Rangkaian acara tersebut adalah
bagian dari Festival Sekolah dan Saya ingin menanam
Madrasah Aman Bencana yang pohon dan berharap
digagas oleh Yayasan Sayangi agar presiden mengontrol
Tunas Cilik (YSTC) – mitra Save
the Children pada 2016 silam. Acara masyarakat tidak
yang didukung penuh oleh Prudence mencemari udara dan
Foundation ini adalah salah satu tidak membakar hutan
dari beragam kegiatan pengurangan
secara liar.
risiko bencana (PRB) yang
dilaksanakan di wilayah Jakarta
Utara sejak tahun 2014 lalu. Anak-anak tersebut berasal dari wilayah
kumuh utara Jakarta yang lekat dengan masalah kesehatan, pendidikan, dan
pemukiman padat. Situasi diperparah dengan ancaman bencana banjir dan
kebakaran sebagai dampak dari lokasi tempat tinggal di wilayah pesisir laut
dan padat pemukiman.
Sebagai lembaga yang senantiasa menyerukan isu anak dari berbagai aspek,
46 YSTC ini selalu mengedepankan aspek partisipatif dalam pelaksanaan
kegiatannya. Dalam program PRB ini misalnya. Kampanye yang dilakukan
selalu melibatkan anak, baik melalui media seni atau diskusi konsultasi anak
untuk isu perubahan iklim yang dihadiri setidaknya 30 anak tersebut. YSTC
menyadari sepenuhnya bahwa pelibatan anak adalah salah satu hak anak
dalam berpartisipasi, dimana anak dapat memberikan pendapat dan idenya
terhadap isu di sekitar mereka.
Jimmy Harlino misalnya. Anak
laki-laki berumur 10 tahun ini
menyatakan komitmennya dalam
mengurangi dampak perubahan
iklim.“Saya ingin berangkat
ke sekolah naik angkutan umum,
(agar) lingkungan saya bersih dan
tidak (makin) tercemar polusi,”
ujarnya di sela-sela kegiatan
konsultasi anak.
Salah satu pertunjukan dari SDN Kapuk Muara 03 untuk
menyampaikan pesan tentang perubahan iklim. Foto: YSTC.
Panggung boneka sekolah aman bencana yang dimainkan oleh Tim Siaga Bencana MI Al-Muttaqin. Foto: YSTC.
Lain lagi dengan Pratiwi Ambarwati (9 tahun) yang berharap presiden RI 47
dapat mengontrol masyarakat agar tidak mencemari udara. “Saya ingin
menanam pohon dan berharap agar presiden mengontrol masyarakat
tidak mencemari udara dan tidak membakar hutan secara liar,” ujarnya.
Saat ini, YSTC ini juga berupaya untuk menggeser paradigma bahwa
anak dilihat sebagai korban dari kejadian bencana menjadi warga negara
yang mampu berpartisipasi dalam kegiatan yang bermanfaat bagi diri,
teman, dan lingkungannya.Tentunya dengan dukungan yang cukup dan
sesuai dari orang dewasa. YSTC menyebutkan langkah awal untuk melibat-
kan anak dalam isu PRB dapat dimulai secara terbuka dari menjelaskan
keuntungan terlibat dalam kegiatan PRB hingga melibatkan anak secara
aktif agar berperan lebih dalam isu ini.
Anak-anak juga perlu mendapatkan kebebasan untuk memutuskan apakah
mereka ingin bergabung atau tidak, seperti yang tertuang dalam prinsip
dasar hak anak yaitu non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak,
pemenuhan hak tumbuh dan berkembang serta selalu menghargai pendapat
anak.
Dalam simulasi bencana, anak-anak
juga dapat berpartisipasi dalam
memberikan pertolongan kepada
teman-temannya yang terluka.
