375. 615 1
Ind
f
FARMAKOLOGI
Jilid III ( untuk kelas III )
Cetakan Pertama
Disusun Berdasarkan Kurikulum SMF 2001
KHUSUS DIPERGUNAKAN UNTUK SEKOLAH MENENGAH FARMASI
Departemen Kesehatan RI
Badan Pengembangan Dan Pemberdayaan
Sumber Daya Manusia Kesehatan
Pusdiknakes
2004
FARMAKOLOGI
Jilid III ( untuk kelas III )
Cetakan Pertama
Disusun Berdasarkan Kurikulum SMF 2001
KHUSUS DIPERGUNAKAN UNTUK SEKOLAH MENENGAH FARMASI
Tim Pembahas / Editor :
1. Drs. Sjukri Kimin, Apt.
2. Drs. Indiarto, Apt.
3. Dra. Nindia Santoso, Apt.
4. Dra. Padmasari Dewi,. Apt.
5. Drs. Sabar Santosa, Apt.
6. Dra. Sri Riyanti, Apt.
7. Rudy Mulyawan
8. Yugo Susanto, S.Si., Apt.
9. Susanti Sofas, S.Si., Apt.
i
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
rahmat dan petunjukNya, buku pegangan untuk siswa Sekolah Menengah Farmasi telah
dapat disusun kembali. Penyusunan kembali ini disesuaikan dengan kurikulum baru
yakni Kurikulum Sekolah Menengah Farmasi 2001.
Kami sangat menghargai usaha Tim Penyusun buku pegangan ini yang dikoordinir
oleh Sekretariat Bersama Sekolah Menengah Farmasi Se Indonesia dan telah melibatkan
seluruh unsur SMF Se Indonesia.
Kami harapkan buku ini sangat bermanfaat bagi siswa / peserta didik, guru / tenaga
pendidik di sekolah dalam upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilannya,
selanjutnya dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di bidang farmasi
khususnya dan dibidang kesehatan umumnya.
Akhirnya untuk penyempurnaan cetakan selanjutnya kami harapkan adanya saran
perbaikan dan kritik dari semua pembaca.
Jakarta, Mei 2002
iii
PENGANTAR DARI SEKBER
Cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang farmasi telah
diikuti dengan perombakan kurikulum Sekolah Menengah Farmasi 1987 dengan
kurikulum Sekolah Menengah Farmasi 2001. Dalam kurikulum baru ini telah diperjelas
kompetensi seorang Asisten Apoteker berdampingan dengan peran tenaga farmasi
lainnya.
Buku Farmakologi ini disusun kembali untuk disesuaikan dengan Garis – Garis
Besar Program Pengajaran Kurikulum Sekolah Menengah Farmasi 2001 disertai dengan
harapan akan menjadi buku pegangan yang sangat bermanfaat bagi siswa Sekolah
Menengah Farmasi.
Perlu kita sadari bahwa buku ini adalah buku pegangan bagi murid dalam
menerima pelajaran, dan tentu saja buku pegangan untuk guru adalah juga beberapa
referensi lainnya sehingga diharapkan para guru dapat memperbaiki kesalahan –
kesalahan seperti kesalahan redaksional atau kesalahan cetak. Untuk itu kami sangat
mengharapkan masukan – masukan untuk penyempurnaan buku ini.
Kami sangat berterima kasih kepada Tim Penyusun, Tim Pembahas dan Editor
yang telah bekerja keras sehingga buku ini dapat terbit pada waktunya.
Jakarta, Mei 2004
iv
DAFTAR ISI
BAB I OBAT JANTUNG, PEMBULUH DAN DARAH Halaman
(KARDIOVASKULAR DAN HEMATOPOIETIKA)
A. Obat Jantung 1
B. Antihipertensi 7
C. Diuretika 12
D. Hematinika 17
E. Hemostatika dan Oksitosikum 19
BAB II BIOREGULATOR 23
A. Enzim 25
B. Vitamin 28
C. Mineral dan Elemen Spura 31
D. Hormon 36
E. Obat Kontrasepsi
39
BAB III OBAT SISTEM PERNAPASAN 45
A. Obat – Obat Asma, Bronchitis dan Emfisema Paru
49
B. Obat Batuk
52
BAB IV ANTIHISTAMIN
58
BAB V OBAT – OBAT ANTI HIPERLIPIDEMIK 61
BAB VI OBAT LAIN – LAIN
A. HIV dan Anti AIDS
B. Kortikosteroid
iv
BAB I
OBAT JANTUNG, PEMBULUH DAN DARAH
(CARDIOVASKULAR DAN HEMATOPOIETIKA)
Pendahuluan
Di negara industri, penyakit jantung dan pembulu (PJP) seperti angina pectoris,
infark jantung, gagal jantung dan hipertensi merupakan penyebab kematian terbesar. Hal
ini terutama disebabkan oleh faktor makanan, yang kaya kalori, protein, lemak (jenuh) dan
miskin serat – serat nabati.
Beberapa pengertian :
1. Atherosclerosis : adalah gangguan pembuluh yang disebabkan karena menebal dan
mengerasnya dinding pembuluh nadi (arteri) besar dan sedang. Hal ini diakibatkan
oleh endapan dari kolesterol, lemak, kalsium dan fibrin (plak) di dinding pembuluh.
2. Hipertensi : adalah tingginya tekanan darah yang berhubungan dengan pengerasan /
penebalan pembuluh darah
3. Angina pectoris adalah penyakit jantung, dimana jantung tidak menerima cukup
darah (dan oksigen) karena cabang arteri jantung hampir tertutup oleh plak.
4. Bila arteri jantung atau arteri otak tersumbat sama sekali, maka timbul infark
jantung atau infark otak (stroke).
5. Kalau jantung tidak sanggup lagi memeliharan peredaran darah selayaknya, maka
akan timbul gagal jantung (dekompensasi)
A. Obat Jantung
Obat – obat jantung atau cardiaca adalah obat yang secara langsung dapat
memulihkan fungsi otot jantung yang terganggu ke keadaan normal.
Gambar : Kerja jantung
1
Gambar : Sirkulasi darah
1. Gangguan – Gangguan Jantung
(a) Infark Jantung
Infark jantung atau trombosis koroner, umunya disebut serangan jantung, adalah
keadaan tersumbatnya suatu cabang pembuluh jantung yang menyalurkan darah ke
jantung oleh gumpalan darah beku (trombus).
Gejalanya berupa nyeri yang hebat dibelakang tulang dada, rasa gelisah, tidak
mampu mengerakkan tangan dan kaki, muka mebiru dan debar jantung (tachycardia).
(b) Angina Pectoris
Angina pectoris adalah gangguan yang timbul sebagai akibat hipoxia (kekurangan
oksigen) otot jantung karena kelelahan fisik atau emosional dan dapat juga
disebabkan oleh penciutan arteri jantung, infark, kejang – kejang atau adanya
tachycardia tertentu, anemia hebat atau penciutan aorta.
Gejalanya adalah rasa sakit hebat di bawah tulang dada yang menjalar ke pindak kiri
dan lengan bagian atas, terutama bila berjalan atau sesudahnya ; nyeri tersebut akan
hilang bila berhenti dan istirahat.
Tindakan umum untuk mengurangi serangan angina adalah berupa tindakan :
- tidak merokok (karena merokok dapat menciutkan pembuluh) dan diet (kolesterol
dan lemak)
- menghindari beban fisik maupun mental
- berolah raga, sekurang – kurangnya jalan kaki selama 1 jam sehari guna
memperbaiki sirkulasi di jantung
- mengobati hipertensi
(c) Aritmia
Adalah gangguan ritme berupa kelainan dalam frekwensi (kecepatan) denyut jantung
karena serambil (atrium) dan bilik (ventrikel) berdenyut lebih cepat (tachycardia) atau
lebih lambat (bradycardia) dari normal. Dapat pula karena terjadinya kekacauan
dalam ritme (irama) denyutan jantung, misalnya vibrasi (flutter), getaran (fibrilasi)
ataupun extrasistole.
Heartblock merupakan suatu jenis aritmia yang disebabkan oleh gangguan penyaluran
listrik dari serambi kanan ke bilik kiri. Terapinya adalah dengan pacemaker, yaitu
suatu alat kecil yang dapat mengirimkan impluls – impuls listrik ke jantung guna
menormalisir frekwensi kontraksinya.
2
(d) Dekompenasi Jantung
Adalah keadaan dimana sirkulasi darah jantung dan cardiac output menurun, misalnya
akibat infark atau katup – katup jantung yang tidak bekerja sempurna, atau karena
proses penuaan.
Gejalanya adalah sukar bernafas bila berbaring (dyspnea), muka membiru (cyanosis),
dan oedema.
(e) Shock
Adalah salah satu komplikasi dari infark jantung yang sangat ditakuti karena biasanya
berakibat fatal. Sebanya adalah tachycardia yang hebat, myocarditis dan sebagainya.
2. Penggolongan Obat Jantung
(a) Kardiotonika
Yaitu glikosida – glikosida jantung, yang berkhasiat mempertinggi kontraktilitas
jantung hingga cardiac output (volume menitnya) bertambah, sedangkan denyutnya
dikurangi (efek chronotrop negatif). Disamping itu glikosida jantung ini juga
merintangi sistem penyaluran impuls A-V (atrioventikuler, yakni dari serambi ke
bilik) hingga penyaluran tersebut di perlambat.Kegunaan utamanya adalah pada
kelemahan otot jantung (myocard) yang terjadi pada dekompensasi dan fibrilasi
serambi.
Termasuk kedalam golongan obat ini adalah :
(1) Digitalis folium
Merupakan preparat galenika, berupa tinctura digitalis, yang diperoleh dari
digitalis pupurea dan digitalis lanata. Daun digitalis mengandung dua glikosida
yaitu lanatosida A dan Lanatosida B. Sedangkan digitalis lanata mengandung zat
ke tiga, yaitu lanatosida C.
Pada terapi dengan digitalis, dikenal dua jenis dosis, yaitu dosis digitalisasi
(selama 1 – 6 hari pertama) dan dosis pemeliharaan. Dosis ini sangat individual,
tergantung apda kepekaan seseorang terhadap glikosida jantung.
(2) Digoksin
Zat ini mulai bekerja setelah 2 – 4 jam dan bertahan sampai 3 hari. Umumnya
diberikan per oral. Dalam hati mengalami biotransformasi menjadi metabolit –
metabolit in aktif yang dileluarkan oleh ginjal. Kinidin dapat memperlambat
eliminasi digoksin, sehingga dosisnya perlu dikurangi hingga setengahnya bila
kedua obat ini digunakan secara bersamaan.
(3) Digitoksin
Zat ini terutama digunakan pada terapi menahun dari dekompensasi. Mulai
kerjanya setelah 1 jam dan bertahan 2 – 3 minggu. Oleh karena itu bahaya
kumulasi lebih besar. Dalam hati diubah menjadi beberapa metabolit aktif, antara
lain digoksin, yang dengan perlahan diekskresi oleh ginjal. Disamping itu juga
mengalami siklus enterohepatik, yang lebih besar dari pada digoksin.
(4) Quabain
Glikosida ini diperoleh dari biji tumbuhan Strophantus gratus. Mulai bekerjanya
setelaj injeksi i.v. adalah lebih kurang 5 menit dan bertahan lebih kurang 24 jam.
Zat ini tidak mengalami biotransformasi dan dikeluarkan dalam kedaaan utuh oleh
ginjal. Juga tidak mengalami siklus enterohepatik, sehingga kemungkinan
kumulasi kecil.
(5) Proscilaridin
Zat ini diperoleh dari glikosida scillaren A yang terdapat dalam umbi tumbuhan
Scilla maritima. Disamping berkhasiat sebagai kardiotonik, zat ini juga bersifat
3
diuretik. Mulai bekerja setelah penggunaan oral adalah lebih kurang satu jam,
lama kerjanya relatif singkat, sehingga risikokumulasi ringan.
(b) Obat – Obat Angina Pectoris
Keadaan kekurangan darah (ischemia) pada angina pectoris dapat diobati dengan
vasodilator – vasodilator arteri jantung dan zat yang mengurangi kebutuhan jantung
akan oksigen. Diobati dengan :
Vasodilator koroner
Memperlebar arteri jantung, memperlancar pemasukan darah beserta oksigen,
sehingga meringankan beban jantung. Obat pilihan utama untuk serangan akut
adalah nitrogliserin. Obat lainnya adalah Dipiridamol.
Antagonis – antagonis kalsium
Kalsium merupakan elemen essensial bagi fungsi myocard dan otot polos dinding
arteriole. Pada kadar kalsium intrasel tertentu, sel mulai berkontraksi ; otot jantung
dan arteriole - arteriole menciut (vasokonstriksi).
Antagonis kalsium menghambat pemasukan kalsium ke dalam sel – sel myocard
dan otot polos dinding arteriole, sehingga dapat mencegak kontraksi dan
vasokonstriksi..Termasuk ke dalam antagonis kalsium antara lain Nifedipin,
Diltiazem, Verapamil.
Beta blockers
Pada reseptor β1 di jantung, berefek inotrop negatif dan efek kronotrop positif, yaitu
mengurangi daya dan frekwensi kontraksi jantung, serta memperlambat penyaluran
impuls pada nosus AV.
Sedangkan pada reseptor β2 di bronchia (juga dinding pembuluh dan usus),
memberikan efek vasokonstriktor. Semua β – blockers dapat digunaan untuk
mengobati angina pectoris, tachy aritmia, hipertensi, infark jantung. Efek samping
dari obat golongan ini adalah :
dekompensasi jantung, akibat bradycardia, dengan gejala sesak napas
bronchokonstriksi dengan gejala sesak napas dan serangan serupa asma
persaaan dingin (pada jari kaki – tangan) dan terasa lemah (akibat
berkurangnya sirkulasi perifer dan oksigen di otot).
Hipoglikemia
Efek sentral seperti gangguan tidur dengan mimpi – mimpi ganjil
(nightmare), lesu, bahkan depresi dan halusinasi
Gangguan lambung dan usus seperti mual, muntah, diare
Penurunan HDL-kolesterol
Tergolong ke dalam obat ini antara lain Propanolol, Acebutolol
(c) Antiaritmia
Adalah obat – obat yang dapat menormalisasi frekwensi dan ritme pukulan jantung.
Disamping menurunkan frekwensi denyutan jantung (efek chronotrop negatif),
umumnya obat – obatan ini juga mengurangi daya kontraksi jantung (efek inotrop
positif). Berdasarkan mekanisme kerjanya, pengobatan aritmia dibagi 4 golongan,
yaitu :
Zat – zat dengan daya anestetika lokal, disebut juga efek kinidin atau efek
stabilisasi membran. Zat ini mengurangi kepekaan membran sel – sel jantung
untuk rangsangan dengan jalan menghambat pemasukan ion natrium di
membran dan memperlambat depolarisasinya. Akibatnya ritme dan frekwensi
jantung menjadi normal kembali. Termasuk zat ini adalah kelompok kinidin
dan lidokain.
4
Zat perintang reseptor β adrenergik atau beta blockers, yang mengurangi
aktivitas saraf adrenergik di otot jantung, sehingga frewensi dan daya
kontraksi jantung menurun. Contohnya Timolol dan Propranolol.
Zat yang memperpanjang masa refrakter, dengan jalan memperpanjang aksi
potensial. Contohnya Amiodaron dan Sotalol.
Antagonis kalsium, contohnya Verapamil, Nifedipin, Diltiazem.
3. Zat tersendiri
(a) Digoksin
Indikasi : Payah jantung kronik, payah jantung akut, payah jantung
pada lansia tanpa gangguan ginjal, payah jantung pada
Kontra indikasi : anak – anak, aritmia
Efek samping : Bradikardia, pasien dengan suntikan kalium
Dosis berlebihan berakibat anoreksia, mual, muntah,
Sediaan : disorientasi, ataksia, urtikaria
Tablet 0,25mg
(b) Propranolol
Indikasi : Angina pectoris, tachy aritmia, hipertensi, infark jantung.
Asma, hipotensi
Kontra indikasi : Gangguan saluran cerna, kelemahan otot, lelah.
Tablet
Efek samping :
Sediaan :
(c) Acebutolol
Indikasi : Angina pectoris, hipertensi, mengontrol aritmia
Shock kardiogenik, asma bronchial, obstruksi paru,
Kontra indikasi : bradikardia
Bradikardia, ekstremitas dingin, mata kering, ruam,
Efek samping : bronkospasme, mialgia
Kapsul, tablet
Sediaan :
(d) Verapamil
Indikasi : Angina pektoris, hipertensi
Hipotensi, bradychardia, gagal jantung akut, wanita hamil
Kontra indikasi : dan menyusui
Konstipasi, hipotensi, pusing, sakit kepala, kemerahan
Efek samping : pada wajah, ruam kulit, gangguan lambung
Tablet 80 mg, , kapsul sustained release 240 mg,
Sediaan :
(e) Nifedipin
Indikasi : Digunakan untuk profilaksis dan terapi angina pectoris.
