The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-02-14 19:04:50

PUSKUR - Kebakaran

PUSKUR - Kebakaran

Keywords: puskur,kebakaran

Modul Ajar

KEBAKARANPengintegrasian Pengurangan Risiko
Bahan Pengayaan Bagi Guru SD/MI
Cover dalam

Penulis: Drs. Suherman
Nara Sumber: Sardio Sardi

PUSAT KURIKULUM
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
JAKARTA, 2009

Modul Ajar Pengintegrasian
Pengurangan Risiko Kebakaran

Bahan Pengayaan Bagi Guru SD/MI
Penulis: Drs. Suherman
Nara Sumber: Sardio Sardi
Editor: Ninil R Miftahul Jannah dan Dian Afriyanie
Ilustrator Sampul : Hastifah (SDN 3 Imogiri Yogyakarta)
Ilustrator Isi:
Rizki Goni, Feri Rahman, Antan Juliansyah, Feri Fauzi, Rigan A.T.
Lay Out Isi:
Galang Gumilar, Antan Juliansyah, Feri Fauzi, Rudini Rusmawan, Ardi H, Agusbobos.
ISBN : 978-979-725-228-1

Program Safer Communities through Disaster Risk Reduction (SCDRR)
Jl. Tulung Agung No. 46, Jakarta 10310, INDONESIA
Telp : +62 21 390 5484 (hunting)
Fax : +62 21 391 8604
E-mail : [email protected]
Website : www.sc-drr.org

Program masyarakat yang lebih aman melalui pengurangan risiko bencana (Safer Communities through
Disaster Risk Reduction disingkat SCDRR), merupakan proyek kerja sama antara United Nations Development
Programme (UNDP), BAPPENAS, BNPB dan Kementerian Dalam Negeri, dengan dukungan dana UNDP,
Departement for International Development (DFID) Pemerintah Inggris dan Australian Agency For International
Development (AusAID)

KEPALA SAMBUTAN
PUSAT KURIKULUM
Indonesia yang merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia
berada di kawasan yang disebut cincin api, dimana risiko untuk terjadi
bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, letusan gunung api, banjir dan
longsor sangat tinggi. Bencana alam ini telah menimbulkan ribuan korban
jiwa, kerugian materil dan meninggalkan banyak orang untuk berjuang
membangun kembali tempat tinggal dan mata pencahariannya.

Kesiapsiagaan merupakan hal yang penting dan harus dibangun pada setiap tingkat
kelompok di masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa kehancuran akibat
bencana dapat secara drastis dikurangi jika semua orang lebih siap menghadapi
bencana. Sekolah adalah pusat pendidikan yang tidak hanya memberikan kita
ilmu pengetahuan tetapi juga bekal untuk kelangsungan hidup kita, kesiapsiagaan
terhadap bencana merupakan bagian dari ketrampilan untuk kelangsungan
hidup kita. Sekolah juga seringkali menjadi tempat penghubung dan tempat
belajar bagi seluruh masyarakat. Anak-anak merupakan peserta ajar yang paling
cepat dan mereka tidak hanya mampu memadukan pengetahuan beru ke dalam
kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan bagi keluarga
dan masyarakatnya dalam hal prilaku yang sehat dan aman, yang mereka dapatkan
di sekolah. Oleh karenanya, menjadikan pencegahan bencana menjadi salah satu
fokus di sekolah dengan memberdayakan anak-anak dan remaja untuk memahami
tanda-tanda peringatan bencana dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk
mengurangi risiko dan mencegah bencana, merupakan suatu langkah awal yang
penting dalam membangun ketangguhan bencana seluruh masyarakat. Jadi
kesiapsiagaan haruslah menjadi bagian dari materi yang diberikan dalam dunia
pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah.

Pusat Kurikulum sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam
pengembangan model-model kurikulum sebagai referensi satuan pendidikan
dalam pengembangan kurikulumnya, telah berhasil dalam menyusun
serangkaian modul ajar dan modul pelatihan untuk pengintegrasian
pengurangan risiko bencana ke dalam tingkat satuan pendidikan. Secara
keseluruhan modul ini terdiri atas 15 modul ajar dan 3 modul pelatihan, yaitu:

 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SD.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SMP.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SMA.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SMP.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SMA.

 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SD.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SMP.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SMA.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SMP.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SMA.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SD.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SMP.
 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SMA.
 Modul Pelatihan Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana untuk SD,

SMP dan SMA.
Penyusunan modul-modul tersebut merupakan hasil kerjasama antara Pusat
Kurikulum dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal BAPPENAS
dalam sebuah Program Safer Community Through Disaster Risk Reduction (SCDRR)
In Development yang didanai oleh United Nations Development Program (UNDP)
yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang aman dari ancaman melalui
berbagai upaya pengurangan risiko bencana.
Setiap modul ajar dilengkapi dengan contoh-contoh silabus, rencana pelaksanaan
pembelajaran dan model bahan ajar. Sedangkan modul pelatihan terdiri dari
panduan fasilitasi dan bahan bacaan bagi pelatih mengenai penyelenggaraan
penanggulangan bencana, pengurangan risiko bencana, sekolah siaga bencana,
pendidikan PRB, dan strategi pengintegrasian pendidikan PRB ke dalam kurikulum
satuan pendidikan.
Diharapkan modul-modul tersebut dapat bermanfaat dan dijadikan bahan acuan
bagi para pihak yang berkepentingan dalam kesiapsiagaan di sekolah.

Jakarta, Desember 2009
Kepala Pusat Kurikulum

Dra. Diah Harianti, M.Psi

KEPALA BADAN PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL SAMBUTAN

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan letak geografisnya pada posisi
pertemuan 4 lempeng tektonik, merupakan wilayah yang rawan bencana.
Selain itu dengan kompleksitas kondisi demografi, sosial dan ekonomi di
Indonesia yang berkontribusi pada tingginya tingkat kerentanan masyarakat
terhadap ancaman bencana, serta minimnya kapasitas masyarakat dalam
menangani bencana menyebabkan risiko bencana di Indonesia menjadi
tinggi. Pada tahun 2005, Indonesia menempati peringkat ke-7 dari sejumlah
negara yang paling banyak dilanda bencana alam (ISDR 2006-2009, World
Disaster Reduction Campaign, UNESCO).

Berangkat dari hal tersebut dan guna mendukung paradigma pengurangan
risiko bencana di sektor pendidikan, maka Pusat Kurikulum-sebuah unit eselon
II di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan pada Kementerian Pendidikan
Nasional bekerjasama dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal
BAPPENAS tengah melaksanakan kegiatan Program Safer Community Through
Disaster Risk Reduction (SCDRR) In Development melalui dana hibah UNDP. Kegiatan
ini bertujuan membangun masyarakat yang aman dari ancaman melalui berbagai
upaya pengurangan risiko bencana.

Dalam kerjasama ini, Pusat Kurikulum telah mengembangkan kurikulum khususnya
dalam mengintegrasikan materi-materi dan kompetensi Pengurangan Risiko
Bencana (PRB) ke dalam mata pelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan Pendidikan
Jasmani yang ada di sekolah mulai dari jenjang SD atau yang sederajat sampai
SMA atau yang sederajat. Model pengintegrasian materi dan kompetensi PRB
dengan mata pelajaran-mata pelajaran ini bertujuan agar muatan kurikulum dan
beban belajar tidak menjadi lebih berat. Disamping mengintegrasikan ke mata
pelajaran yang sudah ada PRB juga bisa dijadikan muatan lokal (Mulok) serta ekstra
kurikuler.

Modul Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ini disusun dalam rangka
untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan tentang bencana
dan mensosialisasikan langkah-langkah preventif untuk mengurangi risiko bencana
yang dapat menimpa di wilayah Indonesia. Tanpa adanya upaya terus-menerus
untuk mendiseminasikan informasi tentang ancaman dan langkah-langkah yang
dapat diambil untuk mengurangi risiko-risiko yang dapat ditimbulkannya, sulit bagi
kita untuk mewujudkan guru dan peserta didik yang tangguh dalam menghadapi
bencana.

Modul ini dapat menjadi salah satu solusi yang memungkinkan bagi para guru untuk
mengajarkan peserta didik dari hari ke hari di sekolah secara berkesinambungan,
sehingga proses, internalisasi pengetahuan kebencanaan bukan hanya dipahami

dan diketahui dalam ingatan belaka tapi juga mendorong munculnya respon cepat
penyelamatan yang benar dari peserta didik ketika menghadapi bencana.
Diharapkan modul ini dapat dimanfaatkan, antara lain:

 Sebagai alat pemandu dalam membantu para guru dalam melakukan
pengajaran tentang pengurangan risiko bencana kepada peserta didik di
sekolah sebagai upaya membangun kesiapsiagaan dan keselamatan dari
bencana di sekolah.

 Membuka peluang dan membangun kreatifitas guru dalam menerapkan
pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana yang disesuaikan
dengan konteks sekolah yang dibinanya

 Memberikan gambaran secara lebih sistematis dan komprehensif cara
pengintegrasian pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana
ke dalam mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri di
Sekolah.

 Mendorong inisiatif para guru, sekolah dan gugus dalam mengupayakan
pengurangan risiko bencana dan membangun budaya keselamatan di
sekolah, lingkungan rumah dan lingkungan sekitar.

Semoga Modul Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ini menjadi
bermanfaat dan membantu bagi semua guru untuk meningkatkan pengetahuan,
meningkatkan ketrampilan dan membentuk sikap anak untuk menjadi lebih
tanggap terhadap ancaman bencana.

Jakarta, Desember 2009
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan Nasional

Prof. Dr. H. Mansyur Ramly

DIREKTUR KAWASAN KHUSUS SAMBUTAN
DAN DAERAH TERTINGGAL, BAPPENAS

SELAKU NATIONAL PROJECT
DIRECTOR SCDRR

Menyikapi situasi kejadian bencana dan kenyataan luasnya cakupan wilayah
tanah air yang memiliki berbagai ancaman bencana, pemerintah Indonesia
telah melakukan sejumlah inisiatif guna mengurangi risiko bencana ditanah
air. Pada akhir tahun 2006 Bappenas meluncurkan buku Rencana Aksi Nasional
Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2006 – 2009, sebagai komitmen dalam
mengarusutamakan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan nasional, yang
merupakanpelengkapdariRencanaPembangunanJangka MenengahNasional(RPJMN)
2005 – 2009 yang telah ada. Berdasarkan RAN PRB 2006 – 2009 tersebut, Pemerintah
telah mengalokasikan anggaran untuk program pencegahan dan pengurangan risiko
bencana, sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) mulai tahun
2007. Lebih lanjut pada April 2007, Pemerintah menerbitkan Undang – Undang Nomor
24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang menjadi tonggak sejarah
dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia, dan diikuti dengan peraturan
turunannya, serta dibentuknya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP)
melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008.

Untuk mendukung prakarsa – prakarsa yang telah dimulai oleh Pemerintah Indonesia
tersebut, UNDP bekerjasama dengan Bappenas, BNPB dan Kementerian Dalam Negeri
telah menginisiasi sebuah program yang ditujukan untuk mewujudkan masyarakat
yang lebih aman melalui pengurangan risiko bencana dalam pembangunan atau
yang dikenal dengan Program Safer Communities Through Disaster Risk Reduction in
Development (SCDRR in Development). Program SCDRR ini kan berlangsung selama 5
tahun(2007–2012)dandirancanguntuk mendorongagarpenguranganrisikobencana
menjadi sesuatu yang lazim dalam proses pembangunan yang terdesentralisasi. Untuk
mewujudkan hal itu maka upaya pengarusutamaan pengurangan risiko bencana
kedalam proses pembangunan mutlak harus dijalankan. Upaya tersebut dilaksanakan
melalui 4 pilar sasaran program SCDRR, yaitu : (1) Diberlakukannya kebijakan, peraturan
dan kerangka kerja regulasi pengurangan risiko bencana; (2) Diperkuatnya kelembagaan
pengurangan risiko bencana dan kemitraan diantara mereka; (3) Dipahaminya risiko
bencana dan tindakan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko tersebut oleh
masyarakat dan pengambil kebijakan melalui pendidikan dan penyadaran publik;
(4) Didemonstrasikannya pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari program
pembangunan.

