38
kaum wanita, pintunya berada di sebelah selatan, dan tempat berdoa oleh
juru kunci, pintunya di sebelah timur.
Gambar 2.38 Ruang peziarah kaum wanita di cungkup makam Al-Habib.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.39 Ruang berdoa oleh juru kunci di cungkup makam Al-Habib.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Di dalam cungkup maupun di luarnya ditempatkan beberapa benda
yang bentuknya mirip seperti tempat bunga (flower vase) dan bentuk meriam
yang berisi batang atau serbuk kayu yang dibakar hingga mengeluarkan bau
yang khas (seperti bau kemenyan). Bahkan pada hari-hari peringatan maulid
dan haul, di hampir seluruh bagian atau ruangan masjid dan makam diberi
bau-bauan ini. (Gambar 2.40; Gambar 2.41; Gambar 2.42). Bau menyengat
39
hidung seperti yang ada di Masjid Jami Luar Batang ini juga dapat dijumpai
di masjid-masjid Walisanga di Jawa saat penyelenggaraan peringatan haul.
Gambar 2.40 “Pengharum” ruangan berupa serbuk kayu dalam tempat berbentuk
meriam di depan cungkup makam Al-Habib.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 2.41 “Pengharum” ruangan berupa serbuk kayu dalam tempat berbentuk
flower vase di serambi timur masjid pada hari peringatan maulid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
40
Gambar 2.42 Gentong tempat penampungan air yang dianggap berkah.
(Dokumentasi penulis, 2017)
2.16 Menara Lama dan Menara Baru
Salah satu peninggalan masjid bangunan lama yang masih tersisa adalah
sebuah bangunan menara berbentuk bulat dengan diameter bagian bawah
sekitar 3 m, ke atas agak mengecil, dan pada bagian puncak menara
berbentuk kubah bawang mendekati bulat. Letak menara lama ini berada di
sisi selatan masjid.
Di bagian pojok sisi selatan-barat dan di pojok utara-barat kompleks
masjid terdapat masing-masing sebuah bangunan menara tinggi dan bagian
atasnya meruncing; keduanya memiliki bentuk yang sama. Bangunan
menara terdiri dari empat bagian: bagian dasar sebagai bagian pertama,
bagian kedua, bagian ketiga, dan bagian paling atas sebagai bagian keempat.
Bagian pertama memiliki bentuk segienam dengan panjang terluar sekitar 6
m dan tingginya sekitar 9 m; di sisi timur terdapat pintu masuk menara.
Bagian kedua berada di atas bagian pertama memiliki bentuk segidelapan
yang lebih kecil daripada bentuk bagian pertama, berukuran panjang terluar
sekitar 5 m dan tingginya sekitar 12 m. Bagian ketiga berada di atas bagian
kedua berbentuk segiempat (bujur sangkar) yang lebih kecil, berukuran
sekitar 2 m x 2 m dan tingginya sekitar 9 m. Bagian keempat adalah bagian
puncak menara. Puncak penara memiliki bagian tumpuan berbentuk
segidelapan yang panjang terluarnya sekitar 3 m dan tingginya sekitar 9 m.
41
Di atas dasar ini terdapat puncak menara berbentuk bulat meruncing ke atas.
Bagian alas puncak menara berdiameter sekitar 2 m dan tingginya sekitar 18
m. Jadi total tinggi menara baru sekitar 57 m. (Gambar 2.43).
a. Menara lama b. Menara baru
Gambar 2.43 Bangunan menara lama (a) dan menara baru (b).
(Dokumentasi penulis, 2017)
42
BAB 3
KEADAAN LINGKUNGAN SEKITAR
MASJID JAMI LUAR BATANG
3.1 Lingkup Wilayah Pelabuhan Sunda Kelapa
Masjid Jami Luar Batang terletak di tengah-tengah perkampungan padat
kampung Luar Batang, Jakarta Utara, persis di mulut pelabuhan Sunda
Kelapa. Kampung Luar Batang lokasinya di belakang museum Bahari, salah
satu bangunan cagar budaya, yang dulunya bekas bangunan yang fungsinya
untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-
rempah yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran
Eropa. Di bagian utara bangunan museum Bahari masih dijumpai sisa-sisa
bekas dinding benteng kota Batavia. Beberapa waktu yang lalu bangunan
museum Bahari mengalami kebakaran hebat hingga sebagian besar
koleksinya ikut terbakar. (Gambar 3.1).
Gambar 3.1 Tampak dari atas menara Syahbandar: sebelah kiri adalah museum
Bahari, di arah jauh bagian tengah terlihat menjulang tinggi dua menara kembar
masjid Luar Batang, di sebelah kanan adalah kawasan Pasar Ikan lama.
(Dokumentasi penulis, 2017)
43
44
Di depan bangunan museum Bahari terdapat bangunan bekas
galangan kapal VOC, yang juga merupakan bangunan cagar budaya, yang
sekarang sebagian ruangnya dialihfungsikan untuk kafe (Gambar 3.2). Di
sebelah utara bangunan museum terdapat area bekas pasar ikan dan area
yang sekarang sudah menjadi permukiman kampung Akuarium. Lokasi area
ini dulunya adalah sebuah pulau kecil yang terpisah dengan daratan tempat
musem Bahari berada. Namun sejak beberapa tahun yang lalu area tempat
kampung Akuarium dan pasar ikan menjadi satu dengan area daratan tempat
musem Bahari. Secara geografis lokasinya menjorok ke laut.
Gambar 3.2 Tampak dari atas menara Syahbandar: bangunan bekas galangan kapal
VOC yang sekarang dialihfungsikan sebagian ruangnya untuk kafe.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Pada zaman Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, dalam rangka
penataan kawasan kota lama Jakarta, permukiman di kampung Akuarium
digusur. Namun pada zaman Gubernur Anies Baswedan perkampungan
Akuarium dibangun kembali dengan pendirian shelter-shelter. Tidak jauh
dari shelter-shelter ini dibangun kembali pula museum Pelelangan Ikan.
Kegiatan kapal-kapal nelayan penangkap ikan masih ramai di mulut
pelabuhan Sunda Kelapa ini (Gambar 3.3 dan 3.4). Di mulut pelabuhan
Sunda Kelapa dibangun pintu air untuk mengantisipasi air pasang dari laut
yang bisa masuk ke dalam hilir sungai Ciliwung. Letak pintu air ini ada di
sebelah timur kampung Akuarium; persisnya terletak di sebelah timur
bangunan museum Pelelangan Ikan (Gambar 3.5 dan Gambar 3.6).
45
Gambar 3.3 Nadi kehidupan para nelayan masih nampak di mulut pelabuhan
Sunda Kepala dengan adanya kegiatan kapal-kapal penangkap ikan.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 3.4 Nadi kehidupan pelabuhan Sunda Kelapa dengan kegiatan utama
bongkar muat barang dari dan ke atas kapal.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Lokasi pemukiman di kampung Luar Batang sendiri sebelumnya
merupakan daerah rawa-rawa. Lama kelamaan daerah ini teruruk oleh
lumpur dari sungai Ciliwung, terutama setelah berdirinya kampung Muara
Baru yang kini merupakan kawasan kumuh di dekat kampung Luar Batang.
Sejak masa VOC, penguasa Kolonial yang sering mendatangkan tenaga
kerja guna membangun pelabuhan dan benteng Batavia menempatkan para
pekerja yang berdatangan dari berbagai daerah di Nusantara di kampung
46
Luar Batang. Jadi, kondisi kekumuhan pemukiman tertua di Jakarta yang
luasnya 16,5 hektar ini sudah berlangsung sejak awal masa VOC. Pasar yang
ada di kawasan itu sendiri yang kemudian hingga kini dikenal dengan nama
Pasar Ikan baru dibangun pada tahun 1846. Lokasi Pasar Ikan ini dulunya
adalah laut.
Gambar 3.5 Pintu air (sebelah kiri) di hilir sungai Ciliwung.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 3.6 Museum Pelelangan Ikan (baru selesai direnovasi).
(Dokumentasi penulis, 2017)
Pemerintah Hindia Belanda mengembangkan kawasan Tanjung
Priok sebagai pelabuhan baru Batavia pada akhir abad kesembilan belas
untuk menggantikan pelabuhan Sunda Kelapa yang berada di sebelah
47
baratnya karena telah menjadi terlalu kecil untuk menampung peningkatan
lalu lintas perdagangan yang terjadi akibat pembukaan Terusan Suez.
