38
Gambar 23. Periodisasi waktu perkembangan bentuk mesjid Sunan Ampel
4.2 Bentuk dan Fungsi Mesjid Sunan Ampel
Eksplanasi dilakukan terhadap bentuk arsitektur mesjid Sunan
Ampel dan fungsi-fungsi yang diwadahinya, pada masa sekarang
ini. Eksplanasi dilakukan mulai dari lingkup tapak hingga
lingkup bangunan. Mesjid Sunan Ampel menjadi satu tapak
dengan area makam, yang di dalamnya terdapat beberapa
bangunan penting, yaitu sebagai berikut: menara, tempat wudlu,
serambi, ruang utama dan ruang dalam, dan bangunan-bangunan
yang berada di areal makam [Gambar 24]. Berikut eksplanasi
masing-masing bangunan dan ruang tersebut.
a Menara
Bentuk. Menara mesjid Sunan Ampel ada dua buah, satu berada
di bagian selatan (menara lama) dan yang lainnya berada di
39
bagian barat (menara baru). Kedua menara, konstruksinya
berupa beton cor, berbentuk bulat, tinggi menjulang sekitar 24
meter. Menara yang di bagian selatan tidak diketahui kapan
didirikan, sementara menara yang di bagian barat didirikan
sekitar 1993 – 1998, bersamaan dengan pembangunan mesjid
bangunan baru. [Gambar 25].
Menara lama Menara baru
Makam Sunan Ampel
Gambar 24. Kompleks mesjid Sunan Ampel
a. Menara lama b. Menara baru
Gambar 25. Bentuk menara mesjid Sunan Ampel
Fungsi. Menara mesjid berfungsi sebagai wadah atau tempat
loud speaker untuk mengeraskan kumandang adzan. Kegiatan
adzan dilakukan di ruang teknis. Suara adzan berkumandang
melalui loud speaker yang ditempatkan di atas menara mesjid.
40
b Tempat Wudlu
Bentuk. Di sebelah tenggara bangunan mesjid terdapat tempat
wudlu pria, dan di sebelah timur-utara bangunan mesjid terdapat
tempat wudlu wanita. Bangunan tempat wudlu berbentuk
lingkaran, dengan pancuran air pada sisi luarnya. Lantainya
dibuat bertanggul dan berbahan keramik. Dindingnya berbentuk
melingkar berdiameter 5 meter dilapis dengan bahan marmer,
tingginya 2,5 m. Kolom penopang atap berbentuk bulat. Atap
bangunan tempat wudlu berbentuk kerucut segi delapan, dengan
penutup atap berupa metal roof berwarna hitam, sementara
tempat wudlu wanita beratap bahan genteng kodok. Pada puncak
atap terdapat memolo atau mustoko dari bahan besi kuningan.
[Gambar 26].
Tempat wudlu
wanita
Tempat wudlu
pria
a. Tempat wudlu pria b. Denah mesjid
Gambar 26. Bentuk tempat wudlu mesjid Sunan Ampel
Fungsi. Tempat wudlu, sesuai dengan namanya, berfungsi
sebagai wadah kegiatan berwudlu atau bersuci. Kegiatan bersuci
merupakan syarat untuk melaksanakan kegiatan shalat. Tempat
wudlu untuk pria dan wanita terpisah.
c Serambi Bangunan Selatan
Serambi mesjid Sunan Ampel adalah ruang terbuka yang
mengelilingi bangunan mesjid pada sisi luarnya, berhubungan
langsung dengan ruang luar atau pelataran. Secara keseluruhan
41
bentuk mesjid Sunan Ampel, berdasarkan posisinya, dapat
dikelompokkan menjadi: bangunan selatan, bangunan tengah,
dan bangunan barat. Pembagian ini digunakan untuk keperluan
eksplanasi bentuk-bentuk bangunan mesjid Sunan Ampel.
Masing-masing bangunan ini memiliki serambi. Berikut
diuraikan serambi pada ketiga bangunan.
Bentuk. Bangunan selatan luasnya 38 m x 40 m, yaitu 1.520 m2,
terdiri dari ruang dalam, serambi depan (timur), serambi kanan
(selatan), dan serambi kiri (utara). Serambi depan luasnya 6 m x
28 m, yaitu 168 m2. Serambi kanan luasnya 6 m x 38 m, yaitu 228
m2. Sebagian serambi kiri (utara) menjadi bagian dari ruang
dalam. Serambi kiri luasnya 6 m x 38 m, yaitu 228 m2.
Serambi berlantai dari bahan granit, posisinya lebih tinggi
75 cm daripada pelataran. Di serambi terdapat jejeran kolom batu
bulat berdiameter 80 cm, jumlahnya 30 buah, 5 di antaranya
berada di ruang dalam. Kolom-kolom ini menopang atap serambi
berbentuk limasan pada bagian sisi luarnya. Pada bagian sisi
dalamnya, atap ditopang oleh dinding setebal 50 cm. Dinding ini
juga sebagai penopang atap tajug tumpang pertama pada bagian
bawahnya. Pada kolom-kolom serambi terdapat konsol besi
berbentuk lengkung yang menopang tritisan serambi.
Penutup atap dari bahan metal roof berwarna hitam. Plafon
serambi dari bahan kayu lambrisering. Di serambi kanan
(selatan) ditempatkan dua buah beduk, yang satu diyakini sebagai
peninggalan Sunan Ampel. [Gambar 27].
Fungsi. Serambi bangunan selatan berfungsi sebagai wadah
kegiatan shalat, berdoa, berdzikir, dan kegiatan pengajian ilmu
agama. Kegiatan shalat yang dilaksanakan di serambi ini, yaitu
shalat Lima Waktu, shalat Jumat, dan shalat sunat bagi para
peziarah. Kegiatan pengajian ilmu agama dilaksanakan pada
setiap bakda shalat subuh setiap hari Kamis. Pengajian ini
dihadiri jamaah wanita dan pria, namun tempatnya dipisah
42
dengan kain. Kegiatan pengajian ilmu agama tahunan
dilaksanankan dalam rangka memperingati hari-hari besar agama
Islam, yaitu tahun baru Islam (1 Muharam), nuzulul Al-qur’an
(17 Ramadhan), hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (12
Rabi’ul Awwal), dan kegiatan dalam rangka haul Sunan Ampel
(13-15 Sya’ban).
C Keterangan:
B A. Bangunan selatan
B. Bangunan tengah
C. Bangunan barat
A
a. Serambi mesjid bangunan
selatan
b. Denah mesjid
Gambar 27. Bentuk serambi mesjid Sunan Ampel, bangunan selatan
d Serambi Bangunan Tengah
Bentuk. Bangunan tengah memiliki ruang dalam dan serambi.
Serambi terdiri atas serambi depan (timur) dan serambi kiri
(utara). Serambi depan luasnya 4,5 m x 56 m, yaitu 252 m2.
