktor luar yang menjadikan potensi ancaman yang
tersembunyi muncul ke bermukaan sebagai ancaman nyata. Ancaman adalah
kejadian-kejadian, gejala alam atau kegiatan manusia yang berpotensi untuk
menimbulkan kematian, luka-luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial
ekonomi atau kerusakan lingkungan.
Apakah yang dimaksud dengan tsunami? Secara harfiah, tsunami berasal dari
Bahasa Jepang. Tsu berarti “pelabuhan” dan nami berarti “gelombang”. Secara
umum tsunami diartikan sebagai gelombang laut yang besar di pelabuhan. Jadi,
secara bebas kita bisa mendeskripsikan tsunami sebagai gelombang laut dengan
periode panjang yang ditimbulkan gangguan impulsif yang terjadi pada medium
laut. Gangguan impulsif itu bisa berupa gempa bumi tektonik di laut, erupsi vulkanik
(meletusnya gunung api) di laut, longsoran di laut, atau jatuhnya meteor di laut.
Dalam literatur berbahasa Inggris, tsunami kadang-kadang disebut pula sebagai
tidal wave atau gelombang pasang. Istilah ini sebenarnya tidak tepat karena sama

sekali tidak mempunyai hubungan
dengan fenomena pasang surut
air laut sebagaimana lazimnya,
yang ditentukan oleh gaya tarik
benda-benda astronomis (gaya
tarik menarik antara bumi, bulan
dan matahari).

Gambar 2.1 Mesjid di Aceh yang selamat dari
Tsunami (sumber: google)

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsif ini bersifat transien, yakni
gelombangnya bersifat sesar. Gelombang seperti ini berbeda dengan gelombang
laut lainnya yang bersifat kontinyu seperti gelombang laut yang ditimbulkan oleh
gaya gesek angin atau gelombang pasang surut yang ditimbulkan oleh gaya tarik
benda angkasa.
Perbedaan gelombang tsunami dengan gelombang yang dibangkitkan oleh angin
adalah terletak pada gerakan airnya. Gelombang yang dibangkitkan oleh angin
hanya menggerakkan partikel air laut di permukaan air laut bagian atas. Namun
pada gelombang tsunami menggerakkan seluruh kolom air dari permukaan sampai
dasar laut.
Ciri lainnya dari tsunami adalah panjang gelombangnya yang besar, bisa mencapai
puluhan kilometer. Kecepatan rambatnya di laut yang dalam berkisar dari 400
sampai 1.000 km/jam. Kecepatan penjalan tsunami tersebut sangat tergantung
dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat mencapai ribuan kilometer dari
pusatnya.
Dalam buku literatur oseanografi fisik atau coastal engineering, terdapat teori yang
mengatakan bahwa gelombang tsunami disebut gelombang perairan dangkal
apabila nilai perbandingan antara kedalaman laut dengan panjang gelombang
lebih kecil dari seperduapuluh. Karena nilai perbandingan antara kedalaman laut
dengan panjang gelombang tsunami lebih kecil dari seperduapuluh (1/20) maka
tsunami sering dianggap sebagai gelombang perairan dangkal

Pemicu Tsunami
Tsunami dapat dipicu oleh bermacam-macam gangguan berskala besar
terhadap air laut, misalnya gempa bumi, pergeseran lempeng, meletusnya
gunung berapi di bawah laut, atau tumbukan benda langit. Pada dasarnya
tsunami dapat terjadi apabila dasar laut mengalami perubahan secara tiba-
tiba dan bergerak secara vertikal. Berikut ini beberapa faktor-faktor yang bisa
menimbulkan tsunami.
1. Longsoran Lempeng Bawah Laut
Gerakan yang besar pada kerak bumi biasanya terjadi di pertemuan antar
lempeng tektonik. Celah retakan antara kedua lempeng tektonik ini disebut
dengan sesar. Pada sesar terjadi gerakan vertical antara kedua lempeng yang
bisa menimbulkan longsoran. Sebagai contoh, di sekeliling tepian Samudra
Pasifik yang biasa disebut dengan lingkaran api, lempeng samudra yang
lebih padat menghunjam masuk ke bawah lempeng benua, sementara
lempeng benua cenderung naik secara vertikal. Proses ini dinamakan dengan
penghunjaman. Gerakan subduksi sangat efektif menimbulkan longsoran
bawah laut yang bisa membangkitkan gelombang tsunami.
2. Gempa Bumi Bawah Laut
Gempa tektonik merupakan salah satu gempa yang diakibatkan oleh
pergerakan lempeng bumi. Jika gempa semacam ini terjadi di bawah laut,
maka air di atas wilayah lempeng yang bergerak tersebut berpindah dari posisi
keseimbangannya menimbulkan gelombang. Gelombang terjadi karena air

11

Fenomena dan peristiwa Tsunami

ini bergerak akibat pengaruh gravitasi mencari posisi keseimbangannya yang
baru. Bila gempa yang terjadi menimbukan gerakan yang bersifat vertikal
(naik atau turun),maka gelombang tsunami dapat terjadi.
3. Aktivitas Vulkanik
Adanya gunung berapi yang terletak di dasar samudra dapat menaikkan air dan
membangkitkan gelombang tsunami. Contoh yang terjadi pada meletusnya
Gunung Krakatau di Selat Sunda tahun 1883 yang menimbukan gelombang
tsunami setinggi lebih dari 30 m, menerjang dan menyapu pantai di sebelah
barat Jawa dan sebelah selatan Sumatera.
4. Tumbukan Benda Luar Angkasa
Tumbukan dari benda luar angkasa seperti meteor merupakan gangguan
terhadap air laut yang datang dari luar permukaan air. Kejadian tsunami yang
disebabkan faktor ini sangat jarang terjadi, namun dampaknya bisa jadi lebih
merusak, karena datangnya yang sulit diduga dimana tempatnya akan jatuh.
Di samping itu juga, besar dan kecepatan meteor ketika tumbukan dengan
permukaan laut sangat menentukan besarnya gelombang tsunami yang akan
ditimbulkannya.
Karakteristik Tsunami
Perilaku gelombang tsunami sangat berbeda dari ombak laut biasa. Gelom­
bang tsunami bergerak dengan kecepatan tinggi dan dapat merambat
menyeberangi samudra tanpa banyak kehilangan energi. Hal ini karena
amplitudo gelombang begitu kecil tapi sangat panjang. Seperti diketahui
energi gelombang dipengaruhi oleh besar amplitudo dan panjang
gelombang. Dengan amplitude yang begitu kecil, energi gelombang tidak
mudah hilang atau terserap, sementara panjang gelombang yang begitu
panjang menjamin gelombang mampu merambat dengan kecepatan tinggi.
Tsunami dapat merambat melalui wilayah yang berjarak ribuan kilometer
dari sumbernya, sehingga mungkin ada selisih waktu beberapa menit antara
munculnya gelombang ini dengan bencana yang akan ditimbulkannya di
pantai. Begitu mendekati pantai ke tempat yang lebih dangkal, amplitude
gelombang membesar yang diikuti dengan melambatnya kecepatan rambat
gelombang. Gelombang meninggi menerjang segala macam benda yang
menghalanginya.
Periode tsunami cukup bervariasi, mulai dari 2 menit hingga lebih dari 2 jam.
Panjang gelombangnya sangat besar, antara 100 – 1000 km. Bandingkan
dengan ombak laut biasa di pantai yang mungkin hanya memiliki periode
beberapa detik dan panjang gelombang beberapa meter. Oleh karena itulah
pada saat masih di tengah laut, gelombang tsunami hampir tidak nampak dan
hanya terasa seperti ayunan air saja.