Pembangunan pelabuhan baru dimulai pada tahun 1877 oleh Gubernur
Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge (1875-1881). Beberapa fasilitas
dibangun untuk mendukung fungsi pelabuhan baru, antara lain Stasiun
Tanjung Priok (1914).
Saat aktivitas utama pelabuhan Sunda Kelapa dialihkan ke Tanjung
Priok, lokasi pemukiman kampung Luar Batang tetap padat. Ini dikarenakan
kegiatan keluar masuknya perahu dan pelabuhan Sunda Kelapa yang sudah
terlanjur hidup. Saat ini kawasan kampung Luar Batang masih sangat padat
penduduknya karena lokasinya yang berdekatan dengan berbagai kegiatan
nelayan, perdagangan ikan (lelang ikan berlangsung dari sore hingga pagi
hari), pelabuhan Sunda Kelapa, industri dan perdagangan, serta aktivitas
perkantoran, pergudangan, dan perbengkelan.
3.2 Lingkup Wilayah Kampung Luar Batang
Wilayah kampung Luar Batang dilingkungi: di sebelah timur oleh pelabuhan
Sunda Kelapa, kampung Akuarium, Pasar Ikan (lama), dan museum Pasar
Ikan; di sebelah selatan oleh museum Bahari, apartemen Mitra Bahari, dan
rukan Mitra Bahari 2; di sebelah barat oleh Jalan Raya Gedong Panjang dan
Jalan Raya Muara Baru, PT. Heaven Funeral Home, dan pasar Muara Baru;
di sebelah utara oleh PT. Cenhong Fisherindo, Kompleks Muara Baru
Depan, dan Apartemen PSV Value. (Gambar 3.7).
Untuk mencapai wilayah kampung Luar Batang melalui Jalan Raya
Gedong Panjang dan Jalan Raya Muara Baru. Melalui Jalan Gedong Panjang
langsung masuk wilayah kampung Luar Batang melalui Jalan Luar Batang
Gang 2. Apabila melalui Jalan Raya Muara Baru, maka harus masuk wilayah
kampung Luar Batang melalui Jalan Luar Batang Gang 1. Untuk kendaraan-
kendaraan besar harus melalui Jalan Raya Muara Baru lalu membelok
melalui Jalan Kompleks Muara Baru Depan.
Berdasarkan Data Kependudukan Kampung Luar Batang, maka di
wilayah kampung Luar Batang terdapat 3 RW dan 37 RT. RW 01 terdiri dari
11 RT dengan 750 KK; RW 02 terdri dari 12 RT dengan 550 KK dan RW
03 terdiri dari 14 RT dengan 1220 KK (Gambar 3.8).
48
Kompleks Muara Baru Depan
Cenhong Fisherindo
Jln. Raya Muara Baru Masjid
Kampung
Akuarium
Heaven Funeral Home Pasar Ikan
Museum Bahari
Rukan Mitra Bahari 2
Gambar 3.7 Kampung Luar Batang dan wilayah sekitarnya.
(Diolah dari Wikimapia, 2017)
Gambar 3.8 Wilayah Rukun Warga (RW) di kampung Luar Batang.
(Ashadi, 2017a)
49
Sebagian besar bangunan rumah pada Kawasan Kampung Luar
Batang terdiri dari 2 sampai 3 lantai, di dalam satu bangunan rumah rata-
rata dihuni oleh 2 sampai 3 kepala keluarga yang juga merupakan bagian
dari keluarga inti yaitu anak mereka yang telah menikah dan masih tinggal
bersama orang tuanya dalam satu rumah. Hal ini disebabkan karena mereka
yang tidak ingin jauh dengan orang tuanya sekalipun mereka telah
berkeluarga, akan tetapi mereka tidak bisa membuat bangunan hunian di
dekat orang tua mereka dikarenakan ketidaktersediaan lahan untuk
bangunan hunian. (Saputra, 2017: 38-39).
Jalan lingkungan di kampung Luar Batang meliputi 9 jalan, yaitu
jalan Luar Batang 1 – 9, dengan lebar dan kualitas jalan yang tidak sama
satu dengan lainnya (Gambar 3.9).
Gambar 3.9 Ruas jalan di wilayah kampung Luar Batang.
(Ashadi, 2017b)
Jalan Luar Batang 1, lebarnya 4.5-5.5 meter, kondisi jalan beraspal
dan sebagian dicor beton. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat saluran air
yang tertutup. Di sepanjang jalan didominasi oleh rumah-rumah warung atau
toko yang terdiri dari dua dan tiga lantai. Jalan ini merupakan akses para
50
pengunjung masjid Luar Batang dari arah Jalan Raya Muara Baru. Jalan
Raya Muara Baru adalah perpanjangan dari Jalan Raya Gedong Panjang ke
arah utara. Jalan Luar Batang 2, lebarnya 5.5-6.5 meter, kondisi jalan
beraspal, sebagian dicor beton. Jalan ini merupakan akses para pengunjung
masjid Luar Batang dari arah Jalan Raya Gedong Panjang. Di sisi kanan dan
kiri terdapat saluran air tertutup. Di sepanjang jalan didominasi rumah toko
atau rumah warung dan rumah sewa (kontrakan) yang terdiri dari dua dan
tiga lantai. (Gambar 3.10 dan Gambar 3.11).
Gambar 3.10 Jalan Luar Batang Gang 1.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 3.11 Jalan Luar Batang Gang 2.
(Dokumentasi penulis, 2017)
51
Jalan Luar Batang 3, lebarnya 2.75-3 meter, kondisi campuran batu
dan plesteran, sebagian dicor beton. Ruas jalan ini berada sejajar dengan
Jalan Luar Batang 2 pada bagian paling selatan. Di sisi kanan dan kiri jalan
dipenuhi rumah-rumah yang didominasi bangunan semi permanen yang
terdiri dari satu dan dua lantai. (Gambar 3.12).
Gambar 3.12 Jalan Luar Batang Gang 3.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Jalan Luar Batang 4, lebarnya 2.75-3.75 meter, kondisinya
campuran batu dan plesteran, sebagian sudah dicor beton. Di sisi kanan dan
kiri jalan terdapat saluran air (Gambar 3.13).
Gambar 3.13 Jalan Luar Batang Gang 4.
(Dokumentasi penulis, 2017)
52
Di sepanjang Jalan Luar Batang 4 nampak kepadatan rumah dan
rumah sewa, sebagiannya adalah rumah sewa atau kontrakan. Sebagian kecil
rumah-rumah yang dekat dengan masjid difungsikan sebagai rumah warung.
Rumah-rumah di sepanjang jalan ini sebagian besar terdiri dari dua lantai.
Ruas jalan ini merupakan perpanjangan dari Jalan Luar Batang 3 pada sisi
timur, dan bentuknya melengkung. Pada satu sisi jalan ditempati deretan
rumah yang bagian belakangnya menghadap air laut, sehingga bangunan-
bangunan ini sebagian besar terdiri dari dua lantai. Jalan Luar Batang 4
merupakan akses para pengunjung masjid Luar Batang dari arah kampung
Akuarium dan museum Bahari, dengan menyeberangi terusan Laut Jawa
(Gambar 3.14 dan Gambar 3.15).
Gambar 3.14 Rumah-rumah yang bagian belakangnya bersinggungan dengan laut.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 3.15 Pengunjung dari arah museum Bahari menuju kampung Luar Batang
melalui Jalan Luar Batang Gang 4, dengan bantuan kapal perahu.
(Dokumentasi penulis, 2017)
53
Jalan Luar Batang 5, lebarnya 4.5-5.5 meter, kondisinya beraspal
dan dicor beton. Jalan ini merupakan terusan jalan Luar Batang 2 menuju
kompleks masjid. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat saluran air tertutup.
Di sepanjang jalan didominasi oleh rumah warung atau toko yang terdiri dari
dua dan tiga lantai. Jalan Luar Batang 6, lebarnya 2.5-3.5 meter, kondisi
jalan berupa plesteran, dalam proses pengecoran. Di sisi kanan dan kiri jalan
didominasi rumah-rumah sewa (kontrakan) yang terdiri dari dua sampai
empat lantai (Gambar 3.16 dan Gambar 3.17).
