The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kisah inspiratif dari para Awardee Beasiswa Unggulan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Nunciata Sidjabat, 2020-12-19 00:25:49

KisahKu, Beasiswa Unggulan, dan Pengabdian

Kisah inspiratif dari para Awardee Beasiswa Unggulan.

Keywords: #kisahinspiratif #beasiswa #beasiswaunggulan #pengabdian

KisahKu,
Beasiswa Unggulan,

dan Pengabdian

Beasiswa Unggulan Mengabdi Yogyakarta
2020

Menjadi Awardee BU
Hasil Iseng-Iseng Berhadiah

Hallo semuanya, perkenalkan nama saya Awindaria. Saya adalah mahasiswa jurusan
Pendidikan IPA di Universitas Negeri Yogyakarta. Saya merupakan awardee Beasiswa Unggulan (BU)
2018 Batch 1. Rasanya sangat bangga dan senang bisa menjadi bagian dari keluarga besar Beasiswa
Unggulan di Indonesia.

Namun, apakah hidup saya lurus dan tanpa hambatan layaknya jalan tol? Tentunya tidak. Saya
pernah terancam putus kuliah karena terkendala biaya. Saya terlahuir dari keluarga yang sederhana
dengan bapak seorang wiraswasta dan ibu seorang ibu rumah tangga. Mendapatkan kesempatan kuliah
saja sudah sangat berharga bagi saya.

Lalu, apakah hanya itu masalahnya? Tentunya tidak. Saya berhasil masuk di UNY lewat jalur
Seleksi Mandiri (SM) Prestasi tahun 2017. Saya pernah gagal di SNMPTN dan SBMPTN tahun 2017. Hal
tersebut sempat membuat saya sedih dan bingung harus melangkah kemana. Akhirnya saya memutuskan
untuk bangkit dan mendaftar di jurusan Pendidikan IPA dengan modal restu kedua orang tua, niat, doa,
dan beberapa sertifikat kejuaraan masa SMA.

Sebagai mahasiswa, saya aktif mencari informasi tentang beasiswa. Sampai akhirnya saya
mendapat informasi dari salah seorang teman jika pendaftaran BU telah dibuka. "Apa itu BU?" sempat
terlintas dibenak saya saat itu. Istilah asing yang belum pernah saya dengar selama ini. Langkah awal
yang saya ambil adalah meminta ijin dan doa kepada kedua orang tua saya untuk mendaftar, dan
selanjutnya adalah tugas saya untuk berjuang semaksimal mungkin untuk mendapatkan beasiswa ini.

Cukup banyak pengalaman yang berkesan selama proses pendaftaran BU, mulai dari ijin UAS
karena seleksi wawancara BU, kemana-mana nebeng teman, sampai dihari seleksi wawancara saya
mendapatkan banyak kenalan dari berbagai universitas. Hal tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi
saya untuk tetap optimis dalam berjuang. Pengumuman akhir seleksi keluar pada 1 Juni 2018 lewat email
dengan tulisan "LULUS". Alhamdulillah. Akhirnya impian masa kecil saya menjadi kenyataan.

Setelah menjadi awardee BU saya mengikuti sebuah komunitas bernama BU Mengabdi Regional
Jogja yang berisi manusia-manusia berotak emas dan attitude yang luar biasa. Jujur saya merasa menjadi
remahan rengginang jika dibandingkan dengan mereka semua. Sudah tidak dibayangkan. Disini banyak
kegiatan baik di bidang pendidikan maupun bidang sosial yang bermanfaat bagi semua orang. Saya
sangat bersyukur atas semua nikmat ini. Alhamdulillah. Terimakasih BU, Terimakasih Indonesia.

~AWINDARIA~
Awardee BU 2018 Batch 1

isahku Bersama

Beasiswa Unggulan

Hello everyone!! Kenalin nama aku Sella, aku mahasiswi
manajemen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Selain

Kitu, aku merupakan salah satu penerima beasiswa unggulan
batch 2019. Kali ini aku akan sharing tentang pengalaman aku
seputar Beasiswa Unggulan Kemendikbud.

Sebelum Menerima Beasiswa

Pada tahun 2017, aku mulai memikirkan tentang perkuliahan. Di kampus mana aku akan
berkuliah dan jurusan apa yang akan kupilih? Sempat menjadi dilemma pada saat itu, apalagi tahun
depan udah mau Ujian Nasional. Duh, bingung banget….. Setelah mencari berbagai informasi dari
internet dan orang terdekat, akhirnya aku telah memutuskan satu jurusan yang akan kupilih nanti.
Beberapa bulan kemudian, aku mendapat info bahwa Ikatan pemuda di kabupatenku akan
melaksanakan try out bersama tingkat kabupaten. Aku pun mendaftar untuk mengikuti try out tersebut,
meskipun hanya try out tapi aku mempersiapkannya dengan sungguh- sungguh. Tibalah pelaksanaan
try out tersebut, wahh ternyata yang ikut banyak juga ya dan berasal dari berbagai kabupaten.
Bismillahhh, kubuka soal try out tersebut dan mulai mengerjakannya. Tak disangka aku mendapatkan
juara 1 Try Out tingkat kabupaten. Alhamdulillah bahagia sekali aku.

Setelah berbagai persiapan, kini tibalah saat Ujian Nasional dan akhirnya aku dinyatakan lulus.
Kemudian aku mendaftar SBMPTN di salah satu universitas yang ada di Palembang. Namun, kali ini
bukan keberuntunganku, Aku tidak lulus dalam tes tersebut.. Sedih sekali rasanya jika mengingat hal itu.

Bagaimana pun keadaannya aku harus tetap melanjutkan pendidikan sambil terus mencari informasi
kampus swasta mana yang berkualitas, akhirnya aku memilih Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
sebagai tempatku menuntut ilmu. Aku mulai mengikuti berbagai organisasi, dan kegiatan masyarakat
juga. Meskipun begitu, aku tidak lalai dalam hal akademik, aku terus belajar dan belajar.

Akhir semester 2, aku mulai merasakan kesulitan dalam hal ekonomi. Pada saat itu, kakak ku
sedang menyusun skripsi tentunya membutuhkan extra biaya dan biaya semesteran ku sebentar lagi
harus segera dilunasi. Alhasil, aku mengajukan surat meminta keringanan tempo waktu pembayaran ke
pihak kampus. Dari kejadian tersebut, timbul keinginan mencari beasiswa untuk meringankan beban
orang tua agar aku tetap bisa melanjutkan perkuliahan dan mencapai mimpi – mimpiku.

Pengalaman Mendaftar Beasiswa Unggulan

Berbagai website telah ku kunjungi dan mencari informasi beasiswa dari teman, ternyata
Kemendikbud sedang membuka beasiswa unggulan mulai dari S1, S2, hingga S3. Bismillah,
memberanikan diri untuk mendaftar beasiswa. Persyaratan berkasnya ternyata banyak banget dan cukup
melelahkan. Meskipun begitu, aku tak patah semangat ku penuhi satu demi satu persyaratan yang ada
mulai dari biodata diri, pekerjaan orang tua, prestasi yang dimiliki, essay, dan masih banyak lagi.
Alhamdullilah, akhirnya aku lolos seleksi berkas dan akan melanjutkan tes selanjutnya yaitu tahap
wawancara. Nah, bagian ini nih yang sebenarnya menakutkan dipikiranku. Interviewernya galak nggk
ya? Duh, kalo aku gerogi gimana ya? Takut salah jawab lagi. Pokoknya banyak banget deh hal-hal serem
yang ada dipikiran aku.

Tibalah saat wawancara, berangkat pagi-pagi banget dari kosan karena jarak antara kosan dan
tempat wawancaranya lumayan jauh kurang lebih 1,5 jam. Aku diantar oleh kakakku ke tempat
wawancaranya, berangkat mulai jam 5.30 AM hawanya dingin banget cuy! Sampe-sampe menggigil
badanku. Ketika aku datang, ternyata sudah ada pendaftar lain yang tiba yaa meskipun belum banyak.

Sambil menunggu interviewernya datang, aku check lagi berkas yang kubawa alhamdullilah tidak ada
yang ketinggalan. Lumayan lama juga ya,, huft. Akhirnya yang ditunggu tunggu datang juga, selanjutnya
aku masuk ke ruangan administrasi untuk cek berkas dan langsung ke ruangan wawancara. Dengan
keadaan agak gugup aku memasuki ruangan tersebut. Ternyata ketakutan ku salah, interviewernya baik
banget dong… Aku merasa rileks menjawab semua pertanyaannya dan wawancara pun selesai….

Setelah Menerima Beasiswa

Sekitar 1 bulan, Pengumuman pun tiba. Kubuka email ku dan Alhamdullilah aku lolos dan
menerima beasiswa tersebut. Betapa bahagianya aku dan kuucap syukur kepada Tuhan YME, dan
langsung menghubungi orang tuaku. Mereka juga turut bahagia mendengar pengumuman itu… Eitssss,
meskipun begitu tanggung jawab kita harus lebih extra loo ya!! Mendapat beasiswa bukan berarti kia
semena mena dan cenderung bermalas malasan.

Setelah mendapat beasiswa, aku lebih giat belajar dan terus meningkatkan prestasiku. Aku
mendaftar Lomba karya Ilmiah tingkat nasional dan mendapatkan Top 8th finalist.. Ya lumayan juga ya,,
Selain itu aku berusaha meningkatkan kemampuan di dunia public speaking, aku pun mulai menjadi
penyiar radio di salah satu radio komunitas yang ada dijogja. Nggak sampai disitu aja, semester 4 ini aku
mendaftar untuk program pertukaran pelajar. Aku pun mampu lolos seleksi, dan akan melakukan
pertukaran pelajar ke Taiwan pada semester 5 nanti.

Notes: Seberat apapun masalahnya, kita harus hadapi, berusaha dan yakini bahwa akan ada jalan terbaik
untuk kita. Dan ketika jalan itu ada, jangan pernah berlaku semena mena, dan bertanggung jawablah
terhadap rahmat yang telah diberikan.

~SELLA~

isahKu untuk Mendapatkan

KBeasiswa Unggulan

Kisahku diawali dengan perjuanganku untuk bisa mendapatkan beasiswa unggulan. Aku
memulai perjuanganku dengan begitu banyak kerja keras, Aku meminta pertolongan kesana kemari
untuk bisa mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa. Hal tersebut aku lakukan demi untuk dapat
melanjutkan pendidikan ku ke jenjang yang lebih jauh, aku nekad. Dengan kebulatan tekad, aku
berusaha keras dikarenakan aku sadar karna sebuah faktor ekonomi keluarga yang tidak cukup untuk
membiayai perkulian ku dan kakak ku. Aku sempat putus asa dikarenakan orang tua saya pernah
mengatakan kalau mereka tidak dapat membiayai saya, mereka hanya bisa membiayai saya hanya sampai
semester 1 dan jika saya tidak mendapatkan beasiswa maka saya harus berhenti sampai itu saja.

Sampai akhirnya saya membulatkan tekad untuk tetap berusaha terlebih dahulu dan
meyakinkan orang tua saya agar tetap bisa optimis dengan usaha yang saya lakukan. Dengan hanya
bermodalkan ilmu dan beberapa prestasi yang saya punya saya memberanikan diri untuk bertekad kuat
agar bisa melanjutkan perkuliahan dan sampailah pada akhirnya beberapa waktu kemudian saya
mendapatkan pengumuman kelulusan tahap 1 dan itu membuat saya lebih percaya diri untuk tetap
bersikeras melanjutkan perjuangan saya. Dengan penuh semangat saya mempersiapkan diri untuk
mengikuti wawancara.

Saya diantarkan kakak berangkat pagi-pagi untuk menuju ke lokasi wawancara dikarenakan
tempatnya yang lumayan jauh akan tetapi hal yang tidak disangka terjadi pada saya. Sesampainya saya
di jalan besar, yang mana semua kendaraan harus melaju kencang, tiba-tiba musibah menghampiri saya.
Saya mengalami kecelakaan dikarenakan baju yang saya kenakan masuk ke dalam gir motor sepeda
sehingga menyebabkan saya terjatuh dan terseret dengan motor yang saya naiki tanpa disadari olek kakak

saya, hingga motornya berhenti sendiri baru dia mengetahui bahwa saya telah jatuh dari motornya. Nasib
berkata lain, alhmdulillah pada saat itu sedang tidak ada kendaraaan lain yang melintas dijalan terssebut
sehingga saya bebas dari kecelakaan lainnnya akan tetapi keadaan saya cukup menyedihkan. Orang-
orang yang melihat datang menghampiri saya dan membantu saya dalam mengeluarkan saya dari
pintalan baju yang saya kenakan sampai akhirnya baju yang saya gunakan harus digunting agar bisa
keluar dari gir motor.

