The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kusmanaade96, 2021-07-18 00:16:19

Rangkuman

Rangkuman

DAFTAR ISI

BAB JUDUL HAL

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang Penelitian 1
1.2. Rumusan Masalah 7
1.3. Tujuan Penelitian 8
1.4. Manfaat Penelitian 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 10
2.1. Kajian Pustaka 10
2.2. Kerangka pemikiran 22
2.3. Hipotesis 24

BAB III METODE PENELITIAN 25
3.1. Metode Penelitian 25
3.2. Pendekatan Penelitian 26
3.3. Populasi dan Sample 26
3.4. Sumber danTeknik Pengumpulan Data 27
3.5. Teknik Analisis Data 30
3.6. Teknik Pengujian Hipotesis 36

DAFTAR PUSTAKA 38

i

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Sumber daya manusia (SDM) di dalam suatu organisasi/perusahaan
merupakan suatu elemen yang esensial untuk menjalankan roda
organisasi/perusahaan/lembaga guna mencapai tujuannya. Pada umumnya,
kehidupan di dalam organisasi/perusahaan/ lembaga, apa pun bentuk dan sifatnya,
baik yang bergerak di bidang perdagangan maupun jasa, akan selalu berusaha
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya secara efektif dan efisien. Hal
ini menuntut pihak manajemen untuk merencanakan, mengorganisasikan,
menggerakkan, dan melakukan pengawasan terhadap sumber daya yang dimiliki.
SDM merupakan sumber daya yang paling strategis dan penting di antara sumber
daya lainnya. Melimpahnya sumber daya tanpa didukung sumber daya manusia
yang berkualitas, akan mengganggu kelangsungan organisasi/perusahaan. Dengan
demikian, organisasi memerlukan proses pengelolaan sumber daya manusia yang
efektif di dalamnya. Namun, masalah yang seringkali dihadapi adalah adanya faktor
sikap dan perilaku karyawan yang tidak dapat dikendalikan dalam proses
pengelolaan sumber daya manusia. (Hidayati dan Saputra, 2018)

Kinerja instansi pemerintah sering menjadi sorotan rakyat, terutama sejak
timbulnya iklim yang lebih demokratis dalam pemerintahan. Rakyat mulai
mempertanyakan akan nilai yang mereka peroleh atas pelayanan yang dilakukan
oleh instansi pemerintah. Walaupun telah banyak anggaran dihabiskan, nampaknya
masyarakat belum puas atas kualitas pelayanan jasa maupun barang yang diberikan
oleh instansi pemerintah (Stepanus, 2014: 131).

Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi ranah teknologi dan sistem
pemerintahan di seluruh dunia. Negara-negara di dunia harus melaksanakan
penyesuaian untuk mewujudkan kualitas pejabat publik yang lebih adaptif melalui
pemanfaatan teknologi agar dapat menciptakan pelayanan publik yang optimal,
efisien, dan efektif.

1

2

Hal tersebut, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam
mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang profesional. Kondisi saat ini, lebih
dari 1,6 juta ASN hanya memiliki kemampuan sebatas administrasi. Kondisi
demikian dapat mengurangi percepatan reformasi birokrasi yang saat ini tengah
berjalan.

Hal tersebut diungkapkan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumulo, SH pada Rapat Koordinasi
Pengembangan Kompetensi ASN yang mengambil tema 'Kebijakan Pengembangan
Kompetensi ASN di Era New Normal' yang dilaksanakan secara virtual,

“Jadi saya tekankan pentingnya pengembangan kompetensi ASN untuk
mewujudkan visi Presiden Jokowi terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat,
mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Dalam visi tersebut,
pengembangan ASN menjadi salah satu prioritas kerja 5 tahun ke depan. Presiden
menginginkan SDM aparatur yang bekerja keras, melayani masyarakat, dinamis,
terampil serta memiliki kemampuan dalam penguasaan IPTEK, hal ini menjadi
dasar untuk mewujudkan ASN berkelas dunia pada tahun 2024,” ungkapnya. Tjahjo
juga menyampaikan, Lembaga Administrasi Negara (LAN) harus memiliki strategi
untuk membangun pola pikir ASN yang komprehensif integral, memiliki integritas
yang tinggi, profesional dan melayani. Terlebih di tengah situasi krisis pandemi
Covid-19, pola pelatihan yang diselenggarakan harus tetap memperhatikan
protokol kesehatan.

Sejalan dengan itu, Kepala LAN, Dr. Adi Suryanto, M.Si dalam sambutannya
menjelaskan bahwa LAN telah mengambil langkah-langkah strategis dalam
percepatan pengembangan kompetensi ASN terutama di masa pandemi Covid-19.
Salah satu yang dikembangkan di LAN adalah melalui pendekatan flexible learning
yaitu pembelajaran dilakukan lebih lentur, fleksibel, dapat dilakukan kapan saja dan
oleh siapa saja. Flexible learning digunakan oleh LAN sebagai strategi
pengembangan kompetensi yang menfaatkan TIK baik synchronous maupun
asynchronous.

Sementara itu, Deputi Bidang Kebijakan Pengembangan Kompetensi ASN,
Dr Muhammad Taufiq, DEA menyampaikan beberapa metode pengembangan

3

kompetensi dalam kondisi new normal. Beberapa metode tersebut antara lain
fulltime online, distance learning online dan offline, micro mobile learning,
working place learning dan juga corporate university. Untuk mendukung beberapa
metode tersebut dibutuhkan kesiapan fasilitator widyaiswara dan juga kesiapan dari
lembaga pelatihan tersebut.

Apalagi ditengah pandemic Covid-19 sekarang ini, dimana kinerja ASN
sedang sangat disoroti oleh berbagai pandangan terkait pelayanan yang tetap harus
diberikan baik ketika Work From Office maupun ketika Work From Home.
Diketahui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(PAN-RB) menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 58 tahun 2020 tentang Sistem
Kerja Pegawai/ASN Dalam Tatanan Normal Baru yang secara resmi diberlakukan,
Dalam SE tersebut, Menteri PAN-RB mengatur penyesuaian sistem kerja yang
fleksibel dalam pengaturan lokasi kerja berupa work from office maupun work from
home. Selain itu, perjalanan dinas harus dilakukan secara selektif sesuai tingkat
prioritas dan urgensinya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan (Radar
Surabaya, Oktober 2020)

Pengaturan sistem kerja baru bagi ASN dilakukan oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian (PPK) dengan memperhatikan jumlah pegawai yang melaksanakan
tugas kedinasan di kantor maupun bekerja di rumah atau tempat tinggal (work form
home). Disebutkan, risiko penyebaran Covid-19 terbagi menjadi empat yaitu tidak
terdampak, rendah, sedang, dan tinggi. Berikut aturan kerja baru ASN yang termuat
dalam surat edaran: (1.) Bagi instansi pemerintah yang berada di zona
kabupaten/kota berkategori tidak terdampak atau tidak ada kasus, PPK dapat
mengatur jumlah pegawai yang bekerja di kantor paling banyak 100 persen. (2.)
Bagi instansi pemerintah yang berada di zona kabupaten/kota yang berisiko rendah,
jumlah ASN yang melaksanakan kerja dari kantor maksimal 75 persen. (3.) Bagi
instansi pemerintah yang berada di zona kabupaten/kota yang berisiko sedang,
jumlah ASN yang melaksanakan kerja dari kantor paling banyak 50 persen. (4.)
Bagi instansi pemerintah yang berada di zona kabupaten/kota berkategori risiko
tinggi, jumlah pegawai yang bekerja dari kantor paling banyak 25 persen. Lebih
lanjut, para ASN diminta untuk menerapan tatanan normal baru dengan disipling
menjalankan protokol kesehatan. Meski begitu, para abdi negara ini tetap diminta

4

bekerja optimal dan produktif dalam menjalankan pemerintahan dan memberikan
pelayanan publik.

Menindaklanjuti instruksi Presiden dan situasi yang terus berkembang terkait
penyebaran Covid-19, Kementerian Hukum dan HAM RI telah mengambil
berbagaikebijakan terkait, di antaranya adalah dengan mengeluarkan Surat Edaran
Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan HAM RI Nomor: SEK.03.-OT.02.02
Tahun 2020 tanggal 16 Maret 2020 yang berisi kebijakan bekerja dari rumah atau
Work from Home bagi para pegawai di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM
RI (Kemenkumham) sejak tanggal 16 Maret 2020 dan bekerja secara bergantian
sesuai jadwal kedinasan yang disetujui oleh Pejabat Pembina Kepegawaian masing-
masing unit kerja untuk mengurangi risiko penularan virus Corona tersebut.

Sejalan dengan itu, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia melalui
Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI juga
mengeluarkan Surat Edaran berikutnya Nomor: SEK-04.OT.02.02 Tahun 2020
Tentang Penghentian Sementara Kegiatan Perkantoran dalam Rangka 2 Mencegah
Penyebaran Wabah Corona Virus Disease (Covid-19) di Lingkungan Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia

Salah satu faktor keberhasilan Kinerja ASN di masa pendemi ini dilihat juga
dari Job Skill ASN dimana ASN dituntut untuk melakukan pekerjaan dengan
pemanfaatan Teknologi dalam pekerjaannya, Pandemi Covid-19 telah
memengaruhi ranah teknologi dan sistem pemerintahan negara-negara di seluruh
dunia. Negara-negara di dunia harus melaksanakan penyesuaian untuk
mewujudkan kualitas pejabat publik yang lebih adaptif melalui pemanfaatan
teknologi agar dapat menciptakan pelayanan publik yang optimal, efisien, dan
efektif. Hal tersebut, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam
mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang profesional. Kondisi saat ini, lebih
dari 1,6 juta ASN hanya memiliki kemampuan sebatas administrasi. Kondisi
demikian dapat mengurangi percepatan reformasi birokrasi yang saat ini tengah
berjalan.

Standar kompetensi Widyaiswara telah ditetapkan dalam Peraturan Kepala
Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 tahun 2008, tentang Satndar Kompetensi

5

Widyaiswara. Dalam pasal 3 disebutkan bahwa sasaran penetapan standar
kompetensi widyaiswara adalah :

a. Terselenggaranya pembinaan dan pengembangan widyaiswara yang
efektif dan akuntabel

b. Tersedianya widyaiswara yang professional
c. Terselenggaranya diklat yang berkualitas.

