Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
3.2.3 Tindakan Setelah Terjadi Kebakaran
Jika seorang terbakar
1. Berhentikan proses kebakaran atau padam api
2. Tanggalkan pakaian, kecuali jika pakaian melekat ke kulit
3. Sejukkan bahagain yang terbakar
4. Rendam atau siram bagian yang terbakar dengan air yang mengalir selama
15 hingga 20 menit. Jangan gunakan minyak, mentega atau salap.
5. Tutup bahagian yang terbakar dengan kain bersih atau ‘cling wrap’ dan
jangan dibiarkan korban kebakaran kedinginan.
Pengobatan Luka Bakar
Luka Bakar adalah cedera pada jaringan tubuh akibat panas, bahan kimia
maupun arus listrik.
1. Jenis Luka Bakar
Luka bakar akibat panas
Yaitu luka bakar yang disebabkan oleh paparan panas yang merusak
kulit. Penyebabnya antara lain api, cairan panas,uap panas , atau benda-
benda panas lainnya.
Luka bakar akibat bahan kimia
Yaitu luka bakar yang disebabkan oleh paparan bahan-bahan kimia
pada kulit, seperti cairan pembersih lantai, ammonia , pemutih, dan
pembersih kuku. Luka bakar jenis ini disebabkan oleh perubahan energi
kimia menjadi energi panas. Reaksi kimia dapat bersifat setempat
maupun sistemik (seluruh tubuh). Jika luka bersifat setempat, luka
ditandai dengan kulit yang kemerahan atau timbul ruam-ruam. Proses
terbakarnya kulit akan terus berlanjut sepanjang bahan kimia mengenai
kulit.
Luka bakar akibat arus listik
Yaitu luka pada kulit atau organ internal akibat terpapar arus listrik.
Luka yang diakibatkan dapat terlihat kecil, tetapi kerusakan yang
diakibatkannya dapat cukup luas karena panas akan mengikuti aliran
arus listrik keseluruh tubuh melalui pembuluh darah dan syaraf.
Luka bakar akibat radiasi
Yaitu luka yang disebabkan oleh paparan radiasi tinggi. Contohnya
adanya luka akibat terpapar sinar matahari.
Luka bakar karena gesekan
Yaitu luka yang diakibatkan gesekan kulit dengan benda-benda, seperti
karpet, pakaian atau akibat aktivitas oleh raga, gesekan menghasilkan
panas yang menyebabkan kulit kemerahan, mengelupas, dan
melepuh.
33
Pengurangan Risiko Kebakaran
2. Tingkatan luka bakar
Beratnya luka bakar tergantung kepada jumlah jaringan yang terkena dan
kedalaman luka:
Luka bakar tingkat I
Merupakan luka bakar yang paling ringan. Kulit yang terbakar menjadi
merah, nyeri, sangat sensitif terhadap sentuhan dan lembab atau
membengkak. Jika ditekan, daerah yang terbakar akan memutih; belum
terbentuk lepuhan.
Luka bakar tingkat II
Menyebabkan kerusakan yang lebih dalam, kulit melepuh, dasarnya
tampak merah atau keputihan dan terisi oleh cairan kental yang jernih.
Jika disentuh warnanya berubah menjadi putih dan terasa nyeri.
Luka bakar tingkat III
Menyebabkan kerusakan yang paling dalam, permukaannya bisa
berwarna putih dan lembut atau berwarna hitam, hangus dan kasar.
Kerusakan sel darah merah pada daerah yang terbakar bisa
menyebabkan luka bakar berwarna merah terang. Kadang daerah yang
terbakar melepuh dan rambut/bulu di tempat tersebut mudah dicabut
dari akarnya. Jika disentuh, tidak timbul rasa nyeri karena ujung saraf
pada kulit telah mengalami kerusakan.
3. Pengobatan luka bakar
Untuk membantu menghentikan luka bakar dan mencegah luka lebih
lanjut,
Sebaiknya lepaskan semua pakaian penderita.
Kulit segera dibersihkan dari bahan kimia (termasuk asam, basa dan
senyawa organik) dengan mengguyurnya dengan air.
Penderita perlu dirawat di rumah sakit jika:
1. Luka bakar mengenai wajah, tangan, alat kelamin atau kaki
2. Penderita akan mengalami kesulitan dalam merawat lukanya secara
baik dan benar di rumah
3. Penderita berumur kurang dari 2 tahun atau lebih dari 70 tahun
4. Terjadi luka bakar pada organ dalam.
Luka bakar ringan
1. Jika memungkinkan, luka bakar ringan harus segera dicelupkan ke
dalam air dingin.
2. Luka bakar kimia sebaiknya dicuci dengan air sebanyak dan selama
mungkin
34
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
3. Luka bakar dibersihkan secara hati-hati dengan sabun dan air untuk
membuang semua kotoran yang melekat.
4. Jika kotoran sukar dibersihkan, daerah yang terluka diberi obat bius
dan digosok dengan sikat.
5. Lepuhan yang telah pecah biasanya dibuang.
6. Jika daerah yang terluka telah benar-benar bersih, maka dioleskan
krim antibiotik (misalnya perak sulfadiazin).
7. Untuk melindungi luka dari kotoran dan luka lebih lanjut, biasanya
dipasang verban. Sangat penting untuk menjaga kebersihan di
daerah yang terluka, karena jika lapisan kulit paling atas (epidermis)
mengalami kerusakan maka bisa terjadi infeksi yang dengan mudah
akan menyebar. Jika diperlukan, untuk mencegah infeksi bisa
diberikan antibiotik,
8. Untuk mengurangi pembengkakan, lengan atau tungkai yang
mengalami luka bakar biasanya diletakkan/digantung
dalam posisi yang lebih tinggi dari jantung.Pembidaian harus
dilakukan pada persendian yang mengalami luka bakar derajat II
atau III, karena pergerakan bisa memperburuk keadaan persendian.
9. Mungkin perlu diberikan obat pereda nyeri selama beberapa
hari. Pemberian booster tetanus disesuaikan dengan status
imunisasi penderita.
Luka bakar berat
1. Luka bakar yang lebih berat dan membahayakan nyawa
penderitanya harus segera ditangani, sebaiknya dirawat di rumah
sakit.
2. Kepada korban kebakaran biasanya diberikan oksigen melalui
sungkup muka (masker) untuk membantu menghadapi
efek dari karbon monoksida (gas beracun yang sering terbentuk di
lokasi kebakaran).
3. Di ruang emergensi, dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi
pernafasan, luka lainnya di tubuh serta dilakukan pengobatan
untuk menggantikan cairan yang hilang dan untuk mencegah
infeksi.
4. Untuk mengobati luka bakar yang berat kadang digunakan terapi
oksigen hiperbarik, dimana penderita ditempatkan dalam ruangan
khusus yang mengandung oksigen bertekanan tinggi.
5. Jika terjadi cedera pada saluran udara dan paru-paru akibat
kebakaran, untuk membantu fungsi pernafasan bisa dipasang
sebuah selang yang dimasukkan ke dalam tenggorokan.
6. Selang tersebut perlu dipasang jika cedera menimpa wajah atau
jika pembengkakan pada tenggorokan menyebabkan
terganggunya fungsi pernafasan.
35
Pengurangan Risiko Kebakaran
7. Jika tidak terjadi gangguan pada sistem pernafasan maka yang
perlu dilakukan hanya memberikan oksigen tambahan melalui
sungkup muka.
Membantu Korban Kebakaran
Kebakaran mendatangkan kerugian dan penderitaan bagi korbannya. Untuk
membantu korban bencana kebakaran, usaha-usaha yang bisa kita lakukan
adalah:
1. Mendirikan tenda-tenda pengungsian.
Tenda pengungsian ini dapat digunakan sebagai penampungan sementara
untuk para korban. Tenda-tenda ini didirikan di tempat-tempat yang
aman.
2. Mendirikan dapur-dapur umum
Dapur umum berfungsi untuk menyediakan makanan dan minuman bagi
para korban kebakaran. Keberadaan dapur umum ini memberikan
banyak manfaat bagi para korban.
3. Pos kesehatan
Pos kesehatan perlu didirikan di tempat-tempat pengungsian karena
sesudah terjadi kebakaran biasanya ada saja korban mengalami cedera atau
luka-luka, dari cedera ringan sampai berat. Pos kesehatan ini menyediakan
obat-obatan yang diperlukan.
4. Mengumpulkanbantuandanmembagikannya kepadakorban.Sumbangan
dapat berupa: pakaian pantas pakai, makanan siap saji (mie instan, susu,
biskuit, minuman, dsb), obat-obatan, selimut, dan sebagainya.
5. Menyediakan air bersih
Para korban kebakaran sangat membutuhkan air bersih terutama untuk
minum, memasak dan mandi sementara air yang tersedia sudah tercemar
berbagai macam bakteri sehingga tidak layak untuk di konsumsi. Bantuan
dan penyediaan air bersih sangat dibutuhkan bagi para korban bencana.
36
MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN BAB IV
RISIKO KEBAKARAN
4.1. IDENTIFIKASI MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN
RISIKO KEBAKARAN
Materi pembelajaran adalah bahan yang diperlukan untuk pembentukan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai siswa dalam rangka
memenuhi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tertuang di dalam
standari isi pendidikan.
Materi pembelajaran dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai
berikut:
1. Prinsip relevansi:
Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar
kompetensi dan kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan
dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang
diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis
materi yang lain.
2. Prinsip konsistensi:
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa ada empat macam, maka
materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam.
3. Prinsip kecukupan:
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa
menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu
sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak.
Materi pembelajaran tentang pengurangan risiko bencana dapat mencakup
tiga ranah sekaligus yaitu: ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
1. Ranah Kognitif jika kompetensi yang ditetapkan meliputi pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan penilaian.
2. Ranah Psikomotorik jika kompetensi yang ditetapkan meliputi gerak
awal, semi rutin, dan rutin.
3. RanahAfektif(Sikap)jikakompetensiyangditetapkanmeliputipemberian
respons, apresiasi, penilaian, dan internalisasi.
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
Identifikasi materi pembelajaran tentang PRB mempertimbangkan hal-hal
berikut:
1. Potensi peserta didik;
2. Relevansi dengan karakteristik daerah;
Daerah dengan karakteristik rawan bencana dapat menyesuaikan
materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan daerah dengan tetap
memperhatikan tuntutan kompetensi dasar. Pada saat mengidentifikasi
materi pembelajaran ini sudah harus ditetapkan dan dirumuskan materi
pembelajaran yang sesuai dengan jenis bencana yang ada di daerah
tersebut.
3. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual
peserta didik;
4. Kebermanfaatan bagi peserta didik
5. Struktur keilmuan;
6. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
7. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan;
Materi pembelajaran yang relevan dan dibutuhkan serta sesuai dengan
tuntutan lingkungan di daerah rawan bencana dapat dimasukkan ke dalam
silabus yang disusun.
