The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Metode Hermeneutik Dalam Penelitian Sinkretisme Bentuk Arsitektur

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-01-12 05:08:47

Metode Hermeneutik Dalam Penelitian Sinkretisme Bentuk Arsitektur

Metode Hermeneutik Dalam Penelitian Sinkretisme Bentuk Arsitektur

Keywords: Metode,Hermeneutik,Sinkretisme,Arsitektur,Bentuk

Ashadi

METODE HERMENEUTIK
DALAM PENELITIAN

SINKRETISME BENTUK
ARSITEKTUR

WHOLE PARTS

Arsitektur UMJ Press

METODE HERMENEUTIK
DALAM PENELITIAN

SINKRETISME BENTUK
ARSITEKTUR

Ashadi

Penerbit Arsitektur UMJ Press
2017



METODE HERMENEUTIK DALAM PENELITIAN
SINKRETISME BENTUK ARSITEKTUR

|arsitekturUMJpress|
|

Penulis: ASHADI
CETAKAN PERTAMA, NOPEMBER 2017

Hak Cipta Pada Penulis
Hak Cipta Penulis dilindungi Undang-Undang Hak Cipta 2002
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara
apapun tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Desain Sampul : Abu Ghozi
Tata Letak : Abu Ghozi
Perpustakaan Nasional – Katalog Dalam Terbitan (KDT)
ASHADI
Metode Hermeneutik Dalam Penelitian Sinkretisme Bentuk Arsitektur
Jumlah Halaman 74

ISBN 978-602-5428-03-6

Diterbitkan Oleh Arsitektur UMJ Press
Jln. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510
Tetp. 021-4256024, Fax. 021-4256023
E-mail: [email protected]
Gambar Sampul: Diagram Lingkaran Hermeneutik
Dicetak dan dijilid di Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan

__________________________________________________________
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
Sanksi Pelanggaran Pasal 72 :

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau
pasal 49 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana penjara
masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/ atau denda
paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana
penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling
banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau
barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling
banyak Rp. 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah).

ABSTRAK

Semua bidang ilmu pengetahuan tidak bisa terlepas dari induk ilmu
pengetahuan, yaitu ilmu filsafat, termasuk ilmu arsitektur. Salah satu
cabang ilmu filsafat yang dapat mempengaruhi dalam beberapa
penelitian arsitektur adalah ilmu hermeneutik. Hermeneutik dapat pula
digunakan sebagai sebuah metode dalam penelitian arsitektur. Tujuan
penelitian ini adalah menelusuri dan memahami metode hermeneutik
dan penerapannya dalam penelitian sinkretisme bentuk arsitektur.
Tujuan akhirnya adalah memahami makna sinkretisme bentuk pada
arsitektur bangunan peribadatan, khususnya bangunan masjid. Kasus
studi yang dipilih adalah mesjid Sunan Ampel di Surabaya, Jawa Timur,
dengan pertimbangan bahwa mesjid Sunan Ampel adalah mesjid paling
tua di Indonesia, dan memiliki fungsi sebagai tempat ibadah umat Islam
dari masa awal pembangunannya hingga sekarang ini. Metode yang
digunakan adalah gabungan hermeneutik yang digagas oleh Paul
Ricoeur, terutama dengan otonomi teksnya, dengan relasi bentuk-
fungsi-makna dalam arsitektur. Dalam penelitian ini, mesjid Sunan
Ampel dianggap sebagai otonomi teks, sehingga ia dilepaskan dari:
Sunan Ampel sebagai arsiteknya, proses pendiriannya, konteks awalnya,
dan para pendukung awalnya. Dalam analisis dan interpretasi, bentuk
mesjid Sunan Ampel dibuka pelingkup-pelingkupnya (lantai, dinding,
dan atap), kemudian diacukan dengan bentuk arsitektur acuan untuk
mengidentifikasi dan menemukan bagian-bagian mana dari pelingkup
yang sinkretik. Untuk memahami makna sinkretisme bentuk, maka
bentuk arsitektur yang sinkretik tersebut direlasikan dengan fungsi
atau kegiatan yang diwadahinya. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa makna sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid Sunan Ampel
adalah bangunan peribadatan yang dari masa awal pendiriannya hingga
sekarang ini memiliki strategi bertahan dengan konsep-konsep adaptasi,
toleransi, dan respon.

Kata Kunci: Arsitektur, Bentuk, Fungsi, Hermeneutik, Sinkretisme.



KATA PENGANTAR

Dengan mengucap Alhamdulillah, akhirnya buku berjudul Metode
Hermeneutik Dalam Penelitian Sinkretisme Bentuk Arsitektur
bisa dirampungkan. Buku ini merupakan hasil pengembangan
dari penelitian kecil, dan sebagian dari Disertasi pada Program
Studi Doktor Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan
Bandung (2016), berjudul Makna Sinkretisme Bentuk pada
Arsitektur Mesjid-Mesjid Walisanga, serta dari materi Kuliah
Umum Program Studi Doktor Arsitektur Universitas Katolik
Parahyangan Bandung pada 30 September 2017. Dalam buku ini
ditambahkan gambar-gambar baru untuk memperjelas uraian
pembahasan.

Buku ini mengeksplorasi beberapa metode hermeneutik
yang dapat digunakan dalam penelitian arsitektur, yaitu dengan
melibatkan konsep-konsep: empati, penghayatan, pra-struktur,
peleburan horizon, dialog, dan otonomi. Penerapan metode
otonomi teks dan relasi bentuk-fungsi-makna dalam arsitektur
pada kasus studi menghasilkan kesimpulan makna sinkretisme
bentuk, yaitu sebagai sebuah strategi bertahan dan berkembang
yang melibatkan konsep-konsep adaptasi, toleransi, dan respon.

Akhirnya, semoga buku ini dapat bermanfaat sebagai
sumbangan ilmu pengetahuan tentang metode hermeneutik
dalam penelitian dan makna sinkretisme bentuk pada arsitektur
bangunan peribadatan.

Jakarta, Nopember 2017
Penulis

i

ii

PENGANTAR PENERBIT

Alhamdulillah, tulisan Ashadi yang berjudul Metode Hermeneutik
Dalam Penelitian Sinkretisme Bentuk Arsitektur dapat kami
terbitkan. Buku ini merupakan hasil pengembangan dari
penelitian kecil, dan dari sebagian isi Disertasi pada Program
Studi Doktor Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan
Bandung (Ashadi, 2016), berjudul Makna Sinkretisme Bentuk
pada Arsitektur Mesjid-Mesjid Walisanga, serta dari materi
Kuliah Umum yang diberikan oleh penulis pada Program Studi
Doktor Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan Bandung
pada 30 September 2017.

Dalam buku ini, penulis berusaha memahami metode
hermeneutik dalam penelitian arsitektur dan makna sinkretisme
bentuk pada arsitektur bangunan peribadatan, dengan kasus
studi mesjid Sunan Ampel. Dengan menggunakan metode
hermeneutik otonomi teks dan relasi bentuk-fungsi-makna dalam
arsitektur, menghasilkan kesimpulan bahwa sinkretisme yang
terjadi pada bentuk arsitektur bangunan mesjid Sunan Ampel
memiliki makna strategi dalam bertahan dan berkembang,
dengan melibatkan konsep-konsep adaptasi, toleransi, dan respon.
Gambar-gambar yang disertakan dalam pembahasan sangat
membantu dalam memahami isi buku ini.

Kehadiran buku ini menjadi salah satu sumbangan
penting bagi khasanah ilmu pengetahuan, khususnya tentang
metode hermeneutik dalam penelitian sinkretisme bentuk
arsitektur bangunan peribadatan.

