The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-11-02 18:54:15

Anak Bertanya Pakar Menjawab 2a

Anak Bertanya Pakar Menjawab 2a

Keywords: anak,bertanya,pakar,menjawab,2a

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a

Tentang Alam & Kehidupan serta Bumi & Lingkungan

Penyunting: Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan
Pemeriksa tulisan: Rena Asyari
Penata letak: Hendra Gunawan
Perancang sampul: Ari Kurniawan & Melissa Goentoro
Ilustrator: Anggriani Asri, Dini Lestari, Frans Mateus
Situmorang, Lydia Kusnadi, & Maria K. Arianie
Penerbit:

Common Room Networks Foundation
Jl. Imam Bonjol No. 50 Bandung
Web: http://www.commonroom.info

© Hak Cipta tulisan ada pada masing-masing penulis
© Hak Cipta buku ada pada penyunting
Cetakan pertama, Tahun 2015

Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan (ed.)
Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a: Tentang Alam &
Kehidupan serta Bumi & Lingkungan
Disunting oleh Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan
Bandung: Common Room Networks Foundation, 2015
140 h, 20 cm

ISBN 978-602-17940-5-0 (jil.2a)

2 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

Dipersembahkan khusus bagi
anak-anak di seluruh Indonesia
yang tak pernah berhenti bertanya

dan mencari jawaban.

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 3

4 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

DAFTAR ISI

Kata Sambutan 11

Kata Pengantar 13
--------------------- 15
Jawaban Pakar

1. Apa jadinya jika di dunia ini tidak ada Matahari? Avivah

Yamani 17

2. Mengapa Matahari berwarna oranye kekuning-kuningan?

E. Sungging Mumpuni 19

3. Matahari tersusun dari apa? E. Sungging Mumpuni 21

4. Mengapa komet disebut juga benda langit? Budi

Dermawan 23

5. Mengapa sabuk asteroid bisa terbentuk dari tubrukan

dengan Jupiter, padahal Jupiter kan hanya terdiri dari

gas? Budi Dermawan 25

6. Mengapa bintang terlihat berkedip-kedip? Hanief

Trihantoro 27

7. Di manakah ujung langit itu? Suhardja D. Wiramihardja 29

8. Apakah "black hole" itu? Awang Satyana 35

9. Bagaimana caranya mengukur kecepatan cahaya? Jane

C. Arifin 39

10. Mengapa cahaya tidak terlihat di udara? Alexander A.

Iskandar 43

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 5

11. Mengapa pensil kelihatan patah bila tercelup air?

Sparisoma Viridi 47

12. Apa warna air sebenarnya? Jane C. Arifin 49

13. Mengapa daun berwarna hijau? Jane C. Arifin 55

14. Mengapa bayangan berwarna hitam?g Zulfikar Fahmi 59

15. Bagaimana kamera bisa menyimpan gambar? Andry

Alamsyah 61

16. Mengapa sebelum ada kilat selalu ada petir terlebih

dahulu?m Felita Mustika 63

17. Mengapa lonceng bisa berbunyi keras? Agoes Soehianie 65

18. Apa penyebab terjadinya pasang surut air laut? Farica E.

Yosafat 67

19. Mengapa di laut ada ombak, sedangkan di kolam tidak

ada?m Alfred V. Abidondifu 69

20. Mengapa kendaraan di daerah pantai lebih cepat

keropos?m Hendra Setiawan 71

21. Mengapa besi berkarat, sedangkan emas tidak?m Ni Luh

Putu Ananda Saraswati 73

22. Kita mengenal jenis zat padat, cair, dan gas. Termasuk

jenis zat apakah api itu?m Dimitrij Ray 77

23. Apa sebenarnya asap itu?m Dennis Kwaria 79

24. Bagaimana bahan bakar bisa menggerakkan mesin?

Bambang Ariwahjoedi 81

25. Dari mana asalnya minyak bumi? Yogi Alwendra 85

26. Mengapa fosil di dalam tanah tidak hancur? Mirzam

Abdurrachman 87

6 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

27. Mengapa di Pulau Flores banyak gunung dan bukit?

Emmy Suparka 91

28. Mengapa terjadi erosi? Imam A. Sadisun 93

29. Apa itu pemanasan global? Devi N. Choesin 95

30. Apa sih perubahan iklim itu? Rusmawan Sunarwan 97

31. Mengapa sungai-sungai di kota terlihat kotor dan tidak

banyak ikannya? Bambang Sunarwan 101

32. Bagaimana proses terbentuknya tanah? Dasapta Erwin

Irawan 103

33. Di manakah hutan terluas di dunia?m Yohanida

Nuruzzahra 107

34. Bagaimana bisa tumbuhan mengandung zat berbeda-

beda?g Slamet Hariono 109

35. Mengapa tokek bisa menempel di dinding? Djoko T.

Iskandar 111

36. Mengapa setiap hari saya harus makan dan minum?m

Aggy Agatha 113

37. Mengapa orang bisa sakit? Budi Setiabudiawan 117

38. Mengapa kita bisa bermimpi ketika tidur? Achmad

Djunaidi 119

39. Mengapa setiap orang memiliki warna kulit yang

berbeda?m Diryati Widyantari 123

---------------------

Biodata Pakar 127

A1. Mirzam Abdurrachman, Geolog 129
A2. Alfred V. Abidondifu, Sarjana Fisika 129

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 7

A3. Aggy Agatha, Mahasiswa S1 SITH-ITB 129
A4. Andry Alamsyah, Pakar Teknologi Informasi &
Komunkasi, Mantan Fotografer 130
A5. Yogi Alwendra, Mahasiswa Program Doktor
Ilmu Kebumian 130
A6. Jane C. Arifin, Fisikawan 130
A7. Bambang Ariwahjoedi, Kimiawan 131
C1. Devi N. Choesin, Ekolog 131
D1. Budi Dermawan, Astronom 131
D2. Achmad Djunaidi, Psikolog 132
F1. Zulfikar Fahmi, Guru/Tentor 132
H1. Slamet Hariono, Guru 132
I1. Dasapta Erwin Irawan, Geolog 133
I2. Alexander A. Iskandar, Fisikawan 133
I3. Djoko T. Iskandar, Biolog 133
K1. Dennis Kwaria, Mahasiswa Program Magister Kimia 134
M1. E. Sungging Mumpuni, Mahasiswa Program Doktor
Astronomi 134
M2. Felita Mustika, Mahasiswa S1 FMIPA-ITB 134
N1. Yohanida Nuruzzahra, Mahasiswa S1 SITH-ITB 135
R1. Dimitrij Ray, Mahasiswa S1 FMIPA-ITB 135
S1. Ni Luh Putu Ananda Saraswati, Mahasiswa S1
FMIPA-ITB 135
S2. Imam A. Sadisun, Geolog 136
S3. Awang Satyana, Geolog 136
S4. Budi Setiabudiawan, Dokter 136
S5. Hendra Setiawan, Mahasiswa S1 FMIPA-ITB 137