Gambar 3.16 Jalan Luar Batang Gang 5.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 3.17 Jalan Luar Batang Gang 6.
(Dokumentasi penulis, 2017)
54
Jalan Luar Batang 7, lebar ruas jalan yang dekat dengan masjid 3.25-
4.25 meter, dan yang jauh dari masjid 2-3 meter. Kondisi jalan sebagian
beraspal, sebagian berupa plesteran, sekarang dalam proses pengecoran. Di
sisi kanan dan kiri Jalan Luar Batang 7 yang dekat dengan masjid dipenuhi
oleh rumah-rumah warung atau toko karena di area ini sehari-harinya
dijadikan tempat pasar. Jalan Luar Batang 8, lebarnya 2-3 meter, kondisi
jalan berupa pelesteran yang sebagiannya sudah aus, kini dalam proses
pengecoran. Di sisi kanan dan kiri jalan terdapat saluran tertutup. Di
sepanjang jalan dipenuhi rumah permanen yang terdiri dari satu dan dua
lantai. (Gambar 3.18 dan Gambar 3.19).
Gambar 3.18 Jalan Luar Batang Gang 7.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 3.19 Jalan Luar Batang Gang 8.
(Dokumentasi penulis, 2017)
55
Jalan Luar Batang 9, lebarnya 2.5-3.5 meter, kondisi jalan berupa
plesteran dan cor beton. Jalan ini berbatasan dengan lahan kosong, sehingga
pada satu sisinya adalah dinding pagar pembatas. Di sisi kanan jalan terdapat
saluran tertutup. Di sepanjang satu sisi jalan dipenuhi deretan rumah yang
terdiri dari satu dan dua lantai (Gambar 3.20).
Gambar 3.20 Jalan Luar Batang Gang 9.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Area perparkiran kampung Luar Batang, dalam sehari-harinya
adalah ruang terbuka di depan kompleks masjid Luar Batang. Kendaraan
mobil kecil dan motor dapat diparkir di tempat ini. Dalam keadaan yang
tidak biasa, seperti keadaan pada saat peringatan haul, Maulid, dan Akhir
Ziarah, maka areal perparkiran bisa menggunakan lahan di samping
pergudangan (PT. Cenhong Fisherindo), di sebelah utara wilayah kampung
Luar Batang, dan di ruas-ruas jalan Luar Batang, terutama jalan Luar Batang
1, 2, 5, 6, dan 7. (Gambar 3.21).
Untuk kendaraan bis biasanya parkir di sepanjang jalan raya Gedong
Panjang dan area parkir museum Bahari atau di Jalan Kompleks Muara Baru
Depan. Dari area parkir museum Bahari menuju kampung Luar Batang harus
menyeberangi terusan Laut Jawa, dengan bantuan ojek kapal perahu.
Apabila jumlah para pengunjung membludak maka ruas-ruas jalan Luar
Batang selain yang telah disebutkan dapat dipergunakan sebagai areal parkir
kendaraan roda dua. (Gambar 3.22).
56
Gambar 3.21 Jalan Kompleks Muara Baru Depan difungsikan sebagai area parkir
kendaraan besar pada saat hari-hari peringatan maulid dan haul.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 3.22 Kendaraan roda empat parkir di sepanjang Jalan Raya Gedong
Panjang khusunya pada hari-hari peringatan maulid dan haul.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Bangunan-bangunan yang terdapat pada kawasan kampung Luar
Batang didominasi oleh bangunan hunian yaitu berupa rumah milik sendiri
dan rumah sewa. Tipologi untuk bangunan rumah pada kawasan ini
beraneka ragam, ada rumah modern, rumah bergaya rumah adat bugis dan
betawi. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi masyarakat sebagai penghuni
bangunan pada kawasan ini. Dimana etnis masyarakat pada kampung Luar
Batang menurut beberapa warganya terdiri dari beberapa etnis diantaranya
57
Bugis, Betawi dan Jawa. Namun mayoritas didominasi oleh etnis bugis
dengan persentasi 80% dan sisanya dari etnis Jawa dan Betawi. (Saputra,
2017: 50).
Sebagian rumah tinggal difungsikan juga untuk usaha warung atau
jualan, terutama yang berada di sisi-sisi Jalan Luar Batang, terutama yang
dekat dengan masjid 1, 2, 4, 5, dan sebagian Jalan Luar Batang 7. Hal ini
bisa dilihat dari bentuk rumahnya yang penuh dengan barang dagangan pada
bagian depannya. Tampak rumahnya seperti warung atau toko. Rumah-
rumah yang berada di sisi-sisi Jalan Luar Batang 1, 2, 4, 5, dan sebagian 7,
dan yang lokasinya tidak jauh dari kompleks masjid, secara fisik terlihat
bangunan yang didominasi oleh dinding bata atau campuran dinding bata
dengan kayu. Sedangkan rumah-rumah yang lokasinya dekat dengan terusan
Laut Jawa, baik di sisi timur maupun selatan, dan di dekat pergudangan,
sebelah utara, bangunannya didominasi oleh material kayu. (Ashadi, 2017b).
Kegiatan mingguan yang menyedot anemo masyarakat setempat
adalah pasar (bazar) yang diadakan setiap malam Jumat. Lapak-lapak
disiapkan sejak waktu selepas shalat Ashar. Menurut penuturan salah
seorang informan, para pedagang kaki lima dari berbagai wilayah di Jakarta
ikut serta dalam pasar malam Jumat ini, seperti pedagang kali lima dari Pasar
Minggu, Senen, Tanah Abang, dan Muara Angke. Jumlah mereka mencapai
60 % dari keseluruhan pedagang pasar malam Jumat. Yang 40 % lagi adalah
warga setempat, kampung Luar Batang, yang menjadikan rumahnya sebagai
tempat dagang. Setiap lapak dikenakan biaya lampu penerangan Rp. 5.000
dan restribusi berkisar antara Rp. 10.000 – 25.000. (Ashadi, 2017b).
Pasar malam Jumat menempati areal ruas Jalan Luar Batang 1, 4,
dan 5, serta sebagian ruas Jalan Luar Batang 7. Dari sekian ruas jalan
lingkungan di kampung Luar Batang, memang hanya ada 5 ruas jalan yang
sedikit agak lebar. Satu lagi jalan yang dimaksud adalah Jalan Luar Batang
2. Karena letaknya agak jauh dari kompleks masjid, maka Jalan Luar Batang
2 tidak digunakan untuk pasar malam Jumat. Suasana ramai terlihat di ruas
jalan yang letaknya dekat dengan masjid. Sehingga dapat diduga bahwa
memang kegiatan pasar malam Jumat pusatnya ada di sekitar kompleks
masjid tua Luar Batang. Hampir semua barang ada di pasar malam Jumat,
selain tentu saja warung makan dadakan. Barang-barang seperti pakaian,
58
sepatu, jam tangan, asesories wanita, kopiyah (penutup kepala), alat-alat
pertukangan, cicin, batu akik, dan tidak ketinggalan minyak wangi, dapat
dijumpai di pasar malam Jumat. (Ashadi, 2017b) (Gambar 3.23 dan Gambar
3.24).
Gambar 3.23 Suasana pasar malam Jumat di sekitar masjid Luar Batang; lokasi di
area parkir di depan kompleks masjid.
(Ashadi, 2017b)
Gambar 3.24 Suasana pasar malam Jumat di Jalan Luar Batang Gang 5.
(Dokumentasi penulis, 2017)
BAB 4
POTENSI WISATA
Kompleks Masjid Jami Luar Batang memiliki potensi wisata yang bisa
dikembangkan di wilayah pesisir kota lama Jakarta. Di wilayah kota lama
Jakarta banyak ditemui bangunan-bangunan cagar budaya. Ada beberapa
wisata yang dapat dikembangkan selain wisata religi kegiatan peziarahan
makam keramat Al-Habib, yaitu antara lain wisata kuliner, wisata belanja,
dan wisata cagar budaya. Wisata kuliner pada sekitar masjid Luar Batang
bukan hanya kuliner khas Betawi saja, karena permukiman sekitarnya dihuni
oleh beberapa suku dari Indonesia maka wisata kuliner dapat dikembangkan
lebih banyak lagi. Selain itu wisata belanja yang selama ini diamati hanya
berupa bazaar atau pasar malam saja, bisa dikembangkan menjadi wisata
belanja souvenir dan oleh-oleh khas Luar Batang pada lingkungan
permukiman dan rumah-rumah yang berada di jalan utama. Wisata cagar
budaya bisa dikaitkan dengan wisata pada pelabuhan sunda kelapa maupun
wisata kota tua secara keseluruhan.
