The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-02-15 08:04:54

PUSKUR - Modul Pelatihan PRB

PUSKUR - Modul Pelatihan PRB

Keywords: puskur,pelatihan,pengintegrasian,pengurangan,resiko,bencana

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

D. Kelebihan dan Kekurangan Masing-Masing Model
Satuan pendidikan dapat memilih model-model pengintegrasian pendidikan
PRB ke dalam kurikulum yang akan dilaksanakan sesuai dengan situasi, kondisi,
dan karaktersitik satuan pendidikan masing-masing. Namun demikian, dalam
memilih model-model tersebut, satuan pendidikan perlu mempertimbangkan
kelebihan dan kekurangan masing-masing model.Kelebihan dan kekurangan
masing-masing model adalah sebagai berikut.

5BCFM ,FMFCJIBO EBO ,FLVSBOHBO NBTJOH NBTJOH NPEFM

No. Model Pengintegrasian Kelebihan Kekurangan

1. 1FOHJOUFHSBTJBO LF EBMBN t (VSV UFSMJCBU TFDBSB QFOVI t (VSV UJEBL UFSMJCBU TFDBSB
NBUB QFMBKBSBO QPLPL NVMBJ EBSJ QFSFODBOBBO
QFOVI NVMBJ EBSJ
QFMBLTBOBBO
EBO FWBMVBTJ QFOFOUVBO KFOJT
t 5JEBL QFSMV NFOZVTVO
4, EBO ,% LBSFOB TVEBI
UFSTFEJB
t .FOHIFNBU XBLUV EBO
UFOBHB LBSFOB UJEBL
NFNFSMVLBO HVSV CBSV
EBO XBLUV LIVTVT EJMVBS
XBLUV ZBOH EJTFEJBLBO

2. 1FOHJOUFHSBTJBO LF EBMBN t .BUFSJ QFNCFMBKBSBO t )BSVT NFOHBEBLBO BOBMJTJT
NBUB QFMBKBSBO NVBUBO MPLBM MFCJI GPLVT UFSIBEBQ LFCVUVIBO NBUB
t .FNQVOZBJ BMPLBTJ QFMBKBSBO NVBUBO MPDBM
XBLUV UFSTFOEJSJ t 1FSMV UJN LIVTVT VOUVL
NFOZVTVO 4, EBO ,%
t 1FSMV HVSV LIVTVT

3. 1FOHJOUFHSBTJBO LF EBMBN t .BUFSJ QFNCFMBKBSBO EBQBU t 1FSMV UFOBHB QFOHBKBS
QFOHFNCBOHBO EJSJ EJCFSJLBO LBQBO EBO JOTUSVLUVS ZBOH NFNJMJLJ
EJNBOB TBKB LFBIMJBO LIVTVT
t %BQBU EJTBKJLBO TBNCJM t 1FSMV TBSBOB EBO QSBTBSBOB
CFSNBJO EBO MFCJI øFLTJCFM ZBOH NFNBEBJ
t -FCJI QSBLUJT EBO MBOHTVOH t 1FSMV EBOB ZBOH NFNBEBJ
QBEB QFOZFMBNBUBO EJSJ

81

UNIT-4 RENCANA AKSI SEKOLAH
UNTUK PENGURANGAN
RISIKO BENCANA

TUJUAN UNIT:
Mampu memfasilitasi penyusunan Rencana Aksi Sekolah PRB

TOPIK-A.Strategi Pengurangan Risiko Bencana Sekolah
Tujuan:
Pada akhir pelatihan peserta dapat:
 Memahami kegiatan-kegiatan dalam PRB.
 Memahami prinsip penyusunan RAS PRB dan komponen RAS PRB.
Metode:
 Presentasi.
 Tanya jawab.
Bahan & Alat:
 Bahan tayang fasilitator.
 LCD Proyektor.
 Flipcart, Papan tulis.
 Spidol besar.
 Kartu metaplan, isolasi kertas.
Proses:
 Fasilitator menyampaikan tujuan-tujuan sesi; dilanjutkan dengan

menyampaikan presentasi tidak lebih dari 20 menit,
 Fasilitator mengelola tanya jawab tentang materi presentasi, pada akhir tanya

jawab fasilitator menyampaikan simpulan sementara.
 Sebagai penutup sesi fasilitator memberikan penajaman tentang diskusi

terakhir.

BAHAN BACAAN

A.1. Rencana Aksi Sekolah (untuk) PRB
Secara universal pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktik
mengurangi risiko bencana melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan
mengelola faktor-faktor penyebab dari bencana termasuk dengan dikuranginya
paparan terhadap ancaman, penurunan kerentanan manusia dan properti,
pengelolaan lahan dan lingkungan yang bijaksana, serta meningkatkan
kesiapsiagaanan terhadap kejadian yang merugikan (UN-ISDR, 2009)
Cakupan dalam pengurangan risiko bencana adalah (1) Mengurangi Bahaya
(tidak selalu bisa), (2) Mengurangi Kerentanan, dan (3) Meningkatkan
Kapasitas.
Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana, pengurangan risiko bencana dikenali sebagai kerangka kerja pra-
bencana yang meliputi tindakan pengurangan risiko bencana (di daerah yang
selam 5 tahun tidak terpapar bencana), kesiapsiagaan, mitigasi, dan peringatan
dini (di daerah yang rawan bencana).
Sebagai sebuah kesatuan komunitas yang memiliki warga kominitas dan
pemangku kepentingan, sekolah diharapkan menyusun suatu Rencana Aksi
Sekolah dalam pengelolaan PRB. Sebuah Rencana Aksi Sekolah atau RAS PRB
sebaiknya disusun sesegera mungkin sebagai bentuk tanggung jawab sekolah
kepada warga dan pemangku kepentingan sekolah. RAS PRB sebaiknya
ditetapkan sebagai kebijakan sekolah atau kepala sekolah. Pada saat yang
sesuai RAS PRB dapat diintegrasikan dengan Rencana Strategis Sekolah
dan Rencana Tahunan Sekolah untuk memastikan bahwa sumberdaya yang
diperlukan telah diperhitungkan dalam Rencana Anggaran Sekolah.
RAS PRB merupakan dokumen sekolah yang memuat penilaian risiko bencana
sekolah, pilihan tindakan (aksi) sekolah dalam berbagai upaya mengurangi
risiko bencana (mengurangi bahaya, meningkatkan kapasitas, mengurangi
kerentanan, rencana kedaruratan atau rencana kontinjensi [satu jenis bencana
tertentu]), prioritas, serta mekanisme pelaksanaan termasuk monitoring dan
evaluasinya.
Prinsip penyusunan RAS PRB adalah:
1. Demokrasi – bahwa semua orang memiliki hak yang sama dalam
menyampaikan gagasannya. Oleh karenanya para pemimpin sekolah harus
memastikan bahwa suara atau gagasan seluruh warga dan pemangku
kepentingan sekolah diperhatikan.
2. Partisipasi – siapa saja para pemangku kepentingan baik itu siswa maupun
lembaga pemerintahan local (desa/kelurahan dan kecamatan) dapat
secara aktif terlibat dalam proses-proses pembahasan RAS PRB. Bentuk
keterlibatan ini dapat berupa gagasan, kritik, dan atau saran baik dalam
bentuk tertulis atau secara lisan langsung dalam pembahasan. Sekolah
seharusnya menyediakan media pertemuan yang mengikutsertakan
berbagai pihak yang berkepentingan dalam proses pembahasan atau
menyediakan mekanisme lain yang mudah diakses.
3. Transparansi – Proses penyusunan RAS PRB harus dilakukan secara terbuka
mulai perencanaan, persiapan, penyusunan, dan pembahasan sehingga
mencegah terjadinya tindakan manipulative terhadap baik proses maupun
isi RAS PRB.

