Alhamdulillah, puji dan syukur penulis ucapkan kepada ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paket informasi yang berjudul “Paket Informasi Tradisi Uang Japuik dan Status Sosial Laki-laki Pariaman”. Pada pembuatan paket informasi ini penulis banyak mendapat bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Marlini, S.IPI.,MLIS yang telah membimbing penulis dalam pembuatan Paket Informasi Tradisi Uang Japuik dan Status Sosial Laki-laki Pariaman dan kepada Bapak Dedi Cahyadi yang telah bersedia menjadi narasumber penulis dalam menyelesaikan paket informasi ini. Paket informasi ini penulis susun untuk melestarikan tradisi uang japuik dalam bentuk sebuah buku. Paket informasi ini diharapkan sampai kepada masyarakat luas sehingga kelestarian tradisi uang japuik bisa terjaga. Penulis juga berharap paket informasi ini dapat dijadikan sebagai referensi pengetahuan dan menambah wawasan pembaca. Penulis menyadari dalam pembuatan paket informasi ini masih banyak kekurangan mengingat keterbatasan pengalaman. Untuk itu penulis sangat membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun agar penulis dapat memperbaiki kesalahan dengan baik lagi. Padang, Januari 2023 Penulis KATA PENGANTAR i
KATA PENGANTAR ....................................................................i DAFTAR ISI ...................................................................................ii BAB 1 ...............................................................................................1 A. Gambaran Umum Kota Pariaman .....................................2 B. Sekilas Tentang Tradisi Uang Japuik ................................4 BAB 2 ...............................................................................................5 A. Isu Mengenai Tradisi Uang Japuik di Masyarakat ......6 B. Sejarah Tradisi Uang Japuik ................................................9 C. Pengertian Tradisi Uang Japuik ........................................12 D. Makna Tradisi Uang Japuik ...............................................13 E. Pelaksanaan Tradisi Uang Japuik ....................................14 F. Perkembangan Tradisi Uang Japuik Pada Zaman Sekarang ...................................................................................17 G. Status Sosial Laki-Laki Dalam Tradisi Uang Japuik ...18 H. Alasan Adanya Pembeda Status Sosial Laki-Laki Dalam Tradisi Uang Japuik ................................................21 I. Jumlah Uang Japuik Pada Setiap Tingkatan Status Sosial Laki-Laki .....................................................................23 J. Perubahan Dalam Jumlah Dan Bentuk Uang Japuik Pada Saat Sekarang Ini ........................................................24 K. Waktu Dilakukan Pemberian Uang Japuik Kepada Calon Pengantin Laki-Laki .................................................25 L. Tata Cara Tradisi Bajapuik .................................................26 M. Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Tradisi Uang Japuik .....................................................................................................32 DAFTAR ISI ii
BAB 3 .............................................................................................33 A. Sumber Informasi Mengenai Kota Pariaman .............34 B. Sumber Informasi Mengenai Tradisi Uang Japuik ....35 BAB 4 .............................................................................................46 A. Kesimpulan .............................................................................47 B. Saran ..........................................................................................48 INDEKS .........................................................................................49 BIODATA PENULIS .................................................................50 iii
0 1 0 1 B A B 1
Kota Pariaman merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Padang Pariaman, yang terbentuk dengan berlakunya Undang-undang No. 12 Tahun 2002. Secara geografis, Kota Pariaman terletak dipantai barat pulau Sumatera dan berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Pada sisi utara, selatan dan timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Padang Pariaman dan di sebelah barat dengan Samudera Indonesia. Secara astronomis, Kota Pariaman terletak antara 00° 33‘ 00 “ – 00° 40‘ 43“ Lintang Selatan dan 100° 04‘ 46“ – 100° 10‘ 55“ Bujur Timur. Tercatat memiliki luas wilayah 73,36 km2, dengan panjang garis pantai 12,00 km. Luas daratan kota ini setara dengan 0,17% dari luas daratan wilayah Provinsi Sumatera Barat, dengan 6 buah pulau-pulau kecil; Pulau Bando, Pulau Gosong, Pulau Ujung, Pulau Tangah, Pulau Angso Duo Sumber: Google Maps A. GAMBARAN UMUM KOTA PARIAMAN 2
Kota Pariaman juga memiliki kawasan pesisir yang terbentang dengan potensi perikanan dan pariwisata yang bernilai tinggi. Dengan berkembangnya kegiatan perdagangan dan pariwisata, maka posisi Kota Pariaman sebagai pusat perdagangan hasil pertanian dan pariwisata pantai, akan menjadi semakin penting. Masyarakat di kota Pariaman ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan etnis Minangkabau umumnya. Sebagai kawasan yang berada dalam struktur rantau, beberapa pengaruh terutama dari Aceh masih dapat ditelusuri sampai sekarang, di antaranya penamaan atau panggilan untuk seseorang di kawasan ini, misalnya ajo (lelaki dewasa, dengan maksud sama dengan kakak) atau cik uniang (perempuan dewasa, dengan maksud sama dengan kakak) sedangkan panggilan yang biasa digunakan di kawasan darek adalah uda (lelaki) dan uni (perempuan). Selain itu masih terdapat lagi beberapa panggilan yang hanya dikenal di kota ini seperti bagindo, sutan atau sidi (sebuah panggilan kehormatan buat seseorang yang telah menikah dirumah mertuanya tapi tidak dirumah orang tua kandungnya). Sumber: Google 3