Serambi kiri luasnya 6 m x 32,5 m, yaitu 195 m2. Serambi
bangunan selatan, bentuknya seperti lorong dan terkesan sempit,
karena dimensi lebar serambi relatif kecil dibandingkan dengan
dimensi panjangnya. Lantai serambi depan dan serambi kiri
berbahan granit, posisinya lebih tinggi 60 centimeter daripada
pelataran. Di serambi depan dan serambi kiri terdapat jejeran
kolom batu bulat berdiameter 80 centimeter yang menopang atap
dak. Kolom di serambi depan jumlahnya 14 buah dan di serambi
kiri jumlahnya 6 buah. Plafon serambi dari bahan kayu
lambrisering. [Gambar 28].
43
Fungsi. Serambi bangunan tengah berfungsi sebagai wadah
kegiatan shalat Lima Waktu dan shalat Jumat.
Gambar 28. Bentuk serambi mesjid Sunan Ampel, bangunan tengah
e Serambi Bangunan Barat
Bentuk. Bangunan barat letaknya di sisi paling barat, terdiri
dari ruang utama dan serambi. Serambi terdiri atas serambi
depan (timur), serambi belakang (barat), serambi kanan (selatan),
dan serambi kiri (utara). Serambi depan menjadi bagian dari
ruang dalam. Ketiga serambi bersifat terbuka. Serambi depan
luasnya 4 m x 25 m, yaitu 100 m2. Serambi belakang luasnya 3 m
x 25 m, yaitu 75 m2. Serambi kiri luasnya 5,5 m x 36 m, yaitu 198
m2. Serambi kanan luasnya 5,5 m x 36 m, yaitu 198 m2. Lantai
serambi dari bahan keramik, posisinya lebih tinggi 60 centimeter
daripada pelataran. Di serambi terdapat deretan kolom
berukuran 80 cm x 80 cm, dengan ketinggian 5 meter. Kolom di
serambi depan jumlahnya 8 buah, di serambi belakang jumlahnya
8 buah, di serambi kanan jumlahnya 6 buah, dan di serambi kiri
jumlahnya 6 buah. Kolom-kolom ini sebagai penopang atap tajug
pada bagian bawahnya. Bentuk atap serambi adalah terusan dari
bentuk atap ruang utama. [Gambar 29].
44
Fungsi. Serambi bangunan barat berfungsi sebagai wadah
kegiatan shalat Lima Waktu dan shalat Jumat.
Gambar 29. Bentuk serambi mesjid Sunan Ampel, bangunan barat
f Ruang Dalam Bangunan Selatan
Mesjid Sunan Ampel memiliki ruang utama dan ruang dalam.
Ruang utama dan ruang dalam mesjid adalah ruang yang berada
di bagian dalam mesjid, yang pada umumnya dikelilingi oleh
serambi pada sisi luarnya. Perbedaannya adalah ruang utama
mesjid memiliki fungsi khotbah (tempat di mana seorang khatib
berdiri memberikan khotbah agama pada kegiatan shalat Jumat),
dan ruang dalam tidak. Bangunan selatan memiliki ruang dalam,
bangunan tengah memiliki ruang dalam, dan bangunan barat
memiliki ruang utama.
Ruang dalam bangunan selatan luasnya sekitar 1.296 m2.
Ruang dalam bangunan tengah luasnya sekitar 1.568 m2. Ruang
utama bangunan barat luasnya sekitar 750 m2. Ruang dalam
bangunan selatan berlantai dari bahan granit, posisinya rata
dengan lantai serambi. Ruang dalam dikelilingi oleh dinding
tembok tingginya 5 m dan tebal 50 cm, dengan beberapa lubang
pintu. Lubang-lubang tanpa pintu berjumlah 11 buah, berada di
bagian dalam, dan lubang-lubang yang berpintu berjumlah 18
buah, berada di bagian luar, yang membatasi serambi dengan
45
ruang dalam. Lubang-lubang pintu memiliki ukuran lebar 2
meter dan tinggi 4 meter, dan pada bagian atas berbentuk
lengkung setengah lingkaran. Pintu-pintu berdaun dua berbahan
kayu jati. Pada lengkungan setengah lingkaran terdapat ornamen
berbentuk panah yang disusun secara radial. Pada sisi dalam dari
dinding ruang dalam terdapat kolom batu bulat berdiameter 80
cm, berjumlah 20 buah, berpelipit kayu warna coklat plituran
kayu. Pada ujung atas masing-masing kolom disambung dengan
kolom-kolom kayu berbentuk segi delapan berdiameter (jarak
ujung lancip) 45 centimeter, berwarna coating kayu. Kolom-kolom
ini menopang atap bentuk tajug tumpang pertama pada bagian
tengahnya. Pada bagian tengah ruang dalam terdapat 16 kolom
kayu berbentuk segi delapan berdiameter (jarak ujung lancip) 45
centimeter, berwarna coating kayu, dengan jarak antar kolom 4
meter. Keenam belas kolom ini merupakan soko guru yang
menopang atap berbentuk tajug tumpang kedua (puncak atap).
Empat soko guru yang di tengah tingginya 17 meter, dan dua
belas soko guru di sisi luar tingginya 13,5 meter. Kedua belas soko
guru ini juga menopang bagian atas atap tajug tumpang pertama.
Masing-masing kolom yang menopang atap tajug tumpang
dihubungkan dengan balok-balok kayu.
Bangunan mesjid Sunan Ampel yang paling awal bisa jadi
adalah bangunan yang sekarang beratap tajug tumpang kedua
ini, dengan luas 12 m x 12 m, yaitu 144 m2. Pada bagian bawah
soko guru berupa umpak batu berbentuk seperti setengah buah
waloh (segi delapan) berlapis marmer, berdiameter (jarak ujung
lancip) 80 centimeter, dan tinggi 50 centimeter. Di atas umpak,
pada bidang segi delapan masing-masing kolom sokoguru terdapat
ornamen berbentuk tlacapan berwarna kuning emas. Ruang
dalam mesjid dinaungi atap berbentuk tajug tumpang dua. Pada
bagian puncak atap terdapat memolo atau mustoko dari bahan
besi kuningan. Di antara atap tajug tumpang pertama dan
tumpang kedua terdapat jendela-jendela kaca. Plafon ruang
46
dalam dari bahan kayu lambrisering. Penutup atap berupa metal
roof berwarna hitam. [Gambar 30].
Fungsi. Ruang dalam bangunan selatan berfungsi sebagai wadah
kegiatan shalat, berdoa, berdzikir, dan kegiatan pengajian ilmu
agama. Kegiatan shalat yang dilaksanakan di ruang dalam ini,
yaitu shalat Lima Waktu, shalat Jumat, dan shalat sunat bagi
para peziarah. Kegiatan pengajian tahunan dilaksanankan dalam
rangka memperingati hari-hari besar agama Islam, yaitu tahun
baru Islam (1 Muharam), nuzulul Al-qur’an (17 Ramadhan), hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabi’ul Awwal), dan
kegiatan dalam rangka haul Sunan Ampel (13-15 Sya’ban).
