Dokumentasi Karya
i
ii
SINAR SANG WUKU
iii
SINAR SANG WUKU
Dokumentasi Karya
Penelitian Penciptaan Penyajian Seni Rupa Dan Desain [P3SD]
Eksplorasi Visual Pawukon untuk Pengembangan Desain Decorative Lighting Sebagai
Elemen Estetis Interior
Penerbit
FSRD Publisher
Gedung IV Lantai I
FSRD UNS
Jl. Ir. Sutami 36A Kentingan 57126
Surakarta
Penulis
Anung B Studyanto
Setyawan
Sampul
Setyawan
Tata Letak
Anung
Faiq
Jalu Pambarep
Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat
Universitas Sebelas Maret
@2020
iv
Rupa pawukon termasuk elemen estetis yang kurang dikenal oleh generasi sekarang.
Rupa pawukon sebagai salah satu warisan budaya yang menarik, berupa gambar
yang menyertai perhitungan atau pethangan Jawa yang berlandaskan mitologi
Hindu. Pawukon mengenai waktu yang dihubungkan dengan ramalan kehidupan
manusia berdasarkan wukunya. Gambar pawukon berjumlah 30 buah, dari gambar
wuku Sinta sampai dengan gambar wuku Watugunung disertai gambar dewa atau
dewinya. Bentuknya seperti wayang purwa dilengkapi gambar bangunan atau
gedhong, gambar senjata, gambar berbagai jenis pohon, burung dan lain-lain yang
masing-masing mempunyai maksud dan arti tertentu. Komposisi dari berbagai unsur
itu membuat bentuk secara keseluruhan sangat menarik.
v
vi
Prakata
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmatnya
sehingga penulisan Buku Dokumentasi Karya SINAR SANG WUKU ini dapat
terselesaikan. Buku dokumentasi karya ini adalah luaran dari Penelitian ‘Eksplorasi
Visual Pawukon Untuk Pengembangan Desain Decorative Lighting Sebagai Elemen
Estetis Interior’ adalah penelitian terapan bersifat research and development. Tujuan
penelitian adalah mengeksplorasi kekayaan visual peninggaalan zaman Mataram
Islam berupa Pawukon. Hasil eksplorasi visual digunakan untuk mengembangkan
desain decorative lighting menjadi elemen estetis interior yang inovatif, kompetitif,
dan mempunyai diferensiasi produk yang tinggi. Tujuan penelitian untuk
melestarikan Pawukon sekaligus memberi inovasi bagi perkembangan desain
decorative lighting agar mampu bersaing di pasar industri.
Pawukon mengandung ramalan tentang perhitungan waktu terdapat dalam
buku-buku primbon. Buku-buku tersebut tidak hanya dimiliki oleh masyarakat
kebanyakan, namun hidup juga di lingkungan keraton. Pawukon di luar kepercayaan
mempunyai nilai keindahan yang diwariskan dari nenek moyang orang Jawa.
Pawukon sudah lama berkembang di Jawa, menurut Prof. Dr. Philip Van Akkeren,
peneliti dari Belanda menjelaskan bahwa jejak pawukon bisa dilacak sejak abab ke-
10, tercantum dalam piagam batu dan kuningan atau perunggu dengan huruf Jawa
kuno. Piagam itu memberitakan penggunaan pranata mangsa Jawa berupa
perlintangan dan pawukon Jawa berdampingan dengan kalender yang berasal dari
India.
Metode penelitian dalam bentuk riset aksi dilakukan dengan menciptakan
pengembangan desain decorative lighting, pada pelaksanaannya menggunakan
metode desain yang melewati tiga proses pokok: proses eksplorasi, proses ekstraksi,
dan proses pada titik terminasi. Pengembangan desain dengan dari berbagai
material diharapkan hadir nuansa baru dan lebih tepat ketika diaplikasikan ke dalam
interior. Produk ini bisa dijadikan sebagai model pengembangan decorative lighting
yakni produk kreatif yang memadukan tradisi masa lalu dengan kreativitas
penciptaan era sekarang modern.
Kekurangan dalam penulisan buku ini tentu saja selalu ada, untuk itu kritik,
saran dan masukan sangat penulis harapkan. Terakhir penulis berharap semoga buku
ini dapat bermanfaat bagi pengembangan keilmuan dan masyarakat umum.
Surakarta, November 2020
Tim Penulis
vii
viii
Daftar Isi i
vii
Halaman Sampul ix
Prakata 2
Daftar Isi 9
12
1. Pawukon dan Perkembangannya 32
2. Metode Riset 46
3. Eksplorasi Visual Pawukon 47
4. Eksplorasi Visual Pawukon Pada Decorative Lighting 48
5. Simpulan dan Saran
Daftar Pustaka
Lampiran
ix
1
1. Pawukon dan Perkembangannya
A. Latar Belakang
Desain selalu berkembang sesuai dengan tuntutan jaman, desain
yang tidak sesuai dengan tuntutan jaman akan ditinggalkan oleh
pendukungnya. Hal ini menegaskan bahwa didalam mendesain sesuatu
harus melihat pemakainya, apakah konsumen desain itu dari golongan kelas
atas, menengah atau bawah. Konsumen kelas atas kebanyakan berbeda
selera dengan konsumen kelas bawah walaupun tidak semuanya, dengan
demikian berkaitan dengan desain yang dihasilkan juga berbeda.