Bila lempeng samudra bergerak naik, air di sekitar wilayah tersebut akan ikut
naik, namun di sekitar pantai akan surut. Selanjutnya gelombang tsunami
akan datang menerjang pantai.

12

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

PERBANDINGAN GELOMBANG TSUNAMI DAN OMBAK LAUT BIASA

Parameter Gelombang

Tsunami Ombak Biasa

Periode gelombang 2 menit - 2 jam ≤ 10 detik
Panjang gelombang
100 - 1000 km ≤ 50 m

Bila lempeng samudra bergerak turun, air laut di pantai tersebut akan ikut
surut. Pada pantai yang landai, surutnya air bisa mencapai lebih dari 500 meter
menjauhi pantai. Masyarakat yang tidak sadar akan datangnya bahaya
kemungkinan akan tetap tinggal di pantai karena rasa ingin tahu apa yang
sedang terjadi. Atau justru mereka memanfaatkan momen saat air laut surut
tersebut untuk mengumpulkan ikan-ikan yang banyak bertebaran di pantai.

Bila lempeng samudra bergerak turun (atau naik), di wilayah pantai air laut akan
surut sebelum datangnya tsunami.Gelombangtsunamimempunyaiamplitude
yang memperhitungkan kedalaman laut. Ini yang membedakan dengan
gelombang pada ombak biasa. Gelombang tsunami diakibatkan perubahan
struktur bumi di kedalaman laut, sementara ombak biasa diakibatkan oleh
arus udara (angin). Oleh karena itu, gelombang tsunami sangat dipengaruhi
kedalaman laut. Makin dangkal kedalaman laut, makin lambat perambatan
gelombang. Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan yang setara
dengan akar kuadrat hasil perkalian antara percepatan gravitasi (g = 9,8 m/
det2 ) dan kedalaman air laut.

v ≈ √ (g d)

dimana

v = kecepatan

g = gravitasi = 9,8 m/det2

d = kedalaman

Sebagai contoh, di Samudra Hindia, dimana kedalaman air pada daerah
gempa sebelah barat Aceh sekitar 2000 meter, gelombang tsunami merambat
dengan kecepatan 140 m/det (504 km/jam) dengan hanya sedikit energi yang
hilang, bahkan untuk jarak yang jauh. Sementara pada kedalaman 10 meter,
mendekati pantai kecepatannya hampir mencapai 10 m/det (36 km/jam),
sama dengan kecepatan lari manusia tercepat, kita harus lari dengan sepenuh
tenaga agar bisa lolos dari gelombang tersebut.

Energi dari gelombang tsunami merupakan fungsi perkalian antara besar
gelombang dan kecepatannya. Besar gelombang ditentukan oleh tinggi
(amplitudo) dan panjang gelombang. Makin besar amplitude dan panjang

13

Fenomena dan peristiwa Tsunami

gelombang, maka energi gelombang juga makin besar. Nilai energi ini
dianggap konstan, yang berarti besar gelombang berbanding terbalik
dengan kecepatan merambat gelombang. Oleh karena itu, ketika gelombang
mencapai daratan, tingginya meningkat sementara kecepatannya menurun.
Saat memasuki wilayah pantai yang lebih dangkal, kecepatan gelombang
tsunami menurun sedangkan tingginya meningkat, menciptakan gelombang
yang berpotensi sangat merusak.

Karena

λ
v=-

T

Maka

v~λ

dimana

v = kecepatan

λ = panjang gelombang

T = periode

Karena kecepatan bergantung pada panjang gelombang, maka makin lambat
kecepatan rambat gelombang, panjang gelombang juga makin pendek.
Sementara itu, periode gelombang dianggap konstan.

Sementara itu, energi gelombang sebanding dengan kuadrat kecepatan
rambat gelombang.

E ~ v2 ~ λ A

dimana

E = Energi gelombang

A = amplitude (tinggi gelombang)

Persamaan di atas menunjukkan bahwa ketika kecepatan rambat v berkurang,
maka panjang gelombangnya ? juga menurun, sementara tinggi gelombang
A justru meningkat.

14

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs



Sumber: Wikipedia

Kedalaman (m) Kecepatan Panjang Gelombang
(km/jam) (km)
7000
4000 943 282
2000 713 213
200 504 151
100 159 48
113 34
50 80 23
10 36 11

Selagi orang-orang yang berada di tengah laut bahkan tidak menyadari
adanya tsunami, gelombang tsunami dapat mencapai ketinggian hingga
30 meter atau lebih ketika mencapai wilayah pantai dan daerah yang lebih
dangkal. Tsunami dapat menimbulkan kerusakan yang sangat parah di wilayah
yang jauh dari sumber terjadinya gelombang, meskipun peristiwa terjadinya
gelombang di tengah laut itu sendiri kemungkinan tidak dapat dirasakan oleh
seseorang yang kebetulan berada di atas permukaannya.
Gelombang tsunami bergerak maju ke segala arah dari sumbernya, sehingga
wilayah yang berada di sekitar daerah sumber gelombang berpotensi akan
terkena dampaknya. Namun demikian, gelombang tsunami dapat saja berbelok
akibat adanya gangguan berupa benda padat seperti daratan. Bukan hanya
itu, gangguan tersebut dapat meredam energi gelombang dan mengubah
pola gelombang, seperti periode, panjang gelombang, dan kecepatan
rambatnya. Hal ini bergantung peristiwa alam yang mempengaruhinya dan
kondisi geografis wilayah sekitarnya.