Gambar 30. Bentuk ruang dalam mesjid Sunan Ampel,
bangunan selatan
g Ruang Dalam Bangunan Tengah
Bentuk. Ruang dalam bangunan tengah, lantainya dari bahan
marmer, posisinya rata dengan lantai serambi. Di ruang dalam
terdapat lubang-lubang berbentuk lengkung pada dinding-dinding
pembatas ruangnya. Dinding-dinding ini memiliki ketebalan 40
centimeter yang berfungsi sebagai pemikul beban konstruksi
atap. Di sisi dalam terdapat empat deretan lengkungan berjumlah
16 buah, di sisi selatan berjumlah 4 buah, dan di sisi barat
47
berjumlah 11 buah. Ruang dalam dinaungi atap berbentuk
susunan tajug tumpang dua yang jumlahnya 12 buah, yang
ditopang oleh kolom-kolom bulat berdiameter 80 centimeter,
berjumlah 6 buah, dengan ketinggian 5 meter. Kolom-kolom ini
ditempatkan dengan cara berpasangan menjadi tiga pasang.
Plafon ruang dalam dari bahan kayu lambrisering. [Gambar 31].
Fungsi. Ruang dalam bangunan tengah berfungsi sebagai wadah
kegiatan shalat Lima Waktu dan shalat Jumat.
Gambar 31. Bentuk ruang dalam mesjid Sunan Ampel,
bangunan tengah
h Ruang Utama Bangunan Barat
Bentuk. Ruang utama bangunan barat, lantainya sama dengan
lantai serambi, dari bahan keramik, dan posisinya 60 cm lebih
tinggi daripada pelataran. Ruang utama memiliki kolom-kolom
batu bulat yang masing-masing berdiameter 80 centimeter.
Kolom bagian bawah berupa umpak tinggi 50 centimeter dan
bagian tengah dilapis kayu jati berwarna plituran kayu. Di bagian
tengah ruangan jumlah kolomnya 12 buah, dengan ketinggian 12
meter, sebagai soko guru. Kedua belas kolom ini menopang
konstruksi atap kubah, dan sebagai topangan konstruksi atap
tajug pada bagian atasnya. Di sisi-sisi luar soko guru terdapat
48
kolom dengan ketinggian 8,5 meter, sebagai penopang konstruksi
atap tajug pada bagian tengahnya. Empat kolom di sisi kanan dan
empat kolom di sisi kiri soko guru posisinya berada di dalam
ruangan, sedangkan kolom di sisi depan dan belakang soko guru
menyatu dengan dinding pembatas ruang utama. Pada bagian
paling bawah atap tajug ditopang oleh kolom-kolom serambi.
Plafon ruang utama, di bawah atap tajug dari bahan kayu
lambrisering berwarna plituran kayu.
Di dalam ruang utama pada sisi barat terdapat mimbar.
Atap bangunan barat, pada bagian bawah berbentuk tajug dengan
penutup atap genteng keramik warna merah bata, dan pada
bagian atas berbentuk kubah dari bahan tembus pandang warna
gelap. Atap kubah berdiameter 9 meter. Pada sisi luarnya
dipasang pipa besi berjumlah 64 batang, yang disusun miring
berbentuk tajug. Pada tampak luar bangunan, atap kubah tidak
begitu terlihat karena terhalang oleh susunan pipa besi yang
berbentuk tajuk. Atap kubah dikelilingi dinding batu segi empat
setinggi 1 meter, bercat warna putih. Pada puncak atap terdapat
memolo dari bahan besi kuningan, yang dipasang di atas susunan
batang pipa yang berbentuk tajug. Bentuk tajug susunan pipa ini
memperlihatkan ekspresi bentuk atap tajuk tumpang kedua, yang
seolah-olah berdiri di atas atap tajug di bawahnya, yang
menaungi ruang utama. [Gambar 32].
Fungsi. Ruang utama bangunan barat mesjid Sunan Ampel
berfungsi sebagai wadah kegiatan shalat Jumat. Pada hari-hari
biasa, ruang utama bangunan barat selalu dalam keadaan
tertutup, kecuali pada hari Jumat, karena untuk pelaksanaan
shalat Jumat. Dalam kegiatan shalat Jumat, khatib berkhotbah di
atas mimbar yang terletak dua meter di depan dinding bagian
barat, dan memimpin shalat Jumat di dekat mimbar. Tidak
seperti mesjid-mesjid pada umumnya dimana imam memimpin
shalat berjamaah di tempat yang disebut mirab. Mesjid Sunan
Ampel, baik bangunan selatan, tengah, maupun barat, tidak
49
memiliki mihrab, yaitu lubang di bagian dinding sebelah barat
ruangan, yang sekaligus menunjukkan arah kiblat.
Gambar 32. Bentuk ruang utama mesjid Sunan Ampel,
bangunan barat
i Bentuk Bangunan dalam Areal Makam
Bentuk. Pada bagian sisi tenggara terdapat gapuro ngamal
sebagai pintu gerbang area makam. Berikutnya terdapat gapuro
madep dan gapuro paneksen sebagai pintu masuk ke makam
Sunan Ampel. Makam Sunan Ampel tidak memiliki cungkup.
Makam Sunan Ampel berpasir putih, dikelilingi pagar besi
stainless setinggi 1,5 meter. Di dekat gapuro madep terdapat
beberapa gentong besar untuk menampung air. [Gambar 33].
Gapuro paneksen Gapuro madep
Gambar 33. Bentuk Gapuro di areal makam Sunan Ampel
50
Fungsi. Bangunan-bangunan gapura di areal makam merupakan
fasilitas makam yang berfungsi sebagai gerbang masuk ke bagian-
bagian area makam, bagi para peziarah.
4.3 Fungsi-Fungsi Konseptual
Fungsi-fungsi mesjid Sunan Ampel dapat dikelompokkan ke
dalam fungsi-fungsi konseptual, yaitu fungsi ritual mesjid,
syiar, dan ritual makam. Pemukulan beduk, adzan, bersuci,
shalat Lima Waktu dan shalat Jumat berkaitan dengan ritual
mesjid, sehingga dapat dinamakan fungsi ritual mesjid. Shalat
Sunat, berdoa, berdzikir, dan ziarah berkaitan dengan ritual
makam, sehingga dapat dinamakan fungsi ritual makam.
Kegiatan shalat Sunat, berdoa dan berdzikir pada umumnya
dilakukan oleh para peziarah setelah atau sebelum melakukan
ziarah ke makam tokoh yang dihormati, yang terletak di dalam
atau dekat dengan kompleks mesjid. Pengajian ilmu-ilmu agama
Islam berkaitan dengan syiar agama Islam, sehingga dapat
dinamakan fungsi syiar. [Tabel 02].
