The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Di dalam buku Pedestrian Konsep Active Living mengulas tentang pergerakan atau sirkulasi manusia dari satu tempat (asal) ke tempat lain (tujuan) dengan berjalan kaki. Dalam ranah arsitektur, perencanaan ruang pejalan kaki dapat menimbulkan gerak aktif manusia melalui perancangan elemen-elemen fisik lingkungan yang ramah, livable dan meningkatkan interaksi antar penggunanya.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by irmanasution, 2021-12-27 02:45:36

Pedestrian Kampus Konsep Active Living

Di dalam buku Pedestrian Konsep Active Living mengulas tentang pergerakan atau sirkulasi manusia dari satu tempat (asal) ke tempat lain (tujuan) dengan berjalan kaki. Dalam ranah arsitektur, perencanaan ruang pejalan kaki dapat menimbulkan gerak aktif manusia melalui perancangan elemen-elemen fisik lingkungan yang ramah, livable dan meningkatkan interaksi antar penggunanya.

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
sebagai perlengkapan jalan. Selain itu, kriteria penyediaan sarana pejalan
kaki memperhatikan kriteria ketersediaan (lebar) ruas pada jaringan pejalan
kaki dan tidak mengganggu fungsi utama jaringan pejalan kaki sebagai
tempat pergerakan untuk pejalan kaki. Sarana terdiri dari jalur hijau, lampu
penerangan, tempat duduk, pagar pengaman, tempat sampah, marka, rambu,
papan informasi, halte/shelter bus dan lapak tunggu, dan telepon umum.
Berikut tabulasi kriteria penyediaan prasarana dan sarana jaringan pejalan
kaki.10

Irma Nasution, Dkk. 40

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACT

Tabel 3.1. Kriteria Penyediaan Penyeberangan, Jalur Hij

Fasilitas Aksesibilitas Keselamatan Ken
Penyeberangan harus dapat ruang pejalan a. ja
diakses oleh kaki terpisah
Jalur Hijau semua dari jalur lalu m
pejalan kaki lintas le
termasuk kendaraan dan n
yang memiliki (m
memiliki ketinggian 1
keterbatasan berbeda b. ja
fisik p
terletak antara k
pemilihan jalur pejalan m
jenis kaki dan p
tanaman kendaraan y
yang dapat li
mem
vege
pene
pejal

TIVE LIVING

jau, dan Perabot/Perlengkapan Ruas Pejalan Kaki.

nyamanan Keindahan Kemudahan Interaksi
alur ruang pejalan jalur
memiliki kaki a. jalur memiliki
ebar yang memiliki mudah titik-titik
nyaman material dicapai untuk
minimal penutup dan tidak dapat
1.5 m); tanah yang terhalangi melakukan
alur berpola dan oleh interaksi
pejalan memiliki apapun sosial
kaki daya serap lengkap
memiliki tinggi b. jalur dengan
permukaan harus fasilitasnya
yang tidak memiliki menerus .
icin vegetasi dari titik
miliki dekoratif satu ke vegetasi
etasi yang titik peneduh
eduh lainnya yang lebih
lan kaki banyak
vegetasi juga

berupa

pengarah

pada ruang

Irma Nasution, Dkk. 41

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACT

Perabot berguna terletak pada untu
Jalan/Perlengka sebagai titik-titik yang iklim
pan Ruas penunjuk aman dari lalu
Pejalan Kaki arah lintas a. m
kendaraan ti
perabot k
ruang pejalan n
kaki terletak ti
pada lokasi d
yang mudah b
dijangkau y
s
d
k

b. ta
le
ti
m
g

TIVE LIVING

uk penurun meningkatka pejalan kaki terletak
m mikro n nilai pada titik
estetika terletak pada interaksi
memiliki ruang titik yang sosial
ingkat mudah untuk
kenyamana desain dapat dicapai terletak
n yang mewakili pada titik-
inggi karakter lokal titik
dengan lingkungan integrasi
bahan sehingga sosial agar
yang memiliki dapat
sesuai kualitas memenuhi
dengan estetika yang kebutuhan
kebutuhan baik aktivitas
ata sosial kota
etaknya
idak
menggang
gu alur

Irma Nasution, Dkk. 42

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACT

tata terletak pada p
informasi titik-titik yang k
(signage): aman dari tata l
tata tindakan tidak
informasi vandalisme meng
harus dapat alur
terlihat kaki
dengan
mudah

ramp atau ramp dan mem
pelandaian marka terletak deraj
dan marka pada lokasi kemi
pejalan kaki yang aman yang
berkebutuha dari sirkulasi stand
n khusus kendaraan keny
(difabel): (7%)

TIVE LIVING

pejalan desain dapat terletak pada tata
kaki mewakili lokasi yang informasi
letaknya karakter mudah untuk diletakkan
k lokal- dilihat pada titik
gganggu lingkungan, interaksi
pejalan sehingga terletak pada sosial agar
memiliki titik strategis dapat
miliki kualitas pada arus memenuhi
jat estetika yang pejalan kaki kebutuhan
iringan baik padat ekonomi
g sesuai kawasan
dar memiliki
yamanan penanda ramp dan
) khusus marka
berupa pagar difabel
pembatas mengarah
ataupun garis pada titik
berwarna interaksi
sosial

Irma Nasution, Dkk. 43

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACT

harus dapat
digunakan
oleh
penyandang
disabilitas
dalam
mencapai
tujuan

(Sumber: Permen PU No. 03/PRT/M/2014)

TIVE LIVING

Irma Nasution, Dkk. 44

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Prinsip pemanfaatan sarana dan prasarana jaringan pejalan kaki
diatur berdasarkan jenis kegiatan, waktu pemanfaatan (sesuai kebutuhan),
jumlah pengguna, dan ketentuan teknis yang harus dipenuhi dengan
mempertimbangkan keselamatan, keamanan, kenyamanan, aksesibilitas,
keindahan, dan interaksi sosial.

Prinsip pemanfaatan sarana pejalan kaki terbagi berdasarkan fungsi
antara lain sebagai fungsi sosial dan atau ekologis (taman/jalur hijau)
sepanjang tidak mengganggu fungsi utama prasarana pejalan kaki,
pemanfaatan sebagai fungsi jalur sepeda, pemanfaatan sebagai kegiatan
jual-beli sebagai daya tarik kawasan, sebagai sarana pameran di ruang
terbuka. Pemanfaatan sarana pejalan kaki sebagai ruang pameran
memungkinkan jika lebar ruas pejalan kaki minimal 5 m dan lebar area
berjualan maksimal 3 m atau 1 banding 2 antara lebar jalur pejalan kaki
dengan lebar jalur yang digunakan untuk pameran. Dengan asumsi
pengunjung pameran memanfaatkan separuh lebar jalur pejalan kaki yang
ada. Berikut adalah tabel ketentuan pemanfaatan prasarana jaringan pejalan
kaki.

Irma Nasution, Dkk. 45

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Tabel 3.2. Ketentuan Pemanfaatan Prasarana Jalur Pejalan Kaki.