Jakarta, Nopember 2017
Penerbit

iii

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR HAL.
PENGANTAR PENERBIT i
DAFTAR ISI iii
v

BAGIAN 1 1
PENDAHULUAN

BAGIAN 2 5
METODE HERMENEUTIK 5
2.1. Tinjauan Hermeneutik sebagai Sebuah Metode 12
2.2. Metode Hermeneutik dalam Penelitian Arsitektur

BAGIAN 3 23
KONSEP SINKRETISME BENTUK PADA 23
ARSITEKTUR 28
3.1. Konsep Sinkretisme dalam Arsitektur 35
3.2. Konsep Bentuk Arsitektur Acuan
3.3. Langkah-Langkah Penelitian

BAGIAN 4 37
EKSPLANASI BENTUK DAN FUNGSI MESJID 37
SUNAN AMPEL 39
4.1. Perkembangan Bentuk dalam Latar Sejarah 50
4.2. Bentuk dan Fungsi Mesjid Sunan Ampel
4.3. Fungsi-Fungsi Konseptual

v

vi

BAGIAN 5 53
ANALISIS DAN INTERPRETASI 53
5.1. Menentukan Bentuk Arsitektur yang Dianalisis 56

dan Diinterpretasi 57
5.2. Pembukaan Pelingkup Bentuk Arsitektur 59
5.3. Membandingkan Bentuk Arsitektur Mesjid Sunan
61
Ampel dengan Bentuk Arsitektur Acuan 62
Berdasarkan Pelingkupnya dan Periodisasi
Waktu Keberadaannya
5.4. Menginterpretasi Hasil Perbandingan
5.5. Merelasikan Sinkretisme Bentuk pada Arsitektur
Mesjid Sunan Ampel dengan Fungsi-Fungsi
Konseptual
5.6. Menginterpretasi Relasi

BAGIAN 6 65
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA 69

BAGIAN 1
PENDAHULUAN

Situasi dunia saat ini ditandai oleh suasana keberagaman budaya
sebagai akibat kemajuan teknologi yang mempermudah proses
globalisasi. Proses globalisasi ini mengakibatkan perjumpaan
unsur-unsur keberagaman budaya semakin intens [Kira, 2012].
Percampuran unsur-unsur kebudayaan lokal dengan non lokal
tidak bisa dihindari. Arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan
mengalami pula keragaman bentuk yang semakin intens, yang
kemudian memunculkan istilah-istilah both and, hibrida,
inkulturasi, dan sinkretisme dalam arsitektur. Berbeda dengan
ketiga istilah lainnya, sinkretisme berkaitan erat dengan unsur-
unsur keyakinan atau kepercayaan. Dalam bidang arsitektur,
sinkretisme pada umumnya terjadi pada bangunan-bangunan
peribadatan, seperti mesjid, gereja, candi, dan klenteng. Pada
kasus lain, seperti perkampungan Kauman, yang keberadaannya
memiliki arti penting dalam tata ruang kota tradisional Jawa
pada zaman Kolonial, di zaman global ini bisa saja terjadi
sinkretisme.

Pemahaman terhadap penelitian sinkretisme bentuk pada
arsitektur bangunan peribadatan dibutuhkan sudut pandang atau
pendekatan dan metode yang dapat menyelami aspek fisik
arsitektural bangunannya dan aspek non fisik keyakinan
kelompok masyarakat penggunanya atau pendukungnya.
Kegiatan memahami membutuhkan keterlibatan peneliti, karena
memahami tidak bertujuan memperoleh data belaka, melainkan
untuk menangkap makna, bahkan memungkinkan untuk
memberikan makna. Sementara metode dibutuhkan sebagai
langkah-langkah penelitian secara operasional. Pendekatan dan

1

2

metode yang relevan untuk mendekati fenomena budaya
sinkretisme bentuk pada arsitektur bangunan peribadatan adalah
hermeneutik.

Dalam setiap kegiatan penelitian, termasuk penelitian
arsitektur, dibutuhkan sebuah pendekatan penelitian atau sudut
pandang atau ‘kaca mata’ yang dianggap paling relevan dan cocok
dengan masalah utama dan tujuan penelitiannya. Pendekatan
penelitian (research approach) digunakan untuk membaca secara
jelas objek penelitian atau fenomena budaya. Pendekatan
penelitian berkaitan erat dengan model-model analisis. Metode
penelitian berkaitan erat dengan langkah-langkah yang harus
ditempuh guna menyelesaikan sebuah kegiatan dan penyusunan
laporan penelitian. Pada umumnya, dewasa ini, sebuah laporan
penelitian tidak menyertakan pendekatan penelitian yang
digunakan, seperti halnya penyertaan teori, metode, dan teknik,
padahal ia begitu penting. Pentingnya pendekatan dalam
penelitian ditunjukkan secara jelas dalam Laporan Penelitian
Disertasi berjudul: ‘Makna Sinkretisme Bentuk pada Arsitektur
Mesjid-Mesjid Walisanga’ [Ashadi, 2016]. Dalam Laporan
Penelitian Disertasi ini, pendekatan dan metode menjadi subjudul
yang disertakan pada Bab 2 dari keseluruhan 5 Bab. Pendekatan
penelitian bersama-sama dengan model-model analasis dan
metode yang berupa langkah-langkah penelitian membentuk
sebuah bangunan kerangka kerja penelitian (research
framework).

Sebuah penelitian dengan pendekatan hermeneutik ialah
penelitian yang menggunakan ilmu hermneutik sebagai sudut
pandang atau ‘kaca mata’ dalam bagaimana data-data diambil
dan dikumpulkan, dianalisis/ditafsir/diinterpretasi, dan
dideskripsikan. Kesalahan dalam memilih pendekatan dan
metode penelitian, maka dapat mengurangi kecermatan tidak
hanya pada hasil akhir penelitian, bahkan pada seluruh proses
penelitian, mulai dari pengambilan data hingga deskripsi hasil
penelitian.

3

Secara etimologis, istilah hermneutik berasal dari Bahasa
Yunani hermeneuein yang memiliki arti ‘menafsirkan’. Istilah ini
diambil dari peran dewa Hermes dalam mitologi Yunani yang
bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan dari Dewa
Agung kepada manusia. Hermneutik secara umum didefinisikan
sebagai ilmu filsafat tentang penafsiran atau interpretasi makna.

Ilmu hermneutik telah berkembang dengan pesat. Hingga
pada zaman Schleiermacher, hermeneutik hanya difungsikan
sebagai media untuk interpretasi teks-teks Kitab Suci agama. Ia
kemudian meluaskan temanya dan merumuskan kaidah-kaidah
untuk menafsirkan teks-teks selain agama seperti kesusastraan
dan hukum. Setelahnya, Wilhelm Dilthey membuat kajian
hermeneutik semakin melebar meliputi segala teks dan
pemahaman terhadap masalah-masalah yang berhubungan
dengan humaniora (human sciences). Pada akhirnya dengan
perantaraan Heidegger dan kemudian Ricoeur, domain
hermeneutik menjadi sangat universal yang membahas teks dan
non-teks, fenomena-fenomena yang berkaitan dengan metafisika,
prilaku manusia, dan alam materi. [Palmer, 1969].

Kegiatan penelitian tentang sinkretisme bentuk pada
arsitektur sangatlah langka. Hal ini bisa dimengerti, karena
sinkretisme sangat berkaitan erat dengan agama, keyakinan atau
kepercayaan kelompok masyarakat tertentu, sehingga tema-tema
percampuran agama, keyakinan, dan kepercayaan atau unsur-
unsurnya yang berpotensi menimbulkan polemik kerap dihindari.
Kemungkinan polemik yang muncul adalah sikap menerima dan
menolak adanya percampuran agama, keyakinan, dan
kepercayaan atau unsur-unsurnya yang melibatkan dua kelompok
masyarakat pendukung dari masing-masing sikap tersebut.

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah
bagaimana metode hermeneutik dalam penelitian dan makna
sinkretisme bentuk pada arsitektur bangunan peribadatan, yang
dapat diuraikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan: [1]
bagaimana metode hermeneutik dalam penelitian sinkretisme

4

bentuk pada arsitektur bangunan peribadatan; dan [2] bagaimana
makna sinkretisme bentuk pada arsitektur bangunan
peribadatan.

Kasus studi adalah mesjid Sunan Ampel di Surabaya.
Pemilihan kasus studi didasarkan pada pertimbangan bahwa
mesjid Sunan Ampel adalah mesjid tertua di Indonesia yang
masih ada dan fungsinya tidak berubah dari waktu berdirinya
hingga sekarang, yang sudah mengalami waktu sekitar lima abad.

Penelitian ini bertujuan memahami metode dalam
penelitian dan makna sinkretisme bentuk pada arsitektur
bangunan peribadatan. Tujuan ini dapat dicapai melalui langkah-
langkah sebagai berikut: [1] mengeksplorasi metode hermeneutik;
[2] mengeksplorasi konsep sinkretisme bentuk pada arsitektur
bangunan peribadatan; [3] mengeksplorasi konsep bentuk
arsitektur acuan; [4] mengeksplorasi bangunan kasus studi; [5]
menerapkan metode hermeneutik pada kasus studi; dan [6]
menganalisis dan menginterpretasi proses penerapan metode
hermeneutik pada kasus studi.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi: [1] pada pengembangan pengetahuan teoritis dan
empiris tentang sinkretisme bentuk pada arsitektur bangunan
peribadatan; dan [2] pada pengembangan metode baru untuk
memahami makna sinkretisme bentuk pada arsitektur bangunan
peribadatan.

BAGIAN 2
METODE HERMENEUTIK

2.1 Tinjauan Hermeneutik sebagai Sebuah Metode
Pada awal abad ke-19, dua pakar filologi, yaitu Friedrich Ast dan
Friedrich August Wolf mengembangkan hermeneutik dengan
mengkhususkan diri pada pemahaman atas makna teks-teks
kuno, terutama kitab-kitab suci, karya-karya sastra, dan
dokumen-dokumen hukum. Kemudian, Friedrich Daniel Ernst
Schleiermarcher memperjelas eksistensi hermeneutik sebagai
sebuah ilmu memahami. Hasilnya bukan sekedar hermeneutik
filologis, tetapi suatu hermeneutik umum (universal) yang
prinsip-prinsipnya dapat menjadi dasar bagi semua bentuk
interpretasi teks. Dari sinilah, Schleiermarcher disebut sebagai
bapak hermeneutik modern.