Dengan keadaan baju robek dan luka-luka di badan, saya tetap berusaha untuk tetap bisa
mengikuti wawancara walaupun keadaan saya tidak memungkinkan untuk tetap ikut. Akan tetapi
dengan tekad yang kuat saya melanjutkan perjalanan. Dan tibalah saya ditempat wawancara dengan
tidak ada sedikitpun rasa malu dengan baju yang robek saya gunakan, dengan keadaan baju yang tidak
layak lagi untuk dipakai, beserta rasa menahan sakit dengan luka-luka yang ada di badan saya, dengan
darah yang terus mengalir, tetapi itu tidak mengurangkan sedikitpun usaha saya.

Sampailah giliran saya diwawancarai, saya mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja dan
menjawab pertanyaan dengan sejujur-jujurnya dengan kondisi yang ada pada kehidupan saya. Sehingga
pada akhirnya beberapa bulan pun berlalu dan saya mendapatkan pengunguman yang membuat saya
bisa ada diposisi saat itu. Saya sangat bersyukur dengan beasiswa unggulan yang saya terima. Beasiswa
unggulan sangat membantu saya dalam melanjutkan perkuliahan dan juga memberikan sedikit
keringanan untuk orang tua dikarenakan saya bisa membantu meringankan biaya untuk kakak saya.
Untuk memberikan rasa ucapan terimakasih saya, saya mengikuti bagian kepengurusan beasiswa
unggulan untuk memberikan pengabdian dan rasa terimakasih untuk beaisswa unggulan karena telah
banyak bantuan yang diberikan kepada saya.

~VINNI MUFRIHANI~

erjuangan Menjadi Awardee

Beasiswa Unggulan Kemdikbud

Assalamualaikum Warahamtullahi Wabarakatuh

Hai, saya Adri Saputra Nur, biasa dipanggil Adri. Saya adalah

Pmahasiwa Informatika (Sebelumnya Teknik Informatika)
Universtias Respati Yogyakarta. Saya juga merupakan salah satu
Awardee Beasiswa Unggulan Kemdikbud 2019. Saya akan
menceritakan sedikit perjalanan saya mengenai lolos menjadi
Awardee Beasiswa Unggulan 2019 Masyarakat Berprestasi Golongan 3T dari Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.

Perjuangan ini bermula sejak saya lulus dari bangku SMA. Saya merupakan lulusan SMA tahun
2015 tapi mulai kuliah pada tahun 2018. Saya melakukan berbagai macam jalur penerimaan mahasiswa
baru mulai dari SNMPTN 2015, SBMPTN 2015, SBMPTN 2016, SBMPTN 2017 dan Jalur Mandiri 2017 dan
mendaftar beasiswa juga untuk meringankan beban orangtua pada perkuliahan nantinya. Dari
banyaknya jalur saya lalui pengumumannya berakhir gagal. Setiap Kegagalan yang saya lewati, saya
hampir patah semangat dengan mengubur mimpi saya sedalam-dalamnya. Dan saya juga pernah
peruntungan mendaftar CPNS 2017 karena telah berputus asa yang namanya kuliah. Tapi saudara saya
memberi semangat untuk bisa tetap kuliah. Dan mencoba daftar kuliah di luar daerah Kabupaten
Nunukan, Kalimantan Utara yaitu daftar di salah satu Kampus Swasta yang ada di Jogja (Universitas
Respati Yogyakarta). Alhamdulillah saya diterima menjadi mahasiwa di Unriyo pada tahun 2018. Saya
tidak begitu yakin mengikuti perkuliahan di Unriyo karena keterbatasan ekonomi. Tapi saudara
meyakinkan saya dengan membiayai saya dari keberangkatan sampai ke tempat tujuan saya kuliah. Dan
sekarang menjadi Mahasiswa Informatika. Saya mulai mengikuti berbagai Organisasi yang ada di

Kampus maupun di Luar Kampus. Meskipun begitu, saya tidak melalaikan dalam hal akademik, saya
terus belajar, belajar dan belajar.

Akhir semester 2, yang saya khawatirkan terjadi yaitu saya mulai merasakan kesulitan dalam hal
ekonomi. Di mana adik saya akan masuk kuliah juga dan pastinya akan membutuhkan biaya lebih. Dari
saat itu, timbul keinginan mencari beasiswa untuk meringankan beban orangtua dan saudara yang biayai
kuliah saya, agar tetap bisa melanjutkan perkuliahan dan mencapai mimpi-mimpi saya.

Berbagai macam website beasiswa telah saya kunjungi dan mencari informasi beasiswa dari
teman, Teryata ada salah satu teman organisasi daerah yang Awardee Beasiswa Unggulan Kemdikbud.
Dan saya tawarkan ke teman-teman sekelas yang belum dapat beasiswa agar saya tidak sendiri
mendaftarnya Beasiswa Unggulan, tapi tidak ada yang mau mendaftar. Dengan mengucap bismillah saya
memberanikan diri untuk mendaftar Beasiswa tersebut. Saya cek di websitenya untuk melihat persyaratan
berkasnya. Ternyata persyaratannya banyak dan melelahkan. Meskipun begitu, saya penuhi satu demi
satu persyaratan yang ada, mulai dari biodata diri, pekerjaan orang tua, essay, proposal dan masih banyak
lagi. Setelah memenuhi semua persyaratannya, dan selanjutkan menunggu pengumuman yang memakan
waktu hampir 1 bulan. Alhamdulillah akhirnya yang ditunggu-tunggu datang, saya menerima email dari
pihak BU dan benar saya dinyatakan lolos seleksi tahap 1 (seleksi berkas) dan akan melanjutkan ke seleksi
selanjutnya yaitu tahap 2 (tahap wawancara).

Setelah itu, saya mendapatkan email lagi diminta untuk menghadiri proses wawancara di LPMP
Yogyakarta dan membawa persyaratan berkas asli yang dikirim pada proses tahap 1. Awalnya saya
bingung karena belum mengenal jalanan Jogja seutuhnya. Rencana mau rental motor tapi takut kesasar
walaupun ada map, namanya juga masih awal di Jogja hehehehe. Dan akhirnya saya putuskan untuk naik
Ojol pas hari Wawancara ke LPMP Yogyakarta.

Tibalah hari wawancara, saya bangun pagi sekali untuk mempersiapkan apa aja yang telah saya
persiapkan sebelum wawancara dan memastikan tidak ada ketinggalan. Karena jarak dari Kos saya ke

tempat wawancara agak lumayan jauh. Tidak memungkinkan untuk bolak balik dari tempat wawancara
ke kos. Setelah itu saya pesan ojol dan sampai di lokasi jam 6 pagi sebelum jadwab wawancaranya jam 8
pagi, cuaca pada waktu itu dingin banget cuy! Sampai-sampai badan saya kerasa menggigil. Sesampai di
lokasi wawancara saya telah melihat beberapa orang yang tiba di lokasi wawancara, walaupun masih pagi
pesertanya sudah agak lumayan banyak yang datang. Dan saya tidak lupa untuk mengecek kembali
berkas yang saya bawa dan alhamdulillah tidak ada yang ketinggalan. Waktu wawancara kerasa begitu
lama. Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, saya dipanggil dengan memanggil nomor urut
meja. Selanjutnya saya masuk ke ruangan administrasi untuk cek berkas dan langsung ke ruangan
wawancara. Dengan keadaan dag dig dug, saya memasuki ruangan tersebut. Ternyata proses wawancara
ternyata tidak begitu lama, hanya sekitar 5-6 menit saja. Setelah wawancara, saya pun keluar untuk
mencari masjid/musholla untuk sholat Duha agar apa yang telah kulakukan selama tahap administrasi
(tahap 1) sampai dengan tahap 2 (tahap wawancara) dan doa orangtua tidak menjadi sia-sia.

Saat menunggu pengumuman tahap kedua, saya merasa dag dig dug karena sudah pasrah hasil
yang akan keluar. Hingga pada akhirnya waktu pengumuman tahap kedua tiba, saya mendapat email
dari BU dan dinyatakan Tidak diterima. Dan saya coba cek ke akun BU saya juga dan teryata benar saya
tidak diterima.

Dari pengumuman itu, saya sudah tidak ingin berkuliah lagi, tapi saya melakukan sholat tahajjud
dan sholat duha hampir setiap hari karena saya berharap ada perubahan kebijakan. Dan di bulan
berikutnya ada inisiatif sendiri untuk mengecek kembali pengumuman di akun BU saya. Dan
alhamdulillah saya dinyatakan diterima dan diundang untuk menandatangi kontrak di tempat yang
sama (LPMP Yogyakarta). Saya langsung sujud syukur ke Tuhan Yang Maha Esa dan langsung
menghubungi orangtua dan saudara. Mereka turut bahagia mendengar kabar bahagai itu. Setelah
mendapat beasiswa, saya lebih giat belajar dan terus meningkatkan prestasiku.

Saya dari dulu tidak pernah membayangkan kalau bisa mendapatkan Beasiswa Unggulan dan
bisa berhasil bersaing dengan orang Se-Indonesia. Dari pengalaman ini saya mendapatkan banyak
pelajaran bahwa usaha tidak pernah menghianati hasil. Jika menginginkan sesuatu jangan pernah
berhenti untuk berdoa dan jangan pernah menyerah. Semoga yang membaca kisah pendek ini, semoga
bisa menginspirasi buat kalian dan bisa sama-sama sukses. Aamiin.

Terima kasih Beasiswa Unggulan Kemdikbud telah memberikan banyak arti perjuangan

~ADRI SAPUTRA NUR~
Universtias Respati Yogyakarta

Informatika 2018

Diterima Beasiswa
Unggulan 2018 Batch 1

Pertama kali saya mendapatkan info mengenai Beasiswa Unggulan melalui guru SMP saya,
kebetulan ketika pulang ke Kudus(kampung halaman saya), saya masih sering berkunjung dan
membantu SMP saya. Singkat cerita saya mendapatkan informasi Beasiswa Unggulan tersebut 2 minggu
sebelum pengumpulan berkas berakhir, saya melihat syarat syarat yang harus diupload dan mulai
membuat satu persatu, mulai dari proposal hingga essay dengan tema “AKU GENERASI KEBANGGAAN
INDONESIA”. Waktu itu saya sempat googling mengenai contoh proposal dan essay yang pernah dibuat
awardee lain pada tahun tahun sebelumnya, dan saya cukup banyak mendapatkan refrensi dari sana.
Singkat cerita berkas sudah saya kumpul dan menunggu pengumuman.

Sekitar 3 minggu dari pengumupulan berkas adalah jadwal pengumuman lolos ke tahap
selanjutnya atau tidak, saya menunggu hingga jam 12 malam, tetapi yang saya dapat adalah email bahwa
pengumuman diundur esok hari paling lambat hingga jam 12 malam. Saya semakin dag dig dug dan
memutuskan untuk tidur. Keesokan harinya jam 10 pagi saya mendapat email yang menyatakan saya lolos
ke tahap selanjutnya yaitu wawancara tepatnya 3-5 hari setelah pengumuman tersebut yang berlokasi di
UGM. Saat wawancara saya diminta untuk membawa seluruh berkas asli yang saya upload, matrai, dan 1
form pendaftaran.

Satu hari sebelum saya wawancara saya pergi ke UGM untuk mencari ruang wawancara nantinya
(saya adalah mahasiswa UKDW, jadi ingin memastikan ruang terlebih dahulu.) Kemudian saya pulang
ke kost dan saya mencari cari refrensi lagi mengenai wawancara BU di internet, saya membaca beberapa

blog dan menyatakan bahwa sebisa mungkin datang 1 jam sebelum jadwal wawancara, keesokan harinya
jam setengah 7 saya sudah berada didepan ruang wawancara (jadwal wawancara jam set 8), dan ternyata
saya sudah mendapati ada sekitar 15 orang sudah menunggu juga disana. Tepat setengah 8 petugas
datang dan disana kita diminta untuk mengisi data nomer daftar BU(ada di akun BU kita dibawah foto),
email, nama, asal sekolah, dll. Kemudian kita diminta untuk masuk dalam satu ruangan dan dalam ruang
tersebut ada sekitar 7 meja, nah di meja meja tersebut berkas kita di periksa keasliannya, yang saya agak
kecewa ternyata urutan maju tidak berdasarkan absensi pagi tadi, melainkan siapa cepat dia dapat, saya
mendapatkan meja 6, dan setelah satu orang selesai harus cepet cepetan berdiri untuk mengisi meja
tersebut, sehingga terkesan cukup berdesak desakan (tapi tak masalah inilah yang dinamakan
perjuangan mendapatkan beasiswa :D ).