Aktivitas lain Kriteria persyaratan Tipologi
yang
pemanfaatan a. jalur pejalan kaki
diperbolehkan di sisi jalan
Bersepeda a. lebar badan jalan tidak
memungkinkan jalur b. jalur pejalan kaki
Interaksi sosial bersepeda dikembangkan di sisi air
di badan jalan
Kegiatan c. jalur pejalan kaki
b. jalur pejalan kaki memiliki di kawasan
lebar minimal 5 m yang perdagangan/
digunakan untuk bersepeda perkantoran
memiliki lebar maksimal 3 (arcade)
m, atau memiliki
perbandingan antara lebar d. jalur pejalan kaki
jalur pejalan kaki dan lebar di RTH
area bersepeda 1:1.5
a. jalur pejalan kaki
c. pada umumnya kecepatan di atas tanah
bersepeda adalah 10 – 20
km/jam. Jika kecepatan b. jalur pejalan kaki
minimum yang diinginkan di kawasan
melebihi 20 km/jam, maka perdagangan/
lebar jalur bersepeda dapat perkantoran
diperlebar 60 cm hingga 1 (arcade)
m dengan tidak
mengganggu sirkulasi c. jalur pejalan kaki
pejalan kaki di RTH

a. tidak mengganggu sirkulasi a. jalur pejalan kaki
pejalan kaki di sisi jalan

b. dilengkapi sarana
penunjang terutama pada
area yang ditetapkan
sebagai tempat istirahat
bagi pejalan kaki

a. jarak bangunan ke area
berdagang adalah 1.5 – 2.5

Irma Nasution, Dkk. 46

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Usaha Kecil m, agar tidak menganggu (trotoar)
Formal sirkulasi pejalan kaki
(KUKF) dan b. jalur pejalan kaki memiliki a. jalur pejalan kaki
tempat makan, lebar minimal 5 m yang di sisi jalan
café atau digunakan untuk area (trotoar)
restoran berjualan, dan lebar jalur
pejalan kaki maksimal 3 m,
Aktivitas atau memiliki
pameran di perbandingan antara lebar
ruang terbuka jalur pejalan kaki dan lebar
area berdagang 1:1.5
c. terdapat
organisasi/lembaga yang
mengelola keberadaan
KUKF
d. pembagian waktu
penggunaan jalur pejalan
kaki untuk jenis KUKF
tertentu, diperkenankan di
luar waktu aktif
gedung/bangunan di
depannya
e. dapat menggunakan lahan
privat
f. tidak berada di sisi jalan
arteri baik primer maupun
sekunder dan kolektor
primer dan/atau tidak
berada di sisi ruas jalan
dengan kecepatan
kendaraan tinggi

a. jalur pejalan kaki memiliki
lebar area pameran
minimal 5 m yang
digunakan untuk area
pameran memiliki lebar
jalur maksimal 3 m atau,
atau memiliki

Irma Nasution, Dkk. 47

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Aktivitas perbandingan antara lebar a. sisi luar atau
penyediaan jalur pejalan kaki dan lebar dalam prasarana
jalur hijau area pameran 1:1.5 dengan pejalan kaki
(peneduh) asumsi pengunjung
pameran memanfaatkan b. di samping
Aktivitas separuh lebar jalur pejalan maupun di atas
penyediaan kaki yang ada ruang bebas
sarana pejalan b. mempertimbangkan prasarana pejalan
kaki (perabot keselamatan pengunjung kaki
jalan) dan c. tidak berada di jalan arteri
jaringan utilitas baik primer maupun a. sisi luar atau
(tiang listrik, sekunder dan kolektor dalam prasarana
gardu, kabel, primer dan/atau tidak pejalan kaki
dll) berada di ruas jalan dengan
kecepatan kendaraan tinggi b. di bawah maupun
a. luasan/lebar jaringan di atas ruang
pejalan kaki bebas prasarana
memungkinkan untuk pejalan kaki
aktivitas ini
b. ditempatkan di ruang bebas
jalur pejalan kaki

a. luasan/lebar jaringan
pejalan kaki
memungkinkan untuk
aktivitas ini

b. ditempatkan di ruang bebas
jalur pejalan kaki

c. dapat ditempatkan di jalur
hijau

(Sumber: Permen PU No. 03/PRT/M/2014)

Irma Nasution, Dkk. 48

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

3.3 Kebutuhan Ruang Pejalan Kaki
Berdasarkan Permen PU No.03/PRT/M/2014 tentang Pedoman

Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan
Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan, pertimbangan perumusan perencanaan
jalur pejalan kaki untuk kawasan pendidikan yaitu:
1) Tipologi; trotoar/jalur pejalan kaki di tepi jalan,
2) Standar pelayanan; minimum standar B yaitu jalur pejalan kaki yang

membutuhkan ruang ≥ 3.6 m2/orang, kecepatan rata-rata ≥ 75
meter/menit, dengan volume arus pejalan kaki ≤ 23 orang/meter/menit,
serta volume/kapasitas rasio ≤ 0.28,
3) Fasilitas pejalan kaki; fasilitas pelengkap yang terdiri dari jalur hijau,
lampu, tempat duduk, pagar, tempat sampah, signage, shelter, telepon
umum. Fasilitas penyeberangan sebidang dan fasilitas pejalan kaki
berkebutuhan khusus berupa leretan, marka pejalan kaki berkebutuhan
khusus,
4) Akses pejalan kaki; bangunan ke bangunan, dan area transit transportasi
umum ke bangunan,
5) Persyaratan; keamanan, kenyamanan, keindahan, kemudahan, interaksi
sosial, dan aksesibilitas,

Dalam menerapkan perencanaan sarana dan prasarana jalur pejalan
kaki penting untuk mempertimbangkan kebutuhan ruang jalur pejalan kaki
yang ditentukan oleh dimensi tubuh manusia, ruang jalur pejalan kaki
berkebutuhan khusus, ruang bebas jalur pejalan kaki, jarak minimum jalur
pejalan kaki dengan bangunan, dan kemiringan jalur pejalan kaki.

Irma Nasution, Dkk. 49

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

a. Kebutuhan ruang pejalan kaki berdasarkan dimensi tubuh manusia

Berdasarkan perhitungan dimensi tubuh manusia, kebutuhan ruang

minimum pejalan kaki:

1) Tanpa membawa barang dan keadaan diam yaitu 0.27 m2,

2) Tanpa membawa barang dan keadaan bergerak yaitu 1.08 m2,

3) Membawa barang dan keadaan bergerak yaitu antra 1.35 m2 – 1.62 m2.

Kebutuhan ruang gerak minimum tersebut harus memperhatikan

kondisi perilaku pejalan kaki dalam melakukan pergerakan, baik pada saat

membawa barang, maupun berjalan bersama dengan pelaku pejalan kaki

lainnya dalam kondisi diam dan bergerak (lihat Gambar 3.1 berikut).

Posisi Kebutuhan Ruang

Lebar Luas

Diam 0.27 m2

Bergerak 1.08 m2

Bergerak membawa 1.35 – 1.26 m2
barang

Gambar 3.1. Kebutuhan ruang gerak minimum pejalan kaki.
Irma Nasution, Dkk. 50

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Gambar 3.2. Kebutuhan ruang per orang secara individu, membawa
barang, dan kegiatan berjalan bersama.

b. Ruang jalur pejalan kaki berkebutuhan khusus
Persyaratan khusus ruang bagi pejalan kaki yang mempunyai

keterbatasan fisik (difabel) yaitu sebagai berikut:
1) jalur pejalan kaki memiliki lebar minimum 1.5 m dan luas minimum

2.25 m2,
2) alinemen jalan dan kelandaian jalan mudah dikenali oleh pejalan kaki

antara lain melalui penggunaan material khusus,
Irma Nasution, Dkk. 51

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

3) menghindari berbagai bahaya yang berpotensi mengancam keselamatan
seperti jeruji dan lubang,

4) tingkat trotoar harus dapat memudahkan dalam menyeberang jalan,
5) dilengkapi jalur pemandu dan perangkat pemandu untuk menunjukkan

berbagai perubahan dalam tekstur trotoar,
6) permukaan jalan tidak licin,
7) jalur pejalan kaki dengan ketentuan kelandaian yaitu sebagai berikut:

a) tingkat kelandaian tidak melebihi dari 8% (1 banding 12),
b) jalur yang landai harus memiliki pegangan tangan setidaknya untuk

satu sisi (disarankan untuk kedua sisi). Pada akhir landai setidaknya
panjang pegangan tangan mempunyai kelebihan sekitar 30 cm,
c) pegangan tangan harus dibuat dengan ketinggian 80 cm diukur dari
permukaan tanah dan panjangnya harus melebihi anak tangga
terakhir,
d) seluruh pegangan tangan tidak diwajibkan memiliki permukaan yang
licin; dan
e) area landai harus memiliki penerangan yang cukup.