Menurut Schleiermarcher, penafsir harus menempatkan
dirinya baik secara objektif maupun subjektif dalam posisi
pengarang. Dari sini muncul istilah interpretasi gramatis dan
interpretasi psikologis. Interpretasi gramatis yaitu proses
memahami sebuah teks bertolak dari bahasa, struktur kalimat-
kalimatnya, dan juga hubungan antara teks itu dengan teks-teks
lainnya yang bertema sejenis (objektif). Interpretasi psikologis
yaitu proses memahami sebuah teks bertolak dari dunia mental
pengarangnya (subjektif). Kedudukan keduanya harus setara.
Kedudukan setara antara interpretasi gramatis dan psikologis
dalam memahami makna teks itulah yang kemudian dikenal
dengan istilah lingkaran hermeneutik (hermeneutical circle).
[Hardiman, 2015].

Mendekati akhir abad ke-19, Wilhelm Dilthey, mulai
melihat hermeneutik sebagai pondasi geisteswissenschaften-yaitu,

5

6

semua ilmu sosial dan kemanusiaan, semua disiplin yang
menafsirkan ekspresi-ekspresi kehidupan batin manusia, dalam
bentuk ekspresi isyarat (sikap), perilaku historis, kodifikasi
hukum, satra, dan karya seni. Sebelumnya, Friedrich August Wolf
sudah membuat distingsi antara erklaren dan verstehen. Distingsi
ini oleh Dilthey kemudian dipakai untuk membedakan cara kerja
naturwissenschaften (ilmu alam) dan geisteswissenschaften (ilmu
sosial). Ia memikirkan perbedaan itu sebagai persoalan
epistemologis, yaitu persoalan cara mengetahui dan memahami
realitas yang diteliti. Menurut Dilthey, metode erklaren
memusatkan diri pada ‘sisi luar’ objek penelitian. Erklaren pada
akhirnya merupakan ‘analisis-kausal’, yaitu analisis atas proses-
proses yang berhubungan dengan sebab-akibat untuk
menemukan hukum-hukum alam. Sementara metode verstehen
memusatkan diri pada ‘sisi dalam’ objek penelitian, yaitu dunia
mental atau penghayatan, maka sesuai untuk masyarakat dan
kebudayaan. Di sini, seorang peneliti tidak mengambil distansi
penuh, melainkan justru sebaliknya, berpartisipasi di dalam
interaksi dan komunikasi sosial dengan hal-hal yang ditelitinya.
[Hardiman, 2015].

Dilthey memandang fungsi pemahaman yang terjadi
dalam prinsip lingkaran hermeneutik yang dicetuskan
Schleiermarcher, memperoleh maknanya dari fungsi bagian-
bagiannya dan secara resiprokal bagian-bagian tersebut hanya
dapat dipahami dengan mangacu kepada keseluruhannya.
Menurut Dilthey, makna bersifat historis; ia berubah selaras
dengan waktu. Sebuah peristiwa sejarah dapat dipahami
maknanya melalui tiga proses: pertama, memahami sudut
pandang atau gagasan pelaku asli; kedua, memahami kegiatan-
kegiatan para pelaku asli pada hal-hal yang secara langsung
berhubungan dengan peristiwa sejarah; dan ketiga, memahami
peristiwa-peristiwa sejarah berdasarkan gagasan yang berlaku
pada saat sejarawan itu hidup. Bagi Dilthey, memahami berada
pada ranah yang lebih dalam daripada Schleiermarcher. Baginya,
memahami sebuah karya, artefak atau fakta bukan sekedar soal

7

menangkap maksud penciptanya, melainkan sesuatu yang lebih
luas dan dalam yang meliputi banyak aspek, seperti cara hidup,
sikap, cita rasa, wawasan dunia, dan seterusnya. Kesamaan
keduanya adalah bahwa memahami diletakkan pada ranah
epistemologi. [Hardiman, 2015; Palmer, 1969; Sumaryono, 1999].

Berbeda dengan dua pendahulunya, Martin Heidegger,
meletakkan memahami jauh lebih dalam dan menyeluruh lagi
pada ranah ontologis. Memahami lalu bukan lagi sebuah metode,
melainkan cara kita bereksistensi di dunia ini. Ontologi Heidegger
dimaksudkan sebagai kajian yang bertolak dari Dasein-‘ada di
sana’. Kehadiran Dasein tidak bersifat statis dan konstan tetapi
bersifat dinamis. Heidegger melakukan pengubahan secara
mendasar pada hermeneutik dengan mengganti objek
penyelidikan yang semula bersifat konstan dan statis dengan
sesuatu yang bergerak dalam temporalitas. [Palmer, 1969]. Bagi
Heidegger, pemahaman (understanding-verstehen) yang pada
dasarnya bersifat pragmatis, eksistensial dan non-metodik,
merupakan titik mulai interpretasi (interpretation-auslegung).
Pemahaman tidaklah dimulai dengan kepala kosong, tetapi
diawali dengan tiga fore-structure, yaitu fore-having, fore-sight,
dan fore-conception. Fore-having artinya bahwa sebelum
mengangkat sebuah objek khusus secara eksplisit, kita memiliki
suatu latar belakang pengalaman keterlibatan pada objek. Namun
meski kita memiliki pengalaman itu, belum tentu kita
menganggapnya sebagai feature dengan ciri khasnya. Karenanya,
pada tingkat fore-sight, kita melihat terlebih dahulu jalan yang
menentukan bagaimana sesuatu menampakkan dirinya. Namun,
sesuatu menjadi eksplisit seutuhnya dalam tindakan
menafsirkan, mestinya terdapat semacam konsep khusus yang
mendahuluinya. Dari sinilah muncul semacam fore-conception,
yaitu kita telah mengetahui dengan satu dan lain cara secara
konseptual tentang sesuatu sebelum secara eksplisit
menafsirkanya. Ketiganya membentuk semacam lingkaran
hermenutik struktur pra-paham (fore-structure). [Gusmao, 2013].

8

Adanya fore-structure of understanding menunjukkan bahwa
understanding sangat dipengaruhi oleh keberadaan manusia yang
tidak lepas dari lingkup ruang dan waktu, sehingga pluralitas
understanding sangat mungkin terjadi.

Gagasan hermeneutik Heidegger dilanjutkan dan
dikembangkan oleh salah satu muridnya yaitu Hans-Georg
Gadamer. Dalam Truth and Method (Kebenaran dan Metode),
Gadamer, lewat konsep 'permainan' nya, menunjukkan makna
sebagai sesuatu yang terjadi dalam interaksi subyek dan objek,
sehingga ditemukan hal-hal baru setelah pengamatan secara
mendalam sebagai pengayaan makna. Dengan demikian makna
adalah interaksi antara sebuah objek dengan manusia yang
melihatnya. Dalam proses interaksi tersebut dipengaruhi oleh
fungsi kerja indera manusia, sehingga memperoleh pengayaan
makna setelah diamati secara mendalam [Gadamer, 2010].

Gadamer memberikan empat konsep yang dapat menolong
seseorang memperkaya pemahamannya, yaitu bildung, sensus
communis, pertimbangan, dan selera. Konsep bildung
mengandung makna dalam dirinya bahwa setiap orang, termasuk
pengarang dan penafsir, hidup dan mengada di dunia berdasar
keterlibatannya dalam sejarah. Konsep sensus communis
mengandung gagasan tentang ‘pengertian bersama’, dalam arti
bahwa pengertian atau pemahaman tentang sesuatu dapat dibagi
kepada orang lain. Dalam dirinya, sensus communis, bersifat
reflektif, mengundang seseorang untuk melakukan perenungan
bersama-sama. Perannya dalam hermeneutik ialah membatasi
dua wawasan yang bertentangan – wawasan penafsir dan
wawasan teks yang ditafsir – yang melalui proses dialog dan
dialektik menciptakan pemahaman bersama. Dari konsep inilah
lahir konsep ‘peleburan horizon’. Konsep pertimbangan adalah
kemampuan untuk memahami hal-hal yang khusus sebagai model
yang umum atau universal, dan kemampuan ini melibatkan
perasaan, gagasan, prinsip-prinsip, dan aturan-aturan yang dapat
diolah menjadi sarana pemahaman. Tanpa memiliki
pertimbangan yang baik, seseorang tidak akan dapat memahami

9

dan menafsirkan kehidupan. Konsep selera merupakan hasil dari
seimbangnya penyerapan indera dan kebebasan intelektual.
Selera dapat menyakinkan kita dalam membuat suatu
pertimbangan. [Gadamer, 2010; Hadi, 2014].