Rencana Aksi Sekolah Untuk Pengurangan Risiko Bencana

4. Akuntabilitas – ini berkaitan dengan penggunaan anggaran sekolah ataupun
dana dari pihak lain yang mendukung, untuk memastikan semua dana untuk
penyusunan ini dapat dipertanggungjawabkan oleh sekolah.

5. Kejelasan – penyusunan RAS PRB harus menyatakan tujuan yang jelas, yaitu
mengurangi risiko bencana di sekolah.

6. Kedayagunaan & kehasilgunaan – penyusunan RAS PRB harus diperlukan dan
bermanfaat untuk, pada akhirnya, sungguh dapat mengurangi risiko bencana
di sekolah.

84

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

TOPIK-B.Rencana Aksi Sekolah
Tujuan:
 Melakukan identifikasi pilihan tindakan sekolah dalam PRB.
 Merencanakan tahapan penyusunan RAS PRB dan menyusun sistematika

dokumen RAS PRB.
 Presentasi fasilitator/narasumber.
Metode:
 Tanya jawab.
 Tugas kelompok.
Bahan & Alat:
 Bahan tayang fasilitator/narasumber.
 LCD proyektor.
 Flipcart, papan tulis.
 Spidol besar.
 Panduan tugas kelompok.
Proses:
 Fasilitator menyampaikan tujuan sesi (dan memperkenalkan narasumber,

jika materi disampaikan oleh narasumber).
 Fasilitator/narasumber menyampaikan presentasi tidak lebih dari 20

menit
 Fasilitator mengelola tanya jawab tentang materi presentasi, pada akhir

tanya jawab fasilitator/narasumber dipersilahkan untuk menyampaikan
simpulan/pernyataan penutup.
 Fasilitator membagi peserta dalam kelompok-kelompok yang sesuai, dan
mempersilahkan peserta untuk berkumpul dalam kelompok masing-
masing.
 Fasilitator memberikan pengantar tugas kelompok yang dilaksanakan
sekitar 20 menit. Kelompok diminta berlatih (1) menyusun rencana kerja
penyusunan RAS, (2) menyusun draft . dokumen RAS. Diskusi dan hasilnya
dilaksanakan menggunakan flipcart dan kertas plano yang tersedia.
 Fasilitator mempersilakan setiap kelompok untuk mempresentasikan
hasilnya. Meminta komentar dari kelompok lain, lalu menulis kompilasi
daftar ancaman dari semua kelompok di papan tulis/flipcart.
 Fasilitator menayangkan (kembali) presentasi tentang tujuan PRB bagi
komunitas sekolah.

85

BAHAN BACAAN

Informasi umum tindakan/upaya PRB berikut ini, menjadi pertimbangan bagaimana
sekolah sebagai elemen berisiko bencana, maupun satuan komunitas yang dapat
dapat mengambil peran memberdayakan dan memfasilitasi warga sekolah dalam
upaya PRB.
B.1. Pengurangan Risiko Bencana Banjir
Upaya mitigasi bencana banjir secara umum dapat dibagi menjadi dua kegiatan
yaitu upaya mitigasi non struktural dan struktural.
1. Upaya Mitigasi Non Struktural

 Rencana Aksi SekolahRencana Aksi SekolahPembentukan “Kelompok
Kerja” (POKJA) yang beranggotakan dinas?instansi terkait (diketuai Dinas
Pengairan/Sumber Daya Air) di tingkat kabupaten/kota sebagai bagian
dari Satuan Pelaksana (SATLAK) untuk melaksanakan dan menetapkan
pembagian peran dan kerja atas upaya?upaya nonfisik penanggulangan
mitigasi bencana banjir diantara anggota POKJA, diantaranya inspeksi,
pengamatan dan penelusuran atas prasarana & sarana pengendalian banjir
yang ada dan langkah yang akan diuraikan pada uraian selanjutnya.

 Merekomendasikan upaya perbaikan atas prasarana dan sarana
pengendalian banjir sehingga dapat berfungsi sebagaimana
direncanakan.

 Memonitor dan mengevaluasi data curah hujan, banjir, daerah genangan
dan informasi lain yang diperlukan untuk meramalkan kejadian banjir,
daerah yang diidentifikasi terkena banjir serta daerah yang rawan banjir.

 Menyiapkan peta daerah rawan banjir dilengkapi dengan “plotting” rute
pengungsian, lokasi pengungsian sementara, lokasi POSKO, dan lokasi
pos pengamat debit banjir/ketinggian muka air banjir di sungai penyebab
banjir.

 Mengecek dan menguji sarana sistim peringatan dini yang ada dan
mengambil langkah?langkah untuk memeliharanya dan membentuknya
jika belum tersedia dengan sarana yang paling sederhana sekalipun.
Melaksanakan perencanaan logistik dan penyediaan dana, peralatan
dan material yang diperlukan untuk kegiatan/upaya tanggap darurat,
diantaranya dana persediaan tanggap darurat;persediaan bahan pangan
dan air minum; peralatan penanggulangan (misalnya: movable pump, dump
truck, dan lain-lain); material penanggulangan (misalnya kantong pasir,
terucuk kayu/bambu, dan lain-lain); dan peralatan penyelamatan (seperti
perahu karet, pelampung, dan lain-lain).

