Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
Membangun pondasi rasa aman yang segala kegiatannya mendorong
untuk ketercukupan kebutuhan dasar.
Membangun berbagai perangkat pengurangan risiko bencana (PRB)
dan kegiatan-kegiatan yang dapat mengurangi risiko bencana melalui
mencegah dan memitigasi bahaya, serta meredam kerentanan dari
ancaman
Seluruh kemampuan komunitas digunakan untuk menangani
ancaman. Sehingga tidak diperlukan bantuan eksternal karena
kemampuan yang ada dapat menanganinya
Mengidentifikasi, mengevaluasi, & memonitor risiko-risiko bencana
dan meningkatkan pemanfaatan peringatan dini
Menggunakan pengetahuan, inovasi, dan pendidikan untuk
membangun suatu budaya aman dan ketahanan pada semua
tingkatan
Mengurangi faktor-faktor risiko dasar
Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana dengan respon yang
efektif pada semua tingkatan
Selain itu, lakukanlah mengungsi dengan cepat, jika ada
pemberitahuan untuk mengungsi. Otoritas lokal tidak akan meminta
orang untuk meninggalkan tempat, jika memang sungguh-sungguh
keadaan belum dalam bahaya. Kita perlu menuruti nasehat mereka.
Selanjutnya, dengarkan radio dan televisi lokal dan ikuti instruksi dari
pejabat yang menangani keadaan darurat.
Pada saat terjadi bencana pakailah pakaian pelindung dan sepatu
yang kokoh. Karena wilayah bencana dan bekasnya berisi banyak
risiko. kuncilah rumah. jika kita hanya mempunyai waktu sedikit
seperti kasus tsunami, rebut kebutuhan yang telah disediakan dalam
kotak persediaan bencana dan pergilah.
Jangan lupa membawa kotak P3K, meliputi resep dokter, gigi palsu,
kacamata, dan alat bantu pendengar. kotak persedian bencana.
pakaian pengganti dan sleeping bag. Serta kunci mobil dan atau motor
(jika punya mobil/motor).
2. Penyelamatan Diri
Di dalam Ruangan
Cara-cara yang dilakukan untuk menyelamatkan diri pada saat tsunami
berlangsung apabila sedang berada di dalam ruangan:
- Jangan panik
- Segera berlari mencari tempat yang lebih tinggi
- Naik ke lantai yang lebih tinggi atau atap rumah .
- Tidak perlu menunggu peringatan tsunami
- Selamatkan diri anda, bukan barang anda
- Jangan hiraukan kerusakan di sekitar, teruslah mencari tempat yang
33
Pengurangan Risiko Tsunami
tinggi
- Tetaplah bertahan di daerah ketinggian sampai ada pemberitahuan
resmi dari pihak berwajib tentang keadaan aman
- Jika anda berpegangan atap rumah saat gelombang tsunami
berlangsung jangan membelakangi arah laut supaya terhindar dari
benturan benda benda yang dibawa - oleh gelombang.
- Anda dapat membalikan badan saat gelombang berbalik arah kembali
ke laut
- Tetap berpegangan kuat hingga gelombang benar-benar reda
Di luar Ruangan
Prinsip-prinsip sebagai cara untuk menyelamatkan diri pada saat tsunami
berlangsung apabila sedang berada di luar ruangan
- Jangan panik
- Bila sedang berada di pantai atau dekat laut dan merasakan bumi
bergetar,
- Segera berlari ke tempat yang tinggi dan jauh dari pantai.
- Naik ke lantai yang lebih tinggi, atap rumah atau memanjat pohon.
- Tidak perlu menunggu peringatan Tsunami
- Tsunami dapat muncul melalui sungai dekat laut, jadi jangan berada
di sekitarnya
- Selamatkan diri anda, bukan barang anda
- Jangan hiraukan kerusakan di sekitar, teruslah berlari
- Jika terseret tsunami, carilah benda terapung yang dapat digunakan
sebagai rakit
- Selamatkan diri melalui jalur evakuasi tsunami ke tempat evakuasi
yang sudah disepakati bersama
- Tetaplah bertahan di daerah ketinggian sampai ada pemberitahuan
resmi dari pihak berwajib tentang keadaan aman
- Jika anda berpegangan pada pohon saat gelombang tsunami
berlangsung jangan membelakangi arah laut supaya terhindar dari
benturan benda benda yang dibawa oleh gelombang.
- Anda dapat membalikan badan saat gelombang berbalik arah kembali
ke laut
- Tetap berpegangan kuat hingga gelombang benar-benar reda
Di dalam Gedung Bertingkat
Beberapa tindakan yang dilakukan untuk menyelamatkan diri pada saat
tsunami berlangsung apabila sedang berada di dalam gedung bertingkat:
- Jangan panik
- Segera berlari menuju lantai yang paling tinggi
- Naik ke lantai yang lebih tinggi atau atap gedung.
34
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
- Tidak perlu menunggu peringatan tsunami
- Selamatkan diri anda, bukan barang anda
- Jangan hiraukan kerusakan di sekitar, teruslah menuju lantai yang
tertinggi
- Tetaplah bertahan sampai ada pemberitahuan resmi dari pihak
berwajib tentang keadaan aman
- Jika anda berpegangan pada sesuatu balok atau kayu di lantai
gedung tersebut saat gelombang tsunami berlangsung, jangan
membelakangi arah laut supaya terhindar dari benturan benda benda
yang dibawa oleh gelombang.
- Anda dapat membalikan badan saat gelombang berbalik arah kembali
ke laut
- Tetap berpegangan kuat hingga gelombang benar-benar reda
3.2.3 Tindakan Sesudah Terjadi Bencana
Segera setelah bencana tsunami menimpa, masyarakat dari berbagai
daerah di sekitar bencana dan dari daerah-daerah yang jauh bahkan dari
luar negeri berbondong-bondong mendatangi daerah-daerah bencana
untuk memberikan bantuan darurat serta membantu membersihkan
puing, mendirikan tenda dan MCK darurat dan mengerjakan apa saja untuk
mengurangi penderitaan mereka yang selamat.
Tidak ada satu kelompok atau satu organisasi tunggal yang dapat menangani
keseluruhan akibat bencana. Karena bencana merupakan permasalahan
kompleks yang menuntut adanya penanganan kolektif yang melibatkan
berbagai disiplin dan kelompok kelembagaan yang berbeda – dengan kata lain,
melalui kemitraan. Ini merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan.
Masyarakat harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya langkah-langkah yang
harus dilakukan setelah bencana tsunami terjadi dengan cara:
1. kapasitas untuk mengelola selama kejadian-kejadian yang mendatangkan
malapetaka
2. kapasitas untuk memulihkan diri setelah bencana tsunami
3. kapasitas untuk menyerap tekanan atau kekuatan-kekuatan yang
menghancurkan, melalui perlawanan atau adaptasi
Masyarakat perlu memperkuat kapasitas mereka, karena tidak ada masyarakat
yang sepenuhnya aman dari bahaya alam ataupun bahaya-bahaya terkait
kegiatan manusia. Masyarakat merupakan sesuatu yang kompleks dan
seringkali tidak berbentuk satu kesatuan. Di antara orang-orang yang tinggal
di suatu daerah yang sama ada perbedaan-perbedaan dalam hal kekayaan,
status sosial dan pekerjaan, dan mungkin pula ada pembagian-pembagian
35
Pengurangan Risiko Tsunami
lain yang lebih serius di dalam masyarakat.
1. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan setelah tsunami berlalu
yaitu:
Hindari instalasi listrik bertegangan tinggi dan laporkan jika
menemukan kerusakan kepada PLN
Hindari memasuki wilayah kerusakan kecuali setelah dinyatakan aman
Jauhi reruntuhan bangunan
Laporkan diri ke lembaga pemerintah, lembaga adat atau lembaga
keagamaan
Upayakan penampungan sendiri kalau memungkinkan. Ajaklah
sesama warga untuk melakukan kegiatan yang positif. Misalnya
mengubur jenazah, mengumpulkan benda-benda yang dapat
digunakan kembali, sembahyang bersama, dan lain sebagainya.
Tindakan ini akan dapat menolong kita untuk segera bangkit, dan
membangun kembali kehidupan
Bila diperlukan, carilah bantuan dan bekerja sama dengan sesama
serta lembaga pemerintah, adat, keagamaan atau lembaga swadaya
masyarakat
Ceritakan tentang bencana ini kepada keluarga, anak, dan teman anda
untuk memberikan pengetahuan yang jelas dan tepat. Ceritakan juga
apa yang harus dilakukan bila ada tanda-tanda tsunami akan datang.
Tenang dan sabar. Tetap tenang dan berpikir rasional akan membantu
menyelamatkan kita dan terhindar dari tindakan yang tidak masuk
akal. Biasanya banyak orang yang akan mencari pemenuhan
kebutuhan untuk keselamatan keluarganya sendiri. Kesabaran akan
membantu semua orang terbebas dari situasi sulit dengan mudah.
Mendengarkan radio dan televisi lokal yang memberitakan informasi
dan instruksi. Otoritas lokal akan menyediakan jalan keluar yang
sesuai dengan situasi terakhir.
Memeriksa luka-luka. Memberi bantuan P3K untuk diri sendiri dan
kemudian membantu orang lain sampai mendapat bantuan.
Membantu tetangga yang memerlukan bantuan khusus – bayi, orang
jompo, orang dengan kecacatan – dan orang lain yang membutuhkan
bantuan.