Menurut Gadamer, memahami suatu teks tidak dapat
lepas dari tradisi dan otoritas yang menghasilkan ataupun yang
membaca teks itu, maka memahami selalu merupakan hasil
peleburan horizon-horizon tradisi, otoritas, dan penafsir.
Pemahaman atas teks tidak pernah steril dari situasi spasio-
temporal pembaca dan teks, - seperti misalnya tradisi dan otoritas
– melainkan selalu merupakan interseksi situasi pembaca dan
teks atau apa yang disebut ‘peleburan horizon-horizon’. Jadi
seorang pembaca atau penafsir melebarkan horizon kekiniannya
sampai menjangkau horizon masa silam teks untuk memahami
teks itu secara kreatif. Dalam arti ini, makna dan kebenaran
bergerak bersama dengan gerak waktu tradisi dan otoritas.
[Hardiman, 2015].

Hermeneutik filosofis Gadamer mendapat berbagai
penerimaan sekaligus kritik. Salah seorang di antara para
pemikir yang mengapresiasi Gadamer dan menunjukkan
keberatan terhadapnya adalah Jurgen Habermas. Dalam
tanggapan-tanggapan terhadap hermeneutik filosofis Gadamer,
Habermas tidak sekedar mengkritik Gadamer, melainkan juga
mengambil pendirian sendiri tentang hermeneutik yang
kemudian disebut ‘hermeneutik kritis’. Bagi hermeneutik kritis,
memahami bukanlah sekedar mereproduksi makna yang
dimaksud penulis, seperti pada Schleiermarcher dan Dilthey, dan
juga bukan sekedar memproduksi makna baru yang terarah ke
masa depan, seperti pada Heidegger dan Gadamer, melainkan
membebaskan penulis dari komunikasi yang terdistorsi secara
sistematis yang telah menghasilkan teksnya. [Hardiman, 2015].

Menurut Jurgen Habermas, pemahaman hermeneutik
melibatkan tiga kelas ekspresi kehidupan, yaitu: linguistik
(bahasa), tindakan, dan pengalaman. Tentang linguistik (bahasa),

10

Habermas mengatakan bahwa ekspresi atau ungkapan dapat
dipisahkan dari konteks kehidupan konkrit jika tidak
berhubungan dengan bagian-bagian khusus dalam konteks
tersebut. Dalam hal ini ekspresi linguistik (bahasa) muncul dalam
bentuknya yang absolut, yaitu yang menggambarkan pemahaman
monologis. Habermas membicarakan tentang pemahaman
monologis atas makna, yaitu pemahaman yang tidak melibatkan
hubungan-hubungan faktual tetapi mencakup bahasa-bahasa
murni, seperti misalnya bahasa simbol. Karenanya hermeneutik
adalah pemahaman tentang makna yang mampu mengartikan
hubungan-hubungan simbol sebagai hubungan antar fakta.
Kemudian tentang tindakan, Habermas menjelaskan bahwa ilmu
pengetahuan hermeneutik bekerja pada tingkat tindakan
komunikatif. Dengan kata lain, pada saat interpreter (orang yang
memahami) membuat analisis, ia tetap pada tingkatan tindakan
komunikatif, sehingga analisisnya akan bersifat dialogal. Pada
kelas pengalaman, Habermas menerangkan, terutama dalam
reaksi tubuh manusia yang berupa kecenderungan yang tidak
dicetuskan atau sebagai ungkapan nonverbal, interpreter
memperhitungkan hal-hal itu sebagai salah satu bentuk atau
jenis pemahaman. Linguistik (bahasa) dan pengalaman, dalam
logika Habermas, harus masuk ke dalam dialektik dengan
tindakan. Oleh karena itu, bila kita hendak membuat interpretasi
yang benar dan tepat, kita harus mengupayakan dialog antara
linguistik (bahasa) dan pengalaman di satu sisi dengan tindakan
di sisi lain. [Sumaryono, 1999].

Dalam kancah filsafat dewasa ini, ada salah satu nama
yang mendapat perhatian luas, yakni Paul Ricoeur (lahir 1913).
Cakrawala pemikirannya melingkupi hampir semua topik filsafat
kontemporer. Lebih khusus lagi dalam wilayah studi
hermeneutik. Kekhasan kajian hermeneutik Ricoeur, bukan
hanya karena ia adalah pemikir mutakhir sehingga memiliki
kesempatan untuk meng-up-date pemikiran-pemikiran
sebelumnya, melainkan ia juga meng-up-grade dengan corak
kajian hermeneutik yang sepenuhnya berbeda dari kajian-kajian

11

yang ada. Ricoeur dapat memadukan dua tradisi filsafat besar,
yaitu fenomenologi Jerman dan Strukturalisme Perancis. Dari
arah fenomenologi, Ricoeur memadukan antara tendensi
metafisik Cartesian Edmund Husserl dan tendensi eksistensial
Heidegger. Sedangkan dari strukturalisme ia mengadopsi baik
aliran linguistik Ferdinand de Saussure maupun aliran
antropologis Claude Levi-Strauss. [Permata, 2012].

Menurut Ricoeur, tugas utama hermeneutik adalah untuk
memahami teks. Secara mendasar, Ricoeur mengatakan bahwa
teks adalah "any discourse fixed by writing". Dengan istilah
discourse, Ricoeur merujuk kepada bahasa sebagai event, yaitu
bahasa yang membicarakan tentang sesuatu. Dengan kata lain,
discourse adalah bahasa ketika ia digunakan untuk
berkomunikasi. Ricoeur menganggap bahwa sebuah teks memiliki
kemandirian dan totalitas, yang dicirikan oleh empat hal.
Pertama, dalam teks makna yang terdapat pada apa yang
dikatakan (what is said) terlepas dari proses pengungkapannya
(the act of saying). Kedua, dengan demikian makna sebuah teks
juga tidak lagi terikat kepada pembicara. Apa yang dimaksud teks
tidak lagi terkait dengan apa yang awalnya dimaksudkan oleh
penulisnya. Ketiga, karena tidak lagi terikat pada sebuah sistem
dialog, maka sebuah teks tidak lagi terikat oleh konteks semula,
ia tidak terikat pada konteks asli dari pembicaraan. Keempat,
artinya pula bahwa ia tidak terikat oleh audiens awal. Dengan
demikian, apa yang ditunjuk oleh teks adalah dunia imajiner yang
dibangun oleh teks itu sendiri - dalam dirinya sendiri maupun
dalam hubungan dengan teks-teks yang lain. [Ricoeur, 2012].

Dalam memahami makna teks, Ricoeur menyarankan
melalui dua tahap, yaitu tahap pertama, eksplanasi, dan tahap
kedua, interpretasi. Tahap eksplanasi dilakukan untuk
memahami makna statisnya (makna fungsional), dan tahap
interpretasi dilakukan untuk memahami makna dinamisnya,
yang bersifat multi-interpretable. [Ghasemi, 2011]. Dalam
memahami makna simbol, menurut Ricoeur, ada tiga langkah

12

pemahaman. Langkah pertama ialah langkah simbolik, atau
pemahaman dari simbol ke simbol. Langkah kedua adalah
pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas
makna. Langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar
filosofis, yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik
tolaknya. Ketiga langkah tersebut berhubungan erat dengan
langkah-langkah pemahaman makna dalam Bahasa, yaitu
semantic, refleksif, dan eksistensial atau ontologis. Langkah
semantic adalah pemahaman pada tingkat ilmu Bahasa yang
murni. Langkah refleksif adalah pemahaman pada tingkat yang
lebih tinggi, mendekati tingkat ontologi. Langkah eksistensial
adalah pemahaman pada tingkat being atau keberadaan makna
itu sendiri. [Kaelan, 2012; Sumaryono, 1999].

2.2 Metode Hermeneutik dalam Penelitian Arsitektur
Berdasarkan pemikiran hermeneutik para tokoh seperti
diuraikan sebelumnya, ada beberapa konsep yang dapat dijadikan
model metode dalam sebuah penelitian arsitektur, yaitu sebagai
berikut:

• lingkaran hermeneutik
• hermeneutik sebagai berarsitektur
• empati (hermeneutik Schleiermarher)
• penghayatan (hermenutik Dilthey)
• pra-struktur (hermeneutik Heidegger)
• peleburan horizon (hermeneutik Gadamer)
• dialog (hermeneutik Habermas)
• otonomi (hermeneutik Ricoeur)

Lingkaran Hermeneutik
Fungsi pemahaman memperoleh maknanya dari fungsi bagian-
bagiannya dan secara resiprokal bagian-bagian tersebut hanya
dapat dipahami dengan mangacu kepada keseluruhannya
[Gambar 01].

13

Memahami keseluruhan KESELURUHAN BAGIAN
dapat dibantu dengan
memahami bagiannya,
dan memahami bagian
dapat dibantu dengan
memahami
keseluruhannya

Gambar 01. Lingkaran Hermeneutik (Hermeneutic Circle)

Dalam penelitian arsitektur, lingkaran hermeneutik dapat
digunakan sebagai model rancangan penelitian dalam bentuk
sebuah alur penelitian [Gambar 02].