 Perencanaan dan penyiapan SOP (Standard Operation Procedure)/Prosedur
Operasi Standar untuk kegiatan/tahap tanggap darurat yang melibatkan
semua elemen yang terlibat dalam penangulangan bencana diantaranya
identifikasi daerah rawan banjir, identifikasi rute evakuasi, penyediaan
peralatan evakuasi (alat transportasi, perahu, dan lain-lain), identifikasi
dan penyiapan tempat pengungsian sementara seperti peralatan sanitasi
mobile, penyediaan air minum, bahan pangan, peralatan dapur umum,
obat-obatan dan tenda darurat.

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

 Pelaksanaan Sistem Informasi Banjir, dengan diseminasi langsung kepada
masyarakat dan penerbitan press release/penjelasan kepada press dan
penyebar luasan informasi tentang banjir melalui media masa cetak
maupun elektronik yaitu station TV dan station radio.

 Melaksanakan pelatihan evakuasi untuk mengecek kesiapan masyarakat,
SATLAK dan peralatan evakuasi, dan kesiapan tempat pengungsian
sementara beserta perlengkapannya.

 Mengadakan rapat?rapat koordinasi lintas sektor untuk menentukan
beberapa tingkat dari risiko bencana banjir berikut konsekuensinya
dan pembagian peran diantara instansi yang terkait, serta pengenalan/
diseminasi kepada seluruh Dinas/instansi dan POSKO atas SOP dalam
kondisi darurat dan untuk menyepakati format dan prosedur arus informasi/
laporan.

 Membentuk jaringan lintas instansi/sektor dan LSM yang bergerak dibidang
kepedulian terhadap bencana serta dengan media masa baik cetak maupun
elektronik (stasion TV dan radio) untuk mengadakan kampanye peduli
bencana kepada masyarakat termasuk penyaluran informasi tentang
bencana banjir.

 Melaksanakan pendidikan masyarakat atas pemetaa ancaman banjir dan
risiko yang terkait serta penggunaan material bangunan yang tahan air/
banjir.

2. Upaya Mitigasi Struktural
 Pembangunan tembok penahan dan tanggul disepanjang sungai,tembok
laut sepanjang pantai yang rawan badai atau tsunami akan sangat
membantu untuk mengurangi bencana banjir pada tingkat debit banjir
yang direncanakan.
 Pengaturan kecepatan aliran dan debit air permukaan dari daerah hulu
sangat membantu mengurangi terjadinya bencana banjir.
 Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mengatur kecepatan air
dan debit aliran air masuk kedalam sistem pengaliran diantaranya adalah
denganreboisasidanpembangunansystemperesapansertapembangunan
bendungan/waduk.
 Pengerukan sungai, pembuatan sudetan sungai baik secara saluran
terbuka maupun tertutup atau terowongan dapat membantu mengurangi
terjadinya banjir.

PERSIAPAN DALAM PENCEGAHAN KEMUNGKINAN BANJIR
Untuk menghindari risiko banjir, sebaiknya membuat bangunan di daerah yang aman
seperti di dataran yang tinggi dan melakukan tindakan-tindakan pencegahan.

Untuk daerah-daerah yang berisiko banjir, sebaiknya:
1. Mengerti akan ancaman banjir, termasuk banjir yang pernah terjadi dan

mengetahui letak daerah, apakah cukup tinggi untuk terhindar dari banjir.
2. Melakukan persiapan untuk mengungsi dan.
3. Melakukan latihan pengungsian. Mengetahui jalur evakuasi, jalan yang

87

Rencana Aksi Sekolah Untuk Pengurangan Risiko Bencana

tergenang air dan yang masih bisa dilewati. Setiap orang harus mengetahui
tempat evakuasi, kemana harus pergi apabila terjadi banjir.
4. Mengembangkan program penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran
akan ancaman banjir dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk
memperhitungkan ancaman banjir dalam perkembangan masa depan.
5. Memasang tanda ancaman pada jembatan yang rendah agar tidak dilalui
orang pada saat banjir. Adakan perbaikan apabila diperlukan.
6. Mengatur aliran air ke luar daerah pada daerah pemukiman yang berisiko
banjir.
7. Menjaga agar sistem pembuangan limbah dan air kotor tetap bekerja pada
saat terjadi banjir.
8. Memasang tanda ketinggian air pada saluran air, kanal, kali atau sungai,
yang dapat menjadi petunjuk bila akan terjadi banjir, atau petunjuk dalam
genangan air.

Tindakan di rumah-rumah
1. Simpan surat-surat penting di dalam tempat yang kedap air.
2. Naikkan panel-panel dan alat-alat listrik ke tempat yang lebih tinggi,

sekurang-kurangnya 30cm di atas garis ketinggian banjir maksimum.
3. Pada saat banjir, tutup kran saluran air utama yang mengalir ke dalam

rumah.

Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko banjir
1. Buat sumur resapan bila memungkinkan.
2. Tanam lebih banyak pohon besar.
3. Membentuk Kelompok Masyarakat Pengendali Banjir.
4. Membangun/menetapkan lokasi dan jalur evakuasi bila terjadi banjir.
5. Membangun sistem peringatan dini banjir.
6. Menjaga kebersihan saluran air dan limbah.
7. Memindahkan tempat hunian ke daerah bebas banjir.
8. Mendukung upaya pembuatan kanal/saluran dan bangunan pengendali

banjir dan lokasi evakuasi.
9. Bekerjasama dengan masyarakat di luar daerah banjir untuk menjaga

daerah resapan air.

TINDAKAN SAAT TERJADI BANJIR
1. Segera menyelamatkan diri ke tempat yang aman.
2. Jika memungkinkan ajaklah anggota keluarga/kerabat atau orang di sekitar
anda untuk menyelamatkan diri.
3. Selamatkan barang-barang berharga sehingga tidak rusak atau hilang
terbawa banjir.
4. Pantau kondisi ketinggian air setiap saat sehingga bisa menjadi dasar untuk
tindakan selanjutnya.

88

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

TINDAKAN SETELAH TERJADI BANJIR
Mencegah tersebarnya penyakit di daerah banjir
1. Air untuk minum dan memasak. Di saat dan sesudah terjadinya banjir,

penting untuk memperhatikan kebersihan air yang digunakan masyarakat
dalam kehidupan sehari-hari.
2. Gunakan air bersih untuk mencuci piring, mencuci, dsb.
3. Jangan menggunakan air yang telah tercemar.
4. Rebus atau proses air sebelum digunakan. Merebus air bisa membunuh
bakteri dan parasit. Rebus dan biarkan air mendidih sekurang-kurangnya
selama 7 menit. Hanya minum air yang sudah direbus, bukan air mentah
5. Gosok gigi dan buat es dari air bersih yang sudah direbus.
6. Air juga bisa diolah dengan chlorine atau yodium, atau dengan mencampur
6 tetes chlorine pemutih pakaian tanpa pewangi (5.25% sodium
hypochlorite) dalam 4 liter air. Campur dengan baik dan biarkan, kalau
bisa di bawah sinar matahari, selama 30 menit. Cara ini cukup baik untuk
mengolah air tapi tidak bisa membunuh semua kuman atau parasit.