Zat ini mencegah transpor ion kalsium ke dalam otot
Mekanisme : jantung dan otot dinding pembuluh dengan efek
vasodilatasi, sehingga pemasukan oksigen ke myocard
kerja bertambah. Nifedipin mengalami perombakan di hati
menjadi metabolit in aktif. Dan 75 % pengeluarannya
Kontra indikasi : melalui kemih
Efek samping : Hipotensi, glaucoma, anemia
udema pada mata kaki. Pada dosis awal yang terlalu tinggi
dapat menyebabkan hipotensi, menyebabkan serangan
angina dan kadang – kadang infark.
5
Interaksi obat : Efek hipotensi diperkuat oleh adanya alkohol, anti
Sediaan hipertensi, antidepresan dan narkotika.
: Tablet 10 mg, 20 mg, 40 mg ; tablet sub lingual 5mg ;
injeksi 10 mg / 10 ml ; aerosol 17 g
(f) Diltiazem
Indikasi : Angina pectoris, hipertensi
Hipotensi, wanita hamil / menyusui, gagal jantung
Kontra indikasi : kongestif.
Konstipasi, hipotensi, pusing, sakit kepala, kemerahan
Efek samping : pada wajah, ruam kulit, gangguan lambung
Kaplet / tablet salut selaput 30 mg ; tablet 60 mg ; injeksi
Sediaan : 10 mg, 50 mg.
(g) Isosorbid Dinitrat
Indikasi : Angina pektoris, infark jantung
Kontra indikasi : Hipotensi, shock kardiogenik
Efek samping : Sakit kepala
Sediaan : Tablet sub lingual
(h) Dipyridamol
Indikasi : derivat dipiperidino ini berdaya vasodilatasi terhadap
arteri jantung. Berkhasiat inotrop positif lemah tanpa
menaikkan penggunaan oksigen.
Digunakan untuk insufisiensi jantung, myocardial, angina
pectoris
Kontra indikasi : -
Efek samping : nyeri kepala, palpitasi dan gangguan lambung
Interaksi obat : Golongan xantine dapat menghilangkan efek vasodilatasi
Sediaan : Tablet salu selaput 25 mg
(i) Dopamin
Indikasi : Payah jantung akut, penunjang pada pengobatan dengan
diuretika.
Kontra indikasi : Phaechromocytoma, hipertropi ventrikel kiri,
Mual, muntah, aritmia
Efek samping : Injeksi
Sediaan :
(j) Nitroglyceryl
Indikasi : mengontrol hipertensi sebelum, selama dan sesudah
operasi ; gagal jantung kongestif yang berhubungan
dengan infar myocard ; mengontrol hipotensi.
Efek pada penggunaan secara sub lingual sangat cepat
( lebih kurang setelah 1 – 3 menit).
Kontra indikasi : hipotensi, idiosinkrosi, anemia, hipoksemia arteri
Efek samping : perasaan nyeri di kepala dan tachycardia ringan, pada
dosis yang besar jantung berdebar, pusing, penglihatan
buram lalu menjadi pucat. Jika efek ini terjadi, maka
pasien harus mengeluarkan sisa tablet dari mulut dan
segera berbaring.
Interaksi obat : efek hipotensi ditingkatkan oleh alkohol, β-blocker, anti
6
Sediaan hipertensi. Meningkatkan efek anti histamin, anti
kolinergik.
: kapsul 5 mg, injeksi 50 mg / 10 ml
4. Spesilite : Nama Dagang Sediaan Produsen
Lanoxin 0,25mg / tablet Glaxo-Wellcome
NO. Nama Generik Fargoxin Fahrenheit
1. Digoksin
2. -Metil Digoxin Lanitop 0,1mg / tablet Rajawali Nusindo
3. Digoksin Lanoxin 0,25mg / tablet Glaxo-Wellcome
Fargoxin Fahrenheit
4. Nifedipine Adalat 10mg, 20mg, 30mg / tablet Bayer
5. Diltiazem Herbesser 30mg, 60mg / tablet Tanabe-Abadi
90mg, 180mg / kapsul
6. Isosorbid Dinitrate Cedocard 5mg, 10mg, 20mg / tablet Darya-Varia
7. Dipyridamol Persantin 25mg, 75mg / tablet Boehringer
8. Glyceryl Trinitrate Glyceryl Trinitrate DBL 50mg / 10ml ampul Tempo Scan
Pacific
9. Nitrogliceryn Nitradisc Tetes : 5mg, 10mg / 24 jam Soho
NO. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
10. Propranolol HCl Inderal 10mg, 40mg / tablet Zeneca
11. Acebutolol Corbutol 400mg / tablet Otto
12. Verapamil HCl Isoptin 80 mg / dragee Tunggal
13. Quinidine Sulfate Sulfas Chinidin 100mg / tablet Kimia Farma
14. Dopamin Cetadop 10mg, 40mg / ml ampul Ethica
Doperba 40mg / ml ampul Kalbe Farma
Proinfark 20 mg / ml ampul Phapros
B. Antihipertensi
1. Pendahuluan
Tekanan darah ditentukan oleh 2 faktor, yaitu :
(a) Curah jantung
Ialah hasil kali denyut jantung dan isi sekuncup jantung. Besarnya isi sekuncup
ditentukan oleh kekuatan kontraksi otot jantung dan volume darah yang kembali
ke jantung.
7
(b) Resistensi perifer
Adalah gabungan tekanan otot polos arteri dan viskositas darah. Resistensi
disebabkan oleh berkurangnya elastisitas dinding pembuluh darah akibat adanya
arteriosclerosis yang terjadi karena meningkatnya usia atau karena pengendapan.
Ada 2 macam tekanan darah, yaitu :
(a) Tekanan darah sistolik
Adalah tekanan darah yang terjadi pada saat jantung berkontraksi. Tekanan ini
selalu lebih besar dari tekanan diastolik
(b) Tekanan darah diastolik
Adalah tekanan darah yang terjadi pada saat jantung berelaksasi (mengembang)
Tekanan darah dinyatakan dengan satuan mm Hg, misalnya 150 / 80 mm Hg, artinya
tekanan daras sistolik 150 dan tekanan darah diastolic 80 mm Hg.
Tabel tekanan darah menurut WHO :
Jenis tekanan darah Sistolik Diastolik
Normotensi < 140 < 90
Borderline 140 – 160 90 – 95
Hipertensi > 160 > 95
Dikatakan hipertensi bila ada peningkatan tekanan (lebih besar dari normal) darah sistolik
atau diastolik yang kronis.
Tekanan darah tubuh diatur oleh Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAAS).
Hormon renin dihasilkan oleh ginjal. Bila aliran darah dalam glomeruli berkurang, ginjal
akan melepaskan renin. Dalam plasma renin bergabung dengan protein membentuk
Angiotensin I yang oleh enzim ACE (Angiotensin Converting Enzyme) dirubah menjadi
Angiotensin II, yang aktif dan bersifat vasokonstriksi dan menstimulir hormon aldosteron
yang mempunyai efek retensi air dan garam, sehingga volume darah bertambah,
mengakibatkan tekanan darah meningkat.
Disamping RAAS, tekanan darah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain :
(a) Volume denyut jantung : makin besar volume denyut jantung, tekanan darah
makin tinggi.
(b) Elastisitas dinding arteri : makin kurang elastis, tekanan darah makin tinggi.
(c) Neurohormon (adrenalin dan noradrenalin) : lepasnya neurohormon dirangsang
oleh emosi, gelisahm stress, takut, marah, lelah atau rokok. Neurohormon bersifat
vasokonstriksi perifer sehingga tekanan darah naik.
Tekanan darah tinggi bukanlah penyakit, tapi hanya kelainan atau gejala yang disebabkan
oleh penyakit ginjal, penciutan aorta atau tumor pada anak ginjal (menyebabkan produksi
hormon berlebihan), yang mempunyai efek adanya gangguan pada sistem regulasi tekanan
darah. Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya disebut hipertensi essensial.
Hipertensi mengakibatkan resiko besar seperti kerusakan jantung (infark jantung),
pembuluh darah (bila pembuluh darah di otak pecah dapat menyebabkan infark otak
sehingga badan menjadi lumpuh separuh), kerusakan ginjal, selapu mata dan komplikasi
lain. Faktor lain yang menyebabkan hipertensi :
(a) Garam, ion Na+ bersifat retensi air sehingga memperbesar volume darah, juga
memperkuat noradrenalin, dengan demikian memperkuat vasokonstriksi.
(b) Asam glizirizat (yang terkandung dalam succus), dapat mempertinggi tekanan
darah pada orang tertentu.
(c) Hormon estrogen dalam pil KB bersifat menahan air dan garam, demikian juga
hormon androgen.
(d) Stress (ketegangan emosional) akibat pelepasan hormon adrenalin yang bersifat
vasokonstriktif
8
(e) Kehamilan
Gejala hipertensi :
Gejala yang khas tidak ada, penderita kadang – kadang hanya merasa nyeri kepala pada
pagi hari sebelum bangun tidur, tetapi setelah bangun rasa nyeri akan hilang.
2. Macam – Macam Hipertensi
Berdasarkan etiologi, hipertensi dibagi dua yaitu :
(a) Hipertensi essensial atau hipertensi primer, disebut juga hipertensi isiopatik, yaitu
hipertensi yang tidak jelas penyebabnya. Hipertensi ini merupakan 90% dari kasus
hipertensi. Faktor yang mempengaruhinya antara lain usia, jenis kelamin,
merokok, kolesterol, berat badan dan aktifitas renin plasma.
(b) Hipertensi sekunder, prevalensi hipertensi ini hanya 6 – 8 % dari seluruh penderita
hipertensi. Disebabkan oleh penyakit, obat, dll. Yang disebabkan oleh penyakit
ginjal disebut hipertensi renal, sedangkan yang disebabkan oleh penyakit endokrin
disebut hipertensi endokrin. Sedangkan obat – obat yang dapat menyebabkan
hipertensi misalnya hormon kontrasepsi, hormon kortikosteroid, antai depresan,
dll.
3. Pencegahan
Berhubung gejala khas tidak ada, sedangkan hipertensi beresiko besar, maka perlu
mengenal lebih awal gangguan ini, yaitu dengan mengukur tekanan darah secara berkala
(minimal sekali dalam satu tahun), terutama bagi yang sudah berusia 45 tahun ke atas.
Beberapa tindakan umum yang perlu dilakukan oleh pasien meskipun hanya
menderita hipertensi ringan antara lain :
(a) Bagi yang obesitas : menurunkan berat badan, sebab dengan menurunkan berat
badan, volume darah juga akan berkurang. Penurunan berat badan 1 kg akan
menurunkan tensi darah lebih kurang 0,5 / 0,7 mm Hg.
(b) Diet garam : maksimum 2 gram per hari. Mengurangi konsumsi lemak termasuk
daging, sebaliknya memperbanyak konsumsi makanan nabati.
(c) Tidak merokok, mengurangi minum kopi dan alkohol, sebab nikotin mempunyai
efek vasokonstriksi dan karbondioksida dalam asap rokok mengganggu
pernafasan. Kafein dapat menstimulir kontraksi jantung. Demikian pula alkohol,
karena tiap 10 gram alkohol dapat meingkatkan 0,5 mm Hg tekanan darah.
(d) Istirahat yang cukup
(e) Olah raga teratur, dapat merangsang saraf parasimpatis untuk lebih aktif
sedangkan saraf simpatis yang mempunyai efek vasokonstriksi kurang aktif.
4. Pengobatan
Prinsip pengobatan hipertensi adalah menurunkan tekanan darah, bila mungkin
sampai pada tekanan normal atau pada tekanan yang tidak mengganggu fungsi ginjal, otak
dan jantung. Ada dua cara pengobatan hipertensi, yaitu terapi farmakologi dan terapi non
farmakologi.
Terapi non farmakologi, adalah terapi tanpa menggunakan obat – obatan,
misalnya dengan m,enurunkan berat badan, diet garan dan sebagainya (lihat tindakan
umum).
Terapi farmakologi, ialah cara bertahap (stepped care = SC), ada empat tahap, yaitu :
(a) Tahap pertama, dengan satu obat diuretika tiazida atau beta bloker dengan dosis
kecil kemudian dosis dinaikkan.
(b) Tahap kedua, dengan dua obat : diuretika tiazida dan alfa atau beta bloker
(c) Tahap ketiga, dengan tiga obat : diuretika tiazida dan beta bloker dan vasodilator
(biasanya Hidralazin) atau penghambat ACE
9
(d) Tahap keempat, dengan empat obat : diuretika tiazida, beta bloker, vasodilator dan
guanetidin atau penghambat ACE
5. Penggolongan Obat Hipertensi
Tekanan darah ditentukan oleh volume menit jantung dan daya tahan dinding
arteriol, yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
TD = VM x DTP TD = tekanan darah
VM = volume menit jantung
DTP = daya tahan perifer
Dari rumus di atas, tekanan darah dapat diturunkan dengan mengurangi VM atau
DTP. Obat – obat hipertensi bekerja atas dasar prinsip tersebut.
Penurunan VM dilakukan dengan blokade reseptor beta jantung dan dengan
mengecilkan volume darah oleh diuretika.
Penurunan DTP diatur oleh faktor yang bekerja melalui susunan saraf sentral
maupun perifer. Sedangkan zat –zat vasodilatasi bekerja langsung terhadap perifer diluar
sistem adrenergik. Menurut zat khasiat farmakologinya, anti hipertensi dibagi atas :
(a) Zat – zat penekan SSP, misalnya reserpin
(b) Zat – zat penekan sistem adrenergik perifer, misalnya Propanolol
(c) Zat – zat diuresis, lebih praktis bila diberikan dalam bentuk long acting atau dosis
tunggal, misalnya Klortalidon dan
(d) Zat – zat vasodilator, misalnya Hidralazin
(e) Zat – zat antagonis kalsium, misalnya Nifedipine
(f) Zat –zat ACE bloker dan Angiotensin II antagonis, misalnya Losartan K
Captopril
6. Penggunaan
Kebanyakan obat hipertensi bekerja lambat, efeknya baru terlihat setelah beberapa
hari, sedangkan efek maksimal setelah beberapa minggu. Obat – obat dengan plasma t ½
antara 2 – 5 jam efek hipotensinya dapat bertahan sampai 20 jam, misalnya Reserpin,
Metildopa, Hidralazin, Propanolol dan Metoprolol. Kombinasi antara obat – obat tersebut
menghasilkan potensiasi, dengan demikian dosis dapat diturunkan dan efek samping lebih
ringan. Obat – obat dengan titik kerja sama (termasuk dalam satu kelompok) jika
dikombinasikan tidak menghasilkan potensiasi.
7. Efek Samping
Semua obat hipertensi menimbulkan efek samping seperti hidung tersumbat
(karena vasodilator mukosa), mulut kering, rasa letih dan lesu, gangguan lambung-usus
(mual, diare), gangguan penglihatan dan bradycardia (terkecuali Hidralazin yang justru
menyebabkan tachycardia).
Waktu menelan obat sebaiknya pada pagi hari setelah makan, sebab tekanan darah
paling tinggi pada pagi hari. Dosis pemberian obat maupun penghentian sebaiknya secara
berangsur, ini untuk menghindari penurunan dan kenaikan drastis.
8. Obat – Obat Tersendiri :
(a) Labetolol
Indikasi : Hipertensi sedang sampai berat
Kerjanya : Merupakan derivat Salbutamol dengan kerja yang cepat
setelah 2 – 4 jam. Efek menguat dengan meningkatnya
dosis. Obat ini dapat diberikan pada wanita hamil
10
Efek samping : Hidung tersumbat, gangguan gastrointestinal, letih, lemah,
kejang dan hipotensi ortistatik.
(b) Klonidina
Indikasi : Semua bentuk hipertensi
Kontra indikasi : Sick-sinus syndroma
Mekanisme : Merupakan turunan imidazol yang kerjanya kuat
kerja berdasarkan efek adrenolitik sentral. Dalam dosis kecil
bersifat vasokonstriksi perifer
Sediaan : Injeksi 0,15 mg/ml
(c) Metildopa
Indikasi : Hipertensi ringan sampai sedang
Mekanisme kerja : Bekerja kuat pada SSP dengan stimulasi reseptor pusat
vasomotor, sehingga menekan saraf adrenergik perifer.
