The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-12-10 06:21:24

Melukis dengan Pensil 1

Melukis dengan Pensil 1

Keywords: melukis,dengan,pensil,1

1 dMeneglaunkPeisnsil

PEMANBDEANNDGAA&N

Ian Wongkar & Patricia Linkan



Melukis dengan Pensil

Benda &

1Pemandangan

Ian Wongkar & Patricia Linkan

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Melukis dengan Pensil 1:
Benda & Pemandangan
Oleh Ian Wongkar dan Patricia Linkan

GM 20601100003

Perwajahan isi: Ryan Pradana
Perwajahan sampul: Agus Purwanta

Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa

izin tertulis dari Penerbit.

ISBN 978-979-22-5293-4

Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002

Tentang Hak Cipta
1. Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak me­

lakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat
(1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana
penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau
denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau
pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, menge­
dar­kan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang
hasil pe­langgaran hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud
pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).

Dicetak oleh percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab Percetakan

Kata Pengantar

MENGGAMBAR merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan dan
da­pat dilakukan kapan saja. Gambar dapat bercerita le­bih banyak
da­ri­pada kata-kata. Umumnya buku menyertakan banyak gam­bar supaya in­for­
masinya menjadi lebih lengkap. Seorang anak ju­ga bisa lebih kreatif me­nyam­
paikan pendapat atau perasaan melalui gam­bar. Seorang seniman bisa meng­
eks­presikan perasaannya melalui lu­kisan. Selain itu belakangan ini film animasi
se­dang naik daun. Untuk meng­hasilkan film animasi yang bagus membutuhkan
se­se­orang de­ngan keterampilan menggambar yang tinggi. Mengingat berbagai
man­­faat menggambar tersebut, kami berharap buku ini dapat banyak membantu
dan mempermudah pelajaran menggambar di sekolah, serta pelajaran lainnya
yang membutuhkan gambar sebagai alat bantu. Buku ini diharapkan bisa men­
jem­batani para orangtua dan guru di rumah maupun di sekolah, saat mem­bantu
anak-anaknya dalam bidang seni lukis.

Kami berusaha menyampaikan teknik menggambar yang sesederhana mung­
kin dalam buku ini. Mulai dengan mengenal objek yang akan kita gambar, me­nge­
nal bentuk dasarnya, mengatur posisi dan membentuknya pada bidang gambar,
ke­mu­dian memberikan kesan timbul atau kedalaman sehingga tampak seperti
yang terlihat oleh mata. Metodenya adalah melukis dengan cara berpikir visual
yai­tu dengan cara meniru objek yang sebenarnya terlihat, dan bukan seperti
yang kita inginkan atau pikirkan.

Menggambar benda yang sering dijumpai akan lebih mudah, karena ben­tuk
benda itu seharusnya sudah sangat kita kenal. Buku ini membahas cara meng­
gambar benda dan pemandangan. Televisi bisa sangat membantu mengenal du­
nia lingkungan kita, sehingga saat mengajar dan menggambar kita juga dapat
ber­ce­rita mengenai lingkungan hidup serta manfaatnya terhadap kehidupan
ma­nusia.

Semakin banyak informasi yang kita sampaikan, terlebih pengetahuan yang
be­lum umum diketahui, anak-anak akan semakin terkesan dan lebih tertarik un­
tuk me­nye­lesaikan gambar mereka. Bentuk-bentuk bidang datar seperti segi­tiga,
per­segi, persegi panjang, poligonal, lingkaran, elips, serta bangun ruang seperti
ba­lok, kubus, limas, kerucut, bola, dan bentuk istimewa lainnya yang sering kita

iii

dengar da­ri anak-anak saat mengerjakan tugas sekolah, dapat kita manfaatkan
pada wak­tu kita mengajari mereka menggambar. Beberapa istilah simetri juga
perlu ki­ta kenal sehingga memudahkan kita berkomunikasi dengan anak.

Karena pelajaran menggambar ini mencakup bentuk datar dan bangun ruang
seperti pada pelajaran matematika, kami sengaja menyertakan beberapa is­ti­lah
yang mungkin akan terasa asing bagi beberapa orangtua. Dengan sering meng­
gu­nakan kata-kata tersebut pasti kita akan terbiasa dan mudah mengerti makna
ser­ta penggunaannya. Dengan demikian, selain anak-anak bisa belajar dan ber­
latih menggambar, orangtua juga dapat belajar dari mereka tentang banyak hal.
Di­ha­rapkan hubungan antara anak dan orangtua pun semakin akrab.

Buku ini memberikan sebanyak mungkin contoh gambar untuk latihan, di­
ser­tai tahapan yang ringkas dan sederhana dengan hasil akhir sebaik mungkin.
Mu­lai dengan membayangkan gambar yang akan dihasilkan, membangun
bentuk da­sar, dan menghasilkan sketsa awal. Menandai bagian yang akan di­
beri bayang-ba­yang. Menciptakan kesan warna terang dan gelap secara wajar
dengan gradasi yang baik.

Besar harapan kami buku ini dapat sangat membantu anak-anak, juga orang­
tua dan guru, dalam berkomunikasi dan menjalin kerja sama, sehingga meng­
hasilkan karya yang indah dan dapat kita nikmati bersama. Selain untuk se­ni
lukis itu sendiri, keterampilan menggambar juga sangat membantu anak-anak
dalam bidang desain grafis, arsitektur, biologi, dan banyak bidang lainnya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada mereka yang membantu dan men­
dorong agar buku panduan ini bisa diterbitkan dan dibaca umum. Kepada
mu­rid-murid yang rajin bertanya dan giat berlatih, begitu juga para orangtua
yang terus membantu anak-anaknya supaya terus maju. Begitu juga kepada re­
kan-rekan para pelukis serta guru gambar dan lukis yang sering berdiskusi gu­
na kemajuan seni lukis di Tanah Air. Kepada saudari Marleine Laura yang telah
memban­tu menghasilkan dan memberikan foto-foto untuk dijadikan bahan
lukisan da­lam buku ini. Kepada mereka yang telah mengizinkan foto-fotonya
kami gam­bar untuk disertakan. Juga kepada istri dan anak yang telah membantu
dengan sa­bar selama buku ini dipersiapkan.

Sementara ini kami juga sedang mempersiapkan panduan menggambar
menggu­na­kan warna. Serupa dengan buku ini, tetapi menggunakan media
krayon, cat air, dan cat minyak. Senang apabila bisa menerima berbagai tang­
gapan berupa pe­nga­laman dan saran guna meningkatkan manfaat buku pan­
duan ini dan buku pan­duan yang akan datang bagi kita semua.

Penulis

iv

Daftar Isi

Kata Pengantar............................................................................................ iii
I. Peralatan yang Digunakan ................................................................ 1
II. Unsur Gambar...................................................................................... 7
III. Latihan Dasar..................................................................................... 13
IV. Menggambar dengan Bantuan Kisi-Kisi.......................................... 21
V. Membuat Sketsa................................................................................ 27
VI. Bayang-Bayang.................................................................................. 37
VII. Contoh Latihan................................................................................... 45
Daftar Pustaka............................................................................................ 81
Tentang Penulis.......................................................................................... 82



I. Peralatan yang
Digunakan

BELAJAR menggambar hanya memerlukan peralatan yang se­der­
ha­na dan relatif murah. Pada tahap awal, mulailah dengan buku
gam­bar biasa dengan beberapa batang pensil dan karet penghapus.
Apa­bila nanti sudah cukup mahir, maka kita bisa membeli atau meng­
gu­na­kan perlengkapan yang mahal seperti para seniman.

