The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kisah inspiratif dari para Awardee Beasiswa Unggulan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Nunciata Sidjabat, 2020-12-19 00:25:49

KisahKu, Beasiswa Unggulan, dan Pengabdian

Kisah inspiratif dari para Awardee Beasiswa Unggulan.

Keywords: #kisahinspiratif #beasiswa #beasiswaunggulan #pengabdian

Kedua pengabdian tersebut akan terasa biasa saja karena banyak dilakukan oleh teman-teman
sekalian, namun hal itulah yang bisa saya lakukan untuk tetap bisa membuat daerah sekitar maju. Sebab,
muda mudi terlebih dahulu yang harus dicekal, dengan kedua wadah tersebut akan meminimalisir
mereka untuk melakukan tindakan negatif.

Kalau berbicara pengabdian semasa pandemi saat ini, tetap sama merangkul muda mudi namun
dengan cara yang berbeda. Saya buatkan grup Whatsapp untuk kemudian melakukan sharing ketika
mereka kesulitan menerima pembelajaran maupun mengenai hal apa saja yang hendak ditanyakan.
Sebab, ketika ingin mengadakan kegiatan seperti biasanya masyarakat belum siap untuk menerima hal
tersebut di masa seperti ini. Sekalipun terbilang di desa yang bisa dikatakan aman saja, tetapi masyarakat
masih begitu takut sehingga banyak kegiatan yang tertunda atau pelaksanaannya menggunakan
berbagai cara lain yang lebih memudahkan.

Terakhir, bentuk pengabdian yang saya lakukan adalah terus menyelesaikan studi sebaik
mungkin agar kemudian bisa menghantarkan untuk lanjut studi ataupun kemudian mendapatkan
pekerjaan atau membuka lapangan pekerjaan. Entah pantas atau tidak, layak atau tidak mendapatkan
beasiswa ini namun diri akan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Dengan begitu tidak
mengecewakan Negara dalam memberikan beasiswa yang sangat membantu seseorang seperti saya dalam
menjalani studi di masa sarjana strata satu ini.

Akhirnya hanya bisa mengucapkan terima kasih karena KEMENDIKBUD mempercayakan
beasiswa ini kepada saya. Orang-orang yang telah membantu saya, tentunya do’a dari kedua orang tua
dan keluarga besar yang tiada hentinya. Paling utama tentu kepada Allah SWT. Karena telah meridhoi
saya dalam jalan ini, menempuh pendidikan dan mendapatkan kesempatan yang luar biasa yakni
Beasiswa Unggulan ini serta bisa bergabung bersama ratusan bahkan ribuan awardee di seluruh
Indonesia. Hal itu menjadi semangat untuk terus bisa memberikan yang terbaik bahkan melebihi

kemampuan, semoga. Sehingga bisa membanggakan Indonesia lewat persembahan dari dunia
pendidikan. Aamiin…

Semangat untuk teman-teman pejuang Beasiswa Unggulan KEMENDIKBUD, semoga tiada
menyerah sampai Allah mengatakan itu bukan yang terbaik untuk kita. Jangan patah semangat, ikuti
tiap persyaratan yang diminta, jawab sesi wawancara dengan sejujur mungkin, tidak perlu merekayasa
data. Sertakan restu dari kedua orang tua, tambah lagi ibadahnya, tentu berdo’a dan memohon ridho
kepada pencipta. Setelahnya serahkan, maka engkau bisa disebut pejuang yang sesungguhnya, siap
menang dan kalah. Semangat….

~HERNI SUPARTI~
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Daerah Asal : Gunungkidul

KEgagalan Yang Terbayar
Dengan Beasiswa Unggulan

Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan

Belajar dan Bangkit dari Kegagalan

Sebelum berhasil mendapatkan Beasiswa Unggulan (BU) Kemdikbud pada 2017 lalu, saya pernah
gagal mendapatkan beasiswa kenamaan yang dikelola salah satu Kementerian Republik Indonesia pada
2016. Saat itu, saya tidak lolos tahap wawancara, mungkin karena saya terlihat belum siap dan kurang
begitu intens menjelaskan tentang kelanjutan penelitian saya setelah lulus S1 dengan rencana penelitian
yang akan saya ambil pada jenjang S2. Hal ini cukup sulit dan memantik ketidakpercayaan diri saya untuk
menjawab, karena saat itu, saya belum memiliki “gambaran” untuk rencana penelitian saya selanjutnya.
Bagi saya, pertanyaan tersebut sekaligus menguji keseriusan peserta dalam memikirkan rencana
perkuliahannya. Di sisi lain, pengalaman tersebut sangat berharga dan membuat saya semakin semangat
untuk memeroleh beasiswa lain yang memungkinkan untuk saya coba lagi.

Dua bulan kemudian, saya belum mendapatkan informasi apa pun tentang pendaftaran
beasiswa untuk mahasiswa baru program pascasarjana. Saat itu, saya tidak ingin menunda studi saya dan
akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi S2 dengan biaya orang tua. Dengan niat sepenuh hati,
saya memulai perkuliahan pada Agustus 2016 dengan mengambil Program S2 Ilmu Linguistik, Fakultas
Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Selain mata kuliah wajib, saya mengambil cukup banyak mata
kuliah pilihan yang masih relevan dengan peminatan dan ranah kajian penelitian saya agar bisa lebih
cepat menyelesaikan studi saya. Saat memasuki akhir semester 1, saya memeroleh informasi terkait

pendaftaran BU dari salah satu teman satu kelas yang merupakan penerima Beasiswa Unggulan (disebut
sebagai Awardee BU) tahun 2016. Mendengar kabar tersebut, hati saya tergerak dan bergegas
mempersiapkan semua persyaratan yang dibutuhkan.