Gambar 02. Sebuah model diagram alur penelitian

14

Pada umumnya dalam sebuah penelitian disertakan
diagram alur penelitian yang memperlihatkan seluruh proses
kegiatan penelitian. Pada bagian akhir, hasil penelitian ataupun
kesimpulan, dilakukan umpan balik (feedback) ke bagian latar
belakang atau permasalahan atau tujuan. Mestinya umpan balik
dapat dilakukan pada setiap bagian dalam diagram alur
penelitian, misalnya ketika melakukan analisa dan interpretasi
bisa saja kita melihat kembali pada bagian-bagian sebelumnya,
seperti pada bagian kajian teoritisnya atau pada metode yang
digunakan, tidak harus menunggu sampai pada hasil akhir baru
melakukan umpan balik. Umpan balik yang dilakukan pada tiap-
tiap bagian dalam diagram alur penelitian dapat digunakan
sebagai kontrol dan sekaligus evaluasi secara terus-menerus,
sehingga peneliti memiliki pertimbangan-pertimbangan yang
cermat, matang, dan bijaksana dalam setiap keputusan menulis
narasi penelitiannya, dari awal hingga akhir.

Hermeneutik sebagai Berarsitektur
Hermeneutik sebagai seni memahami memiliki hubungan erat
dengan arsitektur. Berarsitektur dapat diartikan sebagai seni
memahami arsitektur. Untuk keperluan pembahasan dalam
penelitian ini, maka arsitektur dapat dipahami sebagai relasi
bentuk-fungsi-makna, sehingga berarsitektur adalah memahami
relasi-relasi yang terjadi pada ketiganya. Jadi, lingkaran
hermeneutik dapat diterjemahkan ke dalam arsitektur sebagai
relasi-relasi yang terjadi pada bentuk, fungsi, dan makna
[Gambar 03].

Relasi bentuk-fungsi-makna merupakan salah satu tema
penting dalam kajian arsitektur. Diawali oleh Marcus Vitruvius
Pollio (sekitar abad pertama SM), yang menyebutkan bahwa
semua bangunan harus dibangun dengan mengacu kepada:
durability (firmitas), convenience (utilitas), dan beauty (venustas)
[Morgan, 1914]. Firmitas dapat diartikan sebagai kekuatan,
utilitas sebagai kegunaan atau fungsi, dan venustas sebagai
estetika atau keindahan.

15

Gambar 03. Berarsitektur: memahami relasi bentuk-fungsi-makna

Trium Vitruvius kemudian diuji oleh David Smith Capon.
Capon menyimpulkan, terdapat enam kategori dalam prinsip-
prinsip arsitektur (principles of good architecture), yang
dikelompokkan ke dalam primary dan secondary categories, yaitu
: function, form, meaning sebagai primary categories, dan context,
construction, spirit sebagai secondary categories. [Capon, 1999].

Purnama Salura dan Bachtiar Fauzy mengembangkan
konsep perputaran fungsi-bentuk-makna. Setiap produk disain
arsitektural harus mengutamakan unsur-unsur fungsi-bentuk-
makna. Ketiga unsur membentuk bangun segitiga, yang selalu
dalam keadaan berubah (berputar). Dalam konsep ini
menunjukkan bahwa arsitektur selalu mengalami perubahan.
[Salura & Fauzy, 2012].

Empati
Tugas hermeneutik adalah memahami teks sebaik atau lebih baik
daripada pengarangnya, dan memahami pengarang teks sebaik
atau lebih baik daripada memahami diri sendiri. Dalam
berarsitektur, maka memahami karya arsitektur sebaik atau
lebih baik daripada arsiteknya, dan memahami arsiteknya sebaik
atau lebih baik daripada dirinya sendiri [Gambar 04].

16

Gambar 04. Relasi antara peneliti, karya arsitektur, dan arsitek
dalam konsep empati

Penghayatan
Hermeneutik dalam memahami suatu teks harus
menempatkannya di dalam konteks kehidupan penulisnya, yang
terdiri atas masyarakat, kebudayaan, dan sejarah. Artinya
memahami suatu teks harus melalui penghayatan terhadap
penulisnya. Dalam berarsitektur, maka untuk memahami karya
arsitektur dengan baik harus melalui penghayatan terhadap
arsiteknya [Gambar 05].

Pra-Struktur
Understanding atau memahami merupakan power untuk
menangkap keberadaan di dunia (being in the world). Untuk
memahaminya, maka seseorang atau peneliti tidak memulai
dengan kepala kosong, melainkan diawali dengan fore-structure,
yang terdiri atas: fore-having, fore-sight, dan fore-conception.
Dalam penelitian arsitektur, konsep ini, meskipun mungkin agak
sulit penggalian dan penerapannya, dapat memunculkan sebuah
‘metode’ penelitian yang hasil akhir penelitiannya bersifat
ontologis. Dalam hal ini, arsitektur harus ‘diperas’ untuk
‘dimurnikan’ menjadi ilmu yang bersifat ontologis.

17
Menangkap makna keberadaan di dunia dapat dimengerti
sebagai menangkap makna berarsitektur di dunia. Untuk
menangkap makna berarsitektur di dunia, seseorang atau peneliti
harus memahami diawali dengan pra-struktur (fore-structure).
Memahami berarsitektur di dunia, maksudnya adalah memahami
relasi-relasi yang terjadi pada bentuk, fungsi, dan makna, dalam
ranah ontologi arsitektur [Gambar 06]. Pada kenyataannya,
penelitian arsitektur agak sulit menyentuh ranah ontologis.

Gambar 05. Relasi antara peneliti, karya arsitektur, dan arsitek
dalam konsep penghayatan

Gambar 06. Menangkap makna keberadaan arsitektur (berarsitektur) di dunia

18
Peleburan horizon
seorang pembaca atau penafsir melebarkan horizon kekiniannya
sampai menjangkau horizon masa silam teks untuk memahami
teks itu secara kreatif. Horizon yang dimaksud meliputi
masyarakat, kebudayaan (tradisi), sejarah, dan otoritas. Dalam
arsitektur, seorang peneliti harus melebarkan horizon
kekiniannya sampai menjangkau horizon masa silam karya
arsitektur untuk memahami karya arsitektur itu secara kreatif
[Gambar 07].

Gambar 07. Memahami karya arsitektur secara kreatif
dengan konsep peleburan horizon

Dialog
Pemahaman hermeneutik melibatkan tiga kelas ekspresi
kehidupan, yaitu: linguistik (bahasa), tindakan, dan pengalaman.
Apabila kita hendak membuat interpretasi yang benar dan tepat,
kita harus mengupayakan dialog antara linguistik (bahasa) dan
pengalaman di satu sisi dengan tindakan di sisi lain. Pemahaman
hermeneutik ini tidak jauh berbeda dengan konsep arsitektur
dalam penelitian ini. Linguistik dapat ditempatkan sebagai

19

bentuk, tindakan dapat ditempatkan sebagai fungsi atau
kegiatan, dan pengalaman adalah modal pelaku dalam melakukan
kegiatan. Dialog dapat ditempatkan sebagai relasi. Jadi,
berarsitektur adalah memahami arsitektur melalui dialog-dialog
yang terjadi antara bentuk, fungsi, dan makna, dengan modal
pengalaman pelakunya [Gambar 08].

Gambar 08. Memahami berarsitektur dengan konsep dialog

Otonomi
Sebuah teks memiliki kemandirian dan totalitas, yang dicirikan
oleh empat hal, yaitu pertama, makna teks terlepas dari proses
pengungkapannya; kedua, makna teks terlepas dari
pembicaranya; ketiga, makna teks terlepas dari konteks awalnya;
dan keempat, makna teks terlepas dari audiens awalnya. Dalam
arsitektur otonomi teks ini dapat dielaborasi menjadi otonomi
arsitektur, yaitu pertama, makna arsitektur terlepas dari proses
pendiriannya; kedua, makna arsitektur terlepas dari arsiteknya;
ketiga, makna arsitektur terlepas dari konteks awalnya; dan
keempat, makna arsitektur terlepas dari pendukung/pengguna
awalnya.

Proses hermeneutik dalam memaknai simbol melalui tiga
tahap. Proses hermeneutik yang menghasilkan pemaknaan
pertama yang berasal dari simbol-simbol yang bersifat literal.
Pemaknaan pertama menghasilkan pemaknaan kedua, yang

20
bersifat reflektif fenomenologis, yaitu pemaknaan dengan melihat
secara kritis dan medasar tentang fenomena yang berasal dari
suatu pandangan keagamaan, pandangan hidup, atau pemikiran
masyarakat pemilik simbol-simbol tersebut. Pemaknaan kedua
menghasilkan pemaknaan ketiga, yaitu pemaknaan eksistensial.
Pemaknaan eksistensial adalah pemaknaan yang diperoleh ketika
terjadi desubjektivasi atau dekonstruksi pemikiran subjektif
masyarakat pemilik simbol. Hasil pemaknaan itu adalah
pemaknaan yang hakiki dan filosofis yang berasal dari simbol-
simbol milik masyarakat. Langkah-langkah ini bisa dielaborasi
untuk kepentingan penelitian arsitektur. Langkah pemaknaan
literasi dapat ditempatkan sebagai pemaknaan fungsional.
Pemaknaan refleksif dapat ditempatkan sebagai pemaknaan
simbolik atau konseptual. Pemaknaan eksistensial dapat
ditempatkan sebagai pemaknaan ontologis. [Gambar 09].