Desain juga berhubungan dengan gaya hidup, gaya hidup yang
modern memerlulcan desain yang berbeda dengan gaya hidup tradisional.
Gaya hidup modern memerlukan desain yang serba praktis tidak terlalu
banyak memerlukan ornamen. Sebaliknya desain-desain yang tradisional
banyak diperlukan ornamen untuk menandai makna-makna tertentu yang
sarat dengan harapan untuk menjadi lebih baik.
Pemikiran tersebut di atas sebenarnya berlaku untuk desain-desain
tradisional yang harus mengembangkan diri untuk dapat bertahan di dalam
kemajuan jaman. Untuk pengembangan desain tradisional tidak bisa tidak
harus disesuaikan dengan kepentingan masa kini, dalam hal desain
bagaimana karakter tradisional masih bisa bertahan tetapi dapat memenuhi
kepentngan masyarakat masa kini.
Dari gambaran tersebut sebenarnya dapat disimpulkan bahwa
desain untuk dapat mengikuti perkembangan jaman perlu berbagai macam
pertimbangan diantara-nya adalah pertimbangan fungsi, pertimbangan
bahan, pertimbangan berbagai macam hal yang sifatnya teknis dalam hal ini
disesuaikan perkembangan teknologi saat ini. Pertimbangan estetis adalah
salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan mengingat desain berhubungan
dengan masalah visual, untuk mendapatkan wujud yang baik pertimbangan
2
estetis diperlukan.
Hasil pengadian pada masyarakat yang pernah Tim Peneliti lakukan
pada tahun 2015 [IbM Pengembangan Desain Decorative Lighting Dengan
Memanfaatkan Limbah Metal Pada Sentra Industri Kerajinan
Tembaga/Kuningan di Desa Tumang Kecamatan Cepaga Kabupaten Boyolali]
menunjukkan bahwa Pengembangan Desain Kerajinan Tembaga Produk
Interior perlu dikembangkan bagi pengrajin di Desa Tumang Kecamatan
Cepogo Kabupaten Boyolali, agar dapat membantu perkonomian.
Berhubungan dengan elemen estetis ini sebaiknya di luar yang pernah
dibuat oleh perajin di Desa Tumang artinya ada kebaruan dan variasi produk
kerajinan kuningan. Interior itu sendiri meliputi bagian dalam dari rumah tempat
tinggal (residential building) dan bangunan umum (public building). Interior
bangunan umum banyak sekali peruntukannya, seperti interior bangunan
perkantoran, hotel, restoran, pusat hiburan dan sebagainya. Semua interior baik
rumah tempat tinggal dan bangunan umum memerlukan unsur keindahan
sehingga interior hadir dengan suasana yang menyenangkan dan indah untuk
dihuni maupun digunakan sebagai tempat beraktifitas.
Para perupa rupa pawukon di Kota Surakarta saat ini ada yang
mengembangkan rupa pawukon dengan bahan selain kertas. Contohnya Hermin
Istiariningsih di Solo selain melukis wayang beber juga mengembangkan rupa
pawukon dengan bahan kaca atau berupa lukisan kaca
pawukon.(http://www.imgrum.net/user/istiariningsih/2263747861). Kemudian
Bambang Saptono di Solo juga membuat rupa pawukon dengan bahan kanvas
atau disebut lukisan
pawukon.(http://www.suaramerdeka.com/harian/0712/06/nas26.htm).
Keduanya merupakan pekerja individu atau dibuat sendiri.
Pawukon di luar kepercayaan mempunyai nilai keindahan yang
diwariskan dari nenek moyang orang Jawa. Pawukon sudah lama berkembang di
Jawa, menurut Prof. Dr. Philip Van Akkeren, peneliti dari Belanda menjelaskan
3
bahwa jejak pawukon bisa dilacak sejak abab ke-10, tercantum dalam piagam
batu dan kuningan atau perunggu dengan huruf Jawa kuno. Piagam itu
memberitakan penggunaan pranata mangsa Jawa berupa perlintangan dan
pawukon Jawa berdampingan dengan kalender yang berasal dari India. Pawukon
pada waktu itu sudah digunakan untuk kerajaan-kerajaan yang ada, dan bahkan
masyarakat pedesaan di Jawa sudah menggunakannya jauh sebelum waktu itu
(Sindhunata dan Hermanu, 2003: 59).
Penelitian dengan judul ‘Eksplorasi Visual Pawukon Untuk Pengembangan
Desain Decorative Lighting Sebagai Elemen Estetis Interior’, berdasarkan
kebutuhan masyarakat akan pentingnya elemen estetis (unsur keindahan).
Elemen estetis hadir dalam interior (ruang) baik rumah tinggal maupun
bangunan umum bertujuan agar ruangan menjadi lebih indah. Elemen estetis
selain menambah keindahan interior juga dapat mewakili ikon budaya tertentu
atau memunculkan ciri khas budaya masyarakat kalangan tertentu. Masyarakat
Jawa tradisi di lingkungan Keraton Surakarta, baik itu kalangan priyayi maupun
kawuka alit berusaha untuk memperindah interior rumahnya dengan elemen
estetis atau benda seni (barang kagunan), yang tidak sedikit jumlahnya. Para
priyayi Jawa menghias rumahnya dengan elemen estetis yang disebut sebagai
barang kagunan.