Fungsi ritual mesjid dapat didefinisikan sebagai kegiatan
ibadah yang dilakukan oleh jamaah dan pengurus DKM (Dewan
Kemakmuran Mesjid) sehari-hari. Fungsi ritual mesjid meliputi
kegiatan-kegiatan, yaitu pemukulan beduk, adzan (panggilan
untuk shalat), wudlu (bersuci), dan shalat (shalat Lima Waktu
dan shalat Jumat). Fungsi-fungsi ini saling berkaitan. Pemukulan
beduk dilakukan menjelang tibanya waktu shalat Lima Waktu
(Subuh, Dhuhur, Asar, Maghrib, dan Isya), dan shalat Jumat.
Kegiatan shalat Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha) tidak
diuraikan, karena secara prinsip tata cara pelaksanaannya sama
dengan kegiatan shalat Jumat. Setelah pemukulan beduk
dilakukan, beberapa saat kemudian, suara adzan
dikumandangkan. Tidak lama setelah adzan dikumandangkan,
maka kegiatan shalat Lima Waktu dan shalat Jumat berjamaah
dilaksanakan. Sebelum melaksanakan kegiatan shalat, setiap
muslim harus melaksanakan kegiatan wudlu.
51
Fungsi syiar dapat didefinisikan sebagai kegiatan
pengajian atau pengajaran ilmu-ilmu agama yang dilakukan oleh
jamaah dan pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Mesjid), yang
bertujuan selain memberikan tambahan wawasan ilmu-ilmu
agama, juga menyiarkan kegiatan agama Islam di sekitar
lingkungan mesjid.
Fungsi ritual makam dapat didefinisikan sebagai kegiatan
ziarah makam wali dan tokoh yang dihormati. Fungsi ritual
makam merupakan petunjuk bahwa dalam kompleks mesjid
Sunan Ampel terdapat makam wali atau tokoh yang dihormati,
sehingga perlu diziarahi. Dalam hal ini, mesjid bukanlah tempat
berziarah, namun para peziarah pada umumnya, setelah atau
sebelum berziarah di makam, melakukan shalat Sunat dan
berdoa di mesjid. Kegiatan shalat Sunat dan berdoa para peziarah
yang dilakukan di mesjid dimasukkan ke dalam kelompok fungsi
ritual makam karena kegiatan-kegiatan tersebut berkaitan
dengan kegiatan-kegiatan ziarah makam.
Tabel 02. Fungsi-Fungsi Konseptual
Fungsi-Fungsi Fungsi-Fungsi Konseptual
Bentuk Arsitektur Fungsi Ritual Mesjid
Mesjid Sunan Ampel
Pemukulan beduk
Adzan
Wudlu
Shalat Lima Waktu
Shalat Jumat
Pengajian ilmu-ilmu agama Islam Fungsi Syiar
Shalat Sunat Fungsi Ritual Makam
Berdoa
Berdzikir
Ziarah
52
BAGIAN 5
ANALISIS DAN INTERPRETASI
5.1 Menentukan Bentuk Arsitektur yang Dianalisis dan
Diinterpretasi
Penentuan bentuk-bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel yang
dianalisis dan diinterpretasi dilakukan dengan pertimbangan
bahwa kompleks mesjid Sunan Ampel memiliki banyak bentuk
arsitektur. Dalam penelitian ini, untuk keperluan analisis dan
interpretasi, ditentukan hanya satu bentuk arsitektur.
Penentuan bentuk arsitektur berdasarkan kriteria, yaitu
memiliki:
[a] dimensi keluasan yang lebih besar;
[b] dimensi ketinggian yang lebih besar; dan
[c] fungsi yang lebih lengkap (fungsi ritual mesjid, syiar, dan
ritual makam).
Kriteria yang berdasarkan dimensi ketinggian menjadi
pertimbangan utama, karena pada sebuah bangunan peribadatan,
unsur keIlahian, merupakan unsur paling penting dalam kegiatan
peribadatan; ia bersifat transenden, yang selalu dihubungkan
dengan sesuatu yang di atas, atau di tempat yang tinggi.
Penentuan bentuk-bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel
yang dianalisis dan diinterpretasi, dilakukan berdasarkan pada
penjelasan Bagian sebelumnya. Kompleks mesjid Sunan Ampel,
berdasarkan posisinya, terbagi menjadi tiga bangunan, yaitu
bangunan selatan, bangunan tengah, dan bangunan barat. Total
luasnya sekitar 5.231 m2.
Bangunan selatan, mesjid Sunan Ampel, memiliki ruang-
ruang, yaitu ruang dalam, serambi, dan tempat wudlu pria. Luas
ruang dalam, yaitu 1.296 m2, serambi, yaitu 224 m2, dan tempat
53
54
wudlu pria, yaitu 19,6 m2. Tinggi ruang dalam, yaitu 19 m,
serambi, yaitu 8 m, tempat wudlu, yaitu 5 m. Ruang dalam dan
serambi bangunan selatan mesjid Sunan Ampel memiliki fungsi
ritual mesjid, syiar, dan ritual makam. [Gambar 34].
C Keterangan:
B A. Bangunan selatan
B. Bangunan tengah
C. Bangunan barat
D. Makam Sunan Ampel
D
A
Gambar 34. Denah kompleks mesjid Sunan Ampel
Bangunan tengah, mesjid Sunan Ampel, terdiri atas ruang
dalam, serambi, dan tempat wudlu wanita. Luas ruang dalam,
yaitu 1.568 m2, serambi, yaitu 447 m2, dan tempat wudlu wanita,
yaitu 19,6 m2. Tinggi ruang dalam, yaitu 10 m, serambi, yaitu 7
m, tempat wudlu, yaitu 5 m. Ruang dalam dan serambi
bangunan tengah mesjid Sunan Ampel memiliki fungsi ritual
mesjid.
Bangunan barat, mesjid Sunan Ampel, terdiri atas ruang
utama dan serambi. Luas ruang utama, yaitu 750 m2, dan
serambi, yaitu 571 m2. Tinggi ruang utama, yaitu 22 m, serambi,
yaitu 8,5 m, dan menara, yaitu 24 m. Bangunan barat memiliki
fungsi ritual mesjid.
55
Berdasarkan uraian sebelumnya, kegiatan analisis dan
interpretasi dilakukan pada bentuk arsitektur ruang dalam
bangunan selatan mesjid Sunan Ampel. [Tabel 03 dan
Gambar 35].