Tiba hingga giliran saya, seluruh berkas diperiksa dan setelah itu saya diminta untuk ke lantai 5
(pengecekan berkas ada di lantai 2), untuk mengikuti wawancara, ternyata di lantai 5 sudah banyak sekali
mahasiswa yang mengantri untuk wawancara. Urutan maju wawancara adalah berdasarkan tumpukan
berkas tadi.

Singkat cerita sudah sampai ke giliran saya. Pertama saya diminta untuk mengenalkan diri, dan
menceritakan keseharian di kampus ngapain saja, kemudian ditanya tanya lebih kearah personal
hubungan keluarga, dll. Dan terakhir ditanya mengapa kamu pantas untuk mendapatkan beasiswa ini.
Setelah selesai saya sempat tanya tanya dengan beberapa orang disana, dan ternyata pertanyaannya beda
beda :D, ada yang ditanya tetang proposal, tentang essay dll.

Beberapa minggu setelah itu tibalah saat pengumuman dan saya lolos….. saya sangat senang kala itu.

Tips n trick menurut saya

 Proposal = buatlah anggaran yang sesuai dengan anggaran dari kampus (jangan mencoba-coba
membengkakkan anggaran), intinya jujur.

 Essay = Dalam essay tersebut adalah kesempatan bagi anda untuk membanggakan diri anda,
tulislah harapan apa saja yang akan anda lakukan setelah anda menerima beasiswa unggulan
tersebut. (Pesan saya satu lakukan sesuai dengan janji anda ketika anda diterima, saya waktu itu
menulis akan mengabdi kepada masyarakat ketika saya diterima, dan ketika saya diterima saya
join dengan organisasi independent yang beranggotakan awardee Beasiswa Unggulan Region
Jogja, yang kemudian diberi nama Beasiswa Unggulan Mengabdi, banyak kegiatan pengabdian
masyarakat yang kami lakukan.

 Wawancara = Jujur saja dalam menjawab setiap pertanyaan, saya pernah membaca di beberapa
blog refrensi yang menyatakan ternyata orang yang wawancara adalah orang dari psikolog,
sehingga ketika kita berbohong maka mereka dapat mengetahui dari gelagat kita. Ceritakan diri
anda (sombongkan diri anda dengan capaian capaian yang pernah didapat, namun tetap tahu
batasannya ya, jangan sampai yang mewawancaarai anda berfikir “Ni anak siapa sih, kok
sombong amat :v”) Intinya yakinkan orang yang mewawancarai anda, bahwa anda layak untuk
menerima beasiswa unggulan ini.

~NIKOLAUS ARYAWAN R. W.~
Universitas Kristen Duta Wacana

Sistem Informasi 2017

Segelintir Kisahku terhadap
Beasiswa Unggulan

Dimasa SD hingga SMP, saya bukanlah seorang siswa yang aktif mengikuti kegiatan
ekstrakulikuler apalagi berorganisasi. Namun, ketika saya berada dibangku SMA, saya mulai mencoba
untuk aktif pada salah satu kegiatan ekstrakulikuler, yaitu bridge. Tidak jarang, saya diutus untuk
mengikuti perlombaan bridge dan Puji Tuhan saya beberapa kali meraih prestasi juara.

Memasuki dunia perkuliahan, saya memerlukan adaptasi dengan lingkungan dan orang di
daerah perantauan saya. Sehingga saya memilih untuk tidak mengikuti kegiatan apapun, kecuali pada
Persekutuan Mahasiswa Kristen fakultas bisnis UKDW. Hingga saya berada disemester dua, saya
mendapat informasi adanya beasiswa unggulan. Saya segera mendaftar. Dengan Kemurahan Tuhan, saya
bisa lulus dan menerima beasiswa unggulan.

Salah satu dokumen yang harus dikumpulkan dalam mendaftar beasiswa unggulan, adalah
proposal, dimana saya merasa apa yang saya tuliskan menjadi sebuah janji untuk saya tepati. Salah satu
isi dari proposal tersebut, yang telah saya laksanakan yaitu bergabung dalam organisasi. Dimana itu
menjadi pengalaman baru dalam dunia pendidikan saya.

Saya pun menjadi pribadi yang selalu ingin mencoba hal baru, seperti menjadi Asisten dosen,
volunteer perpustakaan UKDW. Tidak hanya dari dalam kampus, tapi saya juga bergabung dalam sebuah
komunitas Mengabdi Yogya. Dimana komunitas itu diadakan oleh awardee beasiswa unggulan regional
Yogya.

Adapun keinginan saya bergabung dalam komunitas tersebut karena adanya rasa kepedulian
dan senasib buat kalangan – kalangan tertentu. Puji Tuhan, dengan rasa syukur saya mau berbagi untuk

melakukan donasi buku, mengajar, donasi bencana alam, dan sebagainya. Pengabdian yang saya lakukan
sejauh ini belum membuat saya merasa cukup, saya akan terus mengabdi lewat prestasi lainnya.

Perasaan senang bisa terus memiliki pengalaman baru, tentu disertai rasa lelah dengan semua
kesibukan yang saya miliki. Namun, ketika saya mengingat kebaikan Tuhan dalam hidup saya yang
membuat saya bersyukur tiada henti, juga mengingat kepercayaan dari negara yang secara tidak langsung
melalui beasiswa yang saya terima dalam jumlah besar tanpa meminta feedback, itulah yang menjadi
penyemangat saya. Adapun keinginan saya untuk dapat terus mengabdi dalam memajukan negara
dengan prestasi yang saya raih sampai pendidikan saya selesai, hingga karir yang saya miliki di dunia
kerja nantinya.

~N. NANETTE SIDJABAT~
Universitas Kristen Duta Wacana

Harapan Terakhir

Semasa SMA aku telah mulai mencari informasi beasiswa untuk kuliah, hal itu ku lakukan sejalan
dengan cita-citaku untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada. Universitas yang berada di pulau seberang,
saat itu aku berpikir jika aku berhasil masuk universitas ini nantinya maka akan cukup membebani orang
tua, mengingat dua saudara diatas ku masih berstatus sebagai mahasiswa, maka jika ditambah dengan
ku nantinya, orang tuaku harus membiayai tiga orang anak yang sedang kuliah. Agak sulit dibayangkan
memang dengan pendapatan yang tidak bertambah.

Saat hasil SNMPTN keluar, ternyata aku diterima di pilihan ketiga ku, ya kampus yang cukup
bergengsi di Sumatera. Diterima di kampus yang cukup mentereng, negeri pula membuat orang tuaku
meyakinkaku intuk mengubur mimpi kuliah di Jogja dan berusaha ikhlas menerima untuk kuliah di
kampus yang sudah menerimaku. Secara halus orang tuaku melarang ku untuk mengikuti SBMPTN, hal
itu ku terima dengan tidak terlalu berlapang dada, masih ada rasa ingin berjuang untuk meraih kampus
yang telah ku impikan sejak SMA itu. Pada saat SBMPTN dilasanakan bertepatan dengan jadwal daftar
ulang mahasiswa yang lolos jalur SNMPTN, akhirnya dengan perasaan yang sedikit kacau aku berangkat
ke kampus ku, disana aku bertemu dengan teman-temanku yang lain. Kami sama-sama memakai baju
putih, namun dengan tujuan berbeda, aku menuju auditorium untuk mendaftar ulang sedangkan teman-
temanku melangkah penuh asa mengejar mimpi mereka untuk mencapai kampus impian.

Beberapa hari setelah itu, mahasiwa baru jalur SNMPTN dijadwalkan untuk melakukan kegiatan
semacam pra ospek di kampus. Selama kegiatan tersebut aku bertemu dengan kawan-kawan baru yang
memberikanku perspektif berbeda dalam menanggapi hal yang menimpa ku saat itu. Mereka
mengajarkan kepada ku arti bersyukur, tugas kita hanya berjuang untuk hasil mutlak kehendak Tuhan.
Seiring berjalannya waktu hatiku sudah sepenuhnya ikhlas untuk menjalani apa yang ditentukan Tuhan
untukku, terlebih jika itu pun meringankan beban orang tua, karena biaya kuliah di kampus ku ini relatif
lebih murah dibanding dengan kampus impianku di tingkatan ukt yang sama. Ditambah lagi biaya hidup
ku selama kuliah juga akan murah karena aku bisa tinggal di rumah saudara sepupuku yang berada
tidak jauh dari kampus. Meskipun aku sudah ikhlas, namun aku memutuskan untuk mendaftar ujian
mandiri UGM. Saat itu aku sadar bahwa ujian tersebut diadakan di luar provinsi ku, namun aku tidak
terlalu mempedulikannya dan tetap memantapkan niatku untuk mendaftar. Aku tidak memberitahu
sama sekali orang tuaku terkait ini, bahkan aku membayar pendaftaran dengan uang hasil menang
lomba menulis yang aku ikuti sembari menunggu hasil SNMPTN dulu.

Setelah melewati masa para ospek, kami diliburkan karena ospek sendiri masih lama. Selama libur
aku menghabiskan waktu untuk mempersiapkan untuk keperluan kuliah nantinya. Namun dikala santai,
aku melihat informasi bahwa ujian mandiri UGM akan dilangsungkan. Sebenarnya aku cukup bingung
untuk tetap ujian atau tidak, karena jika aku memutuskan untuk ujian, bagaimana cara ku
mengatakannnya pada orang tuaku, sudah barang tentu mereka akan melarang ku. Setelah berpikir
panjang aku memutuskan untuk tetap ujian dan mengatakan kepada orang tuaku bahwa aku ingin pergi
ke tempat saudaraku untuk liburan sembari menunggu waktu ospek nantinya.

Aku pun berangkat ke tempat saudaraku atas izin orang tuaku, disana salah satu kota tempat
diselenggarakannya ujian mandiri UGM. Sampainya disana, aku menelpon orang tuaku untuk meminta
izin untuk mengikuti ujian, aku tidak tahu ekspresi mereka saat itu, yang aku tahu ini aku lakukan agar
tidak ada penyesalan di masa depan nantinya, apapun hasil dari ujian ini yang terpenting adalah aku

telah memanfaatkan jalur terakhir untuk menggapai impian ku. Setidaknya hal itu akan membuat ku
tenang, entah bagaimanapun hasilnya nanti.

Tidak lama setelah ujian, aku kembali pulang ke rumah dengan rasa yang sangat lega, tenang
karena aku telah berjuang dan melakukan yang terbaik, apapun hasilnya nanti aku sangat bersyukur dan
berusaha menjalani yang telah ditetapkan Tuhan dengan sebaik yang ku bisa. tibalah malam yang cukup
menegangkan dimana pada malam itu akan diketahui apa yang akan kujalani. Tetap dikampung atau
menjadi anak rantau. Aku membuka hasilnya dihadapan orang tua, ternyata aku dinyatakan lolos, aku
dan orang tuaku tertegun cukup lama. Tidak lama setelah itu ibuku mengeluarkan pertanyaan yang tidak
bisa ku jawab, “Berati harus bayar ukt lagi?”. Perasaanku langsung campur aduk. Namun tidak lama
kedua orang tuaku ikhlas dan mengizinkan ku untuk kuliah di UGM. Saat itu aku langsung berpikir
untuk membalas kelegawaan mereka dengan berusaha untuk meringakan beban mereka dalam hal
membiayai perkuliahan ku.

Sebelum berangkat ke Jogja, aku menyiapkan dokumen-dokumen untuk mendaftar Beasiswa
Unggulan dari Kementerian Pendidikan, karena aku telah mengetahui beasiswa ini sebelumnya,
harapanku adalah dengan beasiswa ini aku dapat meringankan beban orang tua untuk membayar uang
kuliah ku dan kakak-kakak ku. Setelah melewati beberapa proses dan waktu yang cukup lama, akhirnya
aku dinyatakan lolos sebagai Awardee Beasiswa Unggulan 2018, sungguh aku sangat bersyukur akan hal
itu. Alasan ku memilih beasiswa ini adalah salah satunya karena Beasiswa ini dapat diikuti dari mahasiwa
baru, dimana kebanyakan beasiswa yang ku tahu memberikan batasan minimal semester yang telah
ditempuh. Ditambah lagi, selain mencakup uang kuliah, beasiswa ini juga menelurkan dana untuk biaya
hidup dan biaya buku. Sehingga sangat membantu dalam proses pendidikan di masa perkuliahan.