Persiapan Mendaftar BU

Beasiswa ini tidak memandang latar belakang ekonomi pesertanya. Mereka, baik orang dengan
latar belakang ekonomi sejahtera maupun prasejahtera, bisa mengikuti seleksi. Ada dua kategori beasiswa
yang diberikan, yaitu beasiswa mahasiswa baru dan beasiswa mahasiswa yang sedang menempuh studi
(ongoing). Beasiswa ini memiliki empat tahap pelaksanaan, yaitu administrasi (pengiriman berkas
persyaratan), wawancara, pengumuman, dan pembekalan. Seperti beasiswa pada umumnya, pihak BU
juga memberikan keleluasaan bagi penerimanya untuk melakukan kegiatan di luar negeri, seperti
pertukaran pelajar, gelar ganda, penelitian, dan sebagainya dengan menunjukkan surat izin dari kampus.
Bagi pendaftar untuk kategori mahasiswa baru, mereka harus menyiapkan surat keterangan telah
diterima di universitas tujuan (Letter of Acceptance – LoA). Saya, tentu saja, mendaftar pada kategori
kedua (beasiswa ongoing) karena saya akan memasuki perkuliahan semester 2. Saya membutuhkan waktu
sekitar dua minggu untuk mempersiapkan persyaratan tersebut dan segera mengirimnya ke laman resmi
BU. Semua persyaratan saya dapatkan dari laman resmi BU, yaitu
https://buonline.beasiswaunggulan.kemdikbud.go.id/. Berkat kegagalan pada seleksi beasiswa
sebelumnya, saya sudah memiliki sebagian besar dari persyaratan umum tersebut, seperti ijazah terakhir,
IPK terakhir minimal 3,25 yang dibuktikan dengan transkrip nilai, KTP, sertifikat TOEFL yang masih
berlaku (minimal 500), surat rekomendasi (minimal dua orang, bisa dosen, pimpinan kerja, atau siapa
pun yang telah mengenal kemampuan kita dengan baik dan dapat memberikan penilaian secara objektif),
surat pernyataan tidak sedang menerima beasiswa lain, sertifikat prestasi (jika ada), surat keterangan
pengalaman kerja (jika ada), dan sertifikat lainnya yang mendukung (jika ada). Saya memaksimalkan
berkas persyaratan umum dengan melampirkan sertifikat prestasi akademik, sertifikat pengalaman

organisasi, dan surat keterangan kerja, karena selain serius belajar secara akademik, saya juga sangat
gemar meningkatkan kemampuan interpersonal dan soft skills di luar perkuliahan.

Selain persyaratan umum, beasiswa ini juga memberikan syarat khusus, yaitu esai (motivation
letter) dengan tema “Aku Generasi Unggul Kebanggaan Bangsa”, proposal rencana studi, dan rincian
anggaran kuliah. Pada penulisan esai tersebut, saya menitikberatkan tulisan saya pada pengalaman,
rencana studi, dan kontribusi konkrit saya yang pernah, sedang, dan akan saya berikan untuk
masyarakat. Selain itu, ada tiga hal yang saya sampaikan terkait pengembangan karakter, seperti
pemecahan masalah (problem solving), inovasi, dan kesiapan menghadapi tantangan.

Rencana studi selama tiga semester juga saya persiapkan dengan jelas dan rinci, mulai dari mata
kuliah yang saya ambil, penelitian, target penyelesaian, dan relevansinya terhadap kondisi masyarakat.
Rencana studi tersebut bukan sekadar rencana bagi saya, tetapi bentuk persiapan yang lebih baik (well-
planned actions) atas tanggung jawab yang harus saya lakukan dengan konsisten dan gigih. Begitu juga
dengan rincian anggaran kuliah, saya membuat daftar biaya kuliah yang mencakup biaya SPP, biaya
hidup, pembelian buku, penelitian, dan seminar. Bagi saya, sedikit atau banyaknya biaya hidup
bergantung pada seberapa baik kita mengatur keuangan, terutama bagi perantau seperti saya. Selain
manajemen keuangan, saya harus bisa mengatur waktu, pikiran, dan tenaga dengan lebih baik agar
rencana perkuliahan yang telah saya buat dapat saya capai satu per satu. Semua persiapan tersebut
memproyeksikan seberapa baik kita menjadi manajer sekaligus pemimpin untuk diri kita sendiri.

Wawancara dan Kelayakan Menjadi Awardee BU

Seperti wawancara pada umumnya, pewawancara memulai pertanyaan dengan perkenalan,
alasan saya mendaftar beasiswa ini hingga studi kasus. Saat ditanya seberapa layak saya mendapatkan
beasiswa ini, saya menjawab dengan yakin bahwa selain menjaga semangat dalam belajar, saya juga tekun
dan gemar mengembangkan soft skills untuk berkontribusi kepada masyarakat, misalnya mengikuti

kegiatan mengajar secara sukarela dan mengadakan kegiatan sosial lainnya. Wawancara diakhiri dengan
suatu studi kasus dari pewawancara yang sepertinya adalah seorang psikolog untuk menilai psikologis
peserta. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan manajemen pikiran dan perilaku, misalnya apa yang saya
lakukan ketika hasil yang didapatkan tiba-tiba sangat tidak sesuai harapan saya, bagaimana sikap saya
ketika orang yang sangat saya percayai telah mengecewakan saya, dan apa yang membuat saya sangat
emosional hingga membenci orang lain. Berdasarkan semua proses wawancara tersebut, saya menjawab
dengan apa adanya, tidak kurang maupun lebih. Dengan adanya beasiswa seperti ini, saya memegang
tanggung jawab atas apa yang telah negara berikan untuk saya dan sebaliknya, apa yang bisa kita berikan
untuk negara juga harus dilakukan dengan serius. Dengan demikian, pewawancara akan mengetahui
cara berpikir, sikap, dan karakter kita sebelum dinilai layak untuk mendapatkan beasiswa ini.

