dimana,
adalah water discharge/flux dalam arah x
adalah water discharge/flux dalam arah y,
v, v adalah kecepatan horizontal partikel air dalam arah x,
u,u adalah kecepatan horizontal partikel air dalam arah y,
2. Persamaan Momentum Gradien Tekanan (pressure gradient)
(11‐6)
3. Persamaan Momentum Gesekan Dasar Laut (bottom friction)
(11‐7)
dimana,
adalah konveksi air non linear,
adalah gradien tekanan air dalam arah x,
adalah gradien tekanan air dalam arah y,
adalah gesekan bawah dasar air,
dimana
D = total kedalaman air,
h = kedalaman air,
= ketinggian air dari permukaan
g = percepatan gravitasi,
n = koefisien Kekasaran Manning,
t = waktu.
Rambatan gelombang tsunami merupakan gelombang panjang
(long wave theory) sebanding dengan akar kedalaman laut dan gravitasi
194
bumi. Pada kedalaman laut 7.000 m, tsunami bisa merambat sejauh 282
km dengan kecepatan rambat mencapai 943 km/jam. Persamaan
kecepatan rambat tsunami sebagai berikut:
(11‐8)
dimana c kecepatan rambat tsunami, g percepatan gravitasi, h kedalaman
laut. Sedangkan besarnya energi tsunami ditentukan oleh ketinggian dan
luasan kerak bumi pada sumber gempa.
(11‐9)
dimana E(t) energi tsunami, densitas atau massa jenis air laut, h
ketinggian tsunami, A luas crustal displacement.
11.6. Teori Elastisitas Okada
Area sumber tsunami dianggap mengikuti bidang deformasi sesar
gempabumi di dasar laut berdasarkan Teori Elastisitas Okada. Dalam
penampang rekaan sumber tsunami perubahan awal muka air laut
mengikuti pola gerakan bidang sesar gempabumi karena panjang
gelombang dasar samudera lebih besar daripada kedalaman diatasnya.
Prinsip ini diberikan pada model numerik tsunami sebagai nilai rekaan dari
perambatan gelombang tsunami.
Gambar 11.6. (Kanan) Pergerakan deformasi kerak samudera di dasar laut berdasarkan
Teori Elastisitas Okada (1985). (Kiri) Bentuk pergerakan sumber tsunami
di dasar laut mengikuti deformasi bidang sesar gempabumi (Sumber:
Satake, JMA, 2006).
195
Walaupun pergeseran deformasi dasar samudera terjadi sesaat dan
hanya beberapa meter, namun berefek besar terhadap perubahan volume
muka air laut secara luas dikarenakan panjang gelombang laut lebih
panjang dibanding kedalamannya. Jika dasar laut terangkat maka akan
menimbulkan kenaikan seluruh muka air laut tepat di atasnya, dan bila
rubuh maka laut akan tertarik ke kedalaman air.
11.7. Scalling Law
Untuk mendesain model numerik tsunami perlu ditentukan
parameter bidang sesar gempabumi (sudut dip, slip, strike, panjang, dan
lebar sesar gempa) untuk menghitung setting rekaan (initial condition)
untuk perambatan gelombang tsunami. Dalam pemodelan arah strike
dihitung paralel dengan arah memanjang sesar gempabumi subduksi.
Sudut dip memakai asumsi kemiringan. Untuk menentukan ukuran sesar
gempabumi (panjang, lebar) dan jarak slip (dislocation/rake) bidang sesar
gempabumi digunakan Metode Scalling Law dari input magnitudo momen
(Mw).
(11‐10)
(11‐11)
(11‐12)
dimana L panjang sesar gempabumi (km), W lebar sesar gempabumi
(km), U jarak slip (cm), Mw magnitudo input.
11.8. Tide Gauge
Perubahan muka air laut karena pengaruh gaya tarik bulan dan
matahari, tiupan angin, temperatur air laut, tekanan udara, dan arus
lautan termasuk dalam rangkaian pengukuran pasang surut air laut (tidal
observation) menggunakan alat tide gauge.
Tide gauge bisa juga dimanfaatkan antara lain untuk monitoring
gelombang badai dan tsunami, mendeteksi variasi gelombang jauh muka
air laut dalam hubungannya dengan perubahan lingkungan global, dan
196
mendeteksi perubahan vertikal kerak bumi (crustal movement) untuk
preventif bencana.
Gambar 11.7. Skema sensor tide gauge (atas) dan lokasi di pantai Benoa Indonesia
(Sumber: NOAA, 2007).
Stasiun pasang surut dilengkapi dengan suatu sumur dimana air
laut hanya mengalir ke dalamnya melalui pipa kecil (aquaduct) sehingga
ketinggian air di permukaan sumur sama dengan di permukaan laut.
Pelampung alat tide gauge selalu mengapung di atas air sumur. Pada titik
tertentu dijadikan acuan penentuan batas akhir ketinggian air sumur
berdasarkan ketinggian datum konstan.
197
Prasyarat didirikannya tide station, antara lain: letak stasiun
menghadap ke laut terbuka, dan jauh dari sungai besar, dasar pondasi
rumah terbuat dari batu keras (bedrock) atau batu gunung, tidak
terakumulasi oleh pasir dan lumpur, gelombang laut tidak tinggi, mudah
terkoneksi ke jaringan pengamatan muka laut.
Record pasang surut (marigram) sudah dilakukan secara otomatis
langsung dikirim oleh transmitter tide gauge kepada kantor pusat nasional
atau internasional melalui jaringan telepon atau on‐line satelite. Beberapa
stasiun di Indonesia yang dikelola oleh BAKOSURTANAL telah menjadi
bagian daripada sistem jaringan tidal station global. BMKG sebagai
lembaga kegempaan di Indonesia cukup berkepentingan dalam
penerimaan observasi tide gauge ini untuk keperluan koreksi peringatan
dini tsunami. Pemerintah Jepang telah menkombinasikan tipe stasiun
pasang surut float gauge atau acoustic gauge dengan jenis pressure
tsunami gauge. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi datangnya tsunami
besar yang memungkinkan merendam seluruh bangunan stasiun tide
gauge.