Barang kagunan dilihat dari rupanya terdiri dari dua dimensi dan tiga
dimensi. Barang kagunan dua dimensi atau dwimatra memiliki ukuran
panjang dan lebar, yaitu gambar dan kaca benggala. Barang kagunan tiga
dimensi atau trimatra mempunyai ukuran panjang, lebar, dan tinggi,
meliputi: krobongan, patung Loroblonyo, songsong, tumbak, watang,
jagrag, patung Pak Coméong, dan lampu robyong (Widayat, 2016: 86).
Untuk kalangan kawula alit menghias interior rumahnya dengan gambar
wayang, wayang kulit (jika mampu membeli), wayang karton (kardus), gambar
(rupa) pawukon (dari kertas), lukisan kaca, dan lain-lain. Baik para priyayi
maupun kawula alit di lingkungan Keraton Surakarta, senang dengan interior
rumahnya yang indah. Rupa pawukon yang biasanya terdapat pada buku-buku
4
primbon, agar dapat menjadi elemen estetis gambarnya disalin dan diperbesar
ukurannya pada kertas untuk menghias interior rumah mereka.
Rupa pawukon termasuk elemen estetis yang kurang dikenal oleh
generasi sekarang. Sebenarnya rupa pawukon sebagai salah satu warisan budaya
yang menarik berupa perhitungan atau pethangan Jawa berlandaskan mitologi
Hindu, mengenai waktu yang dihubungkan dengan ramalan kehidupan manusia
berdasarkan wukunya. Gambar pawukon berjumlah 30 buah, dari gambar wuku
Sinta sampai dengan gambar wuku Watugunung disertai gambar dewa atau
dewinya. Bentuknya seperti wayang purwa dilengkapi gambar bangunan atau
gedhong, gambar senjata, gambar berbagai jenis pohon, burung dan lain-lain
yang masing-masing mempunyai maksud dan arti tertentu. Komposisi dari
berbagai unsur itu membuat bentuk secara keseluruhan sangat menarik. Lebih
menarik lagi jika rupa pawukon diowahi rupa-nya atau transformasi dari bahan
kertas diganti dengan lembaran kuningan yang bahannya memanfaatkan limbah
lembaran kuningan di sentra pengarin kuningan dan tembaga di Desa Tumang
Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali. Keuntungan dari bahan limbah adalah
lebih murah dan ketika sudah jadi tidak terlihat bahan yang digunakan adalah
limbah. Keuntungan lain dengan bahan kuningan rupa pawukon lebih awet dan
terlihat lebih mewah dibandingkan dengan bahan kertas.
Posisi eksplorasi visual pawukon dengan bahan kuningan/tembaga adalah
ngowahi rupa (merubah bentuk) untuk kepentingan sebagai elemen estetis
interior baik untuk rumah tinggal maupun interior bangunan umum
(perkantoran, hotel, retoran). Rupa pawukon ini sebagi hasil kerja Tim (Tim
peneliti dari UNS dan perajin di Desa Tumang) untuk membuat pembaruan dari
yang pernah orang lakukan sebelumnya untuk menunjang industri kreatif atau
lebih ke arah kepentingan ekonomi untuk membantu meningkatkan
kesejahteraan para perajin.
5
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini:
1. Bagaimana mengeksplorasi visual Pawukon Untuk Pengembangan Desain
Decorative Lighting?
2. Bagaimana merealisasikan Decorative Lighting mengeksplorasi visual
Pawukon menjadi elemen estetis interior yang sesuai dengan konteks zaman
sekarang?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan Penelitian
Penelitian ‘Eksplorasi Visual Pawukon Untuk Pengembangan Desain
Decorative Lighting Sebagai Elemen Estetis Interior’ bertujuan mengeksplorasi
kekayaan visual peninggaalan zaman Mataram Islam berupa Pawukon. Hasil
eksplorasi visual digunakan untuk mengembangkan desain decorative lighting
menjadi elemen estetis interior yang inovatif, kompetitif, dan mempunyai
diferensiasi produk yang tinggi. Penelitian ini juga bertujuan melestarikan
Pawukon sekaligus memberi inovasi bagi perkembangan desain decorative
lighting di sentra industri kerajinan tembaga/kuningan di Desa Tumang Cepaga
agar mampu bersaing di pasar industri.
Eksplorasi visual pawukon dari bahan kertas dengan bahan kuningan dapat
digunakan sebagai elemen estetis interior rumah maupun bangunan umum
seperti interior kantor, hotel, restorang dan lain-lain. Mengingat rupa pawukon
mempunyai nilai ekonomis, dari penelitian ini dapat mendukung ekonomi kreatif
yang digalakkan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ‘Eksplorasi Visual Pawukon Untuk Pengembangan
Desain Decorative Lighting Sebagai Elemen Estetis Interior’ seperti berikut ini.
6
1. Untuk para perajin dapat membuat alternatif kerajinan model baru (rupa
pawukon) selain produk yang menjadi kebiasaan sebelumnya secara
mandiri.