Dalam hal mempersiapkan peralatan, kita perlu mempertim­
bangkan ke­mam­puan dan perencanaan. Mungkin benar apa yang
dikatakan bah­wa harga yang dibayar sesuai dengan mutu yang
didapat, tetapi ja­ngan sampai nilainya melebihi yang diharapkan
dari hobi ini. Sekotak per­leng­kapan gambar memang akan tampak
menarik, harganya re­la­tif murah dibandingkan membeli satuan.
Tetapi mungkin dalam ko­tak tersebut terdapat banyak peralatan
yang tidak dibutuhkan sama se­kali oleh pemula.

l Pensil merupakan alat yang umum digunakan dengan harga
re­la­tif murah dibanding alat tulis yang lain. Bagian hitam pensil
yang ter­buat dari grafit (campuran arang dan kaolin) mempunyai
kekerasan atau kelunakan yang berbeda-beda, ditandai dengan
kode angka dan huruf pada kayu pembungkusnya. Dari yang
paling keras dengan ko­de 6H sampai H, lalu pensil berkode HB
yang umum kita gunakan un­tuk menulis, ke arah lunak mulai dari
kode B, lalu pensil dengan ko­de 2B yang umum kita dengar sering
digunakan untuk menandai ja­wab­an soal yang menggunakan

komputer, hingga kode 8B yang paling lu­nak. Untuk menggambar
dan melukis sebaiknya kita gunakan yang lunak, karena memberi
kesan yang lebih hitam dan tidak perlu me­ne­kan terlalu keras
sehingga menggores kertas terlalu dalam. Selain itu ada juga
pensil berkode EE dan EB. Meskipun hasil goresan pensil je­nis ini
tampak lebih hitam, kami tidak menggunakannya di sini. Di da­lam
buku ini kami menggunakan pensil berkode 2B, 4B, 6B, dan 8B.
Pen­sil mekanik dengan diameter grafit 0,5 dan 0,7 mm dengan
kode 2B dan 4B bisa digunakan untuk menggambar bagian yang
halus.

Pilihlah merek dengan mutu yang baik, kelunakan dan kepekatan
gra­fit­nya merata, serta tidak mudah patah. Pensil dengan mutu
rendah meng­ha­silkan efek hitam yang tidak merata dan dengan
kekerasan yang berubah-ubah, sehingga bisa membuat kertas
cacat tergores. Per­ha­tikan juga bentuk dan diameter pensil,
gunakan yang sesuai se­hingga terasa nyaman saat digunakan
dalam waktu yang relatif lama.

l Peraut Pensil yang umum dijual di toko sudah cukup memadai.
Ya­itu pisau peraut biasa atau pisau peraut yang berada dalam
kotak. Yang penting adalah pisau perautnya rata dan tajam,
sehingga hasil rautan­nya licin dan grafit pensil tidak mudah patah.

Terkadang kita ju­ga memerlukan kertas amplas halus sebagai alat
bantu membentuk ujung grafit pensil guna menyesuaikan dengan
kebutuhan.

l Gulungan Kertas Berbentuk Pensil. Selain menggunakan jari ta­
ngan untuk menyebar dan meratakan arsir pensil dalam membentuk
ba­yang-bayang pada bidang yang luas, sepotong kertas atau
kain ju­ga bisa digunakan. Selain itu dapat juga digunakan alat
bantu be­ru­pa gulungan kertas yang dibuat berbentuk pensil.
Alat ini dapat di­buat sendiri menggunakan kertas biasa, tapi bila
memungkinkan, be­li­lah alat tersebut pada toko yang khusus
menjual perlengkapan meng­gambar atau melukis. Alat ini biasa
dijual dalam beberapa ukur­an diameter. Dari yang berdiameter
paling kecil untuk meratakan ter­utama pada bagian-bagian yang
sempit atau bagian tepi yang bu­tuh ketelitian tinggi. Sedangkan
yang besar untuk bidang yang lebih luas.

Alat ini dapat membantu menghasilkan tingkatan bayang-bayang
atau gradasi warna hitam pada bagian yang sudah ditandai dengan
ar­sir pensil.

Alat bantu sederhana yang terbuat dari kertas yang digulung ra­
pat berbentuk pensil. Kita bisa membuatnya sendiri menggunakan
ker­tas gambar atau kertas biasa. Dari selembar kertas biasa berukuran
A4, tandai pada ujung lebar sisi kanan kira-kira 4 cm, begitu juga pa­
da sisi kiri yang berlawanan. Hubungkan kedua tanda tadi dengan
mis­tar, lalu potong menjadi dua bagian berbentuk trapesium sama
dan sebangun. Dengan kedua potong kertas dapat dibuat dua buah
alat tersebut.

Mulai dari sisi yang panjang gulunglah kertas serapat mungkin ke
arah sisi yang pendek. Untuk menghasilkan alat yang bagus, maka
per­lu kesabaran dalam mengerjakannya. Setelah kertas tergulung
ra­pat, pegang erat, dan bila perlu dorong bagian tengah gulungan
de­ngan jarum sehingga gulungan kertas berbentuk pensil. Supaya
gu­lungan kertas tidak terbuka atau lepas lagi, maka rekatkan dengan
ples­ter. Kelebihan kertas bagian atas bisa digunting, sedangkan ba­
gian ujung bawah dibuat sedikit kasar dengan menggosokkannya pa­
da kertas amplas. Buatlah beberapa buah dengan ukuran diameter
yang berbeda, sehingga dapat digunakan sesuai kebutuhan.

l Karet penghapus. Karet penghapus sangat berguna bukan hanya
un­tuk menghapus garis-garis yang tidak dibutuhkan lagi maupun
ke­sa­lahan yang dibuat, tetapi juga untuk menghasilkan banyak
efek lain­nya. Kita sebaiknya tidak sering menggunakan penghapus
saat meng­gambar, karena dapat merusak serat kertas. Usahakan
karet peng­hapus hanya kita gunakan ketika gambar hampir selesai
atau ke­tika ingin memberi efek khusus seperti kesan mengilap
pada gambar ben­da dengan permukaan licin.

l Kertas gambar. Untuk taraf belajar kita tidak perlu menggunakan
ker­tas gambar khusus yang mahal harganya, karena kualitasnya
me­mang disesuaikan dengan kebutuhan seniman. Untuk langkah
awal cu­kup menggunakan buku gambar yang umum digunakan
anak-anak di sekolah. Begitu juga dengan dimensi atau ukuran
panjang dan lebar kertas. Gunakan saja kertas berkode ukuran
A4 (sekitar 21 cm x 30 cm) atau berkode ukuran A3 (sekitar 42 cm x
30 cm) yang 2 kali lebih luas dari ukuran A4 yang banyak dijual di
toko buku.

l Papan penyangga. Apabila kegiatan menggambar dilakukan
di luar ruangan, dan kita merasa lebih leluasa menggunakan
lembaran ker­tas dibandingkan buku gambar, maka sebaiknya
sertakan juga pa­pan penyangga. Gunakan papan penyangga dari
bahan kayu atau plastik yang ringan dengan permukaan yang
rata dan halus. Ukur­annya sedikit lebih luas dari ukuran kertas
gambar yang dipakai. Leng­kapi dengan penjepit kertas sehingga
kertas tidak mudah bergeser atau terbang tertiup angin ketika
digunakan.

Kuasai Perlengkapan Gambar

Sebagaimana olahraga perlu pemanasan dan pemeriksaan peralatan
gu­na menyesuaikan dengan materi latihan, begitu juga dengan
meng­gambar. Cobalah terlebih dahulu segala perlengkapan yang
ada, baik pensil maupun karet penghapus. Buatlah berbagai bentuk

ga­ris, lurus, lengkung, zig-zag dengan tekanan yang berbeda-beda
da­ri setiap pensil yang akan digunakan. Buat arsir dan gradasi ke­pe­
katan warna hitam pensil dari terang ke gelap dan sebaliknya. Ama­ti
kepekatan warna hitamnya, gelap atau mengilap. Kemudian sa­pu­kan
permukaan coret-coretan berwarna hitam tadi dengan karet peng­ha­
pus, perhatikan apakah mudah dihapus dan hasilnya bersih atau se­
ba­liknya.

Apakah meninggalkan bekas goresan yang terlalu jelas? Amati
dan buatlah catatan pada sebuah buku bila perlu, selanjutnya catatan
ini dapat di­gu­nakan untuk perbandingan dengan merek lainnya.
Mungkin hal ini terlihat terlalu berlebihan, tetapi bukankah saat ini
kita mulai melangkah menjadi seniman? Seniman selalu melakukan
uji coba dengan perlengkapannya, sehingga mereka menguasai dan
ta­hu kapan menggunakan peralatannya dengan tepat.

Semua hal ini sebaiknya kita lakukan, karena tujuannya adalah
un­tuk mengenal kualitas peralatan tersebut dan menyesuaikan diri
de­ngan merek yang dianggap memadai untuk menghasilkan lukisan
yang kita inginkan.