15

Fenomena dan peristiwa Tsunami

Megatsunami
Berbagai bukti yang menunjukkan bahwa megatsunami, yaitu tsunami yang
mencapai ketinggian gelombang hingga 100 meter, memang mungkin
terjadi. Peristiwa yang langka ini biasanya disebabkan oleh sebuah pulau yang
cukup besar amblas ke dasar samudra. Megatsunami juga bisa disebabkan
oleh adanya benda angkasa luar dengan massa yang cukup besar, jatuh ke
laut dengan kecepatan tinggi. Energi yang ditimbulkannya cukup besar untuk
menimbulkannya megatsunami. Faktor lain yang berpotensi menimbulkan
megatsunami adalah jatuhnya sebongkah besar es (di Antartika) ke laut
dari ketinggian ratusan meter. Gelombang yang ditimbulkannya dapat
menyebabkan kerusakan yang sangat dahsyat pada cakupan wilayah pantai
yang sangat luas.
Seiche
Satuhalyang berkaitandengantsunamiantaralainadalahseiche,yaitufluktuasi
atau pengalunan permukaan danau atau badan air yang kecil yang disebabkan
oleh gempa-bumi kecil, angin, atau oleh keragaman tekanan udara. Seringkali
gempa yang besar menyebabkan tsunami dan seiche sekaligus, atau sebagian
seiche justru terjadi karena tsunami.
Tsunami Dengan Gelombang Tertinggi
Gelombang tsunami tertinggi yang tercatat sampai saat ini adalah tsunami di
Alaska pada tahun 1958 yang disebabkan oleh amblasnya lempeng tektonik
di Teluk Lituya. Tsunami ini memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan
menghancurkan pohon-pohon dan tanah pada dinding fjord. Saat gelombang
tsunami kembali ke laut, gelombang tersebut langsung menyebar dan
tingginya menurun dengan cepat. Tingginya gelombang saat berada di pantai
lebih disebabkan karena topografi wilayahnya, daripada karena energi yang
dikeluarkan oleh peristiwa amblasnya lempeng.
Fjord
suatu teluk sempit di antara tebing-tebing atau lahan terjal. Biasa djumpai di
Norwegia, Alaska, Selandia Baru, dll. Sebelumnya fjord ini merupakan sungai
gletser yang terbentuk di wilayah pegunungan di kawasan pantai. Saat suhu
menjadi hangat, sungai gletser ini mencair, akibatnya permukaan air laut naik
dan membanjiri lembah di sela-sela pegunungan tersebut.
Tanda Peringatan
Tsunami bisa terjadi kapan saja, pada saat musim hujan ataupun musim
kemarau baik siang maupun malam hari. Tanda peringatan akan terjadinya
bencana tsunami antara lain:
1. Biasanya diawali gempa bumi yang sangat kuat dan biasanya sekurang-

kurangnya 6,5 skala richter, berlokasi di bawah laut. Setiap orang akan
dapat merasakan gempa tersebut jika berada di dekat dengan pusat
gempa. Namun tsunami bisa tetap terjadi meskipun tidak merasakan
goncangan sama sekali. Disamping itu, tsunami tidak selalu diawali
gempa bumi di laut, bisa juga karena meletusnya gunung api di laut,
longsoran tanah di laut atau jatuhnya meteor di laut.

16

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

2. Bila Anda menyaksikan permukaan laut turun secara tiba-tiba,
waspadalah karena itu tanda gelombang raksasa akan datang
(merupakan tanda peringatan datangnya tsunami)

3. Timbul bau garam dan angin dingin di pantai. Hal ini menunjukkan
bahwa di laut lepas sedang terjadi turbulensi air laut.

4. Laut menjadi berubah warna atau mendengar suara gemuruh lebih keras
dari biasanya. Hal itu akibat resonansi bunyi gulungan air dengan dasar
laut yang terus mengalami pendangkalan. Berarti gelombang tsunami
sedang mendekat.

Di atas telah dijelaskan tanda-tanda akan terjadinya tsunami, tsunami juga
disebabkan oleh Gempa dalam skala besar yang menimbulkan patahan
berdimensi ratusan kilometer jaraknya dari pusat gempa. Hal itu juga
menyebabkan timbulnya deformasi vertikal di sumber gempa. Deformasi
berupa penurunan permukaan dasar laut mengakibatkan penjalaran energi
menjadi gelombang tsunami di pantai.

Gambar 2.2 Perbedaan gelombang angin dan gelombang tsunami (sumber: google)

Selain tenggelamnya pulau-pulau kecil, rusaknya industri turisme pantai dan
infrastruktur pesisir, hancurnya industri perikanan, dan rusaknya pertanian
yang ditimbulkan oleh tsunami, maka banyak aspek kehidupan lain yang juga
akan terkena dampak negatif tsunami.
Dalam rangka mengantisipasi dampak negatif tersebut, pemerintah Indonesia
melakukan 3 (tiga) macam riset tentang tsunami:
1. Riset yang ditujukan untuk mengidentifikasi lokasi pusat gempa dan

karakteristik gempa.
2. Riset yang diarahkan untuk membuat model penjalaran tsunami dan

prediksi tinggi gelombang tsunami pada saat mencapai pantai.
3. Riset yang ditujukan untuk mencari cara-cara yang tepat dalam

pemantauan tsunami dan perlindungan pantai terhadap bahaya tsunami.
17

Fenomena dan peristiwa Tsunami

Perkembangan riset tsunami di Indonesia masih dalam tahap pengembangan
yang melibatkan berbagai instansi terkait seperti Badan Meteorologi dan Geo
Fisika (BMG), BPPT, LIPI, dan ITB. Akan tetapi riset ini berjalan lamban karena
beberapa faktor penghambat antara lain:
1. Minimnya jumlah ilmuwan dan fasilitas yang tersedia.
2. Kurang tertariknya ilmuwan melakukan riset tsunami mungkin

dikarenakan kegiatan ini secara ekonomi tergolong “kering”.
3. Fasilitas untuk pemantauan, baik untuk pemantauan gempa sebagai

sumber dan penyebab tsunami juga masih dirasa kurang. Idealnya untuk
tiap jarak 100 km di sepanjang pantai yang ada di kepulauan Indonesia
diletakkan satu alat pemantau gempa dan gelombang.
4. Masih kurangnya koordinasi dan komunikasi di antara pusat-pusat
kegiatan riset tsunami yang ada di Indonesia

2.2 Peristiwa Tsunami di Indonesia

Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh
pemerintah yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah
daerah dengan organisasi-organisasi terkait dan masyarakat yang tertimpa
bencana. Pada saat menghadapi bencana, masyarakat yang belum mampu untuk
menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera
datang.
Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana disuatu wilayah,
tindakan pencegahan bencana perlu dilakukan oleh masyarakat. Pada saat bencana
terjadi, korban yang timbul umumnya disebabkan oleh kurangnya persiapan.
Persiapan yang baik akan bisa membantu masyarakat untuk melakukan tindakan
yang tepat guna dan tepat waktu.
Bencana bisa menimbulkan kerusakan dan korban jiwa. Dengan mengetahui cara
pencegahannya masyarakat bisa mengurangi risiko ini. Penanggulangan bencana
ini hendaknya menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pihak-
pihak yang terkait. Kerjasama ini sangat penting untuk memperlancar proses
penanggulangan bencana.
Geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada lempeng
bumi yang labil, memiliki pantai terpanjang kedua di dunia. Lempeng bumi yang
labil disisi barat Sumatra, di selatan Jawa ke timur Indonesia dan berputar ke utara
melalui Nusa Tenggara, Maluku, dan diteruskan ke Sulawasi. Lempeng bumi yang
labil ini mempunyai potensi besar terjadinya gempa bumi pada dasar laut dalam
yang memungkinkan terjadinya tsunami.
Potensi tersebut menjadi lebih besar lagi karena sebagian besar pusat gempa
tektonik terletak di bawah dasar laut dalam yang posisinya relatif dekat dengan
pantai terutama pantai barat Sumatra dan pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara,
Maluku dan Sulawesi
Berdasarkan hubungan antara tsunami, aktivitas kegempaan, dan karakteristik
seismotektonik, latief, et.al (2000) membagi ke dalam enam zona seismotektonik.