8 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

S6. Agoes Soehianie, Fisikawan 137
S7. Bambang Sunarwan, Pakar Hidrogeologi 137
S8. Rusmawan Sunarwan, Meteorolog 138
S9. Emmy Suparka, Geolog 138
T1. Hanief Trihantoro, Sarjana Astronomi & Pendiri
"DuniaAstronomi.com" 138
V1. Sparisoma Viridi, Fisikawan 139
W1. Diryati Widiyantari, Mahasiswa S1 FK-Unpad 139
W2. Suhardja D. Wiramihardja, Astronom 139
Y1. Avivah Yamani, Astronom Komunikator & Pendiri
"langitselatan.com" 140
Y2. Farica E. Yosafat, Fisikawan 140

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 9

10 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

KATA SAMBUTAN

Oleh Liek Wilardjo (Fisikawan & Pemerhati
Pendidikan Sains, Guru Besar di Universitas Kristen
Satya Wacana - Salatiga)

Pendidikan --- termasuk pendidikan di bidang TRIM : Teknologi,
Rekayasa, Ilmu, dan Matematika --- dapat ditakrifkan sebagai
perjumpaan pikiran yang sudah berkembang dengan pikiran
yang sedang mulai mekar.

Dalam perjumpaan ini bukan hanya kuncup pikiran yang sedang
mekar itu saja yang memetik manfaat, tetapi juga pikiran yang
telah berkembang. Para pakar yang menjawab pertanyaan anak-
anak sekolah dasar dalam buku ini harus mengemas jawabannya
secara ringkas, bernas, dan jelas. Menjawab pertanyaan dengan
gaya "sersan" (serius namun santai) tidak selalu mudah, bahkan
bagi mereka yang disebut "pakar" pun! Karena itu, pikiran yang
sudah berkembang itu ikut terasah.

Perjumpaan "sersan" itu tidak hanya sekilas-lintas. Terjadi
interaksi yang serius tentang hal-hal yang esensial, dalam
suasana yang mengasyikkan. Seperti dikatakan ahli pendidikan
Swiss, Jean Piaget, interaksi itu membuahkan transaksi intelek-
tual yang memperkaya rumbai-rumbai difraksi skematta kognisi
di dalam pikiran mereka yang berinteraksi. Terlebih lagi kalau

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 11

jawaban itu mampu membuat si penanya terperanjat, lalu
meragukan keluncas-pahaman (miskonsepsi) yang diidapnya
tentang hal yang ditanyakannya.
Kata orang Jerman, Bildung ist das, was bleibt, wenn man alles
Gelehrnte vergessen hat. Pendidikan ialah apa yang (masih)
tertinggal bila yang kita pelajari sudah terlupakan semua. Dan
yang tersisa itu tentulah yang paling relevan, yang kena-
mengena dengan kepentingan kita, dan yang kita renungkan
serta kita cari maknanya. Itulah yang ditanyakan oleh anak-anak
dalam buku ini.
Pendidikan yang seperti itu pulalah --- saya kira --- yang
diharapkan pengelola Anak Bertanya Pakar Menjawab beserta
semua pihak yang terlibat dalam kegiatan itu. Semoga usaha ini
tidak sia-sia. Amien.

Salatiga, 31 Agustus 2015

12 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

KATA PENGANTAR

Oleh Hendra Gunawan (Pengelola Situs
"anakbertanya.com")

Mengetahui buku Anak Bertanya Pakar Menjawab jilid 1a dan 1b
yang terbit pada akhir tahun 2014 yang lalu mendapat sambutan
positif dari anak-anak di berbagai kota, membuat kami semakin
semangat menyusun buku Anak Bertanya Pakar Menjawab jilid
2a dan 2b ini.

Seperti halnya buku seri pertama, buku seri kedua ini merupa-
kan kumpulan (sebagian besar) jawaban yang telah ditayangkan
di situs anakbertanya.com pada tahun 2014. Sesuai dengan misi
anakbertanya.com, sepasang buku ini diperuntukkan bagi anak-
anak Sekolah Dasar kelas IV-VI, yang berusia 10-12 tahun. Buku
jilid 2a (yang sedang anda baca ini) memuat jawaban tentang
Alam & Kehidupan serta Bumi & Lingkungan, sementara buku
jilid 2b memuat jawaban tentang Isu Sosial & Ekonomi serta
Karya & Aksi Manusia.

Ada yang berbeda pada buku jilid 2a dan 2b, terkait dengan
program yang dilaksanakan di anakbertanya.com pada tahun
2014. Perbedaan tersebut adalah diikutsertakannya para guru
dan mahasiswa untuk menjawab sebagian pertanyaan dalam
program Anak Bertanya Guru Menjawab dan Anak Bertanya
Mahasiswa Menjawab. Alasannya sederhana: guru dan maha-

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 13

siswa juga dapat (dan sewajarnya) menjadi sosok anutan bagi
anak-anak, selain mempunyai pengetahuan yang cukup untuk
menjawab pertanyaan yang terkait dengan matapelajaran atau
bidang studi yang digelutinya. Pertanyaan yang ditandai dengan
indeks g dijawab oleh guru, sedangkan pertanyaan yang di-
tandai dengan indeks m dijawab oleh mahasiswa. Selain itu,
terdapat sejumlah pakar baru yang juga turut menjawab per-
tanyaan dalam buku jilid 2 ini.

Proses penyusunan buku kali ini berjalan lebih mulus di-
bandingkan dengan penyusunan buku jilid 1. Ucapan terima
kasih perlu kami sampaikan kepada Prof. Liek Wilardjo, Guru
Besar Fisika dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga,
yang telah berkenan memberikan kata sambutan. Selain itu,
kami harus berterima kasih kepada para pakar yang telah
memberikan jawaban atas 78 pertanyaan anak yang diterbitkan
dalam buku ini, dan kepada tim "pemburu pakar": Gita, Irfan,
Nida, dan Septia. Tak lupa, kami juga menyampaikan terima
kasih kepada anak-anak yang telah bertanya, karena tanpa per-
tanyaan mereka buku ini takkan ada.

Semoga buku jilid 2a dan 2b ini semakin menambah wawasan
anak-anak dan memotivasi anak-anak untuk menimba ilmu,
guna meraih cita-cita yang tinggi.