Kegagalan yang Terbayar

Pengumuman peserta lolos diumumkan sekitar satu bulan setelah seleksi wawancara. Dengan
hati ikhlas, saya membuka laman BU dan mendapati nama saya tertulis di daftar peserta lolos seleksi.
Seminggu kemudian, semua peserta yang lolos diminta untuk menghadiri kegiatan pembekalan sekaligus
tanda tangan kontrak. Biaya yang diberikan mencakup biaya SPP, biaya hidup dan biaya buku selama
tiga semester. Pemberian beasiswa dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap 1 sekitar 70% dan tahap 2
sebesar 30% dari total beasiswa. Kemudian semua Awardee BU diwajibkan untuk membuat laporan
akademik pada akhir semester dengan mengunggah berkas, seperti bukti pembayaran SPP, KHS, proposal
penelitian, penelitian akhir (rangkuman skripsi, tesis, atau disertasi), transkrip nilai, dan surat
keterangan lulus (SKL) atau ijazah. Proses pelaporan harus dilakukan tepat waktu agar tidak mengalami
keterlambatan pencairan beasiswa tahap selanjutnya. Namun, tidak sedikit mahasiswa yang mengalami
keterlambatan pencairan tersebut karena proses pelaporan yang kurang lengkap atau kendala dari sistem
Kemdikbud. Kendala seperti ini bisa menjadi kritik sekaligus masukan bagi mahasiswa untuk melaporkan

hasil studi dengan tepat waktu serta perlu adanya peningkatan informasi yang lebih transparan dan
melakukan cross-check ulang antara awardee dan pihak Kemdikbud.

Selain itu, sayangnya, beasiswa ini belum memberikan biaya penunjang kegiatan perkuliahaan
lainnya, seperti biaya seminar, lokakarya, dan penelitian. Padahal, saya sudah memiliki rencana untuk
mengikuti salah satu seminar internasional bahasa terbaik se-ASIA, yaitu The International Academic
Forum (IAFOR) yang dilaksanakan di Kobe, Jepang. Kendala tersebut tidak menyurutkan niat saya untuk
tetap mengikuti IAFOR. Pada awal 2018, saya mencoba mengajukan proposal bantuan dana seminar
internasional ke bagian keuangan kampus, baik tingkat fakultas maupun universitas. Puji syukur, saya
mendapatkan bantuan dana tersebut meski hanya sekitar 60% dari total dana yang saya ajukan. Untuk
memenuhi seluruh biaya seminar tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan
sampingan saya dalam menjalankan usaha penerjemahan, yaitu Vio Translation untuk pasangan Bahasa
Indonesia-Inggris atau sebaliknya. Momen ini menggugah memori lama ketika saya pernah menjadi
penjual gorengan di kantin saat masih menjadi mahasiswa S1 di Universitas Brawijaya demi meringankan
beban orang tua. Dengan pengalaman tersebut, saya berharap pihak Kemdikbud dapat
mempertimbangkan kembali tentang pentingnya dana seminar, lokakarya, dan penelitian untuk
penerima beasiswa, mengingat kebutuhan tersebut yang semakin tinggi dan beragam.

Sebulan kemudian, saya berhasil mengumpulkan uang yang ternyata lebih dari cukup untuk
tinggal seminggu di Jepang. Dari setiap kesulitan, saya kembali belajar bahwa Tuhan pasti memberi jalan
selama kita tidak berhenti berusaha dan masih ada banyak orang yang mengalami kesulitan lebih dari
yang kita alami. Dengan rasa syukur, akhirnya saya bisa menyajikan penelitian saya di depan puluhan
peserta yang terdiri atas akademisi se-Asia. Rasa gugup sekaligus senang menyelimuti hati dan pikiran
saya saat itu, suatu kesempatan berharga bisa saling berbagi ilmu dengan orang-orang pilihan sekaligus
menikmati indahnya negeri sakura.

Menggagas dan Memulai BU Mengabdi

Perjalanan selama menjadi Awardee BU ini tidak berhenti sampai di sana. Saya semakin
semangat untuk segera menyelesaikan tesis saya. Bagaikan sayur tanpa garam, begitulah istilah yang
terpatri dalam diri saya ketika proses belajar ini terasa kurang lengkap jika tidak memperluas niat untuk
melakukan kegiatan sosial. Saya dan beberapa awardee lainnya mulai menghubungi teman-teman
Awardee BU Yogyakarta lainnya satu per satu untuk mengadakan pertemuan dan berdiskusi ringan
sekaligus menggagas ide pengabdian masyarakat. Ramah-tamah mengalir begitu saja hingga kami
memutuskan untuk mengajak lebih banyak awardee untuk bergabung. Rencana awal kami adalah
membuat dua jenis kegiatan, yaitu membuat sebuah buku antologi yang terdiri atas pengalaman serta
opini singkat Awardee BU berdasarkan jurusan masing-masing dan kegiatan pengabdian masyarakat di
salah satu desa terpencil. Namun kegiatan pertama belum bisa terealisasi karena beberapa faktor.
Kemudian kami memutuskan untuk mengoptimalkan kegiatan kedua, yaitu pengabdian masyarakat
dengan tetap memanfaatkan potensi kami berdasarkan bidang ilmu masing-masing, seperti pengajaran,
sosialisasi pengembangan sumber daya alam, pembuatan pupuk, penyuluhan kesehatan hewan, dan
perpustakaan mini yang kami lakukan di Desa Gunungcondong, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Berawal dari delapan orang, kegiatan pengabdian ini semakin menggerakkan banyak Awardee BU untuk
turut berkontribusi. Latar belakang keilmuan serta jenjang pendidikan kami yang berbeda (S1, S2, dan S3)
membuat setiap kegiatan terasa sangat berharga sekaligus mempererat kekeluargaan di antara kami.
Selain sumber daya alamnya yang melimpah, kami disuguhkan dengan keramahan serta pesona alam
Desa Gunungcondong yang sangat potensial sebagai destinasi wisata. Oleh sebab itu, sosialisasi kami
perluas dengan turut memberikan ide pengembangan desa wisata.

