MASJID JAMI
LUAR BATANG
DESTINASI WISATA CAGAR BUDAYA
KOTA LAMA JAKARTA
KLASTER KEILMUAN: TEORI, SEJARAH, DAN KRITIK ARSITEKTUR
Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta
ASHADI
ANISA
RATNA DEWI NUR’AINI
Arsitektur UMJ Press
MASJID JAMI
LUAR BATANG
DESTINASI WISATA CAGAR BUDAYA
KOTA LAMA JAKARTA
KLASTER KEILMUAN: TEORI, SEJARAH, DAN KRITIK ARSITEKTUR
Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta
Ashadi
Anisa
Ratna Dewi Nur’aini
Penerbit Arsitektur UMJ Press
2018
MASJID JAMI LUAR BATANG DESTINASI WISATA CAGAR BUDAYA
KOTA LAMA JAKARTA
|arsitekturUMJpress|
|
Penulis: Ashadi
Anisa
Ratna Dewi Nur’aini
CETAKAN PERTAMA, JUNI 2018
Hak Cipta Pada Penulis
Hak Cipta Penulis dilindungi Undang-Undang Hak Cipta 2002
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun
tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Desain Sampul : Abu Ghozi
Tata Letak : Abu Ghozi
Perpustakaan Nasional – Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Ashadi; Anisa; Nur’aini, Ratna Dewi
Masjid Jami Luar Batang Destinasi Wisata Cagar Budaya Kota Lama Jakarta
Jumlah halaman 91
ISBN 978-602-5428-16-6
Diterbitkan Oleh Arsitektur UMJ Press
Jln. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510
Tetp. 021-4256024, Fax. 021-4256023
E-mail: [email protected]
Gambar Sampul: Suasana Masjid Jami Luar Batang dari sudut pandang area parkir
(Dokumentasi Penulis)
Dicetak dan dijilid di Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan
__________________________________________________________
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
Sanksi Pelanggaran Pasal 72 :
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan
(2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu)
bulan dan/ atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah),
atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling
banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran
Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau
denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah).
ABSTRAK
Masjid Jami Luar Batang Jakarta Utara merupakan bangunan bersejarah dan oleh
Pemerintah Daerah dimasukkan dalam bangunan cagar budaya. Keberadaannya
memiliki arti yang sangat penting bagi dan menjadi satu kesatuan dengan penataan
kawasan Kota Tua Jakarta dalam rangka usahanya mendapatkan pengakuan dunia
sebagai warisan dunia (the world heritage). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana potensi wisata masjid Jami Luar Batang. Penelitian ini
menggunakan metode eksplorasi dengan menitikberatkan pada survey lapangan.
Eksplorasi dilakukan terhadap kompleks masjid Jami Luar Batang, kawasan
kampung Luar Batang, dan terhadap kawasan pelabuhan Sunda Kelapa. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa masjid Jami Luar Batang sebagai bangunan
cagar budaya menjadi bagian penting dan tidak dapat dipisahkan dari kawasan
Kota Tua Jakarta, yang dapat menjadi salah satu destinasi wisata cagar budaya di
kawasan Kota Tua Jakarta.
Kata Kunci: Cagar Budaya, Kampung Luar Batang, Pelabuhan Sunda Kelapa,
Kawasan Kota Tua Jakarta.
.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala Puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta,ala, akhirnya
buku berjudul Masjid Jami Luar Batang Destinasi Wisata Cagar Budaya
Kota Lama Jakarta bisa dirampungkan. Buku ini merupakan hasil format
ulang dari Laporan Penelitian yang berjudul Model Penataan Hunian di
Sekitar Bangunan Bersejarah Dalam Rangka Peningkatan Potensi
Kawasan Wisata. Kasus Studi: Hunian di Sekitar Masjid Jami Luar
Batang Jakarta. Dalam format ulang ini beberapa photo yang diambil pada
waktu kemudian ditambahkan untuk memperjelas pembahasan.
Kekuatan buku ini adalah banyaknya gambar atau photo yang
dipaparkan untuk memperjelas pembahasan. Dengan menggunakan metode
eksplorasi, pembahasan dimulai dari kedudukan masjid Jami Luar Batang
sebagai bangunan cagar budaya, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan
tentang posisi masjid Jami Luar Batang dalam kancah penataan dan
pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai kawasan cagar budaya.
Eksplorasi terhadap potensi-potensi yang ada pada dan berkaitan dengan
masjid Jami Luar Batang, menunjukkan bahwa di sana terdapat potensi
wisata religi, wisata kuliner, wisata belanja, dan wisata cagar budaya.
Dalam bagian akhir buku ini ditunjukkan bahwa keberadaan
masjid Jami Luar Batang memiliki peran yang sangat penting dalam
penataan dan pengembangan wisata pesisir Sunda Kelapa dan wisata cagar
budaya kawasan Kota Tua Jakarta.
Akhirnya, semoga buku ini dapat bermanfaat sebagai sumbangan
ilmu pengetahuan tentang arsitektur masjid Jami Luar Batang Jakarta
sebagai bangunan cagar budaya yang menjadi bagian penting dari kawasan
cagar budaya Kota Tua Jakarta.
Jakarta, Juni 2018
Penulis
i
ii
PENGANTAR PENERBIT
Alhamdulillah, tulisan Ashadi dkk, yang berjudul Masjid Jami Luar
Batang Destinasi Wisata Cagar Budaya Kota Lama Jakarta bisa
dirampungkan. Buku ini merupakan hasil format ulang dari Laporan
Penelitian yang berjudul Model Penataan Hunian di Sekitar Bangunan
Bersejarah Dalam Rangka Peningkatan Potensi Kawasan Wisata. Kasus
Studi: Hunian di Sekitar Masjid Jami Luar Batang Jakarta.
Buku ini mengeksplorasi potensi-potensi wisata yang berkaitan
dengan keberadaan masjid Jami Luar Batang Jakarta Utara, yaitu wisata
religi, wisata kuliner, wisata belanja, dan wisata cagar budaya.
Pembahasan mengenai potensi-potensi wisata ini melibatkan penelusuran
terhadap keadaan lingkungan di sekitar masjid Jami Luar Batang, yaitu
lingkungan kawasan kampung Luar Batang itu sendiri dan lingkungan
kawasan pelabuhan Sunda Kelapa.
Dalam buku ini, penulis berusaha memahamkan kepada para
pembaca, khususnya tentang potensi wisata cagar budaya bangunan masjid
Jami Luar Batang, baik dalam lingkup wisata pesisir sebagai bagian dari
penataan dan pengembangan wisata pelabuhan Sunda Kelapa, maupun
dalam lingkup wisata cagar budaya sebagai bagian dari penataan dan
pengembangan kawasan cagar budaya Kota Tua Jakarta.
Kehadiran buku ini menjadi salah satu sumbangan penting bagi
khasanah ilmu pengetahuan, khususnya tentang potensi-potensi wisata
yang dimiliki oleh bangunan-bangunan bersejarah dan menjadi cagar
budaya di wilayah Jakarta.
Jakarta, Juni 2018
Penerbit
iii
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK Hal.