Kota Pariaman merupakan sebuah kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat yang menjunjung tinggi adat dan tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang. Dalam prosesi pernikahan di Kota Pariaman, ada istilah uang japuik. Secara teori tradisi ini mengandung makna saling menghargai antara pihak perempuan dengan pihak laki-laki. Ketika lakilaki dihargai dalam bentuk uang japuik, maka sebaliknya pihak perempuan dihargai dengan uang atau emas yang dilebihkan nilainya dari uang japuik. Tradisi uang japuik dan memandang status sosial laki-laki merupakan sebuah tradisi yang masih dilestarikan di Kota Pariaman hingga saat ini. Tradisi bajapuik menjadi sebuah kewajiban bagi pihak keluarga perempuan memberikan sejumlah uang atau benda yang bernilai kepada pihak laki-laki sebelum akad nikah dilangsungkan. Adat pernikahan di Kota Pariaman ada kesamaan dengan adat pernikahan di India, sama-sama pihak perempuan yang melamar dan membayar pihak laki-laki untuk suatu pernikahan. Tetapi uang japuik bukanlah mahar seperti pernikahan di India, melainkan biaya yang dikeluarkan pihak perempuan untuk membawa lelaki itu tinggal di keluarga pihak perempuan. B. SEKILAS TENTANG UANG JAPUIK 4
0 2 0 2 B A B 2
Kok bisa sih perempuan yang ‘beli’ laki-laki? Pandangan ini sering kali dibayangkan tentang orang Minang. Memang sih, orang Minang terkenal dengan garis keturunan matrilineal atau berdasarkan garis ibu yang lebih banyak mengangkat derajat perempuan. Terus kenapa kok jadi perempuan yang seolah membeli laki-laki? Sebenarnya istilah yang tepat bukanlah dibeli tapi dijapuik atau dijemput. Namun tradisi ini hanya terjadi untuk daerah tertentu saja. Selama ini orang-orang diluar daerah Pariaman dan orang Pariaman yang tak tahu dengan budayanya menganggap bahwa bila ingin menikahi laki-laki di Pariaman, maka harus menjemputnya dengan sejumlah uang, bahkan ada pula yang mengatakan dengan bahasa yang kasar bahwa lakilaki tersebut dibeli. Anggapan tersebut membuat geram tokoh adat Pariaman, namun memang anggapan tersebut telah tertanam dibenak masyarakat luas yang tak mengerti. Padahal tradisi bajapuik bertujuan mengangkat derajat laki-laki di Pariaman, mereka dijemput untuk menghormati laki-laki tersebut yang akan menjadi anggota baru keluarga besar sang istri (urang sumando). A. ISU MENGENAI TRADISI UANG JAPUIK DI MASYARAKAT Part 1 6
Bila ada perkawinan yang tidak menyertakan uang japuik, maka akan dikenai sanksi, terutama sanksi moral. Keluarga tersebut tentunya akan mendapat cemooh dari sanak keluarga dan temantemannya, terutama dari mamaknya. Lalu keduanya mungkin bisa tidak jadi menikah, kemudian dicap tidak beradat dan akhirnya diusir dari kampungnya karena dianggap tidak menghargai ninik mamak. Tetapi banyak sekarang dijumpai perkawinan yang tidak memakai adat uang japuik ini. Akan tetapi dalam prosesinya uang japuik tetap di bunyikan untuk menghargai adat tersebut. Bila ada niniak mamak yang bertanya berapa uang japuiknya, maka bisa dijawab dan orang-orang yang menghadiri pesta pernikahan telah melihat bahwa memang pengantin laki-laki (marapulai) diberi uang japuik, walaupun sebenarnya uang tersebut hanya di bunyikan saja. Part 2 7
Hal ini yang belum banyak orang tahu. Uang Japuik itu memang diberikan kepada pihak lakilaki, tapi uang itu nanti akan dikembalikan lagi ke pihak perempuan. Pada praktiknya memang ada pemberian uang Japuik dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki dalam pernikahan adat Pariaman. Namun uang itu akan dikembalikan lagi dalam sebuah upacara adat yang disebut manjalang mintuo dan proses ini dilakukan setelah acara pernikahan kedua mempelai selesai dilakukan. Setelah acara pernikahan selesai, ada tradisi Manjalang Mintuo. Pada acara ini lah uang japuik akan dikembalikan dalam betuk perhiasan kepada anak daro yang terkadang jumlahnya dilebihkan oleh ibu marapulai. Bisa dikatakan sebagai bentuk penghormatan atas pemberian uang Japuik oleh pihak perempuan sebelum proses menikah, lalu pihak laki-laki akan memberikan atau mengembalikan uang Japuik yang pernah diberikan dulu dalam bentuk perhiasan kepada pihak wanita. Hebatnya lagi, dalam proses ini perhiasan yang diberikan biasanya akan melebihi uang japuik yang diberikan pihak wanita kepada pihak laki-laki dulu. Part 3 8
Masyarakat Minangkabau melihat masalah perkawinan dari dua arah, yaitu nikah menurut syarak dan kawin menurut adat. Nikah adalah pertemuan dua insan berlainan jenis yang dilakukan sesuai dengan ketentuan Agama Islam yang telah disahkan dengan ijab-qabul di hadapan wali dan penghulu syarak. Sedangkan kawin menurut adat adalah pertemuan atau perkawinan antara dua keluarga besar atau perkawinan dua suku yang berbeda akibat pernikahan dua anak kemenakan mereka. Oleh sebab itu mereka menganggap belum sempurna perkawinan itu bila antara kedua suku belum terjalin hubungan yang baik, dan untuk itu harus dilalui beberapa acara pendahuluan berupa kunjung-mengunjungi dalam rangka pinang-meminang. Setiap daerah memiliki cara atau aturan sendiri berkaitan dengan prosesi perkawinan tersebut sesuai dengan adat istiadat setempat atau yang kita kenal di Minangkabau dengan (adat salingka nagari) atau yang biasa disebut dengan tradisi. Tradisi merupakan adat istiadat yang lahir turun temurun berkembang dan dijalankan dalam masyarakat. Peribahasa mengatakan “lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain ilalangnya” demikian juga adat perkawinan dibanyak nagari Minangkabau, termasuk Pariaman yang punya kekhasan sendiri. B. SEJARAH TRADISI UANG JAPUIK 9
