4. Penggolongan obat batuk
Obat batuk dapat dibagi dalam dua golongan besar :
(a) Zat – zat yang bekerja sentral
Zat – zat ini menekan rangsangan batuk di pusat batuk yang terletak di sumsum
lanjutan (medula) dan mungkin juga bekerja di otak dengan efek menenangkan.
Zat ini terbagi atas :
Zat – zat adiktif, yaitu Pulvis Opii, Pulvis Doveri dan Codein. Karena dapat
menimbulkan ketagihan, penggunaannya harus hati – hati.
Zat – zat non adiktif, yaitu Noskapin, Dekstrometorfan, Pentoksiverin,
Prometazin dan Diphenhidramin.
(b) Zat – zat yang bekerja perifer
Obat ini bekerja di luar SSP, dan dapat dibagi atas beberapa kelompok, yaitu :
Emolliensia
Zat ini memperlunak rangsangan batuk, memperlicin tenggorokan sehingga
tidak kering dan melunakkan selaput lendir yang teriritasi. Contohnya Syrup
Thymi, zat – zat lendir (seperti infus carrageen), akar manis.
Ekspetoransia
Zat ini memperbanyak produksi dahak (yang encer) dan mengurangi
kekentalannya sehingga mempermudah pengeluarannya dengan batuk.
Termasuk kedalamnya adalah Kalium Iodida, Amonium klorida, Kreosot,
Guaiakol, Ipeka dan minyak – minyak atsiri.
Mukolitika
Zat ini bekerja mengurangi viskositas dahak (mengencerkan dahak) dan
mengeluarkannya. Zat ini efektif digunakan untuk batuk dengan dahak yang
kental. Contohnya Asetilkarbosistein, Bromheksin, Mesna, Ambroksol.
Zat – zat pereda
Zat ini meredakan batuk dengan cara menghambat reseptor sensibel di saluran
napas. Contohnya oksolamin dan Tipepidin.
5. Obat-obat tersendiri
(a) Kreosot
Zat cair kuning muda ini hasil penyulingan kayu sejenis pohon di Eropa,
mengandung kira-kira 70 % Guaiakol sebagai zat aktifnya. Zat ini mengurangi
pengeluaran lendir pada bronchi dan membantu menyembuhkan radang yang
kronis, disamping khasiatnya sebagai bakterisida. Berhubung baunya tidak enak
dan merangsang mukosa lambung, maka lebih banyak digunakan guaiakol dalam
bentuk esternya yaitu guaiakol karbonat, kalium guaiakol sulfonat dan gliseril
guaiakolat. Dalam usus, ester tersebut terurai menjadi guaiakol bebas. Kreosot
dapat pula digunakan sebagai obat sedotan (inhaler) dengan uap air
(b) Ipecacuanhae Radix
Akar dari tanaman Psychotria ipecacuanha (Rubiaceae) ini mengandung antara
lain alkaloida emetin dan sefalin. Zat-zat itu bersifat emetic, spasmolitik terhadap
kejang-kejang saluran pernafasan dan mempertinggi secara reflektoris sekresi
bronchial. Penggunaan utamanya sebagai emetika pada kasus keracunan. Sebagai
ekspektoransia hanya digunakan terkombinasi dengan obat batuk lainnya.
(c) Ammonium klorida
Berkhasiat sebagai secretolytic. Biasanya diberikan dalam bentuk sirup, misalnya
OBH. Pada dosis tinggi menimbulkan perasaan mual dan muntah karena
merangsang lambung.
46
(d) Kalium Iodida
Menstimulir sekresi cabang tenggorokan dan mencairkan dahak, sehingga banyak
digunakan dalam obat asma. Efek sampingnya berupa gangguan tiroid, jerawat
(acne), gatal-gatal (urticaria) dan struma
(e) Minyak terbang
Seperti minyak kayu putih, minyak permen, minyak anisi dan terpenten.
Berkhasiat mempertinggi sekresi dahak, melawan kejang (spasmolitika), anti
radang, dan bakteriostatistik lemah.Minyak terpenten digunakan sebagai
ekspektoransia dengan cara inhalasi, yang dihirup bersama uap air, ternyata amat
bermanfaat pada radang cabang tenggorokan.
(f) Liquiritie Radix
Akar kayu manis dari tanaman Glycyrrhiza glabra, mengandung saponin yaitu
sejenis glukosida yang bersifat aktif di permukaan.
Khasiatnya berdasarkan sifatnya yang merangsang selaput lender dan
mempertinggi sekresi zat lendir
(g) Kodein
Alkaloida candu ini paling banyak digunakan untuk mengobati batuk, berdasarkan
sifat peredanya terhadap pusat batuk. Efek sampingnya antara lain, menimbulkan
adiksi dan sembelit.
Codipront (Mack) mengandung kodein dan antihistaminika Feniltoloksamin,
keduanya terikat pada suatu resin dengan tujuan memperoleh khasiat jangka
panjang.
Etil-morfin (dionin) memiliki khasiat pereda batuk sama dengan kodein, sehingga
sering digunakan dalam sirup obat batuk. Disamping itu juga digunakan sebagai
analgetika. Karena khasiatnya dapat menstimulir sirkulasi pembuluh darah mata,
maka juga digunakan untuk menghilangkan udema conjungtiva (pembengkakan di
mata).