Hal-hal penting tentang sanitasi dan kebersihan
1. Air banjir bisa mengandung kotoran dari limbah air kotor dan limbah

industri.
2. Walaupun kontak dengan kulit tidak membahayakan, namun

mengkonsumsi makanan atau minuman yang tercemar air banjir, bisa
berisiko bagi kesehatan masyarakat.
3. Pada saat bencana, sangat penting untuk menerapkan langkah-langkah
dasar kebersihan ini. Selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun
dan air bersih:
4. Sebelum memasak atau makan.
5. Setelah buang air.
6. Setelah melakukan pembersihan.
7. Setelah menangani apa saja yang telah tercemar air banjir.
8. Jangan biarkan anak-anak bermain di air banjir. Seringlah mencuci tangan
mereka, terutama sebelum makan.

Pembersihan di rumah setelah banjir
1. Setelah menentukan suatu daerah aman dari banjir, semua permukaan

harus dibersihkan dan diberi obat pembasmi kuman untuk mencegah
tumbuhnya jamur dan lumut. Jika memungkinkan, pakai sepatu karet dan
sarung tangan selama melakukan proses pembersihan ini.
2. Dinding, lantai dan permukaan lain harus dibersihkan dengan air sabun
dan diberi obat pembasmi kuman dengan campuran 1 cangkir cairan
pemutih per 20 liter air.
3. Perhatian khusus diberikan pada tempat-tempat bermain anak-anak dan
tempat-tempat makanan seperti dapur, meja makan, lemari makanan,
kulkas, dll.

89

Rencana Aksi Sekolah Untuk Pengurangan Risiko Bencana

4. Untuk barang-barang yang sulit dibersihkan, seperti kasur, kursi-kursi
dengan jok, dll, keringkan di luar rumah di bawah panas matahari dan
kemudian diberi obat pembasmi kuman. Barang-barang yang tidak bisa
dibersihkan sebaiknya dibuang saja

5. Perlu diingat bahwa bibit-bibit penyakit seperti bakteri dan jamur masih
bias tumbuh dan berkembang lama setelah tindakan pembersihan ini
selesai. Oleh sebab itu disarankan pada masyarakat yang daerahnya telah
dilanda banjir untuk mengadakan tindakan pembersihan ini berulang
kali.

Beberapa tindakan untuk menjaga kebersihan
1. Buatlah pagar untuk mengelilingi tempat air bersih supaya binatang tidak

masuk.
2. Bakarlah sampah yang dapat dibakar. Sampah yang tidak dapat dibakar

sebaiknya ditanam dalam lubang khusus. Minimal jarak lubang sampah
dari pemukiman 20 meter dan 500 meter dari sumber air bersih.
3. Buanglah barang-barang yang sudah kotor terkena air banjir.
4. Jangan buang air besar maupun air kecil di dekat tempat air bersih ataupun
rumah pemukiman.
5. Selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air bersih :
 Sebelum memasak atau makan.
 Setelah buang air.
 Setelah melakukan pembersihan.
 Setelah memegang apa saja yang telah tercemar air banjir.

B.2 Pengurangan Risiko Longsor
1. Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan permukiman dan
fasilitas utama lainnya.
2. Mengurangi tingkat keterjalan lereng.
3. Meningkatkan/memperbaiki dan memelihara drainase baik air permukaan
maupun air tanah (fungsi drainase adalah untuk menjauhkan air dari lereng,
menghindari air meresap ke dalam lereng atau menguras air dalam lereng
ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat
atau meresapkan air ke dalam tanah).
4. Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling.
5. Terasering dengan system drainase yang tepat (drainase pada teras?teras
dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapnya air ke dalam tanah).
6. Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak
tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih
dari 40 derajat atau sekitar 80 % sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat
serta diselingi dengan tanaman – tanaman yang lebih pendek dan ringan,
di bagian dasar ditanam rumput).
7. Sebaiknya dipilih tanaman lokal yang digemari masyarakat, dan
tanaman tersebut harus secara teratur dipangkas ranting?rantingnya/
cabangcabangnya atau dipanen.

90

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

8. Khusus untuk aliran butir dapat diarahkan dengan pembuatan saluran.
9. Khusus untuk runtuhan batu dapat dibuatkan tanggul penahan baik

berupa bangunan konstruksi, tanaman maupun parit.
10. Pengenalan daerah yang rawan longsor.
11. Identifikasi daerah yang aktif bergerak, dapat dikenali dengan adanya

rekahan rekahan berbentuk ladam (tapal kuda).
12. Hindarkan pembangunan di daerah yang rawan longsor.
13. Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat.
14. Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan.
15. Stabilisasi lereng dengan pembuatan terase dan penghijauan.
16. Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan.
17. Penutupan rekahan rekahan diatas lereng untuk mencegah air masuk

secara cepat kedalam tanah.
18. Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya

liquifaction.
19. Pondasi yang menyatu, untuk menghindari penurunan yang tidak seragam

(differential settlement).
20. Utilitas yang ada didalam tanah harus bersifat fleksibel.
21. Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan.
22. Melakukan deteksi dini.
23. Membuat Peta Ancaman.

Tindakan Kesiapsiagaan
1. Tidak menebang atau merusak hutan.
2. Melakukan penanaman tumbuh-tumbuhan berakar kuat, seperti nimba,

bambu, akar wangi, lamtoro, dsb, pada lereng-lereng yang gundul
3. Membuat saluran air hujan.
4. Membangun dinding penahan di lereng-lereng yang terjal.
5. Memeriksa keadaan tanah secara berkala.
6. Mengukur tingkat kederasan hujan.

B.3 Pengurangan Risiko Kebakaran

1. Kampanye dan sosialisasi kebijakan pengendalian kebakaran lahan dan
hutan.

2. Peningkatan masyarakat peduli api (MPA).
3. Peningkatan penegakan hukum.
4. Pembentukan pasukan pemadaman kebakaran khususnya untuk

penanggulangan kebakaran secara dini.
5. Pembuatan waduk (embung) di daerahnya untuk pemadaman api.
6. Pembuatan sekat bakar, terutama antara lahan, perkebunan, pertanian

dengan hutan.
7. Hindarkan pembukaan lahan dengan cara pembakaran.