Bandung, 31 Agustus 2015

14 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

Jawaban Pakar

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 15

16 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

1. APA YANG TERJADI JIKA DI DUNIA INI
TIDAK ADA MATAHARI?

Oleh Avivah Yamani (Astronom Komunikator &
Pendiri "langitselatan.com")

Jika Matahari tidak ada sejak awal, maka planet-planet di Tata
Surya tidak akan terbentuk dan Bumi tidak akan pernah ada.
Artinya kita dan seluruh kehidupan tidak akan pernah ada.
Mengapa demikian? Karena Bumi dan seluruh planet terbentuk
dari materi yang ada di piringan gas dan debu yang membentuk
Matahari.
Tetapi jika pertanyaannya diubah menjadi “apa yang terjadi
seandainya Matahari tiba-tiba menghilang?”, nah, ini menarik!
Matahari adalah bintang yang menjadi pusat di Tata Surya,
planet-planet bergerak mengitarinya. Sebenarnya, setiap planet
“ingin” bergerak lurus, tapi karena ada gaya gravitasi dari
Matahari yang menarik mereka, maka gerak planet jadi
melengkung dan mengelilingi Matahari!
Jika suatu hari Matahari tiba-tiba menghilang, maka tidak ada
lagi gaya tarik yang kuat dari Matahari yang menjaga planet-
planet tetap berada pada orbitnya. Akhirnya planet-planet akan
terlepas dan bergerak sepanjang garis lurus.

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 17

Apa yang terjadi selanjutnya? Beberapa planet mungkin
berpapasan dan kalau terlalu dekat bisa saja bertabrakan. Tapi
tampaknya yang akan terjadi adalah planet-planet akan terus
bergerak meninggalkan Tata Surya. Bahkan mereka harus
mengembara ribuan tahun sebelum bertemu obyek lain atau
sistem planet di bintang lain.

Lalu apa akibatnya untuk Bumi? Bagi Bumi, Matahari punya
peran yang sangat besar! Ia tidak hanya menjadi cahaya
penerang, tetapi juga sumber energi bagi kehidupan di Bumi.
Tanpa Matahari… maka tidak ada kehidupan!

Saat Matahari menghilang, kegelapan akan melanda Bumi. Bulan
tak lagi tampak karena tidak ada cahaya Matahari yang bisa ia
pantulkan. Planet-planet pun menghilang satu per satu dilanda
kegelapan.

Tanpa Matahari, sumber energi bagi Bumi pun menghilang.
Temperatur di Bumi akan menurun drastis dan Bumi pun
membeku, dan atmosfer yang seharusnya jadi pelindung Bumi
juga ikut membeku dan hancur.

Di Bumi yang beku, kehidupan tidak akan bisa bertahan.
Tumbuhan butuh Matahari untuk memasak makanannya. Tidak
ada Matahari, tidak ada makanan, tumbuhan pun mati. Ketika
tumbuhan mati, maka rantai makanan pun putus dan seluruh
kehidupan di dalamnya tidak akan bisa bertahan.

Tanpa Matahari, kehidupan akan musnah dan Bumi akan jadi
planet beku yang mengembara di alam semesta! □

18 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

2. MENGAPA MATAHARI BERWARNA
ORANYE KEKUNING-KUNINGAN?

Oleh E. Sungging Mumpuni (Mahasiswa Program
Doktor Astronomi)

Matahari sebetulnya berwarna putih! Warna putih adalah warna
polikromatik, artinya tersusun atas berbagai warna yang
menyatu dan tampak sebagai warna putih. Ini dapat dibuktikan
apabila kita melihat pelangi, karena pelangi itu sebetulnya
cahaya Matahari yang terhambur oleh butir-butir air hujan. Lalu
mengapa kadang kita melihat Matahari berwarna kuning-
oranye, misalnya di kala Matahari terbit atau terbenam? Itu
disebabkan karena adanya atmosfer Bumi yang menyebabkan
terjadinya penguraian dan penghamburan cahaya secara
berbeda.

Sebagaimana diketahui, pelangi tersusun atas warna me-ji-ku-
hi-bi-ni-u (merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu) — yang
dikenal sebagai spektrum cahaya. Spektrum warna biru-nila-
ungu merupakan spektrum pada panjang gelombang pendek
dari cahaya. Spektrum cahaya pada panjang gelombang pendek
lebih mudah mengalami hamburan, dibandingkan warna merah-
jingga-kuning, yang berada pada panjang gelombang lebih
panjang.

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 19

/LK

Akibatnya, ketika Matahari terbit atau terbenam, yaitu saat
Matahari lebih dekat pada ufuk, lintasan cahaya Matahari
menuju pencerap akan melalui jalur yang lebih panjang pada
medium atmosfer Bumi, sehingga proses penghamburan lebih
banyak terjadi. Akibatnya, Matahari akan tercerap, dan semakin
terbenam akan semakin merah warnanya.

Tetapi, apabila Matahari sedang berada di atas kepala, ketika
lintasan cahaya yang melalui medium atmosfer Bumi lebih
pendek, cahaya yang lebih banyak terhambur adalah cahaya biru
dibanding warna lainnya, akibatnya langit berwarna biru akibat
hamburan, sedangkan Matahari dicerap sebagai putih-

kekuningan. □

20 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

3. MATAHARI TERSUSUN DARI APA?

Oleh E. Sungging Mumpuni (Mahasiswa Program
Doktor Astronomi)

Sebelum berkembangnya ilmu Astrofisika, manusia belum bisa
mempelajari unsur apa yang menjadi penyusun Matahari, apa-
kah tersusun atas zat seperti yang ada di Bumi, atau berbeda
sama sekali? Dengan diperkenalkannya spektroskopi pada abad
ke-19, yaitu cara untuk mengurai cahaya (seperti bintik air hujan
yang mengurai sinar Matahari menjadi pelangi), maka kita dapat
mempelajari unsur-unsur yang menyusun Matahari.

Dengan bantuan alat pengurai cahaya (seperti prisma atau kisi-
kisi), maka kita dapat menguraikan cahaya Matahari, yang ter-
urai dalam warna berbeda, dari merah sampai biru, atau dalam
bahasa ilmiah disebut sebagai spektrum. Ternyata spektrum
cahaya Matahari menunjukkan tidak hanya warna-warni me-ji-
ku-hi-bi-ni-u, tetapi juga ada garis-garis gelap, dikenal sebagai
garis-garis Fraunhofer, sesuai nama tokoh yang mengidentifi-
kasikan garis-garis gelap tersebut, yaituJoseph von Fraunhofer.

Berdasarkan informasi yang dipelajari dari spektroskopi ter-
sebut didapatkan bahwa Matahari adalah gas yang sangat panas,
tersusun atas unsur terbanyak adalah Hidrogen, diikuti Helium,
serta unsur-unsur lainnya. Unsur Helium adalah unsur yang
ditemukan dari pengamatan spektroskopi Matahari pada masa

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 21

itu. Karena jarang ditemukan di Bumi, unsur tersebut dinamakan
Helium, yang berasal dari kata Helios (Dewa Mata-hari dalam
mitologi Yunani).

