• KONTRIBUTOR • Tentang
- Dewi Sri Sumanah,YSTC PRESTASI
- Ida Ngurah,YSTC
- Maulinna Utaminingsih,YSTC Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC),
- Ria Camelina,YSTC mitra kerja Save the Children
- Wina Natalia,Yayasan Kausa Resiliensi Indonesia melaksanakan Program Pengurangan
• PENYUNTING • Risiko Bencana di Sekolah Terintegrasi
- Dewi Sri Sumanah,YSTC (PRESTASI) didukung oleh Prudence
- Fajar Jasmin,YSTC Foundation. Proyek ini dilaksanakan
• DESAIN & TATA LETAK • selama tiga tahun, sejak Mei 2014 hingga
PT. Network Multimedia Mei 2017, di Kecamatan Penjaringan,
• FOTO SAMPUL DEPAN • Jakarta Utara di 5 kelurahan (Pluit,
Simulasi bencana kebakaran di MI Nurul Islam 2, Penjaringan, Kapuk Muara, Kamal Muara,
Penjaringan, Jakarta Utara. Foto: Dok.YSTC. dan Pejagalan). YSTC mendampingi 10
sekolah/madrasah di Penjaringan, yaitu:
Hak Cipta SDN Kapuk Muara 03, SDN Kapuk
Muara 01, SDN Penjaringan 04, SDN
Didukung Oleh: Kamal Muara 01, SDN Pejagalan 05,
Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Mujahirin, MI
© Mei 2017 Nurul Bahri, MI Al Muttaqin, MI Al Falah,
dan MI Nurul Islam 2.
Dalam proyek ini, YSTC mendampingi
sekolah dan madrasah untuk mengenal
PRB; melakukan identifikasi kerentanan,
kapasitas, dan bahaya; membuat
prosedur tetap (protap); membuat
media kampanye yang partisipatif; dan
melakukan simulasi.
Selain pendampingan sekolah dan
madrasah, secara bersamaan YSTC
melakukan advokasi kebijakan dan
perencanaan yang sejalan dengan
manajemen bencana di tingkat nasional,
provinsi, d an kabupaten/kota.
H al ini dilakukan agar dapat mencapai
tujuan sekolah/madrasah aman bencana.
YSTC juga berpijak pada tiga pilar
sekolah aman yang komprehensif.
Tiga pilar yang dimaksud adalah:
(1) Fasilitas Sekolah Aman;
(2) Manajemen Bencana di Sekolah; dan
(3) Pendidikan Pencegahandan
Pengurangan Risiko Bencana.
Kata Pengantar
Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) – Save the Children percaya setiap anak tidak
terkecuali, layak menyongsong masa depan. Di Indonesia dan di seluruh dunia,
kami memastikan kesehatan anak-anak sejak dini, kesempatan untuk belajar, dan
perlindungan terhadap bahaya. Kami melakukan apa pun untuk anak-anak – setiap
hari dan di saat krisis – untuk mengubah hidup mereka dan masa depan.
Visi kami adalah menciptakan sebuah dunia di mana setiap anak mendapatkan
pemenuhan hak atas kelangsungan hidup, perlindungan, pengembangan, dan
partisipasi. Misi kami adalah menginspirasi terjadinya terobosan baru tentang
bagaimana dunia seharusnya memperlakukan anak-anak dan untuk mencapai
perubahan yang langsung dan berkesinambungan dalam kehidupan mereka.
YSTC melaksanakan program pengurangan risiko bencana yang menyasar sekolah,
masyarakat, dan pemerintah setempat. Ini merupakan bagian dari strategi yayasan
untuk mewujudkan misi dan visi tersebut.
Kami berterima kasih kepada pihak-pihak yang membantu untuk mewujudkan
hal tersebut. Prudence Foundation, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Badan
Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta, Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, dan
Pemerintah Kota Jakarta Utara serta 10 sekolah/madrasah di Kelurahan Pluit,
Penjaringan, Kapuk Muara, Kamal Muara, dan Pejagalan, dampingan program yang
telah menjadi mitra kami tidak hanya dalam program Pengurangan Risiko Bencana
di Sekolah Terintegrasi (PRESTASI) tiga tahun terakhir ini, namun juga dalam
kerja-kerja advokasi yang kami lakukan.
Buku yang ada di tangan Anda saat ini adalah kumpulan praktik baik dari
pelaksanaan program tersebut. Semua ini kami peroleh dari cerita anak-anak,
masyarakat, dan pemerintah mitra kami. Setelah membaca buku ini, kami berharap
Anda tergugah dan tertarik untuk melakukan upaya-upaya mewujudkan sekolah/
madrasah aman bencana.
Terima kasih.
Selina Patta Sumbung
Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik
Daftar Isi
A. PILAR FASILITAS SEKOLAH AMAN
1. Fasilitas Aman, Sekolah pun Nyaman 1
2. Komitmen Tinggi, Kunci Wujudkan Sekolah Aman Bencana 5
B. PILAR MANAJEMEN BENCANA DI SEKOLAH
3. Penuhi Hak Anak Dalam Tanggap Darurat, 9
Wujudkan Sekolah Aman Bencana 13
17
4. Simulasi: Belajar Siap Siaga agar Selamat 21
25
5. Prosedur Tetap Bantu Warga Sekolah Pahami 29
Peran di Saat Darurat 33
6. Sinergitas Sekolah dan Para Pihak, Wujudkan Sekolah
dan Masyarakat Tangguh
7. Satu Komando Saat Darurat Bencana,
Kunci Koordinasi Antarpihak
8. Kelompok Siaga Bencana Pastikan Anak-anak
Dapatkan Haknya dalam Situasi Bencana
9. Ruang Ramah Anak Dalam Tanggap Darurat,
Pastikan Hak Anak Terpenuhi
C. PILAR PENDIDIKAN PENGURANGAN
RISIKO BENCANA DI SEKOLAH
10. BPBD:Targetkan 50 Sekolah Aman per Tahun 37
11. Penggunaan Anggaran dengan Tepat demi
41
Wujudkan Sekolah Aman
12. Anak Sampaikan Pesan Keselamatan Bencana Melalui Seni 45
13. Sektor Swasta Peduli Sekolah Aman Bencana 49
14. Sekolahku Aman, Prestasiku Gemilang 53
1
Anak-anak berdesak-desakan melalui satu-satunya pintu penghubung gedung satu dan gedung dua sebelum direnovasi. Foto: YSTC.
Madrasah Ibtidaiyah Al Muttaqin terletak di Jalan Kapuk Muara
No. 15 ini berada di area rawan kebakaran dan banjir. Peta indeks
bencana yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Survei dan
Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) menunjukkan bahwa wilayah
Kapuk Muara masuk dalam kategori tinggi untuk kawasan rawan
bencana banjir. Air pasang (rob) merupakan faktor utama penyebab
banjir di kawasan utara Jakarta ini.
Pergantian atap yang sudah akan roboh menggunakan baja ringan. Pengukuran dilakukan untuk memastikan ukuran dalam
Foto: YSTC. memperkuat pondasi bangunan. Foto: YSTC.
2 Tidak hanya terletak di kawasan rawan bencana, sekolah yang berdiri
sejak tahun 1982 ini juga terletak di area padat penduduk. Area sekolah
berdiri berhimpitan dengan bangunan perumahan dan berhadapan langsung
dengan jalan umum yang tak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor.
Sekolah juga berjarak kurang dari 200 meter dari aliran Kali Angke.
Agus Tjahjadi (48 tahun), menceritakan bahwa sejak tahun 1998, sekolah
mereka kerap menjadi tempat evakuasi sementara, bahkan pengungsian,
oleh masyarakat sekitar sekolah. Jumlahnya bahkan pernah mencapai
300 orang.
Agus dan teman-teman guru lainnya lalu menyadari bahwa selain kerap
dilanda banjir, setiap pasca banjir sekolah menjadi tempat pengungsian,
mereka melihat masalah baru yang timbul. “Setelah banjir, kami menghadapi
banyak masalah, mulai dari membersihkan sekolah, mengecek fasilitas hingga
melihat dinding dan kayu kusen yang lapuk dimakan rayap,” ungkap pria
yang telah mengajar di sekolah ini sejak tahun 1985. “Belum lagi fasilitasi
sekolah seperti peralatan kelas, buku-buku yang rawan rusak karena
banyaknya orang yang mengungsi,” tambahnya.
Sejatinya, sekolah telah melakukan beberapa pekerjaan fisik sebagai bagian
dari adaptasi situasi banjir yang kerap melanda sekolah mereka. Namun
hasilnya belum mampu mengurangi dampak banjir yang dapat mencapai
ketinggian hingga 100 cm tersebut.
Hingga pada Mei 2014, ketika YSTC dan didukung oleh Prudence Foundation
memulai program pengurangan risiko bencana di Jakarta Utara, Agus
merasa senang karena sekolahnya termasuk dari sepuluh sekolah yang
akan mendapat pendampingan khusus terkait isu Sekolah Aman Bencana.
Program ini membantu sekolah mereka untuk mewujudkan tiga pilar
utama dari sekolah aman bencana, yaitu fasilitas, manajemen bencana, dan
pendidikan pengurangan risiko bencana. Ia merasa bahwa ada harapan
untuk permasalahan banjir yang kerap melanda sekolahnya.
