The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E Book ini adalah Skripsi tentang penelitian hubungan antara empati dengan kualitas persahabatan pada remaja

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nuruleka zulfiani, 2020-08-31 01:11:32

Hubungan Antara Empati dengan Kualitas persahabatan pada remaja

E Book ini adalah Skripsi tentang penelitian hubungan antara empati dengan kualitas persahabatan pada remaja

Keywords: Psikologi

HUBUNGAN ANTARA EMPATI DENGAN KUALITAS
PERSAHABATAN PADA REMAJA
SKRIPSI

Oleh :
Nurul Eka Zulfiani

16081476
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

YOGYAKARTA
2020

HUBUNGAN ANTARA EMPATI DENGAN KUALITAS
PERSAHABATAN PADA REMAJA

SKRIPSI

Diajukan kepada :
Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat
Sarjana Strata Satu (S1)

Oleh :
Nurul Eka Zulfiani

16081476

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

YOGYAKARTA
2020

i



PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karva atau pendapat yang
pemah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, 27Agustus 2020

iii

MOTTO
“ Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada

Allah, jangan engkau lemah”
(HR. Muslim)

“..Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan
boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu..”
(Al-Baqarah : 216)

“Bahagia itu terletak pada syukur. Siapa yang bersyukur kepada Allah, maka
dialah orang yang paling Bahagia”
(Ust. Abdul Somad)

“Hidup untuk selalu berbagi dalam kebaikan”
(Nurul Eka Zulfiani)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya ini kupersembahkan untuk :
Orang tuaku tercinta

Papa A. Setyabudi dan mama H. Monoarfa
Untuk adik kesayanganku
Dwi Nuraini Latifah
Almamaterku

Fakultas Psikologi Mercu Buana Yogyakarta

v

UCAPAN TERIMA KASIH
Dengan bersujud kepada Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, yang senantiasa
memberikan rahmat dan hidayah kepada hamba-Nya, saya mengucap syukur dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini. Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa begitu
banyak pihak yang telah turut membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Melalui
kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati, peneliti ingin mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Alimatus Sahrah, M.Si, MM selaku Rektor Universitas Mercu Buana
Yogyakarta.

2. Reny Yuniasanti, M.Psi., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

3. Kondang Budiyani, MA., Psikolog selaku kaprodi Psikologi Universitas
Mercu Buana Yogyakarta.

4. Dr. Sri Muliati Abdullah, MA., Psikolog selaku Dosen Pembimbing
Akademik, yang telah memberikan bimbingan dan nasihat selama peneliti
menempuh pendidikan.

5. Ranni Merli Safitri, S.T., M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang
sangat sabar dalam memberikan bimbingan dan nasihat selama peneliti
mengerjakan penelitian.

6. Anwar, S.Psi., M.Si selaku dosen penguji, yang telah bersedia menjadi
penguji serta memberikan kritik dan saran dalam skripsi ini.

7. Seluruh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Yogyakarta
mengajar serta mendidik peneliti selama menempuh pendidikan.

vi

8. Seluruh karyawan staf Tata Usaha Fakultas Psikologi Universitas
Mercubuana Yogyakarta yang telah membantu keperluan administrasi
selama peneliti akan melakukan penelitian.

9. Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Luwuk yang telah memberikan izin untuk
melakukan penelitian di SMP Negeri 2 Luwuk.

10. Siswa-siswi SMP Negeri 2 Luwuk yang telah bersedia sebagai subjek
penelitian ini.

11. Papa dan mama yang selalu memberikan support dan doa. Terima kasih
karena selalu memberikan nasihat dan menjadi motivasi ku untuk tidak
menyerah ketika menghadapi ujian apapun dan terima kasih mama sudah
melahirkan aku kedunia sehingga aku dapat merasakan kehidupan di dunia
serta papa terima kasih telah memberi candaan kecil ketika aku tengah
merasa lelah selama melakukan penelitian.

12. Adik ku yang selalu mendukung setiap proses ku dan selalu siap
mendengarkan keluhan ku selama penelitian.

13. Teman-teman recehku Aisyah, Dini, Digna, Leli, dan Nanat yang selalu
dan saling memberi dukungan setiap proses pengerjaan penelitian ini.

14. Teman-teman seperjuangan angkatan 2016. Terima kasih atas diskusi yang
sangat baik selama ini.

15. Pengurus-pengurus UKMI Mercu Buana Yogyakarta yang telah
memberikan semangat kepada peneliti.

16. Seluruh pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang turut
membantu sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

vii

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skipsi ini masih jauh dari kata
kesempurnaan. Keterbatasan dan kekurangan dalam penulisan skripsi ini
menimbulkan harapan bagi penulis terhadap adanya saran maupun kritik yang
membangun demi perbaikan skripsi ini atau pada penelitian selanjutnya. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, Aamiin

Yogyakarta, Juni 2020
Penulis

Nurul Eka Zulfiani

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ii
PERNYATAAN ................................................................................................iii
MOTTO ............................................................................................................iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... v
UCAPAN TERIMA KASIH.............................................................................vi
ABSTRAK.......................................................................................................xiii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1

A. Latar Belakang Permasalahan ............................................................ 1
B. Tujuan Dan Manfaat Penelitian .......................................................... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 9
A. Kualitas Persahabatan ....................................................................... 9

1.Pengertian Kualitas Persahabata…………………………………... 9
2. Aspek-Aspek Kualitas Persahabatan……………………………..10
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas persahabatan............ 13
B. Empati ............................................................................................ 16
1. Pengertian empati........................................................................ 16
2. Aspek-Aspek Empati .................................................................. 16

ix

C. Hubungan Empati dengan Kualitas Persahabatan pada Remaja ........ 19
D. Hipotesis.......................................................................................... 21
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 22
A. Identifikasi Veriabel dan definisi Operasional ................................. 22
B. Subjek Penelitian ............................................................................ 23
C. Metode Pengumpulan data.............................................................. 23
D. Pelaksanaan Penelitian.................................................................... 30
E. Metode Analisis data....................................................................... 31
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................... 32
A. Hasil Penelitian................................................................................ 32

1.Deskripsi Data Penelitian .............................................................. 32
2. Hasil Uji Prasyarat ....................................................................... 35

A. Uji Normalitas ........................................................................ 35
B. Uji linieritas ............................................................................ 35
3. Uji Hipotesis ................................................................................. 36
B. Pembahasan ...................................................................................... 37
BAB V PENUTUP ........................................................................................... 41
A. Kesimpulan ...................................................................................... 41
B. Saran................................................................................................. 41
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................43

x

DAFTAR TABEL
Tabel 1 BluePrint Skala Kualitas Persahabatan……………………………… 28
Tabel 2 Blueprint Penelitian Skala Kualitas Persahabatan………………....... 28
Tabel 3 Blueprint Skala Empati……………………………………………… 30
Tabel 4 Blueprint penelitian skala empati…………………………………….31
Tabel 5 Deksripsi data statistik………………………………………………. 34
Tabel 6. Kategorisasi Kualitas persahabatan………………………………… 34
Tabel 7. Kategorisasi Empati………………………………………………....35
Tabel 8. Hasil Uji Normalitas…………………………………………….......36