Terkait dengan sasaran ketiga mengenai perlunya pendidikan dan penyadaran
publik terhadap pengurangan risiko bencana, selama beberapa tahun ini pemerintah
bersama-sama beberapa lembaga swadaya masyarakat, dan institusi pendidikan di
tingkat nasional maupun daerah telah melakukan berbagai upaya dalam pendidikan
kebencanaan, termasuk memasukkan materi kebencanaan kedalam muatan lokal,
pelatihan untuk guru, kampanye dan advokasi, hingga school road show untuk kegiatan
simulation drill di sekolah-sekolah. Namun demikian, kegiatan-kegiatan tersebut belum
terkoordinasi dengan baik dan belum terintegrasi dalam satu kerangka yang dapat

disepakati bersama. Dilain pihak, pemetaan aktivitas pendidikan diberbagai wilayah rawan
bencana di Indonesia serta intervensi dan dukungan peningkatan kapasitas untuk pendidikan
masih sangat minim dan terpusat, khususnya di wilayah Jawa dan Sumatera. Kajian kesiapsiagaan
masyarakat terhadap bencana yang telah dilakukan di berbagai wilayah menunjukkan rendahnya
tingkat kesiapsiagaan komunitas sekolah dibanding masyarakat serta aparat (LIPI, 2006 – 2007).
Hal ini sangat ironis, karena sekolah adalah basis dari komunitas anak-anak, yang merupakan
kelompok rentan yang perlu dlindungi dan secara bersamaan perlu ditingkatkan pengetahuan
dan keterampilannya.
Di sisi lain, tantangan dalam mengintegrasikan upaya-upaya pengurangan risiko bencana
kedalam sistem pendidikan juga telah banyak dikaji, seperti : (1) Beratnya beban kurikulum siswa;
(2) Kurangnya pemahaman guru mengenai bencana ; (3) Kurangnya kapasitas dan keahlian guru
dalam integrasi PRB kedalam kurikulum; (4) Minimnya panduan, silabus dan materi ajar yang
terdistribusi dan dapat diakses oleh guru; (5)Terbatasnya sumberdaya (tenaga, biaya dan sarana);
dan (6) Kondisi bangunan fisik sekolah, sarana dan prasarana pada ummnya memprihatinkan,
tidak berorientasi pada AMDAL dan konstruksi tahan gempa.
Untuk menjawab tantangan tersebut dan guna melaksanakan integrasi pengurangan risiko
bencana ke dalam sistem pendidikan, dalam rangka mewujudkan budaya aman dan siaga
bencana, maka SCDRR telah mendukung Kementerian Pendidikan Nasional dalam menyusun
Strategi Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana kedalam Sistem Pendidikan Nasional.
Strategi ini akan disahkan melalui suatu bentuk kebijakan ditingkat nasional yang diharapkan
dapat menjadi acuan bagi pelaksanaan integrasi PRB ke dalam sistem pendidikan baik intra
maupun ekstrakurikuler secara nasional.
Untuk mendukung implementasi kebijakan tesebut, maka SCDRR mendukung Pusat Kurikulum,
Kementerian Pendidikan Nasional dalam menyusun modul ajar dan modul pelatihan
pengintegrasian pengurangan risiko bencana ke dalam intra dan ekstrakurikuler. Modul-modul
ini berisi model pembelajaran, materi ajar lengkap dengan panduan pengajarannya, dalam hal
integrasi PRB kedalam intra dan ekstrakurikuler.
Diharapkan modul-modul yang disusun oleh Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional
ini dapat menjadi acuan standar dan/atau memperkaya bahan-bahan yang sudah ada dan sudah
disusun oleh berbagai pihak lainnya, sehingga dapat bermanfaat dan digunakan oleh praktisi
pendidikan dan pemangku kepentingan lainnya dalam rangka peningkatan kesiapsiagaan
sekolah terutama didaerah rawan bencana. Terima Kasih.

Jakarta, Desember 2009
Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Bappenas
Selaku National Project Director SCDRR

Dr.Ir Suprayoga Hadi, MSP

DAFTAR ISI

SAMBUTAN KEPALA PUSAT KURIKULUM iii
SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN,
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL v
SAMBUTAN DIREKTUR KAWASAN KHUSUS DAERAH TERTINGGAL
SELAKU NPD SC-DRR vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xiii
DAFTAR KOTAK xv
BAB I PENDAHULUAN 1
1
1.1 Landasan & Pedoman 3
1.1.1 Landasan Filosofis 4
1.1.2 Landasan Sosiologis 4
1.1.3 Landasan Yuridis 4
1.1.4 Pedoman Pengembangan Produk
1.1.5 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ke dalam 5
Sistem Pendidikan Nasional 7

1.2 Kerangka Kerja Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana 7
1.2.1 Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana dan 8
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan 9
1.2.2 Konsep Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana 9
11
BAB II FENOMENA DAN PERISTIWA KEBAKARAN 12
2.1 Fenomena Kebakaran 12
2.2 Peristiwa Kebakaran di Indonesia 12
12
BAB III PENGURANGAN RISIKO KEBAKARAN 13
3.1 Pengurangan Risiko Bencana
3.1.1 Pencegahan
3.1.2 Mitigasi
3.1.3 Kesiapsiagaan

Daftar Isi

3.2 Kesiapsiagaan 15
3.2.1 Tindakan Sebelum Terjadi Kebakaran 15
3.2.2 Tindakan Saat Terjadi Kebakaran 27
3.2.3 Tindakan Setelah Terjadi Kebakaran 33

BAB IV MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN RISIKO KEBAKARAN 37
4.1 Identifikasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran 37
4.2 Pemetaan Indikator Prilaku Siswa 39
4.3 Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar 40

BAB V PENGINTEGRASIAN PENGURANGAN RISIKO KEBAKARAN 43
KE DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DASAR
(SD/MI)

5.1 Pengintegrasian Materi Pembelajaran 43
Pengurangan Risiko Kebakaran Ke Dalam Mata Pelajaran 43
43
5.1.1 Peta Integrasi Materi Pembelajaran 48
Pengurangan Risiko Kebakaran 59
5.1.2 Analisis Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi 62
5.1.3 Penyusunan Silabus Pengurangan Risiko Kebakaran
5.1.4 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
5.1.5 Penyusunan Bahan Ajar

5.2 Pengembangan Model Muatan Lokal 64
Pengurangan Risiko Kebakaran

5.2.1 Analisis Konteks Pengembangan Muatan Lokal 64

5.2.2 Penyusunan Standar Kompetensi dan

Kompetensi Dasar Muatan Lokal 66
5.2.3 Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 68

5.3 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
Dalam Program Pengembangan Diri 68

DAFTAR ISTILAH 74

DAFTAR PUSTAKA 76

x

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Identifikasi Materi Pembelajaran
Pengurangan Risiko Kebakaran 38
Tabel 4.2 Indikator Prilaku Siswa 39
Tabel 5.1 Pemetaan SK/SD ke dalam mata pelajaran IPA, IPS.
Bahasa Indonesia dan Penjasorkes 44
Tabel 5.2 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran IPA kelas IV/1 52
Tabel 5.3 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV/1 53
Tabel 5.4 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV/2 55
Tabel 5.5 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V/1 56
Tabel 5.6 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V/2 57
Tabel 5.7 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI/1 58
Tabel 5.8 Contoh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Muatan Lokal Sekolah Dasar 68
Tabel 5.9 Kegiatan terprogram berupa kegiatan Pengembangan Diri 71

Daftar Tabel

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kebakaran di perumahan padat penduduk 9
Gambar 2.2 Proses terjadinya El Nino 9
Gambar 3.1 Diagram proses terjadinya api 15
Gambar 3.2 Korek api 20
Gambar 3.3 Latihan cara keluar menyelamatkan diri jika terjadi
kebakaran 22
Gambar 3.4 Menyimpan selimut api dan pemadam api di dalam dapur 22
Gambar 3.5 Racun Api 25
Gambar 3.6 Hidran 25
Gambar 3.7 Detektor Asap 26
Gambar 3.8 Titik Panggil Manual 26
Gambar 3.9 Sprinkler 27
Gambar 3.10 Kebakaran di bangunan tinggi 29
Gambar 3.11 Pertolongan pertama pada luka bakar 32
Gambar 5.1 Peta Integrasi Materi Pembelajaran
Pengurangan Risiko Kebakaran 43
Gambar. 5.2 Skema Pengembangan Silabus 49

Daftar Gambar

xiv

DAFTAR KOTAK

Kotak 5.1.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Materi 60
Pengurangan Risiko Kebakaran 62
Kotak 5.2.1 bahan ajar Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
sekolah dasar/madrash ibtidaiyan 72
Kotak 5.3.1 Contoh bahan ajar Pengurangan Risiko Kebakaran
pada Program Pengembangan Diri
yaitu pada kegiatan pramuka

Daftar Kotak

xvi

PENDAHULUAN BAB I

1.1 Landasan dan Pedoman

Berdasarkan hasil Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Risiko Bencana
yang diselenggarakan pada tanggal 18-22 Januari 2005 di Kobe, Hyogo,
Jepang; dan dalam rangka mengadopsi Kerangka Kerja Aksi 2005-2015
dengan tema ‘Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas Terhadap Bencana’
memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang
strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap bahaya.
Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifikasi cara-cara untuk
membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana.
Pada bulan Januari 2005, lebih dari 4.000 perwakilan pemerintah, organisasi non-
pemerintah , institusi akademik, dan sektor swasta berkumpul di Kobe, Jepang, pada
World Conference on Disaster Reduction (WCDR) kesebelas. Konferensi tersebut
mengakhiri perundingan-perundingan tentang Kerangka Kerja Aksi Hyogo 2005-
2015 : Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas terhadap Bencana (HFA).
Kerangka Aksi ini diadopsi oleh 168 negara dan menetapkan tujuan yang jelas
secara substansiil mengurangi kerugian akibat bencana, baik korban jiwa maupun
kerugian terhadap aset-aset sosial, ekonomi, dan lingkungan suatu masyarakat
dan negara dan merinci seperangkat prioritas untuk mencapai tujuan setindaknya
pada tahun 2015.
HFA menekankan bahwa pengurangan risiko bencana adalah isu sentral kebijakan
pembangunan, selain juga menjadi perhatian berbagai bidang ilmu, kemanusiaan,
dan lingkungan. Bencana merusak hasil-hasil pembangunan, memelaratkan rakyat
dan negara. Tanpa usaha yang serius untuk mengatasi kerugian akibat bencana,
bencana akan terus menjadi penghalang besar dalam pencapaian Sasaran
Pembangunan Milenium. Untuk membantu pencapaian hasil yang diinginkan,
HFA mengidentifikasi lima Prioritas Aksi yang spesifik: (1) Membuat Pengurangan
Risiko Bencana sebagai prioritas; (2) Memperbaiki informasi risiko dan peringatan
dini; (3) Membangun budaya keamanan dan ketahanan; (4) Mengurangi risiko pada
sektor-sektor utama; (5) Memperkuat kesiapan untuk bereaksi.