Kegiatan telah berlangsung tiga kali dan kami berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti
sampai di sini. Kegiatan ini tentu saja tidak akan berjalan lancar tanpa semangat dan kerja sama luar
biasa dari teman-teman Awardee BU Yogyakarta. Berkat keaktifan komunikasi antarpengurus BU
Mengabdi Yogyakarta tahun 2017 dan pengurus saat ini serta antusiasme beberapa awardee, kegiatan

pengabdian dapat berlanjut hingga saat ini. Selain itu, adanya tulisan ini menandakan bahwa ide kegiatan
pertama Awardee BU Yogyakarta dapat terealisasi dengan baik dan masif, sehingga dapat dibaca dan
memberikan sedikit informasi terkait Beasiswa Unggulan secara umum maupun khusus. Semoga
komunikasi dapat terus terjaga dan saling berbagi informasi terkait pendaftaran, persyaratan hingga
kegiatan BU Mengabdi melalui media sosial Instagram BU Mengabdi Yogyakarta, yaitu @bu_jogja.

Perjalanan studi S2 menjadi jauh lebih menyenangkan ketika kita bisa memeroleh beasiswa untuk
memacu semangat belajar sekaligus berbagi kepada sesama, karena bagi saya, tidak ada yang bisa
dibanggakan tanpa adanya manfaat ilmu yang kita miliki dan tidak sekadar mempertahankan IPK di
bangku kuliah. Jika beberapa orang masih berpikir bahwa kegiatan di luar perkuliahan dapat
mengganggu proses belajar, saya justru berpikir sebaliknya. Terganggu atau tidaknya kuliah bergantung
pada bagaimana kita menjalaninya. Dengan memiliki berbagai kegiatan bermanfaat, saya bisa lebih
melatih manajemen waktu, pikiran, dan tenaga. Saya tetap bisa lulus tepat waktu, yaitu 1 tahun 11 bulan,
tepatnya pada 7 Juli 2018 dengan nilai IPK memuaskan. Pengalaman berharga ini sekaligus menambah
keterampilan diri saya, seperti keterampilan interpersonal, etika kerja, inisiatif, analisa, adaptasi, kerja
sama, dan kemampuan menyelesaikan masalah, baik dalam dunia kerja maupun masyarakat. The last,
but not least, BU Mengabdi lebih dari sekadar kegiatan sosial bagi saya, karena di sana saya dapat
menemukan arti keikhlasan, empati, integritas, dan kekeluargaan yang sangat luar biasa hingga
membuat saya semakin bahagia menjalani masa studi saya. Semoga apa pun kegiatan positif yang
diinisiasi oleh Awardee BU saat ini maupun yang akan datang bisa memberikan manfaat bagi kehidupan
masyarakat.

~RINTA ALVIONITA~

Perjuangan Menjadi Awardee Beasiswa
Unggulan dan dibantu Ojol Baik

Hallo teman-teman!! Namaku Misbahuddin, boleh di panggil Misbah. Aku tinggal di pedesaan
tepatnya di kabupaten Jepara Jawa Tengah. Aku alumni Madrasah Aliyah Madarijul Huda Dukuhseti
Pati. Walaupun dari sekolah swasta tapi aku mempuyai semangat untuk melanjutkan studi lanjut.
Sekarang ini aku menjadi Mahasiswa Semester 6 Hukum Keluarga Islam di Universitas Islam Nahdlatul
Ulama Jepara. Sya ingin menceritakan sedikit perjalanan saya mengenai lolos menjadi awardee Beasiswa
Unggulan 2018 Masyarakat Berprestasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebelum teman-
teman membaca kisahku lebih lanjut aku ingin berpesan “Yakinlah Pada Dirimu Untuk Meraih Cita-
Citamu Karena Tak Ada Satupun Yang Dapat Menghalangi Untuk Meraih Cita-Cita”.

Perjuangan ini bermula sejak aku duduk di bangku Madrasah Aliyah. Walaupun aku dulu
sekolah sambil mondok di Ponpes dekat sekolahan Awal masuk sekolah aku sangat malas sekali lebih
sering bermain-main bersama teman-teman dari pada belajar, dan nilaiku waktu itu sangat jelek. Tetapi
setelah masuk kelas 3 aku mulai berfikir, ini adalah waktunya aku untuk berubah lebih baik lagi dan
menghilangkan rasa malasku. Karena aku harus memilih masa kehidupanku setelah lulus sekolah.
Awalnya aku mempuyai dua pilihan antara melanjutkan menjadi mahasiswa di perguruan tinggi atau
menjadi santri di pondok pesantren.

Awalnya aku sudah mempuyai pilihan setelah berdiskusi dengan orang tua yaitu menjadi santri
di pondok pesantren yang aku inginkan, tetapi setelah ada pengumuman kelulusan dari sekolahan niat
awalku berubah karena aku berkeinginan untuk studi di perguruan tinggi. Sejak saat itu aku mulai

berfikir mencari beasiswa diberbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah, tetapi aku tidak mendapatkan
karena sudah terlambat untuk mendaftar beasiswa. Hingga pada akhirnya aku mendaftar dengan jalur
mandiri di kampus UNISNU Jepara, karena dekat dan biayanya efisien.

