- Kelebihan : tekun, rajin, cerdas dan suka berdamai
- Kekurangannya : Sombong, merasa besar sehingga
meremehkan orang lain. Dan penuh kecurigaan
- Hari baik : Minggu Legi
- Hari naas: tidak jelas
- Datangnya bencana terkena senjata tajam.
Penggambaran dari Wuku Manahil. Raden Manahil
menghadap Batara Citragatra. Batara Citragatra ini
mempunyai watak yang angkuh, sombong, gumedhe selalu
menganggap dan merasa dirinya besar. Senang berkumpul
tetapi besar rasa cemburu dan kecurigaannya. Batara
Citragatra membawa tombak ligan terhunus. Ini
menggambarkan cerdas dan tajam hatinya serta selalu
waspada. Hubungan antara Raden Manahil dan Batara
Citragatra ini seperti hubungan antara guru dan murid.
Sehingga watak dan perilaku gurunya sebagian besar
mempengaruhi muridnya. Pohonnya adalah pohon atau
kayu Tengaron, menggambar watak yang rajin tetapi
kurang bermanfaat. Burungnya adalah Burung Sepahan,
menggambarkan perilaku yang gesit, detail, rumit, mudah
mencari nafkah tetapi sedikit rejekinya.
42
Lampu Kurung Wuku HUT RI, Rangka Kayu Jati Belanda dan Kayu
Mahoni, Eksplorasi Visual Wuku Manahil di atas MMT, lengkap dengan
lampu [Anung, 2020]
Wuku Warigalit [17 Agustus 2020]
Wuku Warigalit mengambil nama dari anak nomor
lima Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. Namun jika yang
dihitung masa kandungan Dewi Sinta, Warigalit lahir dari
masa kandungan yang ketiga. Karena dari 27 anak laki-laki
Dewi Sinta, 13 kali lahir kembar, sedangkan pada masa
kandungan yang ke-14 tidak kembar. Pada masa
kandungan pertama, Dewi Sinta melahirkan anak kembar,
yaitu Raden Wukir dan Raden Kurantil. Pada masa
kandungan yang kedua, lahirlah Raden Tolu dan Raden
Gumbreg. Sedangkan pada masa kandungan yang ketiga
ini lahir Raden Warigalit dan Warigagung.
Penggambaran Wuku Wariga alit, Wariga menurut
keterangan gambar adalah sebagai berikut:
- Warigalit (kiri) menghadap Batara Asmara, dengan
mengedepankan candi.
- Burung kepodang terbang di atas pohon sulastri
43
Lampu Kurung Wuku HUT RI, Rangka Kayu Jati Belanda dan Kayu
Mahoni, Eksplorasi Visual Wuku Warigalit di atas artpaper[Anung,
2020]
Lampu Kurung Wuku HUT RI, Rangka Kayu Jati Belanda dan Kayu
Mahoni, Eksplorasi Visual Wuku Manahil di atas MMT, display sebagai
lampu penerangan jalan lingkungan Perumahan Josroyo Indah
lengkap dengan lampu [Anung, 2020]
44
45
5. Simpulan dan Saran
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian ‘Eksplorasi Visual Pawukon Untuk
Pengembangan Desain Decorative Lighting Sebagai Elemen Estetis Interior’,
didapati perkembangan dalam eksplorasi desain. Berangkat dari pengembangan
desain decorative lighting dengan material dasar Tembaga/Kuningan,
berkembang untuk melakukan eksplorasi dengan material lain. Dasar
pertimbangan adalah efektifitas dan efisiensi dalam membuat mock up, serta
pertimbangan keluwesan dalam mengeksplorasi visual. Penggunaan material
Kayu dan Besi sebagai rangka menjadi alternative pengembangan desain
decorative lighting, demikian juga dengan penggunaan material
Akrilik/Kaca/Mika atau Kain sebagai media aplikasi olah rupa Pawukon.