2. Meningkatkan kualitas produk kerajinan dengan membuat rupa pawukon
untuk decorative lighting.
3. Hasil ‘Eksplorasi Visual Pawukon Untuk Pengembangan Desain Decorative
Lighting Sebagai Elemen Estetis Interior’berpotensi untuk didaftarkan ke
Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementrian Hukum dan Ham RI,
khususnya terkait dengan Hak Cipta.
7
2. Metode Riset
Metode penelitian yang dipakai adalah metode penelitian kualitatif
dalam bentuk riset aksi. Bentuk aksi yang dilakukan dengan menciptakan
pengembangan desain decorative lighting. Di dalam pelaksanaannya
menggunakan metode desain yang melewati tiga proses pokok: proses
eksplorasi, proses ekstraksi, dan proses pada titik terminasi. Tiga tahapan proses
desain tersebut dijabarkan dalam empat langkah operasional: 1) proses analisis
desain dan penetapan target perencanaan. 2) proses analisis desain dan
penyusunan konsep desain. 3) proses penjabaran konsep dan pembuatan desain
(visualisasi). 4) test produk. Lokasi penelitian di Desa Tumang, Kecamatan
Cepaga, Kabupaten Boyolali. Pengembangan desain dengan konsep Ngowahi
Rupa atau transformasi dari bahan kertas ke bahan tembaga/kuningan,
diharapkan hadir nuansa baru dan lebih tepat ketika diaplikasikan ke dalam
interior.
Metode penelitian ‘Eksplorasi Visual Pawukon Untuk Pengembangan
Desain Decorative Lighting Sebagai Elemen Estetis Interior’ adalah penelitian
terapan bersifat research and development.
1. Mengeksplorasi potensi visual Pawukon, mendalami wacana di dalamnya,
dan mengkaji potensi visual dan artistik agar dapat dikembangkan menjadi
elemen estetis yang sesuai dengan konteks zaman sekarang. Penciptaan
desain decorative lighting dengan eksplorasi visual Pawukon berbahan plat
tembaga/kuningan. Development dengan cara workshop, dengan sosialisasi
dengan perajin di Desa Tumang tentang pentingnya pengembangan desain
elemen estetis interior. Penjelasan tentang Rupa Pawukon dan cara
pembuatan Rupa Pawukon pada plat kuningan dengan teknik mudul (dibuat
di atas jabung untuk menghasilkan efek cembung cekung) dirangkai dengan
teknik krawangan (tembus). Terkait hal ini metode yang digunakan adalah
konsep Ngowahi Rupa atau transformasi dari bahan kertas ke bahan
8
kuningan, diharapkan hadir nuansa baru dan lebih tepat ketika diaplikasikan
ke dalam interior karena bahannya awet dan terkesan mewah dibandingkan
dengan kertas.
Mudul Krawangan (tembus)
(cembung/cekung)
Mudul
Mudul (cembung/cekung)
(cembung/cekung
Mudul
(cembung/cekung)
Krawangan (tembus)
Krawangan (tembus)
Bingkai kuningan
Gambar 1. Wuku Tolu, salah satu contoh dari 30 wuku yang akan dibuat pada bahan limah plat
kuningan (Cu-Zn) (Sumber: Pawukon 3000)
Untuk mengembangkan transformasi rupa Pawukon dicoba dengan teori
wangun untuk ngowahi rupa (merubah bentuk atau redesain) berdasarkan rupa
yang sudah ada.
Dalam konteks ngowahi rupa yang dilakukan dengan sengaja untuk
kepentingan kagunan (seni), masyarakat Jawa sebenarnya dapat belajar
dari sejarah perubahan rupa candi. Perubahan rupa candi dari periode
Jawa Tengah yang tambun menjadi rupa yang ramping pada periode Jawa
Timur. Perubahan rupa candi dari bahan batu di Jawa Tengah berganti
dengan bahan batu bata di Jawa Timur. Perubahan rupa tersebut tidak
merubah struktur rupa secara vertikal seperti adanya kaki, badan, dan
kepala. Intinya dalam ngowahi rupa ketika dipahami berdasarkan
pendapat Lévi-Strauss, tidak merubah “struktur dalam”, namun “struktur
9
luarnya” yang malih rupa atau berganti rupa atau transformasi. (Widayat,
2016: 308)
Atas
Tengah
Bawah
Gambar 2. Belajar ngowahi rupa dari Candi Periode Jawa Tengah ke Candi Periode Jawa Timur, dengan tidak
merubah struktur dalam-nya yaitu rupa telu-teluning atunggal bawah, tengah, dan atas (Sumber: Disertasi
Rahmanu Widayat dari scan buku Kompendium Sejarah Arsitektur, 1981: 91,98)
Berdasarkan hal tersebut di atas, untuk mengubah bentuk atau ngowahi
rupa agar dapat menghasilkan model baru, sebaiknya tidak
menghilangkan ciri-ciri khusus yang sudah ada pada barang kagunan
(“Decorative Lighting”) model klasik (MK). Ciri-ciri khusus tersebut
sebagai contoh struktur bawah, tengah, atas atau rupa telu-teluning
atunggal yang mengesankan rupa Jawa tetap dipertahankan agar kesan
Jawa-nya masih nampak dan tidak kehilangan “kejawaannya” atau ora
ilang Jawané (Widayat, 2016: 309).