Tabel 03. Penentuan Bentuk Arsitektur Mesjid Sunan Ampel yang
Dianalisis dan Diinterpretasi
Mesjid Sunan Ampel Luas Tinggi Fungsi
(m2) (m) (Kegiatan)
Bangunan Ruang Dalam 1.296 19 ritual mesjid, syiar,
Selatan Serambi ritual makam
224 8 ritual mesjid, syiar,
ritual makam
Tempat Wudlu Pria
Menara 19,6 5 ritual mesjid
9,6 24 ritual mesjid
Luas Total
(tidak termasuk menara) 1.539,6
Bangunan Ruang Dalam 1.568 10 ritual mesjid
Tengah Serambi 447 7 ritual mesjid
19,6 5 ritual mesjid
Tempat Wudlu Wanita 2.034,6
Luas Total 22 ritual mesjid
750 8,5 ritual mesjid
Bangunan Ruang Utama 571 24 ritual mesjid
Barat Serambi 9,6
Menara 1.321
Luas Total
(tidak termasuk menara)
Bangunan selatan: ruang
dalam dan pelingkupnya
adalah bentuk arsitektur yang
dianalisis dan diinterpretasi
Gambar 35. Bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel yang dianalisis
dan diinterpretasi
56
5.2 Pembukaan Pelingkup Bentuk Arsitektur
Pembukaan pelingkup bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel
dilakukan terhadap bangunan selatan, yaitu terdiri atas [Gambar
36 dan Gambar 37]: [a] pelingkup bawah, berupa lantai yang
berorientasi ke arah kiblat; [b] pelingkup samping, berupa
dinding tebal dengan elemen pintu dan jendela besar; dan [c]
pelingkup atas, berupa atap dengan bentuk tajuk tumpang
(bersusun) dua.
Bentuk arsitektur ruang dalam bangunan
selatan mesjid Sunan Ampel
Gambar 36. Bentuk arsitektur ruang dalam bangunan selatan
mesjid Sunan Ampel
Pelingkup
atas
Pelingkup
samping
Bentuk arsitektur ruang dalam
bangunan selatan mesjid Sunan Ampel
Pelingkup
bawah
Gambar 37. Pelingkup bentuk arsitektur ruang dalam
bangunan selatan mesjid Sunan Ampel
57
5.3 Membandingkan Bentuk Arsitektur Mesjid Sunan
Ampel dengan Bentuk Arsitektur Acuan Berdasarkan
Pelingkupnya dan Periodisasi Waktu Keberadaan
Bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel diperbandingkan dengan
bentuk arsitektur acuan berdasarkan pelingkupnya, yaitu
pelingkup bawah, samping, dan atas. Berdasarkan telaah
sebelumnya, bentuk-bentuk arsitektur acuan, yaitu pertama,
bentuk arsitektur acuan lokal, yang meliputi bangunan tajuk dan
bangunan limasan, dan kedua, bentuk arsitektur acuan non lokal,
yang meliputi candi Hindu/Budha, mesjid Nabawi Awal, gereja
kolonial, mesjid Pan Islamisme, dan mesjid modern. Khusus
untuk bentuk arsitektur acuan gereja kolonial adalah gereja
kolonial yang lokasinya berada dekat dengan kasus studi, yaitu
gereja Kepanjen, Surabaya. [Gambar 38].
Pelingkup bawah, yang berupa lantai bangunan mesjid
Sunan Ampel, memiliki acuan bentuk, yaitu denah lantai, sebagai
pelingkup bawah, bangunan mesjid Nabawi Awal. Kedua bentuk
sama-sama berorientasi ke arah kiblat. Berdasarkan periodisasi
waktu keberadaannya, bangunan mesjid Nabawi awal (abad 7
Masehi) lebih dulu dibandingkan dengan mesjid Sunan Ampel
(diduga tahun 1926 ketika terjadi perluasan dan perbaikan),
sehingga bentuk arsitektur bangunan yang pertama dapat
mempengaruhi atau menjadi acuan bentuk arsitektur bangunan
yang kedua. Hal ini dimungkinkan terjadi karena orientasi
bentuk mesjid Nabawi (mesjid pertama dalam kebudayaan Islam)
menjadi acuan mesjid-mesjid di seluruh dunia.
Pelingkup samping, yang berupa dinding tebal dengan
pintu dan jendela berukuran besar pada bangunan mesjid Sunan
Ampel, memiliki acuan bentuk, yaitu dinding, sebagai pelingkup
samping, bangunan gereja Kepanjen Surabaya. Berdasarkan
periodisasi waktu keberadaannya, bangunan gereja Kepanjen
Surabaya (didirikan tahun 1815) lebih dulu dibandingkan dengan
mesjid Sunan Ampel (perluasan dan perbaikan tahun 1926),
sehingga bentuk arsitektur bangunan pertama bisa
58
mempengaruhi atau menjadi acuan bentuk arsitektur bangunan
kedua. Hal ini dimungkinkan terjadi karena lokasi keberadaan
keduanya berdekatan, masih dalam satu lingkup kota.
Gambar 38. Proses terjadinya sinkretisme bentuk pada arsitektur
ruang dalam bangunan selatan mesjid Sunan Ampel
Pelingkup atas, yang berupa atap tajuk tumpang dua
bangunan mesjid Sunan Ampel, memiliki acuan bentuk, yaitu
bentuk atap bangunan cungkup makam Sunan Bonang.
Berdasarkan periodisasi waktu keberadaannya, bangunan
59
cungkup makam Sunan Bonang (dibangun abad 16 M) lebih dulu
dibandingkan dengan mesjid Sunan Ampel (perluasan dan
perbaikan tahun 1926 diduga juga meliputi penguatan konstruksi
atap tajuk tumpang dua yang sudah ada sebelumnya), sehingga
bentuk arsitektur bangunan pertama bisa mempengaruhi atau
menjadi acuan bentuk arsitektur bangunan kedua.
Pelingkup bawah, yang berupa lantai bangunan, memiliki
ketinggian sekitar 0,75 meter dari pelataran. Pelingkup samping,
yang berupa dinding bangunan, memiliki ketinggian sekitar 5
meter. Pelingkup atas, yang berupa atap tajuk tumpang dua,
memiliki ketinggian sekitar 14 meter. [Gambar 39]. Hal ini
menunjukkan bahwa pelingkup atas dominan terhadap pelingkup
samping dan pelingkup bawah.
Gambar 39. Dimensi bentuk arsitektur ruang dalam
bangunan selatan mesjid Sunan Ampel
5.4 Menginterpretasi Hasil Perbandingan
Bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel yang menjadi fokus
analisis dan interpretasi adalah bentuk arsitektur ruang dalam,
bangunan selatan. Bentuk arsitektur ruang dalam, bangunan
selatan, mesjid Sunan Ampel, terbangun oleh dua bentuk
arsitektur, yaitu bentuk arsitektur lokal dan bentuk arsitektur
non lokal.
60
Bentuk arsitektur lokal direpresentasikan oleh bentuk
atap tajuk tumpang dua yang menjadi pelingkup atas. Bentuk
arsitektur atap tajuk yang melingkupi ruang dalam, bangunan
selatan, mesjid Sunan Ampel, mengacu pada atau dipengaruhi
oleh bentuk arsitektur bangunan tajuk.
Bentuk arsitektur non lokal direpresentasikan oleh bentuk
denah ruang dalam, yang berorientasi ke arah kiblat, dan menjadi
pelingkup bawah. Bentuk denah yang berorientasi ke arah kiblat
mengacu pada bentuk denah mesjid Nabawi awal. Kedua bentuk
memiliki orientasi yang sama, yaitu ke arah kiblat, bangunan
Kabah di Masjidil Haram, di Arab Saudi.