91

Rencana Aksi Sekolah Untuk Pengurangan Risiko Bencana

8. Hindarkan penanaman tanaman sejenis untuk daerah yang luas.
9. Melakukan pengawasan pembakaran lahan untuk pembukaan lahan

secara ketat.
10. Melakukan penanaman kembali daerah yang telah terbakar dengan

tanaman yang heterogen.
11. Partisipasi aktif dalam pemadaman awal kebakaran di daerahnya.
12. Pengembangan teknologi pembukaan lahan tanpa membakar (pembuatan

kompos, briket arang dll).
13. Kesatuan persepsi dalam pengendalian kebakaran lahan dan hutan.
14. Penyediaan dana tanggap darurat untuk penanggulangan kebakaran

lahan dan hutan disetiap unit kerja terkait.
15. Pengelolaan bahan bakar secara intensif untuk menghindari kebakaran

yang lebih luas.

B.4 Pengurangan Risiko Gempa Bumi

1. Bangunan harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran/gempa.
2. Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan.
3. Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi.
4. Perkuatan bangunan bangunan vital yang telah ada.
5. Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat

kepadatan hunian di daerah rawan bencana.
6. Asuransi.
7. Zonasi daerah rawan bencana dan pengaturan penggunaan lahan.
8. Pendidikan kepada masyarakat tentang gempabumi.
9. Membangun rumah dengan konstruksi yang aman terhadap gempabumi.
10. Masyarakat waspada terhadap risiko gempa bumi.
11. Masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa

bumi.
12. Masyarakat mengetahui tentang pengamanan dalam penyimpanan

barang barang yang berbahaya bila terjadi gempabumi.
13. Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan dan
14. kewaspadaan masyarakat terhadap gempa bumi.
15. Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan

pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama.
16. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan

perlindungan masyarakat lainnya.
17. Rencana kontingensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam

menghadapi gempa bumi.

Tindakan saat terjadi gempa bumi
1. Bila anda berada dalam bangunan, cari tempat perlindungan, misalnya di

bawah meja yang kuat. Hindari jendela dan bagian rumah yang terbuat

92

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

dari kaca. Gunakan bangku, meja, atau perlengkapan rumah tangga yang
kuat sebagai perlindungan.
2. Tetap di sana dan bersiap untuk pindah. Tunggu sampai goncangan
berhenti dan aman untuk bergerak.
3. Menjauhlah dari jendela kaca, perapian, kompor, atau peralatan rumah
tangga yang mungkin akan jatuh. Tetap di dalam untuk menghindari
terkena pecahan kaca atau bagian-bagian bangunan.
4. Jika malam hari dan anda di tempat tidur, jangan lari keluar. Cari tempat
yang aman di bawah tempat tidur atau meja yang kuat dan tunggu gempa
berhenti.
5. Jika gempa sudah berhenti, periksa anggota keluarga dan carilah tempat
yang aman. Ada baiknya kita mempunyai lampu senter di dekat tempat
tidur.
6. Saat gempa malam hari, alat murah ini sangat berguna untuk menerangi
jalan mencari tempat aman, terutama bila listrik menjadi padam akibat
gempa.
7. Lilin dan lampu gas sangat berbahaya, dan sebaiknya tidak digunakan.
8. Jika anda berada di tengah keramaian, cari perlindungan. Tetap tenang
dan mintalah yang lain untuk tenang juga. Jika sudah aman, berpindahlah
ke tempat yang terbuka, jauh dari pepohonan besar atau bangunan, dan
waspada akan kemungkinan gempa susulan.
9. Jika anda di luar, cari tempat terbuka, jauh dari bangunan, pohon tinggi
dan jaringan listrik. Hindari rekahan akibat gempa yang dapat sangat
berbahaya.
10. Jika anda mengemudi, berhentilah jika aman, tapi tetap dalam mobil.
Menjauhlah dari jembatan, jembatan layang, atau terowongan.
11. Pindahkan mobil jauh dari lalu lintas. Jangan berhenti dekat pohon tinggi,
lampu lalu lintas, atau tiang listrik.
12. Jika anda di pegunungan, dekat dengan lereng atau jurang yang rapuh,
waspadalah dengan batu atau tanah longsor yang runtuh akibat gempa.
13. Jika anda di pantai, segeralah berpindah ke daerah yang agak tinggi atau
beberapa ratus meter dari pantai. Gempa bumi dapat menyebabkan
tsunami selang beberapa menit atau jam setelah gempa dan menyebabkan
kerusakan yang hebat.

Tindakan setelah gempa bumi berlangsung
1. Periksa adanya luka. Setelah menolong diri, bantu menolong mereka yang

terluka atau terjebak.
2. Hubungipetugasyangmenanganibencana,kemudianberikanpertolongan

pertama jika memungkinkan. Jangan coba memindahkan mereka yang
luka serius yang justru menyebabkan luka semakin parah.
3. Periksa keamanan.
4. Periksa hal-hal berikut setelah gempa :

93

Rencana Aksi Sekolah Untuk Pengurangan Risiko Bencana

 Api atau ancaman kebakaran.
 Kebocoran gas.Tutup saluran gas jika kebocoran diduga dari adanyabau.

Jangan dibuka sebelum diperbaiki oleh tenaga ahlinya.
 Kerusakan saluran listrik, matikan meteran listrik.
 Kerusakan kabel listrik, menjauhlah dari kabel listrik sekalipun

meterantelah dimatikan.
 Barang-barang yang jatuh di kloset dan lemari (saat anda

membukanya).
 Periksa pesawat telepon. Pastikan telepon pada tempatnya.
 Lindungi diri anda dari ancaman tidak langsung dengan memakai

celana panjang, baju lengan panjang, sepatu yang kuat, dan jika
mungkin juga sarung tangan. Ini akan melindungi anda dari luka akibat
barang-barangyang pecah.
5. Bantu tetangga yang memerlukan bantuan. Orang tua, anak-anak, ibuhamil,
ibu menyusui dan orang cacat mungkin perlu bantuan tambahan.
6. Mereka yang jumlah anggota keluarganya besar juga memerlukan bantuan
pada keadaan darurat.
7. Pembersihan. Singkirkan barang-barang yang mungkin berbahaya,
termasuk pecahan gelas, kaca, dan obat-obatan yang tumpah.
8. Waspada dengan gempa susulan. Sebagian besar gempa susulan lebih
lemah dari gempa utama. Namun, beberapa dapat cukup kuat untuk
merobohkan bangunan yang sudah goyah akibat gempa pertama.Tetaplah
berada jauh dari bangunan. Kembali ke rumah hanya bila pihak berwenang
sudah mengumumkan keadaan aman :
9. Gunakan lampu senter. Jangan gunakan korek api, lilin, kompor gas, atau
obor.
10. Gunakan telepon rumah hanya dalam keadaan darurat yang mengancam
jiwa.
11. Nyalakan radio untuk informasi, laporan kerusakan, atau keperluan relawan
di daerah anda.
12. Biarkan jalan bebas rintangan untuk mobil darurat.

