BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
5.4 Pedestrian Konsep Active Living
Studi-studi tentang lingkungan binaan untuk meningkatkan gerak
aktif menemukan lima kualitas desain yang mampu memperbaiki
lingkungan untuk berjalan kaki. Karakteristik kualitas desain ini terdiri
dari:14
1) Imageability; mengacu pada kualitas tempat yang jelas, dapat dikenali,
dan mengesankan,
2) Enclosure; mengacu pada jalanan dan ruang publik lain dapat
didefinisikan secara visual oleh bangunan, dinding, pohon, dan elemen
vertikal lainnya,
3) Human scale; mengacu pada tekstur, ukuran, dan elemen fisik artifisial
yang sesuai dengan proporsi dan kecepatan manusia berjalan,
4) Transparency; mengacu pada sejauh mana orang dapat melihat atau
merasakan obyek dan aktivitas di luar tepi sebuah jalan,
5) Complexity; mengacu pada kekayaan visual suatu tempat. Kompleksitas
dari suatu tempat tergantung pada berbagai lingkungan fisik.
Tujuan perancangan konsep active living adalah untuk menciptakan
lingkungan binaan yang aktif dan sehat. Strategi-strategi perancangan
pedestrian kampus yang dilakukan melalui pengembangan fitur-fitur
kawasan sebagai berikut:
1) Menciptakan ruang pedestrian yang berfungsi ganda, sebagai ruang
pejalan kaki dan ruang pameran,
2) Menciptakan rute sepeda, pejalan kaki, dan kenderaan yang jelas dan
aman,
Irma Nasution, Dkk. 86
BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
3) Menciptakan ruang-ruang penyimpanan sepeda pada lokasi strategis
yang dapat memaksa pengguna melanjutkan perjalan dengan berjalan
kaki,
4) Menciptakan ruang-ruang selasar tematik yang dapat dikenali dan
menarik, serta mudah diakses dari gedung perkuliahan dan pedestrian,
5) Menciptakan ruang pedestrian yang rekreatif dan mengesankan dan
dapat dirasakan secara visual dari jarak tertentu,
6) Menciptakan jalur yang terintegrasi antara pedestrian dalam dan luar
kawasan agar terjadi keterhubungan yang jelas, serta menghindari
kemacetan dan bercampurnya kegiatan di simpul entrance atau pintu
keluar/masuk kawasan.
Gambar 5.8. Fasilitas plaza
untuk sarana berinteraksi.
Gambar 5.9. Fasilitas selasar
tematik.
Irma Nasution, Dkk. 87
BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
Gambar 5.10. Fasilitas
rekreatif sebagai penggerak
kawasan.
Gambar 5.11. Fasilitas bagi
pengguna sepeda dan
penetapan jalur sepeda satu
sisi untuk memotivasi warga
kampus menggunakan
pedestrian.
Gambar 5.12. Jalur pejalan
kaki yang terintegrasi antara
pedestrian dalam dan luar
kawasan.
Irma Nasution, Dkk. 88
BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
DAFTAR PUSTAKA
[1] Permen PU. Pedoman perencanaan, penyediaan, dan pemanfaatan
prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki di kawasan perkotaan,
Nomor 03/PRT/M/2014, 26 Februari 2014.
[2] Mauliani, L., Purwantiasning, A. W., & Aqli, W. (2013). Kajian jalur
pedestrian sebagai ruang terbuka pada area kampus. Artikel Jurnal
Ilmiah Arsitektur NALARs, 12(2), 1-9.
[3] Anggriani, N. (2009). Pedestrian Ways dalam perancangan
kota. Klaten: Yayasan Humaniora.
[4] Rubenstein, H. M. (1987). A guide to site and landscape construction
planning. New York: John Wiley & Sons, Inc.
[5] Keputusan Menteri PU RI. Persyaratan teknis aksesibilitas pada
bangunan umum dan lingkungan, Nomor 468/KPTS/1998, 1 Desember
1998.
[6] Satriyadi, L., & Haryadi, B. (2017). Prasarana pedestrian di
lingkungan kampus: studi kasus kampus Undip dan Unnes. Wahana
Teknik Sipil: Jurnal Pengembangan Teknik Sipil, 22(1), 58-70.
[7] Driving Test Tips. (2021, Oktober 7). Pedestrian Crossings. Diakses
dari https://www.drivingtesttips.biz/pedestrian-crossing.html.
[8] Quora. (2021, Oktober 7). What's the difference between Zebra,
Puffin, and Pelican crossings?. Diakses dari
https://www.quora.com/Whats-the-difference-between-Zebra-Puffin-
and-Pelican-crossings.
[9] Nasution I.N., Harahap, R., & Zulfikar, A. (2021). Perwajahan
pedestrian kampus dalam upaya menciptakan interaksi ruang terbuka
Irma Nasution, Dkk. 89
BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
publik melalui konsep Active Living. Medan: Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat Unimed.
[10] Permen PU. Pedoman perencanaan, penyediaan, dan pemanfaatan
prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki di kawasan perkotaan,
Nomor 03/PRT/M/2014, 26 Februari 2014.
[11] Permen PU. Pedoman bahan konstruksi bangunan dan rekayasa sipil:
perencanaan teknis fasilitas pejalan kaki, Nomor 02/SE/M/2018, 26
Februari 2018.
[12] Weavers, W. 2021. Active living architecture. Thesis Master of
Architecture Professional, Unitec Institute of Technology.
[13] Gehl, J. (2010). Cities for People. Washington DC: Island Press.