Tahap ‘Eksplorasi Visual Pawukon Untuk Pengembangan Desain
Decorative Lighting Sebagai Elemen Estetis Interior’, yaitu:
1. Peningkatan pengetahuan pengembangan desain elemen estetis di Desa
Tumang Kecamatan Cepaga,
2. Pelaksanaan FGD (Focus Group Discusion) dengan pengrajin
10
3. Pemberian informasi dan pengetahuan pengembangan desain kepada
pengrajin
4. Pelaksanaan program pengembagan desain dengan memanfaatkan
kuningan/tembaga.
Target hasil penelitian pada tahun pertama [2019], adalah berupa produk
Rupa Pawukon dengan memanfaatkan bahan plat kuningan/tembaga sejumlah
30 (tiga puluh) artwork wuku atau (30 buah Rupa Pawukon dengan ukuran
(20x30) cm. Rupa Pawukon diolah dari gambar karya R.M. Soelardi aktif
menggambar wayang dari tahun 1930-1960, dan terdapat dalam buku “Pawukon
3000”. Tiga puluh (30) Rupa Pawukon tersebut meliputi wuku:
1. Shinta 11. Galungan 21. Maktal
2. Landep 12. Kuningan 22. Wuye
3. Wukir 13. Langkir 23. Manail
4. Kurantil 14. Mandasia 24. Prangbakat
5. Tolu 15. Julungpujud 25. Bala
6. Gumbreg 16. Pahang 26. Wugu
7. Warigalit 17. Kuruwelut 27. Wayang
8. Warigagung 18. Marakeh 28. Kulawu
9. Julungwangi 19. Tambir 29. Dukut
10. Sungsang 20. Madangkungan 30. Watugunung
Penelitian tahun II menyajikan hasil-hasil eksplorasi visual Pawukon pada
desain decorative lighting sebagai elemen estetis interior [10 buah produk
Decorative Lighting]. Produk ini bisa dijadikan sebagai model pengembangan
decorative lighting yakni produk kreatif yang memadukan tradisi masa lalu
dengan kreativitas penciptaan era sekarang modern.
11
3. Eksplorasi Visual Pawukon
Tahun pertama kegiatan yang dilakukan; mengkaji dan
mengeksplorasi potensi visual Pawukon, menelisik wacana di dalamnya, dan
mengkaji potensi visual dan artistik agar bisa dikembangkan menjadi
decorative lighting yang sesuai dengan konteks zaman sekarang.
Kajian yang dilakukan pertama kali adalah dengan menggambar
ulang rupa Pawukon. Rupa Pawukon diolah dari gambar karya R.M. Soelardi
aktif menggambar wayang dari tahun 1930-1960, dan terdapat dalam buku
“Pawukon 3000”. Tiga puluh (30) Rupa Pawukon tersebut meliputi wuku:
1. Shinta 11. Galungan 21. Maktal
2. Landep 12. Kuningan 22. Wuye
3. Wukir 13. Langkir 23. Manail
4. Kurantil 14. Mandasia 24. Prangbakat
5. Tolu 15. Julungpujud 25. Bala
6. Gumbreg 16. Pahang 26. Wugu
7. Warigalit 17. Kuruwelut 27. Wayang
8. Warigagung 18. Marakeh 28. Kulawu
9. Julungwangi 19. Tambir 29. Dukut
10. Sungsang 20. Madangkungan 30. Watugunung
12
1. Wuku Sinta Hasil Gambar Ulang
2. Wuku Sinta Hasil Gambar Ulang
13
3. Wuku Wukir Hasil Gambar Ulang
4. Wuku Kurantil Hasil Gambar Ulang
14
5. Wuku Tolu Hasil Gambar Ulang
6. Wuku Gumbreg Hasil Gambar Ulang
15
7. Wuku Warigalit Hasil Gambar Ulang
8. Wuku Warigagung Hasil Gambar Ulang
16
9. Wuku Julungwangi Hasil Gambar Ulang
10. Wuku Sungsang Hasil Gambar Ulang
17
11. Wuku Galungan Hasil Gambar Ulang
12. Wuku Kuningan Hasil Gambar Ulang
18
13. Wuku Langkir Hasil Gambar Ulang
14. Wuku Mandasia Hasil Gambar Ulang
19
15. Wuku Julungpujud Hasil Gambar Ulang
16. Wuku Pahang Hasil Gambar Ulang
20
17. Wuku Kuruwet Hasil Gambar Ulang
18. Wuku Marakeh Hasil Gambar Ulang
21
19. Wuku Tambir Hasil Gambar Ulang
20. Wuku Medhakung Hasil Gambar Ulang
22
21. Wuku Maktal Hasil Gambar Ulang
22. Wuku Wuye Hasil Gambar Ulang
23
23. Wuku Manahil Hasil Gambar Ulang
24. Wuku Prangbakat Hasil Gambar Ulang
24
25. Wuku Bala Hasil Gambar Ulang
26. Wuku Wugu Hasil Gambar Ulang
25
27. Wuku Wayang Hasil Gambar Ulang
28. Wuku Kulawu Hasil Gambar Ulang
26
29. Wuku Dhukut Hasil Gambar Ulang
30. Wuku Watugunung Hasil Gambar Ulang
27
Proses gambar ulang dilakukan dengan cara tracing outline
rupa Pawukon, dengan menggambar ulang akan didapatkan data
digital rupa Pawukon. Program Adobe Photoshop dipergunakan
dalam upaya menggambar ulang. Tiap rupa Pawukon didiskusikan
oleh anggota Penelitian, untuk dicari pakem dari tiap-tiap rupa
Pawukon tersebut.