~TEGUH IHZA YUHIRSAH~
Awardee BU 2018

T erima KasihKu untuk Negeri

Namaku Indah, berasal dari kota yang hampir semua orang Indonesia tidak mengetahuinya. Kota
yang teman-temanku salah menyebutnya dan kota yang jauh dari keramaian kendaraan jika
dibandingkan dengan kota Yogyakarta. Saat ini, aku menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Elektro
Universitas Islam Indonesia. Salah satu Universitas swasta yang berada di kota Yogyakarta.

Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Awalnya aku pikir untuk melanjutkan
kuliah tanpa beasiswa. Hahaa, sudah merasa sultan sekali yaa. Pada kelas 12, teman-teman aku banyak
yang membicarakan beasiswa ini dan itu. Dan akupun belum tertarik sama sekali. Pada suatu waktu, di
tempat belajar aku di luar sekolah atau biasa disebut tempat les. Guru pengajar aku membagikan
beberapa info beasiswa, salah satunya Beasiswa Unggulan Kemendikbud ini. Guru tersebut menyarankan
semua anggota di lesan mendaftarnya. Dan akupun terpaksa mendaftarnya, hehehe. Eitsz,tapi ini bukan
berarti aku benci beasiswa ya.

Dalam persyaratan dari Beasiswa Unggulan ini ada Essay dan proposal rencana studi.
Persyaratan yang lumayan berat buat aku. Tapi, karena kebaikan dari guru les aku. Maka masalah ini
mudah diatasi. Guru tersebut dengan senang hati membantu kami untuk merevisi proposal dan essay
kami. Hanya empat orang dari lesan aku yang mendaftar beasiswa ini, sayang sekali.

Setiap hari aku ke tempat lesan untuk merevisi essay dan proposal aku bersama teman satu SMA
aku. Kami bersama-sama mengerjakannya. Pada proses ini guru aku berpesan untuk tidak menyalin essay
dari punya orang lain tanpa memberikan sitasi. Karena ini disebut plagiarisme dan bisa mendapatkan
hukuman dari proses menyalin ini. Proses tahap satu selesai dan tinggal menunggu hasilnya. Pada

pengumuman tahap satu, aku tidak terlalu berharap banyak pada beasiswa ini. Entahlah, kenapa bisa
begitu.

Para peserta yang lolos tahap satu kemudian melanjutkan tahap kedua yaitu proses wawancara
yang tempatnya memakan waktu setengah jam dari kost aku. Oh ya, ngomong-ngomong pengumuman
tahap satu ini di jogja loh karena aku termasuk beasiswa unggulan yang region jogja dan pada saat itu
aku sudah di jogja, jadi waktu tempuhnya tidak terlalu lama. Pada proses ini, banyak sekali penerima
beasiswa dari universitas lain. Dan entah kenapa, pada proses ini aku sangat takut jika aku gagal. Rasa
insecure aku timbul karena aku pikir banyak orang hebat di sekeliling aku ini yang bisa lolos. Akan tetapi,
aku mencoba menahan diri dan mengatakan kepada diri sendiri bahwa aku juga bisa seperti mereka.
Mereka yang bisa mendapatkan beasiswa dan membantu meringankan beban orang tua. Sebelum giliran
wawancara aku dimulai, aku meminta restu dari orang tuaku dan guru yang telah membantuku selama
ini agar proses wawancara ini berjalan dengan baik. Dan yaaa, akhirnya proses wawancaraku selesai.

Pada penantian pengumuman tahap kedua. Aku sangat putus asa dan sangat sedih karena ada
beberapa alasan yang membuat aku seperti itu dan membuat aku harus berhenti menempuh pendidikan
ini tapi Alhamdulillah masih kuliah sampai sekarang. Perasaan campur aduk dan rasa bersalah
menghantuiku waktu itu. Aku tidak punya teman cerita. Tapi aku lupa satu hal, bahwa aku punya Allah,
tuhan yang maha besar. Lebih besar dari masalahku ini. Allah lah yang selalu mendengarkan keluh kesah
hambanya. Pemberi nikmat yang luar biasa. Kenapa aku melupakan hal ini? Di setiap doaku, aku selalu
meminta untuk mendapatkan beasiswa ini. Sedih sekali, karena kita mendekat kepada Pencipta kita jika
ada butuhnya saja .

Aku sudah berjalan sejauh ini , aku tidak mau menyerah, aku harus melanjutkan kuliahku.
Pikirku saat itu. Menunggu hasil pengumuman tahap kedua ini, aku tidak hanya menunggu. Akan tetapi,
aku mulai mencari beasiswa lain sebagai rencana keduaku. Dan iyaa, ternyata tahap keduaku lolos.
Akhirnya aku menjadi salah satu penerima Beasiswa Unggulan di tahun 2019 ini. Alhamdulillah

Dari Beasiswa Unggulan ini, aku sangat bersyukur karena aku bisa bertemu dengan orang-orang
hebat dari berbagai universitas di Yogyakarta. Dari beasiswa ini juga, aku tertarik dengan berbagai
beasiswa yang lain, haahha. Tapi aku tetep setia kok dengan Beasiswa Unggulan ini. Pesan aku kepada
teman-teman yang putus asa dengan biaya untuk melanjutkan kuliah, jangan khawatir. Banyak beasiswa
di luar sana yang bisa membantu kamu meringankan beban yang satu ini. Tentunya dengan usaha.
Carilah info tentang beasiswa sebanyak-banyaknya. Jangan cari beasiswa karena nominal yang diberikan
beasiswa tersebut sangatlah besar. Tapi carilah beasiswa yang memang sesuai dengan potensi diri kamu.
Karena setiap persyaratan beasiswa satu dengan yang lainnya berbeda. Maka, syukurilah beasiswa yang
saat ini atau yang akan kamu dapatkan nanti. Jangan lupa DUIT yaitu doa, usaha, ikhtiar dan tawakkal.

~INDAH~

isahku, Beasiswa Unggulan,

dan Pengabdian

Hallo Guys!!! Perkenalkan namaku Vidia Kurniawati, biasanya
dipanggil Vidia. Aku seorang mahasiswi jurusan Pendidikan
IPA di Universitas Negeri Yogyakarta. Disini aku mau berbagi

Kpengalamanku seputar Beasiswa Unggulan.

Sebelum Menerima Beasiswa Unggulan

Setelah lulus SMA pada tahun 2018, aku memikirkan harus kemana aku melanjutkan studi lagi.
Hingga akhirnya mencoba-coba untuk mendaftar ke berbagai Perguruan Tinggi Negeri. Berbagai jalur
seperti SNMPTN dan SBMPTN sudah kulalui, namun masih belum rezeki untuk lolos masuk Perguruan
Tinggi Negeri. Hingga singkat cerita, aku mengetahui bahwa ada jalur masuk Seleksi Mandiri Prestasi di
Universitas Negeri Yogyakarta. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun mencoba untuk mendaftar di UNY
melalui jalur SM Prestasi. Dan Alhamdulillah diterima di jurusan yang aku pilih, yaitu Pendidikan IPA.

Setelah menempuh studi selama kurang lebih 2 semester, aku diberitahu oleh kakak tingkatku
bahwa ada program yang diadakan oleh Kemendikbud yang bernama Beasiswa. Unggulan. Hingga
akhirnya aku mencari-cari informasi mengenai Beasiswa Unggulan, karena keinginanku pada saat kuliah
bisa meringankan beban orang tua jika aku bisa mendapatkan beasiswa. Selain itu, di kampus aku
mengikuti berbagai macam kegiatan, baik yang berada di dalam jurusanku maupun di luar jurusan.
Karena aku anak rantau, aku harus bisa dapat beradaptasi di lingkungan dan juga mencari relasi
sebanyak-banyaknya dengan mengikuti berbagai kegiatan.

Pada Saat Mendaftar Beasiswa Unggulan

Hingga pada saatnya yang ditunggu-tunggu, akhirnya Program Beasiswa Unggulan membuka
pendaftaran. Saat itu dibuka pada bulan Juli-Agustus 2019. Dengan semangat aku melengkapi berbagai
persyaratan yang diminta oleh pihak penerima Beasiswa Unggulan. Membuat essay, proposal studi, dan
berbagai macam dokumen lainnya aku persiapkan. Dan beberapa minggu setelah mengupload berkas.
Alhamdulillah aku diterima seleksi tahap I, kemudian dilanjutkan dengan seleksa tahap II yakni seleksi
wawancara. Saat wawancara aku masih ingat betul, aku Bersama temanku dari FMIPA UNY untuk pergi
ke kantor LPMP Yogyakarta. Banyak orang yang mengantri pada saat seleksi wawancara itu, sempat deg-
dengan juga saat proses wawancara. Tapi yang penting Bismillah dan berdo’a selalu serta meminta restu
orang tua, pasti semua akan dilancarkan. Setelah mengantri berjam-jam, akhirnya tiba saatnya giliranku
masuk ke dalam ruangan untuk wawancara. Pada saat wawancara, aku bersikap supaya untuk tetap
tenang dan juga optimis, Alhamdulillah seleksi wawancara berjalan dengan lancar.

Setelah Menerima Beasiswa Unggulan

Setelah seleksi wawancara, beberapa minggu kemudian diumumkan hasilnya melalui website
Beasiswa Unggulan dan juga mendapat pemberitahuan melalui e-mail. Alhamdulillah aku lolos Beasiswa
Unggulan Tahun 2019. Bersyukur sekali dan pastinya senang. Kemudian beberapa hari berikutnya setelah
pengumuman lolos, dilanjutkan Agenda Tanda Tangan Kontrak. Di aula kantor LPMP, seluruh penerima
Beasiswa Unggulan dari jenjang S1, S2, S3 untuk regional wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dikumpulkan
untuk mengikuti agenda Tanda Tangan Kontrak beasiswa Unggulan tersebut. Dan akhirnya
Alhamdulillah bisa menjadi bagian dari Awardee Beasiswa Unggulan Tahun 2019. Di tahun 2020 aku juga
ikut tergabung menjadi salah satu pengurus komunitas Beasiswa Unggulan Jogja Mengabdi, karena aku
suka bersosialisasi dan suka berorganisasi maka aku merasa nyaman dengan menjadi bagian dari BU
Jogja Mengabdi.

Setelah mendapat Beasiswa Unggulan, aku menjadi lebih semangat untuk menjalani kuliah dan
menggapai cita-citaku. Aku berharap bisa membanggakan orang tuaku, keluargaku, dan Negeriku
Indonesia. Tidak ada hentinya untuk terus belajar dan mengasah kemampuan diri. Aku juga menjadi
semakin bersemangat untuk meningkatkan prestasiku dengan mengikuti berbagai ajang lomba,
Alhamdulillah dapat menjadi Finalis dalam Lomba Nasional Business Plan Competition yang diadakan
UKMF Inspire FE UNY. Dengan semangat dan dukungan dari orang-orang yang aku sayangi menjadikan
aku untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Mungkin inilah kisahku tentang Jogja, Beasiswa Unggulan, dan Pengabdian. Disini aku yakin
bahwa jika kita mau berusaha, bekerja keras, dan pantang menyerah. Aku yakin hasilnya pun akan
memuaskan. Selalu iringi langkah dengan do’a, senyuman, dan semangat!!!

~VIDIA KURNIAWATI~

Aku dan Beasiswa Unggulan

Bercerita tentang Beasiswa Unggulan membuatku kembali mengingat dan merasakan apa yang telah
terjadi pada masa lampau. Aku yang kala itu hanya gadis Madrasah Aliyah (MA/Sederajat SMA) di
sebuah desa kecil di Kabupaten Cirebon merasa sangat yakin akan cita-cita yang kumiliki. Menjadi
seorang dosen, ahli hukum.

----------------------------------------

Entah apa yang ada dipikiran gadis kecil itu tentang hukum, yang ia tahu hanyalah ia ingin
menjadi pandai di bidang hukum dan dapat memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma bagi
masyarakat yang membutuhkan. Meskipun orang-orang disekitarnya meragukan mimpinya tersebut,
mengatakan bahwa ia hanyalah anak kecil yang masih sok idealis dan belum tahu apa-apa, mengatakan
bahwa hukum yang ada saat ini tidak dapat diharapkan, tapi yang ia tahu hanyalah ia harus berjalan
dengan mantap. Jika memang semua orang meragukan mimpinya, jika memang semua orang enggan
terjun ke dunia hukum karena ketidakpercayaannya pada hukum itu sendiri, lantas siapa yang bisa
membantu sesama yang membutuhkan dan berhadapan dengan hukum? Maka aku, akan semakin
memantapkan hatiku disana, pikir gadis kecil itu.