Program ini kemudian melakukan kajian dan penilaian struktur bangunan 3
gedung sebagai bagian dari upaya untuk melakukan perbaikan fasilitas
sekolah aman bencana. Hasilnya, perlu dilakukan penguatan struktur utama
dari bangunan karena tidak mampu menahan beban. Bangunan pun belum
memenuhi aspek ramah anak dan difabel seperti ramp atau jalan yang
melandai untuk kursi roda.
Kini, meskipun belum sempurna,
sekolahnya telah melakukan sejumlah
penyesuaian terkait upaya untuk
membuat bangunan sekolah mereka
lebih aman.
Setidaknya pihak sekolah telah memi-
liki tiga buah toilet, yang sebelumnya
hanya tersedia satu buah untuk lebih
dari 400 siswa. Sekolah juga telah
mengubah desain tangga peng-
hubung gedung atau ruangan di lan-
tai dua yang semula berbentuk curam
dan untuk melaluinya harus menunduk
guna menghindari
Tangga penghubung dibuat untuk mempermudah akses dari gedung
satu ke gedung dua. Foto: YSTC.
Setelah banjir, kami
menghadapi banyak
masalah, mulai dari
membersihkan sekolah,
mengecek fasilitas hingga
melihat dinding dan kayu
kusen yang lapuk
dimakan rayap.
Tangga penghubung gedung satu dengan gedung dua untuk mempermudah
akses para siswa. Foto: YSTC.
4 pembatas langit-langit yang terlalu rendah, menjadi lebih aman dan nyaman
untuk dilewati. Selain itu, sekolah juga membangun ruang guru di seberang
gedung utama sehingga ruang yang dulunya diperuntukkan sebagai ruang
guru sekarang menjadi ruang kelas belajar. Sedangkan untuk fasilitas, kepala
sekolah mengeluarkan kebijakan agar desain sisi meja ditumpulkan agar
tidak membahayakan murid.
Dokumen hasil kajian yang didapatkan selama pelaksanaan program men-
jadi acuan bagi madrasah yang berada di bawah payung Yayasan Ittiqon
ini untuk terus mencari dukungan dalam rangka renovasi bangunan. Agar
manajemen madrasah dapat terus melakukan penguatan dan perbaikan
infrastruktur demi menjadikan Al Muttaqin sebagai sekolah aman bencana.
5
Ibu Isria menerima bantuan perlengkapan pertolongan pertama dari YSTC dengan dukungan Prudence Foundation. Foto: YSTC.
Isria Sirubaya (46 tahun) boleh berbangga diri. Sekolah yang dipimpin-
nya mendapatkan pengakuan dari ASEAN Secretariat sebagai School
Safety Champion tingkat Asia Tenggara dalam kategori sekolah di
Konferensi Regional ASEAN untuk Sekolah Aman Bencana Februari
2017 silam. Penghargaan yang menjadi salah satu tanda komitmen
besar dari madrasah yang telah berdiri sejak 1982 ini dalam upayanya
melakukan penanggulangan bencana di lingkungan madrasah mereka.
Menerima penghargaan secara langsung dari Direktur Pendidikan Menjadi kepala Madrasah Ibtidaiyah
Khusus Layanan Khusus, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (MI) Al Muttaqin setidaknya dalam
Republik Indonesia. Foto: YSTC. dua dekade terakhir, Isria Sirubaya
telah melihat banyak hal terkait
perkembangan madrasah yang
terletak di Kelurahan Kapuk Muara,
Jakarta Utara ini. Selain madrasah
ini berada di lokasi rawan banjir dan
kebakaran, madrasah yang berada
di bawah payung Yayasan Ittiqon ini
juga sebelumnya menghadapi
tantangan akan rendahnya
komitmen guru dan orang tua
terhadap pemenuhan hak anak
dalam tanggap darurat bencana.
Ketika Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) - mitra kerja Save the Children,
memulai program Pengurangan Risiko Bencana di Jakarta Utara dengan
dukungan Prudence Foundation, madrasah ini menjadi salah satu sekolah
6 yang mendapatkan dampingan intensif untuk isu bencana. Program
menitikberatkan pada tiga pilar utama Sekolah Aman Bencana, yaitu
fasilitas sekolah aman bencana, manajemen bencana di sekolah, dan
pendidikan pengurangan risiko bencana. Isria menyambut baik inisiatif ini.
Bu Isria terlibat aktif dalam penyusunan rencana kontinjensi di kecamatan Penjaringan. Foto: YSTC.
Simulasi Bencana kebakaran di MI Al Muttaqin. Foto: YSTC.
Komitmen dari kepala madrasah sangat penting untuk mendukung 7
keberhasilan program ini. Agar komitmen ini dapat ditularkan kepada
para guru dan orang tua murid sekolah ini.
“Saya ingin mewujudkan madrasah yang lebih nyaman dan aman bagi anak-
anak,” ungkapnya.“Itu (rasa aman dan nyaman) merupakan bagian dari hak
hidup dan hak tumbuh kembang mereka juga,” tambah ibu dua anak ini.
Meskipun sekolah telah memiliki jadwal belajar mengajar yang terbilang
padat, Isria selalu berusaha agar 439 murid, 15 guru, dan enam stafnya
mendapat manfaat dari kegiatan pengenalan pengurangan risiko bencana
dari YSTC. Mengingat madrasah ini memang membutuhkan bantuan teknis
karena berada di lokasi rawan, program ini disambut baik tidak hanya oleh
kepala madrasahnya, tetapi juga para guru dan siswanya. Sehingga komitmen
sudah terbangun sejak awal program dimulai.
Hasilnya, madrasah yang berada di wilayah padat pemukiman dan industri
ini telah melakukan sejumlah kegiatan yang masuk ke dalam kategori tiga
pilar sekolah aman bencana tersebut. Misalnya, perbaikan dan penguatan
struktur bangunan madrasah, mengubah desain tangga penghubung
gedung/ruangan kelas di lantai dua, menumpulkan ujung meja belajar, hingga
penambahan toilet dan membangun
Saya ingin mewujudkan gedung baru di seberang gedung
madrasah yang lebih utama untuk mengurangi kepadatan
jumlah siswa di ruang kelas. Hingga
nyaman dan aman bagi pemasangan peta dan rambu-rambu
anak-anak. Itu (rasa aman evakuasi di titik-titik yang sudah
dan nyaman) merupakan disepakati bersama.
bagian dari hak hidup
dan hak tumbuh kembang Bahkan, ungkap Isria, kini madra-
mereka juga.
sahnya telah memiliki prosedur tetap
(protap) dalam situasi bencana. Ia
bahkan tidak pernah putus berkoor-
dinasi dengan kantor kelurahan dan
masyarakat dalam situasi banjir atau kebakaran. Melalui program dua tahun
ini, madrasah yang dipimpinnya menginisiasi membentuk komunitas siaga
bencana yang beranggotakan orang tua murid madrasahnya.
Selain memperbaiki struktur bangunan fisik sekolah, Isria sangat mendukung
upaya peningkatan kapasitas murid dan tenaga pengajar di madrasahnya.
8 Melalui pendampingan secara intensif dari fasilitator yang datang, murid-
murid telah mampu melakukan kampanye siaga bencana dengan media
pertunjukan boneka tangan, wayang, teater, puisi hingga musik.
Pelbagai pelatihan telah didapatkan oleh para guru dan telah diteruskan
ke guru-guru lainnya. Pelatihan-pelatihannya seperti pengurangan risiko
bencana, seperti adaptasi perubahan
iklim, kajian kerentantan, kapasitas,
dan bahaya, serta pelatihan mem-
buat rencana mengajar dengan
memasukkan unsur-unsur pengurangan
risiko bencana. Keikutsertaan elemen
sekolah dalam pelaksanan program
ini merupakan bentuk komitmen
dari pihak sekolah. Tujuannya agar
tersedianya sarana dan prasarana
pendidikan yang baik untuk anak-
anak, terutama dalam isu kebencanaan.
Tim Sahabat Siaga Bencana MI Al Muttaqin mensosialisasikan sekolah
aman bencana kepada teman-temannya melalui boneka tangan.
Foto: YSTC.
9
Tim Sahabat Siaga Bencana MI Al Muttaqin sedang membuat peta ancaman bencana di sekolahnya. Foto: YSTC.
Pada Kamis, 17 November 2016 lalu, pukul 09.00 pagi terjadi
kebakaran di permukiman penduduk di Kapuk Muara. Lokasi
kebakaran tidak jauh dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Muttaqin,
sekitar 900 meter saja. Sirene di MI berbunyi. Anak-anak murid
dipandu oleh para guru berkumpul di halaman sebagai tempat
aman. Selain itu agar mudah memobilisasi evakuasi bila diperlukan.
“Saat itu situasinya kacau, mengingat kebakaran tersebut bisa berdampak
besar pada lingkungan kami,” ungkap Isria Sirubaya, kepala madrasah ini
mengenang kejadian yang merusak sekurang-kurangnya 214 rumah warga
tersebut.