18

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

Tabel 2.1 Aktivitas tsunami di Indonesia

Zona Daerah Jumlah Presentasi Jumlah
tsunami Kejadian (%) korban jiwa
A Busur Sunda bagian barat
B Busur Sunda bagian timur 19 17,43 >300.000
C Busur Banda 11 10,09 3.260
D Selat Makasar 35 32, 11 5.570
E Selat Maluku 9 8,26 1.020
F Papua bagian utara 32 29,36 7.570
3 2,75 360
109 100

(sumber: Hidup akrab dengan gempa dan tsunami)

Zona A meliputi Busur Sunda bagian barat yang terletak di sebelah barat laut Selat
Sunda antara lain Pulau Sumatera dan Pulau Andalas. Pada zona A telah terjadi
tsunami sebanyak 19 kali dalam kurun waktu 1600-2007. Kontribusi kejadian
tsunami yang telah terjadi di zona ini adalah 17,73%, 17 diantaranya diakibatkan
oleh gempa bumi dan 2 lainnya diakibatkan oleh meletusnya gunung api di bawah
laut.
Zona B meliputi Busur Sunda bagian timur yang terbendang antara Selat Sunda
ke timur sampai Sumba. Wilayah itu meliputi Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa
dan Sumba. Pada zona ini telah terjadi tsunami sebanyak 11 kali dalam kurun
waktu 1600-2007. Kontribusi kejadian tsunami yang telah terjadi di zona ini
terhadap keseluruhan tsunami yang telah terjadi di Indonesia adalah 10,09%. 10
kali diantaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 1 lainnya diakibatkan oleh
meletusnya gunung api di bawah laut.
Zona C terletak di Laut Banda antara lain Flores, Timor, Kepulauan Banda, Kepulauan
Tanimbar, Seram, dan Pulau Buru. Pada zona ini telah terjadi tsunami sebanyak
35 kali dalam kurun waktu 1600-2007. Kontribusi kejadian tsunami yang telah
terjadi di zona ini terhadap keseluruhan tsunami yang telah terjadi di Indonesia
adalah 32,11%. 32 kali diantaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 2 lainnya
diakibatkan oleh meletusnya gunung api di bawah laut dan 1 tsunami diakibatkan
oleh longsoran. Tsunami Flores 1992 merupakan tsunami yang terjadi di zona ini.
Zona D berada di Selat Makassar. Pada zona ini telah terjadi tsunami sebanyak 9 kali
dalam kurun waktu 1600-2007. Kontribusi kejadian tsunami yang telah terjadi di
zona ini terhadap keseluruhan tsunami yang telah terjadi di Indonesia adalah 8,26%.
Tsunami di daerah ini semuanya diakibatkan oleh gempa bumi dan menimbulkan
korban jiwa sekitar 1.020 orang.
Zona E terletak di Laut Maluku termasuk di dalamnya Sangihe dan Halmahera.
Pada zona ini telah terjadi tsunami sebanyak 32 kali dalam kurun waktu 1600-2007.
Kontribusi kejadian tsunami yang telah terjadi di zona ini terhadap keseluruhan
tsunami yang telah terjadi di Indonesia adalah 29,36%. 28 kali diantaranya
diakibatkan oleh gempa bumi dan 4 lainnya diakibatkan oleh meletusnya gunung
api di bawah laut.

19

Fenomena dan peristiwa Tsunami

Zona F berada di sebelah utara Papua. Pada zona ini telah terjadi tsunami sebanyak
3 kali dalam kurun waktu 1600-2007. Kontribusi kejadian tsunami yang telah terjadi
di zona ini terhadap keseluruhan tsunami yang telah terjadi di Indonesia adalah
2,75%. 2 kali diantaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 2 lainnya diakibatkan
oleh meletusnya gunung api di bawah laut.

Gambar 2. 3 Peta distribusi Tsunami di Indonesia tahun 1600 -2007
(sumber: Hidup akrab dengan gempa dan tsunami).

Kalau diinventarisasi berdasakan laporan media massa dan dari berbagai sumber,
maka sepanjang tahun 1961 – 2007 ada sekitar 22 kejadian tsunami yang melanda
kawasan pesisir di Indonesia. Daerah bencana beserta dampak tsunami bisa dilihat
pada tabel 3 dibawah ini:

Tabel 2.2 Kejadian Tsunami di Indonesia sejak tahun 1961 – 2007

No Tahun Pusat Gempa Run-up maksimum Jumlah korban Daerah Bencana
(meter) (tewas/luka)

1 1961 8,2 LS & 122,0 BT Tidak terdata 2/6 NTT, Flores Tengah
2 1964 5,8 LS & 95,6 BT Tidak terdata 110/479 Sumatera
3 1965 2,4 LS & 126,0 BT Tidak terdata 71 tewas
4 1967 3,7 LS & 119,3 BT Tidak terdata 58/100 Maluku, Seram dan Sanana
5 1968 0,7 LS & 119,7 BT 392 tewas Tinambung (Sulsel)
6 1969 3,1 LS & 118,8 BT 8-10 Tambo (Sulteng)
7 1977 11,1 LS & 118,5 BT 10 64/97 Majene (Sulsel)
8 1977 8,0 LS & 125,3 BT Tidak terdata 316 tewas
Tidak terdata NTB dan Pulau Sumbawa
9 1979 8,4 LS & 115,9 BT Tidak terdata 2/25 NTT, Flores dan P. Atauro
27/200
10 1982 8,4 LS & 123,0 BT Tidak terdata NTB, Sumbawa, Bali
11 1987 8,4 LS & 124,3 BT Tidak terdata 13/400 dan Lombok
83/108
12 1989 8,1 LS & 125,1 BT Tidak terdata NTT, Larantuka
13 1992 8,5 LS & 121,9 BT 11,2-26,2 7 tewas
14 1994 5,8 LS & 95,6 BT 19,1 1.952/2.126 NTT, Flores Timur, dan
15 1996 5,8 LS & 95,6 BT P. Pantar
16 1996 0,5 LS & 136,0 BT Tidak terdata 38/400
17 1998 2,0 LS & 124,9 BT 13,7 3/63 NTT dan P. alor
18 2000 0,6 LS & 119,9 BT 2,75 NTT, Flores dan P. Babi
19 2004 2,9 LS & 95,6 BT 3 107 tewas Banyuwangi (Jatim)
20 2005 2,06 LS & 97,01 BT 34 34 tewas
3,5 4 tewas Palu (sulteng)
21 2006 9,4 LS & 107,2 BT 7,6 >210.000 tewas P. Biak (Papua)
Tidak terdata Tabuna Maliabu (Maluku)
22 2007 4,67 LS & 101,3 BT 3,6 668 tewas Banggai (Sulteng)
NAD dam Sumut
-
Pulau Nias

Jawa Barat, Jawa Tengah
dan DI Yogyakarta

Bengkulu dan Sumatera
Barat

20

Sumber: Hidup akrab dengan gempa dan tsunami.