xi

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 Skala Try Out…………………………………………... 47
LAMPIRAN 2 Data Try Out………………………………………….... 54
LAMPIRAN 3 Reliabilitas Data Try Out……………………………… 62
LAMPIRAN 4 Skala Penelitian………………………………………... 78
LAMPIRAN 5 Data Penelitian………………………………………..... 83
LAMPIRAN 6 Deskripsi Data…………………………………………. 89
LAMPIRAN 7 Uji Normalitas…………………………………………. 90
LAMPIRAN 8 Uji Linieritas…………………………………………… 96
LAMPIRAN 9 Uji Hipotesis…………………………………………… 98

xii

ABSTRAK
Kualitas persahabatan dapat diartikan sebagai hubungan yang berfungsi baik dan
mampu memberikan suatu dukungan yang positif dan menjadikan individu menjadi
lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara empati
dengan kualitas persahabatan pada remaja. Hipotesis yang di ajukan ada hubungan
yang positif antara empati dengan kualitas persahabatan. Subjek penelitian ini
adalah siswa SMP yang berjumlah 60 dengan rentang usia 15-16 tahun.
Pengumpulan data dilakukan dengan mengunakan skala kualitas persahabatan dan
empati. Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah
metode kuantitatif dengan instrumen pengukuran model skala Likert. Metode
analisis data yang digunakan analisis statistik korelasi product moment dari
Pearson. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi r = 0,264 taraf
signifikansi (p˂0,050). Hal ini menunjukkan bahwa bahwa ada hubungan yang
positif antara empati dengan kualitas persahabatan. Koefisien determinasi (R2)
dalam penelitian ini sebesar 0,070% yang berarti bahwa empati memberikan
sumbangan terhadap kualitas persahabatan sebesar 7% dan sisanya sebesar 93%
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti.

Kata kunci : Kualitas persahabatan, Empati, Remaja

xiii

ABSTRACT
Quality of friendship can be interpreted as a relationship that functions well and is
able to provide positive support and make individuals better. This study aims to
determine the relationship between empathy and the quality of friendship in
adolescents. The hypothesis proposed is that there is a positive relationship
between empathy and the quality of friendship. The subjects of this study were 60
junior high school students aged 15-16 years. The data was collected using a scale
of friendship and empathy quality. The data collection method used in this study is
a quantitative method with a Likert scale model measurement instrument. Data
analysis method used statistical analysis of Pearson product moment correlation.
The results showed the correlation coefficient r = 0.264 significance level
(p˂0.050). This shows that there is a positive relationship between empathy and
the quality of friendship. The coefficient of determination (R2) in this study is
0.070%, which means that empathy contributes to the quality of friendship by 7%
and the remaining 93% is influenced by other factors not examined.
Keywords: quality of friendship, empathy, teen

xiv

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak, yaitu masa
perkembangan yang dimulai sejak usia 10 ataupun lebih awal sampai pada masa
remaja akhir yaitu sekitar usia dua puluh awal. Pada masa remaja ini banyak
melibatkan perubahan-perubahan, baik dari aspek fisik, kognitif, dan psikososial
yang berkaitan (Papalia, 2013). Menurut Santrock (2017) masa remaja diawali
ketika memasuki usia 10 sampai sekitar 22 tahun. Menurut Laursen dan Hartl
(dalam Garvin, 2017) masa remaja merupakan masa dimana antara anak-anak dan
menuju dewasa, dengan ditandainya sebagai masa yang penuh dengan stress
ataupun tekanan karena banyak mengalami perubahan dunia sosial yang cukup
drastis. Pada individu yang tergolong remaja akan berada dalam keadaan labil dan
emosional karena mengalami banyak perubahan-perubahan yang berlangsung
cepat. (Ifdil, Ilyas, Denich. 2017). Soejanto (dalam Asmani, 2011) juga menyatakan
bahwa seseorang ketika memasuki usia 13 hingga 22 tahun maka ia telah memasuki
masa remaja, yaitu dimana masa yang sulit dimengerti dan harus dihadapi, serta
penuh dengan tantangan.
Pada masa remaja suatu hubungan yang dijalin makin luas, tidak hanya pada
orangtua tetapi juga pada lingkungan luar keluarga seperti teman-teman, dan hal
tersebut menjadi masa pencarian identitas diri pada remaja. Havighurst (dalam
Sarwono, 2002) menjelaskan bahwa pada remaja ada pencapaian suatu hubungan
yang lebih matang dengan teman sebaya merupakan salah satu dari tugas

1

2

perkembangannya. Menurut Monks & Knoers (2014) pada masa remaja ada proses
mencari identitas. Dimana remaja sendiri akan berusaha melepaskan diri dari aturan
orang tua, hal tersebut dilakukan untuk menemukan dirinya. Monks & Knoers
(2014) menjelaskan bahwa proses perkembangan identitas khususnya pada remaja
berada pada situasi yang berbeda-beda antara lain, “achiement” yaitu menemukan
identitas setelah melakukan ekplorasi, kemudian adanya “moratorium” yaitu
remaja yang masih atau sedang mencari identitas dirinya, kemudian ada status
“foreclosure” yaitu remaja telah menemukan identitas tanpa adanya ekplorasi
terlebih dahulu, kemudian adanya “commitments” yaitu setelah tahapan dalam
mencari identias dapat diketahui bahwa apakah dapat berdampak lemah atau
kuatnya yang ditujukan dalam berbagai hal.

Papalia (2013) menyatakan bahwa pertemanan dimasa remaja lebih penting
dan memiliki ikatan yang kuat dibandingkan dimasa-masa lainnya dalam kehidupan
manusia, karena pada masa remaja waktu yang dihabiskan dengan teman sebaya
lebih banyak. Hurlock (1993) mengemukakan bahwa masa remaja erat
hubungannya dengan masalah nilai - nilai yang selaras dengan orang dewasa antara
lain tugas mengembangkan sikap sosial yang bertanggung jawab. Monks & Knoers
(2014) juga menjelaskan bahwa di Indonesia terutama pada kota-kota besar, remaja
merupakan masa dimana saatnya untuk belajar disekolah. Karena pada permulaan
masa remaja umumnya berada pada bangku sekolah menengah pertama ataupun
dalam setingkatnya. salah satu nilai sosial yang sangat penting bagi siswa sebagai
mahluk sosial adalah empati. Hal ini dilatar belakangi oleh kondisi saat ini yang

3

menunjukan kecenderungan kurang tertanamnya sikap empati sosial pada kalangan
remaja (siswa SMP).

Menurut Dariyo (2015) kesediaan remaja untuk berkenalan dengan orang
lain, merupakan suatu bentuk aktif dalam lingkungan sosial. Menurut Santrock
(2003) ketika kualitas persahabatan pada remaja semakin besar maka remaja
dituntut lebih mempelajari dan memahami bagaimana kemampuan untuk hubungan
dekat, seperti bagaimana cara agar diri sendiri dapat terbuka dan mampu memiliki
dukungan emosi.