/AA

Berdasarkan yang dipelajari dari spektroskopi, maka saat ini kita
telah mengetahui dengan baik bahwa Matahari adalah gas yang
sangat panas, dengan suhu permukaan mencapai 5778 K (5505
C), bermassa mencapai 2 juta trilyun-trilyun kg (ada 30 angka 0
di belakang 2), atau 330 ribu kali massa Bumi, dengan komposisi
utama massa adalah 75% Hidrogen, 24% Helium, serta
selebihnya unsur yang lebih berat. Dari unsur-unsur tersebut,
kita dapat menentukan bahwa usia Matahari mencapai 4,5
milyar tahun, dan komposisinya akan berubah seiring ber-
jalannya waktu, sampai mencapai akhir kehidupan Matahari,
diperkirakan 4,5 milyar tahun lagi. □

22 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

4. MENGAPA KOMET DISEBUT JUGA
BINTANG LANGIT?

Oleh Budi Dermawan (Astronom)

Bila kita melihat langit malam tak berawan, banyak ya benda
langit yang dapat kita lihat. Mereka tampak seperti untaian titik
cahaya dan tersebar di langit. Dari semua itu, tentu Bulan lah
yang tampak paling besar, ya kan?

Kalau kalian beruntung, ada benda langit yang tampak tidak
seperti titik cahaya, melainkan sebuah titik dengan cahaya yang
memanjang di langit. Itu adalah komet. Tetapi ia tidak selalu
memiliki cahaya yang memanjang, loh.

Beberapa ratus tahun lalu orang pernah menduga bahwa komet
bukanlah benda langit, melainkan benda yang melintas di dalam
atmosfer kita. Ya, seperti pesawat yang sedang terbang di udara.

Cahaya yang memanjang itu disebut “ekor komet”. Ini me-
rupakan hasil proses penguapan materi permukaan komet
akibat panas Matahari. Wah, apakah berarti komet itu ter-
bakar? Tidak demikian. Materi yang menyelimuti komet itu
sudah menguap ketika merasakan hangatnya Matahari.
Jadi, komet bukanlah benda yang melintas di dalam atmosfer
kita, ataupun benda langit dari luar Tata Surya yang sedang
melintas masuk ke dalam Tata Surya. Ia merupakan benda langit

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 23

anggota Tata Surya seperti halnya planet-planet yang beredar
mengelilingi Matahari. □

24 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

5. MENGAPA SABUK ASTEROID BISA
TERBENTUK DARI TUBRUKAN DENGAN
JUPITER, PADAHAL JUPITER KAN HANYA
TERDIRI DARI GAS?

Oleh Budi Dermawan (Astronom)

Bebatuan asteroid diyakini bukan hasil tabrakan dengan planet
Jupiter. Bebatuan yang berserakan dalam jumlah yang sangat
banyak ini (dikenal sebagai Sabuk-Utama Asteroid) berada di
antara planet Mars dan Jupiter, yang bersama-sama mengitari
Matahari.
Nah, dulu, orang memang pernah menduga bahwa bebatuan ini
merupakan hasil pecahan sebuah planet. Tetapi, pengamatan
astronomi kemudian menemukan bahwa kandungan materi
bebatuan ini berbeda-beda. Oleh sebab itu tidaklah mungkin
bebatuan ini merupakan pecahan dari sebuah planet, karena
kandungan planet pada umumnya relatif seragam (tidak terlalu
berbeda-beda).
Lantas bagaimana bebatuan ini terbentuk? Astronom meyakini
bahwa sebuah planet dibentuk dari material dasar (seperti
bebatuan) dan/atau gas yang berkumpul sedikit demi sedikit
hingga menjadi besar. Pada daerah antara Mars dan Jupiter,

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 25

keberadaan material dasar ini tidak sempat bergabung menjadi
planet. Mengapa?

/DL

Kita mengetahui bahwa Jupiter merupakan planet dengan bobot
terbesar di Tata Surya. Jupiter ini menjadi pengganggu yang
kontinu (terus-menerus) dalam bentuk gaya tarik-menarik
(gravitasi) yang kuat karena bobotnya yang besar. Akibatnya
bebatuan itu tetap berserakan dan gagal bergabung menjadi
planet. Inilah teori yang diyakini saat ini.
Sesama bebatuan itu dapat juga bertabrakan, loh. Hasilnya apa?
Setelah tabrakan, bebatuan itu pecah menjadi benda berukuran
lebih kecil dalam jumlah yang banyak, dan bahkan sebagian di
antaranya menjadi debu. □

26 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

6. MENGAPA BINTANG TERLIHAT
BERKEDIP-KEDIP?

Oleh Hanief Trihantoro (Sarjana Astronomi &
Pendiri "DuniaAstronomi.com")

Setiap malam ada banyak benda langit yang bisa kita lihat,
misalnya bintang, planet, bulan, gugus bintang, nebula, dan lain-
lain. Di antara semua itu ada dua jenis benda yang berbentuk
cahaya titik, yaitu bintang dan planet. Kalau kita perhatikan
dengan seksama akan terlihat bahwa bintang tampak berkedip-
kedip sedangkan planet tidak. Apa sih penyebabnya?

Kedipan bintang yang kita lihat itu disebabkan oleh pergerakan
udara di lapisan atmosfer Bumi. Pergerakannya dapat di-
umpamakan seperti pergerakan air di sebuah kolam renang yang
permukaannya tidak tenang. Kalau kita melihat dari luar, semua
benda yang ada di dalam air akan tampak bergerak-gerak
walaupun benda tersebut sebenarnya diam. Hal ini terjadi
karena cahaya yang melewati air lalu udara (sebelum dicerap
oleh mata kita) akan dibelokkan atau dibiaskan. Pembiasan
seperti inilah yang juga terjadi pada cahaya bintang.

Cahaya bintang yang memasuki atmosfer Bumi akan dibelok-
belokkan secara acak oleh lapisan udara yang bergerak. Akibat-
nya posisi bintang akan berpindah-pindah, namun karena per-

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 27

ubahan posisinya sangat kecil untuk dideteksi mata kita akan
melihatnya sebagai kedipan.
Lalu mengapa planet tidak tampak berkedip? Dibandingkan
dengan bintang, jarak planet (yang sama-sama berada di Tata
Surya) lebih dekat ke Bumi, sehingga planet terlihat lebih besar,
dan akan tampak sebagai piringan atau cakram cahaya kalau
dilihat dengan teleskop. Nah, karena ukurannya cukup besar,
cahaya pada planet tidak terpengaruh oleh pembiasan akibat
pergerakan lapisan udara di atmosfer, sehingga planet tidak
berkedip.
Sekarang kita tahu apa penyebab bintang berkedip. Jadi kalau
ingin menyaksikan bintang yang tidak berkedip, kita harus pergi
keluar angkasa atau ke Bulan atau di manapun asalkan tidak ada
atmosfer. Siapa yang ingin membuktikannya sendiri? □