Setelah aku menjadi mahasiswa di UNISNU Jepara aku tetap mencari info tentang Beasiswa
karena aku tidak mau membebankan biaya kuliah kepada orang tua. Hingga akhirnya pada semester 2
ada dosen ketika mengajar memberi informasi mengenai Beasiswa Unggulan dari Kemendikbud setelah
pulang kuliah aku langsung mendaftar ternyata batas pengumpulan tahap 1 meliputi berkas administrasi
seperti Proposal pembelajaran, Esay, raport, Ijazah, IPK, dan lainya kurang 7 hari. Aku langsung membuat
Esay, Proposal dan melengkapi berkas bersama teman-teman kebetulan yang ikut mendaftar ada 3 orang
dari kampusku. Aku berhasil mengirimkan semua persyaratan lengkap 9 jam sebelum penutupan.

Pada waktu proses seleksi pengiriman berkas aku meminta restu kepada orang tua dan nenek
kakek supaya didoakan disetiap solat malam dan aku juga berdoa semoga apa yang aku harapakan bisa
tercapai, dan teringat pesan dari guruku waktu sekolah ketika menginginkan sesuatu perbanyaklah
membaca sholawat, aku langsung mempraktekkan itu setiap hari istiqomah berdoa dan membaca
sholawat semoga dimudahkan dan mendapatkan beasiswa unggulan.

Pengumuman tahap 1 kurang lebih sekitar 1 bulan dari pengiriman berkas. Menunggu
pengumuman adalah hal yang sangat mencemaskan. Pagi itu saya diberi kabar temanku kalau dia lulus
tahap 1, hatiku rasanya ikut senang karena ada teman yang lulus, tetapi tidak lama kemudian ada kabar
dari temanku yang satu dia mengatakan kalau tidak lulus. Aku langsung cemas apalagi aku belum dapat
email dan sampai siang melihat email dan situs web Beasiswa Unggulan belum ada pengumuman. Hingga
akhirnya setelah aku sholat dzuhur lihat disitus web kalau aku dinyatakan lulus tahap 1, dan ternyata
emang ada email masuk dari beasiswa unggulan kalau akau lulus tahap 1 dan akan melanjutkan tahap 2
yaitu wawancara.

Setelah itu aku mendapat email lagi diminta untuk menghadiri proses wawancara di Universitas
Gajah Mada Yogyakarta dan membawa persyaratan berkas asli yang dikirim pada proses tahap 1. Awalnya
aku bingung karena belum pernah ke UGM tidak punya kenalan mahasiswa UGM, rencana mau naik
motor tapi tidak diperbolehkan orang tua karena aku belum mengerti jalan Yogyakarta. Akhirnya aku
naik trevel bersama temanku. 3 hari kemudian aku berangkat bersama temanku dari jepara jam 7 malam.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam akhirnya sampai di sleman jam 1 malam.

Setelah turun dari travel aku belum punya rencana mau tidur dimana, sedangkan temanku
sudah dijemput saudaranya perempuan yang bekerja di jogja. Hingga akhirnya aku berfikiran kalau ingin
tidur di masjid UGM aku langsung pesan ojek online untuk diantarkan ke masjid, tetapi setelah sampai
masjid ternyata gerbang masjidnya dikunci jadi tidak bisa masuk. Aku kebingungan mau tidur dimana
lagi, kemudian aku bercerita kepada mas ojolnya kalau tujuanku kesini ingin seleksi proses wawancara
pendaftaran beasiswa unggulan. Dan mas ojolnya ternyata orang baik dia menawarkan kepadaku
disuruh tidur dikontraanya meskipun kontraanya jauh dari UGM, Malam itu aku sangat beruntung
sekali bisa bertemu orang baik.

Pagi harinya aku diantarkan lagi ke kampus UGM perjalanan sekitar 30 menit lebih karena
dijalan macet. Akhirnya sampai UGM tepat jam 8 pagi sesuai jadwal wawancara. Aku sudah ditunggu
temanku yang datang lebih awal setelah itu aku langsung naik ke lantai 5 gedung fakultas geografi dan
ternyata sudah ramai sekali sampai aku tidak kebagian tempat duduk. Kemudian aku maju untuk
menyerahkan semua berkas, setelah itu aku disuruh naik ke lantai 6 dan ternyata aku menjadi peserta
pertama dalam proses wawancara. Aku berusaha tenang ketika ditanya dan menjawab pertanyaan-
pertanyaan dengan tegas, proses wawancara ternyata hanya sekitar 5 menit saja.

Setelah tes wawancara selesai kami berdua berniat untuk langsung pulang, karena memang kami
sama-sama tidak punya kenalan untuk dituju. Saya kemudian memesan travel untuk pulang ke Jepara,
namun dapatnya jadwal jam 5 sore. Padahal tes wawancara selesai pukul 11 siang. Kami berdua istirahat

dan sholat setelah itu keliling kampus UGM melihat gedung-gedung berjalan kaki mungkin hampir 2 km
sampai ke tempat yang dimaksud pihak travel.

Saat menunggu pengumuman tahap kedua aku merasa tenang dan santai karena aku percaya
diri atas hasil tes wawancara tapi aku tetap selalu berdoa dan meminta restu kedua orang tua. Hingga
pada akhirnya waktu pengumuman tahap kedua tiba aku mendapat email dari tetapi bahwa
pengumumannya di undur satu minggu. Dan pada akhirnya pagi hari ada ada email masuk kalau aku
dan temanku dinyatakan lulus menjadi awardee Beasiswa Unggulan 2018 Batch 1. Dengan rasa senang
bercampur haru aku berteriak kencang dan memberi tahu kedua orang tua. Aku merasa sangat
beruntung sekali bisa dimudahkan dalam segala hal saat mendaftar beasiswa ini, bisa bersaing dengan
orang se Indonesia dan aku berhasil.