KATA PENGANTAR
PENGANTAR PENERBIT i
DAFTAR ISI iii
v
BAB 1
MASJID JAMI LUAR BATANG DALAM PERSPEKTIF 1
SEJARAH
15
BAB 2 15
DESKRIPSI MASJID JAMI LUAR BATANG 16
18
2.1. Kompleks Masjid 20
2.2. Area Parkir 21
2.3. Gapura/Gerbang Masuk 22
2.4. Pelataran 23
2.5. Selasar 24
2.6. Kantor dan Aula Yayasan 24
2.7. ATM, Kantor Keamanan, Kios, dan Toilet 26
2.8. Madrasah 26
2.9. Sekretariat Masjid 28
2.10. Tempat Wudlu 31
2.11. Serambi Masjid 35
2.12. Ruang Shalat Kaum Wanita 37
2.13. Ruang Utama Masjid 40
2.14. Area Makam
2.15. Makam Habib Husein dan Muridnya
2.16. Menara Lama dan Menara Baru
v
vi 43
43
BAB 3 47
KEADAAN LINGKUNGAN SEKITAR MASJID JAMI
LUAR BATANG 59
59
3.1. Lingkup Wilayah Pelabuhan Sunda Kelapa 66
3.2. Lingkup Wilayah Kampung Luar Batang 73
78
BAB 4
POTENSI WISATA 89
4.1. Wisata Religi
4.2. Wisata Kuliner
4.3. Wisata Belanja
4.4. Wisata Cagar Budaya
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
MASJID JAMI LUAR BATANG
DALAM PERSPEKTIF SEJARAH
Masjid Luar Batang memiliki nama lengkap Masjid Jami Keramat Luar
Batang. Masjid Luar Batang, sesuai dengan namanya, terletak di Kampung
Luar Batang, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Kodya
Jakarta Utara. Masjid Luar Batang merupakan salah satu masjid tua
bersejarah, yang kelahirannya berbarengan dengan lahirnya kota Batavia
atau Jakarta. Lokasi masjid terletak persis di mulut pelabuhan Sunda Kelapa
(Gambar 1.1).
Gambar 1.1 Lokasi masjid Luar Batang di mulut Pelabuhan Sunda Kelapa.
(Diolah dari Wikimapia, 2018)
1
2
Di Jakarta, selain masjid Luar Batang, juga terdapat beberapa masjid
bersejarah lainnya, seperti masjid Al-Alam Marunda, masjid Al-Alam
Cilincing, masjid As-Salafiyah Pangeran Jayakarta, masjid Al-Atiq
Kampung Melayu, masjid Al-Mukarromah Kampung Bandan, masjid Nurul
Abror Mangga Dua, masjid AlMansyur Kampung Sawah Lio, masjid
Annawier Pekojan, masjid Al-Anshor Pekojan, masjid Az-Zawiyah
Pekojan, masjid Langgar Tinggi Pekojan, masjid Kampung Baru Pekojan,
masjid Al-Anwar Angke, masjid Tambora, masjid Kebon Jeruk, dan masjid
At-Taibin Senen. Keunikan masjid Luar Batang dibandingkan dengan
masjid-masjid bersejarah lainnya, yaitu, pertama lokasinya persis di mulut
pelabuhan Sunda Kelapa, sebuah pelabuhan penting pada masa lalu, dan
kedua, masjid ini menjadi keramat oleh adanya makam Habib Husein bin
Abubakar Alaydrus.
Penduduk kampung Luar Batang menghubungkan nama
kampungnya dengan legenda Al-Habib Husein. Menurut cerita, jenazah Al-
Habib Husein diusung dalam kurung batang ('keranda') dan ditandu ke
kuburan Tanah Abang seperti seharusnya, namun sesampainya dikuburan,
jenazah Habib tiada lagi dan ternyata sudah kembali ke rumahnya. Hal ini
terjadi berulang kali. Maka disepakati, bahwa jenazah ini dikebumikan di
rumahnya yang karenanya kemudian disebut Luar Batang (Sudarso, 1998)1.
Menurut sejarah, kawasan itu disebut Luar Batang karena terletak di
luar batang pengempangan, atau penghalang, yang diletakkan melintang di
muara sungai Ciliwung. Pengempangan tersebut terbuat dari batang kayu
dan diperkuat dengan besi. Dalam bahasa Belanda batang kayu itu disebut
Boom. Kata Boom sudah tertera pada peta yang diperkirakan dibuat 1623.
Pada abad ke-17, setelah Belanda mendirikan VOC (Vereenigde
Oostindische Compagnie), kampung Luar Batang menjadi tempat
penampungan sementara bagi pelaut Nusantara yang akan memasuki
pelabuhan Sunda Kelapa. Pada saat itu, Belanda melarang kapal pelaut
Nusantara melalui pelabuhan Sunda Kelapa pada malam hari dengan ketat.
Hindia Belanda melakukan pengawasan ketat terhadap semua kapal dan
kargo. Mereka semua harus melewati Boom. Sambil menunggu izin
1 Kisah ini dijadikan rujukan Abdul Chaer dalam memberikan kemungkinan bahwa etnis
Arab lebih dulu datang ke Tanah Abang dibandingkan dengan etnis Cina (Chaer, 2017:57).
Namun Heuken meragukan kisah ini karena tempat pemakaman yang disebut berada di Tanah
Abang belum ada pada masa hidup Al-Habib Husein (Heuken, 2016: 215).
3
bongkar muat di pelabuhan, pelaut membangun tempat tinggal sementara
berupa gubuk. Secara bertahap, Kawasan di luar pengempangan dalam
bahasa Belanda disebut Buiten de Boom atau lazim disebut Luar Batang
(Heuken, 2007: 42 dan 186; Puspitasari, 2012; Ruchiat, 2012:105-106).
Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pelabuhan tua yang pada abad
ke-12 menjadi pelabuhan penting bagi kerajaan Sunda, yang beribukota di
Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang). Dahulu nama pelabuhan ini adalah
Kalapa. Kapal-kapal asing dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur
Tengah sudah berlabuh dengan membawa barang-barang seperti porselin,
kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur dan zat warna untuk ditukar
dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu. Dari
tempat yang strategis inilah pelabuhan Sunda Kelapa banyak diperebutkan
oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara dan bangsa-bangsa Eropa, namun
Belanda yang akhirnya mendapatkan Sunda Kelapa.
Kampung Luar Batang yang letaknya persis di mulut pelabuhan
Sunda Kelapa, sangat terkenal dari dulu hingga sekarang, karena adanya
makam yang dikeramatkan, yaitu makam Al-Habib Husein, yang oleh
sementara orang dipercayai sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.
Tentang riwayat Al-Habib Husein ada beberapa keterangan.
Rachmat Ruchiat menceritakan kembali: “puluhan tahun Al-Habib Husein
berdakwah di kota-kota pesisir utara pulau Jawa, dari Batavia sampai
Surabaya. Ia wafat sekitar 1796 dan dimakamkan di luar masjid yang
dibangun pada tahun yang sama.” (Ruchiat, 2012:106). Heuken dengan
merangkum data-data yang tersedia, mengatakan: “Suatu makam keramat
seorang Tionghoa sudah terdapat di Luar Batang pada 1736. Mushalla atau
masjid didirikan pada 29 April 1739. Al-Habib Husein tinggal di daerah itu
(Luar Batang) dan meninggal kemungkinan pada 1796 atau 1798. Makam
Al-Habib Husein menarik banyak peziarah, sehingga masjid Luar Batang
menjadi masjid terkenal di Batavia.” (Heuken, 2016:213). Azyumardi Azra,
seperti dikutip Heuken, menyatakan dalam Tesis Doktoralnya: “Al-Habib
Husein Al-Aydrus lahir di Hadramaut dari keluarga sederhana sebagai yatim
dan dititipkan kepada seorang ‘alim sufi’. Semasa masih belia Husein
berniat hijrah ke kota Surat di Gujarat (India Utara), yang sedang terjangkit
wabah dan dilanda kekeringan. Husein mendatangkan hujan dan kesehatan.