11.9. DART Buoy
DART (Deep‐ocean Assesment and Reporting of Tsunamis) atau
Tsunameter alat pengukur gelombang tsunami yang ditempatkan dengan
jangkar (anchor) di dasar laut di sekitar sumber gempabumi sehingga
mempunyai kemampuan sensitivitas mengukur perubahan tinggi muka air
laut di lantai samudera dan mendeteksi secara otomatis apabila terjadi
tsunami. Seperti halnya tide gauge buoy, perannya dalam TEWS sebagai
korektor observasi sebenarnya di area tsunami saat dikeluarkannya
peringatan dini tsunami. Selain manfaat di atas DART buoy mempunyai
kegunaan lain, yaitu sebagai sensor meteorologi di Indonesia.
Tsunameter dilengkapi dengan CPU, battery controller, tiltmeter, dan
hard disk yang tahan sebagai backup system selama 48 bulan. Data dikirim
melalui gelombang akustik Bi‐directional ke pelampung (buoy) di
permukaan air. Walaupun terapung Buoy diikat dengan rantai anchor
hingga ke dasar laut agar tidak menghilang terbawa ombak. Selanjutnya
198
data dikirim melalui komunikasi satelit ke kantor pusat TEWS. Seluruh arsip
data, meta data, dan informasi dunia tersimpan di NOAA .
Gambar 11.8. Rekaman ketinggian tsunami pada stasiun Tide Gauge Padang pada
Gempabumi Bengkulu 12 September 2007 M>7,9 SR. Ketinggian tsunami
yang tercatat hanya 50 cm (Sumber: BMKG, NOAA, 2007).
11.10. Pemodelan Tsunami
Pemodelan tsunami atas dasar kalkulasi numerik cukup bermanfaat
untuk menjelaskan dan memberi solusi ilmiah terhadap berbagai
permasalahan teknik kasus‐kasus tsunami di lapangan. Waktu kedatangan
tsunami (arrival time) yang berkisaran puluhan menit pasca kejadian
gempabumi masih memberikan peluang bagi para seismolog untuk
199
memperkirakan waktu penjalaran (propagation) tsunami mencapai pantai
dalam hal penentuan kebijakan mitigasi.
Gambar 11.9. Rancangan DART Buoy (Sumber: NOAA, IOTWC)
Apabila terjadi gempabumi tsunami di suatu daerah, sistem
melakukan interpolasi data aktual dengan data pemodelan sehingga akan
didapatkan output berupa prakiraan waktu jalar dan tiba tsunami serta
ketinggian tsunami mencapai pantai. Peringatan tsunami yang berisi
output prakiraan tsunami bisa disampaikan melalui media elektronik dan
200
lembaga pemerintahan yang berhubungan langsung dengan masyarakat
di daerah tersebut.
Software pemodelan tsunami, di antaranya: WinITDB, AWI,
AVINAMI, TURMINA, NAMIDANCE, TUNAMI, TTT, dan lain sebagainya.
Profesor Imamura, peneliti senior tsunami, mulai tahun 2006
mengembangkan software berbasiskan Fortran TUNAMI‐N2 (Tohuku
University's Numerical Analysis Model for Investigation of Tsunami, No‐2)
dan diterapkan oleh JMA (Japan Meteorological Agency) untuk
mendukung pemodelan tsunami TEWS Jepang.
Gambar 11.10. Hasil pemodelan tsunami menggunakan TUNAMI‐N2 untuk kasus
tsunami Bengkulu 1833 (Sumber: Pribadi, 2007)
TUNAMI‐N2 dapat menghitung maksimum ketinggian tsunami serta
waktu tiba gelombang mencapai titik pengamatan lokasi pantai. TTT
(Tsunami Travel Time) dikembangkan oleh perusahaan Geoware GMT
sebagai software grafis dan pemetaan berbasis LINUX tapi dapat pula
201
dijalankan pada program WINDOWS. Untuk menghitung waktu tiba
tsunami, TTT menggunakan Prinsip Huygens di setiap koordinat lintang
dan bujur dari titik‐titik bathimetri. Persamaan waktu jalar tsunami (travel
time) sebagai berikut :
(11‐13)
(11‐14)
(11‐15)
dimana T waktu jalar, a koefisien jarak, =h/y fungsi kedalaman (h) dan
jarak pada sumbu y, sudut antar titik jalar. (xi-1, yi-1) dan (xi, yi) koefisien
jarak antara titik asal jalar (starting point) dan titik tiba (arriving point).
Akhirnya, persamaan waktu jalar (T) dari sumber tsunami (tsunami
source) menuju titik pengamatan pantai (outpoint) :
(11‐16)
11.11. Bathimetri
Pemodelan tsunami memerlukan beberapa parameter input seperti
koordinat lokasi sumber, kedalaman sumber, magnitudo sumber, koordinat
dan kedalaman bathimetri lokasi pantai yang diperkirakan terkena dampak
tsunami, serta setting software pemodelan tsunami meliputi durasi model,
batas area, data bathimetri. Situs oseanografi dunia GEBCO NOAA (The
General of Bathymetry Chart of the Oceans) dengan alamat
www.ngdc.nooa.gov/mgg/gebco menyediakan data bathimetri untuk
seluruh wilayah perairan di dunia dengan interval ruang 1.850 m untuk
setiap 1 arc grid menit.