(h) Dekstrometrorfan
Khasiatnya sama dengan kodein, tetapi tidak bersifat analgetik dan adiktif
(i) Bromheksin
Turunan sikloheksil ini bersifat mukolitik, yaitu dapat mencairkan dahak yang
kental, sehingga mudah dikeluarkan dengan batuk. Efek sampingnya berupa
gangguan lambung usus, pusing dan berkeringat
Spesialite : NAMA DAGANG SEDIAAN PABRIK
Syrup Parke Davis
NO. NAMA GENERIK Benadryl Cough Medicine Corsa
& LATIN Corsadryl Syrup Ikapharmindo
Ikadryl Syrup Parke Davis
1. Difenhidramin + Amm. Klorida Dankos
+ Na.Sitrat Syrup
UAP
2. Dextrometorphan HBr + Benadryl DMP
Hoechst
Difenhidramin + Amm. Klorida Dantusil
+ Na.Sitrat
3. Dextrometorphan HBr + CTM Cosyr
+ Gliseril guaiakolat +
Fenilpropanolamin
4. Feniramin maleat + Amm. Avil Expectorant
Klorida + Menthol
47
NO. NAMA GENERIK NAMA DAGANG SEDIAAN PABRIK
Syrup Rhone P
& LATIN Syrup New Interbat
5. Promethazin + Guaiakol ester + Phernergan Expectorant Syrup Sanber Farma
Ekstrak Ipeca Syrup Sanbe Farma
Syrup Dumex
6. Promethazin + K- Prome Expectorant Syrup Nicholas
Syrup UAP
sulfoguaiakolat + Na Sitrat + Syrup Biomedis
Tinc. Ipeca + Menthol
7. Dextrometorphan HBr + Sanadryl Plus Expectorant
Difenhidramin + Amm. Klorida
+ K-sulfoguaiakolat + Na Sitrat
8. Difenhidramin + Amm. Klorida Sanadryl Expectorant
+ K-sulfoguaiakolat + Na Sitrat
9. Difenhidramin + Amm. Klorida Koffex
+ Na Sitrat + Menthol
10. Difenhidramin + Amm. Klorida Nichodryl
+ Menthol
11. Difenhidramin + Gliseril Allerin
Guaiakolat + Na Sitrat
12. CTM + + Gliseril Guaiakolat Cohistan Expectorant
48
BAB IV
ANTIHISTAMIN
A. Histamin
Histamin adalah suatu senyawa amina yang didalam tubuh dibentuk dari asam
amino histidin oleh pengaruh enzim histidin dekarboksilase. Hampir semua organ
dijaringan tubuh mengandung histamin itu. Zat tersebut terdapat terutama dalam sel-sel
tertentu yaitu mastcell, dalam keadaan terikat dan tidak aktif.
Histamin dapat dibebaskan dari ikatan nya dalam bermacam-macam faktor antara
lain reaksi alergi, luka-luka berat, sinar UV dari matahari, racun ular dan tawon, enzim
proteolitik serta beberapa macam obat-obatan (opiat, tubokurarin, klordiazepoksida).
Efek histamin
Terdapatnya histamin (aktif) berlebihan didalam tubuh, meninbulkan efek antara lain :
1. Kontraksi otot polos bronchi, usus dan uterus.
2. Vasodilatasi semua pembuluh darah, dengan akibat hipotensi.
3. Memperbesar permeabilitas kapiler, yang berakibat udema dan pengembangan
mukosa
4. Memperkuat sekresi kelenjar ludah, air mata dan asam lambung.
5. Stimulasi ujung saraf dengan akibat erytema dan gatal-gatal.
Dalam keadaan normal jumlah histamin dalam darah cukup kecil, hanya kira-kira
50 mcg/l, sehingga tidak menimbulkan efek seperti tersebut diatas. Baru bila mastcell
pecah, histamin terlepas demikian banyak sehingga efek tersebut menjadi nyata. Kelebihan
histamin dalam darah diuraikan oleh enzim histaminase yang juga terdapat didalam
jaringan. Dalam pengobatan , untuk mengatasi efek histamin digunakan obat
antihistaminika.
B. Antihistamin
Adalah zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin yang berlebihan
di dalam tubuh, dengan jalan memblok reseptornya. Atas dasar jenis reseptor histamin,
dibedakan dua macam antihistaminika, yaitu :
1. Antihistaminika H1 (H1 blocker)
Zat ini menekan reseptor H1 dengan efek terhadap penciutan bronchi, usus dan
uterus, terhadap ujung saraf dan untuk sebagian terhadap sistem pembuluh darah
(vasodilatasi dan naiknya permeabilitas). Kebanyakan antihistaminika termasuk
kelompok ini.
Selain daya antihistaminika, obat-obat ini kebanyakan memiliki khasiat lain
yaitu antikolinergik, menekan SSP dan beberapa di antaranya antiserotonin dan lokal
anestesi. Berdasarkan efek tersebut, antihistaminika ini banyak digunakan untuk
mengatasi bermacam-macam gangguan, antara lain asma yang bersifat alergi, “hay
fever” (reaksi alergi terhadap misalnya serbuk sari bunga ), sengatan serangga (lebah),
uriticaria, kurang nafsu makan, mabuk perjalanan, Parkinson dan sebagai sedativ
hipnotika.
2. Antihistaminika H2 (H2 blocker)
Menekan reseptor H2 dengan efek terhadap hipersekresi asam klorida dan
untuk sebagian terhadap vasodilatasi dan turunnya tekanan darah. Obat yang termasuk
golongan ini adalah Simetidin dan Ranitidin.
49
C. Penggolongan Antihistamin
Menurut struktur kimianya antihistaminika dapat dibagi dalam beberapa kelompok :
R1
RXCC N
R2
1. Turunan Etanolamin (X=O)
Meliputi Difenhidramin, Dimenhidrinat, Klorfenoksamin, Karbinoksamin dan
Feniltoloksamin. Kelompok ini memiliki daya kerja seperti Atropin (antikolibergik)
dan bekerja terhadap SSP(sedative)
2. Turunan Etilendiamin (X=N)
Diantaranya Antazolin,Tripelamin,Klemizol dan Mepirin. Kelompok ini umumnya
memiliki daya sedative lemah.
3. Turunan Propilamin (X=C)
Diantaranya Feniramin, klorfeniramin, bromfeniramin dan triprolidin. Kelompok ini
memiliki daya antihistaminica kuat.
4. Turunan Piperazin
Meliputi Siklizin, meklozin, homoklorsiklizin, Sinarizin, Flunarizin. Umumnya
bersifat long acting.
5. Turunan Fenotizin
Meliputi Prometazin, tiazinamidum, oksomemazin, metdilazin. Efek antihistamin dan
antikolinergiknya tidak begitu kuat, berdaya neuroleptik kuat sehingga digunakan
pada keadaan psikosis karena juga berefek meredakan batuk, maka sering digunakan
dalam obat batuk.
6. Turunan Trisiklik Lainnya
Meliputi Siproheptadin, Azatadin, Pizotifen. Mempunyai daya antiserotonin kuat dan
menstimulir nafsu makan, maka banyak digunakan untuk stimulant nafsu makan.
7. Zat-zat non sedative
Yaitu Terfenadin dan astemizol. Memiliki daya anti histaminika tanpa efek sedative.
8. Golongan Sisa
Yaitu Mebhidrolin, Dimetinden, Difenilpiralin.
D. Obat - Obat Tersendiri
1. Difenhidramin
Disamping khasiat antihistaminikanya yang kuat, juga bersifat sedatif, antikolinergik,
spasmodic, antiemetik dan antivertigo.Banyak digunakan dalam obat batuk,
disamping itu juga digunakan sebagai obat mabuk perjalanan, anti gatal-gatal karena
alergi dan obat tambahan pada penyakit parkinson. Efek sampingnya mengantuk.