4
Karena kejadian itu, ia ditawari menjadi penguasa setempat, hal mana
ditolak Husein, yang hendak berangkat ke Batavia (1736). Di sebelah barat
mulut Ciliwung, di dekat tempat bongkar-muat barang kapal, di tengah-
tengah semak-belukar dan hutan bakau dibangun sebuah surau. Banyak
orang mengunjungi Al-Habib Husein untuk belajar berdoa.” (Heuken,
2016:213-214). Pada sebuah batu yang terdapat di dalam masjid, tertulis:
“Inilah nama keramat Luar Batang Waliy Allah Al-Habib Husein B.
Abubakar B. Abdillah Al Aydrus yang telah wafat pada Hari Kamis 17
Puasa 1169 berkebetulan 24 Djuni 1756.” (Gambar 1.2).
Gambar 1.2 Keterangan tentang Al-Habib Husein pada batu dalam masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Dari koran "Bataviaasche Courant" tanggal 12 Mei 1827 memuat
suatu tulisan tentang masjid Luar Batang bahwa pada 1812 makam Habib
dibangun dengan batu dan masih terletak di luar masjid, dan pada waktu itu
pendapatan tromol/kotak amal tidak lagi di terima oleh komandan (semacam
Lurah ) daerah Luar Batang tetapi di terima oleh pengurus masjid sehingga
masjid dapat diperluas pada tahun 1827. Dalam perluasan ini, makam
menjadi berada di dalam masjid. Pada 1870 mulailah terjadi apa yang waktu
itu dikenal dengan "Perkara Luar Batang." Hal itu berkenaan dengan
pendapatan tromol/kotak amal yang berjumlah besar dan pemerintah pada
5
waktu itu meminta kepada mufti Batavia Assayid Ustman bin Yahya dan
fatwa itu didukung oleh Mufti Syafiiyah di Mekah yaitu Assayid Zaini
Dahlan, dan permasalahan itu dapat terselesaikan pada tahun 1905, dan hasil
dari tromol/kotak amal kembali di gunakan untuk perluasan dan renovasi
masjid. (http://www.socimage.com, akses 12 Maret 2018). Pada 1950-an
dilakukan renovasi masjid, termasuk merobohkan gerbang gapura masjid
lama dan membangun gerbang gapura baru dengan bentuknya seperti yang
ada sekarang ini.
Pada tahun 1980-an dibangun masjid baru di belakang masjid lama
(Heuken, 2003: 55). Selanjutnya, perbaikan-perbaikan masjid dilakukan
oleh para gubernur DKI Jakarta. Pada tanggal 6 September 1991 dilakukan
perletakan batu pertama oleh Gubernur Wiyogo Atmodarminto untuk
renovasi masjid dan selesai pada zaman Gubernur Surjadi Sudirdja pada
tanggal 5 september 1997. Perombakan total masjid diawali oleh Gubernur
Wiyogo. Pada 2002 di zaman Gubernur Sutiyoso dilakukan pembangunan
masjid Luar Batang dengan perluasan bangunan baru, dengan meninggikan
satu meter seluruh lantai masjid (menyesuaikan dengan ketinggian lantai
masjid yang dibangun tahun 1980-an). Hal ini dianggap perlu karena
kelembaban tanah pada waktu itu. Pada 2005 mulai terlihat bentuk masjid
bahkan sudah bisa di gunakan. Pada 2006 di buat menara baru masjid di sisi
utara masjid ( menara pada waktu itu baru satu ). Pada Tanggal 21 September
2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan Buka Puasa
bersama. Pada kesempatan tersebut presiden menyumbang Rp 100.000.000
untuk renovasi dan pembangunan pendukung lainnya. Pembangunan masjid
Luar Batang hampir selesai di zaman Gubernur Fauzi Bowo, salah satu
gubernur yang selalu menyempatkan diri untuk datang di acara Khotmil
Qur'an di Sholat Tarawih di Malam ke-17 Bulan Romadhon di masjid Luar
Batang. (http://www.socimage.com, akses 12 Maret 2018).
Pemugaran demi pemugaran itu praktis hanya menyisakan sebuah
menara kecil di sisi sebelah selatan masjid. Arkeolog Universitas Indonesia,
Candrian Attahiyat, mengatakan saat ini 90 persen masjid Jami Luar Batang
merupakan bangunan baru. (https://x.detik.com, akses 12 Maret 2018).
Keadaan bentuk arsitektur masjid Luar Batang pada periode awal
tidak diketahui. Keterangan-keterangan yang ada pun tidak memperlihatkan
6
bentuk bangunan masjidnya, namun lebih banyak keterangan berupa angka-
angka tahun dan deskripsi keberadaan ulama Al-Habib Husein dan
makamnya sebagai tempat ziarah. Dalam Mesjid-Mesjid Tua di Jakarta,
Heuken menampilkan gambar-gambar bentuk arsitektur masjid Luar Batang
pada sekitar awal abad ke-20 (Gambar 1.3; Gambar 1.4; Gambar 1.5).
Gambar 1.3 Tampak depan gerbang Luar Batang.
(Heuken, 2003: 45)
Gambar 1.4 Tampak depan cungkup makam Luar Batang (terlihat kubahnya).
(Heuken, 2003: 46)
Gambar 1.5 Nisan makam Al-Habib Luar Batang.
(Heuken, 2003: 46)
7
Dalam Masjid Kuno Indonesia diceritakan secara detail keadaan
bangunan masjid Luar Batang sekitar tahun 1998. Masjid terdiri dari tiga
pelataran: timur, selatan, dan utara. Pintu masuk pelataran timur berupa
gerbang terbuat dari struktur beton. Di tengah-tengah pelataran timur
terdapat sumur tua dengan diameter sekitar 80 cm yang diberi cungkup dan
disangga oleh dua buah tiang. Sumur ini sudah tidak berfungsi lagi karena
tercemar air laut. Di sebelah selatan dalam pelataran timur terdapat tempat
wudlu dengan delapan kran air. Di sebelah utara dalam pelataran timur
terdapat pawestren yang digunakan shalat bagi kaum wanita dan kadang-
kadang dimanfaatkan untuk tempat menginap sambil menunggu giliran
ziarah. Bersebelahan dengan pawestren ini terdapat kantor Yayasan Masjid.
Setelah melewati pelataran timur menuju ke arah barat terdapat serambi,
kemudian ruang utama masjid lama, dan yang paling barat adalah ruang
utama masjid baru yang menempel pada masjid lama. Serambi ditopang oleh
delapan tiang. Pada dinding serambi sisi barat dan selatan bagian atas
terdapat tulisan kaligrafi. Ruang utama masjid lama berbentuk empat persegi
yang ditopang oleh tiang-tiang penyangga berbentuk empat persegi polos.