Hasil digital rupa Pawukan menjadi modal untuk
pengembangan desain, terutama dalam penerapan rupa Pawukon ke
decorative lighting. Melihat perkembangan dari proses penelitian,
maka eksplorasi visual rupa Pawukon untuk decorative lighting
dimungkinkan untuk lebih meluas. Material utama pada awal
penelitian adalah dengan Metal [Tembaga atau Kuningan] yang di
kerjakan di Sentra Industri Tembaga/Kuningan di Cepaga Boyolali.
Material decorative lighting berkembang kearah Kain, Akrilik/Kaca
dan Mika, untuk mencapai efektifitas dan lebih terjangkau dalam
proses visualisasinya.
Damar Kurung
Upaya pengembangan decorative lighting dengan melakukan
studi banding ke Gresik, dimana berkembang Damar Kurung. Damar
kurung yang merupakan warisan budaya Islam di Gresik yang
tergolong klasik. Damar artinya ‘pelita’ atau cahaya, sedangkan
kurung artinya ‘tutup’, dan bila digabungkan artinya adalah cahaya
yang ditutup (dikurung). Seni yang ada di Damar Kurung ini terletak
pada kap (penutup) lampion berbahan kertas, yang pada sisi-sisinya
dilukis dengan beragam gambar lukisan. Seni Damar Kurung, sebagai
salah satu seni rupa tradisi, merupakan ikon tertua budaya Kota
Gresik karena mewakili cerita kehidupan dan kebudayaan
masyarakatnya [Demmy Septya Basuki, 2014].
28
DamarKurung adalah salah satu jenis lentera tradisional asli
Indonesia yang berasal dari Kabupaten Gresik, yakni pelita yang
dikurung dengan kertas dalam bentuk kubus. Setiap sisi bangunan
tersebut dari kertas dan rangkaiannya terbuat bamboo yang keempat
sisinya dipenuhi dengan lukisan. Pada bagian atasnya terdapat
delapan segitiga yang menyerupai mahkota. DamarKurung
menceritakan kehidupan sehari-hari yang mudah dipahami, ada
suasana rumah tangga, pasar, jalan, masjid dan nelayan. Tapi yang
membedakan dan menjadi unik dari cerita yang ada dalam
DamarKurung ini adalah dapat dibaca, seperti membaca relief candi,
baik secara profane maupun sacral. Bisa dari kiri ke kanan, maupun
sebaliknya. Damarkurung identik dengan nama yang legendaris pada
masanya, yaitu Almh. Sriwati Masmundari atau dikenal dengan Mbah
Masmundari. Karyanya banyak dikenal masyarakat luar sejak
dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta pada tahun 1987. Sejak beliau
meninggal pada tahun 2005, DamarKurung meredup dan terlupakan,
hingga kemudian tercetus sebuah ide untuk mengenalkan kembali
melalui DamarKurung festival yang digelar sejak tahun 2012 hingga
sekarang setiap minggu ke 2 bulan Ramadan di Gresik. [DamarKurung
Institute].
Damar Kurung merupakan salah satu dari ikon Kota Gresik
yang sekaligus sebagai souvenir lampu hias khas kota ini. Pemerintah
Kabupaten Gresik menjadikan damar kurung sebagai maskot kota,
membuat tiruan damar kurung ukuran besar untuk penghias lampu
jalan disepanjang jantung kota Gresik. Sebagai bentuk pengenalan
sejak dini, anak-anak pun dari tingkat taman kanak-kanak hingga
sekolah dasar berlomba untuk digerakkan melukis gaya damar
kurung hingga akhirnya damar kurung identik menjadi ciri khas kota
Gresik dan perefleksi budaya, sejarah, dan nilai-nilai kehidupan
29
masyarakat Gresik. Damar Kurung juga merupakan ikon kota yang
tertua di Kota Gresik seperti yang tertulis pada buku Mocopat karena
Damar kurung telah ada sejak zaman Pemerintahan Sunan Giri,
Kolonial Belanda dan Jepang, hingga sekarang. Menurut penuturan
beberapa sumber, Damar Kurung biasanya digantungkan di masjid
dengan tanpa gambar, bahkan dahulu juga dipasang di pekuburan
pada hari peringatan untuk yang telah mati
(http://damarkurunggallery.blogspot.co.id/p/sejarah-damar-
kurung.html).