Bentuk arsitektur non lokal juga direpresentasikan oleh
bentuk dinding tebal dengan pintu dan jendela berukuran besar,
yang menjadi pelingkup samping. Bentuk dinding tebal dengan
pintu dan jendela berukuran besar mengacu pada bentuk dinding
bangunan gereja kolonial. Arsitektur lokal memiliki satu bentuk
arsitektur, dan arsitektur non lokal memiliki dua bentuk
arsitektur.
Ekspresi bentuk eksterior pelingkup atas yang berupa atap
tajuk tumpang dua memperlihatkan dominasi bentuk terhadap
pelingkup bawah, yang berupa bentuk denah segi empat
mendekati bujur sangkar, dan pelingkup samping, yang berupa
dinding tembok tebal dengan pintu dan jendela berukuran besar.
Dominasi bentuk arsitektur pelingkup atas diperlihatkan
oleh ketinggiannya. Berdasarkan dimensi luasan, ketiga
pelingkup memiliki luasan yang sama. Berdasarkan dimensi
ketinggian, pelingkup atas, yaitu atap tajuk tumpang dua,
memiliki ketinggian yang paling besar.
Sinkretisme bentuk pada arsitektur ruang dalam,
bangunan selatan, mesjid Sunan Ampel, terjadi dengan cara
adaptasi. Hal ini diperlihatkan oleh adanya dominasi bentuk
arsitektur lokal (bentuk arsitektur bangunan tajuk) terhadap
bentuk arsitektur non lokal (bentuk arsitektur mesjid Nabawi
awal dan gereja kolonial). [Gambar 40].
61
Gambar 40. Sinkretisme bentuk pada arsitektur ruang dalam
bangunan selatan mesjid Sunan Ampel: Adaptasi
5.5 Merelasikan Sinkretisme Bentuk pada Arsitektur
Mesjid Sunan Ampel dengan Fungsi-Fungsi Konseptual
Sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid Sunan Ampel,
berdasarkan pendekatan relasi fungsi-bentuk-makna dalam
arsitektur, direlasikan dengan fungsi-fungsi konseptual: fungsi
ritual mesjid, fungsi syiar, dan fungsi ritual makam, untuk
memahami maknanya.
[a] Sinkretisme bentuk
Sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid Sunan Ampel
terjadi melalui proses pengubahan bentuk dan adaptasi.
Pengubahan bentuk terjadi pada bentuk atap, dari bentuk atap
tajuk tidak tumpang (yang direpresentasikan oleh bentuk atap
bangunan cungkup makam Sunan Bonang) menjadi bentuk atap
tajuk tumpang dua. Adaptasi terjadi pada bentuk atap, yang mana
bentuk atap dominan terhadap dinding (yang direpresentasikan
oleh bentuk dinding gereja kolonial) dan lantai (yang
direprentasikan oleh denah lantai mesjid Nabawi awal).
[b] Fungsi konseptual
Fungsi konseptual pada arsitektur ruang dalam, bangunan
selatan, mesjid Sunan Ampel adalah fungsi ritual mesjid, fungsi
syiar, dan fungsi ritual makam.
62
[c] Relasi fungsional
Ruang dalam, bangunan selatan, mesjid Sunan Ampel
mewadahi dengan baik fungsi ritual mesjid, fungsi syiar, dan
fungsi ritual makam, yang menunjukkan adanya relasi harmonis
antara bentuk dan fungsi.
5.6 Menginterpretasi Relasi
Ruang dalam, bangunan selatan, mesjid Sunan Ampel, yang
mewadahi fungsi-fungsi ritual mesjid, syiar, dan ritual makam,
dibentuk oleh ketiga pelingkupnya, yaitu pelingkup atas berupa
atap, pelingkup samping berupa dinding, dan pelingkup bawah
berupa lantai. Masing-masing pelingkup dibentuk oleh elemen-
elemennya.
Elemen pembentuk pelingkup atas, adalah sebagai berikut:
* memolo pada puncak atap bentuk tajuk memperlihatkan
betapa penting keberadaannya, yang oleh masyarakat Jawa
dianggap sebagai titik penghubung yang sempurna antara
manusia dengan Tuhannya, dan merupakan simbol sikap
toleran masyarakat Jawa terhadap agama Islam yang datang.
* konstruksi kayu soko guru dan pembalokan blandar –
pengerat dan sunduk – kili-kili yang terpapar mempertegas
adanya dominasi elemen lokal pada sistem konstruksi atap,
sebagai sebuah bentuk adaptasi.
Elemen pembentuk pelingkup samping, adalah sebagai
berikut:
* konstruksi pintu dan jendela kayu yang berukuran besar
pada dinding tebal merupakan respon terhadap gaya arsitektur
kekinian yang banyak diterapkan pada bangunan keagamaan
(gereja kolonial) saat itu.
Elemen pembentuk pelingkup bawah, adalah sebagai
berikut:
* lantai berbentuk mendekati bujur sangkar dan
berorientasi ke arah kiblat mengambil orientasi bentuk denah
63
mesjid Nabawi awal, yang merupakan bukti sikap toleran
masyarakat Jawa terhadap agama Islam yang datang.
Relasi harmonis antara bentuk (sinkretisme bentuk pada
arsitektur ruang dalam, bangunan selatan, mesjid Sunan Ampel,
dengan proses adaptasi) dan fungsi (fungsi ritual mesjid, syiar,
dan ritual makam), dapat dimaknai sebagai respon, toleransi, dan
adaptasi masyarakat muslim Jawa. Respon terhadap gaya
arsitektur kekinian dan kemajuan teknologi bangunan, toleransi
terhadap keyakinan atau kepercayaan lain, dan adaptasi terhadap
sistem konstruksi dan bentuk bangunan lokal.
64
65
BAGIAN 6
KESIMPULAN
Makna sinkretisme bentuk pada arsitektur masjid Sunan Ampel
dapat dipahami dengan menggunakan metode hermeneutik
otonomi teks dan relasi bentuk-fungsi-makna dalam arsitektur,
dan hasil elaborasi konsep-konsep: sinkretisme dalam arsitektur,
akulturasi, dan bentuk arsitektur acuan.
Operasional metode tersebut adalah sebagai berikut:
[a] bentuk dan fungsi arsitektur mesjid Sunan Ampel
dieksplanasi, dan kemudian ditentukan bentuk-bentuk arsitektur
yang dianalisis dan diinterpretasi, berdasarkan kriteria:
kelengkapan fungsi, dimensi keluasan, dan dimensi ketinggian;
[b] bentuk-bentuk arsitektur tersebut, dengan
menggunakan pendekatan interpretasi hermeneutik Ricoeur,
harus dibuka menurut ketiga pelingkupnya, yaitu pelingkup
bawah (lantai), pelingkup samping (dinding), dan pelingkup atas
(atap);
[c] ketiga pelingkup bentuk arsitektur dibandingkan
dengan bentuk-bentuk arsitektur acuan yang terdiri atas:
bangunan tajuk, bangunan limasan, candi Hindu/Budha, mesjid
Nabawi awal, gereja kolonial, mesjid Pan Islamisme, dan mesjid
modern;
[d] proses perbandingan diinterpretasi untuk memahami
sinkretisme bentuk pada arsitektur masjid Sunan Ampel, dengan
menggunakan bantuan konsep-konsep hasil elaborasi konsep-
konsep akulturasi, yaitu adopsi, adaptasi, dan sinergi.