Sebenarnya untuk mendapatkan hasil yang akurat, masih diperlukan
lagi interval grid yang lebih rapat lagi. Jepang dan Amerika sudah
mempunyai data mendetail bathimetri dengan interval kurang dari 500 m
untuk seluruh wilayahnya. Beberapa produk bathimetri lainnya seperti
ETOPO, dan SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) menyediakan
202
berbagai luasan grid interval bathimetri diantaranya; 1 menit
(1,7 km x 1,7 km), 2 menit (3,4 km x 3,4 km), 5 menit (8,5 km x 8,5 km), dan
(17,0 km x 17,0 km). Selain memuat data bathimetri, tersedia juga data
ketinggian daratan (topografi).
Gambar 11.11. Surveyor tsunami sedang mengukur ketinggian tsunami melalui jejak
ranting patah pada pohon pasca tsunami Sumatera 2004 (Sumber:
Walrus, 2004).
11.12. Survey Tsunami
Survei lapangan pasca tsunami dimaksudkan untuk mengidentifikasi
tanda‐tanda penyebaran rambatan tsunami (inundation) dan
menentukan distribusi ketinggian tsunami (run‐up height) sepanjang
pinggiran pantai melalui penemuan bukti‐bukti genangan (watermarks)
dan indikator lainnya. Dengan menentukan tanda‐tanda inundation dan
203
pemodelan deformasi lantai samudera, akan memudahkan prediksi
inundasi di masa datang akibat zona sesar seismik berikutnya baik pada
lokasi yang sama atau pun berbeda.
Pencariannya harus dilaksanakan sesegera mungkin karena
keberadaanya sering hanya sekejap, mudah terhapus, dan hilang oleh
sapuan gelombang laut atau pembangunan kembali daerah bencana.
Saksi mata biasanya segera berpindah atau direlokasi ke tempat yang
lebih aman, dan kadang‐kadang menjadi tak ramah sebulan berikutnya
untuk diajak berdiskusi menceritakan kembali pengalaman pahit mereka
yang pernah mereka alami.
Umumnya survey utama dilaksanakan dalam waktu kurang dari 2
minggu dari saat kejadian. Peralatan yang digunakan antara lain: laser
distance meter, automatic level, dan handrable untuk pengukuran jejak
ketinggian tsunami, GPS untuk menentukan posisi daerah, mistar
pengukur ketinggian, kamera untuk dokumentasi bukti‐bukti tsunami.
Gambar 11.12. Fasilitas perlindungan tsunami di Jepang; 1) Water Breakers, 2) Electric
Water Gates, 3) Sea Wall (Sumber : Pribadi, 2006).
204
11.13. Fasilitas Perlindungan
Di daerah‐daerah rawan bencana tsunami seperti pemukiman padat
penduduk, dan lokasi wisata, pemerintah perlu segera mengupayakan
fasilitas mitigasi meliputi: alarm tanda bahaya, rute evakuasi vertikal, dan
peta bencana (hazard map) berisi petunjuk jalan menuju tempat
perlindungan (shelter) serta fasilitas gawat darurat. Papan peringatan
tanda bahaya tsunami dan rute evakuasi sebaiknya ditempel di lokasi‐
lokasi yang mudah terlihat umum contohnya di tiang listrik, baliho, dan
dekat rambu lalu lintas. Keterangannya harus jelas, mudah dimengerti,
tidak menimbulkan perasaan was‐was, dan ditambah bahasa
internasional dan bahasa daerah setempat.
Gambar 11.13. Peta rawan dan evakuasi tsunami Kota Padang yang dilengkapi dengan
daerah ketinggian genangan (inundation) dan tempat‐tempat aman
evakuasi (Sumber: Ina‐TEWS, 2007).
205
Perlindungan sarana‐sarana umum seperti rumah sakit, shelter,
gudang penyimpanan makanan dan fasilitas vital pemerintahan perlu
ditempatkan di daerah yang benar‐benar aman. Sirine tanda bahaya dari
alarm tsunami di lokasi pantai bisa diteruskan ke alat tanda tradisional
seperti kentongan, bedug, dan pengeras suara di rumah ibadah. Mobil
dan motor patroli perlu dikerahkan untuk memobilisasi penduduk ke
lokasi penampungan sementara.
Di pinggir pantai perlu dibangun dinding penghalang (tidal barrier)
atau seawall. Ketinggian breakwater dan seawall harus disesuaikan
minimal setengahnya daripada yang pernah dan diperkirakan terjadi.
Diupayakan pembuatan tanggul penghalang (dyke) beberapa lapis
sebelum tsunami mencapai lokasi pemukiman. Selain itu, antara daerah
bebas pantai dengan pemukiman perlu dibatasi pepohonan tinggi berakar
serabut kuat untuk melindungi rumah‐rumah dari terjangan langsung
tsunami.
Gambar 11.14. Fasilitas perlindungan tsunami berupa shelter dengan tangga berundak
(Sumber: Ina‐TEWS, BMKG, 2007).
Tanggul bisa berstatus permanen atau temporer, misalnya metode
"buka‐tutup" seperti pada pintu‐pintu air irigasi muara sungai Numazu
206
berjenis electric water gates dengan ukuran terbesar berketinggian
hampir 10 m. Fungsinya untuk mencegah terjadinya upstreaming
gelombang tsunami masuk muara sungai yang berakibat genangan
tsunami merayap jauh menimbulkan banjir bandang dadakan di
bantalan‐bantalan sungai.
Fasilitas lainnya seperti pembuatan tangga berundak menuju
daerah pedataran tinggi perbukitan yang berdekatan dengan pantai,
mempermudah penduduk untuk segera mencapai shelter penampungan
sementara. Kawasan pemukiman pantai nelayan dan pariwisata harus
ditata ulang dengan membangun bangunan bertingkat dimana bagian
bawah (dasar) sengaja dikosongkan untuk melewatkan hempasan
gelombang tsunami.