Gambar 09. Memahami karya arsitektur dengan konsep otonomi
melalui tiga tahap: fungsional-simbolik-ontologis

Dalam penelitian arsitektur, tahapan ketiga, yaitu
pemaknaan ontologis, seperti disinggung pada bagian
sebelumnya, sulit diwujudkan, sehingga pemahaman melalui dua
tahapan tetap merupakan pilihan yang baik. Makna fungsional
dalam arsitektur, yang bersifat statis, dapat dipahami melalui

21
tahapan pertama, yaitu pemaknaan fungsional dengan cara
eksplanasi. Makna simbolik dalam arsitektur, yang bersifat
dinamis (multi-interpretable), dapat dipahami melalui tahapan
kedua, yaitu pemaknaan simbolik dengan cara interpretasi.
[Gambar 10].

Gambar 10. Memahami karya arsitektur dengan konsep otonomi
melalui dua tahap: eksplanasi-interpretasi

Dari beberapa model metode penelitian sebagaimana
diuraikan di atas, maka perlu memilih metode penelitian yang
paling cocok dengan permasalahan dan tujuan penelitian.
Beberapa pertimbangan dalam memilih metode penelitian yang
relevan adalah sebagai berikut. Dalam penelitian ini terdapat
kendala-kendala yang bisa menggangu proses penyelesainnya,
yaitu pertama, data-data tentang bentuk fisik bangunan mesjid
Sunan Ampel, yang dijadikan kasus studi, pada periode awal dan
perkembangannya sulit didapatkan, dan kedua, keberadaan
mesjid Sunan Ampel dan pendirinya (Sunan Ampel) diselimuti
dengan mitos dan dongeng. Oleh Karena itu, penelitian ini
berfokus pada bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel dalam
keadaannya sekarang ini. Metode interpretasi hermeneutik yang

22

paling relevan adalah hermeneutika yang digagas oleh Paul
Ricoeur. Mesjid Sunan Ampel dianggap sebagai teks yang otonom.

Berdasarkan elaborasi metode interpretasi hermeneutika
Ricoeur, maka proses penelitian ini dilakukan dalam dua tahap,
yaitu pertama, tahap eksplanasi bentuk dan fungsi arsitektur
mesjid Sunan Ampel, dan kedua, tahap analisa dan interpretasi
makna sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid Sunan Ampel
[Gambar 11]. Kegiatan analisis tidak dipisahkan dari kegiatan
interpretasi, karena pada pelaksanaannya, kedua kegiatan
tersebut tidak bersifat linier, tapi saling melengkapi dan
memperkuat satu dengan lainnya. Kegiatan analisis
membutuhkan interpretasi, dan sebaliknya, kegiatan interpretasi
membutuhkan analisis.

EKSPLANASI ANALISIS & INTERPRETASI

Eksplanasi Bentuk dan Makna Sinkretisme
Fungsi Arsitektur Mesjid Bentuk pada Arsitektur

Sunan Ampel Mesjid Sunan Ampel

Tahap pertama Tahap kedua

Gambar 11. Diagram tahapan pemahaman makna berdasarkan elaborasi
hermeneutik Ricoeur: Eksplanasi-Analisis & Interpretasi

BAGIAN 3
KONSEP SINKRETISME BENTUK

PADA ARSITEKTUR

3.1 Konsep Sinkretisme dalam Arsitektur
Istilah sinkretisme bisa dilacak dari kata Yunani ‘sunkretamos’
yang artinya kesatuan, dan kata ‘synkerannumi’ yang berarti
mencampur aduk. Istilah tersebut mula-mula adalah istilah
politik, yang digunakan oleh Plutarch untuk menggambarkan
kesatuan orang-orang dari Pulau Kreta yang melawan musuh
bersamanya. Kesatuan tersebut adalah sebagai sinkretismos.
Kemudian istilah ini juga dipakai di dalam bidang filsafat dan
agama guna menggambarkan suatu keharmonisan dan
perdamaian. Di dalam bidang filsafat, pada abad ke-15 Masehi,
Kardinal Bessarion menggunakan istilah sinkretisme dalam
ungkapannya untuk mendamaikan dan mengharmoniskan filsafat
Plato dan Aristoteles. Di dalam bidang keagamaan, pada abad ke-
17 Masehi, Calextus, seorang pengikut Martin Luther, disebut
sebagai seorang sinkretis, sebab dia berusaha mendamaikan dan
menyatukan teologia-teologia Protestan yang ada. Di sini
terkandung arti pula unsur-unsur mencampur-adukkan antara
satu dengan lainnya sehingga semuanya menjadi satu.
[Levinskaya, 1993; The College Board, 2013; The New American
Library, 1957].

Dalam arsitektur istilah sinkretisme bentuk bisa diartikan
sebagai perpaduan (mixing /amalgamation /integration /synthesis
/blending /hybridization /creolization /fusion /compound) berbagai
gaya (style) dalam arsitektur, yang berkaitan dengan aktivitas
keagamaan, tradisi, praktek-praktek budaya, unsur-unsur asing

23

24

(foreign), dan kolonialisme (kolonialism) [Ali, 2013; Antariksa,
2002; Ascott, 2009; Bailey, 2010; Denhere, 2010; Edginton, 2008;
Hoskins, 2014; Moinifar, 2013; Noble, tt; Prijotomo, 1988; von
Henneberg, 1996].

Konsep percampuran bentuk arsitektur yang dikaitkan
dengan unsur-unsur budaya fisik tidak dapat ditelusuri hanya
dengan pendekatan ilmu arsitektur, melainkan harus meminjam
ilmu lain, yakni antropologi. Akulturasi terjadi bila kelompok-
kelompok individu yang memiliki kebudayaan yang berbeda
saling berhubungan secara langsung dengan intensif, dan dalam
waktu yang lama, dengan timbulnya kemudian pengubahan-
pengubahan besar pada pola kebudayaan dari salah satu atau
kedua kebudayaan yang bersangkutan [Haviland, 1993].

Dalam proses akulturasi, terdapat empat strategi, yaitu
proses asimilasi (assimilation), separasi (separation), integrasi
(integration), dan marginalisasi (marginalization). Asimilasi
terjadi ketika individu tidak ingin mempertahankan identitas
budaya mereka dan mencari interaksi sehari-hari dengan budaya
lain. Di sini individu lebih memilih untuk menumpahkan budaya
warisan mereka, dan menjadi diserap ke dalam masyarakat yang
dominan. Separasi terjadi ketika individu menempatkan nilai
pada budaya asli mereka, dan pada saat yang sama ingin
menghindari interaksi dengan orang lain. Integrasi terjadi ketika
individu masih kuat mempertahankan warisan budayanya, dan
pada saat yang sama mengadakan interaksi sehari-hari dengan
kelompok lain. Marginalisasi terjadi jika individu yang sedikit
menjaga warisan budaya, dan pada saat yang sama sedikit minat
untuk berhubungan dengan kelompok lain. [Berry, 2005].
[Gambar 12a].

Dalam akulturasi, sikap masyarakat lokal terhadap
peradaban asing (luar) terjadi dalam tiga keadaan. Pertama,
apabila peradaban diri (lokal) lemah, maka yang terjadi adalah
adopsi (adoption), yakni posisi yang selalu didikte oleh peradaban
yang lebih kuat (asing). Kedua, apabila peradaban lokal kuat
menghadapi peradaban dari luar yang lemah maka terjadilah

25
adaptasi (adaptation). Dan ketiga, apabila sama-sama kuat antara
peradaban lokal dan asing maka terjadilah sinergi (synergy),
artinya saling memberikan masukan yang setara. [Salura, 2015].
[Gambar 12b].

Gambar 12. Diagram konsep akulturasi menurut Berry dan Salura

Dalam penelitian ini, dengan mengelaborasi konsep
strategi akulturasi Berry dan sikap berakulturasi Salura, ketiga
konsep, yaitu konsep adopsi (adoption), adaptasi (adaptation), dan
sinergi (synergy) dipergunakan sebagai konsep-konsep
sinkretisme bentuk pada arsitektur bangunan peribadatan [Tabel
01].

Adopsi (adoption) dalam sinkretisme bentuk terjadi
apabila bentuk dan atau elemen pada bangunan peribadatan
merupakan percampuran antara bentuk dan atau elemen
arsitektur lokal dan non lokal, yang mana bentuk arsitektur non
lokal dominan terhadap bentuk arsitektur lokal.