[e] bentuk-bentuk arsitektur masjid Sunan Ampel yang
sinkretis, dinterpretasi untuk dipahami maknanya, dengan
bantuan pendekatan relasi bentuk-fungsi-makna dalam
65
66
arsitektur. Bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel yang sinkretis,
direlasikan dengan fungsinya. Bentuk arsitektur mesjid Sunan
Ampel yang sinkretis adalah ruang dalam bangunan selatan.
Fungsi-fungsi arsitektur mesjid Sunan Ampel meliputi: fungsi
ritual mesjid, syiar, dan ritual makam. Dari relasi bentuk dan
fungsi ini kemudian diinterpretasi untuk memahami maknanya.
Konsep-konsep sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid
Sunan Ampel yang dihasilkan melalui kegiatan elaborasi konsep-
konsep akulturasi, yaitu adopsi, adaptasi, dan sinergi.
Konsep adopsi terjadi apabila dalam percampuran antara
bentuk lokal dan non lokal, pada bentuk arsitektur mesjid Sunan
Ampel, bentuk non lokal dominan terhadap bentuk lokal. Konsep
adaptasi terjadi apabila dalam percampuran antara bentuk lokal
dan non lokal, pada bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel,
bentuk lokal dominan terhadap bentuk non lokal. Konsep sinergi
terjadi apabila dalam percampuran antara bentuk lokal dan non
lokal, pada bentuk arsitektur mesjid Sunan Ampel, bentuk lokal
dan bentuk non lokal tidak saling mendominasi.
Dalam sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid Sunan
Ampel, terjadi dominasi bentuk. Berdasarkan kriteria ketinggian
bentuk bangunan, maka pada bentuk arsitektur ruang dalam
bangunan selatan mesjid Sunan Ampel, pelingkup atas (atap)
dominan terhadap pelingkup samping (dinding) dan pelingkup
bawah (lantai).
Atap sebagai pelingkup atas bentuk arsitektur mesjid
Sunan Ampel merupakan elemen arsitektur yang dianggap
penting. Bisa dipahami bahwa mesjid-mesjid dengan atap
berbentuk tajuk dan atau limasan tumpang menjadi pilihan
utama Sunan Ampel dan masyarakat muslim Jawa. Atap
tumpang (susun) pada mesjid Sunan Ampel mengekspresikan
bentuk yang tinggi, yang mendekati tempat bersemayamnya
Tuhan yang tunggal dan transenden.
Makna sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid Sunan
Ampel, dapat dipahami dengan bantuan pendekatan relasi
67
bentuk-fungsi-makna dalam arsitektur. Makna diungkap dengan
cara menginterpretasi relasi sinkretisme bentuk pada arsitektur
mesjid Sunan Ampel dengan fungsi-fungsinya.
Sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid-mesjid
Walisanga, yang selalu terjadi, selama keberadaanya, dan yang
selalu diterima oleh masyarakat muslim Jawa pendukungnya,
dapat dianggap sebagai makna strategi berarsitektur Sunan
Ampel dan penerusnya. Strategi berarsitektur yang diwujudkan
dengan respon, toleransi, dan adaptasi. Respon terhadap
tantangan gaya arsitektur bangunan keagamaan kekinian sebagai
perwujudan sikap kemajuan berfikir. Toleran terhadap bentuk-
bentuk arsitektur bangunan keagamaan berbeda, sebagai
perwujudan sikap keterbukaan. Adaptasi terhadap bentuk-bentuk
arsitektur bangunan keagamaan lokal, sebagai perwujudan sikap
kearifan.
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi referensi
dalam kegiatan perencanaan dan perancangan arsitektur mesjid
di Indonesia, wilayah yang begitu luas dengan potensi lokal yang
sangat besar, sebagai sebuah upaya menghasilkan arsitektur
mesjid yang selalu bisa diterima oleh masyarakat muslim
pendukungnya sepanjang waktu.
Di era globalisasi yang ditandai dengan hadirnya bentuk-
bentuk mesjid yang beraneka ragam, konsep-konsep perencanaan
dan perancangan mesjid yang melibatkan dan menempatkan
bentuk-bentuk arsitektur lokal di atas bentuk-bentuk arsitektur
non lokal (yang datang dari luar), sudah seharusnya menjadi
pilihan utama. Dengan demikian akan hadir bentuk-bentuk
arsitektur mesjid yang memiliki dan menonjolkan nilai-nilai lokal,
yang menjadi ciri khas karya anak bangsa Indonesia.
Metode interpretasi hermeneutik dan relasi bentuk-fungsi-
makna dalam arsitetur, dapat digunakan dalam penelitian-
penelitian lainnya yang memiliki tema dan kasus serupa dalam
bidang arsitektur, baik yang sifatnya lokal maupun global.
68
Kajian lanjutan dapat dilakukan dengan melibatkan aspek
ornamen dan ragam hias bangunan, yang dalam penelitian ini
tidak termasuk dalam cakupan studi, yang diharapkan dapat
memperjelas makna sinkretisme bentuk pada arsitektur mesjid
Sunan Ampel. Pelingkup atas bentuk arsitektur mesjid Sunan
Ampel, yang berupa atap tajuk, dengan ditopang konstruksi soko
guru dan konstruksi pembalokan blandar – pengerat dan sunduk
– kili-kili, yang dilengkapi dengan ornamen dan ragam hiasnya,
menjadi ladang kajian yang menarik.
DAFTAR PUSTAKA
Akkach, Samer (2005), Cosmology and Architecture in Premodern
Islam, New York: State University of New York Press.
Ali, Asif (2013), “Syncretic Architecture of Fatehpur Sikri: A
Symbol of Composite Culture,” Journal of Islamic
Architecture, Volume 2 Issue 3 June 2013, pp.101-105.
Antariksa (2002), “Study on the Philosophy and Architecture of
Zen Buddhism in Japan,” Dimensi Teknik Arsitektur, Vol.
30 No.1, Juli 2002:54-60.
Ascott, Roy (2009), “Syncretic Reality: Art, Process, and
Potentiality,” Edicao, 2/2009 – ISSN 1984-3585.
Ashadi (2016), “Makna Sinkretisme Bentuk pada Arsitektur
Mesjid-Mesjid Walisanga. Kasus Studi: Mesjid Sunan
Ampel, Agung Demak, Agung Sang Cipta Rasa, Sunan
Giri, Menara Kudus, Sunan Kalijaga, dan Mesjid Sunan
Muria,” Disertasi, Program Studi Doktor Universitas
Katolik Parahyangan.