Ketentuan untuk fasilitas bagi pejalan kaki berkebutuhan khusus yaitu
sebagai berikut:
1) ramp atau pelandaian diletakan di setiap persimpangan, prasarana ruang

pejalan kaki yang memasuki pintu keluar masuk bangunan atau
kaveling, dan titik-titik penyeberangan,
2) jalur difabel diletakkan di sepanjang prasarana jaringan pejalan kaki,
3) pemandu atau tanda-tanda bagi pejalan kaki yang antara lain meliputi:
tanda-tanda pejalan kaki yang dapat diakses, sinyal suara yang dapat

Irma Nasution, Dkk. 52

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

didengar, pesan-pesan verbal, informasi lewat getaran, dan tekstur ubin
sebagai pengarah dan peringatan.

Ketentuan mengenai standar penyediaan jalur pejalan kaki
berkebutuhan khusus secara lebih rinci mengacu pada pedoman mengenai
teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan.

Gambar 3.3. Kebutuhan ruang gerak minimum pejalan kaki berkebutuhan
khusus.

c. Ruang bebas jalur pejalan kaki
Perencanaan dan perancangan jalur pejalan kaki harus

memperhatikan ruang bebas. Ruang bebas jalur pejalan kaki memiliki
kriteria sebagai berikut:
1) memberikan keleluasaan pada pejalan kaki,
2) mempunyai aksesibilitas tinggi,
3) menjamin keamanan dan keselamatan,
4) memiliki pandangan bebas terhadap kegiatan sekitarnya maupun koridor

jalan keseluruhan,
Irma Nasution, Dkk. 53

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
5) mengakomodasi kebutuhan sosial pejalan kaki.
Spesifikasi ruang bebas jalur pejalan kaki ini yaitu sebagai berikut:
1) memiliki tinggi paling sedikit 2.5 m,
2) memiliki kedalaman paling sedikit 1 m,
3) memiliki lebar samping paling sedikit dari 30 cm.

Kriteria dan spesifikasi ruang bebas jalur pejalan kaki dimaksud
harus diperhatikan dalam penempatan utilitas/perlengkapan lainnya.
Kebutuhan ruang bebas di atas menggambarkan kebutuhan ruang untuk
orang per orang beserta kegiatan yang dilakukannya. Ilustrasi untuk ruang
bebas jalur pejalan kaki dapat dilihat pada Gambar 3.3 berikut:

Gambar 3.4. Ruang bebas jalur pejalan kaki.

Irma Nasution, Dkk. 54

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
d. Jarak minimum jalur pejalan kaki dengan bangunan

Jaringan pejalan kaki di perkotaan dapat berfungsi untuk berbagai
tujuan yang beragam. Gambar 3.4 menunjukkan bahwa secara umum ruas
pejalan kaki di depan gedung terdiri dari jalur bagian depan gedung, jalur
pejalan kaki, dan jalur perabot jalan. Jaringan pejalan kaki memiliki
perbedaan ketinggian baik dengan jalur kendaraan bermotor ataupun dengan
jalur perabot jalan. Perbedaan tinggi maksimal antara jalur pejalan kaki dan
jalur kendaraan bermotor adalah 20 cm, sementara perbedaan ketinggian
dengan jalur hijau 15 cm.

Irma Nasution, Dkk. 55

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Gambar 3.5. Jalur pada ruas pejalan kaki.
Irma Nasution, Dkk. 56

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

1) Jalur bagian depan gedung
a) Jalur bagian depan gedung adalah ruang antara dinding gedung dan
jalur pejalan kaki. Pejalan kaki biasanya akan tidak merasa nyaman
bila berjalan kaki secara langsung berdekatan dengan dinding gedung
atau pagar. Untuk itu jarak minimum setidaknya berjarak 75 cm dari
jarak sisi gedung atau tergantung pada penggunaan area ini. jalur
bagian depan dapat ditingkatkan untuk memberikan kesempatan
untuk ruang tambahan bagi pembukaan pintu atau kedai kopi disisi
jalan, serta kegiatan lainnya,
b) Bagi orang yang memiliki keterbatasan indera penglihatan dan sering
berjalan di area ini, dapat menggunakan suara dari gedung yang
berdekatan sebagai orientasi, atau bagi tunanetra pengguna tongkat
dapat berjalan dengan jarak antara 30 cm hingga 1.2 m dari
bangunan,
c) Bagian depan harus bebas dari halangan atau berbagai obyek yang
menonjol. Jalur bagian depan gedung juga harus dapat dideteksi oleh
tunanetra yang menggunakan tongkat yang panjang.

2) Jalur pejalan kaki
a) Jalur pejalan kaki adalah ruang yang digunakan untuk berjalan kaki
atau menggunakan kursi roda bagi penyandang disabilitas secara
mandiri dan dirancang berdasarkan kebutuhan orang untuk bergerak
aman, mudah, nyaman dan tanpa hambatan;
b) Jalur pejalan kaki ini merupakan ruang dari koridor sisi jalan yang
secara khusus digunakan untuk area pejalan kaki. Ruas ini harus
dibebaskan dari seluruh rintangan, berbagai obyek yang menonjol
Irma Nasution, Dkk. 57

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

dan penghalang vertikal paling sedikit 2.5 m dari permukaan jalur
pejalan kaki yang berbahaya bagi pejalan kaki dan bagi yang
memiliki keterbatasan indera penglihatan;
c) Lebar jalur pejalan kaki bergantung pada intensitas penggunaannya
untuk perhitungan lebar efektifnya. Jalur pejalan kaki ini setidaknya
berukuran lebar 1.8 hingga 3 m atau lebih untuk memenuhi tingkat
pelayanan yang diinginkan dalam kawasan yang memiliki intensitas
pejalan kaki yang tinggi. Lebar minimum untuk kawasan pertokoan
dan perdagangan yaitu 2 m. Kondisi ini dibuat untuk memberikan
kesempatan bagi para pejalan kaki yang berjalan berdampingan atau
bagi pejalan kaki yang berjalan berlawanan arah satu sama lain;
d) Jalur yang digunakan untuk pejalan kaki di jalan lokal dan jalan
kolektor adalah 1.2 m, sedangkan jalan arteri adalah 1.8 m. Ruang
tambahan diperlukan untuk tempat pemberhentian dan halte bus
dengan luas 1.5 m x 2.4 m;
e) Jalur pejalan kaki tidak boleh kurang dari 1.2 m yang merupakan
lebar minimum yang dibutuhkan untuk orang yang membawa seekor
anjing, pengguna alat bantu jalan, dan para pejalan kaki;
f) Jalur pejalan kaki memiliki perbedaan ketinggian dengan jalur
kendaraan bermotor. Perbedaan tinggi maksimal antara jalur pejalan
kaki dengan jalur kendaraan bermotor adalah 20 cm.