Kontra indikasi Hepatitis, sirosis hati
Efek samping :
Interaksi obat : Sering dikombinasi dengan diuretik.
Sediaan : Tablet salut selaput 250 mg
(d) Hidralazin
Indikasi : Semua tingkatan hipertensi
Mekanisme Mempunyai efek vasodilatasi langsung terhadap dinding
kerja arteri.
Kontra indikasi : Hipotensi
Efek samping : Gangguan lambung-usus, nyeri kepala dan tachycardia.
Pada penggunaan dosis tinggi yang lama berakibat borok
kulit dan habituasi.
Sediaan : Tablet
(e) Reserpin
Adalah salah satu alkaloida dari Rauwolfia serpentina
Indikasi : Hipertensi ringan dan sedang
Mekanisme : Efek supresi yang tidak begitu kuat terhadap SSP. Plasma
kerja t ½ pendek, yaitu ¼ sampai 3 jam, tetapi efek hipotensi
bertahan sampai 36 jam, sebab dapat terakumulasi.
Efek samping : Depresi psikis dan hipotensi ortostatik, pada permulaan
pengobatan timbul gangguan lambung, lelah, mengantuk
dan hidung tersumbat.
Interaksi obat : Gagal ginjal dan hati, hipokalsemia
Sediaan : Tablet 0,1 mg
9. Spesialite
NO. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
1. Kaptopril Capoten Tablet 12,5mg ; 25mg; Bristol Myers
50mg
2. Klonidin Catapres Injeksi 0,15mg/ml ; Boehringer
tablet 0.075mg, 0.15mg
3. Metildopa Dopamet Tablet 250mg Alpharma
4. Labetolol Trandate Tablet 50mg ; 100mg Glaxo Wellcome
5. Atenolol Betablok Tablet 50mg; 100mg Kalbe Farma
Internolol Interbat
6. Atenolol HCl + Tenoretic Tiap tablet :Atenolol 50mg, Astra Zenecca
Klortalidon klortalidon 25mg
11
NO. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
7. Reserpin + Hidralazin Ser-ap-es Tiap tablet : Reserpin 0,1mg Novartis
hidralazin HCl 25 mg
8. Prazosin HCl Minipress Tablet 1mg, 2mg Pfizer
9 Reserpin
Serpasil Tablet 0,25mg ; 0,1mg Novartis
10 Propranolol Resapin Soho
Farmadral Tablet 10mg Fahrenheit
Inderal Astra Zenecca
C. Diuretika
Diuretika adalah zat – zat yeng memperbanyak pengeluaran urine (diuresis)
akibat pengaruh langsung terhadap ginjal. Zat – zat lain yang meskipun juga menyebabkan
diuresis tetapi tidak mempengaruhi ginjal secara langsung, adalah :
a. Obat – obat yang memperkuat kontraksi jantung, misalnya Digitalis, Teofilin, dll.
b. Zat – zat yang memperbesar volume darah, seperti Plasma, Dextran
c. Zat yang merintangi sekresi hormon anti diuretik, misalnya air, alkohol, dan larutan
– larutan hipotonik.
Fungsi utama ginjal adalah memelihara kemurnian darah dengan jalan
mengeluarkan semua zat asing dan sisa metabolisme dalam darah. Disamping itu
berperan juga memelihara homeostatis, yaitu keseimbangan dinamis antara cairan intra dan
ekstra sel, serta memelihara volume total dan susunan cairan ekstra sel.
Proses diuresis dimulai dengan proses filtrasi yang terjadi di glomeruli, yang
hasilnya berupa ultra filtrat (mengandung air dan elektrolit), ditampung pada kapsul
Bowman yang terdapat disekeliling glomeruli. Kemudian disalurkan ke kandung kemih
dengan melintasi saluran – saluran seperti tubuli proksimal, lengkung Henle, tubuli distal
dan saluran pengumpul (ductus colligens). Pada tiap saluran yang dilewati, terjadi
reabsorpsi zat tertentu.
Gambar : Nefron dan tempat kerja diuretika di tubuli
1. Mekanisme Kerja
Kebanyakan diuretika bekerja dengan mengurangi reabsorpsi ion – ion Na+,
sehingga pengeluarannya bersama air diperbanyak. Obat ini bekerja khusus terhadap tubuli
ginjal pada tempat yang berlainan, yaitu :
12
(a) Pada tubuli proksimal, disini 70% ultra filtrat diserap kembali (Glukosa, Ureum,
ion Na+ dan Cl- ). Filtrat tidak berubah dan tetap isotonik terhadap plasma. Diuretik
osmotik (Manitol, Sorbitol, Gliserol) juga bekerja di tempat ini dengan mengurangi
reabsorpsi ion Na+ dan Cl- .
(b) Pada lengkungan Henle (Henle’s loop), di sini 20% ion Cl- diangkut secara aktif ke
dalam sel tubuli dan disusul secara pasif oleh ion Na+, tetapi tanpa air, sehingga
filtrat menjadi hipotonik terhadap plasma. Diuretika lengkungan (diuretika kuat
seperti Furosemida, Bumetamida, Asam Etakrinat) bekerja di sini dengan
merintangi transpor Cl- .
(c) Pada tubuli distal bagian depan ujung Henle’s loop dalam cortex, di sini ion Na+
diserap kembali secara aktif tanpa penarikan air, sehingga filtrat menjadi lebih cair
dan lebih hipotonik. Saluretika (zat –zat Thiazida, Klortalidon, Mefruzida dan
Klopamida) bekerja di sini dengan merintangi reabsorpsi ion Na+ dan Cl- .
(d) Pada tubuli distal bagian belakang, di sini ion Na+ diserap kembali secar aktif, dan
terjadi pertukaran dengan ion K+, H+ dan HH4+. Proses ini dikendalikan oleh
hormon anak ginjal aldosteron. Zat – zat penghemat kalium (Spirolanton,
Thiamteren dan Amilorida) bekerja di sini dengan mengurangi pertukaran ion K+
dengan ion Na+, dengan demikian terjadi retensi kalium (antagonis aldosteron).
Reabsorpsi air terutama berlangsung di saluran pengumpul (ductus colligens), dan
di sini bekerja hormon anti diuterik (vasopresin).
2. Penggolongan
Diuretika dapat di bagi atas dua golongan, yaitu :
(a) Diuretika dengan kerja umum
Berdasarkan daya diuretiknya, diuretik kerja umum dapat dibagi 3 golongan :
Berdaya kerja kuat (diuretika lengkungan), misalnya Furosemida, Bumetanida
dan Asam Etakrinat. Diuretika ini bekerja cepat tetapi singkat, hanya 4 - 6
jam. Lebih kurang 20% dari jumlah ion Na+ dalam filtrat diekskresi.
Digunakan dalam keadaan akut, misalnya pada udema otak atau paru – paru.
Berdaya kerja sedang (saluretika), misalnya Hidroklorthiazida, Klortalidon,
Klopamida, Indapamida. Mengekskresi 5% - 10% ion Na+ dalam tubuli distal
bagian depan. Digunakan pada terapi pemeliharaan hipertensi atau bermacam
– macam udema.
Berdaya kerja lemah (diuretika hemat kalium), misalnya Spironolakton,
Amilorida dan Traimteren. Hanya sedikit mengekskresi ion Na+ (kurang dari
5%) pada tubuli distal bagian atas.
(b) Diuretika dengan kerja khusus
Di bagi 2 kelompok, yaitu ;
Diuretika osmotika, misalnya Manitol, Sorbitol, Gliserol dan Ureum.
Reabsorpsinya bersifat non elektrolit dan tidak lengkap, dengan demikian
tekanan osmotik ultra filtrat dipertinggi dan kadar Na menurun dalam cairan
tubuh.
Kejelekan diuretika ini adalah :
Ureum : daya kerja lemah, rasa tidak enak, menyebabkan gangguan usus
Manitol dan Sorbitol, hanya dapat digunakan secara parenteral (i.v) dan dapat
menyebabkan udema paru – paru.
Penggunaan kelompok diuretika ini sudah terdesak oleh Furosemida.
Perintang karbo – anhidrase, misalnya Asetazolamida dan Diklofenamida,
bekerja dengan merintangi enzim karbo-anhidrase di sel – sel tubuli, sehingga
13
ion – ion HCO3-, Na+ dan K+ diesksresi bersama air. Penggunaan sekarang
hanay pada glaukoma, untuk mengurangi produksi cairan dalam mata.
Obat – obat lain yang mempunyai efek samping diuresis karena mempertinggi
filtrasi glomeruli dengan beberapa cara, yaitu :
1. Mempertinggi volume menit jantung, misalnya Digitalis
2. Memperbesar volume darah, seperti plasma
3. Vasodilatasi di dalam ginjal, misalnya Teofilin
3. Penggunaan
Diuretika digunakan pada keadaan dimana dikehendaki pengeluaran urine lebih
banyak, terutama pada :
(a) Udema
Yaitu suatu keadaan kelebihan air dijaringan, misalnya pada dekompensasi jantung
setelah infark, dimana sirkulasi darah tidak berlangsung sempurna lagi, dan air
tertimbun di paru – paru ; atau pada ascites (busung perut) dimana air tertimbun di
dalam rongga perut ; atau pada penyakit – penyakit ginjal.
(b) Hipertensi
Untuk mengurangi volume darah agar tekanan menurun. Diuretika mempunyai
sifat memperkuat obat – obat hipertensi sehingga sering dikombinasi dengan obat –
obat tersebut.
(c) Diabetes inspidus
Produksi air kemih berlebihan, dalam hal ini diuretika justru mengurangi poliurea.
(d) Batu ginjal
Untuk membantu mengeluarkan endapan kristal dari ginjal dan saluran kemih.
4. Efek Samping
Efek samping yang sering timbul adalah :
(a) Hipokalemia, yaitu kekurangan kalium dalam darah. Disebabkan oleh diuretika
yang bekerja pada tubuli distal bagian depan memperbesar eksksresi ion K+ dan H+
yang ditukar dengan ion Na+.
(b) Hiperurikemia, disebabkan oleh adanya saingan antara diuretika dengan asam urat
pada transportasi di tubuli. Dapat dicegah dengan pemberian Allupurinol dan
Probenesid.
(c) Hiperglikemia, yaitu meningginya kadar kolesterol dan trigliserida disebabkan
karena menurunnya kadar HDL terutama oleh Klortalidon. Kecuali Indapamin
tidak mempengaruhi lipida.
(d) Hipoatremia dan alkalosis, terutama oleh diuretika kuat sehingga kadar Na+ dalam
plasma menurun drastis. Disamping itu juga meningkatkan ekskresi asam, sehingga
terjadi alkalosis. Gejalanya : gelisah, kejang otot, haus, letargi (selalu mengantuk
dan kolaps). Berkurangnya ion Na+ dan K+ dapat menyebabkan hipotensi.
Furosemida dan Asam Etakrinat dapat pula menyebabkan alkalosis, karena
banyaknya pengeluaran ion Cl-.
(e) Gangguan lain, pada lambung, usus, mual, muntah, diare, rasa letih, nyeri kepala,
dan pusing.
5. Obat Tersendiri : Udema dan hipertensi apabila hipokalemia sulit dihindarkan
(a) Amilorida dengan kalium tambahan
Indikasi
: Turunan Triamterene ini bekerja lambat (setelah 6 jam),
Mekanisme kerja
14
Kontra indikasi efeknya bertahan selama 24 jam.
: Gagal ginjal kronik dan akut, anuria, hiperkalemia, anak –
anak , pasien yang sedang diobati dengan diuretika hemat
kalium.
Efek samping : Fotosensibilisasi, impotensi (jarang terjadi)
Sediaan : Tablet 50 mg (Lorinid®)
(b) Furosemida : Efektif pada udema otak dan paru – paru yang akut,
Indikasi
insufisiensi ginjal dan hipertensi, keracunan barbiturat
(diuresis paksa)
Mekanisme kerja : Merupakan diuretika kuat, bekerja pada Henle’s loop. Efek
per oral cepat (1/2 – 1 jam), bertahan selama 4 – 6 jam.
Kontra indikasi : Anuria, nefritis akut.
Efek samping : Gangguan saluran cerna (mual dan mulut kering), pada
injeksi i.v. yang terlalu cepat dapat terjadi ketulian (jarang
terjadi), hipotensi
Sediaan : Injeksi, tablet
(c) Hidroklortiazida
Sering dipakai dalam kombinasi dengan anti hipertensi yang berhubungan dengan
berkurangnya volume plasma dan penurunan daya tahan dinding pembuluh. Titik
kerja pada tubli distal bagian depan. Efek setelah 1 jam, bertahan selama 12 – 18
jam.
(d) Glukosa
Diuretika terhadap udema otak dan paru – paru.
(e) Asam Etakrinat
Indikasi : Efektif pada udema otak dan paru – paru yang akut.
Digunakan juga pada insufisiensi ginjal dan hipertensi.
Mekanisme kerja : Merupakan diuretika kuat, bekerja pada Henle’s loop. Efek
per oral cepat (1/2 – 1 jam), bertahan selama 6 – 8 jam.
Kontra indikasi : Tidak boleh diberikan pada anak – anak dibawah 2 tahun dan
pada wanita hamil / menyusui.
Efek samping : Gangguan lambung
Sediaan :
(f) Klortalidon Udema yang disebabkan gangguan fungsi hati, ginjal,
Indikasi : jantung. Sering juga dipakai dalam kombinasi dengan anti
hipertensi yang berhubungan dengan berkurangnya volume
Mekanisme kerja : plasma dan penurunan daya tahan dinding pembuluh.
Titik kerja pada tubli distal bagian depan. Efek setelah 2 jam,
Kontra indikasi : bertahan selama 24 – 48 jam.
Insufisiensi ginjal, aterosklerosis koroner atau otak. Hati –
Efek samping : hati pada penderita diabetes mellitus.
Sediaan :
(g) Spironolakton Tablet
Indikasi :
Daya diuresisnya lemah, karena itu digunakan sebagai
Mekanisme kerja : kombinasi bersama diuretik umum. Penggunaannya pada
hipertensi essensial, udema pada payah jantung kongestif
Merupakan penghambat aldosteron, mulai kerja lambat
(sesudah 2 – 4 jam), efek bertahan selama beberapa hari
15
setelah pemberian dihentikan. Termasuk diuretika hemat
kalium.
Kontra indikasi : Hiperkalemia, gagal ginjal parah
Efek samping : Berupa umum, pada penggumaan yang lama dapat
menimbulkan impotensi (pada pria) dan nyeri payudara dan
gangguan haid (pada wanita)
Sediaan : Tablet
(h) Triamterene
Kerjanya mirip spironolakton, menghambat pertukaran ion Na+, K+ dan H+ dalam
tubuli distal. Efeknya setelah 2 – 4 jam, bertahan selama 8 jam.
(i) Asetazolamida
Indikasi : Jarang digunakan sebagai diuretika. Hanya digunakan untuk
mengurangi sekresi cairan dalam mata untuk menurunkan
tekanan intra okuler (pada kasus glaukoma)
Mekanisme kerja : Kerjanya sebagai perintang enzim karbo-anhidrase, ekskresi
ion Na+, K+ dan bikarbonat bertambah.
Kontra indikasi : Disfungsi ginjal dan hati,tTidak dianjurkan penggunaannya
pada wanita hamil
Efek samping :
Sediaan : Tablet
(j) Kaptopril
Indikasi : Hipertensi, gagal jantung
Kontra indikasi : Tidak dianjurkan penggunaannya pada wanita hamil karena
Efek samping dapat berakibat kelainan pada fetus.
: Ruam kulit, pruritus, fotosensitif, sakit kepal, pusing, mual,
Sediaan
insomnia
: Tablet
6. Spesilaite Nama Dagang Sediaan Produsen
Spirolacton Tablet 25 mg Phapros
No. Nama Generik Letonal Tablet 25mg; 100mg Otto
1 Spironolakton
2 Hidroklortiazida Tenazide Tablet 25mg Combiphar
Capozide Tablet 12,5mg Bristol M
3 Klortalidon Hygroton Tablet 50mg Novartis
4 Furosemida Furosemida Tablet 40mg Kimia Farma
Uresix 20mg/2ml ampul, 250mg/25 ml Sanbe Farma
infus
Lasix 10mg/ml injeksi, tablet 40mg Aventis
Impugan Dumex
5 Asetazolamida Diamox Lederle
Kaptopril Capoten Tablet 12,5mg; 25mg; 50mg Bristol M.