Gambar 11.15. Tata ruang daerah pantai rawan bencana tsunami Kota Padang dengan
memanfaatkan fungsi hutan pantai untuk meredam tsunami (Sumber:
Ina‐TEWS, BMKG, 2007).
207
11.14. Hutan Mangrove
Alternatif lain yang murah, ramah lingkungan, dan cocok
diterapkan di Indonesia adalah penghijauan kembali hutan pantai dan
hutan mangrove (greenbelt). Riset membuktikan bahwa mangrove
terbukti efektif untuk meredam tsunami (Latief, 2000; Utomo, 2003;
BPPT, 2004; Widjo Kongko, 2004).
Gambar 11.16. Tata ruang daerah pantai rawan bencana tsunami untuk kota nelayan
(Sumber: Pribadi, 2006).
Pepohonan dan semak belukar berjasa menyelamatkan tubuh
manusia hingga bertahan hidup atau setidaknya jasadnya masih bisa
ditemukan karena tersangkut di dahan. Seorang turis asing berhasil
selamat karena berpegangan pada batang pohon saat Tsunami 2004
melanda kawasan wisata Phuket Thailand.
Berdasarkan penelitian Harada‐Imamura (2003) didapatkan hasil
bahwa semakin tebal hutan pantai maka tingkat peredaman tsunami kian
208
tinggi, arus dan gaya hidrolis kian melemah. Untuk gelombang tsunami
setinggi 3 meter yang menerjang hutan pantai selebar 50 meter, maka
jangkauan run‐up yang masuk ke daratan tinggal 81%. Jika lebar hutannya
400 meter dihantam tsunami berketinggian 3 meter, maka jangkauan run‐
up tinggal 57%, tinggi genangan setelah melewati hutan pantai tinggal
24%, dan gaya hidrolik setelah melewati hutan pantai hanya tersisa 1%.
Hutan pantai selain untuk meredam terjangan gelombang tsunami juga
menahan benda‐benda atau puing‐puing yang akan dihanyutkan ke pantai
(Subandono‐Budiman, 2006).
209
12
INA ‐ TEWS
Gambar 12.1. Logo Ina‐TEWS (Sumber: BMKG, 2009).
211
Peringatan dini menjadi sedemikian penting demi mengurangi
dampak gempabumi bumi dan tsunami. Dengan informasi
yang akurat dan cepat masyarakat menjadi tahu terhadap
bahaya yang terjadi dan kemungkinan resiko berikutnya. Situasi pun
menjadi lebih terkendali.
Berbeda halnya dengan gempabumi kedatangan tsunami masih
bisa diprediksi. Dikarenakan adanya selisih waktu tiba gelombang
tsunami mencapai daratan pantai, maka masyarakat sekitar ketika
mendengar peringatan melalui sirine, alat telekomunikasi, atau alat bunyi
tradisional lainnya bisa segera menyelamatkan diri.
12.1. Sistem Integral
Perangkat sistem operasional mitigasi gempabumi dan tsunami
berupa sistem peringatan dini gempabumi tsunami atau akrab dengan
istilah Ina‐TEWS (Indonesian Tsunami Earthquake Early Warning System).
Sistem ini telah beroperasi sejak tahun 2005 atas kolaborasi beberapa
intitusi dalam negeri (BMKG, RISTEK, LIPI, BPPT, BAKOSURTANAL, ITB)
dengan dukungan beberapa perangkat sistem pengolah data seismic
(SeiscomP Jerman, CEA Cina, LIBRA Canada, JISNET Jepang, Amerika, dan
CTBTO PBB). Ina‐TEWS diresmikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang
Yudhoyono, di kantor pusat BMKG Kemayoran Jakarta pada tanggal 11
November 2009.
Ina‐TEWS mengacu pada segitiga integral peringatan tsunami yang
dipunyai ITIC Hawaii, Amerika. Kita mengacu pada 3 fungsi utama, yaitu:
1. Komponen Teknis Operasional yang berperan dalam hal monitoring,
proses data, analisis, dan penyebaran informasi peringatan serta
pengarahan. Institusi yang terlibat adalah BMKG, BAKOSURTANAL,
BPPT, DJSM, LIPI, dan KOMINFO.
2. Komponen Mitigasi, Rehabilitasi, dan Tanggap Darurat (Emergency
Response) terrdiri dari BAKORNAS, Departemen Kesehatan, Hankam,
Pendidikan, Kesra, Kepolisian, Dalam Negeri, dan Pemda. Tugasnya
212
adalah memberikan perlindungan, mitigasi, pendidikan bencana,
penguatan komunitas rawan bencana, kesiapsiagaan, pembangunan
shelter, peta evakuasi, persiapan logistik, training, dan sebagainya.
3. Komponen Penanggulangan dan Penguatan Ketahanan Struktur dan
Infra‐Struktur (Assessment/Capacity Building). Terdiri dari RISTEK,
LIPI, ITB, BPPT, dan BMKG. Bertugas memberikan data historis untuk
kepentingan riset dan pembangunan dalam perkiraan bencana.
Gambar 12.2. Komponen integral Ina‐TEWS (Sumber: BMKG, 2009)
12.2. Monitoring
Ada beberapa komponen sistem integrasi TEWS di antaranya:
metode seismik, pengamatan gelombang dan muka laut, dan perubahan
geodinamika bumi. Dari ketiganya, pengukuran metode seismograf
dipandang paling efektif berperan meredusir bahaya tsunami dikarenakan
kecepatan gelombang gempabumi melalui lapisan tanah adalah paling
213
tinggi 8 km/detik atau 28.800 km/jam melebihi kecepatan maksimum
tsunami 1.000 km/jam melintasi lautan. Jaringan seismograf yang
melingkupi pusat gempabumi terus dievaluasi demi mendapatkan hasil
terbaik parameter gempa.