3) Jalur perabot jalan
a) Jalur perabot jalan dapat berfungsi sebagai ruang yang membatasi
jalur lalu-lintas kendaraan dengan area pejalan kaki;

Irma Nasution, Dkk. 58

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

b) Jalur perabot jalan ini berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan
berbagai elemen perabot jalan (hidran air, kios, telepon umum,
bangku taman, penanda, dan lain-lain);

c) Lebar minimal jalur perabot jalan ini paling sedikit 60 cm;
d) Jika jalur perabot jalan dimanfaatkan sebagai jalur hijau yang

berfungsi sebagai penyangga yang ditanami dengan pohon dan
tanaman hias maka lebar minimalnya 1.5 m. Jalur ini disebut jalur
hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang
pada umumnya berwarna hijau.
e) Jalur perabot jalan memiliki perbedaan ketinggian dengan jalur
pejalan kaki. Perbedaan tinggi maksimal antara jalur perabot jalan
dengan jalur pejalan kaki adalah 15 cm.

e. Kemiringan jalur pejalan kaki
Kemiringan jalur pejalan kaki terdiri atas:
1) kemiringan memanjang yang kriterianya ditentukan berdasarkan
kemampuan berjalan kaki dan tujuan desain;
2) kemiringan melintang yang kriterianya ditentukan berdasarkan
kebutuhan untuk drainase serta material yang digunakan pada jalur
pejalan kaki.
Pada kemiringan memanjang, kemiringan maksimal sebesar 8% dan

disediakan bagian yang mendatar dengan panjang minimal 1.2 m pada
setiap jarak maksimal 9 m. Sedangkan pada kemiringan melintang
kemiringan minimal sebesar 2% dan kemiringan maksimal sebesar 4%.
Dalam kondisi tidak memungkinkan untuk menyediakan kemiringan
memanjang, kemiringan dimaksud dapat digantikan dengan penyediaan

Irma Nasution, Dkk. 59

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
anak tangga. Prinsip perencanaan sarana jaringan pejalan kaki yaitu tidak
mengganggu dan mendukung fungsi prasarana jaringan pejalan kaki yang
direncanakan atau sudah ada.

Gambar 3.6. Kemiringan Jalur Pejalan Kaki.

Irma Nasution, Dkk. 60

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

BAB 4
ACTIVE LIVING DALAM ARSITEKTUR

4.1 Active Design
Active design adalah istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh

Kota New York untuk menggambarkan rancangan setiap bagian lingkungan
binaan dengan tujuan untuk meningkatkan kegiatan fisik dan menjalani
gaya hidup yang lebih sehat di dalam kota sehari-hari. Pedoman active
design ditulis oleh tujuh lembaga Kota New York sebagai bagian dari
American Institute of Architects. Pedoman berisi 136 halaman uraian
strategi berdasarkan hasil penelitian untuk memenuhi tujuan tersebut.
Pedoman ditulis untuk mencegah peningkatan penyakit obesitas dan
diabetes, yaitu terkait dengan populasi konsumsi kalori berlebih dan
pengeluaran energi manusia yang rendah sebagai isu penting di Amerika
dan seluruh dunia. Peneliti dan desainer juga mulai mengembangkan desain
dengan pendekatan active design, tetapi belum ada yang merilis temuan
selengkap dan holistik seperti tertera dalam pedoman active design.

Active design diatur secara berbeda dengan bentuk transportasi dan
sirkulasi menetap. Saat ini tujuan sebagian besar desainer, pemilik
bangunan dan perencana kota telah membuat bangunan dan kota untuk
dapat dilalui semudah mungkin. Lift, escalator, jalan raya, dan banyak
tempat parkir telah mendorong gaya hidup menetap, sementara posisi
tangga selalu berada di belakang gedung yang jarang digunakan. Kondisi ini
mendorong hidup yang tidak banyak bergerak atau pasif.

Weavers (2021) mengajukan sebuah jawaban sederhana untuk
memerangi obesitas dengan pernyataan sebagai berikut: “jika anda

Irma Nasution, Dkk. 61

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

sungguh-sungguh untuk memerangi obesitas, anda harus membuat semua
bangunan yang ada di London tanpa lift sebagai alat transportasi vertikal,
maka orang-orang akan kembali sehat”.12 Beberapa pusat bisnis dan
bangunan publik di Kota New York pada saat itu sangat ingin menciptakan
gerak aktif manusia dengan berbagai cara, bahkan dengan cara memasang
seluncur di ruang hall atau atrium seperti pada ruang dalam gedung Corus
di Toronto dan Tate Modern Art di London (lihat Gambar 4.1).

a) b)
Gambar 4.1. a) Interior Tate Modern London, b) Interior Corus Building

Toronto
Bangunan lain seperti Tom Mayne’s Federal Building di San
Fransisco dilengkapi dengan lift yang hanya berhenti di setiap tiga lantai
(tidak termasuk lift umum yang biasa diakses), tujuannya adalah untuk
memaksa orang yang sehat secara fisik untuk menggunakan tangga.
Bangunan-bangunan ini menjadi bukti bahwa pemilik bangunan dan arsitek
telah sadar akan kebutuhan untuk mendorong gerak aktif melalui desain
lingkungan binaan.

Irma Nasution, Dkk. 62

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Konsep active design berdasarkan teori Jan Gehl (2010) adalah
kawasan yang sehat dan memiliki pergerakan yang aktif, yaitu bersepeda
dan berjalan kaki sebagai pergerakan alami manusia.13 Dalam menentukan
rancangan lingkungan, misalnya pedestrian dengan konsep active living,
pejalan kaki tidak perlu melakukan aktivitas sebagai bukti pergerakan aktif,
akan tetapi lingkungan atau kawasan yang dirancang dengan sendirinya
telah menyediakan ruang-ruang bagi aktivitas tersebut. Beberapa elemen
yang dapat meningkatkan gerak aktif di ruang luar antara lain dengan
menerapkan instalasi seni yang interaktif, desain kanopi selasar yang
interaktif, simpul-simpul aktivitas misalnya book stand, landmark atau
tengaran yang dapat dijadikan titik temu atau meeting point.

a)

b) c)
Gambar 4.2. Elemen-elemen active desain pendukung gerak aktif di ruang

luar.
a) Bangku, b) rak buku, c) terowongan pejalan kaki

Irma Nasution, Dkk. 63

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

4.2 Pedoman Active Design
Ringkasan eksekutif dari Pedoman Active Design merangkum

dengan baik tentang desain aktif, tanggapan dan mengapa desain itu
dibutuhkan. Pernyataan terkait hal berikut: “peningkatan obesitas terkait
dengan konsumsi kalori yang berlebihan dan jumlah energi yang
dikeluarkan oleh manusia tergolong rendah”. Kedua alasan itu dibentuk
oleh lingkungan binaan tempat manusia tinggal, bekerja dan bermain. Saat
ini, desain-desain arsitektur dan kota telah mendukung gaya hidup sehat dan
aktif dibandingkan hidup sebaliknya. Desain aktif merupakan desain
lingkungan yang mendorong aktivitas berjalan kaki, panjat tebing, berjalan
menaiki tangga, bersepeda, penggunaan transit, rekreasi aktif, dan pola
makan yang sehat. Pola hidup yang tidak aktif dan sehat, serta kebiasaan
merokok menjadi penyebab utama kematian dini di Amerika dan hal ini
menjadi alasan dikembangkan desain-desain arsitektur yang memotivasi
gerak aktif. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa strategi-strategi
perencanaan kota dan arsitektur dapat meningkatkan aktivitas fisik dan pola
makan sehat yang teratur.14

Pedoman Active Design menyatakan bahwa desain lingkungan
binaan akan sangat penting dalam memerangi obesitas, yaitu salah satu isu
penyakit yang sangat menekan, seperti desain lingkungan yang dibangun di
masa lalu untuk mengalahkan penyakit menular. Misalnya, pada tahun 1940
di New York terdapat perubahan sosial yang telah berhasil mengendalikan
infeksi penyakit kolera dan TBC melalui strategi-strategi desain lingkungan,
bahkan sebelum ditemukannya antibiotik dan teknologi pengobatan modern
lainnya.14 strategi-strategi itu dilakukan dengan memperbaiki bangunan,

Irma Nasution, Dkk. 64

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

jalan, lingkungan tempat tinggal, sisten air bersih, dan taman. Berdasarkan
praktik baik dari penelitian terdahulu dan pengembangan pembiayaan yang
efektif sebagai solusi di lapangan, Pedoman Active Design menunjukkan
cara-cara pembiayaan yang efektif dalam berkontribusi untuk Kota New
York yang lebih hidup dan ramah di masa mendatang.