Setelah murid dan guru berkumpul di halaman madrasah, ia lalu memerintah-
kan untuk dilakukan pengecekan terhadap murid dan menutup gerbang
madrasah untuk mengamankan murid-murid yang kemungkinan berlarian
ke luar area madrasah sehingga sulit untuk dilakukan pendataan. Juga, untuk
memudahkan pencarian anak bila ada orang tua yang datang menjemput
anaknya. Madrasah lalu melakukan pengecekan dan koordinasi dengan
pihak kelurahan untuk mencari informasi apakah ada rumah muridnya yang
menjadi korban kebakaran. Ia mendapatkan informasi bahwa sekurang-
kurangnya dua puluh rumah siswa menjadi korban kebakaran. Apa yang
dilakukan oleh Isria ini adalah langkah-langkah dalam prosedur tetap
(protap).
Dalam suasana riuh tersebut, ia mendapat laporan dari salah seorang
10 guru bahwa ada tiga orang datang ke madrasah mengaku sebagai orang
Tim Sahabat Siaga Bencana sedang mendapatkan materi penguranagn risiko bencana melalui permainan. Foto: YSTC.
Selama kurang lebih
tiga tahun, program
ini telah mengajarkan
kami banyak pengetahuan
tentang hak anak, dan
perlindungan anak
dalam kedaruratan.
Guru MI Al Muttaqin menjelaskan kepada siswa tentang 11
prosedur tetap bencana kebakaran di sekolah. Foto: YSTC
tua murid dan bermaksud menjemput anaknya. Isria lalu melakukan
pengecekan termasuk menanyakan ke murid yang dimaksud dan ternyata
orang tersebut bukan orang tua siswa bersangkutan.
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan untuk melindungi anak
ketika bencana tidak hanya berkaitan dengan perlindungan hidup, namun
juga hak-hak lainnya. Mitra YSTC yaitu Save the Children adalah salah
satu anggota utama dari Child Protection Working Group di tingkat global.
Kelompok ini menelurkan Standar Minimum Perlindungan Anak dalam Aksi
Kemanusiaan yang telah dikontekstualisasikan oleh Kementerian Sosial
pada tahun 2015.
Standar minimum ini memuat panduan pagi praktisi anak dalam melaksanakan
perlindungan anak dari semua bentuk kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi,
dan penelantaran terhadap anak. Dalam situasi darurat, anak-anak rentan
terhadap risiko terpisah dari keluarganya, migrasi yang tidak aman,
kekerasan fisik dan seksual, dan eksploitasi dari berbagai tindakan yang
membahayakan kesehatan dan kesejahteraan mereka.
Program ini juga melibatkan masyarakat sekitar sekolah dampingan dalam
meningkatkan kapasitas mencegah dan siap dalam upaya penanggulangan
bencana. Lebih jauh lagi, secara
khusus mendorong komitmen dan
Bisa menimbulkan kapasitas pemerintah setempat
persoalan yang lebih hingga tingkat nasional dalam
besar kalau saya tidak pendekatan pengurangan risiko
memahami hal-hal terkait bencana berbasis sekolah.
perlindungan anak
Apa yang dilakukan oleh Isria
ketika bencana. dalam melindungi muridnya
tersebut mencerminkan peningkatan
pengetahuan dan keterampilan
tentang bagaimana tindakan yang harus dilakukan terhadap anak dalam
situasi kedaruratan. “Selama kurang lebih dua tahun, proyek ini telah
mengajarkan kami banyak pengetahuan tentang hak anak, dan perlindungan
anak dalam kedaruratan,” kata Isria. “Dalam simulasi yang kami lakukan,
kami terus menerapkan pengetahuan tersebut,” tambahnya.
Isria mengakui bahwa pengalaman mencegah orang asing membawa
12 muridnya dalam kebakaran yang menyebabkan sekurang-kurangnya 1.200
jiwa mengungsi tersebut memberikan pelajaran berharga.“Bisa menimbul-
kan persoalan yang lebih besar kalau saya tidak memahami hal-hal terkait
perlindungan anak ketika bencana,” pungkasnya.
Tim sahabat Siaga Bencana MI Al Muttaqin mengkampanyekan sekolah aman bencana di Banten dalam peringatan Humanitarian Day yang diadakan
oleh UN Habitat dan Konsorsium Pendidikan Bencana. Foto: YSTC.
13
Proses simulasi bencana kebakaran di MI Al Muhajirin. Foto: YSTC.
Suara sirene meraung-raung di Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Al Muhajirin Teluk Gong, Pejagalan, Jakarta Utara. Puluhan siswa
bergerak cepat menjauhi gedung sekolah. Sebagian guru memandu
murid yang masih di dalam kelas untuk berjalan merangkak. Sebagian
guru lain mencoba mematikan titik api yang berada di lantai II
dengan peralatan pemadam. Para murid dikumpulkan di assembly
point (titik kumpul) di luar area madrasah.
Tim Siaga Sahabat Siaga bencana sedang melakukan sosialisasi tentang kesiapsiagaan bencana kepada teman-teman sebayanya. Foto: YSTC.
14 Begitulah sedikit gambaran suasana simulasi bencana kebakaran di MI Al
Muhajirin. Simulasi tersebut merupakan bagian dari program Pengurangan
Risiko Bencana (PRB) di lingkungan sekolah oleh Yayasan Sayangi Tunas
Cilik (YSTC) - mitra kerja Save the Children.
Kepala MI, Laila Latansa menerangkan, kegiatan yang diikuti seluruh
masyarakat sekolah ini bertujuan mengetahui kesiapan sekolah dan
siswa dalam menanggulangi bencana kebakaran. Dengan simulasi, seluruh
komponen sekolah akan lebih peka terhadap bencana. Selain proses
evakuasi, sekolah dan siswa harus mengetahui proses penanganan pertama
bila bencana menimpa sekolah. “Intinya, simulasi memberikan pengetahuan
dan keterampilan sekolah menghadapi bencana. Bertujuan meminimalkan
adanya korban. Selama ini kan kita tahunya teori,” terang Laila.
Sebelum kegiatan praktik simulasi, para guru dan kepala sekolah menyusun
terlebih dahulu prosedur tetap (protap) menghadapi bencana. Protap ini
penting sebagai acuan kesiapsiagaan sekolah. Baik mulai tahap pra, tanggap,
aman, hingga pascabencana.“Siapa saja tidak menginginkan terjadinya
bencana.Tetapi, tetap harus diketahui prosedur penanganannya,” lanjut dia.
Laila sadar betul dampak yang Intinya,
ditimbulkan bencana akan jauh simulasi memberikan
lebih besar jika tidak ada persiapan.
Karena itu, kepala sekolah yang pengetahuan dan
masih berusia 25 tahun ini cukup keterampilan sekolah
serius mempersiapkan program menghadapi bencana.
aman bencana di MI Al Muhajirin. Bertujuan meminimalkan
Komitmen itu ditunjukkan Laila sejak
proses pembuatan protap di sekolah. adanya korban.
Selama tiga hari, Laila tidak pernah Selama ini kan kita
absen dari ruang rapat. Dia
memimpin proses penggodokan tahunya teori.
protap siaga bencana hingga
akhirnya dipraktikkan dalam
bentuk simulasi kebakaran.
Kehadiran kepala madrasah mendampingi langsung sepanjang kegiatan 15
memberi motivasi tersendiri. Guru maupun siswa yang terlibat tentu merasa
diayomi. “Ini kan kerja kelompok, semua sudah ada tugas masing-masing,
tetapi tetap satu komando untuk memudahkan koordinasi,” terangnya.
Keseriusan ini juga ditunjukkan ketika melihat potensi bencana yang
mengancam sekolahnya. Selain berdiri di daerah padat penduduk dengan
potensi kebakaran, MI Al Muhajirin juga terletak di kawasan yang rentan
terdampak banjir. “Sepertiga waktu siswa dihabiskan di sekolah, di sini juga
ada asrama, di mana pengawasan
menjadi tanggung jawab sekolah.
Musibah bisa terjadi di mana saja
dan tidak mengenal waktu,” katanya.
Karena itu, Lalila mengajak seluruh
komponen sekolah, khususnya guru
dan murid tidak menganggap
program ini sekadar seremoni.
Protap yang telah dibuat tidak hanya
sekadar bagian dari syarat sekolah
aman bencana, tetapi benar-benar
menjadi pedoman.“Ini simulasi
pertama untuk seluruh warga sekolah
Salah satu anggota tim Siaga Sahabat Bencana membantu
melakukan evakuasi dalam simulasi di madrasahnya. Foto: YSTC.
Anak-anak menuju tempat evakuasi dengan tertib dalam
simulasi bencana kebakaran. Foto: YSTC.
dan menjadi pembelajaran yang
baik. Semoga program bisa dilaku-
kan secara berkala dan ada pen-
dampingan terjadwal,” harap Laila.
Pentingnya simulasi dalam
praktik kesiapsiagaan bencana
juga disampaikan Kepala Bidang
Pencegahan BPBD dan Kesiap-
siagaan BPBD DKI Jakarta, Tri
Inderawan. Menurut dia,
penanggulangan bencana memang
tidak lagi dititikberatkan pada
penanganan kedaruratan, melainkan
pengurangan risiko bencana.