Bailey, Gauvin Alexander (2010), The Andean Hybrid Baroque.
Convergent Cultures in the Churches of Colonial Peru,
Notre Dame: University of Notre Dame Press.
Berry, John W. (2005), “Acculturation: Living successfully in two
cultures,” International Journal of Intercultural Relations,
29 (2005) 697–712.
69
70
Capon, David Smith (1999), The Vitruvian Fallacy: Architectural
Theory Volume One, New York: John Willey & Sons,.
Dakung, Sugiarto (ed.) (1998), Arsitektur Tradisional Daerah
Istimewa Yogyakarta, Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan RI.
Denhere, Tichaona C. (2010), “Syncretism Urban Church,” Tesis.
Master of Architecture at the University of Witwatersrand
Johannesburg, South Africa.
Edginton, Carole N. (2008), “Syncretism: A Study of Toshodai-ji
Wayo Architectural and Cultural Elements,” Tesis. Master
of Art. Iowa State University, Iowa.
Eliade, Mircea (1959), The Sacred and The Profane: The Nature of
Religion, New York: Harcourt, Brace & World.
Gadamer, Hans-Georg (2010), Kebenaran dan Metode,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ghasemi, A., Taghinejad, M., Kabiri, A., dan Imani, M. (2011),
“Ricoeur’s Theory of Interpretation: A Method for
Understanding Text (Course Text),” World Applied
Sciences Journal, 15 (11): 1623 – 1629.
Gusmao, Martinho G. da Silva (2013), Hans-Georg Gadamer:
Penggagas Filsafat Hermeneutik Modern yang
Mengagungkan Tradisi, Yogyakarta: Kanisius.
Hadi, Abdul (2014), Hermeneutika Sastra Barat & Timur,
Jakarta: Sadra International Institute.
71
Hardiman, F. Budi (2015), Seni Memahami. Hermeneutik dari
Schleiermarcher sampai Derrida, Yogyakarta: Kanisius.
Haviland, William A. (1993), Antropologi jilid 2, Jakarta:
Erlangga.
Hoskins, Janet (2014), “From Colonial Syncretism to Transpacific
Diaspora. Re-Orienting Caodaism from Vietnam to
California,” Dorisea Working Paper, Issu 7, 2014, ISSN:
2196-6893.
Kaelan (2012), Metode Penelitian Kualitatif Interdisipliner bidang
Sosial, Budaya, Filsafat, Seni, Agama, dan Humaniora,
Yogyakarta: Paradigma.
Kira, Biru (2012), Menafsir Dunia, Sebuah Usaha Menyajikan
Kembali Pemikiran George F. Mclean dalam Rangka
Merespon Zaman Global, Yogyakarta: Kanisius.
Levinskaya, Irina A, (1993), “Syncretism – The Term and
Phenomenon,” Tyndale Bulletin. 44.1 pp. 117-128.
Moinifar, Heshmat dan Mousavi, Narges Sadat (2013), “Taj
Mahal as a Mirror of Multiculturalism and Architectural
Diversity in India,” Journal of Subcontinent Researches,
University of Sistan and Baluchestan, Vol. 5, No. 15,
Summer 2013 (pp. 123-134).
Morgan, Morris Hicky (1914), VITRUVIUS: The Ten Books on
Arcitecture, Cambridge: Harvard University Press.
Noble, Jonathan (tt), “Architecture, Hybridity, and Post-
Apartheid Design,” Collection electroniques de I’INHA,
(http://inha.revues.org/pdf/1707, diakses 24 Oktober 2015).
72
Palmer, Richard E. (1969), Hermeneutics. Interpretation Theory in
Schleiermacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer,
Evanston: Northwestern University Press.
Permata, Ahmad Norma (2012), “Hermeneutika Fenomenologis
Paul Ricoeur,” Belajar Hermeneutika, Mulyono, Edi
(Editor), Yogyakarta: IRCiSoD.
Prijotomo, Josef (1988), Ideas and Forms of Javanese
Architecture, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ricoeur, Paul (2012), Teori Interpretasi, Yogyakarta: IRCiSoD.
Salura, Purnama (2015), Sebuah Kritik: Arsitektur Yang
Membodohkan, Jakarta: Gakushudo.
------ dan Fauzy, Bachtiar (2012), ”The Ever-rotating Aspects of
Function-Form-Meaning in Architecture,” Journal of
Basic and Applied Scientific Research, TextRoad
Publication, 2(7)7086-7090.
Sumaryono, E. (1999), Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat,
Yogyakarta: Kanisius.
The College Board (2013), What is an example of Syncretism in
world history? (https://squalicum.bellinghamschools.org
/sites /default /files /squalicum /akisr /diakses 18 Oktober
2015).
The New American Library (1957), On Love, The Family, and The
Good Life: Selected Essays of Plutarch.
van de Ven, Cornelis (1991), Ruang dalam Arsitektur, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
73
von Henneberg, Krystyna (1996), “Imperial Uncertainties:
Architectural Syncretism and Improvisation in Fascist
Colonial Lybia,” Journal of Contemporary History, Vol. 31
(1996), 373-395).
Wiryoprawiro, Zein M. (1986), Perkembangan Arsitektur Masjid
di Jawa Timur, Surabaya: Bina Ilmu.
74
View publication stats
Ashadi, lahir 25 Pebruari 1966, di Cepu, Jawa Tengah.
Pendidikan Tinggi: S1 Arsitektur UNDIP (1991), S2
Antropologi UI (2004), dan S3 Arsitektur UNPAR (2016).
Ia aktif sebagai dosen di Program Studi Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta
(FT-UMJ), sejak tahun 1993. Jabatan Struktural yang
pernah dan sedang diemban yakni: Kepala
Laboratorium Arsitektur FT-UMJ (1996-2000); Ketua
Program Studi Arsitektur FT-UMJ (2000-2004 dan 2015-
sekarang); Wakil Dekan FT-UMJ (2004-2006); Kepala
Pusat Afiliasi, Kajian dan Riset Teknologi FT-UMJ
(2007-2011); Kepala Lembaga Pengembangan Bisnis FT-
UMJ (2011-2015). Kegiatan ilmiah yang pernah dan
sedang dilakukan: Penelitian Hibah Bersaing DIKTI,
publikasi jurnal nasional maupun internasional, dan
presentasi ilmiah pada forum-forum seminar skala
nasional maupun internasional. Jabatan Fungsional
Dosen terakhir: Lektor Kepala. Dalam 5 tahun terakhir,
buku yang telah diterbitkan: Peradaban dan Arsitektur
Dunia Kuno: Sumeria-Mesir-India (2016); Peradaban
dan Arsitektur Klasik Yunani-Romawi (2016);
Peradaban dan Arsitektur Zaman Pertengahan:
Byzantium, Kekristenan, Arab dan Islam (2016);
Peradaban dan Arsitektur Modern (2016); Keraton
Jawa (2017); Alun-Alun Kota Jawa (2017); Tata Ruang
Kauman (2017); dan Tentang Jawa (2017).