Melihat kemungkinan kerusakan di rumah. Bencana dapat
menyebabkan kerusakan yang besar karenanya kita harus berhati-hati.
Menggunakan lampu senter atau lentera yang menggunakan baterei.
Menghindari penggunaan lilin. Lilin dapat menyebabkan kebakaran.
Memeriksa saluran listrik dan gas yang dapat mengakibatkan
kebakaran.
Memeriksa bagian bangunan yang dianggap rawan untuk segera
dirobohkan.
Mengambil gambar dari kerusakan untuk kebutuhan klaim asuransi.
36
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
Hubungi anggota keluarga lain untuk pemberitahuan.
Yakin kita mempunyai persediaan air yang cukup, jika aliran air
terputus, karena air mudah tercemar pada saat terjadi bencana.
2. Menjalin Kerjasama
Penanggulangan bencana tsunami hendaknya menjadi tanggung jawab
bersama antara masyarakat dan pemerintah serta pihak-pihak terkait.
Kerjasama ini sangat penting untuk memperlancar proses penanggulangan
bencana. Dalam setiap kejadian bencana di Indonesia ada beberapa pihak
yang bekerja sama dalam melakukan usaha-usaha penanganannya. Adalah
hak masyarakat untuk menghubungi instansi terkait ini karena keberadaan
pihak-pihak ini adalah untuk mendampingi masyarakat dalam usaha
penanggulangan bencana. Hubungan dengan pihak-pihak ini sebaiknya
dijalin dalam tahap sebelum bencana, saat bencana dan setelah bencana.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, masyarakat bisa mendapatkan pelatihan
dan bantuan dari instansi/organisasi dibawah ini :
Dinas Sosial : Adalah instansi Pemerintah yang menangani bidang
kesejahteraan dalam membantu masyakakat yang dilanda bencana.
Tentara Nasional Indonesia (TNI) : Bisa memberi pelatihan kepada
masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang operasi di
lapangan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG): Adalah instansi
Pemerintah yang memberi informasi tentang perkembangan cuaca,
gempa bumi dan kegiatan gunung berapi.
Search and Rescue (SAR): Adalah lembaga yang bertugas dalam hal
melakukan pencarian, pertolongan dan penyelamatan terhadap orang
yang mengalami musibah atau diperkirakan hilang dalam suatu bencana.
Rumah Sakit (Unit Gawat Darurat): Adalah instansi pemerintah
maupun swasta yang memiliki kapasitas/kewenangan dalam hal
pelayanan kesehatan masyarakat luas. Dalam hal penanganan bencana,
rumah sakit melakukan penanganan korban bencana baik dalam
penanganan penderita gawat darurat maupun tindakan-tindakan
perawatan korban bencana secara berkelanjutan.
Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat): Adalah instansi pemerintah
yang memiliki tugas untuk memberikan pelayanan kesehatan di tingkat
lapisan masyarakat terkecil, dan instansi ini memiliki kemampuan untuk
melakukan tindakan-tindakan penanganan penderita gawat darurat
sebelum dilakukan evakuasi selanjutnya ke rumah sakit.
Polisi Daerah: Adalah instansi pemerintah yang memiliki kewenangan
dalam hal keamanan dan ketertiban masyarakat sekaligus memiliki fungsi
sebagai pihak yang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat darurat
dalam penanganan bencana di masyarakat. Instansi kepolisian biasanya
ada di setiap tingkatan masyarakat hingga yang terkecil.
Hansip/Linmas: adalah kelompok masyarakat yang ditugaskan untuk
membantu tugas kepolisian dalam melakukan pengamanan wilayah
37
Pengurangan Risiko Tsunami
domisili tugas mereka. Kelompok ini terdiri dari anggota-anggota
masyarakat terpilih dan dipercayai untuk melakukan pengawasan
terhadap keamanan dan ketertiban wilayah.
Palang Merah Indonesia (PMI): Adalah lembaga yang bertugas untuk
membantu masyarakat dalam meringankan penderitaan masyarakat
yang dilanda bencana.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) : LSM lokal bisa bekerja sama
dengan masyarakat dalam menanggulangi bencana dan membantu
masyarakat untuk membina hubungan ke luar.
Media Massa: Media Massa Cetak maupun Elektronik (televisi dan radio)
bisa menyebarkan berita tentang bencana dan bisa membantu untuk
mencari bantuan.
Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB): Terdiri atas
anggota-anggota masyarakat yang pembentukannya adalah hasil dari
keputusan masyarakat bersama.
Satkorlak/Satlak/BPBD: badan pemerintah daerah yang melakukan
penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah.
BNPB: lembaga pemerintah non-departemen sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
38
MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN BAB IV
RISIKO TSUNAMI
4.1 Identifikasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
Muatan Pendidikan PRB untuk siswa SMP/MTs disusun dengan mempertimbangkan
Hal-hal sebagai berikut :
1. Kepentingan dan kemampuan peserta didik dan lingkungannya
Muatan pendidikan PRB dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta
didik memiliki peluang atau kesempatan untuk selamat dan membantu orang
lain agar selamat ketika Tsunami terjadi. Untuk mendukung pencapaian tujuan
tersebut perlu peningkatan kompetensi/kapasitas peserta didik disesuaikan
dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik
serta tuntutan lingkungan, termasuk kearifan lokal yang dimiliki masyarakat
dalam lingkungan tersebut. Kegiatan pembelajaran PRB berpusat pada
peserta didik.
2. Keragaman risiko bahaya dan karakteristik daerah dan lingkungan
Setiap daerah memiliki risiko, kebutuhan, tantangan, dan keragaman
karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan PRB
sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh
karena itu, kurikulum harus mengakomodir keragaman tersebut yang relevan
dengan kebutuhan pendidikan PRB.
3. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
Pengembangan muatan pendidikan PRB dilakukan dengan memperhatikan
karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian
keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat
diperlukan, termasuk kearipan lokal yang ada.
4. Peningkatan kesadaran akan adanya risiko bencana akibat tsunami
Muatan pendidikan PRB dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan
kesadaran siswa akan adanya risiko bahaya tsunami. Untuk itu diperlukan
pengetahuan dan pemahaman terjadinya tsunami, hal-hal yang terjadi ketika
dan setelah tsunami.
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
5. Peningkatan kompetensi/kapasitas diri agar dapat mengurangi
bahaya bencana yang diakibatkan tsunami
Pendidikan PRB dilakukan secara sistematik dan terpadu dengan pendidikan
mata pelajaran lain, untuk meningkatkan kompetensi siswa secara holistik
yang memungkinkan potensi diri (efektif, kognitif, psikomotor) berkembang
secara optimal, agar selamat ketika tsunami terjadi. Sejalan dengan itu,
kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan,
minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta
didik.
6. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi muatan pendidikan PRB mencakup keseluruhan dimensi kompetensi
yang diperlukan, dimensi kognitif, psikomotor dan afektif.
7. Belajar sepanjang hayat
Pengembangan muatan pendidikan PRB diarahkan kepada proses
pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat.
