HUBUNGAN KEPATUHAN ANC (ANTENATAL CARE) DENGAN
KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PMB IRALAVAI TANJUNG
TAHUN 2022
SKRIPSI
OLEH
IRALAVAI TANJUNG
NPM : 21.222.354
PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA
JALUR TRANSFER FAKULTAS KEBIDANAN
INSTITUT KESEHATAN DELI HUSADA
DELITUA TAHUN 2022
i
HUBUNGAN KEPATUHAN ANC (ANTENATAL CARE) DENGAN
KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PMB IRALAVAI TANJUNG
TAHUN 2022
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana
Kebidanan
Pada Program Studi Ilmu Kebidanan Program Sarjana Fakultas Kebidanan
Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua
OLEH
IRALAVAI TANJUNG
NPM : 21.222.354
PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA
JALUR TRANSFER FAKULTAS KEBIDANAN
INSTITUT KESEHATAN DELI HUSADA
DELITUA TAHUN 20
ii
Lembar Persetujuan Pembimbing Untuk Sidang Skripsi
Judul Skripsi : Hubungan Kepatuhan ANC (Antenatal Care)
Nama Mahasiswa Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil
Di PMB Iralavai Tanjung Tahun 2022
: Iralavai Tanjung
NPM : 21.222.354
Fakultas : Kebidanan
Program Studi : Sarjana Kebidanan Non Reguler
Menyetujui
Pembimbing,
Bd.Vitrilina Hutabarat, SST., M.Keb
NPP.19890501.201808.2.2001
Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua
Fakultas Kebidanan
Dekan
Bd. Peny Ariani SST., M.Keb
NPP.19890614201008.2.002
Tanggal Seminar Proposal, 18 April 2022
i
Lembar Persetujuan Pembimbing Untuk Sidang Skripsi
Judul Skripsi : Hubungan Kepatuhan ANC (Antenatal Care)
Nama Mahasiswa Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil
Di PMB Iralavai Tanjung Tahun 2022
: Iralavai Tanjung
NPM : 21.222.354
Fakultas : Kebidanan
Program Studi : Sarjana Kebidanan Non Reguler
Menyetujui
Pembimbing,
Bd.Vitrilina Hutabarat, SST., M.Keb
NPP.19890501.201808.2.2001
Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua
Fakultas Kebidanan
Dekan
Bd. Peny Ariani SST.,M.Keb
NPP.19890614201008.2.002
Tanggal Seminar Hasil, 22 Juli 2022
ii
LEMBAR PENGESAHAN
HUBUNGAN KEPATUHAN ANC (ANTENATAL CARE)
DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL
DI PMB IRALAVAI TANJUNG
TAHUN 2022
Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh:
IRALAVAI TANJUNG
NPM : 21.222.354
Telah diuji dan dipertahankan di depan TIM penguji sidang proposal Kebidanan
Program Sarjana Kebidanan Institut Kesehatan DELI HUSADA Deli Tua
Tim Penguji 1
Tim Penguji II Bd.Vitrilina Hutabarat, SST., M.Keb
NPP.19890501.201808.2.2001
Tim Penguji III
Ns.Reisy Tane,S.Kep.,M.Kep.,Sp.Kep.An Ns. Selamat Ginting,S.Kep.,M.Kes
NPP.19920301.202003.001 NPP.197404410.199608.1.002
Diketahui
Ketua Jurusan Program Sarjana Kebidanan
Institut Kesehatan DELI HUSADA Deli Tua
Bd.Putri Ayu Yessy Ariescha, S.ST., M.Keb
NPP.19900326 201008.2.002
iii
Abstrak
Iralavai Tanjung: Judul Skripsi Ini Adalah Hubungan Kepatuhan ANC (Antenatal
Care) Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Di PMB Iralavai Tanjung Tahun
2022. Skripsi. Jurusan Kebidanan Fakultas Kebidanan Institut Kesehatan Deli
Husada Deli Tua. (Dibimbing oleh : Bd.Vitrilina, SST., M.Keb)
Masalah anemia pada ibu hamil sudah menjadi masalah global dari perkotaan
hingga pedesaan. Data Kemenkes RI (2018) terdapat 48,9% ibu hamil di Indonesia
mengalami anemia. ANC (Antenatal Care) atau pemeriksaan kehamilan bertujuan
meningkatkan kesehatan fisik dan mental ibu hamil hingga mampu menghadapi
masa persalinan (nifas). Riset kesehatan dasar pada tahun 2013 standar kunjungan
ANC 4 kali periksa sedangkan tahun 2020 pemerintah yang didukung WHO
standarnya 8 kali periksa. Menggunakan metode penelitian kuantitatif analisis
deskriptif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini purposive sampling.
Data disajikan dengan analisis univariat dan bivariat. Data primer penelitian ini
berdasarkan catatan buku khohort dan kuesioner, diolah menggunakan SPSS 28
(Statistical Package for Social Sciences) dengan uji Chi Square dan uji Pearson
Correlation. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepatuhan periksa ANC ≥ 8 kali
sebesar 65 % dan ≤ 8 kali sebesar 35 %. Sedangkan kejadian anemia ringan 20%.
Uji Chi square test terlihat Assymp. Sig sebesar 0,01 berarti di bawah = 0,05 (0,01
< 0,05). Nilai Pearson Chi-Square hitung nilai tabel Chi-Square (12.115 > 3.841).
Uji Pearson Correlation nilai 0.00 berarti di bawah 0,05 dan derajat hubungan
nilai sebesar - 550. Hasil analisis uji Chi Square test memperlihatkan ada hubungan
antara kepatuhan ANC dan kejadian anemia. Hasil analisis uji Pearson Correlation
test terdapat derajat hubungan yang kuat antara tingkat kepatuhan ANC dengan
kejadian anemia. Bentuk kedua hubungan tersebut adalah semakin tinggi tingkat
kepatuhan ANC maka kejadian anemia semakin rendah. Disarankan agar pasien
patuh periksa ANC.
Kata Kunci: Patuh, Periksa ANC, Kejadian Anemia
iv
Abstract
Iralavai Tanjung: The Title of This Thesis is The Relationship Between ANC
(Antenatal Care) Compliance and The Incidence of Anemia in Pregnant Women at
PMB Iralavai Tanjung in 2022. Thesis. Department of Midwifery, Faculty of
Midwifery, Deli Husada Deli Tua Health Institute. (Supervised by: Bd. Vitrilina,
SST., M.Keb)
The problem of anemia in pregnant women has become a global problem from
urban to rural. Data from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia (2018)
stated that there are 48.9 % of pregnant women in Indonesia experiencing anemia.
ANC (Antenatal Care) or pregnancy examination aims to improve the physical and
mental health of pregnant women until they are able to face the delivery period
(puerperium). Basic health research in 2013 the ANC visit standard was 4 times
checked while in 2020 the WHO-supported government standard was 8 times
checked. Using quantitative research methods of descriptive analysis. The
sampling technique in this study was purposive sampling. Data were presented with
univariate and bivariate analysis. The primary data of this study, based on khohort
book records and questionnaires, were processed using SPSS 28 (Statistical
Package for Social Sciences) with the Chi Square test and the Pearson Correlation
test. The results showed that the compliance rate of an ANC check ≥ 8 times by
65% and ≤ 8 times by 35%. While the incidence of anemia was mild 20%. Chi
square test looks Assymp. A Sig of 0.01 means below = 0.05 (0.01< 0.05). Pearson
Chi-Square values calculate chi-square table values (12,115 > 3,841). The Pearson
Correlation test value of 0.00 means below = 0.05 and the degree of relationship
value was - 550. The results of the Chi Square test analysis showed that there was
a relationship between ANC compliance and the incidence of anemia. The results
of the Pearson Correlation test analysis showed a strong degree of association
between the level of ANC compliance and the incidence of anemia. The second
form of the relationship was that the higher the ANC compliance rate, the lower the
incidence of anemia. It is recommended that patients comply with the ANC
examination.
Keywords: Compliance, ANC Check, Incidence of Anemia
v
PERNYATAAN
HUBUNGAN KEPATUHAN ANC (ANTENATAL CARE) DENGAN
KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PMB IRALAVAI TANJUNG
TAHUN 2022
SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana di suatu Perguruan Tinggi, dan
sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka.
Deli Tua, Juli 2022
Iralavai Tanjung
vi
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur bagi Tuhan Allah Yang Mahakuasa, atas kebaikan
dan anugerahNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul
“Hubungan Kepatuhan ANC (Antenatal Care) Dengan Kejadian Anemia Pada
Ibu Hamil Di PMB Iralavai Tanjung Tahun 2022”. Skripsi ini disusun sebagai
salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Studi Kebidanan Program Sarjana
Jalur Transfer Fakultas Kebidanan Institut Kesehatan Deli Husada.