Contoh:
Tanda-tanda bencana kebakaran akan terjadi
Tindakan penyelamatan disaat bencana kebakaran
Tindakan yang harus dilakukan setelah bencana kebakaran
8. Alokasi waktu.
Tabel berikut ini adalah identifikasi materi pembelajran pengurangan risiko
kebakaran yang dikelompokkan menurut kelas.
Tabel 4.1 Identifikasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
5BCFM *EFOUJñLBTJ .BUFSJ 1FNCFMBKBSBO 1FOHVSBOHBO 3JTJLP ,FCBLBSBO
MATERI PEMBELAJARAN KELAS
PENGURANGN RISIKO KEBAKARAN
r 5FPSJ UFSKBEJOZB BQJ *
**
**
*7
7
7*
r 1FODFHBIBO ,FCBLBSBO
r $BSB QFOZFMBNBUBO EPLVNFO
r 1FOZFCBC LFCBLBSBO
r ,FSFOUBOBO LFCBLBSBO
r +FOJT BODBNBO LFCBLBSBO
r 5BIBQ QFOHFNCBOHBO BQJ
r 1SPTFT LFCBLBSBO
r 1FOZFMBNBUBO EJSJ LFUJLB UFSKBEJ LFCBLBSBO
r -PLBTJ QFOZFMBNBUBO EJSJ ZBOH UFSEFLBU EBO BNBO
r 1FSUPMPOHBO MVLB CBLBS SJOHBO *7
7
7*
r 1FOHFSUJBO MVLB CBLBS EBO QFNCBHJBOOZB
r -BOHLBI MBOHLBI QFSUPMPOHBO MVLB CBLBS
r "MBU EBO CBIBO QFSUPMPOHBO QFSUBNB QBEB MVLB CBLBS
SJOHBO
r 1FSUPMPOHBO QFSUBNB
r 1FOZFCBC MVLB CBLBS
r ,MBTJñLBTJ MVLB CBLBS
38
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
4.2 PEMETAAN INDIKATOR PRILAKU SISWA
Sebelum pendidikan pengurangan risiko bencana kebakaran diberikan kepada
siswa di sekolah, perlu dilakukan identifikasi terlebih dahulu sikap-sikap dan perilaku
yang bagaimana, yang diperlukan dan harus dimiliki siswa untuk mengurangi risiko
terjadinya bencana kebakaran.
Indikator sikap dan prilaku siswa yang diperlukan untuk mengurangi risiko atau
dampak bencana kebakaran dapat diidentifikasi sebagai berikut:
TabTealbIenld4i.k2aItnodrikPartiloarkPuriSlaiskwu aSiswa
Kondisi Materi Pembelajaran Indikator Perilaku Siswa
I, II, II, IV, V, VI Teori terjadinya api Mengetahui teori terjadinya api
IV, V, VI Pencegahan Kebakaran Memahami teori pencegahan
Cara penyelamatan dokumen Mengetahui cara penyelamatan
dokumen
Penyebab kebakaran Mengetahui penyebab
kebakaran
Kerentanan kebakaran Mengetahui kerentanan
kebakaran
Jenis ancaman kebakaran Mengetahui jenis ancaman
kebakaran
Tahap pengembangan api Mengetahui tahap
pengembangan api
Proses kebakaran Mengetahui proses kebakaran
Penyelamatan diri ketika Upaya penyelamatan diri
terjadi kebakaran ketika terjadi kebakaran:
Lokasi penyelamatan diri Mencari lokasi penyelamatan
yang terdekat dan aman diri yang terdekat dan aman
Pertolongan luka bakar ringan Menerapkan pertolongan
luka bakar ringan
Pengertian luka bakar dan Dapat mengidenti kasi
pembagiannya pengertian luka bakar dan
pembagiannya
Langkah-langkah pertolongan Dapat mengidenti kasi langkah-
luka bakar langkah pertolongan luka bakar
Alat dan bahan pertolongan Mengidenti kasi alat dan bahan 39
pertama pada luka bakar pertolongan pertama pada luka
ringan bakar ringan
Pertolongan pertama Mengetahui tujuan
pertolongan pertama
Proses kebakaran Mengetahui proses kebakaran
Penyelamatan diri ketika Upaya penyelamatan diri
terjadi kebakaran ketika terjadi kebakaran:
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran Mencari lokasi penyelamatan
Lokasi penyelamatan diri diri yang terdekat dan aman
yang terdekat dan aman
IV, V, VI Pertolongan luka bakar ringan Menerapkan pertolongan
luka bakar ringan
Pengertian luka bakar dan Dapat mengidenti kasi
pembagiannya pengertian luka bakar dan
pembagiannya
Langkah-langkah pertolongan Dapat mengidenti kasi langkah-
luka bakar langkah pertolongan luka bakar
Alat dan bahan pertolongan Mengidenti kasi alat dan bahan
pertama pada luka bakar pertolongan pertama pada luka
ringan bakar ringan
Pertolongan pertama Mengetahui tujuan
pertolongan pertama
Penyebab luka bakar Mengetahui sebab luka bakar
Klasi kasi luka bakar Dapat mengklasi kasi
luka bakar
Pertolongan luka bakar ringan Menerapkan pertolongan
luka bakar ringan
4.3 PENDEKATAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai pendidikan pengurangan
risiko bencana mempunyai arti penting, karena siswa adalah sasaran yang
paling utama dalam pendidikan ini. Mendidik siswa dalam pengurangan risiko
bencana memerlukan pendekatan kegiatan belajar mengajar yang mampu
merangsang siswa untuk memahami dan memandang penting pengurangan
risiko bencana kebakaran ini. Di bawah ini beberapa metode yang disarankan
dalam pembelajaran pendidikan pengurangan risiko bencana kebakaran,
yaitu:
1. Gunakan metode yang menyenangkan dan sebisa mungkin menggunakan
media visual (bergambar).
Anak lebih tertarik jika melihat gambar secara langsung dan dapat lebih
fokus memperhatikan penjelasannya, serta lebih lama diingat.
2. Praktekkan!
Pengalaman praktek dapat membekas di ingatan dan bisa langsung
dipahami oleh anak-anak. Kalau hanya sekedar tahu dan tidak
mempraktekkan, mereka bisa lupa.
3. Lakukan pemeriksaan pemahaman!
Untuk mengetahi sejauh mana anak dapat memahami materi yang sudah
disampaikan, maka lakukan cek pemahaman. Caranya dengan menanyakan
40
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
langsung materi tersebut atau dengan menggunakan kartu permainan.
kartu permainan ini bisa dibuat sepasang, dengan menunjukkan mana
yang benar atau yang salah.
4. Berikan tugas yang harus dikerjakan di rumah, yang memungkinkan anak
bisa berdiskusi dengan anggota keluarga di rumah. Misal: anak diberi tugas
untuk membuat jalur evakuasi di rumah.
5. Lakukan praktek simulasi berulang-ulang sehingga anak benar-benar
paham dan dapat melakukan penyelamatan diri secara mandiri.
Pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran menggunakan
beberapa prinsip yaitu:
1. Didasarkan pada potensi, perkembangan dan potensi peserta didik
untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini
peserta didik mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu serta
memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas,
dinamis dan menyenangkan
2. Menerapkan lima pilar belajar yaitu
a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b) belajar untuk memahami dan menghayati;
c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif;
d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain;
e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
3. Memungkin peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan,
pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap
perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan
keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke
–Tuhanan, keindividuan, dan moral
4. Dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang
saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat dengan
prinsipTut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada
(di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun
semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan)
5. Dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya
serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan
seluruh bahan kajian secara optimal.
41
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
Di sekolah, guru dapat memberikan latihan kesiapsiagaan bencana kebakaran
kepada siswa sebagai berikut:
1. Persiapan menghadapi kebakaran:
Pahami gejala-gejala alam seperti: musim kemarau
Menempatkan dokumen-dokumen agar aman dari kebakaran
Tidak bermain dengan benda-benda yang dapat menyebabkan
kebakaran, seperti; korek api/macis, petasan, dan lilin
Menyiapkan obat-obatan untuk luka bakar ringan.
Memadamkan kompor dan aliran listrik di rumah
Memahami jalur dan tempat evakuasi
Melakukan koordinasi dengan sesame anggota masyarakat
Menghubungi pihak-pihak yang berwenang untuk menanggulangi
kebakaran.
2. Simulasi situasi dan kondisi terburuk pada saat kebakaran. Persiapkan
rencana tindak penyelamatan diri berdasarkan kebutuhan untuk
situasi dan kondisi kebakaran.
Selain memberikan latihan kesiapsiagaan bencana, guru juga harus mampu untuk
memberikan latihan untuk meningkatkan kapasitas siswa dalam pengurangan risiko
bencana. Kapasitas merupakan kemampuan dalam menghadapi bencana pada
semua tahapannya termasuk kemampuan untuk menanggulangi dan bertahan
hidup akibat bencana yang terjadi. Penguatan atau peningkatan kapasitas siswa
sangat penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Peningkatan kapasitas
dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan penyelamatan di air, pelatihan P3K,
simulasi evakuasi ancaman kebakaran, dan sebagainya.
42
PENGINTEGRASIAN PENGURANGAN RISIKO BAB V
KEBAKARAN KE DALAM KURIKULUM
TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DASAR
(SD/MI)
5.1 PENGINTEGRASIAN MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN
RISIKO KEBAKARAN KE DALAM MATA PELAJARAN
5.1.1 Peta Integrasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
Untuk mengintegrasikan materi pengurangan risiko kebakaran ke dalam mata
pelajaran perlu dilakukan dengan cara:
1. Mengklasifikasi materi pembelajaran dan pengurangan risiko kebakaran
berikut indikator prilaku siswa yang telah diidentifikasi
2. Mendeteksi kemungkinan dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran
apa saja
3. Memilih atau menganalisis standar kompetensi dan kompetensi dasar
mata pelajaran yang telah terdeteksi
4. Mengkaitkan materi pembelajaran dan pengurangan risiko kebakaran
berikut indikator prilaku siswa yang telah diidentifikasi dengan Kompetensi
Mata Pelajaran
Pendidikan
Kewarga
negaraan
Pendidikan Matematika
Agama
Pendidikan SK / KD Bahasa
Jasmani, Indikator Indonesia
Olahraga, IPA
dan PRB
Kesehatan IPS
Seni,
Budaya
dan
Keterampilan
Gambar 5.1 Peta Integrasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
5.1.2 Analisis Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi
Berikut adalah beberapa Kompetensi Dasar untuk Mata Pelajaran di tingkat
satuang pendidikan dasar (SD/MI) yang dapat diintegrasikan dengan materi
Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran.