Sedangkan standar kompetensi yang harus dimiliki oleh widyaiswara disebutkan
dalam pasl 5, yaitu:

a. Kompetensi pengelolaan pembelajaran
b. Kompetensi kepribadian
c. Kompetensi sosial
d. Kompetensi substansi

Dengan indikator dari masing-masing standar kompetensi terssebut sebagai berikut:

A. Kompetensi Pengelolaan pembelajaran, kemampuan yang harus dimiliki
widyaiswara dalam merencanakan, menyusun, melaksanakan dan
mengevaluasi pe,mbelajaran, terdiri dari:
1. Membuat Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)/Rancang
Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD) dan Satuan Acara
Pembelajaran (SAP)/Rencana Pembelajaran (RP).
2. Menyusun bahan ajar
3. Menerapkan pembelajaran orang dewasa
4. Melakukan komunikasi yang efektif dengan peserta
5. Memotivasi semangat belajar peserta dan
6. Mengevaluasi pembelajaran

B. Kompetensi Kepribadian, kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara
mengenai tingkah laku dalam melaksanakan tugas jabatannya yang dapat
diamati dan dijadikan teladan bagi peserta diklat, terdiri dari :
1. Menampilkan pribadi yang dapat diteladani dan
2. Melaksanakan kode etik dan menunjukkan etos kerja sebagai
widyaiswara yang professional

6

C. Kompetensi Sosial, kemampuan yang harus dimiliki oleh widyaiswara
dalam melakukan hubungan dengan lingkungan kerjanya, terdiri dari:
1. Membina hubungan dan Kerjasama dengan sesame widyaiswara dan
2. Menjalin hubungan dengan penyelenggara/pengelola Lembaga diklat

D. Kompetensi Substantif, kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara di
bidang keilmuan dan keterampilan dalam mata diklat yang diajarkan, terdiri
dari:
1. Menguasai keilmuan dan keterampilan mempraktekan sesuai dengan
materi diklat yang diajarkan, dan
2. Menulis karya ilmiah yang terkait dengan lingkup kediklatan dan/atau
pengembangan spesialisasinya.

Bobot penilaian kompetensinya adalah sebagai berikut:

a. Kompetensi pengelolaan pembelajaran sebesar 40%
b. Kompetensi kepribadian sebesar 10%
c. Kompetensi social sebesar 10% dan
d. Kompetensi substantif sebesar 40%

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana gambaran kondisi Kinerja Widyaiswara BPSDM Provinsi Jawa
Barat di masa pandemi Covid-19?

2. Bagaimana Job Skill Widyaiswara BPSDM Provinsi Jawa Barat di masa
pandemi Covid-19?

3. Seberapa besar Job Skill ASN Widyaiswara BPSDM Provinsi Jawa Barat
mempengaruhi Kinerjanya di masa pandemi Covid-19?

1.3 Tujuan Penelitian :
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis :

1. Bagaimana kondisi Kinerja Widyaiswara BPSDM Provinsi Jawa Barat di
masa pandemi Covid-19

2. Bagaimana Job Skill Widyaiswara BPSDM Provinsi Jawa Barat di masa
pandemi Covid-19

7

3. Seberapa besar Job Skill Widyaiswara BPSDM Provinsi Jawa Barat
mempengaruhi Kinerjanya di masa pandemi Covid-19

1.4 Manfaat Penelitian :
1.4.1 Manfaat Praktis :
1. Bagi BPSDM Jawa Barat

Dapat memberikan masukan mengenai pengaruh Pengaruh Job Skill
Widyaiswara untuk dijadikan bahan acuan dalam pengambilan keputusan untuk
meningkatkan Kinerja Widyaiswara BPSDM Provinsi Jawa Barat.
2. Bagi Seluruh ASN Widyaiswara

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh Widyaiswara BPSDM
Provinsi Jawa Barat agar dapat meningkatkan produktivitas dan kinerjanya pada
BPSDM Provinsi Jawa Barat serta diharapkan dapat memberikan sumbangan
metode bagi pengembangan Job Skill Widyaiswara salah satunya dengan fulltime
online, distance learning online. Penelitian ini juga diharapkan kedepannya bisa
memberikan gambaran tentang bagaimana seharusnya dan apa yang sebenarnya
terjadi pada kinerja Widyaiswara BPSDM Provinsi Jawa Barat pada masa
pandemic Covid-19 sekarang.
1.4.2 Manfaat Akademis :
1. Bagi Pengembangan Ilmu

Dalam bidang manajemen sumber daya manusia semoga penelitian ini dapat
memberikan referensi tentang pengaruh Job Skill Terhadap Kinerja Widyaiswara
BPSDM Provinsi Jawa Barat di masa pandemic covid 19.
2. Bagi Peneliti Lain

Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang ingin mengkaji lebih dalam lagi
bidang yang sama guna menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tambahan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Kinerja
2.1.1.1 Pengertian Kinerja
Menurut ( Lavinson dalam Marwansyah, 2019:228 ) menyatakan bahwa:
“Kinerja adalah Pencapaian atau prestasi seseorang berkenaan dengan tugas-tugas
yang dibebankan kepadanya”
Selanjutnya Menurut (Robbin 2015:105)
Kinerja adalah catatan mengenai outcome yang dihasilkan dari suatu aktivitas
tertentu, selama kurun waktu tertentu).”
Selain itu menurut (Hasibuan, 2014 : Edisi Revisi hal.94) menyatakan bahwa:
”Kinerja karyawan ( Prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang
dalam melaksanakan tugas – tugas yang di bibebankan kepadanya yang didasarkan
atas kecakapanpengalamandan kesungguhan serta waktu.”
Menurut Bernadin (1998 ; 379) dalam Gomes (2003 ; 142) menyatakan bahwa :
“Kinerja adalah outcome yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau
kegiatan selama periode waktu tertentu”
2.1.1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Mangkunegara, (2013:15) kinerja individu adalah hasil :

1) Individual attribute yang menentukan kapasitas untuk mengerjakan
sesuatu.
Atribut individu meliputi factor individu (kemampuan dan keahlian),
latar belakang serta demografi) dan factor psikologis meliputi persepsi,
attitude, personality, pembelajaran dan motivasi.

2) Work effort yang membentuk keinginan untuk mencapai sesuatu.

28

12

3) Organizational support yang memberikan kesempatan untuk berbuat
sesuatu.dukungan organisasi meliputi sumber daya, kepemimpinan,
lingkungan kerja, struktur organisasi dan job design.

2.1.1.3 Pengukuran dan Penilaian Kinerja

Pengukuran kinerja merupakan aspek penting dalam pekerjaan yang
bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap pencapaian kinerja seorang pegawai.

Menurut Gomes, (2003 : 137-142) ada tiga tipe penilaian kinerja yang saling
berbeda, yaitu :

(1) Result-based performance evaluation yaitu tipe penilaian kinerja
yang dilakukan dengan merumuskan kinerja dalam mencapai tujuan
organisasi dan melakukan pengukuran hasil-hasilnya.

(2) Behavior-based performance evaluation yaitu tipe penilaian kinerja
yang bermaksud untuk mengukur tercapainya sasaran (goals) dan
bukan hasil akhirya (end result). Dalam praktek, kebanyakan pekerja
tidak dapat diukur kinerjanya dengan ukuran yang obyektif, karena
melibatkan aspek-aspek kualitatif.

(3) Judgement-performance evaluation yaitu tipe penilaian kinerja yang
menilai atau yang mengevaluasi kinerja berdasarkan pada deskripsi
perilaku yang spesifik, seperti quality of work, job knowledge,
cooperation, initiative, reliability, interpersonal competence, loyalty,
dependability, personal qualities, dan sejenisnya.

Menurut Bernardin and Russel dalam Gomes, (2003 : 142) ada enam kriteria
primer yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja, yaitu :

1) Quality of work, kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat
kesesuaian dan kesipannya.

2) Quantity of work, jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu
yang ditentukan.

13

3) Job Knowledge, luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan
ketrampilannya.

4) Creativeness keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-
tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.

5) Cooperation, kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain.

6) Dependability, kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan
penyelesaian kerja.

7) Initiative, semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam
memperbesar tanggung jawabnya.

8) Personal Qualities, menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah-
tamahan dan integritas pribadi.

Menurut Mangkunegara (2013 : 18) Kinerja diukur dengan aspek

kuantitatif yang terdiri dari (1) Proses kerja dan kondisi pekerjaan (2)

Lamanya melaksanakan pekerjaan (3) Jumlah kesalahan dalam melaksanakan

pekerjaan (4) Jumlah dan jenis pemberian dalam bekerja sedangkan Aspek

kualitatif terdiri dari (5) Kualitas pekerjaan (6) Kemampuan dalam bekerja

(7) Kemampuan atau kegagalan menggunakan mesin (8) Kemampuan

mengevaluasi keluhan atau keberatan konsumen.

Menurut Mathis dan Jackson (2009 : 378) alat ukur Kinerja sebagai berikut: (1)
Kuantitas output, (2) Kualitas output (3) Jangka waktu output (4) Kehadiram
ditempat kerja (5) Sikap kooperatif.

2.1.1.4 Kinerja Kelompok

Teori organisasi merupakan teori yang mempelajari kinerja dalam sebuah
organisasi. Selain itu, teori organisasi juga mempelajari bagaimana sebuah organisasi
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang didalamnya maupun lingkungan kerja
organisasi tersebut. Untuk memastikan tingkat kerjasama, pembagian informasi, dan
pertukaran materi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dengan baik, maka
kerja tim merupakan pendekatan yang terbaik. Jadi tim merupakan aspek inti dari

14

kehidupan organisasi, dan kemampuan untuk mengelola tim adalah komponen
penting dari kesuksesan pimpinan dan kesuksesan organisasi. (Giusti, 2018)

Menurut Scott dan Tiessen (1999), bahwa seseorang yang mencurahkan
waktunya untuk melakukan kegiatan yang melibatkan orang lain yang berasal dari
departemen yang berbeda atau teman yang berasal dari departemen yang sama
merupakan wujud keterlibatan dalam tim. Scott & Tiessen (1999) mendefinisikan
kerja tim sebagai harapan anggota tim dan organisasi terhadap pencapaian
keberhasilan atas kegiatan yang dijalankan bersama. (Giusti, 2018)

Katzenbach dan Smith dalam Giusti (2018) menyebutkan beberapa
karakteristik dari Kinerja Tim

1. Berbagi atau menggilirkan peran pemimpin.
2. Menetapkan tanggung jawab bersama pada tim.
3. Menentukan visi dan tujuan spesifik untuk tim.
4. Memiliki hasil kerja kolektif.
5. Menjalankan rapat yang mendorong terciptanya diskusi terbuka dan

penyelesaian masalah.
6. Mengukur keefektifan secara langsung dengan menilai kerja kolektif
7. Mendiskusikan, memutuskan, dan membagi pekerjaan.