Anak dari Sriwati Masmundari yang Lukisan Damar Kurung karya Sriwati
masih melanjutkan membuat Damar Masmundari [Anung, 2019]
Kurung [Anung, 2019]
Sekarang ini, Damar Kurung sudah jarang dibuat dalam
bentuk lampion, tetapi digambar pada sehelai kertas. Karena Damar
Kurung terdiri dari 4 sisi, dan tiap sisi diisi dengan dua bidang gambar,
maka setiap Damar Kurung berisi 8 gambar. Ketika dipindahkan ke
selembar kertas, cara menggambarnya masih mengikuti pola Damar
30
Kurung, hanya tidak dipasang berkeliling, tetapi dari bawah ke atas,
yang dapat berisi 3 bidang gambar atau 4 bidang gambar. Umumnya,
gambar tersebut berupa cerita tentang kehidupan sehari-hari seperti
Kehidupan Sosial, Pasar Malam, Hari Raya Idul Fitri, Pasar Besar dan
PON. Yang menarik dari gambar-gambar Damar Kurung adalah dengan
pola menggambar yang terdapat di relief candi, wayang beber, dan
pengadegan wayang kulit. Bentuk sosok manusia yang digambar juga
mirip cara menggambar tokoh-tokoh wayang, yakni nampak samping
dan sekaligus tampak muka (Jakob Sumardjo, 2002:272).
Damar Kurung karya Damar Kurung Institute, dengan menggunakan material Mika
sebagai bidang gambar [Anung, 2019]
31
4. Eksporasi Visual Pawukon Pada decorative Lighting
Eksplorasi Visual Pawukon Untuk Pengembangan Desain
Decorative Lighting Sebagai Elemen Estetis Interior dengan
mengembangkan desain decorative lighting dengan kreativitas era
sekarang.
Kota-kota di Indonesia memiliki seni tradisi semacam lampion
[decorative lighting] yang telah ada dan berkembang sejak dahulu
kala. Semisal di kota Gresik, Kebumen, Semarang untuk di Pulau Jawa.
Hal ini yang melatarbelakangi berkembangnya konsep Eksplorasi
Visual Pawukon Untuk Pengembangan Desain Decorative Lighting.
Eksplorasi Visual Pawukon Untuk Pengembangan Desain
Lampu Dinding [Wall Lamp] Sebagai Elemen Estetis Interior
diwujudkan dalam beberapa desain; antara lain
1) Lampu Dinding Tembaga
Lampu dinding dengan bahan dasar utama plat tembaga,
menggunakan teknik tempa, atau mudul dengan finishing Sn.
Adapun proses pengerjaannya sebagai berikut;
Memindahkan desain decorative lighting ke plat
tembaga/kuningan.
Plat tembaga/kuningan yang sudah dituangi jabung ditempeli
gambar desain Rupa Pawukon dengan bahan kertas.
dirancap atau ditatah pada kontur Rupa Pawukon.
Plat tembaga/kuningan dilepas, kemudian dibalik dan
diletakkan pada jabung lagi.
Mudul, adalah teknik untuk membuat motif pada limbah
tembaga/kuningan timbul dengan cara dimudul atau didekok
atau ditotok.
32
Selanjutnya dibalik seperti semula dan dipasang pada
jabung lagi untuk mengetur tinggi dan rendah motif yang
telah timbul
Finishing (Sn, Cairan H2SO4, Melamic Coating)
Lampu Dinding, Rangka Tembaga, Eksplorasi Visual Pawukon di atas plat
tembaga dengan teknik mudul [Anung, 2020]
2) Lampu Dinding Akrilik
Lampu dinding menggunakan bahan utama Akrilik sebagai
bidang gambar dan rangka kayu [paduan Kayu Mahoni dan
33
Kayu Jati Belanda] finishing natural. Visual Pawukon
dipindahkan ke akrilik dengan teknik lukis kaca [batik kaca],
mengambil outline rupa pawukon, dengan pewarnaan
transparan.
Lampu Dinding, Rangka Kayu Jati Belanda dan Kayu Mahoni, Eksplorasi Visual Wuku Sinta
di atas mika dengan teknik glass painting [Anung, 2020]
3) Lampu Gantung [chandelier]
Penerapan visual Pawukon pada lampu gantung
[berbahan dasar Kayu Jati Belanda] dengan teknik printing di
atas kertas art paper atau kertas concord. Visual Pawukon
34
diletakkan ditengah bidang lampu. pada ke empat sisinya. Dua
sisi dengan Rupa Visual Pawukon, dua sisi yang lain
menginformasikan diskripsi dari Wuku tersebut.
Pengembangan desain decorative lighting dengan
eksploarsi visual pawukon pada lampu dinding, terinspirasi
dari Damar Kurung yang dikembangkan di Gresik.Rupa
Pawukon dicetak cukup dengan satu warna, untuk melihat
kekuatan estetik dari rupa pawukon itu sendiri.
a. Lampu Kurung Wuku
35
Lampu [Gantung] Kurung Wuku Sinta, Rangka Kayu Jati Belanda dan Kayu Mahoni,
Eksplorasi Visual Pawukon di atas Kertas Art Paper [Anung, 2020]
b. Lampu Kurung Wuku Covid 19
Pawukon mengandung ramalan tentang
perhitungan waktu. Saat Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) menjadikan "Covid-19" nama resmi untuk
coronavirus yang pertama kali diidentifikasi di China pada
31 Desember 2019, ada hal menarik yang dapat dikaitkan
dengan Wuku yang ada pada Pawukon. Dilihat dari tanggal
lahirnya maka “Covid-19” akan tergolong Wuku Kurantil,
Kurantil ibarat burung Dhandhang mati kelaparan serta
kesulitan mendapat nafkah. Wuku Kurantil baik untuk
mencari jodoh, namun tidak baik untuk menikahkan anak
dan mengumpulkan orang. Ramalan dari Wuku Kurantil
sejalan dengan apa yang terjadi saat ini, dimana pandemic
"Covid-19" melanda semua belahan dunia.