Penulis menyadari skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai
pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa syukur dan
terimakasih kepada:
1. Terulin S.Meliala, Am.Keb, SKM, M.Kes selaku Ketua Yayasan RSU
Sembiring Deli Tua.
2. Drs. Johannes Sembiring, M.Pd, M.Kes selaku Rektor Institut Kesehatan
Deli Husada Deli Tua.
3. Peny Ariani, SST., M.Keb, selaku Dekan Fakultas Kebidanan Institut
Kesehatan Deli Husada Deli Tua.
4. Bd. Putri Ayu Yessy Ariescha, SST., M.Keb selaku Ketua Jurusan Program
Studi Sarjana Kebidanan Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua.
5. Bd. Vitrilina Hutabarat, SST., M.Keb, selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan masukan dan bantuan yang sangat berguna dalam penyusunan
proposal skripsi ini.
6. Bd. Mutiara Dwi Yanti, SST., M.Keb dan Bd. Vitrilina Hutabarat, SST.,
M.Keb, selaku wali tingkat program Sarjana Jalur Transfers Studi
vii
Kebidanan Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua yang telah memotivasi
dan memberi dukungan.
7. Seluruh dosen dan staff pegawai di lingkungan Studi Sarjana Kebidanan
Institut Kesehatan Deli Husada Deli Tua.
8. Seluruh keluarga besar Siregar/Tanjung khususnya Suamiku (Jundo
Parasian Siregar) dan anak-anak kami (Sir Nickao Siregar, Havenu Ro
Shevaoth Siregar dan De Vita Lectures Siregar) yang telah mendoakan dan
memotivasi penulis selama perkuliahan hingga selesai dengan baik.
9. Seluruh mahasiswi Program Studi Sarjana Kebidanan Non-Reguler
angkatan 2021 atas persahabatan dan perhatian selama ini.
10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Skripsi ini yang
tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidaklah luput dari kekurangan, untuk
itulah dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan masukan berupa saran,
maupun pemikiran kritis demi perbaikan agar penelitian dimasa yang akan datang
dapat menghasilkan karya skripsi lebih baik lagi. Akhir kata, kiranya penelitian ini
menjadi penelitian yang mendatangkan manfaat yang sebaik-baiknya.
Batam, Juli 2022
Penulis
Iralavai Tanjung
viii
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Persetujuan Pembimbing Untuk Sidang Skripsi......................................... i
Lembar Persetujuan Pembimbing Untuk Sidang Skripsi........................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iii
Abstrak ................................................................................................................... iv
Abstract ................................................................................................................... v
PERNYATAAN..................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL................................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP............................................................................. xiii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian...................................................................................... 5
1.4 Manfaat Penelitian.................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 7
2.1 Landasan Teori ANC................................................................................ 7
2.1.1 Pengertian ANC. ............................................................................... 7
2.1.2 Pemeriksaan ANC............................................................................. 8
2.1.3 Standar Kunjungan ANC. ............................................................... 10
2.1.4 Ruang Lingkup Tugas ANC............................................................ 13
2.1.5 Peran Konseling Dalam ANC. ........................................................ 15
2.1.6 Pentingnya Kepatuhan ANC ........................................................... 17
2.2 Landasan Teori Anemia ......................................................................... 20
2.2.1 Pengertian Anemia.......................................................................... 20
2.2.2 Anemia Dan Ibu Hamil. .................................................................. 21
2.2.3 Penyebab Terjadinya Anemia ......................................................... 24
2.2.4 Pengukuran Anemia Pada Ibu Hamil.............................................. 25
ix
2.2.5 Penanganan Anemia Pada Ibu Hamil.............................................. 27
2.3 Kerangka Teori....................................................................................... 31
2.4 Hipotesis Penelitian................................................................................ 31
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 32
3.1 Jenis Dan Desain Penelitian ................................................................... 32
3.2 Lokasi dan Waktu Peneltian................................................................... 32
3.3 Populasi dan Sampel............................................................................... 33
3.4 Metode Pengumpulan Data .................................................................... 35
3.5 Alur Penelitian........................................................................................ 35
3.6 Definisi Operasional............................................................................... 36
3.7 Metode Pengolahan Data dan Teknik Analisis Data.............................. 38
3.7.1 Metode Pengolahan Data ................................................................ 38
3.7.2 Teknik Analisis Data....................................................................... 40
3.8 Etika Penelitian....................................................................................... 40
BAB IV HASIL PENELITIAN ........................................................................... 42
4.1 Gambaran Umum Tempat dan Lokasi Penelitian. ................................. 42
4.2 Data Demografi ...................................................................................... 43
4.2.1 Tabel Distribusi frekuensi Karakteristik Responden di PMB......... 43
4.3 Analisis Univariat................................................................................... 45
4.3.1 Tabel Distribusi Tingkat Kepatuhan ANC di PMB Iralavai Tanjung
tahun 2022..................................................................................................... 45
4.3.2 Tabel Distribusi Kejadian Anemia dan Frekuensi Nilai Hb di PMB
Iralavai Tanjung tahun 2022. ........................................................................ 45
4.4 Analisis Bivariat ..................................................................................... 47
4.4.1 Hasil Analisis Uji Chi Square hubungan tingkat kepatuhan ANC
dengan kejadian anemia di PMB Iralavai Tanjung........................................ 48
4.4.2 Hasil Analisis Uji Correlation Pearson hubungan tingkat kepatuhan
ANC dengan kejadian anemia di PMB Iralavai Tanjung. ............................. 49
BAB V PEMBAHASAN ..................................................................................... 51
5.1 Signifikansi Karasteristik Ibu Hamil Dan Pemeriksaan ANC .................... 51
5.2 Hubungan Pemeriksaan ANC Dan Nilai Hb .......................................... 52
5.3 Hubungan Kepatuhan ANC dengan Kejadian Anemia .......................... 53
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 55
6.1 Kesimpulan............................................................................................. 55
6.2 Saran ....................................................................................................... 55
x
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 57
Lampiran 1 Pernyataan Persetujuan Menjadi Responden..................................... 61
Lampiran 2: Lembar Kuesioner ............................................................................ 62
Lampiran 3: Data Karakteristik Responden.......................................................... 64
Lampiran 4: Data Tingkat Kepatuhan dan Kejadian Anemia ............................... 65
Lampiran 5: Tabel Chi-Square.............................................................................. 66
Lampiran 6: Hasil Uji Statistik Chi Square .......................................................... 67
Lampiran 7: Hasil Uji Statistik Correlation Pearson ........................................... 68
Lampiran 8: Dokumentasi Penelitian.................................................................... 69
xi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.2. 1 Asupan Gizi Trimester 1 (Diah Ayu Fitriana, 2016) ........................ 28
Tabel 2.2. 2 Asupan Gizi Trimester 2 (Diah Ayu Fitriana, 2016) ........................ 28
Tabel 2.2. 3 Asupan Gizi Trimester 3 (Diah Ayu Fitriana, 2016) ........................ 29
Tabel 3.6 1 Definisi Operasional .......................................................................... 37
Tabel 4.3 1 Tabel Tingkat Kepatuhan ANC Diolah Dari Sumber Primer ........... 45
Tabel 4.3 2 Tabel Kejadian Anemia dan Nilai Hb Diolah Dari Sumber Primer .. 46
Tabel 4.4 1 Tabel Uji Chi Square Diolah Menggunakan SPSS 28 ....................... 48
Tabel 4.4 2 Tabel Uji Correlation Pearson Diolah Menggunakan SPSS 28 ........ 49
Tabel 5 1 Tabel Chi-Square.............................................................................................66
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.3. 1 Skema Kerangka Teori ................................................................ 31
Gambar 3.5. 1 Skema Alur Penelitian ................................................................. 35
Gambar 4.1 1 Gambar lokasi penelitian diambil dari google map ..................................42
Gambar 8 1 Peneliti memberikan kuesioner untuk diisi pada saat kunjungan periksa
ANC di lokasi penelitian. .................................................................................................69
Gambar 8 2 Peneliti menghantarkan kuesioner ke rumah responden untuk disi. ............69
xii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. Identitas : Iralavai Tanjung
Nama Lengkap : Binjai, 05 Februari 1984
Tempat, tanggal Lahir : 2 dari 5 bersaudara
Anak Ke : Kristen Protestan
Agama : Sudah Menikah
Status
Nama Orang Tua : Jhony Tanjung
a. Ayah : Rista Riana Manurung
b. Ibu
: Perumahan Bukit Barelang Blok B4
Alamat Lengkap No. 06 Kelurahan Tanjung Piayu,
Kecamatan Sei Beduk-Kota Batam
II. Riwayat Pendidikan
2021 - 2022 : Program Studi Kebidanan Program
Sarjana Instut Kesehatan Deli
2002 - 2005 Husada Deli Tua
1999 - 2002 : D III Kebidanan Akademi Sari
1996 - 1999 Mutiara Medan
1990 - 1996 : SPK Dairi
: SMP Negeri 1 Sunggal
III. Riwayat Pekerjaan : SD Negeri 101735 Sei Semayang
2005 - 2010
2013 - Sekarang : Bidan di Klinik Anugerah-Punggur,
Kota Batam.