Pengukuran dan evaluasi kinerja tim meningkatkan koordinasi, meningkatkan
perilaku kerja tim, dan berbagi informasi antara anggota tim (Agguinis et al., 22013:
505). Menurut Brrannick dan Prince(1996), koordinasi adalah fitur utama tim.
Selama tugas, anggota team bertindak secara simultan, berturut-turut,atau keduanya.
Ini adalah ciri khas tugas dan kinerja kontekstual dalam Tim. Singkatnya, Kinerja
Tim harus mempertahankan tidak hanya pengukuran kinerja tim intra sebagai unit,
tetapi juga iinter-team / off – team yang melakukan pengukuran yang terukur. Tujuan
tugas kinerja untuk kedua individu dan tim harus segera dibentuk (Uyarrgil, 2013 ;
127) dalam Aybas (2017).

15

a. Faktor kinerja Intra Tim
Kriteria pengukuran kinerja intra-tim ditentukan oleh tujuan tim, dan khusus
standar kinerja (Armstrong, 2009, p. 241). Ketika mengukur kinerja tugas dalam
tim, faktor-faktor seperti volume penjualan, tingkat keluhan pelanggan, kepuasan
pelanggan, kualitas pekerjaan, tingkat produktivitas dan tingkat winn-loss. Tim
bertanggung jawab untuk mengamati kinerjanya sendiri dan memastikannya
tujuan tercapai, serta kemungkinan konsekuensinya (Scott & Einsstein, 2001, hal.
112). Aybas (2017).
Sesuai dengan kinerja tim, menentukan kemungkinan alasan ketidakstabilan
kinerja terbukti tingkat kontrol yang ditingkatkan. Kontrol penuh atas hasil tidak
selalu memungkinkan, karena faktor intra-tim dan outside. Kasing ini lebih
mudah di tim rutin atau statis. Semakin rumit tugas, semakin banyak upaya.
hubungan kinerja menjadi tidak pasti, sehingga membuat pengukuran perilaku
lebih penting (Scott & Einstein, 2001, ; 112). Pada titik ini, pengukuran kinerja
tugas saja tidak cukup; , pengukuran dan evaluasi kinerja kontekstual intra-tim
juga penting.

b. Faktor Kinerja Antar Tim
Sebuah tim harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan
yang berkelanjutan untuk mengelola kinerja secara efektif. Kinerja tim
bergantung pada inter-prosesnya sendiri, dan pada interaksinya dengan
lingkungan (Smith, 2014). Faktor lingkungan ini juga termasuk penerima intra-
organisasi yang efektif dalam mencapai tujuan tim, atau pada faktor-faktor lain
bergantung satu sama lain untuk hasilnya (Salas et al., 2009, p. 201). Penelitian
yang dilakukan pada tim / kelompok sangat menekankan pada proses internal,
dan mempertanyakan bagaimana proses komunikasi eksterior yang penting juga
untuk efektivitas tim. Apalagi studi terkait dengan pertukaran informasi teknis
lintas batas untuk meningkatkan kinerja inovasi dilakukan. Sementara beberapa
studi fokus pada saling ketergantungan dan koordinasi antara tim, studi tentang
sumber daya dan distribusi daya dapat fokus pada faktor eksterior seperti
pengaruh persuasif politik atau lainnya (Ancona & Caldwell, 1992, ; 635-636).
Pengukuran kinerja dan evaluasi struktur organisasi, berdasarkan tim hanya di

16

sebuah Level "tim" sebagai satu unit, dapat memberikan hasil yang salah
tergantung pada pendekatan sistem.
Karena tim biasanya lebih besar dari jumlah individu yang terlibat, jumlah semua
tim mungkin tidak bertambah kinerja organisasi secara keseluruhan. Dalam
struktur organisasi terdiri dari tim yang serupa / berbeda, dua atau lebih banyak
tim dapat bekerja bersama dalam bidang yang berbeda untuk melakukan dan
menyelesaikan tugas yang kompleks

Dalam sebuah tim, studi anggota tim dievaluasi sesuai dengan tujuan tim. Di antara
tim, di sisi lain, adaptasi dan upaya beberapa tim dievaluasi sesuai dengan tujuan dan
/ atau hasil kolektif. Sini, tugas antar tim dan hasil kinerja kontekstual masuk. Dalam
sistem pengukuran kinerja, satu tim tidak boleh didorong untuk memaksimalkan
kinerjanya sendiri sehingga merugikan tim lain di dalam perusahaan, atau untuk
organisasi secara keseluruhan. (Scott & Einstein, 2001,; 114).

2.1.2 Job Skill
2.1.2.1 Pengertian Job Skill

Menurut Veithzal Rivai (2013 : 302 ) Job Skill atau kompetensi dapat diartikan
sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasinyang mencakup
pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau
tugas sesuai dengan perform yang ditetapkan.

Menurut Mc. Clelland dalam Sedarmayanti (2014 : 126) Job Skill
(kompetensi) adalah karakteristik mendasar yang dimiliki seseorang yang
berpengaruh langsung terhadap, atau dapat memprediksikan knerja yang sangat baik.
Dengan kata lain, kompetensi adalah apa yang outstanding performers lakukan lebih
sering, pada lebih banyak situasi, dengan hasil yang lebih baik, dari pada apa yang
dilakukan penilai kebijakan.

Kompetensi bisa dianalogikan seperti “gunung es” di mana keterampilan dan
pengetahuan membentuk puncaknya yang berada di atas air. Bagian di bawah
permukaan air tidak terlihat mata, namun menjadi pondasi dan memiliki pengaruh
terhadap bentuk bagian yang berbeda di atas air. Peran sosial dan citra diri berada

17

pada bagian “sadar” seseorang, sedangkan motif seseorang berada pada alam “bawah
sadarnya” (Mc. Clelland)
Penjelasan masing-masing kompetensi adalah:

1. Keterampilan: keahlian/ kecakapan memiliki sesuatu dengan baik.
2. Pengetahuan: informasi yang dimilik/ dikuasai seseorang dalam bilang

tertentu.
3. Peran sosial: Citra yang diproyeksikan seseorang kepada orang lain.
4. Citra diri: Persepsi individu tentang dirinya
5. Sifat/ Ciri: Karakteristik yang relatif konstan pada tingkah laku seseorang.
6. Motif: Pemikiran/ niat dasar konstan yang mendorong individu bertindak/

berperilaku
Kemudian Sedarmayanti (2014 : 125) menyimpulkan pendapat beberapa ahli
mengenai kompetensi, bahwa kompetensi adalah sebagai berikut :

1. konsep luas, memuat kemampuan menstransfer keahlian dan kemampuan
kepada situasi baru dalam wilayah kerja. Menyangkut organisasi dan
perencanaan pekerjaan, inovasi, dan mengatasi aktivitas rutin, kualitas
efektifitas personel yang dibutuhkan ditempat berkaitan dengan rekan kerja,
manajer, serta pelanggan

2. Dimensi perilaku yang mempengaruhi kinerja
3. Kemampuan dasar dan kualitas kinerja yang diperlukan untuk mengerjakan

pekerjaan dengan baik
4. Bakat, sifat, dan keahlian individu apapun yang dapat dibuktikan, dapat

dihubungkan dengan kinerja efektif dan baik sekali
Spencer dan Spencer (Sudarmanto, 2009) menyebutkan komponen-komponen
dari kompetensi mencakup beberapa hal sebagai berikut :
1. Motives (motif), yaitu sesuatu yang secara konsisten dipikirkan dan diinginkan
seseorang yang menyebabkan tindakan.
2. Traits (sifat), yaitu karakteristikkarakteristik fisik dan repons-respons konsisten
terhadap berbagai situasi atau informasi.
3. Self concept (konsep diri), yaitu sikap, nilai-nilai, atau citra diri seseorang.
4. Knowladge (pengetahuan), yaitu pengetahuan atau informasi yang dimiliki
seseorang dalam bidang spesifik tertentu.

18

5. Skill (keahlian), yaitu kemampuan untuk mengerjakan atau melaksanakan tugas
fisik tertentu atau tugas mental tertentu.
Pendapat yang tidak jauh berbeda dengan pendapat Spencer dan Spencer di atas
dikemukakan oleh Boyatzis (dalam Sudarmanto, 2009) menyebutkan komponen-
komponen kompetensi terdiri dari :
1. Motive (dorongan); merupakan perhatian berulang terhadap pernyataan tujuan,
atau kondisi, yang muncul dalam bayangan yang mendorong, memerintahkan atau
menyeleksi perilaku individu.
2. Traits (sifat, ciri, karakter pembawaan); merupakan pemikiran-pemikiran dan
aktivitas psikomotorik yang berhubungan dengan kategori umum dari
kejadiankejadian.
3. Self image (citra diri); merupakan persepsi orang terhadap dirinya dan evaluasi
terhadap citranya tersebut.
4. Social role (peran sosial); merupakan persepsi orang terhadap seperangkat
norma sosial perilaku yang diterima dan dihargai oleh kelompok sosial atau
organisasi yang dimilikinya.
5. Skills (keterampilan); merupakan kemampuan yang menunjukkan sistem atau
urutan perilaku yang secara fungsional berhubungan dengan pencapaian tujuan
kinerja.
Skills juga merupakan kapabilitas seseorang yang secara fungsional dapat efektif
atau tidak efektif dalaam situasi pekerjaan.
Sesuai dengan konsep kompetensi SDM sebagaimana yang telah diuraikan di atas,
maka pengembangan kompetensi ASN juga diarahkan kepada peningkatan dalam
komponenkomponen dari kompetensi tersebut yaitu peningkatan pengetahuan,
keterampilan serta sikap perilaku bekerja, sehinggba tugas atau pekerjaan dapat
dilaksanakan secara profesional, efektif dan efisien.
Dengan demikian, konsep pengembangan kompetensi ASN pada dasarnya tidak
jauh berbeda dengan konsep pengembangan kompetensi SDM sebagai bagian dari
manajemen sumberdaya manusia dalam organisasi pada umumnya.
Pengembangan kompetensi ASN diarahkan pada penciptaan dan peningkatan
kompetensi atau kemampuan aparatur agar dapat melaksanakan pelayanan publik
secara optimal.