Gambar 12.3. Sistem monitoring tsunami Ina‐TEWS (Sumber: LIPI).
Peringatan dini tsunami BMKG, masih berbasis pada determinasi
magnitudo gempabumi (hypocenter determination). Alarm tsunami akan
otomatis menyala apabila sistem analisa gempabumi mendeteksi
gempabumi skala besar bermagnitudo di atas 6,5 SR, berlokasi di laut pada
kedalaman permukaan dasar laut kurang dari 60 km dari dasarnya.
Selanjutnya keputusan peringatan tsunami dikeluarkan melalui
sistem diseminasi informasi dan disampaikan kepada pejabat pemerintah
pusat dan daerah bencana gempabumi tsunami, instansi terkait, media
massa, dan masyarakat pengguna informasi gempa.
214
Gambar 12.4. Dart Buoy (Sumber: BPPT, 2009).
Gambar 12.5. Diseminasi Five in One (Sumber: BMKG, 2009).
215
12.3. Alur Informasi
Informasi disampaikan melalui Sistem RANET 5 in 1 dalam bentuk
alarm, peta, sms, faksimili, dan website. Koreksi data dan informasi terus
menerus dilakukan secara simultan diantaranya dengan menggunakan
hubungan telekomunikasi telepon interlokal serta data online observasi
alat pasang surut air laut (tide gauge).
Sebelum dikeluarkan alarm peringatan tersebut, diperlukan pula
suatu pengujian oleh sistem database pemodelan tsunami sehingga dapat
dikoreksi apakah gempabumi tersebut berpotensi menimbulkan tsunami
atau tidak. Database tsunami yang memuat file‐file berisi koordinat titik
luar pantai (forecast point) dan titik dalam pantai (coastal point), koordinat
sumber lokasi, data kedalaman pantai, hasil pemodelan tsunami dengan
variasi magnitudo, lokasi kedalaman, ketinggian tsunami, dan waktu tiba
tsunami.
Gambar 12.6. Alur informasi Ina‐TEWS (Sumber: BMKG, 2009).
216
Hasil akhir peringatan dini tsunami berupa teks informasi yang
terdiri dari: lokasi pantai yang terkena dampak tsunami, prediksi waktu
tiba tsunami, dan ketinggian tsunami. Kriteria peringatan bahaya tsunami
ditentukan berdasarkan ketinggian tsunami antara lain: Mayor Tsunami
(h > 2 m), Tsunami (1 h 2), Minor Tsunami (0,5 < h < 1 m), dan Advisory
(h < 0,5).
12.4. DSS
BMKG dengan DLR Jerman mulai tahun 2006 membangun Decision
Support System (DSS), yaitu suatu sistem pendukung untuk membuat
keputusan dikeluarkannya peringatan dini tsunami Ina‐TEWS. Keputusan
tersebut dibuat berdasarkan data observasi dan perhitungan seismik,
observasi tide gauge, buoys, GPS, ocean bottom unit, earth observation,
serta basis data simulasi tsunami dan model analisisnya.
DSS Revisi 1.1 dinamakan DSS GUI (Graphic User Interface) yang
berbasiskan gambar grafis untuk merepresentasikan data secara geografis.
Latar belakang didirikannya DSS dikarenakan efek pembangkit tsunami
dari sumber subduksi busur Sunda sepanjang pantai luar Sumatera, Jawa,
Bali, dan Nusa Tenggara adalah sangat singkat bertempo 20‐30 menit
setelah terjadinya gempabumi.
Kondisi demikian menyebabkan petugas merasa kesulitan dalam
pengambilan keputusan dan tindakan untuk pemberian peringatan dini
tsunami. Sedangkan peringatan potensi tsunami harus dikeluarkan cepat
dan tepat dalam waktu yang singkat (5 menit).
Untuk mencapai misi itulah DSS dibangun untuk membantu petugas
dalam pengambilan keputusan peringatan dini tsunami secara cepat dan
tepat. Keistimewaan DSS GUI antara lain: cakupan area gempabumi
meliputi seluruh wilayah Indonesia dan Samudera India dan Samudera
Pasifik. Parameter input DSS dapat juga terhubung secara online ke
SeiscomP3 sehingga gempabumi mulai magnitudo M>4 akan segera
dimunculkan dalam layar DSS Situation Perspective.
217
Simulasi tsunami dipicu oleh input parameter gempabumi
SeiscomP3. Jumlahnya mencapai 823 skenario simulasi dengan variasi
magnitudo, kedalaman, dan parameter bidang sesar. Selang waktu
kompilasi simulasi tsunami dari sistem repository DSS cukup singkat hanya
10 detik, dan bisa terus ter‐update mengikuti updating parameter gempa.
DSS juga menampilkan situasi gempa, observasi sensor, prakiraan
simulasi dan rincian peringatan tsunami dalam 4 layar monitor sekaligus.
Dengan tampilan data rinci dan detail dalam bentuk peta, grafik, dan
statistik, pengambilan keputusan akan mudah dipahami dan atraktif
sehingga operator dapat mempermudah dalam pengambilan keputusan/
warning.
Gambar 12.7. Tampilan produk DSS yang sedang dibangun oleh pihak Jerman
bekerjasama dengan Ina‐TEWS (Sumber: DLR, GFZ, 2007).
218
DSS menampilkan perkiraan peringatan dini tsunami spesifik
berupa: lokasi pantai, ketinggian tsunami (estimated wave height/EWH),
waktu tiba (estimated tsunami arrival/ETA), level peringatan (warning
level), lokasi pantai potensi tsunami dengan perkiraan detail (warning
segment) meliputi 125 kabupaten, serta memberikan kesempatan pada
COOD untuk merubah level peringatan berdasarkan perasaan (intuitive)
dan wawasan resiko kebencanaan (risk perspective) dengan mengubah
beberapa icon bar.