6 1969 3,1 LS & 118,8 BT 10 64/97 Majene (Sulsel)

7 1977 11,1 LS & 118,5 BT Tidak terdata 316 tewas NTB dan Pulau Sumbawa

8 1977 8,0 LS & 125,3 BT Tidak terdata 2/25 NTT, Flores dan P. Atauro

9 1979 8,4 LS & 115,9 BT Tidak terdata 27/200 NTB, Sumbawa, Bali
dan Lombok

10 1982 8,4 LS & 123,0 BT Tidak terdata 13/400 NTT, Larantuka
11 1987 8,4TLaSb&el122M.42,3oKdBeTujaldAijaanr TPseTuindngaaikmntteiedrdgiarIatnasdioannePseiansgeujar8ak3n/t1ag0ha8unnR1is9i6k1o –TNs2uT0nT0,a7FmloireUsnTitmukurS, dMaPn/MTs
P. Pantar

12 1989 8,1 LS & 125,1 BT RunT-uid1(pam1k1m,2e9t-ea,t21rek6dr,sa2)itma um Ju(tm1e.9lw73a58ath2e/s/4wk2/0lo.au10sr2kb6aa)n NTT dan P. alor
N13o T1a9h9u2n 8P,5uLsSat&G1e21m,9pBaT NDTTa, eFlroarhesBdeanncPa. nBaabi
14 1994 5,8 LS & 95,6 BT Banyuwangi (Jatim)

115 196961 85,2,8LLSS&&19252,6,0BBTT Tidak terdata 32//663 NTPTa, lFulo(rseusltTeenngg)ah
126 196964 05,5,8LLSS&&19356,6,0BBTT Tidak1t3e,7rdata 110170t/e4w79as P. BSiuamk (aPtaepraua)
137 196985 2,40 LS & 1264,09 BT Tidak2t,7e5rdata 7314 tteewwaass MTabluuknua, SMearalimabdua(nMSaalunkaun)a
148 12906070 30,67 LS & 119,39 BT Tidak t3erdata 458t/e1w0a0s TBinaanmggbauin(Sgu(lStuenlsge)l)
159 12900684 02,7,9LLSS&&19159,6,7BBTT 83-140 >21309.200te0wteaws as NTaAmDbdoa(mSuSltuemngu)t
260 12900695 23,0,16LLSS&&19178,0,81BBTT 31,05 Tida6k4t/e9r7data MaPjuenlaeu(NSuialsel)

271 21900776 191,4,1LLSS&&110178,2,5BBTT Tidak7t,e6rdata 636186 tewas NJaTwBadBaanraPtu, lJaauwSauTmenbgaawha
8 1977 8,0 LS & 125,3 BT Tidak terdata 2/25 NTTd,aFnloDreIsYodganyaPk. aArttaauro

292 21907079 48,6,47LLSS&&111051,9,3BBTT Tidak3t,e6rdata 27/-200 BeNnTgBk,uSlumdabnawSuam, Baatlei ra
dan LomBabroakt

10 1982 8,4 LS & 123,0 BT Tidak terdata 13/400 NTT, Larantuka

Su1m1 ber1: 9H8id7up a8k,4raLbSd&e1n2g4a,3nBgTempa daTnidtaskutneardmait.a 83/108 NTT, Flores Timur, dan
P. Pantar

12 1989 8,1 LS & 125,1 BT Tidak terdata 7 tewas NTT dan P. alor

13 1992 8,5 LS & 121,9 BT 11,2-26,2 1.952/2.126 NTT, Flores dan P. Babi

14 1994 5,8 LS & 95,6 BT 19,1 38/400 Banyuwangi (Jatim)

15 1996 5,8 LS & 95,6 BT Tidak terdata 3/63 Palu (sulteng)

16 1996 0,5 LS & 136,0 BT 13,7 107 tewas P. Biak (Papua)

17 1998 2,0 LS & 124,9 BT 2,75 34 tewas Tabuna Maliabu (Maluku)

18 2000 0,6 LS & 119,9 BT 3 4 tewas Banggai (Sulteng)

19 2004 2,9 LS & 95,6 BT 34 >210.000 tewas NAD dam Sumut

20 2005 2,06 LS & 97,01 BT 3,5 Tidak terdata Pulau Nias

21 2006 9,4 LS & 107,2 BT 7,6 668 tewas Jawa Barat, Jawa Tengah
dan DI Yogyakarta

22 2007 4,67 LS & 101,3 BT 3,6 - Bengkulu dan Sumatera
Barat

Sumber: Hidup akrab dengan gempa dan tsunami.

21

BAB III PENGURANGAN RISIKO TSUNAMI

3.1 Pengurangan Risiko Tsunami

Pengelolaan yang tidak baik dalam sumber daya alam dan sumber daya manusia
akan mengakibatkan terjadi bencana. Selain itu, kondisi alam dan keanekaragaman
penduduk dan budaya di Indonesia dapat juga menyebabkan terjadinya bencana
alam, bencana akibat ulah manusia, dan kedaruratan kompleks. Pada umumnya
risiko bencana alam meliputi bencana akibat faktor geologi (gempa bumi, tsunami
dan letusan gunung api), bencana akibat hidrometeorologi (banjir, tanah longsor,
kekeringan, angin topan), bencana akibat faktor biologi (wabah penyakit manusia,
penyakit tanaman/ternak, hama tanaman) serta kegagalan teknologi (kecelakaan
industri, kecelakaan transportasi, radiasi nuklir, pencemaran bahan kimia). Bencana
akibat ulah manusia terkait dengan konflik antar manusia akibat perebutan
sumberdaya yang terbatas, alasan ideologi, religius serta politik. Sedangkan
kedaruratan kompleks merupakan kombinasi dari situasi bencana pada suatu
daerah.
Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba maupun melalui proses yang
berlangsung secara perlahan. Beberapa jenis bencana seperti gempa bumi, hampir
tidak mungkin diperkirakan secara akurat kapan, dimana akan terjadi dan besaran
kekuatannya. Sedangkan beberapa bencana lainnya seperti banjir, tanah longsor,
kekeringan, letusan gunungapi, dan tsunami masih dapat diramalkan sebelumnya.
Meskipun demikian kejadian bencana selalu memberikan dampak kejutan dan
menimbulkan banyak kerugian baik jiwa maupun materi. Kejutan tersebut terjadi
karena kurangnya kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi ancaman
bahaya.
Secara umum terdapat peristiwa bencana yang terjadi berulang setiap tahun.
Bahkan sekarang ini peristiwa bencana menjadi lebih sering dan terjadi silih
berganti, misalnya dari kekeringan, kemudian kebakaran, lalu diikuti banjir.
Akibatnya muncul anggapan bahwa bencana tersebut sebagai sesuatu hal yang
memang harus terjadi. Padahal semua itu merupakan fenomena alamiah yang
melekat pada bumi dan timbulnya korban dan kerugian disebabkan oleh beberapa
faktor ketidaksiapan. Beberapa faktor tersebut adalah :