Aku dari dulu tidak pernah membayangkan kalau bisa mendapatkan beasiswa unggulan dan
bisa berhasil bersaing dengan orang se Indonesia. Dari pengalaman ini saya mendapat banyak pelajaran
bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk meraih cita-cita, sebesar apapun itu yang rintangan yang
kita hadapi jika kita berusaha dengan bersunggung-sungguh maka tuhan akan mempermudahkan. Jika
menginginkan sesuatu jangan pernah berhenti untuk berdoa dan jangan pernah putus asa karena rasa
kemalasan yang ada pada dirimu. Semoga kalian yang membaca cerita ini kita bisa sama-sama suksus.
Tanamkan pada diri kalian kalau aku bisa menjadi orang sukses untuk dapat membahagiakan kedua
orang tua.

Terima kasih Beasiswa Unguulan karena telah memberika banyak pelajaran tentang arti
sebuah perjaungan

~MISBAHUDDIN~

PErjalanan Menjadi
Awardee Beasiswa Unggulan 2018

Perkenalkan saya Puspita Maharani mahasiswa semester 6
dari Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara atau biasa disebut
dengan UNISNU Jepara. Saya ingin menceritakan sedikit perjalanan
saya mengenai lolos menjadi awardee Beasiswa Unggulan 2018.

Waktu SMA kelas 12 adalah saat yang membingungkan untuk melanjutkan kuliah atau tidak.
Disisi lain pada waktu itu saya sedang menjadi salah satu santri di pondok pesantren. Teman-teman SMA
yang lain sibuk mencari dan memilih perguruan tinggi mana yang akan mereka tuju. Sedangkan aku
bingung memikirkan untuk kuliah atau tetap mengaji. Namun dalam hati kecilku aku ingin melanjutkan
kuliah tapi orang tua berkeinginan anaknya untuk melanjutkan mengaji di pondok pesantren.

Saat itu pembukaan jalur SNMPTN telah dibuka, teman-temanku ramai mendaftar jalur tersebut.
Hingga saat hari terakhir pendaftaran aku iseng ikut mendaftar jalur SNMPTN tanpa memberi tahu
orang tuaku dulu. Pada saat sudah mendaftar baru aku pelan-pelan memberitahu ibu dan ayah. Mereka
bilang setuju, namun aku yakin mereka hanya ingin membuat aku bahagia dengan membiarkanku ikut
mendaftar jalur tersebut.

Hari pengumumanpun tiba. Teman-teman satu kelas kecewa karena tidak ada yang lolos jalur
SNMPTN. Karena memang saat itu aku tidak punya hp jadi tertinggal info mengenai pengumuman itu.
Sepulang sekolah aku berniat meminjam hp salah satu temanku untuk melihat hasil pengumuman
tersebut. Sebelumnya ada salah satu teman yang bilang pasti aku tidak akan lolos karena teman yang lain

tidak ada yang lolos. Namun diluar dugaan, aku lolos dan diterima di UIN Walisongo Semarang Prodi
Ilmu Hukum. Aku tidak tahu mesti bahagia atau sedih melihat pengumuman itu.

Tepat di hari ulang tahunku ke 18 tahun. Tiba-tiba ayahku menjemputku dan mengajak pulang
ke rumah. Sesampainya di rumah aku dengan bangga memberi tahu hasil pengumuman SNMPTN. Tapi
apa boleh buat, ternyata orang tuaku tidak menyetujui aku untuk berkuliah di Semarang. Mereka
membolehkan aku untuk kuliah tetapi syaratnya harus di UNISNU Jepara. Tanpa mengurangi rasa
hormat akupun menuruti apa yang disarankan oleh orang tuaku meskipun dengan sedikit rasa kecewa
bercampur sedih. Tapi aku percaya memang Allah tidak meridloiku untuk kuliah di luar kota. Karena
Ridlo Allah adalah Ridlo orang tua.

Setelah pengumuman kelulusan aku segera mendaftar ke Universitas Islam Nahdlatul Ulama
Jepara dengan program studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhsyiyah). Aku termotivasi karena tidak
jadi kuliah di Ilmu Hukum jadi aku memilih yang masih ada kaitannya dengan hukum. Semester awal
cukup berat dilalui melihat yang bekerja hanya ayah seorang. Sebenarnya tidak tega melihatnya
terkadang meminjam uang di perusahaannya hanya demi untuk membayar kuliahku. Setiap malam aku
menangis ketika berdoa, semoga selalu diberi kesehatan untuk semua keluargaku.

Sebelum pulang dari pondok pak Kyai pernah berpesan kepadaku untuk jangan pernah berhenti
mengaji dan memberiku amanah untuk mengajar mengaji meskipun itu hanya sebatas huruf hijaiyyah
ke anak-anak kecil. Dan ketika di rumahpun saya lakukan seperti yang diamanahkan.

Menjelang semester dua, banyak beasiswa-beasiswa yang tawarkan untuk mahasiswa yang sudah
semester lanjut. Awalnya saya berniat ikut beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) namun
sebelum mendaftar sempat diberitahu oleh salah satu dosen tentang adanya beasiswa unggulan. Saya
akhirnya memutuskan untuk mendaftar beasiswa unggulan saja waktu itu dengan modal percaya diri
serta berserah diri pada Allah untuk hasilnya. Banyak dari teman-teman yang ikut mendaftar, namun
hanya tiga orang yang sampai ke tahap melengkapi berkas-berkas yang ada dalam persyaratan dalam
satu universitas. Karena memang belum pernah ada yang menerima beasiswa unggulan di kampus

UNISNU. Mereka yang tidak melanjutkan beralasan karena ribet terlalu banyak berkas yang harus
dilampirkan. Kami bertiga pun dengan ikhlas kesana kemari untuk mendapatkan berkas-berkas yang
harus dilengkapi.