Di sisi selatan dalam ruang utama masjid lama terdapat makam keramat Al-
Habib Husein bin Abubakar Alaydrus dan makam salah seorang muridnya,
Abdul kadir bin Adam. Dalam ruang utama masjid lama ini terdapat terdapat
mihrab, bagian yang dulunya diperkirakan tempat mihrab, ditempatkan trap
tangga naik ke bangunan baru setinggi 1,7 m. Kemudian pada dinding
sebelah barat (sisi yang bukan tempat makam) terdapat dua pintu masuk ke
ruang utama masjid baru. Bangunan masjid baru terdapat di sebelah barat
bangunan masjid lama; ia menyatu dengan bangunan lama. Masjid baru
menghadap ke arah selatan, di halaman selatan ini terdapat pelataran dan di
sisi kiri terdapat menara bulat terbuat dari beton; bagian atas ditutup atap
kubah beton. Pada sisi selatan dan utara ruang utama masjid baru terdapat
serambi yang bentuknya memanjang. Pada sisi dalam kedua serambi ini,
terdapat masing-masing lima pintu kaca sorong, untuk masuk ke dalam
ruang utama masjid baru. Pada bagian timur ruang utama masjid baru
terdapat dua pintu yang menghubungkannya dengan ruang utama masjid
lama. Pada sisi barat ruang utama masjid baru terdapat mihrab dan di sebelah
utara dan tidak jauh dari mihrab terdapat mimbar. Di dalam ruang utama
8
masjid baru terdapat duabelas buah tiang berbentuk empat persegi dengan
ketinggian sekitar 4 m. Tiang-tiang ini tidak berfungsi sebagai penyangga
bangunan, hanya sebagai simbol saja. (Depdikbud, 1999: 122-124).
(Gambar 1.6).
Gambar 1.6 Masjid Jami Luar Batang sekitar 1998.
(Depdikbud, 1999: 123)
Masjid Jami Keramat Luar Batang yang di dalamnya terdapat
makam ulama besar Habib Husein bin Abubakar dan muridnya, Haji Abdul
Kadir, ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Peraturan Daerah
Khusus Ibukota Jakarta Nomor 9 tahun 1999.
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang
Cagar Budaya, yang dimaksud dengan:
a. Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa
Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar
Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat
dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena
memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan,
agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.
b. Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan
manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan
atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang
memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah
perkembangan manusia.
9
c. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari
benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan
ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.
d. Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari
benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi
kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan
prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.
e. Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di
air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar
Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan
manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.
f. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang
memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya
berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.
g. Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan
keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi,
mengembangkan, dan memanfaatkannya.
h. Pelindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi dari
kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan dengan cara
Penyelamatan, Pengamanan, Zonasi, Pemeliharaan, dan Pemugaran
Cagar Budaya.
i. Penyelamatan adalah upaya menghindarkan dan/atau
menanggulangi Cagar Budaya dari kerusakan, kehancuran, atau
kemusnahan.
j. Pengamanan adalah upaya menjaga dan mencegah Cagar Budaya
dari ancaman dan/atau gangguan.
k. Pemeliharaan adalah upaya menjaga dan merawat agar kondisi
fisik Cagar Budaya tetap lestari.
l. Pemugaran adalah upaya pengembalian kondisi fisik Benda Cagar
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan Struktur Cagar Budaya yang
rusak sesuai dengan keaslian bahan, bentuk, tata letak, dan/atau
Teknik pengerjaan untuk memperpanjang usianya.
m. Pengembangan adalah peningkatan potensi nilai, informasi, dan
promosi Cagar Budaya serta pemanfaatannya melalui Penelitian,
10
Revitalisasi, dan Adaptasi secara berkelanjutan serta tidak
bertentangan dengan tujuan Pelestarian.
n. Revitalisasi adalah kegiatan pengembangan yang ditujukan untuk
menumbuhkan kembali nilai-nilai penting Cagar Budaya dengan
penyesuaian fungsi ruang baru yang tidak bertentangan dengan
prinsip pelestarian dan nilai budaya masyarakat.
o. Adaptasi adalah upaya pengembangan Cagar Budaya untuk
kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan
melakukan perubahan terbatas yang tidak akan mengakibatkan
kemerosotan nilai pentingnya atau kerusakan pada bagian yang
mempunyai nilai penting.
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang
Cagar Budaya, maka benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai
Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya
apabila memenuhi kriteria:
a. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;
b. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
c. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan,
agama, dan/atau kebudayaan; dan
d. memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang
Cagar Budaya, Pasal 66 ayat (1) dinyatakan: Setiap orang dilarang merusak
Cagar Budaya, baik seluruh maupun bagian-bagiannya, dari kesatuan,
kelompok, dan/atau dari letak asal.
Pada Pasal 105 dinyatakan: Setiap orang yang dengan sengaja
merusak Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling
lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).
Berdasarkan Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 9
tahun 1999, Tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan
Bangunan Cagar Budaya, pada Pasal 10 ayat (1) dinyatakan: Bangunan
Cagar Budaya dibagi dalam 3 (tiga) golongan yaitu:
11
a. Bangunan Cagar Budaya Golongan A;
b. Bangunan Cagar Budaya Golongan B; dan
c. Bangunan Cagar Budaya Golongan C.
Pada ayat (2) dinyatakan: Bangunan Cagar Budaya Golongan A
ialah bangunan yang memenuhi kriteria:
a. Nilai sejarah; dan
b. Keaslian.
Pada ayat (3) dinyatakan: Bangunan Cagar Budaya Golongan B
ialah bangunan yang memenuhi kriteria:
a. Keaslian;
b. Kelangkaan
c. Landmark/Tengeran;
d. Arsitektur; dan
e. Umur.
Pada ayat (4) dinyatakan: Bangunan Cagar Budaya Golongan C
ialah bangunan yang memenuhi kriteria:
a. Arsitektur; dan
b. Umur.
Pada Pasal 19 dinyatakan: Pemugaran Bangunan Cagar Budaya
Golongan A merupakan upaya preservasi bangunan dengan ketentuan
sebagai berikut:
a. bangunan dilarang dibongkar dan atau diubah;
b. apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak
layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali
sama seperti semula sesuai dengan aslinya;
c. pemeliharaan dan perawatan bangunan harus menggunakan bahan
yang sama/sejenis atau memiliki karakter yang sama, dengan
mempertahankan detail ornamen bangunan yang telah ada;
12
d. dalam upaya revitalisasi dimungkinkan penyesuaian/perubahan
fungsi sesuai rencana kota yang berlaku tanpa mengubah bentuk
bangunan aslinya;
e. di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan
adanya bangunan tambahan yang menjadi suatu kesatuan yang utuh
dengan bangunan utama.
Pada Pasal 20 dinyatakan: Pemugaran Bangunan Cagar Budaya
Golongan B merupakan upaya preservasi bangunan dengan ketentuan
sebagai berikut:
a. bangunan dilarang dibongkar secara sengaja, dan apabila kondisi
fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat
dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti
semula sesuai dengan aslinya;
b. pemeliharaan dan perawatan bangunan harus dilakukan tanpa
mengubah pola tampak depan, atap dan warna, serta dengan
mempertahankan detail dan ornamen bangunan yang penting;
c. dalam upaya rehabilitasi dan revitalisasi dimungkinkan adanya
perubahan tata ruang dalam asalkan tidak mengubah struktur utama
bangunan;
d. di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan
adanya bangunan tambahan yang menjadi suatu kesatuan yang utuh
dengan bangunan utama.