Gambar 12.8. Ruangan operasional Ina‐TEWS (Sumber: Pribadi, 2009).
Peringatan tsunami yang diterima di daerah kemudian diteruskan
ke seluruh sirine tsunami. Jumlah sirine yang sudah terpasang sebanyak
44 unit tersebar di Aceh, Padang, dan Bali. Sesekali digunakan untuk
peringatan tsunami drill .
219
Gambar 12.9. Sirine peringatan tsunami dipasang dan sesekali digunakan untuk
peringatan tsunami drill di Bali (Sumber: BMKG, 2009).
220
DAFTAR PUSTAKA
Atwater, B. F. et al., The Orphan Tsunami of 1700, United States Geological
Survey & University of Washington Press, 2005.
Afnimar, Seismologi, Penerbit ITB, 2009.
Bath, M., Introduction to Seismology, Willey & Sons, Inc., ISBN‐
13:9780470991282, 1978.
Bolt, B. A., Earthquake Fifth Edition, W.H. Freeman and Company, New
York, USA, 2006.
Budiarta, Analisis Resiko Gempa Untuk Mitigasi Bencana Daerah Bali,
Skripsi, Universitas Indonesia, Jakarta, 2006.
Coburn, A., Spence, R., Earthquake Protection Second Edition, Willey
Publishing, USA, 2002.
Dudley, C. W., Tsunami (Second Edition), Universitas Hawaii Press, ERI,
Univ of Tokyo Japan, Earthquake Prediction Researches in Japan,
Coordinating Committee of Earthquake and Volcanic Eruption
Prediction Researchers, 2006.
Esteva L., Geology and probability in the assessment of seismic risk, Proc.
at the 2nd International Association of Engineering Geologist, Sao
Paolo, p.14. 1974.
Geller, R., Introduction to Seismology, IISEE, BRI, Japan, 2006.
Hurukawa, N., Practical Analyses of Local Earthquakes, IISEE, BRI,
Tsukuba, Japan, 2007.
221
IASPEI, Editor Bormann, P., New Manual of Seismological Observatory
Practice (NMSOP), Postdam, Germany, 2002.
Ibrahim, G. dan Subardjo, Buku Gempabumi, Penerbit BMKG, 2001.
Kanamori, H., 1977, The energy release in great earthquake, J. Geophys.
Res., 82, 2981‐2987.
Ken, Structure of Earth Interior, IISEE, BRI, Tsukuba, Japan, 2006.
Tsukuba, Japan, 2007.
Kompas, Bencana Gempa dan Tsunami, Penerbit Kompas, Jakarta, Maret
2005.
Latief, H. et al., Tsunami Assesment Around The Sunda Strait, Intil.
Seminar on Tsunami in Memoriam 120 yrs of Krakatau Eruption,
2003.
Lay, T. dan Wallace, T.C., Modern Global Seismology, Academic Press,
USA, 1995.
Honolulu, 1998.
Murjaya, J., dan Ibrahim, G., Peta Percepatan Tanah Indonesia, BMKG,
1998.
Plastino, et al., Radon Groundwater Anomalies Realted to Umbria‐
Marche September 26, 1997 Earthquake, Geofisica Internacional,
Roma, Italy, 2002.
Pribadi, S., A Prototype of Tsunami Data Base for Bengkulu Tsunami 1833,
Master Thesis, IISEE, Tsukuba, Japan, 2007.
Pribadi, Indonesian Tsunami Early Warning System for Disaster
Mitigation, International Symposium, Riyadh, 2009.
Pribadi dkk, Laporan Umum Studi Pendahuluan Deteksi Precursor
Gempabumi Sumatera Barat 2009, Tim Precursor BMKG, 2009.
Pribadi, S., Pemodelan Tsunami untuk Peringatan Dini BMKG, Buletin
BMKG, BMKG, Jakarta, 2008.
222
Pribadi, S., Survey Gempabumi Tsunami Pangandaran 2006, BMKG,
2006.
Puspito, N., dan Triyoso, W., Seismologi I ‐ Praktikum Geofisika, ITB, 1997.
Schneider, et al., Animal Perception of SeismicPhenomena, University of
Natural Resources, Vienna, Austria.
Spence,W., S.A. Sipkin, G.L.Choy, Earthquakes and Volcanoes Volume 21,
Number 1, 1989.
Stein, S., and Wysenssion, M., An Introduction to Seismology, Earthquake,
and Earth Structure, Black Well Publ., USA, 2003.
Subandono dan Budiman, Tsunami (second version), Penerbit Buku
Ilmiah Populer, Bogor, Januari 2006.
Laporan & Presentasi
Abdullah, C. I., dan Asikin, S., Kuliah Kendali Struktur, Teknik Geologi, FIKM
ITB ,Bandung, 2006.
Astiz, L., dan Stewart, R., Seismic Technology in the International
Monitoring System, CTBTO, Technical Training Program, Austria,
2008.
Atsushi, F., Disaster Prevention for Port, Institute for Transport Policy
Study, Presentation for IISEE Lecture, Kobe, Japan, 2006.
BMKG, Laporan Gempabumi Melonguane 2009, BMKG, Jakarta, 2009.
BMKG, Laporan Gempabumi Mentawai 2009, BMKG, Jakarta, 2009.
BMKG, Laporan Gempabumi Tasikmalaya 8 September 2009, BMKG,
Jakarta, 2009.
BMKG, Survey Gempabumi (Tasikmalaya) Selatan Jawa Barat 3‐6
September 2009, BMKG, Jakarta, 2009.
BMKG‐REINDO, Peta Rawan Bencana Gempabumi, 2005.