Adapun materi pembelajaran pengurangan risiko tsunami untuk setiap
jenjang kelas adalah sebagai berikut:
A. Identi kasi Materi PeTmabbeel l4a.1jaMraatnerPi PeenmgbuerlaajanrganaPneRrjuisainkgoanTsRuisnikaomTsui nami
MATERI PEMBELAJARAN KELAS
Sebelum bencana VII
Mendengarkan berita
Wujud zat
Gejala alam
Lingkungan kehidupan manusia
Latihan kebugaran jasmani
Teknik dasar renang
Saat terjadi bencana
Gejala alam
Kebugaran jasmani
Perkemahan dan dasar-dasar penyelamatan
Setelah terjadi bencana
Menulis buku harian dan surat pribadi
Usaha manusia untuk mengenali perkembangan linngkungannya
Teknil dasar permainan
Perkemahan dan dasar-dasar penyelamatan
Budaya hidup sehat
40
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
MATERI PEMBELAJARAN KELAS
VIII
Sebelum bencana
Memahami isi berita dari radio/ televisi IX
Usaha, gaya, dan energi
Gelombang
Latihan kebugaran jasmani
Teknik dasar renang
Saat terjadi bencana
Usaha, gaya, dan energi
Gelombang
Kebugaran jasmani
Penjelajahan di sekitar
Setelah terjadi bencana
Mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman,
teks berita, slogan/ poster
Pesawat sederhana
Teknil dasar permainan
Penjelajahan di sekitar
Budaya hidup sehat
Sebelum bencana
Proses-proses khusus di lapisan bumi
Hubungan manusia dengan bumi
Latihan kebugaran jasmani
Teknik dasar renang
Saat terjadi bencana
Kebugaran jasmani
Penjelajahan dan penyelamatan di alam bebas
Setelah terjadi bencana
Hubungan manusia dengan bumi
Teknik dasar permainan
Penjelajahan dan penyelamatan di alam bebas
Budaya hidup sehat
41
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
4.2 Pemetaan Indikator Siswa
Kompetensitersebutdapatdielaborasikedalamindikator-indikatorsebagaiberikut :
Tabel 4.2 Indikator Prilaku Siswa Untuk Pembelajaran
B. Pemetaan Indikator Siswa
Kompetensi tersebut dapat diePleanbgourarasni kgeandaRlaismikoinTdsiuknaatomr-iindikator sebagai berikut :
KELAS MATERI INDIKATOR PERILAKU SISWA
(2) PEMBELAJARAN (3)
(1)
Mendengarkan berita Menjelaskan pengertian tsunami
Wujud zat Menjelaskan penyebab terjadinya tsunami
Gejala alam Menunjukkan peristiwa tsunami yang
Lingkungan kehidupan
pernah terjadi di Indonesia
manusia Menunjukkan lokasi tsunami yang pernah
Latihan kebugaran jasmani
Teknik dasar renang terjadi di Indonesia
Perkemahan dan dasar- Menjelaskan yang dimaksud dengan
dasar penyelamatan longsoran lempeng bawah laut
Menulis buku harian dan Menjelaskan yang dimaksud dengan
surat pribadi gempa bumi di bawah laut
Usaha manusia untuk Menentukan hubungan tsunami dengan
mengenali perkembangan gempa
lingkungannya Menjelaskan bahwa Indonesia rawan
Teknil dasar permainan
Budaya hidup sehat bencana tsunami
Menentukan akibat yang ditimbulkan
oleh tsunami
Menjelaskan berbagai tips mengurangi
risiko tsunami
Menceritakan rasanya mengalami bencana
tsunami
Menjelaskan cara gelombang tsunami
merambat
Menunjukkan cara menolong korban
tsunami
Memahami isi berita dari Menjelaskan pengertian tsunami
radio/ televisi Menjelaskan penyebab terjadinya tsunami
Menunjukkan peristiwa tsunami yang
Usaha, gaya, dan energi
Gelombang pernah terjadi di Indonesia
Latihan kebugaran jasmani Menunjukkan lokasi tsunami yang pernah
Teknik dasar renang
Penjelajahan di sekitar terjadi di Indonesia
Mengungkapkan informasi Menjelaskan yang dimaksud dengan
dalam bentuk rangkuman, longsoran lempeng bawah laut
teks berita, slogan/ poster Menjelaskan yang dimaksud dengan
Pesawat sederhana
Teknil dasar permainan gempa bumi di bawah laut
Budaya hidup sehat Menentukan hubungan tsunami dengan
gempa
Menjelaskan bahwa Indonesia rawan
bencana tsunami
Menentukan akibat yang ditimbulkan
oleh tsunami
Menjelaskan berbagai tips mengurangi
risiko tsunami
Menceritakan rasanya mengalami bencana
tsunami
Menjelaskan cara gelombang tsunami
merambat
Menunjukkan cara menolong korban
tsunami
42
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
KELAS MATERI INDIKATOR PERILAKU SISWA
(2) PEMBELAJARAN
(3)
(1) Menentukan hubungan tsunami dengan
Proses-proses khusus di
gempa
lapisan bumi Menjelaskan bahwa Indonesia rawan
Hubungan manusia dengan
bencana tsunami
bumi Menentukan akibat yang ditimbulkan
Latihan kebugaran jasmani
Teknik dasar renang oleh tsunami
Penjelajahan dan Menjelaskan berbagai tips mengurangi
penyelamatan di alam bebas risiko tsunami
Teknil dasar permainan Menceritakan rasanya mengalami bencana
Budaya hidup sehat
tsunami
Menjelaskan cara gelombang tsunami
merambat
Menunjukkan cara menolong korban
tsunami
4.3 Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar
Terapan pendidikan kesiapsiagaan bencana maupun pendidikan bencana, bermuara
pada (1) Pemahaman tentang bencana, (2) Pemahaman tentang kerentanan, (3)
Pemahaman tentang kerentanan fisik dan fasilitas-fasilitas penting untuk keadaan
darurat bencana, dan (4) Sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana.
Tujuan pendidikan pengurangan risiko bencana, dalam pelaksanaan di sekolah
perlu dijabarkan menjadi indikator perilaku siswa. Penetapan indikator perilaku
siswa dalam pengurangan risiko bencana mempertimbangan beberapa aspek,
yaitu:
1. Perkembangan psikologis anak, diperlukan terutama dalam menentukan isi/
materi yang diberikan kepada anak agar tingkat keluasan dan kedalamannya
sesuai dengan tahap perkembangan anak dan peristiwa bencana yang dialami
oleh anak.
2. Berbasis lingkungan, dengan mengutamakan nilai-nilai kearifan lokal. Ini
mempunyai makna bahwa siswa diajak untuk bersahabat dengan alam
lingkungan sekitar yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.
3. Mempunyai nilai aplikatif yang tinggi, karena siswa bisa langsung menerapkan
pengetahuan dan keterampilan dasar yang benar-benar diperlukan pada saat
bencana maupun tanggap darurat.
Adapun pendekatan yang dapat dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran PRB,
agar lebih menyenangkan siswa, sebaiknya digunakan pendekatan dan simulasi,
serta pendekatan dan metode lainnya jika diperlukan. Pendidikan pengurangan
risiko bencana adalah sebuah proses pembelajran bersama yang bersifat interakitf
di tengah masyarakat dan lembaga-lembaga yang ada. Cakupan pendidikan
pengurangan risiko bencana lebih luas daripada pendidikan formal di sekolah dan
universitas. Termasuk di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan kearifan
tradisional dan pengetahuan terhadap bencana (UN-ISDR).
Pengintegrasian materi ajar PRB di dalam kurikulum harus dikembangkan
berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan KTSP. Oleh karena itu perlu adanya
kajian terhadap mata pelajaran-mata pelajaran yang dapat dikembangkan dengan
materi ajar PRB gempa bumi.
43
BAB V PENGINTEGRASIAN MATERI POKOK
PENGURANGAN RISIKO TSUNAMI KE
DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN
PENDIDIKAN MENENGAH (SMP/MTS)
Integrasi pendidikan pengurangan risiko bencana kedalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) dimaknai sebagai menggabungkan muatan pendidikan
PRB dan muatan KTSP, atau memasukkan muatan pendidikan PRB dalam
muatan KTSP. Pengintegrasian pendidikan PRB dilakukan dengan memperhatikan
keterpaduan dan kesinambungan muatan pendidikan PRB dan muatan KTSP
(termasuk program ekstra kurikuler yang dimiliki sekolah), sumber daya yang
dimiliki untuk melaksanakan pendidikan PRB. Pengintegrasian muatan pendidikan
PRB dapat dilakukan dengan muatan mata pelajaran pokok, mata pelajaran muatan
lokal, dan/atau program ekstra kurikuler. Pengintegrasian dilakukan secara terpadu
sehingga menyatu, saling terkait dan berkesinambungan secara harmonis.
Pengintegrasian dilakukan dengan mempertimbangkan muatan pendidikan PRB,
standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran pokok dan muatan lokal,
objek kajian mata pelajaran pokok, program pembiasaan, dan/ atau ketersediaan
sumber daya guru yang akan melaksanakannya. Cara pengintegrasian yang dipilih
mempunyai implikasi tuntutan pengerjaan administratif yang berbeda-beda
sebelum pelaksanaan pendidikan PRB dilakukan.
Pengintegrasian pendidikan PRB ada baiknya dilakukan secara terpadu dan
menyeluruh kepada salah satu cara berikut: mata pelajaran pokok, muatan lokal,
atau kegiatan ekstra kurikuler. Agar perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi mudah
dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Selanjutnya adalah, bila muatan pendidikan PRB dintegrasikan dengan muatan
mata pelajaran, merumuskan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar muatan
Pendidikan PRB. Membuat perencanaan pembelajaran dan evaluasi muatan
Pendidikan PRB atas dasar SK dan KD muatan Pendidikan PRB kedalam silabus
dan RPP. Bila muatan Pendidikan PRB diintegrasikan dengan Program Pembiasaan,
maka selanjutnya adalah menyusun program pelaksanaan muatan Pendidikan PRB
tersebut.
Permen Diknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses mengamanatkan bahwa
proses pembelajaran untuk mencapai KD dilakukan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
Selain itu, proses pembelajaran juga harus menggunakan metode yang disesuaikan
dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses
eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
Berbagai model pembelajaran dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar
agar anak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Untuk itu, guru perlu mengupayakan kegiatan pembelajaran
tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dapat diberikan pada siswa adalah
model pembelajaran terintegrasi.
Pembelajaran integrasi yang memasukkan materi tertentu ke dalam suatu bidang
studi dengan menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan, diharapkan akan
dapat memotivasi anak dalam belajar dan memberikan pengetahuan, sikap, atau
keterampilan yang bermakna bagi anak.
Terdapat beberapa alternatif cara mengitegrasikan pendidikan PRB kedalam
kurikulum satuan pendidikan. Pertama adalah mengintegrasikanmuatanpendidikan
PRB kedalam mata pelajaran pokok. Kedua adalah mengintegrasikan muatan
pendidikan PRB kedalam mata muatan Lokal. Ketiga adalah mengintegrasikan
muatan pendidikan PRB kedalam kegiatan ekstra kurikuler. Keempat adalah
mengintegrasikan secara lintas mata pelajaran, atau kedalam beberapa mata
pelajaran pokok, mata pelajaran muatan lokal, dan/atau kegiatan ekstra kurikuler.
5.1 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami dalam Mata
Pelajaran
Tahapan dalam pengintegrasian materi PRB terhadap mata pelajaran di tingkat
SMP/MTs sebagai berikut :
1 Identifikasi Materi Pembelajaran tentang PRB
Konsep mengenai pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dapat
diintegrasikan ke dalam mata pelajaran pokok dalam kurikulum, diantaranya:
IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan jasmani.
2 Analisis KD yang Memungkinkan dapat diintegrasikan dengan PRB
Kompetensi-kompetensi dasar yang terdapat pada KTSP dapat diintegrasikan
dengan materi PRB dalam bentuk model KTSP daerah bencana. Model ini
disusun sesuai dengan kondisi, kebutuhan, potensi, dan karakteristik satuan
pendidikan dan peserta didik di daerah bencana yang diharapkan dapat
digunakan sebagai acuan atau referensi bagi satuan pendidikan di daerah lain
yang punya karakteristik yang sama.