28 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

7. DI MANAKAH UJUNG LANGIT ITU?

Oleh Suhardja D. Wiramihardja (Astronom)

Untuk menjawab pertanyaan di mana ujung langit itu, kita bahas
seberapa luas alam semesta ini ya… (Jawabannya cukup panjang;
terbagi atas beberapa bagian. Bila Adik-adik lelah membacanya,
berhenti dahulu…)

1. Bumi adalah sebuah planet, dunia kecil yang bergerak dalam
orbitnya mengitari sebuah bintang setengah tua, yaitu Matahari
yang berjarak rata-rata dari Bumi 149.600.000 km (1 astro-
nomical unit = 1 au). Tetangga paling dekat Bumi adalah Bulan
yang mengitari Bumi dengan perioda 27,3 hari. Jarak rata-rata
antara Bumi dan Bulan (diukur dari pusat Bumi ke pusat Bulan)
adalah 384.400 km, jarak yang kira-kira sama dengan 10 kali
perjalanan sepanjang ekuator Bumi. Planet yang paling jauh
adalah Neptunus yang berjarak rata-rata sekitar 30 au dari
Matahari.

Dibandingkan dengan skala Tata Surya, jarak antar bintang luar
biasa besarnya. Bintang yang paling dekat saja berjarak lebih
besar daripada 250.000 kali jarak Matahari-Bumi. Oleh karena
itu, cara yang lebih baik untuk merasakan jarak dalam jagat raya
adalah dengan menggunakan satuan seberapa lama cahaya
menempuh suatu jarak tertentu. Dengan kecepatan cahaya yang
besarnya 300.000 km per detik, cahaya perlu 1,3 detik untuk

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 29

mencapai Bulan, 8,3 menit untuk mencapai Mata-hari, dan 4,1
jam untuk mencapai Neptunus. Bintang yang paling dekat adalah
Proxima Centauri yang berjarak 4,2 tahun cahaya.

Matahari adalah anggota dari suatu kepulauan besar bintang-
bintang, gas, dan debu yang dikenal sebagai Galaksi. Galaksi kita
ini yang disebut Milky Way mengandung lebih dari 100 milyar
bintang, tersebar dalam sistem yang berbentuk cakram yang
mempunyai diameter sekitar 100.000 tahun cahaya. Dengan
konvensi yang agak egosentris, kita merujuk sistem bintang kita
sendiri ini sebagai Galaksi (dengan huruf G besar). Jauh di luar
Galaksi kita bertebaran milyaran galaksi lain (dengan huruf g
kecil). Sebagian berbentuk spiral seperti Galaksi kita sendiri,
sebagian berbentuk elips, dan sebagian lagi irregular --- tidak
mempunyai bentuk tertentu. Karena letaknya jauh di luar
Galaksi kita, galaksi-galaksi ini kadang-kadang disebut sebagai
ekstragalaksi atau galaksi luar. Galaksi luar yang paling dekat
bernama Andromeda yang mempunyai nomor katalog M31.
Besar galaksi ini hampir sama dengan Galaksi kita, dan jaraknya
sekitar 2,2 juta tahun cahaya.

2. Dalam jagat raya, galaksi-galaksi didistribusikan ke dalam
bentuk rumpun-rumpun. Beberapa, seperti Galaksi kita sendiri,
adalah anggota dari kelompok kecil yang mengandung bebe-
rapa buah atau beberapa puluh galaksi anggota. Yang lainnya
bergerombol dalam gugusan (cluster) besar yang mengandung
ratusan, atau bahkan ribuan galaksi anggota. Dan gugusan-
gugusan ini pun bergabung lagi ke dalam struktur yang lebih
besar lagi yang disebut supercluster, yang mencakup ukuran 100

30 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

juta tahun cahaya atau lebih dan mengandung ribuan atau
puluhan ribu galaksi. Grup Lokal galaksi kita terletak pada
pinggiran supercluster Virgo, yang pusatnya terletak kira-kira 50
juta tahun cahaya.

[Sumber gambar: apod.nasa.gov]

Obyek yang paling cerlang (luminuous) yang sejauh ini telah
dideteksi adalah quasars, yaitu obyek yang tampak seperti
bintang, tetapi memancarkan cahaya yang kuatnya ratusan, atau
bahkan ribuan kali cahaya yang dipancarkan galaksi normal.
Quasars yang paling jauh yang sampai saat ini terdeteksi berada
pada jarak yang mungkin lebih jauh dari 13 milyar tahun cahaya.
Pengamatan yang dirintis oleh Edwin Hubble menunjukkan
bahwa semua galaksi dan gugus galaksi di luar Grup Lokal
bergerak menjauh dari kita, dan juga saling menjauh antar satu

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 31

dengan lainnya, dengan kecepatan yang sebanding dengan
jaraknya --- makin jauh galaksi, makin cepat dia bergerak. Fakta
ini menunjukkan bahwa keseluruhan jagat raya sedang
mengembang dan juga mengartikan bahwa galaksi-galaksi itu
haruslah berada sangat dekat satu dengan lainnya pada masa
lalu dibanding dengan sekarang. Pengembangan jagat raya ini
dimulai dengan peristiwa ledakan massa yang masif dan panas
yang disebut Big Bang (Ledakan Besar). Secara berurutan
galaksi-galaksi terbentuk dari materi awalnya dan kemudian
tertarik ke arah luar oleh pengembangan jagat raya.

[Sumber gambar: www.universetoday.com]

3. Jagat raya amat sangat besar dalam skala ruang dan waktu.
Cahaya yang sampai pada teleskop kita dari galaksi dan quasars
yang paling jauh telah merambat melalui ruang jagat raya dalam

32 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

waktu yang jauh lebih lama daripada umur Bumi sendiri. Jika kita
melihat obyek-obyek yang jauh ini sebenarnya kita melihat ke
belakang dalam ruang waktu bagaimana mereka tampak ketika
jagat raya masih merupakan fraksi sangat kecil dari umur
sekarang.

Hukum Hubble (Hubble Law) mengatakan bahwa kecepatan
menjauh galaksi, v, berbanding lurus dengan jarak dari kita, d.
Rumusnya adalah v = Hd. Pada formula ini, H adalah konstanta
Hubble (Hubble constant). Konstanta Hubble sangat penting,
karena ia memberikan laju kecepatan jagat raya mengembang.
Konstanta ini juga digunakan dalam Hukum Hubble untuk
menggambarkan jarak galaksi berdasar pengukuran pergeseran
merahnya. Menentukan harga H dengan akurat sebenarnya
sangat sulit karena ketidakpastian dalam skala jarak ekstra-
galaksi. Harga yang diambil berkisar antara 50 sampai 100
km/detik/Mpc (15 sampai 30 km per detik per juta tahun
cahaya).