Dalam prosesi penyelenggaraan pernikahan Pariaman ada istilah uang japuik, uang ilang, uang dapua. Ketiganya dapat dikatakan sama, namun sedikit perbedaan satu sama lain. Persamaannya, sama-sama berasal dari keluarga calon pengantin perempuan. Bedanya uang japuik akan dikembalikan pihak keluarga pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan pada saat manjalang dalam bentuk lain yang terkadang jumlah (nilainya) lebih besar dari uang japuik. Uang ilang, uang yang diberikan pihak calon pengantin perempuan kepada pihak keluarga calon pengantin laki-laki benar-benar hilang, jadi milik keluarga lakilaki, tidak akan pernah kembali kepada pihak perempuan. Uang dapua, sejumlah uang yang diberikan pihak calon pengantin perempuan kepada pihak keluarga pengantin laki-laki untuk bantuan uang dapur. Tradisi Uang japuik ini bermula dari keluarga yang kaya raya, dia memiliki harta yang banyak, keluarga tersebut mempunyai seorang anak perempuan yang sudah berumur tetapi belum menikah. Dalam adat perkawinan di Pariaman, yang mencarikan pasangan untuk anak perempuan adalah seorang mamak, dicarikanlah keponakannya itu pasangan dengan pemuda yang pengangguran dan tidak punya status sosial dilingkungannya. Datanglah keluarga dan mamak perempuan tersebut ke rumah laki-laki. 10
Dan bertanya kepada mamak laki-laki, maukah dia menikahi keponakanku, jika ia bersedia, maka akan saya berikan sebahagian uang kepada anda untuk digunakan dalam berusaha menjalankan sebuah perkawinan. Sebenarnya tidak ada sumber yang jelas yang menerangkan tentang asal usul tradisi uang japuik ini. Dikarenakana pada zaman dahulu uang japuik ini cerita lama yang dipublikasikan dari mulut ke mulut, karena waktu belum adanya media dan objek lainnya untuk mengabadikan. Pada umumnya bajapuik merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Pariaman dalam prosesi perkawinan karena dalam sistem Matrilineal posisi suami (urang sumando) merupakan orang datang, karena itu orang sumando dalam ungkapan Minangkabau dikenal dengan pepatah “datang karano dipanggia-tibo karano dianta (datang karena dipanggil, tiba karena diantar)." 11
Uang japuik adalah uang yang diberikan oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki sebagai permintaan akan dijadikan menantu, kemudian uang dengan jumlah nilai tertentu yang akan di kembalikan kepada keluarga pengantin perempuan setelah dilakukan acara pernikahan. Pihak pengantin laki-laki akan mengembalikan dalam bentuk pemberian berupa emas yang nilainya setara atau lebih dari nilai yang diberikan. Biasanya pemberian ini dilakukan oleh keluarga pengantin laki-laki (marapulai) ketika pengantin perempuan (anak daro) berkunjung atau batandang ke pihak rumah mintuo (rumah mertua). Bahkan pemberian itu melebihi nilai yang diterima oleh pihak marapulai (pengantin laki-laki) sebelumnya karena ini menyangkut gengsi keluarga marapulai (pengantin laki-laki) itu sendiri. Penetapan uang japuik biasanya ditetapkan dalam acara sebelum perkawinan, biasanya mamak (paman dari pihak ibu) akan bertanya pada calon anak daro, apakah benar-benar siap akan menikah, karena biaya baralek (pesta) beserta isinya termasuk uang japuik akan disiapkan oleh keluarga perempuan. Uang japuik sendiri akan ditetapkan oleh kedua belah pihak setelah acara batimbang tando dan akan diberikan saat akad nikah oleh pihak keluarga mempelai perempuan kepada keluarga laki-laki saat acara manjapuik marapulai. C. PENGERTIAN UANG JAPUIK 12
Secara teori tradisi uang japuik ini mengandung makna saling menghargai antara pihak perempuan dengan pihak laki-laki. Ketika laki-laki dihargai dalam bentuk uang japuik, maka sebaliknya pihak perempuan dihargai dengan uang atau emas yang dilebihkan nilainya dari uang japuik atau dinamakan dengan agiah jalang. Uang parigiah jalang merupakan pemberian pihak keluarga laki-laki kepada pihak perempuan pada saat “manjalang” (mengunjungi) mertuanya pertama kali. Bisa berbentuk barang berharga, uang atau benda bernilai ekonomis lainnya, seperti cincin, gelang, kalung emas, atau pakaian wanita dan lain-lainnya, tergantung dari kemauan pihak laki-laki. Mengenai besar nilainya, tergantung sepenuhnya kepada pihak laki-laki. Setelah diterima oleh pihak perempuan, uang paragiah jalang tersebut adalah menjadi milik pihak perempuan sepenuhnya. Kabarnya, dahulu kala, pihak laki-laki akan merasa malu kepada pihak perempuan jika nilai agiah jalangnya lebih rendah dari pada nilai uang japuik yang telah mereka terima, tapi sekarang yang terjadi malah sebaliknya. Bahkan dalam perkembangnya muncul pula istilah yang disebut dengan uang ilang. Uang ilang (hilang) ini merupakan pemberian dalam bentuk uang atau barang oleh pihak perempuan kepada pihak lakilaki, yang sepenuhnya milik laki-laki yang tidak dapat dikembalikan dan benar-benar hilang keberadaannya. D. MAKNA UANG JAPUIK 13
Pelaksanaan pekawinan di Pariaman diwujudkan kedalam bentuk prosesi bajapuik dalam perkawinan yang melibatkan barang-barang yang bernilai seperti emas dan uang. Persyaratan uang dalam perkawinan bajapuik tersebut tersendiri terdiri atas: uang japuik, uang ilang, uang tungkatan, uang selo, mas kawin atau mahar dan uang parigiah jalang. Kebiasaan ini awalnya dirumuskan niniak mamak (pemangku adat nagari) yang bertujuan untuk mewujudkan adat nan diadatkan. Sebelum suatu pernikahan dilangsungkan sebulan atau tiga bulan sebelumnya, diadakan pertemuan antara keluarga yang dihadiri seluruh karib kerabat seperti ibu atau bapak, niniak mamak, dan lain-lain. Keluarga yang hampir dijemput, yang jauh dengan surat kiriman. Mereka diminta datang bermusyawarah untuk menentukan jodoh sang perawan. Setelah diperoleh kata sepakat, lalu ditetapkan mengutus seorang kerumah orang tua sang perjaka untuk menyampaikan maksud tujuan keluarga sang perawan. Dalam beberapa hari kemudian, ibu, bapak, mamak dan keluarga dekat lainnya, datang kerumah orang tua sang perjaka dengan membawa kampir sirih sebagaimana yang dilazimkan oleh adat. Sementara itu karib kerabat sang perjaka telah siap pula menunggu rombongan yang akan datang tersebut. E. PELAKSANAAN TRADISI UANG JAPUIK 14