Tiba waktu pengumuman tahap pertama, yang diterima waktu itu hanya dua orang, saya dan
teman saya Misbahuddin. Sedangkan untuk temanku yang satunya belum lolos dalam tahap pertama.
Dan saat itu juga kami berdua mendapatkan undangan berbentuk e-mail untuk tes wawancara di
Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Ketika mendekati hari tes wawancara, saya dan teman saya berangkat ke Yogyakarta naik travel
berdua dengan uang saku pas-pasan, kebetulan disana ada salah satu teman ayah yang bekerja dan aku
nanti bisa nginep dikosannya. Karena memang tidak kenal siapapun disana, kami berdua setelah sampai
saya dijemput temannya ayah dan pulang kekosannya karena memang sampai di Yogyakarta tengah
malam sekitar pukul 01.00 WIB.

Pagi harinya saya diantar ke Kampus UGM yang kebetulan saat itu tempatnya ada di Gedung
KLMB Lantai 5 F Geografi. Beberapa saat saya menunggu teman saya lalu masuk ke gedung tersebut
untuk seleksi tahap 2. Saya merasa bangga bisa berkumpul dengan orang-orang hebat. Senang bercampur
bangga dapat sampai ditahap ini, meskipun nanti aka nada persaingan yang lagi setelah tahap ini. Saya
hanya bisa berdoa agar selalu dimudahkan dalam segala hal. Karena hasil yang terbaik ada di tangan
Allah.

Setelah tes wawancara selesai kami berdua berniat untuk langsung pulang, karena memang kami
sama-sama tidak punya kenalan untuk dituju. Saya kemudian memesan travel untuk pulang ke Jepara,
namun dapatnya jadwal jam 5 sore. Padahal tes wawancara selesai pukul 11 siang. Kami berdua istirahat
dan sholat di masjid kampus. Setelah itu istirahat di emperan gedung-gedung, entah gedung apa itu
namanya sambal menunggu datangnya travel. Ketika sore tiba saya bergegas ke tempat yang dimaksud
pihak travel untuk menunggu. Karena memang tidak tau arah kami akhirnya jalan kaki yang ternyata
hampir 2 km jaraknya. Ketika sudah sampai travel kami pulang ke Jepara dan sampai dengan selamat.

Saat menunggu pengumuman tahap kedua saya tak henti-hentinya berdoa dan menyerahkan
hasilnya pada Allah. Dan hari pengumuman itu tiba , melalui e-mail saya akhirnya diterima sebagai
awardee Beasiswa Unggulan 2018. Dengan senang bercampur haru saya memberitahu orang tua.
Bersyukur sekali telah dimudahkan dalam segala hal selama mendaftar beasiswa ini. Bersaing dengan
orang se-Indonesia dan saya berhasil. Dan waktu itu mendapat undangan lewat e-mail untuk tanda
tangan kontrak beasiswa di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Waktu itu adalah bulan Ramadhan, saya dan teman saya berangkat kembali ke Yogyakarta sama
seperti waktu pertama. Naik travel, namun kebetulan kampus tersebut dekat dengan rumah saudara
teman saya. Akhirnya kami menginap dirumahnya. Pagi harinya kami diantar pergi ke Universitas
Ahmad Dahlan dan melanjutkan untuk tanda tangan kontrak Beasiswa Unggulan.

Ketika selesai kami langsung pulang ke Jepara. Karena tidak mendapat travel kami berdua
akhirnya pulang naik Bus Patas dari Yoyakarta ke Semarang. Ketika sampai di Semarang waktu berbuka
puasa, saya hanya minum air mineral untuk membatalkan puasa sambal berdesak-desakan dengan
penumpang yang lain menuju ke Jepara karena waktu itu bersamaan dengan orang-orang yang pulang
dari bekerja.

Jam 9 malam kami tiba di Jepara dengan selamat. Kami berdua berjanji akan lulus dan wisuda
bersama karena telah berjuang bersama menjadi awardee Beasiswa Unggulan 2018. Dan tak henti-
hentinya besyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan. Saya bertekad untuk mengabdikan
diri untuk masyarakat walaupun untuk saat ini saya hanya bisa dengan mengajar mengaji. Semua
kuncinya adalah ihtiar, berdoa, dan tawakal kepada Allah. Jika kita mempunyai tekad dan kerja keras
pasti kesuksesan itupun ada. Karena usaha tidak akan menghianati hasil. Dan restu orang tua juga sangat
dibutuhkan untuk segala usaha kita.
Terima kasih Beasiswa Unggulan, karena telah mengajarkanku arti sebuah perjuangan.

~PUSPITA MAHARANI~

Berjuang Menjadi Mungkin

“Mbaknya mau ikut beasiswa ini? Apakah benar ada beasiswa ini (read: Beasiswa Unggulan)?” tanya
beliau padaku.

Aku menjawab pertanyaan itu sebisaku dengan melampirkan beberapa bukti saat tengah
mengurus berkas-berkas yang ku persiapkan untuk seleksi administrasi Beasiswa Unggulan (BU). Aku
harus benar-benar meyakinkan beliau terkait keberadaan BU ini dan membuktikan kesungguhanku
mengikutinya. Entah berapa lama aku mengurusnya. Cukup lama ku rasa. Sekitar 2-3 minggu. Banyak
kejutan kendala lainnya yang ku hadapi yang tak bisa ku ceritakan satu per satu. Itulah yang membuat
durasi pengurusan berkas terasa lama. Disela-sela menunggu berkas-berkas tersebut selesai
ditandatangani, aku juga berulang kali merombak naskah esai dan proposalku. Entahlah, rasanya aku
terlalu khawatir saat itu.