19

Oleh karena itu, UU Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas UU Nomor 8
Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian dinyatakan bahwa sistem
manajemen kepegawaian diorientasikan pada profesionalisme PNS.
Profesionalisme dalam pembinaan PNS dilaksanakan atas dasar perpaduan antara
sistem prestasi kerja dan sistem karier yang dititik beratkan pada sistem prestasi
kerja, sehingga dengan demikian akan terbuka peluang bagi PNS yang berprestasi
tinggi untuk meningkatkan kemampuannya secara profesional dan berkompetisi
secara sehat.
Pengangkatan PNS dalam jabatan struktural harus didasarkan pada sistem prestasi
kerja yang obyektif, kompetensi, dan pendidikan dan pelatihan PNS.Kebijakan
pengembangan kompetensi ASN tersebut dipertegas kembali dalam UU. No.5
Tahun 2014 tentang ASN, bahwa manajemen ASN berdasarkan pada sistem merit
atau perbandingan antara kualifikasi, kompetensi, dan kinerja yang dibutuhkan
oleh jabatan dengan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja yang dimiliki oleh calon
dalam rekrutmen, pengangkatan, penempatan, dan promosi pada jabatan yang
dilaksanakan secara terbuka dan kompetitif, sejalan dengan tata kelola
pemerintahan yang baik.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa pendidikan dan pelatihan
merupakan instrumen utama untuk pengembangan kompetensi SDM
pegawai/karyawan (Dessler, 2007; Handoko, 2001; Sedarmayanti, 2009;
Sudarmanto, 2009). Instrumen tersebut juga digunakan untuk pengembangan
kompetensi ASN, seperti Diklat Manajerial dan Fungsional.

Diklat Fungsional dapat berupa :
Diklat Arsiparis, Diklat Auditor/Pengawas, Diklat Sandi, Diklat Manajemen Of
Training, dan sebagainya. c. Diklat Teknis; adalah Diklat yang dilaksanakan untuk
memberikan keterampilan dan atau pengetahuan teknis bagi PNS yang
berhubungan langsung dengan pelaksanaan tugas pokok masingmasing.
Kompetensi teknis adalah kemampuan PNS dalam bidang-bidang teknis tertentu
untuk pelaksanaan tugas masing-masing.
Diklat Teknis antara lain seperti :

20

Diklat bidang Kepegawaian, Diklat bidang Keuangan dan Pendapatan
Daerah, Diklat Humas dan Keprotokolan, Diklat Administrasi Kantor dan
Kearsipan, Diklat Bedaharawan, Diklat Komputer, Diklat Administrasi
Perlengkapan, dan lain sebagainya. Pengembangan kompetensi ASN selain
melalui program pendidikan dan pelatihan (diklat), juga dapat dilaksanakan
melalui kursus, penataran, dan seminar.

Selain itu, pengembangan kompetensi ASN dapat dilaksanakan melalui
praktek kerja di instansi lain yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Lembaga
Administrasi Negara (LAN) dan Badan Kepegawaian Negara/BKN
(UU.No.5/2014). Berbagai jenis pengembangan ASN tersebut tujuannya adalah
untuk mengembangkan kompetensi manajerial dan kompetensi teknis ASN yang
diperlukan dalam pelaksanaan tugas dan jabatan

2.2 Kerangka pemikiran
2.2.1 Pengaruh Job Skill terhadap Kinerja ASN

Adapun teori yang digunakan peneliti untuk menghubungkan antara teori
variabel independen dan variabel dependen adalah Menurut Spencer dan Spencer
(dalam Palan, 2017:6), mengemukakan bahwa “Kompetensi merujuk kepada
karakteristik yang mendasari perilaku yang menggambarkan motif, karakteristik
pribadi (ciri khas), konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan atau keahlian yang dibawa
seseorang yang berkinerja unggul (superior performer) di tempat kerja”.

Menurut Syaiful F. Prihadi (2019:105) mengatakan “Kompetensi
menghasilkan kinerja yang efektif dan atau superior” Dari penjelasan tersebut berarti
kompetensi mempunyai hubungan yang erat dengan kinerja. Bisa dikatakan apabila
pegawai memiliki kompetensi di bidangnya,maka pegawai tersebut akan
meningkatkan kinerja yang efektif.

Betapa pentingnya kinerja bagi instansi pemerintah maupun perusahaan
sehingga pengembangan pegawai berbasis kompetensi merupakan salah satu upaya
yang dapat meningkatkan kinerja, karena pengembangan pegawai berbasis
kompetensi merupakan wujud perhatian dan pengakuan pimpinan kepada
pegawainya yang menunjukkan kemampuan kerja, kerajinan, dan kepatuhan serta
disiplin kerja. Pengolahan karyawan yang efektif melalui cara peningkatan

21

keterampilan dan keahlin pegawai atau peningkatan kompetensi dan pemberian
motivasi juga memberikan kesempatan pada pegawai untuk dapat meningkatkan
prestasi kerja dan berkembang lebih maju apabila kompetensi dan mootivasi
diberikan secara tepat dan peningkatan kompetensi disesuaikan dengan pendidikan
yang dimiliki oleh pegawai diharapkan pegawai dapat melakukan pekerjaannya
dengan baik, produktivitas kerja meningkat dan memberikan pelayananyang terbaik
kepada masyarakat maka hal ini akan mempertimbangkan adanya kecenderungan
semangat kerja yang tinggi dan juga meningkatkan loyalitas pegawai kepada
pemerintahan

2.2.2 Operasionalisasi Variabel

Tabel 2.1

Operasionalisasi Variabel

Variable Indikator Ukuran No Item
1
Job Skill • Kompetensi • Membuat Garis-garis besar
Perkalan No. 5 Tahun Pengelolaan program Pembelajaran 2
2008 tentang Standar Pembelajaran (GBPP), Rancang Bangun 3
Kompetensi Pembelajaran (RBP), dan 4
Widyaiswara. Satuan Acara Pembelajaran 5
Adalah kemampuan (SAP)/ Rencana
minimal yang secara pembelajaran
umum dimiliki oleh
seorang widyaiswara • Menyusun Bahan Ajar
dalam melaksanakan • Menerapkan Pembelajaran
tugas, tanggungjawab
dan wewenangnya orang dewasa
untuk mendidik, • melakukan komunikasi yang
mengajar, dan/atau
melatih PNS efektif dengan peserta
• Mengevaluasi pembelajaran

• Kompetensi • Menampilkan Pribadi yang 6
Kepribadian dapat diteladani 7

• melakukan kode etik dan 8
menunjukan etoss kerja 9
sebagai Widyaiswara yang
professional

• Kompetensi Sosial • Membina hubungan dan
kerjasama dengan sesame
Widyaiswara

22

• Kompetensi • Menjalin hubungan dengan 10
Substantif penyelenggara/pengelola
lembaga diklat\ 11
Kinerja • Pendidikan
• Menguasai keilmuan dan 12
Menurut ( Lavinson Pelaksanaan keterampilan memprakterkan 13
Dikjartih sesuai dengan materi diklat
dalam Marwansyah, yang diajarkan 14
15
2019:228 ) • Menulis karya ilmiah yang 16
terkait dengan lingkup
menyatakan bahwa: • kediklatan dan/atau 17
“Kinerja adalah pengembangan
spesialisasinya 18
Pencapaian atau 19
• Mengikuti Pendidikan
prestasi seseorang Formal 20
11
berkenaan dengan • kegiatan Diklat 22
fungsional/teknis 23
tugas-tugas yang 24
• Tatap muka Diklat;
dibebankan kepadanya • Pembimbingan;
• Pendampingan OL/PKL/

Benchmarking;
• Pendampingan penulisan

kertas kerja/proyek
perubahan;
• Pemeriksaan hasil ujian
Diklat;
• Coaching pada proses
penyelenggaraan Diklat

• Evaluasi dan • Pengevaluasian
Pengemabngan penyelenggaraan Diklat di
Diklat instansinya;

• Pengevaluasian kinerja
widyaiswara

• Penganalisisan kebutuhan
Diklat

• Penyusunan kurikulum Diklat
• Penyusunan modul Diklat

• Pengembangan • Membuat karya tulis/karya 25
Profesi ilmiah dalam bidang 26
spesialisasi keahliannya dan 27
lingkup kediklatan, dalam
bentuk buku

• Membuat karya tulis/karya
ilmiah dalam bidang
spesialisasi keahliannya dan
lingkup kediklatan, dalam
bentuk non buku;

• Membuat karya tulis/karya
ilmiah dalam bidang
spesialisasi keahliannya dan
lingkup kediklatan, dalam
bentuk makalah dalam
pertemuan ilmiah.,

23

• penemuan inovasi yang 28
dipatenkan dan telah masuk
daftar paten sesuai bidang 29
spesialisasi keahliannya;
30
• penyusunan buku 31
pedoman/ketentuan 32
pelaksanaan/ketentuan teknis 33
di bidang kediklatan; 34
35
• pelaksanaan orasi ilmiah 36
sesuai spesialisasinya.