223
Furumura, T., Theory of Seismic Wave, IISEE, BRI, Japan 2006.
Gunawan, T., Pengetahuan Bencana, HMD, BMKG, 2009.
Geller, R., Structure of Earth Interior, Introduction to Seismology,
Source: Prof. Ed Garnero, Arizona State University
http://garnero.asu.edu/ IISEE, BRI, Tsukuba, Japan, 2006.
Iwasaki, T., Crust and Upper Mantle Structure‐Controlled Source
Seismology, ERI, Tokyo University, IISEE, 2006.
Jonathan, Upaya Riksa, Emergency and Preparedness Response, 2009.
Kato, K., Introduction to Strong Motion and Seismic Hazard, Kajima
Corporation, Presentation for IISEE Lecture, Japan, 2006.
Kato, et al., Earthquake Prediction, Presentation for IISEE Lecture,
Tsukuba, Japan, 2006.
Nurdiyanto, B. et al., Studi Precursor Sumatera Barat Dengan Metode
Magnit Bumi BMKG, 2009.
Okazaki, K., Flood Fighting in Japan, GRIPS, 2007.
Prasetyo, B., Instrumen Seismograph, Training SOP‐TEWS, BMKG, 2008.
Pribadi, S., Prediksi Gempa Tokai Jepang ‐ Translasi, BMKG, 2009.
Puspito, N., Struktur Interior Bumi Berdasarkan Data Gempa, Sains
Kebumian, ITB, 2009.
Puspito, N., Zona Subduksi, Sains Kebumian, ITB, 2009.
Rohadi, S., Pergerakan Tektonik, Presentasi Kuliah ITB, 2009.
Sagiya, T., Crustal Deformation, Nagoya University, Presentation for IISEE,
BRI, Tsukuba, Japan 2004.
Satake, K., Earthquake and Tsunami, Geological Survey of Japan, AIST,
IISEE, BRI, Tsukuba, Japan 2006.
Shuto, N., Introduction of Tsunami Disaster Mitigation, IISEE, Tsukuba,
Japan 2006.
224
Subakti, H., Indonesia Action Plan (presentation), Presentation at IISEE,
BMKG, 2007.
Sudrajat, A., Kebencanaan Geologi, BMKG, 2009.
Sudrajat et al., Studi Precursor Sumatera Barat Dengan Metode Seismik,
BMKG, 2009.
Toda, Earthquake Prediction, IISEE, Japan, 2006.
Tsuji, Hydrodynamic of Tsunami, Uni Tokyo, IISEE, Japan, 2007.
Yagi, Y., Source Mechanism, IISEE, Japan, 2007.
Yagi, Y., Source Mechanism, University of Tsukuba, Japan, 2009.
Yagi, Y., Moment Tensor, University of Tsukuba, Japan, 2009.
Yokoi, Introduction to Seismology, IISEE, Japan, 2007.
Yokoi, Seismograph, IISEE, Japan, 2007.
‐‐‐‐‐‐, Geodinamika, Teknik Geologi, FIKM ITB ,Bandung, 2006.
‐‐‐‐‐‐, Perkembangan Terbaru Prediksi Gempabumi, Internet.
‐‐‐‐‐‐, Surface Wave, IISEE, Tsukuba, Japan, 2007.
‐‐‐‐‐‐, Tsunami Force and Tsunami Resistant Structure, PARI, Presentation
for IISEE, Yokohama, Japan, March 2007.
‐‐‐‐‐‐‐, Tsunami Measure of Numazu Port, Numazu Public Works Office
Japan, November 2006
Web Pages
BOSTON
http://www.boston.com
DETIK
http://www.detik.com
225
GARNERO, EARTH INTERIOR
http://garnero.asu.edu/
HARFIANTO
http://orangmiskin.wordpress.com/ranah‐minang‐menangis.
INTERACTIVE GMT
http://www.i‐gmt.com
KEDAHSYATAN TSUNAMI
http://www.beritaiptek.com/kedahsyatan_tsunami
LAFAYETTE
http://ww2.lafayette.edu/~malincol/Geol120/earthquaketopics
NN
http://pks‐online.com/dpd_langsa
POS METRO
http://www.posmetro.com
REINDO ASURANSI
http://www.reindo.co.id
STLOE
http://stloe.most.go.th
TILTMETER
http://www_geo_uni‐bonn_de‐members‐fabian‐nyalesund‐
zylindersand_jpg.htm
UNIK
http://unic77.blogspot.com
WIKIPEDIA,
http://wikipedia.org
226
BIOGRAFI PENULIS
Drs. Sunarjo, M.Sc dilahirkan di Kediri tanggal 1 Maret
1953, dari ayah bernama Mulyono dan Ibu Sadiyah
yang keduanya berasal dari Kediri. Masa kecil dari
sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas
dihabiskan di Kediri, lulus Sekolah Menengah Atas
Negeri 2 Kediri tahun 1971. Setelah setahun
menganggur, diterima menjadi mahasiswa Akademi
Meteorologi dan Geofisika (AMG) Jakarta tahun 1973,
sejak saat itu tinggal di Jakarta.
Lulus dari AMG ditempatkan dan menjadi pegawai di Sub Bagian
Gravitasi dan Tanda Waktu, Pusat Meteorologi dan Geofisika (PMG) yang
saat itu berada di bawah Departemen Perhubungan. Sejak saat itu mulai
mengenal masalah hisab dan rukyat, ikut melaksanakan rukyat, namun
belum pernah melihat hilal dan diminta mendampingi pimpinan dalam
sidang Ishbat di Departemen Agama.
Tahun 1979 dipindah ke Denpasar menjadi pegawai pada Stasiun
Geofisika Denpasar, baru satu tahun bekerja di Stasiun Geofisika Denpasar,
mendapat tawaran untuk mengikuti kuliah di Universitas Indonesia.