Vapril Tablet 12,5mg; 50mg Phapros
16
D. Hematinika
1. Pendahuluan
Hematinika atau obat-obat pembentuk darah yaitu obat-obat yang khusus
digunakan untuk merangsang atau memperbaiki proses pembentukan sel darah merah
(erythropoesis).
Sel darah merah dibentuk dalam sumsum tulang yang pipih. Untuk itu dibutuhkan
zat besi, vitamin B12 dan asam folat. Zat besi untuk membentuk hemoglobin, vitamin B12
dan asam folat untuk membentuk sel darah merah. Zat tersebut diperoleh dari makanan dan
ditimbun dalam jaringan, terutama hati dan sumsum tulang. Vitamin B12 dapat disintesa
dalam usus besar dalam bakteri tetapi tidak dapat untuk memenuhi kebutuhan tubuh, sebab
vitamin ini terikat dengan protein dan penyerapannya berlangsung dalam ileum.
Anemia adalah keadaan dimana kadar Hb dan atau eritrosit berkurang. Orang
dikatakan menderita anemi bila kadar Hb kurang dari 8 mmol/liter pada pria
atau 7 mmol/liter pada wanita.
Ada dua jenis anemi yaitu anemi ferriprive dan anemi megaloblaster.
(a) Anemi ferriprive
Disebabkan oleh kekurangan zat besi, dengan tanda-tanda kadar Hb dibawah normal
(hypochrom), eritrosit lebih kecil (microcyter). Anemi ini sering disebut anemi
hypochrom, anemi microcyter atau anemi sekunder.
(b) Anemi megaloblaster
Disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 atau asam folat, dengan tanda-tanda sel darah
merah membesar (macrocyter) dengan kadar Hb normal atau lebih tinggi
(hyperchrom), disebut juga anemi primer. Dalam keadaan yang lebih berat disebut
anemi pernisiosa
(c) Anemia lainnya
Merupakan bentuk anemia serius yang tidak ada hubungannya dengan kekurangan zat
besi atau vitamin. Termasuk kedalam golongan ini adalah :
Anemia aplastis, yaitu eritrosit atau unsur darah lainnya tidak terbentuk.
Penyebabnya antara lain karena faktor keturunan (disebut juga anemia aplastis
primer atau congenital); rusaknya sumsum tulang akibat efek samping obat seperti
kloramfenikol, karbimazol, sitostatika (disebut juga anemia aplastis sekunder).
Anemia haemolitis, yaitu eritrosit dirusak, Hb dilarutkan dalam serum dan
diekskresikan lewat urin, misalnyapada malaria tropika.
2. Pengobatan
Berhubung anemi hanya merupakan gejala, maka sebelum melakukan pengobatan
perlu ditentukan lebih dahulu jenis anemi dengan menemtukan kadar zat besi, vitamin B12
dan asam folat dalam darah, agar dapat diberikan terapi yang tepat.
Anemi ferriprive dapat dihilangkan dengan pemberian preparat zat besi,
sedangkan penyebabnya mungkin tetap ada misalnya tumor atau borok lambung yang juga
harus diobati, sebab bila hanya memberi preparat zat besi tanpa mengobati penyebabnya,
anemi tidak akan dapat diatasi. Dalam hal ini pemberian vitamin B12 atau asam folat tidak
berguna bahkan dapat merugikan, karena menyulitkan diagnosa anemi primer berhubung
megaloblaster lenyap dari sumsum tulang. Pada anemi pernisiosa, asam folat tidak dapat
diberikan
3. Zat – zat anti anemi
(a) Asam folat
Sumbernya sayuran berwarna hijau, hati, ragi, buah – buahan. Dalam bahan
makanan tersebut asam folat terdapat dalam senyawa konjugasi (poliglutamat).
17
Senyawa ini dalam hati akan diuraikan oleh enzim dan direduksi menjadi zat aktifnya
(tetrahidro folic acid). Zat ini untuk sintesa DNA dan RNA serta pembelahan sel.
(b) Zat besi (Fe)
Dalam makanan, zat besi terikat sebagai ferri kompleks, tetapi dalam lambung
diubah menjadi ferro klorida. Resorpsi hanya berlangsung dalam duodenum, dalam
lingkungan asam netral garam ferro lebih mudah larut. Setelah diserap dalam darah ,
maka akan bergabung dalam protein menjadi ferritin yang disimpan sebagai cadangan,
sebagian diangkut ke sumsum tulang, hati dan sel-sel lain untuk sintesa hemoglobin
dan enzim zat besi (metalo enzim). Kebutuhan zat besi sehari 1-2 mg.
Gejala kekurangan zat besi seperti anemi hipokrom, yaitu pucat, letih dan lesu,
jari-jari dingin, jantung berdebar, nyeri lidah, kuku dan kulit keriput. Defisiensi ini
dapat diobati dengan pemberian garam-garam ferro per-oral, misalnya ferro fumarat,
ferro sulfat, ferro klorida, dan lainnya. Pemberian parenteral hanya bila ada kelainan
lambung (perdarahan) atau rangsangan yang hebat. Lagipula ada bahaya over dosis,
sedangkan peroral tidak akan terjadi over dosis sebab ada rintangan kontrol usus,
kecuali pada anak-anak dimana kontrol usus belum sempurna.
(c) Vitamin B12(Cyanocobalamin)
Sumber vitamin ini adalah makanan dari hewani : hati, daging, telur, susus, dalam
bentuk ikatan dengan protein. Kebutuhan orang sehari 2-5 mcg.
Dalam lambung vitamin B12 dilepas dari ikatan kompleksnya dengan protein oleh
HCL yang segera diikat oleh glukoprotein yang disebut instrinsik factor (Castle
1929) yang dihasilkan oleh mukosa lambung bagian dasar. Dengan pengikatan ini zat
tersebut baru dapat diserap oleh reseptor spesifik di usus halus(ileum). Setelah
diserapvitamin B12 diangkut dan ditimbun dalam hati yang secara bertahap dilepas
sesuai kebutuhan tubuh.
Defisiensi vitamin B12 dengan gejala-gejala megaloblaster, nyeri lidah, degenerasi
otak, sumsum tulang, depresi psikis. Pengobatan terutama dengan injeksi, oral
vitamin B12 dengan kombinasi instrinsic factor (serbuk pylorus).
4. Obat – Obat Anti Anemia (hematinika)
No. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
Tiap tablet : Indofarma
1 Ferrosi sulfas + Ferolat Fe.Sulfat eksikatus 200 mg,
asam folat 0,25 mg IPI
Asam Folat 50mg / tablet Kimia Farma
500 g / 5ml ampul Soho
2 Cyanokobalamin Vitamin B-12 1000 g / ml vial
3 Fe Fumarat + Vit C Ferofort Per Kapsul : Kalbe Farma
+ Vit. B, dll Ferro Fumarate + Vit.C +
Folic Acid + Vit.B1 +
Vit.B2 + Vit.B6 + Vit.B12
+ Niacinamide + Ca
Panthothenat + Lysin +
Dioctyl Na Sulfasuccinate
Hemafort Per tablet salut gula : Phapros
Ferro Fumarate + Vit.C +
Folic Acid + Vit.B12 +
Mn Sulfate + CuSO4 +
Sorbitol + Intrinsik Factor
18
No. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
Per Tablet Salu Selaput : Abbot
4 Fe Sulfat + Asam Iberet - 500 Fe-Sulfat + Vit.B1 + Vit.B2
+ Vit.B6 + Vit.B12 + Na
Folat + Vit C + Ascorbate + Niacinamide +
Ca Pantho - thenat
Vit. B
Vitral Fe-Sulfat + Vit.A +Vit.B1 + Darya-Varia
Vit.B2 + Vit.B6 + Vit.B12
+ Vit.C + Vit.D2 + Vit.E +
Vit.K3 + Nicotin -amide +
Ca Panthothenat + Folic
Acid + Inositol + Cholin +
Dicalcium Phos -phate +
Mg + Cu + F + I + Mn +
Mo + Se + Zn
5 Fe Gluconat + As. Livron B-Plex Per Tablet Salut Gula : Phapros
Folat + Vit. C + Fe-Gluconate + CuSO4 +
Nicotinamida + Vit.C + Folic Acid + Ca
Vit. B-1, B-2, B-5, Panthothenat + Vit.B1 +
B-12 Vit.B2 + Vit.B6 + Vit.B12
+ Nicotinamide + Dried
Liver
6 Fe Gluconat + Vit Sangobion Per Kapsul : Merck
C + Asam Folat Fe-Gluconate + CuSO4 +
Mn Sulfate + Vit.C + Folic
Acid + Vit.B12 + Sorbitol
E. Hemostatika dan Oksitosikum
Hemostatika
Hemostatik adalah zat atau obat yang digunakan untuk menghentikan pendarahan.
Obat-obat ini diperlukan untuk mengatasi pendarahan.
Perdarahan dapat disebabkan oleh defisiensi satu factor pembekuan darah dan dapat
pula akibat defisiensi banyak faktor yang mungkin sulit untuk didiagnosis dan diobati.
Hemostatik dibagi dua, yaitu hemostatik lokal dan hemostatik sistemik.
1. Hemostatik Lokal
Yang termasuk golongan ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa kelompok
berdasarkan mekanisme hemostatiknya :
(a) Absorbable haemostatics
Obat golongan ini menghentikan perdarahan dengan pembentukan suatu bekuan
buatan atau memberikan jaringan yang mempermudah pembekuan bila
diletakkan langsung pada luka. Dengan kontak permungkaan benda asing,
trombosit akan pecah dan membebaskan factor pembekuan. Termasuk golongan
ini spons gelatin dan selulosa oksida (oksisel).
(b) Astringen
Zat ini bekerja dengan memgendapkan protein darah sehingga perdarahan dapat
dihentikan. Contoh : Ferri Klorida, Nitras argenti dan asam tanat.
(c) Koagulan
19
Dapat menimbulkan hemostasis dengan dua cara, yaitu dengan mempercepat
perubahan protrombin menjadi trombin dan secara langsung menggumpalkan
fibrinogen.
(d) Vasokonstriktor
Dapat digunakan untuk menghentikan perdarahan kapiler dan cara pakainya
dengan mengoleskan kapas yang telah dibasahi dengan obat ini pada
permungkaan luka. Contoh : Epinefrin, Norepinefrin dan Vasoprin.
2. Hemostatik Sistemik
Dengan memberikan transfusi darah, seringkali perdarahan dapat dihentikan segera.
Hal ini terjadi karena penderita mendapatkan semua faktor pembekuan darah yang
terdapat dalam darah transfusi. Keuntungan lainnya ialah perbaikan volume sirkulasi.
Perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi factor pembekuan darah tertentu dapat
diatasi dengan menggantikan/memberikan faktor pembekuan yang kurang tersebut.
Zat – zat tersendiri :
1. Faktor antihemofilik (faktor VII)
Berguna untuk mencegah atau mengatasi perdarahan pada penderita hemofilia A
(defisiensi faktor VIII) dan penderita yang darahnya mengandung inhibitor faktor
VIII
2. Kompleks faktor IX
Sediaan ini mengandung faktor II, VII, IX dan X; serta sejumlah kecil protein
plasma lain. Digunakan untuk pengobatan hemofilia B, atau bila diperlukan faktor
- faktor yang terdapat dalam sediaan tersebut untuk mencegah perdarahan. Akan
tetapi karena ada kemungkinan timbulnya hepatitis, sebaiknya preparat ini tidak
diberikan pada penderita non hemofilia. Efek sampingnya berupa trombosis,
demam, menggigil, sakit kepala dan shock anafilaksis.
3. Human fibrinogen
Sediaan ini hanya digunakan bila dapat ditentukan kadar fibrinogen dalam darah
penderita, dan daya pembekuan yang sebenarnya.
4. Vitamin K
Sebagai hemostatik, vitamin K memerlukan waktu untuk menimbukan efek, sebab
vitamin K harus merangsang pembentukan darah terlebih dahulu.
5. Asam aminokaproat
Merupakan competitiv inhibitor dari aktivator plasminogen dan penghambat
plasmin. Plasmin sendiri berperan menghancurkan fibrinogen, fibrin dan faktor
pembekuan darah lainnya. Oleh karena itu asam aminokaproat dapat membantu
mengatasi perdarahan berat akibat fibrinolisis yang berlebihan.
6. Asam traneksamat
Indikasi dan mekanisme kerja yang sama dengan asam aminokaproat, tetapi 10 kali
lebih kuat dengan efek samping lebih sedikit.
7. Karbozokrom
Dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dan untuk mencegah dan mengobati
perdarahan kapiler
Spesialite : Nama Dagang Bentuk Sediaan Produsen
No Nama Generik
Adona AC Tablet 10mg Tanabe
1. Karbazokrom Danachrom Dankos
Adrome Landson
20
2. Asam traneksamat Kalnex Kapsul 250mg, tablet salut Kalbe Farma
500mg, injeksi 50mg/ml
Transamin Injeksi 250ng/ml Otto
Tranexamic Harsen
3. Vitamin K-1 Kaywan Tablet 5mg Eisai
(Fitonadion)
4. Vitamin K-3 Kavitin Soho
(menadion)
5. Serbuk faktor VIII Koate-HP Vial 280 UI; 290 UI; 300 UI Dipa
Vial 20ml 500 UI Pharmalab
6. Serbuk kompleks Konyne-80 Dipa
faktor IX Pharmalab
Oksitosik
Oksitosik adalah obat yang merangsang kontraksi uterus. Obat ini berguna dalam
praktek kebidanan.
1. Zat – Zat Tersendiri
(a) Alkaloid Ergot
Sumber alkaloid ergot adalah Claviseps purpurea, suatu jamur yang hidup sebagai
parasit pada tanaman gandum. Khasiatnya yang terpenting adalah stimulus otot
polos, terutama dari pembuluh darah perifer dan rahim, dengan efek vasokonstriksi
dan oksitosik.
Alkaloid – alkaloid ini merupakan turunan asam lisergat, dan dapat dibagi dalam 3
kelompok, yaitu :
Ergotamin
Indikasi : Meningkatkan kontraksi uterus, migrain
Mekanisme kerja Oksitosik dan vasokonstriksi kuat
Kontra indikasi : Wanita yang habis melahirkan, sepsis, gagal ginjal dan hati
Efek samping : Berdebar, naiknya tekanan darah, perasaan dingin, haus,
muntah, diare
Sediaan : Tablet, injeksi
Ergometrin
Khasiat vasokonstriksi lebih lemah dari pada ergotamin, namun efek
oksitosiknya lebih kuat. Turunannya metilergometrin, memiliki efek oksitosik
yang lebih kuat dan lebih lama.
Indikasi : Meningkatkan kontraksi uterus, migrain
Kontra indikasi : Wanita yang habis melahirkan, sepsis, gagal ginjal dan hati
Efek samping : Berdebar, naiknya tekanan darah, perasaan dingin, haus,
muntah, diare
Sediaan : Tablet, injeksi
Ergotoksin
Terdiri dari ergokristin, ergokriptin dan ergokonin. Yang digunakan hanya
derivat dihidro – nya. Terutama digunakan pada gangguan sirkulasi
dipermukaan, hipotensi ringan dan migrain.
(b) Oksitosin
Merangsang otot polos uterus dan kelenjar mamae. Fungsi perangsangan ini
bersifat selektif dan cukup kuat.
21
2. Obat – Obat Oksitosik Nama Dagang Sediaan Produsen
Ermetrine 300mg / tablet Organon
No. Nama Generik Novartis
1. Ergometrine Maleate Methergin 0,125mg / dragee
0,2mg / ml ampul Kimia Farma
2. Methyl Ergometrine
0,125mg/ tablet salut Organon
3. Methyl Ergometrine Methovin Novartis
Maleate 10 IU / ml ampul
Ethica
4. Synthetic Oxytocin Piton S 10 IU / 2 ml ampul
40 IU / 5 ml vial
Syntocinon
10 IU / ml ampul
Oxytocin S
22
BAB II
BIOREGULATOR
Bioregulator adalah katalisator yang bekerja terhadap proses – proses dari suatu
sistem kehidupan, dapat juga disebut biokatalisator. Bioregulator yang terpenting adalah :
1. Enzim
2. Vitamin
3. Mineral
4. Hormon
5. Obat Kontrasepsi
A. Enzim
Enzim atau fermen adalah senyawa – senyawa organic, lazimnya protein yang
dapat mengakibatkan atau mempercepat rekasi biokimia berdasarkan proses katalisa.
Enzim ini hanya bekerja sebagai katalisator organic terhadap reaksi – reaksi dari substrat
spesifik. Kegiatan enzim tergantung kepada suhu, derajat keasaman (pH) dan konsentrasi
ion – ion.