Tim Siaga Bencana MI Al Falah menampilkan beatbox di depan Di lain waktu, tim Sahabat Siaga
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam rangka Bencana (SSB) sekolah tersebut
Peringatan Bulan PRB tingkat nasional di Solo. Foto: YSTC.
bercerita menggunakan boneka
tangan. Cerita yang diangkat tidak
jauh dari isu yang akrab dengan
dunia anak seperti cuci tangan pakai
sabun atau membuang sampah pada
tempatnya. Taufik, 11 tahun, lebih
menyukai kampanye dengan musik.
Penampilan Tim siaga bencana MI Al Falah di acara “Saya berpartisipasi ikut serta dalam
penutupan pameran bulan PRB di Solo. Foto: YSTC. kegiatan (kampanye) perubahan
iklim dengan jingle, rap, dan beatbox,” ujarnya dengan semangat. Selain
perubahan iklim, anak-anak tentu saja mendapatkan pengetahuan tentang
48 PRB juga.
Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah
mengatur tentang partisipasi anak. “Setiap anak berhak untuk menyatakan
dan didengar pendapatnya, menerima dan mencari, dan memberikan
informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan
dirinya sesuai dengan nilai kesusilaan dan kepatutan”. Aturan tersebut akan
menjamin anak tidak hanya menjadi penonton dalam pelaksanaan kampanye
upaya pengurangan risiko bencana.
Setiap anak berhak untuk
menyatakan dan didengar pendapatnya,
menerima dan mencari, dan memberikan informasi
sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya
demi pengembangan dirinya sesuai dengan
nilai kesusilaan dan kepatutan.
49
Kunjungan tim Prudence Foundation ke MI Al Muttaqin melihat kegiatan yang sedang dilakukan Tim Sahabat Siaga Bencana
dan masyarakat. Foto: YSTC.
Dalam isu penanggulangan bencana, pelibatan sektor swasta
bukan hal yang baru. Di Aceh misalnya. Pasca tsunami 2004, terhitung
sejak operasi tanggap darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi,
peran sektor swasta begitu besar. Dukungan dana untuk membangun
fasilitas publik hingga program-program pemberdayaan dapat ditemu-
kan di wilayah-wilayah pasca bencana yang menelan korban ratusan
ribu jiwa tersebut.
Kunjungan tim Prudence Foundation ke MI Al Muttaqin melihat kegiatan yang sedang dilakukan Tim Sahabat Siaga Bencana
dan masyarakat. Foto: YSTC.
Bagi lembaga kemanusiaan seperti Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) - mitra
50 kerja Save the Children, sektor swasta adalah mitra yang penting dalam men-
dukung upaya penegakan isu anak di Indonesia. Dukungan dana sangat mem-
bantu dalam menjalankan kegiatan-kegiatan mereka, seperti halnya program
PRESTASI (Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah Terintegrasi) yang didukung
oleh Prudence Foundation ini.
Manajer Area Jakarta Utara Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Didiek Eko Yuana
mengakui bahwa, “Sejak bertransformasi menjadi local entity, yaitu Yayasan
Sayang Tunas Cilik, pelibatan sektor swasta adalah bagian dari strategi fund
raising kami,” ungkapnya. “Secara global. Save the Children memang sudah
lama bekerja sama dengan sektor swasta,” tambahnya.
Ia juga tidak menampik kondisi ekonomi dunia yang sedang lesu. “Kita tidak
bisa berharap terlalu besar terhadap (bantuan) negara maju. (Kita) harus jeli
untuk mencari dukungan pendanaan,” ujar pria yang sudah berkecimpung di
isu pendidikan sejak tahun 2006 ini. “Pergub membuka partisipasi dari
masyarakat sipil, termasuk sektor swasta,” ujar pria berkacamata ini. Didiek
mengacu pada Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 112 Tahun 2013 tentang
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Dunia Usaha (TSLDU) pasal 5 Bab IV
Ruang Lingkup mencantumkan ruang lingkup TSLDU meliputi empat hal, salah
satunya adalah bidang penanggulangan bencana.