Estimasi standar dari umur alam semesta didasarkan pada harga
konstanta Hubble. Waktu Hubble (Hubble time), yaitu umur jagat
raya sejak saat Big Bang sebanding dengan 1/H, yang besarnya
berada pada angka 10 sampai 20 milyar tahun. Meski masih
banyak masalah dan masih banyak pertanyaan yang belum
terjawab, tampaknya pengembangan jagat raya ini dimulai
sekitar 13,7 milyar tahun yang lalu. Dalam pada itu estimasi
radius jagat raya juga sangat bergantung pada harga konstanta
Hubble. Radius Hubble, yaitu jarak ke sisi jagat raya yang masih
bisa diamati, sebanding dengan kecepatan cahaya dibagi

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 33

konstanta Hubble, c/H, dan juga bergantung pada model alam
semestanya. Estimasi sekarang menghasilkan radius jagat raya
yang besarnya di antara 12 milyar dan 16 milyar tahun cahaya. □

34 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

8. APAKAH 'BLACK HOLE' ITU?

Oleh Awang Satyana (Geolog)

Adik-adik mungkin sudah pernah melihat film Star Trek atau Star
Wars. Dalam film itu digambarkan ada obyek berwarna hitam
yang diceritakan mampu menarik apapun yang ada di dekatnya
(lihat gambar). Namanya adalah Lubang Hitam atau Black Hole.
Saya akan jelaskan secara sederhana.

[Sumber gambar: Space and NASA News]

Lubang Hitam adalah sebuah objek di Jagat Raya yang paling
dramatik sekaligus sangat menarik. Awalnya ditemukan dalam
bentuk hitungan oleh ilmuwan bernama Albert Einstein. Saat itu

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 35

ia sendiri berpikir bahwa hasil hitungannya keliru. Tidak mungkin
ada benda sebegitu anehnya. Ternyata ia tidak keliru,
perhitungannya justru benar, Lubang Hitam itu ada. Pada tahun
1971 keberadaannya ditemukan pertama kali dan sejak itu
jumlahnya terus bertambah.

Mengapa disebut Lubang Hitam

Disebut “Lubang” karena ia adalah pelahap yang rakus.Ia akan
menarik apapun yang ada di dekatnya, bisa bintang, planet,
debu, gas, bahkan cahaya. Benda-benda itu seolah terperosok ke
dalam lubang dan hilang entah ke mana. Semakin banyak makan,
semakin kuat ia menelan yang berikutnya. Mengapa disebut
“hitam”, itu karena cahayapun tak bisa lepas dari gaya tariknya,
sehingga kondisinya akan selalu gelap gulita. Ikuti penjelasannya
di bawah ini ya.

Eksperimen membuat Lubang Hitam

Mari kita melakukan eksperimen dengan balon, kertas
aluminium foil, meteran baju, dan timbangan kue. Ambil balon,
tiup secukupnya, kemudian bungkus dengan kertas aluminium.
Setelah balon terbungkus rapat, ukur garis tengahnya dengan
meteran baju, kemudian timbang beratnya dengan timbangan
kue. Catat hasilnya. Kemudian letuskan balon dengan jarum dan
remas balon menjadi sekecil mungkin yang Adik-adik bisa. Ukur
garis tengahnya dan timbang. Bandingkan angkanya dengan
semula. Mestinya garis tengahnya akan makin kecil, tetapi
beratnya akan sama, atau kepadatannya akan bertambah.

36 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

Balon yang Adik-adik tiup adalah tiruan sebuah bintang, seperti
Matahari. Bintang, seperti juga Bumi, memiliki gaya tarik
gravitasi. Gaya gravitasi ini ditentukan oleh kepadatan materi
bintang itu sendiri. Bintang punya siklus hidup. Seperti kita, ia
akan lahir, bersinar, dan kemudian meledak (dinamakan super-
nova) dan akhirnya mati. Supernova diibaratkan dengan letusan
balon. Setelah meletus, maka materi hasil letusan akan tertarik
ke pusat bintang akibat gaya gravitasi. Itu diibaratkan dengan
kita meremas balon dalam kertas aluminium.

Semakin besar kepadatandari inti bintang yang meledak tadi,
makin besar pula gaya tariknya, hingga benda-benda di angkasa
lainnya bisa tertarik ke titik letusan bintang tadi. Semua tertarik,
sampai cahaya pun tidak bisa lari darinya, sehingga yang tinggal
adalah kondisi yang gelap gulita, dan berwarna hitam, karena
itulah disebut Lubang Hitam.

Membayangkan kepadatan dan gaya gravitasi Lubang Hitam

Agar lebih mudah mari kita padankan dengan dimensi Bumi,
Matahari, dan kota Jakarta agar lebih mudah. Kalau Bumi dan
Matahari kita anggap sebagai bola, Bumi kita volumenya 1082
milyar km3. Matahari kita volumenya 1411 juta milyar km3 (1411
kuartrilyun km3). Jadi di dalam Matahari bisa termuat lebih dari
1,3 juta planet seukuran Bumi. Kota Jakarta hanyalah satu titik di
atas permukaan Bumi dengan luas sekitar 650 km2. Tetapi kalau
di dalam kota sekecil Jakarta dijejalkan tiga Matahari (volume-
nya sekitar 4233 juta milyar km3), bisa dibayangkan berapa
kepadatan Planet Jakarta ini kan. Besarnya kepadatan me-

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 37

nentukan besarnya gaya gravitasi. Jadi gaya gravitasi Planet
Jakarta ini akan luar biasa besarnya. Seberapa besarnya?
Roket yang membawa satelit ke angkasa luar agar ia bisa sampai
ke targetnya harus mempunyai kecepatan minimal yang disebut
escape velocity, yaitu kecepatan minimum dibutuhkan agar
dapat lepas dari gravitasi Bumi. Escape velocity ini sekitar 11
km/detik, atau kira-kira sama dengan 20 x kecepatan peluru.
Angka ini untuk Bumi yang volumenya hanya 1082 milyar km3.
Bisa dibayangkan seberapa besar escape velocity-nya untuk
Planet Jakarta tadi. Bahkan mungkin cahaya dengan kecepatan
300.000 km/detik pun, belum tentu bisa lepas dari gravitasinya.
Dengan bantuan satelit luar angkasa, para ilmuwan dapat
mengetahui adanya Lubang Hitam. Satelit itu mendeteksi
semburan sinar X dan sinar gamma dari bintang-bintang yang
sedang sekarat hancur dikunyah Lubang Hitam.
Bercermin dari cerita saya di atas, maka Adik-adik harus mampu
dan mau memahami Jagat Raya dengan segala fenomenanya
yang luar biasa. Kelak siapa tahu Adik-adik akan menemukan
benda antariksa yang baru. Maha besar Tuhan dengan segala
kedahsyatan ciptaan-Nya. □

38 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

9. BAGAIMANA CARANYA MENGUKUR
KECEPATAN CAHAYA?

Oleh Jane C. Arifin (Fisikawan)

Tahukah Adik-adik, berapa kecepatan cahaya? Cahaya melaju di
ruang hampa dengan kecepatan kira-kira 300.000 km/detik, atau
tepatnya 299.792.458 meter/detik. Sebagai gambaran, cahaya
membutuhkan waktu hanya 0,14 detik untuk mengitari Bumi.
Cepat sekali bukan!