Setelah kurikulum, bahan ajar sebagai acuan yang lebih operasional dalam
melaksanakan pembelajaran di sekolah, merupakan komponen yang sangat
berperan dalam memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai
bencana dan kesiapsiagaan bencana terhadap warga negara, khsusnya
peserta didik.
45
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah (SMP/MTs)
Melalui bahan ajar yang disusun pada pembelajaran tematik dan di setiap
mata pelajaran dapat diintegrasikan mengenai jenis-jenis bencana beserta
penyebabnya, usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam menghindari
terjadinya beberapa bencana, apa yang harus dilakukan ketika terjadi
bencana, dampak yang ditimbulkan oleh bencana dan usaha-usaha yang
dalam mengurangi dampak tersebut, apa yang dilakukan setelah bencana itu
terjadi, dan lain-lain.
3 Menyusun Silabus yang Terintegrasi PRB
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator,
penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar yang diintegrasikan
dengan nilai-nilai pengurangan risiko bencana (PRB).
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar
ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Silabus Integrasi PRB dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-
masing sekolah dan jenis ancaman bencana yang rentan di wilayahnya.
Langkah-langkah penyusunan silabus yang mengintegrasikan PRB diantaranya
adalah sebagai berikut.
1. Mengkaji dan menentukan Standar Kompetensi (SK) yang dapat
diintegrasikan dengan PRB.
2. Mengkaji dan menentukan Kompetensi Dasar (KD) yang sesuai dengan SK
yang diintegrasikan.
3. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi (dengan mengacu pada
SK dan KD).
4. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran yang sesuai dengan PRB
tsunami.
5. Mengembangkan kegiatan pembelajaran berintegrasi PBR tsunami,
seperti penyampaian informasi bahaya tsunami, simulasi penyelamatan
diri, pertolongan pertama, dan lainnya.
6. Menentukan Jenis Penilaian.
7. Menentukan Alokasi Waktu.
8. Menentukan Sumber Belajar yang berhubungan dengan PRB tsunami.
4. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pembelajaran merupakan langkah awal dari suatu menejemen
pembelajaran yang berisi kebijakan strategis tentang pelaksanaan
pembelajaran yang akan dilakukan. Dalam rencana pembelajaran selalu
terdapat komponen yang saling berkaitan yaitu tujuan, bahan ajar, metode/
teknik, media, alat evaluasi, dan penjadwalan setiap langkah kegiatan.
Komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan diintegrasikan dengan
nilai-nilai usaha pengurangan risiko bencana (PRB).
RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali
pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap
46
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. RPP
yang terintegrasi PRB tsunami disusun sesuai dengan KD yang relevan dengan
materi ajar PRB tsunami.
Untuk lebih jelasnya, tahapan pengintegrasian dijelaskan sebagai berikut.
5.1.1 Identifikasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
Setelah dianalisis, pengurangan risiko tsunami dapat diintegrasikan
pada beberapa mata pelajaran. Pemetaan materi pembelajaran untuk
pengintegrasian pengurangan risiko Tsunami adalah sebagai berikut.
Tabel 5.1: Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
A. Identi kasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Tsunami
MATERI PEMBELAJARAN KELAS
Sebelum bencana VII
Mendengarkan berita
Wujud zat
Gejala alam
Lingkungan kehidupan manusia
Latihan kebugaran jasmani
Teknik dasar renang
Saat terjadi bencana
Gejala alam
Kebugaran jasmani
Perkemahan dan dasar-dasar penyelamatan
Setelah terjadi bencana
Menulis buku harian dan surat pribadi
Usaha manusia untuk mengenali perkembangan linngkungannya
Teknil dasar permainan
Perkemahan dan dasar-dasar penyelamatan
Budaya hidup sehat
47
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami KELAS
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah (SMP/MTs) VIII
MATERI PEMBELAJARAN IX
Sebelum bencana
Memahami isi berita dari radio/ televisi
Usaha, gaya, dan energi
Gelombang
Latihan kebugaran jasmani
Teknik dasar renang
Saat terjadi bencana
Usaha, gaya, dan energi
Gelombang
Kebugaran jasmani
Penjelajahan di sekitar
Setelah terjadi bencana
Mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman,
teks berita, slogan/ poster
Pesawat sederhana
Teknil dasar permainan
Penjelajahan di sekitar
Budaya hidup sehat
Sebelum bencana
Proses-proses khusus di lapisan bumi
Hubungan manusia dengan bumi
Latihan kebugaran jasmani
Teknik dasar renang
Saat terjadi bencana
Kebugaran jasmani
Penjelajahan dan penyelamatan di alam bebas
Setelah terjadi bencana
Hubungan manusia dengan bumi
Teknik dasar permainan
Penjelajahan dan penyelamatan di alam bebas
Budaya hidup sehat
5.1.2 Analisis Kompetensi Dasar (KD) yang dapat diintegrasikan
Berikut adalah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk beberapa
Mata Pelajaran di tingkat satuan pendidikan menengah (SMP/MTs) yang dapat
diintegrasikan dengan materi pengurangan risiko tsunami.
48
Tabel 5.2 Pemetaan SK-K D ke dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, IPS,dan Pendidikan Jasmani
KELAS MATERI INDIKATOR PERILAKU SISWA MATA STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
PEMBELAJARAN PELAJARAN
(2) (1) (3) (4) (5) (6)
7 Wujud zat. Menjelaskan yang dimaksud dengan IPA 3. Memahami wujud zat dan 3.1 Menyelidiki sifat-sifat zat
Gejala alam. longsoran lempeng bawah laut. perubahannya. berdasarkan wujudnya dan
penerapannya dalam kehidupan
Menjelaskan yang dimaksud dengan sehari-hari.
gempa bumi di bawah laut. 3.2 Mendeskripsikan konsep massa
jenis dalam kehidupan sehari-hari.
Menentukan hubungan tsunami
dengan gempa. 5. Memahami gejala-gejala 5.2 Menganalisis data percobaan
alam melalui pengamatan. gerak lurus beraturan dan gerak
Menjelaskan bahwa Indonesia rawan lurus berubah beraturan serta
bencana tsunami. penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari.
Menentukan akibat yang ditimbulkan
oleh tsunami.
Menjelaskan cara gelombang tsunami
merambat.
Lingkungan Menjelaskan penyebab terjadinya IPS 1. Memahami lingkungan 1.1 Mendeskripsikan keragaman
kehidupan manusia. bentuk muka bumi, proses
kehidupan tsunami. pembentukan, dan dampaknya
manusia. Menunjukkan peristiwa tsunami yang
Usaha manusia pernah terjadi di Indonesia. terhadap kehidupan.
untuk mengenali Menunjukkan lokasi tsunami yang 4. Memahami usaha manusia 4.1 Menggunakan peta, atlas, dan
perkembangan pernah terjadi di Indonesia.
lingkungannya. Menjelaskan bahwa Indonesia rawan untuk mengenali globe untuk mendapatkan
perkembangan informasi keruangan.
bencana tsunami. lingkungannya. 4.2 Membuat sketsa dan peta wilayah
Menentukan akibat yang ditimbulkan
oleh tsunami. yang menggambarkan objek
geogra .
Menjelaskan berbagai tips mengurangi 4.3 Mendeskripsikan kondisi geogra s
risiko tsunami.
dan penduduk.
4.4 Mendeskripsikan gejala-gejala
yang terjadi di atmosfer dan
hidrosfer, serta dampaknya
terhadap kehidupan.
KELAS MATERI INDIKATOR PERILAKU SISWA MATA STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
PEMBELAJARAN PELAJARAN
(2) (1) (3) (4) (5) (6)
Bahasa 1. Memahami isi berita dari 1.1 Menyimpulkan isi berita yang
7 Mendengarkan Menunjukkan peristiwa tsunami yang Indonesia
berita. pernah terjadi di Indonesia. radio/televisi. dibacakan dalam beberapa
Menulis buku Menunjukkan lokasi tsunami yang kalimat.
harian dan surat pernah terjadi di Indonesia. 4. Mengungkapkan pikiran 1.2 Menuliskan kembali berita yang
pribadi. dan pengalaman dalam dibacakan ke dalam beberapa
buku harian dan surat kalimat.
pribadi. 4.1 Menulis buku harian atau
pengalaman pribadi dengan
memperhatikan cara
pengungkapan dan bahasa yang
baik dan benar.
4.2 Menulis surat pribadi dengan
memperhatikan komposisi, isi,
dan bahasa.
4.3 Menulis teks pengumuman
dengan bahasa yang efektif, baik
dan benar.
Latihan kebugaran Latihan kebugaran jasmani. Penjaskes 1. Mempraktikkan berbagai 1.1 Mempraktikkan variasi dan
jasmani. Teknik dasar renang. teknik dasar permainan dan kombinasi teknik dasar salah satu
Perkemahan dan dasar-dasar olahraga, serta nilai-nilai permainan dan olahraga beregu
Teknik dasar yang terkandung di bola besar lanjutan dengan
renang. penyelamatan. dalamnya. koordinasi yang baik, serta nilai
Teknil dasar permainan. kerjasama, toleransi, percaya diri,
Perkemahan dan Budaya hidup sehat. keberanian, menghargai lawan,
dasar-dasar bersedia berbagi tempat dan
penyelamatan. peralatan**).