2. Klorfeniramin
Daya antihistaminikanya lebih kuat daripada Feniramin, dan mempunyai efek sedatif
ringan. Digunakan untuk alergi seperti rhinitis alergia, urtikaria, asma bronchial,
dermatitis atopik, eksim alergi, gatal – gatal di kulit, udema angioneurotik
3. Prometazin
Selain digunakan dalam obat batuk, juga digunakan sebagai antiemetik untuk
mencegah mual dan mabuk perjalanan, sindroma parkinson, sedativa dan hypnotika
4. Dimenhidrinat
Digunakan pada mabuk perjalanan dan muntah-muntah waktu hamil.
5. Antazolin
Sifatnya tidak merangsang selaput lendir, karena itu sering digunakan untuk
mengobati gejala alergi pada mata dan hidung.
50
6. Feniramin
Berdaya antihistaminika kuat dan efek meredakan batuk yang cukup baik, sehingga
digunakan pula dalam obat batuk.
7. Siproheptadin
Merupakan satu-satunya antihistaminika yang mempunyai efek tambahan nafsu
makan. Kerja ikutannya antara lain timbul rasa mengantuk, pusing, mual dan mulut
kering.
8. Mebhidrolini Napadisilat
Praktis tidak bersifat menidurkan.Digunakan pada gatal-gatal karene alergi.
9. Setirizina HCl
Digunakan untuk Perineal rinitis, rinitis alergi, urtikaria idiopatik
10. Loratadine
Digunakan pada rinitis alergi, urtikaria kronik, dermatitis alergi, rasa gatal pada
hidung dan mata, rasa terbakar pada mata.
Spesialite :
NO. NAMA GENERIK NAMA DAGANG SEDIAAN PABRIK
& LATIN
1. Antazoline HCl Antrifine Tetes hidung Cendo
Albalon A Tetes mata Darya Varia
Antistine Ciba
2. Klorfeniramin Maleat Pehachlor Tablet 4 mg Phapros
Cohistan Injeksi 10 mg/ml ; tablet 4 mg Biomedis
Chlorphenon Ethica
3. Deksklorfeniramin Lorson Tablet 2 mg IPI
Maleat Polaramine Tablet 2mg ; syrup 2mg/ml Schering P
4. Feniramin Maleat Avil Injeksi 50mg/2ml ; syrup Aventis
Benohist 15mg/5ml ; tablet 25 mg; tablet Bernofarm
retard 50mg
Tablet 50 mg
5. Difenhidramin HCl Benadryl Capsul 25 mg Parke Davis
Decadryl Injeksi 10 mg/ml Harsen
6. Dimenhidrinat Antimo Tablet 50mg Phapros
Amocaps Kapsul 50mg Erela
7. Mebhidrolin Biolergi Kaplet 50mg Konimex
Napadisilat Histapan Sanbe Farma
8. Prometazin Phenergan Tablet 25mg; syrup 5mg/5ml Aventis
Cendofergan Syrup 1 mg/ml Cendo
9. Homoklorsiklizin Homoclomin Tablet 10mg Eisai
10. Azatadine Maleat Zadine Syrup 0,5 mg/5ml ; tablet 1mg Schering P
11. Setrizina CCl Incidal OD Kapsul 10 mg ; syrup 5 mg/ml Bayer
12. Siproheptadina Alphahist Tablet 4 mg Pharmac Apex
Heptasan Sanbe Farma
13. Loratadina Alloris Tablet 10 mg Sanbe Farma
Zeos Dankos
51
BAB V
OBAT-OBAT ANTIHIPERLIPIDEMIK
A. Pendahuluan
Obat-obat antihiperlipidemik (hipolipidemika) adalah golongan obat yang
digunakan untuk menurunkan kadar lipida darah yang melebihi ambang batas normal.
Lipida darah (lipid plasma) terdiri dari lemak-lemak netral (trigliserida), kolesterol
(kolesterin) dan fosfolipida. Karena lipid tidak larut dalam air, zat tersebut dibawa dalam
plasma dari jaringan ke jaringan dengan cara terikat pada protein. Lipid yang terikat
dengan protein plasma ini disebut lipoprotein.
Lipoprotein dikelompokan menjadi 4, yaitu :
1. Khilomikron
2. Lipoprotein kerapatan (densitas) sangat rendah (VLDL = Very Low Density
Lipoprotein), disebut juga pre--lipoprotein.
3. Lipoprotein kerapatan rendah (LDL = Low Density Lipoprotein), disebut juga
-lipoprotein.
4. Lipoprotein kerapatan tinggi (HDL = Hight Density Lipoprotein), disebut juga
-lipoprotein.
HDL memiliki prosentase protein lebih banyak dan prosentase lipid lebih sedikit.
Fungsinya adalah untuk menghilangkan kolesterol yang tertimbun dari aliran darah dan
membawanya ke hati. Karena itu HDL dikatakan mempunyai kerja melindungi terhadap
aterosklerosis (pengerasan, hilangnya elastisitas serta penyempitan lumen pembuluh
arteri), sehingga HDL disebut kolesterol “baik”.
Ketiga lipoprotein yang lain (Khilomikron, VLDL dan LDL) terutama terdiri dari
kolesterol dan trigliserida dan membantu terjadinya ateroskelosis. Ketiganya biasa disebut
juga kolesterol “jahat”.
Tabel berikut menyajikan klasifikasi lipoprotein dan komposisinya.
Sub Kelompok Komposisi Lipoprotein (%)
Lipoprotein Protein Kolesterol Trigliserida Fosfolipid
Khilomikron 1-2 1-3 80 - 95 3-6
VLDL 6 - 10 8 - 20 45 - 65 15 - 20
LDL 18 - 22 45 - 50 4-8 18 - 24
HDL 45 - 55 15 - 20 2-7 26 - 32
Peningkatan kadar lipoprotein darah disebut hiperlipoproteinemia. Ada enam tipe
hiperlipoproteinemia, selengkapnya disajikan pada tabel berikut :
Tipe Sifat Lipoprotein Istilah
I Khilomikron bertambah banyak Hiperkhilomikronemia
LDL bertambah banyak Hiper Betha Lipoproteinemia
II a LDL dan VLDL bertambah banyak Hiper Betha dan Pre Betha
II b Lipoproteinemia
Broad Betha Disease
III Abnormalitas LDL Hiper Pre Betha Lipoproteinemia
IV VLDL bertambah banyak
Kadar lipida darah dan lipoprotein dapat meningkat karena faktor lingkungan
(hiperlipidemia / hiperlipoproteinemia sekunder) seperti berat badan berlebih karena diet
yang salah, alkoholik dan penyakit metabolisme (hipotiroid, DM, pirai) atau kelainan
genetik (hiperlipidemia / hiperlipoprooteinemia primer). Jika kolesterol, trigliserida dan
LDL meningkat, maka risiko seseorang menderita penyakit jantung koroner (PJK) semakin
meningkat pula.