• Peran serta dalam
seminar/lokakarya/konferensi
di bidang kediklatan;

• Keanggotaan dalam
organisasi profesi;

• Pembimbingan kepada
widyaiswara di bawah
jenjang jabatannya;

• penulisan artikel pada surat
kabar;

• penulisan artikel pada
website;

• perolehan gelar/ijazah
kesarjanaan lainnya; dan (6)
perolehan penghargaan/tanda
jasa

2.2.3 Paradigma penelitian

Berdasarkan penjelasan pengaruh antara Job Skill terhadap Kinerja
Widyaiswara dari berbagai variabel diatas, maka kerangka pemikiran teoritis bentuk
penelitian sebagai berikut :

Job Skill (X) Kinerja Widyaiswara (Y)

Pengelolaan pembelajaran Pendidikan
Kepribadian Pelaksanaan Dikjartih
Sosial Evaluasi dan Pengembangan Diklat
Substantif Pengembangan Profesi

Gambar 2.1 Paradigma Pemikiran
Sumber: Paradigma Peneliti

24

2.3 Hipotesis
Ha : Ada Pengaruh yang signifikan antara Job Skill terhadap Kinerja Widyaiswara

BPSDM Provinsi Jawa Barat
H0 : Tidak ada Pengaruh yang signifikan antara Job Skill terhadap Kinerja

Widyaiswara BPSDM Provinsi Jawa Barat.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara yang digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulkan data dalam menyelesaikan penelitiannya. Metode penelitian ini
menggunakan metode deskriptif dan Verifikatif dengan menghubungkan variabel
Job Skill dan Kinerja ASN melalui pengujian hipotesis kemudian dilakukan uji
statistik untuk mendapatkan hasil dari data-data tersebut yang dapat memberikan
penjelasan tentang penelitian ini.

Penelitian ini merupakan penelitian mix methods, yaitu suatu langkah
penelitian dengan menggabungkan dua bentuk pendekatan dalam penelitian, yaitu
kualitatif dan kuantitatif. Penelitian campuran merupakan pendekatan penelitian
yang mengkombinasikan antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif
(Creswell, 2010:5). Sedangkan menurut Sugiyono (2011:18) mix methods adalah
metode penelitian dengan mengkombinasikan antara dua metode penelitian
sekaligus, kualitatif dan kuantitatif dalam suatu kegiatan penelitian, sehingga akan
diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel, dan objektif. Dalam
pendekatan mxed methode ini selain dilakukan dengan menggambarkan secara
deskriptf keadaan sebenarnya yang ada di Widyaiswara BPSDM Prov Jawa Barat
juga dilakukan terhadap data yang diperoleh dari hasil jawaban kuesioner dan
digunakan untuk menganalisis data yang berbentuk angka-angka dan perhitungan
dengan metode statistik. Data tersebut harus diklasifikasikan dalam kategori tertentu
dengan menggunakan tabel-tabel berbentuk data ordinal untuk memudahkan dalam
menganalisis, maka akan digunakan program software SPSS (Statistical Package for
Social Science) yang berfungsi untuk menganalisis data, melakukan perhitungan
statistik dengan basis windows.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Metode
survei ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner / angket, dokumentasi, dan
wawancara.

28

29

3.2 Pendekatan Penelitian
Pendekatan Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan Kuantitatif

dimana Penelitian menggunakan angka dan diolah menggunakan pengujian statistic
Sebelum melakukan penelitian sangatlah perlu kita melakukan suatu perencanaan
dan perancangan penelitian, agar penelitian yang dilakukan dapat berjalan dengan
lancar dan sistematis. Desain penelitian menurut (Narimawati Umi, 2008) adalah
Suatu rencana struktur, dan Strategi untuk menjawab permasalahan, yang
mengoptimasi validitas. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendekatan kuantitatif untuk mengolah data-data yang diperoleh dari lokasi
penelitian merupakan data yang berbentuk angka atau data kuantitatif yang diangkat.

3.3 Populasi dan Sample
Menurut Sugiyono (2018:80-81) Populasi merupakan wilayah generalisasi yang

terdiri atas : objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Sampel memiliki 2 jenis teknik pengambilan sampel, diantaranya :
a) Probability sampling: adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan
peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi
anggota sampel.

b) Non Probaility sampling : teknik ini memiliki pengambilan sampel yang tidak
memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilih menjadi sampel.

3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ASN Widyaiswara Provinsi Jawa

Barat dengan total 45 Orang,

3.3.2. Sampel
Adapun metode sampel yang dilakukan ialah dengan metode sampling jenuh

yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai
sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil atau penelitian
yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain

30

sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel
(Sugiyono, 2014:85)., dengan jumlah populasi sebanyak 45 Orang ASN.

3.4 Sumber danTeknik Pengumpulan Data
3.4.1 Sumber data

Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan data sekunder,
di mana data yang diperoleh penulis merupakan data yang diperoleh dari pengolahan
kuisoner menggunakan data secara langsung. Sementara data sekunder adalah berupa
data tidak langsung seperti dokumentasi, wawancara, literatur dan arsip –arsip.

3.4.2 Tehnik Pengumpulan data
Guna mendapatkan data yang diperlukan didalam penelitian ,maka diperlukan

beberapa teknik pengumpulan data,antara lain:

1. Studi Pustaka (Library Research).

Penelitian Keperpustakaan (Library Research) alah pengumpulan data sekunder
yang mendukung penelitian yang diperoleh dengan menggunakan penggalian dari
berbagai literatur dan dokumen sebagai bahan dasar teori dalam membahas
permasalahan yang sedang dialami.

2. Studi Lapangan (Field Research).

Penelitian Laporan (Field Research) adalah pengumpulan data primer pada objek
yang diteliti untuk memperoleh data yang diperlukan melalui:

Wawancara (interview), merupakan sebuah dialog yang akan dilakukan peneliti
untuk mendapatkan infodari pihak terwawancara meliputi pimpinan perusahaan dan
manajer.

3. Wawancara.

Metode menggunakan metode ini dilaksanakan secara tanya jawab langsung
kepada responden.

31

4. Observasi

Observasi dilakukan dengan cara mengamati secara langsung terhadap objek
penelitian yang berkenaan dengan bidang pemasaran jasa guna mendapatkan
gambaran mengenai permasalahan yang sedang dihadapi .dengan demikian dapat
diketahui keadaan perusahaan yang sebenarnya.

5. Kuiesioner.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner.

Kuesioner adalah suatu cara pengumpulan data dengan memberikan daftar
pertanyaan kepada responden dengan harapan akan memberi respon atas pertanyaan
tersebut. Guna mendapatkan data yang diperlukan didalam penelitian ,maka
diperlukan beberapa teknik pengumpulan data,antara lalin: Koesioner (Pertanyaan
tertulis):

Koesioner merupakan teknik ppengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada reponden untuk
dijawabnya. Kuesioner yang dibuat menggunakan skala Likert.skala Likert menurut
Sugiono (2018:132) digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial,untuk keperluan analisis
kuantitatif ,maka jawaban dari kuesioner tersebut dapat diberi skor,dengan untuk
masing-masing mempunnyai nilai atau bobot tersendiri. Dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan skor untuk jawaban positif.

Skala pengukuran yang digunakan dalam menyusun angket ini adalah lima
skala likert dengan skala 1 (tidak setuju), 2 (Netral), 3 (setuju). Menurut sugiono
(2015:132) menyatkan “bahwa skala Likert digunakan untuk mengukur sikap,
pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena
sosial.setiap jawaban reponden berturut-turut bernilai diberi nilai 3, 2, 1 jika item
pertanyaan berindikasi positif,dan sebaliknya setiap jawaban reponden berturut-turut
diberi nilai 1, 2, 3 jika item pertanyaan berindikasi negatif ”, adapun tingkatan
pensekorannya dapat dilihat dari tabel dibawah ini.

32

Tabel 3.1 Skoring Jawaban Responden

Kriteria Positif Negatif

Setuju 31

Kurang Setuju 22

Tidak Setuju 13

3.5 Teknik Analisis Data
3.5.1 Uji Kualitas Data

Pada proses pengolahan hasil data penelitian, maka perlu dilakukan pengujian
kualitas data sebelum diolah dan dianalisa. Ada dua konsep dalam mengukur kualitas
data, yaitu: validitas dan reliabilitas. Artinya suatu penelitian akan menghasilkan
kesimpulan yang bias jika datanya kurang reliable dan kurang valid. Sedangkan
kualitas data penelitian ditentukan oleh kualitas instrument yang digunakan untuk
mengumpulkan data.

Karena data hasil kuesioner merupakan data yang berskala ordinal,maka agar
data tersebut dapat diolah dengan menggunakan metode-metode statistika
parametrik, perlu terlebih dahulu untuk meningkatkan skala datanya menjadi
interval. Salah satu metode yang digunakan oleh penulis adalah Method of
successive Interval (MSI).

1. Ambil data yang berasal dari kuisioner
2. Berdasarkan hasil jawaban responden untuk setiap kategori, hitung proporsi

kumulatifnya,
3. Menghitung nilai desity untuk setiap proporsi kumulatif dengan memasukan

nilai Z ( Tabel distribusi normal)
4. Menghitung nilai Z (Tabel distribusi normal) untuk setiap proporsi

kumulatif , untuk data n > 30 dianggap mendekati luas daerah di bawah
kurva normal.

33

5. Menghitung nilai skala dengan rumus MSI :


1 = −

Keterangan :
SVᵢ = Scale value respon jawaban ke- i
DLL = Density of lower limit ( kepadatan atas bawah )
DUL = Density of upper limit ( kepadatan batas atas)
AUUL = Area under upper limit ( daerah dibawah batas atas)
AULL = Area under lower limit ( daerah dibawah batas bawah)

6. Hitung skor nilai ( nilai hasil transformasi) unuk setiap pilihan jawaban
dengan persamaan sebagai berikut :

Nilai Transformasi = Nilai Skala - │ Nilai Skala Minimal│+ 1

3.5.2 Uji Validitas
Uji validitas ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana alat ukur, dalam ini

kuesioner mengukur apa yang hendak di ukur atau sejauh mana alat ukur yang di
gunakan mengenai sasaran. Semakin tinggi validitas suatu alat test, maka alat
tersebut semakin mengenai sasarannya, atau senakin menunjukan apa yang
seharusnya di ukur.

Pengujian validitas yang diterapkan oleh penulis adalah dengan analisis faktor,
yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen dalam suatu faktor, dan
mengkorelasikan skor faktor dengan skor total (Sugiono 2018:177).

Untuk menguji tingkat validitas instrumen dalam penelitian ini akan digunakan
teknik analisis korelasi product moment Pearson dengan rumus sebagai berikut:
(Sugiono 2018:213).