: PMB Iralavai Tanjung di Kota
Batam
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Penelitian ini dilatarbelakangi hasil penelitian sebelumnya dan pengalaman
penulis. Data WHO (2019) memperlihatkan Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia
yaitu sebanyak 303.000 jiwa. Target Kematian Ibu tahun 2020 =16 kematian
ibu (91,45/100.000 KH), sedangkan jumlah kematian ibu sampai bulan
agustus 2020 = 27 kematian ibu (227,22/100.000 KH). Angka Kematian Ibu (AKI)
di ASEAN yaitu sebesar 235 per 100.000 kelahiran hidup (ASEAN Secretariat,
2020). Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Jakarta
tanggal 22/12/2021 melaporkan bahwa Indonesia masih memiliki angka kematian
ibu (AKI) yang tinggi yakni 305 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil
Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) terakhir yang dilakukan Badan Pusat
Statistik (BPS) pada tahun 2015. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan, angka
kematian ibu pada 2021 mencapai 6.865 orang. Jumlah tersebut meningkat
dibanding 2019 yang tadinya 4.197 orang.
Indonesia memiliki angka pravelensi ibu hamil anemia sebesar 37,1%
(Proverawaty, 2011). Anemia pada ibu hamil sudah menjadi masalah global dari
perkotaan hingga pedesaan. Hal tersebut terlihat dari angka kematian ibu saat
melahirkan masih memprihatinkan. Kemaatian ibu hamil tidaklah disebabkan
faktor tunggal. Banyak sebab terjadinya kematian itu, salah satu yang menarik
1
2
perhatian penulis disebabkan faktor anemia. Kasus ini harus mendapat perhatian
semua pihak.
Menurut data kesehatan kota Batam melalui kegiatan Audit Maternal
Perinatal (AMP) diketahui pada tahun 2017 terdapat 30 orang ibu meninggal
dengan angka kematian sebesar 105/100.000 kelahiran hidup angka ini melebihi
keadaan tahun 2016 lalu sebesar 97/100.000 kelahiran hidup. Banyak faktor yang
memungkinkan adanya peningkatan Angka Kematian Ibu (AKI) salah satunya
masih belum optimalnya ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kesehatannya
secara berkala (Profil Kesehatan Kota Batam, 2018:36). Pemerintah kota Batam
secara konsisten memperhatikan pentingnya pemeriksaan kehamilan.
Mencermati pentingnya ANC (Antenatal Care) pemeriksaan kehamilan
bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pada ibu hamil secara
optimal, hingga mampu menghadapi masa persalinan, nifas, menghadapi persiapan
pemberian ASI secara eksklusif, serta kembalinya kesehatan alat reproduksi dengan
wajar (promkes.kemkes.go.id). Hasil riset kesehatan dasar pada tahun 2013
mengemukakan bahwa standar kunjungan ANC dengan skema kunjungan 4 kali.
Hasil terbaru standar kunjungan ANC pada tahun 2020 kebijakan
pemerintah dan rekomendasi WHO dijelaskan dalam buku Kesehatan Ibu dan
Anak menyatakan bahwa pemeriksaan ibu hamil (ANC) menggunakan skema 8 kali
kunjungan. Bertolak dari data tersebut penulis tertarik untuk melihat tingkat
kepatuhan ibu hamil periksa ANC dengan menggunakan skema 8 kali kunjungan.
Sebab ANC menjadi pintu masuk, memberi bantuan pemeriksaan berkala agar
kesehatan ibu dan janin terpantau baik.
3
Selain itu, hasil penelitian terdahulu yang dilakukan di PUSKESMAS dan
Rumah Sakit menunjukkan adanya hubungan positif pengetahuan dan kunjungan
ANC dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe
dapat menurunkan anemia. Anemia adalah suatu kondisi dimana jumlah sel darah
merah atau hemoglobin kurang dari normal. Prevalensi anemia rata-rata lebih
tinggi pada ibu hamil (51%) dibandingkan pada wanita yang tidak hamil (41%)
(Gibney dkk, 2009). Data menunjukkan hampir separuh ibu hamil di Indonesia
mengalami anemia atau kekurangan darah. Menurut Kemenkes RI (2018),
sebanyak 48,9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Membaca data tersebut
jelas sekali terlihat bahwa ibu hamil yang menderita anemia punya peluang
mengalami perdarahan pada saat melahirkan, selain itu dapat berakibat fatal yakni
pada kematian (Nilam Fitriani Doi, 2021:7).
Kejadiaan anemia pada masa kehamilan bisa terjadi saat sebelum hamil
atau sejak hamil. Kejadian anemia pada ibu hamil berdampak buruk bagi ibu
dan janin yang sedang dikandungnya. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat,
anemia bisa memicu bayi lahir prematur bahkan bisa terjadi kematian. Anemia
pada masa kehamilan juga bisa menyebabkan ibu mengalami depresi setelah
melahirkan. Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator
keberhasilan layanan kesehatan di Indonesia. Kematian ibu dapat terjadi karena
anemia. Angka kematian kematian ibu adalah 70% untuk ibu-ibu yang anemia dan
19,7% untuk mereka yang non anemia (Adi Sasmito, 2018:231).
Melalui pemeriksaan ANC merupakan pintu terdeteksinya kejadian anemia.
Terdeteksinya anemia pada ibu hamil sejak dini memungkinkan memberi ruang
dan waktu memadai melakukan penanganan pencegahan terjadinya kasus lanjutan.
4
Kepatuhan ANC lebih menekankan pencegahan anemia pada ibu hamil baik
langsung maupun tidak langsung. Data penelitian terdahulu juga mengungkapkan
bahwa masih terdapat ibu-ibu hamil kurang memberi perhatian pada pemeriksaan
ANC sehingga kejadian anemia tidak terdeteksi segera. Sejak terjadinya kehamilan,
idealnya ibu hamil melakukan pemeriksaan ANC secara berkala (sesuai standar
yang dianjurkan), walaupun tanpa gejala penyerta kehamilan apapun seorang ibu
hamil wajib melakukan pemeriksaan.
Bagaimanapun ANC menjadi bantuan penting pemberi tanda, nasehat atau
panduan penanganan apabila terjadi kasus lanjutan atau efek dari kehamilan. Sejak
terdeteksinya anemia pada ibu hamil sejak dini memberi kesempatan dan waktu
melakukan tindakan-tindakan terukur, sifatnya preventif meningkatkan kadar darah
(hemoglobin) agar normal sehingga proses persalinan berlangsung dengan baik.
Selanjutnya penulis memperhatikan kehadiran Praktik Mandiri Bidan
(PMB) yang diberi izin oleh pemerintah (Peraturan Menteri Kesehatan No. 28
Tahun 2017) untuk melaksanakan tugasnya. PMB merupakan mitra kesehatan
masyarakat, terdepan dan dipercaya hampir semua lapisan. Selain itu PMB juga
mitra Rumah Sakit dan Pemerintah dalam bidang penyuluhan ibu hamil dan
persalinan hingga pascapersalinan. Pengalaman penulis selama melaksanakan PMB
sering menemukan kasus kejadian anemia pada ibu hamil baru saja diketahui saat
setelah melakukan pemeriksaan ANC, tetapi yang patut disayangkan ada juga
pasien ibu hamil baru pertama periksa pada saat akan segera bersalin. Hal ini tentu
mengkuatirkan.
Penulis juga sering menemukan pasien ibu hamil terkesan tidak patuh
melakukan pemeriksaan ANC selama periode kehamilan. Hal ini dibuktikan
5
dengan catatan KIA yang dimiliki pasien. Hasil pemantauan menunjukkan ada yang
hanya satu atau dua kali saja pasien ibu hamil melakukan pemeriksaan selama
periode kehamilan. Berdasarkan kajian latar belakang di atas diatas penulis tertarik
meneliti hubungan kepatuhan ANC dengan kejadian anemia ibu hamil.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah: “Apakah terdapat hubungan kepatuhan ANC dengan kejadian
anemia pada ibu hamil di PMB Iralavai Tanjung pada tahun 2022?”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum.
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan
kepatuhan ANC dengan kejadian anemia pada ibu hamil di PMB Iralavai Tanjung
tahun 2022.
1.3.2 Tujuan Khusus.
1. Untuk mengetahui karakteristik Ibu hamil selama mengikuti ANC di
PMB Iralavai Tanjung pada tahun 2022.
2. Untuk mengetahui tingkat kepatuhan Ibu hamil mengikuti ANC di PMB
Iralavai Tanjung pada tahun 2022.
3. Untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan ANC dengan kejadian
anemia pada ibu hamil di PMB Iralavai Tanjung pada tahun 2022.
6
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, bagi:
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah ilmu pengetahuan yang telah didapatkan dalam
pendidikan di kampus mengenai penelitian kesehatan di bidang kebidanan.