Dalam pertemuan itu singkat kata ditanyakan, apakah pihak yang menunggu sudi melepas anak kemenakan mereka menjadi menantu pihak yang datang. Sebelum pernikahan dilangsungkan biasanya pihak perempuan terlebih dahulu menayakan gelar calon Marapulai. Biasanya ada saja pihak perempuan yang nyeletuk “siapa gelar menantu kita ini’. Secara spontan dijawab oleh seseorang keluarga pihak pengantin laki-laki, bagindo gelarnya, atau gelar menantu ko yo sidi, bisa juga sutan gelar minantu awak. Panggilan bagindo, sidi dan sutan adalah panggilan yang dilakukan semua pihak keluarga pengantin perempuan yang usianya di atas pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki (selanjutnya disebut sumando). Mulai dari mertua, mamak, saudara, kakak ipar, sepupu, saudara mertua, bako pengantin perempuan, semuanya menyapa pengantin laki-laki dengan gelar yang disandang pengantin laki-laki. Bila mana suka maka dibuatlah perjanjian. Jika anak (sang perjaka) bergelar sutan, sidi atau bagindo, ditanyakan berapa suka mereka menerima uang dari pihak yang datang. Sejumlah uang inilah yang disebut uang japuik. Banyaknya tergantung dari martabat keluarga serta profesi sang perjaka. Jika ia berniaga, pegawai negri atau guru agama, tinggi uang japuiknya. Sebaliknya jika anak itu tidak bergelar sutan, sidi atau bagindo, orang yang punya rumah (pihak laki-laki) memberi uang kepada pihak yang datang sebagai diatas pula. 15
Namun demikian ada pula pihak yang bergelar sutan, sidi atau bagindo, tidak mau memberi uang tersebut walau sepeser sekali pun, malah memberi sejumlah uang kepada pihak yang datang. Tentu saja cara semacam ini dilakukan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak, atau sebagaimana yang lazim dikatakan adat “habis adat karena kerelaan”. Di Pariaman orang mengambil gelar daripada ayahnya, yaitu gelar sidi dan gelar sidi yang asli ialah yang diterimanya turun temurun, sebagai keturunan hasan dan husein, dan pada wajah kaum sidi (ditempat kaum sayid). Yang asli masih kedapatan bentukbentuk arab. Setelah itu keturunan bagindo yang pada dirinya mengalir darah raja-raja dari yang ada pertalian dengan aceh. Setelah itu keturunan sutan gelar-gelar itu semuanya diterima dari ayah padahal susunan gelar yang demikian tidak ada di Minangkabau darat. Setelah selesai kesepakatan mengenai besar atau jumlah uang japuik, pihak yang datang menyerahkan sebentuk cincin sebagai tanda sah. Jadi kesepakatan tersebut tidak boleh diungkai lagi. Jika mungkin akan dihukum secara adat. Inilah yang dinamakan bertanda-tandaan. Uang japuik baru diserahkan pada saat berhelat kelak, demikian pula cincin yang diserahkan sebagai tanda sah akan dikembalikan lagi pada saat itu. 16
Dalam tradisi perkawinan uang japuik, dalam kurun waktu yang berbeda makna nilai sosial yang terdapat di dalam perkawinan bajapuik ini adalah adanya uang japuik yang diberikan kepada mempelai laki-laki berdasarkan gelar yang dimiliki, pada masa sekarang ini penetapan besar kecilnya nominal uang japuik berdasarkan gelar sudah tidak digunakan dan mengalami perubahan berdasarkan tingkatan status sosial atau pendidikan yang dimiliki oleh calon mempelai laki-laki. Perubahan yang terjadi dalam tradisi perkawinan bajapuik ini, semata-mata bukan karena langsung terjadi dan sudah terjadi, namun memiliki sebabakibat dari perubahan yang terjadi. Sebab terjadinya perubahan dalam bentuk uang japuiknya dikarenakan sudah terlalu kuno dan nilai sosial seperti 100 gelar sudah jarang digunakan oleh masyarakat Pariaman. Sehingga terjadi perubahan pola pikir masyarakat terhadap bentuk uang japuik yang sekarang berupa uang atau kendaraan dan makna nilai nya dilihat dari status sosial atau tingkatan pendidikan yang dimiliki oleh calon mempelai laki-laki, dengan meningkatkan status sosial dan meningkatkan pemikiran bahwa pendidikan itu penting, begitupun terkait dalam hal perkawinan. F. PERKEMBANGAN TRADISI UANG JAPUIK PADA ZAMAN SEKARANG 17
Dalam sejarah perjalanan tradisi bajapuik atau disebut juga uang japuik terdapat dua dasar pertukaran yakni: gelar kebangsawanan atau gelar keturunan (sidi, bagindo, sutan) dan status sosial ekonomi atau yang disebut prestasi. Jika pada awalnya diprioritas pada laki-laki yang bergelar keturunan (bangsawan) saat ini berubah menjadi status sosial ekonomi (prestasi). Perubahan itu disebabkan oleh faktor ekonomi khususnya pertumbuhan penduduk yang mengakibatkan menyempitnya lahan. Selain itu faktor pendidikan merantau dan modernisasi secara tidak langsung turut pula dalam perubahan itu. Oleh sebab itu pada awalnya dalam tradisi bajapuik, laki-laki yang diterima sebagai menantu adalah yang mempunyai gelar. Meskipun pada saat itu tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, laki-laki yang bergelar mendapat prioritas utama diterima sebagai menantu. Pertimbangan pihak keluarga perempuan mencari seorang laki-laki adalah untuk mendapatkan keturunan yang baik. Oleh sebab itu laki-laki tersebut harus mempunyai asal-usul yang jelas. Sementara itu untuk ekonomi rumah tangganya ditanggung oleh keluarganya (dari harta pusaka). G. STATUS SOSIAL LAKI-LAKI DALAM TRADISI UANG JAPUIK 18
Gelar sidi, diberikan kepada mereka yang bernasab kepada kaum ulama (syayyid), yaitu gelar dari penyebar agama islam di daerah pariaman. keturunannya laki-laki setelah menikah mendapat gelar dari ayahnya, sidi. Gelar sutan dipakaikan kepada mereka yang bernasab kepada petinggi atau bangsawan istana pagaruyung yang ditugaskan sebagai wakil raja di rantau pasisir piaman laweh (Pariaman luas) Keturunan raja kecil (laki-laki) inilah yang akan mendapat gelar ‘sutan’ setelah menikah sebagai warisan dari ayah. Gelar bagindo, yang dipakaikan kepada mereka bernasab kepada para petinggi aceh yang bertugas di daerah pariaman. Banyak petinggi aceh yang bertugas di daerah pariaman menikah dengan perempuan sesama pendatang atau penduduk asli, kemudian bermukiman di daerah pariaman. Seiring dengan perkembangan masyarakat, terutama akibat pengaruh ekonomi telah menggeser posisi lakilaki yang mempunyai gelar sidi, bagindo, dan sutan kepada pekerjaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki. 1. 2. 3. Maka anak keturunannya laki-laki mendapat warisan gelar dari ayahnya, “bagindo”, setelah menikah. Ketiga gelar dari ayah tersebut diletakkan di muka nama urang sumando tersebut. Sesuai dengan tuntutan zaman status sosial ekonomi perlahan telah menggeser gelar kebangsawanan untuk menentukan jumlah uang japuik itu sendiri. 19