1. Kurangnya pemahaman terhadap karakteristik bahaya
2. Sikap atau perilaku yang mengakibatkan penurunan kualitas sumberdaya

alam

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

3. Kurangnya informasi/peringatan dini yang menyebabkan ketidaksiapan;
dan

4. Ketidakberdayaan/ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman
bahaya.

3.1.1 Bencana

Bencana merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-komponen,
ancaman, dan kerentanan bekerja bersama secara sistematis, sehingga
menyebabkan terjadinya risiko pada komunitas. Ancaman merupakan
kejadian-kejadian, gejala alam atau kegiatan manusia yang berpotensi untuk
menimbulkan kematian, luka-luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial
ekonomi atau kerusakan lingkungan. Kerentanan adalah kondisi-kondisi yang
ditentukan oleh faktor-faktor atau proses-proses fisik, sosial ekonomi dan
lingkungan hidup yang meningkatkan kerawanan suatu komunitas terhadap
dampak ancaman bencana. Risiko merupakan suatu peluang dari timbulnya
akibat buruk, atau kemungkinan kerugian dalam hal kematian, luka-luka,
kehilangan dan kerusakan harta benda, gangguan kegiatan mata pencaharian
dan ekonomi atau kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh interaksi
antara ancaman bencana dan kondisi kerentanan.
Dalam Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
menyebutkan bahwa bencana merupakan suatu peristiwa atau rangkaian
peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut ISDR bencana adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian
suatu masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada
kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang
melampaui kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi
dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri.
Adapun komponen yang berpengaruh terhadap besar kecilnya dampak suatu
bencana antara lain sebagai berikut: bahaya, kerentanan, risiko bencana, dan
kapasitas.

Terjadinya Bencana

Kejadian

Bahaya RISIKO BENCANA
Kerentanan BENCANA

Gambar 3.1 Proses terjadinya bencana

23

Pengurangan Risiko Tsunami

Berdasarkan sumber bencananya, terdapat tiga jenis bencana: (1) bencana
alam, yaitu bencana yang murni yang disebabkan oleh peristiwa alam,
contohnya gempa bumi, gunung meletus, angin puting beliung. (2) bencana
akibat ulah manusia, yaitu bencana yang disebabkan oleh kekhilapan manusia
seperti kebakaran dan kornsleting listrik. (3) bencana kompleks, yaitu bencana
yang diakibatkan oleh gabungan antara perilaku alam dan ulah manusia
sebagai contoh banjir akibat hujan diluar normal dan penggundulan hutan.
Bahaya
Dilihat dari potensi bencana yang ada, Indonesia merupakan negara dengan
potensi bencana yang sangat tinggi. Beberapa potensi bencana yang ada
antara lain adalah bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir,
tanah longsor, dan lain-lain. Potensi bencana yang ada di Indonesia dapat
dikelompokkan menjadi 2 kelompok utama, yaitu potensi bahaya utama
dan potensi bahaya ikutan. Potensi bahaya utama ini dapat dilihat antara lain
pada peta potensi bencana gempa di Indonesia yang menunjukkan bahwa
Indonesia adalah wilayah dengan zona-zona gempa yang rawan, peta potensi
bencana tanah longsor, peta potensi bencana letusan gunung api, peta potensi
bencana tsunami, peta potensi bencana banjir, dan lain-lain.

Gambar 3. 2: Wilayah di Asia yang terkena dampak tsunami 26 Desember 2004

Dari indikator-indikator di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia
memiliki potensi bahaya utama yang tinggi. Hal ini tentunya sangat tidak
menguntungkan bagi negara Indonesia.
Disamping tingginya potensi bahaya utama, Indonesia juga memiliki potensi
bahaya ikutan yang sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator
misalnya likuifaksi, persentase bangunan yang terbuat dari kayu, kepadatan
bangunan, dan kepadatan industri berbahaya. Potensi bahaya ikutan \ ini sangat
tinggi terutama di daerah perkotaan yang memiliki kepadatan, persentase
bangunan kayu (utamanya di daerah pemukiman kumuh perkotaan), dan
24

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

jumlah industri berbahaya, yang tinggi. Dengan indikator diatas, perkotaan
Indonesia merupakan wilayah dengan potensi bencana yang sangat tinggi.
3.1.2 Risiko Bencana, Konstruksi dari Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas

Epidemik,
4%

Banjir, 38 % Gempa,
31 %

Kebakaran, Kekeringan,
17 % 6%

Mass
movwet,
2% Letusan
Gunung Api,
3%

Gambar 3.3 Persentase Orang Terkena Bencana Berdasarkan Jenis Bencana

Gambar di atas menunjukkan persentase orang terkena bencana berdasarkan
jenis bencana di Indonesia antara kurun waktu 1980 – 2008. Kejadian bencana
di Indonesia terus meningkat sepanjang tahun. Ini membuktikan bahwa
Indonesia merupakan negara yang rapuh dalam menghadapi ancaman
bencana.
Perbedaan kemampuan dalam mengenali karakteristik bahaya membuat
besaran risiko yang mengena pada situasi bencana juga akan berbeda. Semakin
mampu untuk mengenali dan memahami fenomena bahaya itu dengan baik,
maka manusia akan semakin dapat mensikapinya dengan lebih baik. Sikap dan
tanggap yang didasarkan atas pengenalan dan pemahaman yang baik akan
dapat memperkecil risiko bencana. Kehancuran dahsyat yang terjadi akibat
gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatra Utara, serta DI Yogyakarta dan Jawa
Tengah, juga memunculkan kebingungan bagaimana harus mensikapinya;
hiruk pikuk di Alor dan Palu saat terjadi gempa menunjukkan betapa bangsa
Indonesia belum mampu dengan baik menghadapi ancaman bahaya yang
melingkupi.

25

Pengurangan Risiko Tsunami

Ancaman Bencana
Ancaman bencana seperti yang tertuang dalam UU No. 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana adalah suatu kejadian atau peristiwa
yang bisa menimbulkan bencana. Sedangkan menurut Dr. Krishna S. Pribadi
ancaman bencana merupakan:
1. Suatu peristiwa besar yang jarang terjadi, dalam lingkungan alam atau

lingkungan binaan, yang mempengaruhi kehidupan, harta atau kegiatan
manusia, sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan bencana.
2. Suatu fenomena alam atau buatan manusia yang dapat menimbulkan
kerugian fisik dan ekonomi atau mengancam jiwa manusia dan
kesejahteraannya, bila terjadi di suatu lingkungan permukiman, kegiatan
budi daya atau industri.
Ancaman bencana dapat bersifat membahayakan bagi suatu lingkungan
akibat kondisi lingkungan yang rentan.