Pada Pasal 21 dinyatakan: Pemugaran Bangunan Cagar Budaya
Golongan C merupakan rekonstruksi dan adaptasi bangunan dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. perubahan bangunan dapat dilakukan dengan tetap
mempertahankan pola tampak muka, arsitektur utama dan bentuk
atap bangunan;
b. detail ornamen dan bahan bangunan disesuaikan dengan arsitektur
bangunan disekitarnya dalam keserasian lingkungan;
c. penambahan bangunan di dalam perpetakan atau persil hanya dapat
dilakukan di belakang bangunan cagar budaya yang harus sesuai
dengan arsitektur bangunan cagar budaya dalam keserasian
lingkungan;
d. fungsi bangunan dapat diubah sesuai dengan rencana kota.
13
Pada papan yang terpasang di halaman masjid Luar Batang tertulis:
Bangunan ini dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya berdasarkan
Peraturan Daerah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 9 Tahun 1999.
Kegiatan berupa memugar, memperbaiki, mengubah bentuk, mengubah
warna, mengganti elemen bangunan yang merupakan bagian dari bangunan
cagar budaya serta lingkungan pekarangannya harus dengan izin Gubernur
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan rekomendasi dari Dinas
Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
(http://teknikarsitekturug.blogspot.co.id, akses 21 Mei 2018).
Berdasarkan Daftar Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang telah
ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya/Situs yang dilindungi UU-RI
Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, masjid Luar Batang
terdaftar dengan Nomor Penetapan: 0128/M/1988, dan Tanggal Penetapan:
27 Pebruari 1988 (https://elantowow.files.wordpress.com, akses 21 Mei
2018).
Penetapan bangunan masjid Luar Batang sebagai Benda Cagar
Budaya sepertinya kurang tepat, karena di sana setidaknya terdapat dua
alasan. Alasan pertama, cagar budaya yang berupa bangunan, sesuai dengan
Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, adalah
susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia
untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding,
dan beratap. Sedangkan, bangunan masjid Luar Batang yang sekarang ini
adalah bangunan baru bergaya modern, tidak ada yang disisakan dari
bangunan lama dalam proses perbaikannya, kecuali sebuah menara di
sebelah selatan bangunan masjid. Alasan kedua, dilihat dari hasilnya,
perbaikan dan perluasan yang dilakukan oleh para gubernur DKI Jakarta,
dari zaman Gubernur Wiyogo Atmodarminto sampai dengan Gubernur
Fauzi Bowo, hanya mempertahankan bagian penting dari masjid Luar
Batang, yakni nisan makam Al-Habib Husein. Sementera cungkup
makamnya itu sendiri pun (bangunan yang memiliki dinding dan atap) juga
telah mengalami perubahan. Sehingga yang paling tepat atas penetapan
sebagai cagar budaya adalah bagian nisan atau jirat makam Al-Habib
Husein sebagai Benda Cagar Budaya. Hal ini sesuai dengan definisi
14
Benda Cagar Budaya menurut Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010
Tentang Cagar Budaya, yaitu benda alam dan/atau benda buatan manusia,
baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau
bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan
kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
Terlepas dari ketidaktepatan penetapan status masjid sebagai benda
cagar budaya, justru keberadaan makam keramat Al-Habib Husein, yang
sekarang ini terletak di dalam masjid, menjadi daya tarik utama bagi
kepentingan ritual ziarah masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Bahkan,
beberapa waktu yang lalu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno
mengatakan bahwa kawasan Luar Batang adalah lokasi yang tepat untuk
dijadikan pusat wisata halal atau halal tourism. Kawasan yang kini kumuh
itu akan dipercantik dan dibuat ramah pejalan kaki. Menurut Sandi, kawasan
Luar Batang yang kaya akan nilai sejarah sejak zaman Belanda itu adalah
salah satu simbol persatuan warga, baik persatuan umat Islam maupun umat
global. Lebih lanjut, Sandi menyebut adanya keinginan untuk membangun
hotel syariah di kawasan yang terkenal dengan pasar ikannya itu. Sebab
banyak jamaah yang melakukan qiyamul lail atau ibadah malam di masjid
Jami Luar Batang dan makam Al-Habib Husein. Termasuk, banyak warga
yang 24 jam berziarah. (https://www.cnnindonesia.com, akses 14 Maret
2018).
BAB 2
DESKRIPSI MASJID JAMI LUAR BATANG
2.1 Kompleks Masjid
Komplek Masjid Jami Luar Batang memiliki beberapa bangunan/ruang,
yaitu sebagai berikut (Gambar 2.1 dan Gambar 2.2):
Gambar 2.1 Perspektif kompleks masjid Jami Luar Batang.
(http://bujangmasjid.blogspot.co.id, akses 5 Mei 2018)
(1) area parkir;
(2) gapura/gerbang masuk;
(3) pelataran timur, selatan, dan utara;
(4) selasar;
(5) kantor dan aula yayasan;
(6) ATM dan kantor keamanan;
15
16
(7) kios;
(8) toilet;
(9) madrasah;
(10) sekretariat masjid;
(11) tempat wudlu;
(12) serambi masjid sebelah timur, selatan, dan utara;
(13) ruang shalat kaum wanita;
(14) ruang utama masjid/tempat shalat kaum pria;
(15) area makam;
(16) makam Habib Husein dan muridnya; dan
(17) menara lama dan menara baru.
15 1
Gambar 2.2 Situasi kompleks masjid Jami Luar Batang.
(Diolah dari Wikimapia, 2018)
2.2 Area Parkir
Di sebelah timur di luar kompleks masjid terdapat area parkir dan beberapa
kios makanan. Luas area parkir sekitar 836 m2. Beberapa mobil ukuran kecil
dan sepeda motor bisa diparkir di sini, sedangkan mobil-mobil besar dan bis
diparkir di area parkir sekitar 100 m di sebelah utara kompleks masjid.
Kenderaan ukuran kecil roda empat dan roda dua, untuk menuju kompleks
masjid, bisa melalui Jalan Luar Batang Gang 1 dan Gang 2, sedang untuk
kendaraan besar melalui Jalan Kompleks Muara Baru Depan (Gambar 2.3
dan Gambar 2.4).
17
Gambar 2.3 Jalan masuk ke kompleks masjid Jami Luar Batang.
(Diolah dari Wikimapia, 2018)
Gambar 2.4 Kios penjual makaman di pinggir area parkir.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Area parkir di depan kompleks masjid, sehari-harinya berfungsi
sebagai area parkir kendaraan milik beberapa warga (khususnya pada malam
18
hari) dan kendaraan pengunjung masjid atau peziarah makam Al-Habib.
Pada hari-hari tertentu, seperti setiap malam Jumat, hari peringatan Maulid
Nabi Muhammad SAW, dan hari peringatan Haul Al-Habib, sebagian area
parkir digunakan untuk kegiatan dagang; ia berubah fungsi menjadi area
pasar. Area parkir juga digunakan untuk kegiatan pernikahan. (Gambar 2.5
dan Gambar 2.6).
Gambar 2.5 Area parkir difungsikan sebagai tempat pasar.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.6 Area parkir difungsikan sebagai tempat pernikahan.