52
Tabel berikut menyajikan berbagai lipida darah dan nilai normalnya sesuai
klasifikasi berdasarkan risiko.
Lipid Nilai Normal Tingkat Risiko PJK
(mg/dL)
Kolesterol 150 - 240 Rendah (mg/dL) Sedang (mg/dL) Tinggi (mg/dL)
Trigliserida 40 - 190 > 240
Lipoprotein : < 200 200 - 240
60 - 160
LDL 29 - 77 bervariasi sesuai umur > 190
HDL
< 130 130 - 159 > 160
> 60 35 - 50 < 35
B. Diet
Diet merupakan terapi permulaan bagi hiperlipidemia dan sebagian besar kasus
hendaknya dicoba beberapa bulan sebelum mempertimbangkan farmakoterapi. Pengaturan
diet dilakukan dengan :
1. Pengurangan konsumsi lemak jenuh. Lemak jenuh terdapat dalam daging hewani
termasuk daging ikan. Juga terdapat dalam minyak tumbuhan (minyak kelapa dan
minyak kelapa sawit). Demikian juga dengan susu. Sebagai pengganti dapat
digunakan susu rendah lemak, mentega lunak dan minyak tumbuhan cair.
2. Konsumsi lemak-lemak tak jenuh (poly dan mono unsaturated) sebagai pengganti
minyak lemak jenuh. Terdapat pada minyak tumbuhan dan margarine serta minyak
zaitun dan canola.
3. Pengurangan konsumsi kolesterol. Terdapat pada kuning telur, hati, ginjal, otak dan
roti tart.
4. Meningkatkan konsumsi buah-buahan segar, sayur dan produk biji-bijian utuh
untuk menambah keragaman dan memberikan gizi serta serat.
Untuk mendukung upaya terapi diet, perlu diikuti upaya penunjang yaitu
menurunkan berat badan (karena dapat meningkatkan kadar HDL) dan olahraga (dapat
menurunkan kadar trigliserida, kolesterol dan meningkatkan kadar HDL).
Pada banyak kasus, diet saja tidak cukup menurunkan kadar lipid darah. Karena
75-80% kolesterol darah berasal dari bahan-bahan dari dalam tubuh sendiri (endogen).
Terapi diet akan menurunkan kolesterol total sebanyak 10-30%. Jika hiperlipidemia tidak
dapat dikendalikan dengan diet dan olahraga, maka farmakoterapi merupakan alternatif
pilihan selanjutnya.
C. Farmakoterapi
Obat-obat yang digunakan dalam pengobatan kelebihan lipida darah
(Hiperlipidemia) biasanya ditujukan untuk :
1. menurunkan produksi lipoprotein oleh jaringan
2. meningkatkan perombakan (katabolisme) lipoprotein dalam plasma
3. mempercepat bersihan kolesterol dari tubuh. Obat-obat dapat digunakan tunggal
atau kombinasi, tetapi harus disertai diet rendah lipid, terutama kolesterol dan
lemak jenuh.
53
Obat-obat yang dapat digunakan pada hiperlipidemia meliputi :
1. Niasin atau Asam Nikotinat (vitamin B7)
Obat ini mempunyai kemampuan menurunkan lipid
yang luas, tetapi penggunaan dalam klinik terbatas
karena efek samping yang tidak menyanangkan
Mekanisme kerja : menghambat lipolisis trigiliserida
menjadi asam lemak bebas. Di hati, asam lemak bebas
digunakan sebagai bahan sintesis trigliserida yang
selanjutnya senyawa ini diperlukan untuk sintesis
VLDL. VLDL selanjutnya digunakan untuk sintesis
LDL. Dengan demikian obat ini dapat menurunkan
kadar trigiliserida (dalam VLDL) dan kolesterol (dalam
VLDL dan LDL).
Penggunaan : berdasarkan atas kemampuannya
menurunkan kadar plasma kolesterol dan trigliserida,
maka digunakan pada hiperlipoproteinemia tipe IIb dan
IV dengan VLDL dan LDL yang meningkat. Niasin
juga merupakan obat antihiperlipisemia paling poten
untuk meningkatkan kadar HDL plasma.
Efek samping : kemerahan pada kulit (disertai perasaan panas) dan pruritus (rasa
gatal pada kulit), pada sebagian pasien mengalami mual dan sakit pada abdomen,
meningkatkan kadar asam urat (hiperurikemia) dengan menghambat sekresi tubular asam
urat, toleransi glukosa dan hepatotoksik.
2. Derivat Asam Fibrat
Termasuk golongan ini adalah Fibrat-Klofibrat-Bezafibrat dan Gemfibrozil yang
menurunkan kadar trigliserida darah. Obat ini sedikit menurunkan kadar kolesterol.
Digunakan terutama untuk menurunkan VLDL pada hiperlipidemia tipe IIb, III dan V.
Mekanisme kerja : memacu aktivitas lipase lipoprotein, sehingga menghidrolisis
trigliserida pada kilomikron dan VLDL.
Efek samping :
1. Efek gastrointestinal : gangguan pencernaan ringan
2. Litiasis : pembentukan batu empedu
3. Keganasan : terutama Klofibrat yang dapat menyebabkan keganasan terkait dengan
kematian
4. Otot : Miositis (peradangan otot polos)
Interaksi obat :
berinteraksi dengan antikoagulan Kumarin,
sehingga meningkatkan efek anti koagulan.
Kontra indikasi :
pasien dengan kelainan fungsi hati, ginjal atau
pasien dengan penyakit kandung empedu.
3. Resin Pengikat Asam Empedu
Termasuk golongan ini adalah Kolesteramin dan
Kolestipol.
Mekanisme kerja : obat ini merupakan resin (damar)
penukar ion yang bersifat basa, yang mempunyai
afinitas tinggi terhadap asam empedu. Asam empedu
akan diikat oleh resin ini, membentuk senyawa yang
54
tidak larut dan tak dapat direabsorbsi untuk
selanjutnya diekskresi melalui feses. Dengan
demikian ekskresi asam empedu yang biasanya
sedikit akibat peredaran darah enterohepatik, dapat ditingkatkan hampir 10 kalinya.