Pendahuluan

HFA memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang
strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap bahaya.
Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifikasi cara-cara untuk
membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana. Karena bencana
dapat diredam secara berarti jika masyarakat mempunyai informasi yang cukup dan
didorong pada budaya pencegahan dan ketahanan terhadap bencana, yang pada
akhirnya memerlukan pencarian, pengumpulan, dan penyebaran pengetahuan
dan informasi yang relevan tentang bahaya, kerentanan, dan kapasitas.
Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha antara lain: (1) menggalakkan
dimasukkannya pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana sebagai bagian
yang relevan dalam kurikulum pendidikan di semua tingkat dan menggunakan
jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau anak-anak muda dan anak-
anak dengan informasi; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana
sebagai suatu elemen instrinsik dalam dekade 2005–2014 untuk Pendidikan bagi
Pembangunan Berkelanjutan (United Nations Decade of Education for Sustainable
Development); (2) menggalakkan pelaksanaan penjajagan risiko tingkat lokal
dan program kesiapsiagaan terhadap bencana di sekolah-sekolah dan lembaga-
lembaga pendidikan lanjutan; (3) menggalakkan pelaksanaan program dan
aktivitas di sekolah-sekolah untuk pembelajaran tentang bagaimana meminimalisir
efek bahaya; (4) mengembangkan program pelatihan dan pembelajaran tentang
pengurangan risiko bencana dengan sasaran sektor-sektor tertentu, misalnya: para
perancang pembangunan, penyelenggara tanggap darurat, pejabat pemerintah
tingkat lokal, dan sebagainya; (5) menggalakkan inisiatif pelatihan berbasis
masyarakat dengan mempertimbangkan peran tenaga sukarelawan sebagaimana
mestinya untuk meningkatkan kapasitas lokal dalam melakukan mitigasi dan
menghadapi bencana; (6) memastikan kesetaraan akses kesempatan memperoleh
pelatihan dan pendidikan bagi perempuan dan konstituen yang rentan; dan (7)
menggalakkan pelatihan tentang sensitivitas gender dan budaya sebagai bagian tak
terpisahkan dari pendidikan dan pelatihan tentang Pengurangan Risiko Bencana.
‘Kampanye Pendidikan tentang Risiko Bencana dan Keselamatan di Sekolah’
yang dikoordinir oleh UN/ISDR (United Nations/International Strategy for
Disaster Reduction) hingga penghujung tahun 2007 dengan didasari berbagai
pertimbangan. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan selama kejadian
bencana, terutama yang sedang bersekolah pada saat berlangsungnya kejadian.
Pada saat bencana, gedung sekolah hancur, mengurangi usia hidup murid sekolah
dan guru yang sangat berharga dan terganggunya hak memperoleh pendidikan
sebagai dampak bencana. Pembangunan kembali sekolah juga memerlukan waktu
yang tidak sebentar dan pastilah sangat mahal.
Kampanye ditujukan kepada murid sekolah dasar dan menengah, para guru,
pembuat kebijakan pendidikan, orangtua, insinyur dan ahli bangunan. Selain
itu juga ditujukan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung-jawab atas
isu manajemen bencana, mendiknas, para pemimpin politik di tingkat nasional,
pembuat keputusan di masyarakat, dan otoritas lokal. Pesan yang bisa disampaikan
antara lain: (1) pendidikan tentang risiko bencana menguatkan anak-anak dan
membantu membangun kesadaran yang lebih besar isu tersebut di dalam

2

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

masyarakat; (2) fasilitas bangunan sekolah yang bisa menyelamatkan hidup dan
melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari suatu kejadian
bencana alam; dan (3) pendidikan tentang risiko bencana dan fasilitas keselamatan
di sekolah akan membantu negara-negara menuju ke arah pencapaian Tujuan
Pembangunan Millenium.
Sekolah dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap generasi muda,
yaitu dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan menyampaikan pengetahuan
tradisional dan konvensional kepada generasi muda. Untuk melindungi anak-
anak dari ancaman bencana alam diperlukan dua prioritas berbeda namun tidak
bisa dipisahkan aksinya yaitu pendidikan untuk mengurangi risiko bencana dan
keselamatan dan keamanan sekolah.
Sekolah juga harus mampu melindungi anak-anak dari suatu kejadian bencana
alam. Investasi dalam memperkuat struktur gedung sekolah sebelum suatu
bencana terjadi, akan mengurangi biaya/anggaran jangka panjang, melindungi
generasi muda penerus bangsa, dan memastikan kelangsungan kegiatan belajar-
mengajar setelah kejadian bencana. Pendidikan di sekolah dasar dan menegah
membantu anak-anak memainkan peranan penting dalam penyelamatan hidup dan
perlindungan aset/milik masyarakat pada saat kejadian bencana. Menyelenggarakan
pendidikan tentang risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah sangat membantu
dalam membangun kesadaran akan isu tersebut di lingkungan masyarakat.
Mengurangi risiko bencana dimulai dari sekolah. Seluruh komponen, dalam hal
ini anak-anak sekolah, para guru, para pemimpin masyarakat, orangtua, maupun
individu yang tertarik dengan pendidikan tentang risiko bencana dan keselamatan
di sekolah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, institusi lokal/
regional/nasional/ internasional, sektor swasta dan publik untuk dapat berpartisipasi
secara aktif. Keterlibatan media juga diperlukan untuk mendorong sebuah budaya
ketahanan terhadap bencana dan keterlibatan komunitas yang kuat dalam rangka
kampanye pendidikan publik secara terus-menerus dan dalam konsultasi publik di
segenap lapisan masyarakat. Bencana?! Jika Siap Kita Selamat.
Padatnya kurikulum pendidikan nasional tidak boleh kita jadikan alasan untuk tidak
melakukan kegiatan Pengurangan Risiko Bencana di sekolah secara berkelanjutan.
Pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana di sekolah-sekolah bisa dilaksanakan
dengan mengintegrasikan materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana ke
dalam (1) mata pelajaran pokok/paket, (2) muatan lokal, dan (3) ekstrakurikuler dan
pengembangan diri. Atau secara khusus megembangkan dan menyelenggarakan
kurikulum muatan lokal dan ektrakurikuler/pengembangan diri yang didedikasikan
khusus untuk pendidikan pengurangan risiko bencana.
1.1.1 Landasan Filosofis

Bencana merupakan suatu bentuk gangguan terhadap kehidupan dan
penghidupan masyarakat, oleh karena itu, secara filosofis, pengurangan risiko
bencana merupakan bagian dari pemenuhan tujuan bernegara Republik
Indonesia, yaitu melindungi segenap rakyat dan bangsa, serta seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

3

Pendahuluan

Upaya melindungi segenap rakyat dan bangsa dikuatkan pula dengan hak
setiap orang atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat,
dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman
dari ancaman ketakutan untuk untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang
merupakan hak asasi, hak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan (Pasal 28G ayat (1) dan Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945.
1.1.2 Landasan Sosiologis
Ada tiga pertimbangan sosiologis yang patut diketengahkan, yaitu Pertama
secara geografis, demografis dan geologis, Indonesia merupakan negara
rawan bencana, baik bencana alam dan bencana akibat ulah manusia, seperti
kegagalan atau mala praktik teknologi. Kedua, adalah bahwa perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kondisi sosial masyarakat, telah
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan yang berakibat pada
terjadinya bencana. Ketiga, adalah kondisi struktur manajemen bencana
itu sendiri. Kematian, cidera dan kerugian materi, serta masalah lingkungan
dan ekonomi dapat dikurangi apabila penyelenggaraan penanggulangan
bencana telah dilakukan secara komprehensif yang mencakup pendekatan
yang bersifat pencegahan, pengurangaan risiko, tindakan kesiapsiagaan
tindakan tanggap terhadap bencana, serta upaya pemulihan. Disamping itu,
pendekatan yang mengedepankan pentingnya partisipasi dari semua tingkat
pemerintahan, baik pemerintah pusat dan daerah, mengambil peran yang
aktif dalam menciptakan manajemen bencana yang efektif. Serta pentingnya
partisipasi publik dan pemangku kepentinga dalam penanganan bencana.
1.1.3 Landasan Yuridis
Pertimbangan yuridis adalah menyangkut masalah-masalah hukum serta peran
hukum dalam penanganan bencana. Hal ini dikaitkan dengan peran hukum
dalam pembangunan, baik sebagai pengatur perilaku, maupun instrumen
untuk penyelesaian masalah. Hukum sangat diperlukan, karena hukum atau
peraturan perundang-undangan dapat menjamin adanya kepastian dan
keadilan dalam penanganan bencana. Undang-Undang No.24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana ditempatkan guna memberikan jawaban
atau solusi terhadap permasalahan yang berkaitan dengan penangan
bencana, merupakan landasan yuridis paling dekat untuk pelaksanaan usaha-
usaha pengurangan risiko bencana di Indonesia.
1.1.4 Pedoman Pengembangan Produk
Program pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB) bertujuan untuk
meminimalisir risiko bencana dan meningkatkan kapasitas sekolah dalam
melaksanakan pengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan, mitigasi, dan
peringatan dini. PRB oleh satuan pendidikan dapat dilakukan dengan cara
mengintegrasikan materi pendidikan pengurangan risiko bencana dalam
kurikulum yang berlaku di sekolah, mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan
pengembangan diri dan ekstrakurikuler, dan bahan ajar.

4

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

Dasar hukum yang menjadi pedoman perancangan dan pengembangan serial
modul dan modul pelatihan adalah:
1. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
3. Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
4. Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan

Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 - 2025
5. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 - 2009
6. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional

Pendidikan
7. Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional

Penanggulangan Bencana
8. Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2008 tentang Pengesahan ASEAN

Agreement on Disaster Management and Emergency Response (Persetujuan
ASEAN mengenai Penanggulangan Bencana dan Penanganan Darurat)
9. Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana
10. Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
11. Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan
12. Peraturan Mendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi
dan Standar Kompetensi Lulusan, yang disempurnakan dengan Peraturan
Mendiknas No. 6 Tahun 2007
13. Peraturan Mendiknas No. 40 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Balitbang Depdiknas
14. Peraturan Mendiknas No. 50 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan
Pendidikan oleh Pemerintah Provinsi
15. Peraturan Mendiknas No. 24 tTahun 2007 tentang Standar Sarana dan
Prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA
16. Surat Edaran Mendiknas No. 33/MPN/SE/2007 tentang Sosialisasi KTSP

1.1.5 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Sistem
Pendidikan Nasional
UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38 Ayat (2):
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan
relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite
sekolah/madrasah dibawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau
kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan
provinsi untuk pendidikan menengah

5

Pendahuluan

Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa penyusunan
kurikulum merupakan tanggung jawab setiap satuan pendidikan (sekolah
dan madrasah). Oleh karena itu tidak lagi dikenal apa yang disebut dengan
kurikulum nasional, yang pada periode sebelumnya menjadi tanggung jawab
pemerintah pusat.
Dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 17
menyebutkan:
1. Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/

MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan
sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah,
sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik
2. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah,
mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya
berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan,
dibawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di
bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK dan departemen yang
mengurusi urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan
MAK
Penjabaran kurikulum dilakukan dengan penyusunan silabus dan bahan ajar
sesuai dengan kondisi geografis dan demografis untuk daerah, kebutuhan,
potensi dan karkateristik satuanpendidikan dan peserta didik, yangselanjutnya
diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dalam Permendiknas No.
24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi
Lulusan Pasal 1:
1. Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan
menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah
sesuai kebutuhan satuan pendidikan.
2. Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan
kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari standar isi dan standar
kompetensi lulusan.
3. Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh
kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan
pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah.
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 32 Ayat 1, juga telah mengakomodasi kebutuhan pendidikan
bencana dalam terminologi ‘pendidikan layanan khusus’. Yakni “pendidikan
bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat
yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak
mampu dari segi ekonomi”.