Dengan langkah kecilnya ia menapaki jalan mimpinya. Ia berhasil lolos Seleksi Nasional Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Tulis pada 2012 ke Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (FH
Undip). Selama 3,5 tahun menapaki studi di FH Undip, ia tidak pernah lupa akan mimpinya. Ia ingin
menjadi seorang dosen, ahli hukum yang juga dapat beracara di pengadilan. Dan untuk itu ia tahu bahwa
ia haruslah melanjutkan studinya ke jenjang magister. Namun, setelah di ujung masa studinya ibunya

tidak mendukung mimpinya tersebut. Ibunya, yang menjadi tumpuannya selama ini, hanya ingin ia tetap
tinggal di rumah setelah menjadi sarjana. Ibunya berkata padanya bahwa “Ibu tidak menyekolahkan
kamu untuk bekerja, ibu hanya ingin kamu belajar agar tidak dibodohi orang.” Lama ia berpikir saat itu.
Hingga barang sebentar ia berusaha memahami maksud hati ibunya dan berusaha menerimanya secara
ikhlas. Mungkin memang itu yang terbaik pikirnya.

Hari-hari berlalu dan ia berusaha menerimanya dengan tabah. Namun, semakin ia mencoba
tabah semakin ia merasa bahwa hal tersebut bukanlah hal yang benar-benar ia inginkan. Ibunya tahu
benar akan hal itu, hingga pada akhirnya hatinya mulai melunak. Ia membiarkan anaknya berusaha
kembali untuk melanjutkan studinya ke jenjang magister, namun dengan satu syarat. Beasiswa. Gadis
tersebut pun dengan terbata-bata mencoba mencari tahu dan berusaha memenuhi syarat beasiswa,
namun gagal. Dirinya saat itu dipenuhi emosi dan tidak tenang. Sempat ia hendak menyerah akan cita-
citanya dengan berpikir bahwa mungkin tetap tinggal di rumah adalah pilihan terbaik. Namun, hari-hari
yang ia jalani semakin sulit. Semakin banyak perang bathin dalam dirinya. Ia bukannya tidak suka untuk
berdiam di rumah bersama orang-orang terkasihnya, namun ada hal yang lebih besar yang ingin ia
lakukan. Mempunyai kemampuan untuk dapat memberikan kontribusi lebih bagi masyarakat. Dan satu
cara yang pasti untuk mencapai hal tersebut adalah dengan melanjutkan studi. Mencapai cita-citanya
yang paling tulus. Menjadi seorang dosen dan sekaligus advokat yang berdedikasi. Untuk ke sekian
kalinya, ibunya semakin melunak. Sang ibu terlihat iba pada anaknya, hingga ia berkata “Tak apa jika tak
memakai beasiswa ibu akan kembali membiayaimu sekolah, nak. Ibu masih mampu.”

Secercah harapan terlihat, tapi si gadis keras kepala itu justru tidak ingin take it for granted. Ia
justru semakin ingin membuktikan bahwa ia mampu melanjutkan studi dengan beasiswa. Ia lantas hanya
meminta restu untuk berusaha sekali lagi untuk mengikuti seleksi beasiswa. Namun, ia “merasa” kembali
mengalami kegagalan pada seleksi beasiswa yang pertama kali diikutinya. Saat itu, ia begitu gugup dan
tak mampu menunjukan performa terbaiknya pada saat wawancara. Pikirannya sesaat sempat kacau,
ingin menangis sejadi-jadinya. Bagaimana jika ia benar-benar gagal kali ini? Namun, gadis itu terus

berpikir. Ia kemudian mencari alternatif lain, mempersiapkan diri untuk mendaftar Beasiswa Unggulan.
Inilah kesempatan terakhirnya, pikir gadis itu. Setahap demi setahap ia mulai kembali mengumpulkan
tekadnya dan berusaha untuk memperbaiki semua kesalahan yang ia lakukan sebelumnya. “Tuhan, jika
memang ini jalanku maka permudahlah,” pinta gadis itu dengan lirih.

Lantas, gadis yang telah beranjak dewasa tersebut dinyatakan diterima di Program Studi
Magister Hukum Bisnis dan Kenegaraan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (MHBK FH UGM).
Seleksi Beasiswa Unggulan masih berlangsung, maka mau tidak mau hatinya terus cemas saat itu.
“Bagaimana jika aku tidak lolos mendapatkan beasiswa?”, pikir gadis itu. Beasiswa Unggulan hanyalah
satu-satunya yang bisa ia harapkan. Perlahan tetapi pasti, gadis tersebut kemudian melewati setiap tahap
seleksi Beasiswa Unggulan dengan baik. Dan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, ia juga mampu
melewati tahap wawancara dengan baik. Ia belajar banyak dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan pada
seleksi beasiswa sebelumnya. Doa-doa selalu ia panjatkan tiap harinya, meskipun ia tahu bahwa Ibunya
pun sudah tak terlalu berharap bahwa anak gadisnya tersebut mendapatkan beasiswa, tapi harap gadis
itu masih sangat besar untuk melanjutkan studi dengan beasiswa penuh. Dan sekali lagi, segala puji bagi
Allah, akhirnya ia dinyatakan lulus semua tahapan seleksi Beasiswa Unggulan dan dinyatakan sebagai
salah satu penerima beasiswa pendidikan penuh dari Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia. “Tuhan, terima kasih,” ucap gadis itu dengan khidmat.

Ia melalui hari-hari belajarnya dengan baik. Tanpa lupa ia tetap aktif dalam berbagai organisasi,
baik organisasi kemahasiswaan maupun sosial. Karena baginya organisasi adalah salah satu bagian dari
jiwanya. Dan melakukan kegiatan sosial adalah suatu hal yang membuat hatinya tentram. Sebagai salah
satu penerima bantuan biaya pendidikan yang berasal dari uang rakyat, maka ia semakin bertekad untuk
melakukan semua hal terbaik yang bisa ia lakukan. Baik dalam studi maupun organisasi. Beasiswa
Unggulan pula yang telah mempertemukannya dengan orang-orang hebat yang tergabung dalam
komunitas Beasiswa Unggulan Mengabdi Region Yogyakarta (BU Mengabdi Region Yogyakarta).
Kumpulan mahasiswa yang mendapat bantuan biaya pendidikan secara cuma-cuma yang berasal dari

uang rakyat dan merasa amat sangat bertanggungjawab terhadapnya. Yang sama-sama bertekad untuk
memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa sebagai salah satu generasi unggul kebanggaan Bangsa
Indonesia, sebagaimana tema essai prasayarat seleksi Beasiswa Unggulan. Kita tahu, langkah kita masih
sangat kecil, namun kita percaya setiap hasil yang besar selalu dimulai dari langkah yang kecil. Dan kita
sama-sama tahu bahwa sekecil apapun kontribusi bagi bangsa akan sangat berarti. Jangan sekali-kali
meremehkan langkah kecil. Dan satu hal yang pasti, kita pun masing-masing tidak akan pernah
menghentikan lagkah kita untuk memberikan kontribusi bagi bangsa sampai disitu. Kami akan terus
bergerak, sepanjang hidup kami untuk berkontribusi bagi bangsa yang kami cintai, bagi bagian dari diri
kami.

--------------------------------------------------

Semua pengalaman selama menempuh studi magister tersebut sangat berarti bagiku dan karenanya pula
aku bisa berada di posisi sekarang. Aku dapat menyelesaikan pendidikanku dengan baik dan segala puji
bagi Allah aku menjadi salah satu lulusan terbaik di Program Studiku dengan IPK 3,94. Beasiswa
Unggulan telah menjadikan mimpiku menjadi semakin nyata. Kini, aku telah mencapai satu cita-citaku,
menjadi seorang dosen. Saat ini dan nanti aku tak akan pernah lupa, bahwa nikmat yang aku cecap adalah
berkat bantuan dari uang rakyat. Dan aku akan tetap berusaha memberikan kontribusi terbaik bagi
bangsa melalui proses transfer ilmu yang kulakukan sebagai seorang dosen dan memproyeksikan diri
sebagai seorang advokat yang dapat memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada masyarakat
di hari-hari ke depan.

Satu hal yang pasti, berbagi dengan sesama adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Dan dengan menulis
ini, aku berharap dapat menyalurkan hal-hal positif yang kumiliki kepada orang-orang di sekitarku,
bahkan untuk cakupan yang lebih luas. Satu pengalaman berharga bagiku dalam beberapa waktu
terakhir, yang mebuatku semakin ingin untuk membagikan ceritaku, yakni ada seseorang di luar sana
yang bisa jadi termotivasi dan terbantu dengan apa yang telah aku tuliskan. Ada seorang gadis, nan jauh

dari pulau seberang, gadis pintar yang punya mimpi yang tinggi, yang memnghubungiku beberapa waktu
lalu dan menyatakan bahwa apa yang aku tuliskan dalam blogku tentang pengalamanku mengikuti
seleksi Beasiswa Unggulan sangat membantunya. Hingga hari ini pun aku masih terus berkorespondensi
dengannya. Senang rasanya, jika ternyata aku mampu memberikan suatu hal, sekecil apapun itu, bagi
orang-orang lain di luar sana yang mau bersama berkontribusi bagi bangsa. Hingga nanti bukan hanya
sebagian dari kita yang dengan percaya diri mencap diri kita sendiri sebagai generasi unggul kebanggaan
Bangsa Indonesia, tapi kita mampu menjadikan seluruh generasi di masa yang akan datang adalah
generasi unggul kebanggaan Bangsa Indonesia.
Akhir kata aku ingin mengucapkan pada semuanya, “Jangan pernah takut bermimpi selama kamu masih
percaya pada Tuhan, tidak ada yang lebih besar daripada kuasa-Nya. Dan mimpi manusia yang tertinggi
adalah untuk menjadi manfaat bagi sesamanya.”

~LIZA~

Mungkin Jodoh?

14 April 2018. Terik, aku sibuk memotret, merekam, kesana kemari. Iya, waktu itu kebetulan jadi
panitia dokumentasi acara musik kampus. Beberapa saat setelah nongkrong ngedem dibawah pepohonan
samping venue. Tiba tiba ada temen yang nyelutuk, katanya mau daftar beasiswa. Niat hati cuma mau
kepo, tapi kok ya lama-lama jadi menarik. Setelah melihat requirements nya, jujur langsung ciut. Aku bisa
di bilang mahasiswa "ecek-ecek" waktu itu, selama 1 1/2 semester kuliah aku tidak menghasilkan prestasi
apapun (mungkin karena ruang gerak yang terbatas masa kaderisasi atau memang dasarnya aku yang
emang biasa aja hehe), sedangkan salah satu persyaratan mendaftar harus memiliki prestasi minimal
tingkat kabupaten 3 tahun terakhir. Oh, satu lagi, IP semester 1 ku, juga hanya "hampir" cumlaude.
Kelihatannya hampir mustahil kan?

Sehari setelah itu, entah dapat bisikan apa aku nekat mengisi form registrasi online, mengabaikan
IP yg hampir cumlaude itu. Dan mencoba peruntungan mendaftar dengan menggunakan beberapa
sertifikat lomba semasa SMA.

Kelar? Eitss belum...
Cobaan berikutnya, ternyata waktu yang tersisa cuma 4 hari. Dalam waktu super duper singkat

itu, aku harus membuat Essay dan Proposal Rancangan Studi (yang jujur aku tidak punya gambaran
apapun soal ini). Lagi, masalah proposal ini aku di bantu mbak yang menginfokan adanya BU tadi hehe.
Alhamdulillah, aku mendapat dosen yang sangat baik hati dan mau memberikan rekomendasi untuk
mendaftar BU. Terima kasih Pak Wahyu, berkat Bapak saya jadi bagian dari keluarga sekeren BU! Setalah

2 hari bolak balik rektorat mengurus berkas aktif mahasiswa, akhirnya aku submit, D-Day, jam 9 malam.
Mapet banget ga si? Hehe.