II. Unsur Gambar

SEBELUM menggambar atau melukiskan suatu bentuk yang
dihasilkan dari banyak garis pensil, ada baiknya kenalilah da­hu­
lu unsur-unsur yang akan membentuk suatu gambar.

l Garis merupakan unsur dasar dari gambar. Sebuah garis me­
mi­sah­kan suatu bidang terhadap sisi bidang lain. Semakin
ba­nyak garis dibuat, semakin rumit dan banyak bidang yang
di­ha­silkan. Kumpulan garis akan menghasilkan suatu daerah
men­jadi lebih gelap, memisahkan bidang depan dari latar be­la­
kang, membentuk bidang negatif dan positif. Garis bisa di­ben­
tuk dengan seragam pada ketebalan yang sama atau dengan
ke­te­balan yang bervariasi, sehingga menghasilkan beragam
efek.

l Bentuk dapat dibuat dari sebuah garis lengkung yang mem­
ben­tuk kurva tertutup, atau terbentuk dari beberapa garis lurus
yang membentuk kurva tertutup. Bentuk inilah yang mewakili
sua­tu objek yang akan kita gambar. Salah dalam membuat sua­
tu bentuk akan menghasilkan gambar yang tidak enak dilihat,
sa­at dibandingkan kembali dengan benda atau objek yang kita
gam­bar.

l Proporsi dan Perspektif. Proporsi merupakan hubungan per­
ban­dingan ukuran suatu unsur gambar terhadap ukuran unsur
gam­bar lainnya. Sebagai contoh, perhatikan perbandingan
antara tinggi dan lebar rumah, meja, kursi, serta beberapa
perabotan lainnya. Setiap benda memiliki perbandingan
tertentu sehingga terlihat pendek dan lebar atau tinggi dan
ramping. Dalam melukis kita harus memperhatikan proporsi
tersebut agar lukisan kita tampak serupa dengan benda yang
dijadikan contoh. Apa­bila proporsi yang dibuat salah, maka
gambar akan terlihat janggal.

Perspektif merupakan alat bantu untuk mempermudah kita meng­
gambar atau melukis, sehingga menghasilkan efek atau ilusi benda
yang berada pada kejauhan akan semakin kecil. Benda-benda yang
be­sar­nya sama harus digambar lebih besar bila berada pada posisi
yang lebih dekat atau sebaliknya. Proporsi dan perspektif biasa di­gu­
na­kan bersamaan untuk membentuk gambar yang wajar.

l Terang dan Gelap. Benda yang kita lihat di alam mempunyai ba­
yang-bayang akibat adanya cahaya. Maka gambar akan terlihat
da­tar dua dimensi apabila dibuat tanpa bayang-bayang. Selain
tim­bulnya kesan kedalaman atau tiga dimensi, bayang-bayang
ju­ga menghasilkan efek perspektif, karena memberi kesan ada­
nya perbedaan jarak. Untuk menghasilkan gambar yang baik
dibutuhkan bayang-bayang dengan tingkat kegelapan yang
bervariasi dan menempatkan efek terang dan gelap yang be­
nar sehingga keberadaan dan lingkungannya tampak wajar.

l Citra Gambar Keseluruhan. Ketika kita mulai menggambar,
se­be­narnya pikiran secara dinamis menempatkan semua un­
sur gambar tersebut ke atas bidang gambar. Otomatis me­nem­

patkan objek gambar keseluruhan untuk tidak keluar dari bi­
dang gambar. Mulai membatasi, menandai, dan menempatkan
ba­gian paling kiri dan kanan, juga bagian teratas dan terbawah
da­ri objek gambar ke dalam bidang gambar. Saat terus meng­
atur proporsi dan dimensi serta menyesuaikan bentuk objek
ter­hadap komposisi, pikiran kita terus menganalisis bentuk dan
keselarasan gambar secara keseluruhan. Jadi sebenarnya se­
cara bawah sadar, otak kita juga membuat citra gambar secara
ke­se­lu­ruhan.

Mulai Menggambar

Saat mulai menggambar sesuatu, pikiran menuntun dengan meng­ha­
sil­kan citra pada otak mengenai apa yang akan digambar. Kemudian
meng­eks­pre­sikan gambaran yang ada dalam pikiran ke atas suatu
media. Se­tiap orang berbeda dalam menyampaikan pesan yang ada
dalam pi­kir­an­nya. Secara umum cara penyampaian pesan dalam
pikiran ini da­pat dibedakan menjadi dua cara berpikir. Pertama meng­
gambar de­ngan cara berpikir simbolik, dan yang kedua, meng­gambar
dengan ca­ra berpikir visual.

Menggambar dengan cara berpikir simbolik merupakan cara
meng­gambar dengan lambang atau simbol untuk mewakili apa
yang diamati. Banyak dari kita dan juga anak-anak lebih sering meng­
gambar dengan cara berpikir simbolik. Sebagai contoh, secara ba­
wah sadar kita sudah terbiasa menggambar pemandangan dengan
dua buah gunung lancip dengan sebuah matahari di antaranya, sa­
wah berkotak-kotak, sebuah jalan lurus terdiri atas dua garis ke arah
gunung, pohon yang terdiri atas dua buah garis lurus dengan de­
daun­an berupa kurva bergelombang. Menggambar kepala dengan
ling­karan yang diisi dengan dua buah titik mewakili mata dan sebuah
ga­ris lengkung untuk mulut, dua garis lengkung kecil untuk telinga.
Go­resan-geresan pendek menandai rambut lelaki dan dan panjang
un­tuk rambut perempuan. Seperti inilah saat otak memberi persepsi
ten­tang gambaran simbol dari apa yang dimaksud.

Menggambar dengan cara berpikir visual adalah cara meng­
gam­bar dengan meniru objek yang sebenarnya terlihat. Cara inilah
yang banyak digunakan para seniman, sehingga disebut juga ca­
ra berpikir artistik. Ada baiknya untuk mengetahui beberapa hal
berikut sebelum kita mulai menggambar. Karena meskipun otak
sudah mengetahuinya secara bawah sadar apa yang akan di­gam­bar,
dan ingin segera menyelesaikannya, kita perlu melatih pikiran sa­dar

10

untuk mengembangkan keterampilan menggambar dengan sa­bar.
Keterampilan ataupun konsep yang akan kita jelajahi adalah me­nge­
nai garis, bentuk, proporsi dan perspektif, cahaya dan bayangan,
sam­pai ke tahap menganalisis keseluruhan gambar. Unsur-unsur ini
secara bertahap akan terekam ke dalam pikiran seraya kita meng­
gam­bar, hingga pada saatnya semua aktivitas terasa dilakukan
hampir bersamaan atau otomatis bekerja. Dengan mengerti dan
semakin terampil, ma­ka saat-saat menggambar akan menyenangkan.
Keterampilan seni ini saling memengaruhi persepsi dan pemahaman.
Mulai dengan ga­ris-garis yang membimbing ke arah pengertian
bentuk. Secara ala­mi akan membawa kita ke dalam pengertian
akan penggunaan ca­haya dan bayangan, yang menghasilkan efek
kedalaman. Menilai dan membentuk keseimbangan proporsi, melihat
gambar secara me­nye­luruh terhadap keseimbangan komposisi.
Sampai pada akhirnya me­miliki kepekaan terhadap penilaian ke­
seluruhan dari lukisan yang di­ha­silkan.

Penjelasan menggambar dengan cara berpikir visual memang ter­
li­hat rumit, tetapi sebenarnya tidak serumit itu. Kita dapat meng­ana­
lo­gikannya seperti saat seseorang belajar mengemudikan ken­daraan.
Bila ia harus menjelaskan bagaimana koordinasi mata, ta­ngan, kaki,
keseimbangan, perasaannya saat itu dengan kata-kata, ma­ka akan
terasa sangat rumit. Sebenarnya keadaannya tidak serumit itu saat ia
melakukannya, karena semua berjalan dengan otomatis. Be­gitu juga
dengan menggambar, cobalah untuk menggambar apa sa­ja yang
kita senangi mulai dengan unsur-unsur gambar dengan ca­ra berpikir
visual. Usahakan selalu menggambar sambil mengamati ob­jek yang
menjadi contoh.

Dalam buku ini kami mengarahkan untuk menggambar dengan
ca­ra berpikir visual. Jadi bukan menggambar tentang apa yang kita
pi­kir­kan, melainkan menggambar akan apa yang kita lihat mengenai
ob­jek tersebut.

Meskipun kecenderungan untuk menggambar secara simbolik
cukup besar, mulai halaman ini usahakan untuk terus melukis dengan
cara visual.