6

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

1.2 Kerangka Kerja Pendidikan untuk Pengurangan Risiko
Bencana

1.2.1 Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana dan Pendidikan untuk
Pembangunan Berkelanjutan
Pada bulan Desember 2002, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 57/254
untuk menempatkan Dekade Pendidikan Bagi Pembangunan Berkelanjutan,
mulai 2005-2014, dibawah koordinasi UNESCO. Pendidikan untuk pengurangan
bencana (alam) telah diidentifikasi sebagai masalah inti yang akan dibahas
di bawah DESD. Pendidikan dipandang dalam konsep yang lebih luas.
Sebagaimana didefinisikan dalam Bab 36 dalam Agenda 21, “Pendidikan
sangat penting untuk mencapai perlindungan lingkungan dan kesadaran
etika, nilai-nilai dan sikap, keterampilan dan perilaku yang konsisten dengan
pembangunan berkelanjutan. Baik formal dan pendidikan non-formal sangat
diperlukan untuk pembangunan berkelanjutan“. Pendidikan dan pengetahuan
berkontribusi untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya (alam) serta
kerentanan dan ancaman yang ada yang dihadapi oleh masyarakat. Juga
memberikan kontribusi untuk menumbuhkembangkan keterampilan hidup.
Dasawarsa ini didukung oleh Kerangka Aksi Hyogo 2005 – 2015 yang
menyoroti pentingnya pendidikan dan pembelajaran sebagai bagian dari
prioritas aksi, menggunakan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk
membangun sebuah budaya keselamatan dan ketahanan di semua tingkat.
Inisiatif pengurangan risiko bencana harus berakar di semua lembaga-
lembaga pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah dan memasukkan dalam
program pendidikan. Pendidikan pengurangan risiko bencana yang mencakup
semua aspek peningkatan kesadaran publik, pendidikan dan pelatihan yang
bertujuan untuk menciptakan dan atau meningkatkan budaya pencegahan
melalui identifikasi dan pemahaman risiko, serta belajar mengenai langkah-
langkah pengurangan risiko bencana, dan tanggap bencana.
Oleh karena itu Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana - sebagai
bagian dari Pengurangan Risiko Bencana (PRB) - harus melekat dengan
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable
Development - ESD), dan mendukung kerangka ESD yang mencakup 3 aspek,
yaitu:
1. Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah interdisipliner.
Oleh karena itu, pertimbangan penting diberikan kepada dampak, dan
hubungan antara, masyarakat, lingkungan, ekonomi dan budaya.
2. Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana dan meningkatkan
pemikiran kritis dan pemecahan masalah, dan ketrampilan hidup sosial dan
emosional untuk pemberdayaan kelompok rentan atau terkena bencana.
3. Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana mendukung Tujuan
Pembangunan Milenium. Tanpa mempertimbangkan Pengurangan Risiko
Bencana dalam perencanaan pembangunan, semua upaya pembangunan
termasuk inisiatif DESD dihancurkan dalam hitungan detik.

7

Pendahuluan

Kerangka kerja Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana atau pendidikan
pengurangan risiko bencana dikembangkan mengikuti arahan UN-ISDR
sebagai berikut: “Pendidikan pengurangan risiko bencana adalah sebuah
proses pembelajaran bersama yang bersifat interaktif di tengah masyarakat
dan lembaga-lembaga yang ada. Cakupan pendidikan pengurangan risiko
bencana lebih luas daripada pendidikan formal di sekolah dan universitas.
Termasuk di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan kearifan tradisional
dan pengetahuan lokal bagi perlindungan terhadap bencana alam.”
HFA pada PRIORITAS AKSI 3, Poin Aktivitas kunci termaktub rekomendasi
bahwa PRB dimasukkan dalam kurikulum sekolah, pendidikan formal dan
informal.
“Menggalakkan dimasukkannya pengetahuan pengurangan risiko bencana
dalam bagian yang relevan dalam kurikulum sekolah di semua tingkat dan
menggunakan jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau pemuda
dan anak-anak; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana sebagai
suatu elemen intrinsik Dekade Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan
(2005-2015) dari PBB “.

1.2.2 Konsep Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana
Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana adalah usaha sadar dan terencana
dalam proses pembelajaran untuk memberdayaan peserta didik dalam upaya
untuk pengurangan risiko bencana dan membangun budaya aman serta
tangguh terhadap bencana. Pendidikan PRB lebih luas dari penddidikan
bencana, bahkan lebih dari pendidikan tentang pengurangan risiko bencana.
Tetapi mengembangkan motivasi, ketrampilan, dan pengetahuan agar
dapat tertindak dan mengambil bagian dari upaya untuk pengurangan risiko
bencana.
Tujuan pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah:
1. Menumbuhkembangkan nilai dan sikap kemanusiaan
2. Menumbuhkembangkan sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana
3. Mengembangkan pemahaman tentang risiko bencana, pemahaman tentang
kerentanan sosial, pemahaman tentang kerentanan fisik, serta kerentanan
prilaku dan motivasi,
4. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk pencegahan dan
pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan
yang bertanggungjawab, dan adaptasi terhadap risiko bencana
5. Mengembangkan upaya untuk pengurangan risiko bencana diatas, baik secara
individu maupun kolektif
6. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siaga bencana
7. Meningkatkan kemampuan tanggap darurat bencana
8. Mengembangkan kesiapan untuk mendukung pembangunan kembali
komunitas saat bencana terjadi dan mengurangi dampak yang disebabkan
karena terjadinya bencana
9. Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan besar dan
mendadak

8

FENOMENA DAN PERISTIWA BAB II
KEBAKARAN

2.1 Fenomena Kebakaran

Kebakaran selalu menghantui warga di perkotaan dimana terdapat banyak
kelurahan rawan kebakaran di seluruh wilayah Indonesia. Umumnya kelurahan-
kelurahan itu padat penduduk, rumahnya berdempetan, akses jalan sempit, dan
banyak instalasi listrik yang tidak sesuai aturan.

Gambar 2.1 Kebakaran di perumahan padat penduduk

El Nino merupakan fenomena alam yang terjadi secara natural setiap tahun.
Terjadinya El Nino ini disebabkan temperatur di perairan tropis di bagian timur
Samudra Pasifik bertambah panas secara tidak wajar yang menyebabkan terjadinya
pergerakan uap air. Udara yang lebih panas tersebut pada akhirnya menimbulkan
kekeringan di sejumlah kawasan Asia Pasifik, seperti Indonesia.

Gambar 2.2 Proses terjadinya El Nino

Fenomena dan Peristiwa Kebakaran

Pengaruh El Nino di Jawa Barat telah menyebabkan kelembapan udara di Kota
Bandung dan wilayah lainnya di Jabar sangat rendah. Jika biasanya saat musim
kemarau kelembapan udara Kota Bandung mencapai 75 persen, kini hanya sekitar
40 persen. Akibatnya, musibah kebakaran dan kesulitan air lebih rentan terjadi pada
masa ini.
Kebakaran pemukiman adalah sebuah risiko maka kita akan berupaya sekuat
tenaga untuk menghindari risiko kebakaran, kita semua akan berhati-hati dalam
menggunakan dan memperlakukan kompor, lilin, rokok, lampu tempel dan listrik
untuk menghindari risiko kebakaran, termasuk juga dalam menata ruangan, akses
masuk dan lain sabagainya.
Di Jakarta, listrik dan kompor merupakan penyebab utama kebakaran untuk rumah
tangga. Selama 10 tahun terakhir telah terjadi lebih dari 800 kebakaran setiap tahun
atau sekitar 2 hingga 3 kali kebakaran per hari, dengan korban meninggal mencapai
27 jiwa dan kerugian langsung mencapai nilai Rp 250 miliar setiap tahunnya.
Lebih dari 45 persen kebakaran terjadi di bangunan permukiman, dan lebih dari
25 persen terjadi di bangunan umum, seperti pasar tradisional, usaha kecil dan
menengah, dan industri manufaktur. Kebakaran telah memberikan dampak
kepada lebih dari 22.000 orang setiap tahunnya. Dengan demikian kebakaran
sangat berpotensi meninggalkan trauma pada masyarakat luas, dan menyebabkan
kerugian perekonomian masyarakat luas.
Dari berbagai penelitian yang dilakukan, tampak bahwa kecerobohan atau
ketidakdisiplinan, bersama dengan kegagalan peralatan, dan sistem proteksi
yang tidak memadai sering kali menjadi penyebab utama kecelakaan, termasuk
terjadinya kebakaran. Untuk itu, hal utama yang dapat dilakukan adalah dengan
melakukan upaya pencegahan dengan membangun disiplin teknik keselamatan
kebakaran yang memfokuskan upaya pencegahan dan penanganan kebakaran
sejak suatu bangunan dirancang dan dioperasikan.
Di Inggris disiplin ini dikenal sebagai fire engineering, dan di Amerika Serikat dikenal
sebagai fire protection engineering. Terminologi fire safety engineering relatif baru
digunakan untuk menjelaskan disiplin yang memanfaatkan prinsip-prinsip sains
(matematika, fisika, kimia, statistika) dan teknik (termodinamika, mekanika fluida,
perpindahan kalor dan massa, mekanika benda padat) untuk melindungi manusia,
lingkungan buatan dan lingkungan alamiah.
Fenomena kebakaran merupakan kejadian unik dan khas Indonesia yang
nampaknya sebagai konsekwensi dari meningkatnya perumahan atau permukiman
padal penduduk di perkotaan yang kerap kumuh sehingga kurang memperhatikan
ketentuan dan persyaratan keamanan terhadap bahaya kebakaran. Kebakaran
besar ini jelas berimplikasi luas menyangkut aspek sosial, ekonomi, psikologis
massa, politik dan lingkungan.
Kebakaran jenis ini (kebakaran gedung dan permukiman) pada dasarnya adalah
disebabkan oleh kalalian manusia, yaitu karena pemilihan bahan bangunan yang
mudah terbakar, pemasangan instalisi listrik yang tidak sesuai dengan aturan,
pemakaian alat elektronik yang tidak terpantau dengan baik.

10

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

2.2 Peristiwa Kebakaran Di Indonesia

Sementara itu, berkaitan dengan kebakaran pemukiman yang terjadi di Jakarta
berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana,
korsleting arus pendek listrik masih menjadi faktor tertinggi penyebab terjadinya
kebakaran. Sepanjang tahun 2009, ada sekitar 191 kebakaran yang disebabkan
karena korsleting listrik dari total kebakaran yang jumlahnya mencapai 316 kasus.
Sementara penyebab lain dari kebakaran seperti akibat ledakan kompor ada
sekitar 34 kasus, lampu tempel tiga kali dan rokok delapan kasus. Dari jumlah
kasus kebakaran tersebut, sedikitnya menyebabkan kerugian material sebesar Rp
83,2 miliar. Sedangkan luas areal yang terbakar mencapai 85.779 meter persegi.
Kebakaran juga menyebabkan 6.457 jiwa kehilangan tempat tinggal atau sekitar
1.724 Kepala Keluarga (KK). Adapun waktu terjadinya kebakaran, terjadi siang hari
99 kasus, malam hari 85 kasus, pagi hari 75 kasus, dan dini hari 57 kasus.
Berdasarkan data diatas untuk mengurangi risiko kebakaran maka perlu di sekolah-
sekolah diberikan Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana dalam bentuk PRB
yang di integrasikan ke mata pelajaran, program pengembangan diri dan muatan
lokal. Dengan harapan sekolah (guru,karyawan,siswa) memiliki kompetensi yang
dapat digunakan untuk mengurangi risiko kebakaran baik kebakaran pemukiman
maupun kebarakan hutan.
Api kecil jadi sahabat api besar jadi lawan. Kata-kata ini mungkin dulu sering kita
dengar tetapi belum tentu benar karena api besar kita butuhkan untuk berbagai
keperluan kita yang bermanfaat. Api kecil juga bisa membuat masalah yang tidak
dikehendaki jika tidak sesuai dengan pemanfaatan yang kita inginkan. Api bisa
merusak semuanya dan apapun yang ia sentuh. Cobalah lihat data statistik di
daerah anda, bahkan dinegara kita berapa kali terjadi kebakaran dan berapa yang
terluka hingga kehilangan nyawa serta berapa kerugian yang diakibatkannya.
Upaya pemerintah sendiri dalam melakukan sosialisasi dan penyuluhan pencegahan
kebakaran kepada masyarakat dirasakan masih belum efektif. Media cetak dan
elektronik umumnya juga lebih tertarik meliput kebakaran sebagai kecelakaan
ketimbang mengungkap akar penyebabnya.
Indonesia sampai kini belum mempunyai angka statistik nasional tentang nilai
ekonomi kerugian kebakaran baik korban jiwa, luka-luka, maupun harta benda.
Dengan demikian persepsi kebakaran sebagai risiko belum dipahami dari aspek
nilai ekonomi.
Sedangkan pendidikan proteksi kebakaran yang ada masih sangat bersifat
sementara belum merupakan kebutuhan pokok. Saat ini belum ada sekolah
kebakaran terakreditasi. Yang ada, hanyalah diklat kebakaran milik pemerintah
DKI Jakarta dan Kursus kilat yang lebih diminati karena sertifikat yang diterbitkan
ketimbang kompetensinya. Di lain pihak sampai saat ini, perguruan tinggi yang
membuka program studi kebakaran masih sangat terbatas sekali.
Agar bangunan seperti rumah, kantor, sekolah, gudang dan lain sebagainya tidak
terbakar dan menimbulkan kebakaran, maka diperlukan pencegahan kebakaran
dengan cara memberikan pendidikan pengurangan risiko bencana (kebakaran)
kepada siswa dengan berbagai pengetahuan, tips dan trik untuk mencegah
terjadinya kebakaran.