Pedoman menyajikan strategi-strategi untuk perancangan lingkungan
tempat tinggal, jalan, ruang luar yang mendorong transportasi dan rekreasi
aktif, termasuk berjalan kaki dan bersepeda. Adapun kriteria-kriteria desain
yang direkomendasikan antara lain:
1) Pengembangan dan pemeliharaan tata guna lahan campuran dalam

lingkungan tempat tinggal perkotaan;
2) Peningkatan akses ke transit dan fasilitasnya;
3) Peningkatan akses ke plaza, taman, ruang luar, dan fasilitas rekreasi dan

desain ruang-ruang rekreasi untuk memaksimalkan aktivitas yang
digunakan secara layak;
4) Peningkatan akses penuh ke layanan pertokoan barang kebutuhan rumah
tangga;
5) Desain yang dapat diakses, jalan raya yang ramah pejalan kaki dengan
keterhubungan yang tinggi, fitur-fitur lalu lintas yang menenangkan,
lanskap, penerangan, tempat duduk, dan air mancur;
6) Fasilitas bersepeda untuk rekreasi dan transportasi dengan
mengembangkan jaringan jalur sepeda yang menerus dan
menggabungkan infrastruktur yang aman seperti parkir di dalam dan
luar bangunan.

Irma Nasution, Dkk. 65

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Upaya dan kesempatan menciptakan aktifitas sehari-hari dapat
dilakukan dengan kegiatan-kegiatan di luar dan dalam bangunan. Para
arsitek dapat membantu penghuni bangunan untuk melakukan kegiatan fisik
sehari-hari secara rutin melalui kriteria berikut:
1) Meningkatkan penggunaan tangga oleh orang yang berbadan sehat

dengan meletakkan posisi tangga yang nyaman untuk penggunaan
sehari-hari, membuat rambu-rambu yang memotivasi untuk mendorong
penggunaan tangga, dan merancang tangga yang dapat terlihat, menarik
dan nyaman;
2) Meletakkan fungsi bangunan untuk mendorong gerak aktif berjalan kaki
untuk berbagi ruang seperti ruang makan dan ruang surat, menyediakan
rute menarik yang mendukung mendukung dalam bangunan;
3) Menyediakan fasilitas yang mendukung latihan fisik seperti ruang
aktivitas fisik yang terlihar, kamar mandi, ruang ganti, penyimpanan
sepeda yang aman, dan water fountain;
4) Perancangan massa dan eksterior bangunan yang berkontribusi pada
lingkungan kota yang ramah pejalan kaki dan mencakup variasi
maksimum dan transparansi, beberapa entri dan kanopi.

Manfaat active design tidak hanya untuk kesehatan publik tetapi juga
untuk lingkungan dan desain maju yang universal. Populasi yang beragam,
aktif, dan sehat dan planet yang berkelanjutan adalah sinergis. Desainer
memiliki peran penting dalam mengatasi epidemi yang berkembang pesat
seperti obesitas dan penyakit kronis terkait, terutama bukti ilmiah yang
meningkat secara bertahap menunjukkan dampak desain lingkungan pada
aktivitas fisik dan pola makan sehat. Dengan mengadopsi strategi dalam

Irma Nasution, Dkk. 66

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Pedoman Active Design, arsitek dan perancang kota dapat membantu
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan penduduk.

4.3 Implementasi Active Design
Active design merupakan suatu gerakan yang mempromosikan hidup

sehat, secara fisik dan mental. Hidup sehat secara fisik dan mental
dilakukan oleh gerak aktif tubuh yang dilakukan sehari-hari, seperti
bersepeda, berjalan kaki, menari, senam, yoga, berkebun, memasak, dan
lain-lain. Manfaat yang diperoleh dengan menerapkan gaya hidup aktif akan
meningkatkan aktivitas fisik, bertemu orang baru, relaksasi atau hidup lebih
tenang, kualitas tidur cukup, dan kesenangan psikologis lainnya. Selain
meningkatkan kondisi fisik yang baik, active design juga mampu
meningkatkan kesehatan mental, mengurangi resiko penyakit kronis, dan
meningkatkan kualitas hidup.

Gerak aktif manusia secara fisik dan psikologi di ruang-ruang
arsitektur semestinya difasilitasi dengan strategi-strategi desain yang dapat
membawa perubahan besar dengan sistem “hidup aktif atau active living”.
Alih-alih mengabaikan, perencana penting mempertimbangkan kebutuhan
pengguna sebagai fokus utama dalam perancangan lingkungan binaan.
Menurut Youth Risk Behavior Surveillance Sistem, 13.9 % siswa sekolah
menengah mengalami obesitas, dan 16 % mengalami kelebihan berat badan.
Orang dewasa berusia 40 - 59 tahun (39.5 %) memiliki obesitas lebih tinggi
daripada orang dewasa berusia 20 - 39 tahun (30.3 %) dan usia lebihh 60
(35,4 %).15 Perancang memiliki peran penting untuk menekan angka resiko
ini untuk menciptakan lingkungan yang layak huni dengan perencanaan

Irma Nasution, Dkk. 67

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

yang strategis melalui peningkatan sistem jalan, pola lingkungan, dan
lainnya. Strategi desain yang dilakukan dapat berupa pertimbangan
menggunakan sepeda atau berjalan daripada berkendara, menggunakan
tangga daripada lift, berinteraksi daripada menyendiri, rekreasi aktif
daripada menonton televisi. Desain-desain yang dihasilkan harus mampu
mendorong aktivitas berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi aktif lainnya.
Rekomendasi desain yang disarankan untuk mendorong pergerakan aktif
manusia meliputi: 1) meningkatkan sistem transit, 2) akses mudah ke ruang
rekreasi (taman, alun-alun, ruang terbuka) untuk memaksimalkan aktivitas
fisik, 3) jalur jalan ramah pejalan kaki (yang dilengkapi lanskap, lampu,
bangku, dan air mancur), dan 4) meningkatkan jaringan bersepeda. Terdapat
lima parameter desain yang mendasar untuk meningkatkan transportasi dan
pergerakan pejalan kaki yaitu, kepadatan, keragaman, desain yang baik,
tujuan dan akses transit. Beberapa desain bangunan yang mempromosikan
aktivitas fisik antara lain; sistem parkir dan transit, fasilitas rekreasi (taman
dan ruang terbuka), plaza, konektivitas jalan dan lalu lintas (ke ruang
pejalan kaki).

Gerak aktif paling sederhana untuk menunjang transportasi di dalam
kota adalah berjalan kaki. Berjalan kaki membutuhkan suatu wadah ruang
yang dinamakan jalur pedestrian. Pedestrian berasal dari bahasa Yunani;
pedos, yang berarti berjalan kaki.16 Pedestrian berakar dari kata
pedesterpedestris yang berarti orang yang berjalan kaki. Pedestrian juga
dapat diartikan sebagai pergerakan, sirkulasi, atau perpindahan manusia dari
satu titik asal ke tempat lain sebagai tujuan dengan berjalan kaki. Berjalan
kaki lebih dari sekedar perpindahan linear dari satu tempat ke tempat lain.