Namun, dari mana angka ini didapatkan? Apakah kecepatan
cahaya yang super cepat ini diukur seperti kita mengukur
kecepatan orang berlari (mengukur jarak dengan meteran dan
waktu tempuh dengan stopwatch)? Jika kita ingin mengukur
kecepatan cahaya demikian, cahaya terlampau cepat. Stop-
watch kita kurang akurat dan Bumi tempat tinggal kita tidak
cukup luas.

Salah satu solusinya adalah mengamati bintang yang berada di
luar angkasa. Posisi bintang berubah-ubah dalam satu tahun-
nya. Hal ini dikarenakan cahaya yang merambat dari bintang ke
mata sedikit bergeser akibat revolusi Bumi terhadap Matahari.
Dengan mengukur sudut pergeseran ini dan mengetahui ke-
cepatan revolusi Bumi, kita dapat menghitung kecepatan
cahaya.

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 39

Selain pengamatan benda angkasa, kecepatan cahaya dapat
diukur dengan pengamatan di Bumi. Pengukuran cahaya ini
pertama kali dilakukan oleh seorang Fisikawan Prancis, Fizeau. Ia
mengukurnya dengan cara melewatkan cahaya melalui roda gigi
yang berputar. Cahaya ini kemudian dipantulkan balik oleh
cermin dan diamati.

Gambar 1. Teknik pengukuran kecepatan cahaya oleh Fizeau (1849). Fizeau
menghitung bahwa kecepatan cahaya adalah 313.300 km/s.

Fizeau kemudian mempercepat putaran roda gigi. Suatu ketika
perputaran roda begitu cepat, membuat cahaya yang kembali
terhalangi oleh gigi roda. Cahaya harus melewati celah berikut-
nya agar dapat kembali dan teramati. Dengan mengetahui ke-
cepatan roda gigi saat ini, jumlah gigi, serta jarak antara roda gigi
dengan cermin, kecepatan cahaya dapat dihitung.
Kemajuan teknologi membuat kecepatan cahaya dapat diukur
lebih akurat, misalnya dengan menggunakan laser dan prinsip
interferensi. Tahukah Adik-adik bahwa cahaya adalah gelom-

40 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

bang? Saat dua atau lebih gelombang bertemu, gelombang akan
berpadu. Perpaduan ini dapat memperbesar atau memperkecil
gelombang. Pada cahaya, perpaduan dapat menghasilkan
cahaya terang bahkan kegelapan! Terdengar aneh bukan?
Cahaya dipadukan dengan cahaya, hasilnya malah kegelapan.
Perpaduan ini disebut interferensi. Alat yang menggunakan
prinsip ini untuk mengukur sesuatu disebut interferometer.

Gambar 2. Interferensi cahaya pada interferometer. Perbedaan jarak
tempuh sepanjang seperempat panjang gelombang menyebabkan

interferensi destruktif. Interferensi konstruktif mengakibatkan terang pada
pusat pola gelap terangi nterferensi (kiri), interferensi destruktif
mengakibatkan gelap pada pola (kanan).

Frekuensi sinar laser sudah diketahui dari karakteristik sinar
laser; dan dengan interferometer, kita dapat mengukur panjang
gelombang sinar laser. Kecepatan cahaya pun kemudian dapat
dihitung dengan mengalikan kedua besaran ini.
Meski terdengar rumit, prinsip ini dapat dilakukan di rumah
untuk mengukur kecepatan cahaya. Alatnya pun sederhana:
oven microwave dan coklat besar! Caranya adalah dengan

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 41

menaruh coklat dalam oven sebentar; namun coklat harus diatur
agar tidak berputar selama oven menyala (detail percobaan
dapat ditemukan di blog Science Atelier). Sebaiknya juga, segelas
air dimasukkan ke dalam oven untuk mengurangi pemantulan
gelombang.

Gambar 3. Coklat setelah dipanaskan dalam oven selama beberapa saat.
Hanya bagian tertentu saja yang meleleh. Sisanya masih padat.

Nantinya akan terbentuk "lelehan-lelehan" pada coklat dengan
jarak tertentu. Jarak ini merupakan setengah dari panjang ge-
lombang microwave. Sementara itu, frekuensi microwave ber-
gantung dari oven yang digunakan, dan biasanya tertulis di
bagian belakang oven atau di buku manual-nya.
Selamat mencoba! □

42 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

10. MENGAPA CAHAYA TIDAK TERLIHAT
DI UDARA?

Oleh Alexander A. Iskandar (Fisikawan)

Sebenarnya kita tidak dapat (secara langsung dan visual) me-
lihat cahaya dalam medium apapun!! Kita hanya bisa melihat
cahaya secara tidak langsung.

Cahaya adalah gelombang. Lebih tepatnya, cahaya adalah salah
satu bagian darigelombang elektromagnetik. Gelombang elek-
tromagnetik dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis,
antara lain gelombang radio, gelombang mikro, cahaya tampak
(warna-warna dari merah sampai ungu), sinar X dan sinar
Gamma.

Seperti juga gelombang lainnya (gelombang pada tali, gelom-
bang suara, gelombang pada permukaan air, dan lain lain),
gelombang dapat menjalar, dan untuk tempat yang jauh dari
sumbernya, arah penjalaran gelombang tersebut adalah lurus.
Arah penjalaran ini biasanya digambarkan dengan garis sinar
(walaupun yang dibahas bukan gelombang cahaya, namun istilah
garis sinar tetap dipergunakan untuk menyatakan arah rambat
gelombang tersebut). Arah penjalaran gelombang yang lurus ini
dapat dibelokkan dengan beberapa cara, antara lain
melalui pemantulan dan pembiasan.

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 43

Kita dapat mengetahui adanya gelombang tersebut bila alat
pendeteksi (penangkap) gelombang yang dimiliki (alat deteksi
pada tubuh kita untuk gelombang cahaya adalah mata) me-
nerima garis sinar. Mata manusia sebagai alat penangkap
gelombang elektromagnetik hanya dapat ‘melihat’ gelombang
elektromagnetik dalam daerah cahaya tampak (warna merah
sampai ungu). Dengan kata lain, walaupun gelombang radio atau
gelombang sinar X adalah gelombang elektromagnetik juga,
sama dengan gelombang cahaya tampak, namun mata kita tidak
dapat ‘melihat’ gelombang radio maupun sinar X tersebut.