Walaupun mengalami berbagai kendala, aku bersyukur karena masih dikelilingi orang-orang
baik. Aku ditemani temanku Siti, saat mengurus beberapa berkas. Selain itu juga ada mereka yang telah
menjadi awardee BU membantu menjawab beberapa hal yang kurang aku mengerti. Tak lupa campur
tangan kedua orang tuaku yang sangat penting karena tidak pernah letih dan bosan mendukungku kala
aku ingin menyerah.

Ya! Aku sempat berpikir untuk menyerah karena aku hanya memiliki waktu yang sangat mepet
dengan deadline namun berkasku tak kunjung lengkap. Tidak mungkin aku bisa mengejar
ketertinggalanku. Masih ada beberapa berkas yang belum ditandatangani.

Namun disisi lain, aku seperti harus memperjuangkannya hingga akhir. Aku harus
memperjuangkan itu semua karena aku sadar bahwa hanya ini kesempatan pertama sekaligus terakhirku
untuk mengikuti seleksi BU ini dijenjang S1. Hal itu dikarenakan saat mendaftarkan diri, aku tengah
menginjak semester III, dimana semester III ini merupakan semester akhir kala itu untuk dapat
mendaftarkan BU.

Proses seleksi BU ini terdiri dari 2 tahapan, yakni seleksi administrasi dan wawancara. BU juga
memiliki berbagai persyaratan terkait kriteria para calon pendaftar. Teman-teman bisa surfing di web
resmi Kemendikbud untuk mengeceknya. Karena setiap tahun BU memiliki persyaratan dan ketentuan
yang berbeda.

Setelah mengikuti kedua tahapan seleksi tersebut dan menunggu beberapa minggu untuk final
announcement, tiba saatnya untuk melihat hasil akhir yang mendebarkan tersebut. Setelah melihat
hasilnya, ingin rasanya aku menyesali akan keinginan menyerah yang pernah sempat hinggap. Juga rasa
gusarku saat beberapa kali berurusan dengan administrasi, rasa bingungku saat berulang kali merombak
essai dan proposal, rasa letihku saat menjadi peserta ketiga terakhir dan menunggu 3 jam saat tes
wawancara; semua yang kemarin ku rasakan saat mengikuti rangkaian seleksi BU, tidak sebanding
dengan rasa haru dan bahagia saat dinyatakan diterima menjadi awardee BU. Aku melihat dengan jelas
kata diterima yang bercetak tebal itu di akun BU ku. Alhamdulillah. Alhamdulillah sesuatu itu menjadi
mungkin. Bukan tidak mungkin lagi.

Setelah resmi menjadi awardee, hal pertama yang ku lakukan selain mengurus administrasi
adalah mensosialisasikan adanya BU ini bersama kawan-kawan awardee yang lainnya. Karena ternyata
masih banyak orang yang belum mengetahui adanya bantuan dari Kemendikbud ini. Aku bersama
awardee BU yang lain sering forward informasi apapun tentang BU ke anak SMA yang hendak kuliah
atau adik-adik kelas yang masih semester awal ataupun ke teman-teman lainnya yang memiliki kenalan
semester awal. Selain itu kami juga membantu mereka semampu kami.

Jika menyinggung awardee, satu hal yang membuatku kagum dengan awardee BU Yogyakarta
adalah mereka yang tidak lupa untuk berbagi terhadap sesama. Kami menamainya dengan “BU
Mengabdi”. Aku ingat betul bagaimana saat pertemuan dengan awardee BU Region Yogyakarta Batch 2
sekitar tahun 2017 silam, salah satu dari mereka pernah berucap:

“Kita bantu mereka ya sebisa kita. Kita pun telah dibantu juga dengan BU. Rezeki yang kita
dapatkan ada baiknya kita sisihkan beberapa untuk berbagi. Sedikit pun tidak apa-apa. Yang penting
niat dan keikhlasnnya. Ingat juga bahwa ada hak orang lain disebagian rizki kita”

Aku merasa seperti diingatkan lagi akan konsep berbagi. Aku senang berada di circle yang sehat
dan positif seperti ini. Teman-teman awardee bahkan terus melakukan regenerasi kepengurusan BU
Mengabdi agar kegiatan positif ini tidak berhenti dan terus digaungkan.

Walau tidak semuanya terlibat langsung dalam BU Mengabdi, aku sangat yakin bahwa setiap
orang memiliki caranya masing-masing mengabdi. Memiliki empati untuk berbagi. Juga memiliki wadah
prioritasnya untuk mengasihi.

Tiada kata lain selain “sangat bersyukur” saat ditanya bagaimana rasanya menjadi salah satu
awardee BU. Selain itu, jika ditanya bagaimana prosesnya, aku akan menjawab “aku sangat
menikmatinya”. Aku menikmati dikala mendapat berbagai cobaan saat mengurus administrasi. Aku
menikmati dikala aku menunggu 3,5 jam untuk wawancara. Bahkan aku juga tetap menikmati kala
orang-orang tidak percaya jika aku bisa dan mampu mendaftarkan beasiswa tersebut.

Terima kasih BU

Terima kasih negeriku, Indonesia

Teman-teman, tetaplah perjuangkan hal yang sedang kau kejar. Berjuanglah hingga akhir.
Berjuanglah hingga sesuatu itu menjadi mungkin dan nyata. Buktikan bahwa kamu mampu meraih hal
yang telah kamu perjuangkan selama ini. Buktikan bahwa kamu bisa menghilangkan kata “tidak” dalam
kalimat “tidak mungkin”.

Terakhir, jangan lupa untuk selalu menyertakan Sang Pencipta dalam setiap usahamu. Berdoa
dan memohonlah kepadaNya.

Peace be upon you.

~SAFITRI ANGGITA T.S.~
Biology Student


Click to View FlipBook Version