11

PENGURANGAN RISIKO

BAB III KEBAKARAN

3.1 Pengurangan Risiko Kebakaran

Langkah-langkah pengurangan Risiko bencana dipahami sebagai pengembangan
dan penerapan secara luas dari kebijakan-kebijakan, strategi-strategi dan praktek-
praktek untuk meminimalkan kerentanan dan risiko bencana di masyarakat yang
berbasis masyarakat. Upaya mengurangi risiko bencana dilakukan melalui tiga
langkah yaitu:
3.1.1 Pencegahan

Pencegahan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk
menghilangkan dan atau mengurangi ancaman bencana. Sebagai contoh,
untuk mencegah terjadinya kebakaran dilakukan tindakan pemasangan
instalasi listrik yang benar, pemilihan bahan bangunan yang tidak mudah
terbakar, jangan menempatkan bahan yang mudah terbakar di dekat sumber
dan sebagainya.
3.1.2 Mitigasi
Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana.Tindakan mitigasi disebut sebagai tindakan
struktural dan non struktural. Tindakan mitigasi yang bersifat struktural
contohnya adalah pemasangan instalasi listrik oleh orang yang propesinal,
bahan bangunan yang tidak mudah terbakar seperti kerangka baja ringan
untuk kap rumah. Tindakan mitigasi yang bersifat non struktural misalnya
pelatihan untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap bahaya yang
dihadapi, pelatihan dan pengorganisasian sukarelawan bagi kegiatan bencana
kebakaran.
Tujuan pokok dari tindakan mitigasi adalah:
a. Mengurangi ancaman

Sebagian bencana tidak dapat dicegah agar tidak terjadi, tetapi ancamannya
dapat dikurangi. Misalnya: struktur bangunan yang tahan api.

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

b. Mengurangi kerentanan
Berbagai faktor seperti factor fisik, social, ekonomi maupun kondisi geografis
dapat menurunkan kemampuan masyarakat untuk mempersiapkan
diri maupun menanggulangi dampak akibat bahaya kebakaran. Hal
terpenting dalam kegiatan pengelolaan risiko bencana kebakaran adalah
menurunkan kerentanan sehingga masyarakat menjadi tahan terhadap
bencana kebakaran.

c. Meningkatkan kapasitas
Kapasitas merupakan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana
pada semua tahapannya, melalui berbagai sistem yang dikembangkannya.
Contoh peningkatan kapasitas adalah dalam menghadapi kebakaran
yang bersifat musiman, kelompok masyarakat memiliki posko kebakaran
yang akan siap setiap kebakaran terjadi. Peningkatan kapasitas juga
bisa dilakukan dengan meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana
penanggulangan kebakaran, pelatihan tanggap darurat, dan sebagainya.

3.1.3 Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan untuk meng­
antisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat
guna dan berdaya guna. Sebagai contoh: membangun system peringatan dini,
penyiapan jalur evakuasi bila terjadi bencana, laztihan simulasi bencana.
Kesiapsiagaan diri, keluarga dan sekolah akan sangat membantu dalam
mengurangi dampak bencana, baik kerugian harta maupun korban jiwa,
Kesiapsiagaan dimulai dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memahami potensi ancaman yang ada di daerah masing-masing
2. Memahami penyebab atau tanda-tanda akan terjadinya bencana
3. Memahami apa yang harus dipersiapkan dan yang harus dilakukan baik
sebelum, saat dan sesudah bencana.
Tingkat kerentanan perkotaan di Indonesia adalah suatu hal yang sangat
penting untuk diketahui sebagai salah satu hal yang berpengaruh terhadap
terjadinya bencana alam.
Tingkat kerentanan kota-kota besar di Indonesia dapat ditinjau dari kerentanan
fisik , sosial kependudukan, dan ekonomi. Kerentanan fisik menggambarkan
tingkat kerusakan terhadap fisik bila ada faktor berbahaya tertentu. Melihat dari
berbagai faktor seperti persentase kawasan terbanguin, kepadatan bangunan,
persentase bangunan konstruksi darurat, jaringan listrik, rasio panjang jalan,
jaringan telekomunikasi, jaringan PDAM, jaringan rel KA, maka perkotaan di
Indonesia dapat dikatakan berada pada kondisi yang sangat rentan karena
persentase di antara unsur-unsur tersebut sangat rendah.
Kerentanan sosial menunjukkan tingkat kerentanan terhadap keselamatan
jiwa/kesehatan penduduk apabila ada bahaya. Dari beberapa indikator antara
lain kepadatan pendusuk, laju pertumbuhan penduudk, persentase penduduk
usia tua-balita dan penduduk wanita, maka kota-kota bsar di Indonesia

13

Pengurangan Risiko Kebakaran

memiliki kerentanan sosial yang sangat tinggi. Belum lagi jika kita melihat
kondisi sosial saat ini yang semakin rentan terhadap bncana non-alam, seperti
rentannya kondisi sosial masyarakat terhadap kerusuhan, tingginya angka
pengangguran, instabilitas politik, dan tekanan ekonomi.
Kerentanan ekonomi menggambarkan besarnya kerugian atau rusaknya
kegiatan ekonomi (proses ekonomi) yang terjadi bila ada ancaman bahaya.
Indikator yang dapat kita lihat menunjukkan tingkat kerentanan ini misalnya
persentase rumah tangga yang bekerja pada sektor rentan (jasa dan distribusi)
dan persentase rumah tangga miskin.
Beberapa kerentana fisik, sosial, dan ekonomi tersebut di atas`menunjukkan
bahwa kota-kota besar di Indonesia memiliki kerentanan yang tinggi , sehingga
hal ini menyebabkan tingginya risiko terjadi bencana.
Tingginya risiko kebakaran gedung dan pemukinan pada berbagai fungsi atau
penggunaan bangunan dapat dinyatakan dengan analisis sebagai berikut:
1. Adanya risiko kebakaran karena hadirnya faktor-faktor penyebab

kebakarana di setiap tempat dalam kehidupan sehari-hari, seperti: listrik
dan peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik, kompor (gas atau
listrik), lampu tempel/lilin, rokok, obat nyamuk bakar, membakar sampah,
dan kembang api/petasan. Kondisi ini apabila dipicu oleh tindakan yang
salah atau lalai dapat memunculkan terjadinya kebakaran.
2. Ketiadaan sarana pemadan kebakaran pada suatu lingkungan atau
bangunan. Atau kurang terawatnya sarana peringatan dini (sistem alarm
kebakaran) dan sarana pemadam kebakaran; sehingga dalam banyak
kasus ditemukan berbagai sarana pemadaman kebakaran yang tidak
berfungsi. Kondisi ini secara jelas berperan mengurangi atau melemahkan
kemampuan suatu lingkungan atau bangunan gedung dalam mencegah
dan menanggulangi kebakaran apabila suatu saat terjadi.
3. Perilaku orang-orang pada suatu lingkungan atau yang menghuni
bangunan yang cenderung ceroboh/lalai, rendahnya kesadaran menjaga
lingkungan, kurang pengetahuan tentang bahaya api, pembiaran
terhadap anak-anak yang bermain api, keterpaksaaan karena keterbatasan
ekonomi serta vandalisme. Kesemuanya ini merupakan faktor yang ikut
menyumbangkan tingkat kerawanan terhadap kebakaran pada suatu
bangunan atau lingkungan.

Upaya pengurangan risiko kebakaran di lingkungan sekolah dapat dilakukan
melalui tindakan-tindakan sebagai berikut:
a. Melengkapi bangunan sekolah dengan sarana proteksi kebakaran dan

sarana jalan keluar/penyelamatan jiwa
b. Memberikan penyuluhan atau pelatihan pencegahan dan penanggulangan

kebakaran kepada kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidikan
c. Memberikan materi pembelajaran pengurangan risiko, termasuk risiko

kebakaran kepada siswa
d. Menyediakan panduan/prosedur tetap untuk menghadapi bencana

14

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

3.2 Kesiapsiagaan

3.2.1 Tindakan Sebelum Terjadi Kebakaran
Karakteristik ancaman
a. Pengertian Api
Api, adalah reaksi kimia yang terjadi secara berantai dan cepat antara
bahan bakar, zat asam, dan panas dalam perbandingan yang sesuai diikuti
dengan evolusi pengeluaran cahaya dan panas.
b. Pengertian Kebakaran
Adalah bentuk nyala api yang sudah tak terkendali
c. Pengertian Titik Nyala
Adalah tingkatan energi bahan untuk terbakar pada suhu bakarnya, yakni
suhu terendah saat bahan bakar mulai terbakar.
d. Terjadinya Api
Berikut ini diagram proses terjadinya api. Api terjadi ketika tiga unsur
penyebabnya tersedia.

Gambar 3.1 Diagram proses terjadinya api.

e. Bahan Bakar
Bahan bakar adalah materi atau zat yang dapat seluruhnya atau sebagian
mengalami perubahan secra kimia dan fisika bila terbakar. Bahan bakar
dapat berbentuk padat, cair maupun gas.
Gas: Gas alam, Acetylene, Propane, Hidrogen, Butan dll
Cairan: Bensin, Minyak tanah, Turpentine, cat, varnish, alkohol dll
Padat: Batubara, Kayu, kertas, kain, plastik dll

15

Pengurangan Risiko Kebakaran

f. Oksigen
Oksigen adalah unsur kimia pembakar, yang terdapat dalam jumlah yang

cukup di udara (sekitar 21 %). Oksigen merupakan unsur pembentuk api
karena reaksi pembakaran yang ditimbulkan.
Sebagian besar bahan bakar memerlukan paling sedikit 15% oksigen untuk
dapat menimbulkan api untuk serangkaian reaksi kimia. sementara udara
normal kita mengandung kurang lebih 21 % oksigen, suatu kadar yang
cukup untuk menimbulkan api/kebakaran. Oksigen yang ditambahkan
dengan bahan bakar dalam suatu reaksi kimia disebut oksidasi
g. Sumber Panas
Beberapa jenis sumber panas diantaranya:

 Sinar matahari
Matahari merupakan sumber utama panas. Sinar matahari dapat

memanaskan permukaan atau uap/gas dan kalau uap itu mencapai
titik nyala sendiri dan terdapat oksigen maka nyala api / kebakaran bisa
terjadi.
 Kobaran Api Terbuka
Penggunaan api pada tempat-tempat dimana terdapat bahan mudah
terbakar.
 Gesekan)
 Reaksi kimia penyebab kebakaran
Adanya dua zat kimia atau lebih, bila bercampur, dapat menimbulkan
reaksi. Beberapa reaksi kimia mengeluarkan panas (eksoterm). Panas
yang dikeluarakan oleh reaksi kimia tersebut dapat menyebabkan
timbulnya uap (gas) atau membakar uap yang sudah ada di dekatnya.
Penggabungan panas, uap dan Oksigen (dari reaksi atau yang
terdapat dalam atmosfir) dapat menyebabkan kebakarn. Kebakaran ini
disebabkan oleh reaksi kimia atau tidak adnya sumber panas dari luar,
disebut kebakaran spontan.
 Listrik
Kebakaran paling banyak disebabkan panas sehingga dapat menyulut
bahan mudah terbakar.
 Percikan listrik
Percikan listrik adalah suatu sentakan keluarnya arus yang secara tiba-
tiba mempunyai energi cukup tinggi untuk menyulut bahan mudah
terbakar yang terdapat disekitarnya.
 Loncatan listrik
Loncatan listrik Adalah energi listrik yang meloncat diantara 2 titik.
Contoh : Busi
 Tahanan listrik
Semua konduktor memiliki tahan tersendiri terhadap arus listrik. Energi
listrik yang hilang dalamtahanan diubah menjadi panas dan atau cahaya