Setelah seminggu, Alhamdulillah dapet email lolos seleksi berkas. Seneng? Enggak. Panik! Untuk
tahap interview pendaftar yang lolos tahap seleksi berkas, harus membawa berkas asli ketika interview.
Semua berkas ku ada dirumah dan di rumahku di NTT. Waktu itu, cuma punya waktu 4-5 hari sebelum
interview. Memang, yang Maha Kuasa itu baik sekali. Berkasnya sampai H-1 dan keesokan harinya aku
bisa ikut interview. Sewaktu interview, aku bertemu banyak sekali candidates yang "wow", jujur hari itu
aku pesimis. Aku yang "biasa aja" ini bisa apa :( Setelah interview, aku merasa sangat bersyukur. Meskipun
tidak 100% merasa senang dengan hasil interview itu. Aku tau, aku bisa lebih baik lagi (tapi kebanyakan
orang memang merasa begini gak sih?). Oh iya, ini mungkin yang ga bakalan bisa dilupain sewaktu
interview. Ternyata, interviewer-nya notice IP di transkripku yang "hampir" cumlaude itu, lalu Beliau
memberi nasihat agar lebih giat belajar lagi. "Baik Pak, setelah ini saya akan lebih giat lagi belajar"

Setelah interview itu, jujur aku lupa sedang mendaftar BU, sampai suatu siang, aku lagi main di
Hartono sama temen temanku, ada Email masuk, dan aku di nyatakan "LULUS" sebagai Awardee BU.
Shock? Jelas.. Rasanya seperti dapat jackpot di siang bolong ✌ Setelah hari itu, hidupku berubah 180°.
Mungkin kebanyakan orang memotivasi diri untuk menjadi awardee. Sedangkan aku, jujur, termotivasi
setelah menjadi awardee.

Dari ceritaku yang gak menarik tadi, aku ingin titip pesan untuk adik adik yang mungkin sedang
mempersiapkan diri untuk mendaftar BU, selain berusaha menyiapkan berkas sebaik mungkin,
menyiapkan PRS yang menarik hingga public speaking yang mumpuni agar bisa lolos interview. Ada hal
yang tidak boleh ketinggalan, membujuk yang maha mengabulkan agar dijodohkan dengan yang sedang
kalian usakan. Oh satu lagi, jangan lupa minta restu Ayah dan Ibu, asli manjur banget wkwk

Ini penting, setelah melalui semua pengalaman diatas, aku menemukan sebuah kesimpulan. Hal
yang paling dilarang dalam mencoba sesuatu adalah meng-underestimate diri sendiri dengan ketakutan-
ketakutan yang tidak perlu. Takut gagal, takut malu, takut di ceomoh. "If something is destined for you,

never in a million years will it be for somebody else". Begitu kira kira yang kalian harus imani. Membuat
pertimbangan itu penting, tapi jangan sampai membuatmu rendah diri (you know what i mean, right?)

You must take every change and opportunity that comes in your life. Karena kita tidak pernah tau doa
mana dan usaha keberapa kita yang akan diijabah. Kalo belum berhasil, hitung hitung ngurangin jatah
gagal sebelum sukses ya kan hehe

Last, tulisan ini aku dedikasikan untuk barisan penolong yang di kirim Allah untuk membantu aku
menjadi awardee BU. Terima kasih banyak untuk my bestie Ria Ayu Rifani, jikalau bukan karena dikau,
mungkin sampai hari ini aku tidak akan pernah tau apa itu BU. Untuk Pak Wahyu yang sudah memberi
rekomendasi yang "apik". Untuk Fenny Anindya yang mau aku ajak bolak balik rektorat ngurus surat
dan muterin Babarsari nyari Pak Wahyu untuk minta tanda tangan. Untuk Ibu dan Ayah yang selalu
men-support aku. Dan untuk semua yang secara sadar dan tidak sadar sudah aku repotkan. Terima kasih.
Ini ceritaku, yang sekarang Alhamdulillah udah cumlaude ✌

~ALIFAH WULANDARI SETYONINGRUM~
Teknik Perminyakan - 2017
UPN Veteran Yogyakarta

Meraih Mimpi Tanpa Batas

Pernah mendengar kalimat “dimana ada kemauan disitu ada jalan” ? Ya, ungkapan yang sudah
tak asing itu memang tepat sekali untuk menggambarkan apa yang akan kuceritakan kali ini. Oh iya,
perkenalkan, namaku Ayu Fitmanda Wandira. Agar lebih akrab kalian cukup memanggilku dengan Ayu
saja. Aku mahasiswa di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta atau yang lebih sering
disebut dengan UPNVY. Saat ini aku sudah berada di tingkatan yang bisa dikatakan mahasiswa tua,
penghujung semester enam memasuki semester tujuh. Back to the topic, kali ini aku ingin berbagi
pengalamanku menjadi scholarship hunter ketika masih mahasiswa baru.

Meski berasal dari pulau ujung barat Indonesia, tapi sejak masa SMA (Sekolah Menengah Atas)
aku sudah bercita-cita untuk melanjutkan pendidikanku di Yogyakarta. Di pikiran seorang anak SMA
saat itu, aku merasa Jogja adalah kota yang akan membantuku menemukan banyak hal baru dalam
hidup. Walaupun harus berangkat sendiri dan tidak mempunyai seorang pun sanak saudara di kota itu,
aku tetap berangkat ke kota pelajar tersebut. Singkat cerita, aku akhirnya diterima di UPNVY dan lulus
pada prodi Ilmu Komunikasi.

Berstatus sebagai mahasiswa baru dengan prodi impianku sejak dulu, aku merasa masamasa
awalku di kampus sangat menyenangkan. Mendaftar menjadi anggota di UKM Kopma (Koperasi
Mahasiswa) dan juga bergabung di LPM (lembaga Pers Mahasiswa) ‘Sikap’ kulakukan dengan tujuan
menambah pengalaman dan relasi, juga mengasah kemampuan. Terlepas dari kegiatan yang aku ikuti,
sejak awal memilih melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, aku sudah bertekad akan menjadi
pemburu beasiswa. Keinginan itu bukan tanpa sebab, sebagai anak pertama dari lima bersaudara, aku
tentu tak ingin menyusahkan ibuku yang single parent. Tekadku, meskipun ibuku seorang PNS, aku
harus tetap mandiri agar bisa menyenangkan hati beliau.

Beruntungnya, di UKM Kopma yang aku ikuti, aku bertemu seorang teman dengan keinginan
dan visi yang sama sepertiku. Namanya Naufal Fakhri, mahasiswa Sistem Informasi. Mengetahui
informasi adanya Beasiswa Unggulan dari Kemendikbud, aku dan dia langsung mencari tahu lebih
banyak lagi mengenai beasiswa tersebut. Persyaratan umum beasiswa kami persiapkan dengan baik.
Meski sempat harus tidak mengikuti kelas karena mengurus beberapa berkas, akhirnya berkas-berkas
yang berhubungan dengan pihak kampus terselesaikan juga. Namun, memang musibah tidak ada yang
tahu.

Saat di perjalanan hendak mengerjakan proposal rencana studi dan essay bertema “Aku Generasi
Unggul Kebanggaan Bangsa Indonesia”, aku malah mengalami sebuah kecelakaan kecil tapi cukup
membuat tulangku ngilu dan tanganku sakit ketika digerakkan. Iya, hari itu aku jatuh dari motor dengan
kondisi mantelku masuk ke dalam jari-jari ban motor. Padahal besok sudah tenggat waktu submit semua
persyaratannya. Di tengah rasa sakit itu, syukurnya Naufal bisa membantuku untuk mengetik proposal
dan essay tersebut. Meski harus begadang demi menyelesaikan kedua persyaratan tersebut, aku merasa
tenang karena masih bisa melanjutkan proses pendaftaran. Akhirnya, semua persyaratan beasiswaku
berhasil aku submit ke akun Beasiswa Unggulan tepat keesokan harinya di waktu menjelang batas jadwal,
yaitu pukul 22:43 tanggal 19 April.

Setelah menunggu sekitar sembilan atau sepuluh hari, pengumuman tahap satu pun keluar.
Alhamdulillah kami lulus seleksi administrasi tersebut. Selanjutnya, ada seleksi wawancara yang sudah
menunggu di depan mata. Tak bisa dipungkiri, aku cukup merasa nervous ketika menunggu hari itu. 14
Mei, hari wawancara yang diadakan di kampus UGM pun tiba. Sesuai jadwal, aku berangkat dengan
perasaan gugup. Saat aku sampai di sana, ternyata sudah cukup banyak orang yang mengantri. Aku pun
ikut mengantri dan melakukan registrasi dengan mengisi data yang sesuai. Selanjutnya, aku dan peserta
lainnya menunggu giliran dipanggil untuk wawancara.

Saat giliranku tiba, kulangkahkan kaki ke ruang wawancara dan tak lupa kubaca doa di dalam
hati. Ajaibnya, perasaan gugup yang sebelumnya ada malah menghilang. Setelah memperkenalkan diri

secara singkat, pertanyaan seputar prodi dan rencanaku untuk ke depannya diajukan oleh pewawancara.
Aku berusaha menjawab dengan sebaik mungkin dan tentunya dengan jujur. Selain pertanyaan seputar
studi, pewawancara yang akhirnya mengetahui aku berasal dari Aceh penasaran dengan kisahku ketika
Tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 silam. Aku pun menceritakannya. Wawancara mengalir begitu
saja dan prosesnya terasa menyenangkan. Singkat cerita, wawancaraku pun selesai dan aku tinggal
menunggu hasil akhirnya.

Selama menunggu pengumuman akhir yang menentukan lulus tidaknya menjadi penerima
beasiswa tersebut, aku semakin menjadi harap-harap cemas. Jujur saja, aku sangat berharap bisa
mendapatkan Beasiswa Unggulan itu. “Aku dapat membeli laptop dan memenuhi kebutuhan lainnya,”
begitu pikirku kala itu.

31 Mei, pengumuman yang harusnya diumumkan pada hari itu ditunda menjadi tanggal 1 Juni.
Aku terus berdoa agar esok hari hasil pengumumannya sesuai dengan harapanku. Tepat 1 Juni
pengumuman yang berhak menjadi penerima beasiswa dari kemendikbud tersebut diumumkan. Saat itu,
kebetulan aku sedang bersama teman-teman Kopma. Aku meminjam handphone salah satu temanku
karena sinyal di handphone-ku sedang bermasalah. Bismillah, kubuka akun Beasiswa Unggulan dengan
perasaan tak karuan. Setelah melihat pengumumannya, aku mengucap syukur berkali-kali sampai
beberapa temanku menoleh ke arahku. Rasanya, saat itu aku benar-benar begitu bahagia.

Sejak awal aku sadar bahwa sainganku dalam mengejar beasiswa ini cukup banyak. Tak sedikit
dari mereka adalah orang-orang yang hebat dan berprestasi luar biasa. Namun, aku berpegang teguh
dengan motto-ku sejak Sekolah Dasar yaitu “terus mengejar sampai mendapat” yang membuatku tetap
berani maju dan berusaha melakukan yang terbaik.

Setelah menjadi Awardee Beasiswa Unggulan, aku semakin semangat menjalani perkuliahanku.
Akademik dan organisasiku berjalan lancar meski sesekali tetap mengalami fase naik turun. Namun, hal
terpentingnya aku jadi lebih menyadari bahwa dengan menjadi satu dari sekian ribu penerima beasiswa,
aku punya tanggung jawab untuk melakukan semuanya dengan lebih baik lagi. Hal tersebut kubuktikan

dengan menekuni organisasi yang kusukai sejak awal sampai akhirnya aku bisa menjadi Ketua Pengawas
di Kopma dan Redaktur di LPM “Sikap”. Harapanku, suatu saat ilmu yang aku dapatkan semasa
perkuliahan dapat aku realisasikan dengan baik. Membantuku menjadi manusia yang berguna untuk
orang lain dan tentunya untuk bangsaku kelak. Aku percaya hal-hal kecil dapat membawa perubahan
yang besar.

Untuk kalian yang membaca tulisanku ini, aku tak ingin menggurui banyak hal. Pesanku
sederhana “apapun mimpimu, kejarlah”. Jangan terlalu memikirkan kemungkinankemungkinan buruk
yang akan terjadi. Tugas kita adalah berusaha melakukan yang terbaik semampu kita, selebihnya biarkan
Tuhan yang membuat semesta bekerja. Usaha dan doa adalah kunci utamanya. Semangat para pejuang.
Oh iya, doakan aku semoga nanti bisa mendapatkan beasiswa lagi untuk mengejar mimpiku melanjutkan
studi ke luar negeri ya. Jangan lupa, terus bermimpi dan berjuang menggapainya. Kesuksesan akan setia
menunggu kita menjemputnya. Salam para pemimpi. Dari aku, Awardee Beasiswa Unggulan 2018 yang
masih terus berjuang meraih mimpi.

~AYU FITMANDA WANDIRA~

engkulu Ke Semarang

BUntuk Bengkulu

Barangsiapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada dijalan Allah sampai ia
kembali,HR.Tirmidzi~.
Yah begitulah harapan sekaligus doa yang menemani awal perjalanan kuliahku sampai sekarang.