Sullivan (dalam Santrock, 2012) Persahabatan di masa remaja menjadi
penting, persahabatan dapat terjalin baik dengan adanya rasa saling mengerti,
ketulusan, saling percaya dan saling melengkapi. Kualitas persahabatan
mempengaruhi keberhasilan dalam interaksi sosial dengan teman sebaya. Kualitas
persahabatan juga memiliki pengaruh langsung dalam mempengaruhi sikap dan
perilaku dengan kualitas persahabatan yang tinggi dapat mengurangi rasa malu
serta isolasi diri. Dimana hal tersebut juga untuk memenuhi kebutuhan sosialnya,
bahwa kebutuhan akan imitasi meningkat dimasa remaja awal, dan akan
memotivasi remaja untuk mencari sahabat. Berbagai macam hubungan dengan
teman sebaya, terdapat salah satu hubungan interpersonal yang disebut dengan
persahabatan Furman & Robbin (Mappire, 1982) menyebutkan bahwa ketika
remaja merasa cocok dengan teman yang telah dikenalnya, seorang remaja akan
membentuk berbagai macam komunitas. David (dalam Hall, 1995) menyatakan
bahwa persahabatan merupakan hubungan yang melibatkan beberapa aspek yaitu
kepercayaan, kesenangan, saling mendukung, saling menghormati, perhatian serta

4

spontanitas. Individu yang menjalin persahabatan tidak terlepas dari kualitas
hubungan antar individu dengan temannya, Menurut Berndt (2002) teman yang
baik didefinisikan sebagai individu yang memiliki persahabatan dengan kualitas
tinggi. Menurut Berndt (2002) kualitas persahabatan merupakan suatu tingkatan
yang paling unggul dalam suatu pertemanan pada dimensi buruk dan baik dan
dilakukan secara bersama-sama. Menurut Asher & Parker (1993) aspek-aspek
kualitas persahabatan yaitu : Pengakuan dan pengertian, Konflik dan penghianatan,
Berkawan dan berekreasi, Pertolongan dan bimbingan, Pertukaran, Pemecahan
masalah.

Berdasarkan hasil wawancara langsung yang dilakukan pada 30 September
2019 dengan siswa SMPN salah satu di Yogyakarta, diperoleh data sebanyak 9 dari
11 siswa menunjukkan aspek-aspek dari kualitas persahabatan yaitu saling percaya,
saling menghargai, serta dapat mendukung temannya. Tetapi dalam persahabatan
juga sering terjadinya perselisihan seperti kesalahpahaman sehingga menimbulkan
miskomunikasi dan juga perbedaan pendapat.

Berdasarkan penelitian dari Puspawuni (2014) Dilihat dari perkembangan
jaman saat ini kepedulian remaja mulai berkurang, dari mulai lingkungan tempat
tinggal sampai tempat bergaul mempengaruhi nilai empati. Lunturnya empati
ditandai dari remaja yang tidak menghargai orang lain dan enggan membantu antar
sesama teman. Menurut Papalia (2013) kedekatan dengan teman sebaya dapat
meningkatkan munculnya kepedulian remaja terhadap diri mereka sendiri. Dengan
cara bercerita pada teman sebaya sehingga membantu remaja untuk lebih
memahami perasaan mereka serta dapat menjelaskan identitas mereka sendiri.

5

Menurut Santrock (2007) bahwa pada pandangan anak-anak, persahabatan itu
hanya sebagai suatu kebutuhan. Remaja sadar akan kebutuhannya pada orang lain
untuk mengembangkan potensi dan kompetensinya. Pada saat remaja, kualitas
persahabatan menjadi hal utama dalam bersosial sehingga remaja jadi lebih untuk
mendalami dan memahaminya. Jadi remaja yang bisa mengungkapkan perasaan
serta pemikiran mereka dengan baik, akan lebih mudah untuk remaja tersebut dapat
memahami pemikiran dan perasaan teman sebayanya serta juga dapat
mempertimbangkan sudut pandang orang lain (Daniel, 2013)

Dari beberapa hasil penelitian didapat faktor-faktor yang mempengaruhi
kualitas persahabatan, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Lin hanifah (2014)
menemukan empati, Diantika (2017) menemukan kecerdasan emosi, Sya’diyah
(2018) menemukan parental attachment, dan Christiareni (2018) menemukan
komunikasi interpersonal.

Berdasarkan faktor di atas, peneliti memilih empati sebagai faktor prediktor
yang mempengaruhi kualitas persahabatan. Empati dapat membentuk bagian
penting dalam hubungan persahabatan. Dalam berempati, kita berusaha mengerti
bagaimana sahabat merasakan perasaan tertentu, kita akan terbiasa melihat sesuatu
dari sisi orang lain. Perasaan empati juga akan mendorong kita untuk lebih dalam
melihat dan menyelesaikan sebuah masalah (Santi Artanti, 2010).

Menurut Yazemin Ozkan & Elif Cifci (dalam Rachmah, 2014) menyatakan
bahwa empati merupakan suatu kemampuan individu dalam menempatkan dirinya
pada situasi yang dirasakan orang lain dan melihat permasalahan orang lain melalui
perspektif orang tersebut. Sehingga empati dapat menjadi dasar utama dalam

6

menjalankan relasi, Karena ketika relasi ada dengan diawali empati maka seseorang
mampu memahami perspektif orang lain dan relasi akan berjalan lebih baik, seperti
halnya dalam persahabatan dengan teman sebaya.

Menurut Hurlock (1993) empati adalah suatu kemampuan individu dalam
mengerti serta memahami perasaan dan emosi dari orang lain. Ada juga
kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain, seperti membayangkan diri
sendiri mengalami perasaan yang sama dengan orang tersebut. Adapun aspek-aspek
dari empati Menurut Davis (1980) yaitu : Perspective Taking, Fantasy, Empathic
concern, dan Personal Distress. Berdasarkan uraian yang dijelaskan Berndt
(Anggraini & Cucuani, 2014) bahwa dalam persahabatan dengan kualitas yang
tinggi dapat ditandai dengan tingginya tingkat perilaku didalamnya, seperti perilaku
prososial, keintiman dalam persahabatan, dan ciri positif lainnya, serta terdapat juga
ciri negatif dalam persahabatan.

Empati remaja memiliki kecenderungan rendahnya empati sebagai wujud sikap
sosial dan kemanusiaan. Keadaan tersebut dari pandangan teori belajar
behavioristik dapat disebabkan oleh minimnya pengalaman siswa dalam kehidupan
sehari-hari, cara individu bereaksi terhadap orang-orang di sekitarnya dan
bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya. Terutama dilingkungan
sekolah dengan interaksi bersama teman sebaya. Dalam masa remaja empati yang
berkembang baik membuat remaja mampu merasakan apa yang dirasakan oleh
sahabatnya dan memahami kondisi sahabatnya, sehingga dengan berempati akan
menunjukkan bahwa remaja orang yang peduli, bisa ikut merasakan yang dirasakan
oleh sahabat, dapat saling mengerti dan memahami satu sama lain, agar sahabat

7

nyaman ketika bersama-sama, dan terhindar dari perselisihan, serta tidak terjadi
kesalahpahaman. Ini menandakan bahwa persahabatan tersebut memiliki kualitas
persahabatan yang tinggi. Serta Permasalahan dan konflik diantara sahabat
disebabkan karena kurangnya empati dalam hubungan persahabatan. Hal ini
menunjukkan bahwa empati berperan penting terhadap kualitas persahabatan.
Berdasarkan pemaparan diatas dapat dilihat bahwa kualitas persahabatan
dipengaruhi oleh empati.

Atas dasar uraian di atas, maka permasalahan yang diajukan dalam penelitian
ini apakah ada hubungan antara empati dengan kualitas persahabatan pada remaja?

B. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara empati
dengan kualitas persahabatan pada remaja
2. Manfaat penelitian
a. Manfaat teoritis,

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dengan
memperkaya hasil penelitian sebelumnya atau sebagai bahan referensi
teoretis dan empiris yang dapat menjadi penunjang untuk penelitian
selanjutnya berkaitan dengan empati dan kualitas persahabatan.
b. Manfaat praktis,

8

Pada penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat praktis yaitu
berkaitan dengan informasi tambahan mengenai kualitas persahabatan
serta hal-hal yang berkaitan dengan kualitas persahabatan pada remaja.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kualitas Persahabatan
1. Pengertian Kualitas Persahabatan

Santrock (2003) mengemukakan persahabatan adalah suatu
hubungan antar individu dengan individu lainnya dengan adanya keakraban,
saling percaya, saling menerima, dapat berbagi dalam beberapa hal dan
kadang melakukan aktivitas bersama. Menurut Baron & Byrne (2004)
persahabatan merupakan hubungan antara dua orang yang menghabiskan
waktu bersama, berinteraksi serta memberikan dukungan emosional pada
orang tersebut. Persabahatan dibentuk dari hubungan yang dekat dengan
melibatkan beberapa aspek yaitu kesenangan, penerimaan, respect, saling
membantu, dan saling persaya.

Menurut Ahmadi (2009) persahabatan merupakan konsep sosial
yang murni. Persahabatan menuntut pemeliharaan dalam semua
interaksinya, sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat seperti hubungan
individu antar individu atau antar kelompok. Menurut Hartup (dalam
Brendgen, dkk., 2001) kualitas persahabatan adalah suatu hubungan yang
memiliki aspek kualitatif pertemanan, dukungan serta konflik dalam
persahabatan tersebut.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kualitas
persahabatan merupakan suatu hubungan antara individu dengan individu

9

10

lainnya dengan ditandainya keakraban, saling percaya, saling menerima,
berbagi dalam beberapa hal dan juga mencakup aspek kualitatif seperti
pertemanan, dukungan serta konflik dalam persahabatan tersebut.

2. Aspek-Aspek Kualitas Persahabatan

Menurut Parker dan Asher (1993) menyatakan bahwa terdapat enam

aspek dalam kualitas persahabatan yaitu :

a. Pengakuan dan pengertian

Suatu hubungan persabatan yang ditandai dengan kepedulian,

kejujuran serta dukungan dari hubungan tersebut. Dukungan dan

perhatian merupakan derajat hubungan yang dikarakteristikkan oleh

saling peduli antara satu sama lain, dukungan yang diberikan (support)

dan minat satu sama lain.

b. Konflik dan penghianatan

Persahabatan ditandai karena adanya argument, ketidaksetujuan,

serta adanya masalah yang tidak bisa diatasi bersama karena kurangnya

kepercayaan dalam hubungan tersebut. biasanya dilambangkan seperti

perbedaan pendapat (argumen), ketidaksetujuan,

gangguan/kejengkelan, serta kecurigaan/ ketidakpercayaan.

c. Berkawan dan berekreasi

Persahabatan yang ditandai karena kesenangan dengan teman-teman

dan menghabiskan waktu bersama. Seperti sering menghabiskan

kegiatan diluar ataupun di dalam sekolah bersama-sama.

11

d. Pertolongan dan bimbingan
Hubungan ditandai dengan membantu satu sama lain dan dapat

memberikan solusi dalam segala hal. Tingkat usaha teman untuk
membantu dan membimbing satu sama lain dalam rutinitas atau tugas-
tugas yang menantang.
e. Pertukaran keakraban

Persahabatan karena adanya keterbukaan perasaan satu sama lain,
serta saling berbagi informasi baik dalam hal pribadi atau perasaan.
f. Pemecahan masalah

Persahabatan yang diawali adanya masalah dan kemudian bisa
saling percaya serta menyelesaikan masalah tersebut dengan efisien dan
adil secara bersama-sama.

Menurut Ahmadi (2009) terdapat ciri-ciri dari persahabatan yaitu :

a. Mereka menghargai satu sama lain
Timbulnya persahabatan ini dulu bersumber dan saling menyukai

dan saling memelihara hubungan satu sama lain.
b. Persahabatan sebagai suatu hubungan antar pribadi

Lebih menekankan pada kualitas yang objektif satu sama lain. Misal
menyukai seseorang karena rambutnya, mobil, uang ataupun
jabatannya. Sehingga persahabatan ini akan terputus ketika teman
tersebut tidak memiliki apa-apa yang dimilikinya.
c. Saling bertukar barang-barang di antara teman

12

Bertukar barang dengan teman yang didasarkan oleh kesukaan,
harapan serta keinginan antara mereka, bukan karena jumlah ataupun
nilai ekonpmiknya. Ketika sahabatan memberikan hadiah maka
pemberian tersebut yang disukainya, dan juga mereka saling memberi
tanpa adanya keinginan untuk memperoleh imbalan.
d. Saling bersahabat karena keunikannya

Hal ini sulit digantikan oleh orang lain karena keunikan dari sahabat,
persahabatan tidak mudah untuk putus karena telah mengenal dengan
baik dan selalu memperlihatkan adanya keintiman, individualis, serta
kesetiaan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek pada
kualitas persahabatan menurut Parker and Asher yaitu: Pengakuan dan
pengertian, Konflik dn penghianatan, berkawan dan berekreasi, pertolongan
dan bimbingan, pertukaran keakraban, pemecahan masalah. Sedangkan
menurut Abu Ahmadi terdapat ciri-ciri dari persahabatan yaitu: Mereka
menghargai satu sama lain, persahabatan sebagai suatu hubungan antar
pribadi, saling bertukar barang-barang di antara teman, dan saling
bersahabat karena keunikannya.

Dari kedua aspek dan ciri di atas, penyusun memilih aspek menurut Parker
and Asher karena sesuai dengan pembahasan mengenai variabel kualitas
persahabatan itu sendiri dan juga mencakup keseluruhan penjelasan dari
kualitas pesahabatan.

13

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas persahabatan
Dari beberapa hasil penelitian didapatkan faktor-faktor yang

mempengaruhi kualitas persahabatan yaitu :
1. Empati

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lin (2014) pada mahasiswa
dengan usia remaja akhir, menemukan bahwa adanya hubungan positif
antara empati dengan kualitas persahabatan. Artinya, semakin tinggi
empati maka semakin tinggi pula tingkat kualitas persahabatan pada
mahasiswa. Sebaliknya, semakin rendah empati maka semakin rendah
pula kualitas persahabatan pada mahasiswa.

Baron dan Byrne (2005) menyatakan dalam buku psikologi sosial
bahwa empati adalah merupakan suatu kemampuan yang dimiliki
seseorang untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasakan
simpatik, mencoba menyelesaikan masalah dengan mengambil
perspektif orang lain.
2. Kecerdasan emosi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Diantika (2017) pada remaja
akhir, menemukan bahwa adanya hubungan positif yang signifikan
antara kecerdasan emosi dengan kualitas persahabatan. Artinya,
semakin tinggi kecerdasan maka semakin tinggi pula kualitas
persahabatan pada remaja. Sebaliknya, semakin rendah kecerdasan

14

emosi maka semakin rendah pula kualitas persahabatan pada remaja
akhir.