Tindakan kesiapsiagaan
Merencanakan kesiapsiagaan terhadap bencana tidak hanya meliputi
perencanaan fisik bangunan. Setiap orang dalam rumah sebaiknya tahu apa
yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi bila situasi darurat terjadi.

Prinsip rencana siaga untuk rumah tangga
1. Sederhana - rencana darurat rumah tangga mestinya cukup sederhana

sehingga mudah diingat oleh seluruh anggota keluarga. Bencana adalah
situasi yang sangat mencekam sehingga mudah terjadi kebingungan.
Rencana darurat yang baik hanya berisi beberapa rincian saja.
2. Tentukan jalan melarikan diri - pastikan anda dan keluarga tahu jalan
yang paling aman untuk meninggalkan rumah setelah gempa. Jika anda

94

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

berencana meninggalkan daerah atau desa anda, rencanakan beberapa
jalan, dengan memperhitungkan beberapa jalan putus atau tertutup
akibat gempa.
3. Tentukan tempat bertemu - dalam keadaan anggota keluarga terpencar,
misalnya ibu di rumah, ayah sedang di tempat kerja, sementara anak-anak
sedang di sekolah saat gempa terjadi, tentukan tempat bertemu.
4. Tentukan dua tempat bertemu - yang pertama semestinya lokasi yang aman
dan dekat rumah. Tempat ini biasanya menjadi tempat anggota keluarga
bertemu pada keadaan darurat. Tempat kedua, dapat berupa bangunan
atau taman di luar desa, digunakan dalam keadaan anggota keluarga tidak
bisa kembali ke rumah. Setiap orang mestinya tahu tempat tersebut.
Prinsip rencana siaga untuk sekolah
Sama dengan prinsip rencana siaga di rumah tangga. Gedung sekolah perlu
diperiksa ketahanannya terhadap gempa bumi. Anak-anak sekolah perlu
sering dilatih untuk melakukan tindakan penyelamatan diri bila terjadi gempa,
misalnya sekurang-kurangnya 2 kali dalam setahun.
Menyiapkan rumah tahan gempa
1. Minta bantuan ahli bangunan. Tanyakan tentang perbaikan dan penguatan
rumah seperti serambi, pintu kaca geser, garasi, dan pintu garasi. Setidaknya
ada bagian rumah yang tahan gempa sebagai titik / ruang berlindung.
2. Periksa apakah rumah anda kokoh pada fondasinya.
3. Jika mempunyai saluran air panas dan gas, pastikan tertanam dengan
kuat.
4. Gunakan sambungan pipa yang lentur.
5. Letakkan barang yang besar dan berat di bagian bawah rak dan pastikan
rak tertempel mati pada tembok.
6. Simpan barang pecah belah di bagian bawah rak/lemari yang berlaci dan
dapat dikunci.
7. Gantungkan benda berat seperti gambar, lukisan, dan cermin jauh dari
tempat tidur, sofa, atau kursi dimana orang duduk.
8. Segera perbaiki kabel-kabel yang rusak dan sambungan gas yang bocor.
9. Perbaiki keretakan-keretakan pada atap dan fondasi rumah, dan pastikan
hal itu bukan karena kerusakan struktur.
10. Instalasi pipa air dan gas yang lentur untuk menghindari kebocoran air dan
gas.
11. Simpan racun serangga atau bahan yang berbahaya dan mudah terbakar
di tempat aman, terkunci serta jauh dari jangkauan anak-anak.
12. Hiasan gantung, lampu diikat kuat, agar tidak jatuh pada saat terjadi
gempa.
13. Bila memungkinkan sediakan kasur gulung di dekat tempat-tempat
tertentu sebagai alat pengaman (dari kejatuhan).

95

Rencana Aksi Sekolah Untuk Pengurangan Risiko Bencana

B.5 Pengurangan Risiko Tsunami.
1. Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya Tsunami.
2. Pendidikan kepada masyarakat tentang bahaya Tsunami.
3. Pembangunan Tsunami Early Warning System (TEWS).
4. Pembangunan tembok penahan Tsunami pada garis pantai yang berisiko.
5. Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai
meredam gaya air tsunami.
6. Pembangunan tempat?tempat evakuasi yang aman di sekitar daerah
pemukiman. Tempat/bangunan ini harus cukup tinggi dan mudah diakses
untuk menghidari ketinggian Tsunami.
7. Peningkatan pengetahuan masyarakat lokal tentang pengenalan tanda-
tandatsunami dan cara-cara penyelamatan diri terhadap bahaya tsunami.
8. Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya tsunami.
9. Mengenali karakteristik dan tanda?tanda bahaya tsunami di lokasi
sekitarnya.
10. Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda-tanda tsunami.
11. Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi
tsunami.
12. Memberikan laporan sesegera mungkin jika mengetahui tanda-tanda akan
terjadinya tsunami kepada petugas yang berwenang: Kepala Desa, Polisi,
stasiun radio, SATLAK PB dan institusi terkait.
13. Melengkapi diri dengan alat komunikasi.

Tindakan Kesiapsiagaan
Mengenali gejala yang mungkin terjadi :

- Biasanya diawali gempa bumi yang sangat kuat, biasanya lebih dari 6
skala richter, berlokasi dekat pantai.

- BilaAndamenyaksikanairlautdipantaisurutsecaratiba-tiba,waspadalah
karena itu tanda gelombang raksasa akan datang merupakan tanda
peringatan datangnya tsunami.

- Hembusan angin berbau air laut yang keras.
- Tsunami adalah rangkaian gelombang. Bukan gelombang pertama

yang.
- Besar dan membahayakan, tapi beberapa saat setelah gelombang

pertama.
- Akan menyusul gelombang yang jauh lebih besar.
Saat mengetahui ada gejala, segera sampaikan pada semua orang. Segera
lakukan pengungsian, karena tsunami bisa terjadi dengan cepat hingga
waktu untuk mengungsi sangat terbatas. Mengungsi ke daerah yang
tinggi dan sejauh mungkin dari pantai, mengikuti tanda evakuasi, melalui
jalur evakuasi ke tempat evakuasi. Ikuti perkembangan terjadinya bencana
melalui media atau sumber yang bisa dipercaya.