Teknil dasar 2. Mempraktikkan latihan 2.1 Mempraktikkan jenis latihan
permainan. kebugaran jasmani , dan kekuatan dan daya tahan otot
nilai-nilai yang terkandung serta nilai disiplin dan tanggung
Budaya hidup didalamnya. jawab.
sehat.
2.2 Mempraktikkan latihan daya
tahan jantung dan paru-paru,
serta nilai disiplin dan tanggung
jawab.
KELAS MATERI INDIKATOR PERILAKU SISWA MATA STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
PEMBELAJARAN PELAJARAN
(2) (1) (3) (4) (5) (6)
8 Usaha, gaya, dan Menjelaskan yang dimaksud dengan IPA 5. Memahami peranan usaha, 5.1 Mengidenti kasi jenis-jenis gaya,
longsoran lempeng bawah laut. gaya, dan energi dalam penjumlahan gaya dan
energi. kehidupan sehari-hari.
Gelombang. Menjelaskan yang dimaksud dengan pengaruhnya pada suatu benda
Pesawat sederhana. gempa bumi di bawah laut.
Menentukan hubungan tsunami yang dikenai gaya.
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk
dengan gempa. energi dan perubahannya,
Menjelaskan bahwa Indonesia rawan
bencana tsunami. prinsip “usaha dan energi” serta
penerapannya dalam kehidupan
Menentukan akibat yang ditimbulkan sehari-hari.
oleh tsunami.
Menjelaskan cara gelombang tsunami 5.4 Melakukan percobaan tentang
pesawat sederhana dan
merambat. penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari.
6. Memahami konsep dan 6.1 Mendeskripsikan konsep
penerapan getaran, getaran dan gelombang serta
gelombang dan optika parameter-parameternya.
dalam produk teknologi
sehari-hari.
-- - IPS - -
KELAS MATERI INDIKATOR PERILAKU SISWA MATA STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
PEMBELAJARAN PELAJARAN
(2) (1) (3) (4) (5) (6)
Bahasa 1. Memahami isi berita dari 9.1 Menemukan pokok-pokok berita
8 Memahami isi Menjelaskan penyebab terjadinya Indonesia
berita dari radio / tsunami. radio/televisi. (apa, siapa, di mana, kapan,
televisi. Menunjukkan peristiwa tsunami yang mengapa, dan bagaimana) yang
Mengungkapkan pernah terjadi di Indonesia. 4. Mengungkapkan informasi didengar dan atau ditonton
informasi dalam Menunjukkan lokasi tsunami yang dalam bentuk rangkuman, melalui radio/televisi.
bentuk rangkuman, pernah terjadi di Indonesia. teks berita, slogan/poster. 9.2 Mengemukakan kembali berita
teks berita, slogan / yang didengar/ ditonton melalui
poster. radio/televisi.
12.1 Menulis rangkuman isi buku
ilmu pengetahuan populer.
12.2 Menulis teks berita secara
singkat, padat, dan jelas.
12.3 Menulis slogan/poster untuk
berbagai keperluan dengan
pilihan kata dan kalimat yang
bervariasi, serta persuasif.
KELAS MATERI INDIKATOR PERILAKU SISWA MATA STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
PEMBELAJARAN PELAJARAN
(2) (1) (3) (4) (5) (6)
Penjaskes
Latihan kebugaran Menjelaskan berbagai tips mengurangi 1. Mempraktikkan berbagai 7.2 Mempraktikkan variasi dan
jasmani. risiko tsunami. teknik dasar permainan dan kombinasi teknik dasar salah satu
olahraga dan nilai-nilai permainan dan olahraga bola
Teknik dasar Menceritakan rasanya mengalami yang terkandung di kecil lanjutan dengan koordinasi
renang. bencana tsunami. dalamnya. yang baik serta nilai kerjasama,
toleransi, percaya diri, keberanian,
Penjelajahan di Menjelaskan cara gelombang tsunami menghargai lawan, bersedia
sekitar. merambat. berbagi tempat dan peralatan**).
Teknik dasar Menunjukkan cara menolong korban
permainan. tsunami.
Budaya hidup 2. Mempraktikkan latihan 8.1 Mempraktikkan latihan kecepatan
sehat. kebugaran dalam bentuk dan kelincahan anggota badan
latihan sirkuit dan nilai-nilai bagian atas serta nilai disiplin dan
yang terkandung di tanggung jawab.
dalamnya.
8.2 Mempraktikkan latihan kecepatan
dan kelincahan anggota badan
bagian bawah serta nilai disiplin
dan tanggung jawab.
5. Mempraktikkan teknik dasar 11.1 Mempraktikkan koordinasi teknik
renang gaya bebas dan dasar meluncur lanjutan, gerakan
nilai-nilai yang terkandung kaki dan lengan renang gaya
di dalamnya bebas dalam jarak tertentu serta
nilai disiplin, keberanian dan
kebersihan.
11.2 Mempraktikkan koordinasi teknik
dasar pernapasan renang gaya
bebas serta nilai disiplin,
keberanian dan kebersihan.
6. Menerapkan budaya hidup 6.1 Mengenal bahaya seks bebas.
sehat. 6.2 Menolak budaya seks bebas.
12. Mempraktikkan 12.1 Mendiskripsikan perencanaan
penjelajahan di sekitar kegiatan penjelajahan secara
sekolah dan nilai-nilai sederhana.
yang terkandung
didalamnya 12.2 Mempraktikkan keterampilan
penjelajahan di sekitar sekolah
serta nilai kerjasama, toleransi,
tolong menolong, etika,
memperhatikan keselamatan
dan kebersihan lingkungan.
KELAS MATERI INDIKATOR PERILAKU SISWA MATA STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
PEMBELAJARAN PELAJARAN
(2) (1) (3) (4) (5) (6)
IPA 5. Memahami sistem tata 5.4 Mendeskripsikan proses-proses
9 Proses-proses Menjelaskan yang dimaksud dengan
khusus di lapisan longsoran lempeng bawah laut. IPS surya dan proses yang khusus yang terjadi di lapisan
bumi. Menjelaskan yang dimaksud dengan terjadi di dalamnya. lithosfer dan atmosfer yang terkait
gempa bumi di bawah laut. Bahasa dengan perubahan zat dan kalor.
Menentukan hubungan tsunami Indonesia 5. Memahami hubungan 5.5 Menjelaskan hubungan antara
dengan gempa. manusia dengan bumi. proses yang terjadi di lapisan
Menjelaskan bahwa Indonesia rawan lithosfer dan atmosfer dengan
bencana tsunami. - kesehatan dan permasalahan
Menentukan akibat yang ditimbulkan lingkungan.
oleh tsunami.
Menjelaskan cara gelombang tsunami 5.1 Menginterpretasi peta tentang
merambat. bentuk dan pola muka bumi.
Hubungan manusia Menjelaskan penyebab terjadinya 5.2 Mendeskripsikan keterkaitan
dengan bumi. tsunami. unsur-unsur geogra s dan
penduduk di kawasan Asia
Menunjukkan peristiwa tsunami yang Tenggara.
pernah terjadi di Indonesia.
5.3 Mendeskripsikan pembagian
Menunjukkan lokasi tsunami yang permukaan bumi atas benua dan
pernah terjadi di Indonesia. samudera.
Menjelaskan bahwa Indonesia rawan -
bencana tsunami.
Menentukan akibat yang ditimbulkan
oleh tsunami.
Menjelaskan berbagai tips mengurangi
risiko tsunami.
--
KELAS MATERI INDIKATOR MATA STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
PEMBELAJARAN PERILAKU SISWA PELAJARAN
(2) (1) (3) (4) (5) (6)
Penjaskes
9 Latihan kebugaran Menjelaskan berbagai 1. Mempraktikkan berbagai 1.1 Mempraktikkan variasi dan kombinasi teknik dasar
jasmani. tips mengurangi teknik dasar ke dalam salah satu permainan dan olahraga beregu bola
Teknik dasar risiko tsunami. permainan dan olahraga besar lanjutan dengan konsisten serta nilai
renang. Menceritakan rasanya serta nilai-nilai yang kerjasama, toleransi, percaya diri, keberanian,
Penjelajahan dan mengalami bencana terkandung didalamnya. menghargai lawan dan bersedia berbagi tempat
penyelamatan di tsunami. dan peralatan**).
alam bebas. Menjelaskan cara 2. Mempraktikkan jenis
Teknik dasar gelombang tsunami latihan beban dengan alat 2.1 Mengidenti kasi jenis-jenis latihan yang sesuai
permainan. merambat. sederhana untuk dengan kebutuhan.
Budaya hidup Menunjukkan cara meningkatkan kebugaran
sehat. menolong korban dan nilai-nilai yang 2.2 Mempraktikkan latihan kekuatan kecepatan, daya
tsunami. terkandung di dalamnya. tahan dan kelentukan untuk kebugaran jasmani
sesuai dengan kebutuhan dengan menggunakan
5. Mempraktikkan teknik alat sederhana serta nilai semangat, tanggung
dasar renang gaya jawab, disiplin, dan percaya diri.
punggung dan nilai- nilai
yang terkandung di 5.1 Mempraktikkan teknik dasar gerakan kaki renang
dalamnya*). gaya punggung serta nilai disiplin, keberanian dan
kebersihan.
6. Mempraktikkan dasar-
dasar penjelajahan di alam 5.2 Mempraktikkan teknik dasar gerakan lengan
bebas dan nilai-nilai yang renang gaya punggung serta nilai disiplin,
terkandung didalamnya***). keberanian dan kebersihan.