Kecerdasan emosional menurut Salovey dan Mayer (dalam Barret &
Salovey, 2002) memiliki arti yaitu kemampuan untuk memahami,
menilai, mengekspresikan emosi secara tepat serta kemampuan untuk
mengelola emosi diri.
3. Parental Attachment

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sya’diyah (2018)
menunjukkan bahwa adanya hubungan yang positif antara parental
attachment dengan kualitas persahabatan. Artinya, semakin tinggi pola
parental attachment maka semakin tinggi pula friendship quality pada
remaja awal di Pondok Pesantren Darul Ulum Tlasih. Sebaliknya,
semakin rendah pola parental attachment maka semakin rendah pula
friendship quality pada remaja awal di Pondok Pesantren Darul Ulum
Tlasih.

Baron & Byrne (2005) mendefinisikan pola attachment sebagai
derajat rasa aman yang dirasakan bayi di dalam interaksi ibu dan
bayinya, yang diyakini menghasilkan pola kelekatan yang secure
(aman), avoidant (menghindar), atau ambivalent, yang akan
mempengaruhi perilaku interpersonal selama hidup.
4. Komunikasi Interpersonal

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Christiareni (2018)
menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara komunikasi

15

interpersonal dan kualitas persahabatan pada mahasiswa. Semakin
tinggi tingkat komunikasi interpersonal seseorang maka persahabatan
semakin berkualitas. Sebaliknya, semakin rendah komunikasi
interpersonal seseorang maka persahabatan kurang berkualitas.

Keterampilan komunikasi interpersonal menurut Changara
(Christiareni, 2018) merupakan suatu kemampuan yang dimiliki
seseorang dalam mengirimkan atau menyampaikan pesan kepada orang
lain.
Berdasarkan pemaparan di atas disimpulkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi Kualitas persahabatan yaitu empati, kecerdasan emosi,
parental attachment, dan komunikasi interpersonal.
Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan kajiannya pada faktor
empati sebagai faktor prediktor. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Lin (2014) pada mahasiswa dengan usia remaja akhir, menemukan
bahwa adanya hubungan positif antara empati dengan kualitas
persahabatan.

16

B. Empati

1. Pengertian empati
Menurut Hurlock (1993) empati adalah suatu kemampuan individu

dalam mengerti serta memahami perasaan dan emosi dari orang lain. Ada
juga kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain, seperti
membayangkan diri sendiri mengalami perasaan yang sama dengan orang
tersebut. Dalam Howe (2015), menurut pakar psikologi Edward. Etimologi
dari Empathy berasal dari kata yunani yaitu empatheia yang merupakan
memasuki perasaan orang lain atau ikut merasakan apa keinginan ataupun
kesedihan yang dialami oleh seseorang.

Baron dan Byrne (2005) empati merupakan suatu kemampuan yang
dimiliki seseorang untuk merasakan keadaan emosional orang lain,
merasakan simpatik, mencoba menyelesaikan masalah dengan mengambil
perspektif orang lain.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa empati
merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam
memaahami dan merasakan keadaan serta perasaan orang lain, dengan
membayangkan diri berada dalam posisi yang sama dengan orang tersebut.

2. Aspek-Aspek Empati
Menurut Davis (1980) ada 4 aspek empati yaitu :

a. Perspective Taking,

17

Pandangan orang lain tentang bagaimana individu memandang
segala hal dari perasaan dan sudut pandang orang lain. Mean (dalam
Davis,1983) menekankan pentingnya kemampuan dalam perspective
taking untuk perilaku non egosentrik, yaitu kemampuan yang tidak
berorientasi ada kepentingan sendiri, tetap kepentingan orang lain.
Kemampuan perspective taking membuat seorang individu mengetahui
perilaku dan reaksi dari orang lain, karenanya memudahkan dan lebih
menghargai hubungan interpersonal.
b. Fantasy,

Individu yang terbawa perasaan yang ada pada novel ataupun film.
Kemampuan seseorang untuk mengubah dirinya secara imajinatif dalam
mengalami perasaan dan tindakan dari karakter khayal dalam buku, film
atau cerita yang dibaca serta apa yang diceritakan individu lain dan yang
ditontonnya. Davis (2014) juga mengemukakan bahwa fantasi
merupakan aspek yang berpengaruh pada reaksi emosi terhadap orang
lain dan menghasilkan perilaku menolong.
c. Empathic concern,

Sikap kepedulian pada orang lain yang ada dilingkungan sekitar.
Suatu orientasi seseorang terhadap orang lain berupa simpati, kasihan,
dan peduli terhadap orang lain yang mengalami kesulitan.
d. Personal Distress

Munculnya perasaan cemas dan takut akan keretakan dalam
hubungan individu tersebut seperti pertemanan dan persahabatan. Suatu

18

pengendalian reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain, yang
meliputi perasaan terkejut, takut, cemas, prihatin, dan tidak berdaya
(tetapi lebih fokus pada diri sendiri)
Adapun Aspek-aspek empati menurut Baron & Byrne (2005) :
1. Aspek kognitif

Mampu memahami apa yang dirasakan oleh orang lain dan
mengetahui mengapa hal tersebut dapat terjadi pada orang tersebut.
2. Aspek Afektif

Mampu merasakan apa yang orang lain rasakan dan berusaha untuk
membantu orang tersebut dalam mengurangi penderitaan.
Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa aspek-aspek empati
menurut Davis meliputi perspective taking, fantasy, empathic concern, dan
personal distress. Sedangkan menurut Baron & Byrne meliputi aspek kognitif dan
afektif.
Dalam penelitian ini, peneliti memilih untuk menggunakan aspek-aspek
yang dikemukakan oleh Davis (1980) karena aspek tersebut memudahkan peneliti
untuk memahaminya dan dalam pembuatan pengumpulan data.

19

C. Hubungan antara Empati dengan Kualitas Persahabatan pada Remaja
Empati adalah suatu kemampuan individu dalam mengerti serta memahami

perasaan dan emosi dari orang lain (Hurlock, 1993). Ada juga kemampuan
menempatkan diri pada posisi orang lain, seperti membayangkan diri sendiri
mengalami perasaan yang sama dengan orang tersebut. Remaja memiliki
kecenderungan rendahnya empati sebagai wujud sikap sosial dan kemanusiaan.
Keadaan tersebut dari pandangan teori belajar behavioristik dapat disebabkan oleh
minimnya pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari, cara individu bereaksi
terhadap orang-orang di sekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap
dirinya. Terutama dilingkungan sekolah dengan interaksi bersama teman sebaya.
Adapun aspek-aspek dari empati Menurut Davis (1980) yaitu : Perspective Taking,
Fantasy, Empathic concern, dan Personal Distress.

Aspek Perspective Taking, merupakan pandangan orang lain tentang
bagaimana individu memandang segala hal dari perasaan dan sudut pandang orang
lain. Terdapat dua penekanan yaitu dalam perilaku non egosentrik, yang merupakan
kemampuan yang tidak berorientasi pada kepentingan sendiri tetapi pada
kepentingan orang lain juga. perspective taking berhubungan dengan reaksi
emosional dan perilaku menolong pada remaja, dalam masa remaja hubungan antar
teman sebaya cenderung lebih efektif sehingga banyak remaja menjalin hubungan
persahabatan dengan teman sebaya, seperti hubungan dalam persahabatan dengan
membantu satu sama lain dan dapat memberikan solusi dalam segala hal. Ketika
individu dapat memposisikan diri pada situasi dan kondisi sahabatnya untuk
kemudian membantu penyelesaian masalahnya.