Adaptasi (adaptation) dalam sinkretisme bentuk terjadi
apabila bentuk dan atau elemen pada bangunan peribadatan
merupakan percampuran antara bentuk dan atau elemen

26

arsitektur lokal dan non lokal, yang mana bentuk arsitektur lokal
dominan terhadap bentuk arsitektur non lokal.

Tabel 01. Konsep sinkretisme bentuk pada arsitektur bangunan
peribadatan berdasarkan elaborasi konsep akulturasi Berry dan Salura

Konsep akulturasi Konsep akulturasi Konsep
menurut Berry menurut Salura sinkretisme

Asimilasi (assimilation) Adopsi (Adoption) bentuk
Separasi (separation) Adaptasi (Adaptation) pada arsitektur
Integrasi (integration)
Marginalisasi Sinergi (Synergy) Adopsi
(marginalization) - Adaptasi
Sinergi

-

Sinergi (synergy) dalam sinkretisme bentuk terjadi apabila
bentuk dan atau elemen pada bangunan peribadatan merupakan
percampuran antara bentuk dan atau elemen arsitektur lokal dan
non lokal, yang mana tidak terjadi dominasi antara bentuk
arsitektur lokal dan bentuk arsitektur non lokal.

Dominasi sinkretisme bentuk pada arsitektur bangunan
peribadatan ditentukan berdasarkan dua faktor, yaitu pertama,
faktor dimensi bentuk arsitektur (dimensi ruang: ketinggian dan
keluasan) dan kedua, faktor jumlah bentuk arsitektur. Dari kedua
faktor tersebut, bobot yang lebih besar adalah faktor dimensi,
dengan pertimbangan bahwa bangunan peribadatan adalah
bangunan sakral, yang diekspresikan dengan bentuk-bentuk
bangunan tinggi dan besar.

Dalam penelitian ini, untuk keperluan analisis dan
interpretasi, sinkretisme bentuk pada arsitektur bangunan
peribadatan dianggap melibatkan empat bentuk arsitektur acuan,
yaitu bentuk arsitektur acuan lokal terdiri atas dua bentuk, dan
bentuk arsitektur acuan non lokal terdiri atas dua bentuk. Proses

27
adopsi, adaptasi, dan sinergi di atas dapat diilustrasikan secara
grafis sebagai berikut [Gambar 13].

a. Adopsi

b. Adaptasi

c. Sinergi

Gambar 13. Ilustrasi grafis konsep-konsep sinkretisme bentuk
pada arsitektur bangunan peribadatan: adopsi, adaptasi, dan sinergi

28

3.2 Konsep Bentuk Arsitektur Acuan
Sebagaimana disebutkan pada bagian sebelumnya, kasus studi
dalam penelitian ini adalah mesjid Sunan Ampel di Surabaya,
Jawa Timur. Sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid Sunan
Ampel memerlukan bentuk arsitektur acuan. Bentuk arsitektur
acuan adalah bentuk arsitektur bangunan-bangunan peribadatan
yang pernah hadir dan menjadi bagian dari sejarah
perkembangan arsitektur di Indonesia, khususnya di Jawa, yang
diduga menjadi acuan dalam proses sinkretisme bentuk pada
arsitektur mesjid Sunan Ampel, baik pada masa awal maupun
pada masa-masa perkembangannya hingga sekarang ini. Bentuk-
bentuk arsitektur bangunan peribadatan dijadikan bentuk-
bentuk arsitektur acuan dalam penelitian ini, karena konsep
sinkretisme bentuk pada arsitektur melibatkan unsur kesakralan.
Bangunan peribadatan memiliki unsur-unsur kesakralan karena
ia merupakan tempat penyembahan diri manusia kepada
Tuhannya.

Sinkretisme bentuk pada arsitektur berkait erat dengan
Yang sakral. Yang sakral identik dengan hal-hal yang bersifat
keilahian (ketuhanan) dan transenden. Semua agama yang dianut
manusia di muka bumi ini berurusan dengan penghambaan
dirinya kepada Tuhan yang berada di tempat yang tidak
terjangkau (transenden). Tempat yang tidak terjangkau ini
identik dengan Yang di atas. Yang di atas merupakan orientasi,
oleh karenanya Yang sakral memberikan syarat adanya sebuah
orientasi. [Akkach, 2005; Eliade, 1959]. Bangunan keagamaan
adalah bangunan yang sakral.

Bangunan keagamaan, seperti candi, mesjid, dan gereja
dapat dianggap sebagai bangunan sakral. Bangunan candi
memiliki orientasi memusat dan ke atas; ia sebagai tiruan karya
arsitektur surga, yang memiliki eksistensi spiritual surgawi dan
abadi. Mesjid memiliki orientasi ke arah Kabah di Mekah dan ke
atas. Keberadaan mihrab berbentuk ceruk pada bangunan mesjid
menunjukkan arah Kabah. Kabah adalah pusat orientasi umat
Islam dalam kegiatan ritualnya (ritual shalat). Langit di atas

29

Kabah dianggap sebagai yang paling sakral. Gereja memiliki
orientasi ke empat arah mata angin dan ke atas. Keempat bagian
interior gereja menyimbolkan empat arah mata angin. Pada
zaman perkembangan arsitektur Gothik, bentuk bangunan gereja
dibangun menjulang tinggi untuk menunjukkan kepada sesuatu
yang tinggi dan transenden. [Akkach, 2005; Eliade, 1959; van de
Ven, 1991].

Bentuk arsitektur acuan dibedakan atas dua bentuk, yaitu
bentuk arsitektur lokal dan bentuk arsitektur non lokal. Bentuk
arsitektur lokal adalah bentuk arsitektur bangunan peribadatan
yang memiliki ekspresi bentuk lokal, yang merupakan hasil olah
pikir masyarakat lokal (masyarakat Jawa), yang sudah ada sejak
sebelum datangnya pengaruh dari luar. Bentuk arsitektur lokal
sudah ada sebelum kehadiran mesjid Sunan Ampel, dan diduga
menjadi acuan bentuk-bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel.

Bentuk arsitektur lokal dapat dirujuk pada arsitektur
tradisional. Arsitektur tradisonal Jawa, yang sudah dimiliki oleh
masyarakat Jawa sejak ribuan tahun yang lalu, merupakan local
genius, yang selalu berkembang dan secara terus menerus
menuju kesempurnaan dalam bentuk arsitektur rumahnya.
Arsitektur rumah tradisional Jawa terdiri atas: panggang-pe,
kampung, limasan, joglo, dan tajuk [Gambar 14].

a.panggang-pe b.kampung c.tajug d.limasan e.joglo

Gambar 14. Tipe rumah tradisional Jawa
Sumber: Dakung [1986]

30

Berdasarkan penelusuran, maka bangunan tradisonal
Jawa yang berhubungan dengan kesakralan adalah limasan dan
tajuk. Bentuk limasan direpresentasikan oleh bentuk cungkup
makam Fatimah binti Maimun di Gresik, Jawa Timur, yang
keberadaannya diperkirakan pada abad 15 Masehi. Bentuk tajuk
direpresentasikan oleh bentuk cungkup makam Sunan Bonang di
Tuban, Jawa Timur, yang keberadaannya diperkirakan pada abad
16 Masehi. [Ashadi, 2016]. [Gambar 15].

a.Cungkup makam Fatimah a.Cungkup makam Sunan Bonang

binti Maimun di Gresik, Jawa Timur di Tuban, Jawa Timur

Gambar 15. Bentuk limasan dan tajuk pada cungkup makam,
yang menjadi bentuk arsitektur acuan lokal

Bentuk arsitektur non lokal adalah bentuk arsitektur
bangunan peribadatan yang memiliki ekspresi bentuk arsitektur
non lokal (berasal dari luar Indonesia), yang diduga menjadi
acuan bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel. Bentuk arsitektur
non lokal, ada yang sudah hadir sebelum keberadaan mesjid
Sunan Ampel, dan ada yang hadir sesudahnya. Dalam proses
sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid Sunan Ampel, bentuk-
bentuk arsitektur bangunan peribadatan non lokal yang
ditengarai menjadi acuan bentuk-bentuk arsitektur masjid Sunan
Ampel adalah sebagai berikut: [a] candi Hindu/Budha Jawa; [b]
mesjid Nabawi pada periode awal; [c] gereja kolonial; [d] mesjid
Pan Islamisme; dan [e] mesjid modern [Ashadi, 2016].

31

Bangunan candi Hindu/Budha sudah hadir di pulau Jawa
sebelum keberadaan mesjid Sunan Ampel. Percandian yang
paling awal keberadaannya di Jawa adalah candi-candi di Dieng,
yaitu pada abad 7-8 Masehi. Kemudian disusul dengan candi-
candi lainnya seperti Borobudur, Prambanan, Penataran, Jago,
dan lain-lain.