14. Menerapkan budaya hidup 5.3 Mempraktikkan teknik dasar pernapasan renang
sehat. gaya punggung serta nilai disiplin, keberanian
dan kebersihan.
6.1 Mempraktikkan rencana kegiatan penjelajahan.
6.2 Mempraktikkan berbagai keterampilan untuk
memecahkan masalah yang ditemukan dalam
aktivitas penjelajahan di alam bebas serta nilai
kerjasama, disiplin, keselamatan, kebersihan,
dan etika.
14.1 Memahami berbagai bahaya bencana alam.
14.2 Memahami cara menghadapi berbagai bencana
alam.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah (SMP/MTs)
5.1.3 Penyusunan Silabus Integrasi Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar
(SK/KD)
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/ tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber
belajar.
Di dalam menyusun silabus, haruslah memperhatikan beberapa prinsip antara
lain:
1. Ilmiah adalah : Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan
dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara
keilmuan (dikaitkan dengan PRB tsunami).
2. Relevan adalah : Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan
penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan
fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik (contoh:
peserta didik di Sekolah Dasar mendapat materi tentang bencana
tsunami relevan dengan tingkat kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan
penyajian di SD).
3. Sistematis adalah: Komponen-komponen silabus saling berhubungan
secara fungsional dalam mencapai kompetensi (dikaitkan juga PRB
tsunami)
4. Konsisten adalah: Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas)
antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian (yang mampu menilai
materi PRB tsunami).
5. Memadai adalah: Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup
untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar (sesuai dengan jenjang
pendidikan dasar).
6. Aktual dan Konstekstual adalah: Cakupan indikator, materi pokok/
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem
penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni
mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi (terutama
dikaitkan dengan PRB tsunami).
7. Fleksibel adalah: Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi
keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang
terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat (misal: peserta didik yang
pernah terkena bencana tsunami tentu akan lebih mendalami materi
dibandingkan peserta didik yang belum pernah mengalaminya).
8. Menyeluruh adalah: Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah
kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor). Hal ini dimungkinkan karena
PRB tsunami dapat diaplikasikan peserta didik pada saat terjadinya
tsunami.
56
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
Adapun Komponen Silabus adalah:
1. Standar Kompetensi
2. Kompetensi Dasar
3. Indikator
4. Materi Pokok/Pembelajaran
5. Kegiatan Pembelajaran (mengacu pada indikator)
6. Penilaian
7. Alokasi Waktu
8. Sumber Belajar
Langkah-langkah pengembangan silabus sebagai berikut:
1. Mengkaji dan Menentukan Standar Kompetensi
2. Mengkaji dan Menentukan Kompetensi Dasar
3. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
4. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
5. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
6. Menentukan Jenis Penilaian
7. Menentukan Alokasi Waktu
8. Menentukan Sumber Belajar
57
Nama Sekolah Tabel 5.3 ContohPengembangan Silabus Model Integrasi Pengurangan Risiko Tsunami Ke dalam Mata Pelajaran
Mata Pelajaran : SMP ...
Kelas : IPA
: VII
SK KD MATERI KEGIATAN INDIKATOR PENILAIAN ALOKASI SUMBER/
POKOK PEMBELAJARAN WAKTU BAHAN
(5) (6) (1) (8) (7) (9) (10) (11)
3. Memahami 3.1 Menyelidiki sifat- Wujud Zat. Tes lisan 2 x 40’ Modul
t .FOEJTLVTJLBO TJGBU [BU t .FOKFMBTLBO TJGBU [BU Kinerja.
wujud zat dan sifat zat berdasarkan padat, cair, dan gas. padat, cair, dan gas.
perubahannya. wujudnya dan t .FNCBOEJOHLBO TJGBU t .FNCFEBLBO TJGBU [BU
penerapannya dalam berbagai wujud benda. padat, cair, dan gas.
kehidupan sehari-hari. t .FOEJTLVTJLBO TJGBU [BU DBJS t .FOKFMBTLBO TJGBU [BU
yang mudah berubah cair yang mudah
bentuk jika ada usikan. berubah bentuk jika
ada usikan *).
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
5.1.4 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian
pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar. RPP paling luas
mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang meliputi 1 (satu) atau beberapa
indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
Dalam menyusun RPP yang akan diintegrasikan tentang bencana tsunami
perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain:
1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik (misal: peserta didik
yang telah mengerti tentang tsunami dan yang belum).
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik (contoh: peserta didik diajak
untuk memecahkan masalah apabila terjadinya bencana tsunami).
3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis yang berkaitan dengan
bencana tsunami.
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut dikaitkan dengan bencana
tsunami.
5. Keterkaitan dan keterpaduan antara materi bencana tsunami dengan
indikator pencapaiannya.
Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi (misal: gambar-gambar dan
informasi dari Internet mengenai tsunami).
Langkah-langkah menyusun RPP yang mengintegrasikan PRB Tsunami:
1. Mengisi kolom identitas.
2. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah
ditetapkan.
3. Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan (terdapat pada
silabus yang telah disusun).
4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator
yang telah ditentukan. (Lebih rinci dari KD dan Indikator, pada saat-saat
tertentu rumusan indikator sama dengan tujuan pembelajaran, karena
indikator sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi).
5. Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran
yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi
pokok/pembelajaran dikaitkan dengan PRB tsunami.
6. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan.
7. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan
awal, inti, dan akhir dikaitkan dengan PRB tsunami.
8. Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan sesuai dengan
PRB tsunami.
9. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik
penskoran, dll sesuai dengan PRB tsunami.
Dibawah ini akan merupakan contoh penyusunan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP).
59
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah (SMP/MTs)
Kotak 5.1.1 Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran terintegrasi
PRB Tsunami Mata Pelajaran IPA
Kelas/ Semester : VII/ 1
Standar Kompetensi : 3. Memahami wujud zat dan perubahannya
Kompetensi Dasar : 3.1 Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya
dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
Tujuan Pembelajaran : meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang
berhubungan dengan sifat zat cair yang berpotensi
sebagai gelombang.
Metode : - Diskusi/ tanya-jawab
- Peragaan/ demonstrasi
Alat/ sumber belajar : - Beberapa benda padat, seperti pensil, kaleng, dan
lainnya
- Balon
- Air/ zat cair lainnya
- Wadah (ember, panci, wajan, dan lain sebagainya)
Langkah Kegiatan Pembelajaran
1. Guru dan siswa mendiskusikan sifat-sifat zat padat, cair, dan gas.
2. Guru mendiskusikan tentang fungsi air yang terdapat di sekitar dan sifat
wujudnya.
3. Peragaan air di dalam suatu wadah.
4. Mengamati permukaan air pada saat tenang.
5. Air di dalam wadah diusik (dengan menggunakan telunjuk), makin lama usikan
makin kuat.
6. Siswa mengamati hasil usikan terhadap air.
7. Siswa mendiskuisikan dan membuat kesimpulan.
Indikator
1. Menjelaskan sifat zat padat, cair, dan gas.
2. Membedakan sifat zat padat, cair, dan gas.
3. Menjelaskan sifat zat cair yang mudah berubah bentuk jika diusik *).
Penilaian
1. Kinerja
Penilaian dllakukan ketika siswa melakukan peragaan, pengamatan dan berdiskusi
mengenai gejala perubahan bentuk pada zat cair akibat adanya usikan. Kriteria
penilaian berdasarkan keaktifan dan tanggapan siswa, disamping juga komunikasi
dan relevansinya terhadap konteks.
60
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
5.1.5. Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru/instruktur
untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Bahan ajar
adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud
bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Jadi dapatlah dikatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi yang
disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta
lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.
Sedangkan fungsi bahan ajar adalah :
1. Pedoman bagi guru
2. Pedoman bagi siswa
3. Alat evaluasi
Tujuannya adalah:
1. Membantu siswa
2. Memberikan banyak pilihan
3. Memudahkan guru
4. Lebih menarik
Langkah-langkah Menyusun Bahan Ajar yang Mengintegrasikan PRB
Tsunami
1. Memahami Teknik Penyusunan Bahan Ajar
2. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran tentang PRB Tsunami
3. Menganalisis Kompetensi Dasar yang Dapat Diintegrasikan materi PRB
tsunami
4. Menyusun Silabus dan RPP yang mengintegrasikan Materi PRB tsunami
5. Menyusun Bahan Ajar yang Mengintegrasikan Materi PRB tsunami
Kotak 5.2.1 Contoh Bahan Ajar Mata Pelajaran IPA
Karakteristik Tsunami
Perilaku gelombang tsunami sangat berbeda dari ombak laut biasa. Gelombang
tsunami bergerak dengan kecepatan tinggi dan dapat merambat lintas-samudra
dengan sedikit energi berkurang. Tsunami dapat menerjang wilayah yang berjarak
ribuan kilometer dari sumbernya, sehingga mungkin ada selisih waktu beberapa jam
antara terciptanya gelombang ini dengan bencana yang ditimbulkannya di pantai.
Waktu perambatan gelombang tsunami lebih lama dari waktu yang diperlukan oleh
gelombang seismik untuk mencapai tempat yang sama.
61
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah (SMP/MTs)
Periode tsunami cukup bervariasi, mulai dari 2 menit hingga lebih dari 1 jam. Panjang
gelombangnya sangat besar, antara 100-200 km. Bandingkan dengan ombak laut
biasa di pantai selancar yang mungkin hanya memiliki periode 10 detik dan panjang
gelombang 150 meter. Karena itulah pada saat masih di tengah laut, gelombang
tsunami hampir tidak nampak dan hanya terasa seperti ayunan air saja.