11

12

III. Latihan Dasar

Menggenggam Pensil Saat Menggambar

BANYAK gaya dan cara orang memegang pensil, sesuai kebiasaan dan
kegemarannya masing-masing. Ada beberapa metode yang mung­kin
lebih baik daripada yang lainnya terutama saat akan membuat sketsa
atau menggambar. Berikut beberapa contoh yang paling umum di­gu­
na­kan.

l Genggaman tiga jari—jarak pendek

Umumnya setiap orang menggenggam pensil untuk menggambar
se­la­yak­nya seperti saat mereka menulis, yaitu dengan genggaman
tiga jari menekan pensil. Jempol, telunjuk, dan jari tengah mem­ben­
tuk segitiga mengelilingi pensil. Ketiganya sangat dominan da­lam
menggerakkan pensil. Meskipun tidak menempel pada pensil, ja­ri
manis dan kelingking ikut menunjang sehingga gerakan pensil da­pat
dengan mudah dikendalikan. Genggaman ini sangat baik saat meng­
gambar dengan detail halus. Dengan posisi pensil yang tegak mem­
be­ri­kan ketepatan dalam membuat bayang-bayang dengan ujung
run­cing, daripada dengan sisi lebar pensil.

Genggaman tiga jari memudahkan jari mengendalikan pensil, dan
pada saat membuat garis-garis yang halus atau bentuk dengan ke­te­
li­ti­an tinggi, tangan dapat bersandar pada media gambar. Kita dapat
meng­gu­na­kan selembar kertas untuk alas tangan sehingga kertas

13

ker­ja kita tidak terganggu keringat dan gesekan tangan. Apabila ada
le­bih banyak gerakan yang perlu dilakukan tangan, maka sebaiknya
le­ngan ba­wah atau siku saja yang disandarkan pada tepi media
gambar atau me­ja.

l Genggaman tiga jari—jarak panjang

Perbedaan genggaman tiga jari ini dengan yang pertama adalah letak
pe­gang­an ketiga jari lebih jauh dari ujung pensil. Dengan posisi jari
se­perti ini, ujung pensil akan bergerak lebih jauh akibat sedikit saja
ge­rak­an jari. Menggengam pensil dengan cara ini lebih enak pada
sa­at membuat sketsa. Genggaman pada pensil lebih santai sehingga
ti­dak membuat tangan cepat lelah.

l Genggaman mendatar

Pensil dipegang dengan ringan pada satu sisi dengan jempol se­arah
ujung pensil, sehingga memudahkan mengatur posisi pensil men­de­
kati sejajar terhadap kertas gambar. Genggaman jari ringan dan san­
tai sehingga jari-jari tangan tidak cepat lelah.

Pegangan pensil dengan genggaman mendatar ini sangat baik pa­
da saat membuat sketsa dengan sisi lebar pensil. Hal ini untuk meng­
ha­silkan sketsa yang berukuran besar dengan goresan pensil yang
re­latif lebar. Pada keadaan duduk maupun berdiri dan lengan bebas
ber­gerak tidak bersandar pada media gambar, maka kita bisa lebih
eks­presif membuat sketsa.

Menggunakan Pensil

Meskipun kita biasa menggunakan pensil setiap hari, ada baiknya
ki­ta biasakan juga menggunakannya untuk menggambar. Awalnya
buat­lah coretan-coretan ringan pada kertas gambar dengan santai,
ra­sa­kan perubahan tekanan pensil dan amati hasil coretan. Hal ini
mung­kin kelihatannya sepele, tetapi untuk beberapa orang hal ini
te­ra­sa penting untuk mengawali latihan menggambar. Lalu cobalah
be­be­rapa garis lurus dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, dan se­
ba­liknya. Penuhi satu kotak kecil kira-kira berukuran 10 cm x 10 cm
dengan lingkaran-lingkaran kecil yang dibuat terus-menerus tan­pa
mengangkat pensil dari permukaan kertas. Buat banyak sudut ke­cil
dan garis-garis lengkung. Setelah terbiasa, lakukan lagi, tetapi de­
ngan tekanan pensil lebih besar pada saat membuat garis ke arah
bawah sehingga membentuk garis yang tebal, dan tekanan le­mah

14

saat membentuk garis ke arah atas. Latih membuat gradasi war­na
hitam pensil dari terang ke gelap dan sebaliknya. Kemudian buat­
lah lingkaran-lingkaran berdiameter sekitar 10 cm dengan satu ta­
rik­an garis membentuk satu lingkaran penuh. Buatlah gradasi hi­tam
pada sebuah lingkaran sehingga tampak seperti bola pejal. Gam­
barlah dua buah apel berdekatan dengan ukuran berbeda, lalu be­ri
bayang-bayang sehingga memberi kesan jarak. Perhatikan cara ta­
ngan memegang pensil yang nyaman atau menghasilkan garis atau
gambar yang diinginkan, ingatlah efek yang ditimbulkan pada ker­
tas gambar. Latihan-latihan tadi memberikan gambaran mengenai
se­mua unsur gambar.

Latihan Menggambar Kawat

Suatu bentuk latihan menggambar yang baik bagi pemula. Dapat di­
la­ku­kan dari segala tingkat usia. Banyak pakar berpendapat bahwa
latihan ini sangat berguna un­tuk mengeratkan hubungan kerja
sama antara mata dan tangan. Pe­nger­ja­annya sederhana, mudah,
dan tidak membebani sehingga dapat di­la­kukan dengan santai dan
menyenangkan.

15

Teknik ini merupakan salah satu bentuk latihan menggambar ting­
kat awal, tidak memaksa siswa ke arah suatu bentuk nyata dalam pi­kir­
an karena bentuk kawat yang terjadi abstrak. Ini merupakan latihan
yang sangat baik untuk melatih koordinasi antara mata dan tangan.
Ka­­rena bentuk kawat yang digunakan tidak mewakili suatu bentuk
ob­jek yang dapat kita kenali, maka kita dapat leluasa melatih mata
un­tuk mengikuti bentuk dari kawat itu sendiri.

Perlengkapan yang dibutuhkan juga sederhana, hanya kawat bia­
sa yang tidak terpakai lagi dan mudah dibengkokan. Gunakan kertas
gam­bar biasa dan pensil umum.

Bengkokkan kawat menjadi bentuk-bentuk tiga dimensi acak
yang ti­dak mewakili suatu bentuk tertentu, letakkkan dengan posisi
yang sta­bil sebagai model.

Gambarlah bentuk kawat tersebut, tetapi jangan menggambarnya
de­ngan realistik. Tidak perlu memikirkan bayang-bayangnya ataupun
po­sisi kawat bagian depan atau belakang terhadap sesamanya. Cukup
meng­gambar garis dengan arah dan panjang yang disesuaikan de­
ngan arah dan panjang kawat secara proporsional. Tujuan kita hanya
meng­gambar bentuk yang dihasilkan kawat tersebut.

Usahakan menjaga garis yang dihasilkan berupa garis yang ber­

16

ke­sinambungan dengan gerakan tangan yang santai. Jangan meng­
gambar dengan garis pendek yang terputus-putus. Latihlah meng­
gam­bar beberapa kali dalam selembar kertas hingga terbiasa. Tidak
per­lu merisaukan hasilnya, ini hanya latihan untuk mengatur kerja
sa­ma antara pikiran dan tangan.

Latihan Menggambar Kontur Buta

Latihan menggambar yang menyenangkan dan sangat bermanfaat, ka­
re­na meningkatkan komunikasi antara mata dan tangan. Menggambar
kon­tur adalah menggambar sketsa atau bagan. Sedangkan meng­
gam­bar kontur buta maksudnya adalah menggambar suatu objek
tan­pa melihat hasilnya pada saat bersamaan.

Yang penting dalam latihan ini adalah kehati-hatian pengamatan
ter­ha­dap objek, serta perasaan akan hasil yang sedang digambar. Se­
dangkan hasil gambar bukan hal terpenting.