34

n  xy − ( x)( y)

n  x2 −  x 2 n y2 −  y 2
 ( )  ( ) rxy =

dengan pengertian :
rxy : koefisien Validitas item yang dicari
x :Skor yang diperoleh dari subjek tiap item
n :Jumlah responden

Y : Skor total
∑X : Jumlah skor dalam distribusi X
∑Y : Jumlah skor dalam distribusi Y
∑X2 : Jumlah kuadrat pada masing – masing skor X
∑Y2 : Jumlah kuadrat pada masing – masing skor Y

Setelah angka korelasinya diketahui ,kemudian dihitung nilai t dan r dengan
rumus:

t = r n − 2 : db = n − 2
1− r 2

t = setelah itu dibandingkan dengan nilai kritiknya,Bila thitung > ttabel berarti data
tersebut signifikan (valid) dan layak digunakan dalam pengajuan hipotesis
penelitian.sebaliknya jika thitung < ttabel berarti data tersebut tidak signifikan (tidak
valid)dan tidak dapat di ikut sertakan dalam pengajuan hipotesis
penelitian.pertanyaan-pertanyaan yang valid selanjutnya dilakukan uji
realibilitasnya.

35

3.5.3 Uji Realibilitas
Setelah dilakukan pengujian validitas,maka langkah selanjutnya adalah

melakukan pengujian realibilitas. Reliabel artinya dapat dipercaya jadi dapat
diandalkan.

Uji reabilitas di tunjukan untuk menguji sejauh mana suatu hasil pengukuran
relatif konsisten apabila pengukuran di ulang dua kali atau lebih jadi reabilitas adalah
indeks yang menunjukan sejauh mana alat ukur dapat di percaya atau diandalkan jika
alat ukur tersebut digunakan dua kali untuk konsisten.

Metode perhitungan reliabilitas yang digunakan dengan cara memberikan suatu
test pada seluruh objek dan ke mudian hasil test dibagi jadi dua sama besar, dengan
membagi test berdasarkan item- item yang bernomor ganjil dan genap (Sugiyono
,2018: 278).

Dalam penelitian ini, pengujian realibilitas instrumen menggunakan internal
consistency, dimana instrumen dicobakan sekali saja .data yang diperoleh kemudian
dianalisis, setelah itu output dari hasil tersebut dimasukkan kedalam persamaan
Spearmant Brown ( Split Half Method ).
Menurut (Sugiono, 2011:186),rumus yang digunakan adalah:

ri = 2rb
1 + rb

dimana:
ri = reliabilitas instrument seluruh instrument.
rb = korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua.
Keputusan uji realibilitas ditentukan dengan menggunakan ketentuan:jika
realibilitas internal seluruh item (ri) > rtab (tarap signifikan 10 %) maka item
instrumen dinyatakan realibel.tetapi jika realibilitasnya intenal seluruh item (ri) <
rtab (tarap signifikan 10%) maka instrumen dinyatakan tidak realibel.

36

3.5.4 Analisis Regresi Sederhana

Dalam penelitian ini ,penulis menggunakan analisis regresi linear berganda
karena tidak menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara variabel secara jelas
,sehingga dalam hal ini penulis menarik kesimpulan adanya keterhubungan antar
variabel tersebut secara nalar.

Persamaan regresi digunakan untuk mengetahui elastisitas variabel independent
terhadap variabel dependent. Persamaan ini digunakan untuk melihat seberapa besar
perubahan pada variabel independent yang akan mempengaruhi variabel dependen
nya.

Peneliti akan menggunakan model regresi linier sederhana untuk mengetahui
Job Skill terhadap Kinerja. Untuk mengetahui besarnya pengaruh secara kuantitatif
dari suatu perubahan (variabel X) terhadap kejadian lainnya (variabel Y). Analisis
regresi (model keempat) menggunakan rumus persamaan regresi, yaitu:

Y = a + β1X + Σ

Dimana :
Y = variabel dependen yaitu Kinerja ASN
X = variabel independen yaitu Job Skill
β0 = konstanta yang merupakan rata-rata nilai Y Jika nilai X1 dan X2 bernilai 0
β1 = koefisien regresi persisi, mengukur rata-rata nilai Y untuk tiap perubahan X1
e = Epsilon / Variabel control

3.5.5 Uji koefisien determinasi

Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model
dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien detrminasi adalah
antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel
independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang
mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua
informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali,
2013:16).

37

R2 = β1(x1y)
(y1 y)

Dimana analisis koefisien determinasi ini adalah untukmengertahui besarnya
pengaruh variabel independen terhadap variabel dependent.secara verbal R2
digunakan untuk mengukur proporsi atau presentasi pariasi total dalam variabel
deppendent (Y) yang dijelaskan oleh variabel independent (X).adapun dua sifat dari
R2, yaitu:

1.Merupakan besaran negatif 2.Besarnya adalah 0 ≤ R2 ≤ 1

Dalam penelitian ini akan digunakan program Statistical program for social science
(SPSS 23 for windows) dan excel 2013 for windows. Hal ini dimaksudkan agar
memudahkan dalam pengolahan dan analisis data. Sehingga perhitungan terhadap
konstanta, koefisien regresi masing – masing variabel ,koevisien korelasi (r)
koefisien determinasi (R2)dan perhitungan lainnya yang diperlukan dapat dilakukan
dengan cepat dan lebih teliti dibandingkan dengan perhitungan secara manual.

3.6 Teknik Pengujian Hipotesis

Pengajuan uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan menggunakan dua cara
yaitu: Pengujian secara bersama – sama (simultan) dan pengujian secara individual
(parsial). namun dalam hal ini Penelitian hanya menggunakan pengujian parsial

3.6.1 Uji Signifikan Parsial

Uji statistik t pada dasarnya untuk menunjukan seberapa jauh pengaruh satu
variabel independent (X) secara individual dalam menerangkan variasi variabel
dependent (Y) .Hipotesis nol (H0) yang hendak di uji adalah apakah suatu parameter
(bi)sama dengan nol :

38

Langkah – langkah pengujian hipotesis secara parsial sebagai berikut:
1. Merumuskan hipotesis statistik
Jika hasil pengujian secara bersama – sama menolak Ho,berarti βi> 0 ,agar dapat

diketahui βi, yang secara benar mempengaruhi variabel endogenus maka perlu
dilakukan pengujian secara parsial dalam hipotesis sebagai berikut :

Ho : β1 ≤ 0,

Ha : β1 > 0,

Melakukan Pengujian Statistik

Alat uji statistik yang digunakan untuk pengujian secara parsial yaitu Uji–
t,besarnya thitung ,dapat dihitung dengan rumus :

thitung = ( )

2. Melakukan Kriteria Pengujian

a. Jika thitung ≤ t tabel ,Ho diterima H1 ditolak . t a k (n – k – 1)
b. Jika thitung>ttabel , Ho ditolak H1 diterima.

t tabel {t a k (n – k ) } diperoleh dari tabel distribusi t- student pada tarap kesalahan
a unutk satu pihak dan derajat bebas V=n – k – 1.

39

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian
Pada bab ini akan dibahas mengenai data yang diperoleh dari lapangan

kemudian diolah sehingga akan diperoleh hasil dari penelitian ini. Hasil dari
pengolahan tersebut dikaitkan dengan hipotesis yang telah dijelaskan pada bab
sebelumnya. Pengujian tersebut berupa keberartian variabel bebas terhadap variabel
terikat dan kemudian besarnya pengaruh, baik secara simultan atau bersama-sama
maupun secara parsial atau individu antara variabel bebas terhadap variabel terikat.
Pada Penelitian ini penulis melakukan penyebaran kuesioner kepada ASN
Widyaiswara Provinsi Jawa Barat sebanyak 45 responden Pada bab ini juga akan
dibahas mengenai realisasi dan hubungan Job Skill Terhadap Kinerja Asn Dimasa
Pandemi.

4.1.1 Analisis Data Responden
Pada penelitian ini penulis melakukan penyebaran kuesioner kepada

responden yang telah ditentukan yaitu ASN Widyaiswara Provinsi Jawa Barat
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang telah dilakukan, bahwa dari kuesioner
yang dikirim kepada responden terisi dan dikembalikan kepada penulis dengan
jumlah 45 responden.

4.1.1.1 Jabatan

Tabel 4.1 Jabatan

Jabatan Jumlah

Widyaiswara Ahli Utama 15

Widyaiswara Ahli Madya 18

None 12

Total 45

Sumber: Olahan Data tahun 2018

40

Dari data diatas terlihat bahwa Jabatan dari responden mayoritas adalah responden
dengan jawaban Widyaiswara Ahli Madya sebanyak 18 Responden sedangkan
responden dengan jabatan Widyaiswara Ahli Utama sebanyak 15 responden dan
sisanya sebanyak 12 responden tidak mengisi opsi.

4.1.2 Analisis Tanggapan Responden
Untuk menganalisis tanggapan responden, jawaban responden akan ditotal

skorkan yaitu dengan mengalikan jumlah responden yang menjawab dengan nilai
skala likert dari jawaban tersebut. Setelah itu nilai total skor tersebut dibandingkan
dengan nilai total skor standar untuk mengetahui skornya. Nilai total skor standar ini
dibagi ke dalam tiga (5) rentang penilaian yaitu sangat setuju, setuju, kurang setuju,
tidak setuju, sangat tidak setuju
Untuk mencari nilai total skor standar dilakukan dengan mencari panjang rentang
total skor ketiga pengklasifikasian di atas. Adapun rumusnya sebagai berikut:

RI = Bmaks - Bmin
3

(5 x 45) - (1 x 45)
RI =

5
RI = 36

Keterangan :
RI = Rentang Interval
Bmaks = Total Skor jawaban maksimum (5)
Bmin = Total Skor jawaban minimum (1)

Setelah itu pentotal skoran dibagi ke dalam tiga (5) tingkatan berdasarkan
pengklasifikasian di atas yang dimulai dari 45. Adapun klasifikasi nilai total skor
standar yang dihasilkan adalah sebagai berikut :

41

Tabel 4.2
Nilai Total Skor Standar

Nilai Total Skor Kategori

45 – 80 Sangat rendah

81 - 115 Rendah
114 – 151 Sedang
152 – 186 Tinggi

187 - 225 Sangat Tinggi

Sumber: hasil perhitunga

4.1.2.1 Job Skill (X)

Tabel 4.3
Item Pertanyaan 1
Saya mampu Membuat Garis-garis besar program Pembelajaran (GBPP), Rancang
Bangun Pembelajaran (RBP), dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP)/ Rencana
pembelajaran dengan sangat baik

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total Skor

Sangat Setuju 5 25 56% 125
Setuju 4 19 42% 76
3 1 2% 3
Kurang Setuju 2 0 0% 0
Tidak Setuju 1 0 0% 0
Sangat tidak setuju 45 100% 204

Total

Pada Dari Tabel 4.3 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 1 “Saya mampu
Membuat Garis-garis besar program Pembelajaran (GBPP), Rancang Bangun
Pembelajaran (RBP), dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP)/ Rencana pembelajaran
dengan sangat baik.” terlihat bahwa mayoritas persentase responden yang menjawab
sangat setuju sebesar 56% dengan frekuensi 25 orang, responden yang menjawab
setuju yakni sebesar 42% dengan frekuensi 19 orang, sedangkan responden tidak ada
yang menjawab Tidak setuju dan sangat tidak setuju.