Namun, pada akhirnya keadaan ini menuntut kesiapsiagaan masyarakat
untuk menghadapi risiko. Salah satunya melalui kegiatan simulasi.“Simulasi
adalah sarana melatih keterampilan untuk menanggulangi apabila bencana
terjadi, tetapi juga diperlukan mitigasi untuk mengurangi terjadinya risiko
16 bencana, baik korban jiwa maupun materi,” terangnya.
Praktik simulasi juga tidak hanya bagi petugas terkait kebencanaan, namun
juga masyarakat yang rentan terdampak bencana, termasuk pelajar.
Bahkan, lanjut Tri, justru pembinaan dan pelatihan penanggulangan bencana
perlu diberikan sejak dini, mulai dari sekolah jenjang paling bawah. “Karena
kalau masih anak-anak akan dapat
diingat, kalau dewasa kan bisa cari Simulasi adalah
referensi dari mana-mana,” sarana melatih
tambahnya. Menurutnya, masih keterampilan untuk
tingginya angka korban jiwa akibat menanggulangi apabila
bencana alam di Indonesia tidak bencana terjadi, tetapi
hanya karena kurangnya kesigapan juga diperlukan mitigasi
dari pemerintah dalam meng- untuk mengurangi
antisipasi bencana alam. Namun, terjadinya risiko bencana,
hal tersebut juga disebabkan
kurangnya kesiapan masyarakat baik korban jiwa
dalam melakukan persiapan dini maupun materi.
menghadapi bencana.
17
Tim Sahabat Siaga Bencana SDN Kapuk Muara 01 melakukan sosialisasi sekolah aman bencana di depan teman-temannya. Foto: YSTC.
SDN Kapuk Muara 01 terletak di Jalan Kapuk Muara Raya, Jakarta
Utara, SDN 01 Kapuk Muara termasuk salah satu sekolah yang rentan
terdampak banjir. Salah satu kelurahan yang tidak kunjung lepas dari
masalah banjir. Lebih dari itu, SDN 01 Kapuk Muara berdiri tidak jauh
dari aliran Kali Angke yang bermuara di Teluk Jakarta. Setiap kali
hujan mengguyur ibu kota, nyaris pasti permukaan air sungai tersebut
naik dan bahkan tidak jarang meluap.
Lantaran berada tidak jauh dari pesisir Jakarta, SDN 01 Kapuk Muara juga
kerap terancam rob. Dampak pasang surut air laut yang berlangsung setiap
hari semakin terasa ketika puncak pasang datang.Ancaman semakin menjadi
apabila gejala alam itu datang bersamaan hujan.Tidak heran guru maupun
murid SDN 01 Kapuk Muara akrab dengan banjir. Berbagai cara sudah
dilakukan guna meminimalisir dampak banjir, namun tetap saja imbasnya
terasa.Alhasil mereka harus siap apabila banjir menerjang.
Hingga pada 2014,Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) - mitra kerja Save
the Children memulai program pengurangan risiko bencana (PRB) di 10
sekolah dan madrasah Penjaringan, Jakarta Utara.YSTC turun langsung ke
lapangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai PRB.
Selain itu,YSTC juga mengajak masyarakat untuk membuat prosedur tetap
(protap) ketika terjadi bencana.
Sejak tahun 2016,YSTC mulai mengenalkan program sekolah aman bencana
di beberapa sekolah dan madrasah.Termasuk SDN 01 Kapuk Muara. Berbagai
agenda dilaksanakan. Mulai dari materi sampai praktik.Termasuk di antara-
nya membuat protap ketika terjadi bencana. Fitriyanto, salah satu guru di
sekolah ini mengungkapkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan YSTC
amat bermanfaat. Sekarang sekolahnya sudah memiliki dokumen kajian
kerentanan, kapasitas, dan bahaya, hingga adanya protap yang selalu
18 diperbaharui setiap tahunnya.
Pasca kedatangan YSTC ini, masyarakat yang tinggal di sekitar SDN 01
Kapuk Muara semakin sadar akan PRB. ”Panduan rencana kedaruratan
bencana sangat membantu kami, khususnya guru, murid, dan masyarakat,”
ungkap dia.
Panduan rencana
kedaruratan bencana
sangat membantu kami,
khususnya guru, murid,
dan masyarakat.
SDN Kapuk Muara 01 melakukan simulasi bencana
gempa bumi. Foto: YSTC.
Anak-anak melakukan praktik berlindung di bawah meja sambil Tim Sahabat Siaga Bencana praktik melakukan pertolongan
berpegangan pada kaki meja saat simulasi gempa bumi. Foto: YSTC. pertama pada saat simulasi bencana. Foto: YSTC.
Mereka pun mendapat pengetahuan mengenai cara dan teknik berhadapan 19
dengan bencana. Itu penting karena kita harus siap kapanpun jika terjadi
bencana. “Setiap upaya evakuasi bertujuan menyelamatkan jiwa,” ujarnya.
Bukan hanya masyarakat sekitar, warga SDN 01 Kapuk Muara juga turut
mendapat panduan mengenai rencana kedarutan bencana. Guru, siswa, dan
karyawan di sekolah tersebut turut dilatih oleh tim dari YSTC. “Para siswa
dan seluruh penghuni sekolah dibekali pengetahuan yang cukup. Bagaimana
harus bersikap untuk tetap tidak panik saat menghadapi bencana,” kata
Fitriyanto. Lebih dari itu, para murid dianjarkan untuk tidak egois dan
mementingkan diri sendiri sehingga mereka bersedia untuk bahu-membahu.
Pria yang saat ini mengajar di kelas V SDN 01 Kapuk Muara itu mengakui
bahwa ancaman banjir bukan hanya datang lantaran sekolah tempat dia
bekerja berada di daerah rawan banjir. Melainkan juga infrastruktur serta
fasilitas sekolah di SDN 01 Kapuk Muara belum memadai. Bukan hanya
untuk berhadapan dengan banjir, melainkan juga untuk menghadapi
kebakaran. ”Tidak ada tangga darurat,” kata Fitriyanto. Bahkan alat
pemadam kebakaran ringan (APAR) pun hanya satu unit.“Tidak ada sirene
dan alat lain untuk kebencanaan, kemarin kita waktu simulasi pakai bel
sekolah,” tambahnya.
Selain terganggu banjir, SDN 01 Kapuk Muara kerap menjadi tempat
mengungsi bagi masyarakat yang juga terdampak banjir. Pasca kedatangan
YSTC, Fitriyanto mengungkapkan bahwa dia dan instansinya bisa berbuat
lebih banyak untuk masyarakat. Bukan sekadar menjadikan sekolah sebagai
lokasi pengungsian, melainkan juga turut terlibat ketika terjadi bencana di
kawasan sekolah ini.“Setelah dapat panduan Protap, kami jadi bisa bantu
yang bersifat tanggap darurat. Misalnya evakuasi,” jelas dia.
Kegiatan pelatihan penyusunan protap dianggap turut meningkatkan
kemampuan warga sekolah dan masyakarat sekitarnya dalam tanggap
darurat. Khususnya kemampuan berhadapan dengan bencana.Apalagi
dalam agenda itu turut dilaksanakan simulasi sehingga guru, murid, maupun
karyawan SDN 01 Kapuk Muara tahu harus berbuat apa ketika terjadi
bencana.“Kami dilatih penyusunan Protap tanggap darurat, pelatihan P3K
(red: yang sekarang lebih dikenal dengan PP-pertolongan pertama), dan
simulasi,” jelasnya.
Hasilnya, saat ini SDN 01 Kapuk Muara sudah memiliki Protap yang bisa
mereka terapkan ketika terjadi bencana. Baik banjir, kebakaran, maupun
bencana lain yang berpotensi terjadi tanpa kenal waktu. Setelah pelaksanaan
proyek selesai, SDN 01 Kapuk Muara memang belum melaksanakan simulasi
seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Namun demikian, kegiatan itu
20 akan dilakukan setelah pihak sekolah menemukan waktu yang pas. Sebab,
saat ini masih sering berbenturan dengan kegiatan belajar-mengajar. “Pasti
akan kami terapkan lah. Kemarin katanya kalau bisa setahun 2 kali, lha ini
kan baru sebulan lalu,” tambahnya lagi.
Program pengurangan risiko bencana
yang sudah dilaksanakan selama
tiga tahun ini telah merangkul
banyak pihak. Sekolah, masyarakat,
dan pemerintah setempat telah
mendapatkan peningkatan kapasitas
pengetahuan dan keterampilan yang
dapat diterapkan guna mengurangi
dampak dari bencana.
Guru Siaga Bencana praktik melakukan pertolonga pertama
pada saat simulasi bencana di SDN Kapuk Muara 01. Foto: YSTC.
21
Tim Sahabat Siaga Bencana SDN Pejagalan 05 melakukan praktik pertolongan pertama pada saat simulasi bencana. Foto: YSTC.
Bencana banjir cukup akrab dengan masyarakat di Pejagalan,
Jakarta Utara. Letak geografis kelurahan seluas 323,10 hektar
tersebut memang sulit mengelak dari ancaman banjir. Hampir semua
batas wilayah Pejagalan di kelilingi Kali Angke dan Kali Ciliwung yang
terhubung ke Laut Jawa.