Kompleks percandian Hindu/Budha di Jawa pada umumnya
memiliki pintu gerbang berbentuk gapura paduraksa (tertutup
pada bagian atasnya) dan bentar (terbuka pada bagian atasnya).
Gapura memiliki fungsi sebagai pintu masuk ke dalam kompleks
percandian atau pintu masuk ke zona-zona dalam kompleks
percandian. Gapura paduraksa dapat dijumpai pada kompleks
percandian Ratu Boko, Klaten, Jawa Tengah (abad 8), dan pada
candi Plumbangan, di Blitar, Jawa Timur (abad 14). [Gambar 16].

a. Gapura paduraksa dalam c. Gapura paduraksa candi
kompleks percandian Ratu Boko Plumbangan, Blitar

Gambar 16. Bentuk gapura paduraksa pada percandian, yang
menjadi bentuk arsitektur acuan non lokal

Konsep mesjid dalam Islam mengacu pada konsep mesjid
Nabawi pada masa awalnya, karena Islam sendiri tidak
memberikan konsep baku pada rancangan sebuah mesjid. Mesjid
Nabawi yang didirikan pada permulaan penyebaran Islam di

32

Madinah, Arab Saudi, sekitar abad 7 Masehi, menjadi acuan dasar
dalam perencanaan dan perancangan bangunan mesjid di negeri-
negeri di luar Jazirah Arab, termasuk di Indonesia. Salah satu
persyaratan yang harus dipenuhi bagi sebuah masjid adalah ia
harus menghadap ke arah kiblat, yakni Ka’bah di Masjidil Haram,
Mekah, Arab Saudi. Mesjid Nabawi pada masa permulaan adalah
salah satu contoh dari pola mesjid lapangan. [Gambar 17].

rumah Nabi KIBLAT

sumur

Gambar 17. Bentuk mesjid Nabawi awal, yang menjadi bentuk
arsitektur acuan non lokal

Arsitektur kolonial Belanda telah memberikan warna
dalam perkembangan arsitektur di Indonesia, dan ikut
memperkaya arsitektur lokal. Belanda telah banyak
menghadirkan bangunan-bangunan yang memiliki gaya
arsitektur kolonial, seperti rumah tinggal, vila (rumah
peristirahatan), benteng, kantor pemerintah, kantor swasta,
bank, stasiun kereta api, pelabuhan, dan gereja. Bangunan gereja
banyak dibangun oleh Belanda, yang pada umumnya berlokasi di
jantung kota-kota besar, salah satunya adalah gereja Kepanjen di
kawasan kota lama Surabaya, tidak jauh dari keberadaan mesjid
Sunan Ampel. Gereja Kepanjen berdiri pada tahun 1815 Masehi
di Jalan Kepanjen Surabaya. Kekhasan bangunan gereja ini
adalah dindingnya tebal berupa pasangan bata tanpa plesteran.
[Gambar 18].

33

a. Eksterior gereja Kepanjen b. Interior gereja Kepanjen

Gambar 18. Bentuk gereja kolonial Kepanjen Surabaya, yang
menjadi bentuk arsitektur acuan non lokal

Dalam perkembangan sejarah arsitektur mesjid, terdapat
satu masa yang kental dengan nuansa politik, yaitu pada periode
abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 Masehi. Pada periode
ini, perkembangan arsitektur mesjid menunjukkan gejala
hadirnya identitas Pan Islamisme 'Arabia', hampir di seluruh
negeri-negeri yang penduduknya mayoritas beragama Islam,
sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap kolonialisme, tidak
terkecuali di Indonesia.

Secara arsitektural, klaim untuk menunjukkan eksistensi
suatu komunitas muslim sebagai bagian dari komunitas dunia
nampak pada pengadopsian bentuk-bentuk arsitektur yang
berbau Islam 'Internasional'. Identitas Islam 'Internasional' ini
cukup terwakili oleh atap kubah, bentuk lengkungan-lengkungan
pada bagian ambang atas antar kolom, dan menara tinggi pada
bangunan-bangunan mesjid.

Di Indonesia, bangunan mesjid berkubah pertama adalah
mesjid Sultan Riau, yang dibangun tahun 1832 Masehi.
Sementara di Jawa, mesjid berkubah pertama adalah mesjid
Agung Tuban, yang direnovasi tahun 1894 Masehi [Gambar 19].

Dalam perkembangan arsitektur mesjid modern, mesjid
hadir dengan konsep rancangan arsitektur yang melepaskan
tradisi. Konsep mesjid modern memperlihatkan ekspresi bentuk
kotak (atap datar atau miring), simple (sederhana), bergaris

34

horisontal maupun vertikal, dan bersih tanpa hiasan dekoratif.
Pada periode awal arsitektur modern di Indonesia, tahun 1960-
an, hadir mesjid Salman Bandung [Gambar 20].

a. Mesjid Sultan Riau b. Mesjid Agung Tuban

Gambar 19. Bentuk mesjid Pan Islamisme, yang menjadi bentuk
arsitektur acuan non lokal

a. Eksterior mesjid Salman b. Interior mesjid Salman

Gambar 20. Bentuk mesjid modern, yang menjadi bentuk arsitektur
acuan non lokal

Periodisasi waktu keberadaan bangunan peribadatan dan
perkembangannya dalam kerangka sejarah perkembangan
arsitektur di Indonesia, yang diduga menjadi acuan sinkretisme
bentuk pada arsitektur mesjid Sunan Ampel, dapat dipetakan
berikut ini [Gambar 21].

35

Gambar 21. Periodisasi waktu keberadaan bangunan
peribadatan di Jawa

Dalam kegiatan analisis dan interpretasi makna sinkretisme
bentuk pada arsitektur mesjid Sunan Ampel, menggunakan
metode gabungan, yaitu metode interpretasi hermeneutika
Ricoeur dan metode relasi bentuk-fungsi-makna dalam arsitektur.
3.3 Langkah-Langkah Penelitian
Langkah-langkah eksplanasi dan analisis serta interpretasi dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut [Gambar 22]:
[1] Eksplanasi bentuk dan fungsi mesjid Sunan Ampel
[2] menentukan bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel yang
dianalisis dan diinterpretasi.
[3] membuka pelingkup bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel,
yaitu pelingkup bawah, samping, dan atas. Pelingkup bentuk
arsitektur ini dianggap sebagai teks yang otonom.

36
[4] membandingkan bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel
dengan bentuk arsitektur acuan berdasarkan pelingkup bentuk
arsitekturnya.
[5] menganalisis dan menginterpretasi langkah ke-4, untuk
memahami sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid Sunan
Ampel.
[6] merelasikan sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid Sunan
Ampel dengan fungsi yang diwadahi, berdasarkan relasi
bentuk-fungsi-makna dalam arsitektur.
[7] menganalisis dan menginterpretasi langkah ke-6, untuk
memahami makna sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid
Sunan Ampel.

Gambar 22. Diagram langkah-langkah penerapan metode
hermeneutik dan relasi bentuk-fungsi-makna

BAGIAN 4
EKSPLANASI BENTUK DAN FUNGSI

MESJID SUNAN AMPEL

4.1 Perkembangan Bentuk dalam Latar Sejarah
Lokasi mesjid Sunan Ampel berada di Kelurahan Ampel,
Kecamatan Simokerto, Kotamadya Surabaya, Provinsi Jawa
Timur. Pada umumnya, lokasi ini dicapai dengan berjalan kaki,
melewati deretan pedagang makanan dan cindera mata.
Kendaraan bus harus diparkir agak jauh dari lokasi. Untuk
kendaraan mobil kecil dan motor bisa masuk lokasi hingga
pelataran mesjid sebelah barat, namun luasan areal parkirnya
terbatas.

Mesjid Sunan Ampel dibangun oleh Sunan Ampel bersama
murid-muridnya sekitar tahun 1450 Masehi. Mesjid Sunan Ampel
beberapa kali telah mengalami perluasan. Perluasan pertama
dilakukan oleh Adipati Aryo Cokronegoro dengan menambah
bangunan di sebelah utara bangunan bagian selatan. Perluasan
kedua dilakukan oleh Adipati Regent Raden Aryo Niti Adiningrat
pada tahun 1926, yakni dengan menambah atau memperluas ke
bagian utara lagi. Perluasan ketiga dilakukan setelah masa
kemerdekaan yang diselenggarakan oleh Panitia Khusus
Perluasan Mesjid Agung Sunan Ampel tahun 1954 – 1958, yakni
perluasan di sebelah utara lagi dan di sebelah barat. Perluasan
keempat dilakukan tahun 1974 dengan memperluas lagi bagian
barat. [Wiryoprawiro, 1986]. Pada tahun 1993 – 1998 dilakukan
penambahan bangunan baru di sebelah barat lagi. Kondisi
kompleks mesjid Sunan Ampel masa sekarang merupakan hasil
perluasan dan renovasi hingga tahun 1998. [Gambar 23].

37


Click to View FlipBook Version