PERBANDINGAN GELOMBANG TSUNAMI
DAN OMBAK LAUT BIASA
Parameter Gelombang
Tsunami Ombak Biasa
Periode gelombang 2 menit — 1 jam +_ 10 detik
Panjang gelombang 100 — 1000 km 50 m
Bila lempeng samudra pada sesar bergerak naik, terjadi air pasang di wilayah pantai
hingga wilayah tersebut akan mengalami banjir sebelum kemudian gelombang air
yang lebih tinggi datang menerjang.
Bila lempeng samudera bergerak naik, wilayah pantai akan mengalami banjir air
pasang sebelum datangnya tsunami. Bila lempeng samudra pada sesar bergerak
turun, kurang lebih pada separuh waktu sebelum gelombang tsunami sampai di
pantai, air laut di pantai tersebut surut. Pada pantai yang landai, surutnya air bisa
mencapai lebih dari 800 meter menjauhi pantai. Masyarakat yang tidak sadar akan
datangnya bahaya mungkin akan tetap tinggal di pantai karena ingin tahu apa yang
sedang terjadi.Atau bagi para nelayan mereka justru memanfaatkan momen saat air
laut surut tersebut untuk mengumpulkan ikan-ikan yang banyak bertebaran.
Bila lempeng samudra bergerak turun, di wilayah pantai air laut akan surut
sebelum datangnya tsunami. Pada suatu gelombang, bila rasio antara kedalaman
air dan panjang gelombang menjadi sangat kecil, gelombang tersebut dinamakan
gelombang air-dangkal. Karena gelombang tsunami memiliki panjang gelombang
yang sangat besar, gelombang tsunami berperan sebagai gelombang air-dangkal,
bahkan di samudra yang dalam. Gelombang air-dangkal bergerak dengan kecepatan
yang setara dengan akar kuadrat hasil perkalian antara percepatan gravitasi (9,8 m/
s2) dan kedalaman air laut.
v = velocity (kecepatan)
g = gravitation (9,8 m/s2)
d = depth (kedalaman)
Sebagai contoh, di Samudra Pasifik, dimana kedalaman air rata-rata adalah 4000
meter, gelombang tsunami merambat dengan kecepatan ± 200 m/s (kira-kira 712
km/jam) dengan hanya sedikit energi yang hilang, bahkan untuk jarak yang jauh.
Sementara pada kedalaman 40 meter, kecepatannya mencapai ± 20 m/s (sekitar 71
km/jam), lebih lambat namun tetap sulit dilampaui.
Energi dari gelombang tsunami merupakan fungsi perkalian antara tinggi gelombang
dan kecepatannya. Nilai energi ini selalu konstan, yang berarti tinggi gelombang
62
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
berbanding terbalik dengan kecepatan merambat gelombang. Oleh sebab itu,
ketika gelombang mencapai daratan, tingginya meningkat sementara kecepatannya
menurun. Saat memasuki wilayah dangkal, kecepatan gelombang tsunami menurun
sedangkan tingginya meningkat, menciptakan gelombang mengerikan yang sangat
merusak.
KEDALAMAN (M) KECEPATAN (KM/JAM) PANJANG GELOMBANG (KM)
7000 586 282
4000 443 213
2000 313 151
200 99 48
49 23
50 22 10,6
10
Selagi orang-orang yang berada di tengah laut bahkan tidak menyadari adanya
tsunami, gelombang tsunami dapat mencapai ketinggian hingga 30 meter atau lebih
ketika mencapai wilayah pantai dan daerah padat. Tsunami dapat menimbulkan
kerusakan yang sangat parah di wilayah yang jauh dari sumber pembangkitan
gelombang, meskipun peristiwa pembangkitan gelombang itu sendiri mungkin tidak
dapat dirasakan tanpa alat bantu.
Tsunami bergerak maju ke satu arah dari sumbernya, sehingga wilayah yang berada
di daerah “bayangan” relatif dalam kondisi aman. Namun demikian, gelombang
tsunami dapat saja berbelok di sekitar daratan. Gelombang ini juga bisa saja tidak
simetris. Gelombang ke satu arah mungkin lebih kuat dibanding gelombang ke
arah lainnya, tergantung dari peristiwa alam yang memicunya dan kondisi geografis
wilayah sekitarnya.
Megatsunami dan Seiche
Bukti-bukti menunjukkan bahwa megatsunami, yaitu tsunami yang mencapai
ketinggian hingga 100 meter, memang mungkin terjadi. Peristiwa yang langka ini
biasanya disebabkan oleh sebuah pulau yang cukup besar amblas ke dasar samudra.
Megatsunami juga bisa disebabkan oleh sebongkah besar es yang jatuh ke air dari
ketinggian ratusan meter. Gelombang ini dapat menyebabkan kerusakan yang sangat
dahsyat pada cakupan wilayah pantai yang sangat luas.
Satu hal yang berkaitan dengan tsunami antara lain adalah seiche, yaitu fluktuasi
atau pengalunan permukaan danau atau badan air yang kecil yang disebabkan oleh
gempa-bumi kecil, angin, atau oleh keragaman tekanan udara. Seringkali gempa
yang besar menyebabkan tsunami dan seiche sekaligus, atau sebagian seiche justru
terjadi karena tsunami.
Tsunami Dengan Gelombang Tertinggi
Gelombang tsunami tertinggi yang tercatat sampai saat ini adalah tsunami di Alaska
pada tahun 1958 yang disebabkan oleh amblasnya lempeng tektonik di Teluk
Lituya. Tsunami ini memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dan menghancurkan
pohon-pohon dan tanah pada dinding fjord. Saat gelombang tsunami kembali ke
laut, gelombang tersebut langsung menyebar dan tingginya menurun dengan
cepat. Tingginya gelombang saat berada di pantai lebih disebabkan karena topografi
wilayahnya, daripada karena energi yang dikeluarkan oleh peristiwa amblasnya
lempeng.
63
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Tsunami
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah (SMP/MTs)
Fjord, suatu teluk sempit (di antara tebing-tebing atau lahan terjal. Biasa djumpai di
Norwegia, Alaska, Selandia Baru, dll. Sebelumnya fjord ini merupakan sungai gletser
yang terbentuk di wilayah pegunungan di kawasan pantai. Saat suhu menjadi hangat,
sungai gletser ini mencair, akibatnya permukaan air laut naik dan membanjiri lembah
di sela-sela pegunungan tersebut.
Tsunami Di Indonesia
Berdasarkan katalog gempa (1629 - 2002) di Indonesia pernah terjadi tsunami
sebanyak 109 kali, yakni 1 kali akibat longsoran, 9 kali akibat gunung berapi dan 98
kali akibat gempa tektonik. Hal-hal yang paling berpotensi menimbulkan tsunami
adalah:
1. Gempa yang terjadi di dasar laut
2. Kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km
3. Kekuatan gempa lebih besar dari 6,0 Skala Richter
4. Jenis pensesaran gempa tergolong sesar naik atau sesar turun
Tsunami di Samudera Hindia - 26 Desember 2004
26 Desember 2004 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Ya, setelah sekian lama, kita mengalami musibah besar yang bukan hanya melanda
negeri kita, tapi juga negeri-negeri lain seperti Thailand, Bangladesh, India, Sri Landa,
bahkan Maladewa, Somalia, Kenya, dan Tanzania yang berada di Afrika. Tsunami yang
melanda Aceh dan sebagian Sumatera Utara, sebelumnya ditandai dengan gempa
berkekuatan 9,15 magnitudo momen. Ratusan ribu orang tewas, belum lagi korban
luka-luka dan korban materi. Jumlah korban yang sangat besar membuat tsunami ini
merupakan tsunami paling mematikan sepanjang sejarah dunia.
Wikipedia
Gempa yang menimbulkan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 menyapu tidak
hanya Aceh dan Nias di Indonesia, tetapi juga pesisir Selatan Asia meliputi India,
Srilangka, Kep. Maladewa, Myanmar, hingga pesisir Timur dan Selatan Afrika meliputi
Tanzania, Kenya, Somalia, Madagaskar dan Afrika Selatan.
Sayangnya, kita tidak memiliki sistem peringatan dini seperti halnya yang ada di
Samudra Pasifik. Ini karena kita memang jarang mengalami musibah tsunami.Tsunami
terakhir yang cukup besar di Indonesia terjadi pada tahun 1883, yang disebabkan
oleh meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda. Itu berarti sudah lebih dari seabad
yang lalu. Setelah ada tsunami ini, UNESCO dan lembaga-lembaga lainnya di dunia
mulai merintis pengembangan sistem pengawasan tsunami global untuk wilayah di
sekitar Samudra Hindia.
Tsunami merupakan bencana yang timbul akibat gelombang pasang yang terjadi
seeara mendadak. Gelombang setinggi 5 m hingga 30 m menyapu pantai dan segala
apa yang ada di sekitarnya. Kerugian yang ditimbulkannya bukan hanya kerusakan
materiil berupa hancurnya sarana infrastruktur berupa gedung-gedung perumahan,
sekolah, jalan-jalan, hingga jaringan listrik dan telekomunikasi, tetapi juga korban
jiwa terhadap manusia teman sanak famili yang kita cintai dan hewan ternak sebagai
sumber penghasilan. Disamping itu juga kerusakan lingkungan, berupa tumbuh-
tumbuhan yang tercabut dari akar-akarnya meninggalkan daerah yang gundul
dengan potensi kekeringan di masa depan.