Sadar akan kondisi geografis yang kurang memihak wilayah
Pejagalan, pemerintah provinsi DKI Jakarta melakukan langkah
antisipasi dengan meninggikan tanggul Kali Angke dan membuat
sodetan Banjir Kanal Timur. Serta, memasang pompa air untuk
mengurai genangan air.
Guru dan Tim Sahabat Siaga Bencana SDN Pejagalan 05 menerangkan cara berlindung di bawah meja yang benar pada saat
terjadi gempa bumi. Foto: YSTC.
22 Namun itu semua belum cukup, tetapi juga dibutuhkan manajemen
perencanaan penanggulangan bencana (perencanaan kontinjensi) yang
baik di tingkat kelurahan. Baik sebelum, ketika terjadi, maupun setelah
bencana. Perencanaan pada hakikatnya adalah alat yang digunakan untuk
memastikan masa depan lebih baik. Dalam konteks risiko bencana, masa
depan lebih baik dicirikan dengan kesiapan menghadapi bencana,
meminimalisir dampak, dan kemampuan pulih dengan baik.
Staf Kelurahan Pejagalan, Abdul Latief mengungkapkan, sebagai daerah
rawan bencana, khususnya banjir, Kelurahan Pejagalan menganggap rencana
kontinjensi sangat penting.“Pengurangan risiko bencana itu kan upaya
sistematis dalam menerapkan kebijakan. Termasuk strategi dan tindakan
untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat,” terangnya.
Proses mengulas ulang dokumen kontinjensi yang sudah ada dan melakukan
pembaharuan dokumen ini didampingi oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik
(YSTC) - mitra kerja Save the Children. Program yang diterapkan fokus
pada bencana banjir mengingat potensi bencana di wilayah tersebut. Proses
perumusannya melibatkan seluruh unsur di kelurahan Pejagalan, termasuk
perwakilan sekolah-sekolah yang tersebar di kelurahan berpenduduk
69.742 jiwa ini.“Ada BPBD, sekolah dan madrasah tingkat SD, SMP, LMK,
Karang Taruna, Ibu-ibu PKK, dan FKMD,” katanya lagi.
Rencana kontinjensi membantu kelurahan Pejagalan dalam memperbaiki
manajemen kesiapsiagaan bencana. “Sebagai pedoman, di samping itu
bisa menyamakan persepsi, paham tupoksi (tugas, pokok, dan fungsi),
lebih profesional dan tanggung jawab, sehingga tepat sasaran,” kata dia.
Selepas perumusan rencana kontijensi, pihak kelurahan sudah melaksanakan
simulasi dalam ruang tetapi belum simulasi di lapangan. Latief mengungkap-
kan, satu bulan terakhir kelurahan disibukkan dengan persiapan Pilkada DKI
Jakarta.“Kami terakhir simulasi tahun lalu (2016), waktu itu latihan bencana
kebakaran,” tambahnya lagi.
Kelurahan Pejagalan cukup berpengalaman dalam kebencanaan, khususnya 23
banjir. Ditunjukkan dengan persiapan perlengkapan ketika banjir.Ada dua
perahu siap di gedung kelurahan yang biasa digunakan untuk evakuasi
warga dan mendistribusikan logistik. Sejumlah perlengkapan keselamatan
seperti jaket keselamatan, pelampung, dan alat pemadam juga tersimpan
rapi di gudang. Bangunan kelurahan pun juga dilengkapi sirene pendeteksi
kebakaran dan alat pemadam.
Menurut Latief, kelurahan juga sudah membuat rancangan koordinasi ketika
bencana banjir di bawah komando Sekretaris Kelurahan.Tepatnya sejak dua
tahun terakhir atau selepas pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB).
Pelajar dinilai kelompok yang paling rentan menjadi korban bencana alam.
Khususnya ketika sedang kegiatan belajar-mengajar. Di Pejagalan sendiri
terdapat 20 sekolah setingkat SD dan SMP. Jumlah murid mininal 600 orang
di masing-masing sekolah. Karena itu dibutuhkan sinergisitas antara para
pemangku kepentingan di tingkat kelurahan bersama sekolah di sekitar.
Kepala Sekolah SD Negeri Pejagalan 05 Muhammad Yusuf mengungkapkan,
pihak sekolah siap bersinergi dengan semua pihak dalam rangka meningkatkan
kesiapsiagaan mengantisipasi bencana di lingkungan sekolahnya. Ia sadar,
dalam situasi bencana, jatuhnya korban jiwa merupakan potensi yang tidak
* BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), LMK (Lembaga Masyarakat
Kota), PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), LMK (Lembaga Masyarakat Kota), FKDM (Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat).
bisa dihindari.“Kami tidak meminta (bencana), tetapi kami sadar anak atau
siswa merupakan kelompok rentan yang membutuhkan dukungan khusus
ketika bencana,” ujarnya.
Ia mengakui, sejauh ini koordinasi penanganan bencana dengan pihak
kelurahan belum optimal. Koordinasi sebatas dari pihak sekolah memberi
himbauan kepada wali murid saat terjadi banjir, salah satu contohnya
guru sekolah meminta orang tua murid yang menjemput anak. Hal ini
menghindari penculikan di saat situasi darurat bencana.
Meskipun baru satu tahun mengemban tugas di SDN Pejagalan 05,Yusuf
sadar pentingnya kesadaran membangun kesiapsiagaan bencana. Mengingat
pengalaman buruk pernah menimpa sekolah. “Saya dapat cerita, awal 2013,
sekolah tergenang lebih dari satu meter. Banyak buku dan dua laptop
terendam,” katanya.
Karena itu, dia pun berkomitmen membuka pintu selebar-lebarnya terhadap
pihak manapun yang ingin berkontribusi terhadap penanganan bencana.
24 “Asalkan kegiatannya harus disesuaikan, jangan sampai mengganggu
kegiatan belajar-mengajar,” lanjutnya.
Simulasi ruang rencana kontinjensi banjir kelurahan Pejagalan yang diikuti oleh perwakilan
RW, sekolah, LMK, PKK, KSB, Babinsa, Damkar, Satpol PP dan PPSU. Foto:YSTC
25
Identifikasi untuk persiapan simulasi rencana kontinjensi banjir di Kelurahan Kapuk Muara. Foto: YSTC.
Hujan lebat mengguyur wilayah Kelurahan Kapuk Muara selama
lima jam. Kali Angke yang melintas di kelurahan seluas 1000,5 hektar
mulai meluap. Pintu air Pasanggrahan dilaporkan ada kenaikan status
siaga I. Air mulai menggenangi pemukiman warga hingga mencapai
75 sentimeter. Satuan Kerja setingkat kelurahan bersama elemen
masyarakat di Kelurahan Kapuk Muara melakukan koordinasi.
Mereka melakukan verifikasi informasi kepada Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta. Selanjutnya Lurah mengerah-
kan seluruh perangkat kelurahan, petugas Pemelihara Prasarana dan
Sarana Umum (PPSU), tim reaksi cepat, dan Kelompok Siaga Bencana
(KSB) untuk mengaktifkan rencana kontinjensi keluarahan Kapuk
Muara.
KSB, masyarakat dan sekolah mendapatkan pelatihan cara mendirikan tenda
untuk situasi darurat di Kelurahan Kapuk Muara. Foto: YSTC.
26
Kejadian tersebut merupakan gambaran ringkas skenario kegiatan Table
Top Exercise (TTX) atau simulasi yang dilaksanakan di ruangan oleh unsur-
unsur terkait dalam penanggulangan bencana di Kelurahan Kapuk Muara.
TTX adalah kegiatan dalam menguji rencana kontinjensi sebelum dilaksanakan
kegiatan lapangan atau simulasi.
Sejumlah perangkat setingkat kelurahan hadir dalam pelaksanaan kegiatan
tersebut, baik Lurah, KSB, Bintara Pembina Desa (Babinsa), PPSU, PKK,
perwakilan BPBD DKI Jakarta, Camat Pejaringan, dan juga perwakilan
sekolah mulai tingkat SD hingga SMA bukan hanya sebagai kelompok rentan
sekolah dilibatkan tetapi juga karena membangun sekolah aman harus ter-
integrasi dengan PRB di dalam komunitas.
Penting untuk bekerja dengan banyak pihak dan tidak hanya dengan sekolah
yang rentan saja. Alasannya adalah membangun sekolah atau madrasah
aman harus terintegrasi dengan program pengurangan risiko bencana di
masyarakat sekitarnya.
Sekretaris Kapuk Muara, Saud
mengaku sangat antusias terhadap
kegiatan tersebut. Menurutnya, TTX
merupakan pengalaman pertama
dirinya maupun masyarakat Kapuk
Muara. Tambahnya lagi, kegiatan
simulasi TTX ini diperagakan sudah
sesuai dengan kondisi Kapuk Muara
ketika diterjang banjir 2013 silam.
“Kegiatan ini bisa menjadi refleksi
kita, mengingatkan kembali ketika
terjadi bencana,” terangnya.
Saud berpendapat, jika kegiatan
kesiapsiagaan bencana yang
diinisiasi oleh Yayasan Sayangi Tunas Verifikasi data dokumen rencana kontinjensi Kelurahan
Cilik (YSTC) - mitra kerja Save the Kapuk Muara. Foto: YSTC.