Irma Nasution, Dkk. 68

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Pejalan kaki dapat berhenti untuk berganti arah, bermanuver, mempercepat
langkah, memperlambat langkah atau berganti ke aktivitas lain seperti
duduk, berlari, berbaring, berdansa. Lebih dari sekedar transportasi, proses
berjalan kaki menangkap kehidupan di dalam kota, seperti pernyataan Jan
Gehl yaitu “life happens on foot”.13

Secara umum, setiap manusia memiliki batas kemampuan fisik.
Proses berjalan kaki juga memiliki batas karena merupakan aktivitas fisik.
Batas ini memiliki parameter yang dinamakan walkability atau kemampuan
berjalan kaki. Walkability merupakan sebuah kata sifat yang menunjukkan
seberapa ramah lingkungan binaan dari suatu pedestrian dan seberapa
mudah pejalan kaki dapat melakukan perjalanannya melalui jalur
pedestrian.17

Berjalan kaki merupakan gerak aktif yang paling sederhana dalam
mencapai gaya hidup active living. Dalam menata suatu kawasan agar
menjadi lebih sehat, maka ada kepentingan untuk menata suatu lingkungan
binaan yang dapat mewadahi gerak fisik yang lebih aktif melalui konsep
active living. Dalam merancang ataupun membangun suatu lingkungan
dengan tujuan active living, individu tidak perlu melakukan aktivitas fisik,
akan tetapi dengan sendirinya aktivitas ini telah disediakan dalam
lingkungan sekitar. Artinya kesempatan untuk bergerak aktif sudah tersedia
ketika seseorang keluar dari suatu tempat atau rumah. Menurut Shirvani
(1985) jalur pedestrian merupakan wadah atau tempat gerak sirkulasi bagi
penduduk suatu kota atau kawasan, yang mana berfungsi untuk membentuk,
mengontrol, dan mengarahkan pola aktivitas dan perkembangan suatu
kawasan.18 Merancang jalur pedestrian yang baik dalam ruang publik

Irma Nasution, Dkk. 69

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

dengan menerapkan konsep active living mampu memberi kontribusi positif
yaitu kawasan menjadi lebih baik dan membuat masyarakat di kawasan
tersebut menjadi lebih sehat.

Strategi dalam menyediakan ruang bagi pejalan kaki harus
mempertimbangkan kepentingan dan kebutuhan pengguna, yaitu pejalan
kaki. Ukuran, tekstur, dan detail harus berdasarkan skala manusia dan
kecepatan berjalan kaki. Desain dalam skala kecil harus dirancang untuk
dapat berkontribusi dalam skala yang lebih besar dan memiliki
keberlangsungan, serta hubungan yang erat pada lingkungan sekitar. Desain
juga harus mampu menyediakan beragam kesempatan dan transparansi
seperti; pertokoan, kios, plaza, di sepanjang jalur untuk menghidupkan
lingkungan di ruang pejalan kaki. Strategi kanopi atau naungan yang tampil
menarik dari jalur pejalan kaki ke bangunan menjadi penting untuk
memberi kenyamanan pejalan kaki dari gangguan matahari dan hujan.
Sinergitas harus dibangun antara ruang pejalan kaki dengan lingkungannya
seperti; bangunan, drainase, jalan lingkungan, tempat parkir, ruang terbuka
hijau dan publik, serta jalur sepeda. Sinergi yang dibangun tidak
membutuhkan adaptasi dari pengguna, akan tetapi secara efektif dapat
digunakan oleh semua orang, termasuk orang dengan kebutuhan khusus.
Peningkatan aktivitas fisik dapat dilakukan melalui penyediaan bangku,
penerangan, air mancur, tengaran, instalasi seni, papan informasi yang jelas,
plaza dan jalur yang merangsang secara visual di sepanjang ruang pejalan
kaki.

Irma Nasution, Dkk. 70

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

BAB 5
PERANCANGAN PEDESTRIAN KAMPUS

5.1 Pedestrian Kampus
Kampus adalah sebuah kawasan atau lingkungan yang terintegrasi

dan dilengkapi oleh infrastruktur berupa gedung kuliah, gedung serbaguna,
kantor departemen, biro rektor, fasilitas olahraga, ruang terbuka, serta
fasilitas transportasi internal yaitu jalan, pedestrian, dan parkiran. Ruang
pejalan kaki di kampus memiliki peranan penting dalam sirkulasi kegiatan
mahasiswa di dalam maupun di luar kampus. Alur sirkulasi mahasiswa,
terutama pejalan kaki, dalam lingkungan kampus terjadi di ruang luar dan
pedestrian. Dalam upaya mewujudkan jalur pejalan kaki yang memenuhi
standar dan memotivasi pejalan kaki beraktivitas di dalam kampus, maka
dibutuhkan jalur pedestrian yang sesuai standar dan mengakomodasi gerak
aktif melalui pendekatan active design. Terwujudnya kawasan kampus yang
mengakomodasi gerak aktif bertujuan meningkatkan gaya hidup lebih sehat
dan aktif. Gaya hidup yang sehat dan gerak aktif tidak hanya dilakukan oleh
aktivitas aktif, tetapi lingkungan atau kawasan yang dirancang menyediakan
ruang-ruang bagi aktivitas aktif tersebut. Lingkungan yang mendukung
gerak aktif akan mengurangi penggunaan kenderaan bermotor untuk
mencapai tujuan di dalam kampus, mengurangi kemacetan, polusi, dan
kepadatan sirkulasi kenderaan bermotor yang berlebihan. Perancangan
pedestrian yang mengusung konsep active living dapat menjadi solusi
meningkatkan aktivitas mahasiswa di ruang terbuka publik dan minat
pejalan kaki menggunakan pedestrian kampus.

Irma Nasution, Dkk. 71

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Lingkungan kampus sangat erat kaitannya dengan aktivitas
keseharian mahasiswa. Rutinitas mahasiswa terjadi diantara jeda waktu
istirahat dan jadwal perkuliahan yang padat. Rutinitas ini memungkinkan
terjadinya perpindahan aktivitas dari satu ruang (kelas atau gedung) ke
ruang lain yang terjadi di dalam maupun di luar bangunan.19 Salah satu
tempat perpindahan aktivitas di luar ruang dapat terjadi di ruang-ruang
pejalan kaki yaitu pedestrian. Aktivitas pejalan kaki harus di dorong oleh
kelancaran sirkulasi di dalam lingkungan kampus melalui perencanaan rute
yang jelas, aman, nyaman, mudah diakses, menyenangkan dan mendukung
interaksi sosial di ruang terbuka publik antar warga kampus (sivitas
akademika).17

Merencanakan dan merancang ruang pejalan kaki tidak lepas dari
dua variabel penting yaitu pengguna dan kenyamanan. Variabel pengguna
penting untuk membangun pemahaman terkait kebutuhan ruang, waktu
penggunaan, jenis aktivitas dan pengalaman, jumlah dan karakter aktivitas.
Variabel kenyamanan antara lain berhubungan dengan aksesibilitas,
keamanan, kesehatan, kejelasan dan estetika jalur yang akan direncanakan.
Teciptanya keamanan dan kenyamanan berjalan kaki yang dipengaruhi
kedua variabel dilengkapi oleh fasilitas jalan meliputi street furniture,
pohon peneduh dan perdu, penyeberangan, lampu penerangan, rambu dan
signage atau penunjuk arah.20 Variabel yang digunakan untuk
menghasilkan pedestrian aktif adalah pemilihan material perkerasan,
kemiringan jalur, dan dimensi jalur (lebar dan tinggi) yang sesuai dengan
berbagai fungsi dan kebutuhan. Jika variabel tidak sesuai standar dan
perencanaan yang tepat, maka akan membahayakan keselamatan pejalan

Irma Nasution, Dkk. 72

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

kaki dan menyebabkan kecelakaan kecil. Variabel-variabel ini dapat
membahayakan keselamatan pejalan kaki dan menyebabkan kecelakaan
kecil karena tidak sesuai standar dan perencanaan yang tidak tepat.21 Jalur
pedestrian juga harus memiliki keterhubungan yang jelas dan direncanakan
di titik keluar-masuk kawasan, keterhubungan dari jalur pedestrian ke
gedung-gedung kampus melalui selasar. Kebutuhan jalur menerus termasuk
ketersediaan rute jalan pintas, yaitu melalui selasar, footpath maupun jalur
pedestrian yang telah ada sebelumnya.22 Jalur pejalan kaki yang
menciptakan gerak aktif merupakan jalur yang dirancang agar pengguna
melakukan pergerakan alami melalui aktivitas berjalan kaki dan
bersepeda.10 Lingkungan kampus yang livable dan ramah adalah kampus
yang mengutamakan ruang-ruang bagi aktivitas dan interaksi penggunanya.
Tersedianya jalur sepeda dan elemen pedestrian yang menciptakan aktivitas
aktif seperti plaza, landmark, instalasi seni, desain selasar dan parkiran
sepeda yang menarik dapat menjadi pertimbangan dalam mengembangkan
desain pedestrian kampus. Pengguna merupakan aspek penting yang harus
dipertimbangkan dalam merancang pedestrian kampus guna meningkatkan
gerak aktif dan interaksi di ruang terbuka publik. Variabel kenyamanan,
keamanan, dan aktivitas merupakan bagian penting yang saling melengkapi
dalam proses perencanaan pedestrian. Keseluruhan aspek tersebut menjadi
aspek yang valid sebagai teori dalam merencanakan pedestrian kampus
yang mengusung konsep active living.