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai pedoman dan referensi bagi peneliti
dalam tata laksana pemeriksaan ANC khususnya pada kejadian anemia ibu
hamil di Praktik Mandiri Bidan Iralavai Tanjung tahun 2022.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Menjadikan referensi dan atau bahan masukan bagi para peneliti
selanjutnya, khususnya di wilayah kerja Praktik Mandiri Bidan (PMB) yang
ingin melakukan penelitian yang lebih luas dan mendalam yang berkaitan
kepatuhan ibu hamil dengan kejadian anemia. Juga perlunya mendalami
peran pemeriksaan ANC bagi ibu hamil dan persalinan dari berbagai aspek
agar memperoleh data yang lebih luas dan mendalam.
1.4.3 Bagi Masyarakat
Sebagai masukan dan tambahan pengetahuan bagi ibu hamil secara
umum agar turut serta patuh mengikuti pemeriksaan ANC sesuai dengan
standar sejak terjadinya kehamilan, khususnya ibu hamil dengan anemia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori ANC
2.1.1 Pengertian ANC.
Kata ANC adalah istilah kebidanan. ANC singkatan dari Antenatal Care
adalah konsep pemeriksaan kehamilan dini (early ANC detection) yang harus
diketahui oleh seorang bidan untuk memberikan informasi kepada masyarakat
bahwa semenjak seorang wanita merasa dirinya hamil harus segera melakukan
pemeriksaan (Ai Yeyeh Rukiah dan Lia Yulianti, 2010:3).
Dari penjelasan ini terlihat bahwa pemeriksaan ANC berkaitan dengan
kompetensi yang harus dimiliki seorang bidan dalam melakukan pemeriksaan
(inspection) ibu hamil agar informasi terkait dengan segala kehamilan terperiksa
dengan akurat.
Asuhan kehamilan atau ANC adalah upaya preventif program pelayanan
kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui
kegiatan pemantauan rutin setiap bulan (eprints.poltekkesjogja.ac.ic). Asuhan ANC
adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam rahim (Dartiwen dan Yati Nurhayati, 2021:111).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa ANC memberi dukungan dan bantuan yang
signifikan agar persalinan ibu hamil dapat berjalan baik hingga kembali pada
keadaan normal.
7
8
2.1.2 Pemeriksaan ANC.
Sudah dikatakan sebelumnya bahwa ANC adalah pemeriksaan kehamilan
dini, Ai Yeyeh Rukiah dan Lia Yulianti (2010:3) yang dimaksud dengan
pemeriksaan kehamilan dini adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang
wanita untuk pertama kali ketika menyadari dirinya hamil dengan tujuan
dilakukannya pemeriksaan kehamilan secara dini adalah untuk mengetahui apakah
wanita tersebut benar-benar hamil, untuk menentukan usia kehamilan, melakukan
deteksi adanya faktor resiko dan komplikasi pada kehamilan, perencanaan
penyuluhan dan pengobatan yang diperlukan, kemudian melakukan rujukan dan
kolaborasi bila kehamilan mengalami komplikasi dan faktor resiko yang
memungkinkan komplikasi terjadi.
Konsep ANC merupakan pemeriksaan kehamilan yang bertujuan untuk
meningkatkan kesehatan fisik dan mental pada ibu hamil secara optimal, hingga
mampu menghadapi masa persalinan, nifas, menghadapi persiapan pemberian ASI
secara eksklusif, serta kembalinya kesehatan alat reproduksi dengan wajar
(promkes.kemkes.go.id). Pembagian klien dalam klasisifikasi penilaian deteksi dini
menurut Ai Yeyeh Rukiah dan Lia Yulianti (2010:3) sebagai berikut:
1) Klien dengan kehamilan normal adalah seorang ibu yang sedang hamil dan
kehamilan dilalui dengan sehat dan tidak ada komplikasi.
2) Seorang ibu hamil atau klien dikatakan mengalami kehamilan bermasalah
jika dalam kehamilannya mengalami masalah, tetapi dengan bimbingan
khusus dan pengawasan, masalah yang dihadapi dapat diatasi .
9
3) Seorang klien dengan kehamilan risiko tinggi adalah klien yang
membutuhkan rujukan yang cepat ke Rumah Sakit untuk perawatan khusus
dan atau pemeriksaan.
Menurut Dartiwen dan Yati Nurhayati, (2021:111) ANC bertujuan untuk:
a. Mengenal dan menangani sedini mungkin penyulit yang terdapat saat
kehamilan dan nifas.
b. Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai kehamilan,
persalinan dan nifas.
c. Memberi nasehat dan petunjuk yang berkaitan dengan kehamilan,
persalinan, nifas, laktasi dan aspek keluarga berencana.
d. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
Dalam pemeriksaan ini yang mesti diperhatikan, sebagai berikut:
a) Pengawasan serta penanganan wanita hamil dan pada saat pemeriksaan.
b) Perawatan dan pemeriksaan wanita hamil sesudah persalinan.
c) Perawatan neonatus-bayi.
d) Pemeliharaan dan pemberian laktasi.
Tujuan besar dari asuhan ANC agar persalinan berjalan baik sehingga
keselamatan ibu dan anak tercapai. Bila dijabarkan (Dartiwen dan Yati Nurhayati
2021:141-142) sebagai berikut:
1) Mempromosikan dan menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi
dengan memberikan pendidikan gizi, kebersihan dini dan proses
kelahiran.
2) Mendeteksi dan penatalaksanaan komplikasi medis ataupun obstetric
selama kehamilan.
10
2.1.3 Standar Kunjungan ANC.
Kunjungan ibu hamil dalam rangka ANC dapat diartikan pertemuan antara
bidan (tenaga kesehatan) dengan ibu yang sedang hamil. Secara garis besar
pengawasan ANC menurut penjelasan Dartiwen dan Yati Nurhayati (2021:112)
dibagi menjadi 3 standar pemeriksaan, yaitu:
1) Pemeriksaan pertama, dilakukan setelah diketahui keterlambatan haid.
2) Pemeriksaan ulang.
2.1 Setiap bulan sampai umur kehamilan 6-7 bulan.
2.2 Setiap 2 minggu sampai kehamilan berumur 8 bulan.
2.3 Setiap 1 minggu sejak umur kehamilan 8 bulan sampai terjadi
persalinan.
3) Pemeriksaan khusus jika terdapat keluhan-keluhan tertentu.
Pemeriksaan tersebut sekaligus menjadi kontrol yang terukur. Melalui
pemeriksaan ANC ada kegiatan bertukar informasi antara ibu hamil dengan bidan
(tenaga medis). Selain itu bidan (tenaga medis) dengan kewenangannya melakukan
observasi serta melakukan serangkaian pemeriksaan. Diantara bidan dan ibu hamil
terjadi kontak sosial, bekerjasama mengkaji kesehatan ibu hamil dan janinnya.
Berapa kali sepatutnya kunjungan ANC dilakukan? Berdasarkan riset
kesehatan dasar pada tahun 2013, idealnya kunjungan ANC dilakukan sebanyak 4
kali, dengan sebaran sebagai berikut:
1. K1 ideal adalah proporsi kelahiran yang mendapat pelayanan kesehatan ibu
hamil pertama kali pada trimester 1.
2. K4 adalah proporsi kelahiran yang mendapat pelayanan kesehatan ibu hamil
selama 4 kali dan memenuhi kriteria 1-1-2 yaitu minimal 1 kali pada
11
trimester 1, minimal 1 kali pada trimester 2 dan minimal 2 kali pada
trimester 3. ANC minimal 4 kali adalah proporsi kelahiran yang mendapat
pelayanan kesehatan ibu hamil minimal 4 kali tanpa memperhitungkan
periode waktu pemeriksaan. (Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan
Dasar (RISKESDA, 2013:170).
Tetapi sesuai dengan kebijakan pemerintah dan terbitnya buku Kesehatan
Ibu dan Anak pada tahun 2020 yang terbaru sekaligus buku ini menjadi patokan
dalam memberi pemeriksaan kehamilan bagi setiap ibu hamil. Dalam buku KIA
dengan jelas menyatakan bahwa Antenatal Care minimal 8 kali sebagaimana juga
rekomendasi WHO.
a) Kunjungan pertama dilakukan pada trimester I umur kehamilannya 0-12
minggu.
b) Kunjungan kedua dilakukan pada trimester II umur kehamilan 20 dan 26
minggu.
c) Kunjungan ketiga dilakukan pada trimester III umur kehamilan 30, 34, 36,
38 dan 40 minggu.
Distribusi frekwensi kunjungan ibu hamil dalam pemeriksaan ANC
berdasarkan (Buku KIA: 2020) yakni: Pemeriksaan kehamilan minimal 6
kali dan minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter di trimester 1 dan 3
▪ 2 kali pada trimester I (kehamilan hingga 12 minggu).