Tsunami sendiri berasal dari Bahasa Jepang yang berarti gelombang pasang. Jepang
merupakan salah satu negara kepulauan yang terletak antara 2 lempeng yang selalu
bergerak. Akibatnya sering kali terjadi gempa di kedalaman laut yang berdampak
pada terjadinya gelombang pasang di permukaan laut.
64
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
DAFTAR ISTILAH
Pengurangan Risiko Bencana
Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktik mengurangi risiko bencana
melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengelola faktor-faktor penyebab
dari bencana termasuk dengan dikuranginya paparan terhadap ancaman,
penurunan kerentanan manusia dan properti, pengelolaan lahan dan lingkungan
yang bijaksana, serta meningkatkan kesiapsiagaanan terhadap kejadian yang
merugikan.
Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat dan Negara
Pengarusutamaan PRB
Proses dimana pertimbangan-pertimbangan pengurangan risiko bencana
dikedepankan oleh organisasi/individu yang terlibat di dalam pengambilan
keputusan dalam pembangunan ekonomi, fisik, politik, sosial-budaya suatu negara
pada level nasional, wilayah daerah dan/atau lokal; serta proses-proses dimana
pengurangan risiko bencana dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan
tersebut
Pendidikan Siaga Bencana
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kecakapan hidup dalam mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian
dan langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Komite Sekolah
Organisasi mandiri yang dibentuk dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan,
dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Ia menjadi ruang bagi
orangtua, masyarakat, dan pihak sekolah menyampaikan aspirasi dan merumuskan
kebijakan bagi peningkatan pendidikan di sekolah. Ia merupakan badan independen
yang tidak memiliki hubungan hirarkis dengan Kepala Sekolah. Ia menjadi mitra
kepala sekolah dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam memajukan
sekolah.
KTSP
Kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan
pendidikan. Sekolah dan kepala sekolah mengembangkan KTSP dan silabus
berdasarkan a). Kerangka dasar kurikulum, b). Standar kompetensi, dibawah
supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi.
Kurikulum
Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahanpelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
65
Daftar Istilah
Ekstrakurikuler
adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk
membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat
dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh
pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan
di sekolah/madrasah.
Standar Kompetensi
ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti
suatuproses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu.
Kompetensi
kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai
perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki peserta didik.
Standar Nasional Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan
di seluruh wilayah hukum NKRI. Lingkup standar nasional pendidikan meliputi: a.
standar isi, b. standar proses, c. standar kompetensi lulusan, d. standar pendidik
dan tenaga kependidikan, e. standar sarana dan prasarana, f. standar pengelolaan,
g. standar pembiayaan, h. standar penilaian pendidikan.
Sumber/bahan belajar
adalah rujukan, obyek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan
pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara
sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Standar isi
adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam
kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata
pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada
jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar proses
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi
lulusan.
Standar kompetensi lulusan
adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
Standar pendidik dan tenaga kependidikan
adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta
pendidikan dalam jabatan.
Standar sarana dan prasarana
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal
tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan,
laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi,
66
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran,
termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Standar pengelolaan
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan,
kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan.
Standar pembiayaan
adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan
pendidikan yang berlaku selama satu tahun; dan
Standar penilaian pendidikan
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur,
dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
Bencana
adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam atau ulah manusia, yang
dapat terjadi secara tibatiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya
jiwa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan, di mana masyarakat
setempat dengan segala kemampuan dan sumberdayanya tidak mampu untuk
menanggulanginya.
Bahaya
adalah situasi, kondisi, atau karakteristik biologis, geografis, sosial, ekonomi, politik,
budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu
tertentu yang berpotensi menimbulkan korban dan kerusakan.
Kerentanan
adalah tingkat kekurangan kemampuan suatu masyarakat untuk mencegah,
menjinakkan, mencapai kesiapan, dan menanggapi dampak bahaya tertentu.
Kerentanan dapat berupa kerentanan fisik, ekonomi, sosial dan tabiat, yang dapat
ditimbulkan oleh beragam penyebab.
Kemampuan
adalah penguasaan sumberdaya, cara, dan kekuatan yang dimiliki masyarakat,
yang memungkinkan mereka untuk, mempersiapkan diri, mencegah, menjinakkan,
menanggulangi, mempertahankan diri serta dengan cepat memulihkan diri dari
akibat bencana
Risiko
adalah kemungkinan timbulnya kerugian pada suatu wilayah dan kurun waktu
tertentu yang timbul karena suatu bahaya menjadi bencana. Risiko dapat berupa
kematian, luka, sakit, hilang, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi,
kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.
Pencegahan
adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana dan jika mungkin
dengan meniadakan bahaya.
67
Daftar Istilah
Mitigasi
adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana, baik secara
fisik struktural melalui pembuatan bangunan-bangunan fisik, maupun non fisik-
struktural melalui perundang-undangan dan pelatihan.
Kesiapsiagaan
adalah upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana, melalui
pengorganisasian langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Peringatan Dini
adalah upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan
akan segera terjadi, yang menjangkau masyarakat, segera, tegas tidak
membingungkan, resmi
Tanggap Darurat
adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk
menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban
dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.
Bantuan Darurat
merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, perlindungan,
kesehatan, sanitasi dan air bersih
Pemulihan
adalah proses pengembalian kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan
memfungsikan kembali sarana dan prasarana pada keadaan semula dengan
melakukan upaya memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air
bersih, pasar, puskesmas, dll).
Rehabilitasi
adalah upaya langkah yang dilakukan setelah kejadian bencana untuk membantu
masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial penting, dan
menghidupkan kembali roda perekonomian.
Rekonstruksi
adalah program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan fisik, sosial
dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang
sama atau lebih baik dari sebelumnya.
Penanggulangan Bencana
adalah seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan
bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana, mencakup tanggap
darurat, pemulihan, pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan
68
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami Untuk SMP/MTs
DAFTAR PUSTAKA
BadanNasionalPenanggulanganBencana.2008.Jakarta:ImplementasiPengurangan
Risiko Bencana di Indonesia 2007-2008
SC-DRR/UNDP.2008. Jakarta: Draft Nol Strategi Nasional Pengarusutamaan
Pengurangan Risiko Bencana di Dalasm Sistem Pendidikan
Konsorsium Pendidikan Bencana.2008. Jakarta. Draft Kerangka Kerja Pengurangan
Risiko Bencana Berbasis Sekolah
UN/ISDR.2007.PerkataanMenjadi Tindakan:PanduanUntukMengimplementasikan
Kerangka Kerja Hyogo.
UN/ISDR. 2009. Terminology on Disaster Risk Reducation
ERA/UNDP. 2008. Yogyakarta. Draft Panduan Desa Tangguh. Tidak dipublikasikan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2008. Jakarta: Pedoman Penyusunan
Rencana Penanggulangan Bencana
Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesi. 2005. Jakarta. Naskah Akademis
Undang-Undang Penanggulangan Bencana
INEE/UNESCO. 2004. Paris. Minimum Standards for Education in Emergencies, Chronic
Crises and Early Reconstruction.
Tsunami Evaluation Coalition (TEC). SIDA. 2008. Laporan Ringkas: Sebuah Riak Dalam
Pembangunan? Perspektif Jangka Panjang Tanggap Bencana Tsunami Samudera
Hindia, 2004
RiskRED. 2008. Concept Note: Formal and Informal Education for Disaster Risk Reduction
A contribution from Risk RED for the International Conference on School Safety,
Islamabad, May 2008
UNSECO. 2007. Bangkok. Natural Disaster Preparedness and Education for Sustainable
Development
The German Committee for Disaster Reduction (DKKV) & the UN ISDR Thematic
Platform on Knowledge and Education (TPK&E). Bonn. 2009. Concept Note Learning
to Live with Risk - Disaster Risk Reduction to encourage Education for Sustainable
Development. World Conference on Education for Sustainable Development
(WCESD) 31 March – 2 April 2009, Bonn
Lassa, Jonatan. 2008. Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas. Presentasi
dalam Lokakarya Pembelajaran Pengembangan Model Desa Tangguh, ERA/UNDP,
Yogyakarta, Desember 2008
69
Daftar Pustaka
Diposaptono, Subandono, Budiman. Hidup akrab dengan Gempa dan Tsunami.
Buku ilmiah populer. Bogor. Januari 2008.
Jannah, Ninil RM. 2008. Pengintegrasian Materi Tentang Bencana Kedalam
Pendidikan Nasional, Memadukan Pendekatan Praktis dan Teoritis. Makalah
presentasi dalam Lokakarya Pengintegrasian Materi Pendidikan Bencana Dalam
Kurikulum Sekolah, diselenggarakan MPBI di Yogyakarta 25 September 2008.
PLAN Internasional Indonesia. 2009. Jakarta. Konsep Keselamatan Sekolah dan
Sekolah Ramah Anak. Tidak dipublikasikan, ditulis untuk Konsorsium Pendidikan
Bencana
H, Anastasia Rima. 2009. Jakarta. Sistem Pendidikan Nasional. Tidak dipublikasikan,
ditulis untuk Konsorsium Pendidikan Bencana
Konsorsium Pendidikan Bencana. 2009. Jakarta. Laporan Lokakarya di 4 Wilayah
dalam Review Draft Nol Strategi Nasional Pengurangan Risiko Bencana di Dalam
Sistem Pendidikan. Tidak dipublikasikan.
70