Children sudah sesuai Protap. Yakni
sistem klaster dengan mengelompokkan perangkat berdasarkan keahliannya 27
agar penanganan berjalan maksimal, tetapi tetap satu komando.
“Penanganan bencana itu sarat dengan koordinasi dan komando. Jadi tidak
boleh banyak tangan, harus satu komando. Saya kira menunjuk Pak Lurah
sebagai koordinator kemarin sudah pas,” jelasnya.
Saud berharap, kegiatan ini bisa menyadarkan seluruh elemen masyarakat
di Kapuk Muara bahwa mereka berada di kawasan rawan bencana
banjir, sehinga lebih mengerti dan tahu pentingnya kesiapsiagaan bencana
agar tidak ada jatuh korban dan
Kegiatan ini bisa kerugian harta benda akibat
menjadi refleksi kita,
banjir. Dia juga meminta, simulasi
mengingatkan bencana yang sudah berjalan ini
kembali ketika bisa berkesinambungan.
terjadi bencana.
Harapannya, adanya simulasi
rutin mampu menumbuhkan
kesadaran masyarakat terhadap
Salah satu cara efektif meningkatkan
pengetahuan kebencanaan perlu pelatihan lanjutan
dan berkesinambungan dengan melibatkan
komponen sekolah. Dari situ nanti akan
menular ke masyarakat, bukan saja perangkatnya
yang mendapat tambahan pengetahuan.
penanggulangan bencana dan tidak ada korban jiwa akibat ketidakpahaman
cara menyelamatkan diri dari bencana.“Tetapi poin utamanya adalah perlu
adanya keterpaduan langkah di seluruh jajaran pemerintah dan lapisan
masyarakat. Kalau boleh saran, pihak-pihak lain seperti PLN juga dilibatkan,
meskipun bencana banjir, tetapi listrik juga harus dikontrol,” papar dia.
28
Hadirnya perwakilan sekolah di lingkungan Kapuk Muara juga menjadi
nilai tambah kegiatan TTX. Menurut Saud, pelatihan fasilitator dari YSTC
inilah yang mendorong pembentukan Sekolah Siaga Bencana (SSB) di Kapuk
Muara.
Harapannya, para siswa membuat jejaring di lingkungan sekolah dan
menggetoktularkan kepada remaja sebayanya, sehingga lebih banyak
masyarakat Kapuk Muara memahami kesiapsiagaan bencana. “Salah satu
cara efektif meningkatkan pengetahuan kebencanaan perlu pelatihan
lanjutan dan berkesinambungan dengan melibatkan komponen sekolah.
Dari situ nanti akan menular ke masyarakat, bukan saja perangkatnya
yang mendapat tambahan pengetahuan,” katanya.
29
Pelatihan pertolongan pertama KSB terintegrasi dengan sekolah di Kelurahan Kapuk Muara. Foto: YSTC.
Hujan deras yang mengguyur ibu kota pada awal Februari 2015
silam mengakibatkan air yang merendam Jakarta mencapai satu
meter dan menyebabkan lebih dari hampir 5.000 orang mengungsi
di Jakarta Utara (Kompas.com - 12/02/2015). Tidak terkecuali
Kelurahan Kapuk Muara, Penjaringan. Tinggi air mencapai 80 cm
dan memaksa ratusan warga mengungsi ke posko yang didirikan
oleh pemerintah. Keluarga Amelia Sri Wahyuni adalah salah satu
korban banjir tersebut.
Pelatihan Pertolongan pertama tim KSB Kapuk Muara. Foto: YSTC.
30 Ibu empat orang anak ini masih merasa beruntung karena tinggal di rumah
dua lantai. Ketika air mulai masuk ke rumahnya, ia mengevakuasi ke empat
orang anaknya ke lantai dua, termasuk mengamankan dokumen penting
ke dalam boks yang kemudian disimpan di sudut aman lantai dua rumahnya.
Setelah memastikan keluarganya aman, ia lalu bergegas pergi membantu
masyarakat lain yang terkena dampak banjir tersebut. Ia dan anggota
Kampung Siaga Bencana (KSB) Kelurahan Kapuk Muara.
Amelia berjaga di kantor kelurahan sembari terus berkoordinasi dengan
pihak sekolah Madrasah Ibtidaiyah Al Muttaqin terkait perlengkapan
tanggap darurat. “Saya langsung telepon sekolah untuk mengambil
tenda, karena saya yakin ini hujan sampai malam dan air pasti terus naik,”
kenangnya. Ia mengatakan bahwa ia mengetahui sekolah telah menerima
bantuan seperti tenda, perlengkapan sekolah, permainan anak-anak, dan
terpal oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) - mitra kerja Save the
Children. YSTC mendapat informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi
dan Geofisika (BMKG) bahwa akan adanya curah hujan yang banyak
sehingga dapat menyebabkan banjir. Terutama di wilayah-wilayah Jakarta
yang rawan banjir.
Dengan perlengkapan tersebut, ia dan timnya mendirikan tenda di lapangan
terbuka Pantai Indah Kapuk (PIK) Mandala, Penjaringan, yang dekat dengan
dapur umum dan posko, agar pengungsi dapat mengakses bantuan makanan
dan pakaian dengan mudah. Ia juga mengoordinasi perempuan di dapur
umum yang didirikan oleh pemerintah setempat.“Sepanjang waktu saya terus
berkoordinasi dengan lurah buat ngecek ketinggian air di kali,” katanya.
Upaya pengurangan risiko bencana di sekolah tidak dapat berdiri
sendiri. Penting untuk upaya ini terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya.
Nah,Amalia dan 59 anggota KSB lainnya bekerja bersama di bawah
komando kelurahan.Tim siaga ini telah mendapatkan dari YSTC di bidang
penanggulangan bencana, pertolongan pertama, pengkajian bahaya,
kerentanan, risiko, dan kapasitas (HVCA atau hazard, vulnerabality and
capacity assessment), melakukan evakuasi, serta mendirikan tenda dalam
operasi tanggap darurat.
Sejak Mei 2014, program ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatan 31
kapasitas partisipatif masyarakat untuk mencegah, siap siaga, dan memitigasi
risiko bencana melalui pendekatan pengurangan risiko bencana (PRB)
berbasis masyarakat. Masyarakat dilatih melakukan HVCA yang membidik
pengembangan rencana PRB di tingkat masyarakat yang dapat diintegrasikan
KSB Kapuk Muara mendapatkan pelatihan pertolongan pertama di MI Al Muttaqin. Foto: YSTC.
Pelatihan pertolongan pertama terintegrasi sekolah dan masyarakat serta KSB Kapuk Muara. Foto: YSTC.
32
Peran Amelia dan timnya sangat besar
untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan
hak-haknya dalam situasi tanggap darurat.
dengan sekolah dan BPBD.Termasuk di dalamnya pengintegrasian rencana
PRB berbasis sekolah. Upaya pengurangan risiko bencana di sekolah tidak
dapat berdiri sendiri. Ia harus terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya.
Peran Amelia dan timnya sangat besar untuk mewujudkan sekolah aman
bagi anak-anak. Mereka, anggota KSB, akan senantiasa siap untuk membantu
sekolah ketika terjadi bencana.
33
Kegiatan di ruang ramah anak pada saat situasi darurat di kapuk muara. Foto: YSTC.
Dokumen Standar Minimum Perlindungan Anak dalam Aksi
Kemanusiaan menyebutkan bahwa Ruang Ramah Anak (RRA)
berarti ruang yang aman, tempat masyarakat menciptakan
lingkungan pengasuhan bagi anak, sehingga anak dapat mengakses
kegiatan bebas dan terstruktur, rekreasi, kegiatan bermain, dan belajar.
Ruang ramah anak juga berarti menyediakan aktivitas yang men-
dukung pendidikan, psikososial, dan aktivitas lain guna mengembalikan
perasaan normal dan keberlanjutan. RRA juga dirancang dengan
menggunakan prinsip partisipasi anak.
Definisi tersebut menjadi acuan
tim tanggap darurat dari Yayasan
Sayangi Tunas Cilik (YSTC) – mitra
kerja Save the Children ketika
melakukan respons tanggap darurat
terhadap bencana kebakaran yang
terjadi hampir dua tahun lalu di
Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan
Penjaringan, Jakarta Utara. Rabu,
9 September 2015, kebakaran meng-
hanguskan tidak kurang dari 400an
rumah penduduk serta memaksa
Aktivitas anak-anak di ruang ramah anak setelah terjadi setidaknya 1.400 jiwa mengungsi.
kebakaran di kapuk muara. Foto: YSTC. Hasil kajian yang dilakukan mene-
mukan bahwa setidaknya 249 anak sekolah terdampak tidak bisa masuk
dan mengikuti proses belajar mengajar di sekolahnya akibat seragam dan
perlengkapan sekolah yang ikut hangus terbakar.