▪ 1 kali pada trimester II (kehamilan diatas 12 minggu sampai 24
minggu).
▪ 3 kali pada trimester III (kehamilan di atas 24 minggu sampai 40
minggu).
12
Dalam penelitian ini frekuwensi kunjungan ANC menggunakan standar
pemerintah dan rekomendasi WHO yakni sebanyak 8 kali. Memperhatikan hasil ini
dapatlah dikatakan bahwa ibu hamil mestilah mendapat pemeriksaan ANC setiap
bulan. Agar kehamilan terpantau dengan baik. Dengan demikian setiap ibu hamil
wajib mendapatkan pelayanan pemeriksaan kehamilan yang meliputi standart 10 T,
yang dijabarkan Buku KIA (2020) sebagai berikut:
1) Timbang berat badan setiap kali kunjungan dan dicatat dan ukur tinggi
badan.
• Untuk menentukan status gizi.
• Minimal BB ibu naik sebanyak 9 kg atau 1 kg setiap bulannya.
2) Ukur tekanan darah, normalnya 110/80- dibawah 140/90. Tekanan
darah >140/90 mmHg (Hipertensi)
3) Nilai status gizi. Tentunkan nilai status gizi dengan pengukuran Lingkar
Lengan Atas (LILA). LILA <23,5 cm, risiko KEK (Kurang Energi
Kronis).
4) Ukur tinggi fundus uteri/tinggi rahim/puncak rahim: memantau
perkembangan janin.
5) Tentukan presentasi janin dan denyut janjung janin (DJJ). Untuk
menentukan letak janin, atau masalah lain.
6) Skrining status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi TT (Tetanus
Toksoid) bila diperlukan.
7) Beri tablet tambah darah (tablet zat besi). Ibu mendapatkan minimal 90
tablet selama kehamilan.
8) Test/periksa laboratorium (penyakit sifilis, Hepatitis B dan HIV).
13
9) Tatalaksana/penanganan kasus. Apabila ditemukan masalah, segera
ditangani atau dirujuk.
10) Temu wicara/konseling. Termasuk perencanaan persalinan dan
pascapersalinan.
Dengan konsep pemeriksaan dengan 10 T tersebut terlihat seorang ibu hamil
mendapatkan pemeriksaan yang komprehensif, sifatnya rutin dan sesuai standart
pelayanan. Dengan demikian seorang ibu hamil akan mendapatkan pengawasan
kesehatan selama hamil hingga menyongsong masa persalinan.
2.1.4 Ruang Lingkup Tugas ANC.
Anita dan Lyndon (2014:12) menguraikan tugas Asuhan Kebidanan
melalui petugas kesehatan yakni melakukan pemeriksaan yang sifatnya
komprehensif, diantaranya:
a) Mengumpulkan data riwayat kesehatan dan kehamilan serta
menganalisanya.
b) Melakukan pemeriksaan fisik secara sistematis dan lengkap.
c) Menilai keadaan janin, diantaranya posisi dan presensi janin.
d) Menghitung usia kehamilan dan hari perkiraan lahir.
e) Mengkaji status nutrisi dan hubungannya dengan pertumbuhan janin.
f) Mengkaji kenaikan berat badan dan hubungannya dengan komplikasi.
g) Memberikan penyuluhan tentang kehamilan yang normal, tanda bahaya
dan cara menghubungi bidan, serta perilaku hidup sehat.
h) Melakukan penatalaksanaan anemia ringan, hyperemesis gravidanum
tingkat 1, abortus inminen dan pre-eklamsia ringan.
14
i) Menjelaskan dan mendemonstrasikan cara mengurangi
ketidaknyamanan.
j) Mengidentifikasi penyimpangan kehamilan normal dan
menanganannya termasuk rujukan tepat.
k) Memberikan bimbingan dan persiapan persalinan dan menjadi orangtua.
l) Memberikan imunisasi.
Untuk melakukan serangkaian tindakan di atas, diperlukan keterampilan
(soft skill) yang baik, diantaranya; penggunaan doppler yang tepat, memberikan
terapi (melalui pengobatan) dan juga skill komunikasi yang melibatkan kemampuan
mendengar dan menilai jawaban pasien untuk menilai keadaan jiwa pasien. Tenaga
kesehatan harus berindak professional melaksanakan tugas ini.
Prinsip pokok pada asuhan kehamilan (Anita dan Lindon Saputra, 204:13)
yang patut diperhatikan yakni:
a) Kehamilan merupakan proses yang alamiah dan normal. Perubahan yang
terjadi pada Wanita hamil bersifat fisiologis, bukan patologis.
b) Asuhan yang diberikan mengandung konsep asuhan saying ibu sehingga
mengacu pada penggunaan cara sederhana dan menghindari segala bentuk
prosedur serta intervensi yang tidak dibutuhkan.
c) Asuhan yang dilakukan ditunjang oleh pengobatan berdasarkan bukti
(evidence base medicine) sehingga bersifat aman bagi keselamatan ibu.
d) Membantu pasien agar merasa aman dan nyaman, serta memberikan
dukungan emosional.
e) Menjaga privasi pasien.
f) Memberikan informasi, penjelasan, serta penyuluhan yang cukup.
15
g) Menghormati praktik adat-istiadat, kebudayaan serta keyakinan/agama
pasien dan lingkungan setempat.
2.1.5 Peran Konseling Dalam ANC.
Komunikasi sangat penting dalam pemeriksaan ANC yakni
kemampuan bidan (tenaga kesehatan) dalam menggali semua informasi terkait
kehamilan pasien menunjuk arah penanganan yang baik dan tepat. Dalam lingkup
komunikasi dan konseling dalam praktik kebidanan, kata komunikasi (Latin:
communicatus) yang bersumber dari kata communis memiliki makna “berbagi”
atau “menjadi milik bersama” berdasarkan kata ini komunikasi adalah sebuah
upaya untuk mencapai kebersamaan atau kesamaan makna. Secara terminologi kata
komunikasi merujuk pada pelibatan dua orang atau lebih dalam sebuah proses
pengumpulan pendapat atau upaya menyinergikan pendapat dari dua orang atau
lebih (Era Revika, 2019:29).
Dari pemahaman di atas terlihat bahwa bidan dan pasien (ibu hamil)
berjumpa secara sengaja untuk mendiskusikan masalah terkait dengan kehamilan
dan kendala-kendalanya. Disini diperlukan keahlian komunikasi interpersonal
Menurut penelitian, saat melakukan komunikasi, ternyata kita lebih banyak
menggunakan komunikasi nonverbal dibanding verbal. Sekitar 55% kita
menggunakan bahasa tubuh, seperti mengangguk, ataupun menggeleng. Lalu 38%
dengan anada suara, misalnya dengan nada suara yang tinggi artinya kita sedang
marah. Kemudian hanya sekitar 7% yang menggunakan bahasa vebal.
Kesimpulannya sekitar 93% kita menggunakan bahasa verbal. Hal ini
tentu harus dipahami para bidan, karena untuk memahami bahasa nonverbal juga
16
membutuhkan keahlian tersendiri. Oleh karena itu, dalam mempelajari
komunikasi interpersonal, seorang praktisi kesehatan harus mempelajarinya secara
menyeluruh tidak sepotong-sepotong (Era Revika, 2019:58-63).
Melalui percakapan itu bidan dapat menggali apa saja yang terjadi, baik
fisik maupun masalah kesehatan mental atau psikis. Selain itu ada masalah rohani
atau kepercayaan yang mesti diperhatikan. Dapat dikatakan proses konseling
dilakukan secara komprehensif.
Dalam membangun komunikasi yang baik diantara bidan dan pasien
(klien/ibu hamil) mestilah dibangun berdasarkan kepercayaan dan keterbukaan.
Tanpanya komunikasi akan mandeg dan hal tersebut akan mempengaruhi hasil
pemeriksaan dan Tindakan yang akan diambil selanjutnya. Dalam membangun
kepercayaan bidan disini mesti mampu menjaga kerahasiaan data pasien dan
riwayat pasien yang menyertainya.
Pada tingkat teknis komunikasi diantara bidan dan pasien/klien/ibu hamil
tersebut disebut dengan konseling. Penjelasan Era Revika (2019:99-100) menolong
melihat bahwa tujuan utama pemberian proses konseling adalah membantu pasien
atau klien menyelesaikan masalahnya. Khususnya pada masalah yang berhubungan
dengan kesehatan prakehamilan atau pascakehamilan. Selain itu tujuan dari
konseling ini untuk mencari dan menemukan berbagai potensi yang dimiliki pasien
asuhan kebidan. Setelah menemukan potensi itu dalam proses konseling ini
diharapkan mendatangkan manfaat bagi pasien itu sendiri, sekaligus menjadi alat
untuk menyelesaikan berbagai masalah dirinya. Bila disimpulkan terdapat 5 poin
penting yang menjadi tujuan konseling, yaitu:
1) Menjadi medium perubahan tingkah laku pasien.