Nama dari enzim dibentuk dari nama substrat atau nama reaksi yang
dipercepatnya, dengan menambahkan akhira ase.
Urease : Enzim pengurai ureum
Protease : Enzim pengurai protein
Lipase : Enzim pengurai lemak / lipida
Reduktase : Enzim yang mempercepat reduksi
Hidrolase : Enzim yang mempercepat hidrolisa
1. Penghasil Enzim
Enzim dihasilkan oleh :
- mikroorganisme (bakteri atau jamur), misalnya lipase, amilase, streptokinase,
penisillinase, dll.
- Tumbuh – tumbuhan, dimana zat – zat ini dipisahkan dan kadang – kadang dalam
bentuk kristal, misalnya papase (dari Carica papaya) dan bromelin (dari Annanas
sativum).
Berdasarkan senyawa atau gugusan yang terkandung dalam enzim, maka enzim dapat
dibedakan atas :
- gugus protein, disebut juga apo enzim
- gugus non protein, disebut juga gugusan prostetik atau koenzim. Kelompok ini
berperan dalam metabolisme sel –sel tubuh. Contohnya vitamin B-1, nikotinamida,
dll.
2. Fungsi Enzim
Enzim – enzim berfungsi dalam :
(a) Proses pencernaan dengan menguraikan lemak, protein dan karbohidrat
(b) Reaksi – reaksi yang bertalian dengan proses pernafasan
(c) Efek –efek dari vitamin berkenaan dengan kerja dari enzim –enzim, misalnya
defisiensi suatu vitamin, sebenarnya kekurangan enzim
(d) Keseimbangan hormon – hormon supaya terpelihara dengan sintesa – sintesa
hormon atau penguraian hormon yang berlebihan oleh antagonisnya, misalnya
kelebihan hormon insulin diurai oleh insulinase ; kumulasi hormon – hormon nor
adrenalin atau asetilkolin pada organ – organ ujung diurai oleh MAO dan
kolinesterase.
23
(e) Melindungi jaringan tubuh terhadap efek – efek enzim yang dihasilkannya,
misalnya zat perintang tripsin yang dapat meniadakan kelebihan tripsin.
3. Kegunaan Enzim
(a) Sebagai penolong dalam pencernaan
(b) Membersihkan dan menyembuhkan luka – luka, dengan cara mencernakan secara
selektif jaringan – jaringan yang mati tanpa merusak jaringan yang sehat, termasuk
juga melindungi saluran darah yang mengelilingi luka tersebut.
(c) Menghilangkan radang atau bengkakm yang berguna pada pengobatan luka – luka.
Berdasarkan khasiat anti radang (anti inflamatory enzim) misalnya papase,
protease, amilase, seropeptidase, streptokinase, dll.
(d) Sebagai anti koagulansia, untuk menguraikan molekul – molekil fibrin yang
menyebabkan pembekuan darah dan gumpalan – gumpalan darah pada pengobatan
trombosis, tromboflebitis. Misalnya streptokinase.
(e) Sebagai pembantu dalam diagnosa (diagnostic enzym) :
- Glukosa oksidase, untuk menentukan kadar glukosa dalam urine pada
diabetes
- Uricase, untuk menentukan kadar asam urat dalam darah, antara lain pada
gangguan ginjal, encok, dll.
- Analisa kadar enzim laktat dehidrogenase dalam serum darah, menunjukkan
adanya jaringan yang mati disuatu tempat pada tubuh karena kekurangan
darah, antara lain karena adanya penyakit kanker atau trombosis koroner.
4. Efek Samping
Efek sampingnya sedikit sekali, antara lain alergi terhadap streptokinase atas dasar
enzim adalah protein yang merupakan antigen dan merangsang pembentukan antibodi.
Tapi hal ini jarang sekali terjadi.
5. Obat tersendiri :
(a) Enzim – enzim pankreas dan pepsin
(lihat obat pencernaan)
(b) Bromelin atau Ananase
Protease dari Ananas sativum, yang berkhasiat juga sebagai anti radang
(c) Papase atau Prolase
Enzim proteolitik yang didapatkan dari Carica papaya, yang juga berkhasiat
sebagai penghilang bengkak – bengkak.
(d) Streptokinase dan Streptodornase
Diperoleh dari bakteri Streptococcus haemolyticus. Terutama streptokinase bersifat
fibrinolitik yang menguraikan fibrin, mengencerkan serta melarutkan nanah yang
kental dan darah yang beku. Penggunaan pada pengobatan trombosis koroner
(infark jantung) dan menyembuhkan infeksi bernanah. Enzim ini mempertinggi
efek penggunaan antibiotika.
(e) Fibrinolisin
Diperoleh sebagai hasil penguraian enzim lain yaitu streptokinase terhadap
profibrinolisis atau plasminogen yang inaktif. Diperoleh dari plasma manusia. Efek
sampingnya berupa reaksi alergi.
24
6. Spesilite Nama Dagang Sediaan Produsen
Lihat Obat
No. Nama Generik Pencernaan
1. Enzym Pencernaan
2. Bromelin / Pancreatin Benozym Per Tablet Salut Gula : Bernofarm
3. Papain / Pancreatin Bromelin + Pancreatin + Ox Bile
4. Streptokinase Elsazym Per Tablet Salut Gula :
(Enzym fibrinolitik) Bromelin + Pancreatin Otto
+ Dimetil Poli Siloxan
Fortizym Per Kaplet Salut Gula : Kalbe Farma
Papain + Pancreatin + Ox Bile +
Simethicon + Curcuma
Vitazym Per Dragee : Kalbe Farma
Papain + Pancreatin + Ox
Bile + Curcuma + Liver Extr. +
Vitamin / Mineral
Karbikinase 250.000 IU, 750.000 IU, Kalbe Farma
1.500.000 IU / vial
Streptase 750.0 IU, 1.500.000 IU / vial Dexa Medica
B. Vitamin
Vitamin merupakan suatu senyawa organik yang dalam jumlah sangat kecil
dibutuhkan oleh tubuh untuk memelihara fungsi dan metabolime normal. Vitamin
diperoleh tubuh dari makanan sehari – hari. Tapi ada juga yang diperoleh dari hasil sintesa
flora usus, misalnya vitamin K dan asam pantotenat (vitamin B-5). Bahkan vitamin A dan
D dapat dibentuk oleh tubuh sendiri. Umumnya vitamin merupakan co-enzym dari
suatu yang berperan pada proses metabolisme dalam tubuh.
Pada keadaan tertentu tubuh dapat mengalami defisiensi vitamin. Hal ini dapat
terjadi karena beberapa hal antara lain :
Makanan yang dikonsumsi sehari – hari kurang kandungan vitaminnya
Adanya gangguan pencernaaan, sehingga penyerapan vitamin terganggu
Kebutuhan akan vitamin meningkat, misalnya pada masa kehaminal, masa
pertumbuhan dan masa penyembuhan dari sakit
1. Penggolongan Vitamin
Berdasarkan sifat kelarutannya, vitamin dibagi atas 2 golongan yaitu :
(a) Vitamin yang larut dalam air, meliputi :
Thiamin Asam Folat Asam Ascorbat
Nikotinamida
Riboflavi Asam Pantotenat Piridoksin
n Cyanocobalamin
Biotin Asam para amino benzoat
Rutin
Semua vitamin tersebut mudah diserap di dinding usus dan mjudah pula
dikeluarkan bersama urine, kecuali vitamin B-12 yang penyerapannya membutuhkan
adanya faktor intrinsik. Dengan sifat yang demikian, kemungkinan timbulnya
toksisitas akibat kumulasi vitamin dalam tubuh jarang terjadi. Vitamin kelompok ini
sedikit sekali dismpan di dalam tubuh.
25
(b) Vitamin yang larut dalam lemak, yaitu :
Vitamin A
Vitamin D
Vitamin E
Vitamin K
Vitamin ini diserap bersama – sama lemak, sehingga adanya gangguan pencernaan
lemak dapat mengurangi penyerapannya. Ekskresinya lambat, sehingga dapat
menimbulkan kumulasi dalam tubuh sehingga menyebabkan gejala keracunan.
2. Obat – Obat Tersendiri :
Vitamin B Kompleks :
Kelompok vitamin ini bersumber sama, sehingga disebut B kompleks. Defisiensi
salah satu anggota kelompok vitamin ini, biasanya juga disertai defisiensi seluruh
kompleks vitamin ini.
(a) Thiamin ( Vitamin B-1 )
Terdapat dalam kulit beras, hati, ginjal, ragi, sayuran dan kacang – kacangan.
Vitamin ini penting pada metabolisme karbohidrat. Defisiensinya menyebabkan
gejala anoreksia, obstipasi, kejang otot, kesemutan (paresthesia), beri – beri dengan
polineuritis dan gangguan jantung. Dalam dosis tinggi bersama dengan vitamin B-6
dan B-12 digunakan sebagai vitamin neurotropik.
(b) Riboflavin ( Vitamin B-2 )
Terdapat antara lain dalam usus, telur, hati, kulit beras, ragi dan sayuran.
Defisiensinya menyebabkan sakit tenggorokan dan radang pada sudut mulut,
radang lidah, kelainan mata (conjungtivitis dan fotophobia) dan gejala avitaminosis
B lainnya.
(c) Piridoksin ( Vitamin B-6 )
Banyak terkandung dalam daging, hati, ginjal, padi – padian, kacang dan sayuran.
Ada 3 bentuk vitamin ini, yaitu piridoksin, piridoksal dan piridoksamin.
Defisiensi B-6 menyebabkan gangguan kulit (radang), gangguan alat pencernaan,
radang selaput lendir mulut dan lidah, radang saraf dan gangguan pembentukan sel
– sel darah merah. Defisiensi ini dapat juga terjadi karena pemakaian INH untuk
jangka waktu yang lama. Vitamin B-6 juga digunakan untuk melawan mual,
muntah dan depresi karena pil anti hamil. Demikian juga pada muntah kehamilan.
(d) Nikotinamida ( Niasinamida, PP Factor atau Vitamin B-3 )
Terdapat dalam sayuran, ikan, daging, padi dan gandum. Vitamin ini terdapat
sebagai asam nikotinat. Di dalam hati asam ini diubah menjadi nikotinamida, yang
merupakan co-enzym pada proses oksidasi reduksi. Defisiensi vitamin ini
menimbulkan penyakit pellagra dengan gejala kulit menjadi hitam (dermatitis),
gangguan lambung usus (diare) dan gangguan saraf (dementia).
(e) Asam Pantotenat ( Vitamin B-5 )
Tedapat dalam semua jaringan tubuh dan semua macam makanan. Juga dapat
diproduksi oleh flora usus. Bentuk aktifnya adalah isomer dexter, yaitu d-
pantotenat. Merupakan co-enzym A yang penting dalam metabolisme.
Defisiensinya pada manusia belum dikenal.
(f) Asam Folat ( Vitamin B-11 )
Terdapat dalam sayuran, hati, ragi, daging, ikan dan kacang – kacangan, hanya
sedikit terdapat dalam buah – buahan. Dalam hati diubah menjadi tetrahidrofolat,
suatu co-enzym pada sintesa asam inti dan pembelahan sel. Penting pada
pembentukan eritrosit. Defisiensinya menyebabkan anemia megaloblaster.
26
(g) Cyanocobalamin ( Vitamin B-12 )
Terdapat dalam makanan yang berasal dari hewan, yaitu daging, hati, telur dan
susu, dalam bentuk suatu kompleks protein. Dalam lambung, vitamin B-12 akan
terlepas dari kompleks tersebut, lalu berikatan dengan faktor intrinsik yang
dikeluarkan oleh mukosa lambung, sehingga dapat diserap oleh usus halus. Dalam
tubuh, vitamin ini ditimbun dalam hati. Vitamin ini merupakan vaktor penting dapa
pembentukan eritrosit, dan defisiensinya menyebabkan anemia megaloblaster.
Asam Ascorbat
Banyak terdapat dalam sayur dan buah. Berperan penting dalam pembentukan zat
pengikat dalam tulang dan tulang rawan, sekitar kapiler dan antar sel (kolagen) yang
penting bagi saling terikatnya jaringan. Bila sintesa kolagen terganggua, dinsing
pembuluh darah mudah rusak, sehingga mudah terjadi pendarahan.
Defisiensi vitamin C menyebabkan sariawan (skorbut), gigi mudah lepas, luka
yang sukar sembuh dan mudah terjadinya pendarahan. Selain itu penggunaannya juga
untuk mempertinggi daya tahan tubuh terhadap infeksi kuman, anti lipemika dan
mempercepat sembuhnya luka.
Vitamin A (Retinol, Axerophthol)
Dalam sayuran terdapat sebagai provitamin A, yaitu karoten dan karotenoid; yang
dalam usus diubah menjadi vitamin A. Vitamin A sendiri terdapat di dalam usus,
kuning telur, hati dan minyak ikan.
Vitamin A berfungsi untuk :
Menjaga keutuhan jaringan epitel dan mukosa di seluruh tubuh, sehingga
jaringan tersebut tidak mudah rusak dan tidak terjadi hiperkeratosis di kulit,
conjungtiva kornea dan sebagainya.
Merangsang sintesa RNA, glukoprotein dan kortikosteroida.
Pembentukan rhodopsin, suatu pigmen fotosensitif yang dibutuhkan retina mata
untuk dapat melihat pada keadaan gelap.
Defisiensi vitamin A menimbulkan rabun senja (hemerolophia), xrerophthalmia
(kornea mata mengering dan mengeras), atrifia mukosa dan menghambat pertumbuhan
anak.
Vitamin D ( Ergokalsiferol, Kalsiferol)
Terdapat sebagai provitamin D (ergosterol) di dalam sayuran dan ragi. Juga
terdapat didalam tubuh, yakni dibawah kulit, oleh pengaruh sinar UV matahari akan
diubah menjadi kalsiferol atau vitamin D-2. Provitamin D juga terdapat di dalam
tubuh sebagai 7-dehidrokolesterol, yang oleh pengaruh sinar UV diubah menjadi
kolekalsiferol (vitamin D-3).
Fungsi vitamin D adalah mengatur metabolisme Ca dan F, bersama – sama
hormon tiroid dan hormon paratiroid. Defisiensinya menimbulkan penyakit rachitis
(tulang mudah bengkok).
Vitamin E (Alfa Tokoferol)
Merupakan senyawa tokoferol. Dikenal 4 macam tokoferol, yaitu alfa, beta,
gamma dan delta. Yang aktif adalah senyawa alfa tokoferol.Vitamin E banyak
dijumpai dalam minyak nabati (minyak jagung, kedelai dan bunga matahari), padi –
padia, ragi, hati, kuning telur dan sayuran. Tidak dikenal gejala defisiensi yang khas
pada orang dewasa.
Dalam pengobatan digunakan pada gangguan jantung (angina dan lain – lain),
artrosis, neuralgia, hiperkoleterolemia dan penyakit kulit. Juga digunakan sebagai anti
keguguran dan obat kemandulan.
27
Vitamin K
Vitamin ini meliputi :
Vitamin K-1, disebut fitomenadion, terdapat dalam sayuran hijau dan minyak
nabati
Vitamin K-2, dihasilkan oleh flora usus. Untuk penyerapannya dari usus
memerlukan asam empedu.
Vitamin K-3 (menadion) dan vitamin K-4 (menadiol), merupakan zat sintetik.
Dalam hati, vitamin K merangsang pembentukan protrombin. Defisiensi vitamin ini
menyebabkan hipoprotrombinemia, yang berakibat darah sukar membeku.
C. Mineral dan Elemen Spura
Mineral adalah zat anorganik yang dalam jumlah kecil bersifat essensial bagi
banyak proses metabolisme dalam tubuh. Yang paling banyak dibtuhkan adalah kalium,
natrium, kalsium, magnesium, fosfor dan klorida.
Elemen spura adalah mineral yang dibutuhkan kurang dari 20 mg sehari, yakni
besi, seng, tembaga, mangan, molibden, fluor, krom, iod, selen dan kobalt.
Fungsinya masing – masing sangat berbeda :
Ca dan P untuk sebagian besar bertanggung jawab bagi kekuatan kerangka
K, Mg dan P terutama untuk membentuk sistem pendapar intraselluler
Na dan Cl berperan penting diruang ekstraselluler sebagai pengatur tekanan
osmotik dan tekanan darah normal.
Banyak elemen spura merupakan ko-faktor dari metallo-enzym, misalnya Fe, Zn,
Mn, Mg dan Cu ; yang mengkalatisa banyak proses metabolisme.