Kekurangan asam empedu didapat dari sintesis
baru dari kolesterol (yang terdapat dalam
LDL), dengan demikian kadar LDL plasma
menurun.
Penggunaan : obat ini (yang biasa dikombinasi
dengan diet atau niasin) adalah obat-obat
pilihan dalam mengobati hiperlipidemia tipe
IIa dan IIb.
Efek samping :
1. Efek gastrointestinal : konstipasi, mual dan
kembung (flatulen)
2. Gangguan absorbsi : mengganggu absorbsi
vitamin larut lemak (A,D,E,K) pada resin
dosis tinggi.
Interaksi obat : berinteraksi dengan Tetrasiklin,
Fenobarbital, Digoksin, Warfarin, Pravastatin,
Fluvastatin, Aspirin dan Diuretik Tiazid
dengan mengganggu absorbsinya dalam usus.
Karena itu, obat-obat tersebut harus diminum
1-2 jam sebelum atau 4-6 jam setelah obat resin
pengikat empedu diminum.
4. Probukol
Obat ini menurunkan kadar HDL dan LDL,
maka obat ini tidak disukai. Namun sifat antioksidannya
penting dalam menghambat aterosklerosis.
Mekanisme : menghambat oksidasi kolesterol, sehingga
terjadi penguraian LDL-kolesterol yang teroksidasi oleh
makrofag.
Makrofag yang dimuati oleh kolesterol,
menjadi sel busa yang menempel pada vaskular dan
merupakan dasar pembentukan plak pada aterosklerosis.
Dengan demikian, pencegahan oksidasi
kolesterol akan menghambat perkembangan
aterosklerosis.
Penggunaan : pada hiperkolesteromia tipe IIa dan IIb.
Obat ini digunakan jika antihiperlipidemia lain tidak
efektif.
Efek samping : gangguan pencernaan ringan.
55
5. Inhibitor HMG-CoA (Hidroksimetilglutaril koenzim A) Reduktase
Termasuk golongan ini adalah
Lovastatin, Pravastatin, Simvastatin dan
Fluvastatin.
Mekanisme kerja : menghambat enzim HMG
Co A reduktase dalam sintesis kolesterol,
dengan demikian akan meningkatkan
penguraian kolesterol intrasel sehingga
mengurangi simpanan kolesterol intrasel.
Penggunaan : efektif untuk menurunkan kadar
kolesterol plasma pada semua jenis
hiperlipidemia.
Efek samping : kelainan biokimiawi fungsi hati
dan gangguan oto (miopati)
Interaksi obat : meningkatkan kadar Kumarin
(antikoagulan) sehingga meningkatkan risiko
pendarahan.
Kontra indikasi : ibu hamil dan menyusui,
anak-anak dan remaja.
6. Minyak Ikan
Sediaan minyak ikan yang kaya akan trigliserida laut omega-3, bermanfaat dalam
pengobatan hipertrigliseridemia berat. Meskipun demikian, kadand-kadang minyak ikan
dapat memperburuk hiperkolesteromia.
D. Terapi Kombinasi
Kadang-kadang perlu memberikan dua antihiperlipidemia untuk mendapatkan
kadar lipid plasma yang signifikan. Misalnya pada hiperlipidemia tipe II, pasien sering
diobati dengan kombinasi Niasin dan Resin pengikat empedu (Kolestiramin).
Kombinasi ini efektif menurunkan kadar kolesterol LDL dan VLDL plasma.
Contoh lain adalah kombinasi HMG CoA reduktase dengan Resin pengikat empedu,
juga efektif dalam menurunkan kolesterol LDL.
Sediaan Obat Nama Dagang Sediaan Produsen
Lopid Kapsul/Tablet 300, 450, 600, 900 mg Park Davis
Nama Generik Lipidan Kapsul/Kaplet 300, 600 mg Dankos
Gemfibrozil Lapibroz Kapsul 300, 600 mg Lapi
Fenofibrat Evothyl Kapsul 100, 300 mg Guardian
Hipolip Kapsul 100, 300 mg Mecosin
Hyperchol Kapsul 100, 300 mg Ikapharmindo
Klofibrat Arterol Kapsul 250, 500 mg Pharos Chemie
Bezafibrat Bezalip Tablet 200 mg Boehringer M.
Atorvastatin Lipitor Tablet 10, 20 mg Marner-Lambert
Lovastatin Belvas Tablet 20 mg IPI
Justin Tablet 20 mg Ifars
Vastachol Tablet 20 mg Rama Farma
Fluvastatin Leschol Kapsul 40 mg Novartis
56
Simvastatin Liponorm Tablet 5, 10 mg Dankos
Pravastatin Normofat Tablet 5, 10 mg Soho
Asam nikotinat Sinova Tablet 5, 10 mg Combiphar
Pravachol Tablet 10, 20 mg Bristol Myers
Mevalotin Tablet 5, 10 mg Sankyo, KF
Tablet 100 mg
57
BAB VI
OBAT LAIN - LAIN
A. HIV dan Anti AIDS
1. Pendahuluan
Acquired Immune Deficiency Syndrome atau AIDS merupakan masalah global
yang mulai melanda dunia sejak awal tahun 80-an. AIDS dapat diartikan sebagai sindroma
(kumpulan gejala) penyakit yang disebabkan oleh rusak atau menurunnya sistem kekebalan
tubuh. Rusak atau menurunnya sistem kekebalan tubuh disebabkan oleh infeksi virus HIV
(Human Immunodeficiency Virus). AIDS bukan merupakan penyakit keturunan.
Dengan melemahnya sistem kekebalan, penderita sangat mudah terkena serangan
penyakit yang ringan sekalipun. Hingga kini belum ada obat yang ditemukan untuk
melawan secara efektif penyakit ini. Ada beberapa jenis obat yang sudah digunakan untuk
melawan penyakit ini, diantaranya yaitu AZT, DDI, DDC. Namun efeknya hanya untuk
menahan laju HIV menghancurkan sistem kekebalan tubuh penderita dan belum mampu
mematikan secara total virus ini.
Di Indonesia menurut data Direktorat Jenderal Peyakit Menular dan Penyehatan
Lingkungan, Depkes RI, hingga akhir Desember 2001 tercatat 2.575 kasus HIV-AIDS,
ditambah 213 kasus baru pada bulan yang sama, sehingga total kasus HIV-AIDS sampai
31 Desember 2001 sebanyak 2.788 kasus.
2. Cara Kerja Virus HIV
Human Immunodeficiency Virus termasuk golongan retro virus. Retro virus
adalah virus yang dapat berkembang biak dalam darah manusia dan memiliki kemampuan
mengcopy cetak biru materi genetik (DNA-RNA) mereka di dalam materi genetik sel-sel
manusia yang ditumpangi. Dengan proses ini HIV dapat mematikan sel-sel darah putih
(khususnya limfosit atau sel T-4 atau sel CD-4). HIV sangat kecil ukurannya, lebih kecil
daripada seperseribu tampang sehelai rambut. Virus ini bentuknya seperti binatang bulu
babi (yaitu binatang laut) yang berbulu tegak dan tajam.