17
2) Membantu pasien mempu berelasi dengan baik.
3) Mengembangkan kemampuan pasien untuk menyelesaikan
masalah.
4) Membantu pasien untuk membuat keputusan.
5) Membantu pasien mengembangkan potensinya.
Dari penjelasan diatas terlihat bahwa membangun komunikasi yang baik
diantara bidan dan pasien/klien akan mendorong terjadinya proses konseling. Dan
hasilnya bagi diri pasien. Dari hal ini dapat dikatakan bila pasien mampu
menyelesaikan masalahnya, akan timbul peningkatan kesejahteraan masyarakat.
2.1.6 Pentingnya Kepatuhan ANC
Kepatuhan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, patuh berarti
suka menurut perintah, taat kepada perintah atau aturan dan berdisiplin.
Kepatuhan berarti bersifat patuh, ketaatan, tunduk pada ajaran dan aturan. Menurut
Tesaurus Bahasa Indonesia, sinonim kata patuh adalah menurut, mengikuti,
menuruti, ikut, turut. Kepatuhan adalah perilaku positif penderita dalam mencapai
tujuan terapi. Kepatuhan ibu hamil melaksanakan kunjungan ANC memberi
manfaat dan bantuan yang signifikan agar proses persalinan ibu hamil berjalan baik
sesuai harapan. Dalam pengertian ibu dan bayi mengalami keselamatan.
Dari penjelasan definisi di atas nampak bahwa kunjungan pasien dalam
ANC mesti diikuti dengan kepatuhan. Ukuran patuh yang dipakai adalah 8 kali.
Maksudnya pasien (ibu hamil) diharapkan secara aktif dan teratur mengikuti ANC
sesuai petunjuk bidan (tenaga kesehatan). Kepatuhan ini dapat terlihat, terpantau
secara positif mentaati jadwal kunjungan, atau menjumpai bidan dengan teratur
18
sesuai dengan penjadwalan. Selain itu, ibu hamil juga mesti patuh terhadap anjuran
dari bidan. Memang harus diakui pada fakta dilapangan tidak semua ibu hamil
patuh, hal ini disebabkan banyak faktor.
Dari hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kepatuhan sangat
berhubungan dengan berbagai faktor, beberapa diantaranya yang sangat penting.
a. Faktor Pengetahuan
Hasil-hasil penetian pada umumnya mengungkapkan bahwa faktor
pengetahuan menempatkan peringkat paling berhubungan positif pada kepatuhan
pemeriksaan ANC. Misalnya, hasil penelitian dalam jurnal Priska dkk (2021)
menyimpulkan semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya
kehamilan, maka ibu akan tahu apa saja resiko kehamilan dan komplikasi
kehamilan, serta manfaat dalam pemeriksaan ANC yang akan membuat ibu hamil
semakin peduli terhadap kehamilannya dan kesehatan janin, sehingga membuat ibu
hamil sadar dan termotivasi untuk patuh dalam melakukan kunjungan pemeriksaan
ANC, sehingga dapat memberikan kualitas hidup ibu dan bayi.
b. Faktor Dukungan Keluarga
Peran keluarga bagi ibu hamil sangatlah penting. Kondisi psikis ibu hamil
yang cenderung labil daripada ibu yang tidak hamil. Oleh karena itu ibu hamil
memerlukan banyak dukungan keluarga terutama suami (Dartiwen dan Yati
Nurhayati, 2019:92). Dukungan keluarga, khususnya suami berperan aktif memberi
dukungan terhadap kepatuhan ANC.
Helen Baston (2016) menyebutkan ibu hamil yang mendapat dukungan dari
keluarga mempunyai motivasi yang sangat tinggi terhadap pemeriksaan ANC.
19
Hasil penelitian diberbagai tempat menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan
antara hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan ibu hamil dalam
pemeriksaan ANC. Dilakukan oleh Mila Sari (2019) berkesimpulan bahwa pada
trimester III variable paling siginifikan terhadap kepatuhan pemeriksaan ANC
adalah dukungan dari pihak keluarga
c. Faktor Sosial Ekonomi.
Pemeriksaan ANC yang dilakukan oleh bidan (tenaga kesehatan)
menimbulkan biaya. Misalnya penelitian Laylita Dwi Cahyani, 2021 menunjukkan
bahwa ada hubungan antara tingkat ekonomi dengan kunjungan Antenatal Care
dengan arah hubungan searah yakni semakin baik tingkat ekonomi maka semakin
patuh.
d. Faktor Pekerjaan.
Sejak terjadinya kehamilan pasien masih dalam status bekerja. Sehingga
waktu dan jadwal perkunjungan ANC mengalami penyesuaian yang tidak stabil.
Tetapi dari hasil penelitian dalam jurnal Najamuddin dkk (2018) menujukkan
bahwa ibu yang bekerja lebih patuh melakukan ANC dibanding dengan ibu yang
tidak bekerja. Dengan alasan bahwa ibu yang bekerja mempunyai biaya untuk
menjangkau pemeriksaan ANC.
Kasus kejadian anemia pada ibu hamil mesti melakukan pemeriksaan ANC
menjadi suatu keharusan dan diharapkan pasien patuh. Dengan demikian peran
bidan sifatnya mengedukasi sehingga menambah pengetahuan pasien betapa
pentingnya ANC. Juga mengedukasi keluarga memberi dukungan, memotivasi
20
juga memberi keyakinan bahwa biaya yang timbul akibat dari pemeriksaan ANC
dapat ditanggung. Sehingga tidak lagi menjadi beban emosi bagi ibu hamil.
2.2 Landasan Teori Anemia
2.2.1 Pengertian Anemia.
Anemia dapat didefiniskan sebagai nilai hemoglobin, hematokrit atau
jumlah eritrosit per milimeter kubik lebih rendah dari normal (WHO, 2011; Nilam
Fitriani Dai, 2021). Anemia merupakan kondisi berkurangya sel darah merah
(eritrosit) atau massa hemoglobin (Hb) sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya
sebagai pembawa oksigen ke seluruh jaringan.
Anemia dalam kehamilan dapat diartikan ibu hamil yang mengalami
defisiensi zat besi dalam darah (Reni Yuli Astutik dan Dwi Ertiana 2018).
Hemoglobin (Hb) yaitu salah satu komponen dalam sel darah merah/eritrosit yang
berfungsi untuk mengikat oksigen dan menghantarkannya ke seluruh jaringan
tubuh. Sel darah merah terdiri dari zat besi dan mengikat oksigen.
Anemia pada kehamilan merupakan salah satu masalah nasional karena
mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya
sangat besar pada kualitas sumber daya manusia. Anemia pada ibu hamil disebut
“potential danger to mother and child” (postensi membahayakan ibu dan anak).
Oleh karena itu anemia memerlukan perhatian khusus dan serius dari semua pihak
yang terkait dalam pelayanan kesehatan, khususnya pada ibu hamil.
21
2.2.2 Anemia Dan Ibu Hamil.
Dalam masa kehamilan, kebutuhan akan zat gizi meningkat. Hal ini
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang janin, pemeliharaan
kesehatan ibu dan persediaan untuk laktasi, baik untuk ibu maupun janin.
Kekurangan nutrisi dapat mengakibatkan anemia. Dengan demikian idealnya
tenaga kesehatan khususnya bidan menganjurkan agar ibu hamil melakukan
pemeriksaan Hb di Trimester 1 dan Trimester 3, mengapa demikian? Supaya bila
ditemukan kasus kejadian anemia di Trimester 1 ada waktu untuk melakukan
penanganan sebagai tindakan pencegahan. Sehingga di Trimester 3 setelah
pemeriksaan ulang Hb sudah pada taraf normal.
Secara ilmiah kadar Hb normal pada wanita yang sudah menstruasi adalah
12,0 dan ibu hamil 11,0 g/dl (Reni Yuli Astutik dan Dwi Ertiana 2018). Ukuran ini
nampak selaras dengan pendapat organisasi kesehatan dunia (WHO) dan CDC di
Amerika Serikat menyatakan seorang ibu hamil dinyatakan anemia bila kadar
Hemoglobin (Hb) pada trimester pertama dan ketiga kurang dari 11 gr/dl atau
hematokritnya kurang dari 33%. Sedangkan pada Trimester II kadar Hb ˂ 10,5 gr.
Pengertian anemia dalam kehamilan juga dikemukankan oleh Myers dalam
Ertiana, Astutik, 2016; juga dinyatakan oleh Reni Yuli Astutik dan Dwi Ertiana
(2018:9) yaitu suatu kondisi adanya penurunan sel darah merah atau menurunnya
kadar Hb. Sehingga kapasistas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ
vital pada ibu dan janin menjadi berkurang.