20

Aspek Fantasy, kemampuan seseorang untuk mengubah dirinya secara
imajinatif dalam mengalami perasaan dan tindakan dari karakter khayal dalam
buku, film atau cerita yang dibaca serta apa yang diceritakan individu lain dan
yang ditontonnya. Ketika individu berimajinatif akan terstimuli untuk
menyampaikan perasaan atau persepsi atas suatu kejadian. Dalam suatu
persahabatan ada juga keakraban, bagaimana individu satu dengan yang lainnya
dalam suatu hubungan bisa saling terbuka akan perasaan satu sama lain, ketika
seseorang terbuka untuk berbagi informasi pada temannya maka kualitas
persahabatan pada hubungan tersebut semakin lebih baik.

Aspek Emphatic concern, merupakan sikap kepedulian pada orang lain
yang ada dilingkungan sekitar. Suatu orientasi seseorang terhadap orang lain
berupa simpati, kasihan, dan peduli terhadap orang lain yang mengalami
kesulitan. Aspek ini sejalan dengan salah satu aspek kualitas persahabatan yaitu
suatu hubungan persahabatan yang ditandai dengan kepedulian, kejujuran serta
dukungan dari hubungan tersebut, perilaku kepedulian dan saling menolong pada
teman sebaya merupakan cerminan dari perasaan kehangatan yang erat dan
berkaiatan dengan kepekaan terhadap teman sebaya yang memiliki hubungan
dekat. Salah satu tanda kualitas persahabatan semakin kuat yaitu bagaimana
kepedulian individu satu dengan yang lain dalam hubungan persahabatan.

Aspek personal distress, munculnya perasaan cemas dan takut akan
keretakan dalam hubungan individu seperti pertemanan dan persahabatan. Suatu
pengendalian reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain, yang meliputi
perasaan terkejut, takut, cemas, prihatin, dan tidak berdaya (tetapi lebih fokus

21

pada diri sendiri). Dalam persahabatan ketika seseorang mengalami konflik
dengan teman sebayanya maka dibutuhkan pengertian satu individu dengan
individu lainnya dalam persahabatan, dan dapat menyelesaikan permasalahan
bersama-sama.

Remaja yang berempati dapat mempengaruhi dirinya dan juga orang lain,
ketika remaja berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain terutama di
lingkungan sekolah dapat munculnya kemampuan berempati, yang
mempengaruhi juga hubungan antar teman. Empati dapat membentuk bagian
penting dalam hubungan persahabatan. Karena dalam berempati, kita berusaha
mengerti bagaimana sahabat merasakan perasaan tertentu, kita akan terbiasa
melihat sesuatu dari sisi orang lain. Perasaan empati juga akan mendorong kita
untuk lebih dalam melihat dan menyelesaikan sebuah masalah.

D. Hipotesis
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka penyusun mengajukan hipotesis
sebagai berikut, Ada hubungan yang positif antara empati dengan kualitas
persahabatan, Semakin tinggi empati pada remaja maka semakin tinggi pula
kualitas persahabatan yang dimiliki remaja. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah
empati pada remaja maka semakin rendah pula kualitas persahabatan yang dimiliki
remaja.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Veriabel dan definisi Operasional
Berdasarkan rumusan permasalahan serta rumusan hipotesis penelitian maka
yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel Kriterium (Y) : Kualitas persahabatan
2. Variabel predictor (X) : Empati
Adapun variabel operasional dari vaiabel-variabel diatas, yaitu :
1. Kualitas Persahabatan
Kualitas persahabatan merupakan suatu hubungan antara individu
dengan individu lainnya dengan ditandainya keakraban, saling percaya,
saling menerima, berbagi dalam beberapa hal dan juga mencakup aspek
kualitatif seperti pertemanan, dukungan serta konflik dalam persahabatan
tersebut. Kualitas persahabatan dalam penelitian ini akan diukur dengan
menggunakan skala kualitas persahabatan yang dimodifikasi oleh peneliti
dari FQQ (Frienship Quality Questionaire) yang mengacu pada aspek-
aspek kualitas persahabatan dari Parker dan Asher (1993). Pada skala
kualitas persahabatan skor tinggi menunjukkan kualitas persahabatan yang
tinggi dan sebaliknya apabila skor rendah menunjukkan kualitas
persahabatan yang rendah.

23

23

2. Empati
Empati adalah suatu kemampuan individu dalam mengerti serta

memahami perasaan dan emosi dari orang lain. Ada juga kemampuan
menempatkan diri pada posisi orang lain, seperti membayangkan diri sendiri
mengalami perasaan yang sama dengan orang tersebut. Empati dalam
penelitian ini akan di ukur dengan menggunakan skala Empati yang disusun
oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek dari David (1983, 2014), yaitu
perspective taking, fantasy, empathic concern, dan personal distress. Skor
yang diperoleh dari skala empati menunjukkan tinggi rendahnya empati
pada remaja. Skor tinggi menunjukkan empati yang tinggi dan sebaliknya
apabila skor rendah menunjukkan empati yang rendah.

B. Subjek Penelitian
Karakteristik subjek dari penelitian ini adalah Siswa SMP Negeri 2 Luwuk
dengan rentang usia 15-16 tahun

C. Metode Pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan metode skala. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah
skala Likert yaitu skala yang dalam menjawab pernyataan-pernyataan subjek
diminta untuk menyatakan kesesuaian dan ketidaksesuaian terhadap isi pernyataan

24

tersebut (Azwar, 2015). Skala psikologi ini yang digunakan terbagi menjadi dua
yaitu skala kualitas persahabatan dan skala empati.

Skala dalam penelitian ini menggunakan lima alternatif jawaban, antara lain
sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS).
Beberapa aitem yang disusun terdiri dari dua jenis, yaitu favourable dan
unfavourable. Pernyataan favourable yang memiliki skor 4 untuk pernyataan
Sangat Sesuai (SS), skor 3 untuk pernyataan Sesuai (S), skor 2 untuk pernyataan
Tidak Sesuai (TS), dan skor 1 untuk pernyataan Sangat Tidak Sesuai (STS).
Sedangkan untuk pernyataan unfavourable memiliki skor 1 untuk pernyataan
Sangat Sesuai (SS), skor 2 untuk pernyataan Sesuai (S), skor 3 untuk pernyataan
Tidak Sesuai (TS), dan skor 4 untuk pernyataan Sangat Tidak Sesuai (STS).

Sebelum skala digunakan, peneliti akan melakukan uji coba skala untuk
mengetahui validitas dan reabilitas alat ukur. Jenis validitas yang digunakan dalam
skala ini adalah validitas konstruk. Validitas kontruk adalah validitas yang
menyatakan sajuh mana skor-skor hasil pengukuran dengan suatu intrumen itu
merefleksikan konstruk teoritik yang mendasari penyusunan instrument tersebut
(Suryabrata, 2005). Reliabilitas alat ukur menunjukkan sejauhmana hasil
pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya (Suryabrata, 2005).

1. Skala Kualitas Persahabatan
Skala psikologi yang digunakan yaitu skala kualitas persahabatan yang

disusun oleh peneliti. Skala kualitas persahabatan berdasarkan aspek-aspek dari
Parker and Asher terdiri dari : Pengakuan dan pengertian, Konflik dn

25

penghianatan, Berkawan dan berekreasi, Pertolongan dan bimbingan,
Pertukaran, Pemecahan masalah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Parker
and Asher (1993) dengan menggunakan FQQ (Friendship Quality Questionaire)
dan peneliti mengambil jumlah aitem sebanyak 36 aitem yang terdiri atas 19
aitem favourable dan 17 aitem unfavourable.