5BCFM 1FNFUBBO 4, ,% LF EBMBN NBUB QFMBKBSBO *1"
*14
#BIBTB *OEPOFTJB EBO 1FOKBTPSLFT
Tabel 5.1 Pemetaan SK/SD ke dalam mata pelajaran IPA, IPS. Bahasa Indonesia dan Penjasorkes
KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PRILAKU MATA Standar Kopetensi (SK) Kopetensi Dasar (KD)
PRB SISWA (Indikator PELAJARAN
Pembelajaran PRB)
IKls I/2 t 1FOZFCBC LFCBLBSBO t .FOHFUBIVJ IPA Bumi dan Alam Semesta
LFSFOUBOBO LFCBLBSBO .FOHFOBM CFSCBHBJ CFOEB MBOHJU
.FNCFEBLBO QFOHBSVI NVTJN
EBO QFSJTUJXB BMBN DVBDB EBO NVTJN
LFNBSBV EFOHBO NVTJN IVKBO
TFSUB QFOHBSVIOZB UFSIBEBQ LFHJBUBO UFSIBEBQ LFHJBUBO NBOVTJB
NBOVTJB
Kls II/2 t 5FPSJ UFSKBEJOZB BQJ t .FOHFUBIVJ UFPSJ Energi dan Perubahannya Benda dan Sifatnya
t .FOHFUBIVJ QSPTFT UFSKBEJOZB BQJ .FOHFOBM CFSCBHBJ TVNCFS FOFSHJ .FOEFTLSJQTJLBO QFSVCBIBO TJGBU
LFCBLBSBO ZBOH TFSJOH EJKVNQBJ EBMBN LFIJEVQBO CFOEB VLVSBO
CFOUVL
XBSOB
BUBV
TFIBSJ IBSJ EBO LFHVOBBOOZB SBTB
ZBOH EBQBU EJBNBUJ BLJCBU EBSJ
QFNCBLBSBO
QFNBOBTBO
EBO
EJMFUBLLBO EJ VEBSB UFSCVLB
.FOHJEFOUJöLBTJ KFOJT FOFSHJ ZBOH
QBMJOH TFSJOH EJHVOBLBO EJ MJOHLVOHBO
TFLJUBS EBO DBSB NFOHIFNBUOZB
Kls IV/1 t 5FPSJ UFSKBEJOZB BQJ t .FOHFUBIVJ UFPSJ Benda dan Sifatnya .FOEFTLSJQTJLBO UFSKBEJOZB
t .FOHFUBIVJ QSPTFT UFSKBEJOZB BQJ .FNBIBNJ CFSBHBN TJGBU EBO QFSVCBIBO XVKVE DBJS QBEBU DBJS
LFCBLBSBO QFSVCBIBO XVKVE CFOEB TFSUB CFSCBHBJ DBJS HBT DBJS QBEBU HBT
DBSB QFOHHVOBBO CFOEB CFSEBTBSLBO
TJGBUOZB
Kls V/1 t 5FPSJ UFSKBEJOZB BQJ t .FOHFUBIVJ UFPSJ Benda dan Sifatnya .FOZJNQVMLBO IBTJM QFOZFMJEJLBO
Kls VI/1 t .FOHFUBIVJ QSPTFT UFSKBEJOZB BQJ .FNBIBNJ IVCVOHBO BOUBSB TJGBU UFOUBOH QFSVCBIBO TJGBU CFOEB
LFCBLBSBO t .FOHFUBIVJ UBIBQ CBIBO EFOHBO QFOZVTVOOZB EBO CBJL TFNFOUBSB NBVQVO UFUBQ
t 5FPSJ QFODFHBIBO QFOHFNCBOHBO BQJ QFSVCBIBO TJGBU CFOEB TFCBHBJ IBTJM
t 'BTF TFCFMVN LFCBLBSBO t .FNBIBNJ UFPSJ TVBUV QSPTFT
t LFSFOUBOBO LFCBLBSBO QFODFHBIBO
Makhluk Hidup dan Proses .FOHJEFOUJöLBTJ LFHJBUBO NBOVTJB
Kehidupan ZBOH EBQBU NFNQFOHBSVIJ
.FNBIBNJ QFOHBSVI LFHJBUBO LFTFJNCBOHBO BMBN FLPTJTUFN
NBOVTJB UFSIBEBQ LFTFJNCBOHBO .FNCBOEJOHLBO TJGBU LFNBNQVBO
MJOHLVOHBO NFOHIBOUBSLBO QBOBT EBSJ CFSCBHBJ
CFOEB
5BCFM 1FNFUBBO 4, ,% LF EBMBN NBUB QFMBKBSBO *1"
*14
#BIBTB *OEPOFTJB EBO 1FOKBTPSLFT
KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PRILAKU MATA Standar Kopetensi (SK) Kopetensi Dasar (KD)
PRB SISWA (Indikator PELAJARAN .FNCVBU HBNCBS EFOBI CFSEBTBS
Pembelajaran PRB) LBO QFOKFMBTBO ZBOH EJEFOHBS
Kls IV/1 t .PEFM SVNBI BNBO EBSJ t .FOHFUBIVJ NPEFM #BIBTB .FOEFOHBSLBO
BODBNBO LFCBLBSBO SVNBI BNBO *OEPOFTJB t .FOEFOHBSLBO QFOKFMBTBO UFOUBOH
t +FOJT BODBNBO LFCBLBSBO QFUVOKVL EFOBI EBO TJNCPM EBFSBI
MBNCBOH LPSQT
Kls III/2 t .PEFM SVNBI BNBO EBSJ t .FOHFUBIVJ NPEFM ,FTFOJBO .FOHFLTQSFTJLBO EJSJ NFMBMVJ LBSZB .FOHFLTQSFTJLBO EJSJ NFMBMVJ
BODBNBO LFCBLBSBO SVNBI BNBO TFOJ SVQB HBNCBS JNBKJOBUJG NFOHFOBJ BMBN
TFLJUBS
Kls II/1 t 1FOZFMBNBUBO EPLVNFO t .FOHFUBIVJ DBSB *14 .FNBIBNJ QFSJTUJXB QFOUJOH EBMBN .FNFMJIBSB EPLVNFO EBO LPMFLTJ
QFOZFMBNBUBO EPLVNFO LFMVBSHB TFDBSB LSPOPMPHJT CFOEB CFSIBSHB NJMJLOZB
5BCFM 1FNFUBBO 4, ,% LF EBMBN NBUB QFMBKBSBO *1"
*14
#BIBTB *OEPOFTJB EBO 1FOKBTPSLFT
KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PRILAKU MATA Standar Kopetensi (SK) Kopetensi Dasar (KD)
PRB SISWA (Indikator PELAJARAN
Pembelajaran PRB)
Kls IV/1 t 4BBU UFSKBEJ CFODBOB 6QBZB QFOZFMBNBUBO EJSJ #BIBTB Membaca
6QBZB QFOZFMBNBUBO EJSJ LFUJLB UFSKBEJ LFCBLBSBO *OEPOFTJB .FNBIBNJ UFLT BHBL QBOKBOH .FOFNVLBO QJLJSBO QPLPL UFLT BHBL
LFUJLB UFSKBEJ LFCBLBSBO t .FODBSJ MPLBTJ QFOZF 1FOKBTPSLFT LBUB
QFUVOKVL QFNBLBJBO
QBOKBOH LBUB
EFOHBO DBSB
MBNBUBO EJSJ ZBOH NBLOB LBUB EBMBN LBNVT FOTJLMPQFEJ NFNCBDB TFLJMBT
UFSEFLBU EBO BNBO
Kls IV/2 t 6QBZB ZBOH EJMBLVLBO .FNBIBNJ UFLT NFMBMVJ NFNCBDB .FOFNVLBO LBMJNBU VUBNB QBEB
TBBU LFCBLBSBO JOUFOTJG
NFNCBDB OZBSJOH
EBO UJBQ QBSBHSBQI NFMBMVJ NFNCBDB
NFNCBDB QBOUVO JOUFOTJG
Kls V/1 .FOHVOHLBQLBO QJLJSBO
QFOEBQBU
.FOBOHHBQJ TVBUV QFSTPBMBO BUBV
QFSBTBBO
GBLUB TFDBSB MJTBO EFOHBO QFSJTUJXB EBO NFNCFSJLBO TBSBO
NFOBOHHBQJ TVBUV QFSTPBMBO
QFNFDBIBOOZB EFOHBO NFNQFS
NFODFSJUBLBO IBTJM QFOHBNBUBO
IBUJLBO QJMJIBO LBUB EBO TBOUVO
BUBV CFSXBXBODBSB CFSCBIBTB
Kls VI/1 .FNBIBNJ XBDBOB MJTBO UFOUBOH .FOZJNQVMLBO JTJ CFSJUB ZBOH
CFSJUB EBO ESBNB QFOEFL EJEFOHBS EBSJ UFMFWJTJ BUBV SBEJP
Kls VI/1 t #FSMBSJ NFOKBVIJ TVNCFS BQJ .FNQSBLUJLLBO CFSCBHBJ HFSBL .FNQSBLUJLLBO LPPSEJOBTJ HFSBL
t .FNBOHHJM UFUBOHHB EBTBS QFSNBJOBO EBO PMBISBHB EBTBS EBMBN UFLOJL MBSJ
MFNQBS EBO
t .FOHIVCVOHJ QFNBEBN EFOHBO QFSBUVSBO ZBOH EJNPEJöLBTJ
MPNQBU EFOHBO QFSBUVSBO ZBOH
LFCBLBSBO EBO OJMBJ OJMBJ ZBOH UFSLBOEVOH EJ EJNPEJöLBTJ
TFSUB OJMBJ TFNBOHBU
t .FOZFMBNBULBO EJSJ VUBNB EBMBNOZB TQPSUJWJUBT
QFSDBZB EJSJ EBO
BEBMBI NFOZFMBNBULBO KJXB
LFKVKVSBO
Kls III/2 t .FODBSJ MPLBTJ QFOZFMBNBUBO .FNQSBLUJLLBO CFSCBHBJ HFSBL .FNQSBLUJLLBO LPNCJOBTJ HFSBL
EJSJ ZBOH UFSEFLBU EBO BNBO EBTBS EBMBN QFSNBJOBO TFEFSIBOB EBTBS KBMBO
MBSJ EBO MPNQBU EFOHBO
t 6QBZB ZBOH EJMBLVLBO TBBU EBO OJMBJ OJMBJ ZBOH UFSLBOEVOH EJ LPPSEJOBTJ ZBOH CBJL EBMBN
LFCBLBSBO EBMBNOZB QFSNBJOBO TFEFSIBOB
TFSUB OJMBJ
LFSKBTBNB
UPMFSBOTJ
LFKVKVSBO
UBOHHVOH KBXBC EBO NFOHIBSHBJ
MBXBO BUBV EJSJ TFOEJSJ
5BCFM 1FNFUBBO 4, ,% LF EBMBN NBUB QFMBKBSBO *1"
*14
#BIBTB *OEPOFTJB EBO 1FOKBTPSLFT
KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PRILAKU MATA Standar Kopetensi (SK) Kopetensi Dasar (KD)
PRB SISWA (Indikator PELAJARAN
Pembelajaran PRB)
Kls V/1 Setelah terjadi bencana t .FOFSBQLBO QFSUPMPOHBO Bahasa
Kls VI/2 t .FOFSBQLBO QFSUPMPOHBO MVLB CBLBS SJOHBO *OEPOFTJB .FNBIBNJ UFLT EFOHBO NFNCBDB .FOFNVLBO HBHBTBO VUBNB TVBUV
MVLB CBLBS t %BQBU NFOHJEFOUJöLBTJ UFLT QFSDBLBQBO
NFNCBDB DFQBU UFLT ZBOH EJCBDB EFOHBO LFDFQBUBO
t %BQBU NFOHJEFOUJöLBTJ QFOHFSUJBO MVLB CBLBS IPS LBUB NFOJU
EBO NFNCBDB QVJTJ LBUB QFS NFOJU
QFOHFSUJBO MVLB CBLBS EBO EBO QFNCBHJBOOZB
QFNCBHJBOOZB t %BQBU NFOHJEFOUJöLBTJ #BIBTB *OEPOFTJB ,MT 7*
t %BQBU NFOHJEFOUJöLBTJ MBOHLBI MBOHLBI .FNBIBNJ UFLT EFOHBO NFNCBDB .FOEFTLSJQTJLBO JTJ EBO UFLOJL
MBOHLBI MBOHLBI QFSUP QFSUPMPOHBO MVLB CBLBS JOUFOTJG EBO NFNCBDB TFLJMBT QFOZBKJBO TVBUV MBQPSBO IBTJM
MPOHBO MVLB CBLBS t .FOHJEFOUJöLBTJ BMBU EBO QFOHBNBUBO
t %BQBU NFNQSBLUFLLBO CBIBO QFSUPMPOHBO
MBOHLBI MBOHLBI QFSUPMPOBO QFSUBNB QBEB MVLB CBLBS .FNBIBNJ HFKBMB BMBN ZBOH UFSKBEJ .FOHFOBM DBSB DBSB NFOHIBEBQJ
MVLB CBLBS SJOHBO EJ *OEPOFTJB EBO TFLJUBSOZB CFODBOB BMBN
t .FOFSBQLBO QFSUPMPOHBO t .FOHFUBIVJ UVKVBO
DFEFSB KBSJOHBO MVOBL QFSUPMPOHBO QFSUBNB
t .FOHJEFOUJöLBTJ QFOHFSUBJO t .FOHFUBIVJ TFCBC MVLB
DFEFSB KBSJOHBO MVOBL EBO CBLBS
QFNCBHJBOOZB t %BQBU NFOHLMBTJöLBTJ
t .FOHJEFOUJöLBTJ BMBU EBO MVLB CBLBS
CBIBO QFSUPMPOHBO DFEFSB
KBSJOHBO MVOBL
t .FOHJEFOUJöLBTJ MBOHLBI
MBOHLBI QFSUPMPOHBO DFEFSB
KBSJOHBO MVOBL
t .FNQSBLUFLLBO MBOHLBI
MBOHLBI QFSUPMPOHBO DFEFSB
KBSJOHBO MVOBL
t .FOHFUBIVJ UVKVBO
QFSUPMPOHBO QFSUBNB
t .FOZFMBNBULBO KJXB
t .FODFHBI DBDBU
t .FNCFSJLBO SBTB OZBNBO
t .FOVOKBOH QSPTFT
QFOZFNCVIBO
t .FOHFUBIVJ TFCBC MVLB
CBLBS
t ,MBTJöLBTJ MVLB CBLBS
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
5.1.3 Penyusunan Silabus Pengurangan Risiko Kebakaran
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber
belajar.
Penyusunan silabus Integrasi SK/KD pada Standar Isi dengan PRB harus
memperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut:
1. Ilmiah: keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam
silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan
2. Relevan: Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian
materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual,
sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
3. Sistematis: Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara
fungsional dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten: Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara
kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5. Memadai: Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk
menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan Kontekstual: Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran,
kegiatanpembelajaran,sumberbelajar,dansistempenilaianmemperhatikan
perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata,
dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel: Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi
keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi
di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh: Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi
(kognitif, afektif, psikomotor)
Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang
disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di
tingkat satuan pendidikan. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu
yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran
lain yang sekelompok.
Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus
sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata
pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum.
48
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
Silabus terdiri dari beberapa komponen sebagai berikut:
Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Materi Pokok/Pembelajaran,
Kegiatan Pembelajaran, Indikator, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber
Belajar. Silabus dikembangkan melalui mekanisme yang digambarkan pada
skema berikut ini,
Gambar. 5.2 Skema Pengembangan Silabus
Materi Pokok / Kegiatan
Pembelajaran Pembelajaran
Analisis KD - Indikator Alokasi Waktu
SI / SKL /
SK - KD
Penilaian Sumber Belajar
Pengembangan Silabus dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Mengkaji dan Menentukan Standar Kompetensi
Mengkaji standar kompetensi mata pelajaran dengan memperhatikan
hal-hal berikut:
Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat
kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di
SI;
Keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
mata pelajaran;
Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata
pelajaran.
49
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
2. Mengkaji dan Menentukan Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar mata pelajaran dikaji dengan memperhatikan hal-hal
berikut:
Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat
kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada
dalam SI;
Keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
mata pelajaran;
Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata
pelajaran
3. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Cara mengidentifikasi materi pokok telah diuraikan pada bagian
sebelumnya.
4. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran perlu diperhatikan hal-
hal sebagai berikut:
Kegiatan pembelajaran harus memuat rangkaian kegiatan yang harus
dilakukan peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi
dasar
Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki
konsep materi pembelajaran
Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal
mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan
pengalaman belajar peserta didik yaitu kegiatan siswa dan materi
pembelajaran.
5. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang
ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator digunakan sebagai dasar
untuk menyusun alat penilaian. Indikator dikembangkan sesuai dengan
karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah.
Pada rumusan indikator dapat diintegrasikan perubahan-perubaan perilaku
yang berhubungan kebencanaan sesuai dengan tuntutan kompetensi
dasar. Rumusan Indikator dengan menggunakan kata kerja operasional
yang dapat diukur atau diobservasi. Tingkatan kata kerja dalam indikator
lebih rendah atau setara dengan kata kerja dalam Kompetensi Dasar atau
Standar Kompetensi.
50
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
6. Menentukan Jenis Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh,
menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta
didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga
menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk
tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya
berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan penilaian:
Untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, yang dilakukan
berdasarkan indikator
Menggunakan acuan kriteria
Menggunakan sistem penilaian berkelanjutan
Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut
Sesuai dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam kegiatan
pembelajaran
7. Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada
jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan
mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman,
tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.
Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan
waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh
peserta didik yang beragam.
8. Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan
untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak
dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan
budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan
kompetensidasarsertamateripokok/pembelajaran,kegiatanpembelajaran,
dan indikator pencapaian kompetensi.
51
Contoh-Contoh Silabus Itegrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
IPA Kls IV/1 Tabel 5.2 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran ke dalam mata pelajaran IPA kelas IV/1
Standar Kompetensi Materi Kegiatan Indikator Penilaian Alokasi Sumber/
Kompetensi Dasar Pokok Pembelajaran Waktu bahan/
Benda dan Sifatnya Siswa mengidenti kasi Buku IPA kelas IV
6. Memahami 6.2 Mendeskripsi- Perubahan benda-benda padat yang t .FOZFCVULBO QFOZFCBC UFSKBEJOZB Tertulis 2 x 35 Kertas koran dan
beragam sifat dan kan terjadinya wujud benda dapat berubah wujud perubahan wujud benda menit korek api
perubahan wujud perubahan wujud akibat Siswa ditugaskan t .FOZFCVULBO IBTJM QFSVCBIBO performance
benda serta cair padat cair; pembakaran melakukan percobaan wujud benda padat
berbagai cara cair gas cair; pembakaran kertas dan t .FNCFEBLBO QFSVCBIBO XVKVE [BU
penggunaan padat gas membuat laporan dari pada ke gas
benda hasil pengamatan
berdasarkan
sifatnya
$POUPI $POUPI 4JMBCVT *UFHSBTJ 1FOHVSBOHBO 3JTJLP #FODBOB ,FCBLBSBO
#BIBTB *OEPOFTJB
,FMBT *7
Tabel 5.3 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV/1
Standar Kompetensi Materi Kegiatan Indikator Penilaian Alokasi Sumber/
Kompetensi Dasar Pokok Pembelajaran Waktu bahan/
Mendengarkan .FNCVBU %FOBI t 4JTXB NFODBUBU JTJ t .FODBUBU JTJ QFUVOKVL UFOUBOH 5FSUVMJT 9 (BNCBS ZBOH
t .FOEFOHBSLBO HBNCBS EFOBI QFOZFMBNB QFUVOKVL KBMBO ZBOH NFOFNVLBO KBMBO ZBOH BNBO 6OKVL .FOJU EJCVBU HVSV
QFOKFMBTBO UFO CFSEBTBSLBO UBO EJSJ TBBU BNBO TBBU LFCBLBSBO TBBU LFCBLBSBO LFSKB #VLV QFOEVBO
UBOH QFUVOKVL QFOKFMBTBO ZBOH LFCBLBSBO ZBOH EJDFSBNBILBO t .FNCVBU TLFUTB QFUVOKVL 6OKVL LFTFMBNBUBO
EFOBI EBO EJEFOHBS HVSV UFOUBOH NFOFNVLBO KBMBO ZBOH LFSKB LFCBLBSBO
TJNCPM EBFSBI t 4JTXB NFNCVBU BNBO TBBU LFCBLBSBO ZBOH
MBNCBOH LPSQT EJQFSEFOHBSLBO
t .FOKFMBTLBO LFNCBMJ JTJ
TLFUTB KBMBO ZBOH BNBO QFUVOKVL UFOUBOH NFOFNVLBO
TBBU LFCBLBSBO KBMBO ZBOH BNBO TBBU LFCBLBSBO
t 4JTXB NFOKFMBTLBO
LFNCBMJ JTJ QFUVOKVL
UFOUBOH DBSB
NFOFNVLBO KBMBO ZBOH
BNBO TBBU LFCBLBSBO
$POUPI $POUPI 4JMBCVT *UFHSBTJ 1FOHVSBOHBO 3JTJLP #FODBOB ,FCBLBSBO
#BIBTB *OEPOFTJB
,FMBT *7
Standar Kompetensi Materi Kegiatan Indikator Penilaian Alokasi Sumber/
Kompetensi Dasar Pokok Pembelajaran Waktu bahan/
Membaca 3.1 Menemukan Teks t 4JTXB NFNCBDB t .FNCBDB CFSBHBN UFLT UFOUBOH Unjuk 3X35 Teks kejadian
3. Memahami pikiran pokok tentang beragam teks tentang kebakaran150-200 kata dengan kerja Menit kebakaran
teks agak teks agak bencana kebakaran 150-200 intonasi yang sesuai dengan isi Tertulis Koran
panjang panjang kebakaran kata dengan intonasi teks sehingga dapat dipahami Unjuk Majalah
(150-200 kata), (150-200 kata) 150-200 yang sesuai dengan isi orang lain. kerja
petunjuk dengan cara kata teks sehingga dapat t .FODBUBU IBM IBM QFOUJOH Tertulis
pemakaian, membaca dipahami orang lain. t .FOHBKVLBO QFSUBOZBBO TFTVBJ Unjuk
makna kata sekilas t 4JTXB NFODBUBU IBM dengan isi teks. kerja
dalam kamus/ hal penting. t .FOKBXBC QFSUBOZBBO UFOUBOH Tertulis
ensiklopedi t 4JTXB NFOHBKVLBO isi teks.