Gambar Virus HIV.
Bagaimana tepatnya proses HIV melemahkan sistem kekebalan (imunitas) masih
diselidiki. Menurut teori yang paling banyak diterima, HIV langsung menyerang sel darah
putih. Enzim yang ada pada tonjolan bagian luar HIV menempel dan merusak dinding sel
darah putih dan akhirnya, virus tersebut masuk ke dalamnya. RNA (Ribo Nucleic Acid)
virus akan menempel pada DNA (Deoksiribo Nucleic Acid) sel darah putih, lalu sel darah
58
putih akan pecah, dan virusnya pun akan memecah diri lalu mencari sel darah putih
lainnya.
Karena serangan virus HIV, lambat laun jumlah sel darah putih yang sehat
semakin berkurang dan akhirnya sistem kekebalan menjadi lumpuh. Orang yang sel darah
putihnya sudah terinveksi HIV, dapat dipastikan yang bersangkutan sudah memiliki
antibodi spesifik terhadap HIV dan ia sudah digolongkan mengidap HIV.
3. Tahap dan Gejala AIDS
Gejala-gejala AIDS baru bisa dilihat pada seseorang yang tertular HIV sesudah
masa inkubasi. Masa inkubasi adalah satu periode waktu antara masuknya virus HIV ke
dalam darah (awal infeksi) sampai dengan timbulnya gejala-gejala penyakit AIDS. Masa
inkubasi berkisar 5 sampai 10 tahun setelah terinfeksi.
Selama masa inkubasi jumlah HIV dalam darah terus bertambah sedangkan
jumlah sel darah putih semakin berkurang. Kekebalan tubuhpun semakin rusak jika
jumlah sel darah putih kian sedikit.
Masa inkubasi terdiri dari beberapa tahap, yaitu :
Tahap Pertama
Disebut masa jendela atau window period yaitu tenggang waktu pertama setelah HIV
masuk ke dalam aliran darah. Berlangsung hingga 6 bulan. Pada tahap ini test HIV
menunjukkan hasil negatif. Hal ini karena tes yang mendeteksi antibodi HIV belum
dapat menemukannya, sehingga hasilnya negatif. Biasa disebut negatif palsu karena
orang yang bersangkutan sebenarnya sudah terinfeksi. Pada kondisi ini penderita sudah
dapat menularkan HIV kepada orang lain.
Tahap Kedua
Disebut kondisi asimptomatik, yaitu suatu keadaan yang tidak menunjukkan gejala-
gejala walaupun sudah terinfeksi HIV. Kondisi ini dapat berlangsung 5-10 tahun
tergantung sistem kekebalan tubuh penderita. Pada tahap ini penderita bisa menularkan
kepada orang lain.
Tahap Ketiga
Disebut dengan penyakit yang terkait dengan HIV (HIV related illness), ditandai
dengan gejala-gejala awal penyakit. Gejala-gejalanya antara lain :
pembesaran kelenjar limfe / kelenjar getah bening
hilang selera makan
berkeringat berlebihan pada malam hari
timbul bercak-bercak di kulit
diare terus menerus
flu tidak sembuh-sembuh
Tahap ini dapat berlangsung sekitar 6 bulan sampai 2 tahun.
Tahap Keempat
Disebut masa AIDS. Ditandai dengan jumlah sel darah putih (limfosit / sel T-4) kurang
dari 200 / mikroliter. Kondisi ini ditandai dengan munculnya berbagai penyakit,
terutama penyakit yang disebabkan oleh infeksi oportunistik (TBC, Pneumonia,
Gangguan syaraf, Herpes, dll).
4. Penularan HIV
Kondisi yang diperlukan untuk terjadi penularan virus HIV adalah bahwa virus
HIV harus masuk ke aliran darah. HIV sangat rapuh dan cepat mati di luar tubuh. Virus ini
juga sensitif terhadap panas dan tidak tahan hidup pada suhu di atas 60 0C.
59
Untuk tertular harus ada konsentrasi HIV yang cukup tinggi. Di bawah
konsentrasi tertentu, tubuh manusia cukup kebal HIV sehingga tidak terjadi infeksi.
HIV ada di hampir semua cairan tubuh manusia seperti keringat, air ludah, air
mata, darah, cairan sperma, cairan vagina. HIV dalam air ludah, air mata dan keringat
konsentrasinya tidak cukup tinggi untuk dapat menularkan HIV. Cairan yang dapat
menularkan hanyalah darah, cairan sperma dan cairan vagina yang mengandung HIV.
Penularan dapat terjadi jika salah satu dari ketiga cairan tersebut masuk ke dalam
aliran darah seseorang. Penularan HIV melalui :
(a) cara seksual.
hubungan seksual (homoseks atau heteroseks) yang tidak aman dengan orang yang
terinveksi HIV.
(b) cara parenteral
transfusi darah yang tercemar HIV
menggunakan jarum suntik, tindik, tato atau alat lain yang dapat menimbulkan
luka yang telah tercemar HIV secara bersama-sama dan tidak di sterilkan.
(c) cara perinatal
dari ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada anak yang dikandungnya.
5. Mengurangi Risiko Penularan
Cara mengurangi risiko penularan infeksi HIV adalah dengan tidak melakukan
kegiatan berisiko, yaitu menjaga agar jangan sampai cairan tubuh yang sudah tercemar
HIV masuk ke dalam tubuh. Cara-cara tersebut adalah antara lain :
(a) Bagi yang belum aktif melakukan kegiatan seksual (belum menikah):
Tidak melakukan hubungan seks sama sekali.
(b) Bagi yang sudah aktif melakukan kegiatan seksual (sudah menikah)
hubungan dengan mitra tunggal
menggunakan alat kontrasepsi (misal kondom)
jika memiliki Penyakit Menular Seksual (PMS), segera diobati.
(c) Hanya melakukan transfusi darah yeng bebas HIV
(d) Mensterilkan alat-alat yang dapat menularkan
jarum suntik
tindik
pisau cukur
tatto, dll
(e) Ibu pengidap HIV agar mempertimbangkan kembali jika ingin hamil
6. Sterilisasi Alat
Penularan HIV dapat melalui alat kesehatan yang tercemar virus ini. Agar
menghindari risiko penularan maka perlu dilakukan sterilisasi terhadap alat-alat tersebut.