Di tingkat nasional, meskipun Kunjungan Prudence Foundation ke SDN Pejagalan 05
mendapat sejumlah kritik, Komisi VIII saat tim siaga bencana melakukan pemetaan ancaman
DPR RI sedang menggodok Rancangan bencana di sekolah. Foto: YSTC.
Undang-Undang (RUU) Tanggung
Jawab Sosial Perusahaan yang
bertujuan untuk mendorong dan
memperluas kewajiban Corporate
Social Responsibility (CSR) ke semua
perusahaan. Selama ini menggunakan
Undang-Undang No. 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas yang
menyebutkan bahwa CSR hanya
terbatas pada perseroan atau
perusahaan yang kegiatan usahanya
berkaitan dengan sumber daya alam.
Didiek mengakui bahwa pelibatan sektor swasta selama ini secara umum
masih pada dukungan pendanaan kegiatan. “Namun, ada juga yang terlibat
dalam proses pelaksanaan kegiatan, seperti dengan Prudence ini,” ujarnya.
Serupa dengan menggaet lembaga donor pemerintah, Didiek juga menyebut- 51
kan bahwa presentasi adalah salah satu cara terbaik untuk mencari dukungan
sektor swasta. “Kami kerap presentasi concept paper program kami, baik yang
sedang berjalan atau yang sudah ada bukti keberhasilannya atau best prac-
tice-nya,” ungkap pria ini dengan antusias. Khusus dengan Prudence Foundation
ini, ia mengakui bahwa kerja sama tersebut adalah program Save the Children
global di tingkat regional Asia, sehingga jaringan Prudence di negara bersang-
kutan akan terlibat, seperti Indonesia dan Filipina. Didiek menambahkan bahwa
dengan adanya dua entitas, yang salah satunya berstatus sebagai yayasan,
memberikan mereka kesempatan untuk mencari dukungan dan pengumpulan
dana di dalam negeri, termasuk dari
sektor swasta.
Secara global. Salah satu hal yang patut mendapatkan
Save the Children apresiasi adalah adanya komitmen
memang sudah lama yang kuat terhadap kriteria sektor
bekerja sama dengan swasta yang boleh bermitra dengan
lembaga ini.“Salah satunya adalah
sektor swasta. kami tidak akan bekerja sama dengan
perusahaan rokok atau susu formula.
Hal itu bertentangan dengan nilai-
nilai organisasi kami,” ujarnya dengan
serius. Ia lalu memberi contoh Sudah banyak contoh
kesempatan bekerja sama dengan sekolah dampingan
salah satu perusahaan yang enggan kami yang kami dorong
untuk membuat proposal
ia sebutkan.“Setelah kami mencari kegiatan, misalnya terkait
tahu, ternyata mitranya adalah mitigasi bencana, dengan
perusahaan susu formula,” ujarnya. perusahaan yang ada di
Kerja sama tersebut kemudian
urung dilaksanakan.
Satu hal yang sangat ditekankan sekitar mereka.
oleh organisasinya adalah mendorong
setiap sekolah untuk mampu mem-
bangun kerja sama dengan sektor
swasta secara mandiri.“Sudah banyak contoh sekolah dampingan kami yang
kami dorong untuk membuat proposal kegiatan, misalnya terkait mitigasi
bencana, dengan perusahaan yang ada di sekitar mereka,” katanya lagi.
“Sebelumnya, sekolah belum melihat (potensi) itu. Paling bentuknya permohonan
dukungan satu, dua acara saja.Yang bersifat event,” tambahnya.
52 Didiek berharap bahwa pihak sekolah mampu melibatkan sektor swasta
dengan lebih baik lagi.“Kapasitas anggaran sekolah itu sangat minim.
Sulit kalau hanya mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Pemimpin (kepala sekolah) harus kreatif mencari pendanaan secara mandiri. Di
situlah peran sektor swasta,” jelasnya. Namun, tambahnya, hal tersebut harus
dibarengi dengan kemampuan mumpuni dalam pengelolaan anggaran.“Isu
sekolah aman itu besar. Sektor swasta pasti tertarik,” ujarnya.