pertanyaan sesuai t .FOKFMBTLBO JTJ UFLT EFOHBO
dengan isi teks. intonasi yang sesuai.
t 4JTXB NFOKBXBC t .FOZJNQVMLBO JTJ UFLT CBDBBO
pertanyaan tentang
isi teks.
t 4JTXB NFOKFMBTLBO JTJ
teks dengan intonasi
yang sesuai.
t 4JTXB NFOZJNQVMLBO
isi teks bacaan.
$POUPI $POUPI 4JMBCVT *UFHSBTJ 1FOHVSBOHBO 3JTJLP #FODBOB ,FCBLBSBO
#BIBTB *OEPOFTJB
,FMBT *7 Tabel 5.4 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV/2
Standar Kompetensi Materi Kegiatan Indikator Penilaian Alokasi Sumber/
Kompetensi Dasar Pokok Pembelajaran Waktu bahan/
Memahami teks Menemukan Teks t 4JTXB NFOFNVLBO t .FOFNVLBO QPLPL QPLPL Tertulis 10X35 Koran
melalui kalimat utama kebakaran pokok-pokok pikiran pikiran yang terdapat dalam teks Tertulis Menit .BKBMBI
membaca pada tiap (4-5 yang terdapat dalam bacaan kebakaran. Tertulis Teks bacaan
intensif, paragraf melalui paragraf ) teks. t .FODBUBU JEF QPLPL QBEB UJBQ Tertulis yang dirancang
membaca membaca t 4JTXB NFODBUBU JEF paragraf Tertulis guru
nyaring, dan intensif pokok pada tiap t .FOVMJTLBO LBMJNBU VUBNB
membaca paragraf pada tiap paragraph 6OKVL
pantun t 4JTXB NFOVMJTLBO t .FSJOHLBT UFLT CBDBBO LFSKB
kalimat utama pada kebakaran dengan kalimat
tiap paragraf yang runtut.
t 4JTXB NFSJOHLBT UFLT t .FOHJEFOUJöLBTJ LBUB LBUB
bacaan dengan kalimat yang memiliki sinonim dan
yang runtut. antonim serta menuliskan
t 4JTXB NFOHJEFOUJöLBTJ sinonim atau antonimnya
kata-kata yang memiliki t .FOKFMBTLBO JTJ UFLT CBDBBO
sinonim dan antonim kebakaran dengan kalimat
serta menuliskan yang runtut
sinonim atau
antonimnya
t 4JTXB NFOKFMBTLBO JTJ
teks dengan kalimat
yang runtut.
$POUPI $POUPI 4JMBCVT *UFHSBTJ 1FOHVSBOHBO 3JTJLP #FODBOB ,FCBLBSBO
Kelas V/1
Tabel 5.5 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V/1
Standar Kompetensi Materi Kegiatan Indikator Penilaian Alokasi Sumber/
Kompetensi Dasar Pokok Pembelajaran Waktu bahan/
Koran
Mengungkapkan Menanggapi Masalah t 4JTXB NFOKFMBTLBO t .FOKFMBTLBO NBTBMBI BUBV Tertulis 5 X 35 .BKBMBI
pikiran, pendapat, suatu persoalan atau masalah atau peristiwa peristiwa kebakaran 6OKVL Menit
perasaan, fakta atau peristiwa peristiwa kebakaran t .FNCFSJLBO LPNFOUBS BUBV LFSKB
secara lisan dan kebakaran t 4JTXB NFNCFSJLBO saran dengan alasan yang logis
dengan memberikan komentar atau saran dan bahasa yang santun.
menanggapi saran dengan alas an yang
suatu persoalan, pemecahannya logis dan bahasa
menceritakan dengan yang santun
hasil memperhatikan
pengamatan, pilihan kata dan
atau santun
berwawancara berbahasa
$POUPI $POUPI 4JMBCVT *UFHSBTJ 1FOHVSBOHBO 3JTJLP #FODBOB ,FCBLBSBO
,FMBT 7
4FNFTUFS Tabel 5.6 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V/2
Standar Kompetensi Materi Kegiatan Indikator Penilaian Alokasi Sumber/
Kompetensi Dasar Pokok Pembelajaran Waktu bahan/
Cerita tentang
Memahami cerita Memahami cerita Cerita t 4JTXB NFOKFMBTLBO t .FOKFMBTLBO UPLPI UPLPI DFSJUB Tertulis 10X35 bencana
tentang suatu tentang suatu pendek tokoh-tokoh cerita dan sifat-sifatnya. Tertulis Menit kebarakan
peristiwa dan peristiwa dan anak tentang penyelamatan t .FOFOUVLBO MBUBS DFSJUB EFOHBO
cerita pendek cerita pendek tentang seorang anak dalam mengutip kalimat atau paragraf Tertulis
anak yang anak yang bencana peristiwa kebakaran yang mendukung Tertulis
disampaikan disampaikan kebakaran t 4JTXB NFOFOUVLBO t .FOFOUVLBO UFNB DFSJUB 6OKVL
secara lisan secara lisan latar cerita dengan t .FOFOUVLBO BNBOBU ZBOH LFSKB
mengutip kalimat atau terkandung dalam cerita
paragraf yang t .FODFSJUBLBO LFNCBMJ JTJ DFSJUB
mendukung dengan bahasa sendiri
t 4JTXB NFOFOUVLBO
tema cerita
t 4JTXB NFOFOUVLBO
amanat yang
terkandung dalam
cerita dan takan
kembali cerita dengan
bahasa sendiri
$POUPI $POUPI 4JMBCVT *UFHSBTJ 1FOHVSBOHBO 3JTJLP #FODBOB ,FCBLBSBO
Kelas VI/1
Tabel 5.7 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI/1
Standar Kompetensi Materi Kegiatan Indikator Penilaian Alokasi Sumber/
Kompetensi Dasar Pokok Pembelajaran Waktu bahan/
Hasil
Memahami teks Mendeskripsikan Mencerita- t 4JTXB NFODBUBU t .FODBUBU QPLPL QPLPL Tertulis 10 X 35 pengamatan
dengan membaca isi dan teknik kan hasil pokok-pokok QFOHBNBUBO QFSJTUJXB LFCBLBSBO Unjuk Menit Koran
intensif dan penyajian suatu pengama- pengamatan. t .FOKFMBTLBO QPLPL QPLPL IBM kerja Radio
membaca sekilas laporan hasil tan t 4JTXB NFOKFMBTLBO yang diamati Unjuk Televisi
pengamatan bencana pokok-pokok hal yang t .FOKFMBTLBO TFDBSB SJODJ IBTJM kerja
kebakaran diamati pengamatan bencana kebakaran tertulis
t 4JTXB NFOKFMBTLBO yang komunikatif
secara rinci hasil t .FMBQPSLBO IBTJM QFOHBNBUBO
pengamatan lingku- bencana kebakaran.
ngan dengan bahasa
yang komunikatif
t 4JTXB NFOKFMBTLBO
hasil pengamatan.
t 4JTXB NFMBQPSLBO
hasil pengamatan.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
5.1.4 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RPP (Rencana pelaksanaan Pembelajaran) adalah rencana yang
menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk
mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan
telah dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas
mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa
indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
ALUR RPP
SK dan KD
SILABUS
RPP
Setiap RPP minimal harus mencakup komponen berikut ini;
Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran,
Sumber Belajar, serta Penilaian Hasil Belajar.
Rumusan Materi Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, dan Indikator
pada silabus yang sudah mengintegrasikan materi tentang bencana dan
kesiapsiagaan bencana selanjutnya diikuti oleh rumusan Indikator, Tujuan
Pembelajaran, Materi Ajar, dan Langkah Pembelajaran di Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran yang juga memperlihatkan pengintegrasian materi tentang
bencana dan kesiapsiagaan bencana.
Langkah-langkah menyusun RPP sebagai berikut:
1. Mengisi kolom identitas
2. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah
ditetapkan
3. Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan ( terdapat pada
silabus yang telah disusun)
4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang
telah ditentukan. (Lebih rinci dari KD dan Indikator, pada saat-saat tertentu
rumusan indikator sama dengan tujuan pembelajaran, karena indikator
sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi.)
5. Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/ pembelajaran
yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi
pokok/pembelajaran
59
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
6. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan
7. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan
awal, inti, dan akhir.
8. Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan
9. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik
penskoran, dll.
Kotak 5.1.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Materi Pengurangan Risiko Kebakaran
Mata Pelajaran : Pengetahuan Alam
Kelas/Semester : IV
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran
Standar Kompetensi : Memahami hubungan antara sifat bahan dengan
penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil
suatu proses
Kompetensi Dasar : Menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan
sifat benda, baik sementara maupun tetap
Indikator : Menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan
sementara sifat benda
Menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan
menetap sifat benda
TUJUAN PEMBELAJARAN :
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan peserta didik dapat:
1. Siswa dapat menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sementara sifat
benda
2. Siswa dapat menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan menetap sifat
benda
MATERI PEMBELAJARAN
Perubahan sifat benda
METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah
2. Percobaan
3. Diskusi
60
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan awal:
Guru memperlihatkan arang batok/tempurung kelapa kepada peserta didik,
kemudia mengadakan tanya jawab : tentang nama, digunakan untuk apa,
bahan awalnya apa, dan bagaiman proses pembuatannya.
Kegiatan Inti
Peserta didik dikelompokkan menjadi beberapa kelompok (satu kelompok
4 -5 peserta didik)
Percobaan I
Peserta didik ditugaskan untuk mencari dan mengumpulkan rantin-ranting
kayu kering untuk percobaan.