[14] Michael, R. B., David, B., Thomas, F., Janette, S. K., & Amanda, B.
(2010). Active design guidelines: promoting physical activity and
health in design. New York: NYC Planning.
[15] Fardila, D., Priyosulistyo, H., & Triwiyono, A. (2018). Penilaian
fasilitas jalur pedestrian dari aspek Safety, Health, And Environment
(SHE). Informasi dan Ekspose hasil Riset Teknik SIpil dan
Arsitektur, 14(2), 133-145.
[16] Pratama, N. (2014). Studi perencanaan trotoar di dalam lingkungan
kampus universitas sriwijaya inderalaya. Jurnal Teknik Sipil dan
Lingkungan, 2(2), 272-277.
[17] Pradana, A. H., Ernawati, J., & Martiningrum, I. (2017). Walkability
jalur pedestrian by design di area kampus Universitas Brawijaya
Malang. Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur, 5(1), 1-10.
Irma Nasution, Dkk. 90
BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
[18] Shirvani, H. (1985). The urban design process. New York: Van
Nostrand Reinhold.
[19] Edwards, B. (2000). University architecture. London: Spon Press.
[20] Ahmad, S. N., & Soeparyanto, T. S. (2013). Tinjauan perilaku pejalan
kaki dan penyeberang jalan pada kawasan Fakultas Pertanian
Universitas Haluoleo. STABILITA: Jurnal Ilmiah Teknik Sipil, 1(3),
275-290.
[21] Movahed, S., Azad, S. P., & Zakeri, H. (2012). A safe pedestrian
walkway; creation a safe public space based on pedestrian
safety. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 35, 572-585.
[22] Untermann, R. K. (1984). Accomodating the pedestrian: adapting
towns and neighboorhoods for walking and bicycling. New York: Van
Nostrand Reinhard Company Ltd.
[23] Murni Telaumbanua. (2021, Oktober 29). 5 Tahap Design
Thinking menurut Stanford (design school). Diakses dari
https://medium.com/@murnitelaumbanua98/5-tahap-design-thinking-
menurut-stanford-d-school-e06f871c45c9
[24] Hasso Plattner Institute of Design at Stanford. (2010, Oktober 29). An
introduction to design thinking: process guide. Diakses dari
https://web.stanford.edu/~mshanks/MichaelShanks/files/509554.pdf.
[25] Snyder, J.C., Catanese, A.J. (1984). Pengantar arsitektur. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Irma Nasution, Dkk. 91
BUKU AJAR Pedestrian Kampus KONSEP ACTIVE LIVING
BIODATA PENULIS
Penulis lahir di Medan, 18 November 1975.
Pengalaman akademik dilalui sebagai seorang dosen
dan peneliti senior pada Universitas Medan
(Unimed) yang berkeahlian di bidang desain, teori
dan kritik arsitektur, serta konstruksi bangunan.
Pengalaman profesional dilalui di CV. Arsitema
sebagai principal architect dan desainer interior.
Sejak tahun 2008 hingga sekarang aktif melakukan penelitian-
penelitian lokal dan nasional terkait bidang arsitektur nusantara, kritik
arsitektur terhadap rumah tinggal, permukiman, dan kampus. Beberapa
buku yang telah ditulis dan diterbitkan antara lain; Tren dan Aplikasi:
Strategi dan Inovasi Dalam Pembelajaran, Puisi-puisi Arsitektur,
Kebhinekaan Bagas Godang: Dinamika Budaya Arsitektur Mandailing.
Aktif mengikuti berbagai kegiatan seminar dan pelatihan di dalam
dan luar negeri antara lain Pelatihan Innovation in Teaching and Learning
Heads of Department Programme di NYPi-Singapore2016, serta Seminar
6th ISVS-North Cyprus 2012 dan 7th EACEF-Stuttgart 2019. Aktif sebagai
anggota Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), pengurus di
Ikatan Alumni ITB-Sumut, dan pengurus di Himpunan Desainer Interior
Indonesia (HDII) Sumut, serta melakukan berbagai kegiatan penelitian dan
pengabdian masyarakat di Unimed.
Irma Nasution, Dkk. 92
Pedestrian atau ruang pejalan kaki adalah
pergerakan atau sirkulasi manusia dari satu tempat
(asal) ke tempat lain (tujuan) dengan berjalan kaki.
Dalam ranah arsitektur, perencanaan ruang
pejalan kaki dapat menimbulkan gerak aktif
manusia melalui perancangan elemen-elemen fisik
lingkungan yang ramah, livable, dan meningkatkan
interaksi antar penggunanya. Perencanaan
pedestrian dapat dikembangkan berdasarkan
pedoman yang ditetapkan dalam perundangan
yang berlaku, kebutuhan dan karakter pengguna,
serta tematik tertentu.
Di dalam buku Pedestrian Konsep Active Living
materi dibagi menjadi lima bab yaitu pendahuluan,
definisi dan ruang lingkup pedestrian, perencanaan
pedestrian, konsep active living dalam arsitektur,
dan perancangan pedestrian kampus. Buku
Pedestrian Konsep Active Living ini dilengkapi
dengan pedoman dan persyaratan teknis, gambar
detail dan perancangan pedestrian kampus
bertema active living dalam bentuk rancangan 2
dan 3 dimensi. Buku ini dilengkapi dengan soal
latihan yang dapat digunakan sebagai alat
penilaian dalam pembelajaran Desain Eksterior –
Interior dan Desain Produk.
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
Jl. Willem Iskandar, Pasar V, Medan Estate
Medan 20221 - Indonesia