Namun, seperti yang disebutkan di atas, sebenarnya kita tidak
dapat melihat secara langsung dan visual gelombang elektro-
magnetik dalam medium apapun. Yang ‘terlihat’ oleh alat pen-
deteksi adalah bayangan dari benda yang memantulkan gelom-
bang tersebut, sehingga ada sebagian garis sinar pantul yang
terdeteksi, dan melihat bayangan itulah yang kita artikan se-
bagai ‘melihat’ cahaya tersebut. Dalam sebuah ruangan yang
diterangi oleh lampu, kita dapat melihat benda-benda yang ada
di ruangan tersebut (dinding, meja, kursi, buah apel di atas meja,
dan lain-lain) karena ada cahaya yang berasal dari lampu yang
dipantulkan oleh benda-benda tersebut dan masuk ke mata kita
dan yang terlihat adalah bentuk benda yang memantulkan
cahaya tersebut.

44 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

/LK

Kita seolah-olah dapat ‘melihat’ (berkas) cahaya, bila pada
jalannya sinar berkas cahaya tersebut kita taburi dengan partikel
yang sangat kecil (misalnya tepung). Cahaya yang terpantul dari
tepung dan ditangkap oleh mata akan mem-berikan informasi
keberadaan berkas cahaya tersebut. Hal ini adalah seperti saat
kita ‘melihat’ berkas cahaya yang berasal dari lubang udara dan
masuk ke dalam ruang gelap. Bila kita menatap langsung ke
sumber cahaya (lampu) tersebut, maka kita tetap tidak dapat

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 45

melihat cahaya tersebut, yang terlihat hanyalah bentuk fisik dari
lampu.
Gelombang lain yang tidak terlihat secara visual adalah gelom-
bang suara, sedangkan gelombang pada tali maupun gelom-
bang pada permukaan lain dapat dengan mudah dilihat. □

46 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

11. MENGAPA PENSIL TERLIHAT PATAH
BILA TERCELUP AIR?

Oleh Sparisoma Viridi (Fisikawan)

Saat merambat dalam suatu medium (udara, air, kaca), cahaya
akan menempuh lintasan lurus. Akan tetapi, apabila terdapat
batas dua medium yang berbeda, jalannya cahaya akan di-
belokkan (tidak lagi menempuh lintasan lurus). Peristiwa
pembelokan jalannya cahaya pada batas medium ini disebut
sebagai pembiasan (refraksi). Pensil yang dicelupkan sebagian
dalam air akan terlihat patah dikarenakan jalannya cahaya dari
bagian pensil yang berada di atas permukaan air dan dari bagian
yang tercelup dalam air menempuh lintasan yang tidak sama.
Cahaya dari bagian pensil yang berada di atas permukaan air
menempuh lintasan lurus dari bagian pensil menuju mata,
sedangkan cahaya dari bagian pensil yang tercelup dalam air
menempuh lintasan yang telah dibelokkan karena terdapat dua
medium berbeda yang dilaluinya (air dan udara) dari bagian
pensil menuju mata.

Mata kita menerima cahaya yang masuk dan otak kemudian
mengolahnya. Otak mengintepretasikan cahaya yang masuk
selalu menempuh lintasan lurus, padahal untuk bagian pensil
yang berada di dalam air, cahaya telah dibiaskan. Dalam otak kita

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 47

kemudian akan
muncul gambaran
bahwa bagian
pensil yang ber-
ada di atas per-
mukaan air dan
bagian yang ter-
celup tidak berada
pada suatu garis
lurus. Karena itu, pensil akan terlihat bengkok atau bahkan
patah. [Ilustrasi: DL]

Peristiwa pembiasan seperti ini akan membuat benda (dalam hal
ini bagian pensil yang tercelup) terlihat lebih dangkal dari posisi
sebenarnya. Untuk kasus lain, bila kita ingin menangkap ikan
dengan menggunakan tombak kecil atau panah, kita akan sering
meleset saat melemparkan tombak atau anak panah karena ikan
terlihat lebih dangkal dari seharusnya. Beruang dan beberapa
jenis burung penangkap ikan telah mengenal kesulitan ini
sehingga mereka kemudian mencoba-coba sampai akhirnya
dapat memperkirakan posisi ikan sebenarnya. Setelah itu,
mereka dapat menangkap ikan dengan baik.

Perkiraan sebenarnya posisi benda dalam air dilihat dari atas
permukaan air dapat dirumuskan dengan menggunakan hukum
Snell tentang pembiasan. Dengan sedikit sketsa akan dapat di-
tentukan kedalaman sebenarnya sebagai fungsi dari seberapa
miring kita melihat ke dalam air. □

48 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan

12. APA WARNA AIR SEBENARNYA?

Oleh Jane C. Arifin (Fisikawan)

Air merupakan sumber kehidupan. Kehidupan kita tidak dapat
lepas dari air, mulai dari minum, mandi, sampai air kolam renang
untuk bermain. Jika Adik-adik cukup jeli, saat Adik-adik bermain
di kolam renang atau di laut, Adik-adik mungkin mengamati hal
menarik: air di kolam/laut terlihat sangat biru, namun jika kita
mengambil segelas air dari kolam/laut ini, warnanya bukan lagi
biru melainkan hampir bening (Lihat Gambar 1). Kalau begitu,
apa warna air sebenarnya?

Gambar 1. Air di kolam renang terlihat biru, sementara air kolam di dalam
ember terlihat bening kebiruan. [Sumber gambar: en.wikipedia.org]

Anak Bertanya, Pakar Menjawab 2a 49

Warna yang kita lihat bergantung pada cahaya yang diterima
oleh mata kita. Jika kita menerima lebih banyak cahaya merah,
kita akan melihat warna kemerahan. Sebaliknya jika kita me-
nerima sangat sedikit cahaya merah, kita akan melihat warna
biru kehijauan. Nah, karena itulah untuk mengungkap warna air
yang sebenarnya, kita perlu mengetahui apa yang terjadi de-
ngan cahaya setelah ia melewati air.
Saat cahaya melewati air, sebagian cahaya diserap oleh air. Dari
sekian cahaya yang diserap, cahaya merah lah yang paling
banyak diserap. Adik-adik dapat melihat perbandingan ke-
mampuan air menyerap cahaya warna dari grafik di bawah ini.
Cahaya merah diserap air lebih banyak daripada cahaya biru.
Akibatnya, air berwarna kebiruan.

Gambar 2. Kemampuan air menyerap cahaya. Cahaya merah diserap paling
banyak; cahaya biru-ungu diserap paling sedikit. [Sumber gambar:
www.nature.com]

50 Hendra Gunawan & Dasapta Erwin Irawan


Click to View FlipBook Version