Atikah Proverawaty (2021:135) menjelaskan 5 gejala anemia pada ibu
hamil, dengan gejala sebagai berikut:
1. Merasa lelah atau lemah.
22
2. Kulit pucat progresif dari kulit.
3. Denyut jantung cepat.
4. Sesak nafas.
5. Konsentrasi terganggu.
Menurut Soebroto sebagaimana yang dijelaskan dalam (Reni Yuli Astutik
dan Dwi Ertiana 2018:12-13) secara kasat mata gejala anemia pada ibu hamil
diantaranya adalah:
1. Cepat lelah
2. Sering pusing.
3. Mata berkunang-kunang.
4. Lidah luka.
5. Nafsu makan turun.
6. Konsentrasi hilang.
7. Nafas pendek.
8. Kelihan mual muntah lebih hebat pada kehamilan muda.
Sedangkan tanda-tanda anemia pada ibu hamil diantaranya:
1. Terjadinya peningkatan kecepatan denyut jantung karena tubuh
berusaha untuk memberi oksigen lebih banyak ke jaringan.
2. Adanya peningkatan kecepatan pernafasan karena tubuh berusaha
menyediakan lebih banyak oksigen pada darah.
3. Pusing akibat akibat kurangnya darah ke otak.
4. Terasa Lelah karena meningkatnya oksigen berbagai organ termasuk
otot jantung dari rangka.
5. Kulit pucat karena kurangnya oksigenasi.
23
6. Mual akibat penurunan aliran darah saluran cerna dan susunan saraf
pusat.
7. Penurunan kualitas rambut dan kulit.
Memperhatikan uraian tersebut dapatlah dikatakan sejak terjadinya
kehamilan bila terdapat gejala dan tanda tersebut nampak dan dirasakan, mestilah
diperhatikan dengan waspada. Tindakan selanjutnya adalah segera melakukan
pemeriksaan ANC kepada bidan (tenaga kesehatan). Hal yang patut di perhatikan
adalah derajat anemia (Reni Yuli Astutik dan Dwi Ertiana 2018:12-13) di bagi
menjadi 3 cara mengukurnya:
1. Derajat anemia berdasar kadar Hb menurut WHO adalah:
a. Ringan sekali : Hb 10 g/dl batas normal
b. Ringan : Hb 8 g/dl-9.9 g/dl
c. Sedang : Hb 6 g/dl-7.9 g/dl
d. Berat : Hb ˂ 5 g
2. Derajat anemia menurut Manuaba (2001) adalah:
a. Tidak anemia : Hb 11 g/dl
b. Anemia ringan: Hb 9-10 g/dl
c. Anemia sedang: Hb 7-8 g/dl
d. Anemia berat : Hb ˂7 g/dl
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Dep Kes RI) menetapkan
anemia sebagai berikut:
a. Ringan sekali : Hb 11g/dl –batas normal.
b. Ringan : Hb 8 g/dl - ˂11 g/dl
c. Sedang : Hb 5 g/dl- ˂8 g/dl
24
d. Berat : Hb ˂5 g/dl
Selama kehamilan terjadi anemia jika konsentrasi Hb ˂10.5-11g/dl hasil
pemeriksaan Hb pasien ada direntang tersebut artinya pasien masuk pada level
kewaspadaan artinya sudah anemia. Sebab bila tidak ditangani anemia itu bisa
beranjut saat persalinan, dan itu tidak baik bagi anak dan ibunya.
2.2.3 Penyebab Terjadinya Anemia
Anemia pada ibu hamil disebabkan kekurangan zat besi dalam tubuh.
Anemia defesiensi zat besi merupakan anemia yang disebabkan oleh kekurangan
zat besi, asam folat dan B12 dikarenakan asupan gizi yang tidak cukup atau
ketersediaan zat besi yang rendah sebagaimana diungkapkan Handayani (2017).
Untuk memastikan hal ini perlu pemeriksaan di kunjungan pertama kehamilan
(Atikah Proverawaty, 2021:129).
Berdasarkan penyebab anemia terdiri dari 3 kategori sebagaimana dalam
jelasan Reni Yuli Astutik dan Dwi Ertiana (2018:6-7) menyebutkan:
1) Anemia karena kekurangan sel darah merah.
2) Anemia karena menurunnya produksi sel darah merah.
3) Anemia karena meningkatnya destruksi/kerusakan sel darah merah.
Dalam masa kehamilan kebutuhan zat gizi meningkat. Hal ini diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang janin. Pemeliharaan kesehatan ibu
dan persediaan untuk laktasi, baik untuk ibu maupun janin. Kekurangan nutrisi
dapat mengakibatkan anemia, abortus, partus prematus, mersia uteri, perdarahan
pasca persalinan, sepsis puerperalis dan lain-lain.
25
Di Indonesia menunjukkan bahwa kekurangan Vitamin A dapat
menyebabkan anemia dalam kehamilan (Dartiwen dan Yati Nurhayati, 2019:98).
Bisa juga disebabkan oleh kekurangan besi (anemia defisiensi besi) yang
dikarenakan kurangnya masukan unsur besi dalam makanan, gangguan reaborbsi,
gangguan penggunaan atau terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya
pada perdarahan (Reni Yuli Astutik dan Dwi Ertiana 2018:9).
Kejadian anemia pada ibu hamil sering terjadi atau sering dijumpai. Oleh
sebabnya pemeriksaan masa kehamilan awal menjadi sangat perlu. Pemeriksaan
tersebut terakomodasi melalui ANC. Kejadian anemia pada ibu hamil menjadi
perhatian serius bagi semua kalangan. Juga tidak boleh dipandang sebagai keadaan
biasa. Melainkan keadaan yang menunjuk suatu masalah yang harus ditangani
dengan baik.
2.2.4 Pengukuran Anemia Pada Ibu Hamil.
Penegakan kasus Anemia hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan
laboratorium atau alat deteksi yang sederajat (compatibel). Setiap ibu hamil setelah
terdeteksi hamil, idealnya melakukan pemeriksaan darah. Kementerian kesehatan
Republik Indonesia (Buku KIA, 2020:8,10) menganjurkan agar setiap ibu hamil
menjalani atau melakukan tes darah, yakin pemeriksaan kadar atau kualitas Hb
(hemoglobin) di usia kehamilan Trimester I (usia kehamilan ˂ 12 minggu) dan
Trimester III (usia kehamilan 32-36 minggu). Hal ini dilakukan untuk mendapat
hasil atau kepastian kadar hemoglobin (Hb).
Penentuan derajat anemia dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah rutin,
seperti pemeriksaan Hb, Ht, hitung jumlah RBC, bentuk RBC, jumlah retikulosit
26
sementara uji defisiensi zat besi melalui pemeriksaan fertin serum, kejenuhan
transferin dan protoporfin sebagaimana dijelaskan dalam buku Arisman (Reni Yuli
Astutik dan Dwi Ertiana 2018:9).
Selanjutanya tes lain yang dapat dilakukan unutk mengidentifikasi masalah
medis yang dapat menyebabkan anemia. Tes darah digunakan untuk mendiagnosa
beberapa jenis anemia sebagai mana dinyatakan oleh Proverawati (Reni Yuli
Astutik dan Dwi Ertiana 2018:9). yang mencakup:
1. Darah kadar vitamin B12, asam folat dan vitamin dan mineral.
2. Pemeriksaan sumsum tulang.
3. Jumlah darah merah dan kadar hemoglobin.
4. Hitung terikulosit.
5. Kadar fertin.
6. Kadar besi.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa apabila ditemui atau terdapat kadar
Hb di Trimester I dan Trimester III kurang dari 11 gr/dl maka ibu hamil dinyatakan
Anemia. Menurut Prawiroharjo (2009) menjelaskan bahwa berdasarkan penyebab
anemia dalam kehamilan meliputi:
1) Anemia defisiensi besi.
2) Anemia megabolastik
3) anemia hiplastik
4) anemia himolitik (Reni Yuli Astutik dan Dwi Ertiana, 2018). Penanganan
anemia pada ibu hamil dapat dilakukan dengan perbaikan nilai gizi yang memadai
sehingga terjadi peningkatan Hb menjadi normal.
27
2.2.5 Penanganan Anemia Pada Ibu Hamil.
2.2.5.1 Perbaikan Nilai Gizi.
Pemeriksaan Antenatal Care membantu pendeteksian dini kejadian ibu
hamil menentukan langkah penanganan yang baik. Secara teoritis nutrisi yang baik
adalah cara terbaik untuk mencegah anemia jika sedang hamil atau mencoba
menjadi hamil (Atikah Proverawati, 2021:137). Terkait dengan hal ini Bunga Astria
Paramashanti (2019:129-130) menjelaskan bahwa pada saat hamil, tubuh ibu akan
mengalami banyak perubahan fisik dan hormon. Dalam konteks ini, berbagai
asupan gizi dalam tubuh akan benar-benar memengaruhi kesehatan ibu serta janin
dalam kandungan. Asupan kebutuhan gizi ini bermanfaat untuk:
1. Memenuhi kebutuhan gizi ibu dan janin.
2. Mencapai status gizi ibu hamil dalam keadaan normal, sehingga dapat
menjalani kehamilan dengan baik dan aman.