Eksplorasi visual Pawukon pada Lampu Kurung dapat menjadi Decorative
Lighting atau Souvenir sebagai penanda peristiwa. Eksplorasi visual PAwukon
disesuaikan dengan waktu/tanggal [Masehi/Hijriyah] , sesuasi dengan wukunya.
B. Saran
Keberadaan decorative lighting yang berkembang di beberapa kota di
Indonesia merupakan karya tradisi yang lama dan perlu dilestarikan. Kota-kota di
Jawa seperti Gresik, Kebumen dan Semarang, serta di Bali memiliki karya
tradisional decorative lighting [semacam lampion]. Hal ini sangat berpotensi
untuk mengembangkan konsep penelitian Penelitian Penciptaan dan Penyajian
Seni pada tahap berikutnya. Bentuk kegiatan Festival Lampion disertasi dengan
Workshop dan Pameran menjadi hal yang menarik untuk dikedepankan, dengan
melibatkan komunitas kreatif di kota-kota tersebut diatas.
46
DAFTAR PUSTAKA
Hermanu, 2013, Pawukon 3000, Yogyakarta: Bentara Budaya.
Sindhunata dan Hermanu, 2003, Pawukon, Yogyakarta: Bentara Budaya.
Soeratman, Darsiti, 1989, Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1830 – 1939,
Yogyakarta : Penerbit Taman Siswa.
Tanojo, R., 1972, Primbon Djawa Pawukon, Sala: T.B. Peladjar.
Tanojo, R., tanpa angka tahun, Primbon Sabda Pandita, Surabaya: Trimurti.
Tim Penyusun, 1991, Katalog Surat Emas Budaya Tulis Indonesia, Jakarta:
Yayasan Lontar.
Tim Penyusun, 1997, Indonesia Indah Aksara, Jakarta: Yayasan Harapan Kita/BP 3
TMII.
Tim Redaksi, 1956, “Wuku.” Almenak Waspada Tahun ke-III, Ngayogyakarta:
Pesat.
Tim Redaksi, 1958, “Wuku.” Almenak Waspada Tahun ke-V. Ngayogyakarta:
Pesat.
Widayat, Rahmanu, 2016, Estetika Barang Kagunan Interior Dalem Ageng di
Rumah Kapangéranan Keraton Surakarta, Disertasi Program Pascasarjana
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Website
http://www.imgrum.net/user/istiariningsih/2263747861
http://www.suaramerdeka.com/harian/0712/06/nas26.htm
http://www.babadbali.com/pewarigaan/wuku.htm
47
Foto 2. Proses pengerjaan decorative lighting [Lampu Dinding] dengan
eksplorasi Rupa Pawukon
Sumber : Foto Anung B Studyanto, 2020
Bahan limbah tembaga Penyambungan komponen Mudul membuat motif timbul pada plat
limbah tembaga
Proses pemahatan Proses pembersihan jabung Komponen kap lampu duduk
1. Informasi Produk Penelitian
Lampu Dinding Tembaga
Proses finishing
48
Lampu Dinding Kayu
49
Lampu Gantung Kayu
50
PURWARUPA [Prototype]
51
Lampu Gantung Rangka Kayu
52
Lampu Dinding Rangka Kayu
53
Lampu Gantung Rangka Kayu
Lampu Gantung, Rangka Kayu Jati Belanda dan Kayu Mahoni, Eksplorasi Visual Pawukon di
atas kertas art paper [Anung, 2020]
54
Lampu Gantung, Rangka Kayu Jati Belanda dan Kayu Mahoni, Eksplorasi Visual Pawukon di
atas kertas art paper, disusun vertikal sebagai Standing Lamp [Anung, 2020]
55
Lampu Kurung Wuku Covid 19
56
Lampu Kurung Wuku Dies UNS
57
Lampu Kurung Wuku HUT RI
Lampu Kurung Wuku pada Pembukaan Galery Wong Kampung 14 Agustus
2020
58
Pembukaan Pameran Indepth [offline, 19 Oktober 2020]
59
FSRD Publisher
Gedung IV Lantai I FSRD UNS
Jl. Ir. Sutami 36A Kentingan 57126
Surakarta
60