4.1 Wisata Religi
Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan makam Habib Husein bin
Abubakar Alaydrus dan muridnya, Abdul Kadir, telah menarik perhatian
para peziarah dari daerah Ibukota Jakarta dan sekitarnya untuk melakukan
kunjungan ziarah ke makam kedua tokoh penyebar Islam tersebut. Kegiatan
ziarah dilakukan pada setiap hari, khususnya malam Jumat, dan pada hari-
hari peringatan maulid Nabi Muhammad SAW pada setiap bulan Rabiul
Awwal tahun Hijriyah dan haul Al-Habib pada setiap bulan Syawal tahun
Hijriyah. Pada hari-hari peringatan tersebut pengunjung atau jamaah yang
datang mencapai puluhan ribu orang.
59
60
Seperti sudah menjadi ketentuan, bahwa hari peringatan maulid
Nabi Muhammad SAW di masjid Luar Batang berbarengan dengan
peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di masjid Kampung Bandan dan
di masjid Tanjung Priok. Di Kampung Bandan terdapat tiga makam yang
dikeramatkan, yaitu Habib Muhammad bin Umar Al Kudsi yang
dimakamkan pada 1706, Habib Ali bin Abdurrahman Ba’alawi yang
dimakamkan pada 1710, dan Habib Abdurrahman bin Alwi Asy Syathiri
yang dimakamkan 1908. Letak ketiga makam tersebut berada atau
berdampingan dengan masjid Kampung Bandan. Haul Habib Muhammad
bin Umar Al Kudsi dan Habib Abdurrahman bin Alwi Asy Syathiri
pelaksanaannya dibarengkan dengan pelaksanaan peringatan maulid Nabi
Muhammad SAW yaitu pada bulan Rabiul Awwal. Sedangkan haul Habib
Ali bin Abdurrahman Ba’alawi dilaksanakan pada setiap bulan Ramadhan
(Gambar 4.1 dan Gambar 4.2). Di Tanjung Priok terdapat makam Habib
Hasan Al Haddad atau dikenal dengan Mbah Priok.
Gambar 4.1 Cungkup makam di kampung Bandan.
(Dokumentasi penulis, 2018)
Pelaksanaan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dimulai dari
masjid kampung Luar Batang, yang acaranya dimulai jam 08.00 sampai
12.00. Kemudian, selepas shalat dhuhur, sebagian besar pengunjung di
kampung Luar Batang pergi menuju kampung Bandan, untuk mengikuti
acara peringatan maulid di kampung Bandan. Mereka, sebagian pergi
dengan berjalan kaki dan yang lainnya dengan berkendaraan motor. Jarak
tempuh antara masjid di kampung Luar Batang dengan masjid di kampung
Bandan sekitar 2.2 km.
61
Gambar 4.2 Nisan tiga makam di kampung Bandan.
(Dokumentasi penulis, 2018)
Acara peringatan maulid di kampung Bandan diselenggarakan
mulai bada shalat dhuhur, sekitar jam 13.00 hingga bada shalat asar, sekitar
jam 16.00. Dari kampung Bandan, sebagian besar pengunjung melanjutkan
untuk mengikuti peringatan maulid yang diselenggarakan di masjid Tanjung
Priok. Jarak tempuh antara masjid di kampung Bandan dengan masjid di
Tanjung Priok sekitar 8.5 km. Acara peringatan maulid di Tanjung Priok
diselenggarakan mulai bada shalat isya, sekitar jam 19.30 hingga selesai,
sekitar jam 22.00. (Gambar 4.3).
Historical-Sacred Area adalah kategori untuk area dimana terdapat
masjid Luar Batang. Keberadaan masjid Luar Batang sebagai masjid yang
dikeramatkan, dapat dinyatakan sebagai representasi teori Kevin Linch yang
kedua, yaitu kategori model kekotaan yang memiliki nilai kesakralan.
Berdasarkan pola spasial kampung, masjid Luar Batang secara spesifik tidak
pada posisi sebagai pusat kampung. Namun yang dapat diperlihatkan adalah
adanya pintu gerbang dan menara kembar yang menjulang tinggi serta
makam keramat sebagai landmark yang menandai masjid tua keramat.
Secara fungsional, kegiatan berziarah memiliki ritual dengan prosesi
tertentu walaupun sifatnya tidak permanen, artinya tidak selalu prosesi
tersebut sebagai acuan dogmatis. (Puspitasari, 2009). Sesuai dengan teori
62
Kevin Lynch dimana suatu kota cenderung memiliki nilai kesakralan dan
pola yang terbentuk berbentuk terpusat. Posisi masjid berada di utara
kampung Luar Batang tetapi menjadi pusat berbagai aktifitas religius
(Iskandaria, 2013).
Tanjung
Priok
Luar Kampung
Batang Bandan
Gambar 4.3 Peta lokasi makam Al-Habib di kampung Luar Batang,
kampung Bandan, dan Tanjung Priok.
(Diolah dari Wikimapia, 2018)
Pada kegiatan peringatan haul, peringatan maulid, Nuzulul Qur’an,
dan akhir ziarah, di masjid Luar Batang, jamaah yang ikut hadir berjumlah
hampir sama, kecuali pada peringatan Nuzulul Qur’an yang diselenggarakan
setiap tanggal 17 bulan Ramadhan. Jumlah jamaah pada ketiga kegiatan
tersebut berjumlah sekitar 25.000 – 30.000 orang. Jumlah ini tidak sekali
waktu kumpul, melainkan datang dan pergi dari mulai pagi sekitar jam 08.00
hingga waktu shalat dhuhur, sekitar jam 12.00. Tidak sedikit jamaah yang
datang hanya dalam waktu sebentar, yang penting hajatnya berziarah ke
makam Al-Habib sudah kesampaian. Para pengunjung tidak hanya
memenuhi kompleks masjid (ruang utama, serambi, teras ruang kantor, dan
halaman) tapi juga area parkir dan ruas-ruas jalan terutama yang dekat
dengan kompleks masjid. (Gambar 4.4).
Kegiatan peringatan maulid dan haul dimulai jam 08.00 hingga
waktu shalat dhuhur. Dari jumlah yang hadir dalam kegiatan tersebut, saat
waktu shalat dhuhur tiba, hanya sekitar seperempat sampai seperlimanya
yang ikut shalat dhuhur berjamaah, karena memang kompleks masjid tidak
mencukupi untuk menampung jamaah seluruhnya. Kegiatan-kegiatan yang
diadakan dalam rangka peringatan maulid dan haul sudah dimulai sejak pagi
63
hari, sekitar jam 08.00. Acara diawali dengan tahlil, shalawatan, manakiban
(pembacaan riwayat), disertai dengan hadroh (terbangan), dan doa. Acara
awal ini dilakukan sambil menunggu para tamu undangan, para habib,
bertempat di aula yayasan. Pembacaan riwayat dilakukan secara bergantian
di antara para habib, di selingi dengan hadroh. (Gambar 4.5).
Gambar 4.4 Jamaah sambil berdiri di area parkir depan kompleks masjid
Luar Batang mengikuti acara kegiatan peringatan haul Al-Habib.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.5 Di aula yayasan tempat menunggu para tamu undangan VIP dan para
habib, dan hadroh dan tempat pembacaan shalawat, berzanji, riwayat, doa.
(Dokumentasi penulis, 2017)
64
Sampai sekitar jam 10.00, para habib dan undangan VIP yang
semula menunggu di aula yayasan, menuju cungkup makam Habib Husein
dan berziarah di sana. Sementara para pemain hadroh pindah tempat dari
aula yayasan menuju tempat di ruang utama masjid. Sambil menunggu para
habib dan undangan VIP selesai berziarah di makam Habib Husein, dan akan
menuju ruang utama masjid, para pemain hadroh beraksi di ruang utama (di
bagian depan). Di ruang utama masjid diadakan pembacaan riwayat secara
bergantian oleh para habib diselingi dengan hadroh, dan dilanjutkan dengan
ceramah agama, kemudian diakhiri dengan doa. (Gambar 4.6; Gambar 4.7;
Gambar 4.8; Gambar 4.9).