Setiap kelompok ditugaskan untuk membakar ranting kayu, dan mengamati
apa yang terjadi
Peserta didik mencatat hasil pengamatannya dan mendiskusikan hasilnya
Setiap kelompok ditugaskan untuk mempresentasikan hasil percobaannya.
Percobaan II
Setiap kelompok ditugaskan membakar jarum yang dipegang alat tang
Peserta didik mencatat hasil pengamatannya dan mendiskusikan hasilnya
Setiap kelompok ditugaskan untuk mempresentasikan hasil percobaannya.
Kegiatan Akhir
Guru bersama peserta didik membuat rangkuman hasil percobaan, yaitu;
benda yang dibakar ada mengalami perubahan bentuk sementara, misalnya
besi bila dipanaskan akan berubah bentuknya menjadi merah dan setelah
dingin kembali ke bentuk semula. Bendan seperti kayu apabila dibakar maka
perubahannya adalah menetap, yaitu majadi abu.
Mengingformasikan kepada siswa bahwa untuk membangun rumah
sebaiknya menggunakan bahan yang terbuat dari besi/baja
Alat / Bahan / Sumber Belajar
Lilin, korek api, piring, ranting pohon, minyak tanah
Penilaian
Pengamatan keaktifan dalam melakukan percobaan
61
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
5.1.5 Penyusunan Bahan Ajar
Kotak 5.2.1 bahan ajar Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran sekolah dasar/madrasah
ibtidaiyah
1. Permainan penyelamatan diri ketika pakaian
terbakar Integrasi mata pelajaran pendidikan jasmani,
olahraga dan kesehatan
Kelas : V
Tujuan : Peserta didik dapat menyelamat diri ketika
pakaiannya terbakar
Sarana : Pluit, air, kapur, potongan kertas kecil
Formasi : individual
Kegiatan :
Kumpulkan seluruh peserta didik di lapangan permainan formasi
setengah lingkaran
Guru memberikan penjelasan tentang cara penyelamatan diri ketika
pakaian terbakar, yaitu: berlari ke luar kobaran api dengan menekuk kedua
tangan di kepala untuk melindungi wajah, mencari tempat yang aman dan
berguling-guling sampai apinya padam
Guru membuat sebuah lingkaran dengan serbuk kapur (sebagai lokasi
aman) di lapangan berumput/yang permukaannya rata.
Pesertadidikdibariskanformasilingkaranlebihkurang5meterdarilingkaran
aman, dan minta satu orang sebagai mediator untuk memperagakan
cara menyelematkan diri, yaitu guru mencipratkan air agak banyak ke
baju mediator dan peserta didik yang lain menaburkan potongan kertas
(pengganti nyala api) ke baju yang basah, kemudian berlari dengan
menekuk kedua tangan di kepala, turus berlari ke arah tempat aman dan
berguling-guling hingga seluruh kertas yang menempel di pakaian lepas
dari pakaian.
Permainan ini dilanjutkan hingga peserta peserta sudah puas dan
diperkirakan telah memiliki pengalaman yang dapat dijadikan sebagai
konsep yang mereka dapat aktualisasikan apabila terjadi kejadian serupa.
Setelah permainan selesai, peserta didik membersihkan badan dan
mengganti pakaian dan siap kembali ke kelas.
Di dalam kelas guru memberikan penjelasan tambahan bahwa apabila
pakaian terbakar jangan berlari untuk memadamkannya, karena jika berlari
kobaran api yang menempel di pakaian akan bertambah besar karena ada
reaksi dari udara, jadi untuk memadamkan api yang menempel di pakaian
cara yang paling efektif adalah dengan cara berguling-guling sambil
membekap kepala/wajah dengan tangan
Peserta didik diminta menuliskan urutan kegiatan yang harus mereka
lakukan apabila pakaian mereka terbakar.
62
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
Catatan:untukmemadamkanapitidakbolehberlari,karenaakanmemperbesar
nyala api
2. Mencari lokasi yang aman saat terjadi kebakaran
Integrasi mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan
kesehatan
Kelas : V
Tujuan : Peserta didik dapat mencari jalan yang aman
saat terjadi kebakaran
Sarana : Pluit, bola kecil, kapur
Formasi : individual dan kelompok
Kegiatan :
Buatlah tiga buah bangun geometri (segi tiga, segi empat, dan lingkaran)
dilapangan permainan dengan diameter 3 meter dengan serbuk kapur.
Guru menjelaskan pada peserta didik arti tanda berarti tempat berbahaya,
tempat kurang aman, dan tanda sebagai tanda aman, cara permainannya
bila peserta didik mendengan aba-aba “pluit 1 kali”, itu berarti berlari
menyelamatkan diri ke tempat yang aman.
Peserta didik dikelompokkan menjadi beberap kelompok, dan setiap
kelompok ditugaskan untuk melakukan kegiatan lempar – tangkap bola dan
tunggu beberapa saat.
Ketika peserta didik asyik bermain lempar – tangkap, tiba-tiba guru
membunyikan pluit panjang 1 kali.
Guru mengamati reaksi peserta didik saat mencari lokasi yang aman untuk
menyelamatkan diri, apakah berlari ke tampat yang aman, yang kurang
aman, atau ke tempat yang tidak aman.
Apabila terdapat peserta didik yang berlari ke tempat yang tidak aman atau
yang kurang aman, maka kepadanya diberikan sangsi berupa bernyanyi
atau melakukan suatu tugas gerak.
Dan bila banyak peserta didik lari ke tanda yang kurang aman atau tidak
bereaksi sama sekali, maka kumpulkan seluruh siswa dengan duduk bebas
di lapangan permainan, kemudian jelaskan pada siswa bahwa dimanapun
mereka berada, dianjurkan mengetahui peta jalan keluar bila berada di
dalam suatu gedung/mall, lokasi alat pemadam kebakaran, hal ini adalah
untuk menguragi risiko bencana kebakaran.
Tugaskan peserta didik
63
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
5.2 PENGEMBANGAN MODEL MUATAN LOKAL PENGURANGAN RISIKO
KEBAKARAN
Muatan Lokal merupakan kegiatan kulikuler untuk mengembangkan
kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas potensi daerah, termasuk
keunggulan daerah yang materinya tidak menjadi bagian dari mata pelajaran
yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak
terbatas pada ketrampilan. Setiap satuan pendidikan harus menyusun
Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan.
Sebelum satuan pendidikan melakukan penyusunan konten muatan lokal,
maka terlebih dahulu harus melakukan analisi konteks mata pelajaran
muatan lokal. Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis potensi kebutuhan
lingkungan, peluang dan tantangan daerah setempat, potensi lingkungan.
Berkaitan dengan penyusunan muatan lokal tentang pengurangan risiko
bencana kebakaran, maka disini akan lebih tepat dilihat dari sudut pandang
kebutuhan peserta didik agar terhindar dari bahaya kebakaran, daerah
pemukiman padat, dan daerah hutan serta pada daerah gambut.
Beranjak dari paparan tersebut di atas, maka sekolah menyusun standar
kompetensi dan kompetensi dasar muatan lokal tentang pengurangan risiko
bencana kebakaran.
5.2.1 Analisis Konteks Pengembangan Muatan Lokal
1. Acuan Pengembangan
Potensi dan kebutuhan lingkungan;
Kebutuhan, minat dan bakat peserta didik;
Ketersediaan daya dukung/potensi satuan pendidikan internal dan
eksternal.
2. Potensi Lingkungan
Sumber Daya Alam (SDA)
Sumber Daya Manusia
Geografis
Budaya
Historis
3. Ruang Lingkup
Lingkup Kondisi dan Kebutuhan Daerah
Kondisi daerah berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial
ekonomi, dan lingkungan sosial budaya yang selalu berkembang.
Kebutuhandaerahyaitusegalasesuatuyangdiperlukanolehmasyarakat,
khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan
masyarakat yang disesuaikan dengan arah perkembangan dan potensi
yang ada di daerah
64
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
Lingkup Isi/Jenis Muatan Lokal
Dapat berupa bahasa asing, kesenian, keterampilan dan kerajinan, adat
istiadat, dan pengetahuan tentang berbagai ciri khas daerah.
4. Implementasi
Melalui implementasi Muatan Lokal yang dikembangkan di satuan
pendidikan, peserta didik diharapkan dapat:
Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan
Alam, sosial, dan budaya daerah;
Mememiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan
mengenai lingkungan yang berguna bagi dirinya dan masyarakat pada
umumnya;
Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/aturan-
aturan yang berlaku, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-
nilai luhur budaya daerah;
Berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat dan pemerintah
daerah.
5. Langkah Awal Penyusunan Muatan Lokal
Identifikasi keadaan dan kebutuhan lingkungan/daerah
Identifikasi potensi satuan pendidikan
Menentukan muatan lokal
Menyiapkan perangkat dan sarana pendukung muatan lokal
Kerjasama dengan pihak lain
6. Rambu-Rambu Penyusunan Muatan Lokal
Rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam penyusunan muatan lokal
Dalam menyusun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta
silabusnya dapat melaksanakan muatan lokal sendiri sesuai dengan
yang diprogramkan
Bagi yang belum mampu menyusun Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar serta silabus muatan lokal sendiri, dapat bekerjasama
dengan satuan pendidikan terdekat yang masih dalam satu kecamatan/
kotamadya. Bila beberapa sekolah dalam satu kecamatan/ kotamadya
belum mampu mengembangkan muatan lokal, dapat meminta bantuan
Tim Pengembang Kurikulum (TPK) dari Dinas atau LPMP
Materi pembelajaran muatan lokal hendaknya sesuai dengan tingkat
perkembangan peserta didik yang mencakup perkembangan
pengetahuan dan cara berpikir, emosi, dan sosial. Pelaksanaan kegiatan
pembelajaran diatur agar tidak memberatkan peserta didik dan
tidak mengganggu penguasaan mata pelajaran lain. Oleh karena itu,
pelaksanaan muatan lokal menghindari adanya pekerjaan rumah (PR).
65
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
Program pembelajaran muatan lokal hendaknya dikembangkan secara
kontekstual dengan melihat kedekatan dengan peserta didik yang
meliputi kedekatan secara fisik dan psikis. Dekat secara fisik maksudnya
materi pembelajaran muatan lokal terdapat dalam lingkungan tempat
tinggal dan sekolah peserta didik, sedangkan dekat secara psikis
maksudnya bahwa materi pembelajaran dan informasinya mudah
dipahami oleh peserta didik sesuai dengan perkembangan usianya.
Untuk itu, bahan pembelajaran muatan lokal hendaknya disusun
berdasarkan prinsip belajar yaitu bertitik tolak dari : (a) hal-hal konkret
ke abstrak; (b) yang diketahui ke yang belum diketahui; (c) pengalaman
lama ke pengalaman baru; (d) yang mudah/ sederhana ke yang lebih
sukar/ rumit. Selain itu materi pembelajaran/ pelajaran hendaknya
bermakna/ bermanfaat bagi peserta didik sebagai bekal mereka dalam
menghadapi kehidupan sehari-hari.