Cobalah menggambar bola, sepatu, rumah, atau perabotan lain
yang sederhana tanpa melihat ke kertas gambar. Mu­lai dari satu titik
tertentu, lalu membuat garis secara perlahan dan mantap mengikuti
bentuk objek. Usa­ha­kan tekanan pensil ri­ngan dengan gerakan pensil
lembut. Jangan mengangkat pensil da­ri permukaan kertas, karena bisa
membuat kehilangan orientasi po­sisi pensil. Juga jangan mengintip
untuk melihat gambar yang di­ha­silkan. Bila menemukan garis yang
tumpang tindih, ikuti terus garis-garis yang belum tergambar. Tidak
perlu terburu-bu­ru. Usahakan tetap fokus dan berkonsentrasi dalam
mengamati setiap rin­cian yang ada.

Setelah merasa selesai menjelahi dan menggambar suatu objek,
ber­hen­tilah ­dan lihat hasilnya. Mungkin terlihat lucu, tetapi perhatikan
pa­da beberapa tempat akan terlihat akurasi yang tinggi. Tentu saja pa­
da beberapa tempat tampak tidak proporsional. Menggambar tanpa
me­lihat hasil berarti melatih koordinasi antara mata dan tangan su­
paya lebih baik. Dengan harapan pada waktu menggambar biasa,
ma­ka hasilnya akan jauh lebih baik.

Coba juga menggambar bentuk-bentuk tumbuhan lainnya meng­
gunakan cara ini, pasti menyenangkan bila dilakukan dengan santai.
Usahakan untuk lebih berpresisi bila menggambar objek dengan
bentuk sederhana.

17

Menggambar dengan Garis

Biasanya saat menggambar suatu benda, yang dilakukan adalah meng­
gam­bar garis terluar suatu objek, yaitu menggambar batas tepi da­ri
suatu objek. Garis yang membentuk gambar demikian disebut ga­ris
bentuk atau garis kontur. Fokusnya ada pada bagian tepi atau ga­ris
terluar objek juga garis yang dihasilkan dari suatu lipatan. Se­dang­
kan garis-garis yang berada di bagian dalam objek yang membantu
mem­bentuk kedalaman atau ketinggian objek, disebut garis kontur
si­lang. Garis yang dibuat tebal dan gelap maupun garis tipis dan te­
rang akan memberi kesan perbedaan jarak. Gunakan sifat-sifat ini un­
tuk memberi kesan kedalaman pada gambar.

Ketika mengamati suatu objek, bentuk yang tampak akan bervariasi
ber­gantung sudut pandang kita. Bentuk sebuah cangkir yang dilihat
da­ri samping akan berubah bila titik pandang kita berpindah perlahan
me­nuju ke atas cangkir. Jadi pada waktu menggambar usahakan po­
sisi relatif tetap pada suatu titik pandang, begitu juga dengan objek
gam­barnya. Dengan demikian bentuk yang diamati stabil dan mudah
di­gambar.

Mulailah dengan menggambar benda yang sederhana. Gunakan
ben­da-benda yang sudah biasa dilihat dan mudah didapat, seperti
pe­rang­kat dapur, peralatan di gudang, buah, atau tanaman. Bila ben­
danya kecil, maka dapat diletakkan dekat dengan kertas gambar. Se­
ba­lik­nya bila cukup besar maka taruhlah agak jauh. Tentukan suatu
ti­tik dekat sudut kertas gambar sebagai titik acuan awal gambar ter­
ha­dap keseluruhan objek gambar. Tetapkan batas paling kiri dan ka­
nan, serta batas teratas dan terbawah dari perkiraan gambar yang
akan dihasilkan, hal ini untuk mencegah gambar melampaui bidang
ker­tas. Buatlah garis dari titik acuan gambar tadi terus mengikuti ben­
tuk objek yang dilihat mata untuk menggambar garis bentuk ben­da.
Meletakkan garis pada posisi dan jarak relatif dengan benar, ser­ta
kemiringan yang tepat akan menghasilkan bentuk yang baik. Per­ha­ti­
kan kemiringan garis dan posisi garis-garis kontur silang lainnya yang
pa­ling nyata sebagai panduan.

Tidak perlu terlalu kuatir dengan bentuk yang kurang sempurna.
Ang­gaplah sebagai pemanasan. Pada tahap ini tidak ada istilah salah
atau benar, yang dibutuhkan hanya banyak berlatih sehingga mata
dan tangan terbiasa bekerja sama, serta menilai bentuk dan ukuran.

Setelah selesai membuat satu gambar dan mata cukup beristirahat
de­ngan melihat beberapa menit ke arah lain yang jauh, kemudian pe­
rik­sa kembali gambar tadi. Bandingkan gambar yang dihasilkan de­

18

ngan benda yang menjadi objek gambar. Biasakan mengamati dari
hal yang besar dahulu. Amati kemiripan bentuk umumnya, perhatikan
pro­porsi panjang garis dan kemiringan. Kemudian barulah amati
detail lain­nya, apakah sudah sesuai tempatnya. Nilai hasilnya, bila
kurang me­muas­kan ulangi lagi atau perbaiki yang sudah ada.

l Garis Kontur Murni

Gambar menggunakan garis kontur murni merupakan bentuk paling
se­der­hana dari ekspresi linier. Garis mencerminkan bagian tepi objek.
Bi­la pilihan objek dan posisinya baik, maka gambar kontur tersebut
akan memiliki kekuatan dari kesederhanaannya. Detail permukaannya
dan bayang-bayang dapat diabaikan. Gambar tecermin dari garis te­pi
yang nyata. Bentuk demikian banyak digunakan sebagai gambar pe­ri­
ngatan, karena harus sederhana dan jelas.

l Garis Putus-Putus

Ketika hendak memperlihatkan bidang yang melengkung pada ba­
gian dalam gambar dengan garis kontur, maka garis kontur murni
ku­rang berfungsi. Mulai dari bagian awal hingga akhir, garis kontur
harus tam­pak nyata dan tegas. Untuk memperlihatkan permukaan
suatu bi­dang lengkung, memiliki suatu sudut atau tepian yang kurang
je­las, maka perlu menggunakan beragam bentuk akhir dari garis. Se­
lain harus mempertimbangkan kesan bentuk yang tidak patah, juga
ha­rus menggambarkan kesan perubahan atau lengkungan yang ber­
tahap, maka kita perlu menggunakan garis putus-putus. Gunakan
ga­ris putus dengan panjang yang bervariasi bahkan sampai terlihat
se­bagai titik-titik.

l Menggambar dengan Garis Kontur Silang

Garis kontur silang pada permukaan gambar yang kompleks, seperti
hal­nya garis kontur pada peta, bertujuan untuk memperlihatkan to­
po­grafi atau perbedaan kedalaman suatu permukaan bumi. Garis

19

kon­tur silang juga membantu membentuk kesan kedalaman suatu
per­mu­kaan gambar. Garis demikian juga dapat digunakan untuk
mem­bantu membentuk kedalaman gambar suatu objek. Garis kontur
si­lang menghasilkan kesan tiga dimensi pada permukaan kertas gam­
bar yang datar.

l Penggunaan Gabungan Garis yang Kompleks

Objek yang sederhana akan memberikan kesan tiga dimensi yang mis­
kin dalam bentuk, sedangkan objek yang mempunyai bentuk semakin
kom­pleks akan memberikan banyak detail, sehingga memberikan
be­ra­gam tampilan kedalaman. Gambar sebuah lingkaran sebagai
con­toh, karena miskin kesan tiga dimensinya, maka bisa diartikan
sebagai bo­la pejal, atau cakram yang datar, bahkan juga bisa berarti
sebuah ben­tuk cincin. Kurangnya informasi gambaran yang ada di
dalam ling­karan inilah yang membuat interpretasi gambar bisa salah.
Itulah sebabnya gam­bar bisa terlihat janggal.

Dengan menambahkan detail pada gambar dengan garis kontur
mur­ni akan memberi lebih banyak informasi ke dalam bentuk suatu
gam­bar. Berbagai variasi garis baik tipis-tebal maupun garis putus da­
pat dipakai untuk melengkapi bentuk tajam, patah, atau lengkung
yang lembut.

Manfaatkan pengetahuan akan bentuk-bentuk garis dan efek yang
di­tim­bulkan untuk melukiskan sesuatu pada media gambar. Gunakan
se­ga­la bentuk garis dengan kombinasi tipis-tebal dan terang-gelap, se­
hing­ga menghasilkan bentuk dengan efek dimensi yang diinginkan.
Gam­bar yang indah memberikan kesan yang wajar akan objek yang
di­gam­bar, sehingga otak akan menilainya alami dan enak dilihat. Ini­
lah tujuan pelajaran menggambar ini.