96

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

Tindakan saat tsunami berlangsung
Prinsip-prinsip cara menyelamatkan diri:
1. Kalau berada di pantai atau dekat laut, dan merasakan bumi bergetar,

langsung lari ke tempat yang tinggi dan jauh dari pantai. Naik ke lantai yang
lebih tinggi, atap rumah, atau memanjat pohon. Tidak perlu menunggu
peringatan tsunami.
2. Tsunami dapat muncul melalui sungai dekat laut, jadi jangan berada
disekitarnya.
3. Selamatkan diri anda, bukan barang anda.
4. Jangan hiraukan kerusakan di sekitar,teruslah berlari.
5. Jika terseret tsunami, carilah benda terapung yang dapat digunakansebagai
rakit.
6. Saling tolong-menolong, ajaklah tetangga tinggal di rumah anda, bila
rumah anda selamat! Utamakan anak-anak, wanita hamil, orang jompo,
dan orang cacat.
7. Selamatkan diri melalui jalur evakuasi tsunami ke tempat evakuasi yang
sudah disepakati bersama.
Mengurangi dampak dari tsunami
1. Hindari bertempat tinggal di daerah tepi pantai yang landai lebih dari 10
meter dari permukaan laut. Berdasarkan penelitian daerah ini merupakan
daerah yang mengalami kerusakan terparah akibat bencana tsunami, badai
dan angin ribut.
2. Disarankan untuk menanam tanaman yang mampu menahan gelombang
seperti bakau, palem, ketapang, waru, beringin atau jenis lainnya.
3. Ikuti tata guna lahan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat.
4. Buat bangunan bertingkat dengan ruang aman di bagian atas.
5. Bagian dinding yang lebar usahakan tidak sejajar dengan garis pantai.

Tindakan setelah tsunami berlalu
1. Hindari instalasi listrik bertegangan tinggi dan laporkan jika menemukan

kerusakan kepada PLN.
2. Hindari memasuki wilayah kerusakan kecuali setelah dinyatakan aman
3. Jauhi reruntuhan bangunan.
4. Laporkan diri ke lembaga pemerintah, lembaga adat, atau lembaga

keagamaan!
5. Upayakan penampungan sendiri kalau memungkinkan. Ajaklah sesama

warga untuk melakukan kegiatan yang positif. Misalnya mengubur jenazah,
mengumpulkan benda-benda yang dapat digunakan kembali, sembahyang
bersama, dan lain sebagainya. Tindakan ini akan dapat menolong kita
untuk segera bangkit, dan membangun kembali kehidupan.
6. Bila diperlukan, carilah bantuan dan bekerjasama dengan sesama warga
lainnya serta lembaga pemerintah, adat, keagamaan, atau lembaga
swadaya masyarakat.

97

Rencana Aksi Sekolah Untuk Pengurangan Risiko Bencana

7. Ceritakan tentang bencana ini kepada keluarga, anak, dan teman anda
untuk memberikan pengetahuan yang jelas dan tepat. Ceritakan juga
apa yang harus dilakukan bila ada tandatanda tsunami akan datang.

-".1*3"/ *OTUSVNFO &WBMVBTJ 1FMBUJIBO

&7"-6"4* 1&-"5*)"/

6OJU
5FNQBU EBO 8BLUV 1FMBUJIBO

No Aspek Hasil*)
FASILITATOR 12345

1FOHVBTBBO NBUFSJ

,FKFMBTBO NBUFSJ ZBOH QFOZBNQBJBO

7BSJBTJ NFUPEF QFOZBNQBJBO
,FCFSNBOGBBUBO NBUFSJ ZBOH EJTBNQBJLBO

,FUFQBUBO XBLUV
KEPANITIAAN

,FNVEBIBO EBMBN NFOEBQBULBO CBIBO EPLVNFO
QFMBUJIBO

"LPNPEBTJ

,POTVNTJ

Catatan (Komentar, Saran, Kritik, dan lain-lain)
..........................................................................................
..........................................................................................
..........................................................................................
..........................................................................................
..........................................................................................
Keterangan:

98

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

*) Beri tanda centang (V)
Aspek yang diukur disesuaikan dengan layanan yang disediakan:
1 = Tidak memuaskan
2 = Kurang memuaskan
3 = Cukup memuaskan
4 = Memuaskan
5 = Sangat memuaskan

99

Daftar Istilah

DAFTAR ISTILAH

Pengurangan Risiko Bencana
Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktik mengurangi risiko bencana
melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengelola faktor-faktor penyebab
dari bencana termasuk dengan dikuranginya paparan terhadap ancaman,
penurunan kerentanan manusia dan properti, pengelolaan lahan dan lingkungan
yang bijaksana, serta meningkatkan kesiapsiagaanan terhadap kejadian yang
merugikan.

Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat dan Negara

PRB
Proses dimana pertimbangan-pertimbangan pengurangan risiko bencana
dikedepankan oleh organisasi/individu yang terlibat di dalam pengambilan
keputusan dalam pembangunan ekonomi, fisik, politik, sosial-budaya suatu negara
pada level nasional, wilayah daerah dan/atau lokal; serta proses-proses dimana
pengurangan risiko bencana dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan
tersebut

Pendidikan Siaga Bencana
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kecakapan hidup dalam mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian
dan langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

Komite Sekolah
Organisasi mandiri yang dibentuk dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan,
dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Ia menjadi ruang
bagi orangtua, masyarakat, dan pihak sekolah menyampaikan aspirasi dan
merumuskan kebijakan bagi peningkatan pendidikan di sekolah. Ia merupakan
badan independen yang tidak memiliki hubungan hirarkis dengan Kepala Sekolah.
Ia menjadi mitra kepala sekolah dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam
memajukan sekolah.

KTSP
Kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan
pendidikan. Sekolah dan kepala sekolah mengembangkan KTSP dan silabus
berdasarkan a). Kerangka dasar kurikulum, b). Standar kompetensi, dibawah
supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi.