F dan Sr merupaka zat essensial bagi tulang gigi dan emailnya
Iod merupakan bahan baku bagi sintesis hormon tiroid
Penggunaan minerasl – mineral, khususnya untuk prevensi dan pengobatan
keadaan defisiensi, terutama garam K dan Ca; begitu pula Na, Cl dan Fospat yang
digunakan sebagai infus dalam keadaan darurat. Dari elemen – elemen spura, hanya Fe,
Zn, I, F dan Sr yang digunakan sebagai obat. Zat – zat lainnya hanya digunakan sebagai
tambahan pada preparat multivitamin atau sebagai food suplemen.
Obat – obat tersendiri ;
1. Kalium klorida
Merupakan kation yang terpenting dalam cairan intra sel dan merupakan zat
essensial untuk mengatur keseimbangan asam – asam serta isotoni dari sel. Selain
itu juga mengaktivasi banyak reaksi enzim dan proses fisiologis, seperti penerusan
impuls di saraf dan otot, kontraksi otot dan metabolisme karbohidrat.
2. Natrium klorida
Merupakan kation terpenting bagi cairan ekstra sel dan berperan penting pada
regulasi tekanan osmotok sel. Juga berperan pada pembentukan perbedaan –
perbedaan potensial listrik dalam kontraksi otot dan penerusan impluls saraf.
Defisiensinya bisa terjadi akibat kerja fisik yang terlampau berat dan banyak
berkeringat serta banyak minum air tanpa tambahan garam ekstra.
3. Kalsium
Fungsi utamanya adalah bahan pembangun tulang, berperan penting pada regulasi
daya rangsang dan kontraksi otot – otot serta penerusan impuls saraf. Selain itu Ca
28
mengatur permeabilitas membran sel bagi K dan Na, aktivasi banyak reaksi enzim
seperti pembekuan darah. Defisiensi Ca menimbulkan kelembekan tulang
(osteomalacia) dan mudah terangsangnya otot dan saraf , dengan akibat serangan –
serangan tetania. Contoh garam kalsium : kalsium glukonat, kalsium laktat dan
kalsium sitrat.
4. Seng sulfat
Kadar seng dalam tubuh agak tinggi dibandingkan dengan elemen spura lainnya,
yang sebagian besar terdapat dalam tulang dan prostat. Fungsinya ialah sebagai
kofaktor dalam minimal 100 enzim yang terlibat dalam segala proses metabolisme,
yaitu :
karboanhidrase, berperan pada gejala buta malam (ko-faktor dari
alkoholdehidrogenase, yang merubah retinol menjadi retinal)
memperbaiki fungsi sel – sel otak bagi lemah ingatan (sering lupa) pada orang
tua
stimulasi penyembuhan borok bila terjadi kekurangan
secara lokal berkhasiat sebagai adstringens (penciutan selaput lendir), anti
keringat dan antiseptik lemah
Penggunaannya paling banyak alam dermatologi, khususnya ZnO dalam bedak
tabur dan salep, sebagai adstringens dan antiseptik lemah. Selain itu juga pada
preparat tetes mata.
5. Fluorida
Fluor terutama ditimbun sebagai apatit di dentin dan email, juga dalam tiroid dan
ginjal. Ekskresinya melalui saluran kemih dan keringat pada transpirasi berlebihan.
Penggunaannya paling banyak untuk prevensi gigi berlubang (carries), yang
berdasarkan atas reaksinya dengan apatit. Fluoro-apatit yang terbentuk bersifat
lebih padat dan tahan asam, juga menutupi pori – pori kecil hingga email lebih
sukar larut dalam asam, yang terbentuk setiap kali makan gula dan karbohidrat.
Fluor juga digunakan pada osteoporosis (kurangnya Ca dari tulang).
6. Stronsium klorida
Elemen ini berguna melindungi gigi terhadap pengaruh thermis (panas dan dingin)
dan kimiawi (asam dan gula) yang disertai nyeri. Selain itu juga mengurangi
sensitivitas gigi terhadap rangsangan tersebut dengan jalan membentuk lapisan
pelindung keras di luar dentin yang sudah kehilangan emailnya karena erosi atau
pengendapan kalsium. Dengan demikian rangsangan tersebut tidak bisa mencapai
sum – sum gigi lagi yang berisi saraf – saraf dan dapat mengakibatkan nyeri.
7. Magnesium
Terdapat dalam tulang dan cairan intra sel, juga sebagai ko-faktor enzim – enzim
yang menghasilkan energi. Berperan penting pada kontraksi otot.
8. Krom
Digunakan untuk kerja insulin yang optimal dalam bentuk aktifnya sebagai
senyawa organik GTF (Glucose Tolerance Factor), yang 20 kali lebih aktif dari
pada garam – garam krom anorganik.
9. Tembaga
Merupaka kofaktor bagi cytochromoxidase dan beta hidroksilase yang mengubah
dopamin menjadi noradrenalin, juga penting bagi sintesis hemoglobin.
29
Kekurangannya dapat menyebabkan kelambanan psikomotor, serangan epilepsi
serta kelainan pada rambut.
Spesialite vitamin dan mineral :
No Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
25mg,50mg, 100mg / tab. IPI
1. Vitamin B-1 / Vitamin B-1 100mg / ml ampul
Tiamin Hidroklorida,
Aneurin HCl,
Vit. Anti beri - beri Alinamin / 5mg / tablet salut gula Takeda
50mg / tablet
Alinamin-F-Odorless 25mg / 10ml ampul
2. Vitamin B-2 /
Riboflavin,
Laktoflavinum , Beflavin
3. Vitamin B-6 / Pyridoxin HCl 10mg, 25mg / tablet Soho
50mg, 100mg / ml ampul
Piridoksin Hidroklorida 25mg / tablet Kimia Farma
Vitamin B-6 50g / tablet IPI, Soho,
500g ,1000g/5ml amp. Kimia Farma
4. Vitamin B-12 / Vitamin B-12 / 1000g / ml vial
Sianokobalamin, Cyanocobalamin
Vitamin merah, Citacon,
Vitamen
5. Vitamin B1 + B6 + B12 Neurobion Per dragee : / Ampul : Merck
Bioneuron Vit. B-1 : 100mg Phapros
Vit. B-6 : 200mg
6. Vitamin B Komplek Squibb-B Complex Vit.B-12 : 200g Squibb
Benoviplex Bernofarm
Tablet
7. Vitamin C Redoxon Tablet Salut Gula Roche
Asam Askorbat Bekamin C Forte Kimia Farma
Vitacimin Tab. Effervescent 1g Takeda
Xon-Ce 250mg / tablet Kalbe Farma
500mg / tablet hisap
8 Vit. B Komplex + Vit. C Enervon C 500mg / tablet hisap UAP
Surbex-T Abbot
Tablet
9 Vit.B Komplex + Vit.C + Becefort Tablet Salut Selaput Phapros
Vit.E
Kaplet Salut Selaput
10 Vitamin A / Avitin 1000 IU, 3000 IU, 6000 Soho
Akseroftol, IU, 10.000 IU, 20.000 IU / Kimia Farma
Retinol tab.
50.000IU,100.000 IU/ml
Vitamin A Kimia amp.
Farma
6000 IU,20.000 IU, 50.000
IU / tablet
Vitamin D / Cavit D3 Cholecalciferol 133 IU, Merck
11 Kalsiferol, Calcii Hidrogen Phosphat
500 mg
Vitmain D-2,
Radiostal, Viosterol, Dalfarol 200 IU,300 IU,400 IU/soft Darya-Varia
Ergokalsiferol cap
12 Vitamin E /
Alfa Tokoferol
30
Tocopherine 10mg, 50mg / dragee Soho
Natur-E 100 IU / kapsul Darya-Varia
13 Vitamin K Kaywan Vit.K-1 5mg / tablet Eisai
14 Vit. A + Vit.E
Kaytwo 5mg / kapsul
Rovigon Tiap Chewable Dragee Darya Varia
Vit. A : 30.000 IU
Vit. E : 70 mg
15 Vit.A + Vit.D Big Fish Per Soft Capsul Minyak
+ Vit.E Ikan,
Vit. A-2 : 2000 IU +
16 Vitamin A / Avitin Vit. D : 200 IU + Vit. E 10 Soho
Akseroftol, IU Kimia Farma
Retinol Vitamin A Kimia 1000 IU, 3000 IU, 6000
Farma IU, 10.000 IU, 20.000 IU /
tab.
50.000IU,100.000 IU/ml
amp.
6000 IU,20.000 IU, 50.000
IU / tablet
17 Vitamin D / Cavit D3 Cholecalciferol 133 IU, Merck
Kalsiferol, Calcii Hidrogen Phosphat
Vitmain D-2, Dalfarol 500 mg
Radiostal, Viosterol, Tocopherine
Ergokalsiferol Natur-E 200 IU,300 IU,400 IU/soft Darya-Varia
cap
18 Vitamin E / 10mg, 50mg / dragee Soho
Alfa Tokoferol Darya-Varia
100 IU / kapsul
D. Hormon
Hormon adalah zat kimiawi yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, langsung
masuk ke dalam aliran darah dan berpengaruh sangat spesifik terhadap organ tertentu
untuk dapat berfungsi secara normal. Kelenjar endokrin yang penting adalah kelenjar
hipofisa dan hipotalamus, kelenjar kelamin (ovarium dan testes), kelenjar anak ginjal,
pankreas, tiroid dan paratiroid.
Dalam pengobatan, hormon digunakan untuk :
1. Terapi substitusi pada defisiensi hormon, misalnya pemberian insulin pada
penderita diabetes mellitus.
2. Yang banyak digunakan adalah pada pengobatan berdasarkan efek farmakologinya
yang tidak berhubungan dengan efek fisiologisnya. Misalnya kortikosteroida
banyak digunakan karena efek anti radangnya.
3. Secara khusus untuk mempengaruhi fungsi organ ke arah yang dikehendaki,
misalnya estrogen dan progesteron digunakan untuk mencegah kehamilan.
4. Diagnosa penyakit atau kelainan, misalnya tirotropin untuk test terhadap kelenjar
tiroid.
31
Untuk keperluan pengobatan, zat hormon dapat diperoleh dari :
1. Sumber alam, berasal dari binatang ternak menyusui misalnya sapi. Persediaannya
amat terbatas.
2. Senyawa sintetik, saat ini umumnya digunakan hormon sintetik atau semi sintetik.
1. Hormon Hipofisa
Hipofisa adalah suatu umbai pada pangkal otak. Kelenjar ini dibedakan menjadi
dua bagian, yaitu :
(a) Adenohipofisa
Adalah umbai depan, yang merupakan bagian terbesar. Hormon yang dihasilkannya
adalah :
a. Somatotropin : Merangsang pertumbuhan tubuh pada umumnya
b. Gonadotropin : Merangsang kelenjar kelamin mensekresikan hormonnya
c. Kortikotropin : Merangsang kelenjar anak ginjal bagian korteks untuk
mensekresikan kortikosteroida
d. Tirotropin : Merangsang kelenjar tiroid untuk mensekresikan hormon
tiroid
e. Prolaktin : Menstimulir sekresi air susu
(b) Neurohipofisa
Adalah umbai belakang, terutama terdiri dari jaringan saraf. Hormon yang
dihasilkannya adalah :
a. Oksitosin : Menyebabkan kontraksi uterus dan menstimulir mulainya
laktasi
b. Vasopresin : Mencegah ekskresi air terlalu banyak
Zat – zat tersendiri :
(a) Somatotropin
Digunakan untuk terapi substitusi. Tetapi karena hormon ini tidak dapat diganti dengan
hormon binatang, maka sediaan farmasinya sangat jarang.
(b) Gonadotropin
Dalam pengobatan digunakan untuk mengatasi gangguan haid dan kemandulan baik
pria maupun wanita. Sediaan gonadotropin diperoleh dari air kemih wanita hamil atau
air kemih wanita setelah menopause, yaitu Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan
Human Menopausal Gonadotropin (HMG). Diberikan per injeksi.
(c) Oksitosin
Hormon ini telah dapat disintesa. Dalam kebidanan digunakan untuk merangsang
kontraksi uterus (rahim) guna membantu persalinan. Setelah persalinan, dapat juga
digunakan untuk mencegah banyaknya perdarahan.
(d) Vasopresin
Diperoleh dari sapi atau babi. Digunakan pada pengobatan diabetes inspidus dengan
gejala poliuria, akibat kekurangan hormon anti diuretik dan insufisiensi hipofisa.
Obat – obat hormon hipofisa :
No Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
1500 UI ; 5000 UI/ ampul Organon
1 Gonadotropin chorionik Pregnyl serbuk pro injeksi
75 UI ; 150 UI / vial Organon
2 Gonadotropin menopausal Humegon serbuk pro injeksi
10 Ui/ml injeksi Harsen
3 Oksitosin sintetik Decatocin Organon
Piton –S Novartis
Syntocinon
32
4 Somatropin Genotropin 16 IU / ml vial Pfizer
2. Hormon Kelamin
Hormon kelamin dihasilkan oleh kelenjar kelamin (ovarium dan testes) dibawah
pengaruh gonadotropin, berfungsi menentukan ciri – ciri kelamin primer dan sekunder.
Androgen adalah hormon pria, sedangkan estrogen dan progesteron adalah hormon wanita.
Semua hormon kelamin memiliki sifat – sifat yang sama, misalnya :
Retensi air dan garam
Berdaya anabolika, androgen lebih kuat dari pada estrogen
Mengakibatkan penutupan epifisis (ujung tulang pipa) sesudah pertumbuhan di
masa pubertas.
(a) Zat – zat androgen
Yang terpenting adalah testoteron, selain bertanggung jawab terhadap ciri kelamin
primer dan sekunder. Hormon ini berperan penting pada spermatogenesis dalam testes
(efek virilisasi, virile = jantan). Digunakan dalam terapi substitusi, misalnya pada
keadaan klimakterium virile sesudah usia 50 tahun. Juga untuk merangsang
pertumbuhan anak laki – laki di atas usia 16 tahun yang terlambat pertumbuhannya
akibat hipofungsi hipofisanya.
Zat – zat tersendiri :
Testoteron
Dibuat secara semisintetik. Karena absorpsinya dari usus dan bioavailabilitasnya
kurang baik, maka diberikan dalam bentuk injeksi sebagai esternya dalam pelarut
minyak.
Metil-testoteron
Dapat digunakan per-oral. Digunakan terutama pada gangguan potensi akibat
defisiensi androgen, pada hipogonadisme dan pada sterilitas karena oligospermia.
Mesterolon
Pada dosis terapi zat ini mempengaruhi hipofisa, sehingga sekresi testoteron dan
spermatogenesis tidak terhambat.
Spesialite androgen : Nama Dagang Sediaan Produsen
Proviron Tablet 25 mg Schering
No Nama Generik Tonovan Schering
1 Mesterolon injeksi
2 Mesterolon + Vit. E + Sustanon Organon
Kapsul 40 mg
Yohimbin + Strychnin + Pasumastrong Merck
Nikotinat
3 Kombinasi turunan Testoviron Schering
testoteron Andriol Organon
4 Metiltestoteron +
Yohimbin + Vit. E
5 Testoteron
(b). Anabolika
Merupakan hormon sintetik yang terutama bekerja memacu sintesa protein tanpa
memiliki sifat virilisasi. Anabolika yang banyak digunakan adalah turunan testoteron,
yaitu Metenilon, Metandienon, Oksimetolon dan Stanozol. Juga turunan nadrolon
yaitu Nandrolon dan Etilestrenol.
Umumnya digunakan pada keadaan tubuh lemah, seperti pada keadaan sesudah
operasi, baru sembuh dari sakit dan lain – lain. Juga selama terapi penyinaran dan
terapi dengan kortikosteroida untuk mencegah osteoporosis. Dalam bidang olahraga
33
obat ini sering disalahgunakan untuk memperkembangkan dan memperkuar otrot para
atlit (doping).
Karena anabolika ini zat – zat androgen maka memiliki efek viirilisasi bila
digunakan untuk waktu yang lama pada wanita, menekan spermatogenesis,
menghambat pertumbuhan anak – anak di bawah usia 16 tahun karena stimulasi
penutupan epifisis, dan menimbulkan gangguan haid pada wanita.
Zat tersendiri :
Nandrolon : Kehilangan protein akibat cedera parah, latihan berlebihan,
Indikasi penyakit ketuaan ; pada anak memacu pertumbuhan yang
lambat.
Kontra indikasi : Kehamilan, karsinoma prostat
Efek samping : Jerawat, hirsutisme, peningkatan libido pada wanita,
hipertropi klitoris, dan rambut pubis melebat.