Tim Prudence Foundation meninjau langsung kegiatan Salah satu tim Prudence Foundation berintraksi langsung
yang sedang berjalan di sekolah dampingan. Foto: YSTC. dengan tim sahabat siaga bencana. Foto: YSTC.
53
Amay, Cintya dan Desi aktif mengkampanyekan sekolah amana bencana menggunakan boneka tangan. Foto: YSTC.
Orang tua mana yang tidak bangga memiliki anak percaya diri,
supel, berani mengutarakan pendapat, dan berprestasi. Dia adalah
Amaycia Raya Putri. Siswi kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Al Muttaqin
di Penjaringan, Jakarta Utara yang biasa dipanggil Amay ini menjadi
panutan teman-temannya di sekolah, khususnya dalam bidang
pencegahan risiko bencana. Layaknya petugas keselamatan kerja di
sebuah perusahaan, Amay kerap mempresentasikan pengetahuannya
di hadapan teman-teman sekolah maupun teman sebaya di lingkungan
sekitar dia tinggal.
Bahkan, tidak jarang Amay kerap
mewakili sekolahnya dalam berbagai
kegiatan kesiapsiagaan bencana di
tingkat provinsi maupun nasional,
seperti Peringatan Bulan PRB
Nasional di Solo dan Gebyar SMAB
di Provinsi DKI Jakarta. Di usianya
yang baru menginjak 10 tahun,
Amay berani ikut andil dalam
mengkampanyekan program PRB
bagi anak.
Amaycia Raya Putri atau yang biasa dipanggil Amay Tentu kegiatan dan prestasi yang
sedang beraksi dengan bonekanya dalam menyampaikan ditunjukkan Amay tersebut membuat
pesan pengurangan risiko bencana kepada teman-teman kedua orang tuanya bangga. Baik
sebayanya. Foto: YSTC.
Agung Wicaksono (35) atau Sulastri (32) tidak membayangkan putri sulungnya
tersebut menjadi sosok panutan. Betapa tidak. Dulu, Amay adalah sosok
anak pendiam. Di mata ibunya, Amay juga dikenal sebagai anak yang
pemalu. Tidak jarang, orang tuanya sering dibuat bingung karena Amay
54 tidak berani mengutarakan apa yang dia mau.
Kesehariannya hanya diisi kegiatan belajar di sekolah dan di rumah. Ber-
main dengan teman pun jarang dilakukan oleh Amay. Di sekolah, Amay
tidak punya banyak teman. Di rumah pun begitu. Dia lebih banyak meng-
habiskan waktunya sendirian. Sulastri beranggapan karakter dan perilaku
Amay itu disebabkan oleh kegiatan rutin sehari-hari dan kurang bersahabat-
nya lingkungan di sekitarnya. Amay tinggal di mes pabrik di kawasan
Jakarta Utara. “Sepulang sekolah palingan bermain dengan adiknya, nanti
ngaji, trus ngerjakan PR (pekerjaan rumah), baru tidur,” ujar Sulastri.
Bangga banget sama Amay.
Sejak bergabung sebagai tim kesiapsiagaan
bencana di sekolah, dia menjadi sangat komunikatif
dan informatif. Dia selalu berbagi pengetahuan
tentang pengurangan risiko bencana kepada
saya juga suami, dan adik perempuannya.
Foto: Lorem ipsum dolor sit amet
Amay berubah sejak tiga tahun lalu.Tepatnya ketika dia mulai aktif mengikuti
program PRB yang difasilitasi oleh YSTC. Kegiatan-kegiatannya adalah
belajar tentang pengetahuan PRB melalui bermain dan berkesenian.