20

IV. Menggambar
dengan Bantuan

Kisi-Kisi

Kisi-Kisi Persegi atau Persegi Panjang

Untuk memudahkan meniru bentuk suatu objek atau gambar se­
hingga meng­ha­silkan reproduksi yang tepat, bantuan kisi-kisi persegi
atau per­se­gi panjang dapat digunakan. Asalkan bantuan kisi-kisi
pa­da gambar contoh sama dengan pada kertas gambar. Bila meng­
gunakan bentuk persegi panjang pada gambar con­toh, pada kertas
gambar pun kita harus menggunakan bentuk yang sama. Tetapi per­
bandingan besar persegi bo­leh sama besar, lebih kecil, atau lebih
besar terhadap persegi pada ker­tas gambar. Hasil gambar juga akan
mengikuti perbandingan besar persegi tersebut.

Abaikan saja bila ada yang menganggap cara ini tidak baik atau
bahkan curang. Sebab cara ini sangat bagus untuk melatih per­ban­
ding­an jarak relatif dari suatu titik terhadap titik lainnya. Tujuannya
ada­lah melatih membiasakan menggambar dengan membandingkan
an­tara objek gambar terhadap hasil gambar.

Pada akhirnya nanti setelah terbiasa dengan prinsip dasar re­pro­
duksi ini, maka kisi-kisi ini hanya akan kita imajinasikan saja dalam pi­
kir­an saat menggambar. Prinsip reproduksi ini sangat mendasar dan
ki­si-kisi ini merupakan alat yang sangat efektif. Sangat membantu
ber­ke­naan masalah dalam menggambar, yaitu perspektif, proporsi,
dan hubungan keduanya. Pada masa lalu para pakar seni lukis juga
meng­gunakan metode ini. Metode ini bahkan dianggap rahasia.

21

Saat memilih suatu gambar sebagai contoh, pastikan bahwa gam­­
bar cukup besar dan jelas. Gambar yang jelas dan besar akan me­mu­
dah­kan dalam penelusuran garisnya. Lakukan pembesaran dengan
me­sin fotokopi atau mencetak melalui komputer.

Penentuan ukuran kisi disesuaikan dengan kemampuan pri­ba­di
masing-masing. Bila kisi-kisi terlalu besar berarti akan sulit mem­per­
ki­rakan posisi garis yang ada di dalam persegi, bila kisi terlalu ke­cil
maka akan banyak garis yang harus dihapus nantinya. Tidak ada
aturan baku dalam hal ini, sesuaikan saja dengan bentuk dan ke­ru­
mit­an gambar yang akan dicontoh.

Untuk membuat kisi-kisi sebaiknya menggunakan warna tinta
yang kontras dengan gambar contoh. Pada gambar hasil fotokopi gu­
na­kan tinta terang.

22

Bagi pemula buatlah ukuran kisi-kisi pada kertas gambar sa­ma
dengan ukuran pada gambar contoh. Bila sudah terbiasa ma­ka
selanjutnya kisi-kisi bisa dibuat dengan perbandingan yang di­se­
suaikan dengan keinginan. Garis kisi-kisi pada kertas gambar dibuat
meng­gunakan pensil yang lunak dengan tekanan yang kecil, sehingga
nan­ti semua garis bantu ini mudah dihapus dan tidak meninggalkan
bekas.

Mengisi Persegi

Bila gambar terasa terlalu besar dan terganggu karena banyaknya per­
segi, maka pusatkan perhatian pada beberapa persegi saja. Tentukan
dan tempatkan dahulu posisi contoh gambar terhadap persegi tempat
tu­juan gambar. Gunakan kertas untuk menutup bidang persegi yang
be­lum dibutuhkan, sehingga kita bisa fokus pada beberapa bidang
per­segi saja. Letakkan gambar dan kertas gambar berdampingan un­

23

tuk memudahkan memperbandingkan sesamanya. Selanjutnya se­ca­
ra bertahap selesaikan bagian yang lainnya sampai selesai.

Menggunakan Bidang Negatif

Garis kisi dipakai sebagai garis referensi guna membantu menempatkan
sua­tu titik pada posisi yang benar dalam bidang persegi. Pada contoh
ber­ikut, perhatikan batas antara objek dan latar belakang berupa ga­
ris kontur benda. Kemudian amati titik perpotongan garis kontur,
dan bentuk benda terhadap garis-garis kisi, inilah titik acuan yang
akan digunakan untuk membentuk gambar pada kertas gambar. Titik
per­po­tongan ini jangan diukur menggunakan mistar, tetapi cukup
de­ngan memperkirakan letak relatifnya saja (misalnya: di tengah,
se­per­tiga dari kiri, seperempat jarak dari atas, dst). Posisikan titik
ter­sebut pada kisi dalam kertas gambar lalu ikuti kemiringan garis
un­tuk membentuk garis bentuk yang sama dengan objek hingga me­
mo­tong garis kisi selanjutnya.

Bidang yang terbentuk antara tepi objek dan garis-garis kisi disebut
bi­dang negatif. Amati bidang-bidang negatif tersebut, kemudian se­
der­hanakan bentuknya (dalam contoh ini segitiga dan persegi pan­
jang warna abu-abu). Bidang sederhana ini memudahkan me­man­
dang dan membuat garis objek yang digambar selanjutnya.

24

Penyelesaian

Kisi-kisi memudahkan kita meletakkan posisi gambar dengan lebih te­
pat. Selain itu proses menggambar dapat dengan cepat dilakukan se­
cara keseluruhan. Perhatikan dan gambarlah hanya garis-garis utama
pem­bentuk objek, dengan meletakkannya secara relatif terhadap ga­
ris kisi dalam bidang persegi. Sedangkan hal-hal yang kecil atau ku­
rang penting dapat diabaikan untuk sementara.

Apabila merasa perlu untuk melihat bentuk yang lebih baik, ma­
ka bayang-bayang utama dapat disertakan pada tahap ini sambil me­
me­rik­sa dan memperbaiki bentuk keseluruhan. Perhatikan bentuk si­
metri kiri dan kanan baik cangkir maupun teko. Bidang kiri dan kanan
ha­rus terlihat sebagai bayangan cermin.

Setelah gambar terlihat baik, maka langkah selanjutnya adalah
me­ra­pikan dan melengkapi bagian yang lebih mendetail. Untuk itu

25

se­ba­ik­nya terlebih dahulu menghapus garis kisi-kisi. Perhalus gradasi
war­na hitam dan berikan sentuhan akhir berupa kilauan warna putih
meng­gunakan karet penghapus bersih.

Contoh gambar ini memiliki bentuk-bentuk dasar sederhana
yang sangat teratur, sehingga mudah untuk ditiru. Oleh karena itu
un­tuk objek gambar yang memiliki bentuk yang rumit, juga harus
di­li­hat secara sederhana. Artinya harus dianggap sebagai bentuk
yang mudah dahulu, kemudian menirunya untuk membentuk gam­
bar keseluruhan dengan benar secara proporsi. Setelah bentuk ka­sar
terlihat benar, barulah memperhatikan hal-hal yang lebih kecil. Se­
cara bertahap teruskan kepada bagian yang lebih kecil lagi, sambil
mem­per­hatikan dan memperbaiki kesalahan secara keseluruhan
sampai ter­bentuk sketsa yang tepat juga. Artinya, ini harus dianggap
sebagai bentuk yang mudah. Setelah itu, tirulah bentuk keseluruhan
dengan benar dan proporsional. Setelah bentuk kasar terlihat
benar, barulah perhatikan hal-hal yang lebih kecil. Secara bertahap
teruskan ke bagian yang lebih mendetail, sambil memperhatikan dan
memperbaiki kesalahan secara keseluruhan sehingga terbentuk sket­
sa yang tepat.

Penyelesaian lukisan hanya tinggal melengkapi detail dan me­
rapikan tingkat gradasi. Lakukan hal ini bertahap dan tidak terburu-
buru.