Penggambaran Wuku Kurantil, Kulantir menurut
36
keterangan gambar adalah sebagai berikut:
- Kuranthil (kiri) menghadap Batara Langsur yang
membawa umbul-umbul.
- Bokor air ada di sebelah kirinya.
- Rumah gedong di depan dalam keadaan ngglimpang.
- Burung Slindhitan hinggap di atas pohon ingas yang
menaunginya.
Visual Wuku Kurantil diterapkan ke dalam desain
lampu kurung Covid 19, dengan menyandingkan visual
Cakra Manggilingan. Esensi dari Cakra Manggilingan adalah
waktu. Perubahan-perubahan yang terjadi sudah menjadi
kodrat manusia, baik dari hari ke hari, bulan ke bulan
maupun tahun ke tahun. Konsepsi waktu memegang
peranan yang sangat penting, orang Jawa memiliki sistem
penanggalannya sendiri. Komposisi dari berbagai unsur
tersebut, membuat bentuk yang secara keseluruhan
sangat menarik.
37
Lampu [Gantung] Kurung Wuku Covid 19, Rangka Kayu Jati Belanda dan Kayu
Mahoni, Eksplorasi Wuku Kurantil dan Cakra Manggilingan di atas Kertas Art
Paper [Anung, 2020]
c. Lampu Kurung Wuku Dies Natalis UNS
Universitas Sebelas Maret Surakarta atau yang
sering disingkat UNS merupakan salah satu universitas
negeri yang terletak di Kota Surakarta Jawa Tengah. Resmi
berdiri pada tanggal 11 Maret 1976 lalu yang ditandai
dengan upacara di Siti Hinggil Keraton Kasunanan
Surakarta. Saat itu juga ditandai dengan dibacakannya
Keputusan Presiden Republik Indonesia tentang
pembukaan “Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret”.
Cikal bakal UNS sendiri dapat dirunut jejaknya dari 1950-
an.
Dilihat dari tanggal lahir UNS, 11 Maret 1976 maka
masuk dalam Wuku Kulawu. Nama wuku Kulawu diambil
dari nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor
dua puluh enam. Raden Kulawu memiliki abang kembar
38
yaitu Raden Wayang. Penggambaran Wuku Kulawu
menurut primbon jawa adalah sebagai berikut:
- Raden Kulawu (kiri) menghadap Batara Sadana
- Gambar Gedong di depan menggambarkan besar
rejekinya, tidak segan mengeluarkan raja brana.
- Senjata yang berada di belakang, mempunyai watak
jujur dan terus terang
- Pohonnya adalah Pohon Tal, panjang umurnya
- Burungnya adalah burung Nuri, kurang cermat dalam
hal pengeluaran.
Lampu [Gantung] Kurung Wuku Dies Natalis UNS, Rangka Kayu Jati
Belanda dan Kayu Mahoni, Eksplorasi Visual Wuku Kulawu dan logo
UNS-Dies UNS di atas Kertas Art Paper, kondisi lengkap dengan bohlam
lampu [Anung, 2020]
39
Lampu [Gantung] Kurung Wuku Dies Natalis UNS, Rangka Kayu Jati
Belanda dan Kayu Mahoni, Eksplorasi Visual Wuku Kulawu dan logo
UNS-Dies UNS di atas Kertas Art Paper [Anung, 2020]
40
Lampu [Gantung] Kurung Wuku Dies Natalis UNS, Rangka Kayu Jati
Belanda dan Kayu Mahoni, Eksplorasi Visual Wuku Kulawu dan logo
UNS-Dies UNS di atas Kertas Art Paper, display tergantung di atas
Jembatan Kampus UNS Kentingan dalam rangakian kegiatan Dies
Natalis UNS ke-44 tahun 2020 [Anung, 2020]
d. Lampu Kurung Wuku HUT RI 17 Agustus
Eksplorasi visual pawukon diterapkan pada peringatan hari
kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Perumahan
Josroyo Jaten Karanganyar. Pada ke empat sisi Lampu
Kurung HUT RI masing-masing ada ekplorasi visual Wuku
Manahil [17 Agustus 1945], Logo UNS, Wuku dan Logo 75
Tahun Kemerdekaan Indonesia.
Wuku Manahil [17 Agustus 1945]
Wuku Manahil mengambil nama anak Prabu
Watugunung dan Dewi Sinta nomor duapuluh satu. Raden
Manahil ini mempunyai saudara kembar yang bernama
Raden Prangbakat. Orang yang bernaung pada wuku
Manahil ini secara umum akan mempunyai watak yang
digambarkan sebagai berikut. Perwatakan dan sikap Wuku
Manahil menurut primbon jawa adalah sebagai berikut :
41