Gambar 4.6 Para tamu undangan berziarah di makam Habib Husein.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.7 Tempat para pemain hadroh dan mimbar tempat pembacaan riwayat
dan ceramah agama di bagian depan ruang utama masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
65
Gambar 4.8 Para habib dan tamu undangan VIP memasuki ruang utama masjid,
setelah selesai melakukan ziarah di makam Habib Husein.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.9 Pembacaan riwayat oleh para habib secara bergantian di ruang utama;
nampak di depan mimbar bentuk seperti meriam yang berisi serbuk kayu yang
baunya menyengat hidung (seperti bau kemenyan).
(Dokumentasi penulis, 2017)
Pada akhir acara peringatan maulid dan haul dilakukan doa dipimpin
oleh seorang habib, dan setelahnya dihidangkan makanan, satu nampan
untuk empat orang; menunya nasi kebuli (dengan lauk khasnya daging
kambing). Jamaah yang menikmati hidangan nasi kebuli tidak banyak,
hanya sekitar 5.000 orang pria dan wanita. Hal ini bisa diperhitungkan
66
berdasarkan kapasitas area pelataran timur, selatan, dan utara, karena
jamuan makan nasi kebuli dilakukan di area pelataran tersebut. (Gambar
4.10).
Gambar 4.10 Para jamaah makan nasi kebuli selepas acara peringatan haul;
satu nampan untuk makan empat orang.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Satu hal yang perlu menjadi perhatian berkenaan dengan kegiatan
ziarah makam tokoh-tokoh yang dihormati, baik makam yang letaknya
terpisah dengan masjid maupun yang menjadi satu kompleks dengan masjid
adalah kekeliruan dalam niat dan tujuan ziarah itu sendiri. Islam sangat
melarang umatnya yang meminta-minta segala hal kepada mayit yang ada
di makam tersebut. Bahkan sebaliknya, kegiatan ziarah harus diniatkan
untuk mendoakan si mayit, agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni
segala dosa-dosanya.
4.2 Wisata Kuliner
Sejak awal tahun 1990-an kampung Luar Batang mulai didatangi para
imigran dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagai sebuah perkampungan,
kampung Luar Batang memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis bagi para
pendatang yang umumnya dari daerah untuk mengakomodasi kebutuhan
akan rumah yang murah dan terjangkau. Dengan adanya para pendatang ini
menyebabkan kampung ini diminati oleh para investor skala kecil hingga
menengah. Investor ini membeli tanah dari penduduk asli Luar Batang
(terutama suku Betawi) sehingga saat ini mayoritas penduduk Luar Batang
67
berasal dari Jawa dan sedikit dari penduduk asli (Betawi, Bugis/ Makassar)
(Iskandaria, 2013). Menurut cerita informan, sekarang ini di kampung Luar
Batang dikenal dua orang yang kaya (yang seorang sudah meninggal
beberapa tahun silam); keduanya sebagai pendatang dari Jawa. Rumah orang
kaya yang pertama terletak di Jalan Luar Batang Gang 2 dan rumah orang
kaya yang kedua terletak di Jalan Luar Batang Gang 4. Sebagian rumah-
rumah kontrakan yang ada di kampung Luar Batang adalah milik mereka
berdua. Cerita informan ini menjadi penegas apa yang disampaikan oleh
Iskandar tentang keadaan kampung Luar Batang pada tahun 1990-an.
Beberapa orang pendatang kemudian bekerja untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, di antaranya membuka warung makanan dan toko
kelontong dengan menjadikan sebagian ruang dari rumahnya (pada
umumnya di lantai dasar atau lantai satu) untuk kegiatan warung dan toko
tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa adanya kegiatan ziarah ke makam Al-
Habib oleh para peziarah yang datang dari luar kampung ikut menjadi faktor
ketahanan dan keberlanjutan usaha mereka.
Fungsi-fungsi atau aktivitas-aktivitas yang terjadi di masjid Luar
Batang, terutama fungsi ziarah, haul, maulid, dan akhir ziarah, serta fungsi
pasar malam atau bazar yang menyertainya, mempunyai pengaruh terhadap
pola permukiman di sekitarnya. Kondisi lingkungan sekitar masjid yang
mayoritas berupa permukiman berkepadatan tinggi dan jalan-jalan sempit
turut merespon keramaian yang terjadi berkaitan dengan fungsi-fungsi
masjid. Bagi warga sekitarnya yang mayoritas beragama Islam, masjid Luar
Batang dijadikan pusat kegiatan keagamaan tidak hanya shalat saja, tapi juga
menjadi tempat kegiatan-kegiatan lain yang ikut mendorong usaha-usaha
ekonomis komunitas muslim kampung Luar Batang.
Rumah-rumah di sepanjang jalan yang menuju ke arah masjid,
seperti Jalan Luar Batang Gang 1, 2, 5, dan sebagain Gang 4 dan 7 yang
dekat dengan kompleks masjid, sebagian selain rumah sebagai tempat
tinggal juga difungsikan sebagai warung makanan dan toko. Pada umumnya
lantai dasar rumah dijadikan warung dan toko, sementara lantai dua dan tiga
digunakan untuk tempat tinggal.
Makanan sehari-hari yang disediakan oleh beberapa warung
makanan di jalan-jalan tersebut hanya untuk konsumsi warga sendiri dan
68
para jamaah yang datang di masjid Luar Batang. Menu makanan yang
tersedia kebanyakan berupa: nasi uduk dan nasi ulam (khas makanan
Betawi); nasi kuning; nasi rames; nasi campur; nasi sayur lodeh (khas
makanan Jawa); nasi pecel (khas makanan Jawa); nasi lalapan (khas
makanan Sunda), dengan berbagai lauknya seperti tahu, tempe, krupuk,
peyek, ikan, telor, dan daging; mie instan; bakso; dan berbagai macam
minuman, seperti air kelapa, jus, sirup, teh, susu, dan minuman dalam
kemasan. Warung masakan Padang dan warung masakan Tegal (warteg)
juga dijumpai di lingkungan kampung Luar Batang.
Warung makanan memang adalah tempat menjual makanan yang
menggunakan sebagian ruang rumah (sebagian atau seluruh ruang lantai
satu) dari rumah-rumah warga kampung Luar Batang. Adakalanya tempat-
tempat jualan makanan hanya berupa sebuah meja yang dilengkapi dengan
beberapa tempat duduk. Untuk mengurangi panas dan menhindari air hujan,
beberapa tempat makan ini dinaungi dengan tenda terpal atau tenda payung.
Warung-warung makan tersebut tersebar di hampir seluruh Jalan Luar
Batang, namun sebagian besar terletak di jalan-jalan yang dekat dengan
masjid. (Gambar 4.11; Gambar 4.12; Gambar 4.13; Gambar 4.14).
Gambar 4.11 Jual makanan nasi uduk dengan kelengkapan etalase dan meja di
Jalan Luar Batang Gang 4 yang dekat dengan kompleks masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
69
Gambar 4.12 Warung masakan Padang di Jalan Luar Batang Gang 5.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.13 Warung masakan Tegal (warteg) di Jalan Luar Batang Gang 4
di dekat dengan kompleks masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
70
Gambar 4.14 Penjual es kelapa di Jalan Luar Batang Gang 5.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Pusat warung makanan ada di sekelilingi lapangan atau area parkir
di depan kompleks masjid Luar Batang. Puluhan kios makanan yang
terdapat di area parkir ini menyediakan berbagai jenis makanan. Setiap
malam Jumat dan hari-hari peringatan maulid dan haul, area parkir masjid
dan jalan-jalan yang ada di sekitarnya, seperti ujung-ujung Jalan Luar
Batang Gang 1, 2, 4, 5, dan 7. Meskipun keadaan cuaca mendung atau
gerimis, tidak menyurutkan warga untuk membuka warung atau tempat
jualan, baik makanan, pakaian, alat-alat dapur, maupun asesoris. (Gambar
4.15; Gambar 4.16; Gambar 4.17; Gambar 4.18).