Materi pembelajaran hendaknya memberikan keluwesan bagi guru
dalam memilih metode pembelajaran dan sumber belajar seperti
buku, sarana lain dan nara sumber. Dalam kaitan dengan sumber
belajar, guru diharapkan dapat mengembangkan sumber belajar yang
sesuai dengan memanfaatkan potensi di lingkungan sekolah, misalnya
dengan memanfaatkan sarana dan prasarana sekolah, meminta
bantuan dari instansi terkait atau dunia usaha/ industri (lapangan kerja)
atau tokoh-tokoh masyarakat. Selain itu guru hendaknya dapat memilih
dan menggunakan strategi yang melibatkan peserta didik aktif dalam
proses pembelajaran, baik secara mental, fisik, maupun sosial.
Materi pembelajaran muatan lokal yang diajarkan harus bersifat utuh
dalam arti mengacu kepada suatu tujuan pembelajaran yang jelas
dan memberi makna kepada peserta didik. Namun demikian, materi
pembelajaran muatan lokal tertentu tidak harus secara terus-menerus
diberikan mulai dari I sampai dengan kelas VI. Setiap jenis muatan lokal
diberikan minimal satu semester.
Pengalokasian waktu untuk materi pembelajaran muatan lokal perlu
memperhatikan jumlah minggu efektif untuk muatan lokal pada setiap
semester.
5.2.2 Penyusunan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Muatan Lokal
Penyusunan SK dan KD Muatan Lokal
1. Satuan Pendidikan yang mampu mengembangkan SK dan KD
beserta silabusnya dapat melaksanakan Mulok sendiri. Penetapannya
oleh Satuan Pendidikan dan hasilnya dilaporkan kepada Dinas Pendidikan
setempat;
2. Satuan Pendidikan yang belum mampu menyusun SK dan KD serta silabus
Muatan Lokal sendiri, dapat bekerjasama dengan Satuan Pendidikan
terdekat yang masih dalam satu Kecamatan/ Kab/Kota. Apabila beberapa
Satuan Pendidikan dalam satu Kecamatan/Kab/Kota belum mampu
mengembangkan muatan lokal, mereka dapat meminta bantuan TPK
setempat, Dinas Pendidikan atau LPMP;
66
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
3. Materi pembelajaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta
didik (pengetahuan dan cara berpikir, emosional, dan sosial);
4. Pelaksanaan Mulok tidak mengganggu pelaksanaan komponen mata
pelajaran (komponen A dalam struktur kurikulum).
5. Kegiatan pembelajaran diatur sedemikian rupa agar tidak memberatkan
peserta didik, oleh karena itu dalam pelaksanaan Mulok diharapkan tidak
ada pekerjaan rumah (PR)
6. Program pembelajaran dikembangkan dengan melihat kedekatan secara
fisik dan secara psikis;
7. Bahan pembelajaran disusun berdasarkan prinsip (1) bertitik tolak dari
hal-hal konkret ke abstrak; (2) dikembangkan dari yang diketahui ke yang
belum diketahui; (3) dari pengalaman lama ke pengalaman baru; (4) dari
yang mudah/sederhana ke yang lebih sukar/rumit;
8. Bahan pembelajaran bermakna bagi peserta didik dan dapat membantu
peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Rambu-Rambu Penyusunan SK dan KD:
1. Pengembangan SK dan KD Muatan Lokal ditentukan sekolah
berdasarkan hasil analisis kondisi dan kebutuhan daerah, potensi
peserta didik, dukungan internal dan eksternal
2. Sistematika pengembangannya:
Latar Belakang
Tujuan
Ruang Lingkup
Penentuan SK dan KD
Arah Pengembangan
SK dapat menunjukkan kemampuan umum yang diharapkan dapat
dimililiki peserta didik setelah melakukan proses pembelajaran
KD dijabarkan dari SK yang merupakan kemampuan minimal yang harus
dimiliki setiap peserta didik setelah melakukan proses pembelajaran
Indikator dijabarkan dari KD sebagai penanda bahwa kompetensi
dalam KD telah tercapai
SK, KD dan Indikator pada mulok penganggulangan kebakaran
hendaknya ditujukan untuk mencapai kompetensi kognitif, afektif dan
psikomotorik
67
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
Tabel 5.8 Contoh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Muatan Lokal Sekolah Dasar
KELAS STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
IV 1. Mengenal Macam- 1.1 Mengidenti kasi penyebab terjadinya
Macam Bencana bencana kebakaran
V 2. Mengidenti kasi 1.2 Mengidenti kasi akibat bencana
jenis kebakaran kebakaran
VI 1. Melakukan cara 2.1 Menjelaskan penyebab kebakaran
penanggulangan pemukiman
bencana kebakaran
2.2 Menjelaskan penyebab kebakaran
1. Menerapkan hutan
pertolongan
luka bakar 2.3 Menjelaskan akibat kebakaran
pemukiman
1.1 Mengidenti kasi daerah rawan
bencana kebakaran
1.2 Memahami cara penanggulangan
sebelum terjadi bencana
1.1 Dapat mengidenti kasi pengertian
luka bakar
1.2 dapat mengidenti kasi langkah-
langkah pertolongan luka bakar
1.3 dapat mempraktekkan langkah-
langkah pertolongan luka bakar.
5.2.3 Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Penyusunan silabus untuk muatan lokal pada dasarnya sama dengan pola
dan sistem pengembangan silabus dan RPP pada mata pelajaran. Penyusunan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk muatan lokal pada dasarnya sama
dengan pola dan sistem pengembangan silabus dan RPP pada mata pelajaran.
Pada akhirnya guru diharapkan dapat meyusun bahan ajar yang sesuai.
5.3 PENGINTEGRASIAN PENGURANGAN RISIKO KEBAKARAN
DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN DIRI
Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran
sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan
pengembangan diri diklasifikasi ke dalam program bimbingan konseling
dan kegiatan ekstrakurikuler. Program bimbingan konseling merupakan
upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan
melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi
dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, sedangkan
kegiatan ekstrakurikuler diarahkan untuk menyalurkan bakat, minat dan
potensi peserta didik.
68
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
Kegiatan pengembangan diri berupa pelayanan konseling difasilitasi/
dilaksanakan oleh konselor, dan kegiatan ekstra kurikuler dapat dibina oleh
konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan
dan kewenangnya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan
pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler dapat mengembangkan
kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Kegiatan pengembangan diri secara tidak terprogram dapat dilaksanakan
sebagai berikut :
1. Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadwal, seperti : upacara bendera,
senam, ibadah khusus keagamaan bersama, keberaturan, pemeliharaan
kebersihan dan kesehatan diri.
2. Spontan, adalah kegiatan tidak terjadwal dalam kejadian khusus seperti:
pembentukan perilaku memberi salam, membuang sampah pada
tempatnya, antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran).
3. Keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti :
berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan
dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu.
Untuk memasukkan Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana ke dalam
kegiatan EkstraKurikuler ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu
bahwa fungsi kegiatan ekstra kurikuler adalah:
1. Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk
mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan
potensi, bakat dan minat mereka.
2. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan
kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
3. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan
suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik
yang menunjang proses perkembangan.
4. Persiapankarir,yaitufungsikegiatan ekstrakurikuleruntukmengembangkan
kesiapan karir peserta didik.
Selain Fungsi, kegiatan ekstra kurikuler juga memiliki Prinsip-Prinsip, yaitu:
1. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan
potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.
2. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan
dan diikuti secara sukarela peserta didik.
3. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut
keikutsertaan peserta didik secara penuh.
4. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang
disukai dan mengembirakan peserta didik.
5. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun
semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
6. Kemanfaatansosial,yaituprinsipkegiatanekstrakurikuleryangdilaksanakan
untuk kepentingan masyarakat.
69
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
Berkaitan dengan pengintegrasian muatan Pengurangan Risiko Bencana
Kebakaran ke dalam program pengembangan diri di sekolah/madrasah
dilaksanakam melalui kegiatan rutin dan kegiatan terprogram berupa kegiatan
ekstrakurikuler seperti Palang Merah Remaja, dan Pramuka.
1. Menyusun Program Kegiatan Ekskul yang mengintgrasikan PRB
Program kegiatan ekskul dapat disusun dengan mengacu pada jenis-jenis
kegiatan yang memuat unsur-unsur: (a) Sasaran kegiatan, (b) Substansi
kegiatan, (c) Pelaksana kegiatan dan pihak-pihak yang terkait, serta
keorganisasiannya, (d) Waktu dan tempat, (e) Sarana.
2. Penilaian Kegiatan
Hasil dan proses kegiatan ekstra kurikuler dinilai secara kualitatif
dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah dan pemangku
kepentingan lainnya oleh penanggung jawab kegiatan.
3. Pelaksana Kegiatan
Pelaksana kegiatan ekstra kurikuler adalah pendidik dan atau tenaga
kependidikan sesuai dengan kemampuan dan kewenangan pada substansi
kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.
4. Pengawasan Kegiatan
Kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi,
dan dibina melalui kegiatan pengawasan.
Pengawasan kegiatan ekstra kurikuler dilakukan secara:4
- interen, oleh kepala sekolah/madrasah.
- eksteren, oleh pihak yang secara struktural/fungsional memiliki
kewenangan membina kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.
Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti
untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan
ekstra kurikuler di sekolah/madrasah.
70
Tabel 5.9 Kegiatan terprogram berupa kegiatan Pengembangan Diri
130(3". ,&(*"5"/ 1&/(&.#"/("/ %*3*
5")6/ 1&-"+"3"/
No. Waktu Kegiatan Sasaran Rangkaian Kegiatan Tempat Kegiatan Peralatan yang Pelaksana Pengorganisasian
Digunakan Kegiatan
Pembina dan
1. 1 kali sebulan 4FMVSVI TJTXB EBO (VSV t .FNCFSTJILBO TBNQBI )BMBNBO TFLPMBI t "MBU LFCFSTJIBO Pasukan Berbentuk regu.
EJ TFLPMBI / lapangan Penggalang
putra ,putri. Berbentuk regu.
2. Minggu II t .FUPEF NFNBEBNLBO )BMBNBO TFLPMBI t HPOJ CBTBI
BJS
Pembina dan
CVMBO "HVTUVT api / lapangan pasir Pasukan
Penggalang
putra ,putri.
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
Kotak 5.3.1 Contoh bahan ajar Pengurangan Risiko Kebakaran pada Program
Pengembangan Diri yaitu pada kegiatan pramuka
Memadamkan Api
Kelas : VI
Tujuan : Peserta didik dapat memadamkan api skala kecil
Sarana : kayu, goni basah, air, pasir, gelas, piring, dan lilin
Formasi : kelompok
Kegiatan : I
Peserta didik dikelompokkan menjadi tiga kelompok
Setiap kelompok dibaris membentuk formasi setengah lingkaran di lapangan
permainan dan letakkan onggokan kayu (jangan terlalu banyak) di depan setiap
kelompok, guru harus memperhatikan posisi berdiri harus benar-benar aman dari
kobaran api.