3. Membentuk jaringan untuk tumbuh kembang janin kesehatan ibu.
4. Mengatasi permasalahan selama kehamilan.
5. Ibu memperoleh energi yang cukup yang berfungsi untuk menyusui setelah
kelahiran bayi.
Dari data di atas terlihat bahwa peran makanan yang bergizi sangat penting
untuk bayi yang sedang dikandung, juga menunjang kecukupan Hb ibu hamil. Ahli
gizi Diah Ayu Fitriana (2016) memberi detail asupan gizi yang diperlukan selama
kehamilan, sebagai berikut:
28
Tabel 2.2. 1 Asupan Gizi Trimester 1 (Diah Ayu Fitriana, 2016)
Tabel 2.2. 2 Asupan Gizi Trimester 2 (Diah Ayu Fitriana, 2016)
29
Tabel 2.2. 3 Asupan Gizi Trimester 3 (Diah Ayu Fitriana, 2016)
Terlihat bahwa nilai gizi yang cukup pada ibu hamil mempunyai peran
sangat penting. Pencegahan anemia pada ibu hamil dengan memperhatikan
kebutuhan tubuh mendapatkan asupan zat besi setidaknya 27 mg setiap hari.
Sumber zat besi bisa didapat pada sayuran hijau seperti: bayam, selada, kubis, biji-
bijian, sereal, dan havermut, kandungan zat besi pada daging sapi dan boga bahari
juga baik untuk ibu hamil. Sebab saat kehamilan, anemia biasanya dapat diobati
dengan mengambil suplemen zat besi (Atikah Proverawati, 2021:137; Astria
Paramashanti, 2019:129-137).
2.2.5.2 Perawatan.
Selain perbaikan nilai gizi, pemberian suplemen sangat penting guna
pencegahan anemia pada ibu hamil, yang mengandung asam folat dan zat besi.
Pemberian suplemen menolong peningkatan zat besi yang berhubungan langsung
30
dengan Hemoglobin (Hb). CDC merekomendasikan semua ibu hamil untuk
mengkonsumsi suplemen besi sebanyak 30 mg per hari semenjak cek kandungan
pertama kali. Sementara WHO serta Kemenkes RI merekomendasikan suplemen
zat besi sebanyak 60 mg untuk seluruh ibu hamil segera setelah gelaja mual dan
muntah (morning sickness) berkurang. Jika terdapat kekurangan zat besi pada ibu
hamil, bisa terjadi perdarahan pada saat persalinan. Dengan demikian penanganan
perbaikan nilai gizi dan pemberian supleman menjadi sangat diperlukan.
Untuk mengetahui pergerakan atau peningkatan kadar Hemoglobin (Hb)
dibutuhkan pemeriksaan Hb secara berkala supaya mengetahui peningkatan jumlah
nilai Hb agar diharapkan dapat normal. Pemeriksaan Antenatal Care memberi
bantuan dalam hal ini.
Harus diakui bahwa tidak semua derajat anemia pada ibu hamil dapat
ditangani di Praktik Mandiri Bidan. Undang-Undang nomor 4 tahun 2019 pasal 61
huruf D mengatakan bahwa bidan merujuk klien yang tidak dapat ditangani ke
Dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan. Perawatan diarahkan untuk mengatasi
anemia. Transfusi darah biasanya dilakukan untuk setiap anemia jika yang dialami
cukup parah (Atikah Proverawati, 2021:136). Melakukan transfusi darah tetap pada
adalah kewenangan dan pengawasan dokter yang menangani.
31
2.3 Kerangka Teori
Kerangka teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
ANC (Antenatal Care)
Karakteristik Ibu Hamil Tingkat Kepatuhan
Selama ANC ANC
Riwayat Anemia Kehamilan
Trimester I
Trimester II
Trimester III
Kejadian Anemia Pada
Ibu Hamil
Keterangan:
Pengaruh.
Variabel yang diteliti.
Variabel yang tidak diteliti.
Gambar 2.3. 1 Skema Kerangka Teori
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah: Terdapat hubungan kepatuhan
pemeriksaan ANC dengan kejadian anemia pada ibu hamil di PMB Iralavai
Tanjung tahun 2022.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Dan Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitif pendekatan
analisis deskriptif maksudnya penelitian ini menggunakan jenis analisis yang
menggambarkan (describe) suatu data penelitian (Purwo Setio Nugroho, 2020:8).
Menurut Singgih Santoso (2021:3) statistik deskriptif berusaha menjelaskan atau
menggambarkan sebagai karakteristik data, seperti berapa rata-rata, seberapa jauh
data-data bervariasi dari rata-ratanya, berapa median data dan sebagainya.
Data primer penelitian ini berdasarkan catatan buku khohort atau
sebagaimana tercatat dalam KIA. Dengan menggunakan teknik analisis aplikasi
SPSS 28 (Statistical Package for Social Sciences). Peneliti akan memperlihatkan
tingkat kepatuhan ibu hamil dalam pemeriksaan ANC dengan kejadian Anemia.
3.2 Lokasi dan Waktu Peneltian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Praktik Mandiri Bidan (PMB), terletak di
Perumahan Bukit Barelang, Kelurahan Tanjung Piayu, Kecamatan Sei Beduk, Kota
Batam. Pasien ibu hamil yang melakukan ANC berasal dari Kecamatan Sei Beduk.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Februari 2022 s.d April 2022.
32
33
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang meliputi subyek maupun obyek
penelitian yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Ardat Ahmad dan
Indra Jaya, 2021:21-22). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa populasi dalam
penelitian ini adalah keseluruhan data ibu hamil yang melakukan pemeriksaan
ANC di PMB Iralavai Tanjung tahun 2022.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagaian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Pengambilan sampel terjadi bila populasi besar. Apabila
penelitian dilakukan terhadap populasi saja tidak dilakukan pengambilan sampel.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive
sampling. Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011:126). Cara ini untuk mendapatkan sampel
sesuai dengan yang dikehendaki peneliti.
Secara teoritik bahwa popuplasi dibawah 100 penelitian boleh dilakukan
tanpa sampel. Sedangkan pada tabel Krejcie penelitian populasi hanya dilakukan
jika jumlah populasi hanya 10 orang jika lebih maka boleh dilakukan pengambilan
sampel. Namun jika populasi penelitian memiliki banyak persamaan atau homogen
maka pengambilan sampel dapat dilakukan, tidak harus semua populasi sebagai
sampel (Ardat Ahmad dan Indra Jaya, 2021:32-33).
34
Peneliti sengaja memilih sample dengan metode purposive sampling karena
pasien yang datang ke PMB cukup beragam dan dinamis. Setelah melakukan
seleksi sesua kriteria sampel yang ditetapkan maka dalam penelitian ini
menggunakan sampel 40 ibu hamil yang berkunjung ke PMB dengan tujuan
melakukan ANC pada Trimester I, Trimester II dan Trimester III masa kehamilan.
3.3.3 Kriteria Sampel
3.3.3.1 Kriteria inklusi pada peneltian ini sebagai berikut:
a. Ibu hamil yang melakukan pemeriksaan ANC secara rutin pada saat
penelitian ini berlangsung di PMB Iralavai Tanjung dalam periode Februari
2022 s.d April 2022 dan bersedia menandatangani informed consent
menjadi responden penelitian.
b. Ibu hamil yang melakukan pemeriksaan Hemoglobin (Hb) selama ANC
dengan periksa laboratorium atau alat ukur Hb dengan cara Easy Touch
pada trimester I atau trimester II dan trimester III dapat dibuktikan melalui
hasil catatan yang jelas.
c. Ibu hamil yang memiliki catatan KIA yang cukup jelas.
3.3.3.2 Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Ibu hamil yang memiliki riwayat anemia sebelumnya.
b. Ibu hamil yang pindah tempat pemeriksaan ANC.
c. Ibu hamil yang tidak bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.
35
3.4 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data di dasarkan data primer catatan khohort. Peneliti juga
memeriksa catata KIA yang berguna bagi penelitian. Pada tahap selanjutnya
peneliti membagikan kuesioner kepada responden ibu hamil yang melakukan ANC
sesuai kriteria. Kemudian diisi oleh responden, lalu dikembalikan kepada peneliti.
3.5 Alur Penelitian
Mendapat Persetujuan
Proposal Penelitian
Riwayat Kajian Teoritik ANC
Anemia (Antenatal Care) dan
Anemia pada Ibu Hamil.
Karakteristik Anemia Pengumpulan Data Kepatuhan
pada ibu hamil Penelitian ANC
Editing—Classifying- Analisa Data
Coding--Entri Data -- Menggunakan SPSS
Scoring --Tabulating
Kesimpulan Penelitian
Seminar Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Diterima
Gambar 3.5. 1 Skema Alur Penelitian