Keadaan tempat jualan, baik yang berupa warung maupun tempat-
tempat dadakan di jalan-jalan dan di area parkir setiap malam Jumat dan
hari-hari peringatan maulid dan haul, sepertinya seadanya. Warga yang
membeli makanan ataupun minuman tidak bisa makan atau minum dengan
duduk leluasa, melainkan kadang harus berdiri atau memilih untuk
membungkus makanannya. Keadaan yang agak semrawut ini tidak bisa
dihindarkan karena memang tempatnya terlalu sempit dan sesak.
Bagaimana potensi wisata kuliner di kampung Luar Batang?
Melihat kegiatan “makan-makan” pada setiap malam Jumat dan hari-hari
peringantan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Habib Husein bin
Abubakar Alaydrus, sangat memungkinkan untuk itu semua dikelola dengan
71
benar. Meskipun makanan yang dijual beraneka ragam, tetapi bahwa
makanan khas Betawi yakni nasi uduk, nasi kuning, dan nasi ulam ada dijual
di kampung Luar Batang. Makanan khas Betawi ini dihidangkan bersama-
sama makanan khas dari daerah lain, seperti makanan Jawa, Sunda, dan
Padang.
Gambar 4.15 Penjual minuman (sisi kanan) di Jalan Luar Batang Gang 4 yang
dekat dengan kompleks masjid pada hari peringatan Maulid Nabi tahun 2017.
Meskipun cuaca gerimis, warga antusias menggelar makanan dan minumannya
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.16 Penjual makanan nasi pecel di area parkir di depan kompleks masjid.
Meskipun cuaca gerimis, warga antusias menggelar makanannya.
(Dokumentasi penulis, 2017)
72
Gambar 4.17 Kios makanan di sekitar area parkir di depan kompleks masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.18 Aneka lauk seperti telur asin, tempe, dan bakwan disajikan oleh
beberapa kios makanan di sekitar area parkir di depan kompleks masjid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Untuk pengadaan dan pengelolaan wisata kuliner dibutuhkan
keterlibatan serius dari Pemerintah Kota. Pemerintah Kota harus
memikirkan tempat yang layak untuk mewadahi kegiatan “makan-makan”
makanan khas setempat. Tidak hanya itu, lokasi tempat itu harus mudah
dicapai oleh warga yang ingin berwisata kuliner. Di wilayah kampung Luar
Batang ada tanah kosong, persis di pinggir Jalan Raya Gedong Panjang. Di
Lokasi ini memungkinkan untuk ditempatkan dan dikelola, tidak hanya
tempat dan fasilitas wisata kuliner melainkan juga wisata belanja. Lokasinya
73
cukup strategis; ia berada di bagian depan kampung Luar Batang, yang
mudah dicapai oleh pengunjung baik lokal (warga setempat) maupun
pengunjung yang datang dari berbagai tempat di wilayah Jakarta dan
sekitarnya.
Potensi wisata kuliner kampung Luar Batang dapat diwujudkan
dalam bentuk rancangan arsitektur yang khas yang membedakannya dengan
wisata-wisata kuliner yang lain. Kekhasannya dapat diambil dari kekhasan
wilayah kampung Luar Batang yang memiliki bangunan masjid tua
bersejarah yang oleh sebagian orang-orang dikeramatkan, dan lokasinya
yang dekat dengan pelabuhan Sunda Kelapa yang monumental itu dan
beberapa bangunan cagar budaya lainnya, seperti pasar hexagon, pasar ikan,
museum Pelelangan Ikan, museum Bahari dan menara Syahbandar, dan
galangan kapal VOC yang kini dialihfungsikan sebagai kafe.
Rancangan wisata kuliner di kampung Luar Batang tidak perlu
memerlukan bangunan-bangunan permanen, tetapi cukup dengan tenda-
tenda yang menarik; tenda-tenda para pedagang yang siap menjajakan
dagangan mereka dari sore sampai malam hari. Makanan apa pun tersedia di
kawasan tersebut, dengan tambahan menu makanan berupa lauk yang khas
daerah pesisir, yakni ikan. Wisata kuliner kampung Luar Batang, ada yang
bisa buka pada pagi hari saja, siang hari saja, malam hari saja, atau buka
siang sampai malam.
Wisata kuliner kampung Luar Batang dapat menunjang wisata cagar
budaya di wilayah kota lama Jakarta, khususnya yang lokasinya di dekat
kampung Luar Batang. Wisatawan yang datang di kawasan kota lama
Jakarta bisa menyempatkan diri makan siang di tempat wisata kuliner
kampung Luar Batang. Wisatawan pun bisa mencari makanan enak sesuai
selera dan harganya yang terjangkau.
4.3 Wisata Belanja
Pengertian wisata belanja adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh
seseorang atau kelompok dengan mengunjungi tempat tertentu untuk
membeli barang maupun jasa yang ada di lokasi tersebut. Dalam pengertian
ini, wisata kuliner termasuk di dalamnya. Oleh karenanya, wisata belanja
menjadi satu dengan wisata kuliner. Orang bisa membeli barang dan
74
kemudian juga menikmati hidangan di tempat ia membeli barang. Misalnya
di mall, orang bisa berbelanja baju di retail-retail yang ada di mall dan
kemudian makan di restoran atau di food court yang ada di mall tersebut.
Pada umumnya, wisata belanja dikaitkan dengan pusat-pusat
perbelanjaan yang ukurannya atau dalam skala besar dan mewah, seperti
mall, super market, pusat perdagangan (ITC), pusat grosir (seperti Tanah
Abang), dan lain sebagainya.
Sementara di tempat-tempat wisata ada pula kegiatan belanja di area
tempat-tempat wisata tersebut. Barang-barang yang didagangkan pada
umumnya berupa barang-barang yang khas di daerah tempat wisata itu
berada, seperti barang-barang asesorir, kaos, baju, selendang, ikat pinggang,
dan topi, yang semuanya siap pakai, yang jika dipakai maka ia akan
menampakkan ciri khas tertentu bagi pemakainya, yang membedakannya
dengan penampilan saat sebelum memakainya.
Tentunya orang akan memilih belanja di tempat-tempat yang
disebutkan pertama, dengan pertimbangan bahwa tempat-tempat seperti
mall dan pusat perbelanjaan lainnya memiliki banyak pilihan barang atau
produk, kemudahan pencapaian, kenyamanan, kebersihan, dan keamanan.
Sebaliknya, tempat-tempat belanja yang disebutkan kedua, yakni di tempat-
tempat wisata keadaannya tidak memiliki banyak pilihan barang, tempatnya
kadang sulit dicapai (oleh karenanya barang yang dijual adalah barang-
barang khas lokal), dan kurang nyaman oleh karena beberapa hal seperti
adanya gangguan dari para peminta-minta atau proses jual belinya dengan
sistem tawar menawar yang kadang tidak disukai oleh pembeli.
Bagaimana dengan potensi wisata belanja di kampung Luar Batang?
Seperti diuraikan di bagian depan bahwa pada hari-hari biasa di sepanjang
Jalan Luar Batang 1, 2, 4, 5, dan 7 di sisi kanan dan kirinya terdapat rumah-
rumah yang pada bagian bawah (lantai satu) difungsikan sebagai warung
makanan. Sebenarnya, tidak hanya warung makanan tapi juga beberapa di
antaranya adalah toko kelontong, pakaian (baju, celana, rok, kerudung,
jilbab, selendang, dll), peralatan dapur, asesoris, dll. Toko-toko ini sehari-
harinya melayani warga setempat. Pada hari-hari tertentu, seperti setiap hari
malam Jumat, hari peringatan maulid dan haul, jalan-jalan dan area parkir di
disekitar masjid menjadi tempat pasar. Hampir semua barang dan
perlengkapan yang ada di pasar dijual di sini. Selain barang dan
perlengkapan yang sudah disebutkan di atas, di tempat pasar ini dijual pula
mulai dari batu akik, cincin, ikat pinggang, jam tangan, jam dinding,
75
songkok, sarung, sajadah, atribut organisasi, sepatu, aneka minyak wangi,
hingga handphone dan barang-barang elektronik lainnya. (Gambar 4.19;
Gambar 4.20; Gambar 4.21).