Status sosial ekonomi tentu lebih tepat dipandang dari pekerjaan dan pendapatan dari seorang laki-laki. Inilah yang menentukan tinggi rendahnya jumlah uang japuik. Semakin tinggi pekerjaan dan pendapatan calon pengantin laki-laki, maka semakin tinggi jumlah uang japuik dan begitu sebaliknya. Jika diperhatikan dari pengalaman sebelumnya, besar kecilnya uang japuik memang status sosial yang menentukan. Disamping itu juga merupakan kehendak dari mamak itu sendiri. Karena menantu yang baik pekertinya dan mapan hidupnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi mamak dan keluarga perempuan. Bagi masyarakat akan menjadi buah bibir yang baik dan secara tidak langsung menjadi prestise dan penghargaan sosial untuk keluarga tersebut. Oleh sebab itu jika ada seorang pemuda yang sudah mapan dari segi materi dan non materi, maka mamak, ninik mamak dan keluarga besar perempuan tidak segan untuk memberikan uang japuik yang lebih untuk laki-laki yang akan menjadi menantu dan pendamping anak kemenakannya nanti. Apalagi laki-laki tersebut mempunyai pekerjaan seperti PNS, Dokter, TNI dan Polisi biasanya uang japuik yang diterimanya berkisar Rp15.000.000,00 - Rp50.000.000,00. Tapi yang perlu di ingat itu semua kembali lagi kesepakatan kedua pihak keluarga dalam hal ini yang lebih berperan yaitu orang tua dan kadang itu hanya dibunyinya saja. 20
Uang japuik ini tidak harus diukur dengan status sosial, karena itu pemberian mamak untuk kemenakannya bukan untuk laki-laki tersebut. Cuman sebagai simbol untuk laki-laki. Kalau seandainya secara status sosial maka yang akan menikah pasti yang kaya dengan yang kaya saja. Misalnya ada yang bergelar sidi ingin menikah dengan keluarga perempuan yang hidup pas-pasan tentu jika dikur dengan status sosial tidak akan terjadi perkawinan karena tidak akan sangup perempuan tersebut manjapuik sidi tersebut. Untuk itu pihak mamak dan keluarga perempuan berkumpul untuk mengumpulkan uang japuik berapa uang japuik yang pantas untuk yang bergelar sidi (gelar kebangsawanan yang tinggi di Pariaman) tujuan biar setara kedudukan keluarga perempuan dengan keluarga laki-laki. Karena suatu kehormatan bagi keluarga perempuan bermenantu dengan sidi, sarjana, doktor dan lain sebagainya. Tidak mungkin calon menantu doktor di japuik dengan lapiak sahalai, itu akan menjatuhkan harga diri perempuan dan keluarga besar akan menjadi buah bibir dan cemohan bagi orang banyak. H. ALASAN ADANYA PEMBEDA STATUS SOSIAL LAKI-LAKI DALAM TRADISI UANG JAPUIK 21
Kalau kita bawa dimasa sekarang sebenarnya tidak ada aturan adat yang mengatur standar uang japuik ini hanya kesepakatan orang tua saja. Nah biasanya laki-laki mempunyai pekerjaan tetap seperti PNS, Dokter, TNI dan Polisi biasanya uang japuik yang diterimanya berkisar Rp15.000.000,00 - Rp50.000.000,00. Tapi yang perlu di ingat itu semua kembali lagi kesepakatan kedua pihak keluarga dalam hal ini yang lebih berperan yaitu orang tua dan kadang itu hanya dibunyinya saja. Nah, berbeda dengan uang hilang yang datang kemudian dibuat-buat oleh sebagian masyarakat yang inginkan uang semata. Karena uang japuik bukan untuk laki-laki dan keluarganya, maka bagi laki-laki yang pakak ka ikur yang ingin mendapat uang pula. Mungkin karena melihat mamak dari perempuan kaya diminta lah uang ilang. Bagi sebagian masyarakat berpendapat laki-laki yang meminta uang ilang akan dicibirkan masyarakat sebagai laki-laki yang tidak pandai mencari nafkah. Tapi yang sebenarnya uang ilang tersebut pemberian mamak untuk kemenakan laki-lakinya yang dinikahkan dengan anak perempuannya itu tidak masalah (pulang kabako, anak mamak), laki-laki juga berhak meminta ke mamaknya. Nah ini yang ditiru oleh masyarakat lainnya meminta uang hilang kepada perempuan yang bukan bako atau anak mamaknya. 22
I. JUMLAH UANG JAPUIK PADA SETIAP TINGKATAN STATUS SOSIAL LAKI-LAKI Besar uang japuik ditentukan dalam uang rupiah yang nilainya sama dengan 30 ameh (emas), satu ameh setara dengan 2,5 gram emas. Semakin tinggi nilai uang japuik yang diberikan, menunjukkan semakin tinggi status sosial marapulai. Pada zaman sekarang, nilai uang japuik bisa diganti dengan uang rupiah biasa, hewan atau kendaraan. Jika orang biasa, misal profesinya tukang becak, dia dijemput dengan uang senilai Rp5.000.000,00 sedangkan jika dia adalah sarjana, guru, dokter akan dijemput dengan uang senilai Rp45.000.000,00 - Rp70.000.000,00 belum lagi jika mereka juga mempunyai gelar dari mamaknya, seperti sidi, bagindo atau sutan. 23
J. PERUBAHAN DALAM JUMLAH DAN BENTUK UANG JAPUIK PADA SAAT SEKARANG INI Uang japuik pada saat dahulu dengan sekarang itu sama, hanya saja dalam bentuknya yang sudah jauh berbeda dengan uang japuik sekarang ini. Dihitung dari bentuk keping emas yang diberikan dahulu jika dirupiahkan nominalnya akan sama dengan sebuah benda atau uang yang diberikan sebagai syarat penjemputan saat ini. Perubahan ini juga memberikan makna kemudahan terhadap yang menjalankan tradisi perkawinan bajapuik, karena bentuk emas yang dulu sudah jarang ditemukan saat sekarang ini maka dipermudah dengan menggantikannya dengan berbentuk uang, agar persyaratan penjemputan tersebut tatap diberikan kepada mempelai laki-laki. Emas yang diberikan dahulu hanya bisa digunakan oleh keluarga mempelai laki-laki seperti orang tua, dan kebanyakan digunakan untuk membuka usaha, namun saat sekarang misalkan mempelai laki-laki diberikan sebuah kendaraan, kendaraan tersebut bisa digunakan oleh mempelai laki-laki untuk beraktifitas sebagai seorang kepala rumah tangga. 24
K. WAKTU PENETAPAN UANG JAPUIK DIBERIKAN KEPADA CALON KELUARGA LAKI-LAKI Setelah acara batimbang tando, maka acara dilanjutkan dengan menetapkan uang japuik dan uang ilang. Jika marapulai merupakan orang keturunan bangsawan atau mempunyai gelar, maka nilai uang japuiknya akan tinggi. Sekarang nilai uang japuik ditentukan oleh tingkat pendidikan, pekerjaan dan jabatan marapulai. Uang ilang yaitu uang yang diberikan oleh keluarga anak daro kepada keluarga marapulai, uang tersebut tidak akan kembali lagi ke anak daro, sedangkan uang japuik merupakan uang yang diberikan keluarga anak daro kepada keluarga marapulai, uang tersebut dikembalikan lagi ke anak daro, besarnya minimal setengah dari uang japuik. Ada juga yang berpendapat bahwa anak daro bakalan mendapatkan kembalian uang japuik dua kali lipat dari yang disepakati. 25