Mungkin terdengar sederhana, namun pada kenyataannya kegiatan-kegiatan
tersebut dapat mengubah karakter Amay menjadi lebih terbuka dan berani
tampil. Amay menjadi anak yang lebih percaya diri menyuarakan gagasan
dan opininya.“Bangga banget sama Amay. Sejak bergabung sebagai tim
kesiapsiagaan bencana di sekolah, dia menjadi sangat komunikatif dan
informatif. Dia selalu berbagi pengetahuan tentang pengurangan risiko
bencana kepada saya juga suami, dan adik perempuannya,” ungkap
Sulastri haru.
Bukan di rumah dan lingkungan tempat Amay tinggal saja, teman-teman 55
di sekolah pun juga mendapat pengaruh positif dari perubahan karakter
Amay. Bahkan, dalam kegiatan kesiapsiagaan bencana ini, Amay dipercaya
menjadi pemimpin. “Sekarang Amay terkenal, dia baik dan pintar. Dia tahu
bagaimana agar aman menghadapi banjir atau kebakaran. Saya jadi ingin
bergabung dalam tim kesiapsiagaan bencana,” ujar Azis, teman sekelas
Amay.
Rasa percaya diri pada anak bukanlah karena faktor genetik, namun
dipengaruhi oleh pola pendidikan yang tepat. Kepala MI Al Muttaqin, Isria
Sirubaya berpendapat program PRB dampingan YSTC ini merupakan salah
satu kegiatan yang memiliki andil dalam menumbuhkan kepercayaan diri
Amay. Rasa percaya diri yang tumbuh akan memberikan pengaruh positif
dalam masa perkembangan selanjutnya.
“Ada perubahan signifikan dengan Amay. Selain peningkatan prestasi
akademik, sekarang menjadi panutan teman-temannya, terutama untuk
masalah pengurangan risiko bencana,” ungkap Isria.
YSTC ini melalui program PRESTASI terbukti telah menuntun pelajar
menjadi pribadi yang lebih percaya diri, inovatif, dan berani menyuarakan
gagasannya. Pendekatan yang dilakukan dengan mengajak partisipasi
pelajar, bukan hanya sekadar korban bencana, tetapi anggota masyarakat
yang memiliki hak dan kewajiban sama dalam menjaga lingkungannya.
“Hebat rasanya, kegiatan menyelamatkan anak-anak. Saya semakin percaya
diri, kami mendiskusikan gagasan, dan semua orang dewasa menerima
gagasan kami. Mereka mempercayai kami untuk mengeksplorasi lebih
banyak,” ujar Amay mengungkapkan pengalamannya.
Saat ini, Amay dan beberapa teman- Hebat rasanya,
nya di sekolah menjadi tim kesiap- kegiatan menyelamatkan
siagaan bencana dan kampanye anak-anak. Saya semakin
pengurangan risiko bencana. percaya diri, kami
Mereka tampil di pelbagai kegiatan mendiskusikan gagasan,
kebencanaan tingkat provinsi
maupun nasional melalui media per- dan semua orang dewasa
tunjukan boneka tangan. Uniknya, menerima gagasan kami.
ide metode pendekatan tersebut Mereka mempercayai
berasal dari Amay dan teman-teman.
Menurut Amay, pendekatan tersebut kami untuk mengeksplorasi
dipakai agar pesan yang disampaikan lebih banyak.
mudah ditangkap, khususnya anak-
anak sebaya.“Kami menyampaikan kegiatan aman bencana banjir,
kebakaran, dan gempa bumi lewat pertunjukan boneka. Karena kami
menyukai wayang dan suka bernyanyi,” terangnya.
Metode yang dipresentasikan Amay pun tidak banyak teori. Pertama, Amay
mengenalkan boneka yang digunakan sebagai media wayang. Setelah itu,
56 baru bercerita tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana alam, khususnya
di lingkungan sekolahnya sendiri.
Desi,Amay, Cintya, dan Sauqi:Tim Boneka tanagn yang kompak mengkampnyekan SMAB. Foto: YSTC.
57