Kurikulum
Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

100

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

Ekstra kurikuler
Ekstrakulikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan
konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan
kebutuhan, potensi, bakat dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus
diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan
dan berkewenangan di sekolah/madrasah.
Standar Kompetensi
Standar Kompetensi adalah ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai
peserta didik setelah mengikuti suatu proses pembelajaran pada satuan pendidikan
tertentu.
Kompetensi
Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten
sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki
peserta didik.
Standar Nasional Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan
di seluruh wilayah hukum NKRI. Lingkup standar nasional pendidikan meliputi: a.
standar isi, b. standar proses, c. standar kompetensi lulusan, d. standar pendidik dan
tenaga kependidikan, e. standar sarana dan prasarana, f. standar pengelolaan, g.
standar pembiayaan, h. standar penilaian pendidikan.
Sumber/bahan belajar
Sumber/bahan belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk
kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik,
nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Standar isi
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan
dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi
mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik
pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar proses
Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan
pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar
kompetensi lulusan.
Standar kompetensi
Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Standar pendidik dan tenaga kependidikan
Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan
dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
Standar sarana dan prasarana
Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan

101

Daftar Istilah

dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat
beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat
berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi.
Standar pengelolaan
Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat
satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi
dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
Standar pembiayaan
Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya
operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun; dan
Standar penilaian pendidikan
Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan
dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
Bencana
Bencana adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam atau ulah manusia, yang
dapat terjadi secara tibatiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya
jiwa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan, di mana masyarakat
setempat dengan segala kemampuan dan sumberdayanya tidak mampu untuk
menanggulanginya.
Bahaya
Bahaya adalah situasi, kondisi, atau karakteristik biologis, geografis, sosial, ekonomi,
politik, budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka
waktu tertentu yang berpotensi menimbulkan korban dan kerusakan.
Kerentanan
Kerentanan adalah tingkat kekurangan kemampuan suatu masyarakat untuk
mencegah, menjinakkan, mencapai kesiapan, dan menanggapi dampak bahaya
tertentu. Kerentanan dapat berupa kerentanan fisik, ekonomi, sosial dan tabiat,
yang dapat ditimbulkan oleh beragam penyebab.
Kemampuan
Kemampuan adalah penguasaan sumberdaya, cara, dan kekuatan yang dimiliki
masyarakat, yang memungkinkan mereka untuk, mempersiapkan diri, mencegah,
menjinakkan, menanggulangi, mempertahankan diri serta dengan cepat
memulihkan diri dari akibat bencana.
Risiko
Risiko adalah kemungkinan timbulnya kerugian pada suatu wilayah dan kurun
waktu tertentu yang timbul karena suatu bahaya menjadi bencana. Risiko dapat
berupa kematian, luka, sakit, hilang, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi,
kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.

102

Modul Pelatihan Integrasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam Sistem Pendidikan

Pencegahan
Pencegahan adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana
dan jika mungkin dengan meniadakan bahaya.
Mitigasi
Mitigasi adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana, baik
secara fisik struktural melalui pembuatan bangunan-bangunan fisik, maupun non
fisik-struktural melalui perundang-undangan dan pelatihan.
Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan adalah upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana, melalui
pengorganisasian langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Peringatan Dini
Peringatan Dini adalah upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana
kemungkinan akan segera terjadi, yang menjangkau masyarakat, segera, tegas
tidak membingungkan, resmi.
Tanggap Darurat
Tanggap Darurat adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana,
untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan
korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.
Bantuan Darurat
Bantuan Darurat merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan
pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara,
perlindungan, kesehatan, sanitasi dan air bersih
Pemulihan
Pemulihan adalah proses pengembalian kondisi masyarakat yang terkena bencana,
dengan memfungsikan kembali sarana dan prasarana pada keadaan semula dengan
melakukan upaya memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air
bersih, pasar, puskesmas, dll).
Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya langkah yang dilakukan setelah kejadian bencana untuk
membantu masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial
penting, dan menghidupkan kembali roda perekonomian.
Rekonstruksi
Rekonstruksi adalah program jangka menengah dan jangka panjang guna
perbaikan fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat
pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.
Penanggulangan Bencana
adalah seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan
bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana, mencakup tanggap
darurat, pemulihan, pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan.

103

Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

Bappenas. 2006. Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Bencana 2006-2009.
Jakarta: Kerjasama Bappenas dengan Bakornas Penanggulangan Bencana.

Depdiknas. 2006. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Jenjang
Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.

IDEP. 2005. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat. Bali:
Yayasan IDEP.

Undang-UndangRepublikIndonesiaNomor24Tahun2007tentangPenanggulangan
Bencana

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005
tentang “Standar Nasional Pendidikan”. Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Permendiknas No. 22 tentang Standar Isi.
Depdiknas. Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Panduan KTSP dari BSNP. Jakarta

Daliyo, Suko Bandiyono, Zainal Fatoni, dan Brillian Nugraha. 2008. “Kesiapsiagaan
Masyarakat dalam Mengantisipasi Bencana Alam di Kabupaten Sikka”. LIPI, Jakarta.

Hidayati, Deni dkk. 2006. “Kajian Kesiapsiagaan masyarakat dalam Mengantisipasi
Bencana Gempa Bumi dan Tsunami”. LIPI & UNESCO. 579 hal. Jakarta.

Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional dan Badan Koordinasi Nasional Pengganan Bencana. 2006.
“Rencana Aksi Nasional Pengurangan Resiko Bencana 2006 – 2009.” United Nation
Development Programme. 196 hal. Jakarta.

Mulyadi, Eddy , dkk. 2006.“Mengenal Konsep Penanganan Bencana, Bahaya Geologi,
dan Mitigasi Bencana Geologi di Indonesia”. Warta Geologi, Volume I No. 4, Juli 2006.
52 hal. Jakarta.

Nugroho, Ag. Cahyo. 2007. Kajian Kesiapsiagaan Masyarakatdalam Mengantisipasi
Bencana Gempa Bumi dan Tsunami. Laporan Penelitian. MPBI-UNESCO. Jakarta.

Permana, Haryadi, dkk. 2009. “Membangun Sekolah Siaga Bencana. Program
Pendidikan Publik dan Kesiapsiagaan Masyarakat.” LIPI. 82 hal. Jakarta.

Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. 2007. Model Pembelajaran Sekolah di Daerah
Rawan Bencana. Jakarta

Pusat Kurikulum dan Save the Children. 2007. Bahan Ajar Siaga Bencana. Jakarta

UN/ISDR, Terminology on Disaster Risk Reduction, 2009

UNESCO, Natural Disaster Preparedness and Education for Sustainable Development,
Bangkok: 2007.
1 Dipromosikan oleh Konsorsium Pendidikan Bencana, 2010

104


Click to View FlipBook Version