Hallo...
Perkenalkan namaku Dely Tresia Putri,saya anak pertama dari tiga bersaudara pasangan dari Bapak
Derin Taman dan Ibu Nelmi Diana.Lahir didaerah terpencil yang cukup jauh dari pusat kota tepatnya di
Desa Talang Perapat, Kecamatan Seluma Barat, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu pada tanggal 06
November 2000 tidak menyurutkan niat saya untuk mengenyam pendidikan yang tinggi di salah satu
kota besar Indonesia ini.

Dua belas tahun merasakan pendidikan dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas
belum mampu membuat saya puas dan berhenti untuk kembali melanjutkan kejenjang perkuliahan.
Pasca lulus dari SMA Negeri 1 Seluma,saya memutuskan dan memberanikan diri untuk mengikuti tes
ujian jalur mandiri disalah satu kampus Islam yaitu Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang setelah
mencoba membuka peluang dijalur SNMPTN namun gagal.Tak berhenti disitu,saya juga mencoba
SBMPTN, Alhamdulillah saya lolos dikampus pilihan saya yang ada di Nusa Tenggara Timur namun
entah mengapa orangtua saya tidak menyetujui akan keberangkatan saya kekampus tersebut dengan

alasan kampus itu sangatlah jauh dari tempat tinggal kami padahal sebelumnya hal itu telah kami
diskusikan waktu pemilihan kampus yang dituju.

"Tes mandiri? kuliah dijawa?daripada tahun ini mandiri mending off dulu,tahun depan baru coba
lagi!lagian ngapain sih kuliah?dijawa lagi!jauh banget!

Begitulah pertanyaan sekaligus pernyataan yang sering kali dilontarkan oleh orang-orang sekitar ku,
namun sudahlah.Anggap saja itu motivasi untuk ku agar lebih berusaha keras dan berdoa supaya semua
dimudahkan.

Tepat tanggal 19 Juni 2019 aku berangkat meninggalkan rumah sederhana yang penuh keceriaan
dan kenangan.Aku berangkat bersama salah seorang temanku dibangku SMA yang kebetulan sudah
duluan diterima dikampus yang aku tuju.Kami berangkat berdua tanpa ada pihak keluarga yang
menemani untuk mengikuti tes ujian jalur mandiri yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2019
dikampus UIN Walisongo Semarang.

Beberapa hari menghabiskan waktu di kendaraan baik itu bis,kapal dan juga kereta Akhir nya
kami sampai dikota Semarang walau sebelumnya kami sempat mampir kekota Bandung bertemu
keluarga disana.

Disemarang saya ditemukan oleh hal hal baru, kebiasaan baru dan juga orang orang baru.

Tanggal 1 agustus 2019 tepatnya jam 19:00 wib,doaku dan doa dari keluarga pun menembus
langit,aku lolos ujian jalur mandiri dan diterima di fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan prodi
manajemen pendidikan islam atau yang dikenal dengan MPI yang menjadi pilihan pertamaku waktu tes
mandiri.Lulus diprodi manajemen pendidikan islam (MPI) memang menjadi keinginan utama saya sebab
pendidikan diindonesia dinilai masih sangat banyak kelemahan dan kekurangan dalam manajemen
kependidikan nasional sehingga berbagai pihak perlu segera membenahi dan mereformasi dunia
kependidikan sebagai bentuk investasi sumber daya manusia yang diharapkan dapat bersaing dalam era

global baik itu pendidikan dikota kota besar maupuan pendidikan di daerah terpencil yang diharapkan
memiliki infrastruktu yang tak ada beda nya.

Beberapa bulan setelah duduk dibangku perkuliahan,saya mendapat kabar gembira.Saya lolos
tahap 1 Beasiswa Unggulan dimana waktu itu pendaftaran nya pun bersamaan dengan pendaftaran Ujian
Jalur Mandiri.Waktu itu segala hal terasa sangat sulit.Mengurus segala hal perkuliahan sendirian,dikota
besar seorang diri tanpa keluarga,jangankan hal hal lain,tempat mencari makan saja saya tidak tau harus
kemana ditambah lagi dengan urusan beasiswa yang belum terselesaikan. Alhamdulillah waktu itu saya
bertemu dengan teman saya yang juga diterima di kampus UIN Walisongo,dia Isra Tukwain pejuang toga
dari tanah Papua,dia sangat baik padaku:).Perihal baik nya orang orang yang ku jumpa diawal waktu
disemarang sangat la panjang,banyak orang baik yang membantu ku disana selain daripada Si Isra,ada
mas Aziz,Mbak Fita,bahkan Rizkya temen berjuang Jalur Mandiri yang ternyata akhirnya satu kelas dan
menjadi temen segala hal saya disemarang sampai dengan sekarang.

Memenuhi panggilan untuk berjuang kembali yaitu tes wawancara yang menjadi tahap akhir
menuju awardee beasiswa unggulan yang dilaksanakan dikota Gudeg Yogyakarta.Mengikuti tes
wawancara kali ini aku tidak sendirian,aku bersama kedua rekanku yang kebetulan sama-sama prodi
manajemen pendidikan islam di UIN Walisongo Semarang.Berangkat dari Semarang menuju Yogyakarta
juga sedikit tidak mudah,sialnya kami ketinggalan Bis sebab masih ada urusan perkuliahan yang harus
kami selesaikan.Beruntungnya kami kembali dipertemukan dengan orang baik yang membantu kami
sampai pada akhirnnya kami selesai mengikuti tes wawancara dan kembali lagi ke Semarang untuk
beraktifitas seperti biasa.

Alhamdulillah tiada berhenti berucap, kembali lagi aku mendapat kabar bahwa aku lolos tahap
2 beasiswa unggulan,dan saat itu pula aku dinyatakan Sebagai Awardee Beasiswa Unggulan Tahun 2019.
Segala hal yang telah diberikan Melalui Beasiswa Unggulan akan saya manfaatkan dengan sebaik
mungkin,tak putus untuk belajar dan belajar dan mengedepankan pendidikan sebab pendidikan

merupakan tombak yang runcing nan tajam demi terselamatkan negara dari segal hal yang menjatuhkan.
Pendidikan memegang peran penting untuk mempersiapkan bangsa ini menuju masa depan yang
semakin sarat dengan permasalahan-permasalahan baru yang datang silih berganti

Pengembangan ilmu dan teknologi harus diimbangi dengan sistem realigi yang proporsional agar
tidak menghasilkan cendikiawan dan ilmuan yang menghalalkan segala cara mengingat bangsa
indonesia sedang mengalami krisis moral,etika dan bahkan krisis terhadap religiusitas dalam beragama
sehingga pembenahan mekanisme pendidikan nasional mendesak untuk dapat dilakukan reformasi dan
restrukturisasi pemanajemen kependidikan.Pemikiran ini berpijak pada tujuan pendidikan nasional yang
mengarahkan pendidikan dengan tidak meninggalkan karakteristik bangsa yang bermartabat dan
berbudi luhur serta religius.

Pendidikan hendaklah dilakukan secara sadar dan terencana agar dapat mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri,kepribadian,kecerdasan,akhlak
mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat dan negara. Kehandalan atau kulitas
pendidikan akan mempengharui kehidupan suatu bangsa dan negara,baik sekarang maupun masa yang
akan datang.Dengan demikian kemampuan bangsa dalam menghadapi masa depan sangat ditentukan
oleh mekanisme dan sistem pendidikan yang dimiliki dan sedang berjalan. Dengan mempertimbangkan
kondisi pendidikan nasional yang belum semua memenuhi standar pendidikan nasional,menurut saya
sangat memandang perlu untuk membenahi pendidikan diindonesia dalam berbagai komponen.Dengan
kompleksnya fenomena masa depan,bangsa ini tidak cukup hanya dengan mewariskan pendidikan ke
generasi bangsa dengan kondisi pendidikan yang syarat dengan kelemahan dan kekurangan.Diharapkan
dengan dilakukan pembenahan pendidikan yang ada,bangsa indonesia akan mampu menyongsong masa
depan yang penuh ketidakpastian. Maka sebagai generasi muda,sudah sepatutnya mulai memupuk
semangat dalam belajar dan berkarya,berhenti menjadi penonton saja dan melakukan inovasi yang
dibekali dengan ilmu serta akhlaktul qorimah.Dan saya sedang membangun visi untuk itu,untuk menjadi

bagian kecil dalam memajukan sistem pendidikan diindonesia. saya harus berkontribusi bagi bangsa
indonesia ini,khususnya daerah tempat tinggal saya.Motovasi saya ini juga berasal dari kata yang
dilontarkan oleh salah satu senior organisasi semasa SMA saya,daerah luar untuk belajar,daerah sendiri
tempat mengabdi.Tentunya dengan cara saya sendiri,kapasitas yang saya miliki dan dengan membawa
ilmu yang saat ini sedang saya pelajari dikampus tercinta ini.
Harapan besar saya juga pendidikan ini tidak berhenti di S-1 saja,saya berharap dapat melanjutkan studi
S2 saya diluar negeri kembali dengan Beasiswa yang diberikan oleh negeri untuk putra putri
bangsa,Aamiin Allahummah aamiin....

Buat kamu yang sedang berjuang, jangan takut atas keadaan, Tuhan selalu bersama kita.
Keep spirit and never give up,kita adalah harapan.

~DELY TRESIA PUTRI~
Awardee BU 2019

SEmua Pasti Ada Jalannya

Hello, saya Dian Islamiati, salah satu Pejuang Cita dari Indonesia Bagian Tengah yang banyak
belum diketahui merupakan pulau yang dilintasi garis Khatulistiwa tepatnya Desa Labean Kec. Balaesang
Kab. Donggala, Sulawesi Tengah. Dari desa inilah saya dibesarkan, selalu memancarkan kebersyukuran
meski mendapatkan akses pendidikan yang masih kurang dari kata memadai dan berada jauh dari kota
bukan menjadi halangan saya untuk berhenti melanjutkan pendidikan dan menggapai Cita-Cita. Semasa
SMA saya telah banyak mengikuti berbagai organisasi baik intra maupun ekstra serta memiliki berbagai
prestasi akademik maupun non-akademik. Mulai dari tingkat Sekolah, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi,
bahkan sekali ketingkat Nasional. Juara kelas juga tidak pernah lepas, serta menjadi salah satu peserta
Raimuna Nasional Gerakan Pramuka ke XI tahun 2017 di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur-Jakarta
merupakan suatu pencapaian. Mengikut berbagai organisasi dan memiliki berbagai prestasi telah
menjadi goals-goals sejak dini dengan harapan sebagai bekal ketika melanjutkan ke perguruan tinggi dan
menjadi pengalaman besar yang akan saya kenang hingga akhir hayat.

Berawal dari lulus SMA dengan berbagai macam jalur penerimaan mahasiswa baru mulai dari
SNMPTN (BIDIK MISI), SBMPTN (BIDIK MISI), Ikatan Dinas, dan jalur beasiswa lainnya saya ikuti
berharap dapat kuliah gratis agar tidak membebani kedua orang tua ketimbang lagi saya anak
brokenhome yang juga menjadi bahan pertimbangan siapa yang akan membiayai kuliah saya kalau
bukan beasiswa. Namun, berharap kuliah gratis tetap tak ada satupun yang menyatakan saya diterima.
Hal tersebut sempat membuat saya putus asa, dititik paling rendah. Ditolak berbagai Universtas ternama

Indonesia juga sudah saya alami. Saya memiliki prinsip bahwa meski peluang gagal itu besar, setidaknya
saya tidak mengalah untuk mencoba. Singkat cerita pada saat itu saya tidak berharap lagi beasiswa untuk
melanjutkan kuliah. Hingga saya kembali mencoba tes melalui jalur PMB-Raport/Sertifikat Juara yang
saya ikuti di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Fakultas Psikologi Prodi Psikologi akhirnya saya
berhasil dinyatakan diterima. Namun hal tersebut tidak menjadi kabar bahagia bagi orang tua sebab
dengan diterimanya tersebut secara otomatis saya kuliah dengan biaya sendiri. Mengetahui itu perlahan
saya kuburkan impian saya sebab saya tidak bisa memaksa keterbatasan ekonomi orang tua karena saya
tahu kuliah Psikologi bukanlah kuliah yang membutuhkan uang yang sedikit didorong dengan rasa
prihatin melihat orang tua saya putuskan untuk membatalkan kuliah karena harus dengan biaya sendiri.
Beberapa hari setelah itu guru SMA dan sanak keluarga lainnya mengetahui diterimanya saya di
Universitas dengan prodi tersebut dan sangat menyayangkan apabila tidak melanjutkannya. Sehingga,
guru SMA dan keluarga kembali menyemangati dan berusaha untuk membantu mengumpulkan biaya
awal dan keberangkatan agar saya tetap melanjutkan pendidikan, disaat itu saya merasa semesta
mendukung, menyalurkan energi positif dan atas izin Allah SWT melalui pihak yang telah membantu
akhirnya saya dapat melajutkan kuliah meski saya harus menjalani konsekueinsinya.