26

V. Membuat Sketsa

Latihan Membuat Sketsa

Tujuan utama membuat sketsa adalah menghasilkan bentuk dasar
ob­jek lukisan dengan posisi yang benar. Perhatikan bentuk umum
ba­han yang akan digambar. Amati bentuk-bentuk utama yang me­wa­
kili objek keseluruhan, posisi, kemiringan, serta garis-garis utama ob­
jek secara proporsional. Dengan pensil lunak dan tekanan yang kecil,
gambarlah garis be­sar­nya saja. Tentukan terlebih dahulu batas-batas
paling atas, ba­wah, kiri, dan
kanan, sehingga gambar tidak
melebihi bidang kertas gam­
bar. Secara bersamaan pe­nen­
tuan batas ini juga mengatur
kom­­po­sisi supaya nantinya
gam­bar terlihat seimbang
di dalam media lu­kis­an. Be­
be­rapa contoh berikut akan
mem­per­lihatkan cara mem­
ben­­tuk sketsa. Tujuannya
ada­lah membentuk sketsa de­
ngan benar ter­lebih dahulu
tan­pa menyelesaikan gambar.
Sket­sa sangat penting se­ba­

27

gai dasar untuk menghasilkan gambar yang baik maupun untuk men­
ja­­di­kannya lukisan yang wajar. Sedangkan kelanjutan sketsa sampai
se­­le­­sai dapat dilihat pada bab VII yaitu “Contoh Latihan”.

l Garis-garis Bantu

1. Letakkan garis mendatar sebagai dasar untuk meletakkan benda.
Lan­jutkan dengan beberapa garis sejajar lainnya sebagai batas
ke­ting­gian piring, cangkir, teko, dan tutupnya. Perkirakan saja
ke­ting­giannya. Untuk tinggi cangkir, sekitar setengah tinggi
teko.

2. Dengan bantuan garis-garis sejajar untuk batas ketinggian,
gam­barlah bentuk-bentuk dasar seperti setengah lingkaran,
elips, maupun garis lengkung lainnya untuk membentuk kedua
ben­da itu. Gunakan garis vertikal sebagai garis sumbu dan ba­
tas jarak ke kiri dan kanannya. Hal ini memudahkan kita dalam
mem­buat bentuk yang simetris kiri dan kanan, untuk cangkir
mau­pun teko.

28

3. Perhatikan daerah bayang-bayang dan daerah terang, keduanya
mem­beri efek kedalaman dan kesan timbul. Berikan arsir untuk
da­erah gelap sehingga benda terlihat timbul/cembung.

l Perhatikan Garis-garis Bantu

1. Gunakan benda atau pemandangan yang sederhana untuk ba­
han latihan menentukan garis-garis bantu.

2. Perhatikan posisi beberapa garis lurus panjang yang membentuk
ba­ngunan. Ini dapat dijadikan garis-garis bantu. Gambarkan ga­
ris-garis itu sesuai posisi dan kemiringannya pada kertas gam­

29

bar, sambil memperhatikan perbandingan antara tinggi dan
le­bar bangunan.

3. Berdasarkan pola garis-garis ini, banyak garis lainnya da­pat di­
gambarkan pada tempatnya dengan lebih mudah.

30

4. Selanjutnya, lebih mudah bagi kita untuk menempatkan garis-
garis yang lebih kecil dan daerah gelap.

l Letak dan Kemiringan Garis

1. Posisi atau letak garis bantu ditentukan berdasarkan keperluan
atau perhatian utama yang akan dilukis. Air terjun sebagai ob­
jek utama, pohon di kiri dan kanan, serta batu sebagai bing­
kainya. Untuk lebih memfokuskan pada air terjun, orang harus
dihapus.

31

2. Tentukan dan letakkan garis-garis bantu untuk posisi dan batas
ketinggian air terjun. Perhatikan proporsi letak dan besar objek
terhadap bidang kertas gambar.

3. Berdasarkan garis-garis bantu, pertegas letak air tejun, tum­
buhan di sekitarnya, dan bebatuan sebagai bingkai bawah .

32

4. Hapus garis-garis yang tidak perlu, juga bagian air terjun se­
hingga tampak putih. Selanjutnya, tambahkan ke­rim­bunan
dedaunan dan atur letak terang-gelapnya.

l Gunakan Teknik Perspektif

1. Pada foto terlihat garis mendatar yang memisahkan per­mu­
kaan air laut dan langit. Garis ini disebut garis cak­rawala dalam
perspektif.

33

2. Gambarkan garis cakrawala mendatar kira-kira 1/3 tinggi kertas. Per­
kirakan posisi gumpalan awan di bagian atasnya. Buat garis ban­tu
permukaan bebatuan yang condong menuju sudut kanan ker­tas.
Gambarkan keempat bagian pada permukaan laut kian me­ngecil
mendekati garis cakrawala. Gelapkan awan pembawa hujan.

3. Serasikan gradasi warna hitam pensil pada awan. Berikan ba­
yang-bayang dan garis-garis tebal pada bebatuan, serta garis-
ga­ris tegas pada bagan terdekat. Dengan demikian, ba­gian ini
akan terlihat tajam. Gunakan karet penghapus untuk bagian
yang terang dan efek sinar matahari.

34

l Bangun Ruang Tiga Dimensi

Melukiskan bentuk benda yang teratur akan lebih mudah bila kita
memahami bentuk kubus, balok, piramida, prisma, dan sebagainya.
Foto candi ini mungkin terlihat sulit untuk dilukis. Supaya lebih
mudah, bayangkan bentuknya tersusun dari dua buah balok dan
sebuah piramida di bagian atas.

1. Buatlah beberapa garis bantu mendatar dan sejajar garis
cakrawala sebagai acuan pola bebatuan candi, sesuai
permukaan tanah. Garis-garis tegak lurus dimanfaatkan sebagai
acuan garis tegak candi.

2. Gambaran garis-garis selanjutnya, baik yang mendatar sejajar
cak­rawala sesuai ketinggian maupun yang vertikal sesuai lebar
candi, dibuat dengan memperhatikan perbandingan antara
tinggi dan le­bar bangunan.

3. Bentuklah sesuai pemikiran bahwa candi tertata dari bangun
ruang dua balok dan piramida di bagian atas. Tambahkan ba­
ngun prisma sebagai acuan tangganya. Berdasarkan pola ba­
ngun ini, detail candi dapat dilanjutkan dengan terang-ge­lap
dan letak bayang-bayang yang akan mempertegas kesan tiga
dimensi.
Perhatikan bahwa bidang depan candi dianggap frontal ter­
hadap pemotret sehingga semua garis digambarkan sejajar ga­
dengan garis cakrawala.

35

36

VI. Bayang-Bayang

BAYANG-BAYANG yang tepat akan menghasilkan kesan timbul
atau kedalaman pada gambar. Hal ini dilakukan dengan me­
nya­mar­kan garis kontur dan garis kontur silang dengan bentuk arsir
yang diperhalus. Berikut beberapa petunjuk yang perlu diperhatikan
un­tuk memulai menghasilkan bayang-bayang. Langkah awal yang
pen­ting agar baik hasilnya adalah mengendalikan gerak dan tekanan
pen­sil, sehingga menghasilkan efek yang diinginkan. Pastikan setiap
go­res­an yang terjadi pada kertas menghasilkan bayang-bayang de­
ngan bentuk yang kita inginkan. Teruslah lakukan latihan-latihan se­
der­ha­na berikut sambil memperhatikan hasilnya, guna memperbaiki
pe­ngen­dalian tangan sehingga menghasilkan bayang-bayang yang
di­bu­tuh­kan sesuai dengan bentuk gambar keseluruhan.