16

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

(lampu, alat pemanas listrik dan kompor listrik). Semua memanfaatkan
tahanan listrik agar berfungsi).
 Percikan listrik statis
Terjadi ketika dua zat berbeda muatan listrik mengalami kontak.
Kalaun kedua zat tersebut tidak dihubungkan ke tanah (bounded atau
grounded) untu mecegah timbulnya percikan listrik statis, penyalaan
uap mudah terbakar dapat terjadi.
 Pemampatan / pemadatan
Bila udara atau gas yang dipadatkan/ditekan dengan suatu tekanan
yang melebihi tekanan normal, hal ini bisa menyebabkan panas atau
ledakan.
h. Jenis Pemindahan Panas
 Konduksi
Perpindahan panas melalui zat perantara. Panas merambat melalui
dinding pemisah ruangan, bagian dinding pada ruangan berikutnya
menerima kalor atau panas yang dapat membakar permukaan benda-
benda yang terletak pada dinding-dinding tersebut.
 Konveksi
Perpindahan panas dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Panas
merambat melalui bagian bangunan yang terbuka seperti tangga dan
koridor gang dengan media pengantar udara..
 Radiasi
Perpindahan panas dalam bentuk pancaran. Panas merambat antara
ruang dan bangunan yang berdekatan. hal ini akan lebih cepat terjadi
jika sebaran api dibantu oleh tekanan udara atau angin kearah bangunan
lainnya.
i. Klasifikasi jenis kebakaran
Jenis kebakaran berdasarkan materi atau benda yang terbakar dapat dibagi
menjadi 4 (empat) kelas, sebagai berikut:

 Kebakaran Klas A
Kebakaran dari bahan biasa yang mudah terbakar seperti: kayu, kertas,

pakaian dan sejenisnya. Jenis alat pemadam: yang menggunakan air
harus digunakan sebagai alat pemadam pokok.
 Kebakaran Klas B
Kebakaran bahan cairan yang mudah terbakar seperti minyak bumi,
gas, lemak dan sejenisnya. Jenis alat pemadam yang digunakan adalah
jenis busa sebagai alat pemadam pokok.
 Kebakaran Klas C
Kebakaran listrik (seperti kebocoran listrik, korsleting) termasuk
kebakaran pada alat-alat listrik. Jenis alat pemadam: yang digunakan
adalah jenis kimia dan gas sebagai alat pemadam pokok.

17

Pengurangan Risiko Kebakaran

 Kebakaran Klas D
Kebakaran logam seperti Zeng, Magnesium, serbuk Aluminium, Sodium,

Titanium dan lain-lain. Jenis alat pemadam: yang harus digunakan
adalah jenis khusus yang berupa bubuk kimia kering.
j. Gas Beracun Hasil Pembakaran
Mengapa asap menjadi penyebab utama selain api itu sendiri?
Hal ini dikarenakan asap mengandung bermacam-macam gas beracun
yang dihasilkan oleh peristiwa pembakaran.
Beberapa gas beracun yang paling banyak dan selalu ada pada peristiwa
kebakaran dapat dilihat dibawah ini.
 Karbon monoksida
Karbon monoksida (CO) adalah pembunuh terbesar dalam peristiwa
kebakaran karena tingkat kehadirannya yang sangat tinggi dan
juga cepatnya ia mencapai konsentrasi mematikan pada peristiwa
kebakaran. Karbon monoksida adalah hasil produksi dari pembakaran
tidak sempurna yang dihasilkan dari pembakaran senyawa-senyawa
organic dan berbagai bentuk karbon. Sering juga kematian akibat
karbon monoksida terjadi akibat masuknya asap knalpot ke kabin
mobil.
Karbon monoksida berbahaya karena ia adalah gas yang tidak berbau,
tidak berwarna, dan tidak terlihat. Gas ini mematikan pada konsentrasi
1,28 persen volume dalam udara dalam 1 sampai 3 menit; 0,64 persen
mematikan dalam 10 sampai 15 menit; 0,32 persen mematikan dalam
30 sampai 60 menit, dan 0,16 persen mematikan dalam waktu 2 jam.
Pada konsentrasi 0,05 persen gas ini tetap menyimpan bahaya.
 Karbon dioksida
Karbon dioksida adalah hasil dari pembakaran sempurna senyawa
organic atau senyawa karbon. Bertambahnya konsentrasi karbon
dioksida akan mengakibatkan meningkatnya kecepatan pernafasan;
sampai di mana tubuh tidak mampu lagi. Kegagalan pernafasan
akhirnya akan terjadi.
Karbondioksidadalamjumlahyangsangatbanyakdapatmengakibatkan
sesak nafas karena kekurangan oksigen dalam darah, selain itu juga
dapat berfungsi sebagai bahan pemadam api. Konsentrasi lebih dari
5 persen di lingkungan dapat merupakan tanda bahaya, bukan karena
keberadaannya akan tetapi karena kondisi tersebut adalah kondisi yang
jauh dari kondisi normal.
 Hidrogen sianida
Walau Hidrogen sianida (HCN) jauh lebih beracun dari Karbon
monoksida tetapi dalam kebakaran,biasanya, jumlahnya sangat kecil.
Pada konsentrasi 100 ppm dapat menyebabkan kematian dalam waktu
30 sampai 60 menit. Hidrogen sianida dihasikan dari pembakaran
senyawan hirokarbon terklorinasi di udara, plastik, kulit karet, sutra,

18

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

wool, atau juga kayu. Seperti halnya karbon monoksida hydrogen
sianida lebih ringan dari udara sehingga tingkat bahayanya lebih tinggi
pada kebakaran dalam ruangan, dibanding kebakaran luar ruangan.
 Phosgene
Phosgene juga dihasilkan pada dekomposisi atau pembakaran senyawa
hidrokarbon terklorinasi, seperti karbon tetraklorida, Freon, atau etilene
diklorida. Phosgene beracun dan berbahaya pada konsentrasi yang
sangat kecil sekalipun. Konsntrasi 25 ppm dapat mematikan dalam
waktu 30 sampai 60 menit.
 Hidrogen klorida
Hidrogen klorida (HCl) dihasilkan oleh pembakaran bahan-bahan yang
mengandung klorin. Walau tidak beracun seperti hydrogen sianida
ataupun phosgene, HCl berbahaya apabila kita berada dalam waktu
yang cukup lama di lingkungan yang terdapat gas ini.

Kebanyakan kebakaran di rumah bermula di dapur
1. Dapur masak adalah menjadi pencetus utama kebakaran.
2. Jangan ditinggalkan makanan yang sedang dimasak.
3. Jangan dibiarkan dapur dan pemanggang berlumuran dengan minyak

dan lemak saat digunakan
4. Pakai baju berlengan tangan ketat apabila memasak.
5. Jangan dibiarkan api menyala semasa anda tidur atau keluar rumah.
6. Pastikan abu benar-benar sejuk sebelum dibuang.
7. Jangan dibiarkan anak-anak dekat api atau pemanas tanpa kehadiran

seorang dewasa.
8. Jauhkan lilin dari langsir dan lain-lain bahan yang mudah terbakar.
9. Tempatkan lilin di atas tempat yang tidak mudah terbakar.

Kerusakan instalisi/kabel listrik mendatangkan bahaya
1. Pastikan semua kabel-kabel listrik berada dalam keadaan baik, jangan

dibiarkan penutup kabel listrik terkelupas.
2. Gunakan juru elektrik yang telah bersartifikat atau dari PLN untuk

memperbaiki kerusakan, jangan dikerjakan sendiri.
3. Sambungan listrik jangan terlalu banyak, penggandanya tidak boleh lebih

dari Saturda. Penyesuai berganda yang lebih dari satu dan papan kuasa
boleh membebankan poin kuasa.
4. Jangan diletakkan sambungan kabel di bawah permadani/karpet atau
perabot.

19

Pengurangan Risiko Kebakaran

Penggunaan alat-alat elektrik
1. Pastikan semua alat elektrik digunakan mengikuti buku panduan pabrik

pembuat.
2. Pastikan alat-alat elektrik berada dalam keadaan baik. Jika anda merasa

ragu pada kondisi alat, panggil seorang juru elektrik supaya memeriksa
alat-alat tersebut.
3. Untuk memperbaiki alat-alat di rumah harus dengan orang yang ahlinya.
4. Jika terjadi kebakaran dirumah, lakukan pemutusan arus listrik dari skring
utama.

Peringatan Bagi Perokok
1. Jangan sekali-kali merokok di atas kasur.
2. Jangan buang abu rokok sembarangan.
3. Pastikan puntung rokok dipadamkan sebelum dibuang.

Kebakaran dapat disebabkan oleh anak-anak, maka;
1. Simpan semua korek api, pemetik api dan lilin di tempat tidak mudah

diambil anak-anak.
2. Gunakan pemetik api yang tidak mudah dinyalakan oleh kanak-kanak.
3. Ajar anak-anak kecil supaya menyerahkan semua mancis api dan pemetik

api kepada seorang dewasa.
4. Pastikan korek api boleh digunakan oleh anak-anak hanya jika seorang

dewasa ada bersama mereka.
5. Ajar anak-anak supaya memanggil 113 dalam keadaan darurat kebakaran.
6. Didik anak-anak supaya mereka tahu bagaimana keluar dari rumah jika

terjadi kebakaran.
7. Jalankan latihan kebakaran selalu bersama anak-anak supaya mereka tahu

dimana keluarga harus berkumpul sesudah keluar dari rumah.
8. Ajar anak-anak supaya merangkak dan cepat bergerak jika ada asap di

dalam rumah.
9. Ajar anak-anak supaya berhenti, merebahkan badan dan bergolek-golek

jika pakaian mereka terbakar.

Gambar 3.2 Korek api

20

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

k. Alarm Kebakaran
Pada saat kita tidur, kita tidak bisa mencium/memabui asap, untuk maka
di setiap rumah diperluakan system alarm asap. Dengan alat ini asap akan
terdeteksi dengan mengeluarkan bunyi yang dapat membangunkan anda
saat tidur apabila ada bahaya api/asap. Untuk mengurangi risiko bencana
kebakaran, maka dianjurkan setiap rumah penduduk memasang alarm
pendeteksi asap. Dan alarm pendeteksi asap yang mudah didapat adalah
alarm yang menggunakan batrai.
Untuk memastikan alarm kebakaran berfungsi dengan baik, maka anda
diharapkan:
 Uji alat setiap minggu. Gunakan ujung tangkai sapu/kayu dan tekan
butang ujian untuk memastikan ada bunyi bip.
 Bersihkan permjukaan alarem dengan kain kering/sapu.
 Ganti bateri sekurang-kurangnya sekali setahun.
Ada dua jenis alarm asap – alarm terion yang mendeteksi asap yang sangat
kecil, dan alarm foto-elektrik yang lebih baru yang mendeteksi asap yang
dapat dilihat.
Alarm asap tidak boleh digunakan selama-lamanya dan biasanya masa
pakainya lebih-kurang 10 tahun sahaja. Jika alarm asap anda lebih tua dari
10 tahun, disarankan untuk diganti.
Cara pemasangan alarm pendeteksi asap
 pasang alarm asap diluar setiap kamar atau ruang tidur di rumah anda.
Jika anda tinggal di rumah yang bertingkat, pasang alarm asap di setiap
tingkat.
 Adalah lebih baik jika semua alarm asap berhubungan antara satu
dengan lain, supaya jika satu alarm berbunyi yang lain juga akan
berbunyi.
 Rumah-rumahyangmemilikikamartidur anak-anakmestimenyediakan
alarm asap yang bersampung dengan alarm asap yang berdekatan
dengan kamar orang tuanya.
 Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa 85% anak-anak yang tidur
tidak terjaga walaupun alarm asap berbunyi. Oleh karena itu perlu
diadakan latihan cara menyelamatkan diri jika kebakaran terjadi.