Pada setiap kelompok telah diletakkan bahan-bahan untuk memadamkan api:
kelompok I dangan 1 ember air, kelompok II dengan karung goni basah, dan
kelompok III dengan satu karung pasir.
Guru mencipratkan sedikit minyak tanah, sebagai fuel pemicu api.
Guru menyalakan api pada setiap kelompok
Setelah nyala api membesar, setiap kelompok disuruh memadamkan api dengan
benda-benda yang ada pada setiap kelompok (guru harus memperhatikan
keselamatan peserta didik dalam kegiatan ini).
Guru memastikan api betul-betul telah padam, kemudian seluruh peserta didik
dibawa masuk ke ruangan kelas.
Kegiatan : II
Peserta didik duduk di bangku masing-masing dan secara berapasangan melakukan
percobaan.
Peserta didik meletakkan menyalakan lilin dan meletakkannya di atas piring di asas
meja
Setelah api hidup dengan sempurna, salah satu peserta didik menutup lilin yang
menyala dengan gelas, dan akibatnya adalah nyala api padam
Lakukan pecobaan ini secara bergantian
Guru menugaskan peserta didik untuk menuliskan urutan langkah percobaan yang
telah dilakukan
Peserta didik ditugaskan untuk mendiskusikan “kenapa lilin yang menyala padam
bila apinya ditutup dengan gelas”.
Peserta didik ditugaskan untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka.
Pada sesi terakhir guru memberikan penjelasan tentangn teori api dan anatomi
kebarakan, yaitu:
72
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
Api adalah raksi kimia eksotermik yang disertai timbulnya panas/kalor, cahaya
Ynyala), asap dan gas dari bahan yang terbakar. Proses terebut biasanya dianamakan
reaksi pembakaran. Agar api terjadi, diperlukan tiga unsur pembentuk apai, yaitu
bahan bakar, panas mula dan oksigen. Untuk memadamkan api dilakukan dengan
cara memutuskan hubungan simbiose antar unsur-unsur tersebut, yaitu melalui
panas ditiadakan yaitu dengan menyiram dengan air, bahan bakar dipindahkan,
oksigen ditiadakan, yaitu dengan mambatasi atau menghalangi kontak dengan
udara luar.
73
Daftar Istilah
DAFTAR ISTILAH
Alarm Kebakaran, adalah suatu sistem instalasi alarm kebakaran yang bekerja
secara otomatis, yang dipasang di dalam bangunan gedung yang dimaksudkan
sebagai peralatan peringatan dini / awal kepada para penghuni bangunan tentang
terjadinya kebakaran.
Alarm Bell, adalah suatu komponen dalam system alarm kebakaran gedung
yang akan berbunyi / berdering apabila sistem alarm aktif. Alarm bell biasanya
terpasang pada setiap lantai pada bangunan gedung yang telah dipersyaratkan
untuk dipasang sistem alarm kebakaran.
APAR, singkatan dari Alat Pemadam Api Ringan, ialah alat pemadam yang pada
umumnya dalam kemasan tabung logam dalam berbagai ukuran mulai 1,2 s.d 6 Kg.
Bahan pemadam ini bervariasi, misalnya: serbuk kimia kering, gas CO2, dan busa/
foam. APAR digunakan untuk memadamkan berbagai klasifikasi kebakaran sesuai
dengan isi/bahan pemadamnya.
Api, adalah reaksi kimia yang terjadi secara berantai dan cepat antara bahan bakar
(fuel), Oksigen (O2), dan panas dalam perbandingan yang sesuai diikuti dengan
evolusi pengeluaran cahaya, panas dan gas hasil pembakaran.
Dinas Pemadam Kebakaran, adalah suatu lembaga, pada umumnya lembaga
pemerintah yang ada pada suatu kota atau kabupaten yang dipersiapkann untuk
menanggulangi kebakaran.
Evakuasi, adalah tindakan keluar secara bersama-sama dari dalam bangunan
gedung, dengan panduan petugas pengelola gedung, menuju ke tempat yang
aman di bagian luar bangunan.
Hidran kebakaran, adalah alat pemadam api dalam bentuk sistem instalasi dengan
bahan dasar air. Terdapat 3 jenis hidran kebakaran, yakni instalasi hidran gedung,
instalasi hidran halaman, dan instalasi hidran kota.
Kebakaran, Adalah bentuk nyala api yang sudah tak terkendali. Kebakaran dapat
menimbulkan dampak kerugian yang tak diharapkan. Kerugian itu bisa berupa
harta benda maupun korban jiwa manusia.
Kebakaran Klas A, Kebakaran dari bahan biasa yang mudah terbakar seperti kayu,
kertas, pakaian dan sejenisnya. Jenis alat pemadam : yang menggunakan air harus
digunakan sebagai alat pemadam pokok.
Kebakaran Klas B, Kebakaran bahan cairan yang mudah terbakar seperti minyak
bumi, gas, lemak dan sejenisnya. Jenis alat pemadam : yang digunakan adalah jenis
busa sebagai alat pemadam pokok.
Kebakaran Klas C, Kebakaran listrik (seperti kebocoran listrik, korsleting) termasuk
kebakaran pada alat-alat listrik. Jenis alat pemadam : yang digunakan adalah jenis
kimia dan gas sebagai alat pemadam pokok.
Kebakaran Klas D, Kebakaran logam seperti Zeng, Magnesium, serbuk Aluminium,
74
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
Sodium, Titanium dan lain-lain. Jenis alat pemadam : yang harus digunakan adalah
jenis khusus yang berupa bubuk kimia kering.
Konduksi, Perpindahan panas melalui zat perantara. Panas merambat melalui
dinding pemisah ruangan, bagian dinding pada pada ruangan berikutnya menerima
kalor atau panas yang dapat membakar permukaan benda-benda yang terletak
pada dinding-dinding tersebut.
Konveksi, Perpindahan panas dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Panas
merambat melalui bagian bangunan yang terbuka seperti tangga dan koridor
gang dengan media pengantar udara.
Panel Kontrol Alarm, adalah suatu komponen dalam sistem alarm kebakaran
gedung yang berfungsi sebagai pusat/sentral dari seluruh sistem alarm. Pada Panel
Kontrol ini terdapat berbagai tanda/indikasi yang berfungsi memberi informasi
tentang lokasi lantai, zona, status pompa kebakaran, status stand-by, status trouble,
status general alarm dan lain-lain.
Pencegahan Kebakaran, adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menghindari
atau mencegah terjadinya suatu kebakaran. Upaya-upaya tersebut diantaranya
meliputi: penyebaran pengetahuan dan pemahaman tentang benda dan sumber
panas, kondisi-kondisi serta perilaku yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran,
dan juga mengenai dampak yang merugikan sebagai akibat kebakaran. Kegiatan
Pencegahan kebakaran, diantaranya penyuluhan, pelatihan serta pembelajaran
tentang bahaya kebakaran.
Pemadaman kebakaran, adalah upaya yang dilakukan untuk memadamkan
kebakaran. Upaya memadamkan kebakaran dapat dilakukan dengan air, pasir,
karung goni atau handuk yang dicelupkan ke dalam air lebih dulu, dan dengan Alat
Pemadam Api, hidran dan sprinkler.
Pengindera/Detector, adalah suatu komponen dalam sistem alarm kebakaran yang
berfungsi mengindera/mendetaksi secara otomatis terhadap gejala kebakaran.
Terdapat 3 jenis detector, yakni detector panas, detector asap dan detector asap.
Radiasi, Perpindahan panas dalam bentuk pancaran. Panas merambat antara
ruang dan bangunan yang berdekatan. hal ini akan lebih cepat terjadi jika sebaran
api dibantu oleh tekanan udara atau angin kearah bangunan lainnya.
Sprinkler, adalah salah satu komponen pada sistem instalasi pemadam kebakaran
di dalam bangunan gedung yang bekerja secara otomatis apabila mendapat
rangsangan panas pada suhu tertentu.
Sumber-sumber Panas, adalah salah satu unsur yang dapat menyebabkan
timbulnya api dan kebakaran. Beberapa sumber panas itu adalah matahari, kimia,
listrik, mekanik dan nuklir.
Tempat Berhimpun Sementara, adalah suatu tempat di luar bangunan, yang akan
difungsikan sebagai tempat berkumpulnya para penghuni gedung, yang dinilai
aman dari paparan kebakaran.
75
Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA
Apotik online dan media informasi obat - penyakit ::
medicastore.com
Biro Instalatir, Informasi Kelistrikan dan Panduan Pelayanan Pelanggan, PT
PLN, PLN Dis Jaya & Tangerang, 1996/1997, Jakarta.
Bush, Loren. S. & MeLaughlin, James H., Introduction to Fire Science,
Macmillan Publishing Co, Inc, New York, 1979, USA.
Hoover, Stephen R., Fire Protection for Industry, Van Nostrand Reinhold, 1991, New
York, USA.
Cote, Arthur, & Bugbee, Percy, Principles of Fire Protection, NFPA, Quincy
Park, 1988.
Buku Pegangan Guru Panduan Siaga Bencana Pusat Mitigasi Bencana Institut
Teknologi Bandung
Buku Panduan Guru Pendidikan Siaga Bencana. Muhammadiyah Disaster
Management Center
Deni Almanda, Penghantar Energi Listrik, Majalah Elektro Indonesia, No. 15, Tahun
III, April/Mei 1997, Jakarta.
Ir. Karel Pijpaert, Anggota Dewan Redaksi E.I. bekerja di PT Schneider
Indonesia
Listrik potensial penyebab kebakaran, waspadalah, Majalah Konstruksi, April 1998,
Jakarta.
Penaggulangan Kebakaran dan Bencana Di Lingkungan Padat Hunian Dinas
Pemadam Kebakaran Provinsi DKI Jakarta 2007.
Penaggulangan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Tinggi Dinas Pemadam
Kebakaran Provinsi DKI Jakarta 2007.
http://sains.kompas.com/read/xml/2009/09/08/15440098/Walhi..3.626 Ha.Hutan.
dan.
Medy Santoso, Liam Fogarty dan Bert Boorger Early Warning System And
Fire Danger Rating In Pt. Inhutani 1
http://www.cartenzadventure.com/pengendalian-bahaya-kebakaran.html
Concept Of Fire Control In Dense Settlement Case Study: Banyu Urip Distric, Surabaya
www.buildingcommission.com.au
Victorian Deaf Society www.vicdeaf.com.au Disability Information Online
www.disability.vic.gov.au
www.cfa.vic.gov.au/residents/home/equip.htm
76