Irma Nasution, Dkk. 73

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

5.2 Proses Perancangan
Berpikir desain adalah sebuah metodologi desain, filosofi,

pendekatan berbasis solusi untuk memecahkan masalah.23 Berpikir desain
sangat berguna untuk menyelesaikan permasalahan kompleks yaitu dengan
memahami masnusia yang terlibat, dengan membingkai ulang masalah,
dengan cara yang berpusat pada manusia, dengan menciptakan banyak ide
dalam sesi brainstorming, dan dengan mengadopsi pendekatan langsung
dalam pembuatan ide prototipe dan pengujian.

Dalam proses berpikir desain ada lima tahapan yang harus dilalui oleh
seorang perancang untuk menghasilkan produk rancangan. Proses berpikir
desain fokus pada inovasi dan solui, serta dilakukan dari sudut pandang
manusia atau pengguna produk yang akan diciptakan. Tahapan itu adalah
empathize, define, ideate, prototype, dan test. Empathize adalah tahapan
berempati kepada pengguna atau segolongan orang yang memiliki masalah
yang harus diselesaikan. Proses ini berlangsung dengan melakukan
wawancara mendalam terkait permasalahan yang dialaminya. Perancang
harus melihat permasalahan dari sudut pandang pengguna dan meletakkan
diri di posisi pengguna. Perancang harus memiliki kemampuan mengenali,
memahami, dan mempelajari setiap permasalahan secara mendalam hingga
menemukan karakteristik permasalahannya. Define adalah tahapan yang
dilakukan untuk mengumpulkan informasi atau mendefinisikan
permasalahan yang dihadapi dan dibutuhkan oleh pengguna. Tahapan ini
tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi melakukan analisis dan sistesis
untuk menentukan masalah utama yang akan diidentifikasi. Dengan kata
lain, tahapan ini adalah penetapan masalah yang akan dicari solusi di

Irma Nasution, Dkk. 74

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

tahapan berikutnya. Ideate adalah tahapan untuk menghasilkan ide-ide
sebagai solusi dari permasalahan pengguna. Ide-ide dalam perancangan
arsitektur berupa gambar sketsa sebagai solusi awal untuk menghindari
masalah-masalah yang terjadi kemudian. Sejumlah ide baru yang dihasilkan
kemudian dipilih sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan nyata. Ide-ide
baru dapat dikolaborasi dengan ide-ide terdahulu dengan membuat sketsa
final dan model atau prototipe sederhana dari solusi yang inovatif. Prototipe
harus dapat digunakan atau diuji. Tahapan ini disebut prototype. Tahapan
akhir adalah melakukan pengujian atau evaluasi prototipe yang telah dibuat.
Pengujian dilakukan kepada pengguna yang menjadi subyek wawancara di
awal tahapan desain. Pengujian dilakukan untuk membuat perubahan dan
penyempurnaan terhadap solusi yang ditawarkan. Kelima tahapan dapat
terjadi berulang-ulang dari satu tahap ke tahap lainnya untuk menyingkirkan
masalah dan membuat pemahaman mendalam tentang produk dan
penggunanya. Gambar 5.1 berikut menunjukkan proses atau tahapan dalam
berpikir desain yang dikembangkan oleh Institut Desain Hasso-Plattner di
Stanford Design School.

Irma Nasution, Dkk. 75

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Gambar 5.1. Proses berpikir desain
(Sumber: Stanford Design School) 24
Perancangan pedestrian kampus konsep active living muncul dari
permasalahan pengguna (sivitas akademika) yang beraktivitas di jalur
pedestrian. Karakteristik masalah pedestrian kampus terkait kelengkapan
fasilitas dan desain yang tidak sehat, tidak meningkatkan gerak aktif di
ruang-ruang luar seperti berjalan kaki, berinteraksi, dan bersepeda. Ide-ide
untuk menyelesaikan permasalahan pejalan kaki di pedestrian adalah
dengan memberi solusi desain yang menciptakan gerak aktif melalui
pendekatan estetika dan menerapkan fitur-fitur ruang luar yang interaktif.
Sehingga lingkungan kampus menjadi lebih ramah dan livable bagi
penghuninya. Pada proses perancangan dihasilkan ide-ide terkait dimensi
jalur, penataan jalur sepeda dan pejalan kaki yang jelas, selasar yang
menjadi point of interest lingkungan, serta plaza yang dilengkapi fitur-fitur
ruang interaktif dalam bentuk landmark, book stand, instalasi seni dan
kelengkapan street furniture yang menjadi generator gerak kawasan. Ide-ide

Irma Nasution, Dkk. 76

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

tersebut dituang dalam bentuk sketsa 2 dimensi dan 3 dimensi untuk
memberikan gambaran suasana dan solusi permasalahan pedestrian
sebelumnya. Pada tahap akhir yaitu pengujian ide-ide dapat dilakukan
dengan cara diskusi grup bersama pengguna dan tenaga ahli bidang
arsitektur untuk memperoleh tanggapan terhadap penyempurnaan solusi.

5.3 Konsep Perancangan Pedestrian
Konsep adalah gagasan yang memadukan berbagai unsur ke dalam

satu kesatuan. Unsur-unsur yang dikembangkan dalam konsep berupa
gagasan, pendapat, dan pengamatan. Konsep adalah bagian penting dalam
perancangan arsitektur yang dikemukakan dengan cara tertentu dalam
sebuah rencana, konteks, dan keyakinan.25 Konsep merupakan antitesis dari
ide-ide yang belum dianggap tepat. Konsep mengandung kelayakan, artinya
konsep mengandung tujuan dan cita-cita utama dalam sebuah rancangan
yang mempertimbangkan karakteristik dan keterbatasan yang dimiliki oleh
sebuah rancangan. Suatu konsep adalah hasil dari upaya yang terpusat dan
imajinatif untuk mengintegrasikan hal-hal yang berbeda. Peran gagasan
sangat kuat dalam menentukan arah perancangan yang dilakukan dengan
membuat keterhubungan antar kegiatan yang berlangsung dalam ruang
arsitektur. Sebuah gagasan dikembangkan melalui proses identifikasi dan
pengamatan, kemudian analisis berdasarkan tema atau prinsip yang
diterjemahkan dalam bentuk gambar sketsa/komunikasi grafis. Secara
umum, konsep dalam perancangan arsitektur terdiri dari lima antara lain;
analogi (memperhatikan hal-hal lain), metafora (memperhatikan abstraksi-
abstraksi), hakikat (memperhatikan di luar kebutuhan program), tanggapan

Irma Nasution, Dkk. 77

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

langsung/pragmatik (memperhatikan syarat-syarat yang dinyatakan), dan
cita-cita (memperhatikan nilai-nilai umum).