Sterilisasi alat dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
(a) Natriumhipochlorit (0,5%), Ethanol (70%), dan NPO4 (0,5%) dapat membantu
menahan perkembangan HIV dalam waktu satu menit.
(b) H2O2 (0,3%), Lisol (0,5%), Isopropilalkohol (70%), efektif menahan
perkembangan HIV dalam waktu 2-10 menit.
(c) Amonium chlorida kuartener (0,08%) efektif menahan HIV dalam waktu
10 menit.
(d) Nonoksinol-9 (surfaktan yang bersifat spermicid) dapat memperkuat fungsi
kondom mencegah penularan HIV.
(e) Paraformaldehid (0,5%), efektif menahan HIV dalam waktu 25 menit; formalin
(1:4), dan Glutaraldehid (0,1%) efektif dalam waktu 1 jam.
60
(f) HIV tidak sensitif terhadap sinar gamma (diperlukan dosis 10 kali lipat dibanding
untuk sterilisasi makanan), dosis sinar UV jauh lebih tinggi dibutuhkan untuk
membuat HIV inaktif di dalam ruang operasi dan laboratorium.
(g) Merebus alat dengan temperatur 100 0C juga akan dapat membunuh virus HIV.
7. Pengobatan
Hingga saat ini masih belum ditemukan obat –obat yang dapat melawan virus
HIV secara efektif. Beberapa obat mulai dikembangkan, cukup membantu meskipun tidak
dapat mengatasi secara total. Farmakoterapi diberikan masih sebatas membantu
memperlambat rusaknya daya tahan tubuh seseoarang dan memperlambat perkembangan
virus.
Obat-obat golongan retro virus ini sayangnya hingga saat ini masih belum
diproduksi di dalam negeri. Obat-obat tersebut adalah :
Nama Generik Nama Dagang Sediaan Produsen
Zidovudin (AZT) Retrovir Kapsul 100 mg Fahrenheit
Didanosin (ddl) Videx Tablet 50mg, 100mg Bristol Myers
Zalsitabin (ddC)
Stavudin (d4T) Zerit Kapsul 30mg, 40mg Bristol Myers
Lamivudin (3TC) Epivir
Inhibitor HIV Protease :
Saquinavir Invirase
Ritonavir Norvir
Indinavir Crixivan
B. Kortikosteroida
1. Pendahuluan
Terdapat dua sistem pengaturan fungsi tubuh untuk menyesuaikan dan
mempertahankan diri terhadap perubahan pengaruh lingkungan agar keadaannya selalu
konstan dan seimbang (homeostasis), yakni melalui pengaturan oleh Sistem Saraf Vegetatif
(Otonom) dan Sistem Kelenjar Endokrin.
Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengeluarkan hasil sekresinya (berupa
hormon) langsung ke dalam sistem pembuluh darah, karena tidak mempunyai saluran atau
kelenjar buntu. Ada tiga bentuk struktur kimia hormon yaitu Hormon Peptida/protein
(kelenjar pankreas, hipotalamus), Hormon Asam Amino (Tirosin, Adrenalin / Noradrenalin)
dan Hormon Steroid (Estrogen, Progesteron dan Kortikosteroid).
Kortikosteroid dan hormon
kelamin (androgen dan
estrogen) dihasilkan oleh
kelenjar anak ginjal (adrenal)
bagian korteks (kulit).
Sedangkan kelenjar adrenal
bagian medulla (sumsum)
menghasilkan adrenalin dan
noradrenalin.
Kelenjar adrenal mensekresi 2 hormon kortikosteroid yaitu Glukokortikoid dan
Mineralokortikoid. Kedua kortikosteroid ini lazim disebut adrenokortikoid. Glukokortikoid
utama pada manusia adalah kortisol dan mineralokortikoid utama adalah aldosteron.
Kedua kortikosteroid ini disintesis dari kholesterol.
61
Perbedaaan kedua kortikosteroid ini disajikan pada tabel berikut :
Glukokortikoid Perbedaan Mineralokortikoid
Kortisol Senyawa Utama Aldosteron
Metabolisme : Efek utama Metabolisme :
Karbohidrat, Protein dan Lemak Mineral dengan mengatur
Mineral dengan mengatur retensi Na dan Sekresi K, H
retensi Na dan K
ACTH (Adreno Corticotropin Sekresi dipengaruhi oleh Kadar Mineral (Na dan K) dan
Hormon) Volume Plasma.
2. Mekanisme Kerja
Seperti hormon steroid lain,
adrenokortikoid mengikat
reseptor sitoplasmik intraseluler
pada jaringan target. Ikatan
kompleks antara kortikosteroid
dengan reseptor protein akan
masuk ke dalam inti sel dan
diikat oleh kromatin. Ikatan
reseptor protein-kortikosteroid-
kromatin mengadakan transkripsi
DNA, membentuk mRNA dan
mRNA merangsang sintesis
protein spesifik.
Seperti telihat pada gambar di
samping.
3. Efek-efek Kortikosteroid
(a) Glukokortikoid
Merangsang glikogenolisis (katalisa glikogen menjadi glukosa) dan
glikoneogenolisis (katalisa lemak / protein menjadi glukosa) sehingga kadar gula
darah meningkat dan pembentukan glikogen di dalam hati dan jaringan menurun.
Kadar kortikosteroid yang meningkat akan menyebabkan gangguan distribusi
lemak, sebagian lemak di bagian tubuh berkurang dan sebagian akan menumpuk
pada bagian muka (moonface), tengkuk (buffalo hump), perut dan lengan.
62
Glikogen
Glikogenesis Siklus Krebs
(Siklus As. Sitrat)
Glikogenolisis
As. Piruvat/
Glikolisis As. Laktat
Glukosa CO2+H2O+Tenaga
Glikoneogenolisis
Glikoneogenesis
As. Lemak Skema metabolisme glukosa, asam lemak
+ Protein dan protein
Meningkatkan resistensi terhadap stress. Dengan meningkatkan kadar glukosa
plasma, glukokortikoid memberikan energi yang diperlukan tubuh untuk
melawan stress yang disebabkan, misalnya oleh trauma, ketakutan, infeksi,
perdarahan atau infeksi yang melemahkan. Glukokortikoid dapat menyebabkan
peningkatan tekanan darah dengan jalan meningkatkan efek vasokontriktor
rangsangan adrenergik pada pembuluh darah.