Kerentanan
Kerentanan adalah seberapa besar suatu masyarakat, bangunan, pelayanan
atau suatu daerah akan mendapat kerusakan atau terganggu oleh dampak
suatu bahaya tertentu, bergantung kepada kondisinya, jenis konstruksi dan
kedekatannya kepada suatu daerah yang berbahaya atau rawan bencana.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerentanan tersebut adalah :
1. Institusi lokal yang lemah dalam membuat kebijakan dan peraturan serta

penegakan kebijakan tersebut, terutama terkait dengan penanggulangan
bencana dan upaya pengurangan risiko bencana, termasuk di dalamnya
adalah lemahnya aparat penegak hukum;
2. Kurangnya penyebaran informasi mengenai kebencanaan, baik melalui
penyuluhan, pelatihan serta keahlian khusus yang diperlukan dalam
upaya-upaya pengurangan risiko bencana; dan
3. Penduduk terkait dengan pertumbuhan penduduk yang sangat cepat.
Kenyataan menunjukkan kerentaan cukup tinggi dari masyarakat, infrastruktur
serta elemen-elemen di dalam kota/kawasan yang berisiko bencana. Karena
kurangnya pemahaman adanya bahaya sekitarnya, maka masyarakat dikatakan
rentan terhadap bencana. Bangunan dibantaran sungai, bangunan tepat di
lereng tempat mengairnya lahar gunung berapi, bangunan di tepi pantai,
bangunan yang permanen dan tidak tahan gempa dan lain-lain merupakan
contoh kerentaan suatu lingkungan

Kapasitas
Kapasitas adalah kemampuan dari masyarakat dalam menghadapi bencana.
Misalnya pengetahuan rendah, maka kapasitasnya rendah, contohnya:
1. Tidak tahu kalau di dekat rumahnya terdapat ancaman tanah longsor
2. Tidak tahu kalau membangun rumah di bantaran kali dapat

menyebabkan banjir
3. Tidak tahu kalau mengikis tebing untuk diambil tanahnya dapat

menyebabkan longsor,

26

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

4. Tidak tahu kalau menebang pohon tanpa mengganti dengan pohon baru
dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor

5. Tidak memiliki keterampilan bagaimana membuat rumah tahan gempa
6. Tidak memiliki keterampilan bagaimana meng-evakuasi kalau terjadi

gempa
7. Tidak memiliki keterampilan bagaimana menyelamatkan diri dan orang

lain ketika terjadi bencana, dan lain-lain.

3.1.3 Pengurangan Risiko Bencana
Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktik mengurangi risiko
bencana melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengelola faktor-
faktor penyebab dari bencana termasuk dengan dikuranginya paparan
terhadap ancaman, penurunan kerentanan manusia dan properti, pengelolaan
lahan dan lingkungan yang bijaksana, serta meningkatkan kesiapsiagaan
terhadap kejadian yang merugikan.

3.1.4 Upaya Pengurangan Risiko Bencana Mitigasi Bencana
Tujuan dari mitigasi bencana gempa bumi adalah untuk mengembangkan
strategi mitigasi yang dapat mengurangi hilangnya kehidupan dari alam
sekitarnya serta harta benda, penderitaan manusia, kerusakan ekonomi dan
biaya yang diperlukan untuk menangani korban bencana yang dihasilkan
oleh bencana gempa bumi. Rencana mitigasi bencana gempa bumi dapat
meningkatkan cara pandang yang luas dan terintegrasi terhadap sistem
pengurangan risiko bencana yang meliputi elemen-elemen berikut :
1. Identifikasi bencana dan kerentanannya serta evaluasi risiko bencana
tersebut.
2. Strategi pengurangan bencana yang bersumber dari wilayah dan dimiliki
oleh pemegang kebijakan.
3. Seperangkat peraturan, perundang-undangan dan regulasi yang
menyediakan kerangka kerja yang komprehensif untuk interaksi antara
berbagai organisasi dan institusi yang berbeda.
4. Mekanisme koordinasi institusi yang kuat.
5. Sistem yang solid untuk mengendalikan pemenuhan dan penguatan
kode dan standar untuk konstruksi bangunan yang aman.
6. Perencanaan dan tataguna lahan dan pemukiman yang menggabungkan
kepedulian akan bencana dan pengurangan risiko.
7. Penggunaan peralatan komunikasi untuk pengurangan risiko akibat
bencana yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
akan bencana, pendidikan, pelatihan dan penilaian.
8. Manajemen kesiapsiagaan dan kedaruratan berdasarkan pemahaman
risiko.
9. Kerjasama dan koordinasi antar instansi, antar kota, antar organisasi.
Dalam upaya mengurangi risiko bencana maka diperlukan kesiapsiagaan
yang lebih baik. Oleh karena itu siswa juga harus harus memahami pengertian

27

Pengurangan Risiko Tsunami

dari tsunami, sebab-sebab terjadinya, dampaknya, serta hal-hal apa saja yang
harus diperhatikan sebelum, saat dan setelah terjadinya tsunami tersebut.

Penanggulangan Bencana
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana, pasal 33-38, dinyatakan, bahwa:
Penyelenggaraan penanggulangan bencana terdiri atas 3 (tiga) tahap
meliputi:
1. prabencana;
2. saat tanggap darurat; dan
3. pasca bencana.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahapan prabencana
meliputi:
1. dalam situasi tidak terjadi bencana; dan
2. dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi tidak terjadi
bencana sebagaimana dimaksud meliputi:
1. perencanaan penanggulangan bencana;
2. pengurangan risiko bencana;
3. pencegahan;
4. pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
5. persyaratan analisis risiko bencana;
6. pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
7. pendidikan dan pelatihan; dan
8. persyaratan standar teknis penanggulangan bencana.
Perencanaan penanggulangan bencana meliputi:
1. pengenalan dan pengkajian ancaman bencana;
2. pemahaman tentang kerentanan masyarakat;
3. analisis kemungkinan dampak bencana;
4. pilihan tindakan pengurangan risiko bencana;
5. penentuan mekanisme kesiapan dan penanggulangan dampak bencana;

dan
6. alokasi tugas, kewenangan, dan sumber daya yang tersedia.
Pengurangan risiko bencana , dilakukan untuk mengurangi dampak buruk
yang mungkin timbul, terutama dilakukan dalam situasi sedang tidak terjadi
bencana. Kegiatan meliputi:
1. pengenalan dan pemantauan risiko bencana;
2. perencanaan partisipatif penanggulangan bencana;
3. pengembangan budaya sadar bencana;
4. peningkatan komitmen terhadap pelaku penanggulangan bencana; dan

28

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

5. penerapan upaya fisik, nonfisik, dan pengaturan penanggulangan
bencana.

Pencegahan meliputi:
1. Identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau

ancaman bencana;
2. kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang

secara tiba-tiba dan/atau berangsur berpotensi menjadi sumber bahaya
bencana;
3. pemantauan penggunaan teknologi yang secara tiba-tiba dan/atau
berangsur berpotensi menjadi sumber ancaman atau bahaya bencana;
4. penataan ruang dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
5. penguatan ketahanan sosial masyarakat.