34 Muhammad Rijam, siswa kelas dua Sekolah Dasar Pejagalan 04 masih
ingat kejadian tersebut. “Baru pulang sekolah, lagi nonton televisi, tiba-tiba
dengar suara orang teriak kebakaran! Kebakaran!” kenangnya. “Bapak
langsung membawa saya dan kakak keluar rumah,” lanjutnya. Setelah itu,
Rijam dan keluarganya tinggal di tenda pengungsian selama beberapa
hari. YSTC mendirikan tenda darurat yang menampung tujuh puluh orang
pengungsi, terutama yang memiliki
balita dan anak kecil. Di tenda
darurat tersebut, sebagai bentuk
respons tanggap darurat, yayasan
ini menyediakan ruang ramah Kegiatan
anak yang terbagi menjadi empat (ruang ramah anak)
kategori yaitu anak-anak usia dini,
taman kanak-kanak, sekolah dasar, ini sangat
dan remaja. Di RRA ini, anak-anak bermanfaat sekali.
seperti Rijam dapat dengan bebas
bermain, bersosialisasi, belajar, dan
ceria kembali setelah mengalami
kejadian trauma.
Staf YSTC fasilitasi diskusi terarah para remaja sebagai bentuk dukungan psikososial paska bencana. Foto: YSTC.
Lurah Kapuk Muara Ujang Tata mengapresiasi kegiatan ruang ramah anak 35
tersebut.“Kami berusaha maksimal untuk tanggap darurat ini, tapi kami
tidak memiliki kompetensi untuk pendidikan anak,” pungkasnya. “Kegiatan
(ruang ramah anak) ini sangat bermanfaat sekali,” tambahnya. Ia bahkan
melihat bahwa anak-anak di lokasi pengungsian menghabiskan waktu
dengan bermain pasir atau mencari barang-barang di lokasi kebakaran
sehingga membutuhkan kegiatan pendampingan agar mereka dapat
menggunakan waktu dengan kegiatan positif.
“Selama di tenda pengungsi, saya kangen sekolah dan buku-buku cerita.
Kakak-kakak dari YSTC datang ngajak bermain dan belajar. Saya belajar
bikin gelang yang bisa pakai nama saya, terus boleh dipakai,” ungkap Rijam.
Ia merasa senang dengan kegiatan belajar melalui bermain yang difasilitasi
oleh staf YSTC.
Untuk anak usia remaja, kegiatan ruang ramah anak sudah dapat dilakukan
dalam bentuk diskusi grup terarah. Salah satu tujuannya adalah menggali
bentuk kegiatan yang diinginkan dengan cara partisipatif mendengarkan
pendapat anak. Mereka juga diajak untuk mengenali pikiran, perasaan,
serta tingkah laku yang mereka alami pasca kebakaran. “Pikiran negatifku
menyebabkan perasaanku jadi sedih
dan marah,” ucap Martin (15 tahun),
salah satu anak yang mengikuti sesi
diskusi di ruang ramah anak
tersebut. Wahyu Bramastyo, staf
Yayasan Sayangi Tunas Cilik yang
memfasilitasi sesi diskusi dengan
remaja menyampaikan kegiatan
yang dilakukan di ruang ramah anak.
“Kegiatannya disesuaikan dengan
usia anak. Ada kelompok PAUD,
TK, SD, hingga remaja,” ujar pria
berkacamata ini. “Misalnya anak-
anak remaja, kami fasilitasi untuk
emotional coaching.Tujuannya agar
mereka dapat mengelola perasaan
Anak-anak senang dapat membuat gelang di RRA. Foto: YSTC. negatif yang timbul akibat bencana,”
tambahnya.
36
Tidak hanya bertujuan untuk mengembalikan perasaan normal pasca
bencana, namun juga menjadi sarana bagi anak-anak untuk mendapatkan
informasi penting yang berguna bagi kehidupannya pasca bencana.
Menyediakan ruang ramah anak dalam operasi tanggap darurat, baik
skala kecil maupun besar, adalah upaya untuk memperkuat ketahanan
anak. Dalam ruang ramah anak itu, ada kegiatan bermain, membaca, dan
mendengarkan cerita atau dongeng dari fasilitator, mendapatkan promosi
tentang kesehatan, hingga sesi berbagi pikiran perasaan.
Keputusan YSTC untuk merespons bencana kebakaran dengan menyediakan
ruang ramah anak tersebut merupakan keputusan yang juga sejalan dengan
Sembilan Standar Inti Kemanusian yang salah satunya mengedepankan
relevansi tanggap darurat kemanusiaan.Tidak hanya kebutuhan logistik
yang menjadi perhatian, namun kebutuhan khusus dari penyintas anak-anak
tetap harus menjadi perhatian. Dan ruang ramah anak yang disediakan
oleh YSTC akan terus hadir untuk memenuhi kebutuhan anak dalam operasi
tanggap darurat bencana.
37
Gebyar SMAB Provinsi DKI Jakarta diikuti oleh kurang lebih 10.000 anak di provinsi. Foto: YSTC.
Strategi penanganan bencana di DKI Jakarta mulai diubah tahun ini.
Penanganan bencana difokuskan pada pencegahan dan peningkatan pemahaman
komunitas pendidikan. Sehingga pemahaman kondisi kedaruratan dipahami
sejak dini oleh warga DKI Jakarta.
Kepala Bidang Pencegahan BPBD dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta, Tri
Inderawan menyatakan, untuk meningkatkan kapasitas pemahaman komunitas
pendidikan, mereka menyasar sekolah dan madrasah rawan bencana di DKI
Jakarta. Baik dari TK sampai tingkat SMA bahkan perguruan tinggi (PT).
Peningkatan kapasitas itu juga bertujuan untuk menciptakan model sekolah
aman bencana di ibu kota.
“Ada 406 sekolah di DKI itu berada di daerah rawan banjir. Itu ada di
semua wilayah,” ujarnya di Kantor BPBD. Menurut Pak Tri, lokasi sekolah
yang berada di daerah rawan bencana tentu menjadi ancaman serius bagi
keselamatan komunitas sekolah.Tidak hanya siswa tetapi juga guru.
Minimnya pemahaman kondisi tanggap darurat membuat respons sekolah
saat terjadi bencana juga tidak terencana. “Tetapi kami sudah mulai
mengubah pendekatannya, tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga
manajemen,” katanya.
Program sekolah aman tersebut merujuk pada amanat Peraturan Gubernur
(Pergub) nomor 187 tahun 2016. Aturan yang ditandatangani Gubernur
DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama itu membuat strategi penanganan
bencana berbasis sekolah menjadi terarah. Sebab, aturan itu memuat
variable-variabel sekolah aman sekaligus misi dan langkah pemerintah
provinsi mencapai itu. Sebelum adanya Pergub tersebut, upaya peningkatan
kapasitas dan pemahaman sekolah terhadap bencana dilakukan tanpa
target yang jelas.
“Sebelum ada Pergub, kami nggak punya indikator yang akan kami capai.
Begitu ada Pergub, kami tahu tatanannya. Kami harus capai 10 indikator
utama ini. Kami bisa melaksanakan target itu,” terangnya (sepuluh
38
Pelatihan pertolongan pertama di SDN Kapuk Muara 03. Foto: YSTC.
10 INDIKATOR indikator itu dapat dilihat di grafis). 39
Salah satu dampak nyata manfaat
Pelaksanaan Sekolah/ Madrasah Aman Bencana Pergub tersebut yakni adanya upaya
mencapai target terwujudnya 400
• Ditetapkannya peta ancaman bencana sekolah oleh kepala sekolah aman bencana lima tahun
sekolah/madrasah. mendatang. Tiap tahun, BPBD
menargetkan ada lima puluh sekolah
• Ditetapkannya prosedur tetap penanggulangan aman bencana di DKI jakarta. Dia
ancaman bencana sekolah oleh kepala mengatakan, sejatinya, seluruh
sekolah/madrasah. sekolah di DKI Jakarta harus
memenuhi indikator sekolah aman.
• Ditetapkannya rencana aksi sekolah aman bencana oleh Karena itu, mereka tidak bisa
kepala sekolah/madrasah. bergerak sendiri. Pemprov
membutuhkan keterlibatan semua
• Ditetapkannya tim siaga bencana di sekolah oleh kepala pihak seperti lembaga swadaya
sekolah/madrasah. masyarakat (LSM) dan elemen
swasta.
• Tersedia dan diajarkannya modul penanggulangan bencana “Kami sadar untuk memenuhi
banjir, kebakaran, gempa bumi, angin topan bagi siswa seluruh indikator butuh waktu,
sekolah/madrasah. karena itu, kami menekankan kerja
sama dengan semua pihak, termasuk
• Tersedianya tenaga pengajar yang berkemampuan LSM. Kami berharap dapat saling
membimbing dan membina pelaksanaan berperan,” katanya.
penanggulangan bencana banjir, kebakaran, gempa bumi,
angin topan di lingkungan sekolah/madrasah.
• Tersedianya sarana dan prasarana keselamatan:
- Alat pemadam api ringan.
- Pelampung.
- Tali tambang.
- Rambu kebencanaan.
- Alat pertolongan pertama.
- Megaphone/sirine.
• Terlaksananya simulasi penanggulangan bencana di
sekolah/madrasah minimal 1 (satu) kali dalam setahun.