Merubah kadar sel darah dalam plasma. Glukokortikoid menyebabkan
menurunnya komponen sel-sel darah putih / leukosit (eosinofil, basofil, monosit
dan limfosit). Sebaliknya glukokortikoid meningkatkan kadar hemoglobin,
trombosit dan eritrosit.
Efek anti inflamasi. Glukokortikoid dapat mengurangi respons peradangan
secara drastis dan dapat menekan sistem imunitas (kekebalan).
Mempengaruhi komponen lain sistem endokrin. Penghambatan umpan balik
produksi kortikotropin oleh peningkatan glukokortikoid menyebabkan
penghambatan sintesis glukokortikoid lebih lanjut.
Efek anti alergi. Glukokortikoid dapat mencegah pelepasan histamin.
Efek pada pertumbuhan. Glukokortikoid yang diberikan jangka lama dapat
menghambat proses pertumbuhan karena menghambat sintesis protein,
meningkatkan katabolisme protein dan menghambat sekresi hormon
pertumbuhan.
Efek pada sistem lain. Hal ini sangat berkaitan dengan efek samping hormon.
Dosis tinggi glukokortikoid merangsang asam lambung dan produksi pepsin dan
dapat menyebabkan kambuh berulangnya (eksaserbasi) borok lambung (ulkus).
Juga telah ditemui efek pada SSP yang mempengaruhi status mental. Terapi
glukokortikoid kronik dapat menyebabkan kehilangan massa tulang yang berat
(osteoporosis). Juga menimbulkan gangguan pada otot (miopati) dengan gejala
keluhan lemah otot.
(b) Mineralokortikoid
Efek mineralokortikoid mengatur metabolisme mineral dan air. Mineralokortikoid
membantu kontrol volume cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit (terutama Na dan
K), dengan jalan meningkatkan reabsorbsi Na+, meningkatkan eksresi K+ dan H+.
Efek ini diatur oleh aldosteron (pada kelenjar adenal) yang bekerja pada tubulus
ginjal, menyebabkan reabsorbsi natrium, bikarbonat dan air. Sebaliknya, aldosteron
menurunkan reabsorsi kalium, yang kemudian hilang melalui urine. Peningkatan
63
kadar aldosteron karena pemberian dosis tinggi mineralokortikoid dapat
menyebabkan alkalosis (pH darah alkalis) dan hipokalemia, sedangkan retensi
natrium dan air menyebabkan peningkatan volume darah dan tekanan darah.
4. Indikasi Pemberian Kortikosteroid
(a) Terapi pengganti (substitusi) pada insufisiensi adrenal primer akut dan kronis
(disebut Addison’s disease), insufisiensi adrenal sekunder dan tersier.
(b) Diagnosis hipersekresi glukokortikoid (sindroma Cushing).
(c) Menghilangkan gejala peradangan : peradangan rematoid, peradangan tulang sendi
(osteoartritis) dan peradangan kulit, termasuk kemerahan, bengkak, panas dan
nyeri yang biasanya menyertai peradangan.
(d) Terapi alergi. Digunakan pada pengobatan reaksi alergi obat, serum dan transfusi,
asma bronkhiale dan rinitis alergi
5. Efek Samping dan Komplikasi
Efek samping terjadi umumnya pada terapi dosis tinggi atau penggunaan jangka
panjang kortikosteroida. Adapun efek samping dan komplikasi yang dapat terjadi meliputi
:
(a) Metabolisme glukosa, protein dan lemak; Atropi otot, osteoporosis dan penipisan
kulit.
(b) Elektrolit ; Hipokalemia, alkalosis dan gangguan jantung hingga terjadi gagal
jantung (cardiac failure).
(c) Kardiovaskular; Aterosklerosis dan gagal jantung
(d) Tulang; Osteoporosis dan patah tulang yang spontan
(e) Otot; Kelamahan otot dan atropi otot.
(f) SSP dan Psikis; Gangguan emosi, euforia, halusinasi, hingga psikosis.
(g) Elemen pembuluh darah; Gangguan koagulasi dan menurunkan daya kekebalan
tubuh (immunosupresi)
(h) Penyembuhan luka dan infeksi; Hambatan penyembuhan luka dan meningkatkan
risiko infeksi
(i) Pertumbuhan; Mengganggu pertumbuhan anak, kemunduran dan menghambat
perkembangan otak
(j) Ginjal; Nokturia (ngompol), hiperkalsiuria, peningkatan kadar ureum darah hingga
gagal ginjal.
(k) Pencernaan; Tukak lambung (ulcus pepticum).
(l) Pankreas; Peradangan pankreas akut (pankreatitis akut).
(m)Gigi; Gangguan email dan pertumbuhan gigi.
Timbulnya efek samping dan komplikasi terkait dengan beberapa faktor, yaitu :
(a) Cara pemberian
(b) Jumlah pemberian
(c) Lama pemberian
(d) Dosis pemberian
(e) Cairan yang diberikan
(f) Kadar albumin dalam darah
(g) Penyakit bawaan.
64
7. Obat-obat Kortikosteroid
Beberapa obat kortikosteroid disajikan pada tabel berikut :
Aktivitas 1)
Obat (Generik) Contoh (Patent) Anti- Topikal Retensi Na Bentuk Sediaan
Inflamasi
Glukokortikoid kerja Cortef 11 1 Oral, suntikan, topikal
singkat (8-12 jam) Cortone 0,8 0 0,8 Oral, suntikan, topikal
Hidrokortison
Kortison
Glukokortikoid kerja
sedang (18-36 jam)
Prednison Hostacortin 4 0 0,3 Oral
Prednisolon Delta-Cortef, Prelone 5 4 0,3 Oral, suntikan, topikal
Metilprednisolon Medrol, Medixon 5 5 0 Oral, suntikan, topikal
Triamsinolon Kenacort, Azmacort 5 5 0 Oral, suntikan, topikal
Fluprednisolon Cendoderm 15 7 0 Oral, topikal
Glukokortikoid kerja
lama (1-3 hari)
Betametason Celestone 25-40 10 0 Oral, suntikan, topikal
Deksametason Oradexon, Decadron 30 10 0 Oral, suntikan, topikal
Parametason Dillar, Monocortin 10 0 Oral, suntikan
Mineralokortikoid
Fludrokortison Florinef, Astonin 10 10 250 Oral, suntikan, topikal
Desoksikortikosteron 0 0 20 Suntikan, pelet
Keterangan : Aktivitas 1) menggambarkan potensi relatif terhadap Hidrokortison.
65