Skala FQQ (friendship quality questionnaire) yang akan di gunakan peneliti
berdasarkan aspek-aspek kualitas persahabatan menurut Parker dan Asher (1993)
yaitu :

a. Dukungan dan kepedulian (validation and caring)
Adalah sejauh mana hubungan ditandai dengan kepedulian, dukungan dan
minat. Aspek ini terdiri dari 6 pernyataan.
Contoh : saya peduli dengan kondisi teman saya

b. Konflik dan penghianatan (conflict and betrayal)
Yaitu sejauh mana hubungan ditandai dengan argumen, perselisihan, rasa
kesal, dan ketidakpercayaan. Pada aspek ini terdiri dari 6 pernyataan
Contoh : saya menghindari teman ketika ada masalah dengannya

c. berkawan dan rekreasi (companionship and recreation)
Yaitu sejauh mana menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman baik
di dalam maupun di luar lingkungan akademik atau kerja. Pada aspek ini
terdiri dari 6 pernyataan
Contoh : saya sering melakukan hal-hal yang mengenangkan dengan teman

d. pertolongan dan bimbingan (help and guidance)

26

yaitu sejauh mana teman-teman berusaha membantu satu sama lain dalam
menghadapi tugas-tugas rutin dan menantang. Pada aspek ini terdiri dari 6
pernyataan
contoh : teman memberi saran pada saya ketika saya kurang baik dalm
beberapa hal.
e. Pertukaran yang akrab (intimate change)
Yaitu sejauh mana hubungan ditandai dengan pengungkapan informasi
pribadi dan perasaan. Pada aspek ini terdiri dari 6 pernyataan
Contoh : saya menjenguk ketika teman sedang sakit
f. Pemecahan masalah (conflict resolution)
Yaitu sejauh mana perselisihan dalam hubungan diselesaikan secara efisien
dan baik. Pada aspek ini terdiri dari 6 pernyataan
Contoh : saya dan teman membicarakan masalah terlebih dahulu sebelum
masalah menjadi semakin besar
Sebelum skala ini digunakan, peneliti melakukan uji coba skala untuk
menguji reliabilitas alat ukur. Uji coba skala Kualitas persahabatan dilakukan
kepada 68 remaja. Adapun blueprint skala FQQ (Friendship Quality Questionaire)
sebelum diuji cobakan dapat dilihat pada tabel 1. Berikut :

27

Tabel 1.

BluePrint Skala Kualitas Persahabatan

No Aspek Nomor Aitem jumlah

Favourable Unfavorable 6
6
1 Validation and Caring 1,7,13 19,25,31 6
2. Companionship and recreaction 2,8 14,20,26,32 6
3. Help and guidance 3,9,15,27 6
4. Intimate Exchange 22,28,34 21,33 6
5. Conflict and betrayal 5,11,17,29 4,10,16 36
6. Conflict resolution 24,30,36 23,35
19 6,12,18
Jumlah
17

Setelah dilakukan uji coba pada skala kualitas persahabatan dengan

menggunakan program softwore computer menunjukkan bahwa dari 36 aitem

terdapat 10 aitem yang gugur. Aitem yang gugur adalah aitem nomor

2,3,8,11,14,16,19,21,29,33. Pada penelitian ini skal kualitas persahabatan

menggunakan batas kriteria 0,3. Koefisien uji daya beda aitem begerak dari 0,201

sampai 0,612. Reliabilitas skala dalam penelitian ini di uji menggunakan Cronbach

Alpha dengan koefisien reliabilitas 0,843. Distribusi aitem skala kualitas

persahabatan setelah dilakukan uji coba dapat dilihat pada Tabel 2 :

Tabel 2.

Blueprint Penelitian Skala Kualitas Persahabatan

No. Aspek Nomor aitem Jumlah

1. Validation and caring Favorable Unfavorable 5
2. Companionship and recreaction 3
3. Help and guidance 1,7,13 25,31 3
4. Intimate Exchange 5
5. Conflict and betrayal - 20,26,32 4
6. Conflict resolution 6
9,15,27 - 26
Jumlah
22,28,34 4,10

5,17 23,35

24,30,36 6,12,18

14 12

28

2. Skala Empati
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala empati yang

disusun oleh peneliti . Skala ini berjumlah 16 aitem yang terdiri dari 9 aitem
Favourable dan 7 aitem Unfavourable. Skala ini disusun berdasarkan Aspek-aspek
empati berdasarkan Davis (1983) yaitu meliputi :

1. Perspective Taking,
Pandangan orang lain tentang bagaimana individu memandang

segala hal dari perasaan dan sudut pandang orang lain. Aspek ini terdiri dari
4 pernyataan.
Contoh : saya selalu mendengarkan pendapat teman saya
2. Fantasy,

Individu yang terbawa perasaan yang ada pada novel ataupun film.
Aspek ini terdiri dari 4 pernyataan.
Contoh : setelah melihat sebuah film, saya merasa seolah-olah saya adalah
salah satu karakternya.
3. Empathic concern,

Sikap kepedulian pada orang lain yang ada dilingkungan sekitar.
Aspek ini terdiri dari 4 pernyataan.
Contoh : saya segera memberi pertolongan kepada teman yang jatuh dari
tangga.
4. Personal Distress,

29

Munculnya perasaan cemas dan takut akan keretakan dalam

hubungan individu tersebut seperti pertemanan dan persahabatan. Aspek ini

terdiri dari 4 pernyataan.

Contoh : saya merasa senang jika dapat membantu teman mengerjakan

tugas sekolah.

Adapun blueprint skala Empati sebelum uji coba dapat dilihat pada tabel 3.

Berikut :

Tabel 3.

Blueprint Skala Empati

No Aspek Nomor aitem jumlah

1. Perspective Taking Favourable Unfavorable 4
2. Fantasy 4
3. Empathic concern 1,3 2,4 4
4. Personal Distress 4
16,18 17,19 16
Jumlah
9,11 10,12

16,14,15 13

97

Setelah dilakukan uji coba pada skala empati dengan menggunakan program
softwore computer menunjukkan bahwa dari 16 aitem terdapat 4 aitem yang gugur.
Aitem yang gugur adalah aitem nomor 1,4,9,15. Pada penelitian ini skala empati
menggunakan batas kriteria 0,3. Koefisien uji daya beda aitem begerak dari 0,201
sampai 0,521. Reliabilitas skala dalam penelitian ini di uji menggunakan Cronbach
Alpha dengan koefisien reliabilitas 0,755 Distribusi aitem skala empati setelah
dilakukan uji coba dapat dilihat pada Tabel 4 :

30

Tabel 4

Blueprint penelitian skala empati

No. Aspek Nomor aitem Jumlah

Favorable unfavorable

1. Perspektive taking 3 22

2. Fantasy 5,7 6,8 4

3. Empatic concern 11 10,12 3

4. Personal Distress 14,16 13 3

Jumlah 6 4 12

D. Pelaksanaan Penelitian
Pada tanggal 12 desember 2019 peneliti melakukan uji coba (try out) dengan
menyebarkan skala menggunakan google form dengan link
https://forms.gle/vqmCQ535MMmh8xW46 kepada 68 remaja. Kemudian data uji
coba yang diperoleh dilakukan analisis untuk memperoleh hasil uji reliabilitas.
Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa skala kualitas persahabatan 20 aitem
skala gugur dan skala empati terdapat 6 aitem skala yang gugur.
Pada tanggal 07 Februari 2020 peneliti melakukan penelitian kepada 60
remaja di SMP Negeri 2 Luwuk dengan karakeristik berusia 13-16 tahun.
Kemudian ada tiga kelas yang peneliti gunakan sebagai subjek dalam penelitian ini.
Kemudian, peneliti melanjutkan proses mengolah data penelitian yang telah
diperoleh dari penyebaran skala penelitian, dan selanjutnya melakukan penyajian
data.