(Dokumentasi penulis, 2017)
2.3 Gapura/Gerbang Masuk
Gerbang masuk yang berupa gapura berada di sisi timur kompleks masjid;
ia berupa bangunan dengan lebar 3 m dan tinggi 5 m. Bangunan gapura
19
seakan dibagi dua, bagian bawah dan bagian atas. Pada bagian bawah
terdapat lubang pintu masuk berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi
sekitar 2 m. Pada bagian atas gapura terdapat tulisan Arab pada sisi yang
menghadap timur. Di atas tulisan Arab tersebut dibuat bentuk setengah
lingkaran. Pada bagian ujung-ujung gapura di bagian atas terdapat bentuk
bulatan seperti bola. (Gambar 2.7).
Gambar 2.7 Gapura masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Di pintu masuk ini beberapa orang nampak menjual kembang
payung, yaitu kembang yang dibungkus daun pisang dan diikatkan pada
sebilah bambu kecil runcing dengan panjang 30 cm, yang pada bagian
atasnya terdapat hiasan kertas berbentuk silinder menyerupai payung
(Gambar 2.8). Kembang payung ini diperuntukkan bagi para peziarah
makam.
Gambar 2.8 Kembang Payung.
(Dokumentasi penulis, 2017)
20
2.4 Pelataran
Kompleks Masjid Jami Luar Batang memiliki tiga pelataran: timur, selatan,
dan utara. Pelataran timur, luasnya sekitar 360 m2, pelataran selatan sekitar
556 m2, dan pelataran utara sekitar 452 m2. Pelataran selatan dan utara,
sebagiannya, masing-masing seluas 180 m2 diatapi dengan polycarbonate.
Ketiga pelataran, pada acara peringatan maulid dan haul, dipenuhi oleh
jamaah. Pada kedua peringatan itu, pelataran timur dan sebagian utara
diatapi dengan tenda. (Gambar 2.9; Gambar 2.10; Gambar 2.11).
Gambar 2.9 Pelataran timur masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.10 Pelataran selatan masjid pada saat peringatan maulid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
21
Gambar 2.11 Pelataran utara masjid saat peringatan maulid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
2.5 Selasar
Setelah masuk gerbang masjid, di sisi kanan (utara) dan kiri (selatan)
terdapat selasar yang masing-masing memiliki lebar 2.5 m dan tinggi 2.5 m
dengan penutup atap berbentuk kampung memanjang. Bangunan selasar
ditopang oleh kolom beton ukuran 30 cm x 30 cm. Pada sisi kanan, panjang
selasar sekitar 50 m, dan sisi kiri panjang selasar sekitar 40 m. Selasar sisi
kanan menuju kantor dan aula yayasan, ATM, kios, toilet, madrasah, kantor
kesekretariatan masjid, dan pintu masuk dari arah area parkir kendaraan
besar. Selasar sisi kiri menuju makam Al-Habib. (Gambar 2.12).
Gambar 2.12 Selasar kanan (utara) dan selasar kiri (selatan), dari arah masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
22
2.6 Kantor dan Aula Yasasan
Di sebelah utara pelataran timur terdapat bangunan kantor dan aula yayasan
yang luas bangunannya sekitar 247 m2 (13 m x 19 m). Atap bangunan
berbentuk limasan. Bangunan ini sehari-harinya tidak difungsikan. Pada
hari-hari tertentu digunakan untuk latihan hadroh. Pada hari peringatan
maulid dan haul, bangunan ini digunakan untuk menerima tamu para habib
dan undangan, dan juga untuk tempat memainkan hadroh (pembacaan
riwayat yang diselingi dengan terbangan) (Gambar 2.13 dan Gambar 2.14).
Gambar 2.13 Kantor dan aula yayasan.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.14 Aula yayasan digunakan untuk menerima para tamu undangan dan
main terbangan (hadroh) pada hari peringatan maulid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
23
2.7 ATM, Kantor Keamanan, Kios, dan Toilet
Di sebelah barat kantor dan aula yayasan terdapat tempat ATM, kantor
keamanan, kios, dan toilet. Bangunan deretan ATM, kantor keamanan, kios,
dan toilet beratap dak beton. Di sebelah ATM dan kantor keamanan terdapat
kios-kios penjual pakaian dan makanan. Di antara kios-kios tersebut terdapat
toilet (Gambar 2.15 dan Gambar 2.16).
Gambar 2.15 Kios dan toilet.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.16 ATM dan kantor keamanan.
(Dokumentasi penulis, 2017)
24
Deretan ATM, kantor keamanan, kios, dan toilet ini keadaannya
terlalu padat saat hari peringatan maulid dan haul karena di tempat ini terjadi
pertemuan antara jamaah yang datang dari arah pintu timur (gerbang utama)
dan jamaah yang datang dari arah pintu masuk di sisi utara (dari arah area
parkir kendaraan besar). Apabila jamaah yang datang dari arah utara (dari
arah area parkir kendaraan besar) ingin mengambil air wudlu akan melewati
selasar ini, dan tentunya akan terjadi pertemuan dengan jamaah yang datang
dari arah gerbang utama yang ingin ke toilet.
2.8 Madrasah
Di sebelah utara deretan ATM, kios, dan toilet terdapat bangunan madrasah.
Bangunan ini terdiri dari dua lantai, masing-masing lantai luasnya 360 m2
(24 m x 15 m). Bangunan madrasah memiliki atap berbentuk limasan. Di
sisi barat bangunan terdapat tangga untuk naik ke lantai dua yang sifatnya
terbuka; maka jika hujan akan kebasahan bagi yang menggunakan tangga
tersebut. Pada hari peringatan maulid dan haul, bangunan ini dipergunakan
untuk tempat memasak (lantai dasar) dan menampung para jamaah (lantai
atas) (Gambar 2.17 dan Gambar 2.18).
Gambar 2.17 Madrasah.
(Dokumentasi penulis, 2017)
2.9 Sekretariat Masjid
Di sebelah barat madrasah terdapat bangunan sekretariat masjid yang
memanjang timur ke barat. Bangunan ini memiliki luas sekitar 504 m2 (36
m x 14 m2). Bangunan kesekretariatan memiliki atap berbentuk kampung
pada sisi timur dan limasan pada sisi barat. Pada sisi selatan konstruksi atap
25
terdapat empat kuncung terpotong sebagai tanda bahwa di bawahnya
terdapat pintu masuk ke bangunan. Bangunan seluas ini terdiri dari ruang
menginap tamu khusus (semacam guest house), ruang tamu, koperasi, dan
kantor. Pada sisi selatan diberikan ruang selasar selebar 2,5 m. Pada sisi
selatan yang paling luar diberi dinding kerawang setinggi 1,5 m. Pada hari
peringatan maulid dan haul, ruang-ruang ini (paling tidak pada bagian
selasarnya) diperuntukkan bagi para jamaah tamu undangan (Gambar 2.19).
Gambar 2.18 Bangunan madrasah lantai dasar digunakan untuk memasak pada
hari peringatan maulid dan haul.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.19 Selasar di depan ruang tamu (pada bangunan kesekretariatan)
diperuntukkan bagi para jamaah tamu undangan pada hari peringatan maulid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
26
2.10 Tempat Wudlu
Sebelum memasuki serambi masjid, jamaah melakukan wudlu terlebih
dahulu. Tempat wudlu ada di sebelah barat deretan ATM, kios, dan toilet.