Gambar 4.19 Barang-barang kelengkapan shalat dijual di tempat pasar di Jalan
Luar Batang 5, di dekat kompleks masjid, pada hari peringatan maulid.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.20 Aneka pakaian dijual di tempat pasar di Jalan Luar Batang 1,
di dekat kompleks masjid, pada hari malam Jumat.
(Dokumentasi penulis, 2017)
76
Gambar 4.21 Aneka pakaian dijual di tempat pasar di area parkir,
di dekat kompleks masjid, pada hari peringatan haul.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Menurut penuturan informan, para pedagang kaki lima dari berbagai
wilayah di Jakarta ikut serta dalam pasar malam Jumat ini, seperti pedagang
kali lima dari Pasar Minggu, Senen, Tanah Abang, dan Muara Angke.
Bahkan di antara para pedagang kaki lima ada yang sengaja datang dari
Tangerang, Bekasi, dan Depok. Jumlah mereka mencapai 60 % dari
keseluruhan pedagang pasar malam Jumat. Yang 40 % lagi adalah warga
setempat, kampung Luar Batang, yang menjadikan rumahnya sebagai
tempat dagang. Setiap lapak dikenakan biaya lampu penerangan Rp. 5.000
dan restribusi berkisar antara Rp. 10.000 – 25.000. (Ashadi, 2017b). Para
pedagang yang bukan warga setempat tersebut selalu berpindah-pindah
tempat. Rupanya, di wilayah Jakarta dan sekitarnya, seakan sudah diatur,
bahwa daerah-daerah tersebut memiliki waktu-waktu untuk menggelar pasar
malam, dan kebetulan di kampung Luar Batang, waktunya adalah malam
Jumat. Menurut cerita Habib Alwi (Habib masjid kampung Bandan), dalam
suatu kesempatan, setiap hari malam senin, di depan masjid kampung
Bandan menjadi tempat pasar, yang dipenuhi oleh para pedagang yang
sebagian besar adalah bukan warga setempat. Tempat pasar ini mengambil
sebagian jalan raya yang ada di depan masjid.
Kegiatan belanja yang ada di kampung Luar Batang, terutama pada
hari-hari tertentu, seperti pada hari malam Jumat, hari peringatan maulid dan
haul yang melibatkan ribuan pengunjung dapat dikelola secara baik dan
77
profesional. Keterlibatan pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Yang
menjadi kendala utama adalah tempat, baik tempat pasarnya maupun tempat
parkir kendaraan. Di wilayah kampung Luar Batang, satu-satunya lahan
kosong yang agak luas adalah lahan di bagian depan, di bagian barat, di
pinggir Jalan Raya Gedong Panjang (Gambar 4.22).
Gambar 4.22 Tapak di pinggir Jalan Raya Gedong Panjang bisa menjadi alternatif
lokasi tempat wisata belanja dan wisata kuliner.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Wisata belanja dapat digabungkan dengan wisata kuliner.
Tempatnya adalah lahan kosong di bagian barat kampung Luar Batang, tepat
di pinggir Jalan Raya Gedong Panjang. Dengan penataan lokasi yang
meliputi penataan tempat toko-toko tempat belanja, kios-kios makanan, area
parkir, dan sirkulasi pengunjung, yang melibatkan pemerintah daerah dan
warga setempat, potensi wisata ini dapat diwujudkan.
Khusus untuk wisata belanja memang perlu kekhasan barang-
barang yang diperjualbelikan di tempat tersebut karena pada umumnya
masyarakat lebih memilih pusat-pusat perbelanjaan modern sebagai tempat
wisata belanjanya. Sehingga jarang sekali suatu wilayah atau kampung
menjadi tempat wisata belanja, karena dengan hanya sebagai tempat
transaksi jual beli barang-barang yang sama dengan barang-barang yang ada
baik di pasar tradisional maupun di pasar modern (pusat-pusat perbelanjaan
78
modern), tempat wisata belanja bukanlah menjadi pilihan masyarakat untuk
berbelanja. Lain halnya dengan tempat wisata kuliner yang menjajakan
makanan khas berselera, maka dimana pun tempatnya maka masyarakat
akan mencarinya. Dengan demikian, masyarakat setempat dan pemerintah
daerah harus bekerja sama dengan sungguh-sungguh dan profesional dalam
mengadakan dan mengelola tempat wisata belanja. Dalam pengelolaan
sebuah tempat wisata, pihak swasta bisa dilibatkan. Sehingga di sana
terdapat tiga serangkai: masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak swasta.
4.4 Wisata Cagar Budaya
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar
Budaya, yang dimaksud dengan Cagar Budaya adalah warisan budaya
bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya,
Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di
darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki
nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau
kebudayaan melalui proses penetapan. Pada bagian menimbang dari
perundang-undangan: “Cagar Budaya merupakan kekayaan budaya bangsa
sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting
artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan
kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya
pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan
kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Penggalan kalimat terakhir: “untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”,
menunjukkan di sana ada kaitan antara wisata dan cagar budaya. Cagar
Budaya akan menjadi sebuah bentuk objek wisata dengan tema budaya.
Sebagaimana dijelaskan pada Bagian Bab 1 bahwa bangunan masjid
Luar Batang yang sekarang ini sudah banyak mengalami perubahan, dan
hampir tidak tersisa bangunan lamanya, kecuali pertama, nisan makam
Habib Husein bin Abubakar Alaydrus dan Abdul Kadir, muridnya, kedua
menara lama, dan mungkin ketiga adalah plafon papan dan konstruksinya
berupa balok-balok kayu pada ruang shalat para wanita (Gambar 4.23;
Gambar 4.24; Gambar 4.25). Selebihnya adalah bangunan baru. Kondisi
semacam ini rupanya terjadi pula pada beberapa masjid di Jakarta yang
digolongkan sebagai bangunan atau benda cagar budaya. Salah satunya
adalah masjid Al-Anshar di Pekojan, yang hanya menyisakan balok-balok
79
plafon di bagian tengah interior ruang shalat utama dan jeruji kayu pada
jendelanya (Gambar 4.26).
Gambar 4.23 Menara lama masjid Luar Batang sebagai benda cagar budaya.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.24 Nisan makam Habib Husein bin Abubakar Alaydrus yang berada di
dalam masjid Luar Batang sebagai benda cagar budaya.
(Dokumentasi penulis, 2017)
80
Gambar 4.25 Interior ruang shalat para wanita (bangunan lama-meninggalkan
palfon dengan konstruksi balok-balok kayu) masjid Luar Batang
sebagai bangunan cagar budaya.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.26 Interior ruang shalat utama masjid Al-Anshar Pekojan Jakarta Barat
sebagai bangunan cagar budaya, meninggalkan balok-balok kayu.
(Dokumentasi penulis, 2018)
81
Bahkan beberapa bangunan masjid yang memiliki nilai sejarah,
bangunan lamanya diganti dengan bangunan baru tanpa meninggalkan
sedikit pun bangunan lama. Sebagai contoh adalah masjid Tangkuban
Perahu yang terletak di Jalan Tangkuban Perahu di Setiabudi, Jakarta Pusat
dan masjid Krukut di Jakarta Barat (Gambar 4.27 dan 4.28). Masjid
Tangkuban Perahu yang sekarang ini diresmikan oleh Gubernur DKI
Jakarta, Fauzi Bowo, pada 5 Oktober 2012. Sementara masjid Krukut yang
sekarang ini diresmikan oleh Syech Abdul Khaliq A. Bakhsh, seorang
penyumbang dana pembangunan masjid, pada 14 Januari 1994.
Berdasarkan penuturan informan, masjid Tangkuban Perahu
dahulunya berukuran tidak sebesar masjid yang sekarang ini. Demikian
halnya dengan masjid Krukut. Menurut penuturan informan, sekitar tahun
1970an, masjid Krukut memiliki sumur tua. Namun sekarang sumur tersebut
telah tiada. Yang lebih menggelikan, marbot masjid yang sehari-harinya
mengurusi kebersihan masjid Krukut tidak tahu bahwa masjid yang
diurusinya memiliki nilai sejarah. Bahkan ia menunjukkan masjid yang
memiliki nilai sejarah adalah masjid Kebon Jeruk, yang memang letaknya
tidak jauh dari masjid Krukut.