Pelaksanaan tradisi bajapuik ini sama dengan proses perkawinan Minangkabau. Pada acara pembuka, diberikan kepada pihak keluarga perempuan. Biasanya orang yang ditunjuk adalah seseorang yang pandai berbicara secara adat atau disebut dengan ninik mamak. Dengan menyampaikan kata-kata persembahan, ninik mamak juga memberikan sirih sebagai buah tangan kepada pihak laki-laki. Setelah itu, ninik mamak mengemukakan maksud kedatangannya yakni untuk mempertunangkan anak keponakan dari kedua belah pihak. Keterlibatan anggota keluarga dan ninik mamak sangat di perlukan untuk mengukuhan pertunangan ini. Dalam tata cara bajapuik ini terdapat rangkaian prosesi yang dimulai dari beberapa tahapan. Pada tahap maratak tanggo, keluarga pihak perempuan mendatangi keluarga pihak laki-laki (marapulai) untuk saling mengenal satu sama lain dan apabila mendapatkan kecocokan maka kedua belah pihak akan membicarakan dan berunding untuk melaksanakan acara perkawinan. Selanjutnya tahap mamendekan hetongan, yaitu keluarga calon mempelai perempuan akan mendatangi keluarga calon mempelai laki-laki kembali untuk bermusyawarah mengenai proses perkawinan tersebut. Biasanya sebelum melakukan musyawarah, ninik mamak dari pihak perempuan akan menanyakan kembali L. TATA CARA TRADISI BAJAPUIK 26
apakah sudah yakin untuk melakukan perkawinan ini dikarena biaya baralek atau pesta dan beserta uang japuik akan disiapkan dari pihak perempuan. Apabila calon mempelai perempuan sudah yakin untuk melakukan perkawinan ini, maka ninik mamak pihak perempuan beserta keluarga akan mendatangi ke rumah pihak calon mempelai laki-laki. Tahapan selanjutnya adalah batimbang tando, pada tahap ini pihak keluarga perempuan mendatangi keluarga pihak laki-laki dan membawa persyaratan yang sudah dibicarakan sebelumnya sebagai tanda bahwa mereka akan menikah, serta melakukan musyawarah mengenai hal-hal apa saja yang diperlukan untuk melangsungkan perkawinan. Pada tahap ini juga akan ditentukan besarnya uang japuik melalui kesepakatan kedua belah pihak keluarga. Pada penentuan uang japuik ini diperankan oleh para ninik mamak dari pihak perempuan dan pihak laki-laki. Selanjutnya melakukan tahapan alek randam, yaitu memberikan persyaratan sebagai tanda bahwa mereka akan menikah dan sudah ditentukannya nilai uang japuik, maka tahap selanjutnya adalah persiapan untuk melangsungkan perkawinan. Pada tahap ini, pihak lakilaki dan pihak perempuan akan menentukan hari baik untuk melangsungkan acara pernikahan. Tahapan selanjutnya adalah bajalan malam, tahapan ini sifatnya hanya kekeluargaan, dan tujuannya untuk bersilaturahmi. Sebelum dilakukan acara bajalan 27
malam maka terlebih dahulu pihak perempuan melakukan penyelidikan pada keluarga calon yang akan dituju. Pada zaman sekarang, penyelidikan tidak dilaksanakan lagi karena kedua belah pihak sudah saling mengenal. Pada saat bajalan malam, pihak yang datang untuk menanyakan adalah pihak perempuan. Hal yang dibahas ketika bajalan malam adalah uang jemputan, uang hilang dan menentukan hari untuk peminangan. Selanjutnya tahapan babaua yang mempunyai arti bermusyawarah, pada saat babaua, semua pihak yang terlibat diundang seperti ninik mamak, alim ulama, andan pasumandan, sumando, urang mudo dan tokoh masyarakat lainnya. Pada hari yang ditentukan datang, sehingga tuan rumah akan menyiapkan berbagai keperluan untuk kelangsungan acara babaua. Dimulailah perundingan oleh seluruh tamu yang telah hadir. Selanjutnya adalah batuka tando merupakan bagian penting dari acara perkawinan. Disinilah terjadinya peminangan. Saat batuka tando, ninik mamak pihak perempuan membawa kapur sirih yang melambangkan perjanjian antara ninik mamak kedua belah pihak yang menandakan kedua belah pihak telah bertunangan. Setelah itu dilanjutkan dalam tahapan menyiapkan anak daro, banyak persiapan yang harus dilakukan oleh calon anak daro adalah menyiapkan mental dan menghias diri. Persiapan mental dilakukan dengan cara calon anak daro diarahkan untuk beribadah, mendalami agama, menghias diri sebelum di adakan acara perkawinan. 28
Tahapan selanjutnya adalah malam bainai, pada acara malam bainai diadakan sehari sebelum acara perkawinan. Malam bainai adalah memasangkan daun pacar merah yang sudah dilumatkan, gunanya untuk memerahkan kuku. Pada saat ini acara malam bainai ini sudah sangat jarang dilakukan oleh masyarakat karena sudah digantikan oleh hena. Tahapan selanjutnya adalah manjapuik marapulai, yaitu untuk menjemput mempelai laki-laki. Pada tradisi pernikahan di Pariaman, mempelai laki-laki tidak langsung disandingkan berdua dengan mempelai perempuan di pelaminan setelah akad nikah. Mempelai laki-laki akan menunggu di rumahnya untuk dijemput oleh perwakilan dari pihak perempuan. Sekitar enam jam sebelum resepsi pernikahan, ninik mamak dan perwakilan dari pihak perempuan akan datang untuk menjemput calon mempelai laki-laki. Pada prosesi inilah uang jemputan akan diserahkan kepada pihak laki-laki, penyerahan uang japuik ini dilakukan oleh ninik mamak dari pihak perempuan. Mereka akan membawa uang jemputan serta seperangkat alat yang wajib dibawa dalam prosesi manjapuik marapulai. Setelah prosesi manjapuik marapulai dilaksanakan, tahapan selanjutnya adaah acara baralek, acara baralek dimulai dengan diadakan acara badoncek atau badantam yang diramaikan oleh orang kampung. 29