21

Pengurangan Risiko Kebakaran

Gambar 3.3 Latihan cara keluar menyelamatkan diri jika berlaku kebakaran

 Terdapat juga alarm asap untuk orang-orang yang cacat pendengaran.
Alarm asap khusus ini boleh dibeli untuk orang-orang yang cacat
pendengaran. Alarm ini dicirikan oleh lampu strob yang memancar
dan/atau pad bergetar yang diletakkan di bawah bantal yang akan aktif
apabila alarm asap berbunyi.

Gambar 3.4 Menyimpan selimut api dan pemadam api di dalam dapur

 Api yang kecil di rumah cepat merebak, maka setiap rumah perlu
memiliki alat-alat penjinak api yang diletakkan di di tempat yang mudah
diraih.

 Pastikan rumah anda memiliki pemadam api dan selimut api yang
dijaga baik dan belajar bagaimana menggunakannya. Belilah alat-alat
yang memenuhi standar.

 Sebaiknya alat penjinak api disimpan di dapur kerena pada umumnya
api bermula dari dapur

22

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

 Jika kebakaran itu kecil dan dapat dikendalikan sendiri maka sebaiknya
dipadamkan langsung menggunakan selimut api atau pemadam api.
Alat-alat ini dapat dibeli toko bangunan atau toko alat rumah tangga

Pencegahan Kebakaran
Prinsip-prinsip pencegahan kebakaran pada bangunan gedung meliputi hal-
hal sebagai berikut:
1. Identifikasi bahaya yang dapat mengakibatkan kebakaran pada

gedung
Identifikasi ini meliputi :

a. Bahan Mudah Terbakar, seperti karpet, kertas, karet, dan lain-lain;
b. Sumber Panas, seperti Listrik, Listrik statis, nyala api rokok, ruang dapur,

ruang laundry dan lain-lain.
2. Penilaian Risiko
Melakukan analisis risiko terjadinya kebakaran dan kemungkinan kerugian

yang ditimbulkan sebagai akibat kebakaran (harta-benda, citra/image
perusahaan, terhentinya kegiatan operasional perusahaan selama masa
rekonstruksi bangunan dan korban jiwa).
3. Pemeliharaan / Perawatan
Inspeksi utilitas bangunan seperti: instalasi kelistrikan, dan Instalasi
Peralatan proteksi/pemadam Kebakaran.
4. Latihan dan gladi pemadaman kebakaran dan evakuasi
Karyawan gedung, khususnya yang ditugaskan pada unit tanggap darurat
kebakaran harus mendapat latihan tentang prinsip-prinsip pencegahan
dan keselamatan kebakaran. Selain mereka, para penghuni gedung,
terutama pada gedung-gedung yang menampung banyak orang harus
juga mendapat latihan tentang cara-cara penyelamatan jiwa pada saat
terjadi kebakaran (gladi evakuasi). Pelaksanaan gladi evakuasi penghuni
ini dianjurkan minimal dua kali dalam setahun.
5. Rencana Tindakan Keadaan Darurat (RTDK)
Rencana Tindakan Tanggap Darurat adalah suatu rencana yang berisi
tentang hal-hal yang harus dilakukan oleh pengelola gedung apabila
terjadi suatu keadaan darurat, termasuk dalam keadaan kebakaran. Isi
RTDK meliputi diantaranya : susunan nama-mana Tim Tanggap Darurat,
struktur organisasi, uraian masing-masing regu (misalnya: Regu Pemadam,
Regu P3K, Regu Pengamanan, Regu Dokumen, Regu Evakuasi), Prosedur-
Prosedur, dan lain-lain.

Mencegah Kebakaran akibat Konsleting Listrik
Perlu diketahui bahwa hubungan arus pendek atau korsleting adalah kontak
langsung antara kabel positif dan negatif yang biasanya dibarengi dengan
percikan bunga api, dan bunga api inilah yang memicu kebakaran. PLN telah
memasang MCB yang terpadu dengan kWh dan OA Kast yang berfungsi
sebagai pembatas bila pemakaian beban melebihi kapasitas daya sekaligus
sebagai pengaman bila terjadi hubungan arus pendek.

23

Pengurangan Risiko Kebakaran

Hindari pemakaian listrik secara illegal karena disamping membahayakan
keselamatan jiwa, tindakan itu juga tergolong tindak kejahatan yang
dipidanakan. Jadi sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi seperti musibah
kebakaran menimpa Anda, sebaiknya kita melakukan tindakan/upaya
pencegahan. Bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati!
Ada beberapa cara untuk mencegah bahaya kebakaran akibat korsleting
listrik:
1. Percayakan pemasangan instalasi rumah/bangunan anda pada instalatir

yang terdaftar sebagai anggota AKLI (Assosiasi Kontraktor Listrik Indonesia)
dan terdaftar di PLN. Secara legal instalatir mempunyai tanggung jawab
terhadap keamanan instalasi.
2. Jangan menumpuk steker atau colokan listrik terlalu banyak pada satu
tempat karena sambungan seperti itu akan terus menerus menumpuk
panas yang akhirnya dapat mengakibatkan korsleting listrik.
3. Jangan menggunakan material listrik sembarangan yang tidak standar
walaupun harganya murah. Tetapi memiliki sertifikat Sistim Pengawasan
Mutu (SPM) yang berlabel tulisan Standar Nasional Indonesia (SNI) .
4. Jika sering putus jangan menyambungnya dengan serabut kawat yang
bukan fungsinya karena setiap sekring telah diukur kemampuan menerima
beban tertentu.
5. Lakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi isolasi pembungkus
kabel. bila ada isolasi yang terkupas atau telah menipis agar segera dilakukan
penggantian. Gantilah instalasi rumah/bangunan anda secara menyeluruh
minimal lima tahun sekali. pekerjaan pemeriksaan dan penggantian
sebaiknya dilakukan oleh instalatir anggota AKLI dan terdaftar di PLN.
6. Gunakan jenis dan ukuran kabel sesuai peruntukan dan kapasitas hantar
arusnya.
7. Bila terjadi kebakaran akibat korsleting listrik akibat pengaman Main Circuit
Breaker (MCB) tidak berfungsi dengan baik, matikan segera listrik dari kWh
meter. Jangan menyiram sumber kebakaran dengan air bila masih ada arus
listrik.

Peralatan Pencegahan Kebakaran
1. Racun Api

Peralatan ini merupakan peralatan reaksi cepat yang multi guna karena
dapat dipakai untuk jenis kebakaran A,B dan C. Peralatan ini mempunyai
berbagai ukuran beratnya, sehingga dapat ditempatkan sesuai dengan
besar-kecilnya risiko kebakaran yang mungkin timbul dari daerah tersebut,
misalnya tempat penimbunan bahan bakar terasa tidak rasional bila
di situ kita tempatkan racun api dengan ukuran 1,2 Kg dengan jumlah
satu tabung. Bahan yang ada dalam tabung pemadam api tersebut ada
yang dari bahan kinia kering, foam / busa dan CO2, untuk Halon tidak
diperkenankan dipakai di Indonesia. halon. Khusus alat pemadam jenis

24

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

Halon saat ini tidak diperkenankan lagi dipakai karena media pemadam ini
termasuk mengandung bahan yang dapat merusak ozon yang berpengaruh
terhadap terjadinya pemanasan global.

Gambar 3.5 Racun Api

2. Hidran
Ada 3 jenis hidran, yaitu hidran gedung, hidran halaman dan hidran kota.
Sesuai namanya, hidran gedung ditempatkan dalam gedung, hidran
halaman ditempatkan di halaman, sedangkan hidran kota biasanya
ditempatkan pada beberapa titik yang memungkinkan Unit Pemadam
Kebakaran suatu kota mengambil cadangan air.

Gambar 3.6 Hidran

25

Pengurangan Risiko Kebakaran

3 Detektor Asap
Salah satu jenis peralatan proteksi kebakaran pada bangunan gedung
adalah sistem instalasi alarm kebakaran. Di dalam sistem tersebut terdapat
suatu komponen, yakni pengindera (detector). Pada kebanyakan gedung
terpasang 3 (tiga) jenis pengindera, yakni pengindera asap, pengindera
panas dan pengindera nyala api.
Pengindera atau detektor dalam suatu sistem alarm kebakaran tersebut
mampu mengindera (mendeteksi) gejala kebakaran yang berbentuk asap,
panas dan nyala api. Cara bekerjanya, apabila terdapat sekumpulan asap
atau panas pada temperatur tertentu atau nyala api pada daerah di sekitar
detektor tersebut terpasang, maka detektor tersebut secara otomatis
merespons dan kemudian mengirim signal/tanda ke Panel Kontrol, dan
kemudian dari Panel Kontrol akan memproses signal tersebut untuk
kemudian membunyikan alarm dan atau lampu indikasi kebakaran di
lantai-lantai tertentu.

Gambar 3.7 Detektor Asap

4. Titik Panggil Manual
Adalah suatu komponen dalam sistem instalasi alarm kebakaran gedung,
yang terpasang pada setiap lantai pada suatu bangunan gedung yang
berfungsi untuk memberitahukan terjadinya keadaan darurat (kebakaran).
Cara mengaktifkannya adalah, apabila terjadi kebakaran maka alat ini
dipecahkan kemudian ditekan/ditarik tombolnya. Dengan menekan/
menarik tombol ini maka sistem alarm kebakaran gedung akan aktif, bel
alarm pada lantai-lantai akan berbunyi serentak – sebagai tanda terjadinya
suatu keadaan darurat.

Gambar 3.8 Titik Panggil Manual

26

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

5. Sprinkler
Peralatan yang dipergunakan khusus dalam gedung, yang akan
memancarkan air secara otomatis apabila terjadi pemanasan pada suatu
suhu tertentu pada daerah di mana ada sprinkler tersebut terpasang.

Gambar 3.9 Sprinkler

Prinsip Penangan Bahan Rawan Api
1. Kendalikan panas agar tidak melebihi suhu nyala bahan.
2. Kendalikan bahan-bahan agar tidak bereaksi yang memicu kenaikan

temperatur.
3. Kendalikan perjalaran panas, gas agar tidak masuk pada tempratur sumber

api.
Jenis Media Pemadam
1. Jenis Padat, misalnya pasir, tanah, selimut api, tepung kimia
2. Jenis Cair, misalnya air ,busa, cairan mudah menguap
3. Jenis Gas, misalnya Gas CO2, gas lemas (N2), argon dan sebagainya

3.2.2 Tindakan Saat Terjadi Kebakaran
Prinsip Pemadaman Kebakaran
Kebakaran adalah suatu nyala api, baik kecil atau besar pada tempat yang
tidak kita kehendaki, merugikan dan pada umumnya sukar dikendalikan. Api
terjadi karena persenyawaan dari:
1. Sumber panas, seperti energi elektron (listrik statis atau dinamis), sinar
matahari, reaksi kimia dan perubahan kimia.
2. Benda mudah terbakar, seperti bahan-bahan kimia, bahan bakar, kayu,
plastik dan sebagainya.
3. Oksigen (tersedia di udara)
Apabila ketiganya bersenyawa maka akan terjadi api.
Dalam pencegahan terjadinya kebakaran kita harus bisa mengontrol sumber
panas dan benda mudah terbakar, misalnya dilarang merokok ketika sedang
melakukan pengisian bahan bakar, pemasangan tanda-tanda peringatan, dan
sebagainya.