Etilestrenol
Indikasi : Selama menderita penyakit kronik terutama pasien lanjut usia
Kontra indikasi : Kehamilan, karsinoma prostat, gangguan fungsi hati
Efek samping : Mual, retensi cairan tubuh yang ringan, gangguan haid
Spesialite anabolika : Nama Dagang Sediaan Produsen
Deca Durabolin Injeksi 25 mg ; 50 mg/ ml Organon
No Nama Generik Durabolin Injeksi 25 mg /ml Organion
1 Nandrolon decanoat Orgabolin Tablet 2 mg Organon
2 Nandrolon fenilpropionat
3 Etilestrenol
(c). Zat – zat estrogen
Estrogen bekerja terhadap mukosa uterus (endometrium) untuk mempersiapkan
proses lebih lanjut dari sel telur yang telah dibuahi. Bersama – sama progesteron,
estrogen berperan penting pada masaknya folikel, ovulasi, pembuahan, transpor sel
telur yang telah dibuahi ke dinding uterus dan penyarangannya disitu.
Zat – zat estrogen digunakan untuk terapi substitusi pada keluhan klimakterium,
menekan laktasi, menekan ovulasi dan pengobatan osteoporosis sesudah menopause.
Preparat kombinasi estrogen dan progesteron dugunakan untuk diagnosa kehamilan
dan pengobatan amenorea sekunder (haid terlambat).
Zat – zat tersendiri :
Estradiol
Merupakan estrogen alamiah terkuat, digunakan pada terapi substitusi pada
klimakterium, menopause dan kanker prostat. Pemberian per-oral
bioavailabilitasnya rendah, sehingga diberikan per injeksi sebagai esternya dalam
pelarut lemak.
Etinilestradiol
Turunan semi sintetik yang berdaya larut amat kuat; dapat diberikan per oral.
Merupakan komponen dari banyak pil anti hamil.
Mestranol
Hormon ini baru aktif setelah di dalam hati diubah menjadi etinilestradiol. Juga
digunakan dalam pil anti hamil.
Dietilstilbestrol
34
Aktif per oral dengan kerja panjang, tetapi karena bersifat karsinogenik zat ini tidak
lagi digunakan.
Spesialite estrogen : Nama Dagang Sediaan Produsen
Progynova Tablet 1mg ; 2 mg Schering
No Nama Generik
1 Estradiol
2 Etinilestradiol Lynoral Tablet 0,05 mg Organon
3 Metilestrenolon + Gynaecosid Tiap tablet : Phapros
Metilestradiol Metilestrenolon 5 mg
Metilestradiol 0,3 mg
(d). Zat – zat progestagen
Progestagen adalah steroid sintetik yang berdaya progesteron. Progesteron adalah
hormon yang dikeluarkan oleh badan kuning (corpus luteum) dibawah pengaruh
hormon gonadotropin. Hormon ini mempengaruhi endometrium dari fase proliferasi
karena pengaruh estrogen, ke fase sekresi agar telur yang telah dibuahi dapat
bersarang dan berkembang lebih lanjut. Kemudian hormon ini juga berfungsi menjaga
kehamilan dari keguguran.
Dalam pengobatan, progestagen digunakan untuk ;
Mencegah kehamilan pada pil KB
Mencegah keguguran akibat kurang sekresi progesteron
Terapi subtitusi pada keadaan klimakterium dan menopause
Pada gangguan haid
Pada endometriosis dan kemadulan yang diakibatkannya
Zat – zat tersendiri :
Progesteron
Diperoleh dari ovarium binatang ternak atau hasil sintesa. Absorpsinya di susu
cukup baik, tetapi karena bioavailabilitasnya tidak baik, maka diberikan secara
injeksi.
Hidroksiprogesteron
Diperoleh secara sintetik, memiliki efek androgen tanpa efek estrogen. Banyak
digunakan dalam pil suntik anti hamil.
Etisteron
Terutama digunakan pada gangguan hati.
Noretisteron
Memiliki efek androgen dan efek estrogen lemah. Banyak digunakan pada pil anti
hamil, juga untuk menunda haid.
Levonorgestrel
Efek progesteronnya kuat dan kerjanya panjang, berdaya nadrogen lemah, bersifat
anti estrogen. Banyak digunakan dalam pil kombinasi anti hamil.
Linesterol
Tidak berdaya gestagen, tetapi bersifat anti gonadotropik yang baik, tidak berdaya
androgen. Banyak digunakan dalam pil anti hamil.
Dilestrenol
Daya gestagennya kuat, maka terutama digunakan untuk mencegah keguguran.
Spesialitea progestagen : Nama Dagang Sediaan Produsen
Primolut N Tablet 5 mg Schering
No Nama Generik Progestin Injeksi Organon
1 Noretisteron
2 Progesteron
35
3 Etisteron Progestoral Organon
4 Alilestrenol Gestanon Organon
E. Obat Kontrasepsi
Dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia dan terbatasnya pangan, banyak
negara menyadari pentingnya pembatasan kelahiran, terutama negara berkembang seperti
Indonesia yang tengah berupaya mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan, maka
pembatasan kelahiran suatu keharusan. Cara yang dilaksanakan untuk hal ini adalah
program keluarga berencana (KB).
KB memiliki tujuan antara lain :
mencegah mortalitas ibu dan anak dengan menghindari kehamilan resiko tinggi
mengurangi angka kesakitan
menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
mengatur jarak kehamilan
menentukan jumlah anak dalam keluarga
Salah satu cara pembatasan kelahiran adalah dengan pencegahan kehamilan menggunakan
obat – obat kontrasepsi.Obat kontrasepsi ini dapat berupa :
Yang digunakan per oral : misalnya pil KB
Suntikan
Alat dalam saluran reproduksi, seperti kondom, pessarium (kondom wanita), IUD
Obat topikal intravaginal yang bersifat spermicida, misalnya tablet busa, tissue KB
Pil Implan (susuk KB)
Operasi (tubektomi dan vasektomi)
1. Mekanisme kerja
Semua pil anti hamil hanya dimaksudkan untuk merintangi pelepasan sel telur
(ovulasi) sehingga dapat mencegah kehamilan. Cara kerja obat anti hamil itu adalah :
(a) Perintang ovulasi, yaitu estrogen dan progesteron dalam dosis yang sesuai, mampu
menekan sekresi gonadotropin dari hipofisa sehingga proses pematangan sel telur
terhambat.
(b) Pengentalan lendir cervix, lazimnya cervix tertutup lendir yang selama masa subur
menjadi encer, sehingga memudahkan masuknya sel sperma ke dalam uterus.
Karena pengaruh progesteron, lendir tersebut menjadi kental sehingga sel sperma
tidak mampu menembusnya. Pil mini dan pil suntik yang mengandung progesteron
tanpa estrogen bekerja menurut prinsip ini.
(c) Khasiat terhadap endometrium, karena pengaruh kedua hormon, endometrium
hanya berkembang dan sedikit berproliferasi, tidak mengalami fase sekresi dan
justru menyusut, sehingga penyarangan sel telur tidak terjadi.
2. Jenis pil dan penggunaannya
Dewasa ini dikenal beberapa macam pil anti hamil, yaitu :
(a) Pil kombinasi
Berisi estrogen dan progesteron . Mulai ditelan pada haid hari pertama atau ke lima,
selama 20 – 21 hari, dilanjutkan dengan 7 pil kosong (plasebo) atau istirahat selama
7 hari. Pada waktu istirahat inilah umumnya terjadi perdarahan yang mirip haid
biasa. Keamanannya hampir sempurna (99,9% berhasil) bila tidak lupa menelannya
setiap hari.
(b) Pil bertahap
36
Tidak semua pil untuk semua periode pemakaian mengandung komponen dan
kadar yang sama. Pentahapan ini dimaksudkan untuk meniru variasi hormon
alamiah selama siklus setiap bulannya.
Yang termasuk jenis pil ini adalah pil bifasis, terdiri dari 7 tablet yang hanya
mengandung estrogen dan 15 tablet lainnya merupakan pil kombinasi, dengan
estrogen dan progesteron.
(c) Pil mini
Mengandung dosis kecil progesteron saja, yaitu linestrenol dan noretisteron. Mulai
ditelan pada hari haid pertama secara terus menerus tanpa istirahat.
(d) Pil suntik
Sebetulnya bukan pil, tapi injeksi yang hanya mengandung progestagen dengan
kerja panjang, yaitu medroksiprogesteron. Diberikan tiga bulan sekali, per injeksi
intra muscular.
(e) Morning after pil
Mengandung estrogen dalam dosis tinggi, yaitu etinilestradiol 3 – 5 mg. Jenis pil
ini khusus digunakan sesudah persetubuhan “tanpa perlindungan”. Mulai ditelan
selambat – lambatnya 24 jam kemudian, selama lima hari berturut – turut, biasanya
pada pagi hari.
Pil kombinasi dapat pula digunakan untuk maksud yang sama dengan toleransi yang baik.
Pil tersebut mengandung etinilestradiol 100 mcg dan levonorgestrel 500 mcg, harus ditelan
2 kali dengan interval 12 jam.
3. Faktor – faktor yang mempengaruhi keamanan pil
(a) Terlupa menelan
Bila terlupa satu pil, maka dalam waktu tidak lebih dari 12 jam pil itu harus di
telan. Bila lebih dari 12 jam atau terlupa lebih dari 2 pil, maka keamana pil tidak
dapat dipercaya lagi.
(b) Gangguan saluran pencernaan seperti diare, muntah, menyebabkan penyerapannya
tidak sempurna.
(c) Pengaruh obat lain
Beberapa obat dapat mengurangi efektifitas pil dengan jalan induksi enzim,
sehingga hormon dari pil dipercepat penguraiannya. Obat – obat tersebut adalah
Fenobarbital, Fenitoin, Glutetimida dan Rifampisin.
4. Penggunaan lain
Selain untuk mencegah kehamilan, pil KB juga digunakan untuk :
(a) Menunda haid
Karena suatu keperluan, penundaan tersebut jangan lebih lama dari 8 hari karena
resiko perdarahan-antara bertambah besar.
Caranya, setelah pil terakhir dari suatu kur habis, jangan istirahat, tetapi lanjtkan
dengan kur baru. Bila misalnya dikehendaki penundaan 6 hari, setelah itu baru
istirahat.
(b) Terapi substitusi pada klimakterium dan mencegah gangguan siklus.
5. Efek Samping
Pil anti hamil dapat menimbulkan efek samping yang bersifat ringan maupun
ayng berbahaya. Efek samping ringan yang sering terjadi biasanya berkurang atau lenyap
sendiri setelah beberapa bulan pemakaian adalah :
Mula, nyeri kepala, umumnya karena estrogen
37
Rasa lelah, gelisah dan mudah tersinggung, libido berkurang, umumnya karena
komponen progesteron.
Perdarahan tidak teratur yang berupa spotting atau haid anatra, kebanyakan karena
kekurangan estrogen
Depresi
Infeksi candida dan mungkin trichomonas, yang menyebabkan keputihan.
Efek samping yang lebih serius, merupakan resiko penggunaan pil anti hamil adalah :
Infark jantung
Hipertensi, akibat retensi garam dan air
Trombosis
Mempertinggi LDL – kolsterol, sehingga memperbesar resiko penyakit jantung dan
pembuluh darah.
6. Kontra indikasi
Pil anti hamil tidak boleh diberikan pada penderita atau bila terdapat riwayat
trombosis, kanker payudara, hepatitis dan hiperlipidemia. Penggunaannya harus hati – hati
terhadap penderita penyakit jantung dan pembuluh, hipertensi, udema, gangguan endokrin
(diabetes, hipertiroid) dan migrain.
7. Obat – Obat Kontrasepsi Nama Dagang Sediaan Produsen
Pil Bifasis : Microgynon Per tablet : Schering
Levonorgestrel 150 mcg
No. Nama Generik Etinilestradiol 30 mcg
1. Levonorgestrel +
Etinilestradiol
Nordette-28 Tablet Wyeth-Ayerst
No. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
2. Lynestrenol + Lyndiol Per tablet : Organon
Lynd. 2,5mg; Eth.50mcg
Ethinylestradiol Organon
Ovostat 28 Per tablet :
Lynd. 1mg
Eth. 50mcg
Pil Mini Nama Dagang Sediaan Produsen
Organon
No. Nama Generik Excluton 0,5 mg/tablet
3. Linestrenol
Implant : Nama Dagang Sediaan Produsen
Leiras Oy
No. Nama Generik Norplant Implan 36 mg
4. Levonorgestrel Prganon
Implanon Implan Limas 68 mg
5. Etonogestrel
38
BAB III
OBAT SISTEM PERNAPASAN
A. Obat – Obat Asma, Bronchitis dan Emfisema Paru
1. Pendahuluan
CARA atau Chronic Respiratory Affection, mencakup semua penyakit saluran
pernafasan yang mempunyai ciri penyumbatan bronchi karena pengembangan mukosa atau
sekresi sputum (dahak) berlebihan, serta kontraksi otot polos saluran napas (bronchi)
berlebihan. Tergolong penyakit ini adalah asma, bronchitis dan emfisema.
Asma (asthma bronchiale) atau bengek adalah suatu penyakit alergi kronis yang
berciri serangan sesak napas akut secara berkala yang disertai batuk dan hipersekresi
dahak, dimana pasien tidak menunjukkan suatu gejala. Pada serangan yang hebat,
penyaluran udara ke darah sedemikian lemah sehingga penderita membiru kulitnya
(cyanosis). Sebaliknya pengeluaran nafas dipersulit dengan meningkatnya kadar CO2
dalam darah.
Serangan asma biasa berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam
dan dapat diatasi dengan pemberian obat secara inhalasi atau oral, tetapi dalam keadaan
gawat perlu diberi suntikan Adrenalin, Teofilin dan atau hormon kortikosteroida.
Umumnya jenis asma yang bersifat alergi sudah dimulai dari masa kanak – kanak
dan didahului oleh gejala alergi lain, khusunya ekzema. Faktor keturunan memegang
pernana penting pada terjadinya sama. Pasien asma memiliki kepekaan terhadap infeksi
saluran napas, akibatnya dalah peradangan bronchi yang dapat menimbulkan serangan
asma.
Bronchitis kronis berciri batuk menahun dan banyak mengeluarkan sputum
(dahak), tanpa sesak napas atau sesak napas ringan. Biasanya disebabkan oleh infeksi virus
pada saluran pernapasan, terutama oleh Haemophilus influenza atau Streptococcus
pneumoniae.
Pengobatan biasanya dengan antibiotik selama minimal 10 hari, agar infeksi tidak
terulang / kambuh. Obat pilihannya adalah Amoksisilin, Eritrosin, Sefradin dan Sefaklor
yang berdaya bakterisid terhadap antara lain bakteri – bakteri di atas.
Emfisema paru (pengembangan) berciri sesak napas terus menerus yang
menghebat pada waktu mengeluarkan tenaga dan seringkali dengan perasaan letih dan
tidak bergairah. Penyebabnya adalah bronchitis kronis dengan batuk menahun, serta asma.
2. Tindakan umum
- Mencegah timbulnya reaksi antigen – antibody dan serangan asma, misalnya
dengan menjaga kebersihan (sanitasi) seperti menyingkirkan semua rangsangan
luar terutama binatang – binatang peliharaan, rumah harus dibersihkan setiap hari
khususnya kasur, sprei dan selimut. Begitu juga faktor aspesifik seperti perubahan
suhu, dingin, asap dan kabut harus dihindari.
- Berhenti merokok, karena asap rokok dapat menimbulkan bronkokonstriksi dan
memperburuk asma.
- Fisioterapi, menepuk – nepuk bagian dada guna mempermudah pengeluaran
sputum, latihan pernapasan dan relaksasi.
- Mencegah infeksi primer, dengan vaksinasi influenza.
- Pemberian antibiotika pada pasien asma dan bronchitis dengan infeksi bakteri.
Umumnya diberikan Amoksisilin atau Doksisiklin
39
3. Pengobatan
Pengobatan asma dan bronchitis dapat dibagi atas 3 karagori, yaitu terapi serangan
akut, status asmathicus dan terapi pencegahan.
(a) Terapi serangan akut
Pada keadaan ini pemberian obat bronchospasmolitik untuk melepaskan kejang
bronchi. Sebagai obat piligan ialah Salbutamol atau Terbutalin, sebaiknya secara
inhalasi (efek 3 – 5 menit). Kemudian dibantu dengan Aminophillin dalam bentuk
suppositoria. Obat pilihan lain ialah Efedrin dan Isoprenalin, dapat diberikan
sebagai tablet, hanya saja efeknya baru kelihatan setelah kurang lebih 1 jam.