Siang hari minggu merupakan hari untuk para tamu dan undangan. Pada hari itu juga ada beberapa acara yang dilaksanakan. Tahapan selanjutnya adalah manjalang, tahapan manjalang ini diadakan pada malam hari, setelah acara perkawinan. Posisi anak daro di iringi pasumandan rombongan kerabat anak daro. Adapun makanan yang dibawa ketika manjalang adalah sikunik singgang ayam, juadah, nasi samba. Selanjutnya pada saat di rumah mertua, anak daro akan diberi hadiah yang disebut dengan panjalang, panyiriahan, pasalaman dan baleh jalang. Setelah selesai acara manjalang, maka acara selanjutnya adalah malam patang katangah. Adapun tujuannya yaitu yang pertama untuk menunjukkan kamar pengantin, kedua sebagai malam perkenalan karena orang dahulu dijodohkan, ketiga untuk memeriksa keperawanan anak daro. Untuk datang kembali pada saat malam patang katangah marapulai ditemani urang mudo. Tahapan selanjutnya adalah acara baretong, acara ini diadakan di pagi hari setelah acara perkawinan selesai, tepatnya sebelum manduo kali. Pemuda dan ninik mamak ikut serta dalam kegiatan baretong. Semua hasil yang didapatkan ketika acara perkawinan dimulai dari undangan, hadiah dari bako dan hadiah dari mertua. 30
Selanjutnya adalah tahapan manduo kali, acara manduo kali di laksanakan setelah selesai baretong. Biasanya anak daro membawa makanan nasi, samba, sikunik dan juadah. Sebelum manduo kali, marapulai belum diperbolehkan pulang ke rumah istrinya. Rumah yang dikunjungi saat manduo kali adalah rumah kerabat ibu marapulai. Dan dilanjutkan dengan tahapan doa salamaik, doa selamat merupakan ungkapan rasa syukur yang di ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena semua acara telah dilancarkan pada saat perkawinan. Pada rangkaian pelaksanaan tradisi bajapuik, peran ninik mamak lebih menonjol, sehingga bagi penduduk setempat pengukuhan pertunangan ini dikenal dengan acara duduk ninik mamak. Artinya disinilah ninik-mamak kedua belah pihak bertemu. Pertemuan itu tidak hanya untuk pengukuhan pertunangan, tetapi sekaligus membicarakan dan menetapkan persyaratan adat khususnya mengenai uang jemputan dan uang hilang yang akan dibawa pada saat penjemputan marapulai. Selain itu, tanggal pernikahan dan pesta ditetapkan pula pada saat itu. Apapun keputusan yang diambil mengenai adat, merupakan kesepakatan antara ninik mamak kedua belah pihak. 31
M. NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TRADISI UANG JAPUIK Nilai sosial yang ada pada tradisi uang japuik ialah untuk menghargai pihak laki-laki yang akan menjadi pendatang di keluarga pihak perempuan, agar wibawanya seorang laki-laki yang akan menjadi suaminya lebih ada dan dianggap ada dan untuk menaikkan harkat dan martabat pihak lakilaki makanya mereka dijemput secara adat. Nilai budaya yang ada pada tradisi uang japuik adalah bahwa tradisi ini merupakan tradisi yang unik yang hanya dimiliki daerah pariaman dan diluar pariaman khususnya Sumatera Barat tidak ada tradisi bajapuik dengan menggunakan uang japuik (jemputan). Nilai religius yang ada pada tradisi uang japuik adalah pertama uang japuik adalah sebagai tanda menghargai dan memuliakan seorang laki-laki yang akan menjadi suami (junjungan) dari anak perempuannya. Kedua adalah terjalinnya tali silahturahmi yang begitu kuat dan kokoh antara keluarga calon anak daro (pengantin wanita) dan keluarga marapulai (pengantin pria) selama mengikuti prosesi adat pernikahan ini. Tidak hanya terjadi antara kedua calon keluarga tersebut, melainkan juga seluruh masyarakat yang ikut serta dalam menjalankan tradisi ini. 1. 2. 3. 32
0 3 0 3 B A B 3
Judul : Jejak Peradaban Masa Lalu di Kota SUMBER INFORMASI MENGENAI KOTA PARIAMAN BUKU Amir, Adriyetti Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau/ Adriyetti Amir. --Padang: Andalas University Press, Juli 2006. 208 halaman, i-x, 14,5 x 21 cm ISBN: 979-1097-08-9 JURNAL 1. Pariaman Pengarang : Efrianto A. Tahun Terbit : 2016 Nama Jurnal : Jurnal Penelitian Budaya dan Sejarah Link Jurnal : https://media.neliti.com/media/publications/317150-jejakperadaban-masa-lalu-di-kota-pariam-188b961c.pdf 2. Judul : Sejarah Kota Pariaman Pengarang : Syahrul M. Tahun Terbit : 2022 Nama Jurnal : Jurnal Keislaman dan Peradaban Link Jurnal : https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/hadharah/artic le/view/4209 34
https://pariamankota.go.id/profil/kategori?id=4 https://pariamankota.bps.go.id/ https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pariaman https://sumbar.kemenag.go.id/v2/kota-pariaman https://sumbar.kemenag.go.id/v2/post/23688/keunik an-kota-pariaman.html https://p2k.unkris.ac.id/en3/1-3073-2962/KotaPariaman_28737_p2k-unkris.html https://www.youtube.com/watch?v=hNSSohRfbbg https://www.youtube.com/watch?v=C7tZVbIA35w https://www.youtube.com/watch?v=sybHuVLhRFA https://www.youtube.com/watch?v=VDmjgwJ0r6U https://www.youtube.com/watch?v=jYxKHS6pvUY https://www.youtube.com/watch?v=FMGlWAMYcb8 https://www.youtube.com/watch?v=P81UsrTMY30 https://www.youtube.com/watch?v=KlRsPdXcICo WEB 1. 2. 3. 4. 5. 6. YOUTUBE 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 35
M.S, Amir Adat Minangkabau/ Amir M.S, --Jakarta: Karya Dunia Fikir, 2005. 118 hlm, i-xii, 14,5 x 21 cm ISBN: 979-97889-7-8 M.S, Amir Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang/ MS. Amir, -- Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1999. 185 hlm, ilus, 28 cm ISBN: 979-8011-89-9 Anwar, C. Hukum Adat Indonesia Meninjau Hukum Adat Minangkabau/ Choirul Anwar, --Jakarta: Rineka Cipta, 1997. 161 hlm, x, 21 cm ISBN: 979-5186-74-4 Saydam, Gouzali Keajaiban Pepatah Minang/ Gouzali Saydam, --Bandung: Pustaka Setia, 2010. 286 halaman, 11 x 17 cm ISBN: 978-979-076-100-1 SUMBER INFORMASI MENGENAI TRADISI UANG JAPUIK BUKU 36
Hakimy, Idrus Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak Minangkabau/ Idrus Hakimy, --Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001. 252 hlm, i-xxi, 21 cm. ISBN: 979-51157-0 Zainuddin, Musyair Minangkabau dan Adatnya; Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah/ Musyair Zainuddin, --Yogyakarta: Ombak, 2013. 130 hlm, i-viii; 14,5 x 21 cm ISBN: 978-602-258-030-0 Mukhtar, M. Pelaksanaan Upacara Perkawinan Menurut Adat Nagari di Minangkabau/ Mukhsis Mukhtar, --Jakarta: Yayasan Citra Pendidikan Indonesia, 2004. 677 hlm, xxiv, 28 cm ISBN: 979-3480-03-3 Latief, N. Etnis dan Adat Minangkabau/ N. Latief, --Bandung: Angkasa, 2016. 244 hlm, 14,5 x 21 cm ISBN : - 37