Tempat wudlu ini berbentuk melingkar dan bersifat terbuka; ia diatapi
dengan fiberglass berbentuk lingkaran seperti bentuk payung terbelah
dengan kerangka besi bulat; diameter payung 7 meter. Jumlah tempat wudlu
ada dua yang saling berdekatan, yang satu untuk tempat wudlu pria dan yang
satu lagi untuk wanita. Pada dinding tempat wudlu yang tingginya 1,5 m dan
berbentuk melingkar ini terdapat beberapa kran air. Struktur payung terbelah
yang terbuat dari rangkaian besi-besi bulat ini cukup menarik perhatian; ia
meliuk-liuk dan melingkar mengikuti bentuk payung terbelah. Satu struktur
payung menaungi satu tempat wudlu. Sayangnya pada saat hujan, orang-
orang yang sedang berwudlu pastilah kehujanan karena tiadanya dinding
pelingkup yang sampai atas. (Gambar 2.20).
Gambar 2.20 Tempat wudlu dengan atap fiberglass berbentuk payung terbelah.
(Dokumentasi penulis, 2017)
2.11 Serambi Masjid
Masjid Jami Luar Batang memiliki tiga serambi: serambi timur, selatan dan
utara, yang memiliki lebar masing-masing 3 m dan tinggi 3.8 m. Untuk
menghindari tempias, pada sisi luar di ketinggian 3 m, diberi plat datar
selebar 1 m. Serambi timur dan utara menerus (tersambung), sehingga
seakan merupakan selasar, sementara serambi selatan tidak menerus baik
dengan serambi timur maupun dengan serambi utara. Dari pelataran timur,
untuk memasuki serambi timur masjid harus melewati lima trap anak tangga
27
(cukup landai: tingginya 60 cm). Begitu pula dengan serambi selatan dan
utara, dari pelataran (selatan dan utara) harus naik lima trap anak tangga
untuk menuju serambi (selatan dan utara). Alas kaki sebelum masuk ke
serambi masjid harus dilepas dan ditempatkan di tempat yang telah
disediakan. Di siang hari, beberapa orang melepas lelah di serambi selatan.
Pada malam hari, beberapa orang bermalam di serambi utara. Di serambi
utara, di ujung sebelah barat ditempatkan beduk. (Gambar 2.21 dan 2.22).
Gambar 2.21 Serambi timur masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.22 Serambi utara masjid, tampak beduk di ujung serambi.
(Dokumentasi penulis, 2017)
28
Serambi timur, selatan, dan utara, pada dinding sisi luarnya adalah
setengah terbuka (dinding berupa batu kerawang tingginya 1,5 m),
sementara dinding sisi dalamnya adalah batas dinding serambi dengan ruang
utama. Ketiga serambi beratap dak beton. Pada serambi timur dan sebagian
serambi utara (pengembangan masjid lama), pada bagian atap dak terdapat
parapet yang mengelilingi bangunan (pengembangan masjid lama) yang
berbentuk lengkungan setengah kubah bawang. Tampak luar secara
keseluruhan bangunan (pengembangan masjid lama) memiliki gaya Timur
Tengah. (Gambar 2.23). Sementara serambi selatan (yang merupakan
serambi masjid baru) dan sebagain serambi utara (bagian barat yang
merupakan serambi masjid baru) memiliki parapet yang berbentuk plat
datar. Atap dak pada serambi timur, selatan, dan utara di sisi luarnya
ditopang oleh kolom berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 40 cm x 40
cm. (Gambar 2.24 dan Gambar 2.25).
Gambar 2.23 Tampak serambi timur masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
2.12 Ruang Shalat Kaum Wanita
Ruang shalat kaum wanita adalah pengembangan dari ruang utama masjid
lama. Bangunannya memiliki atap berbentuk tajuk, dengan ukuran dasar
tajuk 15 m x 15 m. Namun dilihat dari ruang dalamnya, bentuk tajuk ini
tidak kelihatan karena ruang shalat kaum wanita memiliki plafon datar.
Dalam ruang ini terdapat 8 kolom berbentuk bulat bergaris-garis, bergaya
kolom Yunani, ukuran diameter 60 cm pada bagian bawah dan 40 cm pada
bagian atas, dan tingginya 3.8 m. Pada bagian bawah kolom terdapat umpak
29
berbentuk bujur sangkar setinggi 15 cm dengan ukuran 70 cm x 70 cm.
Plafon ruangan yang mendatar berupa jejeran balok-balok dan papan kayu
yang dibiarkan terbuka (exposed) sehingga terlihat indah.
Gambar 2.24 Tampak serambi selatan masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.25 Tampak serambi utara masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Ruang shalat kaum wanita hanya bisa dicapai dari serambi timur.
Lantai ruang lebih rendah sekitar 60 cm dari serambi timur. Dari serambi
30
menuju ruang ini harus melewati lubang yang bagian atasnya berbentuk
setengah lingkaran yang merupakan lubang masuk dari serambi ke ruang
shalat kaum wanita, dan harus menuruni tiga trap anak tangga. Lubang
masuk ini berjumlah 4 dengan bentuk yang sama dan masing-masing
lebarnya 3 m dan tingginya 3.5 m. (Gambar 2.26).
Gambar 2.26 Ruang shalat wanita, di sana terlihat kolom, plafon berupa papan dan
jejeran kayu balok, dan lubang masuk berbentuk lengung dari arah serambi timur.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Ruang shalat kaum wanita ini dibagi dua: sisi selatan untuk tempat
berdoa para peziarah dan untuk jalan lewat bagi jamaah pria yang ingin
langsung ke ruang utama masjid (peil lantai sama dengan lantai ruang shalat
wanita); dan sisi utara untuk shalat kaum wanita. Namun bagi kelompok
peziarah yang terdiri dari kaum pria dan wanita, apabila ketika datang
berziarah belum tiba waktunya shalat berjamaah atau telah lewat waktu
shalat berjamaah, maka mereka bersama-sama melakukan shalat berjamaah
di ruang ini.
Di sebelah selatan ruang shalat kaum wanita adalah cungkup makam
Habib Husein bin Abubakar Alaydrus dan muridnya, Abdul Kadir. Pada sisi
selatan ruang shalat kaum wanita terdapat dua pintu untuk masuk ke dalam
cungkup dan empat buah jendela, yang sekilas keenamnya berbentuk sama,
namun perbedaannya adalah keempat jendela memiliki jeruji besi dan
berada 30 cm di atas lantai. Sementara, di sebelah barat ruang shalat kaum
wanita adalah ruang utama masjid tempat shalat berjamaah bagi kaum pria.
Pada sisi barat ruangan terdapat dua buah pintu yang bentuknya sama, untuk
masuk ke dalam ruang utama masjid. (Gambar 2.27 dan Gambar 2.28). Luas
31
total ruang shalat wanita ditambah dengan serambi timur dan sebagian utara
adalah 528 m2 (24 m x 22 m).
Gambar 2.27 Pada sisi selatan ruang shalat kaum wanita terdapat dua pintu masuk
ke dalam cungkup makam Al-Habib.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.28 Pada sisi barat ruang shalat kaum wanita terdapat dua pintu masuk
ke ruang utama masjid; untuk memasukinya harus melewati trap anak tangga.
(Dokumentasi penulis, 2017)
2.13 Ruang Utama Masjid
Ruang utama masjid adalah pengembangan masjid baru, yang sekarang
letaknya di sebelah barat ruang shalat kaum wanita dan juga di sebelah barat
32
cungkup makam. Artinya dinding cungkup makam pada sisi barat dan
sebagian dinding ruang shalat kaum wanita pada sisi barat merupakan
dinding ruang utama masjid pada sisi timur. Pada sisi timur ini terdapat dua
buah pintu masuk. Posisi lantai ruang utama lebih tinggi 60 cm daripada
lantai ruang shalat kaum wanita. Untuk masuk ke ruang utama dari ruang
shalat kaum wanita harus menaiki tiga trap anak tangga.