27

Pengurangan Risiko Kebakaran

Apabila sudah terjadi kebakaran maka langkah kita adalah menghilangkan
adanya oksigen dalam kebakaran tersebut, misalnya: seperti ketika kita
menghidupkan lilin, lalu coba kita tutup dengan gelas maka api pada lilin
tersebut akan mati karena oksigen yang berada di luar gelas tidak dapat masuk
dan oksigen yang berada dalam gelas berubah menjadi Karbon Dioksida (CO2)
yang mematikan api.
Ketika kita memadamkan kebakaran dengan mengunakan racun api, karung
goni yang basah atau pasir, maka yang terjadi adalah kita mengisolasi
adanya oksigen dalam api tersebut. Namun syaratnya, semua permukaan api
tersebut harus tertutupi oleh media pemadaman yang digunakan (air, karung
goni basah, atau pasir) tersebut. Bila kita menggunakan air sebagai media
pemadaman maka terjadi reaksi pendinginan panas dan isolasi oksigen dari
kebakaran tersebut.

Tindakan Penyelamatan Diri
Saat terjadi kebakaran, waktu sangatlah menentukan. Setiap detik sangat
berharga untuk menyelamatkan diri.
Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran :
a. Jangan panik dan menangis. Usahakan untuk tetap tenang
b. Segeralah menyelamatkan diri dan jangan menunda-nunda. Jangan

membuang waktu untuk menyelamatkan barang-barang berharga
ataupun mencari hewan peliharaan.
c. Jika terdapat asap, jangan berdiam diri di dalam ruangan yang terbakar,
merangkaklah serendah mungkin dibawah asap dan usahakan untuk
menutup mulut.
d. Saat menyelamatkan diri, bukalah pintu yang diperlukan sebagai jalan
keluar dan tutup juga pintu-pintu yang telah anda lewati sepanjang jalan
menuju keluar. Sebelum membuka pintu keluar, rasakan pegangan atau
badan pintu terlebih dahulu. Jika pintu terasa panas, ada kemungkinan
terdapat api dibalik pintu. Carilah jalan keluar yang lain, missal melalui
jendela atau mengibarkan kertas atau kain berwarna mencolok untuk
mengundang perhatian orang.
e. Jangan bersembunyi di kamar mandi, karena jika api membesar dan air di
bak mandi akan mendidih dan mengering.
f. Apabila pakaian kita terkena api, yang harus dilakukan adalah :
 Berhenti, jangan berlari dengan pakaian yang terbakar karena akan

mengakibatkan api membesar.
 Berbaring, berbaringlah di lantai dan tutupi muka dengan tangan.
 Berguling, bergulinglah di lantai untuk memadamkan api.
g. Jangan kembali kedalam bangunan yang terbakar untuk alasan
apapun. Hal ini dapat mengancam keselamatan jiwa.
h. Setelah berhasil keluar rumah, segera hubungi pemadam
kebakaran.

28

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

Menyelamatkan Diri dari kebakaran di Bangunan Tinggi

Bangunan tinggi adalah
bangunan yang mempunyai
ketinggian dari permukaan
tanah atau lantai dasar lebih
dari 40 meter atau lebih dari
8 (delapan) lantai
Gambar 3.10 Kebakaran di bangunan tinggi

Karakteristik bangunan tinggi
 Jalan keluar terbatas
 Proses evakuasi kritis
 Bahaya jebakan asap

a. Pemadaman kebakaran hanya efektif dilakukan dari dalam gedung
Pemadaman kebakaran dalam bangunan tinggi efektif dilakukan dengan
sarana proteksi kebakaran yang tersedia di dalam bangunan seperti racun
api, Hidran dan Sprinker otomatis

b. Bangunan dikondisikan siap & mandiri dalam menanggulangi
kebakaran
Kemampuan suatu bangunan memadamkan kebakaran yang terjadi di
dalamnya secara mandiri menurut kesiapan dari peralatan proteksi yang
dipasang. Oleh sebab itu kesiapan sarana proteksi kebakaran yang tersedia
pada bangunan harus selalu di jaga dan dipaksa kesiapannya termasuk
kesediaan dari kapasitas air sebagai bahan pemadam utama

c. Penyelamatan jiwa efektif dilakukan melalui sarana jalan keluar dari
dalam gedung atau tangga darurat kebakaran.
Kendala yang sering dilakukan dalam penggunaan sarana jalan keluar
adalah sarana jalan keluar sering digunakan sebagai gudang penyimpan
barang bekas atau akses menuju jalan keluar terhalang oleh barang-
barang serta panah menuju arah lokasi pintu sarana jalan keluar tidak jelas.
Untuk efektifnya penggunaan sarana jalan keluar yang telah tersedia perlu
dilakukan pengawasan dan pemeriksaan secara harian

d. Evakuasi penghuni bangunan terbakar diarahkan ke bawah
Hal ini dimaksudkan agar tidak terperangkap oleh asap panas dan api yang
cenderung menjalar ke lantai atas.

29

Pengurangan Risiko Kebakaran

e. Menuju tenpat berhimpun sementara di luar bangunan
Pada saat kebakaran tidak dapat dikendalikan, seluruh penghuni gedung
diperintahkan untuk evakuasi (keluar gedung), tapi tidak boleh langsung
pergi ke sembarang tempat, melainkan harus langsung menuju tempat
berhimpun sementara (assembly area).
Mengapa harus berkumpul dulu di tempat ini, karena pengelola
(manajemen) gedung perlu memastikan apakah ada di antara penghuni
gedung yang mungkin terperangkap di dalam dan perlu pertolongan
segera. Kepastian tersebut dapat diperoleh setelah dilakukan pengecekan
terhadap seluruh penghuni yang selamat dan berada di tempat berhimpun
tersebut.

Menyelamatkan Diri dari kebakaran di Rumah
Berikut ini adalah tindakan yang perlu dilakukan sebagai upaya membangun
kesiapsiagaan menghadapi bahaya kebakaran di rumah:
a. Buatlah rencana penyelamatan rumah. Rencana penyelamatan diri berisi

denah rumah, rencana jalan keluar untuk menyelamatkan diri, serta tempat
berkumpul di luar rumah jika terjadi kebakaran.
b. Upayakan agar sedapat-dapatnya terdapat 2 (dua) jalan keluar pada
setiap rumah untuk menyelamatkan diri. Pastikan setiap anggota keluarga
mengetahui hal tersebut.
c. Pastikan seluruh anggota keluarga mengikuti latihan dan mengetahui
langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran serta rencana
penyelamatan diri yang telah dibuat.
d. Berlatih keluar dari rumah dengan cara merangkak dan upayakan untuk
menutup mulut.
e. Berlatih menajamkan intuisi untuk mencari jalan keluar dengan mata
tertutup. Saat terjadi kebakaran dan asap kebakaran semakin tebal,
kemungkinan kita tidak dapat melihat apapun.
f. Berlatih untuk berhenti, menjauhkan diri ke lantai, serta menggulingkan
badan di lantai jika pakaian kita terbakar.
g. Jika memugkinkan, pasanglah alarm kebakaran di setiap rumah.

Cara Memadamkan Api
Sebagaian besar api yang besar berasal dari api yang kecil. Api yang kecil dapat
dipadamkan dengan cara:
a. Menutup api dengan karung atau kain yang basah
b. Menimbun api dengan pasir dan tanah
c. Menggunakan racun api
d. Penggunaan selang pemadam kebakaran
Sebelum memutuskan untuk memadamkan api kecil sendiri dengan
menggunakan alat pemadam api yang tersedia, kita harus yakin mengenai:
1. Mengetahui apa yang terbakar sehingga dapat mengetahui jenis jenis

media pemadam kebakaran yang dinutuhkan.

30

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI

2. Walaupun kita sudah memiliki alat pemadam kebakaran, kemungkinan
terjadinya ledakan dan gas beracunyang keluar dari kebakaran tetap dapat
terjadi. Jika kita tidak mengetahui apa yang terbakar, jangan memadamkan
api sendiri, serahkan pada petugas pemadam kebakaran.

3. Jika api telah membesar dan menyebar dengan cepat, segera selamatkan
diri dan jangan mencoba untuk memadamkan api sendiri.

Jangan memadamkan api sendiri jika:
1. Tidak memiliki alat untuk memadamkan api yang memadai:
2. Tercium bau menyengat yang diduga gas beracun. Material sintetik seperti

benang nilon yang berasal dari karpet atau busa kursi sofa yang terbakar
akan membentuk gas hydrogen sianida, amonia, dan karbon monoksida
yang berasap dan beracun. Kondisi seperti ini apabila terhirup akan sangat
berbahaya bagi saluran pernafasan dan paru-paru kita.
3. Tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk
memadamkan api sndiri.

Jika terjadi kebakaran di dapur
1. Usahakan memadamkan api sebisa mungkin. Jika tersedia alat pemadam

apai. Jika tidak tersedia alat pemadam api ringan, soda kue dapat
digunakan untuk memadamkan api. Alat lain yang dapat digunakan untuk
memadamkan api adalah menggunakan karung goni atau kain yang telah
dibasahi air. Kain atau karung basah menutup pori-pori, sehingga memecah
udara masuk.
2. Jangan menyiram air pada kebakaran yang disebabkan oleh minyak.
Menyiram air keatas kompor yang terbakar justru akan memperluas daerah
yang terbakar.
3. Jika kebakaran disebabkan oleh listrik, segera putuskan aliran listrik lebih
dulu, baru kemudian padamkan percikan apinya.
4. Apabila panci terbakar, segera tutup panci tersebut. Jangan pindahkan
panci yang terbakar karena api akan menyambar.
5. Jika api tidak kunjung padam, segeralah menyelamatkan diri, hubungi Dinas
Pemadam Kebakaran setempat, dengan menekan nomor 113. Usahakan
memberi informasi yang benar dan jelas, seperti jati diri penelpon, apa
yang terbakar dan dimana lokasinya agar petugas pemadam kebakaran
dapat mengirim unit pemadam kebakaran yang sesuai kebutuhan.
6. Cara menggunakan alat pemedaman api ringan (racun api)

Tahapan yang harus dilakukan adalah :Tarik, Arahkan, Remas, Sapukan.

 Tarik
Tarik pen pengaman (pin) yang ada di sisi alat pemadam api ringan
kemudian tarik slangnya.

 Arahkan
Arahkan ke dasar/bagian bawah api, yakni mengenai bahan
bakarnya.

31

Pengurangan Risiko Kebakaran

 Tekan
Tekan handle pada bagian kepala tabung pemadam api, maka
bahan pemadam akan tersembur keluar dari dalam tabung.
 Sapukan.
Mulai dari jarak yang agak jauh, sapukan hose (slang) pemadam
kebakaran ke kiri dan kekanan, bergerak ke depan perlahan-lahan
sampai api padam.
Yang harus anda lakukan jika terjadi kebakaran di rumah anda
Semua keluarga harus tenang dan berlatih menyelamatkan diri.
1. Untuk dapat bersikap tenang, maka semua anggota keluarga harus tahu

jalan untuk menyelamat diri ke luar rumah dan mengetahui tempat
berkumpul yang aman
2. Sediakan nomor-nomor panggilan darurat untuk kejadian kebakaran yaitu
nomor 113
3. Letakkan nomor-nomor panggilan kebakaran, polisi, dan ambulan di dekat
telepon rumah
4. Jika ada asap di dalam rumah, cepat merangkakdan terus bergerak keluar
5. Sentuh handel/pegangan pintu dengan punggung tangan untuk
mengetahui apakah pegangan pintu panas, kemudian merangkak keluar.
6. Jika pintu panas, gunakan jalan keluar lain.
7. Keluarkan setiap anggota keluarga dari rumah secepat mungkin.
8. Beritahu petugas pemadam kebakaran apabila ada anggota keluarga
yang masih di dalam rumah saat rumah kebakaran.
9. Jangan masuk ke dalam rumah untuk mengambil benda apapun apabila
kobaran api telah besar
Sejukkan bahagian tubuh yang terbakar dengan air yang mengalir.

Gambar 3.11 Pertolongan pertama pada luka bakar

32


Click to View FlipBook Version