42

Tabel 4.4
Item Pertanyaan 2

Saya Mampu Menyusun Bahan Ajar dengan baik

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 15 33% 75

Setuju 4 27 60% 108

Kurang Setuju 3 2 4% 6
2 1 2% 2
Tidak Setuju
Sangat tidak 1 0 0% 0

setuju

Total 45 100% 191

Pada Dari Tabel 4.4 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 2 “Saya Mampu
Menyusun Bahan Ajar dengan baik.” terlihat bahwa mayoritas persentase responden
yang menjawab setuju sebesar 60% dengan frekuensi 27 orang, responden yang
menjawab sangat setuju yakni sebesar 33% dengan frekuensi 15 orang, sedangkan
responden tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

Tabel 4.5

Item Pertanyaan 3

Saya Menerapkan Pembelajaran orang dewasa dengan sebaik-baiknya

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 23 51% 115
Setuju 4 21 47% 84

Kurang Setuju 3 1 2% 3

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 202

Pada Dari Tabel 4.5 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 3 “Saya
Menerapkan Pembelajaran orang dewasa dengan sebaik-baiknya.” terlihat bahwa
mayoritas persentase responden yang menjawab sangat setuju sebesar 51% dengan
frekuensi 23 orang, responden yang menjawab setuju yakni sebesar 47% dengan
frekuensi 21 orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab Tidak setuju dan
sangat tidak setuju.

43

Tabel 4.6

Item Pertanyaan 4

Saya selalu melakukan komunikasi yang efektif dengan peserta

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total Skor

Sangat Setuju 5 20 44% 100

Setuju 4 23 51% 92

Kurang Setuju 3 2 4% 6

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 198

Pada Dari Tabel 4.6 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 4 “Saya selalu
melakukan komunikasi yang efektif dengan peserta.” terlihat bahwa mayoritas

persentase responden yang menjawab setuju sebesar 51% dengan frekuensi 23 orang,

responden yang menjawab sangat setuju yakni sebesar 44% dengan frekuensi 20

orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

Tabel 4.7
Item Pertanyaan 5

saya selalu mengevaluasi pembelajaran dengan sangat teliti

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 12 27% 60

Setuju 4 28 62% 112

Kurang Setuju 3 3 7% 9

Tidak Setuju 2 2 4% 4

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 817

Pada Dari Tabel 4.7 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 5 “saya selalu
mengevaluasi pembelajaran dengan sangat teliti.” terlihat bahwa mayoritas

persentase responden yang menjawab setuju sebesar 62% dengan frekuensi 28 orang,

responden yang menjawab sangat setuju yakni sebesar 27% dengan frekuensi 12

orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

Tabel 4.8

Item Pertanyaan 6

Saya selalu berusaha Menampilkan Pribadi yang dapat diteladani

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total Skor

44

Sangat Setuju 5 25 56 % 125

Setuju 4 19 42 % 76

Kurang Setuju 3 1 2% 3

Tidak Setuju 2 0 0 0

Sangat tidak setuju 1 0 0 0

Total 45 100% 204

Pada Dari Tabel 4.8 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 6 “Saya selalu
berusaha Menampilkan Pribadi yang dapat diteladani.” terlihat bahwa mayoritas

persentase responden yang menjawab sangat setuju sebesar 56% dengan frekuensi

25 orang, responden yang menjawab sangat setuju yakni sebesar 42% dengan

frekuensi 19 orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab tidak setuju dan

sangat tidak setuju.

Tabel 4.9

Item Pertanyaan 7

Saya selalu berusaha melakukan kode etik dan menunjukan etoss

kerja sebagai Widyaiswara yang professional

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 28 62 % 140

Setuju 4 14 31 % 56

Kurang Setuju 3 3 7% 9

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 205

Pada Dari Tabel 4.9 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 7 “Saya selalu

berusaha melakukan kode etik dan menunjukan etoss kerja sebagai Widyaiswara
yang professional.” terlihat bahwa mayoritas persentase responden yang menjawab

sangat setuju sebesar 62% dengan frekuensi 28 orang, responden yang menjawab

setuju yakni sebesar 31% dengan frekuensi 14 orang, sedangkan responden tidak ada

yang menjawab Tidak setuju dan sangat tidak setuju.

Tabel 4.10
Item Pertanyaan 8
Saya selalu berusaha Membina hubungan dan kerjasama dengan
sesame Widyaiswara

45

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total Skor
Sangat Setuju 5 32
4 13 71% 160
Setuju 3 0
Kurang Setuju 2 0 29% 52
Tidak Setuju 1 0
Sangat tidak setuju 45 0% 0

Total 0% 0

0% 0

100% 212

Pada Dari Tabel 4.10 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 8 “Saya selalu
berusaha Membina hubungan dan kerjasama dengan sesame Widyaiswara.” terlihat
bahwa mayoritas persentase responden yang menjawab sangat setuju sebesar 71%
dengan frekuensi 32 orang, responden yang menjawab setuju yakni sebesar 29%
dengan frekuensi 13 orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab sangat
tidak setuju maupun kurang setuju

Tabel 4.11
Item Pertanyaan 9

Saya selalu berusaha Menjalin hubungan dengan
penyelenggara/pengelola lembaga diklat

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 26 58% 130

Setuju 4 18 40% 72

Kurang Setuju 3 1 2% 3

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 205

Pada Dari Tabel 4.11 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 9 “Saya selalu
berusaha Menjalin hubungan dengan penyelenggara/pengelola lembaga diklat.”
terlihat bahwa mayoritas persentase responden yang menjawab sangat setuju sebesar
58% dengan frekuensi 26 orang, responden yang menjawab setuju yakni sebesar 40%
dengan frekuensi 18 orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab Tidak
setuju dan sangat tidak setuju.

Tabel 4.12

46

Item Pertanyaan 10

Saya Menguasai keilmuan dan keterampilan memprakterkan sesuai
dengan materi diklat yang diajarkan

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total Skor

Sangat Setuju 5 18 40% 90

Setuju 4 26 58% 104

Kurang Setuju 3 1 2% 3

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 197

Pada Dari Tabel 4.12 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 10 “Saya
Menguasai keilmuan dan keterampilan memprakterkan sesuai dengan materi diklat
yang diajarkan.” terlihat bahwa mayoritas persentase responden yang menjawab
setuju sebesar 58% dengan frekuensi 26 orang, responden yang menjawab sangat
setuju yakni sebesar 40% dengan frekuensi 18 orang, sedangkan responden tidak ada
yang menjawab sangat tidak setuju.

Tabel 4.13
Item Pertanyaan 11

Saya sangat mampu Menulis karya ilmiah yang terkait dengan
lingkup kediklatan dan/atau pengembangan spesialisasinya

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 12 27% 60

Setuju 4 30 67% 120

Kurang Setuju 3 3 7% 9

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 189

Pada Dari Tabel 4.13 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 11 “Saya sangat
mampu Menulis karya ilmiah yang terkait dengan lingkup kediklatan dan/atau
pengembangan spesialisasinya.” terlihat bahwa mayoritas persentase responden yang
menjawab setuju sebesar 67% dengan frekuensi 30 orang, responden yang menjawab
sangat setuju yakni sebesar 27% dengan frekuensi 12 orang, sedangkan responden
tidak ada yang menjawab Tidak setuju dan sangat tidak setuju.

47

Dari 11 pertanyaan pada variabel Job Skill maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Tabel 4.14

Total Skor Total Variabel Job Skill

No. Indikator Total Persentase Kategori
Skor
Sangat
Saya mampu Membuat Garis-garis Tinggi

besar program Pembelajaran Sangat
Tinggi
(GBPP), Rancang Bangun Sangat
Tinggi
1 Pembelajaran (RBP), dan Satuan 204 9% Sangat
Tinggi
Acara Pembelajaran (SAP)/
Tinggi
Rencana pembelajaran dengan
Sangat
sangat baik Tinggi

2 Saya Mampu Menyusun Bahan 191 9% Sangat
Ajar dengan baik Tinggi

Saya Menerapkan Pembelajaran Sangat
Tinggi
3 orang dewasa dengan sebaik- 202 9%
Sangat
baiknya Tinggi

Saya selalu melakukan Sangat
Tinggi
4 komunikasi yang efektif dengan 198 9%
Sangat
peserta Tinggi

5 saya selalu mengevaluasi 185 8% Sangat
pembelajaran dengan sangat teliti Tinggi

Saya selalu berusaha

6 Menampilkan Pribadi yang dapat 204 9%
205 9%
diteladani 212 10%
205 9%
Saya selalu berusaha melakukan 197 9%
189 9%
7 kode etik dan menunjukan etoss
kerja sebagai Widyaiswara yang

professional

Saya selalu berusaha Membina

8 hubungan dan kerjasama dengan

sesama Widyaiswara

Saya selalu berusaha Menjalin

9 hubungan dengan

penyelenggara/pengelola lembaga

diklat

Saya Menguasai keilmuan dan

10 keterampilan memprakterkan
sesuai dengan materi diklat yang

diajarkan

Saya sangat mampu Menulis karya

11 ilmiah yang terkait dengan lingkup

kediklatan dan/atau

pengembangan spesialisasinya

Jumlah 2192 100%
Rata-rata 199.273

48

Berdasarkan tabel 4.14 di atas dapat kita lihat bahwa rata-rata skor dari Variabel Job
Skill adalah 199,273 dengan kategori Sangat Tinggi. indikator yang memiliki nilai
pemskoran paling tertinggi adalah indikator dengan pertanyaan “Saya selalu
berusaha Membina hubungan dan kerjasama dengan sesama Widyaiswara” dengan
presentase 10% dan Skor 212. Sedangkan indikator yang memiliki nilai pemSkoran
paling rendah adalah inikator dengan pertanyaan “saya selalu mengevaluasi
pembelajaran dengan sangat teliti” dimana mempunyai presentasi 8 % dengan Skor
185.