• Terlaksananya pemantauan dan evaluasi kegiatan sekolah/
madrasah aman bencana.
• Disosialisasikannya sekolah/madrasah aman bencana
di lingkungan sekolah oleh manajemen sekolah.
Sementara itu Staf BPBD DKI Jakarta, Basuki menambahkan, sejauh ini,
bencana yang rutin terjadi hanya banjir, longsor dan kebakaran. Tetapi,
banyak ahli menyebutkan DKI Jakarta punya potensi gempa dahsyat yang
sewaktu-waktu bisa muncul. Walaupun teori itu masih kontroversi tetapi
ada baiknya warga ibu kota menyiapkan diri.
Kami sadar untuk “Itu yang saya paling khawatir.
memenuhi seluruh Selain itu, kita bisa terlena. Kenapa?
indikator butuh waktu, Masyarakat yang nggak pernah di-
karena itu, kami hampiri bencana besar, dia akan lupa
menekankan kerja sama bahwa suatu saat akan ada bencana
dengan semua pihak, besar. Makanya kami mau coba beri-
termasuk LSM. Kami kan pemahanan dari level anak-anak.
Supaya dia ingat terus,” ujarnya.
berharap dapat Berangkat dari kekawatiran
saling berbagi. bahaya dampak bencana alam
yang menimpa sekolah, Basuki
mengaku, BPBD bersama lintas sektor SKPD (Satuan Kerja Pemerintah
Daerah) menggodok payung hukum selama 6 bulan. Hingga akhirnya
disahkan Pergub 187 tentang Sekolah dan Madrasah Aman Bencana per 6
Oktober 2016. “Beberapa kali revisi khususnya di hitungan kerugian jika
terjadi bencana,” tambahnya.
Meski sudah memiliki payung hukum sebagai dasar melaksanakan program
ini, Basuki mengaku, masih banyak tantangan harus diselesaikan. Antara
lain, keterbatasan anggaran untuk mengejar seluruh sekolah di DKI Jakarta.
Diketahui, total jumlah sekolah di Jakarta sebanyak 5001 sekolah terdiri
dari 2.881 SD, 1.042 SMP, 474 SMA dan 604 SMK. “Ya, kita realistis saja, jika
memenuhi seluruh indikator mau butuh biaya berapa? Kan harus memper-
hatikan infrastruktur bangunan juga. Minimal kami targetkan 7 indikator
terpenuhi,” terangnya.
Dewi Sri Sumanah, Staf Bidang Komunikasi dan Advokasi Yayasan Sayangi
Tunas Cilik menyampaikan keterlibatan organisasinya dalam penyusunan
hingga terbitnya peraturan gubernur ini. “Kami melakukan initial meeting
setidaknya dua bulan dengan Pemprov DKI Jakarta,” ujarnya. “Hingga ada
dokumen deklarasi pencanangan sekolah dan madrasah aman,” tambahnya.
40 Ida Ngurah, Koordinator Program PRB Yayasan Sayangi Tunas Cilik
sangat mengapresiasi atas terbitnya Pergub ini.“Sepuluh indikator sekolah
aman dalam Pergub ini akan menjadi pedoman bagi penyelenggara program
sekolah aman termasuk instansi pemerintah terkait, LSM, sekolah, dan
masyarakat,” terangnya. “YSTC berharap semua pihak dapat saling ber-
kolaborasi dalam implementasi Pergub secara nyata melalui penyusunan
program kerja dan anggaran,” tutupnya di akhir perbincangan.
Itu yang saya paling khawatir.
Selain itu, kita bisa terlena. Kenapa?
Masyarakat yang nggak pernah dihampiri
bencana besar, dia akan lupa bahwa suatu saat
akan ada bencana besar. Makanya kami mau
coba berikan pemahanan dari level anak-anak.
Supaya dia ingat terus.
41
Plt Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono membuka Gebyar SMAB di Car Free Day Sudirman. Foto: YSTC.
Ratusan sekolah di Jakarta berisiko terkena dampak bencana alam.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta men-
catat sebanyak 406 sekolah berada di kawasan rentan banjir. Untuk
itu dibutuhkan keseriusan seluruh Satuan Kerja Pemerintah Daerah
(SKPD) dalam mengantisipasi dampak banjir tersebut.
Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebenarnya sudah
mendeklarasikan program Sekolah dan Madrasah Aman Bencana
(SMAB) di Balaikota Provinsi DKI Jakarta pada 19 Januari 2016 silam.
Komitmen ini ditandai dengan diterbitkannya Peraturan Gubernur (Pergub)
No. 187 tahun 2016 tentang SMAB per Oktober 2016 lalu. Persoalan
anggaran menjadi alasan Pemprov belum maksimal melaksanakan
program kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah ini.
Kepala Seksi Sekolah Dasar Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta, Momon
Sulaiman menyampaikan, belum maksimalnya pelaksanaan SMAB dikarenakan
Disdik belum menganggarkan secara spesifik di tahun ini. Sebab, waktu
penerbitan Pergub tentang SMAB baru 9 Oktober 2016. Sedangkan, jauh
sebelumnya Disdik sudah menggodok Rencana Kerja Anggaran Sekolah
(RKAS) yang kemudian dimasukkan ke anggaran.
Kendati demikian, Momon enggan menyebut program SMAB jalan di tempat.
Dia menyampaikan, Pemprov melalui Disdik tetap berupaya melaksanakan
program ini dengan maksimal. Persoalan anggaran tetap di tahun 2017
sedang dicari jalan keluar.Termasuk, kemungkinan menggunakan dana
Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
42
Plt. Gubernur DKI Jakarta memberikan harapan untuk SMAB di booth pameran Gebyar SMAB. Foto: YSTC.
Momon berharap, setelah terbit
Pergub SMAB sebagai dasar hukum,
bisa menjadi pegangan Disdik
maupun SKPD terkait untuk melak-
sanakan program lebih baik. “Selain
lebih terarah, mungkin dari teman-
teman yang sesuai tupoksinya
sekarang ada dasar dalam mengaju-
kan anggaran,” pungkasnya.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Bapak Moho Abdi Mulyo dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta
Belanja Daerah (APBD) 2017 DKI menyampaiakn pendapatnya di acara Lokakarya Sistem
Jakarta, Pemprov mengalokasikan Peringatan Dini dalam Kesiapsiagaan di BPBD DKI Jakarta
sektor pendidikan sebesar 27 persen yang diselenggarakan oleh YSTC. Foto: YSTC.
dari total APBD 2017 sebesar Rp
70,19 triliun atau setara Rp 17
triliun.
Sementara itu, Staf Seksi Sekolah Dasar Disdik DKI Jakarta, Moho Abdi 43
Mulyo menerangkan, siswa SD di Jakarta sudah mendapatkan pengenalan
tentang kebencanaan yang disisipkan dalam kurikulum.“Kami mengenalkan
bahwa Negara kita berpotensi tinggi bencana alam. Peserta didik diajarkan
tentang gunung meletus, gempa bumi, banjir, dan lainnya,” kata Pak Moho.
Kami mengenalkan Moho menambahkan, Disdik juga
bahwa negara memasukkan pengetahuan tentang
kesiapsiagaan ke dalam kegiatan
kita di kelilingi atau muatan lokal (mulok) selain mulok
berpotensi bencana. yang sudah ada misalnya bahasa
Peserta didik diajarkan daerah, adat istiadat, kesenian daerah,
tentang gunung meletus, dan kerajinan daerah. Selain mulok,
gempa bumi, banjir, pengetahuan tentang kebencanaan
dan kesiapsiagaannya juga dimasuk-
dan lainnya. kan ke dalam ekstrakurikuler Palang
Merah Remaja dan Pramuka.
44 Tahun 2016, Pemprov mentargetkan
83 gedung sekolah di DKI Jakarta
direnovasi.Ada tiga variabel, yakni
renovasi ringan, sedang, dan berat.
Namun belakangan, target tersebut
tidak terealisasi sepenuhnya.
Alasannya, banyak sekolah yang
memiliki akses sempit sehingga sulit
dilalui alat berat. Anggaran yang
sudah terpakai di 2016 sebesar
Rp450 miliar, sedangkan sisanya
Rp571 miliar dikembalikan ke
Pemprov DKI Jakarta.
Keterangan foto-foto: Lokakarya Pengenalan Metodologi
VISUS untuk survei Keselamatan Sekolah bagi para
pemangku kebijakan di Provinsi DKi Jakarta. Foto: YSTC.
45
Tim Siaga bencana mengikuti festival sekolah/madrasah aman bencana yang diselenggarakan YSTC dengan didukung
Prudence Foundation. Foto: YSTC.
Seorang anak berpakaian seperti bunga matahari duduk di atas
panggung. Di sampingnya, seorang lagi seolah-olah sedang menyiram-
kan air ke bunga matahari tersebut. Di panggung yang sama hari itu,
sekelompok anak laki-laki terlihat bersemangat menampilkan lagu-
lagu dengan tema sekolah aman, dengan menggunakan alat musik
sederhana seperti pianika dan kotak dari kayu. Kelompok berbeda
menampilkan tarian tradisional Betawi dengan kostum meriah.
Lagi-lagi menyampaikan pesan tentang pengurangan risiko bencana.