Menurut saya ketika seseorang mampu untuk berkuliah di perguruan tinggi adalah suatu
kebanggaan yang luar biasa terlebih lagi anak desa seperti saya ini. Kemudian saya memberanikan diri
dengan bermodal nekad berangkat ke Jogja sendiri yah Jogja adalah Kota tempat saya menggantungkan
harapan besar menggapai gelar yang dapat bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Saya berangkat
sendiri tanpa keluarga ataupun teman dengan harapan selagi ada Allah SWT dan saya berniat baik maka
saya akan di pertemukan dengan orang baik pula.

Di awal kuliah semester I saya tahu kedepannya pasti akan sulit apalagi mengenai biaya kuliah
dan fasilitas lainnya, ditambah lagi di awal bergelar maha dari kesiswaan musibah besar datang menyapa
yaitu peristiwa 28 September 2018 tepat guncangan gempa berkekuatan magnitudo 7,4 SR disusul
tsunami yang meluluh lantahkan tanah kelahiran, melenyapkan mata pencaharian, sanak saudara ikut

menjadi korban dan rumah runtuh. Peristiwa itu membuat saya sesak tak tertahankan sebab nyawa orang
tua di kampung pun menjadi tanda tanya pada saat itu, untungnya keluarga besar selamat meski
berbulan-bulan pemulihan tetap tidak menghasilkan kabar gembira dan lagi-lagi masalah besar adalah
perekonomian yang melemah. Namun kembali lagi saya tidak menyalahkan keadaan sehingga saya
berdamai, tahu semua pasti ada hikmah-Nya dan menginspirasi saya untuk tidak diam saja, apalagi
hanya mengharapkan dari orang tua. Saya putuskan mencari pekerjaan yang tidak menggangu kuliah,
saya berjualan puding jagung di dalam kelas dan mendapat pekerjaan (parttime) di toko buku yang
sampai sekarang saya masih bekerja ditoko tersebut. Memang sangat sulit kuliah sambil kerja di tambah
lagi tugas kuliah yang padat, namun hal tersebut tidak menjadi alasan saya untuk berhenti sebab saya
percaya “Man Jadda Wajadda” yang artinya “barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan
mendapatkan hasil”. Dari kalimat itulah saya menaruh keyakinan dan harapan kepada diri saya pribadi,
bahwasanya kelak suatu saat saya akan mendapatkan hasil dari apa yang telah saya upayakan. Tidak
hanya berhenti sampai disitu ditengah kesibukan kuliah dan kerja saya tetap menambah pengetahuan
dan pengalaman diri dengan bergabung di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas, UKM Universitas, lolos
sebagai salah satu mahasiswa kontingen Universitas Ahmad Dahlan dalam Pekan Seni Mahasiswa
Nasional, mengikuti berbagai kepanitian dan berdiskusi seputar psikologi dan lainnya di kampus. Dan
ditengah kesibukan itu juga diam-diam saya kembali mencari informasi mengenai berbagai beasiswa on-
going baik milik Universitas, Kementrian ataupun perusahaan Negeri dan Swasta karena pada dasarnya
membayar biaya kuliah dengan uang hasil kerja dan kiriman orang tua saja sungguh belum cukup. Dan
hasilnya saya kembali tidak lolos dan tidak sedikit yang tidak ada kabar hingga saat ini. Saya merasa
usaha saya sudah banyak tapi buah manis nya belum juga saya tuai.

Menghampiri akhir cerita puing-puing do’a yang selalu saya tengadahkan di penghujung
semester II akhirnya terjawab dan dikirim langsung dari Allah SWT saat itu juga saya tersadar kembali
bahwa Allah pasti tahu dimana dan saat kapan dia akan memberi apa yang kita butuhkan bukan apa
yang kita inginkan melalui proses panjang, persyaratan dari A-Z, gagal coba lagi, hingga saat gagal lagi

hanya senyuman sebagai pembendung duka dengan kesekian kalinya akhirnya saya diterima sebagai
penerima Beasiswa Unggulan Kemendikbud meski tidak mudah menjadi salah satu pemegang beasiswa
ini dan banyak tanggung jawab yang harus di amanahi namun hal ini bukan menjadi alasan saya untuk
berpuas diri dan berhenti mengupayaan yang lain. Bagi saya ini awal baru yang harus membimbing saya
untuk bertanggung jawab akan mimpi-mimpi yang masih belum tercapai. Kini sekarang saya tengah
menempuh penghujung semester IV. Pesan saya pada siapapun kalian Ayo semangat! Saya dan kalian
punya potensi yang dapat berpengaruh bagi diri sendiri dan sekitar. Ingat setiap orang memiliki jalan
suksesnya masing-masing. Saya dan kalian pasti lebih hebat dan bisa menang dari kegagalan serta selalu
percaya bahwa Allah itu maha baik apalagi soal memberi maka, dekatilah dia agar segala upayamu
berhasil. Salam Sukses.

~DIAN ISLAMIATI~

Kesempatan Emas,
Bagiku Yang Tidak Pantas

Namaku Herni Suparti, berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta bagian pelosoknya. Disana aku
dilahirkan hingga kemudian besar dan akhirnya bisa menulis kalimat-kalimat ini. Terlahir dari keluarga
sederhana namun menginginkan untuk terus mengenyam pendidikan bagaimanapun caranya. Terlebih
tidak diiringi dengan kepandaian yang dimiliki oleh kebanyakan awardee di seluruh Indonesia. Bisa jadi
orang-orang menyebutku sebagai seseorang yang beruntung tanpa usaha, dengan landasan tidak
mempunyai keahlian dalam suatu bidang maupun kejuaraan lainnya. Bahkan ketika seleksi hanya bisa
menyertakan sertifikat kegiatan dan sertifikat kejuaraan satu-satunya. Aku menyebutnya semua yang
diberikan kepadaku adalah sebuah keajaiban entah usahaku mana yang dikabulkan atau bahkan karena
do’a dari orang-orang tersayang.

Bercerita mengenai kesempatan mendapatkan beasiswa unggulan dari KEMENDIKBUD pada
tahun 2017 banyak sekali cerita dari diriku yang bisa aku bagi sekalipun bisa jadi tidak menyentuh bagian
dalam hatimu. Aku hendak memulainya dari masa sekolah menengah. Di pelosok sana terdapat sekolah
yang bisa mengantarkanku kepada Perguruan Tinggi Islam Negeri di Yogyakarta. Sekalipun terbilang
menyebrang dari jurusan semula, tapi aku yakin ini merupakan yang terbaik untuk ku pilih. Beberapa
teman seperjuangan semasa sekolah menengah kejuruan telah mempunyai ambisi untuk mendaftarkan
di berbagai kampus idaman juga dengan beasiswa yang hendak diambil. Singkat cerita mereka diterima
pada perguruan tinggi swasta sedangkan aku satu-satunya yang masuk perguruan tinggi islam negeri
dalam angkatanku. Tidak cukup sampai situ, hampir seluruh dari mereka mendapatkan beasiswa
bidikmisi sedangkan aku sendiri yang tidak. Sebenarnya aku lolos tahap 1 beasiswa tersebut namun di
salah satu kampus dan aku mengetahuinya terlambat setelah aku dinyatakan diterima dan melakukan

pendaftaran di kampus yang sekarang menjadi yang harus ku harumkan. Selain itu kedua orang tua
memang mengarahkan untuk mengambil universitas yang saat ini sedang ku jalani. Itu berarti, beasiswa
tadi memang bukan menjadi rezekiku.

Beralih dari cerita tersebut, aku juga telah mengajukan beasiswa bidikmisi tersebut di kampusku.
Seluruh berkas sama bahkan lebih mantap lagi dengan mengumpulkan apa saja yang menjadi
persyaratannya. Namun, lagi-lagi belum menjadi rezekiku beasiswa itu juga tidak memihak kepadaku.
Hal tersebut bahkan menjadi salah satu yang ku sebut kesabaran, bagaimana tidak, sempat mengisi
dalam acara dengan angkatan di bawahku semasa sekolah menengah kejuruan tapi di antara lainnya aku
menjadi satu-satunya yang tidak bisa mendapatkan beasiswa. Sedikit banyak membuat pikiranku kacau
membuat down dan semacamnya. Barangkali setelah kejadian itu pencipta iba, kasihan kepadaku dan
mengabulkan do’aku untuk mendapatkan beasiswa dimana bisa ku gunakan untuk meringankan beban
dari kedua orang tuaku. Hingga pada akhirnya semester 2, beasiswa yang sangat tidak akrab di telingaku
kemudian Tuhan membuatnya akrab dan melekat dengan jiwaku. Iya, beasiswa KEMENDIKBUD berhasil
menjadi satu kesatuan dengan hariku. Sebelum semula aku mempunyai rasa ketakutan tentang seluruh
biaya selama perkuliahan, seluruhnya dijawab pencipta dengan sangat apiknya. Beasiswa ini mengcover
seluruhnya, mulai dari tempat tinggal, biaya untuk buku, untuk makan sehari-hari dan bahkan untuk
uang kuliahnya.

Aku ingat betul, saat menjalani pengumpulan berkas bersamaan dengan open recruitmen oleh
suatu organisasi di kampus sehingga itu cukup untuk menguji bagaimana runyamnya yang ku sebut
sebagai perjuangan. Lebih sedihnya lagi aku bukan sosok yang pandai membuat tulisan namun dalam
persyaratan oprec organisasi dan seleksi beasiswa unggulan mengharuskan aku untuk menyelesaikan
keduanya, bahkan dalam waktu yang bersamaan. Sudah bisa ditebak bagaimana aku saat itu, tapi
keyakinan hadir di tengah-tengah kegelisahan dan kepercayaan berangsur menemukan jawabannya.

Seleksi berkas hingga tanda tangan materai masih terpatri kuat di ingatan, sekedar mengikuti
beragam seleksi dengan banyaknya orang yang mendapatkan kesempatan emas ini pun sudah sangat
luar biasa menurutku. Hingga akhirnya menjadi salah satu di antara awardee lainnya merupakan hal
yang sangat harus disyukuri setiap harinya dan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Engkau harus
tau, kalaupun aku dan beasiswa unggulan tidak ditakdirkan untuk saling membahagiakan mana
mungkin dia akan semudah itu untuk ku taklukkan. Mudah dalam artian persaingan yang sangat ketat
dan tentu banyak yang lebih layak untuk mendapatkan, sekalipun sampai saat ini tetap berupaya untuk
menjadi layak sebagai salah satu awardee beasiswa unggulan.

Setelah berhasil mendapatkan beasiswa unggulan, pengabdian sebisa mungkin dilakukan. Mulai
dari berkecimpung dalam masyarakat dan berusaha mengikuti tiap kegiatan yang ada di masyarakat
bahkan sekalipun sendiri dan hanya berbarengan dengan para muda mudi lainnya yang sudah bekerja
atau yang tidak melanjutkann sekolahnya. Barangkali terlihat seperti biasa saja, namun bagiku mengabdi
yang sebenarnya adalah mengabdi kepada yang lebih dekat dengan daerah sendiri ataupun daerah
sekitar, sebab tidak jarang yang sudah berhasil di daerah lain dan lupa terhadap daerahnya sendiri,
sehingga hal tersebut tidak boleh berkelanjutan. Atas dasar itulah mengapa aku kerap merangkul muda
mudi karang taruna agar tetap bisa ingat dan membanggakan daerah tempat tinggal.

Selain hal tersebut ialah membersamai adek-adek dan teman-teman mengaji. Sebisa mungkin
ketika ada waktu yang tepat untuk mereka akan saya lakukan. Sama halnya kegiatan masyarakat pada
umumnya, mengaji atau kegiatan TPA ini juga sering menemui kendala seleksi alam. Maksudnya adalah
ketika sudah memasuki usia SMA merasa malu untuk pergi ke masjid atau yang disebut mengaji.
Sekalipun tidak tergolong aktif karena di perantauan tapi mengusahakan ikut ketika ada pembahasan
dalam grup. Hal lainnya ialah bergabung dengan RISMA yakni untuk merangkul ketika mengadakan
kegiatan keagamaan ataupun saat adanya malam takbir, syawalan dll.


Click to View FlipBook Version