4.1.2.2 Kinerja ASN (Y)

Tabel 4.15
Item Pertanyaan 12

Saya mengikuti pendidikan formal sesuai dengan aturan yang
ditentukan bagi Widyaiswara BPSDM Jawa Barat

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total Skor

Sangat Setuju 5 15 33% 75

Setuju 4 21 47% 84

Kurang Setuju 3 9 20% 27

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 186

Pada Dari Tabel 4.15 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 12 “Saya

mengikuti pendidikan formal sesuai dengan aturan yang ditentukan bagi
Widyaiswara BPSDM Jawa Barat.” terlihat bahwa mayoritas persentase responden

yang menjawab setuju sebesar 47% dengan frekuensi 21 orang, responden yang

menjawab sangat setuju yakni sebesar 33% dengan frekuensi 15 orang, sedangkan

responden tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

Tabel 4.16

Item Pertanyaan 13

Saya mengikuti kegiatan Diklat fungsional/teknis

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 20 44% 100

49

Setuju 4 22 49% 88

Kurang Setuju 3 3 7% 9

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 197

Pada Dari Tabel 4.16 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 13 “Saya
mengikuti kegiatan Diklat fungsional/teknis.” terlihat bahwa mayoritas persentase
responden yang menjawab setuju sebesar 49% dengan frekuensi 22 orang, responden
yang menjawab sangat setuju yakni sebesar 44% dengan frekuensi 20 orang,
sedangkan responden tidak ada yang menjawab Tidak setuju dan sangat tidak setuju.

Tabel 4.17
Item Pertanyaan 14

Saya selalu melakukan tatap muka Diklat

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor
Sangat Setuju 5 8 18%
Setuju 4 21 47% 40
3 14 31% 84
Kurang Setuju 2 2 4% 42
Tidak Setuju 1 0 0% 4
Sangat tidak setuju 0

Total 45 100% 170

Pada Dari Tabel 4.17 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 14 “Saya selalu

melakukan tatap muka Diklat.” terlihat bahwa mayoritas persentase responden yang

menjawab setuju sebesar 47% dengan frekuensi 21 orang, responden yang menjawab

kurang setuju yakni sebesar 31% dengan frekuensi 14 orang, sedangkan responden

tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

Tabel 4.18
Item Pertanyaan 15
Saya selalu melakukan agenda pembimbingan

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor
Sangat Setuju 5 17 38%
49% 85
Setuju 4 22 11% 88
2% 15
Kurang Setuju 3 5 2

Tidak Setuju 2 1

50

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 190

Pada Dari Tabel 4.18 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 15 “Saya selalu
melakukan agenda pembimbingan.” terlihat bahwa mayoritas persentase responden

yang menjawab setuju sebesar 49% dengan frekuensi 22 orang, responden yang

menjawab sangat setuju yakni sebesar 38% dengan frekuensi 17 orang, sedangkan

responden tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

Tabel 4.19
Item Pertanyaan 16

Saya melakukan Pendampingan OL/PKL/ Benchmarking

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 8 18% 40

Setuju 4 26 58% 104

Kurang Setuju 3 10 22% 30

Tidak Setuju 2 1 2% 2

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 176

Pada Dari Tabel 4.19 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 16 “Saya
melakukan Pendampingan OL/PKL/ Benchmarking.” terlihat bahwa mayoritas
persentase responden yang menjawab setuju sebesar 58% dengan frekuensi 26 orang,
responden yang menjawab sangat setuju yakni sebesar 18% dengan frekuensi 8
orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

Tabel 4.20

Item Pertanyaan 17

Saya melakukan Pendampingan penulisan kertas kerja/proyek

perubahan

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 17 38% 85

Setuju 4 27 60% 108

Kurang Setuju 3 1 2% 3

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 196

51

Pada Dari Tabel 4.20 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 17 “Saya
melakukan Pendampingan penulisan kertas kerja/proyek perubahan.” terlihat bahwa

mayoritas persentase responden yang menjawab setuju sebesar 60% dengan

frekuensi 27 orang, responden yang menjawab setuju yakni sebesar 38% dengan

frekuensi 17 orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab Tidak setuju dan

sangat tidak setuju.

Tabel 4.21

Item Pertanyaan 18

Saya selalu melakukan pemeriksaan hasil Diklat dengan sebaik-

baiknya

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 16 36% 80

Setuju 4 24 53% 96

Kurang Setuju 3 4 9% 12

Tidak Setuju 2 1 2% 2

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 190

Pada Dari Tabel 4.21 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 18 “Saya selalu
melakukan pemeriksaan hasil Diklat dengan sebaik-baiknya.” terlihat bahwa

mayoritas persentase responden yang menjawab setuju sebesar 53% dengan

frekuensi 24 orang, responden yang menjawab sangat setuju yakni sebesar 36%

dengan frekuensi 16 orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab sangat

tidak setuju

Tabel 4.22

Item Pertanyaan 19
Saya selalu melakukan Coaching pada proses penyelenggaraan

Diklat

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 14 31% 70

Setuju 4 25 56% 100

Kurang Setuju 3 6 13% 18

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

52

Total 45 100% 188

Pada Dari Tabel 4.22 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 19 “Saya selalu
melakukan Coaching pada proses penyelenggaraan Diklat.” terlihat bahwa mayoritas

persentase responden yang menjawab setuju sebesar 56% dengan frekuensi 25 orang,

responden yang menjawab sangat setuju yakni sebesar 31% dengan frekuensi 14

orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab Tidak setuju dan sangat tidak

setuju.

Tabel 4.23
Item Pertanyaan 20

Pengevaluasian penyelenggaraan Diklat di instansi, selalu saya
lakukan dengan sungguh-sungguh dan sangat teliti

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 11 24% 55

Setuju 4 29 64% 116

Kurang Setuju 3 5 11% 15

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 186

Pada Dari Tabel 4.23 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 20

“Pengevaluasian penyelenggaraan Diklat di instansi, selalu saya lakukan dengan

sungguh-sungguh dan sangat teliti.” terlihat bahwa mayoritas persentase responden

yang menjawab setuju sebesar 64% dengan frekuensi 29 orang, responden yang

menjawab sangat setuju yakni sebesar 24% dengan frekuensi 11 orang, sedangkan

responden tidak ada yang menjawab tidak setuju maupun sangat tidak setuju.

Tabel 4.24
Item Pertanyaan 21

Dalam Pengevaluasian kinerja widyaiswara, dilakukan dengan
teliti dan objektif

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 9 20% 45

Setuju 4 26 58% 104

Kurang Setuju 3 10 22% 30

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

53

Total 45 100% 179

Pada Dari Tabel 4.23 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 21 “Dalam
Pengevaluasian kinerja widyaiswara, dilakukan dengan teliti dan objektif.” terlihat

bahwa mayoritas persentase responden yang menjawab setuju sebesar 58% dengan

frekuensi 26 orang, responden yang menjawab sangat setuju yakni sebesar 20%

dengan frekuensi 9 orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab Tidak

setuju dan sangat tidak setuju.

Tabel 4.25

Item Pertanyaan 22

Penganalisisan kebutuhan Diklat selalu dilakukan dengan sebaik-
baiknya

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total Skor

Sangat Setuju 5 10 22% 50

Setuju 4 31 69% 124

Kurang Setuju 3 4 9% 12

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 186

Pada Dari Tabel 4.25 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 22

“Penganalisisan kebutuhan Diklat selalu dilakukan dengan sebaik-baiknya.” terlihat

bahwa mayoritas persentase responden yang menjawab setuju sebesar 69% dengan

frekuensi 31 orang, responden yang menjawab sangat setuju yakni sebesar 22%

dengan frekuensi 15 orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab tidak

setuju maupun sangat tidak setuju.

Tabel 4.26

Item Pertanyaan 23

Penyusunan kurikulum diklat selalu saya lakukan dengan sangat

baik

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 12 27% 60

Setuju 4 28 62% 112

Kurang Setuju 3 5 11% 15

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 187

54

Pada Dari Tabel 4.26 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 23 “Penyusunan
kurikulum diklat selalu saya lakukan dengan sangat baik.” terlihat bahwa mayoritas

persentase responden yang menjawab setuju sebesar 62% dengan frekuensi 28 orang,

responden yang menjawab sangat setuju yakni sebesar 27% dengan frekuensi 12

orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab Tidak setuju dan sangat tidak

setuju.

Tabel 4.27
Item Pertanyaan 24

Penyusunan modul diklat selalu saya lakukan dengan sangat baik

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 7 16% 35

Setuju 4 31 69% 124

Kurang Setuju 3 7 16% 21

Tidak Setuju 2 0 0% 0

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 180

Pada Dari Tabel 4.27 di atas dapat kita lihat bahwa item pernyataan 24 “Penyusunan

modul diklat selalu saya lakukan dengan sangat baik.” terlihat bahwa mayoritas

persentase responden yang menjawab setuju sebesar 69% dengan frekuensi 31 orang,

responden yang menjawab sangat setuju dan kurang setuju yakni sebesar 16%

dengan frekuensi 7 orang, sedangkan responden tidak ada yang menjawab tidak

setuju maupun sangat tidak setuju.

Tabel 4.28

Item Pertanyaan 25

Saya mampu Membuat karya tulis/karya ilmiah dalam bidang

spesialisasi keahliannya dan lingkup kediklatan, dalam bentuk

buku

Jawaban Skor Jumlah Persentase Total
Skor

Sangat Setuju 5 7 16% 35
51% 92
Setuju 4 23 31% 42

Kurang Setuju 3 14

Tidak Setuju 2 1 2% 2

Sangat tidak setuju 1 0 0% 0

Total 45 100% 171


Click to View FlipBook Version