Pensil dengan Ujung Lancip atau Ujung Datar

Tentukan dahulu apakah akan membuat
bayang-bayang dengan ujung pensil yang
lancip atau menggunakan ujung pensil yang
da­tar. Pensil berujung lancip akan memberikan
goresan lebih nyata di­ban­ding pensil datar
atau tumpul pada tekanan yang sama. Con­
toh gambar kiri memperlihatkan bayang-ba­
yang yang dihasilkan ujung pensil yang lan­cip,

37

sedangkan gambar kanan dengan ujung pensil yang datar. Peng­
gunaan sisi pensil yang lebar dan da­tar akan mempercepat proses
menutupi bidang yang lebih luas dan perubahan bayang-bayang
yang terjadi tampak lebih lembut. Se­dang­kan penggunaan pensil
berujung lancip menghasilkan perubahan ke­pe­kat­an hitam yang
cepat, sehingga perlu lebih hati-hati. Praktikkan ju­ga dengan lebih
banyak jenis pensil dengan kelunakan grafit yang ber­beda dan pada
beberapa jenis kertas, untuk melihat efek yang di­ha­sil­kan. Sifat-sifat
grafit pensil dan permukaan kertas ini dapat di­man­fa­atkan pada saat
yang tepat untuk menghasilkan efek yang diperlukan da­lam gambar.

l Bayang-Bayang pada Suatu Bidang

Membuat bayang-bayang pada suatu bidang
yang relatif sempit, umum­nya kita lakukan de­
ngan gerakan pensil teratur kiri-kanan, ber­­ba­
lik arah ketika sampai pada bagian tepi tanpa
ke­su­litan. Tetapi un­tuk menghasilkan bayang-
ba­yang yang merata pada suatu bidang yang
agak luas kita sering mengalami kesulitan, ka­
rena terbentuknya be­be­rapa kumpulan garis
yang terlalu gelap berupa pita bayang-ba­yang
yang mengganggu gambar secara keseluruhan.

l Bayang-Bayang Tidak Tetap

Untuk mencegah terjadinya pita gelap pada
daerah bayang-bayang yang luas, lakukan
tekanan pensil yang lembut terutama untuk
meng­­ha­sil­kan bayang-bayang yang redup
atau tipis. Buat panjang goresan pen­sil dengan
in­ter­val yang kurang teratur, kadang panjang,
kadang pendek. La­ku­kan goresan yang tum­
pang-tin­dih bila­mana perlu, sehingga ke­pe­
katan yang di­hasilkan menjadi se­ra­gam. Un­
tuk bayang-ba­yang yang lebih gelap secara
ke­seluruhan, ar­sir dapat diulang pada bagian yang sama lebih lama.
Gambar kiri mem­per­lihatkan efek dari hasil goresan-goresan awal,
sedangkan ha­sil akhirnya tampak pada gambar kanan.

38

l Bayang-Bayang dengan Gerakan Melingkar

Alternatif lain untuk menghasilkan bayang-
ba­yang yang merata ada­lah menggunakan
ge­rakan pensil melingkar halus. Tekanan pen­
sil yang lembut dengan gerakan melingkar
ha­lus yang sa­ling menutupi menghasilkan
po­­la yang menutupi seluruh bidang secara
ber­tahap. Untuk bayang-bayang yang agak
te­rang, hati-hati, jangan terlalu menekan pen­
sil sehingga da­pat memperjelas bentuk ling­
karan-lingkaran kecil yang dibuat.

l Arsiran dengan Arah yang Jelas

Pada saat tertentu kita butuh efek yang memperlihatkan perbedaan
dua bidang tertentu. Untuk mengarsir dua bidang dengan bayang-ba­
yang yang mempunyai efek arah yang berbeda, lakukan dengan per­be­
da­an arah goresan yang jelas dari kedua bidang tersebut. Meskipun ba­
yang-bayang dibuat agak samar, tetapi efek yang timbul tetap nyata.
Hal ini digunakan untuk memperjelas perbedaan atau perubahan dari
per­mu­kaan kedua bidang, terutama pada pertemuan kedua bagian
sisi bidang datar. Tetapi hati-hatilah untuk tidak membuat perubahan
per­bedaan kerapatan dan kegelapan yang mencolok di daerah tengah
bi­dang arsir, karena dapat memberikan ilusi gelombang pada mata
se­hing­ga mengganggu gambar keseluruhan.

l Tekanan Garis Saat Membuat Bayang-Bayang

Ketika membuat bayang-bayang dengan arah arsir yang jelas, per­
be­da­an tekanan pensil dapat menghasilkan efek terang dan gelap.

39

Meng­atur tekanan pensil yang tepat saat
mem­buat garis-garis halus baik pan­jang
mau­pun pendek, akan memberikan efek
yang disesuaikan un­tuk gambar permukaan
ber­gelombang, serta permukaan dengan
teks­­tur tertentu seperti rambut atau re­rum­
put­an.

l Bayang-Bayang Bidang Kontur

Memberikan bayang-bayang untuk meng­
ha­sil­kan efek kontur atau per­be­daan ting­­
gi dan rendahnya suatu permukaan da­­
pat dilakukan de­ngan mengatur te­kan­an
pensil saat mengarsir. Perubahan te­rang
dan gelap pada suatu bidang akan meng­
ha­silkan efek kedalaman atau di­men­si.
Per­ubahan kepekatan dan arah bayang-
ba­yang secara ber­ta­hap juga akan sangat
mem­­bantu menguatkan efek perspektif
pa­da suatu gambar.

l Bayang-Bayang pada Gambar Perspektif

Garis dengan arah dan ketebalan yang jelas
dalam membentuk ba­yang-bayang sangat mem­
bantu dalam memberi kedalaman pada gam­bar
perspektif. Tetapi kesalahan penempatan ba­
yang-bayang ser­ta arah garis bisa memberikan
efek yang kurang baik.

Pada contoh gambar pertama terlihat efek
yang dihasilkan ba­yang-bayang dari arsir yang
kurang tepat pada gambar perspektif. Ke­sa­
lahan umum para pemula adalah membuat
bayang-bayang meng­ikuti arah salah satu garis
sisi bidang perspektif, dan mengacu pa­da garis
itu untuk seluruh bidang sisi tersebut. Akibatnya
efek yang dihasilkan bertentangan dengan ilusi
perspektif. Sedangkan efek yang diharapkan
muncul atau kesan dimensi yang dibayangkan
men­jadi sangat berkurang atau bahkan hilang.

40

Sebaiknya arah garis arsir bayang-bayang mengikuti pola per­spek­
tif, semua arah garis pada bidang tertentu mengarah ke suatu titik
le­nyap atau mengarah vertikal pada bidang sisi tegak. Latihlah untuk
me­la­kukan hal tersebut seperti tampak pada contoh gambar kedua.

Untuk memudahkan arah arsir terutama dalam bidang yang agak
luas, buatlah beberapa garis bantu ke arah titik lenyap. Arah arsir se­
lain mengarah ke titik lenyap, juga bisa dengan arah vertikal ke atas
atau bawah. Selain bayang-bayang dengan arah perspektif, kita juga
da­pat membuat bayang-bayang tanpa arah garis yang nyata, lakukan
de­ngan gerak pensil melingkar atau melembutkannya dengan gu­
lung­an kertas berbentuk pensil.

l Bidang Bersudut dan Lengkung

Benda berbentuk datar akan memantulkan cahaya yang hampir me­
rata pada seluruh bidang. Sedangkan bila terdiri atas beberapa bi­
dang datar yang membentuk sudut, maka setiap bidang datar tadi
akan memantulkan cahaya yang berbeda-beda tergantung sumber
ca­haya dan tekstur benda tersebut. Perhatikan gambar ketiga lem­
peng­an bersudut banyak berikut, cobalah membuat arsir yang ber­
beda tingkatan kepekatan warna hitam sehingga menghasilkan efek
yang baik.

Begitu juga bola dengan tekstur yang berbeda-beda akan meng­
ha­sil­kan bayang-bayang yang berbeda, meskipun sudut datang si­nar­
nya sama.

41

Latihlah mengendalikan tekanan pensil dan arah gerak agar lebih
baik, sehingga menghasilkan efek yang diinginkan. Juga rajinlah ber­
latih untuk memberikan bayang-bayang dengan arsir baik secara
me­ling­kar, ke suatu arah yang jelas, beberapa perubahan arah yang
nyata ser­ta beberapa pola tekstur lainnya guna melatih tangan dan
mata da­lam membuat dan melihat efek yang ditimbulkan.

Banyak berlatih dan mempelajari efek bayang-bayang akan me­
mu­dah­kan menghasilkan gambar dan lukisan selanjutnya. Berbagai
con­toh pada lembar-lembar selanjutnya dapat digunakan sebagai
pan­duan berlatih sehingga lebih mahir lagi.

Arah dan besarnya intensitas cahaya yang jatuh pada benda me­
me­nga­ruhi lokasi dan bentuk bayang-bayang. Arah datang sinar akan
me­nen­tukan arah jatuhnya bayang-bayang. Arah sinar yang datang
dari atas-kanan akan menghasilkan bayang-bayang di bagian bawah-
ki­ri dari benda yang terkena sinar. Intensitas cahaya yang kuat akan
mem­buat bayang-bayang yang tajam atau kontras terhadap bidang
yang terang. Semakin lemah intensitas cahaya akan menghasilkan ba­
yang-bayang yang semakin kurang kontras. Kedua hal ini dapat di­ilus­
trasikan pada contoh pertama dan kedua gambar di bawah.

42


Click to View FlipBook Version