Couto, Nasbahry Budaya Visual Seni Tradisi Minangkabau/ Nasbahry Couto, --Padang: UNP Press, 2018. 276 halaman, 14,8 x 21 cm ISBN: 978-979-8587-37-5 Azwar, Welhendri Matrilokal dan Status Perempuan Dalam Tradisi Bajapuik/ Welhendri Azwar, --Yogyakarta: Galang Press, Oktober 2001. 104 halaman, i-x, 14,5 x 21 cm ISBN: 979-9341-33-7 JURNAL 1. Judul : Analisis Hukum Islam terhadap Tradisi Pitih Japuik dalam Perkawinan Adat Minangkabau Pariaman Pengarang : Miftahunir Rizka Tahun Terbit : 2022 Nama Jurnal : Jurnal Riset Hukum Keluarga Islam Link Jurnal : https://journals.unisba.ac.id/index.php/JRHKI/article/view/ 900 38
2. Judul : Budaya Hukum Perkawinan Bajapuik Bagi Masyarakat Pariaman Pengarang : Rizka Amelia Tahun Terbit : 2019 Nama Jurnal : Lex Jurnalica Link Jurnal : https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Lex/article/do wnload/2896/2463 3. Judul : Eksistensi Tradisi Bajapuik dalam Perkawinan Masyarakat Pariaman Minangkabau Sumatera Barat Pengarang : Maihasni Tahun Terbit : 2012 Link Jurnal : http://kpm.ipb.ac.id/karyailmiah/index.php/disertasi/ar ticle/view/28/77 4. Judul : Keunikan Tradisi Pertunangan Masyarakat Padang Pariaman Pengarang : Taufik Hidayat & Yusri Amir Tahun Tebit : 2022 Nama Jurnal : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Link Jurnal : https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/turast/arti cle/view/4436/2913 39
5. Judul : Mamak dan Uang Jemputan dalam Novel “Mahar Cinta Gandoriah” Pengarang : Rina Elvia, Khairil Anwar & Eka Meigalia Tahun Tebit : 2018 Nama Jurnal : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Link Jurnal : http://wacanaetnik.fib.unand.ac.id/index.php/wacanaetnik /article/view/76/101 6. Judul : Makna Simbolik Status Sosial Laki- laki dalam Tradisi Uang Japuik Suku Pariaman di Kota Pariaman Pengarang : Mia Almas Widyastuti Tahun Terbit : 2022 Nama Jurnal : Skripsi Ilmu Komunikasi Link Jurnal : http://repository.umsu.ac.id/bitstream/handle/123456789/ 17613/MIA%20ALMAS%20WIDYASTUTI_1803110033.pdf? sequence=1 7. Judul : Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Perkawinan Bajapuik di Padang Pariaman Sumatera Barat Pengarang : Rahmania Tahun Tebit : 2019 Link Jurnal : http://repository.iainbengkulu.ac.id/3929/1/RAHMANIA.p df 40
8. Judul : Persepsi dan Makna Tradisi Bajapuik Bagi Masyarakat Minang Perantauan di Pasar Minggu Jakarta Selatan Pengarang : Putri Aulia Tahun Tebit : 2022 Link Jurnal : https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/ 65560/1/11180150000104_%20PUTRI%20AULIA%20%28WA TERMARK%29.pdf 9. Judul : Persepsi dan Makna Tradisi Perkawinan Bajapuik pada Masyarakat Sungai Garingging Kabupaten Padang Pariaman Pengarang : Zike Martha Tahun Terbit : 2020 Nama Jurnal : Jurnal Biokultur Link Jurnal : https://ejournal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/download/ 21725/12124 10. Judul : Tradisi Bajapuik dan Uang Ilang Sistem Perkawinan di Kenagarian Kuranji Pengarang : Siti Morizana Tahun Terbit : 2021 Nama Jurnal : Jurnal Kronologi Link Jurnal : http://kronologi.ppj.unp.ac.id/index.php/jk/article/view/111 /104 41
11. Judul : Tradisi Bajapuik dan Uang Ilang Pada Perkawinan Adat Masyarakat Perantauan Padang Pariaman di Kota Malang Dalam Tinjauan ‘Urf Pengarang : Savvy Dian Faizzati Tahun Terbit : 2015 Nama Jurnal : Tesis Program Magister Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah Link Jurnal : https://core.ac.uk/download/44742745.pdf 12. Judul : Tradisi Bajapuik Masyarakat Minangkabau di Pariaman Pengarang : Andriyansyah Tahun Tebit : 2022 Nama Jurnal : Jurnal Budaya Nusantara Link Jurnal : https://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/jurnal_budaya_n usantara/article/view/5707/4395 13. Judul : Tradisi Bajapuik Pada Perkawinan Masyarakat Pariaman di Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru Pengarang : Laila Istiqamah Tahun Terbit : 2018 Nama Jurnal : JOM FISIP Link Jurnal : https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/downl oad/20637/19963 42
14. Judul : Tradisi Uang Japuik dan Status Sosial Laki- laki Pengarang : Roni Zuli Putra Tahun Terbit : 2016 Nama Jurnal : Skripsi Ilmu Hukum Keluarga Link Jurnal : https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/12345678 9/32944/1/RONI%20ZULI%20PUTRA-FSH 15. Judul : Tradisi Uang Japuik dan Uang Ilang dalam Sistem Perkawinan di Nagari Tandikek Kecamatan Patamuan Kabupaten Padang Pariaman Pengarang : Hafizah Tahun Terbit : 2017 Nama Jurnal : Jurnal Kepemimpin dan Kepengurusan Sekolah Link Jurnal : https://ejurnal.stkippessel.ac.id/index.php/kp/article/vie w/89/57 16. Judul : Uang Japuik; Tradisi dalam Perkawinan Masyarakat Pariaman Pengarang : Rozatul Husna S. Tahun Terbit : 2020 Nama Jurnal : Skripsi Studi Agama Link Jurnal : https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/12345678 9/49951/1/Rozatul%20Husna%20S_11150321000043%20Br .pdf 43
YOUTUBE 1. Judul : “Uang Jamputan” Tradisi Pariaman Link Video : https://www.youtube.com/watch?v=i1- TtW9o21A 2. Judul : Carito Uang Jemputan Link Video : https://www.youtube.com/watch? v=cBFMyUiusFc 3. Judul : Cowo Padang di Beli? Link Video : https://www.youtube.com/watch? v=cANgIdVuoos 4. Judul : Kenapa di Pariaman Perempuan Harus Membeli Laki-laki? Link Video : https://www.youtube.com/watch? v=lAm6U55aixw 5. Judul : Bajapuik; Tradisi Adat Pariaman Link Video : https://www.youtube.com/watch? v=z6DhXgCPI8U 6. Judul : Kenapa Perempuan Yang Melamar? Link Video : https://www.youtube.com/watch? v=Xotdzw_oU2w 7. Judul : Uang Hilang Link Video : https://www.youtube.com/watch? v=hcoY5wGKPGU 44
NOVEL 1. Judul : Ketika Rembulan Kembali Bernyanyi Pengarang : Alizar Tanjung Tahun Tebit : 2012 2. Judul : Aku Tidak Membeli Cintamu Pengarang : Desni Intan Suri Tahun Tebit : 2016 3. Judul : Mahar Cinta Gandoriah Pengarang : Mardhiyan & Novita M.Z. Tahun Terbit : 2014 4. Judul : Siti Nurbaya; Kasih Tak Sampai Pengarang : Marah Roesli Tahun Terbit : 2008 45
0 4 0 4 B A B 4