Pendekatan perancangan pedestrian kampus dapat dikembangkan
dengan konsep pragmatik melalui tema atau prinsip active living yaitu
“hidup aktif”. Pemilihan konsep pragmatis didasari oleh timbulnya
permasalahan-permasalahan terkait pengguna, karakter aktivitas, keamanan
dan kenyamanan berjalan kaki, dan kegagalan rancangan pedestrian. Prinsip
active living telah terbukti mampu menyelesaikan masalah lingkungan
binaan yang pasif dengan menyajikan rancangan-rancangan yang
menimbulkan gerak aktif manusia di ruang arsitektur.

Hal utama dalam perancangan pedestrian adalah melakukan
identifikasi terhadap pengguna, karakter pengguna dan aktivitasnya, faktor
keamanan dan kenyamanan, pengamatan langsung terhadap obyek
rancangan. Jika jalur pedestrian telah direncanakan, maka perlu
diidentifikasi ulang ukuran lebar dan tingginya. Seringkali pedestrian yang
tidak dirancang dengan baik dapat mengakomodasi aktivitas yang terjadi di
jalur pejalan kaki. Perlu dilakukan pengamatan melalui pengambilan foto
dan video dari setiap kegiatan untuk melihat permasalahan yang ada.
Kebutuhan fasilitas pedestrian ditentukan oleh jenis dan karakter aktivitas
yang terjadi, serta tujuan dari perancangan. Tujuan perancangan yang active
living perlu mempertimbangkan lingkungan yang mampu memaksa
pengguna untuk bergerak dengan bersepeda dan berjalan kaki. Oleh karena
itu, elemen-elemen ruang pejalan kaki harus mampu berfungsi sebagai
penggerak, menarik orang datang atau berkunjung, serta menjadi pusat
aktivitas yang hidup, ramah, dan rekreatif.

Irma Nasution, Dkk. 78

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Gambar 5.2 berikut menunjukkan analisis kawasan untuk
menentukan lokasi plaza, lot sepeda, jalur sepeda. Jalur sepeda searah
(ditandai oleh garis putus merah) ditentukan atas pertimbangan agar jalan
lingkungan tidak padat dan bercampur antar beragam jenis kenderaan. Pada
titik-titik tertentu dibuat lot sepeda agar pengguna sepeda menggunakkan
jalur pedestrian untuk mencapai tujuannya. Dengan begitu pengguna sepeda
dipaksa untuk berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanannya. Namun,
akses keluar kawasan bagi pengguna sepeda ada dua titik sehingga
pengguna tidak terlalu jauh mengakses pintu keluar kawasan. Sementara
penentuan lokasi plaza dipilih berdasarkan simpul aktivitas pejalan kaki
yang tinggi pada kawasan kampus secara menyeluruh (ditandai oleh arsir
kuning).

Gambar 5.2. Konsep penzoningan area plaza, jalur sepeda dan lot parkir
sepeda.

(Sumber: Irma N. Nasution dkk, 2021) 9
Irma Nasution, Dkk. 79

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Konsep pembagian jalur pada pedestrian harus mempertimbangkan
jalur fasilitas dan jalur hijau, sehingga jalur pejalan kaki bebas dari halangan
dan tidak mengganggu keamanan dan kenyamanan pejalan kaki. Upaya
untuk mencapai gerak aktif di jalur pedestrian dapat dilakukan dengan
menyediakan ruang komunal untuk berinteraksi seperti plaza. Plaza
dilengkapi dengan fasilitas kebersihan dan kesehatan, tempat duduk,
penerangan, serta fasilitas rak buku dalam book stand. Plaza juga dapat
berfungsi sebagai ruang pameran terbuka yang dapat meningkatkan aktivitas
dan menarik pengunjung untuk bergerak aktif di ruang terbuka (lihat
Gambar 5.3). Penentuan letak jalur fasilitas harus mempertimbangkan gerak
bebas pejalan kaki dan interaksi pada saat pameran, sehingga jalur fasilitas
dapat diletakkan pada sisi tepi pedestrian agar tidak mengganggu
pergerakan.

Irma Nasution, Dkk. 80

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Gambar 5.3. Konsep pembagian jalur pada pedestrian.
Pedestrian tanpa keterhubungan yang jelas dengan fasilitas lain di
dalam kampus akan mengurangi fungsi pedestrian. Sebaiknya jalur pejalan
kaki dalam kawasan kampus diarahkan sejak dari pintu masuk kawasan lalu
pedestrian dan melalui selasar untuk mencapai gedung perkuliahan atau
fasilitas kampus lainnya. Dalam menyediakan selasar yang mampu

Irma Nasution, Dkk. 81

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

membangkitkan gerak aktif adalah dengan membuat selasar tematik pada
tiap zona. Misalnya selasar pada zona Fakultas A dan Fakultas B dibedakan
secara bentuk tetapi masih dalam koridor konsep yang sama. Penempatan
selasar juga harus berhubungan langsung dengan pedestrian agar
aksesibilitas pejalan kaki di ruang tersebut mudah dan jelas. Ruang-ruang
luar yang dirancang secara menarik akan membangkitkan aktivitas/kegiatan
dan menjadi simpul-simpul gerak yang fungsional dan rekreatif.

Gambar 5.4. Konsep jalur penghubung dari pedestrian ke selasar.
Lampu penerangan dapat ditempatkan di jalur pedestrian tetapi tidak

menghalangi gerak pejalan kaki. Lampu penerangan berfungsi menerangi
ruang pedestrian di malam hari, sehingga terjaga keamanan pejalan kaki.
Lampu penerangan tidak hanya menerangi pejalan kaki tetapi juga
pengendara sepeda, mobil dan sepeda motor dengan jarak antar tiang lampu

Irma Nasution, Dkk. 82

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
minimal 10 m. Tiang lampu dapat diletakkan sejajar jalur hijau dan jalur
fasilitas (di plaza). Desain tiang lampu dapat dipadukan dengan rak bunga
dan rak gantung informasi untuk keperluan pameran.

Gambar 5.5. Konsep tiang lampu penerangan yang dilengkapi rak gantung
untuk informasi.

(Sumber: dokumentasi penulis, 2021)
Desain tempat duduk dipilih dengan bentuk yang sederhana, material
yang tahan cuaca, dan mudah dirawat. Perletakan tempat duduk di zona
jalur fasilitas dengan jarak 10 m. Pedestrian yang dilengkapi tempat duduk
bertujuan untuk menarik pengunjung beraktivitas di pedestrian. Selain itu,
tempat duduk berfungsi sebagai tempat pemberhentian dan mengurangi
kebosanan berjalan kaki di jalur pedestrian yang panjang.

Irma Nasution, Dkk. 83

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING

Gambar 5.6. Konsep bentuk dan posisi bangku atau tempat duduk.

Konsep active living pada pedestrian berperan sebagai penggerak

kawasan yaitu daya tarik bagi pengunjung untuk bergerak aktif di ruang

tersebut. Beberapa fitur dapat disediakan untuk menimbulkan gerak aktif di

pedestrian antara lain menyediakan ruang gerak yang luas seperti plaza,

landmark atau tengaran sebagai sarana rekreatif dan interaktif, book stand

sebagai sarana perpustakaan mini (koleksi buku populer) yang dapat diakses

dengan mudah dan cepat, serta desain marka penyeberangan tiga dimensi

yang menarik.

Irma Nasution, Dkk. 84

BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
Desain kawasan yang menarik, interaktif, dan menyediakan fitur-
fitur berorientasi pengguna terutama pejalan kaki dan pesepeda akan
memberikan suasana baru bagi kawasan. Pedestrian dengan pendekatan
design active dirancang untuk membangkitkan suasana bahagia, hidup
sehat, kreatifitas meningkat, dan kehidupan sosial warga kampus terjaga
keberlanjutannya. Seyogyanya kampus dirancang berdasarkan pertimbangan
pengguna dan mampu membangkitkan gerak aktif di ruang luar melalui
fitur-fitur kawasan.

Gambar 5.7. Konsep fitur penggerak kawasan sebagai daya tarik
pedestrian.
Irma Nasution, Dkk. 85


Click to View FlipBook Version