Ruang utama masjid dinaungi atap berbentuk tajuk dengan ukuran
dasar 21 m x 21 m, dengan bentuknya yang agak meruncing. Bentuk tajuk
ini direpresentasikan pula oleh bentuk plafon ruangannya. Plafon
menggunakan bahan papan lambresiring mengikuti bentuk tajuk dengan
sudut yang dalam dengan bentuk datar pada bagian paling dalam (atas). Di
dalam ruangan terdapat 12 kolom yang masing-masing berbentuk bujur
sangkar berukuran 40 cm x 40 cm dan tingginya 3.8 m. Di bagian bawah
terdapat umpak setinggi 40 cm. Keduabelas kolom ini sejatinya tidak
menopang atau menyangga apa-apa; mereka dibiarkan bebas berdiri di
dalam ruang. Keberadaan kolom-kolom ini merupakan tanda bahwa dulunya
ditempat kolom-kolom inilah terdapat kolom-kolom asli, yang menyangga
atau menopang bangunan masjid lama. Tampak eksterior atap bentuk tajuk
yang menaungi ruang utama begitu menonjol, di samping dua menara
kembar yang menjulang. (Gambar 2.29 dan Gambar 2.30).
Gambar 2.29 Plafon ruang utama masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
33
Gambar 2.30 Duabelas kolom berdiri bebas di dalam ruang utama masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Pada dinding ruang utama sisi barat terdapat 4 kolom bulat diameter
30 cm dengan tinggi 2.5 m. Pada bagian atas kolom berupa kapitel (semacam
kepala) berbentuk bujur sangkar yang pada keempat sisinya terdapat
kaligrafi Arab. Di atas keempat kapitel kolom ini terdapat tiga lengkungan
berbentuk tapal kuda, yang merupakan ciri khas arsitektur Islam Andalusia,
seperti pada istana Alhambra. Jarak antar kolom adalah 3 m; sehingga total
jarak dari ujung kolom dengan ujung kolom lainnya adalah 9 m. Dinding
sepanjang 9 m ini dibuat menjorok ke dalam sekitar 1.2 m. Keempat kolom
dengan tiga lengkungannya di bagian atasnya membentuk tiga lubang.
Lubang yang di tengah diperuntukan bagi imam memimpin shalat
berjamaah, dan lubang yang berada di samping kanannya (utara) diisi
dengan mimbar yang diperuntukkan bagi khatib saat berkhotbah.
Keberadaan keempat kolom bulat langsing dan tiga lengkungan tapal kuda
ala arsitektur Alhambra cukup menciptakan vocal point pada dinding sisi
barat ruang utama masjid. (Gambar 2.31).
Pada dinding sisi selatan dan utara ruang utama masjid terdapat
masing-masing lima pintu masuk berupa pintu geser. Dengan adanya pintu-
pintu ini menunjukkan bahwa sebenarnya pintu utama masuk ke dalam
ruang utama masjid bukan dari arah timur, melainkan dari arah selatan
karena pula di arah selatan langsung berhubungan dengan jalan. Tapi pada
34
kenyataannya sebagian besar jamaah datang dari arah timur karena di sana
terdapat cungkup makam Al-Habib. (Gambar 2.32).
Gambar 2.31 Tempat imam dan khatib (mimbar) di dalam ruang utama masjid;
konstruksi kolom dan lengkungan tapal kuda mengingatkan kepada arsitektur
Islam Andalusia, seperti pada istana Alhambra.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.32 Pintu geser pada sisi utara ruang utama masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Pada dinding sisi timur ruang utama masjid terdapat dua pintu
masuk dari arah ruang shalat kaum wanita (dari arah pelataran timur masjid).
Di dinding di dekat kedua pintu tersebut terdapat dua prasasti. Yaitu prasasti
peletakan batu pertama pemugaran pada 6 September 1991 yang
ditandatangi oleh Gubernur Wiyogo Atmodarminto dan prasasti kedua yang
35
letaknya bersebelahan yaitu prasasti pemugaran tahap pertama tanggal 5
September 1997 tertanda Gubernur Surjadi Soedirja (Gambar 2.33 dan
Gambar 2.34). Luas total ruang utama masjid ditambah dengan serambi
selatan dan sebagian serambi utara adalah 486 m2 (27 m x 18 m).
Gambar 2.33 Prasasti yang ditandatangani oleh Wiyogo Atmodarminto.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.34 Prasasti yang ditandatangani oleh Gubernur Surjadi Soedirdja.
(Dokumentasi penulis, 2017)
2.14 Area Makam
Di bagian tenggara dalam kompleks Masjid Jami Luar Batang terdapat area
makam, yang disinyalir sudah berusia tua. Beberapa nisan makam masih
bisa dijumpai dengan berbagai bentuknya. Dari beberapa nisan yang ada, di
sana tidak ditemukan keterangan nama pemilik nisan-nisan tersebut. Nisan-
36
nisan tersebut memiliki bentuk yang unik, pada bagian atasnya berbentuk
mirip bunga teratai dengan lima kelopak. Pada beberapa nisan terdapat
kaligrafi tulisan Arab dalam bingkai bentuk lingkaran yang memperlihatkan
keindahan tersendiri. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka yang dikubur
di sini adalah muslim. (Gambar 2.35 dan Gambar 2.36).
Gambar 2.35 Beberapa nisan pada area makam.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.36 Bentuk nisan pada area makam.
(Dokumentasi penulis, 2017)
37
2.15 Makam Habib Husein dan Muridnya
Makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus dan muridnya yang bernama
Abdul kadir berada dalam bangunan cungkup yang letaknya berdempetan
(atau menjadi satu bangunan) dengan ruang shalat kaum wanita dan ruang
utama masjid; tepatnya ia berada di sebelah selatan ruang shalat kaum
wanita dan di sebelah timur ruang utama. Bangunan cungkup luasnya 120
m2 (12 m x 10 m), yang terdiri dari tiga ruang: ruang tempat makam, yang
di dalamnya terdapat dua nisan makam (makam Al-Habib dan muridnya)
dan tempat ziarah kaum laki-laki; ruang tempat ziarah kaum wanita; dan
ruang berdoa (juru kunci makam mendoakan menurut permintaan sebagian
peziarah disertai dengan penyerahan bunga payung dan air dalam botol oleh
peziarah kepada juru kunci). (Gambar 2.37; Gambar 2.38; Gambar 2.39).
Gambar 2.37 Ruang peziarah pria dan rumah-rumahan di atas makam Al-Habib.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Atap cungkup tepat di atas nisan makam Al-Habib berbentuk kubah
dengan diameter 2 m, dan di sekelingnya berupa atap dak beton. Atap kubah
makam Al-Habib termasuk salah satu penanda bahwa bangunan cungkup itu
telah berusia tua. Untuk memasuki ruang berdoa, para peziarah harus
membawa kembang payung dan air, serta mereka dianjurkan berinfak
(memasukkan uang ke dalam kotak). Air dikemas dalam botol yang berasal
dari sumber air yang dianggap membawa berkah. Tempat atau ruang
berziarah kaum laki-laki, pintunya berada di sebelah utara, tempat berziarah