31

E. Metode Analisis data
Metode analisis data yang akan digunakan untuk mengungkap hubungan antara
empati dengan kualitas persahabatan pada remaja adalah analisis statistic korelasi
product moment dari Pearson dengan menggunakan program SPSS versi 25.
Korelasi product moment dapat digunakan untuk menguji hipotesis tentang ada
tidaknya hubungan antara 2 variabel.

32

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Untuk menganalisis
hasil penelitian, peneliti menggunakan angka yang dideskripsikan dengan
menggunakan kesimpulan yang didasari oleh angka yang diolah dengan metode
statistic. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan statistik deskriptif dari data
yang sudah dianalisis yang umumnya mencakup jumlah subjek (N), mean skor
skala (M), devisi standar (σ), variasi (s), skor minimum (Xmin), dan skor
maksimum (Xmaks) serta statistic lain yang dirasa perlu (Azwar, 2014)

Data yang diperoleh dari skala emapti dan skala kualitas persahabatan
pada remaja sebagai dasar pengujian hipotesis. Berdasarkan deskripsi data yang
dilakukan, skor minimal hipotetik untuk variabel kualitas persahabatan adalah 1
x 26 = 26, dan skor maksimal hipotetiknya untuk variable kualitas persahabatan
adalah 4 x 26 = 104. Jarak sebaran skor hipotetiknya adalah (104 – 26) = 78,
dengan standar deviasi seesar (104 – 26) : 6 = 13 dan mean hipotetik (104 + 26)
: 2 = 65. Sedangkan variabel empati , skor minimal hipotetik untuk variabel
empati adalah 1 x 12 = 12, dan skor maksimal hipotetiknya untuk variabel empati
adalah 4 x 12 = 48. Jarak sebaran data hipotetiknya adalah (48 – 12) = 36, dengan
standar deviasi sebesar (48 – 12) : 6 = 6, dan rerata hipotetiknya (48 -12) : 2 =
30. Adapun tabel deskripsi data statistik yaitu:

33

Variabel Tabel 5. Data Empirik
Deksripsi data statistik Skor

N (60) Max Min
Data Hipotetik 102 77

Skor 47 36

Mean Max Min SD Mean SD
5.659
Kualitas 65 104 26 13 90.73
2.534
persahabatan

Empati 30 48 12 6 41.48

Keterangan Tabel :

N : jumlah subjek

Mean : Rerata

Max : skor maksimal

Min : Skor minimal

SD : Standar Deviasi

Subjek penelitian ini adalah remaja yang berjumlah 60 orang. Untuk

mendapatkan informasi mengenai keadaan subjek penelitian pada variabel yang

diteliti, maka dapat menggunakan kategorisasi jenjang tinggi dan rendah, yang

menempatkan inividu kedalam kelompok-kelompok terpisah secara berjenjang

mengetahui suatu kontinum berdasar atribut yang diukur, sehingga dapat diketahui

skor pada subjek yang masuk kategori tinggi, sedang, atau rendah (Azwar, 2014)

Penggolongan subjek menjadi tiga kategori pada tabel 6 dan 7 berikut:

Tabel 6. Kategorisasi Kualitas persahabatan

Variabel Norma Interval N % kriteria
Kualitas ≥ ( + 1. ) X ≥ 78 58 96,7% Tinggi
persahaba ( − 1. ) ≤ < ( + 1. ) 52 ≤ X ˂ 78 2 3,3% Sedang
< ( − 1. ) X ˂ 52 0 0% Rendah
tan

34

Tabel 7. Kategorisasi Empati

Variabel Norma Interval N % kriteria
X ≥ 36 60 100% Tinggi
Empati ≥ ( + 1. ) 24 ≤ X ˂ 36 0 0% Sedang
X ˂ 24 0 0% Rendah
( − 1. ) ≤ < ( + 1. )

< ( − 1. )

Keterangan :

X : Skor subjek

: Mean

: Standar deviasi

Deskripsi data diatas memberikan gambaran penting mengenai distribusi
skor skala pada kelompok subjek yang dikenai pengukuran dan berbagai fungsi
informasi keadaan subjek pada aspek atau variable yang diteliti (Azwar, 2014).
Deskripsi data dilakukan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan
terlebih dahulu.

Berdasarkan hasil tabel dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar
subjek memiliki kualitas persahabatan yang tinggi. Hal ini dapat dilihat melalui
persentase subjek yng tergolong kritreria tinggi sebesar 96,7% sedangkan kriteria
sedang sebesar 3,3% dan tidak ada yang tergolong kriteria rendah. Hasil
perhitungan mean empirik kualitas persahabatan adalah 90,73. Nilai ini lebih tinggi
dibandingkan mean teoritik dengan nilai 65. Hal ini menunjukkan bahwa subjek
penelitian pada kenyataannya memiliki kualitas persahabatan yang lebih tinggi
dibandingkan rata-rata. Sedangkan, berdasarkan hasil tabel kategorisasi empati
dapat ditarik kesimpulan bahwa subjek memiliki empati yang tinggi, dilihat dari
presentase semua subjek memiliki kategori tinggi.

35

2. Hasil Uji Prasyarat

a. Uji Normalitas

Pedoman yang digunakan dalam uji normalitas dalam menentukan

suatu data distribusi normal atau tidak menggunakan model Kolmogorov-
Smirnov dengan kaidah jika p ˃ 0,050 maka sebaran data normal dan jika p
˂ 0,50 maka sebaran data tidak normal. Berdasarkan hasil uji Kolmogorov-

Smirnov untuk variable Kualitas persahabatan diperoleh K-S Z = 0,185
dengan p = 0,000 ( p ˂ 0,050) maka sebaran data variabel kualitas

persahabatan tidak mengikuti distribusi normal. Selanjutnya untuk variabel
Empati diperoleh K-S Z = 0,121 dengan p = 0,029 (p ˂ 0,050) berarti sebaran

data variabel empati tidak mengikuti sebaran data normal. Priyatno (2010)

mengatakan bahwa data yang banyaknya lebih dari 30 subjek maka dapat

dikatakan terditribusi normal dan bisa disebut sampel besar. Data dalam

penelitian ini menggunakan subjek 60 orang. Sehingga data dapat dikatakan

terdistribusi normal. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 8 berikut:

Tabel 8. Hasil Uji Normalitas

No Variabel KS-Z Sig (p) keterangan
1. Kualitas persahabatan 0,185 0,000 P ˂ 0,050
2. Empati 0,121 0,029 P ˂ 0,050

b. Uji linieritas
Setelah melakukan uji normalitas, maka peneliti melakukan uji

asumsi yang kedua yaitu uji linieritas. Uji linieritas dilakukan untuk
mengetahui apakah variabel kualitas persahabatan dan variabel empati
memiliki hubungan yang linier atau tidak. Pedoman untuk uji linieritas


Click to View FlipBook Version