Berdasarkan informasi dari Undang-undang tersebut, banyak hal yang dapat
diidentifikasi, dijadikan bahan pengayaan bagi guru, yang tidak diajarkan ke
siswa. Selain kompetensi yang harus dikuasai siswa tentu harus dikuasai guru,
sebaiknya kepala sekolah dan guru menambah kompetensi lainnya seperti:
1. menyusun Program untuk meningkatkan keamanan sekolah terhadap

Bencana.
2. menyusun rencana aksi sekolah, seperti.
3. perencanaan penanggulangan bencana;
4. pengurangan risiko bencana;
5. pencegahan;
6. pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
7. persyaratan analisis risiko bencana;
8. pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
9. Perencanaan penanggulangan bencana meliputi:

 pengenalan dan pengkajian ancaman bencana;
 pemahaman tentang kerentanan masyarakat;
 analisis kemungkinan dampak bencana;
 pilihan tindakan pengurangan risiko bencana;
 penentuan mekanisme kesiapan dan penanggulangan dampak

bencana; dan
 alokasi tugas, kewenangan, dan sumber daya yang tersedia.
10. Pengurangan risiko bencana , dilakukan untuk mengurangi dampak
buruk yang mungkin timbul, terutama dilakukan dalam situasi sedang
tidak terjadi bencana. Kegiatan meliputi:
 pengenalan dan pemantauan risiko bencana;
 perencanaan partisipatif penanggulangan bencana;
 pengembangan budaya sadar bencana;
 peningkatan komitmen terhadap pelaku penanggulangan bencana;

dan

29

Pengurangan Risiko Tsunami

 penerapan upaya fisik, nonfisik, dan pengaturan penanggulangan
bencana.

11. Pencegahan meliputi:
 identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau
ancaman bencana;
 kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam
yang secara tiba-tiba dan/atau berangsur berpotensi menjadi sumber
bahaya bencana;
 pemantauan penggunaan teknologi yang secara tiba-tiba dan/
atau berangsur berpotensi menjadi sumber ancaman atau bahaya
bencana;
 penataan ruang dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
 penguatan ketahanan sosial masyarakat.

3.2 Kesiapsiagaan

3.2.1 Tindakan sebelum terjadi tsunami
Penanggulangan bencana tsunami selama ini dilakukan oleh pemerintah
yang pelaksanaannya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah daerah
dengan organisasi-organisasi yang terkait dan masyarakat yang tertimpa
bencana. Seharusnya masyarakat dapat melakukan beberapa tindakan dalam
rangka pengurangan risiko bencana tsunami yaitu:
1. Hindari bertempat tinggal di daerah tepi pantai yang landai kurang
dari 10 meter dari permukaan laut. Berdasarkan penelitian, daerah ini
merupakan daerah yang mengalami kerusakan terparah akibat bencana
Tsunami, badai dan angin ribut.
2. Disarankan untuk menanam tanaman yang mampu menahan gelombang
seperti bakau, palem, ketapang, waru, beringin atau jenis lainnya
3. Ikuti tata guna lahan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat
4. Buat bangunan bertingkat dengan ruang aman di bagian atas
5. Bagian dinding yang lebar usahakan tidak sejajar dengan garis pantai
Selain itu, bencana dapat direduksi apabila masyarakat sadar dan siapsiaga
menghadapi bencana, caranya dengan mempersiapkan diri dengan cara:
1. Mempromosikan budaya pencegahan dan keselamatan menghuni di
kawasan ini.
2. Mempersiapkan rencana manajemen menghadapi bencana
3. Mendorong terbentuknya kepanitiaan dan gugus tugas di wilayah ini.
4. Mempersiapkan peralatan tepat guna untuk pelatihan bagi generasi
muda atau siswa dalam mereduksi terjadinya bencana.
5. Membiayai kegiatan-kegiatan yang mengarah pada reduksi terjadinya
bencana baik diakibatkan oleh alam maupun kegiatan manusia.
6. Mereduksi risiko melalui organisasi formil maupun non formil (pemerintah
dan swasta).

30

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs

Ada beberapa strategi perencanaan wilayah dalam rangka mencari solusi
rancangan untuk menghadapi bencana Tsunami, antara lain:
1. Dalam lingkup makro, pemilihan kegiatan untuk daerah tertentu harus

tepat, misalnya:
 perencanaan evakuasi dan jalur mitigasi. Bercermin dari kasus di

Banda Aceh dan Pangandaran maka dapat ditawarkan escape hill, jalur
mitigasi dan early warning system dan pengamatan visual ke laut.
 perencanaan zoning, yakni:
- defend artinya pantai dilengkapi dengan barrier untuk menahan
terjangan gelombang.
- retreat artinya menarik kegiatan menjauhi garis pantai, dan sepanjang
pantai ditanami dengan penghijauan yang berfungsi sebagai sabuk
hijau.
- accomodate artinya meletakkan kegiatan yang cocok di daerah garis
pantai, misalnya daerah ini dibuat tambak.
- counter attack artinya pantai dilengkapi denga sarana penghadang
gelombang mencocokkan aktivitas dengan kondisi pantai dan yang
terakhir menjauhkan kegiatan vital dari garis pantai.
2. Dalam lingkup mikro, ada beberapa alternatif antara lain:
 Menghindari daerah terpaan. Menghindari daerah bahaya tsunami,
adalah dengan metode penanggulangan yang paling efektif. Pada
perencanaan wilayah, hal ini mencakup penempatan bangunan dan
infrastruktur di bagian tapak yang tinggi atau menaikkan struktur
di atas terpaan tsunami atau menguatkan podium (tempat berpijak
bangunan).

Batas air

 Memperlambat arus air. Teknik memperlambat arus air termasuk
membuat penahan serta daya hancur gelombang. Hutan buatan yang
dirancang khusus, saluran air, jalur hijau, dapat memperlambat dan
menahan arus dan puing-puing yang dibawa ombak. Agar teknik ini
efektif harus ada perkiraan yang tepat dari terpaan yang akan terjadi.

31

Pengurangan Risiko Tsunami

Elemen Guna
Menghambat
Gelombang

 Membelokkan kekuatan air. Teknik pembelokkan kekuatan tsunami,
menjauh dari struktur bangunan yang lemah, yaitu dengan menata
struktur, melalui penggunaan tembok-tembok bersudut dan saluran
air, dan menggunakan permukaan dengan lapisan yang memudahkan
jalannya air.

Dinding
Bypass

 Menghambat terpaan air. Struktur kokoh seperti tembok, terasering
(penahan gundukkan/tanah curam berbentuk anak tangga) atau
jalur hijau, struktur parkir dan kontruksi lain yang kokoh dapat
menahan kekuatan gelombang. Menahan, bagaimanapun juga dapat
mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang ke arah lain.

Dinding
Penahan

Selain itu pengurangan risiko kerusakan akibat tsunami dapat
diperkecil bila: menyediakan jarak ruang yang maksimum antar
bangunan, meninggikan bangunan di atas batas ketinggian terpaan
banjir dan menempatkan akses-akses utama di luar area banjir, dan
jalan-jalan akses penunjang tegak lurus dengan tepi pantai.

3.2.2 Tindakan saat terjadi bencana.
Beberapa tindakan yang perlu dilakukan untuk menghindari bertambahnya jumlah
korban pada saat terjadi bencana akan diuraikan di bawah ini.

1. Tindakan untuk mengurangi kemungkinan risiko
Beberapa tindakan untuk mengurangi kemungkinan risiko yaitu:
 Mewujudkan keberdayaan individu, keluarga, komunitas, masyarakat,
dan negara; serta mengatasi ketidakberlanjutan pembangunan

32


Click to View FlipBook Version