Inhalasi dapat diulang setelah 15 menit sebelum memberikan efek. Bila yang kedua
ini juga belum memberikan efek, perlu diberikan suntikan i.v. Aminophillin atau
Salbutamol, Hidrokortison atau Prednison. Sebagai tindakan akhir dengan
Adrenalin i.v. dengan diulangi 2 kali dalam 1 jam.
(b) Status asmathicus
Pada keadaan ini efek bronchodilator hanya ringan dan lambat. Ini disebabkan oleh
blokade reseptor beta karena adanya infeksi dalam saluran napas. Pengobatan
dengan suntikan i.v. Salbutamol atau Aminophillin dan Hidrokortison dosis tinggi
(200 – 400 mg per jam sampai maksimum 4 gram sehari).
(c) Terapi pencegahan
Dilakukan dengan pemberian bronchodilator misalnya Salbutamol, Ipratropium
atau teofillin, bila karena alergi perlu ditambahkan Ketotifen.
4. Penggolongan Obat – Obat Asma
Berdasarkan mekanismenya, kerja obat – obat asma dapat dibagi dalam beberapa
golongan, yaitu :
(a) Antialergika
Adalah zat – zat yang bekerja menstabilkan mastcell, hingga tidak pecah dan
melepaskan histamin. Obat ini sangat berguna untuk mencegah serangan asma dan
rhinitis alergis (hay fever). Termasuk kelompok ini adalah kromoglikat. β-2
adrenergika dan antihistamin seperti ketotifen dan oksatomida juga memiliki efek
ini.
(b) Bronchodilator
Mekanisme kerja obat ini adalah merangsang sistem adrenergik sehingga
memberikan efek bronkodilatasi. Termasuk kedalamnya adalah :
Adrenergika
Khususnya β-2 simpatomimetika (β-2-mimetik), zat ini bekerja selektif terhadap
reseptor β-2 (bronchospasmolyse) dan tidak bekerja terhadap reseptor β-1
(stimulasi jantung). Kelompok β-2-mimetik seperti Salbutamol, Fenoterol,
Terbutalin, Rimiterol, Prokaterol dan Tretoquinol. Sefangkan yang bekerja
terhadap reseptor β-2 dan β-1 adalah Efedrin, Isoprenalin, Adrenalin, dll.
Antikolinergika (Oksifenonium, Tiazinamium dan Ipratropium.)
Dalam otot polos terdapat keseimbangan antara sistem adrenergik dan
kolinergik. Bila reseptor β-2 sistem adrenergik terhambat, maka sistem
kolinergik menjadi dominan, segingga terjadi penciutan bronchi. Antikolinergik
bekerja memblokir reseptor saraf kolinergik pada otot polos bronchi sehingga
aktivitas saraf adrenergik menjadi dominan, dengan efek bronchodilatasi.
Efek samping : tachycardia, pengentalan dahak, mulut kering, obstipasi, sukar
kencing, gangguan akomodasi. Efek samping dapat diperkecil dengan pemberian
inhalasi.
40
Derivat xantin (Teofilin, Aminofilin dan Kolinteofinilat)
Mempunyai daya bronchodilatasi berdasarkan penghambatan enzim
fosfodiesterase. Selain itu, Teofilin juga mencegah pengingkatan hiperaktivitas,
sehingga dapat bekerja sebagai profilaksis. Kombinasi dengan Efedrin praktis
tidak memperbesar bronchodilatasi, sedangkan efek tachycardia diperkuat. Oleh
karena itu, kombinasi tersebut dianjurkan.
(c) Antihistaminika (Ketotifen, Oksatomida, Tiazinamium dan Deptropin)
Obat ini memblokir reseptor histamin sehingga mencegah bronchokonstriksi.
Banyak antihistamin memiliki daya antikolinergika dan sedatif.
(d) Kortikosteroida (Hidrokortison, Prednison, Deksametason, Betametason)
Daya bronchodilatasinya berdasarkan mempertinggi kepekaan reseptor β-2,
melawan efek mediator seperti gatal dan radang. Penggunaan terutama pada
serangan asma akibat infeksi virus atau bakteri. Penggunaan jangka lama
hendaknya dihindari, berhubung efeksampingnya, yaitu osteoporosis, borok
lambung, hipertensi dan diabetes. Efek samping dapat dikurangi dengan pemberian
inhalasi.
(e) Ekspektoransia (KI, NH4Cl, Bromheksin, Asetilsistein)
Efeknya mencairkan dahak sehingga mudah dikeluarkan. Pada serangan akut, obat
ini berguna terutama bila lendir sangat kental dan sukar dikeluarkan.
Mekanisme kerja obat ini adalah merangsang mukosa lambung dan sekresi saluran
napas sehingga menurunkan viskositas lendir. Sedangkan Asetilsistein
mekanismenya terhadap mukosa protein dengan melepaskan ikatan disulfida
sehingga viskositas lendir berkurang.
5. Obat – obat tersendiri
(a) Derivat xantin
- Teofilin
Indikasi : Asma bronkial, bronchitis asmatic knonis, emfisema
Spasmolitik otot polos khusuanya pada otot bronchi,
Mekanisme : stimulasi jantung, stimulasi SSP dan pernafasan serta
diuretik. Berdasarkan efek stimulasi jantung, obat juga
kerja dugunakan pada sesak napas karena kelainan jantung
(asthma cardial).
Kontra indikasi : Penderita tukak lambung yang aktif dan yang mempunyai
Efek samping : riwayat penyakit kejang.
Penggunaan pada dosis tinggi dapat menyebabkan mual,
Interaksi obat : muntah, nyeri epigastrik, diare, sakit kepala, insomnia,
kejang otot, palpitasi, tachycardia, hipotensi, aritmia, dll.
Sediaan : Sinergisme toksis dengan Efedrin, kadar dalam serum
meningkat dengan adanya Simetidin, Alupurinol. Kadar
dalam serum menurun dengan adanya Fenitoin, kontasepsi
oral dan Rifampisin
Tablet, elixir, rectal, injeksi
- Aminofilin
Indikasi : Pengobatan dan profilaksis spasme bronchus yang
berhubungan dengan asma, emfisema dan bronchitis
kronik.
Kontra indikasi : -
Efek samping : Iritasi gastro intestinal, tachycardia, palpitasi dan hipotensi
Interaksi obat : Kadar dalam plasma meningkat dengan adanya Simetidin,
41
Sediaan Alupurinol dan Eritromisin.
: Injeksi, tablet
(b) Kortikosteroida (Hidrokortison, Prednison, Deksametason, Triamnisolon)
Indikasi : Obat ini hanya diberikan pada asma yang parah dan tidak
dapat dikendalikan dengan obat – obat asma lainnya. Pada
status asmathicus diberikan per i.v. dalam dosis tinggi.
Kontra indikasi :
Efek samping : Pada penggunaan yang lama berakibat osteoporosis,
moonface, hipertricosis, impotensi dan menekan fungsi
ginjal.
Pemakaian inhalasi efektivitasnya diperbesar dan
penekanan terhadap anak ginjal diperingan.
Interaksi obat : Efeknya memperkuat adrenergika dan Teofilin serta
Dosis mengurangi sekresi dahak.
: Pemberian dosis besar maksimum 2 – 3 minggu per oral
25 mg – 40 mg sesudah makan pagi, setiap hari dikurangi
5 mg.
Untuk pemeliharaan 5 mg – 10 mg Prednison setiap
48 jam, atau Betametason ½ mg setiap hari.
(c) Beta adrenergik (efek terhadap β-1 dan β-2)
- Adrenalin
Indikasi : Serangan asma hebat (injeksi s.c.) Pemakaian per oral
tidak efektif, sebab terurai oleh asam lambung.
Kontra indikasi :
Efek samping : Shock jantung, gelisah, gemetar dan nyeri kepala
Interaksi obat : Kombinasi dengan Fenobarbital dimaksudkan untuk efek
sedatif supaya penderita tidak cemas / takut.
Sediaan : Injeksi
- Efedrin
Indikasi : Asma, bronchitis, emfisema
Kontra indikasi : Penyakit jantung, hipertensi, gondok, glaukoma
Efek samping : Tachycardia, gelisah, insomnia, sakit kepala, eksitasi,
aritmia ventrikuler
Interaksi obat : -
Sediaan : Tablet
- Isoprenalin
Daya bronchodilatasinya baik, tetapi absorpsi dalam usu buruk. Absorpsi
melalui mukosa mulut lebih baik, efek cepat dan dapat bertahan lebih kurang 1
jam. Sudah jarang digunakan sebagai obat asma, karena terdesak oleh
adrenergik spesifik.
(d) β-2 mimetik : Selain berdaya bronchodilatasi juga memiliki efek
- Salbutamol menstabilisasi mastcell, sehingga digunakan terapi
Indikasi simptomatik dan profilaksis asma bronchial, emfisema dan
obstruksi saluran napas.
42
Kontra indikasi : Hipertensi, insufisiensi miokardial, hipertiroid, diabetes.
Efek samping : Nyeri kepala, pusing, mual, tremor tangan.
Pada dosis tinggi dapat berakibat tachycardia,palpitasi,
aritmia dan hipotensi.
Interaksi obat :
Sediaan : Tablet, syrup
- Terbutalin
Indikasi : Asma bronchial, bronchitis kronis, emfisema dan penyakit
paru lain dengna komplikasi bronchospasme
Kontra indikasi : Hipertiroidisme
Efek samping : Tremor, palpitasi, pusing
Interaksi obat :
Sediaan : Tablet, inhalasi
- Isoetarin
Derivat Isoprenalin, digunakan sebagai tablet retard, kerjanya cepat, kurang
lebih 20 menit, lama kerja 4 – 6 jam
- Prokaterol
Derivat Kinolin dengan daya kerja bronchodilatasi sangat kuat. Digunakan per
oral dengan dosis 2 kali sehari 50 mcg.
- Remiterol
Kerja lebih selektif dari pada β-2 mimetika lainnya. Penggunaan secara
inhalasi, efek cepat sekali + 30 detik dengan lama kerja 6 jam.
- Tretoquinol
Per oral efeknya cepat setelah 15 menit dengan lama kerja 6 jam.
(e) Kromoglikat
Indikasi : Profilaksis asma bronchial termasuk pencegahan asma
yang dicetuskan oleh aktivitas.
Mekanisme : Stabilisator mastcell sehingga menghalangi pelepasan
kerja histamin, serotonin dan leukotrien pada waktu terjadi
reaksi antigen antibodi.
Kontra indikasi :
Efek samping : Iritasi tenggorokan ringa, napas berbau, mual, batuk,
Sediaan bronchospasme sementara
: Inhalasi 5mg/ aktuasi ( Intal 5 ® )
(f) Antikolinergik
- Ipratorium
Indikasi : Asma bronchial, bronchitis kronis, emfisema
Kontra indikasi : Hipersensitiv terhadap senyawa yang menyerupai atropin
Efek samping : Mulut kering, iritasi kerongkongan, batuk, peningkatan
tekanan intra okuler jika mengenai mata penderita
glaukoma.
Interaksi obat : Memperkuat efek antikolinergik obat lain, bronchodilatasi
diperkuat oleh derivat xantin dan preparat β-adrenergik .
Sediaan : Tablet, inhalasi
43
- Tiazinamium
Derivat Fenotiazin ini daya antihistamin dan daya antikolinergiknya kuat.
Resorpsi per oral buruk, daya bronchodilatasinya hanya pada dosis tinggi,
sehingga memberi efek samping seperti atropin.
(g) Antihistamin
- Ketotifen
Indikasi : Profilaksis asma bronchial karena alergi
Mekanisme : Dapat memblokir reseptor histamin dan menstabilisasi
kerja mastcell.
Kontra indikasi :
Efek samping : Mengantuk, pusing, mulut kering.
Interaksi obat : Memperkuat efek sedativ depresan SSP.
Sediaan : Tablet
- Oksatomida
Dapat memblokir reseptor histamin dan menstabilisasi mastcell. Penggunaan
kecuali pada profilaksis asma alergi, juga untuk rinitis alergi dan urticaria
kronis. Kurang bermanfaat pada serangan asma akut.
Spesialite : NAMA DAGANG SEDIAAN PABRIK
Biomedis
NO. NAMA GENERIK Brondilex Tablet 150 mg, Elixir
& LATIN 50mg/5ml
1. Teofilin
2. Teofilin + Bromheksin Bronsolvan Tiap tablet atau 5 ml syrup : Dankos
HCl Teofilin 125 mg dan
Bromheksin HCl 8 mg
3. Teofilin + Gliseril Quibron Tiap kapsul atau 15 ml elixir : Bristol
Guaiakolat Teofilin 150 mg
Gliseril Guaiakolat 90 mg
4. Teofilin + Efedrin HCl Asmasolon Tiap tablet : Westmon
Teofilin 130 mg
Ephedrin HCl 12,5 mg
Asmadex Dexa Medica
Asthma Soho Soho
Neo-Napacin Konimex
5. Aminofilin Aminophyllinum Ampul 10 ml : 24 mg/ml Ethica
Phyllocontin Tablet : 225 mg Mahakam
6. Efedrin HCl Ephedrin HCl Tablet : 25 mg Soho
7. Salbutamol Sulfat Salbuven Tablet 4 mg, Syr. 2mg/5ml Pharos
Salbron Tablet 2 mg Dankos
Fartolin Fahrenheit
Ventolin Tablet 2mg, syr. 2mg/5 ml, Glaxo Smith
inhaler 100 mcg/semprot,
nebula, rotacap, rotahaler,
rotadisk, diskhaler
8. Salbutamol Sulfat + Fartolin Expectorant Tiap tablet : Fahrenheit
Guaifenesin Salbutamol Sulfat 1,2 mg ;
44
Guaifenesin 50 mg
9. Terbutalin Sulfat Bricasma Tablet 2,5 mg, Syr. 0,3 mg/ml, Astra Zenecca
turbuhaler, inhaler, aerosol,
inhaler dengan nebuhaler,
respules
10. Ketotifen Nortifen Tablet 1 mg Otto
Scanditen Tempo S.P.
B. Obat – Obat Batuk (Antitusiva)
1. Fisiologi batuk
Batuk adalah suatu reflek fisiologi yang dapat berlangsung baik dalam keadaan
sehat maupun sakit. Reflek tersebut terjadi lazimnya karena adanya rangsangan pada
selaput lendir pernapasan yan terletak di beberapa bagian dari tenggorokan dan cabang-
cabangnya. Reflek tadi berfungsi mengeluarkan dan membersihkan saluran pernapasan
dari zat- zat perangsang itu, sehingga merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh.
2. Sebab – sebab batuk
Reflek batuk dapat ditimbulkan oleh karena radang (infeksi saluran pernapasan,
alergi), sebab-sebab mekanis (debu), perubahan suhu yang mendadak dan rangsangan
kimia (gas, bau-bauan). Batuk (penyakit) terutama disebabkan oleh infeksi virus, misal
virus influenza dan bakteri.Batuk dapat pula merupakan gejala yang lazim pada penyakit
tifus, radang paru- paru, tumor saluran pernapasan, dekompensasi jantung, asam atau dapat
pula merupakan kebiasaan.
3. Pengobatan
Pengobatan batuk pertama- tama hendaknya ditunjukan pada mencari dan
mengobati penyebabnya. Selanjutnya dilakukan pengobatan simptomatiknya, yang harus
dibedakan dahulu antara batuk produktif (batuk yang mengeluarkan dahak) dengan batuk
yang non produktif.
Batuk produktif merupakan suatu mekanisme perlindungan dengan fungsi
mengeluarkan zat asing (kuman, debu dan lainnya) dan dahak dari tenggorokan. Maka
pada azasnya jenis batuk ini tidak boleh ditekan. Terhadap batuk demikian, digunakan obat
golongan ekspektoransia yang berguna untuk mencairkan dahak yang kental dan
mempermudah pengeluarannya dari saluran nafas.
Sebaliknya batuk yang tidak produktif, adalah batuk yang tidak berguna
sehinggga harus ditekan. Untuk menekan batuk jenis ini digunakan obat golongan pereda
batuk, yang berkhasiat menekan rangsangan batuk yang bekerja sentral ataupun perifer.
Untuk batuk yang disebabkan alergi, digunakan yang dikombinasi dengan
ekspektoransia. Misalnya sirup Chlorphemin, mengandung antihistaminika Promethazine
dan Diphenhidramin. Kadang –kadang diperlukan ekspektoransia dan pereda batuk dalam
suatu kombinasi, untuk maksud mengurangi frekuensi batuk, dan tiap kali batuk cukup
dapat dikeluarkan dahak yang kotor.
45