Gambar 4.27 Masjid Tangkuban Perahu pada saat sekarang.
(Dokumentasi penulis, 2018)
Berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Rencana Induk Kawasan Kota Tua,
82
membagi dua area pengendalian (Bagian Kedua, Pasal 7, Ayat 1): area
dalam tembok dan area luar tembok. Area dalam tembok meliputi Fatahilah,
Kali Besar, Roa Malaka, Galangan/Tembok, Museum Bahari Pasar Ikan,
dan Sunda Kelapa (Pasal 8, Ayat 3). Area luar tembok meliputi Luar Batang,
Pekojan, Pecinan, dan Taman Arkeologi Onrust (Pasal 9, Ayat 3). Dalam
Peraturan Gubernur ini, Luar Batang termasuk dalam Kawasan Kota Tua
yang harus ditata. Penataan kampung Luar Batang menerapkan konsep
pengembangan revitalisasi wisata bahari yang diarahkan sebagai kawasan
dengan wisata rohani dan sebagai penunjang di sekitar masjid Luar Batang
(Pasal 12, Ayat 2).
Gambar 4.28 Masjid Krukut pada saat sekarang.
(Dokumentasi penulis, 2018)
Berdasarkan keterangan di atas, kedudukan masjid Luar Batang
sangat penting dalam Rencana Pengembangan Kawasan Kota Tua. Sebagai
bangunan cagar budaya yang lokasinya “menempel” dengan kawasan
pelabuhan Sunda Kelapa, masjid Luar Batang menjadi bagian yang tak
terpisahkan dalam pengembangan kawasan kota tua. Sebagaimana telah
diuraikan pada Bagian Bab 3, bahwa di sekitar lokasi masjid Luar Batang
terdapat bangunan-bangunan cagar budaya seperti Museum Bahari, Menara
Syahbandar, Galangan VOC, Pasar Hexagon, Pasar Ikan, dan Museum
Pelelangan Ikan, yang semuanya terletak di kawasan Sunda Kelapa (Gambar
4.29; Gambar 4.30; Gambar 4.31).
83
Gambar 4.29 Museum Bahari.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.30 Menara Syahbandar.
(Dokumentasi penulis, 2017)
Latar belakang sejarah yang dimiliki oleh kampung Luar Batang
berhubungan erat dengan sejarah panjang pelabuhan Sunda Kelapa. Dari
dulu hingga sekarang aktivitas pelabuhan Sunda Kelapa menjadi urat nadi
kehidupan masyarakat kampung kota di sekitarnya, termasuk masyarakat
kampung Luar Batang. Aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan Sunda
Kelapa sampai sekarang masih tetap ramai. Begitu pula aktivitas para
84
nelayan pencari ikan memperlihatkan kesibukan di perairan di kawasan
pelabuhan Sunda Kelapa. (Gambar 4.32 dan Gambar 4.33).
Gambar 4.31 Pasar Hexagon (keadaan sekarang tidak difungsikan lagi).
(Dokumentasi penulis, 2017)
Gambar 4.32 Kesibukan bongkar muat barang di pelabuhan Sunda Kelapa.
(Dokumentasi penulis, 2018)
85
Gambar 4.33 Kapal-kapal penangkap ikan bersandar di perairan di kawasan
pelabuhan Sunda Kelapa (tampak di kejauhan menara masjid Luar Batang).
(Dokumentasi penulis, 2018)
Berdasarkan Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya, Masjid dan
Makam Keramat Luar Batang memiliki data-data sebagai berikut:
No Regnas : RNCB. 19880227.02.000622
SK Penetapan : SK Menteri No. 0128/M/1988
Peringkat Cagar Budaya SK Gubernur No. 475 Tahun 1993
Kategori Cagar Budaya :-
Kabupaten/Kota : Bangunan
Provinsi : Kota Jakarta Utara
Nama Pemilik : DKI Jakarta
Nama Pengelola : Yayasan Masjid
:-
Keberadaan masjid Luar Batang sebagai bangunan cagar budaya di
kawasan Kota Tua Jakarta ikut memberikan andil besar dalam
pengembangan kawasan tersebut sebagai Kawasan Cagar Budaya Kota Tua
Jakarta. Kawasan Kota Tua Jakarta sebagai Kawasan Cagar Budaya secara
86
legal dilindungi oleh Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar
Budaya.
Berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 36
Tahun 2014 Tentang Rencana Induk Kawasan Kota Tua (dengan luas total
dalam dan luar tembok kota yang ditetapkan ±355 ha) dalam pasal (13)
bahwa rencana pengembangan kawasan Kota Tua diwujudkan melalui
penataan pada komponen pembentuk karakter historis, estetika, sosial dan
budaya ruang kota yang meliputi: struktur jalan, tata guna lahan dan fungsi
bangunan, tata bangunan, ruang terbuka dan lansekap, distribusi intensitas
lahan, wajah jalan dan elemen khusus kota. Perencanaan kawasan Kota Tua
didukung dengan penataan sistem umum pergerakan dan transportasi umum
serta wisata, berikut sistem umum tata air yang sejalan dan terpadu dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta. Upaya-upaya revitalisasi Kota
Tua Jakarta yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
sejak tahun 2006 lalu merupakan komitmen pelestarian cagar budaya.
Pelestarian ini tidak di artikan romantisme kolonial, tetapi sebagai trend
ekonomi pemanfaatan Kota Tua sebagai sumber pendapatan (devisa). Upaya
revitalisasi Kota Tua Jakarta mendapatkan dukungan dari semua pihak baik
pemerintah, swasta, LSM, dan masyarakat luas yang bersinergi dan
menghasilkan satu masterplan yang tertuang dalam Peraturan Gubernur
Provinsi DKI Jakarta No. 36 Tahun 2014 tentang Rencana Induk Kawasan
Kota Tua Jakarta. Penataan dan pengembangan Kota Tua Jakarta harus
dibentuk satu lembaga (Badan Otorita atau Badan Otonom) tersendiri yang
dapat menangani koordinasi antar unit dalam pembangunannya, dan
menjembatani serta memfasilitasi para stakeholders. Penataan saat ini
dikoordinasi oleh Unit Pengelola Kawasan (UPK Kota Tua) Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan
unit ini masih semata-mata hanya mengelola penataan-penataan di lokasi
kawasan Kota Tua dengan melibatkan partisipasi masyarakat yang sifatnya
koordinatif. Kerjasama juga dilakukan dengan museum-museum setempat
(Museum Sejarah Jakarta, Museum Bank Indonesia, Museum Bank
Mandiri, Museum Wayang, dan Museum Bahari). Diperlukan supporting
dari pemerintah pusat (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif),
swasta serta lembaga-lembaga internasional (Tambunan, 2010). Kedepan,
acara-acara di sekitar Taman Fatahillah dan Kalibesar yang masih dibiayai
APBD Pemprov DKI, agar kegiatan-kegiatan event attraction dan site
87
attraction tersebut bisa dilakukan dari partisipasi masyarakat. (Sulistyo,
2015).
Kawasan Kota Tua Jakarta akan kembali diajukan sebagai warisan
dunia ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization
(UNESCO). Kota Tua Jakarta yang memiliki arsitektur zaman kolonial
Belanda pada abad 17 hingga 18, dinilai memiliki muatan nilai-nilai
kebudayaan yang universal. Selain itu, Kota Tua Jakarta juga pernah
menjadi pusat perdagangan dunia. Syarat agar suatu tempat dapat menjadi
kawasan situs warisan dunia minimal harus memiliki bangunan yang
usianya sudah lebih dari 50 tahun. Memiliki nilai historis yang kental, dan
memiliki tata ruang yang apik dan masih terjaga hingga sekarang.
Masjid Jami Luar Batang yang menjadi bagian penting dari
penataan kawasan Kota Tua Jakarta setidaknya sekarang ini sudah mulai
menjadi salah satu destinasi wisata cagar budaya di kawasan Kota Tua
Jakarta. Ditambah lagi bahwa lokasinya yang dekat dengan pelabuhan
Sunda Kelapa menjadikan masjid Jami Luar Batang menjadi salah satu
tujuan utama wisata pesisir Jakarta.