Setelah melalui berbagai test, pada pertengahan 1980 akhirnya diterima
menjadi Mahasiswa Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.
Pada awal menjadi mahasiswa ketemu jodohnya, yaitu Siti Asiyah,
yang sampai dengan saat ini masih menjadi istrinya dan diberi karunia 3
227
orang putri dan satu putra, Oktina Fitrianti (lahir tahun 1981), Feizal
Avisenna (1983), Rizky Amalia Pratiwi (1986) dan Annisa Adib Gifari (1995).
Pada tahun 1983 lulus dan kembali bekerja di Sub Bidang Gravitasi
dan Tanda Waktu, belum genap setahun bekerja di Jakarta dipindah ke
Ambon, Maluku menjadi Kepala Stasiun Geofisika Ambon. Setelah
bekerja di Ambon selama 3 tahun, kembali diberi kesempatan untuk
sekolah lagi dan diterima menjadi mahasiswa program S2 Pasca Sarjana
di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang diselesaikannya
dalam waktu kurang dari 2 tahun. Tesis yang dikerjakan mengenai
seismologi yang mendapat bimbingan Dr. Wolfgang Brustle dan Prof.
Mugiyono (alm). Lulus dari UGM tahun 1989, kembali ditempatkan di
Jakarta, mulai lagi menjadi staf dan baru diangkat menjadi Kepala Sub
Bidang Seismologi pada awal tahun 1991. Setelah itu, berbagai jabatan
baik di Kantor Pusat maupun di daerah (Kepala Balai Meteorologi dan
Geofisika wilayah IV Makassar) dilaluinya dan pada Mei 2009 dilantik
menjadi Deputi Instrumentasi, Kalibrasi, Rekayasa dan Jaringan
Komunikasi pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang
dijabatnya sampai dengan saat ini.
Disela‐sela kesibukannya menjadi pejabat di BMKG, masih
meluangkan waktunya untuk mengajar dan membimbing mahasiswa di
almameternya, yaitu di AMG dan beberapa tahun lalu di Universitas
Indonesia. Aktivitas lainnya mengikuti berbagai seminar, workshop,
lokakarya dan pertemuan baik di dalam maupun luar negeri dengan
berbagai topik yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi BMKG.
228
Drs. Mohamad Taufik Gunawan, Dipl. SEIS lahir di
Bandung 16 September 1960. Mempunyai seorang
istri bernama Dwi Koriyanti dan tiga orang anak
masing‐masing: Nadya Tarina Ardhany, Muhammad
Fahmi Nugraha, dan Mutiara Aini. Dari sekolah dasar
sampai sekolah menengah atas dijalani di Bandung.
Pada tahun 1980 mendapat kesempatan pendidikan
ikatan dinas Observator Geofisika pada Balai
Pendidikan dan Pelatihan Meteorologi dan Geofisika di Jakarta sampai
tahun 1981. Tahun 1982 ditugaskan sebagai pegawai Stasiun Geofisika
Ambon sampai tahun 1985.
Tahun 1985 sampai 1987 mengikuti pendidikan Akademi
Meteorologi dan Geofisika (AMG). Lulus dari AMG kemudian ditempatkan
sebagai pegawai Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah II, Ciputat
Banten. Sejak itu, berbagai pendidikan telah dilaluinya. Tahun 1994 lulus
sebagai Sarjana Fisika dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Tahun 1997 melanjutkan pendidikan di International Institute of
Seismology and Earthquake Engineering (IISEE) jurusan Seismologi di
Tsukuba, Jepang dan lulus tahun 1998.
Sejak tahun 1997 dipindahtugaskan ke Kantor Pusat Badan
Meteorologi dan Geofisika (BMG) sebagai staf di Bidang Geofisika. Tahun
2004 diangkat sebagai Kepala Sub Bidang Mitigasi Gempabumi sampai
dengan tahun 2008. Tahun 2008 sampai dengan 2009 dipindahtugaskan
sebagai Kepala Sub Bidang Informasi Dini Gempabumi. Tahun 2009
sampai dengan sekarang mendapat promosi sebagai Kepala Stasiun
Geofisika Klas I Padang Panjang, Sumatera Barat.
Aktivitas lain selain menjalani tugas pokok sebagai pegawai BMKG,
juga aktif menulis masalah gempabumi, aktif mengikuti seminar/
workshop baik skala nasional maupun internasional dan aktif sebagai
pembimbing dalam penyusunan tugas akhir mahasiswa dari berbagai
perguruan tinggi negeri maupun swasta.
229
Sugeng Pribadi, ST., MSc. lahir di Banjarmasin, 15 Juni
1976. Profesi yang sedang digeluti sebagai peneliti
gempabumi di BMKG, Jakarta. Setelah tamat dari
SMAN 11 Bandung, tahun 1994 penulis langsung
melanjutkan ke Akademi Meteorologi dan Geofisika
Jakarta (dulu BPLMG). Berbarengan dengan waktu
wisuda penulis sudah masuk ke Jurusan Teknik
Geologi Universitas Padjadjaran dan lulus sarjana
tahun 2001.
Kesempatan melanjutkan pendidikan didapatkan tahun 2006 di
IISEE (International Institute of Seismology Earthquake Engineering)
Tsukuba, Jepang sekaligus mendapatkan gelar Master Degree di bidang
Tsunami Mitigation dari GRIPS (National Graduate Institute for Policy
Studies). Sekarang sedang menempuh program Doktor di bidang
Seismologi di Institut Teknologi Bandung.
Pengalaman sebagai pembicara pada International Symposium of
Disaster Mitigation di Riyadh, 2009, dan International Seminar of
Earthquake Precursor di Bukittinggi, 2009.
230